MENU

Ads

Kamis, 19 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 147

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya aku ingat. Hampir saja Akuwu mati terinjak gajah itu.”

“Tetapi hal itu tidak terjadi. Dan itulah ajaibnya. Tiba-tiba Akuwu pun marah. Dengan penggada-nya yang kuning berkilauan, Akuwu memukul kaki gajah itu. Kaki depannya. Seketika itu gajah yang mengamuk itu jatuh terjerembab. Lumpuh.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, gajah itu lumpuh. Seandainya Akuwu menjadi mata gelap, maka ia akan mampu membunuh gajah yang sudah lumpuh itu.”

“Ya, ia adalah orang yang aneh yang pertama aku lihat.”

“Dan yang lain? Yang seorang lagi?”

“Yang seorang adalah orang ini, Ken Arok. Adalah tidak masuk akal bahwa seorang diri ia dapat memindahkan batu-batu sekian banyaknya. Bukan saja sedemikian banyaknya, tetapi lihatlah. Batu-batu sebesar itu, batu-batu yang harus dipikul oleh dua-tiga orang.” Orang itu menggelengkan kepalanya, “Mustahil, mustahil.”

“Tetapi hal itu sudah terjadi.”

“Ya,” kawannya terdiam. Dipandanginya batu-batu yang besar itu dengan sorot mata yang aneh.

Sedangkan kawannya yang lain bergumam, “Ada dua orang aneh di Istana Tumapel. Tetapi yang seorang adalah Akuwu Tumapel sedangkan yang lain hanyalah seorang pelayan dalam, yang kali ini mendapat kepercayaan memimpin pembuatan bendungan dan sendang.”

Para prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengangkat pundak mereka sambil berdesis, “Aneh.”

Beberapa orang masih juga mencoba menjajagi kekuatan Ken Arok dengan mencoba mengangkat batu-batu yang besar dan berat. Tetapi bertiga, batu itu baru terangkat. Kemudian mereka harus memindahkan batu-batu itu dan memasang pada dinding yang sedang mereka buat, maka mereka memanggul batu-batu itu dengan tali dan sepotong kayu. Bersama-sama enam orang sekaligus.

Namun kekaguman itu telah mendorong para prajurit Tumapel untuk bekerja semakin keras. Beberapa orang menganggap bahwa Ken Arok telah marah kepada mereka karena mereka bekerja terlampau lamban. Tetapi anak muda itu tidak mau menyatakan kemarahannya. Karena itu maka disindirnya para prajurit itu dengan suatu perbuatan yang aneh. Memindahkan batu-batu besar dan kecil yang cukup banyak itu seorang diri. Seolah-olah ia ingin berkata,

“Beginilah cara kita bekerja. Jangan terlampau lamban dan malas.”

Sementara itu, Ken Arok sendiri telah berada di bendungan. Sejenak ia membersihkan dirinya kemudian berjemur sejenak sambil melihat orang-orang yang sedang bekerja. Ketika tubuhnya telah kering dan kesegaran pagi telah menjalar ke segenap urat nadinya, maka mulai pulalah ia bekerja. Tetapi apa yang dilakukan kali ini sama sekali tidak ada bedanya dengan kerja yang dilakukan oleh orang-orang lain. Mengangkat brunjung-brunjung bambu kecil yang sudah berisi batu bersama-sama dengan lima atau enam orang. Mengangkat batu-batu besar untuk diletakkan di antara brunjung-brunjung itu bersama-sama dengan dua-tiga orang. Sama sekali tidak nampak kelebihannya dari orang-orang lain yang bekerja bersamanya.

Ketika Ken Arok telah tenggelam di dalam kerja, maka untuk sejenak ia melupakan Bango Samparan dan melupakan mimpi ayah angkatnya yang gila itu. Dicurahkannya segenap perhatiannya ke bendungan, susukan induk, dan parit-parit. Hatinya seolah-olah membusung apabila dilihatnya pedati-pedati yang memuat batu, tanah, dan segala macam perlengkapan, kemudian orang-orang Panawijen bersama-sama dengan para prajurit Tumapel melunakkan tanah dengan banyak-banyak. Sebagian lagi mengisi brunjung-brunjung bambu dengan batu dan meletakkannya di bendungan yang sudah menjadi semakin tinggi.

“Bendungan itu hampir selesai,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “aku selanjutnya akan dapat mempergunakan orang-orang itu untuk menyelesaikan sendang dan taman buatan itu. Orang-orang Panawijen pasti akan bersedia membantu, sedangkan yang sebagian lagi mulai membajak tanah untuk persawahan.” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku harus menyiapkan semuanya tepat pada waktunya.”

Demikianlah maka orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel itu bekerja keras untuk membangunkan suatu harapan bagi masa depan. Bagi anak cucu. Mereka tidak sekedar berpikir tentang diri mereka. Tetapi yang penting bagi mereka adalah, mereka telah berbuat. Mereka telah memberikan sesuatu bagi anak cucu mereka. Dengan demikian maka kehadiran mereka dalam urutan turun-tumurun tidak akan membuat anak cucu mereka menyesal. Anak cucu mereka tidak akan mengatakan, bahwa tataran keturunan yang ini adalah tataran yang paling jelek di antara garis keturunan karena telah mengabaikan usaha untuk anak cucu mereka.

Orang-orang yang bekerja itu sama sekali tidak menghiraukan ketika matahari memanjat semakin tinggi. Mereka tidak menghiraukan terik yang seakan-akan membakar punggung mereka yang telanjang. Sedangkan matahari pun merayap semakin tinggi. Setelah dilampauinya puncak langit, maka datanglah saatnya perjalanan itu berganti menurun. Semakin lama semakin rendah, sehingga akhirnya cahayanya menjadi kemerah-merahan.

Orang-orang yang sedang bekerja di bendungan, di parit-parit, dan di taman pun sampai pada batas waktu mereka. Mereka akan segera beristirahat. Setelah mengeringkan keringat mereka, maka beramai-ramai mereka mandi. Sejenak kemudian maka bendungan itu telah menjadi sepi. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah kembali ke gubug masing-masing. Mengambil makan mereka, kemudian duduk-duduk beristirahat sambil bercakap-cakap tentang banyak hal yang dapat menghibur kelelahan mereka.

Dalam pada itu, dua ekor kuda berlari tidak terlampau cepat mendekati bendungan yang telah menjadi sepi itu. Beberapa ratus langkah dari bendungan itu, keduanya berhenti. Samar-samar dalam cahaya senja, salah seorang dari mereka berkata,



“Apakah bendungan itu tidak dijaga?”

Yang lain menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu paman.”

Orang yang pertama, yang masih saja berusaha mencari jalan untuk dapat menghubungi bakal permaisuri Tumapel, menengadahkan wajahnya. Dan dilihatnya langit menjadi semakin suram.

“Aku tidak segera dapat berhubungan dengan seseorang yang dapat aku percaya. Seharusnya kau, bekas seorang pelayan dalam, akan dapat lebih mudah melakukannya. Tetapi ternyata aku terlampau bodoh.”

“Namaku telah dikenal oleh hampir setiap orang Tumapel. Aku kira mereka pun sekarang mengetahui apa yang telah terjadi dengan diriku, sehingga tidak seorang pun lagi akan mempercayai aku.”

Yang lain, yang berwajah beku, mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku dapat mengerti Kuda Sempana.” Orang itu, Kebo Sindet, terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Bagaimana dengan Ken Arok?”

“Aku kira kita tidak akan mendapat kesempatan,” jawab Kuda Sempana, “aku belum demikian mengenalnya.”

“Dengan upah yang cukup tinggi? Atau dalam pembagian yang adil?”

Kuda Sempana menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi ternyata anak muda itu kini mendapat kepercayaan dari Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin ia berpendirian teguh dan kita akan terjebak karenanya.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Dipandanginya arah bendungan yang menjadi semakin kabur.

“Aku akan pergi ke Tumapel untuk mencari orang-orang yang dapat bekerja bersama dengan aku, menjual Mahisa Agni kepada adiknya,” berkata Kebo Sindet dalam nada yang datar.

Ternyata Kuda Sempana pun kini wajahnya telah hampir membeku pula. Kesan dari kata-kata itu sama sekali tidak tampak di wajahnya. Dengan nada datar pula ia bertanya, “Apakah aku harus ikut serta bersama paman?”

“Ya, kau harus pergi bersamaku. Selalu. Aku tidak dapat meninggalkan kau sendiri di goa itu. Aku tidak ingin kau membunuh Mahisa Agni yang masih lemah.”

“Aku tidak akan membunuhnya dan Mahisa Agni sudah menjadi cukup segar.”

“Kau ingin berkelahi melawannya?”

“Tidak.”

“Tetapi aku tidak percaya kepadamu, sebab kau menyimpan dendam yang tidak terkatakan. Kau harus pergi bersamaku. Kau tidak boleh bertemu Mahisa Agni tanpa aku. Sedangkan Mahisa Agni sementara ini harus tetap hidup.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia kini sama sekali sudah tidak mempedulikan lagi terhadap Mahisa Agni, terhadap bendungan, terhadap Ken Dedes, dan bahkan terhadap diri sendiri.

“Marilah, jangan risaukan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat keluar dari daerah rawa-rawa. Ia tahu apa yang tersembunyi di dalam air itu. Lumpur dan binatang-binatang berbisa. Hanya akulah yang mengenal jalan yang paling aman. Kau pun tidak.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Sedangkan wajahnya pun tidak menunjukkan kesan apa pun. Beku, hampir seperti wajah Kebo Sindet, meskipun kadang-kadang wajah itu masih juga bergerak dan memberikan kesan. Kedua ekor kuda itu mulai bergerak lagi. Mereka tidak mendekati bendungan dan perkemahan orang-orang Panawijen, tetapi mereka menyusur sungai di seberang perkemahan.

“Aku harus menemukan seseorang yang dapat menyampaikan penawaran kepada calon permaisuri itu,” gumam Kebo Sindet, “apakah di perkemahan itu tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya dan dibawa bekerja bersama?”

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.”

“Kita janjikan upah setinggi-tingginya. Kalau perlu apa saja yang diminta akan kita penuhi.”

“Kalau permintaanya tidak masuk akal, dan melampaui kemampuan paman, bahkan melebihi tawaran yang akan paman terima dari Ken Dedes?”

Kebo Sindet terdiam sejenak, tetapi ia berpaling memandangi Kuda Sempana yang berkata di sampingnya. Kemudian terdengar orang itu berdesis dengan suara yang dalam, yang seolah-olah hanya melingkar-lingkar di dalam perutnya. “Kau memang bodoh sekali. Lebih bodoh dari yang aku duga. Baik Ken Arok maupun orang lain tidak akan mengurangi pendapatan kita.” Kuda Sempana menjadi heran mendengar jawaban itu. Tetapi ia tidak bertanya. Dibiarkannya Kebo Sindet memberinya penjelasan. “Mereka tidak akan pernah mengenyam hasil dari jerih-payah mereka.”

“Kenapa?” akhirnya terdengar Kuda Sempana berdesis.

“Mereka akan mati demikian pekerjaan mereka selesai.”

“Mereka akan paman bunuh?”

“Tentu. Mereka akan mati. Semua hasilnya akan jatuh ke tangan kita. Kau mengerti?”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya tetapi dadanya terasa berdesir. Ternyata Kebo Sindet memang benar-benar seorang yang gila. Ia tidak memperhitungkan cara apa pun yang dipergunakannya untuk mendapatkan harta. Sedangkan harta-benda dan kekayaan yang tidak terkira itu hanya ditimbunnya saja di dalam goa yang terasing.

“Tidak masuk akal,” desis Kuda Sempana di dalam hatinya, “orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia tidak beranak-isteri, tidak ber-sanak-kadang. Buat apa ia menimbun segala macam harta-benda di dalam goa itu?”

Namun Kuda Sempana sendiri menyadari kemungkinan-kemungkinan yang bakal dialami. Apabila pekerjaan tentang Mahisa Agni ini selesai, maka ia pun akan mengalami nasib serupa dengan orang-orang yang sedang dicari oleh Kebo Sindet. Kali ini ia masih mungkin untuk diperalat, menghubungi orang-orang dalam yang bersedia berkhianat dengan janji yang menyenangkan. Tetapi orang itu kemudian akan mati, dan ia sendiri pun akan mati pula.

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Dengan agak ragu-ragu Kebo Sindet meninggalkan bendungan dan menjauhi perkemahan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel. Ternyata Kuda Sempana tidak dapat menghubungkannya dengan siapa pun dari perkemahan ini. Juga Ken Arok sangat meragukannya. Apakah anak muda itu dapat dikail dengan janji.

Tetapi Kebo Sindet tidak perlu tergesa-gesa. Kalau mungkin hubungan itu dapat dilakukan sebelum hari perkawinan, tetapi kalau gagal, maka sesudah Ken Dedes menjadi permaisuri pun, pasti akan berhasil juga. Mungkin Ken Dedes akan dapat dijadikannya sapi perahan. Setiap kali dituntutnya sejumlah uang dan perhiasan, tetapi Mahisa Agni tidak juga dilepaskan untuk mengajukan tuntutan-tuntutan berikutnya. Ken Dedes dapat mempercayakan kepada orang hambanya, untuk melihat di tempat-tempat tertentu, sudah tentu tidak di sarangnya, bahwa Mahisa masih betul-betul hidup. (penafsiran karena kata tidak terbaca)

Kebo Sindet kadang-kadang tersenyum sendiri di dalam hati, meskipun wajahnya tetap membeku. Rencana ini ternyata masih lebih baik dengan rencananya untuk mempergunakan nama Empu Sada.

“Persetan dengan Empu gila itu,” katanya di dalam hati, “asal saja ia tidak menghalangi.”

Kuda-kuda itu berjalan semakin lama semakin jauh. Tidak terlampau cepat. Bahkan seakan-akan mereka sedang bercengkerama di luasnya padang rumput yang berwarna kekuning-kuningan. Sekali-sekali mereka melewati gerumbul-gerumbul perdu yang berwarna kelam.

Tiba-tiba Kebo Sindet bergumam, “Kuda Sempana. Kita akan sering melewati tempat ini. Siapa tahu, suatu ketika kita akan bertemu dengan seseorang yang dapat kita jadikan alat, untuk menyampaikan penawaran kita kepada Ken Dedes.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Dan Kebo Sindet pun tidak berbicara lagi. Sambil berdiam diri mereka meneruskan perjalanan mereka ke Tumapel untuk melihat-lihat saja kemungkinan yang dapat mereka lakukan.

Sementara itu Ken Arok sedang marah-marah di dalam gubugnya. Ketika ia pulang dari bendungan, maka segera ia ingin berganti pakaian karena pakaiannya telah menjadi sangat kusut dan kotor. Semalam pakaian itu telah dipakainya untuk melontar-lontarkan batu, dan sehari ini dipakainya untuk bekerja di bendungan. Karena itu maka pakaiannya itu telah penuh dengan debu. Tetapi ketika ia membuka seikat bungkusan di sudut gubugnya, tempat ia menyimpan pakaian, maka tiba-tiba ia mengumpat. Ternyata di dalam bungkusan itu hanya terdapat seonggok rumput kering.

“Hem, siapakah yang telah membuat gila ini?” tanpa sesadarnya Ken Arok berteriak.

Beberapa orang mendengar suara teriakan itu dan dengan tergesa-gesa mereka mendatangi. Mereka tertegun melihat bungkusan rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping pembaringannya.

“Siapa he, siapa yang telah berbuat gila? Apakah aku harus bertindak kasar?” Tak seorang pun yang menjawab. “Panggil pengawal,” teriak Ken Arok marah.

Beberapa orang dengan tergesa-gesa mencari prajurit yang siang ini bertugas mengawal perkemahan ini. Sedangkan beberapa orang lain berkerumun, saling berguman di antara mereka, siapakah yang telah berbuat tidak sepantasnya itu. Seandainya orang itu bermaksud membuat suatu lelucon, maka sendau-gurau yang demikian itu sangat melampaui batas. Apalagi apabila ada di antara mereka yang sengaja mengambil pakaian Ken Arok yang hanya beberapa lembar, maka perbuatan itu akan merupakan cela bagi seluruh prajurit Tumapel atau orang-orang Panawijen.

Ketika dua orang pengawal datang ke gubug itu dan melihat orang berkerumun, hatinya menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka masuk ke dalam gubug itu. Dengan lantangnya Ken Arok berteriak,

“Lihat, lihat?”

Mata kedua orang itu terbelalak ketika mereka melihat sebungkus rumput kering di sudut gubug Ken Arok, di samping pembaringannya. Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah maksud Ken Arok dengan menunjuk seonggok tumput kering itu. Namun kemudian mereka mengerti, bahwa seharusnya pakaianlah yang pantas dibungkus di tempat itu.

“Apakah kau sudah melihat?”

“Ya,” hampir bersamaan kedua prajurit itu menjawab.

“Lalu apa katamu?” bertanya Ken Arok pula.

Keduanya menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak dapat mengerti. Aku mengawal perkemahan ini dengan baik. Aku tidak melihat seorang pun masuk atau keluar dari gubug ini. Seandainya itu karena kekhilafanku, maka aku dapat menunjukkan siapa saja yang hari ini bertugas di perkemahan, di dapur, dan mereka yang sedang beristirahat karena semalam mereka bertugas.”

“Panggil mereka,” berkata Ken Arok. Nadanya meninggi dan wajahnya menjadi tegang, “panggil mereka. Aku tidak senang dengan lelucon yang tidak pantas ini.”

Kedua pengawal itu mengangguk. Salah seorang di antaranya menjawab, “Baik. Kami akan memanggil mereka semua.”

Kedua orang itu pun kemudian keluar dari gubug Ken Arok. Beberapa orang lain membantunya memanggil orang-orang yang oleh kedua pengawal itu disebut namanya. Di dalam gubugnya Ken Arok hampir tidak sabar menunggu kedatangan kedua orang pengawal itu. Ketika keduanya datang, maka orang-orang yang mereka panggil pun satu-satu segera menyusul masuk ke dalam gubug itu.

Hampir saja Ken Arok membentak-bentak mereka dengan marahnya seandainya Ki Buyut Panawijen tidak segera masuk ke dalam gubug itu pula. Ternyata peristiwa itu sudah pula terdengar oleh orang-orang Panawijen sehingga wajah Ken Arok menjadi agak kemerah-merahan.

“Maaf Ki Buyut, aku sedang mengurus sesuatu peristiwa yang memalukan. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kepada mereka, bahwa hal yang demikian sebaiknya tidak terulang. Permainan yang keterlaluan.”

Ki Buyut Panawijen yang telah lanjut itu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia pun agaknya tidak senang melihat kejadian itu. Kejadian itu akan dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan di dalam perkemahan ini. Tetapi orang tua itu tidak segera mencampuri persoalannya, karena Ki Buyut menganggap bahwa persoalan itu masih terbatas pada prajurit-prajurit Pajang sendiri.

Meskipun demikian Ki Buyut itu berkata, “Kejadian ini patut disesalkan Ngger.”

“Ya, Ki Buyut. Aku harus sekali-sekali bertindak terhadap orang-orang yang tidak dapat menempatkan dirinya, menyesuaikan diri dengan keadaan.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, Sementara itu orang-orang yang dipanggil oleh Ken Arok telah berkumpul berjejal-jejal di dalam gubug itu. Tetapi karena di dalam gubug itu pula ada Ki Buyut Panawijen, maka Ken Arok bersikap agak hati-hati.

“Apakah kalian berada di perkemahan siang ini?” ia bertanya.

Orang-orang itu menganggukkan kepala mereka. Beberapa di antara mereka menjawab, “Ya, kami siang ini berada di sini.”

“Lihat, apakah yang terjadi di sini?” Tak seorang pun yang menyahut. Mereka melihat seonggok rumput kering. ”Ketika aku meninggalkan gubug ini, sebagai orang yang terakhir karena kelambatanku, bungkusan ini adalah bungkusan pakaian. Tetapi sekarang yang ada di sini adalah seonggok rumput. Aku tidak menyayangkan pakaianku yang hilang, sebab aku akan dapat meminjam salah seorang dari kalian dan besok akan dapat memohon ganti kepada Akuwu, tetapi sendau-gurau yang demikian sangat menyakitkan hati. Aku minta siapa yang telah berbuat, segera menyatakan dirinya. Kali ini aku tidak akan berbuat apa-apa, tetapi ingat, hal ini tidak boleh terulang.”

Orang-orang itu saling berpandangan. Tetapi wajah-wajah mereka menunjukkan perasaan mereka yang menjadi cemas. Sejenak mereka tidak dapat berkata sepatah kata pun sehingga mereka mendengar Ken Arok berkata,

“Jangan menunggu aku mengambil tindakan.”

Salah seorang prajurit yang sudah setengah umur kemudian menjawab, “Aku kira, tidak seorang pun dari kami yang berbuat demikian. Kami tahu menempatkan diri kami. Meskipun kadang-kadang kami bergurau hampir tidak terkendali, tetapi kami tidak akan sampai tindakan sejauh itu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia dapat memahami jawaban itu. Tetapi ia tidak dapat mengerti bahwa hal itu dapat terjadi. Sejenak Ken Arok berdiam diri sambil memandangi wajah-wajah yang ada di sekitarnya. Ketika terpandang olehnya wajah dua orang yang semalam mengawal perkemahan, dan sehari ini beristirahat di perkemahan, maka tiba-tiba ia berkata,

“Baik. Baik. Semua keluar dari gubug ini. Semuanya, kecuali kedua orang ini.”

Kedua pengawal itu mengerutkan kening mereka. Dada mereka menjadi berdebar-debar. Sedangkan beberapa orang kawan mereka pun memandang mereka dengan penuh pertanyaan.

“Apakah yang telah mereka lakukan?”

Sesaat kemudian satu-satu orang-orang di dalam ruangan itu mengalir keluar. Yang tinggal di dalam gubug itu kemudian tinggallah kedua pengawal itu, Ken Arok, dan Ki Buyut Panawijen. Meskipun demikian para prajurit yang berkerumun masih saja berkerumun. Mereka berdiri berjejal-jejal di luar pintu gubug Ken Arok.

Tetapi agaknya Ken Arok tidak senang melihat mereka. Karena itu maka ia melangkah ke muka pintu sambil berkata, “Sudahlah. Kembalilah kalian ke dalam gubug kalian masing-masing. Aku kira tidak ada lagi yang akan aku persoalkan. Aku tahu bahwa tidak ada di antara kalian yang telah melakukannya.” Sejenak para prajurit itu saling berpandangan. Dan mereka mendengar Ken Arok berkata selanjutnya, “Kembalilah dan beristirahatlah. Lupakan peristiwa ini. Aku akan menyelesaikannya sendiri tanpa mengganggu kalian lagi.”

Meskipun hati para prajurit itu masih diganggu oleh berbagai pertanyaan, terutama tentang kedua kawannya yang masih berada di dalam gubug Ken Arok, namun mereka terpaksa meninggalkan tempat itu kembali ke dalam gubug masing-masing, meskipun mereka masih tetap menunggu apa yang akan terjadi atas kedua kawannya.

Setelah para prajurit meninggalkan tempat itu, maka Ken Arok pun kembali masuk ke dalam ruangan gubugnya yang diterangi oleh sebuah pelita minyak yang tersangkut pada tiang bambu. Sinarnya yang redup berguncang ditiup angin padang yang agak keras. Sejenak ruangan itu dicekam oleh kesepian. Namun kesepian yang tegang. Kedua prajurit yang semalam mengawal perkemahan itu masih berdiri tegak seperti tonggak. Sekali-kali mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka kembali mendengar jantung masing-masing berdebaran. Mereka terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok memecah kesepian. Justru dengan nada yang rendah perlahan-lahan,

“Duduklah.” Sekali lagi mereka saling berpandangan. Dan sekali lagi mereka mendengar suara Ken Arok lunak, “Duduklah.” Kemudian kepada Ki Buyut Panawijen, Ken Arok mempersilakan pula, “Silakan Ki Buyut, duduklah.” Mereka berempat kemudian duduk berkeliling. Sejenak mereka saling berdiam diri, namun kemudian Ken Arok mulai berbicara kepada kedua prajurit itu, “Apakah kalian semalam mengawal perkemahan ini?”

Hampir bersamaan mereka menjawab, “Ya, kami mengawal perkemahan ini semalam.”

“Ya, aku bertemu kalian semalam,” sahut Ken Arok.

Tetapi sejenak ia menjadi ragu-ragu. Ia ingin bertanya kepada kedua pengawal itu tentang seorang yang bernama Bango Samparan. Namun ia takut mendengar jawabannya. Seandainya kedua prajurit itu menggelengkan kepala mereka dan berkata, bahwa mereka tidak melihat seorang pun, maka itu berarti bahwa otaknya sendiri sudah tidak wajar lagi. Karena itu untuk sesaat Ken Arok terdiam. Dipertimbangkannya baik-baik pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya, supaya tidak meluncur berdesak-desakan sehingga membayangkan kegelisahannya.

Baru sejenak kemudian Ken Arok itu bertanya, “Kau hari ini beristirahat?”

Keduanya rnengangguk-anggukkan kepalanya dengan ragu-ragu, “Ya,” jawab mereka.

“Bukankah kau semalam datang kepadaku ketika aku berjalan-jalan di luar gubug ini?”

“Ya. Kami memang datang kemari.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menjadi ragu-ragu. Kenapa ia mesti bertanya. Kenapa kedua orang itu tidak berkata kepadanya bahwa semalam mereka mengantarkan seseorang kepadanya.

“Semalam udara di dalam gubug terlampau panas. Aku berjalan keluar ketika kalian datang. Bukankah begitu?”

Kedua prajurit itu menjadi heran mendengar pertanyaan Ken Arok yang melingkar-lingkar itu. Namun mereka menjawab pula, “Ya, udara memang terlampau panas semalam.”

“Oh,” desah Ken Arok di dalam hatinya.

Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi menunggu kedua orang itu berkata dengan sendirinya tentang peristiwa semalam yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya. Jawaban kedua orang itu tidak dapat disimpulkannya, apakah mereka datang hanya berdua atau dengan seseorang lain. Karena itu maka Ken Arok tidak lagi menunggu. Langsung ia bertanya dengan dada yang berdebar-debar,

“Apakah kau semalam membawa seseorang kepadaku? Seorang tamu?” Wajah Ken Arok menjadi tegang selama ia menunggu kedua orang itu menjawab. “Kalau mereka menggeleng,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “ternyata aku telah menjadi gila. Aku telah melihat apa yang sebenarnya tidak pernah ada.”

Hampir terlonjak Ken Arok ketika mendengar orang itu menjawab, ”Ya, kami semalam mengantarkan seseorang kemari. Seorang tamu.”

“Oh,” Ken Arok menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menyangga keningnya seolah-olah kepala itu menjadi terlampau berat.

Kedua prajurit itu, Ki Buyut Panawijen, menjadi heran melihat tingkah lakunya, sehingga orang tua itu bertanya, ”Apa yang telah terjadi, Ngger.”

“Oh,” tergagap Ken Arok menjawab, “tidak apa-apa Ki Buyut. Aku hanya dibingungkan oleh perasaanku sendiri.” Kemudian kepada kedua prajurit itu ia ingin meyakinkan dirinya sendiri, “Jadi kalian semalam telah membawa Bango Samparan kepadaku?”

“Ya, seseorang,” jawab mereka. “Bukan orang Panawijen dan bukan dari Tumapel.”

“Ya, ya. Orang itu adalah Bango Samparan.” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Aku tidak gila,” katarya di dalam hati, ”aku tidak gila. Bango Samparan lah yang gila.”

Meskipun demikian, Ken Arok tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa apa yang telah terjadi itu, kegelisahan, kebingungan, dan keragu-raguan, adalah akibat dari mimpi yang gila yang didengarnya dari mulut Bango Samparan. Seandainya ia tidak pernah mendengar mimpi itu, maka ia tidak akan bingung seandainya Bango Samparan itu benar-benar tidak pernah datang sekalipun. Tetapi Bango Samparan itu ternyata benar-benar telah datang di gubugnya. Bango Samparan itu telah berceritera kepadanya tentang sesuatu yang telah membuatnya gelisah. Kalau tidak, maka ia tidak akan bingung bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya tentang seseorang yang bernama Bango Samparan. Kalau pikirannya tidak sedang dikacaukan oleh angan-angan yang gila yang diucapkan oleh Bango Samparan itu, maka ia akan cukup tenang untuk bertanya kepada orang-orang yang langsung berkepentingan.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar