MENU

Ads

Jumat, 13 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 140

Meskipun demikian, meskipun tampaknya Empu Gandring masih belum beranjak dari tempatnya, bahkan masih belum mengangkat kepalanya yang diletakkannya di atas sebatang dahan yang menyalang dahan tempatnya duduk, namun ia telah bersiaga sepenuhnya. Apabila ada bahaya yang mendatang setiap saat, maka Empu Gandring telah siap untuk menghadapinya.

Tetapi Empu Gandring masih belum mendengar maupun melihat sesuatu yang mencurigakannya, selain kudanya yang gelisah. Dedaunan di sekitarnya seolah-olah tidur dengan nyenyaknya. Tak ada yang kelihatan bergerak atau terdengar gemerisik di antara mereka. Meskipun demikian Empu Gandring sudah tidak lagi dapat beristirahat dengan tenang. Kudanya yang gelisah itu membuatnya gelisah pula. Yang pertama-tama mengganggu perasaannya adalah Kebo Sindet.

“Mungkin orang itu akan berusaha untuk mengintai aku dan kemudian dengan diam menyerang” katanya di dalam hati, “tetapi mudah-mudahan aku cukup sadar”.

Empu Gandring kemudian tidak lagi berusaha untuk tidur. Bahkan dipasangnya segenap daya tangkapnya setajam-tajamnya. Lambat laun, maka orang tua itu berhasil mendengar sesuatu di antara dedaunan beberapa langkah dari pohon tempat ia memanjat. Suara gemersik dedaunan, tetapi bukan karena angin malam.

“Apakah ada binatang buas di dalam rimbunnya dedaunan itu” pikirnya, “apabila demikian, maka binatang itu pasti sedang mengintai kudaku. Tetapi kalau yang berada di dalam gerumbul itu Kebo Sindet, maka pasti akulah yang diintainya”.

Sejenak Empu Gandring masih tetap ditempatnya. Ia ingin mengetahui, siapakah yang berada di dalam gerumbul itu. Akhirnya ia mengambil kesimpulan, bahwa yang berada di dalam gerumbul itu pasti bukan seekor binatang buas. Apabila yang bergerak-gerak itu binatang buas yang mengintai kudanya, maka binatang itu pasti sudah merayap mendekati, karena kudanya tidak juga pergi meninggalkan tempatnya karena terikat. Tetapi yang bergerak-gerak itu masih saja berada di tempatnya, bahkan kadang-kadang Empu Gandring seakan-akan kehilangan pengamatannya, karena dedaunan itu tiba-tiba sama sekali menjadi diam.

“Baiklah,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya, “kita saling menunggu. Manakah yang lebih sabar berada di tempatnya. Aku atau orang bersembunyi itu”.

Meskipun demikian Empu Gandring telah membetulkan letak kerisnya, dan mengikatkan kain panjangnya di lambungnya. Disingsatkannya ikat pinggangnya dan rambutnya pula. Orang tua itu kini duduk di atas sebatang dahan. Setiap saat ia dapat turun meluncur pada batang pohon, atau apabila perlu meloncat langsung turun di tanah. Tetapi ia masih belum melihat sesuatu. Namun kudanya semakin gelisah dan bahkan terdengar kuda itu beberapa kali meringkik. Tiba-tiba kuda itu melonjak, berdiri pada kaki belakang dan berputar putar sehingga tali pengikatnya menjadi semakin pendek.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ternyata orang yang berada di dalam gerumbul itu sudah mulai. Kudanya menjadi ketakutan dan berusaha untuk melarikan diri. Karena itu, maka Empu Gandring tidak akan dapat tetap berada di atas dahan pohon itu saja. Ia harus segera menghadapi keadaan itu. Tetapi seandainya yang datang itu Kebo Sindet, maka ia akan berterima kasih atas kedatangannya, sehingga ia tidak lagi perlu bersusah payah mencarinya. Tetapi bagaimanakah kalau Mahisa Agni masih ditinggalkannya di seberang rawa-rawa itu?.

Meskipun Empu Gandring tidak dapat meyakinkan dirinya, bahwa ia akan dapat mengalahkan Kebo Sindet, tetapi ia harus berusaha berbuat demikian untuk kepentingan kemenakannya itu. Kalau akhirnya tidak seperti yang diharapkannya, maka itu adalah akibat yang dapat saja terjadi. Namun ia percaya kepada Yang Maha Agung, bahwa akhirnya yang benar juga yang akan dilindunginya.

Ketika kudanya melonjak sekali lagi, maka Empu Gandring pun segera meloncat turun. Dengan penuh kesiagaan ia berjalan mendekati kudanya. Ditangkapnya kendali kuda itu, dan dibelainya lehernya untuk menenangkannya sambil bergumam perlahan,

“Tenanglah. Tak ada bahaya yang berarti bagimu. Orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu pun tidak akan berbuat jahat kepadamu”.

Kuda itu pun menjadi tenang. Namun Empu Gandring masih tetap dalam kesiagaan sepenuhnya meskipun tampaknya ia acuh tak acuh saja kepada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Tetapi Empu Gandring pun kemudian berpaling ketika ia mendengar suara dari dalam gerumbul itu,

“Benar Empu, Aku memang tidak akan berbuat jahat”.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “kenapa kau bersembunyi? Marilah kita berbicara”.

“Maaf Empu, aku tidak bermaksud bersembunyi. Aku hanya ingin supaya aku tidak mengejutkan Empu dan kuda itu. Tetapi ternyata kudamu mempunyai indera yang luar biasa tajamnya, sehingga ia menjadi gelisah”.

“Ah” Empu Gandring berdesah, “apakah kau ingin mengatakan bahwa ketajaman inderaku kalah dengan seekor kuda?”

“Eh” sahut suara itu, “jangan terlampau dalam menangkap kata-kataku. Aku sesungguhnya bermaksud baik. Tetapi aku memang tidak ingin mengganggumu. Bukankah kau ingin beristirahat?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak peduli apakah orang yang berada di dalam kegelapan gerumbul itu melihat anggukan kepalanya atau tidak. Tetapi Empu Gandring menjadi heran ketika ternyata suara itu sama sekali bukan suara Kebo Sindet.

“Apakah ada orang lain yang akan turut campur dalam persoalan ini? Mungkin Empu Sada? Tetapi suara itu pun bukan suara Empu Sada.” Katanya di dalam hati.



Tetapi bagi Empu Gandring lebih baik untuk langsung bertemu dengan orang yang bersembunyi itu dari pada ia masih harus berteka-teki. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak. Sebaiknya Ki Sanak tidak bersembunyi saja disitu. Kemarilah, kita berbicara dengan baik apabila maksudmu benar-benar baik”.

“Baiklah Empu” sahut suara itu, “aku akan datang. Sebenarnya aku pun akan mendekat, tetapi kudamu terlampau peka terhadap suara yang bagaimanapun lirihnya”.

“Kudaku sudah tenang Ki Sanak, kemarilah”.

Meskipun percakapan itu terdengar terlampau ramah, namun Empu Gandring tidak dapat melepaskan kewaspadaannya. Bahkan kerisnya telah mapan di punggungnya. Sejenak kemudian ia melihat gerumbul itu bergerak-gerak. Ternyata orang yang ditunggunya tidak bersembunyi di dalam gerumbul, tetapi hanya berlindung di belakang. Karena itu maka suara desir dedaunan yang ditimbulkannya terlampau lemah.

“Maafkan aku Empu, apabila aku mengganggumu”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Dicoba mengamati orang yang baru muncul dari balik gerumbul itu. Di dalam gelap malam ia tidak segera dapat melihat dengan jelas, siapa yang berdiri dihadapannya. Tetapi sudah jelas bahwa orang itu bukan Kebo Sindet dan juga bukan Empu Sada.

Setapak demi setapak orang itu melangkah maju. Namun langkah yang setapak-setapak itu memberitahukan kepada Empu Gandring bahwa orang yang dihadapinya ini adalah seorang yang tidak kalah berbahaya dari Kebo Sindet. Tetapi orang itu berkata bahwa ia tidak akan berbuat jahat. Meskipun demikian, karena Empu Gandring tidak segera dapat mengenalnya, maka ia masih belum dapat mempercayainya.

“Kemarilah Ki Sanak” berkata Empu Gandring kemudian.

Orang itu melangkah semakin dekat. Dan Empu Gandring melihat orang itu berjalan semakin lambat.

“Kemarilah” panggil Empu Gandring.

“Terima kasih Empu” sahut orang itu, “mudah-mudahan aku tidak mengejutkanmu”.

“Tidak, aku tidak terkejut karena kedatanganmu. Ternyata kau mempunyai cara yang baik sekali untuk mendekati pohon ini tanpa membangunkan aku. Tetapi aku terkejut karena kudaku yang menjadi gelisah. Nah, bukankah kudaku yang tidak pernah berlatih mempergunakan daya tangkap indera yang bagaimanapun juga itu mampu berbuat melebihi aku”.

“Ah” desah orang itu, “aku memang pernah mendengar ceritera, bahwa Empu Gandring senang berkelakar. Aku gembira dapat bertemu Empu lagi kali ini. Kesempatan yang lampau terlalu sedikit untuk mendengar kelakarmu yang segar”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Orang itu mengenalnya dengan baik. Bahkan orang itu berkata bahwa ia pernah bertemu dengan dirinya. “Hem,” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, “aku sudah pikun, dan malam terlampau gelap. Tetapi bagaimana ia dapat mengenal aku?” katanya di dalam hati.

Dan kini Empu Gandring melihat orang itu berhenti beberapa langkah dari padanya. Samar-samar Empu Gandring dapat melihat garis-garis bentuknya sebagai sebuah bayangan yang hitam. Tetapi wajah orang itu masih belum dilihatnya.

Akhirnya Empu Gandring terpaksa bertanya, “Siapakah kau Ki Sanak? Dan apakah maksudmu mendekati aku?”

Terdengar orang itu menarik nafas dalam-dalam. Menilik suaranya maka orang itu pun setidak-tidaknya sudah setua Empu Gandring sendiri. Perlahan-lahan orang itu berkata dalam nada yang datar,

“Empu, aku ingin mencoba mencegahmu menyeberangi rawa-rawa ini”.

“He,” dada Empu Gandring berdesir, “kenapa Ki Sanak? Apakah dengan demikian aku telah mengganggumu”.

“O tidak, tidak Empu. Kau sama sekali tidak mengganggu aku. Maaf, bahwa akulah yang sebenarnya mengganggumu”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang ramah sopan itu. Tetapi meskipun demikian ia masih tetap dalam kewaspadaannya.

“Kalau demikian kenapa Ki Sanak berkeberatan apabila aku menyebrangi rawa-rawa ini?”

“Aku bermaksud baik Empu. Rawa-rawa ini adalah rawa yang sangat jahat. Banyak sekali tersimpan bahaya di dalamnya. Mungkin Empu akan bertemu dengan ular air hitam, mungkin buaya-buaya kerdil yang sangat buas, yang hidup di dalam air pula.

“Ya, ya. Aku mengenal jenis-jenis binatang berbisa itu”.

“Tetapi Empu tidak menyangka bahwa binatang semacam itu banyak sekali terdapat di dalam rawa-rawa itu”.

“Aku sudah melihat. Aku sudah bertemu dengan sejenis ular air hitam sebesar lenganku”.

“Nah, itu adalah suatu contoh saja. Tetapi justru yang kecillah yang lebih berbahaya, sebab Empu akan dapat melihat kedatangan binatang-binatang yang cukup besar, tetapi yang kecil-kecil kadang-kadang dapat lepas dari perhatian”.

“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi rawa-rawa ini tidak mustahil untuk diseberangi. Ternyata Kebo Sindet dapat menyeberangi rawa-rawa ini. Coba bayangkan. Kebo Sindet yang berada di atas punggung kuda membawa serta pula di atas punggung kuda itu seorang lagi yang sedang pingsan. Berapakah kira-kira berat beban yang menekan pada ujung telapak kaki kuda itu di atas tanah di bawah air rawa-rawa ini? Ternyata beban seberat itu dapat juga lewat. Apalagi aku seorang diri, berdiri di atas telapak kakiku”.

“Empu, Kebo Sindet telah mengenal rawa-rawa ini sebaik ia mengenal dirinya sendiri. Ia tahu benar manakah tanah padas yang dapat diinjak, dan manakah tanah berlumpur yang harus dijauhinya. Tetapi Empu sama sekali belum mengenal rawa-rawa ini”.

“Tetapi Ki Sanak, ular, buaya-buaya kerdil dan kadal-kadal berbisa sama sekali tidak dapat membedakan, apakah yang lewat itu orang yang sudah mengenal tempat ini baik-baik atau bukan”.

Terdengar orang itu tertawa. Jawabnya, “Empu benar. Ular-ular air dan kadal-kadal yang buas itu tidak akan dapat mengenal apakah orang yang lewat itu sahabatnya atau bukan, tetapi Kebo Sindet lah yang telah mengenal dengan baik tiap bunyi dan gerak dari binatang-binatang berbisa itu. Bahkan orang-orang yang telah biasa dengan binatang-binatang semacam itu dapat membedakan lewat penciumannya. Kebo Sindet mengenal pula riak air rawa-rawa ini. Apakah didekatnya ada ular air atau kadal air yang sedang meluncur. Dengan demikian ia dapat menyiapkan dirinya. Cara yang paling baik adalah berdiam diri tanpa bergerak, untuk tidak menarik perhatian binatang-binatang itu”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, “Aku juga biasa bermain-main dengan binatang-binatang berbisa Ki Sanak. Mungkin aku akan dapat menyesuaikan diriku dengan kebiasaan binatang di dalam rawa-rawa ini”.

“O” orang itu terdiam sejenak, kemudian katanya, “ya, aku lupa bahwa aku berhadapan dengan seorang Empu keris yang kenamaan. Seorang yang pasti jauh lebih mengenal watak dari binatang-binatang berbisa daripada aku. Namun meskipun demikian, aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Empu mengurungkan niat untuk menyeberangi rawa-rawa ini”.

Empu Gandring tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menatap wajah orang yang berdiri beberapa langkah dari padanya. Ia sama sekali tidak melihat sikap yang mencurigakan pada orang itu. Dan kata-katanya pun cukup sopan dan ramah. Bahkan terasa hasrat yang sebenarnya tersirat pada kata-katanya, seperti yang pernah didengarnya dari Tambi. Sejenak Empu Gandring mempertimbangkan nasehat itu. Tetapi sejenak kemudian perasaannya telah hinggap kembali kepada hasratnya untuk menolong Mahisa Agni. Ia tidak dapat berbuat lain dari menyeberangi rawa-rawa itu.

Karena itu, maka kemudian Empu Gandring itu pun berkata, “Maaf Ki Sanak, aku tidak mempunyai cara lain dari menyeberangi rawa-rawa ini. Aku harus mendatangi tempat persembunyian Kebo Sindet untuk mengambil kemanakanku itu”.

“Empu, katakan bahwa Empu dapat melawan segala macam binatang berbisa karena Empu mempunyai obat penawarnya. Tetapi berapa lama Empu memerlukan waktu untuk mencari jalan di dasar rawa-rawa itu?”

“Mungkin sehari, mungkin sebulan dan mungkin setahun. Tetapi aku bertekad untuk melakukannya”.

“Empu, aku tahu apakah yang telah mendorong Empu untuk membulatkan tekad menyeberangi rawa-rawa ini. Tetapi sebaiknya niat itu Empu urungkan saja. Kalau Empu percaya kepadaku, serahkanlah Mahisa Agni, bukankah kemanakan Empu itu bernama Mahisa Agni itu kepadaku. Aku kira cara yang tidak terlampau mengejutkan akan lebih baik bagi kemanakan Empu itu, supaya Kebo Sindet tidak menjadi mata gelap dan mencelakainya. Kita mempunyai kepentingan yang sama atas anak muda itu”.

Empu Gandring terdiam sejenak. Ia mecoba mengamati bayangan yang berdiri di dalam gelapnya malam beberapa langkah dari padanya. Tetapi orang yang berdiri dalam kegelapan itu sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaannya.

“Ki Sanak,” berkata Empu Gandring kemudian, “siapakah sebenarnya Ki Sanak itu?”

“Kau memang senang bergurau Empu”.

Sekali lagi Empu Gandring terdiam. Dicobanya mengingat orang-orang yang pernah dikenalnya. Orang-orang itu sebenarnya tidak terlampau banyak. Tetapi suara ini nadanya terlampau dalam. Empu Gandring perlahan-lahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia perlahan-lahan berhasil mengingat gaya bicara yang demikian. Tetapi nada suaranya sudah agak jauh berubah dari nada yang pernah dikenalnya. Meskipun demikian maka Empu Gandring tidak melihat orang lain yang lebih dekat dari dugaannya itu. Apalagi orang itu pulalah yang memang mempunyai kemungkinan paling besar untuk berbuat demikian. Meskipun demikian untuk meyakinkan dugaannya Empu Gandring bertanya,

“Ki Sanak. Sebaiknya Ki Sanak menolong aku. Aku memang sudah pikun. Apalagi pada saat-saat hatiku gelap seperti saat ini. Aku hampir tidak berhasil mengingat apapun lagi kecuali berangan-angan tentang rawa itu”.

“Hem” orang yang berada di dalam kegelapan itu berdesah, “apakah Empu benar-benar tidak dapat mengenal aku? Mungkin suaraku agak berubah karena keadaanku akhir-akhir ini. Aku hampir-hampir tidak pernah lagi berada di dalam lingkungan hidup sesama. Aku memang ingin mengasingkan diriku di tempat yang sepi. Mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Tetapi ternyata bahwa aku memang belum diperkenankan untuk tinggal berdiam diri menghadapi keadaan lahir yang penuh dengan noda-noda yang hitam. Kalau sekali-kali aku melihat keadaan Mahisa Agni, maka suatu kali aku melihat hal-hal yang tidak wajar yang dapat membahayakan jiwanya.

Itulah sebabnya aku terpaksa wudar dari pengasinganku untuk membayanginya. Tetapi ternyata aku tidak mampu mencegah semuanya yang telah terjadi. Bahkan aku sama sekali tidak berbuat sesuatu. Ternyata Empu Gandring lebih cepat berbuat dari padaku. Namun Empu Gandring pun telah gagal untuk mencegah Kebo Sindet membawanya. Tetapi, itu bukan salah Empu. Empu telah berbuat apa saja yang dapat Empu lakukan karena Mahisa Agni adalah kemanakan Empu. Namun ternyata Mahisa Agni sampai kini masih belum dapat diketemukan”.

Empu Gandring memandang bayangan itu semakin tajam. Ia semakin dapat mengenal gaya bicara orang itu. Bahkan beberapa kali ia menangkap kepastian, siapakah yang sedang berbicara itu. Tetapi Empu Gandring itu masih bertanya,

“Ki Sanak. Aku tidak bergurau. Aku tidak segera dapat mengenal Ki Sanak. Aku hanya dapat menduga-duga. Mungkin Ki Sanak sengaja merubah suara Ki Sanak dalam nada yang berbeda. Sedang bentuk wajah Ki Sanak di dalam kegelapan tidak dapat aku lihat dengan jelas. Apakah aku dapat melangkah mendekat?”

“Empu” jawab orang itu, “sebenarnya aku sudah memutuskan untuk mengasingkan diri. Aku lebih baik tidak lagi berhubungan dengan siapa pun kecuali Mahisa Agni dalam hubungannya untuk melepaskan dari tangan Kebo Sindet”.

“Tetapi sikap Ki Sanak semakin meyakinkan aku, dengan siapa aku berhadapan”.

“Aku sudah menyangka bahwa Empu dapat mengenal aku. Tetapi baiklah kita untuk seterusnya tidak usah bertemu lagi. Sebaiknya Empu kembali ke Lulumbang. Mungkin Empu dapat singgah sebentar di Karautan, untuk memberitahukan bahwa seseorang sedang berusaha melepaskan Mahisa Agni apabila berhasil”.

“Tetapi aku harus mendapat suatu keyakinan bahwa orang yang mengatakan dirinya bersedia melepaskan Mahisa Agni, setidak-tidaknya berusaha melepaskannya adalah seorang yang dapat aku percaya”.

“Bukankah Empu telah mengetahui, siapakah yang menyatakan dirinya akan berusaha melepaskannya?”

Empu Gandring mengangguk anggukkan kepalanya. “Kenapa kau begitu jauh mengasingkan dirimu?” tiba tiba Empu Gandring bertanya.

“Tak ada lagi gairah hidupku kini, selain melepaskan Mahisa Agni itu. Sesudah itu, sesudah aku berhasil melepaskannya, maka aku tidak akan dapat ditemui lagi oleh siapapun”.

“Apakah semula kau ingin mcnyembunyikan dirimu dalam pertemuan ini?”

“Sebenarnya, tetapi aku tidak akan dapat memberi Empu kepercayaan, apabila Empu tidak mengenal aku”.

Empu Gandring mengangguk-angguk pula. Perlahan-lahan ia ia menarik nafas dalam-dalam sambil bertanya, “Bagaimana Ki Sanak akan dapat menyeberangi rawa-rawa ini?”

“Aku seorang perantau Empu. Hidupku, apalagi akhir-akhir ini sebagian besar adalah di dalam perjalanan. Aku menjajagi rawa-rawa ini bukan hanya karena Mahisa Agni. Tetapi sebelumnya aku pernah melihat Kebo Sindet menyeberangi rawa-rawa ini sambil membawa barang yang berhasil dirampasnya. Aku tidak hanya melihatnya satu dua kali. Tetapi beberapa kali bersama Wong Sarimpat. Maka pada suatu kali tumbuhlah keinginanku untuk mengikutinya. Tentu saja dengan sangat hati-hati. Akhirnya aku menemukan jalan juga untuk sampai ke seberang rawa-rawa”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tiba tiba ia berkata, “Apakah kita tidak dapat bersama-sama pergi keseberang rawa-rawa itu dan mengambil Mahisa Agni dengan kekerasan?”

“Mungkin kita berdua akan dapat mengalahkan Kebo Sindet” jawab orang itu, “tetapi hal itu akan sangat berbahaya bagi Mahisa Agni. Kebo Sindet akan dapat mempergunakan Mahisa Agni sebagai alat untuk menyelamatkan diri atau bahkan membunuh anak muda itu sama sekali”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jadi bagaimanakah sebaiknya?”

Sejenak orang yang berdiri di dalam kegelapan itu tidak menjawab, sehingga mereka dicengkam oleh kediaman. Masing-masing mengikuti arus pikiran sendiri. Angin malam yang basah bertiup perlahan-lahan menggerakkan dedaunan yang hijau. Batang-batang pohon bergerak seperti hantu-hantu yang sedang menari-nari dengan malasnya. Sekali-sekali kuda Empu Gandring menggaruk-garukkan kakinya yang digigit oleh nyamuk-nyamuk yang besar. Di langit bintang bergayutan seperti ditaburkan di wajah yang biru pekat. Dari sela-sela dedaunan yang jarang bintang-bintang itu mengintip air rawa-rawa yang pekat berlumpur.

Ketika dikejauhan terdengar suara anjing liar menggonggong maka bertanyalah Empu Gandring mengulang, “Jadi bagaimanakah sebaiknya?”

“Sebaiknya Empu pulang ke Lulumbang. Akulah yang akan mengusahakan agar Mahisa Agni dapat lepas dari tangan Kebo Sindet dengan bahaya yang sekecil-kecilnya bagi anak muda itu sendiri”.

“Aku akan tinggal di sini bersamamu”.

Orang itu tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, “Jangan Empu. Semakin banyak orang disini, Kebo Sindet akan semakin cepat mengetahui bahwa ia sedang diintai. Karena itu percayakanlah Mahisa Agni itu kepadaku”.

Empu Gandring termenung sejenak. Ia percaya kepada orang itu. Tetapi apakah ia mampu berbuat demikian? Dirinya sendiri sedang mencobanya pula, tetapi belum berhasil. Dan bagaimanakah dengan orang itu?. Tetapi selayaknyalah ia mempercayainya. Kesungguhan dan ketekunannya pasti akan dapat dipertaruhkan.

“Apakah Empu percaya kepadaku?”

Empu Gandring mengangguk, “Ya. Aku percaya”.

“Kalau begitu Empu dapat segera meninggalkan tempat ini”.

Sekali lagi Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sekarang, malam ini juga?”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Terserah kepadamu Empu. Sekarang atau nanti atau besok sesudah matahari terbit”.

Empu Gandring pun tertawa pula. Meskipun hatinya masih dipenuhi oleh kecemasan tentang nasib kemenakannya, namun kesanggupan orang itu telah memberinya sedikit ketenteraman. Karena itu maka Empu Gandring itu pun kemudian berkata,

“Baiklah. Besok aku akan pergi meninggalkan tempat yang penuh dengan nyamuk-nyamuk yang buas ini. Aku percaya ke padamu. Aku akan kembali ke Lulumbang dan aku akan singgah ke Padang Karautan. Memberitahukan kepada orang-orang Panawijen dan para Prajurit Tumapel yang ikut serta dalam pembuatan bendungan itu, supaya mereka menunggu Mahisa Agni dengan sabar. Begitu?”

“Ya Empu.” sahut orang itu perlahan-lahan dalam nada yang dalam, “seterusnya aku mengucapkan terima kasih ke padamu atas kepercayaan itu. Hati-hatilah. Disini bukan saja nyamuk-nyamuk dan Kebo Sindet yang cukup buas, tetapi juga anjing-anjing liar di malam hari cukup berbahaya bagi kudamu”.

“Terima kasih atas peringatanmu. Mudah-mudahan anjing-anjing itu tidak datang kemari kali ini”.

“Nah Empu” berkata orang itu kemudian, “aku sudah cukup lama bercakap-cakap dengan Empu. Baiklah sekarang aku pergi. Aku masih mempunyai beberapa kepentingan”.

“Malam begini?” bertanya Empu Gandring.

“Ya. Tetapi kepentingan yang sebenarnya tidak penting”.

“Baiklah. Aku akan selalu berdoa mudah-mudahan kau berhasil melepaskan anak itu. Sampaikan pesanku kepadanya, apabila ia sempat, supaya segera pergi ke Lulumbang. Sebelum aku melihatnya, maka aku masih akan selalu diganggu oleh kegelisahan. Mudah-mudahan usaha itu segera berhasil”.

“Mudah-mudahan.” desis orang itu, yang kemudian disambungnya, “Selamat malam Empu. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi”.

“Ah, jangan begitu. Tak akan ada pengasingan diri yang mutlak”.

“Ah, kenapa tidak ada?”

“Itu menyalahi kewajiban kita diantara sesama. Kebajikan hanya ada di antara sesama”.

“Kau benar Empu. tetapi dosa pun akan mudah tumbuh di dalam lingkungan sesama. Betapa sudah besar dosaku. Apakah aku masih harus menambah lagi?”

“Kesadaran dan pengendalian diri akan mengekang segala perbuatan”.

“Aku kira aku sudah cukup lama hidup di dalam lingkungan sesama. Aku ingin menemukan kejernihan hati. Aku ingin melihat diri betapa dosaku telah bertimbun”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia mempunyai pendirian yang agak berbeda, tetapi ia tidak membantah lagi.

“Sampaikan salamku kepada siapa saja yang pernah mengedal aku Empu. Aku minta maaf atas segala kesalahan dan kekeliruan yang pernah aku lakukan atas mereka”.

“Baiklah” jawab Empu Gandring, “tetapi percayalah, bahwa tidak akan ada pengasingan yang mutlak”.

Orang itu tertawa. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah surut. Ketika orang itu berbalik dan melangkah beberapa langkah menjauh, maka orang itu seakan-akan hilang ditelan gelapnya malam. Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih saja berdiri memandangi arah orang itu menghilang.

“Hem, begitu besar tekadnya. Tetapi pengasingan diri bukanlah suatu penyelesaian yang baik. Namun aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan apabila aku mengalaminya?” desisnya lambat.

Empu Gandring itu tersadar ketika ia mendengar kudanya meringkik kecil. Perlahan-lahan dibelainya suri kuda itu sambil berbisik, “Besok kita pulang. Aku percaya bahwa Mahisa Agni akan mendapat pertolongan. Sudah terlampau lama aku meninggalkan Lulumbang, Perjalanan ini menjadi pengalaman yang menarik bagiku.”

Meskipun kuda Empu Gandring tidak dapat menjawab. tetapi tatapan matanya seakan-akan dapat mengerti kata-kata orang tua itu.

“Kita masih mempunyai waktu sedikit” berkata Empa Gandring seterusnya, “kita menunggu fajar, supaya kita dapat melihat jalan yang kita lalui dengan baik”.

Sejenak kemudian, setelah Empu Gandring mengendorkan kembali tali kudanya yang melingkar-lingkar pada pohon tambatannya, maka ia pun memanjat pohon itu lagi. Ia masih akan mempergunakan waktu yang tersisa sebelum fajar untuk beristirahat. Namun kini ia tidak lagi dapat melupakan persoalannya. Kadang-kadang hatinya masih disentuh olah keragu-raguan. Apakah Mahisa Agni akan berhasil dibebaskan?.

“Tetapi aku percaya kepadanya” desisnya untuk mencoba menemtramkan hatinya.

Namun sampai cahaya fajar yang kemarah-merahan membayang di Timur, Empu Gandring tidak lagi dapat memejamkan matanya sama sekali. Tetapi dengan demikian terasa tubuhnya telah menjadi agak segar, meskipun lehernya juga kering. Ketika kemudian langit menjadi semakin terang, Empu Gandring telah siap di punggung kudanya.

Sejenak kemudian kuda itu pun meluncur meninggalkan hutan yang tidak terlampau lebat itu, namun digenangi oleh rawa berlumpur yang penuh dengan bermacam binatang air. Dilaluinya padang rumput yang tidak terlampau luas dan didakinya beberapa puncak-puncak kecil dari bukit-bukit gundul yang berpadas-padas dilumuri oleh lumpur pula. Tetapi Empu Gandring tidak menuju ke Kemundungan. Kudanya segera menempuh jalan kembali ke Padang Karautan.

Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala orang tua itu. Ia masih belum dapat melepaskan keragu-raguannya sama sekali. Tetapi ia selalu berdoa, semoga usaha yang dilakukan untuk melepaskan Mahisa Agni segera berhasil. Perjalanan yang ditempuh oleh Empu Gandring ternyata tidak mengalami kesulitan. Sekali-sekali ia berhenti untuk mencari air. Bukan saja untuk minum kudanya, tatapi untuk minumnya sendiri pula. Kemudian sesudah itu, ia langsung menuju ke Padang Karautan. Kudanya berlari tidak terlampau cepat, tetapi juga tidak terlampau lamban. Dilaluinya jalan berbatu-batu, padang-padang perdu dan kemudian dimasukinya Padang Karautan yang kering. Sinar matahari yang terlampau tinggi terasa menyengat kulit. Debu yang beterbangan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda hinggap pada tubuh yang basah oleh keringat.

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wiek (Wijil)
Recheck/Editing: Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar