Kedua orang prajurit itu masih saja duduk dengan penuh menyimpan pertanyaan di dalam dadanya. Ia masih belum tahu hubungan yang jelas antara seonggok rumput itu dengan tamu Ken Arok semalam. Sejenak mereka saling berdiam diri. Ki Buyut Panawijen hanya mengangguk-anggukkan kapalanya saja, karena ia tidak tahu ujung pangkal dari pembicaraan mereka tentang tamu yang dibawa oleh kedua prajurit itu.
Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Ken Arok datar, “Aku minta maaf kepada kalian. Mungkin kalian menjadi gelisah atau cemas. Aku memang terlampau tergesa-gesa.” Kedua prajurit itu saling berpandangan, tetapi keduanya tidak menjawab. Dan karena keduanya diam saja, maka Ken Arok meneruskan, “Sampaikan pula kepada setiap prajurit Panawijen yang ikut menjadi gelisah pula seperti kalian. Aku yakin bahwa mereka kini masih saja diliputi oleh pertanyaan tentang diri kalian berdua. Nah, sekarang kembalilah kalian ke gubug kalian. Sampaikan permintaan maafku kepada semua prajurit.”
Sekali lagi kedua prajurit itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”
Ken Arok berpaling sejenak, memandangi seonggok rumput di samping pembaringannya. Katanya, “Dalam kegelisahan aku terlampau cepat menjadi marah. Apa yang kalian lihat di sini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kalian. Kalian tidak usah berpikir tentang rumput kering itu. Itu pasti pokal tamu semalam. Aku kira ia pergi ketika aku sedang berada di sendang yang sedang dibuat itu. Dan tamuku itu pulalah yang telah membawa seluruh pakaianku dan menggantinya dengan seonggok rumput kering.”
Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Ki Buyut Panawijen mengangguk-anggukkan pula sambil berkata, “Oh, jadi semalam Angger kedatangan seorang tamu yang pergi tanpa pamit?”
“Begitulah Ki Buyut.”
“Siapakah tamu Angger itu? Dan apakah Angger yakin bahwa tamu Angger itu yang telah berbuat?”
Ken Arok terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan hubungan antara dirinya dengan Bango Samparan. Ia sendiri sebenarnya tidak ingin mendengar tentang hubungan yang pernah terjadi itu. Bukan karena ia ingkar dan tidak mengenal terima kasih tetapi ia ingin menjauhkan diri dari setiap pengaruh yang akan dapat menyeretnya ke dalam dunia yang hitam. Kalau ia kini terseret ke dalam dunianya yang lama, maka kejahatan yang akan dapat dilakukan pasti akan lebih dahsyat dari masa-masa sebelumnya. Ia kini memiliki pedang di lambung, memiliki kekuasaan meskipun tidak terlampau besar, dan memiliki pengaruh yang cukup atas beberapa orang prajurit.
Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen sehingga sekenanya ia bergumam, “Bango Samparan adalah seorang kawan, Ki Buyut.”
“Em,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Sama sekali tidak terlintas sejumput prasangka pun atas jawaban itu. Namun Ken Arok yang merasa tidak mengatakan sebenarnya itu menjadi semakin gelisah. Tanpa sesadarnya ia menyambung, “Kawan yang agak dekat di masa-masa lalu. Tetapi kami tidak sejalan dalam angan-angan dan perbuatan.”
“Em” Ki Buyut masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ken Arok masih saja diburu oleh kegelisahannya sendiri.
“Tetapi, kami sudah lama sekali berpisah Ki Buyut,” tergagap Ken Arok berkata terus, “dan sebenarnya aku tidak ingin lagi bertemu dengan orang itu.”
“Em,” Ki Buyut mengangguk-angguk terus.
“Aku menyesal bahwa ia datang kemari semalam. Orang itu benar-benar gila. Ia datang dengan kegilaannya.”
“Em,” Ki Buyut masih mengangguk-angguk, tetapi ia heran melihat sikap Ken Arok yang tiba-tiba menjadi semakin tegang. Keheranan Ki Buyut Panawijen itu terpancar di dalam sorot matanya. Namun Ken Arok menangkap sorot mata itu dengan alas kegelisahan, sehingga Ken Arok merasa, seakan-akan Ki Buyut Panawijen itu tidak mempercayainya.
“Ki Buyut, aku berkata sebenarnya. Aku berkata apa yang sebenarnya terjadi.” Ki Buyut menjadi semakin heran. Namun ia tidak segera menjawab. “Kenapa Ki Buyut tidak percaya, he?”
“Oh,” Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga hampir-hampir ia terlonjak dari duduknya. Kening yang telah mulai berkerut dilukisi oleh garis-garis ketuaannya, menjadi semakin berkerut-merut. “Kenapa aku tidak percaya Ngger, kenapa? Aku percaya kepada Angger. Bahkan aku mempercayakan seluruhnya kepadamu. Sepeninggal Mahisa Agni, maka segenap kepercayaan ada padamu, Ngger.”
“Tetapi sorot mata Ki Buyut itu.”
“Oh,” Ki Buyut menjadi semakin bingung, “bagaimana dengan sorot mataku. Apakah sorot mataku mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mempercayaimu? Oh, aku tidak tahu bagaimana aku harus memandang Angger.”
Jawaban itu terasa telah menghujam ke dalam jantung Ken Arok. Sejenak Ken Arok terbungkam. Ia dapat merasakan kejujuran yang terpancar dari jawaban Ki Buyut yang tua itu. Sehingga karena itu, maka disadarinya, betapa ia menjadi cemas dan bingung karena Bango Samparan.
Terpatah-patah Kep Arok itu kemudian berkata, “Maaf Ki Buyut, maaf. Aku telah bena-benar menjadi bingung.”
Ki Buyut Panawijen tidak segera menyahut. Dipandanginya saja anak muda itu dengan beribu pertanyaan di dalam dadanya. Tetapi kemudian orang tua itu pun dapat menangkap kegelisahan yang sangat telah mengganggu Ken Arok.
Tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Tinggalkan aku sendiri. Tinggalkan aku sendiri.”
Prajurit yang berada di dalam gubug itu saling berpandangan. Dan mereka mendengar Ken Arok berkata, “Kenapa kalian berdua belum juga meninggalkan tempat ini? Aku sudah minta maaf kepada kalian, bahkan aku pesan kepadamu berdua, aku minta maaf pula kepada setiap prajurit yang menjadi gelisah dan tersinggung karena sikapku. Aku sudah berkata pula, bahwa yang mengambil semua pakaianku dan menggantinya dengan rumput-rumput kering adalah tamuku semalam. Nah, tinggalkan aku.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu suaranya menurun lemah, “Tetapi semuanya ini bukan lelucon yang menyenangkan.”
Kedua prajurit itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Kami minta diri.”
“Silakan. Aku minta maaf untuk kesekian kalinya.”
Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan gubug itu. Beberapa langkah mereka berpaling. Ketika sekali lagi mereka saling berpandangan, maka merekapun menggeleng-gelengkan kepala masing-masing. Mereka seolah-olah saling bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi, tetapi mereka pun bersama-sama menyadari bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Ken Arok dan tamunya.
Meskipun kedua prajurit itu telah meninggalkan gubug Ken Arok, namun Ki Buyut masih saja duduk di samping Ken Arok. Ia sebenarnya ingin mengetahui, kenapa anak muda itu menjadi sangat gelisah. Tetapi Ki Buyut tidak berani bertanya kepadanya. Sesaat mereka duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kepala-kepala mereka menunduk dan angan-angan mereka mengembara ke dunia yang tidak dapat mereka jajagi.
Malam yang sepi itu pun menjadi semakin sepi. Nyala pelita minyak masih saja berayun-ayun dibelai padang. Lamat-lamat di kejauhan terdengar derik belalang, dan sekali-sekali terdengar lolong anjing liar dan keluhan burung kedasih. Tetapi betapa malam diselimuti oleh kesenyapan yang ngelangut, namun Ken Arok masih juga dikejar oleh kegelisahannya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai dirinya supaya tidak lagi menyinggung perasaan orang lain yang tidak bersangkut-paut dan tidak mengerti sama sekali persoalan Bango Samparan.
Ki Buyut Panawijen, seorang yang telah cukup banyak makan asin pahitnya kehidupan, dapat menghubungkan kegelisahan Ken Arok itu dengan tamunya semalam, yang menurut dugaan Ken Arok telah membawa segenap sisa pakaiannya, kecuali yang dipakainya itu. Tetapi Ki Buyut pun menyangka, bahkan hampir meyakininya, bahwa sebenarnya kegelisahan Ken Arok bukan hanya sekadar karena pakaiannya itu lenyap. Anak muda itu telah berkata, bahwa ia akan dapat meminjam kepada orang lain kemudian kembali ke Tumapel untuk mengambil pakaiannya yang lain atau minta kepada Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi yang lain itulah yang agaknya tidak hendak dikatakannya. Yang lain itu pulalah yang sangat menggelisahkannya.
Namun ternyata Ken Arok yang hampir tidak pernah menahan sesuatu perasaan apa pun di masa lampaunya, terlampau sukar untuk menyembunyikan kegelisahannya. Di masa lampau ia akan berbuat apa saja yang terbersit dibatinya. Ia akan berteriak apabila ia ingin berteriak. Ia akan berkelahi apabila ia ingin berkelahi. Ia akan mencegat dan menangkap gadis-gadis apabila dikehendaki. Bahkan ia akan membunuh apabila keinginan itu timbul di dalam benaknya.
Perlahan-lahan ia telah berhasil menyingkir dari dunianya yang kelam itu. Namun untuk menahan dadanya digetarkan oleh perasaan gelisah dan pepat, adalah terlampau sulit baginya. Karena itu, maka tanpa disangka-sangka oleh Ki Buyut Panawijen, Ken Arok itu kemudian berkata,
“Ki Buyut, aku telah berbohong. Aku telah mencoba membohongi Ki Buyut.”
Ki Buyut mengangkat wajahnya. Kini ia tahu, kenapa Ken Arok menyangkanya, bahwa ia tidak mempercayai kata-kata anak muda itu. Orang yang telah cukup berumur itu segera dapat mengerti apa yang menyebabkan Ken Arok berbuat demikian. Perasaannya sendirilah yang mengatakannya bahwa ia telah berbohong, bahwa kata-katanya itu tidak dapat dipercaya. Namun karena itu pula Ki Buyut Panawijen menjadi kagum akan kejujuran hatinya. Hatinya yang masih cukup terbuka dalam kesederhanaannya.
“Ki Buyut,” berkata Ken Arok terbata-bata. “Bango Samparan sama sekali bukan hanya sekadar temanku.”
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Bango Samparan itu mempunyai kedudukan yang khusus di hati Ken Arok, sehingga kehadirannya telah membuat anak muda itu kebingungan. Dan sebelum Ki Buyut berkata, Ken Arok meneruskan,
“Tetapi bahwa ia yang telah mengambil pakaianku dapat aku yakini. Bango Samparan memang mempunyai sifat yang demikian. Dan itulah yang menakutkan aku. Aku tidak mau lagi disentuh oleh racun-racun yang pernah menghujam di dalam benakku di masa kanak-kanakku. Ki Buyut, Bango Samparan seorang penjudi besar, tetapi seorang perampok kecil-kecilan itu, adalah ayah angkatku.”
Ki Buyut Panawijen masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin jelas akan persoalan anak muda itu. Anak muda yang ketakutan melihat bayang-bayang yang pernah menyelimutinya di masa kanak-kanak, dan yang kini tiba-tiba saja telah muncul kembali. Tetapi Ki Buyut Panawijen masih belum menanggapinya. Ia masih saja berdiam diri sambil memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Ken Arok.
Dan Ken Arok itu berkata terus, “Dan ayah angkatku itu, seperti ayah angkatku yang lain, Lembong, telah membentukku menjadi seekor serigala yang liar, yang hidup berkeliaran tanpa landasan. Sekali-sekali aku jumpai juga orang-orang yang baik, seorang yang mengajarku mengenai beberapa hal, bahkan sampai pada masalah kepandaian ilmu dan kesusasteraan. Tetapi tak seorang pun yang langsung memperhatikan masalah kerokhanian. Sehingga suatu ketika aku bertemu dengan orang-orang yang aku anggap aneh, yang memberikan pengertian yang lain, yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Namun, kini tiba-tiba orang semacam Bango Samparan itu muncul kembali.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan orang tua itu berkata, “Anakmas, kehadiran orang-orang yang tidak kau kehendaki itu, jadikanlah alat untuk melihat diri sendiri. Bukankah kehadiran Bango Samparan dapat memberikan sekadar kenangan atas masa lampau itu. Dan Angger sudah menyadari bahwa masa lampau itu sama sekali tidak menyenangkan? Nah, dengan demikian maka Angger akan dapat semakin menjauhkan diri dari kehidupan masa lampau itu, dengan menghayati hidup ini dengan sebaik-baiknya. Hidup yang telah kau ketemukan dengan cara dan jalan yang kau kehendaki.”
Kini Ken Aroklah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk memahami kata-kata orang tua itu. Mempergunakan keadaan ini untuk semakin meyakini jalan hidupnya yang kini menjadi semakin baik dan terang.
Ken Arok mengatupkan giginya rapat-rapat ketika terngiang kembali suara Bango Samparan, “Nasibmu terlampau baik Ken Arok.” Dan Bango Samparan itu menganggapnya menyia-nyiakan nasib yang baik itu. Nasib yang terlampau baik.
“Anakmas,” berkata Ki Buyut, “memang kita seakan-akan dibiarkan berdiri di persimpangan jalan. Kita di-wenang-kan untuk memilih sendiri jalan yang harus kita tempuh. Tetapi kita sudah mendapat petunjuk, ke mana jalan-jalan itu akan menuju.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah juga mendengar dahulu pada saat ia masih mengembara di Padang Karautan, bahwa jalan yang menuju ke arah keselamatan abadi, bukanlah jalan yang paling luas dan rata. Bukan pula jalan yang dianut oleh jumlah yang lebih banyak. Tetapi adalah suatu keyakinan tentang keselamatan abadi, betapapun jeleknya yang harus dilalui, betapapun sunyinya, namun keyakinan itu harus digenggamnya. Beribu-ribu orang yang lebih senang melalui jalan yang dipenuhi oleh kenikmatan duniawi, tetapi hanya satu-dua orang saja yang meletakkan harapannya pada kenikmatan abadi.
Kenangan itu, serta kata-kata Ki Buyut yang telah menanjak menginjak hari-hari tuanya, ternyata mampu memberikan ketenteraman hati anak muda itu. Ia tidak lagi takut mendengar kata-kata Bango Samparan. Seandainya kini Bango Samparan datang lagi kepadanya dan mengulangi semua kata-katanya, maka hati Ken Arok tidak akan goncang lagi. Ia tidak perlu takut lagi seandainya mendengar Bango Samparan berkata kepadanya, bahwa nasibnya terlampau baik, sehingga hampir setiap keinginannya terpenuhi. Bahkan seandainya ia ingin menjadi seorang Akuwu atau Maharaja Kediri sekalipun.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran sendiri, bahwa ia menjadi sedemikian bingung menghadapi Bango Samparan, sehingga hampir-hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas suatu tugas yang berat, maka keadaannya itu sangat membahayakannya. Bukan saja atas dirinya sendiri, tetapi atas seluruh pekerjaan dan orang-orang yang berada di dalam tanggung jawabnya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Ken Arok kemudian berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Aku mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan aku akan selalu dapat mempertimbangkan keseimbangan perasaanku.”
Kini, Ki Buyut yang selama itu menjadi tegang, tampak tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Ah, sudahlah Angger. Setiap peristiwa akan dapat dijadikan pengalaman yang baik asal kita dapat menempatkan pada tempat yang wajar. Selamat malam, aku akan kembali dan beristirahat. Besok kita masih harus bekerja keras. Bendungan itu hampir siap. Kalau air sudah mengalir lewat induk susukan yang membelah padang ini, maka kita tidak perlu mengangkat air dengan lodong-lodong bambu untuk setiap hari menyiram pepohonan yang sudah mulai rimbun itu, terutama di taman yang sedang dipersiapkan.”
“Ya Ki Buyut,” sahut Ken Arok yang wajahnya pun kini menjadi terang, “aku mengharap demikian. Aku mengharap bahwa enam bulan lagi pepohonan itu telah menjadi cukup rimbun. Sawah-sawah telah dapat digenangi air, dan pategalan telah menjadi hijau. Meskipun tanaman-tanamannya belum cukup tinggi, tetapi pemandangan di daerah ini telah berubah sama sekali. Semuanya akan tampak hijau segar.”
“Begitulah Ngger. Mudah-mudahan,” desis Ki Buyut. “Dan kini aku minta diri.”
Ki Buyut itu pun kemudian meninggalkan Ken Arok seorang diri. Sesaat Ken Arok masih duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba mencernakan pengalaman yang aneh ini. Tetapi kemudian ia berdiri sambil bergumam, “Suatu pelajaran yang baik.”
Tanpa disadarinya maka mulailah tangannya menyambar makanan yang disediakan untuknya. Ia belum sempat memakannya, karena sejak ia kembali ke gubugnya, ia menjadi sibuk karena seonggok rumput kering.
“Gila benar Bango Samparan,” Ken Arok menggerutu. Tetapi kali ini tidak karena kata-katanya yang dapat meracuni dirinya, tetapi karena tubuhnya yang menjadi gatal-gatal.
“Aku harus mencari ganti pakaian,” gumamnya kemudian sambil mengunyah makanannya. “Kalau tidak maka sisa malam ini tidak akan dapat aku pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat.”
Dan malam itu Ken Arok terpaksa membangunkan seorang prajurit yang terdekat dari gubugnya untuk meminjam pakaian. Tetapi agaknya prajurit itu terlampau malas sehingga pakaiannya yang tidak dipakainya semuanya masih belum dicucinya, kecuali sepasang yang akan dipakainya sendiri besok. Sambil bersungut-sungut Ken Arok terpaksa membangunkan orang lain dan meminjam pakaian dari padanya.
Hari-hari berikutnya maka Ken Arok seolah-olah mendapat dorongan untuk bekerja lebih keras. Dari hari ke hari, maka kedatangan Bango Samparan telah dilupakannya. Ia telah mendengar laporan dari kedua orang prajurit yang melaporkan hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Dan ia telah menyuruh dua orang yang lain untuk mengambil pakaiannya yang ditinggalkannya di baraknya di Tumapel.
Bahkan Ken Arok telah mengirim orang yang lain untuk menyampaikan rencananya kepada Akuwu Tunggul Ametung supaya pekerjaannya tidak terlambat. Ken Arok minta dikirim beberapa kelompok prajurit untuk membantunya, mengerjakan pekerjaannya yang akan dilakukannya siang dan malam.
Sehari demi sehari telah terlampaui. Saat perkawinan agung menjadi semakin dekat. Betapa hati Ken Dedes menjadi semakin sedih, namun ia tidak dapat menunda hari-hari yang telah ditentukan, bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan teliti. Setiap kali ia hanya dapat menumpahkan kepahitan hatinya kepada emban pemomong-nya yang dibawanya dari Panawijen. Terhadap emban yang lain, bahkan terhadap Madri yang selalu melayaninya dengan baik, ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Emban tua yang dibawanya dari Panawijen itu selalu berusaha untuk menghiburnya, membesarkan hatinya, dan menasihatinya supaya gadis itu mendapatkan ketenteraman.
“Adalah lebih baik demikian Tuan Puteri,” berkata emban itu suatu kali, “lebih baik perkawinan itu segera terjadi. Bukankah Tuan telah berada di sini cukup lama? Apakah kata orang apabila hal itu akan berkepanjangan. Betapapun juga Akuwu adalah seorang laki-laki muda, sedangkan Tuan Puteri adalah seorang gadis yang cantik.”
“Ah,” Ken Dedes berdesah, tetapi emban tua itu segera memotongnya, “sudah tentu Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan menjaga diri masing-masing. Namun orang-orang di luar istana, apalagi yang tidak senang melihat kehadiran Tuan Puteri di sini, akan dapat mengatakan hal-hal yang tidak baik. Seolah-olah Tuanku bukanlah seorang permaisuri. Seolah-olah Tuan Puteri hanya sekadar seorang selir.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, dan ia dapat mengerti kata-kata emban pemomong-nya. Apabila demikian, sejenak ia dapat menahan hatinya, pasrah diri dalam kepahitan. Namun setiap kali, kerinduannya kepada kakaknya, yang dianggap tinggal satu-satunya keluarganya itu sangat mengganggunya. Dalam upacara agung, maka kenang-kenangan yang demikian pasti tidak akan dapat disingkirkannya, sehingga dalam keramaian peralatan agung, dalam kerinduan dan kegembiraan yang meluap-luap di seluruh Tumapel, ia akan merasa semakin sepi.
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis, “Ya bibi, mudah-mudahan aku dapat menemukan perasaan itu. Mudah-mudahan aku dapat melepaskan rinduku kepada kakang Mahisa Agni setelah aku mempunyai seorang suami.”
Emban tua itu menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. “Demikianlah hendaknya Tuan Puteri,” katanya, namun hatinya menjerit setinggi langit. Apakah benar-benar terjadi, Mahisa Agni akan dilupakannya? O, alangkah malang nasib anak itu.
Dalam pada itu, Ken Dedes sendiri seolah-olah menemukan suatu anggapan baru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Kekecewaannya telah mendorongnya untuk menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seseorang yang terlampau mementingkan diri sendiri.
Tetapi tak seorang pun yang dapat menahan majunya waktu. Hari-hari pun telah terlampaui, dan saat yang telah ditunggu-tunggu oleh segenap rakyat Tumapel itu terjadilah. Datanglah saatnya Tumapel mengadakan peralatan agung. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung mengambil seorang permaisuri. Putra seorang pendeta dari Padepokan Panawijen. Namun beberapa mulut berdesah di antara rakyat Tumapel,
“Sayang bahwa gadis itu seorang gadis yatim-piatu. Ibunya sudah tidak ada lagi, dan ayahnya hilang tidak diketahui ke mana perginya. Satu-satunya kakaknya pun hilang ditelan oleh para penjahat.”
Tetapi dengan demikian, dengan perasaan iba di hati, rakyat Panawijen menyambut bakal permaisurinya dengan ikhlas. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa keprihatinan gadis bakal permaisuri itu pasti akan bermanfaat bagi Tumapel.
Dalam upacara-upacara yang besar itu, Ken Dedes selalu berusaha untuk menahan gelora perasaannya. Untuk menyembunyikan kepahitan hati serta kerinduannya kepada keluarganya. Kadang-kadang ia tidak dapat menahan desakan air matanya, sehingga setitik-setitik menetes di pangkuannya. Kadang-kadang bayangan wajah ayahnya yang tua membayanginya, kemudian disusul oleh kenangan atas Mahisa Agni yang kekar dan perkasa, yang telah melepaskannya dari berbagai macam bencana. Terbayang pula masa kanak-kanaknya yang riang penuh gairah di Padepokan Panawijen bersama para endang. Bermain-main di tepian sambil melihat gemerciknya air sungai yang mengalir lambat di antara batu-batu yang menjorok. Mencuci sambil berdendang di bendungan. Sayup-sayup terdengar seruling para gembala di antara gemersiknya angin pagi.
Ken Dedes merasakan kenikmatan hidup dalam kesederhanaan itu. Dan kini ia harus mencoba menikmati hidup dalam kemewahan duniawi yang melimpah-limpah. Pada hari-hari upacara perkawinan agung itu, seluruh Tumapel seolah-olah telah diselimuti oleh kegembiraan yang merata. Seolah-olah tidak ada lagi kesedihan, duka, dan kepahitan hidup. Rakyat yang paling miskin sampai yang paling kaya, mencoba untuk bergembira menyambut perkawinan Akuwu Tunggul Ametung.
Tujuh hari tujuh malam Tumapel bermandikan suasana perkawinan. Hampir di setiap banjar padesan dan padukuhan terdapat berbagai macam keramaian. Umbul-umbul dan rontek berjajar di sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Di pinggir-pinggir desa anak-anak meneriakkan keriangan hati mereka sambil menggenggam berbagai macam makanan dan permainan. Regol-regol desa dihiasi dengan berbagai macam bentuk hiasan janur dan dedaunan. Setiap wajah rakyat Tumapel menjadi cerah. Mereka tidak memikirkan kesulitan hidup yang kadang-kadang mereka jumpai. Mereka melupakan sejenak kesibukan mereka sehari-hari. Kesibukan kerja untuk menghidupi keluarga mereka.
Tetapi wajah Ken Dedes sendiri tidak secerah wajah rakyat yang menyambut pengangkatannya menjadi seorang permaisuri. Setiap saat dikenangnya ayahnya, ibunya yang tidak dapat diingatnya dengan jelas. Dan yang menyedihkan baginya adalah Mahisa Agni yang hidup dan matinya masih belum dapat diketahui.
“Kalau kakang Mahisa Agni ada, maka ia sedikit banyak akan dapat ikut menikmati kemeriahan hari-hari perkawinan ini,” desisnya, “tetapi aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya saat-saat ini. Mungkin ia masih terikat pada sebatang tonggak. Mungkin ia baru mengalami siksaan badani, dan bahkan mungkin di luar kekuatan daya tahannya. Atau mungkin juga ia sudah terbujur mati tanpa seorang pun yang mengurusnya.”
Hati Ken Dedes menjadi semakin pedih ketika ternyata Akuwu Tunggul Ametung tidak dapat ikut mengerti kepahitan yang dirasakannya. Bahkan sekali-sekali Tunggul Ametung menegurnya,
“Ken Dedes, setiap orang di Tumapel merayakan hari bahagia ini. Setiap orang bergembira. Tetapi kau sendiri ternyata menyambut hari-hari yang cerah ini dengan wajah yang kusut.”
Ken Dedes tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Setiap kali ia mencoba untuk menunjukkan kegembiraannya. Apalagi di hadapan para tamu-tamu agung yang berdatangan ke istana pada upacara-upacara resmi. Para pendeta, para pemimpin pemerintahan, para panglima dan senapati, dan para tamu dari luar Tumapel yang ikut merayakan hari yang berbahagia itu.
Tetapi apabila upacara-upacara semacam itu sudah selesai. Apabila para tamu telah tidak ada lagi di Istana Tumapel dan tidak lagi terdengar suara gamelan yang mengiringi gadis-gadis menarikan tari-tari yang riang penuh gairah hidup menyambut perkawinan agung, maka Ken Dedes kembali ke dalam biliknya dengan wajah yang suram.
Setelah para emban membantunya melepaskan pakaian kebesaran yang berkilauan seperti matahari, setelah para emban membantunya mengenakan pakaian sehari-hari seorang permaisuri, maka Ken Dedes itu menelungkupkan kepalanya di pangkuan pemomong-nya. Para emban yang meninggalkannya di dalam biliknya berdua dengan emban tua yang dibawanya dari Panawijen, masih mendengar gadis itu terisak-isak. Namun sambil tersenyum para emban itu saling berbisik,
“Oh, alangkah bahagianya gadis Panawijen itu. Ia menangisi kurnia yang tidak pernah diimpikannya di masa kanak-kanak. Sebagai seorang gadis padepokan yang terpencil, maka ia kini berada di sentong tengen Istana Tumapel. Kegembiraan yang meledak telah menyebabkan ia tidak dapat menahan diri. Bukankah kalian mendengar Tuan Puteri itu menangis?”
“Ah, bukankah itu sudah sewajarnya? Kau pun akan menangis seandainya tiba-tiba kau diambil menjadi seorang isteri senapati saja. Apalagi menjadi seorang permaisuri. Kau pasti tidak akan dapat merasakan betapa bahagianya, sebab kau akan mati membeku karena kegirangan.”
“Uh, kalau benar aku menjadi isterti seorang senapati maka kau aku beri anugerah. Prajurit suamiku yang paling tampan akan mengambilmu menjadi selirnya.”
“Ah, tidak mau.”
Para emban itu pun kemudian tertawa. Meskipun mereka mencoba untuk menahan suara tertawa mereka, namun para prajurit yang berada di belakang istana mendengarnya. Ketika prajurit-prajurit itu berpaling, dilihatnya beberapa orang emban lewat melintasi halaman belakang.
“Uh,” desah salah seorang dari prajurit-prajurit itu, “kalian mengenakan pakaian yang paling indah yang kalian punyai. Tetapi kalian tidak membawa makanan yang paling enak untuk kami yang bertugas di gardu-gardu perondan.”
“Kami tidak mengurusi makanmu,” sahut salah seorang emban itu.
“Ya, mungkin lain kali kau akan mengurusi makananku.”
“Tidak mungkin. Aku bukan emban madaran. ”
“Siapa tahu kalau kau kelak menjadi isteriku.”
“Hus, jangan terlampau perasa. Bercerminlah di belumbang sebelah. Kau akan melihat wajahmu sendiri yang jelek itu.” Prajurit itu tidak marah. Tetapi justru ia tertawa lebih keras dari suara para emban.
Pemimpin peronda istana pada saat itu mendengar suara tertawa prajuritnya. Tetapi kali ini dibiarkannya saja para prajurit dan emban tertawa terlampau keras. Seluruh Tumapel memang sedang tertawa. Di alun-alun di muka istana itu pun sedang diadakan berbagai macam pertunjukan. Di bawah pohon beringin. Di malam hari Tumapel memancarkan sinar beribu-ribu obor di sepanjang jalan, di regol-regol, dan di banjar-banjar. Seolah-olah Tumapel ingin bersaing dengan wajah langit yang biru, yang ditaburi oleh berjuta-juta bintang-bintang yang gemerlapan.
Tetapi Tumapel tidak mendengarkan suara hati seorang gadis yang sedang disambutnya. Hanya emban tua pemomong-nya sajalah yang dapat ikut menitikkan air mata. Tetapi air mata itu adalah juga air mata kesedihannya sendiri, karena ia pun sedang menangisi anak satu-satunya yang hilang tak tentu lintang bujurnya.
Demikianlah maka wajah dan hati keputren Istana Tumapel itu tidak sejalan. Wajah yang cerah bercahaya karena rerangken dan perhiasan yang cemerlang. Tetapi hati permaisuri itu sendiri menjadi suram. Namun setiap kali emban pemomong-nya berkata,
“Tuan Puteri, lambat-laun Tuan Puteri pasti akan menemukan kegembiraan Tuan kembali. Kesibukan Tuan Puteri sebagai seorang permaisuri pasti akan mendesak segala macam kerinduan Tuan Puteri kepada orang-orang yang Tuan kasihi. Ayah bunda dan kakanda Tuan yang hilang itu.”
Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Ken Arok datar, “Aku minta maaf kepada kalian. Mungkin kalian menjadi gelisah atau cemas. Aku memang terlampau tergesa-gesa.” Kedua prajurit itu saling berpandangan, tetapi keduanya tidak menjawab. Dan karena keduanya diam saja, maka Ken Arok meneruskan, “Sampaikan pula kepada setiap prajurit Panawijen yang ikut menjadi gelisah pula seperti kalian. Aku yakin bahwa mereka kini masih saja diliputi oleh pertanyaan tentang diri kalian berdua. Nah, sekarang kembalilah kalian ke gubug kalian. Sampaikan permintaan maafku kepada semua prajurit.”
Sekali lagi kedua prajurit itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”
Ken Arok berpaling sejenak, memandangi seonggok rumput di samping pembaringannya. Katanya, “Dalam kegelisahan aku terlampau cepat menjadi marah. Apa yang kalian lihat di sini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kalian. Kalian tidak usah berpikir tentang rumput kering itu. Itu pasti pokal tamu semalam. Aku kira ia pergi ketika aku sedang berada di sendang yang sedang dibuat itu. Dan tamuku itu pulalah yang telah membawa seluruh pakaianku dan menggantinya dengan seonggok rumput kering.”
Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Ki Buyut Panawijen mengangguk-anggukkan pula sambil berkata, “Oh, jadi semalam Angger kedatangan seorang tamu yang pergi tanpa pamit?”
“Begitulah Ki Buyut.”
“Siapakah tamu Angger itu? Dan apakah Angger yakin bahwa tamu Angger itu yang telah berbuat?”
Ken Arok terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan hubungan antara dirinya dengan Bango Samparan. Ia sendiri sebenarnya tidak ingin mendengar tentang hubungan yang pernah terjadi itu. Bukan karena ia ingkar dan tidak mengenal terima kasih tetapi ia ingin menjauhkan diri dari setiap pengaruh yang akan dapat menyeretnya ke dalam dunia yang hitam. Kalau ia kini terseret ke dalam dunianya yang lama, maka kejahatan yang akan dapat dilakukan pasti akan lebih dahsyat dari masa-masa sebelumnya. Ia kini memiliki pedang di lambung, memiliki kekuasaan meskipun tidak terlampau besar, dan memiliki pengaruh yang cukup atas beberapa orang prajurit.
Tetapi ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen sehingga sekenanya ia bergumam, “Bango Samparan adalah seorang kawan, Ki Buyut.”
“Em,” Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Sama sekali tidak terlintas sejumput prasangka pun atas jawaban itu. Namun Ken Arok yang merasa tidak mengatakan sebenarnya itu menjadi semakin gelisah. Tanpa sesadarnya ia menyambung, “Kawan yang agak dekat di masa-masa lalu. Tetapi kami tidak sejalan dalam angan-angan dan perbuatan.”
“Em” Ki Buyut masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ken Arok masih saja diburu oleh kegelisahannya sendiri.
“Tetapi, kami sudah lama sekali berpisah Ki Buyut,” tergagap Ken Arok berkata terus, “dan sebenarnya aku tidak ingin lagi bertemu dengan orang itu.”
“Em,” Ki Buyut mengangguk-angguk terus.
“Aku menyesal bahwa ia datang kemari semalam. Orang itu benar-benar gila. Ia datang dengan kegilaannya.”
“Em,” Ki Buyut masih mengangguk-angguk, tetapi ia heran melihat sikap Ken Arok yang tiba-tiba menjadi semakin tegang. Keheranan Ki Buyut Panawijen itu terpancar di dalam sorot matanya. Namun Ken Arok menangkap sorot mata itu dengan alas kegelisahan, sehingga Ken Arok merasa, seakan-akan Ki Buyut Panawijen itu tidak mempercayainya.
“Ki Buyut, aku berkata sebenarnya. Aku berkata apa yang sebenarnya terjadi.” Ki Buyut menjadi semakin heran. Namun ia tidak segera menjawab. “Kenapa Ki Buyut tidak percaya, he?”
“Oh,” Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga hampir-hampir ia terlonjak dari duduknya. Kening yang telah mulai berkerut dilukisi oleh garis-garis ketuaannya, menjadi semakin berkerut-merut. “Kenapa aku tidak percaya Ngger, kenapa? Aku percaya kepada Angger. Bahkan aku mempercayakan seluruhnya kepadamu. Sepeninggal Mahisa Agni, maka segenap kepercayaan ada padamu, Ngger.”
“Tetapi sorot mata Ki Buyut itu.”
“Oh,” Ki Buyut menjadi semakin bingung, “bagaimana dengan sorot mataku. Apakah sorot mataku mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mempercayaimu? Oh, aku tidak tahu bagaimana aku harus memandang Angger.”
Jawaban itu terasa telah menghujam ke dalam jantung Ken Arok. Sejenak Ken Arok terbungkam. Ia dapat merasakan kejujuran yang terpancar dari jawaban Ki Buyut yang tua itu. Sehingga karena itu, maka disadarinya, betapa ia menjadi cemas dan bingung karena Bango Samparan.
Terpatah-patah Kep Arok itu kemudian berkata, “Maaf Ki Buyut, maaf. Aku telah bena-benar menjadi bingung.”
Ki Buyut Panawijen tidak segera menyahut. Dipandanginya saja anak muda itu dengan beribu pertanyaan di dalam dadanya. Tetapi kemudian orang tua itu pun dapat menangkap kegelisahan yang sangat telah mengganggu Ken Arok.
Tiba-tiba orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut ketika Ken Arok berkata, “Tinggalkan aku sendiri. Tinggalkan aku sendiri.”
Prajurit yang berada di dalam gubug itu saling berpandangan. Dan mereka mendengar Ken Arok berkata, “Kenapa kalian berdua belum juga meninggalkan tempat ini? Aku sudah minta maaf kepada kalian, bahkan aku pesan kepadamu berdua, aku minta maaf pula kepada setiap prajurit yang menjadi gelisah dan tersinggung karena sikapku. Aku sudah berkata pula, bahwa yang mengambil semua pakaianku dan menggantinya dengan rumput-rumput kering adalah tamuku semalam. Nah, tinggalkan aku.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu suaranya menurun lemah, “Tetapi semuanya ini bukan lelucon yang menyenangkan.”
Kedua prajurit itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Kami minta diri.”
“Silakan. Aku minta maaf untuk kesekian kalinya.”
Kedua prajurit itu pun kemudian meninggalkan gubug itu. Beberapa langkah mereka berpaling. Ketika sekali lagi mereka saling berpandangan, maka merekapun menggeleng-gelengkan kepala masing-masing. Mereka seolah-olah saling bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi, tetapi mereka pun bersama-sama menyadari bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang Ken Arok dan tamunya.
Meskipun kedua prajurit itu telah meninggalkan gubug Ken Arok, namun Ki Buyut masih saja duduk di samping Ken Arok. Ia sebenarnya ingin mengetahui, kenapa anak muda itu menjadi sangat gelisah. Tetapi Ki Buyut tidak berani bertanya kepadanya. Sesaat mereka duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kepala-kepala mereka menunduk dan angan-angan mereka mengembara ke dunia yang tidak dapat mereka jajagi.
Malam yang sepi itu pun menjadi semakin sepi. Nyala pelita minyak masih saja berayun-ayun dibelai padang. Lamat-lamat di kejauhan terdengar derik belalang, dan sekali-sekali terdengar lolong anjing liar dan keluhan burung kedasih. Tetapi betapa malam diselimuti oleh kesenyapan yang ngelangut, namun Ken Arok masih juga dikejar oleh kegelisahannya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai dirinya supaya tidak lagi menyinggung perasaan orang lain yang tidak bersangkut-paut dan tidak mengerti sama sekali persoalan Bango Samparan.
Ki Buyut Panawijen, seorang yang telah cukup banyak makan asin pahitnya kehidupan, dapat menghubungkan kegelisahan Ken Arok itu dengan tamunya semalam, yang menurut dugaan Ken Arok telah membawa segenap sisa pakaiannya, kecuali yang dipakainya itu. Tetapi Ki Buyut pun menyangka, bahkan hampir meyakininya, bahwa sebenarnya kegelisahan Ken Arok bukan hanya sekadar karena pakaiannya itu lenyap. Anak muda itu telah berkata, bahwa ia akan dapat meminjam kepada orang lain kemudian kembali ke Tumapel untuk mengambil pakaiannya yang lain atau minta kepada Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi yang lain itulah yang agaknya tidak hendak dikatakannya. Yang lain itu pulalah yang sangat menggelisahkannya.
Namun ternyata Ken Arok yang hampir tidak pernah menahan sesuatu perasaan apa pun di masa lampaunya, terlampau sukar untuk menyembunyikan kegelisahannya. Di masa lampau ia akan berbuat apa saja yang terbersit dibatinya. Ia akan berteriak apabila ia ingin berteriak. Ia akan berkelahi apabila ia ingin berkelahi. Ia akan mencegat dan menangkap gadis-gadis apabila dikehendaki. Bahkan ia akan membunuh apabila keinginan itu timbul di dalam benaknya.
Perlahan-lahan ia telah berhasil menyingkir dari dunianya yang kelam itu. Namun untuk menahan dadanya digetarkan oleh perasaan gelisah dan pepat, adalah terlampau sulit baginya. Karena itu, maka tanpa disangka-sangka oleh Ki Buyut Panawijen, Ken Arok itu kemudian berkata,
“Ki Buyut, aku telah berbohong. Aku telah mencoba membohongi Ki Buyut.”
Ki Buyut mengangkat wajahnya. Kini ia tahu, kenapa Ken Arok menyangkanya, bahwa ia tidak mempercayai kata-kata anak muda itu. Orang yang telah cukup berumur itu segera dapat mengerti apa yang menyebabkan Ken Arok berbuat demikian. Perasaannya sendirilah yang mengatakannya bahwa ia telah berbohong, bahwa kata-katanya itu tidak dapat dipercaya. Namun karena itu pula Ki Buyut Panawijen menjadi kagum akan kejujuran hatinya. Hatinya yang masih cukup terbuka dalam kesederhanaannya.
“Ki Buyut,” berkata Ken Arok terbata-bata. “Bango Samparan sama sekali bukan hanya sekadar temanku.”
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Bango Samparan itu mempunyai kedudukan yang khusus di hati Ken Arok, sehingga kehadirannya telah membuat anak muda itu kebingungan. Dan sebelum Ki Buyut berkata, Ken Arok meneruskan,
“Tetapi bahwa ia yang telah mengambil pakaianku dapat aku yakini. Bango Samparan memang mempunyai sifat yang demikian. Dan itulah yang menakutkan aku. Aku tidak mau lagi disentuh oleh racun-racun yang pernah menghujam di dalam benakku di masa kanak-kanakku. Ki Buyut, Bango Samparan seorang penjudi besar, tetapi seorang perampok kecil-kecilan itu, adalah ayah angkatku.”
Ki Buyut Panawijen masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin jelas akan persoalan anak muda itu. Anak muda yang ketakutan melihat bayang-bayang yang pernah menyelimutinya di masa kanak-kanak, dan yang kini tiba-tiba saja telah muncul kembali. Tetapi Ki Buyut Panawijen masih belum menanggapinya. Ia masih saja berdiam diri sambil memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Ken Arok.
Dan Ken Arok itu berkata terus, “Dan ayah angkatku itu, seperti ayah angkatku yang lain, Lembong, telah membentukku menjadi seekor serigala yang liar, yang hidup berkeliaran tanpa landasan. Sekali-sekali aku jumpai juga orang-orang yang baik, seorang yang mengajarku mengenai beberapa hal, bahkan sampai pada masalah kepandaian ilmu dan kesusasteraan. Tetapi tak seorang pun yang langsung memperhatikan masalah kerokhanian. Sehingga suatu ketika aku bertemu dengan orang-orang yang aku anggap aneh, yang memberikan pengertian yang lain, yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Namun, kini tiba-tiba orang semacam Bango Samparan itu muncul kembali.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan orang tua itu berkata, “Anakmas, kehadiran orang-orang yang tidak kau kehendaki itu, jadikanlah alat untuk melihat diri sendiri. Bukankah kehadiran Bango Samparan dapat memberikan sekadar kenangan atas masa lampau itu. Dan Angger sudah menyadari bahwa masa lampau itu sama sekali tidak menyenangkan? Nah, dengan demikian maka Angger akan dapat semakin menjauhkan diri dari kehidupan masa lampau itu, dengan menghayati hidup ini dengan sebaik-baiknya. Hidup yang telah kau ketemukan dengan cara dan jalan yang kau kehendaki.”
Kini Ken Aroklah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk memahami kata-kata orang tua itu. Mempergunakan keadaan ini untuk semakin meyakini jalan hidupnya yang kini menjadi semakin baik dan terang.
Ken Arok mengatupkan giginya rapat-rapat ketika terngiang kembali suara Bango Samparan, “Nasibmu terlampau baik Ken Arok.” Dan Bango Samparan itu menganggapnya menyia-nyiakan nasib yang baik itu. Nasib yang terlampau baik.
“Anakmas,” berkata Ki Buyut, “memang kita seakan-akan dibiarkan berdiri di persimpangan jalan. Kita di-wenang-kan untuk memilih sendiri jalan yang harus kita tempuh. Tetapi kita sudah mendapat petunjuk, ke mana jalan-jalan itu akan menuju.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah juga mendengar dahulu pada saat ia masih mengembara di Padang Karautan, bahwa jalan yang menuju ke arah keselamatan abadi, bukanlah jalan yang paling luas dan rata. Bukan pula jalan yang dianut oleh jumlah yang lebih banyak. Tetapi adalah suatu keyakinan tentang keselamatan abadi, betapapun jeleknya yang harus dilalui, betapapun sunyinya, namun keyakinan itu harus digenggamnya. Beribu-ribu orang yang lebih senang melalui jalan yang dipenuhi oleh kenikmatan duniawi, tetapi hanya satu-dua orang saja yang meletakkan harapannya pada kenikmatan abadi.
Kenangan itu, serta kata-kata Ki Buyut yang telah menanjak menginjak hari-hari tuanya, ternyata mampu memberikan ketenteraman hati anak muda itu. Ia tidak lagi takut mendengar kata-kata Bango Samparan. Seandainya kini Bango Samparan datang lagi kepadanya dan mengulangi semua kata-katanya, maka hati Ken Arok tidak akan goncang lagi. Ia tidak perlu takut lagi seandainya mendengar Bango Samparan berkata kepadanya, bahwa nasibnya terlampau baik, sehingga hampir setiap keinginannya terpenuhi. Bahkan seandainya ia ingin menjadi seorang Akuwu atau Maharaja Kediri sekalipun.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran sendiri, bahwa ia menjadi sedemikian bingung menghadapi Bango Samparan, sehingga hampir-hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas suatu tugas yang berat, maka keadaannya itu sangat membahayakannya. Bukan saja atas dirinya sendiri, tetapi atas seluruh pekerjaan dan orang-orang yang berada di dalam tanggung jawabnya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Ken Arok kemudian berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Aku mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan aku akan selalu dapat mempertimbangkan keseimbangan perasaanku.”
Kini, Ki Buyut yang selama itu menjadi tegang, tampak tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Ah, sudahlah Angger. Setiap peristiwa akan dapat dijadikan pengalaman yang baik asal kita dapat menempatkan pada tempat yang wajar. Selamat malam, aku akan kembali dan beristirahat. Besok kita masih harus bekerja keras. Bendungan itu hampir siap. Kalau air sudah mengalir lewat induk susukan yang membelah padang ini, maka kita tidak perlu mengangkat air dengan lodong-lodong bambu untuk setiap hari menyiram pepohonan yang sudah mulai rimbun itu, terutama di taman yang sedang dipersiapkan.”
“Ya Ki Buyut,” sahut Ken Arok yang wajahnya pun kini menjadi terang, “aku mengharap demikian. Aku mengharap bahwa enam bulan lagi pepohonan itu telah menjadi cukup rimbun. Sawah-sawah telah dapat digenangi air, dan pategalan telah menjadi hijau. Meskipun tanaman-tanamannya belum cukup tinggi, tetapi pemandangan di daerah ini telah berubah sama sekali. Semuanya akan tampak hijau segar.”
“Begitulah Ngger. Mudah-mudahan,” desis Ki Buyut. “Dan kini aku minta diri.”
Ki Buyut itu pun kemudian meninggalkan Ken Arok seorang diri. Sesaat Ken Arok masih duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba mencernakan pengalaman yang aneh ini. Tetapi kemudian ia berdiri sambil bergumam, “Suatu pelajaran yang baik.”
Tanpa disadarinya maka mulailah tangannya menyambar makanan yang disediakan untuknya. Ia belum sempat memakannya, karena sejak ia kembali ke gubugnya, ia menjadi sibuk karena seonggok rumput kering.
“Gila benar Bango Samparan,” Ken Arok menggerutu. Tetapi kali ini tidak karena kata-katanya yang dapat meracuni dirinya, tetapi karena tubuhnya yang menjadi gatal-gatal.
“Aku harus mencari ganti pakaian,” gumamnya kemudian sambil mengunyah makanannya. “Kalau tidak maka sisa malam ini tidak akan dapat aku pergunakan sebaik-baiknya untuk beristirahat.”
Dan malam itu Ken Arok terpaksa membangunkan seorang prajurit yang terdekat dari gubugnya untuk meminjam pakaian. Tetapi agaknya prajurit itu terlampau malas sehingga pakaiannya yang tidak dipakainya semuanya masih belum dicucinya, kecuali sepasang yang akan dipakainya sendiri besok. Sambil bersungut-sungut Ken Arok terpaksa membangunkan orang lain dan meminjam pakaian dari padanya.
Hari-hari berikutnya maka Ken Arok seolah-olah mendapat dorongan untuk bekerja lebih keras. Dari hari ke hari, maka kedatangan Bango Samparan telah dilupakannya. Ia telah mendengar laporan dari kedua orang prajurit yang melaporkan hilangnya Mahisa Agni ke Tumapel. Dan ia telah menyuruh dua orang yang lain untuk mengambil pakaiannya yang ditinggalkannya di baraknya di Tumapel.
Bahkan Ken Arok telah mengirim orang yang lain untuk menyampaikan rencananya kepada Akuwu Tunggul Ametung supaya pekerjaannya tidak terlambat. Ken Arok minta dikirim beberapa kelompok prajurit untuk membantunya, mengerjakan pekerjaannya yang akan dilakukannya siang dan malam.
Sehari demi sehari telah terlampaui. Saat perkawinan agung menjadi semakin dekat. Betapa hati Ken Dedes menjadi semakin sedih, namun ia tidak dapat menunda hari-hari yang telah ditentukan, bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan teliti. Setiap kali ia hanya dapat menumpahkan kepahitan hatinya kepada emban pemomong-nya yang dibawanya dari Panawijen. Terhadap emban yang lain, bahkan terhadap Madri yang selalu melayaninya dengan baik, ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Emban tua yang dibawanya dari Panawijen itu selalu berusaha untuk menghiburnya, membesarkan hatinya, dan menasihatinya supaya gadis itu mendapatkan ketenteraman.
“Adalah lebih baik demikian Tuan Puteri,” berkata emban itu suatu kali, “lebih baik perkawinan itu segera terjadi. Bukankah Tuan telah berada di sini cukup lama? Apakah kata orang apabila hal itu akan berkepanjangan. Betapapun juga Akuwu adalah seorang laki-laki muda, sedangkan Tuan Puteri adalah seorang gadis yang cantik.”
“Ah,” Ken Dedes berdesah, tetapi emban tua itu segera memotongnya, “sudah tentu Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan menjaga diri masing-masing. Namun orang-orang di luar istana, apalagi yang tidak senang melihat kehadiran Tuan Puteri di sini, akan dapat mengatakan hal-hal yang tidak baik. Seolah-olah Tuanku bukanlah seorang permaisuri. Seolah-olah Tuan Puteri hanya sekadar seorang selir.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, dan ia dapat mengerti kata-kata emban pemomong-nya. Apabila demikian, sejenak ia dapat menahan hatinya, pasrah diri dalam kepahitan. Namun setiap kali, kerinduannya kepada kakaknya, yang dianggap tinggal satu-satunya keluarganya itu sangat mengganggunya. Dalam upacara agung, maka kenang-kenangan yang demikian pasti tidak akan dapat disingkirkannya, sehingga dalam keramaian peralatan agung, dalam kerinduan dan kegembiraan yang meluap-luap di seluruh Tumapel, ia akan merasa semakin sepi.
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis, “Ya bibi, mudah-mudahan aku dapat menemukan perasaan itu. Mudah-mudahan aku dapat melepaskan rinduku kepada kakang Mahisa Agni setelah aku mempunyai seorang suami.”
Emban tua itu menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. “Demikianlah hendaknya Tuan Puteri,” katanya, namun hatinya menjerit setinggi langit. Apakah benar-benar terjadi, Mahisa Agni akan dilupakannya? O, alangkah malang nasib anak itu.
Dalam pada itu, Ken Dedes sendiri seolah-olah menemukan suatu anggapan baru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Kekecewaannya telah mendorongnya untuk menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seseorang yang terlampau mementingkan diri sendiri.
Tetapi tak seorang pun yang dapat menahan majunya waktu. Hari-hari pun telah terlampaui, dan saat yang telah ditunggu-tunggu oleh segenap rakyat Tumapel itu terjadilah. Datanglah saatnya Tumapel mengadakan peralatan agung. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung mengambil seorang permaisuri. Putra seorang pendeta dari Padepokan Panawijen. Namun beberapa mulut berdesah di antara rakyat Tumapel,
“Sayang bahwa gadis itu seorang gadis yatim-piatu. Ibunya sudah tidak ada lagi, dan ayahnya hilang tidak diketahui ke mana perginya. Satu-satunya kakaknya pun hilang ditelan oleh para penjahat.”
Tetapi dengan demikian, dengan perasaan iba di hati, rakyat Panawijen menyambut bakal permaisurinya dengan ikhlas. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa keprihatinan gadis bakal permaisuri itu pasti akan bermanfaat bagi Tumapel.
Dalam upacara-upacara yang besar itu, Ken Dedes selalu berusaha untuk menahan gelora perasaannya. Untuk menyembunyikan kepahitan hati serta kerinduannya kepada keluarganya. Kadang-kadang ia tidak dapat menahan desakan air matanya, sehingga setitik-setitik menetes di pangkuannya. Kadang-kadang bayangan wajah ayahnya yang tua membayanginya, kemudian disusul oleh kenangan atas Mahisa Agni yang kekar dan perkasa, yang telah melepaskannya dari berbagai macam bencana. Terbayang pula masa kanak-kanaknya yang riang penuh gairah di Padepokan Panawijen bersama para endang. Bermain-main di tepian sambil melihat gemerciknya air sungai yang mengalir lambat di antara batu-batu yang menjorok. Mencuci sambil berdendang di bendungan. Sayup-sayup terdengar seruling para gembala di antara gemersiknya angin pagi.
Ken Dedes merasakan kenikmatan hidup dalam kesederhanaan itu. Dan kini ia harus mencoba menikmati hidup dalam kemewahan duniawi yang melimpah-limpah. Pada hari-hari upacara perkawinan agung itu, seluruh Tumapel seolah-olah telah diselimuti oleh kegembiraan yang merata. Seolah-olah tidak ada lagi kesedihan, duka, dan kepahitan hidup. Rakyat yang paling miskin sampai yang paling kaya, mencoba untuk bergembira menyambut perkawinan Akuwu Tunggul Ametung.
Tujuh hari tujuh malam Tumapel bermandikan suasana perkawinan. Hampir di setiap banjar padesan dan padukuhan terdapat berbagai macam keramaian. Umbul-umbul dan rontek berjajar di sepanjang jalan dari ujung ke ujung. Di pinggir-pinggir desa anak-anak meneriakkan keriangan hati mereka sambil menggenggam berbagai macam makanan dan permainan. Regol-regol desa dihiasi dengan berbagai macam bentuk hiasan janur dan dedaunan. Setiap wajah rakyat Tumapel menjadi cerah. Mereka tidak memikirkan kesulitan hidup yang kadang-kadang mereka jumpai. Mereka melupakan sejenak kesibukan mereka sehari-hari. Kesibukan kerja untuk menghidupi keluarga mereka.
Tetapi wajah Ken Dedes sendiri tidak secerah wajah rakyat yang menyambut pengangkatannya menjadi seorang permaisuri. Setiap saat dikenangnya ayahnya, ibunya yang tidak dapat diingatnya dengan jelas. Dan yang menyedihkan baginya adalah Mahisa Agni yang hidup dan matinya masih belum dapat diketahui.
“Kalau kakang Mahisa Agni ada, maka ia sedikit banyak akan dapat ikut menikmati kemeriahan hari-hari perkawinan ini,” desisnya, “tetapi aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya saat-saat ini. Mungkin ia masih terikat pada sebatang tonggak. Mungkin ia baru mengalami siksaan badani, dan bahkan mungkin di luar kekuatan daya tahannya. Atau mungkin juga ia sudah terbujur mati tanpa seorang pun yang mengurusnya.”
Hati Ken Dedes menjadi semakin pedih ketika ternyata Akuwu Tunggul Ametung tidak dapat ikut mengerti kepahitan yang dirasakannya. Bahkan sekali-sekali Tunggul Ametung menegurnya,
“Ken Dedes, setiap orang di Tumapel merayakan hari bahagia ini. Setiap orang bergembira. Tetapi kau sendiri ternyata menyambut hari-hari yang cerah ini dengan wajah yang kusut.”
Ken Dedes tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Setiap kali ia mencoba untuk menunjukkan kegembiraannya. Apalagi di hadapan para tamu-tamu agung yang berdatangan ke istana pada upacara-upacara resmi. Para pendeta, para pemimpin pemerintahan, para panglima dan senapati, dan para tamu dari luar Tumapel yang ikut merayakan hari yang berbahagia itu.
Tetapi apabila upacara-upacara semacam itu sudah selesai. Apabila para tamu telah tidak ada lagi di Istana Tumapel dan tidak lagi terdengar suara gamelan yang mengiringi gadis-gadis menarikan tari-tari yang riang penuh gairah hidup menyambut perkawinan agung, maka Ken Dedes kembali ke dalam biliknya dengan wajah yang suram.
Setelah para emban membantunya melepaskan pakaian kebesaran yang berkilauan seperti matahari, setelah para emban membantunya mengenakan pakaian sehari-hari seorang permaisuri, maka Ken Dedes itu menelungkupkan kepalanya di pangkuan pemomong-nya. Para emban yang meninggalkannya di dalam biliknya berdua dengan emban tua yang dibawanya dari Panawijen, masih mendengar gadis itu terisak-isak. Namun sambil tersenyum para emban itu saling berbisik,
“Oh, alangkah bahagianya gadis Panawijen itu. Ia menangisi kurnia yang tidak pernah diimpikannya di masa kanak-kanak. Sebagai seorang gadis padepokan yang terpencil, maka ia kini berada di sentong tengen Istana Tumapel. Kegembiraan yang meledak telah menyebabkan ia tidak dapat menahan diri. Bukankah kalian mendengar Tuan Puteri itu menangis?”
“Ah, bukankah itu sudah sewajarnya? Kau pun akan menangis seandainya tiba-tiba kau diambil menjadi seorang isteri senapati saja. Apalagi menjadi seorang permaisuri. Kau pasti tidak akan dapat merasakan betapa bahagianya, sebab kau akan mati membeku karena kegirangan.”
“Uh, kalau benar aku menjadi isterti seorang senapati maka kau aku beri anugerah. Prajurit suamiku yang paling tampan akan mengambilmu menjadi selirnya.”
“Ah, tidak mau.”
Para emban itu pun kemudian tertawa. Meskipun mereka mencoba untuk menahan suara tertawa mereka, namun para prajurit yang berada di belakang istana mendengarnya. Ketika prajurit-prajurit itu berpaling, dilihatnya beberapa orang emban lewat melintasi halaman belakang.
“Uh,” desah salah seorang dari prajurit-prajurit itu, “kalian mengenakan pakaian yang paling indah yang kalian punyai. Tetapi kalian tidak membawa makanan yang paling enak untuk kami yang bertugas di gardu-gardu perondan.”
“Kami tidak mengurusi makanmu,” sahut salah seorang emban itu.
“Ya, mungkin lain kali kau akan mengurusi makananku.”
“Tidak mungkin. Aku bukan emban madaran. ”
“Siapa tahu kalau kau kelak menjadi isteriku.”
“Hus, jangan terlampau perasa. Bercerminlah di belumbang sebelah. Kau akan melihat wajahmu sendiri yang jelek itu.” Prajurit itu tidak marah. Tetapi justru ia tertawa lebih keras dari suara para emban.
Pemimpin peronda istana pada saat itu mendengar suara tertawa prajuritnya. Tetapi kali ini dibiarkannya saja para prajurit dan emban tertawa terlampau keras. Seluruh Tumapel memang sedang tertawa. Di alun-alun di muka istana itu pun sedang diadakan berbagai macam pertunjukan. Di bawah pohon beringin. Di malam hari Tumapel memancarkan sinar beribu-ribu obor di sepanjang jalan, di regol-regol, dan di banjar-banjar. Seolah-olah Tumapel ingin bersaing dengan wajah langit yang biru, yang ditaburi oleh berjuta-juta bintang-bintang yang gemerlapan.
Tetapi Tumapel tidak mendengarkan suara hati seorang gadis yang sedang disambutnya. Hanya emban tua pemomong-nya sajalah yang dapat ikut menitikkan air mata. Tetapi air mata itu adalah juga air mata kesedihannya sendiri, karena ia pun sedang menangisi anak satu-satunya yang hilang tak tentu lintang bujurnya.
Demikianlah maka wajah dan hati keputren Istana Tumapel itu tidak sejalan. Wajah yang cerah bercahaya karena rerangken dan perhiasan yang cemerlang. Tetapi hati permaisuri itu sendiri menjadi suram. Namun setiap kali emban pemomong-nya berkata,
“Tuan Puteri, lambat-laun Tuan Puteri pasti akan menemukan kegembiraan Tuan kembali. Kesibukan Tuan Puteri sebagai seorang permaisuri pasti akan mendesak segala macam kerinduan Tuan Puteri kepada orang-orang yang Tuan kasihi. Ayah bunda dan kakanda Tuan yang hilang itu.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar