MENU

Ads

Sabtu, 14 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 142

“Ya. Aku kira lebih baik bagiku. Aku akan segera tenggelam dalam kerja yang sudah lama aku tinggalkan. Aku sudah terlampau rindu kepada padepokanku.”

Ki Buyut dan Ken Arok saling berpandangan sejenak. Kemudian berkatalah Ki Buyut Panawijen, “Apakah Empu tidak ingin melihat air sungai itu naik ke parit-parit yang sudah disiapkan menerima limpahannya itu?”

“Memang, melihat air itu turun ke parit-parit untuk pertama kalinya adalah suatu kebanggaan yang mengharukan. Tetapi aku terlampau rindu kepada kampung halaman. Biarlah aku akan kemari lagi beberapa minggu yang akan datang. Mudah-mudahan aku dapat turut melihat bendungan itu mengangkat air.”

“Kami di sini menunggu Empu,” berkata Ken Arok, “kami merasa Empu ikut serta menyiapkan bendungan ini. Sejak Mahisa Agni sedang mencari tempat ini, bukankah Empu telah membantunya seperti yang sering disebut-sebut Mahisa Agni.”

“Ah. Adalah kebetulan bahwa Agni itu kemenakanku. Tetapi baiklah, aku akan mencoba melihat air dari sungai itu melimpah ke parit-parit untuk yang pertama kalinya.”

“Kemudian Empu akan melihat aku membangun sebuah taman yang indah sekali,” berkata Ken Arok, “indah sekali menurut keinginan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku tidak tahu, apakah selera keindahanku akan serupa dengan keinginan Akuwu.”

“Ya, ya. Aku akan melihat taman itu kelak. Mudah-mudahan aku berkesempatan.”

“Tentu. Empu tentu berkesempatan.”

“Begitulah yang aku inginkan. Tetapi kadang-kadang yang terjadi bukanlah keinginan kita masing-masing.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tahu benar arti kata-kata itu. Tetapi ia tidak mengerti kenapa Empu Gandring mengucapkannya.

“Empu,” berkata Ken Arok kemudian, “taman itu tidak akan terlalu lama siap. Lihat, di ujung dari parit induk ini, yang kelak akan terletak di luar daerah persawahan yang akan dibuat oleh orang-orang Panawijen, telah aku gali sebuah sendang buatan. Beberapa macam pepohonan telah aku tanam sejak kini, meskipun setiap sore masih harus disiram dan masih harus dilindungi dari terik matahari sampai air ini mengalir ke sana. Di sekitar sendang itulah nanti akan dibuat sebuah taman dengan kebun bunga yang indah. Beberapa jenis pohon pelindung telah pula aku tanam sejak sekarang.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku ingin sekali melihat taman itu kelak.”

“Empu Gandring harus melihatnya dan memujinya. Biar orang lain, Tuanku Akuwu sendiri nanti mencelanya.”

Empu Gandring tersenyum. “Akuwu akan memuji bukan sekadar untuk menyenangkan hati Angger. Tetapi aku yakin sejak sekarang, bahwa taman itu akan menjadi taman yang paling indah di seluruh Tumapel dan bahkan seluruh Kediri. Sebab taman itu dipersiapkan pada tanah yang masih kosong, yang dapat dibuat benar-benar menurut rencana.”

“Tetapi rencananyalah yang jelek Empu.” Empu Gandring, Ki Buyut Panawijen, dan bahkan Ken Arok sendiri tertawa.

“Empu,” berkata Ken Arok tiba-tiba, “aku telah mendengar bahwa Empu adalah seorang pembuat keris yang jarang ada duanya. Mungkin suatu ketika aku akan datang kepada Empu, untuk mendapatkan sebuah kenang-kenangan. Seperti Empu lihat, sampai kini aku belum mempunyai sebuah keris yang belum berarti bagiku. Apalagi sebuah keris yang disebut pusaka. Karena itu, pada suatu saat aku mengharap, bahwa Empu akan memberi aku sipat kandel. ”

“Ah,” Empu Gandring berdesah. “Aku tidak lebih dari seorang pande besi biasa Ngger. Tetapi aku mengharap Angger datang ke padepokanku. Lulumbang. Mungkin aku dapat membuat sesuatu untuk Angger. Tetapi sama sekali bukan sebuah pusaka. Apabila Angger menghendaki sekadar pisau untuk menebas alang-alang, nah, aku akan bersedia.”

“Empu terlampau merendahkan diri.”

“Tidak Ngger. Supaya Angger tidak kecewa kelak.”

Ken Arok tersenyum. Katanya, “Baiklah. Suatu ketika aku pasti datang ke Lulumbang. Tetapi sebaiknya Empulah yang datang lebih dahulu kemari, melihat taman yang akan aku persembahkan kepada Tuanku Tunggul Ametung yang akan dijadikannya hadiah untuk permaisurinya tercinta. Tuanku Putri Ken Dedes.”



Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk lemah ia memandangi padang yang luas itu. Jauh di atas pandangan matanya ia melihat langit seolah-olah bertemu dengan padang rumput yang kering itu. Terpercik di dadanya serasa ia tidak akan dapat melihat padang itu lagi kelak. Empu Gandring terkejut ketika ia kemudian mendengar Ken Arok berkata kepadanya,

“Kalau Empu tidak lagi dapat kami tahan, baiklah aku mengucapkan selamat jalan. Tetapi sebaiknya Empu menyiapkan dahulu bekal di perjalanan. Barangkali Ki Buyut dapat membantunya. Sekarang, maaf Empu, aku harus mulai bekerja bersama para prajurit Tumapel yang sudah memencar diri.”

“O, silakan, silakan Ngger. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi di kesempatan lain.”

“Kami di sini selalu menunggu kedatangan Empu. Kalau Empu tidak juga datang, maka aku akan datang ke Lulumbang.”

Empu Gandring tersenyum, “Aku pun selalu menunggu kedatanganmu Ngger. Dan aku juga selalu menunggu setiap berita tentang Mahisa Agni.”

“Baik Empu. Aku akan selalu mengirimkan orangku ke Lulumbang apabila terjadi perkembangan keadaan. Nah, sekarang, maaf, aku harus mulai.”

“Silakan Ngger,” sahut Empu Gandring.

Ken Arok itu pun kemudian meninggalkan Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen. Sejenak ia mengawasi para prajurit Tumapel yang berpencaran. Sebagian dari mereka telah membawa pedati ke ujung induk susukan, untuk menyiapkan sebuah sendang buatan. Sebagian lagi menaikkan batu-batu bersama orang-orang Panawijen yang berani melintasinya karena cerita tentang hantu Karautan yang menakutkan. Tetapi kini, di sisi padang ini, berkeliaran orang-orang Panawijen, prajurit-prajurit, dan pelayan dalam dari Tumapel yang sedang sibuk bekerja menyelesaikan bendungan dan sebuah taman buatan.

Tetapi sebentar kemudian Ken Arok itu pun berjalan cepat-cepat ke bendungan yang sudah mulai dikerjakan. Ternyata ia tahu benar maksud Mahisa Agni. Seolah-olah Ken Arok itu turut serta merencanakan pembuatannya, sehingga meskipun Mahisa Agni tidak ada, namun pembuatan bendungan itu sama sekali tidak terganggu dan berjalan seperti yang dikehendakinya.

Dalam pada itu, Ki Buyut masih belum meninggalkan Empu Gandring yang segera akan meninggalkan Padang Karautan. Dipersilakannya Empu Gandring untuk menyiapkan beberapa macam bekal makanan dan bumbung-bumbung air.

“Aku akan menyusur sungai ini Ki Buyut, sehingga aku tidak perlu membawa terlampau banyak persedian air.”

“O,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika matahari merambat semakin tinggi, maka Empu Gandring pun telah siap di atas punggung kudanya. Sekali lagi ia minta diri kepada Ki Buyut Panawijen yang menungguinya.

“Salamku buat orang-orang Panawijen dan para prajurit,” katanya.

“Terima kasih dan selamat jalan Empu,” desis Ki Bu yut Panawijen.

“Terima kasih,” jawab Empu Gandring, “semoga kita masing-masing mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Sesaat kemudian maka kuda Empu Gandring pun mulai bergerak. Ditinggalkannya perkemahan yang sedang sibuk dengan kerja. Beberapa pasang mata masih sempat melihat kuda itu menaburkan debu yang tipis. Semakin lama semakin jauh. Sekali-sekali Empu Gandring pun berpaling pula. Dilihatnya betapa kerja yang dimulai oleh Mahisa Agni itu menjadi semakin sibuk. Orang-orang Panawijen dan para prajurit berpencaran dalam kerja masing-masing. Bendungan, parit-parit, dan sebuah taman seperti yang dihendaki oleh Tuanku Tunggul Ametung, agak jauh ke tengah padang.

“Beberapa tahun lagi maka daerah ini akan menjadi sebuah padukuhan yang ramai. Panawijen sendiri akan segera dilupakan orang. Mereka akan meninggalkan padesan yang semakin lama menjadi kering, sedangkan daerah di sepanjang sungai ini adalah daerah yang masih sedang berkembang,” gumam Empu Gandring kepada diri sendiri.

Terbayang di matanya, induk susukan yang membelah daerah persawahan yang subur. Kemudian sebuah pategalan dan yang kelak akan menjadi padesan. Di sebelah padukuhan itu dibangun sebuah taman yang indah. Bukan saja untuk kepentingan padukuhan atau padepokan yang akan lahir nanti, tetapi taman itu adalah Taman Akuwu Tumapel. Bukankah dengan demikian jalan antara Karautan dan Tumapel akan menjadi ramai pula? Jalan yang menghubungkan istana dan sebuah kenangan tentang tempat asal Ken Dedes, meskipun bukan yang sebenarnya, karena tempat yang sebenarnya sudah menjadi kering. Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi apakah orang yang telah meletakkan hasrat yang pertama kali membuat bendungan di Padang Karautan itu kelak akan dapat melihatnya pula?”

Sebuah desir yang lembut telah menggores jantung Empu Gandring. Namun kemudian, sekali lagi ia mencoba menguasai perasaannya. “Semuanya berada di tangan Yang Maha Agung. Apalagi nasib Mahisa Agni sedangkan nasibku sendiri pun tidak aku ketahui. Apakah aku masih juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan kemenakanku itu atau tidak, aku tidak tahu.”

Ketika Empu Gandring sekali lagi berpaling, maka perkemahan di tepi sungai itu seolah-olah telah menjadi bintik-bintik yang sangat kecil. Ia sudah tidak lagi dapat melihat orang-orang yang sedang berpencaran bekerja di bawah sinar matahari yang sudah mulai menggatalkan kulit.

“Mudah-mudahan semuanya terjadi seperti yang dikehendaki,” desisnya, ”semoga Yang Maha Agung memperkenankan.”

Sekali Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian disentuhnya perut kudanya dengan sebuah ranting kecil yang dipakainya sebagai cemeti. Kuda itu pun kemudian berlari semakin kencang membelah Padang Karautan yang sepi. Sementara itu matahari pun merayap perlahan-lahan menyusuri jalannya di langit. Semakin lama semakin tinggi. Ketika dicapainya puncak ketinggian, maka ditempuhnya jalannya di belahan langit di sebelah barat. Semakin lama semakin rendah. Selembar-selembar awan hanyut di permukaan wajah yang biru. Dan burung-burung berkeliaran menyambar makanannya.

Dalam pada itu, dua ekor kuda sedang berpacu memasuki jalan kota di Tumapel. Derap kakinya menghentak-hentak di atas tanah berbatu-batu. Segumpal-segumpal debu yang putih melontar di udara. Dua orang penunggang kuda yang tubuhnya basah oleh keringat telah memasuki gerbang kota. Keduanya adalah prajurit yang mendapat perintah dari Ken Arok, menyampaikan laporan kepada Akuwu Tunggul Ametung. Di regol pertama Istana Tumapel, keduanya berhenti. Para penjaga yang melihat kedua prajurit yang tubuhnya menjadi kelabu karena debu yang melekat, tersenyum sambil bertanya.

“He, apakah kau baru saja berguling-guling di atas pasir?”

“Uh,” sahut salah seorang dari mereka, “panasnya bukan main. He, apakah masih ada sisa makanan di sini?”

Prajurit-prajurit yang berada di regol itu tertawa. “Apakah kau tidak membawa bekal apa pun dari Panawijen.”

“Aku tidak datang dari Panawijen, aku datang dari Padang Karautan.”

“Ya, begitulah maksudku.”

“Yang ada di padang itu hanyalah rumput-rumput kering dan batu-batu padas bergumpal-gumpal.”

“Bohong,” sahut salah seorang prajurit yang bertugas di regol halaman luar, “kau sangka aku tidak tahu, berapa pedati penuh dengan beras dan jagung yang kalian bawa ke padang itu?”

“Tetapi aku tidak sempat membawa barang segumpal pun. Sekarang beri aku makan.”

Para penjaga regol itu tertawa. Dibawanya kedua kawannya ke gardu mereka. “Aku masih mempunyai sebungkus meniran jagung.”

“Jadilah. Sementara itu sampaikan lewat pelayan dalam yang bertugas, bahwa kami berdua ingin menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Kami membawa pesan dari Ken Arok yang memimpin kami di Padang Karautan.”

“Telanlah makanan itu dahulu. Kalau tiba-tiba Akuwu memanggilmu saat ini juga, kau tidak akan menghadap sambil mengunyah meniran jagung.”

“Akuwu tidak akan menerima aku segera. Aku masih akan sempat mandi dahulu.”

“Pantas.”

“Apa yang pantas?”

“Kalau kau memang bermaksud mandi dahulu, seharusnya kau mandi sebelum makan.”

“Sama saja. Mandi lalu makan atau makan lalu mandi.”

Para prajurit itu pun tertawa. Mereka membiarkan kedua kawannya makan sekenyang-kenyangnya. Sementara itu salah seorang dari mereka pergi ke halaman dalam. Menyampaikan permohonan kedua prajurit itu untuk menghadap lewat mereka yang bertugas di dalam. Ternyata dugaan kedua prajurit yang datang dari Padang Karautan itu meleset. Ternyata, begitu Akuwu mendengar permohonan itu, segera berkata,

“Bawa mereka kemari.”

Prajurit yang sedang makan itu pun menjadi tergesa-gesa. Ketika mereka menelan gumpalan meniran jagung yang terakhir, maka mereka memerlukan hampir sekendi air untuk mendorong gumpalan itu masuk ke dalam perut mereka. Dengan tergesa-gesa mereka menyeka badan mereka yang kotor, membenahi pakaian mereka, dan dengan tergesa-gesa pula mereka berjalan masuk lewat pintu regol halaman dalam.

“Akuwu hampir tidak sabar menunggu kalian,” berkata prajurit yang berada di regol halaman dalam.

“Aku baru makan,” sahut kedua prajurit itu sambil berjalan cepat.

Sejenak kemudian kedua prajurit itu telah duduk tumungkul di hadapan Akuwu Tunggul Ametung di ruang belakang. Sekali-sekali mereka menekan perut mereka yang terasa sakit di arah lambung karena mereka baru saja makan kenyang-kenyang.

“Apakah kalian membawa pesan dari Ken Arok,” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

“Hamba tuanku,” sahut kedua prajurit itu.

“Tentang bendungan dan taman?”

“Hamba tuanku, tetapi juga tentang yang lain.”

“Yang lain itulah yang pasti akan menarik perhatian. Tentang bendungan dan taman, bukankah kau akan berkata bahwa keduanya telah dikerjakan dengan lancar?”

“Hamba tuanku.”

“Nah, kalau begitu, tentang yang lain itulah yang aku ingin mendengar. Coba katakan tentang apa? Kekurangan makan? Penyakit?”

“Tidak tuanku.”

“Kalau begitu tentang apa?”

“Tentang Kakanda Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Mahisa Agni?”

“Ya.”

“Kenapa Mahisa Agni? Apakah Ken Dedes perlu mendengarnya juga?”

“Hamba tuanku. Tetapi hamba tidak tahu, apakah Tuan Puteri Ken Dedes dapat langsung mendengarnya dari mulutku.”

Tunggul Ametung mengerutkan alisnya. Terasa sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Dan tiba-tiba ia teringat kepada permintaan Ken Dedes beberapa saat yang lalu. Gadis itu mengatakan bahwa kakaknya sedang terancam oleh kedua orang yang mengerikan, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Gadis itu pernah berkata kepadanya dan minta perlindungan bagi kakaknya dari kedua iblis dari Kemundungan itu. Dengan demikian maka Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi berdebar-debar. Wajahnya yang keras tampak menjadi tegang. Sedangkan kedua prajurit yang menghadapnya, duduk tumungkul dalam-dalam. Tetapi kedua prajurit itu terkejut dan hampir saja mereka terlonjak ketika tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung membentaknya,

“Kenapa kalian diam saja he? Soal yang lain itu soal apa?”

“Oh,” sahut salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Ampun tuanku. Maksud hamba, apakah hamba harus menyampaikan sekarang, atau hamba masih harus menunggu Tuan Puteri Ken Dedes.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpikir. Lalu katanya, “Katakan. Katakan sekarang.” Sejenak kedua prajurit itu saling berpandangan. Namun sekali lagi mereka terkejut ketika Akuwu itu berteriak, “Sekarang. Kau dengar.”

“Ya, ya tuanku,” berkata prajurit itu. Meskipun ia sudah biasa melihat sikap Tunggul Ametung, namun terasa tangannya masih juga gemetar, “hamba mendapat pesan dari Kakang Ken Arok untuk hamba persembahkan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, berita tentang kakanda Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Sudah kau katakan. Sudah kau katakan,” potong Tunggul Ametung, “tentang Mahisa Agni. Kenapa Mahisa Agni itu?”

Prajurit itu menggigit bibirnya. Namun kawannya cepat-cepat menyambung, “Hamba tuanku. Sebenarnyalah memang soal Kakanda Tuan Puteri yang sedang berada dalam bahaya.”

“Aku sudah mengerti. Kalau tidak demikian kalian tidak akan datang kemari. Tetapi bahaya itu bahaya apa?”

“Tuanku,” sahut prajurit yang seorang, “Telah lama kakanda Tuan Puteri Ken Dedes dibayangi oleh dua orang yang berbahaya baginya, yang selama ini berusaha untuk menangkap Mahisa Agni.”

“Maksudmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Ternyata Akuwu Tunggul Ametung telah mendengar nama itu.

“Benar?”

“Hamba tuanku,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menyahut, “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

“Dan kini Mahisa Agni berhasil ditangkapnya?”

“Hamba tuanku.”

“Setan alas,” Akuwu Tunggul Ametung itu mengumpat keras-keras sambil meloncat berdiri. Tangannya mengepal dan giginya gemeretak. Sambil mengayun-ayunkan tangannya dekat sekali di atas kepala kedua prajurit yang tunduk itu Akuwu Tunggul Ametung berteriak, “Bukankah di Padang Karautan ada sepasukan prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok? Prajurit macam kalian ini? Lalu apakah gunanya kalian berada di padang itu, he? Apakah kalian tidur saja atau kalian berlari ketakutan hanya karena mendengar nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? O, alangkah malunya aku mempunyai prajurit seperti kalian. Kalian yang hanya dapat makan dan tidur, tetapi tidak berani menengadahkan dada di hadapan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kedua prajurit itu tidak segera menjawab. Mereka telah mengerti benar-benar sifat Akuwunya. Apabila mereka berani memotong kata-kata itu, maka kepala mereka pasti akan disentuh oleh tinju yang sedang terayun-ayun. Karena itu maka mereka membiarkan saja Akuwu Tunggul Ametung itu berbicara terus. Akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu terdiam juga.

“Ampun tuanku,” berkata seorang dari kedua prajurit itu setelah Akuwu Tunggul Ametung terdiam diri, “yang terjadi itu benar-benar di luar kemungkinan pertolongan kami.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Kenapa?” desisnya.

“Kebo Sindet berhasil menangkap Mahisa Agni tidak di Padang Karautan, tetapi di Padepokan Panawijen.”

“Apakah Mahisa Agni berada di Padepokan Panawijen?”

“Hamba tuanku,” jawab prajurit itu.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Maka prajurit itu pun kemudian menyampaikan pesan Ken Arok dan Empu Gandring kepada Akuwu Tunggul Ametung. Dengan hati-hati dikatakannya peristiwa itu berurutan seperti yang mereka dengar. Dikatakannya pula bahwa Wong Sarimpat kini telah terbunuh, dalam perkelahian melawan Empu Sada, guru Kuda Sempana yang ingin juga membebaskan Mahisa Agni. Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kini telah duduk kembali. Dengan wajah yang tegang ia mencoba membayangkan apa yang telah terjadi atas Mahisa Agni.

“Ah,” desahnya, “anak itu kurang hati-hati. Kenapa ia tidak membawa beberapa orang prajurit bersamanya ketika ia pergi ke Panawijen?”

Sekali lagi Akuwu berdiri dengan gelisahnya. Sambil berpaut tangan di punggungnya, ia berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu. Kepalanya ditundukkannya, seolah-olah sedang memandangi ujung-ujung kakinya berganti-ganti. Tiba-tiba Akuwu itu berhenti, berputar menghadap ke arah kedua prajurit itu.

“Sst,” desisnya, “jangan terlampau keras. Nanti Ken Dedes mendengarnya. Ia tidak boleh menjadi gelisah karenanya. Aku sendirilah yang akan menyampaikan berita ini kepadanya dengan hati-hati, supaya ia tidak menjadi bingung dan cemas. Rencana yang sudah aku susun selama ini tidak boleh terganggu karenanya.”

Kedua prajurit itu tersenyum di dalam hati. Bukankah Akuwu Tunggul Ametung sendiri yang berteriak-teriak demikian kerasnya? Tetapi kedua prajurit itu menjawab hampir bersamaan,

“Hamba tuanku.”

“Bagus. Para tetua Tumapel sudah sibuk menentukan hari perkawinanku dengan gadis itu. Hilangnya Mahisa Agni jangan menjadi sebab tertundanya perkawinan itu.” Akuwu itu terdiam sejenak. Alisnya menjadi berkerut-merut. Dan tiba-tiba ia berteriak, “He, aku akan menyiapkan pasukan segelar sepapan. Mahisa Agni harus diketemukan segera. Witantra sendiri harus memimpin pasukan itu.”

Kedua prajurit itu sama sekali tidak terkejut. Mereka sudah menyangka bahwa Akuwu akan mengambil sikap itu dengan serta-merta. Dan kedua prajurit itu mendengar Akuwu melanjutkan,

“Ah, tidak, tidak perlu segelar sepapan. Bukankah yang dihadapi hanyalah seorang Kebo Sindet. Sebenarnya prajurit-prajurit yang ada di Padang Karautan saja telah cukup untuk menangkapnya. Apalagi di sana ada pula Empu Gandring.” Kedua prajurit itu tidak segera menjawab. Mareka masih menundukkan kepala mereka. “He, kenapa kalian diam saja? Bagaimana pendapatmu?”

“Ampun tuanku,” sahut salah seorang dari mereka.

“Sebenarnya kami di Padang Karautan pun akan mampu menangkapnya bersama kakang Ken Arok dan Empu Gandring apabila persembunyiannya telah kami ketemukan.”

“Jadi persembunyian itu belum kalian temukan? Jadi bagaimana katamu tadi? Bukankah kau berkata bahwa persembunyian Kebo Sindet itu telah diketahui, diputari sebuah rawa-rawa yang berlumpur?”

“Hamba tuanku. Maksud hamba, bahwa sebenarnya tuanku tidak perlu menyiapkan sepasukan yang lain.”

“Tetapi bagaimana yang terjadi. Apakah kalian berbuat sesuatu atas Mahisa Agni? Kalau kalian dapat mengatasi persoalan itu sendiri, kalian tidak akan berlari-lari datang kemari melaporkan hal itu kepadaku. Kalian pasti akan bertindak dahulu, baru setelah semuanya selesai, kalian mempertanggungjawabkannya kepadaku. Tetapi sekarang kalian berlari kepadaku mengadukan persoalan itu. Nah, apa katamu?”

“Ampun tuanku,” jawab salah seorang prajurit itu, “hamba telah menyampaikan pesan dari kakang Ken Arok dan Empu Gandring, bahwa saat ini kekerasan tidak akan menguntungkan bagi Mahisa Agni itu sendiri.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya, ya. Aku mendengar. Tetapi apakah Mahisa Agni itu akan dibiarkan saja dalam keadaannya. Sedangkan orang yang akan berusaha membebaskannya itu akan dapat melakukan pekerjaannya berapa bulan, berapa tahun lagi? Itu akan terlampau lama. Sebentar lagi aku akan melangsungkan upacara kenegaraan. Apabila saat itu Mahisa Agni masih belum diketemukan, maka aku menjadi cemas, bahwa Ken Dedes akan terganggu perasaan dan kegembiraannya.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun salah seorang dari mereka mencoba berkata, “Tetapi tuanku, apabila terjadi sesuatu yang lebih dahsyat pada Mabisa Agni itu, maka Tuan Puteri akan menjadi lebih berduka.”

“Ya, ya. Kau benar.” Akuwu Tunggul Ametung itu berhenti sejenak. Ia kini berdiri di muka kedua prajurit yang duduk menunduk dalam-dalam, “peristiwa ini adalah peristiwa yang pahit bagiku. Tetapi upacara kenegaraan dari perkawinan Akuwu Tumapel tidak boleh tertunda. Sebagian dari persiapan telah dilakukan dan para tetua Tumapel pun telah menentukan waktunya.” Kedua prajurit itu tidak menyahut. “Lalu bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Akuwu itu tiba-tiba.

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana mereka menjawab pertanyaan itu. Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mereka mendengar Akuwu itu berkata,

“Ya, ya. Tidak seharusnya aku bertanya mengenai hal-hal yang sulit kepada kalian. Nah, sekarang kalian boleh beristirahat. Laporan kalian telah aku terima dan pesan Empu Gandring dan Ken Arok dapat aku mengerti. Aku tidak akan segera mempergunakan kekerasan. Tetapi aku perintahkan kepada Ken Arok untuk berusaha menurut jalan yang sebaik-baiknya, agar Mahisa Agni dapat segera diselamatkan. Dan, sesuai dengan perintahku yang dahulu, taman yang sedang kalian kerjakan itu pun harus segera selesai pula.”

“Hamba tuanku,” sembah kedua orang prajurit itu, “taman itu telah kami kerjakan. Beberapa jenis pohon-pohonan yang akan menjadi pelindung telah tumbuh subur.”

“Bagus. Bagus. Aku percaya kepada kalian dan Ken Arok. Sekarang pergilah. Sore ini aku harus bertemu dengan Ken Dedes. Ia tidak boleh terkejut. Aku akan mencoba mengatakan kepadanya.”

“Hamba tuanku, berkata salah seorang prajurit itu, “perkenankanlah hamba mohon diri.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar