MENU

Ads

Jumat, 13 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 138

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah sering benar ia mendengar pernyataan yang demikian. Betapa sulitnya penghidupan, namun tanah pusaka nenek-moyang merupakan tanah yang tidak boleh ditinggalkan. Hidup mati tanah itu adalah tanah yang harus diwarisi, dipelihara dan didiaminya sepanjang umurnya. Demikian juga pendirian keluarga Kebo Sindet itu. Betapa kesulitan mencekik leher mereka, namun mereka tetap bertahan hidup di daerah terpencil dan tandus ini.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Tambi berbicara terus, “Apalagi pada saat itu ada seorang yang paling ditakuti di daerah ini. Seorang yang menghisap keringat kami sampai darah kami pun dihisapnya. Keluargaku dan keluarga Kebo Sindet harus bekerja, dari matahari terbit sampai matahari terbenam, namun sebagian dari hasil kerja kami telah masuk ke dalam lumbung orang yang kami takuti itu. Kami, termasuk Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, hampir-hampir tidak lagi dapat bertahan.

Sehari kami sempat makan satu kali, tetapi di hari berikutnya kami tidak dapat mengenyam apa pun di mulut kami. Sehingga akhirnya orang tua Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak lagi dapat menahan diri. Seorang demi seorang mereka meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Yang mula-mula meninggal adalah ayahnya yang kurus kering dan sakit-sakitan. Kemudian menyusul ibunya. Sehingga dengan demikian kedua anak itu menjadi yatim piatu. Satu-satunya keluarga yang berkewajiban memeliharanya adalah orang tua isteriku. Namun karena keadaannya sendiri yang pahit, maka kedua anak itu pun dipeliharanya sesuai dengan kemampuannya.

Namun pada suatu hari kedua anak yang menjadi besar, meskipun kurus kering dan pucat itu, menghilang. Tak seorang pun yang tahu kemana mereka pergi. Keluarga isteriku berusaha mencarinya juga. Mereka mencemaskannya, seandainya kedua anak-anak itu diterkam oleh anjing-anjing liar di atas bukit gundul. Tetapi anak-anak itu tak dapat diketemukan. Tetapi akhirnya kedua anak itu pun dilupakan. Bertahun-tahun kemudian tidak seorang pun lagi yang pernah menyebut namanya. Keluarga isteriku pun sudah tidak ingat lagi kepada mereka itu.

Namun adalah mengejutkan sekali, ketika kemudian padukuhan ini didatangi oleh dua orang anak-anak muda yang gagah perkasa. Dengan dua ekor kuda mereka memecahkan ketenangan pedukuhan ini. Akhirnya diketahuilah bahwa kedua anak-anak muda yang perkasa itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mula-mula kedatangannya memberikan harapan kepada kami. Yang mula-mula dikatakannya, bahkan dijanjikannya, adalah menyingkirkan keluarga yang telah menghisap darah kami sampai kering. Semula kami ragu-ragu. Orang itu adalah orang yang pilih tanding. Sekian lama ia seakan-akan berkuasa di padukuhan ini tanpa dapat dikalahkan. Apakah kedua anak-anak muda itu mampu melakukannya?.

Namun yang dilakukannya telah menggemparkan pedukuhan ini. Seorang dari mereka, yang pada saat itu dilakukan oleh Wong Sarimpat, dengan mudahnya dapat mengalahkan orang yang selama ini berkuasa”. Tambi berhenti sejenak untuk menelan ludahnya.

Empu Gandring mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat. Mungkin ceritera Tambi itu dapat dipercayanya. Meskipun ceritera itu sama sekali tidak bersangkut-paut dengan pertanyaannya, tentang persembunyian Kebo Sindet, namun ceritera itu dapat memberikan gambaran tentang latar belakang dari kelakuan iblis yang aneh itu.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Gandring berkata, “Apakah Wong Sarimpat berkelahi seorang diri tanpa bantuan kakaknya ketika ia melawan orang yang sedang berkuasa itu?”

“Ya” sabut Tambi, “Wong Sarimpat yang sedang tumbuh itu dengan mudah dapat mengalahkan orang yang sedang berkuasa itu, yang semakin lama telah menjadi semakin tua. Bahkan beberapa orang pengikut dan pengawalnya pun dapat dikalahkannya”.

“Apakah yang kau lakukan waktu itu, Ki Sanak?”

“Aku tidak berani berbuat apa-apa. Aku melihat kekuasaan itu sejak aku masih kanak-kanak. Aku tidak pernah meninggalkan padukuhan ini”. Empu Gandring mengangguk-angguk lagi. Keningnya tampak berkerut-merut. “Pada saat-saat yang demikian itu, tumbuhlah harapan di hati kami, bahwa kami tidak akan mengalami pemerasan lagi. Kami tidak akan menjadi budak-budak yang tidak dapat berbuat apa-apa, sebab nyawa kami terancam. Di sini sama sekali tidak ada perlindungan atas jiwa kami. Kekuasaan orang itu benar-benar mutlak”.

“Bagaimana dengan kekuasaan Tumapel dan Kediri?”

“Tak seorang pun yang sempat berpikir, bahwa kami dapat memohon perlindungan. Seperti akhir-akhir ini kami pun tidak tahu apa yang seharusnya kami lakukan? Tumapel apalagi Kediri terlampau jauh. Bukan saja jaraknya, tetapi juga jauh dari hati kami. Seolah-olah kami belum pernah mendengar nama-nama itu”. Sekali lagi Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi” Tambi meneruskan, “ketika kami melihat apa yang dilakukan oleh Wong Sarimpat pada saat ia mengakhiri perkelahian, segera timbul kebimbangan di hati kami.

Kami menjadi sangat ngeri melihat Wong Sarimpat melepaskan dendamnya kepada orang yang sedang berkuasa di padukuhan ini pada saat itu. Apa yang dilakukannya sama sekali tidak terbayang di dalam hati kami. Mungkin Wong Sarimpat merasa bahwa hidupnya benar-benar telah tersia-sia karena perbuatan orang itu. Mungkin dendam yang tak terbilang telah membakar jantungnya pada saat itu, karena kematian kedua orang tuanya. Tetapi apa pun yang menyebabkannya, namun keadaan telah membentuknya menjadi seorang yang paling buas yang pernah aku lihat”.

Tambi berhenti sejenak. Kemudian sekali lagi ia memandangi ruangan itu berkeliling. Akhirnya matanya berhenti menatap pintu rumah yang masih terbuka.

“Sebaiknya aku menutup pintu itu”.

“Tidak perlu” jawab Empu Gandring, “biarlah Kebo Sindet melihat aku disini apabila ia lewat di jalan di muka rumah ini”.

Tambi terdiam sejenak. Tetapi masih juga terbayang kegelisahan dan kecemasan diwajahnya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Ya, aku sudah tidak takut lagi, memang seharusnya aku sudah tidak takut. Tetapi kematian-kematian yang pernah aku saksikan adalah mengerikan sekali. Atau barangkali tuan ingin membunuh aku saja?”

“Jangan berputus asa dan membunuh diri bagaimana pun caranya” sahut Empu Gandring, “teruskan saja ceriteramu”.

Sekali lagi Tambi menelan ludahnya, seolah-olah kerongkongannya tersumbat, “Baiklah” desisnya, “apa yang aku katakan tadi?”



“Wong Sarimpat membunuh orang yang kalian anggap paling berkuasa di sini”.

“Ya. Orang itu pun terbunuhlah. Tetapi harapan kami untuk mendapat kebebasan ternyata sama sekali keliru. Setelah orang itu mati, meskipun Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengatakan bahwa kita sudah sampai pada hari-hari yang kita tunggu-tunggu, pembebasan, namun apa yang kita alami hampir tidak ada bedanya sama sekali. Pemerasan dan perkosaan atas kebebasan hidup kami sebagai manusia, Dan kami masih tetap mengalami hidup kami yang lama. Bekerja dan bekerja. Sedang basil kerja kami harus kami serahkan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Namun karena mereka hanya berdua, dan mereka tidak memiliki lumbung yang besar, maka untuk hal ini, kami mendapat keringanan. Kami hanya menyerahkan hasil tanaman kami menurut kebutuhan dan permintaan mereka. Sehingga dengan demikian, kami mendapat makanan kami agak lebih banyak dari masa-masa lampau”.

“Kalau demikian apa yang menyulitkan kalian?”

“Tetapi apa yang kami miliki di sini tidak lebih dari sisa-sisa makanan kami yang kami hasilkan dari tanah yang tandus itu. Tidak ada lain. Kami tidak akan dapat menukarkan milik kami dengan benda-benda apapun. Bahkan dengan alat-alat yang kami perlukan untuk bercocok tanam. Setiap barang yang disenangi oleh kedua orang itu harus kami serahkan”.

“Juga alat-alat bercocok tanam?”

“Ya, mereka senang menyimpan alat-alat bercocok tanam yang baik”.

“Aneh. Untuk apakah barang-barang itu?”

“Tak seorang pun yang tahu. Bahkan kadang-kadang kami terpaksa mengumpulkan hasil tanah kami, untuk kami tukar dengan barang-barang yang dikehendaki oleh kedua orang-orang itu”.

“Kemanakah kalian menukarkan barang-barang itu?”

“Kebo Sindet membawa beberapa orang kemari untuk menukar barang-barang itu. Kadang-kadang hasil tanah kami itu benar-benar dibawa oleh mereka yang menukarnya, tetapi kadang-kadang orang-orang itu tidak dapat keluar dari padukuhan ini setelah mereka menyerahkan barang-barang yang seharusnya kami tukar dengan hasil tanah kami”.

“Perampokan” geram Empu Gandring.

“Ya, lebih dari pada itu. Apalagi apabila mereka mencoba mempertahankan diri mereka”.

Empu Gandring sudah dapat menangkap kata-kata yang tidak lengkap itu. Tambi pasti akan berkata, bahwa mereka yang berani mempertahankan diri, maka nasib mereka akan menjadi lebih jelek. Seperti yang sudah dikatakan, maka Kebo Sindet akan melakukan pembunuhan dengan caranya.

Sejenak kini mereka berdiam diri. Angin yang silir berhembus lewat pintu yang masih terbuka. Diluar, Tambi masih melihat beberapa orang tetangganya di halaman di seberang halaman rumahnya berdiri berlindung di balik pepohonan. Adalah menjadi kebiasaan mereka untuk melihat orang-orang yang datang ke rumah Tambi. Dan sudah menjadi kebiasaan mereka pula, apabila Tambi tidak dapat menyelesaikannya sendiri, Tambi pasti memberi mereka isyarat untuk membunyikan kentongan memanggil salah seorang atau bahkan keduanya iblis Kemundungan yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi kali ini Tambi masih belum memberikan isyarat apa-apa, meskipun tampaknya Tambi sendiri tidak berbuat apa-apa. Dan bahkan orang yang belum mereka kenal dan membawa keris dipunggungnya itu dibawanya masuk kerumahnya.

“Tuan” berkata Tambi ilu lebih lanjut, “tak seorang pun di antara kami yang berani menentang perbuatan itu. Aku adalah satu-satunya orang yang mencoba melawannya dengan caraku. Meskipun aku tidak dapat melawan dalam olah kanuragan. Tetapi akibatnya jelek sekali bagiku. Meskipun keduanya tidak membunuhku dengan caranya karena aku suami saudara sepupunya, tetapi tidak banyak bedanya dengan itu. Mereka telah membunuh isteriku dan anakku perlahan-lahan, meskipun barangkali tidak mereka sadari seperti apabila mereka membunuh korbannya. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa isteriku meninggal justru karena aku mendapat jabatan dari kedua orang itu. Jabatanku cukup mengerikan. Seperti yang tuan lihat sekarang. Dan jabatan ini agaknya telah menyiksaku sepanjang umurku”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Kau benar adi. Keadaan telah membuat mereka menjadi buas. Dendam yang membara di dada mereka, hidup mereka yang pahit di masa kanak-kanak, ketidak-adilan yang mencekiknya dalam kepailitan itu, telah menjadikan mereka orang yang tidak lagi mengenal kasih sesama. Mereka telah kehilangan segala kepercayaan mereka terhadap orang-orang di sekitarnya. Mereka menganggap dunia ini seperti sebuah hutan rimba. Siapa yang kuat ialah yang berkuasa. Mereka tidak mengenal adab lagi yang mengikat manusia dalam bentuk kemanusiaannya. Tetapi mereka lebih percaya kepada pedangnya daripada kepada manusia sesamanya. Mereka lebih mendambakan diri pada benda-benda dan harta daripada kepada Sumber Hidupnya”.

“Ya tuan. Itu adalah gambaran yang tepat mengenai Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

“Itu adalah suatu bentuk yang menyedihkan dari ledakan perasaan yang merasa tertekan. Tetapi bentuk itu adalah bentuk yang tidak diharapkan. Seorang yang tidak mau mendapat perlakuan yang tidak adil, yang telah berusaha untuk melenyapkan perlakuan itu atas dirinya sendiri, tetapi setelah ia berhasil melenyapkan kekuasaan yang memperlakukannya tidak adil itu dengan kekuatan, maka ia sendiri terjerumus dalam kekuasaan yang serupa. Kekuasaan yang didasari oleh kekuatan, bukan oleh hasrat hidup bersama dalam adab kemanusiaan. Dan kekuasaan yang dilandaskan pada kekuatan itu akan berlangsung terus”.

Empu Gandring berhenti sejenak untuk menyeka peluhnya yang mengalir dikeningnya. Dan sesaat kemudian ia berkata lagi, “tetapi aku juga mengenal bentuk lain dari pada itu. Bentuk yang manis, yang serasi dengan pancaran sumbernya. Menentang ketidak-adilan justru untuk menegakkan keadilan. Bukan untuk merubah kekuatan yang menentukan kekuasaan. Bentuk itu adalah bentuk yang paling indah, meskipun seolah-olah hanya dapat terjadi di dalam mimpi. Namun adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berusaha menemukan bentuk yang paling indah itu. Ketidak-adilan, dan segala macam bentuk nafsu duniawi akan dapat ditumbangkan oleh kekuatan yang tidak ada batasnya. Cinta kasih. Cinta kasih diantara sesama yang dilahirkan di atas bumi ini dari sumber yang sama. Cinta kasih yang akan dapat melahirkan segala macam pengertian dan pengekangan diri dalam satu lingkaran hidup yang tenteram damai. Bukan karena dirinya merasa terikat oleh ancaman yang merampas kebebasan hidupnya, tetapi bersama-sama dengan tulus dan ikhlas mengekang diri sendiri dalam lingkaran yang dibuat bersama-sama”.

Tambi mengerutkan keningnya. Seleret ia dapat mengenali maksud Empu Gandring, tetapi sebagian daripadanya hanya dapat dimengertinya samar-samar.

“O” Empu Gandring berdesah, seolah-olah ia baru saja terbangun dari mimpinya “maafkan aku Ki Sanak. Barangkali aku terlampau banyak berbicara. Barangkali bicaraku tidak kau harapkan. Tetapi agaknya aku lebih banyak berbicara kepadaku sendiri. Karena aku pun melihat betapa banyak kekurangan di dalam diri. Aku dapat berkata tentang cinta kasih yang melampaui segala kekuatan dan kekuasaan. Tetapi aku masih mendukung senjata dipunggungku. Mudah-mudahan senjata tidak salah arah. Mudah-mudahan aku selalu dapat melihat apakah yang sebenarnya sedang aku hadapi. Lebih daripada itu, mudah-mudahan aku segera dapat menanggalkan senjata ini dari tubuhku”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat merasakan sentuhan yang tajam pada dinding hatinya. Dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu bergerak di dalam hatinya itu. Dan dengan tiba-tiba pula ia berkata,

“Tuan, aku sekarang tidak takut lagi. Aku tidak akan lari dari pedukuhan ini. Aku akan tetap tinggal di sini”.

Empu Gandring memandangi orang itu dengan tajamnya Perlahan-lahan ia berdesis, “Kenapa?”

“Adalah menggelikan sekali bahwa selama ini aku selalu dikejar oleh ketakutan. Tuan, aku seolah-olah telah menemukan keberanian yang aku inginkan. Aku tidak takut lagi tuan”.

Empu Gandring tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah orang yang bertubuh kekar itu. Ia melihat perubahan yang membayang diwajahnya. Tambi itu tiba-tiba telah menjadi seorang yang seolah-olah lain dari pada orang yang tadi ditemuinya di halaman. Wajah itu tidak lagi membayangkan kebengisan dan kekerasan. Kini wajah itu menjadi terang.

“Adalah aneh bahwa tuan telah membuka perasaanku. Aku tidak tahu, apakah tuan berbuat dengan sengaja atau tidak. Tetapi ternyata aku menemukan sesuatu setelah aku bertemu dan berbicara dengan tuan“ berkata Tambi itu kemudian.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Tak ada yang dapat aku lakukan bagimu Ki Sanak, apalagi membuka perasaanmu. Hanya pancaran kasih dari Yang Maha Agung sajalah yang dapat memberimu ketenteraman. Agaknya kau telah mendapatkan kurnia yang tiada taranya. Bukan kekuatan jasmaniah sehingga kau mampu mengalahkan Kebo Sindet, tetapi justru kekuatan rohaniah. Meskipun jasmaniah kau tidak akan mampu berbuat apa pun melawan orang itu, tetapi ternyata kau telah memiliki kekuatan itu. Kau sudah tidak takut lagi melawannya dengan caramu. Itu adalah kelebihanmu Ki Sanak, kelebibanmu dari padaku. Aku masih belum menemukan kurnia serupa itu. Aku masih harus mencoba menghadapi Kebo Sindet dengan Senjata”.

Tambi tertawa. Namun tiba-tiba suara tertawanya itu terputus, sehingga Empu Gandring terkejut karenanya. Apalagi ketika ia melihat kening Tambi itu berkerut-merut.

“Kenapa Ki Sanak?”

“Aneh. Aku merasakan keanehan di dalam diriku” gumam Tambi itu seolah-olah pada diri sendiri, “aku tidak pernah tertawa selama ini. Sejak aku lepas dari dukungan ibuku, aku hampir tidak pernah merasakan kesegaran yang tidak dapat membuat aku tertawa. Di padesan ini, hanyalah anak-anak yang masih menyusu ibunya sajalah yang dapat tertawa bila ibunya menciumnya, atau tertawa manis selagi ia bermimpi. Tetapi sejak kami turun dari selendang ibu, kami sudah harus bekerja membantu orang tua. Di sawah, di kebun, di rumah dan dimana-mana saja. Itu terjadi sejak aku masih kecil. Sejak Kebo Sindet masih kecil. Dan itu masih berlangsung sampai kini”.

“Sekarang apa yang terasa olehmu Ki Sanak?”

“Semua itu tak ubahnya dari pada sebuah mimpi. Pada saatnya aku akan bangun dari mimpi yang mengerikan ini”.

“Dan kau akan mengalami hidup yang sebenarnya. Bukan suatu mimpi yang mengerikan lagi. Justru kau akan mendapat kemenangan dari perjuanganmu yang terjadi di dalam mimpi itu”.

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Bukankah ini hanya suatu pemupus? Bukankah dengan demikian aku hanya ingin menenteramkan hatiku sendiri?”

Empu Gandring menggeleng, “Pemupus adalah salah satu bentuk dari pada keputus-asaan. Tak ada jalan lain yang dapat ditempuh, selain apa yang telah terjadi. Tetapi kau tidak berada dalam keadaan yang demikian. Kau masih mempunyai banyak kesempatan. Kau masih dapat lari meninggalkan pedukuhan ini. Misalnya pergi bersamaku ke padukuhanku. Kau akan dapat hidup di sana dengan tenteram. Aku kira Kebo Sindet tidak akan mencarimu ke padukuhanku, sebab aku pun sedang mencarinya. Apakah begitu? Kau pergi ke Lulumbang?”

Tambi menggelengkan kepalanya, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi aku tidak akan pergi. Kalau aku pergi, maka orang-orang lain akan menjadi sasaran pertanyaan dan kemarahan Kebo Sindet. Orang-orang lain yang tidak bersalah akan mengalami nasib yang lebih jelek lagi. Karena itu biarlah aku tinggal di sini. Aku akan menghadapi segala tanggung jawab. Apa pun yang terjadi atas diriku, maka aku tidak akan ingkar, sebab aku sudah tidak takut lagi. Aku ingin segera bangun dari tidur dan mimpi yang mengerikan ini. Apa yang akan terjadi segeralah terjadi”.

Dada Empu Gandring berdesir mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia merasa bahwa kedatangannya benar-benar telah menyebabkan Tambi tersudut dalam keadaannya. Apalagi setelah ia menemukan suatu keyakinan di dalam dirinya, bahwa ia tidak akan lari. Karena itu tanpa disadarinya maka Empu Gandring berkata,

“Ki Sanak, apakah kedatanganku telah menyebabkan kau mendapat kesulitan?”

“O, tidak tuan, tidak. Kalau aku ingin melepaskan diri, maka aku akan dapat berbuat sesuatu. Aku akan dapat memberi isyarat kepada Kebo Sindet. Ia akan datang kemari dan tanggung jawab persoalan tuan sudah tidak ada lagi padaku”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa kau tidak berbuat demikian kali ini?”

“Tuan adalah seorang yang memiliki kelainan dari orang-orang yang pernah datang kemari. Orang-orang yang datang terdahulu tidak ada yang dapat memberikan sesuatu kepadaku selain kemarahan dan kehilangan akal”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kerut-merut di keningnya menjadi semakin dalam. Orang tua itu ternyata sedang mencoba mencari jalan yang baik baginya dan baik bagi orang-orang Kemundungan, supaya mereka tidak menjadi sasaran kemarahan Kebo Sindet.

“Adi,” berkata Empu Gandring kemudian, “apakah kau tidak bersalah apabila kau tidak memberikan tanda kepada Kebo Sindet?”

“Mungkin demikian tuan. Mungkin ada satu dua orang yang tidak senang kepadaku akan mengadukan hal itu. Bahwa aku telah berbicara dengan orang yang tak dikenal, dan bahwa aku tidak memberikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet”.

“Nah, kalau demikian” berkata Empu Gandring, “bukankah kau mau menolong aku, sedang kau sendiri akan terlepas dari tuduhan semacam itu? Ki Sanak, aku minta, berikan isyarat itu”.

Tambi mengerutkan keningnya, jawabnya, “Apakah aku harus mencelakakan tuan?”

“Bukan salahmu, akulah yang mencari Kebo Sindet.” jawab Empu Gandring.

Tambi terdiam sejenak. Tetapi diwajahnya membayang kebimbangan yang mencengkam hatinya. Bagi Tambi, kehadiran Kebo Sindet akan berarti maut yang mengerikan bagi orang yang tidak dikenal. Tetapi ketika disadari bahwa yang ada dihadapannya itu adalah seorang yang justru mencari Kebo Sindet, maka kesannya menjadi berbeda. Mungkin akibat yang akan terjadi kali ini berbeda. Namun kebiasaan yang berulang-kali dilihatnya sama sekali tidak dapat dilupakannya. Ada juga satu-dua orang yang berani melawan seperti Empu Gandring ini. Tetapi akibatnya justru lebih mengerikan lagi. Kebiasaan itu telah terjadi sepanjang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat kembali ke pedukuhan ini. Karena itu keragu-raguarnya atas kemampuan Empu Gandring masih belum lenyap dari kepalanya, meskipun ia telah dikagumkan oleh kecepatan gerak, ketangkasan dan kekuatan Empu Gandring yang sengaja diperlihatkan.

Melihat keragu-raguan itu, maka Empu Gandring berkata, “Jangan ragu-ragu. Mungkin kau masih membandingkan kemungkinan yang ada padaku dan Kebo Sindet. Biarlah aku yang akan mempertanggung-jawabkan sendiri apa yang akan terjadi dengan diriku. Tetapi perlu kau percayai bahwa aku telah pernah berkelahi melawannya, sehingga aku dapat menilai diriku sendiri”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya cara itu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang baik baginya. Apalagi seandainya benar-benar Empu Gandring dapat mengalahkan Kebo Sindet. Tetapi setidak-tidaknya ia akan terlepas dari segala macam prasangka, meskipun ia kini sudah tidak takut lagi menghadapi apapun. Sebab ia merasa berdiri pada landasan yang harus diyakininya. Bahkan untuk seterusnya ia tidak akan lagi melakukan perbuatan terkutuk atas orang-orang yang datang ke pedukuhan ini, apalagi orang-orang yang tersesat dan mencari jalan. Meskipun ia menyadari akibat dari tindakannya itu, namun ia telah menyimpan keberanian di dalam dirinya.

Kalau kali ini ia masih juga akan memberikan isyarat kepada Kebo Sindet, itu adalah karena permintaan orang yang tidak dikenal di pedukuhannya itu sendiri. Justru orang itu mencari orang yang bernama Kebo Sindet.

“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Empu Gandring.

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Bukankah tuan yakin bahwa kedatangan Kebo Sindet tidak akan mencelakakan tuan?”

“Aku mengharap demikian. Tetapi aku tidak tahu, apa yang dikehendaki oleh Yang Maha Agung atas diriku. Namun aku berdoa semoga sifat-sifat yang ada pada Kebo Sindet itu segera lenyap dari antara kita manusia. Mungkin kita terpaksa melenyapkan orangnya itu pula. Tetapi bukan maksudnya. Dalam bentuknya yang tajam, aku mengharap bahwa sifat-sifat semacam itu akan dapat dilenyapkan tanpa menyentuh kulit wadagnya. Tetapi itu hanya dapat terjadi di dalam mimpi atau karena suatu keajaiban karena pengaruh kekuatan di luar kekuatan manusia, meskipun kadang-kadang manusia pulalah yang menjadi alatnya”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia makin mengenal watak dan sifat tamunya itu. Meskipun apa yang didengarnya itu belum pernah menyentuh telinganya sebelumnya, namun hatinya seolah-olah menjadi terbuka menghadapi masa depannya dan menilai masa-masa lampaunya.

“Nah, apakah kau bersedia memberikan isyarat itu?” bertanya Empu Gandring kemudian.

Tambi masih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah tuan, aku akan memberikan isyarat. Tetapi hal itu justru karena aku percaya kepada tuan, bahwa tuan tidak akan mengalami perlakuan yang tidak aku kehendaki. Aku sudah jemu melihat semua peristiwa-peristiwa dimasa-masa lampau. Aku sudah jemu melihat Kemundungan ini menjadi tidak ubahnya hutan yang liar. Kekuasaan di sini sama sekali tidak tumbuh karena keinginan bersama atas dasar kepercayaan dan kesatuan hasrat dalam hidup bersama untuk saling menghormati dan mengekang diri dengan tulus seperti kata tuan, tetapi kekuasaan di sini sama artinya dengan kekuatan”.

“Mudah-mudahan demikianlah hendaknya” sahut Empu Gandring.

“Baiklah tuan. Adalah menjadi kebiasaan orang-orang di padukuhan ini untuk menunggu aku memberikan isyarat kepada mereka. Kemudian salah seorang dari mereka akan segera pergi ke sudut desa, naik ke atas menara bambu yang kita buat sengaja untuk menggantungkan kentongan”.

“Lakukanlah Ki Sanak. Kalau kau berhasil mengundang Kebo Sindet aku akan berterima kasih kepadamu”.

Tambi itu pun kemudian berdiri. Beberapa langkah ia maju ke depan pintu. Kemudian ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Kehalaman-halaman di sekitar halaman rumahnya. Dilihatnya beberapa orang berdiri termangu-mangu.

“Mereka lebih senang menunggu apa yang akan terjadi dari pada pergi ke ladang” gumam Tambi di dalam hatinya, bahkan orang yang sudah berada di ladang pun tergesa-gesa pulang untuk melihat peristiwa-peristiwa yang mengerikan.

Sejenak orang-orang itu berdiri termangu-mangu. Mereka melihat perbedaan dari kejadian-kejadian yang pernah mereka saksikan. Mereka tidak melihat Tambi berkelahi dengan orang itu. Mereka hanya melihat orang yang tidak mereka kenal itu bergerak dengan kecepatan yang tidak dapat mereka bayangkan, menggerakkan kerisnya, dan tiba-tiba pohon-pohon Tal dan Siwalan itu pun roboh hampir bersamaan.

“Kakang Tambi tidak berdaya menghadapinya” bisik di antara mereka.

Dan kini mereka melihat Tambi itu berdiri di muka pintu rumahnya. Biasanya Tambi tidak menunggu terlampau lama, apabila ia merasa bahwa lawannya tidak dapat dikalahkan, segera ia memberikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet atau Wong Sarimpat atau malahan kedua-duanya akan datang bersama-sama. Tetapi kali ini Tambi masih berdiam diri. Namun akhirnya orang-orang itu melihat Tambi menggerakkan tangannya. Gerak yang sudah mereka kenal betul artinya. Membunyikan isyarat untuk memanggil Kebo Sindet atau Wong Sarimpat.

Seperti berebutan beberapa orang meloncat berlari-larian ke menara bambu di sudut desa. Mereka menjadi seperti kanak-kanak yang sedang berlomba. Kebiasaan itu lambat laun telah menumbuhkan kesenangan tersendiri. Siapakah yang paling dahulu mencapai menara dan membunyikan tanda untuk memanggil Kebo Sindet merasa mendapatkan kepuasan. Seolah-olah ia telah memberikan jasa yang berharga bagi padukuhannya, meskipun kemudian apabila mereka melihat mayat yang terkapar di jalan pedukuhan mereka, mereka masih juga merasa ngeri. Mereka akan mengeluh berkepanjangan apabila mereka kemudian harus menggali lubang, mengusung mayat itu dan kemudian menguburkannya.

Dengan demikian maka hidup mereka selalu diliputi oleh suasana yang selalu bertentangan. Mereka tidak dapat hidup dalam keserasian sikap dan perasaan. Bahkan di dalam setiap dada orang-orang Kemundungan itu pun telah tumbuh berbagai pertentangan yang menjadikan hidup mereka seakan-akan tidak berarti dan tanpa tujuan. Demikianlah maka sejenak kemudian terdengar suara kentongan bergema di padukuhan kecil itu. Suaranya seakan-akan beruntun melontar kembali setelah membentur dinding-dinding bukit gundul. Susul-menyusul seperti seperti suara yang memanggil-manggil dari dunia yang lain.

Tambi sudah terlalu biasa mendengar suara kentongan itu. Bahkan apabila ia berada dalam kesulitan, maka suara itu dapat memberinya ketenteraman. Sebab sejenak kemudian pasti akan datang Kebo Sindet atau Wong Sarimpat atau kedua-duanya yang akan melepaskannya dari kesulitan itu. Namun kemudian ia terpaksa menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Setiap kali, demikianlah yang terjadi. Dan setiap kali hatinya menjadi sakit setelah ia bersenang hati karena ia sendiri dapat dibebaskan dari kesulitannya.

Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri Tambi dan orang-orang Kemundungan itu telah berlangsung bertahun-tahun. Setiap kali mereka merasakan pertentangan itu di dalam diri mereka. Namun lambat-laun perasaan itu seolah-olah menjadi semakin kebal. Hanya dalam keadaan-keadaan tertentu perasaan itu masih juga tumbuh di dalam hati mereka. Korban-korban yang malang, yang sama sekali tidak bersalah dan tidak menyadari kesalahannya, masih juga menumbuhkan iba di hati mereka yang sudah mengeras.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar