MENU

Ads

Jumat, 13 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 139

Kali ini orang-orang Kemundungan tidak dapat menilai, apakah orang yang bersenjata keris raksasa dipunggungnya itu pantas dikasihani atau tidak. Mereka tidak tahu, apakah sudah sepantasnya orang yang tak dikenal itu akan dihadapkan kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sebab meskipun mereka menjadi kagum dan hampir-hampir tidak mengerti akan apa yang dilihatnya, namun seolah-olah telah hampir menjadi suatu kepastian, bahwa kehadiran Kebo Sindet berarti bencana bagi orang yang tidak dikenal yang masuk ke dalam padesan ini.

Sejenak halaman rumah Tambi itu menjadi sepi tegang. Setiap orang berdiri kaku di tempatnya, seperti batang-batang pepohonan yang beku di halaman di sekitarnya. Mereka menunggu apakah yang akan terjadi kemudian. Apakah yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas orang tua yang kini duduk di dalam rumah Tambi itu. Mereka merasa ada kelainan dari peristiwa-peristiwa yang parnah terjadi.

Tambi pun kini menjadi berdebar-debar. Suara kentongan itu telah menjadikannya muak. Ia yang telah biasa mendengar suara itu, dan bahkan suara itu dapat memberinya ketenteraman dalam setiap kesulitan, namun kali ini ia menjadi sedemikian benci mendengar suara itu. Suara itu di telinganya kini bagaikan suara iblis yang berteriak-teriak dari lubang kubur. Tetapi ketika suara itu kemudian berhenti, hati Tambi pun menjadi semakin berdebar-debar. Biasanya, sesaat kemudian mereka pasti akan mendengar langkah kuda berderap di atas tanah berbatu-batu. Dan sesaat berikutnya mereka segera akan melihat pertunjukan maut.

Kesepian masih mencengkam halaman rumah Tambi dan halaman-halaman di sekitarnya. Beberapa orang laki-laki kurus berdiri tegak tanpa bergerak. Sedang anak-anak muda yang pucat bergerombol di bawah batang-batang pisang. Perempuan-perempuan biasanya hanya mengintip saja dari sela-sela pintu rumahnya yang tidak terkatub rapat sambil memeluk bayi-bayinya yang menangis ketakutan. Sejenak mereka diam menunggu. Empu Gandring pun duduk dengan hati berdebar-debar pula. Bukan karena cemas, bahwa Kebo Sindet akan datang, tetapi justru karena teka-teki di dalam hatinya, apakah Kebo Sindet akan datang atau tidak.

Ketegangan di halaman di sekitar rumah Tambi itu menjadi semakin memuncak. Mereka benar-benar merasakan perbedaan keadaan. Sudah beberapa lama bunyi kentongan menggetarkan lereng bukit gundul, namun mereka sama sekali belum mendengar kuda berderap. Mereka belum melihat Kebo Sindet atau Wong Sarimpat datang sambil berteriak-teriak. Mereka belum melihat sesuatu. Tambi pun berdebar-debar pula. Kebo Sindet ternyata tidak segera datang. Dan teringatlah ia kepada kata-kata Empu Gandring, bahwa Kebo Sindet sedang menyembunyikan diri.

Sebenarnya Tambi sudah sejak beberapa saat menemukan kepercayaan pada orang tua itu. Kini ia semakin yakin, bahwa semua kata-katanya bukan sekedar sesuatu sikap untuk membanggakan diri. Ternyata Kebo Sindet tidak segera datang. Sudah pasti bahwa Kebo Sindet tidak berani berhadapan dengan orang yang bernama Empu Gandring itu.

Meskipun demikian Tambi tidak segera berbuat sesuatu. Ditunggunya saja keadaan berkembang menurut keadaannya. Beberapa lama ia berdiri di muka pintu rumahnya memandangi tetangga-tetangganya yang tidak pula kalah tegangnya. Bahkan seakan mereka telah menggantungkan mata mereka di pagar-pagar batu yang rendah di sekeliling halaman masing-masing untuk melihat, apakah segera datang seekor kuda berderap di jalan berbatu-batu itu. Namun ternyata Kebo Sindet tidak segera datang.

Orang-orang di padukuhan Kemundungan itu mulai gelisah. Hal yang serupa jarang-jarang terjadi. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap kentungan itu berbunyi, Kebo Sindet atau Wong Sarimpat segera akan muncul. Tetapi sekali hal yang demikian memang pernah terjadi. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sedang tidak ada di gubuknya. Ketika kedua orang itu tidak segera datang, maka terdorong oleh rasa takut kepada mereka, maka Tambi mengambil kebijaksanaan lain. Sambil berteriak-teriak ia memanggil setiap laki-laki dan anak-anak muda. Mereka harus membantu Tambi menyelesaikan tugasnya.

Panggilan itu menjalar dari setiap mulut kemulut yang lain. Sejenak kemudian hampir setiap laki-laki dan anak-anak muda sudah berkumpul. Bahkan anak-anak tanggung pun berdatangan pula. Mereka lebih takut kepada Kebo Sindet dari pada orang yang tidak mereka kenal, yang tidak segera dapat dikalahkan oleh Tambi. Pada saat itu, orang yang sedang berkelahi melawan Tambi menjadi cemas melihat sekian laki-laki dan anak-anak muda, sehingga orang itu segera melarikan dirinya, sebelum ia melawan orang-orang Kemundungan itu.

Kini terjadi hal yang serupa. Kentongan itu sudah lama berbunyi. Tetapi Kebo Sindet masih juga belum datang. Dengan demikian maka laki-laki yang berada di sekitar halaman rumah Tambi itu berpikir, apakah Tambi akan mengambil kebijaksanaan yang serupa. Memanggil mereka, dan mengeroyok beramai-ramai. Tetapi ternyata Tambi tidak berbuat demikian. Kali ini ia tidak berteriak-teriak dengan penuh kemarahan. Tidak pula memanggil orang-orang yang berdiri di halaman di sekitar halaman rumahnya. Tetapi dengan kepala tunduk Tambi melangkah masuk ke rumahnya kembali dan kemudian duduk dihadapan Empu Gandring sambil berdesis,

“Tuan agaknya iblis itu tidak berani datang. Mungkin ia sudah menduga bahwa tuan akan kemari”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi menurut pendapatnya, tempat Kebo Sindet itu bersembunyi agaknya terlampau jauh, sehingga suara kentongan itu tidak dapat didengarnya. Karena itu maka ia bertanya,

“Ki Sanak, apakah suara kentongan itu dapat melampaui bukit gundul, menembus hutan dan mencapai rawa-rawa di mana Kebo Sindet itu bersembunyi, apabila ia benar ia berada di sana?”

Tambi mengerutkan keningnya. Katanya, “Tuan benar. Kalau tuan memang sudah mencari di gubuknya dan tuan tidak menemuinya setelah tuan mengejarnya, maka satu-satunya kemungkinan baginya adalah bersembunyi di tengah rawa-rawa itu”.

“Jadi tak ada gunanya aku menunggunya di sini”.

“Kalau ia sudah berada di gubugnya, maka ia akan segera datang kemari, apabila ia mendengar isyarat itu, tuan”.

“Kalau ia tahu bahwa aku lah yang di sini, mungkin ia tidak akan datang meskipun ia mendengar isyarat itu pula”.

Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia melihat wajah Empu Gandring menjadi kecewa.

“Maaf tuan” berkata Tambi kemudian, “aku tidak dapat membantu tuan lebih dari pada itu”.

“Oh” sahut Empu Gandring dengan serta-merta, “kau tidak mengecewakan aku. Kau sudah berbuat apa saja yang dapat kau lakukan. Tetapi aku kecewa karena Kebo Sindet tidak datang ke padukuhan ini seperti biasa”. Tambi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. “Persoalanku dengan Kebo Sindet adalah persoalan yang tidak dapat dibiarkan. Aku harus menemukan penyelesaian”. Tambi masih mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi apa boleh buat,” gumam Empu Gandring seakan-akan kepada diri sendiri, “aku harus menemukannya, meskipun aku harus menyeberangi rawa-rawa itu”.



“Tuan” tiba-tiba Tambi memotong, “kalau tuan mau mendengarkan permintaanku, jangan tuan mencoba menyeberangi rawa-rawa itu. Tak seorang pun yang akan pernah berhasil”.

“Kalau Kebo Sindet dapat melakukannya, kenapa aku tidak?”

“Orang itu sudah mengenal betul jalan yang harus dilaluinya. Mungkin ia mengenal pohon-pohon yang dapat dijadikannya sebagai ancar-ancar”.

“Bagaimanakah ia untuk pertama kalinya dapat sampai tempat itu?” bertanya Empu Gandring.

Tambi menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Mungkin seseorang telah menunjukkannya, tetapi mungkin hanya karena kebetulan saja, atau barangkali sengaja ia menjajagi rawa-rawa itu setiap hari dengan telaten untuk menemukan jalan memasuki hutan itu”.

“Aku akan menempuh cara yang terakhir. Aku akan menjajagi dengan hati-hati, sehingga aku menemukan jalan yang dapat langsung sampai ke tengah hutan itu”.

“Tuan akan memerlukan waktu yang lama. Tetapi kalau nasib tuan tidak begitu baik, maka tuan akan terperosok ke dalam lumpur. Jika demikian maka kemungkinan untuk menarik diri dari dalamnya adalah sulit sekali”.

“Terima kasih Ki Sanak, tetapi yang menjadi taruhan adalah sebuah nyawa. Kemanakanku telah dibawa oleh Kebo Sindet. Aku harus membebaskannya”.

“Tetapi bagaimana dengan nyawa tuan sendiri”.

“Aku sudah tua. Nyawaku sudah tidak begitu berharga dibanding dengan nyawa kemanakanku yang memiliki hari depan yang masih panjang”.

“Tetapi kalau tuan gagal menyeberangi rawa-rawa itu, maka tidak hanya satu nyawa, tetapi kedua-duanya tidak dapat diselamatkan”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Kerut-merut dikeningnya menjadi kian dalam. Sesaat kemudian ia bergumam, “Aku tidak boleh menyerah. Aku harus menemukannya. Aku mengharap bahwa aku akan dapat membebaskannya”.

Tambi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang tua itu sudah membulatkan tekadnya, sehingga tidak akan dapat dihalanginya lagi. Meskipun demikian, sekali lagi ia berkata,

“Tuan, pertimbangkanlah baik-baik. Apakah tuan tidak dapat mencari jalan lain?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Aku tidak dapat melihat jalan lain. Mungkin aku dapat menunggu Kebo Sindet keluar dari persembunyiannya, tetapi waktu itu akan terlampau panjang. Sadangkan dalam waktu yang panjang itu, segala kemungkinan dapat terjadi atas kemanakanku”.

“Jadi tuan akan mencoba menyeberangi rawa-rawa berlumpur itu?”

“Ya”.

Sekali lagi Tambi menarik nafas dalam-dalam, “Tuan akan mendapatkan kesulitan”.

“Tak ada pilihan lain” Empu Gandring bergumam sambil bergeser. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Aku akan pergi. Doakan saja, semoga aku dapat menyelesaikan pekerjaanku dengan baik”.

Tambi tidak dapat berbuat lain dari pada mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya membayangkan kecemasan, namun ia berkata, “Mudah-mudahan tuan selamat”.

Empu Gandring tersenyum, “Aku menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Agung. Aku hanya sekedar berusaha. Mudah-mudahan usahaku dibenarkan-Nya”.

“Ya, mudah-mudahan. Tuan berada dipihak yang benar”.

Sekali lagi Empu Gandring tersenyum, “Baiklah kau di padesan ini. Mudah-mudahan kau selamat”.

“Mudah-mudahan tuan. Tetapi aku tidak akan menggigil lagi meskipun aku akan mengalami nasib yang bagaimanapun juga”.

“Apa yang akan kau lakukan”.

“Tentu tidak berarti. Dan barangkali sebelum ada yang dapat aku lakukan, aku sudah dikejar maut”.

Empu Gandring tertawa perlahan-lahan, “Jalan kita serupa. Aku pun demikian. Mungkin belum ada yang dapat aku lakukan, dan aku sudah mati ditelan oleh lumpur itu. Tetapi aku tidak akan mundur. Aku akan terus berusaha”. Tambi mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab Empu Gandring telah melangkah keluar rumah itu sambil berkata, “Kita melakukan pekerjaan kita masing-masing. Kita berada dalam keadaan yang serupa. Kita saling berdoa, semoga pekerjaan kita masing mendapat perlindungan-Nya. Nah, selamat tinggal”.

“Terima kasih tuan” gumam Tambi perlahan-lahan.

“Kenapa terima kasih? Akulah yang harus berterima kasih kepadamu”.

“Karena kehadiran tuan aku menemukan ketenteraman”.

“Ah” Empu Gandring berdesah.

Kini ia telah melangkahi tlundak pintu. Ketika kakinya melangkah turun dari tangga rumah itu, maka dilihatnya berpasang-pasang mata mengawasinya dengan sorot mata yang aneh. Sejenak Empu Gandring tertegun. Tetapi sebelum ia bertanya Tambi telah memberinya keterangan,

“Tuan, mereka heran melihat tuan. Tuan datang ke pedukuhan ini dengan tiba-tiba. Tuan telah mempertunjukkan suatu keajaiban. Beberapa batang Tal dan Siwalanku telah tuan tumbangkan hanya dengan sabetan keris. Sekarang tuan pergi meninggalkan padukuhan ini tanpa berbuat sesuatu setelah Kebo Sindet tidak hadir meskipun kami telah memberikan isyarat kepadanya. Hal ini adalah suatu yang jarang-jarang sekali terjadi d isini. Karena itu mereka menjadi heran. Dan mungkin mereka menunggu apakah yang akan tuan lakukan. Mungkin mereka menyangka bahwa tuan akan membunuh aku, atau aku akan memanggil mereka untuk beramai-ramai mengeroyok tuan”.

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Aku minta diri. Katakanlah kepada mereka pula. Aku minta pamit. Kedatanganku kemari benar-benar untuk mencari Kebo Sindet, tanpa maksud yang lain”.

Tambi mengangguk, “Baik tuan”.

Sesaat kemudian mereka melihat Empu Gandring itu berjalan menuju ke kudanya yang diikatnya di halaman. Perlahan-lahan orang tua itu meloncat naik. “Selamat tinggal” katanya. Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kuda yang ditumpangi oleh orang tua berkeris dipunggungnya itu segera bergerak melangkah meninggalkan halaman rumah Tambi. Sesekali Empu Gandring menoleh. Ia masih melibat Tambi berdiri di halaman rumahnya. Sesudah itu, maka kuda itu pun segera berlari. Semakin lama semakin kencang meninggalkan Padukuhan Kemundungan.

Sepeninggal Empu Gandring, orang-orang Kemundungan segera pergi menemui Tambi dengan tergesa-gesa. Berbagai hal mereka tanyakan kepada orang yang bertubuh kekar itu. Namun mereka menjadi heran mendengar jawaban Tambi. Bahkan keterangan Tambi pun terdengar sangat aneh di telinga mereka. Seolah-olah Tambi bukanlah Tambi yang mereka kenal sehari-hari. Apakah yang telah mendorong Tambi untuk berbuat demikian, seolah-olah ia sama sekali tidak takut lagi kepada Kebo Sindet.

Sementara itu Empu Gandring berpacu meninggalkan padukuhan kecil yang tandus itu. Ia menjadi agak kecewa karena dari pedukuhan itu, ia sama sekali tidak mendapat suatu penjelasan apa pun jang dapat memperingan pekerjaannya. Ia hanya sekedar mendengar beberapa ceritera lama tentang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Namun dengan ceritera itu, Empu Gandring dapat meraba-raba, kenapa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selama ini berbuat aneh. Menimbun kekayaan, harta benda dan permata, tanpa menikmatinja sama sekali. Masa-masa lampau mereka telah menjadikan mereka ketakutan untuk mengalaminya seperti yang pernah terjadi itu. Mereka tidak ingin lagi kelaparan, kekurangan makan dan tidak memiliki selembar pakaianpun. Itulah sebabnya maka mereka menimbun sebanyak-banyaknya. Pengaruh yang masih mengendap di sudut relung hatinya, dimasa kanak-kanaknya telah membuat mereka orang yang aneh.

Kedua orang kakak beradik itu melihat dunia ini dengan hati mereka yang gelap, seolah-olah dunia ini penuh dengan tindak kejahatan, kekejaman dan penghisapan dari seorang kepada yang lain, dari yang kuat atas yang lemah. Supaya mereka pada suatu ketika tidak akan kehabisan persediaan untuk hidupnya dihari mendatang, apalagi apabila datang orang baru yang melampaui kekuatan mereka berdua, maka mereka telah mernpunyai simpanan yang mereka sembunyikan baik-baik. Dengan demikian, mereka telah terjerumus dalam cara hidup yang aneh. Siang malam berusaha untuk menambah timbunan harta benda tanpa pernah merasakannya. Makan dan pakaian mereka hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan dalam tataran yang paling rendah, seperti kebanyak orang-orang Kemundungan yang lain. Kesempatan-kesempatan untuk merasakan kenikmatan hidup, terlampau jarang dihayatinya.

Kedua kakak beradik yang seakan-akan hidup di dunia yang asing itu sama sekali tidak dapat melihat, apa yang sebenarnya gumelar di atas bumi ini. Lingkungan mereka adalah lingkungan yang memaksa mereka untuk menjadi seorang yang berhati hitam.

“Kasihan” tiba-tiba Empu Gandring itu berdesis sambil memacu kudanya, “orang-orang demikianlah, orang yang sebenarnya harus dikasihani. Nasibnya terlampau jelek, sehingga hampir-hampir tidak ada kesempatan untuk bangkit kembali. Nasib Wong Sarimpat ternyata lebih malang lagi. Ia sudah tidak mendapat kesempatan untuk berbuat apa-apa lagi. Ia mati dalam keadaan yang kelam”.

Tetapi Empu Gandring itu pun segera menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Aku pun kini membawa senjata ini untuk mencari Kebo Sindet. Apakah senjata ini akan dapat menjadi alat untuk menolongnya, mengambilnya dari dunianya yang sekarang, atau justru akan mendorongnya lebih dalam? Tetapi aku tidak dapat membiarkan Mahisa Agni. Aku harus melepaskannya. Kalau hal ini akan berakibat buruk bagi Kebo Sindet, maka hal itu sama sekali bukan tujuanku”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, dan menahan kendali kudanya sedikit ketika kuda itu mulai mendaki bukit gundul. Kemudian dengan menebarkan debu yang keputih-putihan kuda itu berderap di atas padas dan tanah yang kering. Sebentar kemudian kuda itu telah menuruni tebing yang curam. Empu Gandring terpaksa menahan kuda itu supaya berjalan perlahan-lahan dan hati-hati. Setelah bukit gundul itu dilalui, maka segera Empu Gandring menuju ke hutan yang berawa-rawa.

Hati orang tua itu mulai berdebar-debar ketika dari kejauhan dilihatnya hutan yang tidak begitu lebat. Dari sela-sela rimbunnya dedaunan, sinar matahari yang telah menjadi panas, seolah-olah bermain-main di atas air yang keruh berlumpur. Angin yang silir menggerakkan dedaunan dan bayang-bayang di wajah air. Ketika kudanya telah sampai di bibir rawa-rawa itu, maka Empu Gandring segera menahan kendali, sehingga kuda itu pun berhenti sebelum kaki belakangnya menginjak air.

Tetapi injakan kaki depan kuda itu telah mengejutkan Empu Gandring, karena tiba-tiba kuda itu meringkik dan dengan sekuat tenaga ditariknya kedua belah kakinya. Tetapi dengan demikian, maka tenaga kuda itu telah mendorong kaki belakangnya untuk menginjak air itu pula. Empu Gandring segera menyadari keadaannya. Sebelum kuda itu melonjak-lonjak dan justru menjadi semakin ketengah, segera ia meloncar turun di atas tanah yang tidak tergenang lumpur. Kemudian diteriak-teriaknya kudanya menepi. Lambat laun, kuda itu pun berhasil melepaskan kakinya dari dalam lumpur. Terdengar kuda itu meringkik sekali lagi sambil mengibas-ibaskan ekornya.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “inilah isi dari rawa-rawa ini. Tanah berlumpur yang gembur. Tetapi pasti ada bagian-bagian yang keras, yang dapat dilalui oleh kuda. Sebab terbukti bahwa Kebo Sindet dapat menyeberangi rawa-rawa ini pula”.

Empu Gandring masih ingat betul, dimanakah kuda Kebo Sindet yang diikutinya masuk ke dalam air. Tetapi setelah itu, ia tidak tahu, arah yang diambil oleh buruannya. Ia akan dapat mengikuti jejak itu masuk ke dalam rawa-rawa. Namun setelah itu, apakah ia tidak akan tersesat, terjerumus ke dalam lumpur, bahkan lumpur yang cukup dalam?. Empu Gandring kini berdiri termangu-mangu. Diingatnya pesan Tambi, orang yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rawa-rawa itu. Bahwa rawa-rawa itu sangat berbahaya baginya.

“Tetapi aku harus menolong Mahisa Agni.” desisnya.

Sejenak Empu Gandring tidak berbuat sesuatu. Ia masih memegang kendali kudanya.

“Aku akan menjajagi rawa-rawa itu dengan kaki” gumamnya kemudian.

Diikatkannya kudanya itu pada sebatang pohon. Diikatkannya kain panjangnya di lambungnya. Dengan hati-hati kemudian ia pergi ke tepi rawa itu, tempat bekas-bekas kaki kuda Kebo Sindet lenyap ditelan air.

“Di sini kuda itu masuk” desisnya kepada diri sendiri, “pasti bagian ini cukup keras”.

Dengan hati-hati Empu Gandring itu menginjakkan kakinya ke dalam air yang coklat berlumpur. Ternyata dugaannya benar. Ia mendapat tempat berpijak yang cukup keras. Setapak lagi ia maju setelah kakinya meraba-raba. Setapak demi setapak ia maju. Tetapi pekerjaan itu memakan waktu yang sangat lama. Namun Empu Gandring sama sekali tidak berputus asa. Ketika tiba-tiba kakinya tidak menemukan tanah yang keras di depannya, maka beberapa langkah ia surut sambil mencari bagian2 lain yang dapat diinjaknya.

“Ini adalah jalan satu-satunya” gumamnya.

Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika ia melihat sesuatu yang bergerak di dalam air. Semakin lama semakin dekat, seolah-olah sengaja menyerangnya. Empu Gandring berdiri diam dengan hati yang berdebar. Namun segera ia melihat, bahwa yang meluncur di dalam air yang keruh itu adalah seekor ular air hitam. Sejenis ular yang mempunyai bisa yang tajam.

“Hem” Empu Gandring berdesah, “ternyata rawa ini menyimpan seribu macam bahaya”.

Tetapi ternyata ular itu tidak langsung menyerangnya. Beberapa langkah dari Empu Gandring ular itu mengambil arah yang lain. Meskipun demikian Empu Gandring masih belum bargerak. Ia menyadari, babwa gerak yang paling kecil sekalipun akan dapat menarik perhatian ular itu. Namun demikian tangannya telah siap untuk menarik kerisnya apabila perlu.

Dipandanginya ular yang meluncur tidak jauh disampingnya itu dengan tanpa berkedip. Setiap saat ular itu dapat berhenti, berpaling dan meluncur mematuknya. Di tanah yang kering dan keras ia tidak perlu mencemaskan serangan seekor ular apabila ular itu dilihatnya. Empu Gandring termasuk salah seorang yang gemar bermain-main dengan bisa, sesuai dengan pekerjaannya, membuat keris. Tetapi di dalam air berlumpur, maka ia harus membuat perhitungan lain. Mungkin selangkah ia bergeser, maka kakinya akan terhisap masuk ke dalam lumpur. Karena itu, lebih baik ia berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun dari pada harus melakukan perlawanan atas ular itu dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkannya.

Ular itu pun meluncur semakin lama semakin jauh. Namun ular itu telah menimbulkan kesan yang mendebarkan jantung Empu Gandring. Ternyata ular air hitam itu cukup besar untuk menelan seekor kelinci. Sejenak Empu Gandring diam termangu-mangu. Ditatapnya rawa-rawa yang terbentang dihadapannya. Rawa itu masih cukup luas. Sedang airnya sama sekali tidak rata. Sebagian terlampau dangkal sehingga beberapa cengkang tanah kadang-kadang menonjol ke atas permukaan air. Namun di bagian yang lain ternyata terlampau dalam.

Tetapi Empu Gandring masih belum berputus asa. Ia masih mencoba melangkah maju, meraba-raba dengan kakinya. Beberapa kali ia terpaksa melangkah surut dan mencari tanah yang cukup keras. Kadang-kadang tanah itu mengeras seperti padas, tetapi licinnya bukan main. Namun selangkah lagi yang diinjaknya adalah lumpur yang sangat gembur.

Ketika Empu Gandring berpaling ke tanah yang tidak digenangi air maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ternyata jarak yang dicapainya sama sekali belum seberapa dibandingkan dengan waktu yang dipergunakannya. Ia masih melihat jelas kudanya makan rerumputan yang hijau. Bahkan ia masih melihat batang-batang perdu yang rendah diantara kaki-kaki kudanya itu.

“Aku akan memerlukan waktu berapa hari untuk menemukan jalan ke seberang” gumamnya, “tetapi apa boleh buat”.

Beberapa kali Empu Gandring mencoba berpegangan pada sulur-sulur tumbuh-tumbuhan air yang tampaknya menjadi semakin garang. Tetapi ia tidak dapat meloncat dari akar-akar sebatang pohon ke batang yang lain. Bahkan ia juga tidak menemukan kemungkinan untuk meloncat dari dahan pohon ke dahan berikutnya, karena jarak yang sama sekali tidak rata. Ketika Empu Gandring menengadahkan wajahnya, sekali lagi ia berdesah. Matahari sudah menjadi semakin condong.

“Sebentar lagi hari akan menjadi gelap Dan aku masih belum beranjak dari tempat ini”.

Ketika angin berdesir perlahan-lahan menyentuh dedaunan, maka Empu Gandring bersandar sebatang pohon, dan berdiri pada akar-akarnya. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya ia mengambil keputusan, bahwa ia harus menunda usahanya itu sampai besok. Sebelum gelap ia harus sudah berada di luar rawa itu, supaya ia tidak kehilangan jalan. Di dalam gelap maka bahaya akan menjadi lebih besar. Ular-ular air dan binatang-binatang berbisa lainnya. Desir ular-ular yang cukup besar akan dapat didengarnya, tetapi ular-ular yang kecil sama sekali tidak dapat diketahuinya. Sedang bisa ular-ular kecil itu pun cukup tajam untuk membenamkannya ke dalam rawa-rawa dan tidak akan bangkit kembali.

Meskipun Empu Gandring membawa juga beberapa macam reramuan untuk menawarkan bisa, tetapi obat itu tidak terlampau banyak, sedang agaknya ular dirawa-rawa ini merupakan penghuni utamanya. Lewat tanah-tanah yang telah diingatnya, Empu Gandring berjalan kembali menepi. Ia dapat berjalan lebih cepat dari pada ketika ia sedang mencari jalan itu. Meskipun demikian, kadang-kadang ia masih juga merasa kakinya menyentuh lumpur-lumpur yang lunak di sebelah batu-batu padas yang diinjaknya. Sebelum gelap Empu Gandring sudah berada di pinggir rawa itu. Ia sama sekali tidak merasa lapar. Tetapi lehernya rerasa kering. Sedang air yang dihadapinya adalah air berlumpur.

“Apakah aku harus minum air itu?” pikirnya. Tetapi Empu Gandring masih mencoba menahan haus. Kalau terpaksa, ia harus minum air itu juga.

Untuk menghindarkan diri dari serangan binatang-binatang yang tidak dikenalnya, maka ketika hari menjadi gelap Empu Gandring memanjat sebatang pohon di tempat yang agak lapang. Di sekitarnya tidak tumbuh pohon yang rimbun dan lebat. Sedang kudanya diikatnya di bawah pohon itu. Empu Gandring adalah seorang yang telah membiasakan diri hidup dalam keadaan yang sulit. Orang tua itu pun mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa. Ia mampu berkelahi tidak saja sehari semalam terus menerus tanpa berhenti, tetapi tiga hari ia akan dapat melakukannya.

Namun kini terasa tubuhnya menjadi letih. Hatinya juga letih. Usahanya untuk menemukan jalan menyeberangi rawa-rawa itu telah menegangkan segala urat syarafnya. Dengan demikian maka Empu Gandring itu benar-benar ingin beristirahat untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Besok ia masih harus bekerja keras. Meraba-raba jalan untuk menyeberangi rawa-rawa itu. Namun kadang tumbuh juga berbagai macam kecemasan di dalam hatinya. Ternyata di dalam air itu banyak terdapat ular-ular air hitam, dan mungkin binatang-binatang air yang lain yang belum dikenalnya. Kadal air yang berwarna abu-abu kehitam-hitaman pun mempunyai bisa setajam ular bandotan.

Tetapi yang lebih berbahaya lagi, apabila Kebo Sindet sengaja menemuinya di dalam rawa-rawa itu. Orang itu telah memiliki kemenangan pertama dari padanya. Ia jauh lebih mengenal watak dan sifat dari rawa-rawa berlumpur ini.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “Tetapi aku tidak akan mundur”.

Dengan demikian maka hatinya menjadi semakin bulat. Dan kini ia ingin benar-benar melepaskan segala macam ketegangan. Perlahan-lahan ia berdesah, “Biarlah aku pikirkan besok. Sekarang aku akan beristirahat, badan dan pikiran”.

Sekali lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diselimutkannya kain panjangnya pada hampir seluruh tubuhnya. Ternyata di atas dahan itu pun banyak sekali terdapat nyamuk. Sejenak Empu Gandring itu dapat benar-benar beristirahat. Matanya terpejam dan nafasnya berjalan dengan teratur. Meskipun orang tua tidak tertidur nyenyak, karena sebagian dari indranya masih mampu menangkap getaran-getaran yang terjadi di luar dirinya meskipun hanya lamat-lamat, namun istirahat yang demikian telah memberinya kesegaran baru.

Tetapi kesempatan itu ternyata tidak terlampau lama. Empu Gandring membuka matanya ketika ia mendengar kudanya menjadi gelisah. Sejenak Empu Gandring masih berdiam diri. Bahkan seakan-akan ia tidak banyak menaruh perhatian. Ia menyangka bahwa kudanya pun telah diganggu oleh semacam nyamuk-nyamuk yang cukup banyak dan besar di bawah pohon itu.

Namun ternyata kuda itu tidak saja berjalan melingkari pohon itu. Kemudian di garuk-garukkan kakinya dan sejenak kemudian bahkan kuda itu meringkik perlahan. Kini Empu Gandring tidak lagi dapat membiarkan kudanya menjadi gelisah. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang cukup maka segera ia tahu, bahwa kudanya telah mencium bau atau mendengar suara di sekellingnya.

“Aku menjadi iri pada kuda itu” berkata Empu Gandring di dalam batinnya, “beberapa tahun aku melatih diri, tetapi aku tidak akan mempunyai ketajaman firasat seperti seekor kuda. Mungkin seekor kuda mempunyai daya tangkap atas getaran-getaran yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Ternyata sampai sekarang aku belum mendengar, melihat apalagi mencium bau sesuatu yang dapat membuat aku menjadi gelisah seperti kuda itu”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar