“Mungkin bibi,” sahut Ken Dedes, “tetapi hanya untuk sementara. Setiap kali aku pasti akan teringat kepada mereka itu. Mereka yang hanya dapat merasakan pahit dan getirnya, tetapi mereka tidak sempat ikut merasakan kesenangan ini.”
“Itu adalah suatu sikap yang dapat Tuan anggap bahwa mereka telah melakukan mesu-diri, berprihatin untuk Tuan Puteri. Merekalah yang menanam dan menyiangi. Kini Tuan Puterilah yang memetik buahnya.”
“Itulah yang menyedihkan bibi. Mereka hanya menanam saja. Menanam, mengairi, menyiangi, dan memelihara. Tetapi mereka tidak ikut memetik buahnya.”
“Buah itu telah melimpah kepada puterinya, kepada adiknya yang dikasihi. Apalagi?”
Ken Dedes tidak menyahut. Ia mencoba meresapkan kata-kata emban tua pemomong-nya itu. Ia mencoba menerima kejadian itu dengan wajar, dan ia mencoba melupakan orang-orang yang dikasihinya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya. Sedangkan emban itu sendiri, serasa dadanya menjadi pepat. Setiap ia mengucapkan kata-kata penghibur bagi Ken Dedes, maka kata-kata itu bagaikan jarum-jarum yang menusuk hatinya sendiri. Pedih.
Tetapi kegembiraan di Tumapel berlangsung terus. Seperti yang direncanakan. Tujuh hari tujuh malam. Hampir tidak ada saat-saat terluang dari berbagai macam kesenangan dan kegembiraan. Barong di sepanjang jalan diiringi dengan gamelan berirama cepat. Di banjar-banjar dan di pura-pura, gadis-gadis menari berebutan. Namun juga berbagai macam perjudian seolah-olah mendapat kesempatan tanpa terkendali. Adu ayam, jengkerik, dan burung gemak. Anak-anak bermain binten di perapatan. Gadis-gadis desa bermain jirak hampir semalam-suntuk dengan lampu-lampu obor yang menyala di setiap sudut halaman.
Tetapi ternyata bahwa Akuwu Tumapel tidak juga melupakan para prajurit yang berada di Padang Karautan. Beberapa hari sebelum hari perkawinan itu, Ken Arok telah mengirimkan dua orang prajurit untuk datang menghadap, mohon agar Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang baru untuk menambah tenaga dan perbekalan di Padang Karautan. Orang-orang baru dengan alat-alat yang baru. Ken Arok telah menyampaikan rencananya untuk melakukan pekerjaannya siang dan malam, supaya sendang itu dapat siap pada waktunya. Sebelum enam bulan sejak hari perkawinan ini. Akuwu Tumapel sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kepada Ken Arok, Akuwu telah mengirimkan pesan, supaya pada saat-saat Tumapel merayakan hari-hari perkawinannya, Ken Arok dapat ikut menyaksikannya.
Tetapi kemudian datang seorang prajarit dari Padang Karautan yang menyampaikan pesan Ken Arok, bahwa Ken Arok ingin merayakan hari-hari yang berbahagia itu di Padang Karautan, bersama dengan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Sebab orang-orang Panawijen adalah orang-orang yang merasa paling berbahagia atas perkawinan itu. Ken Dedes adalah gadis dari Panawijen.
“Kalau begitu,” berkata Akuwu Tumapel, “pada saat itu aku akan mengirimkan prajurit-prajurit seperti yang diminta oleh Ken Arok, bahan-bahan makanan untuk masa-masa kerja yang lama itu dan bahan-bahan beserta jurumasak-jurumasak yang paling pandai untuk menyediakan makanan yang paling enak di hari-hari yang bahagia itu. Para prajurit yang sedang bekerja beserta orang-orang Panawijen harus menikmatinya pula kesenangan tujuh hari tujuh malam. Selama hari-hari itulah maka jurumasak-jurumasak yang pandai dari Tumapel akan menyediakan makan dan minum bagi para prajurit dan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja membuat bendungan, parit-parit, dan sendang buatan.”
Demikianlah maka pada hari-hari perkawinan yang dirayakan tujuh hari tujuh malam itu, maka Padang Karautan pun seolah-olah dibanjiri oleh makan dan minum tiada taranya. Setiap orang akan dapat menikmati makanan menurut seleranya. Berbagai macam makanan telah disiapkan untuk mereka. Berlebih-lebihan sehingga bersisa terlampau banyak.
“Kita kirimkan sebagian dari makanan ini ke Panawijen,” berkata salah seorang dari mereka, “orang-orang yang tinggal di Panawijen pun harus menikmati kegembiraan ini. Kawan-kawan bermain Ken Dedes semasa kecil, para endang, dan para cantrik.”
“Bagus,” sahut Ki Buyut, “anak-anak pun harus ikut merayakannya.”
“Ya,” teriak seseorang, “aku di sini makan makanan yang paling enak, bahkan yang seumur hidupku belum pernah aku cicipi, tetapi anak-anakku hampir tidak makan di rumah.”
Maka diputuskannya untuk mengirimkan makanan secukupnya bagi orang-orang Panawijen. Makanan yang seenak-enaknya meskipun tidak untuk tujuh hari tujuh malam. Tetapi mereka harus ikut bergembira di antara daun-daun yang menjadi semakin menguning dan tanah persawahan yang menjadi semakin kering. Tetapi kali ini Ken Arok tidak mau mengorbankan orang baru lagi seandainya mereka bertemu dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Karena itu, maka ketika beberapa orang berangkat mengantar makanan itu, Ken Arok telah menyediakan sejumlah prajurit yang akan mengawalnya, yang tidak akan mungkin dapat dikalahkan oleh Kebo Sindet.
Kedatangan orang-orang Panawijen yang membawa makanan sedemikian banyaknya di atas punggung-punggung kuda dan pedati-pedati yang ditarik oleh lembu beserta beberapa orang prajurit, ternyata telah mengejutkan perempuan dan anak-anak. Tetapi ketika mereka tahu apa yang telah dibawa oleh orang-orang itu, maka meledaklah kegembiraan tiada taranya. Sehingga serta-merta Panawijen yang kering itu telah ikut pula merayakan perkawinan Ken Dedes dalam upacara agung di Istana Tumapel. Sejenak orang-orang Panawijen melupakan pepohonan yang meratapi diri dalam kekeringan. Pepohonan yang daun-daunnya berguguran semakin lama semakin banyak.
Anak-anak yang sejak lama tidak berlari-larian dan bermain-main di sudut desa, sejenak dapat menikmati kegembiraan. Setelah sekian lamanya Panawijen menjadi desa yang seakan-akan mati, maka untuk sesaat dapat menikmati hidupnya kembali. Para endang dan para cantrik pun ikut pula bergembira. Mereka saling berceritera tentang masa lampau mereka, selagi Ken Dedes masih berada di padepokan.
“Ken Dedes tidak pernah melupakan aku,” berkata salah seorang endang , “ke mana pun ia pergi, aku pasti dibawanya.”
“Aku masih menyimpan sehelai kain panjang,” sahut yang lain, “kain panjang pemberian Ken Dedes yang dahulu dipakainya. Kain panjang itu kini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku.”
“O,” berkata yang lain lagi, “kenang-kenangan yang ada padaku bukan sekadar sehelai kain. Tetapi rambut Ken Dedes yang kini telah aku sisir halus. Cemara itu panjangnya hampir sedepa. Setiap kali aku menyisir rambutnya yang hitam lebat itu, dahulu aku selalu menyimpan rambutnya yang rontok. Sekarang rambut itu menjadi sehelai cemara,” rambut yang panjang.
Seorang endang yang lain dengan sedih bergumam, “Aku tidak mempunyai kenang-kenangan sama sekali dari padanya. Sehelai selendang pun tidak. Tetapi aku mempunyai bekas luka di lenganku.”
“Apa hubungannya antara bekas luka itu dengan Ken Dedes?”
“Aku pernah berkelahi dengannya ketika kami masih agak kecil. Aku digigitnya sampai luka berdarah. Bekas luka itu masih ada sampai kini.”
“Oh,” desah beberapa emban hampir bersamaan, “kenang-kenangan yang paling mengesankan.”
“Kalau tahu ia akan menjadi seorang permaisuri, maka aku akan membalasnya, menggigit lengannya supaya ia tidak akan pernah melupakan aku.”
“Jadi kau tidak membalasnya saat kau digigitnya?”
“Aku tidak berani, aku hanya menangis melolong-lolong.”
Para endang itu pun kemudian terdiam. Tetapi mulut mereka masih mengunyah berbagai macam makanan yang diperuntukkan bagi mereka. Di ruang lain para cantrik pun sedang menikmati makanan yang serupa. Tetapi agaknya para cantrik itu lebih cepat hampir dua kali lipat menghabiskan makanan mereka.
“Besok kita akan mendapat lagi,” gumam salah seorang cantrik, “dua hari dua malam kita akan menikmati makanan seperti ini. Bahkan mungkin lebih lama lagi.”
Tak ada yang sempat menjawab karena mulut mereka sedang dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang belum pernah mereka nikmati sepanjang umur mereka. Makanan yang disesuaikan dengan selera juru madaran dari Istana Tumapel. Di Padang Karautan, kegembiraan yang serupa agaknya tidak kalah meriahnya. Para prajurit menari-nari sesuka hati. Ada beberapa di antara mereka memang seorang penari. Tetapi karena tidak ada gamelan, maka mereka menari tanpa irama diiringi oleh kawan-kawannya yang mencoba menirukan suara gamelan dengan mulutnya.
Namun demikian hal itu sangat menggembirakan. Mereka tertawa sambil mengunyah makanan dan minum minuman yang selama ini tidak pernah mereka nikmati. Mereka selama berada di Padang Karautan hanya minum air sungai, atau air panas yang direndami daun sere dan gula kelapa. Prajurit-prajurit yang masih segar, yang baru datang di padang itu pun mencoba untuk bergembira. Meskipun sebenarnya mereka lebih senang merayakan hari perkawinan Akuwu itu di Tumapel. Namun mereka tidak dapat menyanggah perintah atasannya, bahwa mereka harus berangkat ke Padang Karautan, sambil membawa bekal dan makanan khusus selama hari-hari perhelatan.
Pada hari yang ketiga maka Padang Karautan menjadi lebih meriah lagi. Mereka melihat pemimpin rombongan telah datang bersama beberapa orang pengawal. Pemimpin rombongan prajurit-prajurit yang diperbantukan kepada Ken Arok, yang menurut perintah Akuwu maka pemimpin rombongan itu akan menjadi pembantu Ken Arok pula. Sebab menurut Akuwu Tunggul Ametung, maka Ken Arok tidak akan dapat terus-menerus mengawasi pekerjaan yang akan dilakukan sehari semalam bergantian.
“He,” teriak salah seorang prajurit, “lihat, pemimpin kita itu telah datang. Rombongan kecil itu pasti membawa makanan lebih banyak lagi.”
Hampir berbareng kawan-kawannya pun tertawa. Berkata salah seorang, “Apakah perutmu masih belum penuh juga?”
“Perutku dapat menggelembung. Karena itu maka perut ini tidak pernah penuh berapa pun makanan aku masukkan.”
Kawan-kawannya sekali lagi tertawa. Bahkan Ki Buyut Panawijen yang duduk-duduk di antara mereka bersama orang-orang Panawijen pun ikut tertawa juga.
“Jangan malu Ki Buyut,” teriak prajurit itu pula, “kalau Ki Buyut dan orang-orang Panawijen malu, maka bukan salah kami apabila kalian tidak mendapat bagian. Kalau besok juru madaran itu kembali ke Tumapel, maka kita akan mengalami masa paceklik lagi. Makan nasi kurang matang, sambal wijen, dan jangan keluwih. Nah, lihat, itu orang-orang baru telah berdatangan lagi. Mereka pasti membawa makanan lebih banyak dan lebih enak.”
Meledaklah suara tertawa seolah-olah membelah Padang Karautan. Kegembiraan yang tidak tertahankan setelah mereka bekerja keras tanpa mengenal istirahat. Ken Arok sendiri duduk di atas sebuah batu beberapa langkah dari Ki Buyut Panawijen. Tampaklah ia tersenyum-senyum melihat tingkah-laku prajurit-prajuritnya dan orang-orang Panawijen yang sedang bergembira. Selama ini ia tidak dapat memaksa mereka bekerja. Tiga hari bendungan itu seolah-olah tidak disentuhnya. sendang dan susukan induk itu pun dibiarkannya tidak digarap selama ini untuk memberi kesempatan kepada orang-orangnya menikmati kegembiraan.
Ken Arok mengharap, mudah-mudahan kegembiraan ini akan dapat menjadi pendorong kerja yang akan datang. Kerja yang lebih keras. Apalagi dengan orang-orang baru yang masih segar. Dengan wajah yang masih dihiasi dengan sebuah senyuman, Ken Arok menatap Padang Karautan yang berwarna kekuning-kuningan. Semakin lama rombongan kecil prajurit-prajurit Tumapel itu menjadi semakin dekat. Debu yang tipis mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari tidak terlampau cepat melintas padang rumput yang luas.
“Siapakah yang akan dikirim oleh Akuwu untuk membantu aku di sini?” bertanya Ken Arok kepada salah seorang prajurit yang baru datang tiga hari yang lampau.
Tetapi prajurit itu menggeleng sambil menjawab, “Kami tidak tahu, siapakah yang akan datang itu. Tetapi pemimpin pasukan yang membawa kami kemarin berkata, bahwa tiga hari lagi akan datang perwira yang akan diperbantukan dalam pembuatan bendungan ini.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah orang yang akan datang itu?” Ken Arok mengharap bahwa orang itu akan dapat diajaknya bekerja bersama. Seorang yang mengerti arti dari kerjanya.
Ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, maka tampaklah wajah Ken Arok menjadi semakin berkerut. Di antara mereka yang datang itu tampaklah seorang perwira remaja yang belum lama mendapat wisuda kenaikan tingkat.
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kenapa anak itu yang dikirim kemari?”
Tetapi Ken Arok tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima tenaga yang dikirimkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadanya.
“Bukankah ia hanya membantu aku mengawasi para prajurit yang sedang bekerja? Mudah-mudahan sikapnya tidak mengendorkan hasrat dari setiap orang di sini. Mulutnya agak terlampau lancang. Dan sikapnya yang kekanak-kanakan kurang meyakinkan sikap seorang pemimpin,” desisnya di dalam hati.
Ketika rombongan itu sudah menjadi dekat benar, maka Ken Arok pun berdiri menyambutnya bersama dengan Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang prajurit. Tampaklah wajah anak muda itu berseri-seri meskipun dibasahi oleh keringat yang meleleh dari kening. Dengan lantangnya ia berkata hampir berteriak,
“Ah, padang ini telah membakar kulitku kakang.”
Ken Arok mencoba tersenyum. Jawabnya, “Besok kau akan dapat merendam dirimu di dalam air.”
Perwira yang masih muda dalam usia maupun dalam jabatan itu tertawa. Katanya, “Ya, aku akan merendam diri. Apakah sendang yang kau buat itu sudah berair?”
Ken Arok menggeleng, “Belum,” jawabnya, “tetapi kau dapat merendam diri di bendungan.”
“Bendungan yang dibuat oleh Mahisa Agni?”
“Ya,” sahut Ken Arok, “sekarang adalah tugas kita untuk menyelesaikan bendungan itu sepeninggal Mahisa Agni.”
Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau ikut membuat bendungan itu pula bersama para prajurit?”
“Tentu,” sahut Ken Arok.
Ken Arok terkejut ketika perwira itu kemudian berkata, “Aku hanya mendapat tugas membantumu membuat sendang buatan itu. Bendungan itu adalah pekerjaan orang-orang Panawijen. Prajurit-prajurit yang aku bawa dan yang mendahului aku adalah tenaga-tenaga yang diperbantukan kepadamu untuk sendang buatan itu.”
“Ah,” Ken Arok berdesah. Dengan serta-merta ia memandangi wajah Ki Buyut Panawijen yang berkerut. Tetapi Ken Arok itu segera menyahut, “Ya, begitulah. Aku memang meminta kepada Akuwu tenaga yang akan membantuku menyelesaikan sendang itu. Sedangkan bendungan dan parit-paritnya akan dilakukan oleh orang-orangku yang lama. Yang telah berada di padang ini sebelum kalian datang.” Perwira itu ingin membantah kata-kata Ken Arok, tetapi segera Ken Arok menyambung kata-katanya. “Turunlah. Inilah Ki Buyut Panawijen.”
“O,” anak muda itu mengangguk kecil. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya. Tampaklah betapa malasnya ia berjalan mendekati Ken Arok.
“Jadi orang tua inilah Ki Buyut Panawijen?” ia bertanya kepada Ken Arok.
“Ya, Ngger. Akulah Buyut Panawijen,” orang tua itu mengangguk dengan hormat.
Sekali lagi anak muda itu mengangguk kecil, katanya, “Namaku Kebo Ijo, Ki Buyut.”
“O, jadi Angger bernama Kebo Ijo?”
“Ya,” sahut Kebo Ijo pendek, kemudian kepada Ken Arok ia berkata, “di manakah sendang buatan itu?”
“Itu,” Ken Arok menunjuk agak ke tengah, “agaknya pepohonan yang aku tanam telah tumbuh baik meskipun masih harus disiram setiap hari.”
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hari ini kalian tidak bekerja?” ia bertanya.
“Kami di sini sedang beristirahat merayakan perkawinan Akuwu.”
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak pergi ke Tumapel menyaksikan perkawinan itu?”
“Aku lebih senang berada di sini. Di antara batu-batu dan brunjung-brunjung bambu. Di antara tanaman-tanaman yang telah mulai tumbuh ngrembaka. Di antara para prajurit yang menari-nari menurut irama yang khusus.”
“Sayang kau tidak melihatnya,” desis Kebo Ijo.
“Kenapa?”
“Gadis Panawijen itu memang cantik. Cantik sekali. Sepantasnyalah, bahwa kakang Mahendra pernah tergila-gila kepadanya, dan Kuda Sempana benar-benar menjadi gila. Apakah kau belum pernah melihat wajah gadis itu?”
“Sudah, tetapi hanya sekilas,” jawab Ken Arok. ”Aku sama sekali tidak melihat kelebihan dari gadis-gadis cantik yang lain. Tetapi entahlah dalam pakaian kebesarannya.”
Mendengar jawaban Ken Arok itu Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang prajurit berpaling memandanginya. Dan Ki Buyut Panawijen pun mengerutkan keningnya. Orang tua itu dalam sekilas dapat melihat perbedaan antara kedua pemimpin yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat itu. Meskipun keduanya masih muda, tetapi Ken Arok tampak jauh lebih matang dari pemimpin yang bernama Kebo Ijo itu.
Di sela-sela suara tertawanya terdengar ia berkata, “Sudah sepantasnyalah kau ditempatkan di Padang Karautan ini. Setiap hari kau hanya bergaul dengan batu-batu, brunjung-brunjung bambu, pedati, waluku, dan lembu.”
“Kenapa?” Ken Arok mengerutkan keningnya.
“Seandainya kau berada di Tumapel pun kau tidak akan dapat menilai seorang gadis. Ternyata kau tidak melihat kelebihan yang tidak ternilai pada permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.”
“Sudah aku katakan. Aku hanya melihatnya sekilas. Pertama-tama aku melihatnya pada saat Akuwu mengambilnya di Padukuhan Panawijen. Kemudian hampir tidak pernah lagi aku melihatnya cukup lama”.
Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. “Mungkin,” katanya, “pada saat kau mengambilnya di Panawijen maka gadis itu adalah gadis padepokan. Pakaiannya adalah pakaian padesan sehari-hari. Tetapi setelah ia mengenakan pakaian seorang puteri keraton, maka wajahnya memancar seperti matahari.” Kemudian sambil berpaling kepada Ki Buyut Panawijen, ia berkata, “Kau dapat juga berbangga Ki Buyut, bahwa dari padukuhanmu yang kering itu telah lahir seorang gadis yang cantik seperti matahari. Tetapi sinarnya yang panas telah mengeringkan padukuhanmu sehingga kau harus bersusah-payah membuat bendungan baru di sini.”
“Ah,” Ken Arok memotong, “kau masih juga senang bergurau. Beristirahatlah. Mungkin kau haus atau lapar. Silakan. Orang-orangmu sudah tahu, ke mana kau harus pergi sekarang. Telah disediakan sebuah gubug untukmu.”
“Apa aku dapat beristirahat di tempat serupa kandang kambing ini?”
“Sekian lamanya aku di sini, aku selalu dapat tidur nyenyak,” sahut Ken Arok.
Sejenak Kebo Ijo menebarkan pandangan matanya berkeliling. Tampaklah keningnya berkerut-merut dan mulutnya bergerak-gerak. Tetapi ia masih berdiam diri.
“Apakah yang membuatmu heran?” bertanya Ken Arok.
“Hem,” anak muda itu bersungut-sungut, “ternyata aku telah dilemparkan ke dalam neraka. Kenapa aku yang mendapat tugas di padang panas ini, kenapa bukan orang lain?”
“Di sini tidak ada sesuatu yang dapat menyegarkan hati. Tidak ada gadis-gadis cantik, tidak ada penari yang lincah, tidak ada selingan apa pun kecuali batu melulu.”
“Aku di sini jauh lebih lama daripadamu,” sahut Ken Arok, “tetapi aku tidak mengeluh.”
“Mungkin kau sudah biasa hidup di Padang Karautan sejak sebelum kau menjadi pelayan dalam di Tumapel.”
Terasa dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata Kebo Ijo itu Tetapi ketika ia melihat wajah Kebo Ijo, maka segera ia menyadari bahwa Kebo Ijo sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Ia berkata apa saja sekehendak hatinya tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Karena itu maka Ken Arok itu bahkan tersenyum sambil menjawab,
“Ya, mungkin aku memang dilahirkan di Padang Karautan. Tetapi kau pun harus berusaha menyesuaikan dirimu. Seorang prajurit pada suatu saat akan berada di suatu tempat yang sama sekali tidak menyenangkan. Dalam peperangan mungkin kau harus berada di tanah yang berlumpur, atau mungkin di padang yang lebih panas dari Karautan, atau mungkin di lereng-lereng bukit.”
“Dalam peperangan hal itu wajar sekali terjadi. Tetapi di masa-masa orang lain bergembira ria di jalan-jalan Kota Tumapel, aku harus berada di dalam tungku yang panasnya bukan main.”
“Ah,” desah Ken Arok, “jangan mengeluh saja. Kau harus memberi contoh kepada prajurit-prajuritmu, bahwa mereka harus tahan menghadapi keadaan.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Kemudian ia berpaling memandangi prajurit-prajurit yang duduk bergerombol-bergerombol di antara gubug-gubug yang bertebaran. Beberapa orang pengawal yang datang bersamanya masih saja berdiri di belakangnya.
“Mereka pun sebenarnya tidak senang terdampar di padang kering ini.”
“Mungkin,” sahut Ken Arok, “tetapi kau dan aku harus menumbuhkan kegairahan kerja. Jangan mengendorkan nafsu bekerja mereka. Beberapa hari lagi kau dan prajuritmu akan dapat menyesuaikan dirinya dengan udara padang yang kering ini. Dan kau seharusnya tidak mengeluh lagi.”
Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. “Di mana aku harus beristirahat.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Sikap Kebo Ijo tidak begitu menyenangkannya. Tetapi ia memanggil juga seorang prajurit dan berkata kepadanya, “Bawalah tamu-tamumu ini ke tempat yang sudah disediakan.”
“He,” potong Kebo Ijo, “kau sangka aku di sini sekadar menjadi tamumu? Tidak, aku di sini menjadi tawananmu yang mulai besok atau lusa harus bekerja berat di atas api neraka.”
Ken Arok tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Prajurit yang dipanggilnya segera membawa Kebo Ijo dan para pengawalnya ke tempat yang memang sudah disediakan. Beberapa buah gubug kecil dengan sehelai tikar pandan yang masih baru.
“Ah,” sekali lagi Kebo Ijo berdesah, “macam inikah tempat yang diperuntukkan bagi kami?”
“Semuanya hanya seperti ini,” sahut prajurit itu.
“Bagaimana dengan Ken Arok?”
“Tak ada bedanya, bahkan tikar yang dipakainya adalah tikar yang sudah usang.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dipandanginya prajurit itu dengan pandangan yang aneh, sehingga prajurit itu menundukkan kepalanya.
“Apa kau bilang?” desis Kebo Ijo, “Ken Arok justru memakai tikar yang usang?”
“Ya,” sahut prajurit itu.
“Bodoh, bodoh sekali,” gumam Kebo Ijo, “sebagai pimpinan ia berhak memilih. Bukan hanya sekadar soal tikar, tetapi soal apa pun juga.”
Mata Kebo Ijo terbelalak ketika ia mendengar prajurit itu menjawab, “Ya, memang ia berhak untuk memilih dalam hal apa pun. Tetapi itu tidak pernah dilakukannya. Ia tidak pernah memilih. Yang selalu dipakainya adalah yang tersisa setelah para prajuritnya memilih lebih dahulu.”
“Huh,” geram Kebo Ijo, “ia telah menghilangkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Salahnyalah kalau bawahannya kelak tidak lagi menghormatinya dan tidak mematuhinya.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berani menjawab. Namun dengan demikian maka ia mendapat kesan bahwa pemimpinnya yang baru ini agak berbeda sifat dan tabiatnya dengan pemimpinnya yang lama, Ken Arok.
Bagi prajurit itu, sikap Ken Arok sama sekali tidak merendahkan dirinya atau menghilangkan kewibawaannya. Tetapi justru para prajurit menjadi segan dan hormat kepadanya, tanpa membuat garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Keakraban di antara mereka telah mendorong mereka untuk berbuat banyak dengan penuh kerelaan. Bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai bawahan yang harus patuh terhadap atasan. Tetapi ada dorongan dari dalam diri sendiri untuk bekerja keras bersama-sama dengan penuh keikhlasan.
“Agaknya tidak demikian dengan pemimpin yang baru ini,” desah prajurit itu di dalam hatinya, kemudian, “tetapi ia hanya sekadar membantu Ken Arok. Segalanya masih tetap ada di dalam tanggung jawab pemimpin yang lama itu.”
Kebo Ijo itu pun kemudian masuk ke dalam gubug kecil yang diperuntukkannya sendiri. Di sampingnya adalah gubug yang agak besar yang diperuntukkan bagi para prajurit yang mengawalnya pada saat ia datang ke Padang Karautan. Namun agaknya Kebo Ijo sama sekali kurang puas terhadap keadaan ini. Gubug ini terlampau jelek. Tak ada apa-apa di dalamnya selain sebuah gendi air, sebuah tikar, dan sebuah bancik lampu yang dipergunakan di malam hari.
“Di mana aku harus meletakkan ganti pakaianku?” tiba-tiba Kebo Ijo itu berteriak.
Prajurit yang mengantarnya masih berdiri di luar gubug itu. Ketika ia mendengar Kebo Ijo berteriak, maka segera ia mendekatinya.
“Di mana aku harus menyimpan pakaianku? Apakah di sini tidak ada glodok, atau paga, atau apa pun?”
Prajurit itu menggeleng, “Tidak.”
“Apa yang diperbuat Ken Arok dengan pakaiannya?”
“Dibungkus, dan diletakkan di samping pembaringannya.”
“Ah,” Kebo Ijo berdesah, “malas sekali. Di sini ada bambu, ada tenaga, ada tali. Kenapa tidak disuruhnya membuat paga atau apa pun?” Prajurit itu tidak menjawab. “Yang pertama-tama dilakukan oleh prajurit-prajuritku adalah membuat paga.”
Kebo Ijo itupun kemudian tergesa-gesa keluar dari gubugnya dan pergi mendapatkan sekelompok prajurit yang sedang makan sambil berbicara seenaknya. Mereka tertawa sepuas-puasnya. Seorang dari mereka yang cukup jenaka, ternyata baru berceritera tentang pengalaman mereka yang lucu.
Suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar Kebo Ijo yang tiba-tiba saja berada di samping mereka, berteriak, “Berhenti. Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini mendahului aku? Kalian tidak dapat mempersiapkan tempat untukku dengan baik. Sekarang buatlah sebuah paga untukku. Lihat di sana ada setumpuk bambu. Cepat. Hari ini paga itu harus sudah siap untuk tempat pakaianku.” Para prajurit itu terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun terdengar suara Kebo Ijo, “Cepat. Lakukan perintahku.”
“Itu adalah suatu sikap yang dapat Tuan anggap bahwa mereka telah melakukan mesu-diri, berprihatin untuk Tuan Puteri. Merekalah yang menanam dan menyiangi. Kini Tuan Puterilah yang memetik buahnya.”
“Itulah yang menyedihkan bibi. Mereka hanya menanam saja. Menanam, mengairi, menyiangi, dan memelihara. Tetapi mereka tidak ikut memetik buahnya.”
“Buah itu telah melimpah kepada puterinya, kepada adiknya yang dikasihi. Apalagi?”
Ken Dedes tidak menyahut. Ia mencoba meresapkan kata-kata emban tua pemomong-nya itu. Ia mencoba menerima kejadian itu dengan wajar, dan ia mencoba melupakan orang-orang yang dikasihinya. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya. Sedangkan emban itu sendiri, serasa dadanya menjadi pepat. Setiap ia mengucapkan kata-kata penghibur bagi Ken Dedes, maka kata-kata itu bagaikan jarum-jarum yang menusuk hatinya sendiri. Pedih.
Tetapi kegembiraan di Tumapel berlangsung terus. Seperti yang direncanakan. Tujuh hari tujuh malam. Hampir tidak ada saat-saat terluang dari berbagai macam kesenangan dan kegembiraan. Barong di sepanjang jalan diiringi dengan gamelan berirama cepat. Di banjar-banjar dan di pura-pura, gadis-gadis menari berebutan. Namun juga berbagai macam perjudian seolah-olah mendapat kesempatan tanpa terkendali. Adu ayam, jengkerik, dan burung gemak. Anak-anak bermain binten di perapatan. Gadis-gadis desa bermain jirak hampir semalam-suntuk dengan lampu-lampu obor yang menyala di setiap sudut halaman.
Tetapi ternyata bahwa Akuwu Tumapel tidak juga melupakan para prajurit yang berada di Padang Karautan. Beberapa hari sebelum hari perkawinan itu, Ken Arok telah mengirimkan dua orang prajurit untuk datang menghadap, mohon agar Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang baru untuk menambah tenaga dan perbekalan di Padang Karautan. Orang-orang baru dengan alat-alat yang baru. Ken Arok telah menyampaikan rencananya untuk melakukan pekerjaannya siang dan malam, supaya sendang itu dapat siap pada waktunya. Sebelum enam bulan sejak hari perkawinan ini. Akuwu Tumapel sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kepada Ken Arok, Akuwu telah mengirimkan pesan, supaya pada saat-saat Tumapel merayakan hari-hari perkawinannya, Ken Arok dapat ikut menyaksikannya.
Tetapi kemudian datang seorang prajarit dari Padang Karautan yang menyampaikan pesan Ken Arok, bahwa Ken Arok ingin merayakan hari-hari yang berbahagia itu di Padang Karautan, bersama dengan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Sebab orang-orang Panawijen adalah orang-orang yang merasa paling berbahagia atas perkawinan itu. Ken Dedes adalah gadis dari Panawijen.
“Kalau begitu,” berkata Akuwu Tumapel, “pada saat itu aku akan mengirimkan prajurit-prajurit seperti yang diminta oleh Ken Arok, bahan-bahan makanan untuk masa-masa kerja yang lama itu dan bahan-bahan beserta jurumasak-jurumasak yang paling pandai untuk menyediakan makanan yang paling enak di hari-hari yang bahagia itu. Para prajurit yang sedang bekerja beserta orang-orang Panawijen harus menikmatinya pula kesenangan tujuh hari tujuh malam. Selama hari-hari itulah maka jurumasak-jurumasak yang pandai dari Tumapel akan menyediakan makan dan minum bagi para prajurit dan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja membuat bendungan, parit-parit, dan sendang buatan.”
Demikianlah maka pada hari-hari perkawinan yang dirayakan tujuh hari tujuh malam itu, maka Padang Karautan pun seolah-olah dibanjiri oleh makan dan minum tiada taranya. Setiap orang akan dapat menikmati makanan menurut seleranya. Berbagai macam makanan telah disiapkan untuk mereka. Berlebih-lebihan sehingga bersisa terlampau banyak.
“Kita kirimkan sebagian dari makanan ini ke Panawijen,” berkata salah seorang dari mereka, “orang-orang yang tinggal di Panawijen pun harus menikmati kegembiraan ini. Kawan-kawan bermain Ken Dedes semasa kecil, para endang, dan para cantrik.”
“Bagus,” sahut Ki Buyut, “anak-anak pun harus ikut merayakannya.”
“Ya,” teriak seseorang, “aku di sini makan makanan yang paling enak, bahkan yang seumur hidupku belum pernah aku cicipi, tetapi anak-anakku hampir tidak makan di rumah.”
Maka diputuskannya untuk mengirimkan makanan secukupnya bagi orang-orang Panawijen. Makanan yang seenak-enaknya meskipun tidak untuk tujuh hari tujuh malam. Tetapi mereka harus ikut bergembira di antara daun-daun yang menjadi semakin menguning dan tanah persawahan yang menjadi semakin kering. Tetapi kali ini Ken Arok tidak mau mengorbankan orang baru lagi seandainya mereka bertemu dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Karena itu, maka ketika beberapa orang berangkat mengantar makanan itu, Ken Arok telah menyediakan sejumlah prajurit yang akan mengawalnya, yang tidak akan mungkin dapat dikalahkan oleh Kebo Sindet.
Kedatangan orang-orang Panawijen yang membawa makanan sedemikian banyaknya di atas punggung-punggung kuda dan pedati-pedati yang ditarik oleh lembu beserta beberapa orang prajurit, ternyata telah mengejutkan perempuan dan anak-anak. Tetapi ketika mereka tahu apa yang telah dibawa oleh orang-orang itu, maka meledaklah kegembiraan tiada taranya. Sehingga serta-merta Panawijen yang kering itu telah ikut pula merayakan perkawinan Ken Dedes dalam upacara agung di Istana Tumapel. Sejenak orang-orang Panawijen melupakan pepohonan yang meratapi diri dalam kekeringan. Pepohonan yang daun-daunnya berguguran semakin lama semakin banyak.
Anak-anak yang sejak lama tidak berlari-larian dan bermain-main di sudut desa, sejenak dapat menikmati kegembiraan. Setelah sekian lamanya Panawijen menjadi desa yang seakan-akan mati, maka untuk sesaat dapat menikmati hidupnya kembali. Para endang dan para cantrik pun ikut pula bergembira. Mereka saling berceritera tentang masa lampau mereka, selagi Ken Dedes masih berada di padepokan.
“Ken Dedes tidak pernah melupakan aku,” berkata salah seorang endang , “ke mana pun ia pergi, aku pasti dibawanya.”
“Aku masih menyimpan sehelai kain panjang,” sahut yang lain, “kain panjang pemberian Ken Dedes yang dahulu dipakainya. Kain panjang itu kini menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku.”
“O,” berkata yang lain lagi, “kenang-kenangan yang ada padaku bukan sekadar sehelai kain. Tetapi rambut Ken Dedes yang kini telah aku sisir halus. Cemara itu panjangnya hampir sedepa. Setiap kali aku menyisir rambutnya yang hitam lebat itu, dahulu aku selalu menyimpan rambutnya yang rontok. Sekarang rambut itu menjadi sehelai cemara,” rambut yang panjang.
Seorang endang yang lain dengan sedih bergumam, “Aku tidak mempunyai kenang-kenangan sama sekali dari padanya. Sehelai selendang pun tidak. Tetapi aku mempunyai bekas luka di lenganku.”
“Apa hubungannya antara bekas luka itu dengan Ken Dedes?”
“Aku pernah berkelahi dengannya ketika kami masih agak kecil. Aku digigitnya sampai luka berdarah. Bekas luka itu masih ada sampai kini.”
“Oh,” desah beberapa emban hampir bersamaan, “kenang-kenangan yang paling mengesankan.”
“Kalau tahu ia akan menjadi seorang permaisuri, maka aku akan membalasnya, menggigit lengannya supaya ia tidak akan pernah melupakan aku.”
“Jadi kau tidak membalasnya saat kau digigitnya?”
“Aku tidak berani, aku hanya menangis melolong-lolong.”
Para endang itu pun kemudian terdiam. Tetapi mulut mereka masih mengunyah berbagai macam makanan yang diperuntukkan bagi mereka. Di ruang lain para cantrik pun sedang menikmati makanan yang serupa. Tetapi agaknya para cantrik itu lebih cepat hampir dua kali lipat menghabiskan makanan mereka.
“Besok kita akan mendapat lagi,” gumam salah seorang cantrik, “dua hari dua malam kita akan menikmati makanan seperti ini. Bahkan mungkin lebih lama lagi.”
Tak ada yang sempat menjawab karena mulut mereka sedang dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang belum pernah mereka nikmati sepanjang umur mereka. Makanan yang disesuaikan dengan selera juru madaran dari Istana Tumapel. Di Padang Karautan, kegembiraan yang serupa agaknya tidak kalah meriahnya. Para prajurit menari-nari sesuka hati. Ada beberapa di antara mereka memang seorang penari. Tetapi karena tidak ada gamelan, maka mereka menari tanpa irama diiringi oleh kawan-kawannya yang mencoba menirukan suara gamelan dengan mulutnya.
Namun demikian hal itu sangat menggembirakan. Mereka tertawa sambil mengunyah makanan dan minum minuman yang selama ini tidak pernah mereka nikmati. Mereka selama berada di Padang Karautan hanya minum air sungai, atau air panas yang direndami daun sere dan gula kelapa. Prajurit-prajurit yang masih segar, yang baru datang di padang itu pun mencoba untuk bergembira. Meskipun sebenarnya mereka lebih senang merayakan hari perkawinan Akuwu itu di Tumapel. Namun mereka tidak dapat menyanggah perintah atasannya, bahwa mereka harus berangkat ke Padang Karautan, sambil membawa bekal dan makanan khusus selama hari-hari perhelatan.
Pada hari yang ketiga maka Padang Karautan menjadi lebih meriah lagi. Mereka melihat pemimpin rombongan telah datang bersama beberapa orang pengawal. Pemimpin rombongan prajurit-prajurit yang diperbantukan kepada Ken Arok, yang menurut perintah Akuwu maka pemimpin rombongan itu akan menjadi pembantu Ken Arok pula. Sebab menurut Akuwu Tunggul Ametung, maka Ken Arok tidak akan dapat terus-menerus mengawasi pekerjaan yang akan dilakukan sehari semalam bergantian.
“He,” teriak salah seorang prajurit, “lihat, pemimpin kita itu telah datang. Rombongan kecil itu pasti membawa makanan lebih banyak lagi.”
Hampir berbareng kawan-kawannya pun tertawa. Berkata salah seorang, “Apakah perutmu masih belum penuh juga?”
“Perutku dapat menggelembung. Karena itu maka perut ini tidak pernah penuh berapa pun makanan aku masukkan.”
Kawan-kawannya sekali lagi tertawa. Bahkan Ki Buyut Panawijen yang duduk-duduk di antara mereka bersama orang-orang Panawijen pun ikut tertawa juga.
“Jangan malu Ki Buyut,” teriak prajurit itu pula, “kalau Ki Buyut dan orang-orang Panawijen malu, maka bukan salah kami apabila kalian tidak mendapat bagian. Kalau besok juru madaran itu kembali ke Tumapel, maka kita akan mengalami masa paceklik lagi. Makan nasi kurang matang, sambal wijen, dan jangan keluwih. Nah, lihat, itu orang-orang baru telah berdatangan lagi. Mereka pasti membawa makanan lebih banyak dan lebih enak.”
Meledaklah suara tertawa seolah-olah membelah Padang Karautan. Kegembiraan yang tidak tertahankan setelah mereka bekerja keras tanpa mengenal istirahat. Ken Arok sendiri duduk di atas sebuah batu beberapa langkah dari Ki Buyut Panawijen. Tampaklah ia tersenyum-senyum melihat tingkah-laku prajurit-prajuritnya dan orang-orang Panawijen yang sedang bergembira. Selama ini ia tidak dapat memaksa mereka bekerja. Tiga hari bendungan itu seolah-olah tidak disentuhnya. sendang dan susukan induk itu pun dibiarkannya tidak digarap selama ini untuk memberi kesempatan kepada orang-orangnya menikmati kegembiraan.
Ken Arok mengharap, mudah-mudahan kegembiraan ini akan dapat menjadi pendorong kerja yang akan datang. Kerja yang lebih keras. Apalagi dengan orang-orang baru yang masih segar. Dengan wajah yang masih dihiasi dengan sebuah senyuman, Ken Arok menatap Padang Karautan yang berwarna kekuning-kuningan. Semakin lama rombongan kecil prajurit-prajurit Tumapel itu menjadi semakin dekat. Debu yang tipis mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari tidak terlampau cepat melintas padang rumput yang luas.
“Siapakah yang akan dikirim oleh Akuwu untuk membantu aku di sini?” bertanya Ken Arok kepada salah seorang prajurit yang baru datang tiga hari yang lampau.
Tetapi prajurit itu menggeleng sambil menjawab, “Kami tidak tahu, siapakah yang akan datang itu. Tetapi pemimpin pasukan yang membawa kami kemarin berkata, bahwa tiga hari lagi akan datang perwira yang akan diperbantukan dalam pembuatan bendungan ini.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah orang yang akan datang itu?” Ken Arok mengharap bahwa orang itu akan dapat diajaknya bekerja bersama. Seorang yang mengerti arti dari kerjanya.
Ketika rombongan itu menjadi semakin dekat, maka tampaklah wajah Ken Arok menjadi semakin berkerut. Di antara mereka yang datang itu tampaklah seorang perwira remaja yang belum lama mendapat wisuda kenaikan tingkat.
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kenapa anak itu yang dikirim kemari?”
Tetapi Ken Arok tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima tenaga yang dikirimkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadanya.
“Bukankah ia hanya membantu aku mengawasi para prajurit yang sedang bekerja? Mudah-mudahan sikapnya tidak mengendorkan hasrat dari setiap orang di sini. Mulutnya agak terlampau lancang. Dan sikapnya yang kekanak-kanakan kurang meyakinkan sikap seorang pemimpin,” desisnya di dalam hati.
Ketika rombongan itu sudah menjadi dekat benar, maka Ken Arok pun berdiri menyambutnya bersama dengan Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang prajurit. Tampaklah wajah anak muda itu berseri-seri meskipun dibasahi oleh keringat yang meleleh dari kening. Dengan lantangnya ia berkata hampir berteriak,
“Ah, padang ini telah membakar kulitku kakang.”
Ken Arok mencoba tersenyum. Jawabnya, “Besok kau akan dapat merendam dirimu di dalam air.”
Perwira yang masih muda dalam usia maupun dalam jabatan itu tertawa. Katanya, “Ya, aku akan merendam diri. Apakah sendang yang kau buat itu sudah berair?”
Ken Arok menggeleng, “Belum,” jawabnya, “tetapi kau dapat merendam diri di bendungan.”
“Bendungan yang dibuat oleh Mahisa Agni?”
“Ya,” sahut Ken Arok, “sekarang adalah tugas kita untuk menyelesaikan bendungan itu sepeninggal Mahisa Agni.”
Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau ikut membuat bendungan itu pula bersama para prajurit?”
“Tentu,” sahut Ken Arok.
Ken Arok terkejut ketika perwira itu kemudian berkata, “Aku hanya mendapat tugas membantumu membuat sendang buatan itu. Bendungan itu adalah pekerjaan orang-orang Panawijen. Prajurit-prajurit yang aku bawa dan yang mendahului aku adalah tenaga-tenaga yang diperbantukan kepadamu untuk sendang buatan itu.”
“Ah,” Ken Arok berdesah. Dengan serta-merta ia memandangi wajah Ki Buyut Panawijen yang berkerut. Tetapi Ken Arok itu segera menyahut, “Ya, begitulah. Aku memang meminta kepada Akuwu tenaga yang akan membantuku menyelesaikan sendang itu. Sedangkan bendungan dan parit-paritnya akan dilakukan oleh orang-orangku yang lama. Yang telah berada di padang ini sebelum kalian datang.” Perwira itu ingin membantah kata-kata Ken Arok, tetapi segera Ken Arok menyambung kata-katanya. “Turunlah. Inilah Ki Buyut Panawijen.”
“O,” anak muda itu mengangguk kecil. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya. Tampaklah betapa malasnya ia berjalan mendekati Ken Arok.
“Jadi orang tua inilah Ki Buyut Panawijen?” ia bertanya kepada Ken Arok.
“Ya, Ngger. Akulah Buyut Panawijen,” orang tua itu mengangguk dengan hormat.
Sekali lagi anak muda itu mengangguk kecil, katanya, “Namaku Kebo Ijo, Ki Buyut.”
“O, jadi Angger bernama Kebo Ijo?”
“Ya,” sahut Kebo Ijo pendek, kemudian kepada Ken Arok ia berkata, “di manakah sendang buatan itu?”
“Itu,” Ken Arok menunjuk agak ke tengah, “agaknya pepohonan yang aku tanam telah tumbuh baik meskipun masih harus disiram setiap hari.”
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah hari ini kalian tidak bekerja?” ia bertanya.
“Kami di sini sedang beristirahat merayakan perkawinan Akuwu.”
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak pergi ke Tumapel menyaksikan perkawinan itu?”
“Aku lebih senang berada di sini. Di antara batu-batu dan brunjung-brunjung bambu. Di antara tanaman-tanaman yang telah mulai tumbuh ngrembaka. Di antara para prajurit yang menari-nari menurut irama yang khusus.”
“Sayang kau tidak melihatnya,” desis Kebo Ijo.
“Kenapa?”
“Gadis Panawijen itu memang cantik. Cantik sekali. Sepantasnyalah, bahwa kakang Mahendra pernah tergila-gila kepadanya, dan Kuda Sempana benar-benar menjadi gila. Apakah kau belum pernah melihat wajah gadis itu?”
“Sudah, tetapi hanya sekilas,” jawab Ken Arok. ”Aku sama sekali tidak melihat kelebihan dari gadis-gadis cantik yang lain. Tetapi entahlah dalam pakaian kebesarannya.”
Mendengar jawaban Ken Arok itu Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Beberapa orang prajurit berpaling memandanginya. Dan Ki Buyut Panawijen pun mengerutkan keningnya. Orang tua itu dalam sekilas dapat melihat perbedaan antara kedua pemimpin yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat itu. Meskipun keduanya masih muda, tetapi Ken Arok tampak jauh lebih matang dari pemimpin yang bernama Kebo Ijo itu.
Di sela-sela suara tertawanya terdengar ia berkata, “Sudah sepantasnyalah kau ditempatkan di Padang Karautan ini. Setiap hari kau hanya bergaul dengan batu-batu, brunjung-brunjung bambu, pedati, waluku, dan lembu.”
“Kenapa?” Ken Arok mengerutkan keningnya.
“Seandainya kau berada di Tumapel pun kau tidak akan dapat menilai seorang gadis. Ternyata kau tidak melihat kelebihan yang tidak ternilai pada permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.”
“Sudah aku katakan. Aku hanya melihatnya sekilas. Pertama-tama aku melihatnya pada saat Akuwu mengambilnya di Padukuhan Panawijen. Kemudian hampir tidak pernah lagi aku melihatnya cukup lama”.
Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. “Mungkin,” katanya, “pada saat kau mengambilnya di Panawijen maka gadis itu adalah gadis padepokan. Pakaiannya adalah pakaian padesan sehari-hari. Tetapi setelah ia mengenakan pakaian seorang puteri keraton, maka wajahnya memancar seperti matahari.” Kemudian sambil berpaling kepada Ki Buyut Panawijen, ia berkata, “Kau dapat juga berbangga Ki Buyut, bahwa dari padukuhanmu yang kering itu telah lahir seorang gadis yang cantik seperti matahari. Tetapi sinarnya yang panas telah mengeringkan padukuhanmu sehingga kau harus bersusah-payah membuat bendungan baru di sini.”
“Ah,” Ken Arok memotong, “kau masih juga senang bergurau. Beristirahatlah. Mungkin kau haus atau lapar. Silakan. Orang-orangmu sudah tahu, ke mana kau harus pergi sekarang. Telah disediakan sebuah gubug untukmu.”
“Apa aku dapat beristirahat di tempat serupa kandang kambing ini?”
“Sekian lamanya aku di sini, aku selalu dapat tidur nyenyak,” sahut Ken Arok.
Sejenak Kebo Ijo menebarkan pandangan matanya berkeliling. Tampaklah keningnya berkerut-merut dan mulutnya bergerak-gerak. Tetapi ia masih berdiam diri.
“Apakah yang membuatmu heran?” bertanya Ken Arok.
“Hem,” anak muda itu bersungut-sungut, “ternyata aku telah dilemparkan ke dalam neraka. Kenapa aku yang mendapat tugas di padang panas ini, kenapa bukan orang lain?”
“Di sini tidak ada sesuatu yang dapat menyegarkan hati. Tidak ada gadis-gadis cantik, tidak ada penari yang lincah, tidak ada selingan apa pun kecuali batu melulu.”
“Aku di sini jauh lebih lama daripadamu,” sahut Ken Arok, “tetapi aku tidak mengeluh.”
“Mungkin kau sudah biasa hidup di Padang Karautan sejak sebelum kau menjadi pelayan dalam di Tumapel.”
Terasa dada Ken Arok berdesir mendengar kata-kata Kebo Ijo itu Tetapi ketika ia melihat wajah Kebo Ijo, maka segera ia menyadari bahwa Kebo Ijo sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Ia berkata apa saja sekehendak hatinya tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Karena itu maka Ken Arok itu bahkan tersenyum sambil menjawab,
“Ya, mungkin aku memang dilahirkan di Padang Karautan. Tetapi kau pun harus berusaha menyesuaikan dirimu. Seorang prajurit pada suatu saat akan berada di suatu tempat yang sama sekali tidak menyenangkan. Dalam peperangan mungkin kau harus berada di tanah yang berlumpur, atau mungkin di padang yang lebih panas dari Karautan, atau mungkin di lereng-lereng bukit.”
“Dalam peperangan hal itu wajar sekali terjadi. Tetapi di masa-masa orang lain bergembira ria di jalan-jalan Kota Tumapel, aku harus berada di dalam tungku yang panasnya bukan main.”
“Ah,” desah Ken Arok, “jangan mengeluh saja. Kau harus memberi contoh kepada prajurit-prajuritmu, bahwa mereka harus tahan menghadapi keadaan.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Kemudian ia berpaling memandangi prajurit-prajurit yang duduk bergerombol-bergerombol di antara gubug-gubug yang bertebaran. Beberapa orang pengawal yang datang bersamanya masih saja berdiri di belakangnya.
“Mereka pun sebenarnya tidak senang terdampar di padang kering ini.”
“Mungkin,” sahut Ken Arok, “tetapi kau dan aku harus menumbuhkan kegairahan kerja. Jangan mengendorkan nafsu bekerja mereka. Beberapa hari lagi kau dan prajuritmu akan dapat menyesuaikan dirinya dengan udara padang yang kering ini. Dan kau seharusnya tidak mengeluh lagi.”
Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. “Di mana aku harus beristirahat.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Sikap Kebo Ijo tidak begitu menyenangkannya. Tetapi ia memanggil juga seorang prajurit dan berkata kepadanya, “Bawalah tamu-tamumu ini ke tempat yang sudah disediakan.”
“He,” potong Kebo Ijo, “kau sangka aku di sini sekadar menjadi tamumu? Tidak, aku di sini menjadi tawananmu yang mulai besok atau lusa harus bekerja berat di atas api neraka.”
Ken Arok tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Prajurit yang dipanggilnya segera membawa Kebo Ijo dan para pengawalnya ke tempat yang memang sudah disediakan. Beberapa buah gubug kecil dengan sehelai tikar pandan yang masih baru.
“Ah,” sekali lagi Kebo Ijo berdesah, “macam inikah tempat yang diperuntukkan bagi kami?”
“Semuanya hanya seperti ini,” sahut prajurit itu.
“Bagaimana dengan Ken Arok?”
“Tak ada bedanya, bahkan tikar yang dipakainya adalah tikar yang sudah usang.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dipandanginya prajurit itu dengan pandangan yang aneh, sehingga prajurit itu menundukkan kepalanya.
“Apa kau bilang?” desis Kebo Ijo, “Ken Arok justru memakai tikar yang usang?”
“Ya,” sahut prajurit itu.
“Bodoh, bodoh sekali,” gumam Kebo Ijo, “sebagai pimpinan ia berhak memilih. Bukan hanya sekadar soal tikar, tetapi soal apa pun juga.”
Mata Kebo Ijo terbelalak ketika ia mendengar prajurit itu menjawab, “Ya, memang ia berhak untuk memilih dalam hal apa pun. Tetapi itu tidak pernah dilakukannya. Ia tidak pernah memilih. Yang selalu dipakainya adalah yang tersisa setelah para prajuritnya memilih lebih dahulu.”
“Huh,” geram Kebo Ijo, “ia telah menghilangkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Salahnyalah kalau bawahannya kelak tidak lagi menghormatinya dan tidak mematuhinya.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berani menjawab. Namun dengan demikian maka ia mendapat kesan bahwa pemimpinnya yang baru ini agak berbeda sifat dan tabiatnya dengan pemimpinnya yang lama, Ken Arok.
Bagi prajurit itu, sikap Ken Arok sama sekali tidak merendahkan dirinya atau menghilangkan kewibawaannya. Tetapi justru para prajurit menjadi segan dan hormat kepadanya, tanpa membuat garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Keakraban di antara mereka telah mendorong mereka untuk berbuat banyak dengan penuh kerelaan. Bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai bawahan yang harus patuh terhadap atasan. Tetapi ada dorongan dari dalam diri sendiri untuk bekerja keras bersama-sama dengan penuh keikhlasan.
“Agaknya tidak demikian dengan pemimpin yang baru ini,” desah prajurit itu di dalam hatinya, kemudian, “tetapi ia hanya sekadar membantu Ken Arok. Segalanya masih tetap ada di dalam tanggung jawab pemimpin yang lama itu.”
Kebo Ijo itu pun kemudian masuk ke dalam gubug kecil yang diperuntukkannya sendiri. Di sampingnya adalah gubug yang agak besar yang diperuntukkan bagi para prajurit yang mengawalnya pada saat ia datang ke Padang Karautan. Namun agaknya Kebo Ijo sama sekali kurang puas terhadap keadaan ini. Gubug ini terlampau jelek. Tak ada apa-apa di dalamnya selain sebuah gendi air, sebuah tikar, dan sebuah bancik lampu yang dipergunakan di malam hari.
“Di mana aku harus meletakkan ganti pakaianku?” tiba-tiba Kebo Ijo itu berteriak.
Prajurit yang mengantarnya masih berdiri di luar gubug itu. Ketika ia mendengar Kebo Ijo berteriak, maka segera ia mendekatinya.
“Di mana aku harus menyimpan pakaianku? Apakah di sini tidak ada glodok, atau paga, atau apa pun?”
Prajurit itu menggeleng, “Tidak.”
“Apa yang diperbuat Ken Arok dengan pakaiannya?”
“Dibungkus, dan diletakkan di samping pembaringannya.”
“Ah,” Kebo Ijo berdesah, “malas sekali. Di sini ada bambu, ada tenaga, ada tali. Kenapa tidak disuruhnya membuat paga atau apa pun?” Prajurit itu tidak menjawab. “Yang pertama-tama dilakukan oleh prajurit-prajuritku adalah membuat paga.”
Kebo Ijo itupun kemudian tergesa-gesa keluar dari gubugnya dan pergi mendapatkan sekelompok prajurit yang sedang makan sambil berbicara seenaknya. Mereka tertawa sepuas-puasnya. Seorang dari mereka yang cukup jenaka, ternyata baru berceritera tentang pengalaman mereka yang lucu.
Suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar Kebo Ijo yang tiba-tiba saja berada di samping mereka, berteriak, “Berhenti. Apa yang kalian lakukan selama tiga hari di sini mendahului aku? Kalian tidak dapat mempersiapkan tempat untukku dengan baik. Sekarang buatlah sebuah paga untukku. Lihat di sana ada setumpuk bambu. Cepat. Hari ini paga itu harus sudah siap untuk tempat pakaianku.” Para prajurit itu terkejut. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun terdengar suara Kebo Ijo, “Cepat. Lakukan perintahku.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar