MENU

Ads

Sabtu, 14 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 144

Tak ada lain yang diucapkan oleh Ken Dedes, katanya, “Hamba tuanku. Hamba selalu menjunjung titah tuanku.”

Sejenak kemudian maka Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan ruangan itu. Sekali ia berpaling, namun kemudian ia pun hilang di balik pintu. Begitu Akuwu Tunggul Ametung tidak tampak lagi di mata Ken Dedes, maka tiba-tiba gadis itu memutar tubuhnya, dan dengan serta-merta dipeluknya emban tua pemomong-nya. Betapapun ia mencoba menahan diri, tetapi air matanya tercurah tanpa dapat dibendungnya. Dibenamkannya kepalanya di dalam emban tua itu, seperti pada masa kanak-kanaknya. Terdengar di sela-sela isaknya ia berkata,

“Bibi, bagaimanakah dengan kakang Mahisa Agni?”

Kini, emban tualah yang harus berjuang melawan perasaannya sendiri. Betapa dadanya seperti terbelah oleh kecemasan dan kegelisahan atas hilangnya Mahisa Agni, tetapi ia harus tabah dan mampu menahan dirinya. Ia harus menghibur momongan-nya supaya gadis itu tidak menjadi semakin dalam tenggelam dalam duka. Sudah tentu emban tua itu tidak dapat berkata kepada Ken Dedes, bahwa ia sendiri sedang bersusah hati, sebab Mahisa Agni adalah anaknya. Satu-satunya anaknya.

Emban itu menggeleng lemah. Sekuat tenaga ia berjuang untuk tidak hanyut dalam arus perasaannya. Meskipun demikian setetes-setetes air matanya jatuh membasahi rambut Ken Dedes yang hitam lebat. Namun emban tua itu berusaha untuk berkata,

“Sudahlah nini. Jangan terlampau bersedih. Aku tahu, bahwa kau merasa kehilangan. Angger Mahisa Agni adalah tidak ubahnya seperti kakak kandungmu sendiri, pengganti orang tuamu. Tetapi dengan demikian kau akan kehilangan gairah menyambut hari-harimu yang cerah.”

“Apakah artinya kebahagiaan yang semu ini bibi,” jawab Ken Dedes tiba-tiba.

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Pelahan-lahan ia berkata, “Tidak nini. Kebahagiaan yang sudah berada di ambang pintu adalah suatu kenyataan. Bukan sekadar semu. Apabila kau dapat menghayatinya, maka kau akan merasakannya sebagai suatu kurnia tiada taranya. Kau harus lebih banyak mempergunakan pertimbangan nalar daripada tekanan perasaan.”

“Bibi, apakah aku dapat berbuat demikian? Berpikir tentang diriku sendiri, sedangkan kakang Mahisa Agni yang selama ini selalu melindungi aku berada dalam bahaya?”

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Kata-kata Ken Dedes itu langsung menyentuh perasaan sendiri. Mahisa Agni berada di dalam bahaya. Namun dari sela-sela bibir yang tipis, terdengar kata-katanya bergetar,

“Nini, serahkanlah semuanya kepada Yang Maha Agung. DaripadaNya dunia ini terbentang. Maka kepadaNya pula kita menyerahkan nasib. Kita hanya dapat berusaha, tetapi yang terakhir adalah kehendakNyalah yang terjadi.”

Kata-kata emban tua itu menjadi semakin lirih. Sebenarnyalah kata-kata itu lebih banyak ditujukan kepada diri sendiri daripada kepada orang lain. Tetapi Ken Dedes mendengar pula kata-kata itu. Ternyata kata-kata itu dapat memberinya sekadar ketenteraman. Sedikit demi sedikit tangisnya mereda.

“Marilah nini,” berkata emban tua itu, “masuklah ke dalam bilikmu. Mungkin seorang emban atau pelayan atau juru panebah akan lewat di ruangan ini. Mereka akan melihat kau menangis dan mereka akan bertanya-tanya di dalam hati, apakah kiranya yang telah terjadi.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pun berdiri. Dibimbing oleh emban pemomong-nya, Ken Dedes melangkah masuk ke dalam biliknya, langsung merebahkan diri di pembaringannya. Sejenak emban tua pemomong-nya duduk di samping pembaringannya sambil mengucapkan kata-kata yang dapat membesarkan hati momongan-nya. Ketika hati gadis itu sudah menjadi agak lilih, maka ditinggalkannya Ken Dedes seorang diri. Dengan tergesa-gesa emban itu pergi ke biliknya sendiri. Ternyata ia tidak dapat lebih lama menahan desakan kepahitan yang tersimpan di dalam dadanya.

Ketika emban tua itu memasuki biliknya sendiri, maka masih dicobanya untuk bertahan. Untuk tidak tenggelam dalam genangan duka. Tetapi ia tidak berhasil. Dadanya yang selama ini selalu mencoba bertahan atas segala macam keadaan, maka kini seolah-olah meledak dengan dahsyatnya. Emban tua itupun menelungkup di pembaringannya. Air matanya lepas seperti bendungan pecah.

“Anakku,” desisnya.

Emban tua ini menangisi satu-satunya anaknya. Anak yang hilang pada masa kecilnya dibawa oleh ayahnya tanpa setahunya. Dengan segala macam cara ia berhasil menemukan anak itu kembali. Tetapi ia tidak dapat menyatakan dirinya sebagai seorang ibu. Meskipun demikian ia berhasil menunggui anaknya setiap hari. Betapa ia berbangga hati ketika ia melihat anaknya tumbuh subur seperti sebatang pohon beringin di tengah-tengah Padukuhan Panawijen. Ternyata anaknya, seperti juga gurunya, mampu memberi pangayoman kepada orang-orang di sekelilingnya, kepada Padukuhan Panawijen.

Tetapi anak itu kini hilang lagi. Hilang dalam kabut yang kelam. Tak seorang pun yang mengetahui, apakah yang berada di balik kabut hitam itu, seolah-olah kabut itu sendiri merupakan rahasia yang penuh menyimpan bahaya. Dengan sekuat tenaga ia bertahan di hadapan Ken Dedes, bahkan ia dapat menghibur hati gadis yang duka itu. Tetapi ia tidak mampu menghibur dirinya sendiri. Ia dapat menerima segala pengaduan gadis itu, sehingga hati Ken Dedes menjadi agak lapang. Dan emban tua itu dapat memberinya ketenteraman.

Tetapi emban tua itu tidak mempunyai tempat untuk menumpahkan himpitan perasaan. Ia tidak mempunyai kawan untuk membagi duka. Tak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara tentang anaknya yang hilang. Tentang anaknya yang ditangkap oleh seorang yang mengerikan, iblis dari Kemundungan. Dengan demikian ia harus menelan kepahitan itu seorang diri. Menanggungnya sendiri dan menahankannya seorang diri pula.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar suara cengkerik berderik-derik di antara gemersik daun-daun kering yang terbang oleh sentuhan angin malam yang basah. Dingin malam merayap menembus dinding-dinding kayu Istana Tumapel, menyentuh kulit. Tetapi emban tua itu tidak juga dapat memejamkan matanya yang masih saja dibasahi air mata. Bahkan masih juga terdengar isak-tangisnya tertahan-tahan.



Tetapi ternyata bukan emban tua itu saja yang malam itu tidak dapat tidur. Ken Dedes malam itu sama sekali juga tidak dapat tidur. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung pun selalu dibayangi oleh kegelisahan. Meskipun Ken Dedes tidak menyangkal tentang saat-saat perkawinan yang sudah ditentukan, tetapi agaknya bukan karena ia menerima hal itu dengan ikhlas. Agaknya Ken Dedes hanya menuruti kemauannya karena takut. Meskipun demikian, Akuwu tetap pada keinginannya. Upacara itu tidak dapat tertunda. Mungkin Ken Dedes akan bersedih untuk beberapa lama. Tetapi apabila kelak Mahisa Agni telah dapat dibebaskan, maka kesedhihan itu pun akan berangsur hilang.

“Tetapi bagaimana kalau Mahisa Agni itu terbunuh?” tiba-tiba tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “apakah ia tidak akan menyesal sepanjang hidupnya?”

Akuwu menggigit bibirnya. Tiba-tiba ia bangkit dari pembaringannya dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya.

“Tetapi aku tidak sempat memikirnya sekarang,” desisnya, “semua orang sudah sibuk dengan persiapan hari perkawinan itu.”

Akhirnya Akuwu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Betapa ia kesal atas peristiwa-peristiwa yang sebenarnya tidak bersangkut-paut langsung dengan kepentingannya, tetapi akan dapat mengganggunya.

“Soal itu adalah soal kecil bagi seorang Akuwu Tumapel,” gumamnya, “kalau aku harus mengurusi rakyatku seorang demi seorang maka aku akan mati kelelahan dan kebingungan. Mahisa Agni memang harus mendapat perlindungan. Tetapi jangan memecahkan otakku.” Namun kemudian ia berdesis, “Tetapi Mahisa Agni mempunyai kekhususan. Ia langsung berhubungan dengan bakal permaisuriku.” Akuwu Tunggul Ametung terhenyak di pembaringannya. Ia sekali lagi mencoba berbaring dan memejamkan matanya. Tetapi ia tidak segera dapat tertidur.

Di Lulumbang, Empu Gandring pun tidak juga dapat tidur. Meskipun ia sudah berada di tengah-tengah keluarganya, namun ia masih belum dapat melupakan kemenakannya. Empu Gandring sendiri mempunyai beberapa ikatan yang tidak dapat selalu ditinggalkannya. Ia harus mengerjakan pekerjaan sebagai seorang empu keris. Ia harus mengurusi padepokannya dan beberapa orang cantriknya. Karena itu maka ia tidak dapat meninggalkan padepokannya terlampau lama. Namun untuk melupakan Mahisa Agni, agaknya terlampau sulit baginya. Karena itulah maka ia selalu saja merasa gelisah. Setiap ia berbaring dan memejamkan matanya, maka wajah kemenakannya itu justru terbayang terlampau jelas. Wajah yang pucat-pasi. Wajah yang diam dan beku.

“Kasihan,” desisnya, “mudah-mudahan usaha untuk membebaskannya itu berhasil. Ia pasti akan lebih daripada aku sendiri. Menurut keterangannya, maka rawa-rawa itu sudah dikenalnya dengan baik.”

Ternyata Mahisa Agni malam itu telah menimbulkan kegelisahan di mana-mana. Ken Dedes, emban tua pemomong-nya, Akuwu Tunggul Ametung, Empu Gandring, dan Ken Arok yang berdiri tegang di Padang Karautan. Sambil menatap bintang yang bergayutan di langit, ia menghirup udara malam yang dingin. Tetapi ia tidak ingin segera masuk ke dalam kemahnya. Terasa udara di dalam gubugnya terlampau panas. Seperti hatinya yang terbakar oleh kekecewaan. Kenapa ia tidak mampu berbuat apa-apa dengan pasukannya itu untuk melindungi Mahisa Agni? Ia menyesal bahwa ketika Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia tidak berkeras untuk membawa beberapa orang prajurit bersamanya. Tetapi semua itu sudah telanjur. Semua sudah terjadi.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Udara malam yang dingin menyentuh seluruh isi dadanya yang gelisah. Sedangkan di hadapannya terbentang kewajiban yang tidak dapat diabaikan. Bendungan yang ditinggalkan oleh Mahisa Agni, susukan induk, parit-parit, sawah, dan pategalan yang baru mulai ditanami dengan pohon-pohon pelindung dan pohon buah-buahan, kemudian yang tidak kalah pentingnya bagi Ken Arok sendiri adalah taman yang pada saatnya harus dipersembahkan kepada Akuwu Tunggul Ametung. Taman yang kelak akan dihadiahkan kepada permaisurinya, Ken Dedes.

“Hari perkawinan itu menjadi semakin dekat,” desis Ken Arok. “Sebelum enam bulan dari hari perkawinan itu, taman itu harus sudah siap. Harus sudah berwujud.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Ia akan banyak kehilangan waktu apabila ia tenggelam dalam persoalan Mahisa Agni saja. Karena itu maka kedua-duanya harus mendapat perhatiannya.

“Aku harus bekerja siang dan malam. Kalau tidak, maka semuanya tidak akan selesai dalam waktu enam bulan lagi. Tapi apakah orang-orang Panawijen mampu bekerja secara demikian? Aku yakin bahwa prajurit Tumapel akan dapat melakukannya. Sebaiknya aku minta beberapa orang baru dengan perbekalan dan peralatan baru. Mudah-mudahan enam bulan lagi pohon-pohon yang sudah mulai tumbuh itu sudah menjadi cukup rimbun, pategalan sudah mulai tampak hijau, dan tanah-tanah yang akan disiapkan menjadi tanah persawahan sudah dapat mulai digenangi air.”

Ken Arok itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Orang-orang baru itu akan dapat melakukannya di dalam hari bergiliran. Dengan demikian waktu yang singkat ini seolah-olah akan menjadi berlipat.”

Terasa dada Ken Arok menjadi agak lapang dengan keputusannya itu. Ia mengharap tidak mengecewakan Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak ingin mengundur waktu yang sudah ditetapkan. Enam bulan sesudah hari perkawinan, Akuwu akan membawa permaisurinya ke taman yang sedang dibuatnya itu.

“Mudah-mudahan daerah ini telah menjadi daerah yang hijau,” desisnya kemudian.

Tetapi angan-angan Ken Arok itu tiba-tiba menjadi terganggu. Ia melihat bayangan tiga sosok tubuh mendekatinya. Ia segera mengenal, bahwa dua orang di antara mereka pasti para pengawal yang bertugas berjaga-jaga malam ini. Tetapi siapakah yang seorang? Ken Arok masih berdiri di tempatnya, di sisi gubugnya. Dibiarkannya orang-orang itu menjadi semakin dekat. Ketika jarak mereka menjadi semakin pendek, maka bertanyalah Ken Arok itu,

“Siapa?”

“Kami para peronda,” sahut salah seorang dari mereka.

“Ya, aku mengenal kau berdua, tetapi yang seorang?”

“Seorang tamu.”

“Tamu? Siapakah yang dicarinya? Aku?”

“Ya.”

Ken Arok menjadi berdebar-debar sejenak. Tetapi kemudian ia terperanjat ketika ia mendengar orang itu berkata, “Aku Ken Arok. Apakah kau sudah lupa kepadaku. Kepada ayahmu?”

Terasa darah Ken Arok menjadi semakin cepat mengalir. Ia mengenal suara itu. Suara yang telah lama tidak didengarnya, namun yang kini tiba-tiba telah menyentuh telinganya.

Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Ayah, Bango Samparan.”

Orang itu tertawa, “Ha, kau masih mengenal aku dengan baik. Ya, aku ayahmu, Bango Samparan.”

Wajah Ken Arok tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa ia akan bertemu dengan ayah angkatnya di saat-saat seperti ini. Namun lebih daripada itu, ada perasaan ganjil yang melonjak-lonjak di dalam dadanya. Sebenarnya lebih baik baginya apabila ia tidak pernah lagi bertemu dengan orang itu, dengan Bango Samparan. Tetapi orang itu telah berdiri di hadapannya, dan ia tidak lagi dapat menolak.

“Aku senang sekali dapat menemuimu di sini, Ken Arok,” berkata Bango Samparan.

“Ya ayah,” begitu saja meluncur jawaban dari mulut Ken Arok.

Kini ketiga orang itu telah berdiri benar-benar di hadapannya. Ia melihat kedua peronda dan Bango Samparan berhenti sejenak. Namun kemudian ayah angkatnya itu melangkah maju, mendekap pundaknya, dan berkata,

“Kau gagah benar anakku. Aku tidak menyangka bahwa kau akan menjadi seorang pelayan dalam yang baik. Bahkan seorang prajurit yang mumpuni.”

“Terima kasih ayah,” sahut Ken Arok,

“Lama sekali aku mencari. Hampir seluruh negeri aku jelajahi. Tetapi aku baru menemukan di sini, setelah namamu dikenal oleh hampir setiap orang. Sebelum ini, Ken Arok, aku sudah menyangka bahwa kau tinggal di Padang Karautan ini pula. Tetapi tidak sebagai seorang prajurit? Benarkah begitu? Apakah benar bahwa yang ditakuti. . . .”

“Ayah,” potong Ken Arok tiba-tiba, “marilah, aku persilakan ayah masuk ke dalam gubugku.” Kemudian kepada kedua peronda yang mengantar Bango Samparan itu, Ken Arok berkata, “Tinggalkanlah tamuku di sini.”

Kedua peronda itu pun kemudian pergi meninggalkan Bango Samparan yang segera dibawa masuk ke dalam gubug Ken Arok. Mereka duduk di atas tikar pandan kasar yang dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering.

“Aku gembira sekali dapat menemukan kau kembali, Ken Arok.”

“Ya ayah,” jawab Kon Arok, ”aku juga gembira bertemu ayah kembali.”

Terdengar Bango Samparan tertawa. Suaranya menggelegar di kesunyian padang, sehingga beberapa orang yang sedang tertidur di gubug-gubug sebelah terbangun karenanya.

“Eh, apakah dugaanku benar, bahwa kau yang pernah menghantui Padang Karautan ini dahulu?”

“Ah,” desah Ken Arok, “mungkin ayah salah. Tetapi seandainya benar, karena aku pernah juga berada di sini, sebaiknya semuanya itu sudah harus dilupakan.”

Sekali lagi Bango Samparan tertawa sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Beberapa kali ia menyeka air matanya yang meleleh di pipinya yang gembung.

“Kenapa Ken Arok?” ia bertanya, “Kenapa hal itu harus dilupakan.”

“Sebuah kenangan yang menyakitkan hati,” jawab Ken Arok.

“Tidak. Kau tidak boleh melupakan semuanya. Kau harus tetap mengingat dan mengenang semua yang pernah kau alami. Dengan demikian kau akan mendapat kebanggaan diri. Ken Arok, anak Gajah Para dan Ken Endog, yang dipelihara oleh seorang pencuri yang bernama Lembong, yang kemudian menjadi anak angkat dari seorang penjudi besar bernama Bango Samparan.”

“Sudah ayah, sudah,” potong Ken Arok.

“He, jangan memotong kata-kataku. Aku sedang membangkitkan kenanganmu atas dirimu supaya kau tahu apa yang harus kau lakukan. Nah, dengarlah anak Pangkur, bahwa kau ternyata memiliki nasib yang baik sekali. Seorang anak yang lahir di padesan yang kecil, kini menjadi seorang pelayan dalam yang dekat dengan seorang Akuwu.”

“Ya, ya ayah. Aku berterima kasih kepada Yang Maha Agung, bahwa aku mendapat nasib yang baik.”

“Apakah kau puas dengan keadaanmu sekarang?”

“Tentu ayah. Aku puas sekali dengan keadaanku sekarang. Seperti ayah katakan bahwa aku adalah seorang anak yang terbuang di masa kecilku. Aku tidak pernah mengetahui siapakah ayahku, karena ayah meninggal di masa aku belum dilahirkan.”

“Belum cukup. Harus kau lanjutkan, yang ketika masih bayi dibuang di kuburan. Ditemukan oleh seorang pencuri ulung yang bernama Lembong. Dipelihara, tetapi kemudian menghancurkan hidup mereka karena kau menghilangkan beberapa ekor lembu milik Buyut ing Lebak. Lembong suami-isteri harus mengganti. Karena kekayaannya tidak cukup, maka mereka berdua harus melunasinya dengan menggadaikan diri mereka.”

“Ayah benar. Ayah pernah menceriterakan semua itu kepadaku. Aku memang anak yang ditemukan di pekuburan. Dan aku telah berbuat hal-hal yang kurang baik di masa-masa lalu. Tetapi apakah maksud ayah mengatakan hal itu?”

Bango Samparan itu tertawa lagi. Suaranya benar-benar membangunkan orang-orang yang sedang tertidur nyenyak. Bahkan satu-dua orang keluar dari gubugnya dan memerlukan melihat, siapakah yang sedang tertawa di gubug Ken Arok.

“Siapakah tamu itu,” bertanya salah seorang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

Mereka pun kemudian pergi sambil menggerutu. Mereka ingin tidur untuk beristirahat, sebab besok mereka harus turun lagi ke bendungan atau ke sendang buatan agak jauh ke tengah Padang Karautan.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan kemudian, “sudah aku katakan bahwa aku sedang membangkitkan kenanganmu atas masa-masa lampaumu.”

“Ya ayah, tetapi sesudah aku mengenang kembali semuanya itu, lalu apa yang akan terjadi?”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku hanya ingin ikut mengenyam kepuasanmu Ken Arok. Sebagai orang tua yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk kemajuanmu, aku hanya dapat berdoa supaya segala cita-citamu dapat kau capai.”

“Terima kasih ayah,” sahut Ken Arok. Namun anak muda itu dapat merasakan, bahwa masih ada sesuatu yang tersembunyi. Karena itu, maka hatinya menjadi kian berdebar-debar.

Sebenarnya ia tidak senang mendengarkan ayah angkatnya itu berceritera tentang masa lampaunya. Masa-masa yang pahit dan menyakitkan hati. Dunianya yang pada saat itu hitam kelam, sama sekali tidak ada secerceh sinar pun yang dapat menerangi jalannya. Ia mendengar kalimat-kalimat yang aneh, yang menyentuh hatinya seperti embun di malam yang panas, adalah dari mulut guru Mahisa Agni. Kemudian pertemuannya dengan seorang Brahmana telah membawanya ke jalan yang terang, yang sekarang ini sedang dilaluinya. Tiba-tiba ayahnya, ayah yang memeliharanya di dunia yang kelam itu, kini datang lagi kepadanya. Tiba-tiba Ken Arok melihat Bango Samparan menggeser duduknya setapak maju. Terdengar orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian patah-patah ia berkata,

“Eh, Arok. Setelah kau menjadi orang yang terhormat sekarang ini, apakah kau sudah benar-benar menjadi puas.”

“Tentu ayah. Sudah aku katakan.”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ken Arok. Aku kira tidak ada seorang pun di dunia yang nasibnya sebaik nasib yang kau bawa itu. Kau ingat pada saat aku menemukanmu?”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. “Ya,” jawabnya singkat. Bagaimanapun ia tidak senang mendengar kata-kata ayah angkatnya itu, tetapi ia tidak dapat mencegahnya.

“Pada waktu itu,” Bango Samparan meneruskan, “aku sedang prihatin. Harta-bendaku habis ditelan oleh permainan judi, sehingga aku lari dari Karuman karena aku tidak dapat membayar kekalahanku. Pada waktu itu aku hampir-hampir membunuh diriku dalam persembunyianku di Rabut Jalu. Ketika aku menemukanmu pada saat itu Arok, tiba-tiba timbul kembali gairahku untuk menebus kekalahanku. Ternyata, dengan membawamu kembali ke medan perjudian, aku mendapatkan kembali semua kekalahanku. Kau ingat.” Ken Arok mengangguk, tetapi wajahnya menjadi semakin buram.

“Kemudian keadaanmu sendiri. Setelah kau meninggalkan ibu angkatmu, Genuk Buntu, maka kau hilang dari keluargaku. Jangan kau sangka bahwa aku tidak mencarimu Arok. Sebab aku masih memerlukanmu.”

“Hanya supaya ayah selalu menang berjudi.”

Bango Samparan tertawa. “Sebagian, tetapi ibu angkatmu sangat merindukanmu. Mungkin kau tidak dapat hidup bersama-sama dengan anak-anak isteriku yang muda itu. Tetapi apabila kau sekali menjenguk ibu angkatmu, ia pasti akan bergembira sekali.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Bukan karena ia tidak mengenal terima kasih, tetapi ia tahu benar sifat-sifat ayah angkatnya. Kini ia berada di jalan yang terang. Yang tidak dibayangi oleh perasaan cemas, gelisah, dan perasaan bersalah. Kalau ia tidak ingin bertemu lagi dengan ayah angkatnya, karena ia tidak mau lagi dipengaruhi oleh keadaannya.

“Aku masih belum dapat mempercayai keteguhan hatiku sendiri,” desis Ken Arok di dalam hatinya.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu kemudian, “apakah kau benar-benar sudah melupakan ibu angkatmu?”

“Tidak ayah,” sahut Ken Arok, “aku tidak pernah melupakannya.”

“Kenapa kau tidak pernah mengunjunginya?”

“Aku belum sempat ayah.”

Bango Samparan tertawa. Katanya, “Apakah kau terlampau sibuk sehingga kau tidak dapat menyisihkan waktu seminggu atau dua minggu saja?”

“Bendungan ini tidak dapat aku tinggalkan.”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Sebelum ini kau juga tidak pernah ke rumah. Apalagi setelah kau menjadi seorang pemimpin pelayan-dalam Istana Tumapel, yang kali ini dipercaya untuk memimpin sepasukan prajurit, bukan saja pelayan-dalam dan prajurit-prajurit pengawal istana.” Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiam diri.

“Seharusnya ibumu melihat kau dalam keadaanmu sekarang. Gagah dan tampan. Sepantasnya kau bukan anak angkatku, tetapi kau lebih pantas menjadi anak kandungku. Keperkasaanmu, ketampananmu lebih mirip aku daripada orang tuamu sendiri.” Ken Arok masih berdiam diri.

“Arok,” berkata Bango Samparan seterusnya, “apakah kau dapat mengunjungi aku beberapa hari saja?”

“Lain kali ayah,” akhirnya Ken Arok menjawab.

Bango Samparan mengerutkan alisnya. “Keadaanku sudah terlampau parah.”

“Kenapa?”

“Seperti pada saat aku menemukan kau. Nah, apabila kau berada bersamaku ke medan perjudian, maka aku mengharap kekalahanku itu akan dapat aku ambil kembali.”

“Ah,” desah Ken Arok, “ayah terlampau mempercayai keajaiban. Pada waktu itu aku kira hanya suatu kebetulan saja, bahwa ayah memenangkan kembali kekalahan itu. Sama sekali bukan karena ayah pergi bersamaku.”

“Tidak Arok, tidak. Kaulah yang telah menyebabkan aku memenangkan perjudian itu. Aku yakin. Seolah-olah aku mendengar suara dari tempat yang tidak aku mengerti, yang mengatakan bahwa kau memang mempunyai nasib yang baik.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menjawab, “Seandainya demikian, maka aku pun tidak akan pergi.”

Bango Samparan membelalakkan matanya. “Kenapa? O, Ngger. Aku sudah menempuh jalan yang sulit untuk menemukanmu. Sekarang apakah tanggapanmu itu cukup sepadan?”

“Maaf ayah,” sahut Ken Arok, “aku sama sekali tidak mengabaikan kedatangan ayah. Tetapi aku tidak dapat memenuhi permintaan itu, apabila ayah hanya membutuhkan aku sekadar untuk memenangkan perjudian.”

“O, itulah kenyataan yang aku hadapi sekarang. Ken Arok, memang jauh berbeda kasih seorang ayah dan ibu kepada anaknya dibandingkan dengan keadaan sebaliknya. Seorang ayah dan ibu kadang-kadang mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk kepentingan anaknya. Tetapi anak kadang-kadang acuh tak acuh saja kepada orangtuanya.”

Ken Arok mengerutkan dahinya. Sejenak ia berdiam diri sambil merenungi wajah ayahnya. Bango Samparan kini sudah tidak tertawa dan tidak tersenyum lagi.

“Ayah,” berkata Ken Arok, “ayah jangan salah mengerti. Aku memang tidak dapat memenuhi permintaan ayah. Kalau aku pergi juga dan justru karena kehadiranku itu ayah dapat memenangkan perjudian, maka akulah yang berdosa. Aku telah mendorong ayah semakin dalam masuk ke arena perjudian. Ayah menjadi semakin lekat dengan kesenangan ayah yang tercela itu.”

“O, Ngger, Ngger,” potong Bango Samparan, “kau dapat berkata demikian setelah kau mengenakan pakaian seorang pelayan dalam. Apakah yang dahulu pernah kau lakukan? Judi, merampas, merampok, memerkosa, dan segala macam kejahatan yang lain.”

“Ya ayah,” sahut Ken Arok. Terasa dadanya bergolak, namun ia masih cukup menguasai dirinya sendiri, “aku memang pernah melakukannya. Namun pada suatu saat aku sampai pada suatu batas di mana aku menyesali semuanya itu. Aku menyesal dan bertobat. Itulah yang terjadi ayah. Sehingga dengan demikian aku berusaha untuk tidak lagi terjerumus ke dalamnya.”

“Hem,” Bango Samparan berdesah sambil menghela nafas dalam sekali, “jadi kau benar-benar tidak mau menolongku.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar