PdLS-28
Kuda Sempana itu berpaling ketika ia melihat Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu menjadi heran ketika ia melihat dahi Kebo Sindet itu menjadi berkerut-merut. Wajah itu hampir selamanya membeku. Agaknya masalah Mahisa Agni itu benar-benar menegangkan urat syarafnya.
“Kuda Sempana” Kebo Sindet itu tiba-tiba memanggilnya, “lihat dadanya mulai bergerak”. Kuda Sempana menganggukkan kepalanya.
“Kau lihat dada itu?” bertanya Kebo Sindet pula,, “aku mengharap bahwa bagian-bagian badannya masih cukup baik. Untunglah bahwa daya tahan tubuhnya benar-benar luar biasa. Orang-orang lain pasti sudah mengalami banyak kerusakan apabila mengalami keadaan seperti Mahisa Agni. Ia terlalu lama berada dalam keadaan tidak menyadari dirinya meskipun jantungnya tetap berdetak. Meskipun demikian, akibat dari keadaan ini akan ditanggung oleh Mahisa Agni untuk waktu yang cukup lama. Kau harus telaten memeliharanya sampai ia sembuh benar. Setiap kali aku pergi, kau harus merawatnya. Jangan kau bunuh dia tanpa ijinku lebih dahulu, supaya kau tidak aku bunuh pula”. Dada Kuda Sempana berdesir, tetapi ia tidak menjawab.
“Kalau ia sudah sembuh benar-benar, nah kau dapat berbuat sekehendakmu atasnya. Anak itu akan aku ikat pada pohon Randu Alas itu. Lalu kau boleh berbuat sesuka hatimu atasnya, untuk membalas sakit hatimu. Tetapi anak ini harus sembuh lebih dahulu”.
Sekali lagi Kuda Sempana mengangguk. Tetapi hatinya masih saja selalu bertanya-tanya. “Buat apa sebenarnya Kebo Sindet bersusah payah mengobatinya. Mungkin untuk melakukan pemerasan atau apapun. Tetapi perbuatan itu benar-benar tidak pantas dilakukan. Disembuhkannya Mahisa Agni dari sakit dan penderitaan badaniah untuk kemudian mengalami penderitaan badaniah yang lain. Bahkan mungkin penderitaan batin untuk sepanjang umurnya”.
Sementara itu wajah Kebo Sindet pun menjadi semakin kendor ketika ia melihat tubuh Mahisa Agni mulai dialiri oleh udara yang hangat. Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat anak muda itu menggerakkan kepalanya. Perlahan-lahan sekali. Namun itu adalah pertanda yang menyenangkan bagi Kebo Sindet, pertanda bahwa Mahisa Agni masih dapat dibangunkannya kembali.
“Lihat Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “anak ini akan segera menyadari keadaannya. Tetapi ia akan menjadi sangat lemah. Ia akan memerlukan waktu dua atau tiga minggu untuk memulihkan kembali tenaganya”.
Kini Kuda Sempana pun memperhatikan keadaan Mahisa Agni itu. Ia melihat anak muda itu mulai menggerakkan tubuhnya. Tangannya dan kakinya.
“Bagus” Kebo Sindet berkata lantang, “aku berhasil”.
Kemudian dilumurkannya air sisa dari larutan obat yang diminumkannya kepada Mahisa Agni itu pada bagian-bagian kaki dan tangannya, sehingga terasa tubuh itu menjadi semakin hangat.
Sementara itu, di Kemundungan, Empu Gandring menunggu kedatangan Kebo Sindet di belakang gerumbul yang agak rimbun. Dari tempatnya itu, ia akan dapat melihat apabila seseorang memasuki lingkungan rumah Kebo Sindet itu. Tetapi sudah begitu lama ia menunggu, namun yang ditunggunya masih juga belum tampak datang.
“Gila benar Kebo Sindet” desahnya, “aku akan menunggu sampai malam. Sampai tengah malam”.
Dan Empu Gandring kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Dengan gelisah diikutinya matahari yang merayap dengan lambannya menuju ke Barat, ke balik punggung gunung. Namun sampai matahari kemudian terbenam, Kebo Sindet dan Kuda Sempana tidak juga kunjung datang.
“Baiklah” desahnya, “aku akan menunggu di sini sampai kau datang”.
Tetapi yang ditunggunya tidak juga kunjung datang, sehingga begitu lelahnya maka Empu Gandring itu pun ingin untuk tidur sejenak sambil memanjat pohon. “Tak seorang pun yang akan melihat aku di sini. Mudah-mudahan kudaku pun cukup terlindung juga”.
Kemudian, pada sebuah dahan yang kuat, maka Empu Gandring itu pun menyandarkan diri untuk sejenak beristirahat. Ketika Empu Gandring itu tersadar, maka disekitarnya adalah gelap gulita. Hanya di langit dapat dilihatnya bintang gemintang berhamburan.
“Hem” orang tua itu menghela nafas. Ia masih mendengar dengus nafas kudanya. Tetapi ketika ia memandangi gubug Kebo Sindet maka gubug itu masih juga sepi dan gelap.
Tetapi apa yang dilihatnya itu belum memberinya keyakinan. Perlahan-lahan ia turun, dan dengan hati-hati didekatinya gubug itu. Namun gubug itu masih juga kosong.
“Apakah ia tidak kembali kerumahnya?.” desisnya. Orang tua itu pun menjadi semakin gelisah. Kalau Mahisa Agni tidak dibawanya kemari, maka sangatlah sulit baginya untuk menemukannya dalam keadaan hidup.
“Apakah Kebo Sindet bersembunyi di belakang rawa-rawa itu?” katanya di dalam hati. Tetapi jawaban atas pertanyaan itu adalah kegelisahan yang menjadi semakin memuncak.
Tetapi Empu Gandring masih menyabarkan dirinya. Betapa ia menjadi gelisah dan cemas, namun orang tua itu tidak segera mau meninggalkan gubug itu. Dengan kesal ia kembali ketempatnya bersembunyi, memanjat sebatang pohon dan mencoba untuk menenangkan hatinya, beristirahat mengurangi lelahnya.
Tetapi hampir setiap saat Empu Gandring menyadari keadaannya. Didengarnya di Pedukuhan kecil yang bernama Kemundungan ayam jantan berkokok untuk yang pertama kalinya. Didengarnya ratapan burung hantu dikejauhan, seperti keluh kesah seorang yang kehilangan anaknya. Didengarnya anjing-anjing liar berteriak mengerikan, sahut menyahut di atas bukit gundul. Dan didengarnya pula kokok ayam untuk yang kedua kalinya. Empu Gandring tidak lagi dapat tidur sekejap pun. Bahkan ia menjadi ngeri mendengar salak anjing-anjing liar sahut-menyahut.
“Ternyata bukit gundul itu menyimpan bahaya yang sempurna” desisnya ”iblis dari Kemundungan dan anjing-anjing liar itu. Keduanya sama-sama berbahaya bagiku”.
Tetapi meskipun kemudian ayam berkokok untuk ketiga kalinya, dan bayangan merah telah memancar di ujung Timur, namun Empu Gandring masih tetap menunggu, kalau-kalau tiba-tiba Kebo Sindet dan Kuda Sempana muncul dari dalam gelap membawa Mahisa Agni.
“Aku menyesal telah melepaskannya” gumam Empu Gandring seorang diri. Kenapa aku tidak menahannya? Ternyata Kuda Sempana telah mengelabui perhitunganku. Aku sangka Kuda Sempana berbuat untuk gurunya.
Ketika Kemudian matahari menjenguk dari balik-balik dedaunan di ujung Timur, maka Empu Gandring menjadi tidak bersabar lagi.
“Aku tidak dapat tinggal di sini menunggu Kebo Sindet yang tidak kunjung datang” katanya, “aku harus mencarinya”.
Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun. Dibenahinya pakaiannya dan dihampirinya kudanya. Desisnya, “Kita akan berjalan lagi. Aku tidak tahu, sampai kapan aku akan berhenti. Mudah-mudahan kita tidak sama-sama menjadi lelah. Bukankah kau telah makan sekenyang-kenyangmu?”
Kudanya seakan-akan dapat memahami kata-kata Empu Gandring. Tetapi kuda itu tidak dapat bertanya, “Apakah kau sudah makan pula Empu?”
Untunglah, bahwa Empu Gandring telah membiasakan dirinya untuk tidak menyentuh makanan sampai beberapa hari, sehingga karena kebiasaan itu, ia menjadi sangat tahan untuk menahan lapar dan dahaga. Ketika terpandang oleh Empu Gandring tidak jauh dari tempat itu pedukuhan kecil yang hijau, yang bernama Kemundungan, maka timbullah keinginannya untuk memasukinya. Mungkin di sana ia akan mendapat keterangan tentang Kebo Sindet atau Kuda Sempana. Mungkin orang-orang itu melihat atau pernah mendengar dimana Kebo Sindet sering bersembunyi apabila ia tidak kembali ke gubugnya, atau barangkali Kebo Sindet mempunyai rumah yang lain selain rumahnya itu.
Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun segera meloncat ke punggung kudanya dan kudanya itu pun kemudian berlari ke Kemundungan. Tetapi kuda itu tidak berlari terlampau kencang. Empu Gandring tidak ingin membuat orang-orang Kemundungan menjadi terkejut karenanya.
Ketika Empu Gandring memasuki pedukuhan itu, maka segera ia mengetahui bahwa padukuhan itu adalah pedukuhan yang sangat miskin. Tanahnya yang subur tidak cukup luas untuk dapat memberi mereka makan secukupnya. Meskipun ada juga daerah-daerah yang dapat ditanami pada musim hujan, tetapi hasilnya tidak cukup memuaskan. Pedukuhan itu hampir-hampir dikitari oleh bukit-bukit gundul yang tandus.
“Aneh” gumam Empu Gandring, “ada juga orang yang kerasan tinggal di daerah seperti ini. Kalau mereka mau pindah ke daerah Lulumbang, maka di sana akan dapat digarap tanah persawahan yang cukup baik dibandingkan dengan tanah yang cengkar ini. Kenapa mereka tidak berusaha seperti orang-orang Panawijen, membuat bendungan atau apapun yang dapat mengairi tanah di sekitar padukuhan ini, atau pindah berpencaran mencari tempat-tempat baru yang lebih baik?”
Pertanyaan itu telah menyertainya memasuki padesan itu semakin dalam. Dilewatinya lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah kecil dari bambu beratap ilalang. Halaman-halaman berpagar batu yang dilekatkan dengan tanah yang agak liat. Sekali-kali Empu Gandring melihat seorang dua orang menjengukkan kepalanya lewat pintu-pintu yang sudah terbuka, tetapi kepala-kepala itu pun segera lenyap kembali di balik dinding.
“Aku harus menemukan rumah tetua padesan ini” desis Empu Gandring seorang diri, “mungkin seorang buyut, atau mungkin seorang yang sekedar dianggap tertua di padukuhan ini”. Tetapi Empu Gandring tidak menemukan seorang pun yang dapat ditanyainya.
Namun akhirnya orang itu menemukan sebuah rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya. Agak lebih besar dan halamannya agak lebih luas. Pada dinding halaman depan didapatinya sebuah regol yang sangat sederhana, bahkan telah agak condong terdesak oleh umur.
“Aku harus mendapatkan seseorang yang dapat aku ajak berbicara. Mungkin di dalam rumah ini”.
Empu Gandring itu pun kemudian turun dari kudanya dan dituntunnya kudanya memasuki halaman rumah itu. Dengan hati-hati diamatinya segenap bagiannya. Sudut-sudut halaman dan setiap pepohonan. Ternyata di halaman itu pun tumbuh berbagai macam tumbuh-tumbuhan liar yang tidak terpelihara.
“Apakah aku salah masuk?” katanya di dalam hati, “tetapi rumah ini adalah rumah yang terbaik yang terdapat di padesan ini”.
Kemudian Empu Gandring itu pun menambatkan kudanya. Mengingsar sedikit keris di punggungnya dan kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah pintu yang hanya terbuka sedikit.
Sampai di muka pintu, Empu Gandring itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk mengetahui serba sedikit tentang padukuhan itu, bahkan apabila mungkin mengenai Kebo Sindet dan kebiasaan-kebiasaannya. Maka Empu Gandring itu pun kemudian melangkah semakin dekat, dan dengan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu.
Sekali dua kali, tak ada jawaban dari dalam. Tetapi ketika Empu Gandring mengetuk semakin keras, maka terdengar suara orang membentak dari dalam, “He, siapa itu?”
Empu Gandring terkejut mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Dari lontaran suaranya maka Empu Gandring sudah menduga bahwa orang itu sama sekali bukan orang yang ramah.
“Siapa he?” terdengar teriakan itu lagi.
“Aku” sahut Empu Gandring.
“Aku siapa he, apakah kau tidak mempunyai nama?” Empu Gandring menarik nafas. Orang apakah yang sedang dihadapinya kini?
“Aku, Empu Gandring” terpaksa ia menjawab.
“Empu Gandring” suara itu mengulangi, “aku belum pernah mengenal namamu. Apakah kau bukan orang Kemundungan?”
“Bukan. Aku bukan orang Kemundungan”.
“Persetan dengan kau. Agaknya kau belum mengenal daerah ini”.
Empu Gandring tidak menjawab lagi. Tetapi kata-kata terakhir orang di dalam rumah itu menarik perhatiannya. Sesaat kemudian ia melihat seorang yang bertubuh tinggi kekar muncul dari dalam rumah itu. Wajahnya yang keras dan pandangan matanya yang penuh mengandung kecurigaan, sama sekali tidak menyenangkan Tetapi Empu Gandring tidak mau berprasangka, meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Dengan tajamnya orang itu memandangi Empu Gandring dari ujung jari kakinya sampai keujung rambutnya yang telah menjadi dua warna. Seolah-olah orang itu keheranan, bahwa dihadapannya berdiri seorang tua yang bernama Empu Gandring.
“Kaukah yang menyebut dirimu Empu Gandring?”
“Ya, Ngger” jawab Empu Gandring.
“Umurku hampir setua umurmu. Kau panggil aku dengan panggilan itu?”
“Eh, Benarkah? Maaf” sahut Empu Gandring, “kalau begitu kau benar-benar awet muda. Aku sangka umurmu sebaya dengan umur anakku wuragil”.
“Persetan. Aku tidak peduli. Tetapi apa maumu datang kemari. Apa lagi kau berani memasuki daerah Kemundungan dengan membawa senjata, seolah-olah kau laki-laki sendiri di muka bumi ini”.
“O, maafkan aku adi” berkata Empu Gandring, “tetapi sebenarnya senjataku sama sekali tidak berarti. Aku membawanya sebagai kawan dalam perjalanan apabila aku melewati hutan ilalang, supaya aku mempunyai alat untuk menebasnya”.
Sejenak orang itu berdiam diri. Tetapi matanya tidak berkedip memandang hulu keris Empu Gandring yang mencuat dari balik punggungnya. Namun orang itu kemudian berkata,
“Aku tidak peduli pada macam senjatamu, tetapi kedatanganmu kedaerah ini dengan senjata itu akan membahayakan nyawamu”.
“Kenapa?” bertanya Empu Gandring.
“Buang saja senjatamu itu ke dalam jurang di pinggiran desa ini. Kemudian pergilah meninggalkan Kemundungan. Jangan kembali lagi, supaya kau tidak diterkam anjing hutan”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Bukankah senjata ini betapapun jeleknya, akan berguna bagi keselamatanku apabila aku bertemu dengan anjing hutan?”
“Tak ada gunanya. Anjing itu tidak hanya satu. Tidak hanya sepuluh. Bahkan tidak hanya lima belas”.
“Apalagi kalau aku tidak bersenjata” potong Empu Gandring.
“Persetan” teriak orang itu, “tetapi buang senjatamu”.
“Anjing-anjing hutan tidak akan dapat membedakan, apakah seseorang bersenjata atau tidak”.
“Bodoh kau” orang itu semakin berteriak. Ternyata teriakkannya telah didengar oleh beberapa orang tetangganya, yang kemudian menjenguk dari pintu rumahnya atau bahkan keluar halaman melihat apa yang terjadi, “Bahaya yang dapat menerkam nyawamu bukan saja anjing-anjing hutan itu”.
Dahi Empu Gandring itu pun berkerut. Tetapi ia mencoba menghilangkan setiap kesan yang dapat ditangkapnya dari mulut orang itu di wajahnya. Bahkan ia bertanya, “Bukan saja dari anjing hutan itu? Lalu dari siapa lagi”.
“Persetan. Dari setan belang atau dari hantu tetekan. Tetapi bahaya itu akan menerkammu dari segenap arah”.
“Tetapi aku selamat sampai ke tempat ini”.
“O, alangkah bodohnya kau. Alangkah bodohnya kau” orang itu pun berteriak keras-keras, tetapi tiba-tiba suaranya menurun perlahan, tetapi masih juga tajam, “Kau bodoh. Adalah kebetulan bahwa kau selamat sampai padesan ini, meskipun kau bersenjata. Tetapi senjatamu itu justru berbahaya bagimu. Kau dengar”.
“Ya, ya aku dengar” sahut Empu Gandring.
Tiba-tiba kesannya terhadap orang itu pun berubah. Orang itu memang seorang yang kasar dan sama sekali tidak ramah. Tetapi maksudnya memberitahukan kepadanya adanya bahaya yang mengancamnya itu benar-benar di luar dugaanya. Ternyata orang itu adalah orang yang baik. Tetapi maksud yang baik itu diungkapkannya dengan caranya yang kasar dan tidak menyenangkan.
“Kalau kau tidak bersenjata” berkata orang itu, “mungkin kau akan keluar dengan selamat dari daerah ini. Tetapi kalau masih juga kau bawa kerismu yang besar dan yang kecil itu. maka bangkaimu tidak akan dapat diketemukan kembali. Bangkaimu akan dicincangnya sampai lumat untuk memberi makan anjing-anjing hutan supaya mereka tidak mengganggu ternak padesan ini yang tidak seberapa jumlahnya”.
Namun dengan demikian Kemendungan menjadi semakin menarik bagi Empu Gandring. Empu Gandring masih juga berdiam diri, tegak di tempatnya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Samar-samar ia dapat meraba, apakah sebabnya orang itu berkeras mengusirnya dan bahkan menyuruhnya membuang senjatanya. Orang itu sama sekali tidak ingin merampas apalagi memiliki senjata itu. Tidak pula karena ia ingin mencelakainya. Tetapi bahkan sebaliknya. Orang yang kasar itu ingin menyelamatkannya.
“He” bentak orang itu, “kenapa kau berdiri saja seperti patung. Apakah kau menunggu nyawamu dicabut dari tubuhmu?”
“Tidak Ki Sanak” sahut Empu Gandring, “aku dapat mengerti maksudmu. Karena itu aku mengucapkan terima kasih. Tetapi adi tidak usah mencemaskan nasibku. Aku akan mencoba untuk menyelamatkan diriku sendiri”.
“O, kau benar-benar orang gila. Aku bisa memaksamu. Mengambil senjatamu dan membuangnya jauh-jauh”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Memang di sepanjang hidupnya ia sering menjumpai orang-orang yang demikian. Orang yang bermaksud baik, tetapi caranya benar-benar tidak dapat dimengerti. Seperti kanak-kanak yang tidak ingin melihat adiknya terperosok ke dalam kubangan. Untuk mencegahnya, kadang-kadang adiknya itu pun dipukulinya. Meskipun maksudnya baik, tetapi adik itu menangis sejadi-jadinya.
“Apakah kau tuli” teriak orang kasar itu.
“Baiklah Ki Sanak. Aku akan menurut seperti yang kau nasehatkan itu. Tetapi apakah adi dapat memberitahukan kepadaku, apakah sebabnya maka aku harus berbuat demikian”.
“Tutup mulutmu” bentak orang itu, “jangan terlampau banyak bicara. Kau hanya dapat melakukannya”.
“Bukankah lebih baik bagiku apabila aku melakukan sesuatu dengan pengertian yang baik. Bukan sekedar melakukannya tanpa mengetahui maksudnya”.
Ternyata orang yang bertubuh kekar itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Dengan serta-merta ia meloncat dan langsung menampar wajah Empu Gandring. Empu Gandring adalah orang yang hampir mumpuni akan ilmu kanuragan. Ia melihat gerak orang itu. Ia mengerti apa yang akan dilakukan. Tetapi Empu Gandring itu tidak beranjak dari tempatnya. Dibiarkannya tangan orang itu mengenai wajahnya yang sudah mulai berkerut-merut dilukisi oleh garis-garis umur.
Ketika tangan orang itu hampir menyentuh wajahnya, barulah Empu Gandring menggerakkan kepalanya, searah dengan gerak tangan orang itu. Meskipun tangan orang itu merasa mengenai wajah Empu Gandring, tetapi Empu Gandring hampir-hampir tidak merasakan sentuhan itu, seperti yang sudah di perhitungkannya. Namun Empu Gandring itu pun melangkah surut sambil berdesak pendek.
“Jangan adi”.
“Kau tidak mau mendengar kata-kataku” teriak orang kasar itu, “aku harus memaksamu. Kalau perlu, akulah yang akan membunuhmu”.
Empu Gandring tahu benar, bahwa orang itu hanya menakut-nakutinya. Tetapi ia memerlukan keterangan tentang Kebo Sindet segera. Karena itu, maka ia harus segera pula mendapat kesempatan bertanya. Maka orang tua itu tidak banyak lagi mempunyai waktu untuk melayaninya. Ia harus langsung mendapat jalan untuk mendapatkan beberapa keterangan tentang iblis Kemundungan. Maka katanya,
“Adi. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Aku tahu bahwa kau ingin menyelamatkan aku dari tangan orang yang barangkali ditakuti di daerah ini, bukankah begitu?” Orang itu telah mengangkat tangannya kembali, tetapi Empu Gandring mencegahnya, “Jangan Ki Sanak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang terakhir”.
“Itu bukan urusanmu. Pergi atau kau mati di Kemundungan. Kau telah memasuki daerah ini dengan membawa senjata. Hanya akulah yang boleh bersenjata di daerah ini meskipun bukan atas kehendakku sendiri. Aku harus membunuh setiap orang asing yang aku curigai, apalagi yang membawa senjata. Tetapi lebih baik bagimu untuk segera pergi dan jangan mencoba kembali. Jangan bertanya lagi. Kalau kau bertanya lagi, aku akan memukul mulutmu sampai hancur”.
“Baik” berkata Empu Gandring, “Aku tidak akan bertanya, tetapi aku akan menebak. Tunggu, jangan terlampau lekas marah. Bukankah menebak berbeda dengan bertanya? Nah, bukankah kau harus berbuat demikian itu karena di sebelah padesan ini, di lereng bukit gundul tinggal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Wajah orang itu tiba-tiba menegang. Sejenak ia berdiri diam tanpa mengucapkan jawaban.
“Kebo Sindet dan Wong Sarimpat ingin merahasiakan dirinya sejauh-jauh mungkin. Kau, yang agaknya orang terkuat di Kemundungan, harus membantunya. Kalau tidak maka kau sendiri akan mengalami bencana. Bukankah begitu? Aku tidak bertanya, aku hanya menebak”.
Orang itu masih diam mematung. Dipandanginya wajah Empu Gandring dengan tanpa berkedip.
“Tetapi kau orang baik. Sebenarnya kau tidak ingin berbuat demikian. Karena itu kau berusaha mengusir aku. Bukankah kau seharusnya membunuh aku?”
Terdengar gigi orang itu gemeretak. Dengan suara parau ia berkata, “Mulutmu memang lancang sekali. Kau mengetahui rahasia yang tersimpan di Kemundungan. Sebenarnya aku sayang akan nyawamu orang tua. Tetapi karena kau menebak tepat, maka kau benar-benar akan aku bunuh”.
“Sebaiknya kau tidak melakukannya. Apabila Kebo Sindet marah karenanya, maka biarlah ia marah kepadaku” sahut Empu Gandring, “ketahuilah, bahwa aku datang kemari sengaja untuk mencari Kebo Sindet itu. Tetapi semalam suntuk aku menunggu rumahnya, orang itu tidak datang. Dengan demikian maka aku akan mencoba mencari keterangan tentang orang itu di padesan ini”.
Sejenak orang itu seakan-akan membeku. Kata-kata Empu Gandring itu benar-benar telah menggoncangkan dadanya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bagi orang-orang Kemundungan merupakan hantu yang tidak dapat disentuh meskipun hanya dengan kata-kata. Tiba-tiba seseorang datang untuk mencarinya. Dalam kebingungan orang itu bertanya di dalam hatinya,
“Apakah orang ini kawan Kebo Sindet? Kalau demikian, alangkah mengerikan. Aku telah menampar wajahnya. Mudah-mudahan orang ini belum mengenal siapa Kebo Sindet itu’.
Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Empu Gandring pun berkata pula, “Bagaimana adi, apakah kau dapat memberi aku beberapa keterangan mengenai Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Orang itu tidak segera Menjawab. Sekali lagi ia memandangi Empu Gandring dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya yang sudah mulai keputih-putihan.
“Apakah pertanyaanku aneh?” Berkata Empu Gandring pula.
Orang itu menelan ludahnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kau? Apakah kau sudah mengenalnya atau belum?”
“Aku sudah mengenal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Aku sudah bertemu dengan orang-orang itu. Tetapi ketika aku menungguinya di rumahnya, mereka tidak kunjung datang. Yang tidak aku ketahui adalah, apakah mereka mempunyai sarang yang lain selain gubugnya di bukit gundul itu, atau tempat-tempat persembunyian yang lain? Setidak-tidaknya aku ingin mengerti, kemana saja orang-orang itu sering pergi dan apa saja yang dilakukannya setiap hari”.
Orang yang bertubuh kekar itu masih juga dicengkam oleh keragu-raguanan. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya itu. Bahkan kemudian ia masih membentak, meskipun terasa nada kebimbangannya,
“Apakah perlumu mencarinya? Apakah kau ingin mati? Kalau kau sudah mengenalnya, maka mustahil kau mencari sampai ke rumahnya. Kau pasti akan lari menjauhi dan bahkan bersembunyi sepanjang umurmu”.
Empu Gandring dapat mengerti pertanyaan itu. Bagi orang-orang Kemundungan, maka Kebo Sindet adalah hantu yang paling menakutkan. Orang-orang di padesan ini pasti tidak akan berani melanggar pantangan yang diberikan oleh iblis itu. Tetapi ia memerlukannya, memerlukan keterangan itu.
“Ki Sanak” berkata Empu Gandring, “apakah kau mengetahui serba sedikit tentang Kebo Sindet?”
“Jangan menggigau” orang itu masih membentak, “pergi dari sini, atau aku akan membunuhmu?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa sulitnya untuk mendapatkan sedikit saja keterangan tentang orang itu. Apakah orang itu akan dipaksanya untuk berbicara? Tetapi bagaimana kalau ia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?
Kini Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu pula. Ia pasti akan mampu menankap orang itu, memilin tangannya dan memaksanya berbicara, tetapi apakah ia akan sampai hati berbuat demikian. Mungkin orang itu akan berbicara pula, tetapi orang itu untuk seterusnya pasti akan selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Mungkin ia akan kehilangan keseimbangan karena ketakutannya, sehingga orang itu akan berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya. Membunuh diri atau lari bersembunyi dan tidak berani muncul kembali diantara manusia. Tiba-tiba Empu Gandring itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah menemukan cara itu. Meskipun mungkin agak tidak disenanginya sendiri. Orang tua itu bukan seorang yang biasa menyombongkan dirinya, menunjukkan kelebihannya kepada orang lain. Tetapi cara ini, menyombongkan dirinya, masih lebih baik dari memaksa dan menyakiti orang itu untuk berbicara.
Karena itulah maka tiba-tiba pula Empu Gandring itu berdiri bertolak pinggang. Katanya lantang, “He, ki Sanak. Aku sudah bersabar bertanya kepadamu tentang Kebo Sindet. Tetapi kau sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan kau selalu mengancam dan menakut-nakuti aku. Aku bukan anak kecil lagi. Rambutku telah berubah menjadi dua warna. Wajahku pun telah mulai berkerut-merut. Karena itu, aku sudah tidak akan mengenal takut lagi. Umurku sudah sampai pada lingsir sore. Sebentar lagi, ibarat matahari, pasti akan terbenam. Karena itu, jangan memaksa lagi aku pergi. Jangan menakut-nakuti aku lagi. Aku tidak takut meskipun Kebo Sindet itu sendiri yang datang kemari sekarang ini. Nah, sekarang kau mau apa?”
“Kuda Sempana” Kebo Sindet itu tiba-tiba memanggilnya, “lihat dadanya mulai bergerak”. Kuda Sempana menganggukkan kepalanya.
“Kau lihat dada itu?” bertanya Kebo Sindet pula,, “aku mengharap bahwa bagian-bagian badannya masih cukup baik. Untunglah bahwa daya tahan tubuhnya benar-benar luar biasa. Orang-orang lain pasti sudah mengalami banyak kerusakan apabila mengalami keadaan seperti Mahisa Agni. Ia terlalu lama berada dalam keadaan tidak menyadari dirinya meskipun jantungnya tetap berdetak. Meskipun demikian, akibat dari keadaan ini akan ditanggung oleh Mahisa Agni untuk waktu yang cukup lama. Kau harus telaten memeliharanya sampai ia sembuh benar. Setiap kali aku pergi, kau harus merawatnya. Jangan kau bunuh dia tanpa ijinku lebih dahulu, supaya kau tidak aku bunuh pula”. Dada Kuda Sempana berdesir, tetapi ia tidak menjawab.
“Kalau ia sudah sembuh benar-benar, nah kau dapat berbuat sekehendakmu atasnya. Anak itu akan aku ikat pada pohon Randu Alas itu. Lalu kau boleh berbuat sesuka hatimu atasnya, untuk membalas sakit hatimu. Tetapi anak ini harus sembuh lebih dahulu”.
Sekali lagi Kuda Sempana mengangguk. Tetapi hatinya masih saja selalu bertanya-tanya. “Buat apa sebenarnya Kebo Sindet bersusah payah mengobatinya. Mungkin untuk melakukan pemerasan atau apapun. Tetapi perbuatan itu benar-benar tidak pantas dilakukan. Disembuhkannya Mahisa Agni dari sakit dan penderitaan badaniah untuk kemudian mengalami penderitaan badaniah yang lain. Bahkan mungkin penderitaan batin untuk sepanjang umurnya”.
Sementara itu wajah Kebo Sindet pun menjadi semakin kendor ketika ia melihat tubuh Mahisa Agni mulai dialiri oleh udara yang hangat. Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat anak muda itu menggerakkan kepalanya. Perlahan-lahan sekali. Namun itu adalah pertanda yang menyenangkan bagi Kebo Sindet, pertanda bahwa Mahisa Agni masih dapat dibangunkannya kembali.
“Lihat Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “anak ini akan segera menyadari keadaannya. Tetapi ia akan menjadi sangat lemah. Ia akan memerlukan waktu dua atau tiga minggu untuk memulihkan kembali tenaganya”.
Kini Kuda Sempana pun memperhatikan keadaan Mahisa Agni itu. Ia melihat anak muda itu mulai menggerakkan tubuhnya. Tangannya dan kakinya.
“Bagus” Kebo Sindet berkata lantang, “aku berhasil”.
Kemudian dilumurkannya air sisa dari larutan obat yang diminumkannya kepada Mahisa Agni itu pada bagian-bagian kaki dan tangannya, sehingga terasa tubuh itu menjadi semakin hangat.
Sementara itu, di Kemundungan, Empu Gandring menunggu kedatangan Kebo Sindet di belakang gerumbul yang agak rimbun. Dari tempatnya itu, ia akan dapat melihat apabila seseorang memasuki lingkungan rumah Kebo Sindet itu. Tetapi sudah begitu lama ia menunggu, namun yang ditunggunya masih juga belum tampak datang.
“Gila benar Kebo Sindet” desahnya, “aku akan menunggu sampai malam. Sampai tengah malam”.
Dan Empu Gandring kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Dengan gelisah diikutinya matahari yang merayap dengan lambannya menuju ke Barat, ke balik punggung gunung. Namun sampai matahari kemudian terbenam, Kebo Sindet dan Kuda Sempana tidak juga kunjung datang.
“Baiklah” desahnya, “aku akan menunggu di sini sampai kau datang”.
Tetapi yang ditunggunya tidak juga kunjung datang, sehingga begitu lelahnya maka Empu Gandring itu pun ingin untuk tidur sejenak sambil memanjat pohon. “Tak seorang pun yang akan melihat aku di sini. Mudah-mudahan kudaku pun cukup terlindung juga”.
Kemudian, pada sebuah dahan yang kuat, maka Empu Gandring itu pun menyandarkan diri untuk sejenak beristirahat. Ketika Empu Gandring itu tersadar, maka disekitarnya adalah gelap gulita. Hanya di langit dapat dilihatnya bintang gemintang berhamburan.
“Hem” orang tua itu menghela nafas. Ia masih mendengar dengus nafas kudanya. Tetapi ketika ia memandangi gubug Kebo Sindet maka gubug itu masih juga sepi dan gelap.
Tetapi apa yang dilihatnya itu belum memberinya keyakinan. Perlahan-lahan ia turun, dan dengan hati-hati didekatinya gubug itu. Namun gubug itu masih juga kosong.
“Apakah ia tidak kembali kerumahnya?.” desisnya. Orang tua itu pun menjadi semakin gelisah. Kalau Mahisa Agni tidak dibawanya kemari, maka sangatlah sulit baginya untuk menemukannya dalam keadaan hidup.
“Apakah Kebo Sindet bersembunyi di belakang rawa-rawa itu?” katanya di dalam hati. Tetapi jawaban atas pertanyaan itu adalah kegelisahan yang menjadi semakin memuncak.
Tetapi Empu Gandring masih menyabarkan dirinya. Betapa ia menjadi gelisah dan cemas, namun orang tua itu tidak segera mau meninggalkan gubug itu. Dengan kesal ia kembali ketempatnya bersembunyi, memanjat sebatang pohon dan mencoba untuk menenangkan hatinya, beristirahat mengurangi lelahnya.
Tetapi hampir setiap saat Empu Gandring menyadari keadaannya. Didengarnya di Pedukuhan kecil yang bernama Kemundungan ayam jantan berkokok untuk yang pertama kalinya. Didengarnya ratapan burung hantu dikejauhan, seperti keluh kesah seorang yang kehilangan anaknya. Didengarnya anjing-anjing liar berteriak mengerikan, sahut menyahut di atas bukit gundul. Dan didengarnya pula kokok ayam untuk yang kedua kalinya. Empu Gandring tidak lagi dapat tidur sekejap pun. Bahkan ia menjadi ngeri mendengar salak anjing-anjing liar sahut-menyahut.
“Ternyata bukit gundul itu menyimpan bahaya yang sempurna” desisnya ”iblis dari Kemundungan dan anjing-anjing liar itu. Keduanya sama-sama berbahaya bagiku”.
Tetapi meskipun kemudian ayam berkokok untuk ketiga kalinya, dan bayangan merah telah memancar di ujung Timur, namun Empu Gandring masih tetap menunggu, kalau-kalau tiba-tiba Kebo Sindet dan Kuda Sempana muncul dari dalam gelap membawa Mahisa Agni.
“Aku menyesal telah melepaskannya” gumam Empu Gandring seorang diri. Kenapa aku tidak menahannya? Ternyata Kuda Sempana telah mengelabui perhitunganku. Aku sangka Kuda Sempana berbuat untuk gurunya.
Ketika Kemudian matahari menjenguk dari balik-balik dedaunan di ujung Timur, maka Empu Gandring menjadi tidak bersabar lagi.
“Aku tidak dapat tinggal di sini menunggu Kebo Sindet yang tidak kunjung datang” katanya, “aku harus mencarinya”.
Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun. Dibenahinya pakaiannya dan dihampirinya kudanya. Desisnya, “Kita akan berjalan lagi. Aku tidak tahu, sampai kapan aku akan berhenti. Mudah-mudahan kita tidak sama-sama menjadi lelah. Bukankah kau telah makan sekenyang-kenyangmu?”
Kudanya seakan-akan dapat memahami kata-kata Empu Gandring. Tetapi kuda itu tidak dapat bertanya, “Apakah kau sudah makan pula Empu?”
Untunglah, bahwa Empu Gandring telah membiasakan dirinya untuk tidak menyentuh makanan sampai beberapa hari, sehingga karena kebiasaan itu, ia menjadi sangat tahan untuk menahan lapar dan dahaga. Ketika terpandang oleh Empu Gandring tidak jauh dari tempat itu pedukuhan kecil yang hijau, yang bernama Kemundungan, maka timbullah keinginannya untuk memasukinya. Mungkin di sana ia akan mendapat keterangan tentang Kebo Sindet atau Kuda Sempana. Mungkin orang-orang itu melihat atau pernah mendengar dimana Kebo Sindet sering bersembunyi apabila ia tidak kembali ke gubugnya, atau barangkali Kebo Sindet mempunyai rumah yang lain selain rumahnya itu.
Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun segera meloncat ke punggung kudanya dan kudanya itu pun kemudian berlari ke Kemundungan. Tetapi kuda itu tidak berlari terlampau kencang. Empu Gandring tidak ingin membuat orang-orang Kemundungan menjadi terkejut karenanya.
Ketika Empu Gandring memasuki pedukuhan itu, maka segera ia mengetahui bahwa padukuhan itu adalah pedukuhan yang sangat miskin. Tanahnya yang subur tidak cukup luas untuk dapat memberi mereka makan secukupnya. Meskipun ada juga daerah-daerah yang dapat ditanami pada musim hujan, tetapi hasilnya tidak cukup memuaskan. Pedukuhan itu hampir-hampir dikitari oleh bukit-bukit gundul yang tandus.
“Aneh” gumam Empu Gandring, “ada juga orang yang kerasan tinggal di daerah seperti ini. Kalau mereka mau pindah ke daerah Lulumbang, maka di sana akan dapat digarap tanah persawahan yang cukup baik dibandingkan dengan tanah yang cengkar ini. Kenapa mereka tidak berusaha seperti orang-orang Panawijen, membuat bendungan atau apapun yang dapat mengairi tanah di sekitar padukuhan ini, atau pindah berpencaran mencari tempat-tempat baru yang lebih baik?”
Pertanyaan itu telah menyertainya memasuki padesan itu semakin dalam. Dilewatinya lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah kecil dari bambu beratap ilalang. Halaman-halaman berpagar batu yang dilekatkan dengan tanah yang agak liat. Sekali-kali Empu Gandring melihat seorang dua orang menjengukkan kepalanya lewat pintu-pintu yang sudah terbuka, tetapi kepala-kepala itu pun segera lenyap kembali di balik dinding.
“Aku harus menemukan rumah tetua padesan ini” desis Empu Gandring seorang diri, “mungkin seorang buyut, atau mungkin seorang yang sekedar dianggap tertua di padukuhan ini”. Tetapi Empu Gandring tidak menemukan seorang pun yang dapat ditanyainya.
Namun akhirnya orang itu menemukan sebuah rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah di sekitarnya. Agak lebih besar dan halamannya agak lebih luas. Pada dinding halaman depan didapatinya sebuah regol yang sangat sederhana, bahkan telah agak condong terdesak oleh umur.
“Aku harus mendapatkan seseorang yang dapat aku ajak berbicara. Mungkin di dalam rumah ini”.
Empu Gandring itu pun kemudian turun dari kudanya dan dituntunnya kudanya memasuki halaman rumah itu. Dengan hati-hati diamatinya segenap bagiannya. Sudut-sudut halaman dan setiap pepohonan. Ternyata di halaman itu pun tumbuh berbagai macam tumbuh-tumbuhan liar yang tidak terpelihara.
“Apakah aku salah masuk?” katanya di dalam hati, “tetapi rumah ini adalah rumah yang terbaik yang terdapat di padesan ini”.
Kemudian Empu Gandring itu pun menambatkan kudanya. Mengingsar sedikit keris di punggungnya dan kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah pintu yang hanya terbuka sedikit.
Sampai di muka pintu, Empu Gandring itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk mengetahui serba sedikit tentang padukuhan itu, bahkan apabila mungkin mengenai Kebo Sindet dan kebiasaan-kebiasaannya. Maka Empu Gandring itu pun kemudian melangkah semakin dekat, dan dengan perlahan-lahan mengetuk pintu rumah itu.
Sekali dua kali, tak ada jawaban dari dalam. Tetapi ketika Empu Gandring mengetuk semakin keras, maka terdengar suara orang membentak dari dalam, “He, siapa itu?”
Empu Gandring terkejut mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Dari lontaran suaranya maka Empu Gandring sudah menduga bahwa orang itu sama sekali bukan orang yang ramah.
“Siapa he?” terdengar teriakan itu lagi.
“Aku” sahut Empu Gandring.
“Aku siapa he, apakah kau tidak mempunyai nama?” Empu Gandring menarik nafas. Orang apakah yang sedang dihadapinya kini?
“Aku, Empu Gandring” terpaksa ia menjawab.
“Empu Gandring” suara itu mengulangi, “aku belum pernah mengenal namamu. Apakah kau bukan orang Kemundungan?”
“Bukan. Aku bukan orang Kemundungan”.
“Persetan dengan kau. Agaknya kau belum mengenal daerah ini”.
Empu Gandring tidak menjawab lagi. Tetapi kata-kata terakhir orang di dalam rumah itu menarik perhatiannya. Sesaat kemudian ia melihat seorang yang bertubuh tinggi kekar muncul dari dalam rumah itu. Wajahnya yang keras dan pandangan matanya yang penuh mengandung kecurigaan, sama sekali tidak menyenangkan Tetapi Empu Gandring tidak mau berprasangka, meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Dengan tajamnya orang itu memandangi Empu Gandring dari ujung jari kakinya sampai keujung rambutnya yang telah menjadi dua warna. Seolah-olah orang itu keheranan, bahwa dihadapannya berdiri seorang tua yang bernama Empu Gandring.
“Kaukah yang menyebut dirimu Empu Gandring?”
“Ya, Ngger” jawab Empu Gandring.
“Umurku hampir setua umurmu. Kau panggil aku dengan panggilan itu?”
“Eh, Benarkah? Maaf” sahut Empu Gandring, “kalau begitu kau benar-benar awet muda. Aku sangka umurmu sebaya dengan umur anakku wuragil”.
“Persetan. Aku tidak peduli. Tetapi apa maumu datang kemari. Apa lagi kau berani memasuki daerah Kemundungan dengan membawa senjata, seolah-olah kau laki-laki sendiri di muka bumi ini”.
“O, maafkan aku adi” berkata Empu Gandring, “tetapi sebenarnya senjataku sama sekali tidak berarti. Aku membawanya sebagai kawan dalam perjalanan apabila aku melewati hutan ilalang, supaya aku mempunyai alat untuk menebasnya”.
Sejenak orang itu berdiam diri. Tetapi matanya tidak berkedip memandang hulu keris Empu Gandring yang mencuat dari balik punggungnya. Namun orang itu kemudian berkata,
“Aku tidak peduli pada macam senjatamu, tetapi kedatanganmu kedaerah ini dengan senjata itu akan membahayakan nyawamu”.
“Kenapa?” bertanya Empu Gandring.
“Buang saja senjatamu itu ke dalam jurang di pinggiran desa ini. Kemudian pergilah meninggalkan Kemundungan. Jangan kembali lagi, supaya kau tidak diterkam anjing hutan”.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Bukankah senjata ini betapapun jeleknya, akan berguna bagi keselamatanku apabila aku bertemu dengan anjing hutan?”
“Tak ada gunanya. Anjing itu tidak hanya satu. Tidak hanya sepuluh. Bahkan tidak hanya lima belas”.
“Apalagi kalau aku tidak bersenjata” potong Empu Gandring.
“Persetan” teriak orang itu, “tetapi buang senjatamu”.
“Anjing-anjing hutan tidak akan dapat membedakan, apakah seseorang bersenjata atau tidak”.
“Bodoh kau” orang itu semakin berteriak. Ternyata teriakkannya telah didengar oleh beberapa orang tetangganya, yang kemudian menjenguk dari pintu rumahnya atau bahkan keluar halaman melihat apa yang terjadi, “Bahaya yang dapat menerkam nyawamu bukan saja anjing-anjing hutan itu”.
Dahi Empu Gandring itu pun berkerut. Tetapi ia mencoba menghilangkan setiap kesan yang dapat ditangkapnya dari mulut orang itu di wajahnya. Bahkan ia bertanya, “Bukan saja dari anjing hutan itu? Lalu dari siapa lagi”.
“Persetan. Dari setan belang atau dari hantu tetekan. Tetapi bahaya itu akan menerkammu dari segenap arah”.
“Tetapi aku selamat sampai ke tempat ini”.
“O, alangkah bodohnya kau. Alangkah bodohnya kau” orang itu pun berteriak keras-keras, tetapi tiba-tiba suaranya menurun perlahan, tetapi masih juga tajam, “Kau bodoh. Adalah kebetulan bahwa kau selamat sampai padesan ini, meskipun kau bersenjata. Tetapi senjatamu itu justru berbahaya bagimu. Kau dengar”.
“Ya, ya aku dengar” sahut Empu Gandring.
Tiba-tiba kesannya terhadap orang itu pun berubah. Orang itu memang seorang yang kasar dan sama sekali tidak ramah. Tetapi maksudnya memberitahukan kepadanya adanya bahaya yang mengancamnya itu benar-benar di luar dugaanya. Ternyata orang itu adalah orang yang baik. Tetapi maksud yang baik itu diungkapkannya dengan caranya yang kasar dan tidak menyenangkan.
“Kalau kau tidak bersenjata” berkata orang itu, “mungkin kau akan keluar dengan selamat dari daerah ini. Tetapi kalau masih juga kau bawa kerismu yang besar dan yang kecil itu. maka bangkaimu tidak akan dapat diketemukan kembali. Bangkaimu akan dicincangnya sampai lumat untuk memberi makan anjing-anjing hutan supaya mereka tidak mengganggu ternak padesan ini yang tidak seberapa jumlahnya”.
Namun dengan demikian Kemendungan menjadi semakin menarik bagi Empu Gandring. Empu Gandring masih juga berdiam diri, tegak di tempatnya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Samar-samar ia dapat meraba, apakah sebabnya orang itu berkeras mengusirnya dan bahkan menyuruhnya membuang senjatanya. Orang itu sama sekali tidak ingin merampas apalagi memiliki senjata itu. Tidak pula karena ia ingin mencelakainya. Tetapi bahkan sebaliknya. Orang yang kasar itu ingin menyelamatkannya.
“He” bentak orang itu, “kenapa kau berdiri saja seperti patung. Apakah kau menunggu nyawamu dicabut dari tubuhmu?”
“Tidak Ki Sanak” sahut Empu Gandring, “aku dapat mengerti maksudmu. Karena itu aku mengucapkan terima kasih. Tetapi adi tidak usah mencemaskan nasibku. Aku akan mencoba untuk menyelamatkan diriku sendiri”.
“O, kau benar-benar orang gila. Aku bisa memaksamu. Mengambil senjatamu dan membuangnya jauh-jauh”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Memang di sepanjang hidupnya ia sering menjumpai orang-orang yang demikian. Orang yang bermaksud baik, tetapi caranya benar-benar tidak dapat dimengerti. Seperti kanak-kanak yang tidak ingin melihat adiknya terperosok ke dalam kubangan. Untuk mencegahnya, kadang-kadang adiknya itu pun dipukulinya. Meskipun maksudnya baik, tetapi adik itu menangis sejadi-jadinya.
“Apakah kau tuli” teriak orang kasar itu.
“Baiklah Ki Sanak. Aku akan menurut seperti yang kau nasehatkan itu. Tetapi apakah adi dapat memberitahukan kepadaku, apakah sebabnya maka aku harus berbuat demikian”.
“Tutup mulutmu” bentak orang itu, “jangan terlampau banyak bicara. Kau hanya dapat melakukannya”.
“Bukankah lebih baik bagiku apabila aku melakukan sesuatu dengan pengertian yang baik. Bukan sekedar melakukannya tanpa mengetahui maksudnya”.
Ternyata orang yang bertubuh kekar itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Dengan serta-merta ia meloncat dan langsung menampar wajah Empu Gandring. Empu Gandring adalah orang yang hampir mumpuni akan ilmu kanuragan. Ia melihat gerak orang itu. Ia mengerti apa yang akan dilakukan. Tetapi Empu Gandring itu tidak beranjak dari tempatnya. Dibiarkannya tangan orang itu mengenai wajahnya yang sudah mulai berkerut-merut dilukisi oleh garis-garis umur.
Ketika tangan orang itu hampir menyentuh wajahnya, barulah Empu Gandring menggerakkan kepalanya, searah dengan gerak tangan orang itu. Meskipun tangan orang itu merasa mengenai wajah Empu Gandring, tetapi Empu Gandring hampir-hampir tidak merasakan sentuhan itu, seperti yang sudah di perhitungkannya. Namun Empu Gandring itu pun melangkah surut sambil berdesak pendek.
“Jangan adi”.
“Kau tidak mau mendengar kata-kataku” teriak orang kasar itu, “aku harus memaksamu. Kalau perlu, akulah yang akan membunuhmu”.
Empu Gandring tahu benar, bahwa orang itu hanya menakut-nakutinya. Tetapi ia memerlukan keterangan tentang Kebo Sindet segera. Karena itu, maka ia harus segera pula mendapat kesempatan bertanya. Maka orang tua itu tidak banyak lagi mempunyai waktu untuk melayaninya. Ia harus langsung mendapat jalan untuk mendapatkan beberapa keterangan tentang iblis Kemundungan. Maka katanya,
“Adi. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Aku tahu bahwa kau ingin menyelamatkan aku dari tangan orang yang barangkali ditakuti di daerah ini, bukankah begitu?” Orang itu telah mengangkat tangannya kembali, tetapi Empu Gandring mencegahnya, “Jangan Ki Sanak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang terakhir”.
“Itu bukan urusanmu. Pergi atau kau mati di Kemundungan. Kau telah memasuki daerah ini dengan membawa senjata. Hanya akulah yang boleh bersenjata di daerah ini meskipun bukan atas kehendakku sendiri. Aku harus membunuh setiap orang asing yang aku curigai, apalagi yang membawa senjata. Tetapi lebih baik bagimu untuk segera pergi dan jangan mencoba kembali. Jangan bertanya lagi. Kalau kau bertanya lagi, aku akan memukul mulutmu sampai hancur”.
“Baik” berkata Empu Gandring, “Aku tidak akan bertanya, tetapi aku akan menebak. Tunggu, jangan terlampau lekas marah. Bukankah menebak berbeda dengan bertanya? Nah, bukankah kau harus berbuat demikian itu karena di sebelah padesan ini, di lereng bukit gundul tinggal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Wajah orang itu tiba-tiba menegang. Sejenak ia berdiri diam tanpa mengucapkan jawaban.
“Kebo Sindet dan Wong Sarimpat ingin merahasiakan dirinya sejauh-jauh mungkin. Kau, yang agaknya orang terkuat di Kemundungan, harus membantunya. Kalau tidak maka kau sendiri akan mengalami bencana. Bukankah begitu? Aku tidak bertanya, aku hanya menebak”.
Orang itu masih diam mematung. Dipandanginya wajah Empu Gandring dengan tanpa berkedip.
“Tetapi kau orang baik. Sebenarnya kau tidak ingin berbuat demikian. Karena itu kau berusaha mengusir aku. Bukankah kau seharusnya membunuh aku?”
Terdengar gigi orang itu gemeretak. Dengan suara parau ia berkata, “Mulutmu memang lancang sekali. Kau mengetahui rahasia yang tersimpan di Kemundungan. Sebenarnya aku sayang akan nyawamu orang tua. Tetapi karena kau menebak tepat, maka kau benar-benar akan aku bunuh”.
“Sebaiknya kau tidak melakukannya. Apabila Kebo Sindet marah karenanya, maka biarlah ia marah kepadaku” sahut Empu Gandring, “ketahuilah, bahwa aku datang kemari sengaja untuk mencari Kebo Sindet itu. Tetapi semalam suntuk aku menunggu rumahnya, orang itu tidak datang. Dengan demikian maka aku akan mencoba mencari keterangan tentang orang itu di padesan ini”.
Sejenak orang itu seakan-akan membeku. Kata-kata Empu Gandring itu benar-benar telah menggoncangkan dadanya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bagi orang-orang Kemundungan merupakan hantu yang tidak dapat disentuh meskipun hanya dengan kata-kata. Tiba-tiba seseorang datang untuk mencarinya. Dalam kebingungan orang itu bertanya di dalam hatinya,
“Apakah orang ini kawan Kebo Sindet? Kalau demikian, alangkah mengerikan. Aku telah menampar wajahnya. Mudah-mudahan orang ini belum mengenal siapa Kebo Sindet itu’.
Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Empu Gandring pun berkata pula, “Bagaimana adi, apakah kau dapat memberi aku beberapa keterangan mengenai Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Orang itu tidak segera Menjawab. Sekali lagi ia memandangi Empu Gandring dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya yang sudah mulai keputih-putihan.
“Apakah pertanyaanku aneh?” Berkata Empu Gandring pula.
Orang itu menelan ludahnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kau? Apakah kau sudah mengenalnya atau belum?”
“Aku sudah mengenal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Aku sudah bertemu dengan orang-orang itu. Tetapi ketika aku menungguinya di rumahnya, mereka tidak kunjung datang. Yang tidak aku ketahui adalah, apakah mereka mempunyai sarang yang lain selain gubugnya di bukit gundul itu, atau tempat-tempat persembunyian yang lain? Setidak-tidaknya aku ingin mengerti, kemana saja orang-orang itu sering pergi dan apa saja yang dilakukannya setiap hari”.
Orang yang bertubuh kekar itu masih juga dicengkam oleh keragu-raguanan. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya itu. Bahkan kemudian ia masih membentak, meskipun terasa nada kebimbangannya,
“Apakah perlumu mencarinya? Apakah kau ingin mati? Kalau kau sudah mengenalnya, maka mustahil kau mencari sampai ke rumahnya. Kau pasti akan lari menjauhi dan bahkan bersembunyi sepanjang umurmu”.
Empu Gandring dapat mengerti pertanyaan itu. Bagi orang-orang Kemundungan, maka Kebo Sindet adalah hantu yang paling menakutkan. Orang-orang di padesan ini pasti tidak akan berani melanggar pantangan yang diberikan oleh iblis itu. Tetapi ia memerlukannya, memerlukan keterangan itu.
“Ki Sanak” berkata Empu Gandring, “apakah kau mengetahui serba sedikit tentang Kebo Sindet?”
“Jangan menggigau” orang itu masih membentak, “pergi dari sini, atau aku akan membunuhmu?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa sulitnya untuk mendapatkan sedikit saja keterangan tentang orang itu. Apakah orang itu akan dipaksanya untuk berbicara? Tetapi bagaimana kalau ia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?
Kini Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu pula. Ia pasti akan mampu menankap orang itu, memilin tangannya dan memaksanya berbicara, tetapi apakah ia akan sampai hati berbuat demikian. Mungkin orang itu akan berbicara pula, tetapi orang itu untuk seterusnya pasti akan selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Mungkin ia akan kehilangan keseimbangan karena ketakutannya, sehingga orang itu akan berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya. Membunuh diri atau lari bersembunyi dan tidak berani muncul kembali diantara manusia. Tiba-tiba Empu Gandring itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah menemukan cara itu. Meskipun mungkin agak tidak disenanginya sendiri. Orang tua itu bukan seorang yang biasa menyombongkan dirinya, menunjukkan kelebihannya kepada orang lain. Tetapi cara ini, menyombongkan dirinya, masih lebih baik dari memaksa dan menyakiti orang itu untuk berbicara.
Karena itulah maka tiba-tiba pula Empu Gandring itu berdiri bertolak pinggang. Katanya lantang, “He, ki Sanak. Aku sudah bersabar bertanya kepadamu tentang Kebo Sindet. Tetapi kau sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan kau selalu mengancam dan menakut-nakuti aku. Aku bukan anak kecil lagi. Rambutku telah berubah menjadi dua warna. Wajahku pun telah mulai berkerut-merut. Karena itu, aku sudah tidak akan mengenal takut lagi. Umurku sudah sampai pada lingsir sore. Sebentar lagi, ibarat matahari, pasti akan terbenam. Karena itu, jangan memaksa lagi aku pergi. Jangan menakut-nakuti aku lagi. Aku tidak takut meskipun Kebo Sindet itu sendiri yang datang kemari sekarang ini. Nah, sekarang kau mau apa?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar