MENU

Ads

Sabtu, 14 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 143

“Pergilah. Kau harus segera kembali ke Padang Karautan. Kau tidak perlu menghadap aku lagi kecuali apabila aku memanggil kalian.”

“Hamba tuanku.”

“Kebutuhan kalian tidak pernah dilupakan. Kalau kalian memerlukan orang-orang baru, maka segera aku akan mengirimkan.”

“Kakang Ken Arok tidak berpesan demikian tuanku.”

“Baik. Pergilah. Taman itu tidak boleh terlambat.”

Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan istana. Di halaman luar mereka mengambil kuda-kuda mereka.

“Terima kasih atas makanan yang kalian berikan,” berkata prajurit itu kepada penjaga.

“Kau tidak mandi dahulu?” bertanya salah seorang prajurit yang berjaga-jaga di regol itu.

“Buat apa aku mandi sekarang. Aku sudah menghadap Akuwu meskipun tubuhku seperti gadung yang dilumuri abu.”

“Lalu sekarang kau mau apa?”

“Kembali,” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.

“Kembali ke Padang Karautan?”

“Oh, aku masih belum gila,” sahut salah seorang prajurit itu, ”kembali pulang. Menemui anak isteri. Mandi, makan yang baik tidak tergesa-gesa dengan lauk yang lezat. Minum wedang jae, lalu tidur nyenyak. Besuk aku baru kempali ke padang yang kering dan panas itu.”

Sesaat kemudian prajurit-prajurit itu pun meninggalkan regol istana, menyusur jalan-jalan kota, pulang ke rumah masing-masing. Mereka mempergunakan malam untuk berkumpul di antara keluarga mereka yang selama ini mereka tinggalkan, berjemur di siang hari, dan berembun di malam hari di Padang Karautan.

Di istana, Akuwu Tunggul Ametung berjalan hilir-mudik dengan gelisahnya di biliknya. Hilangnya Mahisa Agni akan dapat mengganggu rencana perkawinan yang telah dipersiapkan oleh orang-orang tua Istana Tumapel. Sebenarnya, apabila Akuwu menghendaki, maka perubahan itu tidak akan dapat dihalangi oleh siapa pun. Namun Akuwu sendiri sama sekali tidak ingin perkawinannya tertunda. Karena itu, maka ia harus mencari akal, supaya semua rencananya dapat berlangsung. Tanpa sesadarnya maka Akuwu Tunggul Ametung itu telah mengumpat di dalam hatinya. Mengumpati Kuda Sempana, Kebo Sindet, Wong Sarimpat, dan orang-orang yang telah mereka peralat untuk memancing Mahisa Agni.

“Tetapi ternyata Mahisa Agni itu terlampau bodoh,” desisnya, “ia mau saja dituntun seperti seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya, masuk ke dalam perangkap. O, alangkah bodohnya.” Dan tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung itu mengepalkan tangannya dan ditinjunya telapak tangan kirinya sendiri kuat-kuat. “Bodoh, bodoh,” desisnya pula, “bukan saja Mahisa Agni, tetapi Ken Arok juga bodoh. Dan Empu Gandring itu juga bodoh. Mereka bertiga bersama-sama masuk ke dalam perangkap yang telah dipasang oleh Kebo Sindet. Hanya orang-orang sebodoh Mahisa Agni, Empu Gandring, dan Ken Arok sajalah yang dapat dipancing seperti itu.” Nafas Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi semakin cepat mengalir.

“Persetan. Persetan,” dan Akuwu Tunggul Ametung itu mencoba merebahkan dirinya di atas pembaringannya. Tetapi sejenak kemudian ia sudah berdiri lagi dan berjalan mondar-mandir.

Tiba-tiba ia tidak tahan lagi. Terdengar suaranya menggelegar memanggil pelayan yang sedang berjaga-jaga di bawah tangga serambi istana. “He, siapa yang berada di situ?”

Berlari-lari pelayan itu naik dan duduk di depan pintu bilik Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi pelayan itu terkejut ketika ia mendengar Akuwu itu berteriak lagi, “He, apakah pelayan-pelayan itu sudah tuli?”

Tanpa sesadarnya, maka dengan serta-merta pelayan itu menyahut cukup keras. “Hamba tuanku. Hamba telah menghadap.”



Maka Akuwu Tunggul Ametunglah yang terkejut. Tidak disangka-sangkanya bahwa di belakang pintu itu sudah duduk seorang pelayan yang menjawab panggilannya dengan keras pula.

“Apa,” teriak Akuwu itu tiba-tiba, “kau berani membentak aku?”

“Ampun, ampun tuanku,” pelayan itu tergagap. “Hamba tidak sengaja. Hamba terkejut dan karena itu maka suara hamba menjadi agak terlampau keras.”

“Masuklah,” suara Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi rendah dan lambat.

Pelahan-lahan pelayan itu mendorong pintu bilik Akuwu Tunggul Ametung, kemudian duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya.

“Katakanlah kepada emban pemomong Ken Dedes, aku ingin bertemu.”

Pelayan itu menyembah, katanya, “Hamba tuanku. Apakah Tuan Puteri Ken Dedes harus menghadap?”

Akuwu Tunggul Ametung berpikir sejenak. “Tidak,” katanya sambil menggelengkan kepalanya, “aku akan datang kepadanya sebentar lagi.”

“Hamba tuanku,” sembah pelayan itu, yang kemudian meninggalkan ruangan itu untuk menyampaikan pesan Akuwu Tunggul Ametung kepada Ken Dedes.

Ketika pelita dan lampu-lampu di dalam Istana Tumapel sudah mulai dinyalakan, serta para pelayan sudah selesai membenahi bilik-bilik dan ruangan-ruangan di dalam istana itu, maka Akuwu Tunggul Ametung berjalan menyusur ruang dalam pergi ke bilik Ken Dedes. Dengan hati yang gelisah Akuwu melangkah setapak demi setapak. Direka-rekanya kalimat-kalimat yang akan disampaikannya kepada Ken Dedes supaya berita tentang hilangnya Mahisa Agni bagi Ken Dedes tidak mengejutkan dan seakan-akan hanya merupakan sesuatu peristiwa kecil saja.

Debar di dada Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin cepat ketika ia melihat Ken Dedes telah menunggunya di ruang tengah di depan biliknya. Dengan hormatnya gadis itu duduk bersimpuh di atas sehelai tikar pandan yang dianyam berbunga-bunga. Di belakangnya duduk emban tua pemomong-nya yang setia, yang hampir tidak pernah terpisah dari padanya.

“Silakan tuanku,” Ken Dedes mempersilakan Akuwu yang masih saja berdiri. Debar jantungnya hampir-hampir tidak dapat disembunyikannya lagi.

Namun dicobanya untuk tetap tenang. Perlahan-lahan diletakkannya tubuhnya di atas sebuah tempat duduk rendah persegi empat yang terbuat dari kayu berukir. Namun sejenak Akuwu itu sama sekali tidak mengucapkan kata-kata. Mulutnya serasa menjadi berat, dan darahnya menjadi seolah-olah semakin cepat mengalir.

Ken Dedes dan emban tua pemomong-nya merasa aneh melihat sikap Akuwu Tunggul Ametung itu. Sikap yang tidak biasa dalam hidupnya sehari-hari. Namun justru karena itu Ken Dedes menjadi segan dan takut untuk bertanya lebih dahulu. Baru sejenak kemudian, setelah jantung Akuwu Tunggul Ametung menjadi agak tenang, ia berkata,

“Ken Dedes, kedatanganku ini sama sekali tidak membawa suatu persoalan yang penting. Aku masih belum mengambil keputusan-keputusan baru.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera tahu arah pembicaraan Akuwu Tunggul Ametung yang tidak tentu ujung dan pangkalnya itu. Karena itu, maka untuk sejenak Ken Dedes masih saja berdiam diri sambil menunggu Akuwu Tunggul Ametung menjelaskan maksudnya. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian berdiam diri sambil duduk tepekur. Ia sedang mencari kata-kata yang sebaik-baiknya untuk memberitahukan kepada Ken Dedes tentang kakaknya yang hilang.

Dengan demikian maka ruangan itu menjadi sepi. Hanya desah nafas mereka sajalah yang terdengar seolah-olah saling bersahutan. Betapa debar jantung Ken Dedes menjadi semakin cepat, tetapi ia tidak berani bertanya sesuatu kepada Akuwu, yang agaknya sedang disaput oleh kekalutan pikiran.

Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu, bahwa persiapan hari perkawinan itu berjalan dengan lancar.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terasa bahwa bukan itu yang ingin dikatakan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun demikian ia menjawab, “Hamba tuanku.”

“Apakah kau bergembira karenanya?”

“Hamba tuanku. Tentu hamba bergembira karenanya.”

“Aku sudah menyangka,” gumam Akuwu seolah-olah kepada diri sendiri.

Tetapi Akuwu itu sekali lagi terdiam. Dengan kaku ia duduk menundukkan kepalanya. Ia masih belum juga menemukan kata-kata yang dianggapnya baik untuk memberitahukan kepada Ken Dedes tentang Mahisa Agni. Dalam pada itu, Ken Dedes pun menjadi semakin tegang. Terasa sesuatu yang baginya pasti cukup penting.

“Ken Dedes,” tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berdesis, “hari perkawinan itu sudah ditentukan oleh tetua Tumapel. Kira-kira setengah bulan lagi akan dilakukan upacara kenegaraan. Aku sama sekali tidak ingin saat-saat yang kita tunggu-tunggu itu terganggu oleh apa pun juga. Bukankah begitu? Kau akan segera menjadi seorang permaisuri, bukan sekadar calon permaisuri. Kedudukanmu di dalam istana ini menjadi jelas. Tidak seperti sekarang. Kau masih seorang bakal permaisuri yang tidak mempunyai kekuasaan sepenuhnya. Para emban dan pelayan masih saja menganggapmu orang asing di sini.”

Ken Dedes mengangguk hormat sambil menjawab, “Hamba tuanku. Hamba akan berterima kasih sekali atas perhatian tuanku. Tetapi sebenarnyalah bahwa para emban dan pelayan bersikap sangat baik kepadaku.”

“Ya…, ya,” Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian ia berkata, “Aku memang mengharap demikian, tetapi kau akan menjadi lebih mantap berada di istana ini sebagai seorang permaisuri. Seorang yang berhak sepenuhnya atas Istana Tumapel. Dan tak seorang pun yang akan berani membantah perintahmu. Sebab kekuasaanmu tidak ada bedanya dengan kekuasaanku sendiri di dalam istana ini. Apakah kau dapat mengerti Ken Dedes?”

Ken Dedes menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Hampir-hampir ia tidak dapat menahan perasaannya. Ia menjadi semakin yakin bahwa ada sesuatu yang masih belum diucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mendesaknya.

Akuwu Tunggul Ametung itu berkata pula dengan nada yang datar, “Karena itu, semuanya harus berlangsung tepat pada waktunya. Apa pun yang terjadi.” Tiba-tiba suaranya meninggi, “Bukankah begitu Ken Dedes?”

Ken Dedes yang menjadi semakin gelisah menyahut, “Hamba tuanku. Hamba menjunjung segala titah tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus, bagus Ken Dedes. Tetapi…,” kata-kata Akuwu Tunggul Ametung terputus.

Namun dengan demikian Ken Dedes benar-benar tidak dapat menahan diri lagi. Betapa ia dicekam oleh keseganan dan ketakutan, namun terdorong juga pertanyaan dari mulutnya,

“Tuanku, apakah sebenarnya yang ingin tuanku katakan?”

“Hem,” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan hilir-mudik di ruangan itu. Sekali-sekali dipandanginya wajah Ken Dedes dan sekali-sekali wajah emban pemomong-nya. Mula-mula ia ingin menyuruh emban itu pergi, tetapi niat itu diurungkannya. Mungkin Ken Dedes memerlukannya untuk menghiburnya apabila ia menjadi terkejut karenanya. Namun dalam pada itu, terasa dada Akuwu Tunggul Ametung sendiri menjadi pepat. Ia ingin segera mengatakannya kepada Ken Dedes, tetapi ia tidak segera menemukan cara yang baik.

Tetapi dalam pada itu, Ken Dedes telah mendesaknya lagi, “Tuanku, apakah tuanku akan mengatakan sesuatu?”

“Ya, ya,” jawab Tunggul Ametung, “ada yang akan aku katakan kepadamu.”

“Hamba telah bersedia menerima titah tuanku.”

“Baik, baik,” jawab Tunggul Ametung.

Tetapi Tunggul Ametung tidak segera mengatakan sesuatu. Tunggul Ametung masih saja berjalan mondar-mandir sambil mempermainkan jari-jari tangannya. Demikianlah maka ruangan itu menjadi sepi tegang. Wajah-wajah mereka yang berada dalam ruangan itu menjadi tegang pula. Bahkan dada Akuwu Tunggul Ametung serasa hampir meledak.

Kini, Ken Dedes menjadi yakin bahwa ada sesuatu yang penting baginya. Karena Akuwu Tunggul Ametung tidak segera mengatakannya, maka dicobanya untuk menyelusur setiap persoalan yang ada padanya. Persoalan-persoalan tentang dirinya, tentang hubungannya dengan Akuwu Tunggul Ametung, dan tentang setiap orang yang ada di sekitarnya. Bahkan Ken Dedes itu menyangka, bahwa ada orang-orang yang tidak menyukai kehadirannya di dalam istana ini. Mungkin para emban dan mungkin para pelayan. Sekilas teringatlah ia kepada seorang dukun tua, Nyai Puroni. Apakah ada hubungannya dengan orang itu?

Namun tiba-tiba, seperti petir yang meledak di atas kepalanya, ia mendengar suara Akuwu yang sendat, namun seakan-akan begitu saja meloncat dari mulutnya. “Ken Dedes, soal itu adalah soal Mahisa Agni.”

Justru sejenak Ken Dedes terbungkam. Segera ia menghubungkan persoalan Mahisa Agni itu dengan kecemasan dan ketakutan yang selama ini membayanginya. Padang Karautan yang ganas dan orang-orang yang selalu mengancamnya. Namun bukan saja Ken Dedes yang menjadi cemas dan gemetar. Tetapi emban tua pemomong Ken Dedes itu pun menjadi gemetar pula. Terasa dadanya bergolak dan seluruh tubuhnya menjadi dingin. Hampir saja terloncat dari mulutnya, pertanyaan tentang keadaan anak muda itu selanjutnya. Untunglah bahwa ia masih mampu menguasai dirinya, sehingga betapapun juga ia masih tetap berdiam diri.

Kesenyapan sekali lagi mencekam ruangan itu. Akuwu Tunggul Ametung kini duduk mematung sedangkan Ken Dedes dan emban pemomong-nya dengan gelisah dan cemas, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Akuwu itu lebih lanjut.

“Ken Dedes,” suara Akuwu itu kemudian memecah sepi meskipun belum dapat disusunnya dengan baik, “tetapi jangan menjadi cemas dan takut. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang tangguh tanggon, sehingga ia pasti akan mampu menolong dirinya sendiri. Apalagi apabila ada orang lain yang membantunya, maka ia pasti akan segera melepaskan diri.”

Meskipun Akuwu Tunggul Ametung belum mengatakannya, namun segera Ken Dedes dapat menangkap maksudnya. Karena itu maka dengan gemetar Ken Dedes berkata,

“Tuanku, apakah maksud tuanku, bahwa kakang Mahisa Agni telah jatuh ke tangan orang-orang yang selama ini memusuhinya?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia ragu-ragu, tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil bergumam, “Benar, Ken Dedes.”

“O,” sekali lagi Ken Dedes terbungkam.

Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba saja terasa setitik air mengambang di matanya.

“Jadi,” katanya, “sekarang kakang Mahisa Agni tidak berada di antara orang-orang Panawijen?”

Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya pula. Jawabnya, “Ken Dedes. Ternyata orang-orang yang ingin mencelakainya mempunyai seribu macam cara. Tetapi jangan takut, di Padang Karautan terdapat sepasukan prajurit Tumapel. Empu Gandring, paman kakakmu itu, ada di sana pula. Sebentar lagi mereka pasti akan berhasil melepaskan Mahisa Agni dari tangan para penjahat itu.”

“Tetapi ternyata para prajurit dan Empu Gandring tidak dapat melindunginya.”

“Jangan takut. Empu Sada, Empu Purwa, Panji Bojong Santi akan membantu melepaskannya. Aku akan minta kepada Witantra untuk menghubungi gurunya itu,” berkata Akuwu tanpa dipertimbangkannya dalam-dalam. “Seandainya mereka tidak berhasil, maka aku sendiri akan mencarinya Tetapi…”

“Tetapi,” Ken Dedes mengulangi.

“Ken Dedes,” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “hilangnya Mahisa Agni jangan menjadi sebab terganggunya upacara yang telah ditentukan oleh para tertua Tumapel.”

Dengan serta-merta Ken Dedes mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu segera tunduk kembali. Namun betapa perasaan kecewa menyala di dadanya. Dalam kekalutan perasaan itu ia masih juga mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata tentang diri sendiri. Tentang kepentingannya sendiri. Apakah ia akan dapat berbuat seperti itu. Duduk bersanding dalam upacara kebesaran, dihadap oleh para tetua, para pemimpin pemerintahan, para senopati, dan kemudian dielu-elukan oleh rakyat Tumapel, sedangkan saat itu nyawa kakaknya terancam?.

Meskipun Mahisa Agni bukan kakaknya sendiri, tetapi keadaannya sama sekali tidak berbeda. Apalagi telah beberapa kali Mahisa Agni langsung menyelamatkannya dari bencana yang pada saat-saat itu selalu membayanginya. Bukankah bahaya yang selalu mengikuti kemana Mahisa Agni pergi sekarang ini adalah akibat dari keadaan pada waktu itu? Akibat dari nafsu yang gila dari Kuda Sempana?

Terasa betapa dadanya menjadi pepat. Kekecewaan, kecemasan, dan ketakutan bergulat di dalam dadanya. Ketika ia mencoba sekali lagi mengangkat wajahnya memandangi Akuwu Tunggul Ametung, maka dilihatnya Akuwu itu kini telah berdiri di muka pintu, memandangi titik-titik di kejauhan. Seolah-olah belum pernah dilihatnya ukiran pada tiang-tiang istana dan dinding-dinding sentong-sentong-nya. Dalam sorot lampu yang kemerah-merahan, wajah Akuwu yang tegang itu tampak membeku seperti sebuah patung tembaga.

Dan, Ken Dedes pun telah dapat menyelesaikan sendiri kalimat Akuwu Tunggul Ametung yang terputus, “Tetapi, hal itu akan aku lakukan setelah upacara kebesaran.” Tetapi waktu itu masih cukup lama. Hampir sebulan. Apakah dalam waktu yang selama itu, tidak terjadi kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya bagi Mahisa Agni?

Dalam kekalutan perasaan, Ken Dedes mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Ken Dedes. Sebenarnya aku dapat mengerahkan segenap pasukanku untuk mencari Mahisa Agni. Tetapi Empu Gandring berpendapat lain. Hal itu akan dapat membahayakan nasib Mahisa Agni sendiri.”

Tunggul Ametung berhenti sejenak. Kini ia berputar dan berjalan mendekati Ken Dedes, “Ken Dedes. Kau tahu apakah maksud Kebo Sindet mengambil Mahisa Agni? Orang itu sama sekali tidak mempunyai persoalan dengan kakakmu. Ia mengambil Mahisa Agni untuk memerasmu. Kebo Sindet pasti akan menukarkan Mahisa Agni dengan harta benda yang akan disebutkannya kelak. Karena itu jangan takut bahwa Mahisa Agni akan terbunuh. Ia pasti akan tetap hidup. Kebo Sindet pasti sedang sibuk mencari jalan untuk dapat menghubungimu. Mungkin ia akan mempergunakan Kuda Sempana atau orang Kemundungan yang lain.”

Ken Dedes tidak menjawab. Terasa titik-titik air di matanya menjadi semakin deras. Betapa ia mencoba menahannya, namun terasa beberapa tetes jatuh di tangannya yang gemetar.

“Kau dapat mengulur waktu. Kalau permintaannya tidak terlampau gila, maka kita akan segera dapat memenuhi tanpa banyak persoalan. Tetapi kalau perlu, pasukanku siap untuk berbuat.”

Terasa dada Ken Dedes menjadi semakin tergetar. Ia dapat mengerti dengan sebaik-baiknya maksud Akuwu Tunggul Ametung, meskipun cara mengatakannya tidak berurutan dan kurang teratur karena jantung Akuwu Tunggul Ametung sendiri berdentangan tidak henti-hentinya.

Ken Dedes tahu benar, bahwa ia harus mengulur waktu supaya Mahisa Agni selamat sampai upacara perkawinannya selesai. Sesudah itu barulah dipikirkan, cara untuk membebaskannya. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung tidak memikirkannya, bagaimanakah akibatnya apabila Kebo Sindet berbuat sesuatu sebelum waktu itu tiba. Kebo Sindet tidak mau menunggu sampai hari perkawinan itu selesai. Bahkan seandainya Kebo Sindet dapat dipaksanya untuk membiarkan persoalan itu sampai sesudah upacara perkawinannya, maka apakah ia dapat duduk bersanding sebagai seorang mempelai yang paling terhormat di seluruh Tumapel, sedangkan kakaknya, Mahisa Agni, berada di ujung maut?.

Dalam keheningan itu, yang terdengar hanyalah desah nafas Ken Dedes yang semakin cepat. Ketika ia berpaling, dilihatnya emban pemomong-nya duduk seperti sebuah patung yang beku. Tetapi yang kemudian dengan tergesa-gesa menyeka matanya yang basah.

“Emban itu menangis juga,” desis Ken Dedes di dalam hatinya, “ia pun pasti merasa iba. Ia mengenal Mahisa Agni sejak kanak-kanak. Karena itu, maka ia pun pasti merasa kehilangan.”

Namun Ken Dedes tidak berani terlampau banyak berbuat. Akuwu Tunggul Ametung mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di Tumapel. Meskipun demikian, diberanikan dirinya untuk sekadar bertanya,

“Tuanku. Bagaimanakah seandainya terjadi sesuatu atas kakang Mahisa Agni sebelum perkawinan dan upacara kenegaraan itu berlangsung?”

“Tidak. Tidak akan terjadi,” sahut Tunggul Ametung.

“Tetapi apakah aku akan menjadi seorang mempelai tanpa seorang anggota keluargaku yang masih tersisa menunggui aku?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggeleng, “Itu tidak penting Ken Dedes. Kau akan menjadi seorang permaisuri. Tak ada persoalan yang dapat mengganggu-gugat kedudukanmu. Aku memegang seluruh kekuasaan di Tumapel.”

“Hamba tuanku, namun perasaan hamba selalu terganggu, sehingga hamba tidak merasa tenteram.”

“Lupakan semuanya. Hari-harimu sendiri lebih penting dari segalanya.”

Dada Ken Dedes berdesir. Sekali lagi Akuwu berpikir tentang dirinya sendiri tanpa mengingat keadaan orang lain.

“Tuanku,” Ken Dedes kini mencoba untuk mencari jalan lain untuk menyelamatkan Mahisa Agni, ”tak ada orang lain tempat hamba mengadu kecuali kepada tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Kepada tuanku pula hamba mohon perlindungan atas kakakku itu, seperti yang pernah hamba katakan sebelumnya. Karena itu tuanku, apakah tuanku tidak dapat mengusahakan agar kakang Mahisa Agni dapat terlepas dari tangan orang-orang yang memusuhinya itu sebelum hari perkawinan itu tiba?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku pasti akan berusaha. Tetapi aku tidak tahu apakah usahaku itu berhasil. Aku telah memerintahkan kepada para prajurit di Padang Karautan, supaya mereka berusaha secepatanya membebaskan Mahisa Agni. Tetapi Empu Gandring menolak kekerasan.” Lalu nada suara Akuwu itu merendah, “Dan aku belum menemukan cara lain yang sebaik-baiknya.”

“Bagaimanakah kalau kakang Mahisa Agni itu tidak dapat dibebaskan, tuanku?”

“Ken Dedes, aku sudah mengatakan,” berkata Akuwu kemudian, “pikirkan dirimu lebih dahulu. Perkawinan di antara kita adalah persoalan seluruh tanah Tumapel. Kau harus dapat menilai persoalan ini menurut pertimbangan yang wajar. Sedangkan Mahisa Agni bukanlah persoalan Tumapel. Karena itu, maka persoalan yang besar tidak akan dapat diganggu oleh persoalan-persoalan yang kecil, yang tidak mempengaruhi keadaan Tumapel keseluruhan.”

Betapa kecewa Ken Dedes mendengar jawaban itu. Tanpa sesadarnya maka air matanya menjadi semakin deras mengalir. Ia tidak dapat mengesampingkan begitu saja satu-satunya sisa keluarganya, Mahisa Agni. Betapa kebahagiaan dan keluhuran yang akan diterima karena perkawinan itu, namun Mahisa Agni adalah seorang yang cukup penting di dalam hidupnya.

Dalam pada itu, Akuwu yang gelisah menjadi semakin gelisah. Ia memang sudah menyangka bahwa Ken Dedes akan bersedih karenanya. Tetapi baginya, tidaklah sewajarnya bahwa upacara kenegaraan itu akan terganggu karena hilangnya Mahisa Agni. Karena itu, ketika ia melihat Ken Dedes menangis, maka ia berkata pula,

“Ken Dedes, aku minta kau mengerti. Aku tidak memperkecil arti Mahisa Agni bagi hidupmu, tetapi kau pun harus tidak memperkecil arti upacara kenegaraan yang telah menjadi keputusan Akuwu Tunggul Ametung atas nasihat dan saran para tetua di Tumapel.”

Kini, harapan Ken Dedes menjadi kian tipis. Akuwu Tunggul Ametung tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada Mahisa Agni. Seandainya Mahisa Agni itu tidak segera diketemukan, bahkan apabila bencana yang sebenarnya menimpanya, maka tak ada harapan bagi Ken Dedes untuk menunda hari perkawinan yang sudah ditentukan itu.

Namun ia tidak berani untuk bertanya dan menyatakan pendapatnya terlampau banyak. Ia tahu benar bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang memegang segenap kekuasaan di Tumapel. Apabila Akuwu itu merasa dirinya terganggu, maka ia pasti akan mempergunakan kekuasaan untuk memaksanya. Itulah sebabnya maka Ken Dedes merasa bahwa tak ada gunanya untuk merengek-rengek lebih lanjut. Sehingga dengan demikian maka gadis itupun kini duduk temungkul dalam-dalam. Dicobanya untuk menahan air matanya sekuat-kuat tenaganya.

“Bagaimana Ken Dedes?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung. “Apakah kau dapat mengerti?”

Tak ada jawaban lain yang dapat diucapkan kecuali, “Hamba tuanku, hamba mengerti.”

Mendengar jawaban Ken Dedes itu, Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia menyadari bahwa Ken Dedes tidak berkata dengan segenap hatinya, tetapi ia mengharap bahwa lambat-laun gadis akan dapat mengerti sepenuhnya. Karena itu maka Akuwu Tunggul Ametung itu pun menganggap bahwa tidak ada gunanya lagi untuk berbicara lebih lama. Ia akan memberi kesempatan kepada Ken Dedes untuk mempertimbangkannya sendiri dan mengerti maksudnya.

Maka sejenak kemudian Akuwu itu pun berkata “Ken Dedes, timbangkanlah baik-baik. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku hanya akan berdiam diri selama ini. Seandainya ada jalan bagiku untuk membebaskannya dalam waktu yang pendek, itu akan aku lakukan. Namun apabila aku gagal, maka kau sudah dapat mengatur perasaanmu dan tidak terlampau banyak terpengaruh olehnya.”

Sekali lagi Ken Dedes menyembah sambil menjawab, “Hamba tuanku.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, aku akan kembali ke bilikku. Pikirkanlah baik-baik. Jangan terlampau terbenam di dalam perasaan.”

“Hamba tuanku.”

Kemudian kepada emban tua yang duduk di belakang Ken Dedes, Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Emban, kau sudah cukup mampu untuk mengendapkan perasaanmu. Meskipun kau agaknya bersedih juga atas hilangnya Mahisa Agni, tetapi aku harap kau dapat menenangkan hati momongan-mu.” Emban tua itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam.

“Hamba tuanku. Akan hamba lakukan titah tuanku.”

“Baiklah,” gumam Akuwu Tunggul Ametung meskipun ia tidak yakin bahwa hal itu akan terjadi sebaik-baiknya, “beristirahatlah. Aku akan kembali ke bilikku. Kau akan menghadapi saat-saat yang berat sebelum menghadapi perkawinan. Tiga orang dukun pengantin akan merawatmu menjelang perkawinanmu.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar