MENU

Ads

Sabtu, 14 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 145

“Bukan maksudku ayah,” sahut Ken Arok, “aku selalu bersedia menolong ayah dalam batas kemampuan. Baiklah aku akan berusaha menolong ayah sesuai dengan kekuatanku untuk meringankan beban hidup ayah sehari-hari, ayah dan adik-adik di Karuman. Tetapi tidak untuk berjudi. Tak ada judi yang dapat membahagiakan hidup seseorang. Seandainya seseorang memenangkan perjudian, maka yang didapatnya itu adalah perasan milik orang lain. Yang didapatnya itu adalah karena kerugian orang lain. Meskipun yang terjadi itu seolah-olah atas persetujuan bersama, tetapi tak seorang pun yang ikhlas atas setiap kekalahan. Ketidak ikhlasan akan ikut serta pada setiap kemenangan yang didapat di medan perjudian. Nah, milik yang didapat dengan cara demikian, tanpa keikhlasan, tidak akan membahagiakan hidup kita.”

Wajah Bango Samparan menjadi semakin berkerut-merut. Dengan tajamnya dipandanginya wajah anak angkatnya itu. Namun betapa ia menahan rasa kecewa yang berkecamuk di dadanya. Untuk sesaat, penjudi dari Karuman itu berdiam diri. Tetapi bibirnya berkumat-kamit tidak henti-hentinya. Seolah-olah ada yang masih tersimpan di dalam mulut itu, tetapi tidak dapat dikatakannya.

Ken Arok pun kini duduk sambil merenungi kegelapan di luar gubuknya. Sejenak kenangannya berlari-larian di masa lampaunya, di masa kecilnya yang pahit. Hidup di dalam lingkungan kejahatan. Pencuri dan perampas. Ayah angkatnya yang lain, Lembong, adalah seorang pencuri. Bahkan ia kadang-kadang harus ikut serta dengan ayah angkatnya itu. Kemudian, lepas dari seorang pencuri, ia jatuh ke tangan Bango Samparan, seorang penjudi dan seorang perampok pula.

Kemudian dijelajahinya hidup dalam kegelapan. Ditelusurinya Padang Karautan, setelah ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi di padesan, karena hampir setiap orang mencarinya. Mencarinya sebagai seorang penjahat yang harus ditangkap dan bahkan dibunuh. Ternyata kejahatan yang dilakukan telah melampaui kejahatan kedua ayah angkatnya, bahkan digabung sama sekali. Pencuri Lembong dan penjudi Bango Samparan.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Untunglah, aku bertemu dengan orang-orang yang berhasil menarik aku keluar dari dunia yang hitam pekat itu.”

Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar ayah angkatnya bergumam lirih, “Aku tidak mengerti.”

Ken Arok berpaling, “Apa yang tidak ayah mengerti?”

“Kau.”

“Kenapa aku?”

“Kau benar-benar melupakan aku dan ibumu. Apalagi adik-adikmu.”

“Sudah aku katakan ayah, aku akan memberi ayah bantuan sesuai dengan kekuatanku.”

“Huh, apa yang dapat kau berikan? Kau tidak lebih dari seorang pelayan dalam. Kedudukanmu masih belum cukup tinggi. Seorang perwira rendahan. Coba apa yang akan kau berikan kepadaku. Uang setiap selapan? Atau mungkin akan membeli sawah untuk aku? Atau apa?” Bango Samparan berhenti sejenak, “tidak ada gunanya. Berapa banyak kau akan memberikan uang kepadaku, apabila kau tidak ikut serta ke perjudian, maka uang itu akan habis tidak sampai satu malam. Sawah? Aku tidak biasa bekerja di sawah. Yang selalu kulakukan adalah duduk di medan judi. Atau, kalau aku sudah kehabisan akal, aku akan dapat merampas milik orang lain. Merampok di jalan-jalan sunyi atau di rumah-rumah orang kaya, seperti yang pernah kau lakukan.”

Ken Arok sekali lagi menggigit bibirnya sampai pedih. Tetapi tidak sepedih hatinya. “Ayah,” berkata Ken Arok, “kalau ayah mau mendengar kata-kataku, semuanya jangan ayah lakukan. Ayah akan berhadapan dengan prajurit Tumapel. Sedangkan aku adalah satu di antara mereka. Seandainya tidak demikian, seandainya tidak berhadapan dengan prajurit Tumapel sekalipun, maka hidup ayah akan menjadi semakin kisruh. Ayah tidak akan dapat lagi merasakan kehidupan keluarga.”

“Kalau kau salah seorang dari prajurit Tumapel, kau mau apa?” desis Bango Samparan, “apakah kau akan menangkap aku?”

Ken Arok menggelengkan kepalanya. “Tidak ayah. Tetapi ayah menempatkan aku pada keadaan yang sulit.”

“Huh,” sahut Bango Samparan, “kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau tidak memikirkan aku dan keluargaku. Adik-adikmu dan ibu angkatmu yang telah memeliharamu pada saat kau hampir mati kelaparan.”

“Apakah dengan demikian ayah juga tidak hanya memikirkan diri ayah sendiri. Coba, seperti ceritera ayah sendiri, seandainya ayah tidak seolah-olah mendengar suara dari langit bahwa seorang anak yang hampir mati kelaparan yang ayah temui itu akan dapat memberikan nasib yang baik bagi ayah, apakah kira-kira ayah akan mau memeliharanya? Sedangkan ayah sendiri pada waktu itu hampir membunuh diri karena kekalahan ayah yang tidak tertanggungkan. Dan sekarang, bukankah ayah juga hanya memikirkan diri ayah sendiri tanpa memperhitungkan bagaimanakah aku, dan sedang dalam kewajiban apakah aku sekarang? Ayah hanya ingin, supaya aku datang ke Karuman, menunggui ayah berjudi seperti pada saat aku masih terlampau muda untuk mengerti tentang diri sendiri, pada saat aku masih kanak-kanak? Sedangkan aku sekarang adalah seorang pelayan-dalam Istana Tumapel. Coba ayah bayangkan, apakah aku akan dapat duduk diam di belakang ayah yang lagi berjudi? Padahal di lambungku tersangkut pedang seorang pelayan-dalam.”

Bango Samparan mengerutkan dahinya. Sekali lagi ia terdiam meskipun bibirnya selalu bergerak-gerak. Ia tidak dapat mengatasi kata-kata anak angkatnya itu. Karena itu maka harapannya untuk membawa Ken Arok ke arena perjudian menjadi semakin kabur. Ternyata Ken Arok telah benar-benar meninggalkan cara hidupnya yang lama. Tiba-tiba Bango Samparan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian pelahan-lahan,

“Jadi aku sudah tidak akan dapat mengharapkan kau lagi, Ken Arok?”

“Untuk kepentingan yang ayah maksudku, sayang ayah, aku kira ayah memang sudah tidak dapat mengharapkan aku lagi.”



“Kalau begitu, baiklah Ken Arok. Aku akan mencari jalan untuk melepaskan diri dari kesulitanku kali ini.”

“Apakah yang akan ayah lakukan?”

“Entahlah?”

“Melakukan kejahatan?”

“Tidak. Bukankah kau tidak sependapat?”

“Lalu apa?”

“Mungkin aku akan pergi ke Rabut Jalu.”

“Untuk apa? Apakah ayah akan bertapa lagi di sana?”

“Aku sudah tidak mempunyai harapan. Dahulu aku bertapa di Rabut Jalu, bahkan hampir aku membunuh diri dengan caraku. Tetapi waktu itu aku menemukan seorang anak yang bernama Ken Arok. Sekarang aku tidak akan dapat menemukannya lagi.”

“Lalu, untuk apa ayah pergi ke Rabut Jalu?”

“Aku akan melakukan yang dahulu tidak sempat aku lakukan. Lebih baik aku mati daripada melihat keluargaku yang akan mati kelaparan.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata ayah angkatnya itu. Sejenak ia berdiam diri memandangi wajah Bango Samparan yang menjadi buram. Namun dalam pada itu, Ken Arok masih sempat menangkap kesan-kesan tentang wajah itu. Kasar dan bahkan keras. Sehingga timbul kebimbangan di dalam hati.

“Apakah orang sekasar dan sekeras itu benar-benar akan membunuh diri?” Ken Arok menggeleng. “Tidak,” dijawabnya pertanyaan itu sendiri di dalam hatinya, “ia tidak bersungguh-sungguh. Ia hanya ingin menekankan kehendaknya. Aku kira dahulu pun ia tidak akan membunuh dirinya di Rabut Jalu. Mungkin ia hanya menjadi bingung dan bertapa di tempat itu.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Wajah Bango Samparan yang keras dan kasar itu tampak sedih. Mulutnya masih saja berkumat-kamit, tetapi tidak sepatah kata pun yang terloncat dari mulutnya itu. Baru sejenak kemudian ia berkata,

“Baiklah Ken Arok. Pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir. Mungkin besok atau lusa kau akan mendengar kabar bahwa seorang laki-laki yang bernama Bango Samparan telah membunuh dirinya karena anaknya yang dikasihinya sama sekali tidak mau lagi memperhatikannya. Anak itu bernama Ken Arok.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan hatinya. Namun demikian kata-katanya meloncat juga dari mulutnya, “Ayah, apakah ayah ingin mencoba memaksa aku dengan cara itu? Seandainya ayah ingin membunuh diri, apakah itu juga bukan salah satu bentuk dari suatu sikap mementingkan diri sendiri. Ayah tidak mau memperhatikan keluarga ayah. Dan ini berlangsung sejak dahulu, sejak aku berada di rumah ayah. Sekarang ayah akan membunuh diri. Itu pun suatu cara ayah menghindari tanggung jawab ayah terhadap keluarga. Kemudian sesudah itu, ayah jangan mengharapkan orang percaya bahwa ayah mati karena aku tidak memperhatikannya lagi. Setiap orang, apalagi orang Karuman dan sekitarnya, pernah mendengar nama Bango Samparan, seorang penjudi. Apa kata orang apabila mereka menemukan mayat ayah di pinggir jurang di Rabut Jalu?”

“Cukup, cukup,” potong Bango Samparan. Wajahnya menjadi merah membara. Ia benar-benar menjadi marah. Hampir-hampir ia meloncat dan menampar wajah Ken Arok. Tetapi ia sempat mengurungkan niatnya. Ken Arok sekarang bukan kanak-kanak lagi. Ia adalah seorang prajurit. Dengan demikian maka Bango Samparan itu hanya dapat menggeretakkan giginya sambil menggigil seperti orang kedinginan.

“Maaf ayah,” berkata Ken Arok, “aku tidak bermaksud untuk membuat ayah marah. Aku ingin memberikan beberapa pendapat tentang diri ayah. Jangan marah ayah. Hanya seorang anak yang mengerti tentang dirinya, mau mengatakan hal itu kepada ayahnya yang dikasihinya supaya ayahnya tidak telanjur tersesat semakin jauh. Alangkah sakitnya melihat cacat sendiri. Tetapi dengan demikian ayah akan mendapat kesempatan untuk mengobatinya.”

Terdengar Bango Samparan mengatupkan giginya. Namun tiba-tiba wajah yang merah padam itu mengangguk-angguk. Dengan tangan menekan dadanya ia berkata, “Ya, aku harus sabar menghadapi kau Ken Arok, sejak kecil. Sejak kau masih kurus kering, kau memang anak yang keras kepala. Berani dan kadang-kadang menyakitkan hati. Sekarang sifat-sifat itu masih tampak ada padamu meskipun kau sudah dewasa dan bahkan sudah menjadi seorang pelayan dalam.”

”Maaf ayah,” sahut Ken Arok, “seandainya demikian, maka itulah yang namanya pembawaan. Pembawaan yang ada padaku sejak aku lahir. Mungkin aku selalu menyakitkan hati ayah sejak aku berada di rumah ayah.”

“Ya, kau memang berbuat demikian.” tiba-tiba Bango Samparan itu tersenyum, “tetapi nasibmu memang baik Ken Arok.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia justru merasa aneh melihat Bango Samparan itu tiba-tiba saja tersenyum. Namun ia tidak ingin terlampau lekas berprasangka.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu kemudian, “apa yang akan kau berikan sebagai bantuanmu atas keluargaku?”

“Menurut kekuatanku ayah. Aku masih belum dapat mengatakan sekarang. Kita akan melihat kemungkinan lebih dahulu.”

“Kau akan memberi aku setiap sepekan, sepuluh hari, atau selapan kali.”

“Ah,” Ken Arok berdesah, “itu kurang bermanfaat bagi ayah. Sebaiknya ayah mendapatkan sebidang tanah. Ayah harus mulai dengan kerja. Bukan sekadar berjudi dan berkeliaran.”

Sekali lagi warna merah membersit di wajah Bango Samparan. Tetapi wajah itu segera dibayangi oleh sebuah senyum. “Ken Arok. Aku tidak biasa mengerjakan sawah. Bagaimana hal itu mungkin aku lakukan.”

“Ayah harus mencoba.”

“Terlambat. Aku menjadi semakin tua.”

“Buat apa ayah melahirkan anak-anak ayah itu, para Panji. Bukankah putera-putera ayah itu kini sudah cukup besar. Sudah sebesar aku ini pula. Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal, dan Panji Kenengkung. Apakah mereka tidak dapat membantu ayah bekerja di sawah?”

“Mereka tidak dapat aku harapkan Ken Arok.”

“Kenapa?”

“Mereka menjadi binal. Sama sekali tidak terkendali. Mereka adalah anak-anak yang sama sekali tidak sopan, tidak tahu terima kasih, tidak aturan dan tidak bertanggung jawab.”

“Siapakah yang bersalah?”

“He?”

”Siapakah yang bersalah sehingga anak-anak itu menjadi binal?”

“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam. Kini ia benar-benar mengekang dirinya. Dan bahkan sekali lagi ia tersenyum dan berkata, “Akulah yang bersalah, Ken Arok. Tetapi mereka tidak bercermin kepadamu. Kepada kakaknya yang bernasib cemerlang”. Bango Samparan itu berhenti sejenak lalu tiba-tiba, ”Eh, Ken Arok. Apakah kau benar-benar sudah puas dengan keadaanmu sekarang. Seorang pelayan dalam saja?”

Ken Arok menjadi berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Terasa sesuatu tersembunyi di balik pertanyaan yang aneh itu. Sejenak ia terdiam. Dicobanya untuk mengatur hatinya, supaya ia tidak terkejut apabila ayah angkatnya mengatakan maksud sebenarnya.

Bango Samparan pun berdiam diri sejenak. Ia menunggu jawaban anaknya. Tetapi jawaban itu tidak segera didengarnya, sehingga ia merasa perlu untuk mengulangnya, “Ken Arok, bagaimana? Apakah kau sudah puas dengan kedudukanmu sekarang?”

Ken Arok menarik nafas panjang. Diaturnya perasaannya, dan pelahan-lahan ia menjawab, “Sudah aku katakan ayah. Aku sudah puas dengan kedudukanku sekarang. Aku merasa telah berhasil keluar dari lumpur yang pekat. Apalagi yang akan aku inginkan?”

Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan nada yang dalam ia berkata, “Nasibmu memang terlampau baik.”

“Ya, aku bernasib baik. Dan karena itu aku wajib berterima kasih kepada Yang Maha Agung.”

“Tetapi kau kekasih Yang Maha Agung, anakku.”

“Seperti juga setiap manusia adalah kekasih Yang Maha Agung.”

“Tidak. Kau salah Ken Arok. Ada manusia yang dibenci oleh Yang Maha Agung. Ternyata ada orang yang bernasib terlampau buruk. Bahkan ada orang yang sama sekali tidak dihiraukan-Nya.”

“Ayah keliru. Tak ada orang yang dibenci oleh Yang Maha Agung. Yang Maha Agung mempunyai sifat kasih tiada terbatas. Seperti jarak ujung barat dari ujung timur yang tidak terukur jauhnya, demikian kasih Yang Maha Agung itu terhadap manusia, titahnya yang paling mulia.”

Bango Samparan tiba-tiba tertawa. Suara tertawanya semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya terguncang-guncang karenanya.

“Kau dapat berkata demikian setelah kau menikmati lezatnya makanan di Istana Tumapel. Setelah kau mengenakan pakaian pelayan dalam yang kau bangga-banggakan itu. Ken Arok, coba kenanglah, apakah pada saat-saat kau berkeliaran di arena perjudian, di jalan-jalan sepi di mana kau mencegat orang-orang yang lewat, bahkan gadis-gadis yang kau perkosa, dan apakah pada saat kau tinggal di Padang Karautan ini sebagai hantu yang menakutkan, kau dapat berkata seperti itu? Kau dapat berkata bahwa nasib setiap manusia itu baik karena sifat Yang Maha Agung itu Maha Pengasih?”

“Ya ayah.”

“Bohong. Aku tidak pernah mendengar kau mengucapkan sepatah kata pun tentang kasih Yang Maha Agung kepadamu.”

“Memang aku tidak pernah mengucapkannya karena kebodohanku. Karena kepicikan pengetahuanku. Tetapi itu bukan berarti bahwa Yang Maga Agung tidak menaruh kasih kepadaku. Bahkan melimpah-limpah. Adalah salah manusia sendiri apabila ia menolak kasih Yang Maha Agung. Menjauhkan diri dari padanya dan hidup dalam kegelapan tanpa mengenal terima kasih.”

Suara tertawa Bango Samparan menjadi semakin keras, sehingga Ken Arok perlu memperingatkan, “Ayah, suara tertawa ayah akan dapat mengganggu orang-orang yang sedang tidur.”

“Eh,” Bango Samparan berusaha menahan suara tertawanya, “kau aneh anakku. Tetapi agaknya kau telah melupakan keadaanmu sendiri. Bagaimana mungkin kau dapat berkata, bahwa pada saat itu kasih Yang Maha Agung melimpah-limpah kepadamu? Sedangkan hidupmu sendiri tidak lebih baik dari binatang buruan yang bersembunyi di dalam semak-semak di Padang Karautan ini?”

“Ayah,” Ken Arok bergeser setapak untuk menyembunyikan kegelisahannya, “justru pada saat aku hidup sebagai binatang buruan itulah aku melihat kasih yang berlimpah-limpah. Bukankah ayah sendiri berkata bahwa nasibku teramat baik. Bukankah ayah mengatakan bahwa karena ayah membawa aku berjudi, maka nasibku yang baik itu telah melimpah kepada ayah? Itu adalah nasib yang baik. Dan itu adalah kasih Yang Maha Agung. Tetapi akulah yang terlampau bodoh. Sehingga aku tidak mengetahuinya dan tidak berterima kasih kepada-Nya. Kemudian, bukankah kasih itu nampak pula semakin jelas padaku di akhir-akhir pengembaraanku. Yang Maha Agung telah membuka mata hatiku dengan lantaran beberapa orang yang mengenalnya lebih baik dari padaku. Nah, apakah aku tidak harus mengucapkan terima kasih?”

“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam, “kau benar anakku. Kau memang kekasih Yang Maha Agung.”

“Seperti juga ayah, orang lain, dan semua orang di muka bumi.”

Wajah Bango Samparan berkerut-merut. Tetapi ia tidak segera menyahut meskipun mulutnya berkumat-kamit.

“Karena itu kita wajib berterima kasih.”

“Tetapi,” Bango Samparan berhenti sejenak, “bagaimana dengan orang-orang yang miskin, bahkan yang hampir mati kelaparan?”

“Itukah ukuran ayah tentang kasih?” Ken Arok menyahut sambil mengerutkan keningnya yang telah menjadi basah oleh keringat, “Kalau ukuran ayah tentang kasih adalah keadaan lahiriah, maka aku dapat mengerti jalan pikiran ayah, kenapa ayah menganggap bahwa nasib manusia itu ditentukan menurut kesukaan Yang Maha Agung seperti kesukaan kita. Apabila kita tidak senang terhadap seseorang maka kita akan mengasingkannya.”

Bango Samparan memandangi anak angkatnya. Wajahnya menjadi semakin tidak mengerti.

“Ukuran kasih adalah ketenteraman rohaniah, ayah. Rasa damai dan dekat dengan Yang Maha Agung itu.”

“O, aku tidak mengerti Ken Arok. Tetapi baiklah aku tidak membantah. Mudah-mudahan lain kali aku dapat mengerti maksudmu.” Bango Samparan berhenti lagi untuk sesaat, ”Tetapi bagaimana dengan penyataanku? Apabila kau merasa dekat dengan Yang Maha Agung dalam kasihnya, eh, kenapa kau tidak memohon untuk mendapat kurnia lebih banyak lagi?”

Wajah Ken Arok menegang. Kini ia merasa bahwa ayahnya hampir sampai pada maksud yang sebenarnya di samping keinginannya untuk mendapat kemenangan di medan perjudian dengan mengajaknya ikut berjudi. Sejenak Bango Samparan pun terdiam. Ketika ia melihat wajah Ken Arok yang menjadi kemerah-merahan seperti tembaga karena sinar lampu minyak serta ketegangan, maka Bango Samparan mencoba untuk menjadi lebih berhati-hati.

“Ken Arok,” berkata Bango Samparan itu pula, ”dahulu, sebelum kau menjadi seorang yang baik dalam penilaian orang-orang di sekitarmu seperti sekarang ini, kau telah mendapat nasib yang baik. Apalagi sekarang, setelah kau mengenal Yang Maha Agung lebih baik, dan kau menjadi lebih tekun berbakti kepadaNya. Nah, apakah kasih itu tidak akan menjadi berlipat ganda.”

“Kasih itu tidak terbatas ayah.”

“Bagus,” berkata Bango Samparan, “kalau begitu kau akan dapat mohon lebih banyak lagi.”

“Itu adalah pertanda bahwa kita tidak berterima kasih atas apa yang sudah kita miliki.”

“O, tidak Ken Arok, tidak. Setiap manusia ingin mencapai segala macam kebutuhannya sampai ke puncak. Kalau ia memerlukan pangkat, maka ia ingin mencapai pangkat yang setinggi-tingginya. Kalau ia ingin kaya, ia pasti ingin menjadi kaya sekaya-kayanya. Nah, apakah kau termasuk perkecualian.”

“Mungkin ayah.”

Bango Samparan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Ken Arok. Cita-cita seorang tidak boleh berhenti. Cita-cita ia harus meluncur jauh di depan kita, supaya kita tidak berhenti. Berhenti berusaha dan berhenti berjuang. Tanpa cita-cita gairah hidup kita pun akan lenyap, dan kita akan menjadi beku.”

“Tetapi cita-cita harus seimbang dengan kenyataan ayah. Apabila cita-cita itu tidak seimbang dengan kenyataan diri, maka seseorang akan mudah tergelincir. Mungkin menjadi patah, tetapi mungkin juga akan melakukan hal-hal yang tidak baik.”

“O, ternyata kau bukan seorang yang berhati baja.”

“Apakah maksud ayah?”

“Hatimu miyur. Kau sekadar mendapat makan dan pangkat yang kecil, kau sudah mandeg. Berhenti di jalan. Sedangkan orang lain akan terus berlari meninggalkan kau jauh di belakang. Padahal belum pasti bahwa nasibmu kalah baik dengan nasib orang lain.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia kini mengerti kehendak ayahnya. Ayahnya menghendaki sesuatu yang terlampau berlebih-lebihan dari padanya. Dan ia tidak lagi terkejut ketika Bango Samparan berkata,

“Ken Arok. Kalau kau mendapat pangkat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pangkatmu sekarang, kau akan menjadi kaya. Kau akan dapat membantu aku sepekan sekali. Dan aku tidak akan mati kelaparan sekeluarga.”

“Dan hampir sepekan sekali ayah tetap bisa berada di medan judi.”

Bango Samparan mengernyitkan alisnya. Kemudian ia tersenyum, “Begitulah kira-kira. Tetapi kalau kau masih saja seperti sekarang, maka bantuan yang dapat kau berikan akan menjadi seperti sebutir garam yang kau tebarkan di lautan. Tetapi kalau kau menjadi seorang yang berpangkat tinggi, Ken Arok, kau akan menjadi kaya, dan kau tidak perlu lagi menghitung-hitung berapa uang yang kau berikan kepadaku. Dan aku tidak akan lagi mengejarmu untuk membawa kau turut ke arena perjudian lagi.”

Nafas Ken Arok tiba-tiba menjadi sesak, dan wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Meskipun ia sudah mengira bahwa akhirnya akan sampai pula pada persoalan itu, namun hatinya masih juga merasa sakit. Ayah angkatnya benar-benar tidak dapat mengerti keadaan dan perasaan orang lain. Ia hanya berpikir tentang kesenangannya saja.

“Tambahan lagi anakku. Apabila kau menjadi seorang pemimpin, maka aku pun akan menjadi seorang yang terhormat pula. Kehormatan sangat penting artinya di dalam perjudian. Seandainya aku sedikit-sedikit mengelabui lawanku dengan akal, maka ia tidak akan menjadi lekas marah. Seandainya aku kalah dan masih belum dapat membayar kekalahanku itu, maka tak seorang pun yang berani memaksaku seperti dahulu dan baru-baru ini, sehingga aku harus bersembunyi di Rabut Jalu.”

Dada Ken Arok menjadi semakin bergolak, sehingga mulutnya bahkan serasa terbungkam.

“Anakku,” berkata Bango Samparan itu. Nada suaranya merendah dibuat-buat. “Tak ada orang lain tempat aku menumpangkan nasib selain kepadamu. Sejak aku menemukan kau Arok, aku sudah yakin, bahwa hanya kaulah yang akan dapat menjunjung martabatku. Aku tidak sekadar menjadi penjudi kecil yang kadang-kadang diusir dari arena karena aku tidak banyak mempunyai modal. Nah, dengan demikian, aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengikuti aku ke perjudian. Apakah kau dapat mengerti? Aku tidak akan mengganggu pekerjaan yang semakin banyak. Apakah kau mengerti?”

Ken Arok menggigit bibirnya, “Aku mengerti ayah,” sahutnya sambil menahan hati.

“Bagus, bagus, kau memang anak laki-laki yang luar biasa. Kekasih Yang Maha Agung. Nah, apakah yang akan kau lakukan?”

“Yang akan aku lakukan adalah mempersilakan ayah meninggalkan tempat ini.”

“He,” Bango Samparan terlonjak. Wajahnya menegang dan mulutnya ternganga. Kemudian terbata-bata ia berkata, “Apa katamu he?”

“Aku tak akan sampai hati mempersilakan ayah meninggalkan tempat ini seandainya ayah dapat mengerti keadaanku.”

“O, itukah balasanmu Ken Arok? He? Itukah?”

“Maaf ayah. Bukan maksudku. Tetapi aku harap ayah mengerti keadaanku.”

Bango Samparan termenung sejenak. Dipandanginya lampu minyak yang bergerak-gerak ditiup angin yang menyusup lewat dinding yang tidak rapat.

“Ken Arok. Aku mimpikan kau yang bernasib terlampau baik itu menjadi seorang pemimpin seluruh prajurit Tumapel. Eh, tidak bahkan menjadi seorang akuwu. Tidak, tidak. Tetapi kau menjadi seorang raja di Kediri.”

Dada Ken Arok berdesir tajam mendengar kata-kata ayah angkatnya itu. Dipandanginya wajah Bango Samparan seolah-olah baru saja dilihatnya hari ini, sehingga Bango Samparan itu terpaksa menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Ken Arok yang seolah-olah menyala. Dengan nada yang berat Ken Arok berkata,

“Ayah, aku akan benar-benar mempersilakan ayah meninggalkan tempat ini kalau ayah masih saja membuat hatiku kisruh.”

“Tidak anakku. Aku jangan kau usir malam ini. Meskipun hantu Padang Karautan sekarang telah menjadi jinak, tetapi aku tidak mau mati kedinginan.” Terdengar Ken Arok menggeram. Tetapi ayah angkatnya berkata meneruskan, “Maksudku baik Ken Arok.”

“Tidak. Ayah benar seorang yang hanya mengerti tentang kepentingan diri sendiri. Ayah seorang yang terlampau mementingkan diri ayah sendiri.”

“O, kau salah tangkap Ken Arok. Aku juga berpikir tentang kau, tentang nasibmu yang baik itu.”

“Dalam hubungan kepentingan ayah.”

“Hem,” Bango Samparan menarik nafas dalam-dalam, “mimpiku tidak pernah salah. Dahulu aku juga serasa bermimpi, o, tidak, bahkan seolah-olah aku mendengar suara dari langit tentang seorang anak yang hampir mati kelaparan. Dan aku benar-benar menemukan kau yang ketakutan karena dihantui oleh perbuatan-perbuatanmu sendiri, tetapi setelah itu kau juga tidak berhenti merampok, memerkosa, dan bahkan membunuh,”

Bango Samparan mengangkat tangannya ketika Ken Arok akan memotong kata-katanya, “jangan, jangan kau potong kata-kataku, aku belum selesai.” Bango Samparan menelan ludahnya, lalu melanjutkan, “Sekarang aku bermimpi kau menjadi seorang maharaja. Eh, siapa tahu, bahwa hal itu akan terjadi. Kalau kau berhasil memanjat dari jabatanmu sekarang menjadi akuwu, misalnya, kemudian kau akan mendapat kesempatan yang lebih baik.”

“O,” Ken Arok tidak dapat menahan perasaannya lagi. Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. “Cukup ayah, cukup. Aku tidak mau mendengar lagi. Itu adalah impian yang gila.”

“Ah, jangan terlampau memandang hari depan terlampau suram. Siapa tahu. Ya, siapa tahu. Siapa tahu kalau anak yang hampir mati kelaparan itu sekarang memimpin sepasukan prajurit. Siapakah yang menyangka bahwa hantu Karautan yang dikejar-kejar orang dan akan dibunuh oleh siapa pun juga, termasuk prajurit-prajurit Tumapel, kini justru memimpin prajurit-prajurit itu sendiri.”

“Cukup, cukup,” Ken Arok hampir berteriak. Tanpa diketahuinya maka bulu-bulu di seluruh tubuhnya terasa meremang. Dengan lantang ia berkata, “Lupakan mimpi yang gila itu. Aku bukan termasuk orang yang tidak mengenal terima kasih. Aku tidak akan ikut serta bermimpi seperti ayah. Sekarang silakan ayah meninggalkan tempat ini.”

“Ken Arok.”

“Aku tidak mau lagi mendengar mimpi yang gila yang tidak masuk akal. Apakah ayah sengaja membuat aku gila pula?”

“O, kau salah terima anakku. Kau salah terima. Aku hanya ingin mengatakan….”

“Cukup, cukup,” kini Ken Arok benar-benar berteriak.

Beberapa orang yang sedang tidur terbangun karenanya. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa sengaja bangun dan memandangi pedang-pedang mereka yang tersangkut di dinding, di atas pembaringannya. Tetapi sejenak kemudian suasana malam menjadi sunyi kembali. Tidak terdengar lagi suara Ken Arok membentak-bentak.

Bango Samparan terkejut juga mendengar Ken Arok itu berteriak, memotong kata-katanya. Agaknya kali ini anaknya tidak sedang bermain-main. Ken Arok telah benar-benar menjadi marah. Karena itu maka Bango Samparan pun terdiam. Dengan jantung yang berdegup keras, Ken Arok berjalan mondar-mandir di dalam gubugnya yang sempit. Sekali-sekali ia berhenti. Mulutnya terkatup rapat-rapat, tetapi matanya seolah-olah menyala.

Sejenak mereka saling berdiam diri dalam ketegangan perasaan masing-masing. Tetapi Bango Samparan benar-benar tidak berani lagi berbicara berkepanjangan. Kepalanya tertunduk dan bahkan tangannya menjadi gemetar. Namun ia masih belum beranjak dari tempatnya.

Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak, maka Ken Arok berdesis, “Tinggalkan aku sendiri.”

“Ken Arok.”

“Aku persilakan ayah meninggalkan tempat ini.”

“O, malam terlampau gelap di Padang Karautan.”

“Ayah datang kemari tanpa mengenal takut. Seharusnya ayah juga tidak takut meninggalkan tempat ini.”

“Tetapi ketika aku datang, hari belum terlampau malam.”

“Tak ada bedanya bagi Padang Karautan.”

“Ada anakku. Anjing-anjing itu? Apakah kau ingin dagingku hacur disayat-sayat anjing liar itu? Jangan Ken Arok. Aku minta maaf kepadamu kalau aku membuatmu marah. Tetapi aku jangan kau usir dari tempat ini malam ini. Besok pagi buta aku akan pergi.”

“Tetapi aku tidak tahan mendengar ayah berbicara tanpa ujung pangkal. Membuat aku gila karena mimpi yang gila itu. Dan anjing itu berada di tempat yang jauh, di seberang sungai. Mereka tidak akan datang kemari.”

“Tidak, aku tidak akan berbicara lagi tentang mimpi itu. Tentang akuwu dan tentang maharaja di Kediri.”

Ken Arok terdiam sejenak. Ketika dilihatnya wajah Bango Samparan yang ketakutan, maka timbullah ibanya. Meskipun hatinya masih juga belum lilih benar, tetapi ia berkata,

“Kalau ayah berjanji tidak akan menyebut-nyebut mimpi itu, aku akan membiarkan ayah bermalam di sini.”

Koleksi : Ismoyo

Retype : Sukasrana

Proofing : Hartono

Rechecking : Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar