PdLS-29
APALAGI, setelah dimasukinya Padang Karautan. Padang yang seakan-akan terbakar oleh sinar matahari. Tetapi, bagaimana pun juga maka padang itu harus dilintasinya, padang yang seakan-akan tidak bertepi. Ketika Empu Gandring melayangkan pandangan matanya jauh-jauh, maka dilihatnya seolah-olah ujung padang itu bertemu dengan kaki langit.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. “Panasnya bukan main,” gumamnya.
Tetapi tak ada jalan lain yang sedekat itu dapat dilaluinya. Mungkin Empu Gandring dapat memilih lewat tepi-tepi hutan. Tetapi jarak yang ditempuhnya hampir berlipat dua. Perjalanan ini merupakan perjalanan yang melelahkan. Haus dan terik matahari sangat mengganggu. Beberapa kali Empu Gandring terpaksa beristirahat karena kudanya yang kehausan. Untunglah bahwa kadang-kadang ditemuinya pohon-pohon perdu meskipun tidak terlampau rimbun. Tetapi bayang-bayangnya yang pendek dapat untuk sesaat melindungi Empu Gandring dan kudanya dari sengatan panas sinar matahari.
Baru setelah matahari condong rendah di barat, perjalanan Empu Gandring dapat mencapai sungai yang menjelujur di Padang Karautan itu. Sungai yang pada perpanjangannya dibuat bendungan oleh orang-orang Panawijen. Dengan demikian maka perjalanan Empu Gandring seterusnya adalah menyelusur di sepanjang pinggir sungai itu. Dengan demikian maka ia lebih banyak mendapat perlindungan dari pepohonan yang agak rimbun, yang tumbuh di sepanjang tepian sungai. Matahari yang menyala di langit, semakin lama menjadi semakin rendah di ujung barat. Sinarnya yang semakin pudar menjadi berwarna kemerah-merahan.
“Hem,” Empu Gundring menarik nafas dalam-dalam, “perjalanan yang cukup berkesan. Sebuah cerita yang menarik bagi Angger Ken Arok.”
Sementara itu, senja menjadi semakin kelam. Perlahan-lahan Padang Karautan pun diselimuti oleh warna yang gelap. Tetapi, perjalanan Empu Gandring ternyata telah hampir sampai pada tujuannya. Ternyata, ketika seluruh padang itu telah ditelan oleh kegelapan, di kejauhan Empu Gandring melihat perapian yang memancar lemah. Meskipun masih agak jauh, tetapi Empu Gandring sudah dapat memastikan, bahwa di situlah letak kemah-kemah orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok yang aneh.
Tanpa sesadarnya, Empu Gandring mempercepat lari kudanya. Ia ingin segera sampai di perkemahan itu dan ingin segera bertemu dengan Ken Arok. Sisa yang tidak begitu panjang itu ditempuhnya dalam waktu yang pendek. Ketika kudanya mendekati perkemahan itu, maka dilihatnya dua orang mendatanginya.
“Siapa?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ternyata orang-orang di perkemahan ini menjadi semakin berhati-hati,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya.
“Siapa?” pertanyaan itu diulangi.
“Aku,” sahut Empu Gandring.
“Aku siapa?”
“Aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.
Sejenak dua orang itu diam mematung. Kemudian mereka saling berpandangan dan seorang dari mereka berdesis, “Empu Gandring.”
“Ya, aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.
“Bukankah tuan paman Mahisa Agni yang pergi bersamanya ke Panawijen?”
“Ya,” jawab Empu Gandring,
”O,” orang itu terdiam sejenak sedangkan kawannya yang seorang lagi berkata, “Kami telah menunggu tuan. Marilah, silakan datang ke gubug Ki Buyut yang menunggu kedatangan tuan dengan berdebar-debar. Bahkan hampir tidak bersabar lagi.”
“Baiklah,” jawab Empu Gandring sambil melompat turun dari kudanya. Bersama dengan kedua orang itu ia berjalan ke gubug-gubug yang berdiri berderet-deret di antara timbunan barang-barang yang akan diletakkan menjadi bagian dari bendungan yang masih belum jadi itu.
“Ki Buyut ada di dalam gubugnya,” desis salah seorang dari kedua orang itu.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” jawabnya. “Aku akan menemuinya. Tetapi apakah Angger Ken Arok telah kembali kemari pula?”
“Ya, ia sudah kembali,” jawabnya. “Bukankah yang tuan maksud Ken Arok pemimpin para prajurit dari Tumapel?”
“Ya.”
“Mungkin ia berada bersama Ki Buyut pula. Kalau tidak, maka biarlah aku memberitahukan kepadanya, bahwa tuan telah datang.”
“Baiklah,” jawab Empu Gandring.
Maka kemudian ditambatkannya kudanya pada sebuah patok. Per-lahan-lahan ia mendekati gubug Ki Buyut Panawijen. Kemudian diketoknya salah sebuah dari tiang-tiangnya yang rendah. Ki Buyut yang duduk beristirahat di dalam gubugnya mengangkat kepalanya. Diamatinya bayangan di luar gubugnya, di dalam keremangan sinar pelita.
“Siapa?!” bertanya Ki Buyut.
“Aku Ki Buyut, Empu Gandring.”
“O, marilah Empu,” Ki Buyut tergopoh-gopoh berdiri dan menyambut Empu Gandring di luar gubugnya, “marilah, silakanlah.”
Empu Gandring pun kemudian masuk ke dalam gubug itu dan duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk rumput kering.
“Ah,” Ki Buyut itu berdesah, “kami hampir tidak sabar lagi menunggu kedatangan Empu. Bagaimanakah dengan perjalanan Empu ke Kemundungan? Kenapa Empu datang seorang diri tanpa Angger Mahisa Agni? Apakah terjadi sesuatu dengan anak muda itu?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab, Ki Buyut telah mendahuluinya pula, “Bukankah Empu pergi menyusul kemanakan Empu itu? Sedangkan Angger Ken Arok pergi mengantarkan Empu Sada? Kini Angger Ken Arok telah berada di sini. Banyak yang diberitahukannya kepada kami tentang Empu dan tentang Angger Mahisa Agni.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan didengarnya Ki Buyut masih juga berkata terus, “Kami mengharap bahwa Empu akan berhasil membawa kembali Angger Mahisa Agni. Tetapi kini aku lihat Empu datang seorang diri. Apakah Angger Mahisa Agni masih menunggu di luar?”
Tetapi Empu Gundring tidak mendapat kesempatan untuk menjawab. Buyut Panawijen yang tua itu ternyata telah dicekam oleh kegelisahan dan kecemasan yang amat sangat sehingga tanpa sesadarnya telah mempergunakan segala kesempatan untuk berbicara sendiri. Namun akhirnya Ki Buyut itu berhenti juga bertanya ketika ia melihat Ken Arok dengan tergesa-gesa memasuki ruang itu pula. Sebelum ia duduk, maka ia telah bertanya,
“Bagaimana dengan usaha Empu untuk menebaskan Mahisa Agni?”
“Duduklah Ngger,” Empu Gandring mempersilakannya.
Sambil menarik nafas dalam-dalam maka Ken Arok itu pun kemudian duduk di sampingnya. Dipandanginya wajah Empu Gandring yang tenang, namun mengandung seribu macam teka-teki yang tidak segera dapat ditebaknya.
“Apakah usaha Empu berhasil?” bertanya Ken Arok itu kemudian.
Kali ini Empu Gandringlah yang menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Sebagian Ngger. Sebagian berhasil tetapi hasil selengkapnya masih belum dapat kita pastikan.”
Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya.
“Aku tidak meneruskan usaha itu dengan tenagaku sendiri,” berkata Empu Gandring seterusnya.
“Jadi?” bertanya Ken Arok.
Empu Gandring menggeser duduknya sejengkal. Kemudian diangkatnya wajahnya memandangi pelita yang tersangkut pada tiang bambu gubug itu. Perlahan-lahan ia mulai mengisahkan perjalanannya, sejak ia berpisah dengan Ken Arok, mengikuti jejak Kebo Sindet, hingga ia memerlukan singgah ke Kemundungan. Akhirnya diceriterakannya bahwa ia mempercayakan usaha melepaskan Mahisa Agni kepada orang lain, orang yang mempunyai kewajiban pula seperti dirinya sendiri.
“Oh,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Ki Buyut Panawijen diam terpekur.
Di luar gubug itu beberapa orang telah berkerumun untuk mendengarkan keterangan itu pula. Beberapa orang saling berbisik sedangkan yang lain menjadi sedih. Mereka menyesalkan betapa Mahisa Agni itu mengalami berbagai macam kejadian yang pahit. Sedangkan tenaganya sebenarnya sangat diperlukan saat ini oleh orang-orang Panawijen yang sedang membangun bendungan itu. Untunglah bahwa di antara mereka telah hadir seorang yang bernama Ken Arok, menggantikan kedudukan Mahisa Agni yang dapat selalu membakar niat orang-orang Panawijen untuk menyelesaikan bendungannya.
Sesaat kemudian cerita tentang Mahisa Agni itu telah menjalar ke seluruh sudut perkemahan itu. Setiap orang kemudian mendengarnya. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel. Beberapa orang menjadi terharu dan iba sedangkan beberapa orang lain menyimpan dendam di dalam hatinya.
“Terlalu. Kuda Sempana ternyata telah memperalat ayahnya yang tua untuk mencelakai Mahisa Agni. Dosa anak itu ternyata memercik kepada ayahnya pula, yang seharusnya berusaha mencegahnya.”
Tetapi semuanya sudah telanjur. Semuanya sudah terjadi sehingga mereka hanya dapat berdesah di antara mereka sendiri. Di dalam gubug Ki Buyut, Ken Arok menekurkan kepalanya. Keningnya tampak berkerut-merut. Wajah anak muda itu benar-benar menjadi tegang.
Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya sambil menggeram, “Aku akan mengambil pasukan ke Tumapel. Prajurit segelar sepapan. Aku kepung daerah berawa-rawa itu. Mustahil kalau kita tidak akan dapat menyeberang. Aku mengenal beberapa macam rawa-rawa. Mungkin aku akan dapat mengenal tempat-tempat yang gembur berlumpur dan tempat-tempat yang keras. Hampir sepanjang umurku aku hidup di daerah-daerah yang tidak keruan. Hutan, Padang Karautan ini, dan rawa-rawa.”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sareh ia berkata, “Terima kasih Ngger. Tetapi sebaiknya maksud itu jangan tergesa-gesa dilakukan. Biarlah usaha membebaskan Mahisa Agni dengan cara yang lain itu dilakukan. Tidak dengan kekerasan, justru untuk menjaga keselamatan Mahisa Agni itu sendiri. Sebab kini Mahisa Agni telah telanjur dikuasai oleh Kebo Sindet. Aku sependapat dengan cara ini Ngger.”
Kening Ken Arok menjadi semakin berkerut. Tetapi kemudian ia menggigit bibirnya sambil kemudian bergumam, “Apa boleh buat apabila Empu tidak sependapat.”
“Aku berterima kasih kepadamu Ngger,” sahut Empu Gandring, “tetapi biarlah cara itu dicobanya dahulu. Apabila tidak berhasil, maka kita akan mencari jalan lain.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah Empu. Tetapi setiap saat apabila Empu memerlukan aku, aku akan selalu menyediakan diri. Akuwu Tumapel pasti tidak akan berkeberatan aku membawa sepasukan prajurit dan pelayan-pelayan dalam untuk membebaskannya apabila diperlukan. Sebab Mahisa Agni adalah kakak terkasih dari bakal permaisuri.”
Empu Gandring mengangguk pula, “Terima kasih,” ulangnya. “Aku akan selalu menghubungi Angger dalam setiap keperluan. Terutama tentang Mahisa Agni.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak bersabar menunggu cara yang dianggapnya terlampau lamban itu. Tetapi Empu Gandring adalah orang yang lebih berhak menentukan apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa Agni itu. Sejenak kemudian mereka yang berada di ruang itu saling berdiam diri. Mereka membiarkan angan-angan masing-masing menelusuri sepinya.
Ketika di kejauhan terdengar gonggong anjing liar yang lamat-lamat, maka kulit Empu Gandring serasa berkuit. Anjing-anjing itu sedang bertengkar berebut tubuh Mahisa Agni yang telah dilemparkan oleh Kebo Sindet kepada gerombolan anjing-anjing itu.
“Mudah-mudahan tidak terjadi,” desis Empu Gandring. ”Kebo Sindet masih memerlukannya.”
Kesepian itu pun kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok. “Empu, aku masih belum mengirimkan laporan yang lengkap tentang hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Aku takut apabila berita itu dapat mengejutkan Tuan Puteri Ken Dedes dan dapat berakibat mengganggu persiapan-persiapan perkawinannya dengan Akuwu Tunggul Ametung. Aku mengharap bahwa Mahisa Agni segera dapat dibebaskan. Tetapi apabila ternyata keadaan menjadi demikian, maka sebaiknya aku mengirimkan orang untuk menyampaikannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, supaya aku tidak dipersalahkannya karena aku seakan-akan mengabaikan persoalan keselamatannya. Sebab Mahisa Agni itu pasti akan segera dipanggil pula menghadap sebelum semua persiapan perkawinan yang akan segera diselenggarakan itu selesai.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia tidak menjawab. Ia menjadi cemas apabila dalam pembicaraan selanjutnya Ken Arok dan Akuwu Tunggul Ametung sependapat untuk mengepung Kebo Sindet dengan sepasukan prajurit, karena mereka tergesa-gesa untuk segera menemukan Mahisa Agni untuk kepentingan persiapan perkawinan itu. Tetapi dengan demikian, maka justru Mahisa Agni berada dalam bahaya.
“Apakah Empu sependapat?” bertanya Ken Arok.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih ragu-ragu. Dipandanginya wajah Ki Buyut Panawijen yang suram. Tetapi ia tidak menemukan apa pun pada wajah itu.
“Angger Ken Arok,” berkata Empu Gandring kemudian perlahan-lahan, “mungkin kau tidak akan dapat berbuat lain daripada itu. Bagaimanapun juga maka peristiwa ini seluruhnya pasti akan didengar oleh kalangan istana, juga oleh Tuan Puteri Ken Dedes. Tetapi meskipun demikian, aku masih tetap mengharap, bahwa baik Angger sendiri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tidak melakukan tindakan yang tergesa-gesa, yang akan dapat membahayakan Mahisa Agni sendiri.”
Ken Arok mengangguk kecil sambil menggigit bibirnya. Anak muda itu dapat mengerti kenapa Empu Gandring berpendirian demikian menurut nalarnya, tetapi rasa-rasanya cara itu terlampau lambat baginya sehingga perasaannya berpendapat lain. Namun kali ini Ken Arok dapat menguasai perasaannya dengan nalarnya.
“Baiklah Empu,” jawabnya, “aku akan memberi penjelasan kepada orang yang akan pergi ke Tumapel, bahwa tindakan yang demikian akan sangat berbahaya. Aku akan mengharap bahwa segala tindakan harus dipertimbangkan bersama Empu Gandring, paman Mahisa Agni. Bukankah begitu?”
Empu Gandring tidak segera menyahut. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus menunggu persoalan ini sampai selesai di Padang Karautan ini? Lalu bagaimana dengan padepokannya sendiri, Lulumbang? Berapa lama ia harus menunggu? Berbeda halnya apabila ia sendiri yang berusaha membebaskan Mahisa Agni. Maka ia akan disibukkan oleh usahanya itu. Tetapi usaha itu sudah dilakukan oleh orang lain. Ia tidak akan dapat duduk saja bertopang dagu sambil menunggu tanpa bekerja apa pun di Padang Karautan. Seandainya ia turut membantu membuat bendungan, maka tenaganya akan tidak seimbang dibandingkan dengan kerjanya sendiri yang memang telah menunggu. Tenaganya seorang itu tidak akan banyak berpengaruh bagi bendungan ini. Apalagi setelah Ken Arok dan prajurit-prajurit Tumapel berada di Padang Karautan ini pula. Karena itu maka yang paling baik baginya adalah menunggu persoalan itu di padepokannya sendiri sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Membuat keris.
“Angger Ken Arok,” jawab Empu Gandring itu kemudian, “baiklah aku selalu ikut serta dalam penyelesaian ini, karena itu adalah kewajibanku. Tetapi aku sudah mempercayakannya kepada seseorang sehingga kerjaku seolah-olah hanya tinggal menunggu hasil dari usaha itu. Untuk itu aku akan menunggu di padepokanku sendiri, di Lulumbang, sementara itu aku dapat bekerja seperti biasa sehari-hari. Untuk itu aku minta tolong kepadamu Ngger, apabila ada perkembangan baru, sukalah Angger menyuruh seorang dua orang ke Lulumbang. Aku akan berbuat sesuai dengan kemampuanku.”
Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen dengan serta merta bertanya, “Apakah Empu akan meninggalkan kami di sini?”
“Aku harus melihat padepokan yang sudah agak lama aku tinggalkan Ki Buyut.”
“Lalu, bagaimakah dengan kami seandainya ada bahaya yang mendatangi.”
“Ah,” Empu Gandring tersenyum, “bukankah Ki Buyut berada di tengah-tengah sepasukan prajurit yang tangguh. Jangankan prajurit yang sekian banyaknya, sedangkan Angger Ken Arok sendiri akan dapat berbuat banyak melindungi Ki Buyut dan orang-orang Panawijen.”
“Oh,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Ken Arok berdesah sambil bergumam,
“Hem, Empu terlalu memuji.”
“Tidak, tidak Ngger. Aku tidak memuji. Tetapi Angger supaya menyadari bahwa Angger mempunyai ciri-ciri yang aneh. Aku tidak dapat mengatakan apa aneh itu. Namun Angger mempunyai kelebihan dari orang-orang lain.”
“Ah,” sekali lagi Ken Arok berdesah, “apakah yang aneh padaku? Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi iblis dari Kemundungan itu.”
“Tetapi akan datang saatnya Angger dapat mengalahkan Kebo Sindet.”
“Bagaimana mungkin hal itu terjadi Empu. Aku tidak pernah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu tata beladiri.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Itulah salah satu keanehan Angger. Tanpa mempelajari dengan sungguh-sungguh, Angger telah mampu bertahan tanpa cedera yang berarti atas aji yang nggegirisi yang dilepaskan oleh iblis dari Kemundungan itu atas Angger.”
“Dadaku serasa remuk Empu.”
“Tetapi Angger tidak apa-apa sampai sekarang.”
“Aku masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung,” sahut Ken Arok.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keajaiban yang ada dalam diri Ken Arok masih tetap merupakan teka-teki bagi Empu Gandring. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Terasa angin padang menyentuh tubuh-tubuh mereka. Silir, namun semakin lama semakin dingin meresap ke dalam kulit daging. Gubug-gubug kini telah menjadi semakin sepi. Beberapa orang telah jatuh tertidur karena kelelahan sedangkan beberapa orang lagi sedang bercakap-cakat tentang Mahisa Agni yang belum berhasil dibebaskan dari tangan Kebo Sindet. Di luar gubug Ki Buyut Panawijen pun telah menjadi sepi pula. Orang-orang yang semula berkerumun mendengarkan cerita Empu Gandring telah pergi meninggalkan gubug itu kembali ke tempat masing-masing.
Sejenak kemudian Ken Arok berdiri sambil berkata, “Aku akan memanggil dua orang prajurit yang besok harus menghadap Akuwu ke Tumapel. Mungkin Empu dapat memberi mereka itu pesan langsung. Mungkin ada hal-hal yang perlu Empu beritahukan supaya semuanya dapat berjalan dengan baik, tanpa membahayakan Mahisa Agni dan tidak terlampau mengejutkan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung dan Tuan Puteri Ken Dedes.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah Ngger.”
Ken Arok pun kemudian pergi meninggalkan Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen untuk memanggil dua orang prajurit yang akan diperintahkannya ke Tumapel. Sejenak kemudian Ken Arok telah datang kembali bersama prajurit yang dimaksudkannya.
“Dengarlah baik-baik,” desis Ken Arok, “supaya kau tidak membuat kesalahan. Dengan demikian kau akan langsung mendengar dari Empu Gandring dan dari aku sendiri. Bukan hanya sekadar desas-desus yang sudah bertambah atau berkurang dari peristiwa yang sebenarnya terjadi.”
Dan kedua prajurit itu kemudian mendengarkan penjelasan Empu Gandring dengan ceritanya. Beberapa kali Ken Arok memberinya pesan tentang cerita itu. Dan Empu Gandring pun mengatakan semuanya yang diketahuinya. Dikatakannya pula beberapa hal tentang Empu Sada. Bahwa orang itu sama sekali tidak bertanggung jawab lagi tentang hilangnya Mahisa Agni.
“Tetapi hati-hatilah,” pesan Ken Arok, “jangan mengejutkan Tuan Puteri Ken Dedes.”
Kedua prajurit Tumapel itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka mendengarkan keterangan Empu Gandring dengan saksama, dan mereka mendengarkan pesan Ken Arok baik-baik supaya mereka nanti tidak salah menyampaikan keterangan tentang Mahisa Agni dan pesan-pesan yang harus dilakukannya.
“Jangan lupa sampaikan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung bahwa segala usaha untuk menghindari peristiwa itu sudah dilakukan, bahkan paman Mahisa Agni, Empu Gandring, sendiri telah ikut serta mencoba melepaskan Mahisa Agni. Tetapi kami tidak berhasil. Meskipun demikian, sampai saat ini usaha untuk melepaskan Mahisa Agni masih dilakukan,” pesan Ken Arok seterusnya kepada kedua prajurit itu. “Sampaikan pula bahwa usaha dengan kekerasan untuk sementara sebaiknya tidak dilakukan mengingat keselamatan Mahisa Agni sendiri. Sedangkan kerja di Padang Karautan sama sekali tidak terganggu karenanya. Kami di sini berusaha untuk segera menyelesaikannya beserta taman yang dikehendaki oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang akan dihadiahkan kepada Tuan Puteri Ken Dedes nanti.” Sekali lagi kedua prajurit itu mengangguk-angguk.
“Kau mengerti?” bertanya Ken Arok kemudian.
“Ya,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.
“Baiklah,” berkata Ken Arok selanjutnya, ”besok pagi-pagi kalian berangkat. Usahakan supaya kau dapat menghadapi secepatnya dan segera kembali.”
“Baik,” sahut keduanya.
“Sekarang kalian boleh pergi tidur, supaya kalian besok tidak terlampau malas berangkat.”
Kedua prajurit itu pun segera meninggalkan ruangan itu. Kemudian Ken Arok dan Empu Gandring pun pergi pula ke tempat masing-masing untuk beristirahat. Di dalam gubugnya, Empu Gandring masih juga selalu dikejar-kejar oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang kepastian nasib Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian maka dengan gelisahnya, ia duduk di atas sehelai tikar pandan yang kumal. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sejenak kemudian kembali ia duduk. Ketika seseorang datang kepadanya dan meletakkan sebungkus makanan dan minuman hangat, maka Empu Gandring tidak segera beranjak dari tempatnya.
“Letakkanlah di situ,” katanya.
“Baik Empu,” jawab orang itu, yang kemudian segera pergi meninggalkannya.
Tetapi ketika dilihatnya uap air yang panas itu mengepul, timbul pulalah selera Empu Gandring untuk meminumnya. Apalagi ketika kemudian terasa bahwa perutnya pun mulai disentuh oleh rasa lapar. Namun akhirnya Empu Gandring itu hanya dapat menyerahkan segala persoalan kepada Yang Maha Agung. Disertai doa dan puji semoga kemenakannya itu dilepaskan dari segala macam bencana.
Ketika kemudian fajar pecah di Timur, maka langit di atas Padang Karautan seolah-olah jadi membara. Warna merah yang tersirat dari cakrawala memancar menyelubungi seluruh padang yang luas, semakin lama menjadi semakin cerah. Dalam kesibukan persiapan untuk melakukan kerja menyelesaikan bendungan, orang Panawijen dan para prajurit Tumapel melihat dua ekor kuda dan kedua penunggangnya berlari meninggalkan perkemahan itu. Debu yang tipis dan kerikil-kerikil yang lembut berloncatan dari kaki-kuda-kuda itu.
Ken Arok, Ki Buyut Panawijen, dan Empu Gandring berdiri tegak seperti patung memandangi kedua ekor kuda yang semakin lama menjadi semakin kecil menuju ke ujung padang.
“Mudah-mudahan tidak mengejutkan Tuan Puteri,” gumam Ken Arok.
“Mudah-mudahan,” sahut Ki Buyut Panawijen, “gadis itu sangat mengasihi kakaknya, seperti juga sebaliknya.” Orang tua itu berhenti sesaat. Tiba-tiba ia berdesah, “Kalau anakku masih ada.”
Ken Arok yang mendengar desah itu menarik nafas dalam. Ia tahu benar apa yang telah terjadi dengan putera Ki Buyut Panawijen itu. Sekilas ia berpaling memandangi wajah Ki Buyut yang tua, yang sudah dipenuhi oleh kerut-merut garis-garis umur. Tapi Ken Arok tidak berkata sepatah kata pun. Empu Gandring hanya berdiam diri, ia pun pernah mendengar jua apa yang telah terjadi atas anak laki-laki Ki Buyut Panawijen.
“Tetapi beruntunglah bahwa Ken Dedes kemudian terlepas dari Kuda Sempana, bahkan kepahitan yang dialami itu dapat menjadi pupuk bagi kesuburan jalan hidupnya. Apabila tidak demikian, maka ia tidak akan sampai ke Istana Tumapel. Aku pun menjadi ikut berbahagia dengan kebahagiaan gadis itu. Aku juga pasti tidak akan rela melihat apabila gadis itu benar-benar menjadi isteri pelarian dari Kuda Sempana,” Ki Buyut melanjutkan desahnya dalam nada yang dalam.
Ken Arok dan Empu Gandring masih saja berdiam diri. Terasa seolah-olah pedih hati orang tua itu terungkat kembali dengan tiba-tiba. Apalagi bila kemudian Mahisa Agni tidak dapat diselamatkan maka ia pun akan merasa kehilangan, sebab bagi Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni seakan-akan telah menjadi ganti anaknya yang hilang. Dan dengan tiba-tiba saja ia bertanya,
“Empu, apakah Empu yakin bahwa Mahisa Agni akan selamat?”
Empu Gandring menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dipaksakannya mulutnya menjawab, “Aku yakin Ki Buyut.”
Ki Buyut itu pun kini terdiam pula. Ia masih memandang kuda yang kini menjadi semakin kecil. Sekecil sebuah noktah di wajah langit yang luas. Untuk sesaat, kini ketiganya saling berdiam diri. Di belakang mereka orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah menjadi sibuk dengan segala macam persiapan. Alat-alat dan keperluan-keperluan yang akan dikerjakan hari ini telah mereka kumpulkan dan mereka bawa beramai-ramai ke tepi sungai di mana bendungan itu dibuat.
Bintik-bintik di cakrawala yang menjadi semakin kecil itu pun kemudian hilang bersama dengan pancaran sinar matahari yang pertama, menyiram wajah Padang Karautan yang kekuning-kuningan. Warna fajar pun kemudian menjadi semakin terdesak oleh cerahnya sinar matahari. Kuning keputih-putihan.
Ketika wajah Ki Buyut yang berkeriput itu merasa tersentuh oleh hangatnya matahari pagi, maka orang tua itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dipalingkan wajahnya dan dilihatnya orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah sibuk mempersiapkan diri untuk mulai bekerja.
“Kita hampir mulai,” gumam Ki Buyut itu kemudian.
Ken Arok pun kemudian berpaling. Terdengar ia berdesis, “Mereka sudah siap Ki Buyut.”
“Marilah, aku akan minum wedang jaheku dahulu,” sahut Ki Buyut. Kepada Empu Gandring Ki Buyut itu mempersilahkan, “Marilah Empu. Minumlah dahulu.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya pelahan. Namun kemudian ia berkata, “Ki Buyut, terima kasih. Tetapi hari ini aku terpaksa mohon diri.”
Ki Buyut terkejut dan bahkan Ken Arok pun terkejut pula. “Begitu tergesa-gesa,” hampir bersamaan mereka berdua bertanya.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. “Panasnya bukan main,” gumamnya.
Tetapi tak ada jalan lain yang sedekat itu dapat dilaluinya. Mungkin Empu Gandring dapat memilih lewat tepi-tepi hutan. Tetapi jarak yang ditempuhnya hampir berlipat dua. Perjalanan ini merupakan perjalanan yang melelahkan. Haus dan terik matahari sangat mengganggu. Beberapa kali Empu Gandring terpaksa beristirahat karena kudanya yang kehausan. Untunglah bahwa kadang-kadang ditemuinya pohon-pohon perdu meskipun tidak terlampau rimbun. Tetapi bayang-bayangnya yang pendek dapat untuk sesaat melindungi Empu Gandring dan kudanya dari sengatan panas sinar matahari.
Baru setelah matahari condong rendah di barat, perjalanan Empu Gandring dapat mencapai sungai yang menjelujur di Padang Karautan itu. Sungai yang pada perpanjangannya dibuat bendungan oleh orang-orang Panawijen. Dengan demikian maka perjalanan Empu Gandring seterusnya adalah menyelusur di sepanjang pinggir sungai itu. Dengan demikian maka ia lebih banyak mendapat perlindungan dari pepohonan yang agak rimbun, yang tumbuh di sepanjang tepian sungai. Matahari yang menyala di langit, semakin lama menjadi semakin rendah di ujung barat. Sinarnya yang semakin pudar menjadi berwarna kemerah-merahan.
“Hem,” Empu Gundring menarik nafas dalam-dalam, “perjalanan yang cukup berkesan. Sebuah cerita yang menarik bagi Angger Ken Arok.”
Sementara itu, senja menjadi semakin kelam. Perlahan-lahan Padang Karautan pun diselimuti oleh warna yang gelap. Tetapi, perjalanan Empu Gandring ternyata telah hampir sampai pada tujuannya. Ternyata, ketika seluruh padang itu telah ditelan oleh kegelapan, di kejauhan Empu Gandring melihat perapian yang memancar lemah. Meskipun masih agak jauh, tetapi Empu Gandring sudah dapat memastikan, bahwa di situlah letak kemah-kemah orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok yang aneh.
Tanpa sesadarnya, Empu Gandring mempercepat lari kudanya. Ia ingin segera sampai di perkemahan itu dan ingin segera bertemu dengan Ken Arok. Sisa yang tidak begitu panjang itu ditempuhnya dalam waktu yang pendek. Ketika kudanya mendekati perkemahan itu, maka dilihatnya dua orang mendatanginya.
“Siapa?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ternyata orang-orang di perkemahan ini menjadi semakin berhati-hati,” berkata Empu Gandring di dalam hatinya.
“Siapa?” pertanyaan itu diulangi.
“Aku,” sahut Empu Gandring.
“Aku siapa?”
“Aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.
Sejenak dua orang itu diam mematung. Kemudian mereka saling berpandangan dan seorang dari mereka berdesis, “Empu Gandring.”
“Ya, aku Empu Gandring,” sahut Empu Gandring.
“Bukankah tuan paman Mahisa Agni yang pergi bersamanya ke Panawijen?”
“Ya,” jawab Empu Gandring,
”O,” orang itu terdiam sejenak sedangkan kawannya yang seorang lagi berkata, “Kami telah menunggu tuan. Marilah, silakan datang ke gubug Ki Buyut yang menunggu kedatangan tuan dengan berdebar-debar. Bahkan hampir tidak bersabar lagi.”
“Baiklah,” jawab Empu Gandring sambil melompat turun dari kudanya. Bersama dengan kedua orang itu ia berjalan ke gubug-gubug yang berdiri berderet-deret di antara timbunan barang-barang yang akan diletakkan menjadi bagian dari bendungan yang masih belum jadi itu.
“Ki Buyut ada di dalam gubugnya,” desis salah seorang dari kedua orang itu.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” jawabnya. “Aku akan menemuinya. Tetapi apakah Angger Ken Arok telah kembali kemari pula?”
“Ya, ia sudah kembali,” jawabnya. “Bukankah yang tuan maksud Ken Arok pemimpin para prajurit dari Tumapel?”
“Ya.”
“Mungkin ia berada bersama Ki Buyut pula. Kalau tidak, maka biarlah aku memberitahukan kepadanya, bahwa tuan telah datang.”
“Baiklah,” jawab Empu Gandring.
Maka kemudian ditambatkannya kudanya pada sebuah patok. Per-lahan-lahan ia mendekati gubug Ki Buyut Panawijen. Kemudian diketoknya salah sebuah dari tiang-tiangnya yang rendah. Ki Buyut yang duduk beristirahat di dalam gubugnya mengangkat kepalanya. Diamatinya bayangan di luar gubugnya, di dalam keremangan sinar pelita.
“Siapa?!” bertanya Ki Buyut.
“Aku Ki Buyut, Empu Gandring.”
“O, marilah Empu,” Ki Buyut tergopoh-gopoh berdiri dan menyambut Empu Gandring di luar gubugnya, “marilah, silakanlah.”
Empu Gandring pun kemudian masuk ke dalam gubug itu dan duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk rumput kering.
“Ah,” Ki Buyut itu berdesah, “kami hampir tidak sabar lagi menunggu kedatangan Empu. Bagaimanakah dengan perjalanan Empu ke Kemundungan? Kenapa Empu datang seorang diri tanpa Angger Mahisa Agni? Apakah terjadi sesuatu dengan anak muda itu?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab, Ki Buyut telah mendahuluinya pula, “Bukankah Empu pergi menyusul kemanakan Empu itu? Sedangkan Angger Ken Arok pergi mengantarkan Empu Sada? Kini Angger Ken Arok telah berada di sini. Banyak yang diberitahukannya kepada kami tentang Empu dan tentang Angger Mahisa Agni.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan didengarnya Ki Buyut masih juga berkata terus, “Kami mengharap bahwa Empu akan berhasil membawa kembali Angger Mahisa Agni. Tetapi kini aku lihat Empu datang seorang diri. Apakah Angger Mahisa Agni masih menunggu di luar?”
Tetapi Empu Gundring tidak mendapat kesempatan untuk menjawab. Buyut Panawijen yang tua itu ternyata telah dicekam oleh kegelisahan dan kecemasan yang amat sangat sehingga tanpa sesadarnya telah mempergunakan segala kesempatan untuk berbicara sendiri. Namun akhirnya Ki Buyut itu berhenti juga bertanya ketika ia melihat Ken Arok dengan tergesa-gesa memasuki ruang itu pula. Sebelum ia duduk, maka ia telah bertanya,
“Bagaimana dengan usaha Empu untuk menebaskan Mahisa Agni?”
“Duduklah Ngger,” Empu Gandring mempersilakannya.
Sambil menarik nafas dalam-dalam maka Ken Arok itu pun kemudian duduk di sampingnya. Dipandanginya wajah Empu Gandring yang tenang, namun mengandung seribu macam teka-teki yang tidak segera dapat ditebaknya.
“Apakah usaha Empu berhasil?” bertanya Ken Arok itu kemudian.
Kali ini Empu Gandringlah yang menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Sebagian Ngger. Sebagian berhasil tetapi hasil selengkapnya masih belum dapat kita pastikan.”
Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya.
“Aku tidak meneruskan usaha itu dengan tenagaku sendiri,” berkata Empu Gandring seterusnya.
“Jadi?” bertanya Ken Arok.
Empu Gandring menggeser duduknya sejengkal. Kemudian diangkatnya wajahnya memandangi pelita yang tersangkut pada tiang bambu gubug itu. Perlahan-lahan ia mulai mengisahkan perjalanannya, sejak ia berpisah dengan Ken Arok, mengikuti jejak Kebo Sindet, hingga ia memerlukan singgah ke Kemundungan. Akhirnya diceriterakannya bahwa ia mempercayakan usaha melepaskan Mahisa Agni kepada orang lain, orang yang mempunyai kewajiban pula seperti dirinya sendiri.
“Oh,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Ki Buyut Panawijen diam terpekur.
Di luar gubug itu beberapa orang telah berkerumun untuk mendengarkan keterangan itu pula. Beberapa orang saling berbisik sedangkan yang lain menjadi sedih. Mereka menyesalkan betapa Mahisa Agni itu mengalami berbagai macam kejadian yang pahit. Sedangkan tenaganya sebenarnya sangat diperlukan saat ini oleh orang-orang Panawijen yang sedang membangun bendungan itu. Untunglah bahwa di antara mereka telah hadir seorang yang bernama Ken Arok, menggantikan kedudukan Mahisa Agni yang dapat selalu membakar niat orang-orang Panawijen untuk menyelesaikan bendungannya.
Sesaat kemudian cerita tentang Mahisa Agni itu telah menjalar ke seluruh sudut perkemahan itu. Setiap orang kemudian mendengarnya. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel. Beberapa orang menjadi terharu dan iba sedangkan beberapa orang lain menyimpan dendam di dalam hatinya.
“Terlalu. Kuda Sempana ternyata telah memperalat ayahnya yang tua untuk mencelakai Mahisa Agni. Dosa anak itu ternyata memercik kepada ayahnya pula, yang seharusnya berusaha mencegahnya.”
Tetapi semuanya sudah telanjur. Semuanya sudah terjadi sehingga mereka hanya dapat berdesah di antara mereka sendiri. Di dalam gubug Ki Buyut, Ken Arok menekurkan kepalanya. Keningnya tampak berkerut-merut. Wajah anak muda itu benar-benar menjadi tegang.
Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya sambil menggeram, “Aku akan mengambil pasukan ke Tumapel. Prajurit segelar sepapan. Aku kepung daerah berawa-rawa itu. Mustahil kalau kita tidak akan dapat menyeberang. Aku mengenal beberapa macam rawa-rawa. Mungkin aku akan dapat mengenal tempat-tempat yang gembur berlumpur dan tempat-tempat yang keras. Hampir sepanjang umurku aku hidup di daerah-daerah yang tidak keruan. Hutan, Padang Karautan ini, dan rawa-rawa.”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sareh ia berkata, “Terima kasih Ngger. Tetapi sebaiknya maksud itu jangan tergesa-gesa dilakukan. Biarlah usaha membebaskan Mahisa Agni dengan cara yang lain itu dilakukan. Tidak dengan kekerasan, justru untuk menjaga keselamatan Mahisa Agni itu sendiri. Sebab kini Mahisa Agni telah telanjur dikuasai oleh Kebo Sindet. Aku sependapat dengan cara ini Ngger.”
Kening Ken Arok menjadi semakin berkerut. Tetapi kemudian ia menggigit bibirnya sambil kemudian bergumam, “Apa boleh buat apabila Empu tidak sependapat.”
“Aku berterima kasih kepadamu Ngger,” sahut Empu Gandring, “tetapi biarlah cara itu dicobanya dahulu. Apabila tidak berhasil, maka kita akan mencari jalan lain.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah Empu. Tetapi setiap saat apabila Empu memerlukan aku, aku akan selalu menyediakan diri. Akuwu Tumapel pasti tidak akan berkeberatan aku membawa sepasukan prajurit dan pelayan-pelayan dalam untuk membebaskannya apabila diperlukan. Sebab Mahisa Agni adalah kakak terkasih dari bakal permaisuri.”
Empu Gandring mengangguk pula, “Terima kasih,” ulangnya. “Aku akan selalu menghubungi Angger dalam setiap keperluan. Terutama tentang Mahisa Agni.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak bersabar menunggu cara yang dianggapnya terlampau lamban itu. Tetapi Empu Gandring adalah orang yang lebih berhak menentukan apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa Agni itu. Sejenak kemudian mereka yang berada di ruang itu saling berdiam diri. Mereka membiarkan angan-angan masing-masing menelusuri sepinya.
Ketika di kejauhan terdengar gonggong anjing liar yang lamat-lamat, maka kulit Empu Gandring serasa berkuit. Anjing-anjing itu sedang bertengkar berebut tubuh Mahisa Agni yang telah dilemparkan oleh Kebo Sindet kepada gerombolan anjing-anjing itu.
“Mudah-mudahan tidak terjadi,” desis Empu Gandring. ”Kebo Sindet masih memerlukannya.”
Kesepian itu pun kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok. “Empu, aku masih belum mengirimkan laporan yang lengkap tentang hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Aku takut apabila berita itu dapat mengejutkan Tuan Puteri Ken Dedes dan dapat berakibat mengganggu persiapan-persiapan perkawinannya dengan Akuwu Tunggul Ametung. Aku mengharap bahwa Mahisa Agni segera dapat dibebaskan. Tetapi apabila ternyata keadaan menjadi demikian, maka sebaiknya aku mengirimkan orang untuk menyampaikannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, supaya aku tidak dipersalahkannya karena aku seakan-akan mengabaikan persoalan keselamatannya. Sebab Mahisa Agni itu pasti akan segera dipanggil pula menghadap sebelum semua persiapan perkawinan yang akan segera diselenggarakan itu selesai.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia tidak menjawab. Ia menjadi cemas apabila dalam pembicaraan selanjutnya Ken Arok dan Akuwu Tunggul Ametung sependapat untuk mengepung Kebo Sindet dengan sepasukan prajurit, karena mereka tergesa-gesa untuk segera menemukan Mahisa Agni untuk kepentingan persiapan perkawinan itu. Tetapi dengan demikian, maka justru Mahisa Agni berada dalam bahaya.
“Apakah Empu sependapat?” bertanya Ken Arok.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia masih ragu-ragu. Dipandanginya wajah Ki Buyut Panawijen yang suram. Tetapi ia tidak menemukan apa pun pada wajah itu.
“Angger Ken Arok,” berkata Empu Gandring kemudian perlahan-lahan, “mungkin kau tidak akan dapat berbuat lain daripada itu. Bagaimanapun juga maka peristiwa ini seluruhnya pasti akan didengar oleh kalangan istana, juga oleh Tuan Puteri Ken Dedes. Tetapi meskipun demikian, aku masih tetap mengharap, bahwa baik Angger sendiri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tidak melakukan tindakan yang tergesa-gesa, yang akan dapat membahayakan Mahisa Agni sendiri.”
Ken Arok mengangguk kecil sambil menggigit bibirnya. Anak muda itu dapat mengerti kenapa Empu Gandring berpendirian demikian menurut nalarnya, tetapi rasa-rasanya cara itu terlampau lambat baginya sehingga perasaannya berpendapat lain. Namun kali ini Ken Arok dapat menguasai perasaannya dengan nalarnya.
“Baiklah Empu,” jawabnya, “aku akan memberi penjelasan kepada orang yang akan pergi ke Tumapel, bahwa tindakan yang demikian akan sangat berbahaya. Aku akan mengharap bahwa segala tindakan harus dipertimbangkan bersama Empu Gandring, paman Mahisa Agni. Bukankah begitu?”
Empu Gandring tidak segera menyahut. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus menunggu persoalan ini sampai selesai di Padang Karautan ini? Lalu bagaimana dengan padepokannya sendiri, Lulumbang? Berapa lama ia harus menunggu? Berbeda halnya apabila ia sendiri yang berusaha membebaskan Mahisa Agni. Maka ia akan disibukkan oleh usahanya itu. Tetapi usaha itu sudah dilakukan oleh orang lain. Ia tidak akan dapat duduk saja bertopang dagu sambil menunggu tanpa bekerja apa pun di Padang Karautan. Seandainya ia turut membantu membuat bendungan, maka tenaganya akan tidak seimbang dibandingkan dengan kerjanya sendiri yang memang telah menunggu. Tenaganya seorang itu tidak akan banyak berpengaruh bagi bendungan ini. Apalagi setelah Ken Arok dan prajurit-prajurit Tumapel berada di Padang Karautan ini pula. Karena itu maka yang paling baik baginya adalah menunggu persoalan itu di padepokannya sendiri sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Membuat keris.
“Angger Ken Arok,” jawab Empu Gandring itu kemudian, “baiklah aku selalu ikut serta dalam penyelesaian ini, karena itu adalah kewajibanku. Tetapi aku sudah mempercayakannya kepada seseorang sehingga kerjaku seolah-olah hanya tinggal menunggu hasil dari usaha itu. Untuk itu aku akan menunggu di padepokanku sendiri, di Lulumbang, sementara itu aku dapat bekerja seperti biasa sehari-hari. Untuk itu aku minta tolong kepadamu Ngger, apabila ada perkembangan baru, sukalah Angger menyuruh seorang dua orang ke Lulumbang. Aku akan berbuat sesuai dengan kemampuanku.”
Ken Arok mengerutkan keningnya sedangkan Ki Buyut Panawijen dengan serta merta bertanya, “Apakah Empu akan meninggalkan kami di sini?”
“Aku harus melihat padepokan yang sudah agak lama aku tinggalkan Ki Buyut.”
“Lalu, bagaimakah dengan kami seandainya ada bahaya yang mendatangi.”
“Ah,” Empu Gandring tersenyum, “bukankah Ki Buyut berada di tengah-tengah sepasukan prajurit yang tangguh. Jangankan prajurit yang sekian banyaknya, sedangkan Angger Ken Arok sendiri akan dapat berbuat banyak melindungi Ki Buyut dan orang-orang Panawijen.”
“Oh,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya sedangkan Ken Arok berdesah sambil bergumam,
“Hem, Empu terlalu memuji.”
“Tidak, tidak Ngger. Aku tidak memuji. Tetapi Angger supaya menyadari bahwa Angger mempunyai ciri-ciri yang aneh. Aku tidak dapat mengatakan apa aneh itu. Namun Angger mempunyai kelebihan dari orang-orang lain.”
“Ah,” sekali lagi Ken Arok berdesah, “apakah yang aneh padaku? Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi iblis dari Kemundungan itu.”
“Tetapi akan datang saatnya Angger dapat mengalahkan Kebo Sindet.”
“Bagaimana mungkin hal itu terjadi Empu. Aku tidak pernah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu tata beladiri.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Itulah salah satu keanehan Angger. Tanpa mempelajari dengan sungguh-sungguh, Angger telah mampu bertahan tanpa cedera yang berarti atas aji yang nggegirisi yang dilepaskan oleh iblis dari Kemundungan itu atas Angger.”
“Dadaku serasa remuk Empu.”
“Tetapi Angger tidak apa-apa sampai sekarang.”
“Aku masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung,” sahut Ken Arok.
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keajaiban yang ada dalam diri Ken Arok masih tetap merupakan teka-teki bagi Empu Gandring. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Terasa angin padang menyentuh tubuh-tubuh mereka. Silir, namun semakin lama semakin dingin meresap ke dalam kulit daging. Gubug-gubug kini telah menjadi semakin sepi. Beberapa orang telah jatuh tertidur karena kelelahan sedangkan beberapa orang lagi sedang bercakap-cakat tentang Mahisa Agni yang belum berhasil dibebaskan dari tangan Kebo Sindet. Di luar gubug Ki Buyut Panawijen pun telah menjadi sepi pula. Orang-orang yang semula berkerumun mendengarkan cerita Empu Gandring telah pergi meninggalkan gubug itu kembali ke tempat masing-masing.
Sejenak kemudian Ken Arok berdiri sambil berkata, “Aku akan memanggil dua orang prajurit yang besok harus menghadap Akuwu ke Tumapel. Mungkin Empu dapat memberi mereka itu pesan langsung. Mungkin ada hal-hal yang perlu Empu beritahukan supaya semuanya dapat berjalan dengan baik, tanpa membahayakan Mahisa Agni dan tidak terlampau mengejutkan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung dan Tuan Puteri Ken Dedes.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah Ngger.”
Ken Arok pun kemudian pergi meninggalkan Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen untuk memanggil dua orang prajurit yang akan diperintahkannya ke Tumapel. Sejenak kemudian Ken Arok telah datang kembali bersama prajurit yang dimaksudkannya.
“Dengarlah baik-baik,” desis Ken Arok, “supaya kau tidak membuat kesalahan. Dengan demikian kau akan langsung mendengar dari Empu Gandring dan dari aku sendiri. Bukan hanya sekadar desas-desus yang sudah bertambah atau berkurang dari peristiwa yang sebenarnya terjadi.”
Dan kedua prajurit itu kemudian mendengarkan penjelasan Empu Gandring dengan ceritanya. Beberapa kali Ken Arok memberinya pesan tentang cerita itu. Dan Empu Gandring pun mengatakan semuanya yang diketahuinya. Dikatakannya pula beberapa hal tentang Empu Sada. Bahwa orang itu sama sekali tidak bertanggung jawab lagi tentang hilangnya Mahisa Agni.
“Tetapi hati-hatilah,” pesan Ken Arok, “jangan mengejutkan Tuan Puteri Ken Dedes.”
Kedua prajurit Tumapel itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka mendengarkan keterangan Empu Gandring dengan saksama, dan mereka mendengarkan pesan Ken Arok baik-baik supaya mereka nanti tidak salah menyampaikan keterangan tentang Mahisa Agni dan pesan-pesan yang harus dilakukannya.
“Jangan lupa sampaikan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung bahwa segala usaha untuk menghindari peristiwa itu sudah dilakukan, bahkan paman Mahisa Agni, Empu Gandring, sendiri telah ikut serta mencoba melepaskan Mahisa Agni. Tetapi kami tidak berhasil. Meskipun demikian, sampai saat ini usaha untuk melepaskan Mahisa Agni masih dilakukan,” pesan Ken Arok seterusnya kepada kedua prajurit itu. “Sampaikan pula bahwa usaha dengan kekerasan untuk sementara sebaiknya tidak dilakukan mengingat keselamatan Mahisa Agni sendiri. Sedangkan kerja di Padang Karautan sama sekali tidak terganggu karenanya. Kami di sini berusaha untuk segera menyelesaikannya beserta taman yang dikehendaki oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang akan dihadiahkan kepada Tuan Puteri Ken Dedes nanti.” Sekali lagi kedua prajurit itu mengangguk-angguk.
“Kau mengerti?” bertanya Ken Arok kemudian.
“Ya,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.
“Baiklah,” berkata Ken Arok selanjutnya, ”besok pagi-pagi kalian berangkat. Usahakan supaya kau dapat menghadapi secepatnya dan segera kembali.”
“Baik,” sahut keduanya.
“Sekarang kalian boleh pergi tidur, supaya kalian besok tidak terlampau malas berangkat.”
Kedua prajurit itu pun segera meninggalkan ruangan itu. Kemudian Ken Arok dan Empu Gandring pun pergi pula ke tempat masing-masing untuk beristirahat. Di dalam gubugnya, Empu Gandring masih juga selalu dikejar-kejar oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang kepastian nasib Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian maka dengan gelisahnya, ia duduk di atas sehelai tikar pandan yang kumal. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sejenak kemudian kembali ia duduk. Ketika seseorang datang kepadanya dan meletakkan sebungkus makanan dan minuman hangat, maka Empu Gandring tidak segera beranjak dari tempatnya.
“Letakkanlah di situ,” katanya.
“Baik Empu,” jawab orang itu, yang kemudian segera pergi meninggalkannya.
Tetapi ketika dilihatnya uap air yang panas itu mengepul, timbul pulalah selera Empu Gandring untuk meminumnya. Apalagi ketika kemudian terasa bahwa perutnya pun mulai disentuh oleh rasa lapar. Namun akhirnya Empu Gandring itu hanya dapat menyerahkan segala persoalan kepada Yang Maha Agung. Disertai doa dan puji semoga kemenakannya itu dilepaskan dari segala macam bencana.
Ketika kemudian fajar pecah di Timur, maka langit di atas Padang Karautan seolah-olah jadi membara. Warna merah yang tersirat dari cakrawala memancar menyelubungi seluruh padang yang luas, semakin lama menjadi semakin cerah. Dalam kesibukan persiapan untuk melakukan kerja menyelesaikan bendungan, orang Panawijen dan para prajurit Tumapel melihat dua ekor kuda dan kedua penunggangnya berlari meninggalkan perkemahan itu. Debu yang tipis dan kerikil-kerikil yang lembut berloncatan dari kaki-kuda-kuda itu.
Ken Arok, Ki Buyut Panawijen, dan Empu Gandring berdiri tegak seperti patung memandangi kedua ekor kuda yang semakin lama menjadi semakin kecil menuju ke ujung padang.
“Mudah-mudahan tidak mengejutkan Tuan Puteri,” gumam Ken Arok.
“Mudah-mudahan,” sahut Ki Buyut Panawijen, “gadis itu sangat mengasihi kakaknya, seperti juga sebaliknya.” Orang tua itu berhenti sesaat. Tiba-tiba ia berdesah, “Kalau anakku masih ada.”
Ken Arok yang mendengar desah itu menarik nafas dalam. Ia tahu benar apa yang telah terjadi dengan putera Ki Buyut Panawijen itu. Sekilas ia berpaling memandangi wajah Ki Buyut yang tua, yang sudah dipenuhi oleh kerut-merut garis-garis umur. Tapi Ken Arok tidak berkata sepatah kata pun. Empu Gandring hanya berdiam diri, ia pun pernah mendengar jua apa yang telah terjadi atas anak laki-laki Ki Buyut Panawijen.
“Tetapi beruntunglah bahwa Ken Dedes kemudian terlepas dari Kuda Sempana, bahkan kepahitan yang dialami itu dapat menjadi pupuk bagi kesuburan jalan hidupnya. Apabila tidak demikian, maka ia tidak akan sampai ke Istana Tumapel. Aku pun menjadi ikut berbahagia dengan kebahagiaan gadis itu. Aku juga pasti tidak akan rela melihat apabila gadis itu benar-benar menjadi isteri pelarian dari Kuda Sempana,” Ki Buyut melanjutkan desahnya dalam nada yang dalam.
Ken Arok dan Empu Gandring masih saja berdiam diri. Terasa seolah-olah pedih hati orang tua itu terungkat kembali dengan tiba-tiba. Apalagi bila kemudian Mahisa Agni tidak dapat diselamatkan maka ia pun akan merasa kehilangan, sebab bagi Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni seakan-akan telah menjadi ganti anaknya yang hilang. Dan dengan tiba-tiba saja ia bertanya,
“Empu, apakah Empu yakin bahwa Mahisa Agni akan selamat?”
Empu Gandring menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dipaksakannya mulutnya menjawab, “Aku yakin Ki Buyut.”
Ki Buyut itu pun kini terdiam pula. Ia masih memandang kuda yang kini menjadi semakin kecil. Sekecil sebuah noktah di wajah langit yang luas. Untuk sesaat, kini ketiganya saling berdiam diri. Di belakang mereka orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah menjadi sibuk dengan segala macam persiapan. Alat-alat dan keperluan-keperluan yang akan dikerjakan hari ini telah mereka kumpulkan dan mereka bawa beramai-ramai ke tepi sungai di mana bendungan itu dibuat.
Bintik-bintik di cakrawala yang menjadi semakin kecil itu pun kemudian hilang bersama dengan pancaran sinar matahari yang pertama, menyiram wajah Padang Karautan yang kekuning-kuningan. Warna fajar pun kemudian menjadi semakin terdesak oleh cerahnya sinar matahari. Kuning keputih-putihan.
Ketika wajah Ki Buyut yang berkeriput itu merasa tersentuh oleh hangatnya matahari pagi, maka orang tua itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dipalingkan wajahnya dan dilihatnya orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah sibuk mempersiapkan diri untuk mulai bekerja.
“Kita hampir mulai,” gumam Ki Buyut itu kemudian.
Ken Arok pun kemudian berpaling. Terdengar ia berdesis, “Mereka sudah siap Ki Buyut.”
“Marilah, aku akan minum wedang jaheku dahulu,” sahut Ki Buyut. Kepada Empu Gandring Ki Buyut itu mempersilahkan, “Marilah Empu. Minumlah dahulu.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya pelahan. Namun kemudian ia berkata, “Ki Buyut, terima kasih. Tetapi hari ini aku terpaksa mohon diri.”
Ki Buyut terkejut dan bahkan Ken Arok pun terkejut pula. “Begitu tergesa-gesa,” hampir bersamaan mereka berdua bertanya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar