PdLS-30
“AKU akan membiarkan ayah bermalam di sini. Besok pagi-pagi buta ayah harus sudah meninggalkan padang.”
“Baik, baik Ken Arok. Terima kasih,” Bango Samparan menelan ludahnya.
Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata, “Sebenarnya aku tidak percaya bahwa ayah tidak berani melewati padang ini. Hampir setiap malam ayah berkeliaran dari satu arena perjudian ke arena yang lain, bahkan di tempat-tempat yang paling ditakuti orang. Meskipun demikian, biarlah ayah beristirahat. Tetapi ingat, jangan menyebut lagi tentang mimpi yang gila itu.”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya yang memucat kini menjadi agak merah kembali. Dengan tergagap ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Ternyata kau benar-benar anakku yang baik. Memang aku selalu berkeliaran dari satu tempat judi ke tempat yang lain, tetapi tidak di Padang Karautan. Kecuali mungkin aku bertemu dengan anjing-anjing liar itu, aku juga tidak tahan dingin.”
“Udara malam ini terlampau panas,” sahut Ken Arok acuh tak acuh.
“O,” Bango Samparan terdiam sejenak, kemudian, “ya, ya, udara memang terlampau panas.”
“Tidurlah,” desis Ken Arok.
“Ya, ya terima kasih. Aku akan segera tidur. Aku memang tidak ingin lagi berkata tentang mimpi itu, kalau kau memang tidak senang mendengarnya, meskipun dapat menumbuhkan angan-angan yang menyenangkan. Akuwu, Maharaja.” Ken Arok sudah tidak tahan lagi. Dengan serta-merta ia berdiri dan melangkah pergi.
“Ken Arok, ke mana kau?” panggil ayah angkatnya.
“Aku akan keluar. Ayah tidak berani pergi dari tempat ini. Akulah yang akan pergi.”
“Ke mana kau akan pergi?”
“Ke bendungan.”
“Kenapa?”
Ken Arok tidak menjawab, tetapi ia melangkah terus meninggalkan Bango Samparan di dalam gubugnya. Demikian ia lepas dari gubug itu, terasa dadanya menjadi lapang. Dilihatnya langit yang hitam terbentang dari segala ujung penjuru. Bintang yang berkilat-kilat bergayutan tak terbilang banyaknya. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah akan dihisapnya udara di atas Padang Karautan itu habis-habis. Tanpa sesadarnya maka ia pun melangkah, berjalan di antara gubug-gubug yang bertebaran. Angin yang lembut mengusap wajahnya pelahan-lahan.
Ketika ia lepas dari deretan gubug-gubug itu, dilihatnya parit induk yang terbujur membelah padang menjorok ke tengah. Di ujung parit itu terdapat sebuah sendang buatan. Tetapi malam itu Ken Arok tidak dapat melihat sendang itu dari tempatnya. Seolah-olah sendang diselimuti oleh sebuah permadani yang hitam. Namun demikian, terbayang di rongga matanya, tanaman-tanaman yang sudah mulai menghijau di sekitar sendang itu, meskipun setiap hari masih harus disiram air. Kemudian batu-batu yang sudah mulai teratur rapih. Puntuk-puntuk kecil dan kemudian parit-parit yang menyilang taman itu. Sebuah gunung kecil di tengah-tengah sendang.
“Mudah-mudahan sendang itu menyenangkan hati Akuwu Tumapel,” gumam Ken Arok di dalam hatinya.
Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam hatinya, “Kenapa setiap orang harus membuat Akuwu menjadi senang?” Tetapi Ken Arok itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika tiba-tiba pula tumbuh perasaan di dalam dadanya, “Alangkah senangnya menjadi seorang Akuwu. Kekuasaan di Tumapel ini berpusat padanya. Apa pun yang dikehendaki, hampir pasti dapat terpenuhi.”
“Tidak, tidak,” Ken Arok itu menggeram sambil menggeretakkan giginya. “Pikiran gila ini telah mengotori dadaku. Tidak.” Ken Arok itu kemudian berdiri dengan tegangnya. Tangannya mengepal dan kakinya seolah-olah menghujam jauh ke dalam tanah. “Aku tidak boleh diracuni oleh pikiran-pikiran gila itu. Kalau sekali lagi Bango Samparan menyebut-nyebut mimpinya, aku cekik ia sampai mati.”
Sekali lagi Ken Arok menggeram. Tiba-tiba untuk mengusir perasaannya itu ia meloncat berlari masuk ke dalam hitamnya malam. Seperti seorang yang dikejar hantu, ia berlari tidak ke bendungan, tetapi ke sendang yang sedang dibuatnya.
“Tidak, tidak,” ia masih menggeram, “aku harus melakukan perintah Akuwu, sendang itu harus siap pada saatnya.”
Ketika ia sampai ke tepi sendang yang masih belum siap itu, nafasnya menjadi terengah-engah. Wajahnya membayangkan ketakutan atas dirinya sendiri. Ia tidak mau mendengar mimpi itu lagi, meskipun perasaannya sendiri yang menyebut-nyebutnya. Mimpi tentang dirinya dan Akuwu Tumapel.
“Tidak, tidak,” tiba-tiba ia berteriak. Suaranya yang parau melayang di udara padang yang sepi, seolah-olah menggetarkan seluruh Padang Karautan, bahkan seluruh Tumapel.
Ketika sekali lagi perasaannya diganggu oleh mimpi Bango Samparan itu, maka Ken Arok pun segera meloncat. Diraihnya batu-batu yang masih bertebaran di pinggir taman. Dengan mengatupkan mulutnya rapat-rapat, ia mengangkat sebongkah batu, dilontarkannya kuat-kuat. Batu-batu itu besok memang harus disusun menjadi sebuah dinding yang akan mengelilingi taman. Sekali, dua kali, tiga kali. Dan seterusnya. Dilontarkannya batu-batu itu ke tempat yang besok harus dibangun dinding. Dikerjakannya pekerjaan prajurit-prajurit Tumapel yang harus dilakukannya besok. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia melempar-lemparkan batu-batu itu. Tenaganya seolah olah menjadi berlipat-lipat dan kekuatannya serta ketahanannya pun menjadi berganda.
Maka terdengarlah kemudian gemeretak batu-batu yang terlempar oleh Ken Arok itu memecahkan kesenyapan Padang Karautan. Susul-menyusul tidak habis-habisnya, seolah-olah pekerjaan itu telah dilakukan oleh sepuluh orang bersama-sama. Namun betapa kuat dan kokohnya tubuh Ken Arok, akhirnya sampai juga ke batasnya. Tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Lontarannya sudah tidak lagi mencapai jarak yang diperlukan, sehingga lambat-laun, ia pun menjadi semakin lelah.
Meskipun demikian, Ken Arok tidak mau berhenti. Ia tidak mau membiarkan kesempatan sekejap pun untuk mengenang kembali mimpi ayah angkatnya yang gila. Ia tidak mau batinnya diracuni oleh perasaan itu. Karena itu, betapa ia menjadi lelah dan lemah, namun masih juga dicobanya untuk mengangkat dan kemudian melemparkan bongkahan batu-batu yang besar itu. Tetapi akhirnya Ken Arok itu sudah tidak mampu lagi melakukannya. Tulang-tulangnya seraya menjadi lemas, dan nafasnya sudah menyesak di dadanya.
Dengan lemahnya ia tertunduk di antara batu-batu yang masih berserakan. Bahkan kemudian ia membaringkan dirinya. Betapa lelah mengganggu tubuhnya, sehingga sejenak kemudian Ken Arok itu diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Ketika angin padang membelai tubuhnya, terasa kesegaran merayapi kulit dagingnya. Namun dengan demikian maka Ken Arok itu pun jatuh tertidur.
Ken Arok tidak dapat mengetahui betapa lama ia tertidur di padang itu, di bawah atap langit yang biru hitam, serta di bawah bintang yang bergayutan tanpa dapat dihitung jumlahnya. Anak muda itu terperanjat ketika ia mendengar gemeletuk batu tersentuh kaki. Dengan sigapnya ia meloncat bangun. Namun tiba-tiba matanya menjadi silau, ternyata matahari telah merayapi langit.
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam sambil menggosok matanya yang kesilauan, ”aku tertidur.”
“Kami mencarimu,” sahut orang yang membangunkannya, seorang prajurit Tumapel, “kami hampir menjadi putus asa. Aku sangka kau hilang seperti Mahisa Agni.”
“Sebelum udara di dalam gubugku terlampau panas. Aku berjalan-jalan keluar, dan akhirnya aku sampai ke tempat ini. Di sini udara terasa segar sekali. Dan aku jatuh tertidur.”
Prajurit itu tidak mempunyai syak-wasangka. Karena itu ia menjawab, “Semuanya menunggu kedatanganmu dengan cemas. Untung-untungan aku mencoba mencarimu di sini, di antara batu-batu ini. Ternyata kau tertidur.”
Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Aku lelah sekali,” desisnya.
Tanpa disengaja, Ken Arok memandangi batu-batu yang masih bertebaran. Prajurit itu pun mengikuti arah pandangan Ken Arok. Namun tiba-tiba prajurit itu mengerutkan keningnya. Ia melihat batu-batu yang dipersiapkan untuk dinding taman telah berpindah hampir di sepanjang sebelah sisi yang akan didirikan dinding untuk taman itu. Kemarin batu-batu ini masih tertumpuk. Wajah prajurit itu menjadi berkerut-kerut. Ketika ia melihat pakaian Ken Arok yang kusut dan tubuhnya yang kotor karena debu dan lumpur, maka tumbuhlah pertanyaan di dalam dirinya. Apakah yang sudah dilakukannya? Begitu mendesak pertanyaan itu di dalam dadanya sehingga terloncat kata-katanya,
“Batu-batu ini telah berpindah.”
Ken Arok berpaling. Dipandanginya wajah prajurit itu, tetapi ia menjawab, “Orang-orang terakhir kemarin telah mulai memindahkan batu-batu itu.”
Wajah prajurit itu menjadi semakin aneh. Dengan terheran-heran ia berkata, “Aku adalah orang yang terakhir meninggalkan pekerjaan kemarin. Aku masih sempat melihat batu-batu yang tertimbun di sini. Tetapi pagi ini aku lihat batu-batu itu sudah berserakan di sepanjang batas dinding taman yang akan dibangun. Hampir di sepanjang sisi sebelah ini.”
Wajah Ken Arok itu pun kini menjadi berkerut-merut. Sejenak ia tidak menjawab. Namun kemudian ia berkata, “Mari, aku akan kembali ke perkemahan. Mereka terlalu lama menunggu, dan kerja hari ini akan terlampau lama terlambat mulai.”
Prajurit itu terdiam. Wajahnya masih diliputi oleh pertanyaan-pertanyaannya tentang batu-batu yang berpindah itu. Meskipun demikian ia telah menyangka bahwa Ken Arok telah melakukan pekerjaan itu.
“Tetapi hampir tidak masuk akal,” berkata prajurit itu di dalam hatinya, “aku masih melihat Ken Arok itu masuk ke dalam gubugnya. Seandainya ia datang kemari, maka pasti tidak sejak sore. Sedangkan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan oleh dua tiga orang sehari penuh.”
Prajurit itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Mari, apa lagi yang kau tunggu?”
Tanpa sesadarnya prajurit itu berguman, “Agaknya Hantu Karautan lah yang telah memindahkan batu-batu ini.”
Wajah Ken Arok menegang mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia berhasil menguasai dirinya. Prajurit itu pasti dengan sengaja menyebut Hantu Karautan, dan pasti tidak mencoba menghubungkannya dengan dirinya, meskipun sebenarnya bahwa yang telah melakukan pekerjaan itu adalah Hantu Karautan. Sejenak kemudian maka mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel sudah menunggu Ken Arok dengan gelisah. Bahkan seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, ada di antara mereka yang menyangka bahwa Ken Arok hilang seperti Mahisa Agni.
Namun di sepanjang jalan, prajurit Tumapel itu tidak dapat melupakan apa yang telah dilihatnya. Batu-batu yang telah berpindah tempat. Tak ada orang lain di tempat itu selain Ken Arok. Apalagi pakaian Ken Arok tampak lusuh dan tubuhnya dikotori oleh debu dan keringat. Adalah mustahil apabila sejak kemarin, sejak sore kemarin, Ken Arok tidak mandi dan membersihkan tubuhnya. Karena itu, maka prajurit itu berketetapan,
“Ken Arok telah melakukannya. Alangkah dahsyat tenaganya. Ternyata anak muda itu benar seorang yang melampaui sesamanya.”
Dan, ternyata prajurit itu kemudian tidak dapat menyimpan pertanyaan dan kekaguman itu di dalam hatinya. Satu-satu akhirnya setiap orang mendengar apa yang telah terjadi, meskipun hanya bisikan-bisikan di setiap telinga. Ketika Ken Arok melihat orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel telah mempersiapkan diri untuk bekerja, serta melihat bayangan kegelisahan di wajah-wajah mereka, menjadi agak menyesal. Ia telah memperlambat kerja hari ini. Karena itu, demikian ia berdiri di hadapan mereka dan Ki Buyut Panawijen, segera berkata,
“Mulailah. Aku akan segera menyusul.”
Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel segera meninggalkan perkemahan dan berpencaran ke tempat kerja masing-masing. Sebagian pergi ke bendungan yang sudah menjadi semakin tinggi, sebagian memperdalam parit induk yang membelah Padang Karautan, sebagian memperpanjang parit yang silang-menyilang yang kelak akan mengairi sawah-sawah, dan sebagian dari para prajutit Tumapel meneruskan kerja mereka, membuat sendang dan taman. Ketika mereka yang bekerja di sendang buatan itu sampai ke tempat kerja mereka, maka mereka benar-benar menjadi heran. Mereka melihat batu-batu yang telah berpindah dari tempatnya kemarin, seperti desas-desus yang mereka dengar.
“Semalam Ken Arok lah yang tidur di sini,” gumam salah seorang dari padanya.
“Luar biasa. Ia mampu melakukannya seorang diri.”
“Mungkin ia mempunyai sababat hantu-hantu padang.”
Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya. Namun kekaguman mereka terhadap Ken Arok menjadi bertambah-tambah. Ketika perkemahan itu kemudian menjadi sepi karena orang-orang yang menghuninya telah pergi ke tempat kerja mereka, maka segera Ken Arok kembali ke dalam gubugnya. Di sana-sini ia hanya melihat satu-dua orang yang bertugas menjaga perkemahan itu. Tubuhnya kini sama sekali sudah tidak merasa lelah lagi. Tidurnya ternyata telah dapat memulihkan seluruh tenaga yang telah diperasnya semalam.
Dengan tergesa-gesa ia harus menyiapkan diri. Mandi dan makan-minum sebelum berangkat menyusul kawan-kawannya yang sedang bekerja. Tetapi ketika ia memasuki gubugnya, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah angkatnya, Bango Samparan. Ternyata orang itu sudah tidak ada.
“Apakah benar semalam ayah Bango Samparan itu datang kemari?” desisnya.
Tetapi gubugnya benar-benar telah sepi. Ia tidak melihat bekas-bekas yang dapat mengatakan kepadanya, bahwa semalam benar-benar telah ada seorang tamu.
Tiba-tiba Ken Arok menjadi berdebar-debar. “Ah, aku pasti. Semalam ayah datang kemari. Apakah ia telah pergi sebelum pagi seperti katanya semalam.” Ken Arok menjadi bingung. “Tidak, aku kira ia akan menunggu aku. Ayah memerlukan uang sekadarnya.”
Ken Arok segera keluar dari gubugnya. Dipandanginya keadaan di sekelilingnya, kalau-kalau Bango Samparan sedang berjalan-jalan di antara gubug-gubug di dalam perkemahan itu. Tetapi orang itu tidak dilihatnya. Bahkan Ken Arok tidak segera menjadi puas. Dengan tergesa-gesa ia melangkah di antara gubug yang bertebaran, kalau-kalau ia dapat menemukan ayah angkatnya. Namun Bango Samparan sama sekali tidak diketemukannya. Ketika ia melihat seorang yang sedang berjaga-jaga sambil menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk makan siang, Ken Arok bertanya,
“Apakah kau melihat seseorang di dalam gubugku?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian menggeleng. “Tidak. Aku tadi juga lewat di samping gubug itu, tetapi aku tidak melihat seorang pun.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi jawaban yang seorang ini tidak dapat dijadikannya pegangan. Ia merasa pasti bahwa semalam ayah angkatnya itu datang kepadanya dan menceritakan tentang mimpinya yang gila. Karena itu maka segera ditinggalkannya orang itu. Dengan kepala tunduk Ken Arok berjalan di antara gubug-gubug mencari orang lain yang masih berada di perkemahan. Ketika ia melihat dua orang sedang menyalakan api untuk masak, maka segera didekatinya orang itu sambil bertanya,
“He, apakah kau melihat seseorang yang belum kau kenal berada di perkemahan ini atau di dalam gubugku?”
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian keduanya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak melihat seorang pun kecuali orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel.”
“Bukan mereka. Aku mempunyai tamu seorang yang belum kalian kenal. Tubuhnya agak gemuk, pendek. Wajahnya keras dan sorot matanya tajam.”
Sekali lagi keduanya saling memandang, dan sekali lagi keduanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Kami tidak melihatnya.”
Ken Arok menggigit bibirnya. Wajahnya menjadi tegang dan giginya gemeretak. Dengan tergesa-gesa pula ditinggalkan kedua orang itu, yang kemudian menjadi keheran-heranan.
“Siapa yang dicarinya?” desis yang seorang.
Kawannya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”
Dalam pada itu, Ken Arok sama sekali masih belum puas. Ia masih ingin menanyakannya kepada orang lain lagi. Adalah mungkin sekali bahwa orang-orang itu tidak melihat kedatangan Bango Samparan, karena mereka telah tertidur. Akhirnya Ken Arok melihat seorang berdiri di ujung perkemahan. Dijinjingnya dua buah lodong air. Agaknya orang itu akan pergi ke sungai untuk mengambil air, yang akan direbus untuk minum orang-orang yang sedang bekerja.
“He,” panggil Ken Arok. Orang itu adalah seorang dari Panawijen. Ketika ia melihat Ken Arok bergegas mendatanginya, maka orang itu menjadi berdebar-debar. “Apakah kau melihat Bango Samparan?” bertanya Ken Arok dengan wajah yang tegang dan nafas terengah-engah.
“Siapa?” bertanya orang itu kembali.
“Bango Samparan.”
Orang Panawijen itu menggelengkan kepalanya. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Bango Samparan.”
“Semalam ia berada di sini.” Orang Panawijen itu masih terheran-heran. “Apakah kau tidak melihatnya?”
“Seandainya aku melihatnya, aku juga belum mengenalnya.” jawab orang Panawijen itu.
“Kalau kau melihat orang asing di sini, bertubuh gemuk agak pendek, berwajah keras, itulah dia. Bango Samparan. Apakah kau melihat?”
Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berpikir sejenak. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah ia melihat orang seperti yang dikatakan oleh Ken Arok itu. Tetapi akhirnya ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak. Aku tidak melihatnya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi semakin tegang. Terbata-bata ia bertanya, “Benarkah itu? Kau tidak melihatnya di sini?”
Sekali lagi orang itu menggeleng. “Tidak, aku tidak melihatnya.”
Sorot mata Ken Arok menjadi semakin aneh. Tiba-tiba saja ia memutar tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa kembali ke gubugnya. Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berdiri ternganga-nganga. Ia tidak tahu apakah yang sedang bergolak di hati anak muda itu. Sambil memiringkan kepalanya, ia mengangkat bahu. Kemudian meneruskan langkahnya ke sungai untuk mengambil air. Ken Arok yang menjadi semakin bingung itu segera masuk ke dalam gubugnya. Dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya. Sehelai tikar pandan yang kasar.
“Apakah aku telah didatangi oleh hantu Karautan, yang sebenarnya hantu?” desisnya.
“Tidak,” pertanyaan itu dibantahnya sendiri, “dalam pengembaraanku di padang ini, aku belum pernah menemui hantu itu. Yang ada adalah Hantu Karautan yang dikenal oleh orang-orang di sekitar padang ini. Hantu Karautan, Ken Arok. Tidak ada hantu yang lain.” Dengan gelisahnya Ken Arok itu bangkit, berdiri, dan berjalan mondar-mandir.
“Gila. Apakah aku sudah gila dan di dalam kegilaanku itu aku bermimpi bertemu dengan Bango Samparan yang sedang bermimpi pula? Tetapi mimpi Bango Samparan itu jauh lebih gila dari mimpiku sendiri.”
“Tidak, tidak,” tiba-tiba Ken Arok itu berdesis, “aku tidak mau mendengar mimpi yang terlampau gila itu. Apakah mimpi itu disampaikan oleh Bango Samparan sendiri, atau hanya sekadar di dalam mimpiku, atau oleh hantu Karautan sekalipun.”
Tiba-tiba Ken Arok teringat bahwa semalam Bango Samparan itu datang bersama dua orang pengawal, dan bahkan beberapa orang yang berada di dalam gubug di sekitarnya terbangun karena suara tertawa Bango Samparan. Beberapa orang terbatuk-batuk, dan beberapa orang yang lain mendehem keras-keras. Sekali lagi Ken Arok meloncat keluar dari gubugnya Ia ingin mendapat kepastian tentang Bango Samparan. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ia melihat gubug-gubug di sekitar gubugnya telah menjadi kosong. Orang-orang itu telah pergi ke tempat pekerjaan mereka masing-masing.
“Hem,” Ken Arok menggeram, “aku harus menemukan kedua orang pengawal itu. Jika mereka semalam bertugas, maka pagi ini mereka mendapat kesempatan beristirahat. Mereka pasti tidak ikut bekerja dengan kawan-kawan mereka.”
Maka kini dengan cepatnya ia melangkah ke gubug kedua orang pengawal yang semalam telah membawa Bango Samparan kepadanya. Dengan serta-merta ia menyuruk lewat lubang pintu yang rendah, masuk ke dalamnya. Ketika dilihatnya seorang tidur membujur di pojok gubug itu, maka segera ia berkata lantang,
“He, kaukah yang mengawal ke perkemahan semalam?”
Orang yang sedang tidur berselimut kain panjang itu terkejut. Cepat ia meloncat bangun sambil menggosok matanya. Tetapi yang dilihatnya berdiri di muka pintu adalah Ken Arok. Namun Ken Arok menjadi kecewa melihat orang itu. Orang itu bukan salah seorang dari kedua orang yang mengantarkan Bango Samparan kepadanya. Meskipun demikian ia bertanya sekali lagi,
“Apakah semalam kau bertugas?”
“Ya,” sahut orang itu.
“Di sisi mana?”
“Di sisi utara,” jawab orang itu.
“Di mana kedua kawanmu yang bertugas di sisi selatan, yang telah membawa seorang tamu kepadaku.”
“Mereka sedang pergi ke sungai.”
“Bukankah mereka mendapat istirahat hari ini?”
“Ya, mereka sedang mandi dan mencuci pakaian mereka.”
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “apakah mereka tidak mengatakan kepadamu tentang seorang tamu yang mereka bawa kepadaku semalam?”
Orang itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaku.”
“Gila, sungguh-sungguh gila,” Ken Arok mengumpat di dalam hatinya sambil keluar dari gubug itu, tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Orang di dalam gubug itu pun menjadi terheran-heran melihat tingkah lakunya, pakaiannya yang kusut, dan tubuhnya yang kotor oleh keringat dan debu.
“Dari manakah ia semalam?” bertanya orang itu di dalam hatinya, “setiap orang mencarinya. Bahkan Ki Buyut Panawijen telah menjadi ketakutan, kalau-kalau ia hilang pula seperti Mahisa Agni.”
Dengan lesu Ken Arok itu melangkah kembali ke gubugnya. Pikirannya menjadi semakin kalut. Apabila semalam Bango Samparan tidak datang sesungguhnya kepadanya, maka Ken Arok pasti menjadi sangat cemas tentang dirinya sendiri.
“Apakah aku sudah menjadi gila?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.
Di gubugnya ia pun menjadi sangat gelisah. Sekali ia bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir, kemudian terduduk dengan lesunya. Tiba-tiba saja ia teringat akan kewajibannya. Ia sudah berjanji untuk menyusul orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel ke tempat mereka bekerja. Hari ini ia akan menunggui orang-orang yang sedang menyelesaikan bendungan. Karena Itu maka segera ia bangkit dan mengibas-ibaskan pakaiannya.
“Persetan dengan Bango Samparan,” gumamnya, “aku harus bekerja. Orang-orang itu pasti menunggu. Aku harus segera pergi kepada mereka.”
Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus berganti pakaian lebih dahulu, ataukah ia akan pergi dengan pakaian yang sudah dipakainya itu. Pakaian yang lusuh dan kotor.
“Kalau aku berganti pakaian, mandi, dan membersihkan diri lebih dahulu, maka sebentar lagi aku akan menjadi kotor lagi. Tetapi kalau tidak, terasa tubuhku gatal-gatal karena debu yang mengendap di wajah kulit ini.”
Akhirnya Ken Arok memutuskan untuk begitu saja pergi ke bendungan. Ia tidak akan berganti pakaian. Dengan pakaian yang kusut itu ia akan bekerja bersama-sama orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.
“Di bendungan aku dapat membersihkan badanku, mengeringkan di sinar matahari, lalu mulai bekerja bersama-sama dengan mereka.”
Sejenak kemudian Ken Arok pun melangkah keluar gubugnya sambil menyambar sepotong ubi rebus. Sambil mengunyah ia berjalan meninggalkan gubugnya. Kepada seorang pengawal yang dijumpainya ia berkata,
“Aku pergi ke bendungan. Kalau kau melihat orang asing di sini, bertanyalah kepadanya, apakah namanya Bango Samparan.”
Pengawal itu mengangguk, “Baik,” jawabnya.
“Kalau orang itu menunggu aku, biarlah ia menunggu di gubugku sampai aku pulang.”
“Baik.”
Ken Arok pun segera pergi ke bendungan menyusul orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang bekerja di sana.
Sementara itu para prajurit yang bekerja di sendang buatan menjadi saling bertanya-tanya, “Kekuatan apakah yang tersembunyi di dalam diri Ken Arok.”
“Kita mengenal beberapa orang sakti,” gumam salah seorang prajurit yang bekerja di sendang, “mungkin beberapa orang guru yang tinggal di padepokan-padepokan. Tetapi kita tidak menjadi heran melihat kelebihan-kelebihan mereka. Seolah-olah sudah seharusnya mereka memiliki kelebihan dari kita. Tetapi kita menjadi heran melihat orang-orang muda yang luar biasa seperti pemimpin para prajurit pengawal istana, Witantra. Kemudian adik seperguruannya, Mahendra dan Kebo Ijo. Kita heran juga melihat beberapa orang yang lain. Tetapi keheranan kita tidak melonjak-lonjak seperti kali ini”.
Kawannya yang diajak berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Ada dua orang sepengetahuanku yang telah membingungkan nalarku.”
“Siapa? Witantra itu?”
“Bukan. Betapa saktinya kakang Witantra, tetapi aku masih dapat mencapainya dengan nalar dan pertimbangan.”
“Lalu siapa?”
“Yang pertama adalah Akuwu Tunggul Ametung. Kau ingat, ketika dengan tangannya ia membunuh seekor harimau?”
“Ya, harimau yang membunuh seorang srati gajah itu.”
“Ya, akibatnya gajahnya mengamuk. Gajah yang bodoh itu tidak tahu, siapakah yang bersalah. Gajah itu tidak tahu bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung menolong srati-nya, tetapi justru gajah menyerang Akuwu. Bukankah begitu?”
“Baik, baik Ken Arok. Terima kasih,” Bango Samparan menelan ludahnya.
Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata, “Sebenarnya aku tidak percaya bahwa ayah tidak berani melewati padang ini. Hampir setiap malam ayah berkeliaran dari satu arena perjudian ke arena yang lain, bahkan di tempat-tempat yang paling ditakuti orang. Meskipun demikian, biarlah ayah beristirahat. Tetapi ingat, jangan menyebut lagi tentang mimpi yang gila itu.”
Bango Samparan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya yang memucat kini menjadi agak merah kembali. Dengan tergagap ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Ternyata kau benar-benar anakku yang baik. Memang aku selalu berkeliaran dari satu tempat judi ke tempat yang lain, tetapi tidak di Padang Karautan. Kecuali mungkin aku bertemu dengan anjing-anjing liar itu, aku juga tidak tahan dingin.”
“Udara malam ini terlampau panas,” sahut Ken Arok acuh tak acuh.
“O,” Bango Samparan terdiam sejenak, kemudian, “ya, ya, udara memang terlampau panas.”
“Tidurlah,” desis Ken Arok.
“Ya, ya terima kasih. Aku akan segera tidur. Aku memang tidak ingin lagi berkata tentang mimpi itu, kalau kau memang tidak senang mendengarnya, meskipun dapat menumbuhkan angan-angan yang menyenangkan. Akuwu, Maharaja.” Ken Arok sudah tidak tahan lagi. Dengan serta-merta ia berdiri dan melangkah pergi.
“Ken Arok, ke mana kau?” panggil ayah angkatnya.
“Aku akan keluar. Ayah tidak berani pergi dari tempat ini. Akulah yang akan pergi.”
“Ke mana kau akan pergi?”
“Ke bendungan.”
“Kenapa?”
Ken Arok tidak menjawab, tetapi ia melangkah terus meninggalkan Bango Samparan di dalam gubugnya. Demikian ia lepas dari gubug itu, terasa dadanya menjadi lapang. Dilihatnya langit yang hitam terbentang dari segala ujung penjuru. Bintang yang berkilat-kilat bergayutan tak terbilang banyaknya. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah akan dihisapnya udara di atas Padang Karautan itu habis-habis. Tanpa sesadarnya maka ia pun melangkah, berjalan di antara gubug-gubug yang bertebaran. Angin yang lembut mengusap wajahnya pelahan-lahan.
Ketika ia lepas dari deretan gubug-gubug itu, dilihatnya parit induk yang terbujur membelah padang menjorok ke tengah. Di ujung parit itu terdapat sebuah sendang buatan. Tetapi malam itu Ken Arok tidak dapat melihat sendang itu dari tempatnya. Seolah-olah sendang diselimuti oleh sebuah permadani yang hitam. Namun demikian, terbayang di rongga matanya, tanaman-tanaman yang sudah mulai menghijau di sekitar sendang itu, meskipun setiap hari masih harus disiram air. Kemudian batu-batu yang sudah mulai teratur rapih. Puntuk-puntuk kecil dan kemudian parit-parit yang menyilang taman itu. Sebuah gunung kecil di tengah-tengah sendang.
“Mudah-mudahan sendang itu menyenangkan hati Akuwu Tumapel,” gumam Ken Arok di dalam hatinya.
Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam hatinya, “Kenapa setiap orang harus membuat Akuwu menjadi senang?” Tetapi Ken Arok itu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika tiba-tiba pula tumbuh perasaan di dalam dadanya, “Alangkah senangnya menjadi seorang Akuwu. Kekuasaan di Tumapel ini berpusat padanya. Apa pun yang dikehendaki, hampir pasti dapat terpenuhi.”
“Tidak, tidak,” Ken Arok itu menggeram sambil menggeretakkan giginya. “Pikiran gila ini telah mengotori dadaku. Tidak.” Ken Arok itu kemudian berdiri dengan tegangnya. Tangannya mengepal dan kakinya seolah-olah menghujam jauh ke dalam tanah. “Aku tidak boleh diracuni oleh pikiran-pikiran gila itu. Kalau sekali lagi Bango Samparan menyebut-nyebut mimpinya, aku cekik ia sampai mati.”
Sekali lagi Ken Arok menggeram. Tiba-tiba untuk mengusir perasaannya itu ia meloncat berlari masuk ke dalam hitamnya malam. Seperti seorang yang dikejar hantu, ia berlari tidak ke bendungan, tetapi ke sendang yang sedang dibuatnya.
“Tidak, tidak,” ia masih menggeram, “aku harus melakukan perintah Akuwu, sendang itu harus siap pada saatnya.”
Ketika ia sampai ke tepi sendang yang masih belum siap itu, nafasnya menjadi terengah-engah. Wajahnya membayangkan ketakutan atas dirinya sendiri. Ia tidak mau mendengar mimpi itu lagi, meskipun perasaannya sendiri yang menyebut-nyebutnya. Mimpi tentang dirinya dan Akuwu Tumapel.
“Tidak, tidak,” tiba-tiba ia berteriak. Suaranya yang parau melayang di udara padang yang sepi, seolah-olah menggetarkan seluruh Padang Karautan, bahkan seluruh Tumapel.
Ketika sekali lagi perasaannya diganggu oleh mimpi Bango Samparan itu, maka Ken Arok pun segera meloncat. Diraihnya batu-batu yang masih bertebaran di pinggir taman. Dengan mengatupkan mulutnya rapat-rapat, ia mengangkat sebongkah batu, dilontarkannya kuat-kuat. Batu-batu itu besok memang harus disusun menjadi sebuah dinding yang akan mengelilingi taman. Sekali, dua kali, tiga kali. Dan seterusnya. Dilontarkannya batu-batu itu ke tempat yang besok harus dibangun dinding. Dikerjakannya pekerjaan prajurit-prajurit Tumapel yang harus dilakukannya besok. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia melempar-lemparkan batu-batu itu. Tenaganya seolah olah menjadi berlipat-lipat dan kekuatannya serta ketahanannya pun menjadi berganda.
Maka terdengarlah kemudian gemeretak batu-batu yang terlempar oleh Ken Arok itu memecahkan kesenyapan Padang Karautan. Susul-menyusul tidak habis-habisnya, seolah-olah pekerjaan itu telah dilakukan oleh sepuluh orang bersama-sama. Namun betapa kuat dan kokohnya tubuh Ken Arok, akhirnya sampai juga ke batasnya. Tenaganya semakin lama menjadi semakin kendor. Lontarannya sudah tidak lagi mencapai jarak yang diperlukan, sehingga lambat-laun, ia pun menjadi semakin lelah.
Meskipun demikian, Ken Arok tidak mau berhenti. Ia tidak mau membiarkan kesempatan sekejap pun untuk mengenang kembali mimpi ayah angkatnya yang gila. Ia tidak mau batinnya diracuni oleh perasaan itu. Karena itu, betapa ia menjadi lelah dan lemah, namun masih juga dicobanya untuk mengangkat dan kemudian melemparkan bongkahan batu-batu yang besar itu. Tetapi akhirnya Ken Arok itu sudah tidak mampu lagi melakukannya. Tulang-tulangnya seraya menjadi lemas, dan nafasnya sudah menyesak di dadanya.
Dengan lemahnya ia tertunduk di antara batu-batu yang masih berserakan. Bahkan kemudian ia membaringkan dirinya. Betapa lelah mengganggu tubuhnya, sehingga sejenak kemudian Ken Arok itu diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Ketika angin padang membelai tubuhnya, terasa kesegaran merayapi kulit dagingnya. Namun dengan demikian maka Ken Arok itu pun jatuh tertidur.
Ken Arok tidak dapat mengetahui betapa lama ia tertidur di padang itu, di bawah atap langit yang biru hitam, serta di bawah bintang yang bergayutan tanpa dapat dihitung jumlahnya. Anak muda itu terperanjat ketika ia mendengar gemeletuk batu tersentuh kaki. Dengan sigapnya ia meloncat bangun. Namun tiba-tiba matanya menjadi silau, ternyata matahari telah merayapi langit.
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam sambil menggosok matanya yang kesilauan, ”aku tertidur.”
“Kami mencarimu,” sahut orang yang membangunkannya, seorang prajurit Tumapel, “kami hampir menjadi putus asa. Aku sangka kau hilang seperti Mahisa Agni.”
“Sebelum udara di dalam gubugku terlampau panas. Aku berjalan-jalan keluar, dan akhirnya aku sampai ke tempat ini. Di sini udara terasa segar sekali. Dan aku jatuh tertidur.”
Prajurit itu tidak mempunyai syak-wasangka. Karena itu ia menjawab, “Semuanya menunggu kedatanganmu dengan cemas. Untung-untungan aku mencoba mencarimu di sini, di antara batu-batu ini. Ternyata kau tertidur.”
Sekali lagi Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Aku lelah sekali,” desisnya.
Tanpa disengaja, Ken Arok memandangi batu-batu yang masih bertebaran. Prajurit itu pun mengikuti arah pandangan Ken Arok. Namun tiba-tiba prajurit itu mengerutkan keningnya. Ia melihat batu-batu yang dipersiapkan untuk dinding taman telah berpindah hampir di sepanjang sebelah sisi yang akan didirikan dinding untuk taman itu. Kemarin batu-batu ini masih tertumpuk. Wajah prajurit itu menjadi berkerut-kerut. Ketika ia melihat pakaian Ken Arok yang kusut dan tubuhnya yang kotor karena debu dan lumpur, maka tumbuhlah pertanyaan di dalam dirinya. Apakah yang sudah dilakukannya? Begitu mendesak pertanyaan itu di dalam dadanya sehingga terloncat kata-katanya,
“Batu-batu ini telah berpindah.”
Ken Arok berpaling. Dipandanginya wajah prajurit itu, tetapi ia menjawab, “Orang-orang terakhir kemarin telah mulai memindahkan batu-batu itu.”
Wajah prajurit itu menjadi semakin aneh. Dengan terheran-heran ia berkata, “Aku adalah orang yang terakhir meninggalkan pekerjaan kemarin. Aku masih sempat melihat batu-batu yang tertimbun di sini. Tetapi pagi ini aku lihat batu-batu itu sudah berserakan di sepanjang batas dinding taman yang akan dibangun. Hampir di sepanjang sisi sebelah ini.”
Wajah Ken Arok itu pun kini menjadi berkerut-merut. Sejenak ia tidak menjawab. Namun kemudian ia berkata, “Mari, aku akan kembali ke perkemahan. Mereka terlalu lama menunggu, dan kerja hari ini akan terlampau lama terlambat mulai.”
Prajurit itu terdiam. Wajahnya masih diliputi oleh pertanyaan-pertanyaannya tentang batu-batu yang berpindah itu. Meskipun demikian ia telah menyangka bahwa Ken Arok telah melakukan pekerjaan itu.
“Tetapi hampir tidak masuk akal,” berkata prajurit itu di dalam hatinya, “aku masih melihat Ken Arok itu masuk ke dalam gubugnya. Seandainya ia datang kemari, maka pasti tidak sejak sore. Sedangkan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan oleh dua tiga orang sehari penuh.”
Prajurit itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Mari, apa lagi yang kau tunggu?”
Tanpa sesadarnya prajurit itu berguman, “Agaknya Hantu Karautan lah yang telah memindahkan batu-batu ini.”
Wajah Ken Arok menegang mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia berhasil menguasai dirinya. Prajurit itu pasti dengan sengaja menyebut Hantu Karautan, dan pasti tidak mencoba menghubungkannya dengan dirinya, meskipun sebenarnya bahwa yang telah melakukan pekerjaan itu adalah Hantu Karautan. Sejenak kemudian maka mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel sudah menunggu Ken Arok dengan gelisah. Bahkan seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, ada di antara mereka yang menyangka bahwa Ken Arok hilang seperti Mahisa Agni.
Namun di sepanjang jalan, prajurit Tumapel itu tidak dapat melupakan apa yang telah dilihatnya. Batu-batu yang telah berpindah tempat. Tak ada orang lain di tempat itu selain Ken Arok. Apalagi pakaian Ken Arok tampak lusuh dan tubuhnya dikotori oleh debu dan keringat. Adalah mustahil apabila sejak kemarin, sejak sore kemarin, Ken Arok tidak mandi dan membersihkan tubuhnya. Karena itu, maka prajurit itu berketetapan,
“Ken Arok telah melakukannya. Alangkah dahsyat tenaganya. Ternyata anak muda itu benar seorang yang melampaui sesamanya.”
Dan, ternyata prajurit itu kemudian tidak dapat menyimpan pertanyaan dan kekaguman itu di dalam hatinya. Satu-satu akhirnya setiap orang mendengar apa yang telah terjadi, meskipun hanya bisikan-bisikan di setiap telinga. Ketika Ken Arok melihat orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel telah mempersiapkan diri untuk bekerja, serta melihat bayangan kegelisahan di wajah-wajah mereka, menjadi agak menyesal. Ia telah memperlambat kerja hari ini. Karena itu, demikian ia berdiri di hadapan mereka dan Ki Buyut Panawijen, segera berkata,
“Mulailah. Aku akan segera menyusul.”
Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel segera meninggalkan perkemahan dan berpencaran ke tempat kerja masing-masing. Sebagian pergi ke bendungan yang sudah menjadi semakin tinggi, sebagian memperdalam parit induk yang membelah Padang Karautan, sebagian memperpanjang parit yang silang-menyilang yang kelak akan mengairi sawah-sawah, dan sebagian dari para prajutit Tumapel meneruskan kerja mereka, membuat sendang dan taman. Ketika mereka yang bekerja di sendang buatan itu sampai ke tempat kerja mereka, maka mereka benar-benar menjadi heran. Mereka melihat batu-batu yang telah berpindah dari tempatnya kemarin, seperti desas-desus yang mereka dengar.
“Semalam Ken Arok lah yang tidur di sini,” gumam salah seorang dari padanya.
“Luar biasa. Ia mampu melakukannya seorang diri.”
“Mungkin ia mempunyai sababat hantu-hantu padang.”
Kawannya hanya dapat mengangkat bahunya. Namun kekaguman mereka terhadap Ken Arok menjadi bertambah-tambah. Ketika perkemahan itu kemudian menjadi sepi karena orang-orang yang menghuninya telah pergi ke tempat kerja mereka, maka segera Ken Arok kembali ke dalam gubugnya. Di sana-sini ia hanya melihat satu-dua orang yang bertugas menjaga perkemahan itu. Tubuhnya kini sama sekali sudah tidak merasa lelah lagi. Tidurnya ternyata telah dapat memulihkan seluruh tenaga yang telah diperasnya semalam.
Dengan tergesa-gesa ia harus menyiapkan diri. Mandi dan makan-minum sebelum berangkat menyusul kawan-kawannya yang sedang bekerja. Tetapi ketika ia memasuki gubugnya, ia merasa ada sesuatu yang kurang. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah angkatnya, Bango Samparan. Ternyata orang itu sudah tidak ada.
“Apakah benar semalam ayah Bango Samparan itu datang kemari?” desisnya.
Tetapi gubugnya benar-benar telah sepi. Ia tidak melihat bekas-bekas yang dapat mengatakan kepadanya, bahwa semalam benar-benar telah ada seorang tamu.
Tiba-tiba Ken Arok menjadi berdebar-debar. “Ah, aku pasti. Semalam ayah datang kemari. Apakah ia telah pergi sebelum pagi seperti katanya semalam.” Ken Arok menjadi bingung. “Tidak, aku kira ia akan menunggu aku. Ayah memerlukan uang sekadarnya.”
Ken Arok segera keluar dari gubugnya. Dipandanginya keadaan di sekelilingnya, kalau-kalau Bango Samparan sedang berjalan-jalan di antara gubug-gubug di dalam perkemahan itu. Tetapi orang itu tidak dilihatnya. Bahkan Ken Arok tidak segera menjadi puas. Dengan tergesa-gesa ia melangkah di antara gubug yang bertebaran, kalau-kalau ia dapat menemukan ayah angkatnya. Namun Bango Samparan sama sekali tidak diketemukannya. Ketika ia melihat seorang yang sedang berjaga-jaga sambil menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk makan siang, Ken Arok bertanya,
“Apakah kau melihat seseorang di dalam gubugku?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian menggeleng. “Tidak. Aku tadi juga lewat di samping gubug itu, tetapi aku tidak melihat seorang pun.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi jawaban yang seorang ini tidak dapat dijadikannya pegangan. Ia merasa pasti bahwa semalam ayah angkatnya itu datang kepadanya dan menceritakan tentang mimpinya yang gila. Karena itu maka segera ditinggalkannya orang itu. Dengan kepala tunduk Ken Arok berjalan di antara gubug-gubug mencari orang lain yang masih berada di perkemahan. Ketika ia melihat dua orang sedang menyalakan api untuk masak, maka segera didekatinya orang itu sambil bertanya,
“He, apakah kau melihat seseorang yang belum kau kenal berada di perkemahan ini atau di dalam gubugku?”
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian keduanya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak melihat seorang pun kecuali orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel.”
“Bukan mereka. Aku mempunyai tamu seorang yang belum kalian kenal. Tubuhnya agak gemuk, pendek. Wajahnya keras dan sorot matanya tajam.”
Sekali lagi keduanya saling memandang, dan sekali lagi keduanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Kami tidak melihatnya.”
Ken Arok menggigit bibirnya. Wajahnya menjadi tegang dan giginya gemeretak. Dengan tergesa-gesa pula ditinggalkan kedua orang itu, yang kemudian menjadi keheran-heranan.
“Siapa yang dicarinya?” desis yang seorang.
Kawannya menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”
Dalam pada itu, Ken Arok sama sekali masih belum puas. Ia masih ingin menanyakannya kepada orang lain lagi. Adalah mungkin sekali bahwa orang-orang itu tidak melihat kedatangan Bango Samparan, karena mereka telah tertidur. Akhirnya Ken Arok melihat seorang berdiri di ujung perkemahan. Dijinjingnya dua buah lodong air. Agaknya orang itu akan pergi ke sungai untuk mengambil air, yang akan direbus untuk minum orang-orang yang sedang bekerja.
“He,” panggil Ken Arok. Orang itu adalah seorang dari Panawijen. Ketika ia melihat Ken Arok bergegas mendatanginya, maka orang itu menjadi berdebar-debar. “Apakah kau melihat Bango Samparan?” bertanya Ken Arok dengan wajah yang tegang dan nafas terengah-engah.
“Siapa?” bertanya orang itu kembali.
“Bango Samparan.”
Orang Panawijen itu menggelengkan kepalanya. “Aku belum pernah mendengar nama itu. Bango Samparan.”
“Semalam ia berada di sini.” Orang Panawijen itu masih terheran-heran. “Apakah kau tidak melihatnya?”
“Seandainya aku melihatnya, aku juga belum mengenalnya.” jawab orang Panawijen itu.
“Kalau kau melihat orang asing di sini, bertubuh gemuk agak pendek, berwajah keras, itulah dia. Bango Samparan. Apakah kau melihat?”
Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berpikir sejenak. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah ia melihat orang seperti yang dikatakan oleh Ken Arok itu. Tetapi akhirnya ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak. Aku tidak melihatnya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi semakin tegang. Terbata-bata ia bertanya, “Benarkah itu? Kau tidak melihatnya di sini?”
Sekali lagi orang itu menggeleng. “Tidak, aku tidak melihatnya.”
Sorot mata Ken Arok menjadi semakin aneh. Tiba-tiba saja ia memutar tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa kembali ke gubugnya. Orang Panawijen yang membawa lodong bambu itu berdiri ternganga-nganga. Ia tidak tahu apakah yang sedang bergolak di hati anak muda itu. Sambil memiringkan kepalanya, ia mengangkat bahu. Kemudian meneruskan langkahnya ke sungai untuk mengambil air. Ken Arok yang menjadi semakin bingung itu segera masuk ke dalam gubugnya. Dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya. Sehelai tikar pandan yang kasar.
“Apakah aku telah didatangi oleh hantu Karautan, yang sebenarnya hantu?” desisnya.
“Tidak,” pertanyaan itu dibantahnya sendiri, “dalam pengembaraanku di padang ini, aku belum pernah menemui hantu itu. Yang ada adalah Hantu Karautan yang dikenal oleh orang-orang di sekitar padang ini. Hantu Karautan, Ken Arok. Tidak ada hantu yang lain.” Dengan gelisahnya Ken Arok itu bangkit, berdiri, dan berjalan mondar-mandir.
“Gila. Apakah aku sudah gila dan di dalam kegilaanku itu aku bermimpi bertemu dengan Bango Samparan yang sedang bermimpi pula? Tetapi mimpi Bango Samparan itu jauh lebih gila dari mimpiku sendiri.”
“Tidak, tidak,” tiba-tiba Ken Arok itu berdesis, “aku tidak mau mendengar mimpi yang terlampau gila itu. Apakah mimpi itu disampaikan oleh Bango Samparan sendiri, atau hanya sekadar di dalam mimpiku, atau oleh hantu Karautan sekalipun.”
Tiba-tiba Ken Arok teringat bahwa semalam Bango Samparan itu datang bersama dua orang pengawal, dan bahkan beberapa orang yang berada di dalam gubug di sekitarnya terbangun karena suara tertawa Bango Samparan. Beberapa orang terbatuk-batuk, dan beberapa orang yang lain mendehem keras-keras. Sekali lagi Ken Arok meloncat keluar dari gubugnya Ia ingin mendapat kepastian tentang Bango Samparan. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ia melihat gubug-gubug di sekitar gubugnya telah menjadi kosong. Orang-orang itu telah pergi ke tempat pekerjaan mereka masing-masing.
“Hem,” Ken Arok menggeram, “aku harus menemukan kedua orang pengawal itu. Jika mereka semalam bertugas, maka pagi ini mereka mendapat kesempatan beristirahat. Mereka pasti tidak ikut bekerja dengan kawan-kawan mereka.”
Maka kini dengan cepatnya ia melangkah ke gubug kedua orang pengawal yang semalam telah membawa Bango Samparan kepadanya. Dengan serta-merta ia menyuruk lewat lubang pintu yang rendah, masuk ke dalamnya. Ketika dilihatnya seorang tidur membujur di pojok gubug itu, maka segera ia berkata lantang,
“He, kaukah yang mengawal ke perkemahan semalam?”
Orang yang sedang tidur berselimut kain panjang itu terkejut. Cepat ia meloncat bangun sambil menggosok matanya. Tetapi yang dilihatnya berdiri di muka pintu adalah Ken Arok. Namun Ken Arok menjadi kecewa melihat orang itu. Orang itu bukan salah seorang dari kedua orang yang mengantarkan Bango Samparan kepadanya. Meskipun demikian ia bertanya sekali lagi,
“Apakah semalam kau bertugas?”
“Ya,” sahut orang itu.
“Di sisi mana?”
“Di sisi utara,” jawab orang itu.
“Di mana kedua kawanmu yang bertugas di sisi selatan, yang telah membawa seorang tamu kepadaku.”
“Mereka sedang pergi ke sungai.”
“Bukankah mereka mendapat istirahat hari ini?”
“Ya, mereka sedang mandi dan mencuci pakaian mereka.”
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “apakah mereka tidak mengatakan kepadamu tentang seorang tamu yang mereka bawa kepadaku semalam?”
Orang itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaku.”
“Gila, sungguh-sungguh gila,” Ken Arok mengumpat di dalam hatinya sambil keluar dari gubug itu, tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Orang di dalam gubug itu pun menjadi terheran-heran melihat tingkah lakunya, pakaiannya yang kusut, dan tubuhnya yang kotor oleh keringat dan debu.
“Dari manakah ia semalam?” bertanya orang itu di dalam hatinya, “setiap orang mencarinya. Bahkan Ki Buyut Panawijen telah menjadi ketakutan, kalau-kalau ia hilang pula seperti Mahisa Agni.”
Dengan lesu Ken Arok itu melangkah kembali ke gubugnya. Pikirannya menjadi semakin kalut. Apabila semalam Bango Samparan tidak datang sesungguhnya kepadanya, maka Ken Arok pasti menjadi sangat cemas tentang dirinya sendiri.
“Apakah aku sudah menjadi gila?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.
Di gubugnya ia pun menjadi sangat gelisah. Sekali ia bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir, kemudian terduduk dengan lesunya. Tiba-tiba saja ia teringat akan kewajibannya. Ia sudah berjanji untuk menyusul orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel ke tempat mereka bekerja. Hari ini ia akan menunggui orang-orang yang sedang menyelesaikan bendungan. Karena Itu maka segera ia bangkit dan mengibas-ibaskan pakaiannya.
“Persetan dengan Bango Samparan,” gumamnya, “aku harus bekerja. Orang-orang itu pasti menunggu. Aku harus segera pergi kepada mereka.”
Sejenak Ken Arok menjadi ragu-ragu. Apakah ia harus berganti pakaian lebih dahulu, ataukah ia akan pergi dengan pakaian yang sudah dipakainya itu. Pakaian yang lusuh dan kotor.
“Kalau aku berganti pakaian, mandi, dan membersihkan diri lebih dahulu, maka sebentar lagi aku akan menjadi kotor lagi. Tetapi kalau tidak, terasa tubuhku gatal-gatal karena debu yang mengendap di wajah kulit ini.”
Akhirnya Ken Arok memutuskan untuk begitu saja pergi ke bendungan. Ia tidak akan berganti pakaian. Dengan pakaian yang kusut itu ia akan bekerja bersama-sama orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel.
“Di bendungan aku dapat membersihkan badanku, mengeringkan di sinar matahari, lalu mulai bekerja bersama-sama dengan mereka.”
Sejenak kemudian Ken Arok pun melangkah keluar gubugnya sambil menyambar sepotong ubi rebus. Sambil mengunyah ia berjalan meninggalkan gubugnya. Kepada seorang pengawal yang dijumpainya ia berkata,
“Aku pergi ke bendungan. Kalau kau melihat orang asing di sini, bertanyalah kepadanya, apakah namanya Bango Samparan.”
Pengawal itu mengangguk, “Baik,” jawabnya.
“Kalau orang itu menunggu aku, biarlah ia menunggu di gubugku sampai aku pulang.”
“Baik.”
Ken Arok pun segera pergi ke bendungan menyusul orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang bekerja di sana.
Sementara itu para prajurit yang bekerja di sendang buatan menjadi saling bertanya-tanya, “Kekuatan apakah yang tersembunyi di dalam diri Ken Arok.”
“Kita mengenal beberapa orang sakti,” gumam salah seorang prajurit yang bekerja di sendang, “mungkin beberapa orang guru yang tinggal di padepokan-padepokan. Tetapi kita tidak menjadi heran melihat kelebihan-kelebihan mereka. Seolah-olah sudah seharusnya mereka memiliki kelebihan dari kita. Tetapi kita menjadi heran melihat orang-orang muda yang luar biasa seperti pemimpin para prajurit pengawal istana, Witantra. Kemudian adik seperguruannya, Mahendra dan Kebo Ijo. Kita heran juga melihat beberapa orang yang lain. Tetapi keheranan kita tidak melonjak-lonjak seperti kali ini”.
Kawannya yang diajak berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Ada dua orang sepengetahuanku yang telah membingungkan nalarku.”
“Siapa? Witantra itu?”
“Bukan. Betapa saktinya kakang Witantra, tetapi aku masih dapat mencapainya dengan nalar dan pertimbangan.”
“Lalu siapa?”
“Yang pertama adalah Akuwu Tunggul Ametung. Kau ingat, ketika dengan tangannya ia membunuh seekor harimau?”
“Ya, harimau yang membunuh seorang srati gajah itu.”
“Ya, akibatnya gajahnya mengamuk. Gajah yang bodoh itu tidak tahu, siapakah yang bersalah. Gajah itu tidak tahu bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung menolong srati-nya, tetapi justru gajah menyerang Akuwu. Bukankah begitu?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar