Tetapi para prajurit itu masih saja duduk keheranan. Dipandanginya wajah Kebo Ijo yang tegang. Dan sekali lagi mereka mendengar Kebo Ijo berteriak, “Cepat. Ayo lakukan perintahku. Membuat sebuah paga untukku. Jumlah kalian telah cukup banyak untuk melakukannya. Kalian tidak perlu mencari orang lain lagi. Coba berapa orang yang bergerombolan disini. Sebelas, ah, malahan dua belas orang.”
Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kami harus membuatnya sekarang?”
“Oh, ternyata kau tuli. Aku sudah bilang, selesaikan paga itu hari ini juga.”
“Tetapi kami bukan prajurit-prajurit yang baru datang tiga hari yang lalu. Kami telah lama berada di Padang Karautan ini.”
“Aku tidak peduli. Lakukan perintahku. Aku adalah orang kedua sesudah Ken Arok di sini. Semua harus tunduk pada perintahku. Baik ia baru datang tiga hari yang lalu, maupun sudah lama berada di sini.”
Sekali lagi prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Tetapi satu-dua dari mereka telah berdiri, meskipun sambil bersungut-sungut di dalam hati. Hari ini mereka sebenarnya masih diizinkan untuk beristirahat. Tetapi ketika mereka mulai melangkah, maka langkah itu pun terhenti. Mereka melihat Ken Arok berjalan mendatanginya. Dengan nada datar ia bertanya,
“Ada apa dengan kalian?”
“Aku memerintahkan kepada mereka untuk membuat sebuah paga,” sahut Kebo Ijo.
“O,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau perlu sekali dengan paga itu?”
“Ya, aku harus meletakkan pakaianku. Di dalam gubugku sama sekali tidak ada tempat yang pantas.”
Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Para prajurit itu sebenarnya masih harus menikmati masa istirahatnya untuk menyambut hari-hari gembira. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Kebo Ijo meskipun ia berwenang. Dengan demikian maka ia akan membuat anak muda itu malu dan seterusnya mengurangi kepatuhan para prajurit terhadapnya. Dalam keadaan yang demikian, maka Kebo Ijo pasti akan berusaha untuk menebus kewibawaannya dengan perbuatan yang aneh-aneh yang barangkali terlampau keras. Sejenak Ken Arok berdiri saja dengan penuh kebimbangan. Apakah sebaiknya yang pantas dilakukan. Ia harus cukup bijaksana sehingga persoalan itu dapat dipecahkannya tanpa membuat pihak-pihak yang bersangkutan menjadi kecewa.
Tetapi belum lagi Ken Arok mendapatkan cara yang dianggapnya baik, maka sekali lagi ia mendengar Kebo Ijo membentak, “Ayo, cepat. Apalagi yang kau tunggu? Aku memerlukan paga itu segera.”
Seperti digerakkan oleh sebuah tenaga, maka para prajurit itupun bersama-sama berpaling memandangi Ken Arok seakan minta pertimbangan kepadanya, apakah saat-saat yang terasa sangat menggembirakan itu harus segera diputuskan hanya karena sebuah paga. Ken Arok merasakan betapa tatapan mata para prajuritnya itu bertanya kepadanya, dan lebih daripada itu menunggu keputusannya. Namun sekali lagi hatinya tersentuh pula oleh kewajibannya untuk mempertahankan kewibawaan Kebo Ijo. Kalau ia membatalkan perintah itu berdasarkan wewenangnya, maka hal yang serupa akan menjadi kebiasaan para prajurit itu. Karena itu maka Ken Arok kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata,
“Ya, baiklah. Lakukanlah perintah itu.”
Alangkah kecewanya hati para prajurit itu. Tanpa mereka sengaja mereka menebarkan pandangan mereka ke arah kelompok-kelompok yang lain yang masih dengan gembira menikmati masa-masa istirahat mereka. Perasaan yang selama ini tidak pernah tumbuh di dalam dada mereka, terasa kini mulai menjamah hati mereka. Iri. Mereka merasa iri bahwa kawan-kawan mereka itu masih dapat duduk sambil bergurau dan menikmati makanan yang melimpah-limpah. Tetapi mereka sekelompok yang hanya kebetulan saja duduk di dekat gubug Kebo Ijo, tiba-tiba saja telah mendapat pekerjaan yang menjemukan. Membuat paga. Seandainya hari itu juga mereka harus melanjutkan kerja mereka bersama-sama, maka mereka tidak akan merasa malas seperti itu.
Tetapi Ken Arok telah membenarkan perintah Kebo Ijo, sehingga karena itu maka mereka terpaksa juga melangkahkan kaki-kaki mereka yang serasa menjadi terlampau berat, ke arah setumpuk bambu di sebelah perkemahan itu.
Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka mendengar Ken Arok berkata, “He, apakah tidak ada yang kalian lupakan?”
Salah seorang dari mereka bertanya, ” Apakah yang tertinggal?”
“Tidak ada seorang pun diantara kalian yang membawa alat untuk memotong, memecah, dan meraut bambu.”
“Oh,” para prajurit itu pun kemudian berdesah.
“Ambillah,” berkata salah seorang di antara mereka kepada prajurit yang paling muda.
Dengan malasnya prajurit muda itu berjalan ke dalam gubug tempat menyimpan segala macam alat-alat. Langkahnya satu-satu seperti anak itu sedang kelaparan.
“He, inikah cara kalian bekerja,” bentak Kebo Ijo, “langkahmu seperti cacing kelaparan. Kau sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”
Prajurit itu terkejut. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah mengambil segala macam alat yang mereka perlukan. Ketika ia berlari-lari kembali, maka didukungnya berbagai macam pisau dan kelewang.
“Cepat, lakukan perintahku,” teriak Kebo Ijo sambil bertolak pinggang.
Sikapnya telah menumbuhkan kesan yang kurang menyenangkan bagi para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan itu. Namun ketika mereka sedang melangkah beberapa langkah lagi, mereka mendengar Ken Arok berkata pula,
“He, kalian masih juga kelupaan sesuatu.”
“Apa lagi?” bertanya salah seorang dari mereka.
Ken Arok tersenyum ketika ia mendengar Kebo Ijo menggeram. Agaknya Kebo Ijo menjadi jengkel juga terhadap Ken Arok yang seolah-olah sengaja menghambat para prajurit itu.
“Itu,” Ken Arok menjawab sambil menunjuk makanan yang masih berserakan, “kalian boleh membawa makanan itu, supaya kalian dapat bekerja dengan tenang. Hari ini adalah hal yang sangat khusus. Di hari-hari di mana kalian bekerja, maka aku akan mengambil tindakan apabila aku melihat salah seorang dari kalian ternyata membawa makanan. Tetapi di hari istirahat ini pekerjaan kalian adalah makan, sedangkan pekerjaan yang lain itu adalah pekerjaan sambilan. Tetapi ingat. Hari ini paga itu harus sudah siap. Tetapi itu bukan berarti bahwa kalian harus bekerja dengan wajah berduka. Tidak ada larangan buat tertawa. Asal tertawa itu tidak memperlambat pekerjaan kalian.”
Para prajurit itu sejenak tertegun diam. Namun tiba-tiba mereka itu tersenyum. Bahkan prajurit yang paling muda, yang dengan malasnya telah mengambil alat-alat mereka, kini dengan sigapnya meloncat dan memungut beberapa macam makanan yang disukainya.
“Bawa semuanya. Serahkan alat-alat itu kepada orang lain.”
Perintah ini pun dilakukannya dengan cepatnya. Jauh lebih cepat daripada saat ia berlari-lari ke tempat simpanan alat-alat.
“Nah, cepat. Sekarang pergi ke timbunan bambu, secepat kalian mengambil makanan itu.”
Para prajurit itu tidak dapat menahan tawa mereka. Tetapi sikap mereka pun kini segera berubah. Dengan lincahnya mereka melangkah ke arah setumpuk bambu. Dan kemudian dengan cepat pula mereka mengerjakannya. Membuat sebuah paga. Namun tangan mereka tidak henti-hentinya menyuapi mulut mereka. Ada satu-dua di antara mereka yang memecah bambu sambil berdendang. Ada yang meraut belahan bambu sambil berkelakar.
Sesaat Kebo Ijo dan Ken Arok masih memandangi mereka dari kejauhan. Mereka melihat para prajurit itu bekerja dengan cekatan. Meskipun pekerjaan itu bukan pekerjaan mereka, tetapi ada di antara mereka yang memang cukup cakap untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dari bambu. Beberapa orang prajurit yang lain, yang juga duduk di dalam kelompok-kelompok, akhirnya melihat juga kawan-kawannya yang sibuk membuat paga. Beberapa dari antara mereka mendatangi para prajurit yang sedang bekerja itu sambil bertanya,
“Apakah yang kalian lakukan?”
Salah seorang dari mereka menjawab, “Membuat paga.”
“Buat apa?”
“Tempat pakaian.”
“He,” prajurit yang bertanya itu membelalakkan matanya, “baru sekarang kau berpikir untuk membuat tempat pakaian? Agaknya kau menunggu pakaianmu menjadi kumal, baru kau buat rak-rakan untuk menyimpannya.”
“Hus,” desis prajurit yang sedang bekerja itu, “bukan untuk kami sendiri. Tetapi kami membuat untuk pemimpin kami yang seorang itu, yang akan membantu Ken Arok memimpin kami. Kebo Ijo.”
“O,” prajurit itu tiba-tiba menutup mulutnya. Ketika ia berpaling, ia masih melihat Kebo Ijo berdiri bertolak pinggang di tempat yang agak jauh.
“Ia pasti tidak mendengar,” desis prajurit itu pula.
“Tetapi sikapmu pasti membuatnya marah. Orang itu agaknya pemarah dan keras.”
“Oh,” tiba-tiba prajurit itu pun berjongkok pula di antara mereka yang sedang bekerja, “aku akan ikut membantu kalian. Apakah kalian tidak menghabiskan hari istirahat ini, dan membuat paga ini besok.”
“Paga ini harus jadi hari ini juga.”
“Bukan main.”
Beberapa orang prajurit yang semula hanya berdiri saja melihat-lihat satu demi satu ikut pula berjongkok dan membantu membuat paga itu. Ada yang membantu meraut bambu-bambu yang telah dibelah, ada yang mengerat dan membuat lubang-lubang purus. Ada yang membuat tali dan ada yang mulai nglanji potongan-potongan bambu itu.
Di kejauhan Ken Arok yang masih berdiri di samping Kebo Ijo berkata, “Lihat, pekerjaan itu akan cepat selesai. Yang turut bekerja menjadi semakin banyak. Kini telah lebih dari duapuluh lima orang berjongkok di sana meskipun sebagian dari mereka hanya duduk-duduk sambil berbicara. Tetapi suasananya menjadi lebih jernih.”
“Kau terlalu memanjakan prajurit-prajuritmu,” sahut Kebo Ijo, ”sebenarnya kau tidak perlu terlampau bermanis-manis. Sejak aku datang, aku sudah melihat kelemahanmu. Apalagi ketika prajurit yang mengantarkan aku berkata serba sedikit tentang kau. Katanya, kau selalu mengalah terhadap prajurit-prajuritmu. Untuk segala hal kau lebih senang mempergunakan sisa dari prajurit-prajuritmu. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Dan aku tidak akan berbuat demikian. Aku akan bersikap seperti sikap seorang perwira, sebenarnya perwira. Aku tidak akan terlampau lunak dan memanjakan prajurit-prajuritku. Supaya mereka tahu bagaimana mereka harus bersikap terhadap atasannya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Bagiku sikap yang berlebih-lebihan itu tidak perlu. Aku ingin mengendalikan mereka sebaik-baiknya. Tidak dengan kekerasan seperti yang kau bayangkan. Lihat, bukankah pekerjaan itu selesai juga dengan caraku. Dan para prajurit itu tidak merasa tersinggung dan terganggu.”
“Tetapi setiap kali kita harus bermanis-manis. Setiap kali kita harus berpura-pura meskipun sebenarnya dada kita bengkah karena kemarahan atas sikap mereka yang memuakkan, kita harus tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Coba lihat prajurit-prajuritmu yang telah lama berada di Padang Karautan ini. Mereka terlampau malas seperti cacing kelaparan. Tetapi kalau mereka mendapat makanan, maka mereka berebutan seperti serigala.”
“Ah,” Ken Arok semakin tidak senang mendengar kata-kata Kebo Ijo. Ia tahu sifat dan watak anak muda itu. Meskipun perkenalannya dengan adik seperguruan Witantra ini belum terlampau akrab, tetapi ia sudah membayangkan, alangkah jauh sifat dan wataknya dari kakak seperguruannya itu.
“Lihat,” berkata Kebo Ijo, “kau akan melihat perbedaan sikap mereka setelah aku berada di sini.”
“Aku tidak menghendaki,” sahut Ken Arok, “aku menghendaki suasana di padang rumput Karautan ini tetap seperti semula.”
Kebo Ijo terkejut mendengar jawaban Ken Arok sehingga ia berpaling. Tetapi dilihatnya Ken Arok masih tetap berdiri dengan tenangnya memandangi orang-orang yang sedang bekerja membuat paga untuk Kebo Ijo itu.
“Kau akan tetap memelihara prajurit-prajuritmu menjadi pemalas,” bertanya Kebo Ijo.
“Kau belum pernah melihat mereka bekerja di bendungan.”
“Di bendungan?:
“Ya, di bendungan dan sendang buatan itu.”
“O, jadi prajurit-prajuritmu juga kau pekerjakan di bendungan itu.”
“Ya.”
“Itu pun tidak akan aku lakukan. Prajurit-prajurit dari Tumapel hanya boleh bekerja di sendang buatan. Bendungan itu adalah tugas orang-orang Panawijen. Kalau semua kau kerjakan, lalu apakah kerja orang-orang Panawijen? Tidur dan menghabiskan bekal makanan kita?”
“Seharusnya kau tidak mengucapkan kata-kata itu,” sahut Ken Arok, “kau harus melihat dulu. Baru kau menilai apa yang kau lihat.”
“Aku sudah melihat cara mereka bekerja. Dan aku sudah dapat menilai. Juga tentang orang-orang Panawijen ini.”
“Kalau bendungan itu tidak siap, dari mana sendang itu akan mendapat air?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya berkerut-merut. Lalu katanya, “Ya, barangkali begitu, tetapi baik terhadap orang-orang Panawijen dan kepada para prajurit, kita harus bersikap keras. Kita jangan membuat kebiasaan jelek antara bawahan dan atasannya.”
“Apakah aku juga harus bersikap demikian terhadapmu?” pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Kebo Ijo sehingga dadanya serasa berdentang.
Sejenak prajurit muda itu justru terbungkam. Tetapi matanya seolah-olah hendak menyala. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan seperti bara.
Dengan nafas yang seakan-akan menyumbat kerongkongan ia bertanya, “Apakah maksudmu?”
Tetapi Ken Arok masih tetap tenang. Ia masih saja memandangi orang yang bekerja membuat paga bagi Kebo Ijo. Dengan nada datar ia berkata, “Kau ingin aku bersikap keras tehadap bawahanku. Kalau kau tidak sependapat dengan aku, maka apakah kau juga bermaksud supaya aku memaksamu.”
Dada Kebo Ijo kini benar berdentangan. Ia tidak menyangka bahwa Ken Arok akan bersikap demikian terhadapnya. Selama ini ia menganggap bahwa Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang tidak begitu penting. Adalah kebetulan saja bahwa ia mendapat tugas di Padang Karautan. Seperti biasanya Akuwu kadang-kadang tidak terlampau panjang berpikir tentang sesuatu masalah yang tidak dianggapnya penting.
Misalnya tentang pembuatan sendang dan taman di Padang Karautan, sehingga ia menunjuk saja orang yang terdekat pada saat keinginannya itu tumbuh. Agaknya saat itu Ken Arok lah yang lagi menghadapnya, sehingga anak itulah yang diserahi untuk melakukan tugas itu. Kebo Ijo tidak pernah berpikir bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah menyaksikan sendiri, bagaimana Ken Arok berkelahi melawan Mahisa Agni ketika mereka sedang melarikan Ken Dedes, dan bagaimana anak muda itu dengan sebuah gerakan yang sama sekali tak terduga-duga telah membunuh seorang prajurit.
Apa yang dilihat itu ternyata tetap teringat oleh Akuwu Tunggul Ametung yang senang sekali melihat keperkasaan para prajurit dan pelayan dalamnya. Dan karena keperkasaannya pulalah maka Witantra berada di dekat Akuwu itu, dan dahulu juga Kuda Sempana. Karena hal yang serupa pula maka Kebo Ijo tepat mendapat wisuda dan bahkan kemudian diserahi untuk memimpin sejumlah prajurit menyusul Ken Arok di Padang Karautan ini.
Tetapi kini tiba-tiba Kebo Ijo menghadapi sikap pelayan dalam yang dianggapnya tidak penting itu, betapa menyakitkan hatinya. Sehingga untuk sejenak justru mulutnya terbungkam dan tubuhnya menjadi gemetar seperti kedinginan. Selama itu Ken Arok hanya berdiam diri saja. Ia masih saja memandangi orang-orangnya yang sedang bekerja. Seolah-olah ia acuh tak acuh saja atas sikap Kebo Ijo yang menjadi sangat marah kepadanya.
Sejenak kemudian maka terdengar Kebo Ijo menggeram, “Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku.”
“Aku tidak menakut-nakutimu. Aku hanya ingin mendengar pendapatmu tentang dirimu sendiri. Aku kira kau pasti tidak senang mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Terlampau keras dan kasar, tanpa mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Tanpa kesempatan untuk beristirahat dan tertawa.”
“Ternyata kau pengecut,” sahut Kebo Ijo yang hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya, “kau tidak berani mempertanggung-jawabkan kata-katamu sendiri.”
“Kenapa?” bertanya Ken Arok masih dalam sikapnya.
“Aku kira kau juga hanya dapat menakut-nakuti para prajurit itu sehingga kau tidak berani bertindak keras terhadap mereka. Sedangkan apabila para prajurit itu berani menentangmu, maka kau surut tidak hanya satu-dua langkah. Tetapi kau surut sampai ke batas yang paling aman bagimu.”
Kini Ken Arok memalingkan kepalanya. Masih dalam nada yang datar ia bertanya, “Apakah maksudmu?”
“Kau pengecut,” Kebo Ijo mengulangi. “Kau tidak berani memberikan perintah sebagai seorang pemimpin. Kau hanya berani membujuk mereka dengan kemanjaan yang berlebih-lebihan supaya mereka tidak marah kepadamu.”
“Kau yakin begitu?” bertanya Ken Arok.
“Aku yakin,” jawab Kebo Ijo, “sekarang kau mencoba menakut-nakuti aku. Tetapi kau tidak berani mempertanggung-jawabkan. Dengan licik kau memutarbalikkan arti kata-katamu.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Sedangkan Kebo Ijo berbicara terus, “Apalagi kau sama sekali tidak berhak berbuat apa pun juga atasku. Aku mendapat perintah langsung dari Tuanku Akuwu.”
“Bagaimana bunyi perintah itu?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi kamudian ia menjawab, “Aku mendapat perintah untuk membantumu. Hanya membantu. Dan itu tidak berarti bahwa aku berada di bawah perintahmu.”
“Kau berada di bawah perintahku,” sahut Ken Arok tegas.
Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. Sekali lagi darahnya serasa mendidih dan wajahnya merah membara. Namun selama itu ternyata Ken Arok telah mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu atas anak yang agaknya keras kepala ini. Ia harus menunjukkan kewibawaannya atasnya menurut cara yang diingini oleh Kebo Ijo sendiri. Selama ia belum berbuat sesuatu, maka Kebo Ijo pasti masih akan merupakan penghalang bagi setiap rencana dan pelaksanaannya sesuai dengan cara yang selama ini telah ditempuhnya dengan hasil yang cukup baik. Ia tidak senang sama sekali apabila Kebo Ijo tiba-tiba saja telah mengubah suasana yang baik di dalam kerja yang berat ini. Karena itu, maka ia akan berbuat sesuai dengan keinginan Kebo Ijo sendiri.
Sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo itu menggeram. “Kau akan membuktikan bahwa kau bukan seorang pengecut?”
“Bukan itu soalnya. Tetapi sesuai dengan pendapatmu sendiri, aku akan berbuat sesuatu atasmu apabila kau tidak tunduk akan perintahku.”
“Apa yang akan kau lakukan?” suara Ilebo Ijo gemetar.
“Memaksamu.”
“Oh,” tiba-tiba Kebo Ijo menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkannya pada ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit ular, “itukah keinginanmu?”
Tetapi Ken Arok masih tetap berdiam diri. Bahkan kini ia telah memandangi para prajurit yang bekerja itu lagi, seolah-olah ia tidak tanggap apa yang dilakukan oleh Kebo Ijo.
“He,” berkata Kebo Ijo itu lantang, “ayo, apakah yang kau kehendaki?”
Ken Arok berpaling. Bahkan ia bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”
Mata Kebo Ijo terbelalak karenanya. Jawabnya, “Bukankah kau akan mencoba memaksakan pendirianmu kepada Kebo Ijo yang kau sangka akan bertekuk-lutut dan menyembah kepadamu. Ayo, lakukan kalau kau ingin memaksa aku.”
“Ya, aku memang ingin memaksamu. Jadi kau harus tunduk kepada perintahku. Itu saja.”
“Aku tidak mau.”
“Bagaimana kalau prajuritmu berbuat seperti kau. Tidak mau tunduk kepadamu.”
Kemarahan Kebo Ijo ternyata telah membakar kepalanya sehingga hampir-hampir tidak terkendali. Bahkan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menunjukkan kepada Ken Arok, bahwa ia memang tidak dapat ditakut-takuti atau diancam dengan cara apa pun. Ia akan tetap pada pendiriannya.
“Kalau prajuritku tidak tunduk kepadaku, aku pukul ia sampai pingsan.”
“Bagaimana kalau ia melawan?”
“Aku ikat dan aku seret di belakang punggung kuda. Nah, bukankah kau akan melakukannya atasku yang kau anggap bawahanmu?”
“Bagiku tidak perlu. Aku dapat melaporkan hal itu kepada atasanku. Bukankah kau sekarang prajurit pengawal istana? Bukankah menurut susunan keprajuritan, kau termasuk dalam lingkungan kekuasaan kakak seperguruanmu, Witantra?”
“Itulah sebabnya kau tidak berhak memerintah aku.”
“Tetapi pimpinan di sini adalah aku. Aku dapat melaporkan apa yang terjadi atasmu. Kepada kakang Witantra dan bahkan mungkin langsung kepada Akuwu Tunggul Ametung.”
“Setan alas,” Kebo Ijo menggeram, “kau memang pengecut. Kau tidak berani bertindak dengan kekuatanmu sendiri. Kau akan menyalah gunakan kekuasaan yang ada padamu”.
“Itulah yang sebaik-baiknya. Aku tidak ingin bertindak sendiri. Aku tidak ingin memutuskan hukuman yang memang bukan wewenangku. Dan aku tidak ingin berbuat sewenang-wenang.”
“Aku sangka bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ternyata kau lebih dari betina pengecut yang sama sekali tidak berarti.”
Ken Arok kini mengerutkan keningnya. Wajahnya menegang, tetapi ia masih tetap berusaha untuk tidak bertindak tergesa-gesa.
“Kau baru saja datang di Padang Karautan. Jangan membuat persoalan. Kau seorang prajurit yang tahu kewajiban seorang prajurit. Kalau kau melakukan perintahku, maka itu sudah cukup. Kau tidak perlu berbuat aneh-aneh di sini. Sekarang beristirahatlah. Besok kau akan mulai melakukan kewajibanmu. Tetapi ingat, akulah pemimpin di sini.”
“Aku tidak peduli,” jawab Kebo Ijo yang benar-benar sudah tenggelam dalam kemarahannya, “aku tidak mau tunduk kepadamu. Bahkan aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar seorang pengecut.”
“Bagaimana kau akan membuktikan?”
“Aku mengharap kau berani bertindak atas wewenang yang menurut perasaanmu telah kau terima. Ayo, kau harus memaksa aku. Kalau perlu dengan kekerasan. Sesudah itu terserah kepadamu, apakah kau akan melaporkannya kepada kakang Witantra atau kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku tidak berkeberatan untuk digantung seandainya aku dianggap bersalah menentang sikapmu yang cengeng terhadap anak buahmu?”
“Maksudmu kau ingin berkelahi?”
Dada Kebo Ijo tergetar. Meskipun maksudnya memang demikian tetapi keterus-terangan itu telah menghentak jantungnya. Namun akhirnya ia menjawab, “Ya, aku ingin berkelahi.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ingin berbuat demikian. Tetapi ia tidak mau dihanyutkan oleh kemarahannya saja. Ia harus tetap menyadari apa yang akan dilakukannya, supaya ia tidak terlepas dari pengendalian diri. Maka katanya kemudian,
“Apakah kau sudah berpikir masak-masak?”
“Seribu kali kuulangi. Aku tetap dalam pendirianku. Aku ingin melihat apakah orang yang ditempatkan di Padang Karautan ini sudah tepat.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah kalau kau memang ingin berbuat demikian.”
“Bagus,” hampir berteriak Kebo Ijo menyahut. Tetapi ia masih melihat Ken Arok berdiri saja dengan tenangnya, meskipun wajahnya menjadi semakin tegang.
“Ayo bersiaplah.”
“Aku bukan seorang yang terlampau bodoh untuk melakukannya sekarang. Para prajurit itu akan melihat kita berkelahi. Mereka akan kehilangan kepercayaannya kepada pemimpinnya.”
Sekali lagi mata Kebo Ijo terbelalak. Dengan gagap ia bertanya, “Lalu, apakah maksudmu sebenarnya?”
“Aku memang tidak berkeberatan kita mencoba untuk sekali-sekali berkelahi. Tetapi tidak di hadapan para prajurit. Sungguh memalukan. Menang atau kalah, kita sudah kehilangan kewibawaan atasnya. Selanjutnya akan memberikan contoh yang sama sekali tidak baik atas mereka, dan mereka pun akan saling berkelahi satu sama lain sebagai cara untuk menyelesaikan setiap persoalan.”
“Jadi, bagaimana?”
“Aku masih ingin memisahkan masalahnya. Aku kira aku dapat menganggap bahwa persoalan ini adalah persoalan kita. Katakanlah kita yang masih terlampau muda. Aku akan menarik garis pemisah antara persoalan ini dengan kedudukan kita masing-masing. Aku mengharap kau tidak akan dianggap bersalah. Tetapi kita harus bersikap jantan. Siapa yang kalah harus mengakui kekalahannya.”
“Itu sama sekali tidak menarik. Kita harus mempertaruhkan sesuatu untuk setiap kemenangan dan kekalahan. Mungkin jabatan, mungkin kehormatan, di hadapan saksi-saksi.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kebo Ijo adalah seorang yang terlampau yakin akan dirinya dan justru keyakinannya itulah yang telah mendorongnya untuk bersombong diri. Ia menyadari benar-benar kelebihan-kelebihan yang ada di dalam dirinya, dan ia ingin melihat orang lain mengagumi kelebihannya itu.
Tetapi Ken Arok tidak ingin menanggapi sikap yang demikian. Ia masih mementingkan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Ia harus mempertahankan kepercayaan orang-orangnya dan memelihara ketertiban sejauh mungkin tanpa menunjukkan kekuasaan dan apalagi kekerasan terhadap bawahannya.
“Apa katamu sekarang?” bentak Kebo Ijo ketika Ken Arok tidak segera menjawab, “Kita jadikan para prajurit itu saksi. Siapakah di antara kita yang berhak untuk mendapat taruhan.”
“Sudah aku katakan,” sahut Ken Arok, “perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang terlampau bodoh. Kita tidak perlu saksi-saksi. Kita percaya kepada kejujuran dan kejantanan diri. Ayo, apakah yang ingin kita pertaruhkan?
“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Ijo.
“Kau yang menentukan.”
“Bagus. Kita pertaruhkan jabatan kita. Kalau kau kalah, maka akulah yang memimpin prajurit-prajurit Tumapel di sini. Kau harus tunduk kepada semua perintahku. Kau menjadi pembantuku di sini meskipun Akuwu Tumapel tidak mengingininya.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Taruhannya cukup bernilai. Tetapi Ken Arok harus cukup sadar, bahwa ia akan menghadapi perkembangan keadaan yang mungkin saja tidak dikehendaki. Kebo Ijo yang terlampau membiarkan perasaannya berbicara itu akan cepat kehilangan kesadaran dan perkelahian yang demikian akan berkembang tak terkendali. Tetapi ia tidak dapat mencari seorang saksi pun dalam perkelaihan itu. Satu orang sudah cukup banyak untuk menyebarkan hal itu kepada seluruh prajurit di Padang Karautan dan orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh prajurit Tumapel. Lalu apa kata mereka tentang para pemimpin mereka. Para perwira yang bertengkar satu sama lain, bahkan berkelahi.
“He,” Kebo Ijo membentak sekali lagi, “kenapa kau diam saja? Apakah kau menjadi cemas, bahwa suatu ketika kau akan mendapat perintah yang berlebih-lebihan daripadaku? Aku tidak sekejam itu terhadap bawahanku yang tunduk kepadaku. Kau pun tidak akan aku perlakukan terlampau keras seandainya kau tidak selalu menentang keputusan-keputusan yang aku buat.”
“Hem,” Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Witantra pun tidak akan berbuat serupa kau ini meskipun ia kakak seperguruanmu. Kau terlampau meyakini kelebihanmu. Mungkin akhir-akhir ini kau mendapat banyak kemajuan. Tetapi jangan terlampau berbangga.”
“Jangan banyak berbicara,” potong Kebo Ijo, “kita buktikan saja. Aku telah menemukan kekuatan di dalam diriku. Kekuatan yang hampir tidak pernah dapat diungkapkan. Aku akan segera melampaui kakang Witantra. Mungkin kakang Mahendra kini sudah tidak dapat mengalahkan aku.”
Terasa sebuah gejolak melanda dinding-dinding jantung Ken Arok. Ia pun masih cukup muda. Untunglah bahwa ia menyadari dirinya. Dirinya yang baru saja bangkit dari reruntuhan yang mengerikan dari watak dan sifat orang-orang tua yang mengasuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari bahwa kadang-kadang ia masih juga dapat lupa diri dan berbuat kasar, sekasar pada saat-saat ia berkeliaran di Padang Karautan. Tetapi kali ini ia cukup sadar. Cukup berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran itu.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kami harus membuatnya sekarang?”
“Oh, ternyata kau tuli. Aku sudah bilang, selesaikan paga itu hari ini juga.”
“Tetapi kami bukan prajurit-prajurit yang baru datang tiga hari yang lalu. Kami telah lama berada di Padang Karautan ini.”
“Aku tidak peduli. Lakukan perintahku. Aku adalah orang kedua sesudah Ken Arok di sini. Semua harus tunduk pada perintahku. Baik ia baru datang tiga hari yang lalu, maupun sudah lama berada di sini.”
Sekali lagi prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Tetapi satu-dua dari mereka telah berdiri, meskipun sambil bersungut-sungut di dalam hati. Hari ini mereka sebenarnya masih diizinkan untuk beristirahat. Tetapi ketika mereka mulai melangkah, maka langkah itu pun terhenti. Mereka melihat Ken Arok berjalan mendatanginya. Dengan nada datar ia bertanya,
“Ada apa dengan kalian?”
“Aku memerintahkan kepada mereka untuk membuat sebuah paga,” sahut Kebo Ijo.
“O,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau perlu sekali dengan paga itu?”
“Ya, aku harus meletakkan pakaianku. Di dalam gubugku sama sekali tidak ada tempat yang pantas.”
Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Para prajurit itu sebenarnya masih harus menikmati masa istirahatnya untuk menyambut hari-hari gembira. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Kebo Ijo meskipun ia berwenang. Dengan demikian maka ia akan membuat anak muda itu malu dan seterusnya mengurangi kepatuhan para prajurit terhadapnya. Dalam keadaan yang demikian, maka Kebo Ijo pasti akan berusaha untuk menebus kewibawaannya dengan perbuatan yang aneh-aneh yang barangkali terlampau keras. Sejenak Ken Arok berdiri saja dengan penuh kebimbangan. Apakah sebaiknya yang pantas dilakukan. Ia harus cukup bijaksana sehingga persoalan itu dapat dipecahkannya tanpa membuat pihak-pihak yang bersangkutan menjadi kecewa.
Tetapi belum lagi Ken Arok mendapatkan cara yang dianggapnya baik, maka sekali lagi ia mendengar Kebo Ijo membentak, “Ayo, cepat. Apalagi yang kau tunggu? Aku memerlukan paga itu segera.”
Seperti digerakkan oleh sebuah tenaga, maka para prajurit itupun bersama-sama berpaling memandangi Ken Arok seakan minta pertimbangan kepadanya, apakah saat-saat yang terasa sangat menggembirakan itu harus segera diputuskan hanya karena sebuah paga. Ken Arok merasakan betapa tatapan mata para prajuritnya itu bertanya kepadanya, dan lebih daripada itu menunggu keputusannya. Namun sekali lagi hatinya tersentuh pula oleh kewajibannya untuk mempertahankan kewibawaan Kebo Ijo. Kalau ia membatalkan perintah itu berdasarkan wewenangnya, maka hal yang serupa akan menjadi kebiasaan para prajurit itu. Karena itu maka Ken Arok kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata,
“Ya, baiklah. Lakukanlah perintah itu.”
Alangkah kecewanya hati para prajurit itu. Tanpa mereka sengaja mereka menebarkan pandangan mereka ke arah kelompok-kelompok yang lain yang masih dengan gembira menikmati masa-masa istirahat mereka. Perasaan yang selama ini tidak pernah tumbuh di dalam dada mereka, terasa kini mulai menjamah hati mereka. Iri. Mereka merasa iri bahwa kawan-kawan mereka itu masih dapat duduk sambil bergurau dan menikmati makanan yang melimpah-limpah. Tetapi mereka sekelompok yang hanya kebetulan saja duduk di dekat gubug Kebo Ijo, tiba-tiba saja telah mendapat pekerjaan yang menjemukan. Membuat paga. Seandainya hari itu juga mereka harus melanjutkan kerja mereka bersama-sama, maka mereka tidak akan merasa malas seperti itu.
Tetapi Ken Arok telah membenarkan perintah Kebo Ijo, sehingga karena itu maka mereka terpaksa juga melangkahkan kaki-kaki mereka yang serasa menjadi terlampau berat, ke arah setumpuk bambu di sebelah perkemahan itu.
Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka mendengar Ken Arok berkata, “He, apakah tidak ada yang kalian lupakan?”
Salah seorang dari mereka bertanya, ” Apakah yang tertinggal?”
“Tidak ada seorang pun diantara kalian yang membawa alat untuk memotong, memecah, dan meraut bambu.”
“Oh,” para prajurit itu pun kemudian berdesah.
“Ambillah,” berkata salah seorang di antara mereka kepada prajurit yang paling muda.
Dengan malasnya prajurit muda itu berjalan ke dalam gubug tempat menyimpan segala macam alat-alat. Langkahnya satu-satu seperti anak itu sedang kelaparan.
“He, inikah cara kalian bekerja,” bentak Kebo Ijo, “langkahmu seperti cacing kelaparan. Kau sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”
Prajurit itu terkejut. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah mengambil segala macam alat yang mereka perlukan. Ketika ia berlari-lari kembali, maka didukungnya berbagai macam pisau dan kelewang.
“Cepat, lakukan perintahku,” teriak Kebo Ijo sambil bertolak pinggang.
Sikapnya telah menumbuhkan kesan yang kurang menyenangkan bagi para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan itu. Namun ketika mereka sedang melangkah beberapa langkah lagi, mereka mendengar Ken Arok berkata pula,
“He, kalian masih juga kelupaan sesuatu.”
“Apa lagi?” bertanya salah seorang dari mereka.
Ken Arok tersenyum ketika ia mendengar Kebo Ijo menggeram. Agaknya Kebo Ijo menjadi jengkel juga terhadap Ken Arok yang seolah-olah sengaja menghambat para prajurit itu.
“Itu,” Ken Arok menjawab sambil menunjuk makanan yang masih berserakan, “kalian boleh membawa makanan itu, supaya kalian dapat bekerja dengan tenang. Hari ini adalah hal yang sangat khusus. Di hari-hari di mana kalian bekerja, maka aku akan mengambil tindakan apabila aku melihat salah seorang dari kalian ternyata membawa makanan. Tetapi di hari istirahat ini pekerjaan kalian adalah makan, sedangkan pekerjaan yang lain itu adalah pekerjaan sambilan. Tetapi ingat. Hari ini paga itu harus sudah siap. Tetapi itu bukan berarti bahwa kalian harus bekerja dengan wajah berduka. Tidak ada larangan buat tertawa. Asal tertawa itu tidak memperlambat pekerjaan kalian.”
Para prajurit itu sejenak tertegun diam. Namun tiba-tiba mereka itu tersenyum. Bahkan prajurit yang paling muda, yang dengan malasnya telah mengambil alat-alat mereka, kini dengan sigapnya meloncat dan memungut beberapa macam makanan yang disukainya.
“Bawa semuanya. Serahkan alat-alat itu kepada orang lain.”
Perintah ini pun dilakukannya dengan cepatnya. Jauh lebih cepat daripada saat ia berlari-lari ke tempat simpanan alat-alat.
“Nah, cepat. Sekarang pergi ke timbunan bambu, secepat kalian mengambil makanan itu.”
Para prajurit itu tidak dapat menahan tawa mereka. Tetapi sikap mereka pun kini segera berubah. Dengan lincahnya mereka melangkah ke arah setumpuk bambu. Dan kemudian dengan cepat pula mereka mengerjakannya. Membuat sebuah paga. Namun tangan mereka tidak henti-hentinya menyuapi mulut mereka. Ada satu-dua di antara mereka yang memecah bambu sambil berdendang. Ada yang meraut belahan bambu sambil berkelakar.
Sesaat Kebo Ijo dan Ken Arok masih memandangi mereka dari kejauhan. Mereka melihat para prajurit itu bekerja dengan cekatan. Meskipun pekerjaan itu bukan pekerjaan mereka, tetapi ada di antara mereka yang memang cukup cakap untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dari bambu. Beberapa orang prajurit yang lain, yang juga duduk di dalam kelompok-kelompok, akhirnya melihat juga kawan-kawannya yang sibuk membuat paga. Beberapa dari antara mereka mendatangi para prajurit yang sedang bekerja itu sambil bertanya,
“Apakah yang kalian lakukan?”
Salah seorang dari mereka menjawab, “Membuat paga.”
“Buat apa?”
“Tempat pakaian.”
“He,” prajurit yang bertanya itu membelalakkan matanya, “baru sekarang kau berpikir untuk membuat tempat pakaian? Agaknya kau menunggu pakaianmu menjadi kumal, baru kau buat rak-rakan untuk menyimpannya.”
“Hus,” desis prajurit yang sedang bekerja itu, “bukan untuk kami sendiri. Tetapi kami membuat untuk pemimpin kami yang seorang itu, yang akan membantu Ken Arok memimpin kami. Kebo Ijo.”
“O,” prajurit itu tiba-tiba menutup mulutnya. Ketika ia berpaling, ia masih melihat Kebo Ijo berdiri bertolak pinggang di tempat yang agak jauh.
“Ia pasti tidak mendengar,” desis prajurit itu pula.
“Tetapi sikapmu pasti membuatnya marah. Orang itu agaknya pemarah dan keras.”
“Oh,” tiba-tiba prajurit itu pun berjongkok pula di antara mereka yang sedang bekerja, “aku akan ikut membantu kalian. Apakah kalian tidak menghabiskan hari istirahat ini, dan membuat paga ini besok.”
“Paga ini harus jadi hari ini juga.”
“Bukan main.”
Beberapa orang prajurit yang semula hanya berdiri saja melihat-lihat satu demi satu ikut pula berjongkok dan membantu membuat paga itu. Ada yang membantu meraut bambu-bambu yang telah dibelah, ada yang mengerat dan membuat lubang-lubang purus. Ada yang membuat tali dan ada yang mulai nglanji potongan-potongan bambu itu.
Di kejauhan Ken Arok yang masih berdiri di samping Kebo Ijo berkata, “Lihat, pekerjaan itu akan cepat selesai. Yang turut bekerja menjadi semakin banyak. Kini telah lebih dari duapuluh lima orang berjongkok di sana meskipun sebagian dari mereka hanya duduk-duduk sambil berbicara. Tetapi suasananya menjadi lebih jernih.”
“Kau terlalu memanjakan prajurit-prajuritmu,” sahut Kebo Ijo, ”sebenarnya kau tidak perlu terlampau bermanis-manis. Sejak aku datang, aku sudah melihat kelemahanmu. Apalagi ketika prajurit yang mengantarkan aku berkata serba sedikit tentang kau. Katanya, kau selalu mengalah terhadap prajurit-prajuritmu. Untuk segala hal kau lebih senang mempergunakan sisa dari prajurit-prajuritmu. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Dan aku tidak akan berbuat demikian. Aku akan bersikap seperti sikap seorang perwira, sebenarnya perwira. Aku tidak akan terlampau lunak dan memanjakan prajurit-prajuritku. Supaya mereka tahu bagaimana mereka harus bersikap terhadap atasannya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Bagiku sikap yang berlebih-lebihan itu tidak perlu. Aku ingin mengendalikan mereka sebaik-baiknya. Tidak dengan kekerasan seperti yang kau bayangkan. Lihat, bukankah pekerjaan itu selesai juga dengan caraku. Dan para prajurit itu tidak merasa tersinggung dan terganggu.”
“Tetapi setiap kali kita harus bermanis-manis. Setiap kali kita harus berpura-pura meskipun sebenarnya dada kita bengkah karena kemarahan atas sikap mereka yang memuakkan, kita harus tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Coba lihat prajurit-prajuritmu yang telah lama berada di Padang Karautan ini. Mereka terlampau malas seperti cacing kelaparan. Tetapi kalau mereka mendapat makanan, maka mereka berebutan seperti serigala.”
“Ah,” Ken Arok semakin tidak senang mendengar kata-kata Kebo Ijo. Ia tahu sifat dan watak anak muda itu. Meskipun perkenalannya dengan adik seperguruan Witantra ini belum terlampau akrab, tetapi ia sudah membayangkan, alangkah jauh sifat dan wataknya dari kakak seperguruannya itu.
“Lihat,” berkata Kebo Ijo, “kau akan melihat perbedaan sikap mereka setelah aku berada di sini.”
“Aku tidak menghendaki,” sahut Ken Arok, “aku menghendaki suasana di padang rumput Karautan ini tetap seperti semula.”
Kebo Ijo terkejut mendengar jawaban Ken Arok sehingga ia berpaling. Tetapi dilihatnya Ken Arok masih tetap berdiri dengan tenangnya memandangi orang-orang yang sedang bekerja membuat paga untuk Kebo Ijo itu.
“Kau akan tetap memelihara prajurit-prajuritmu menjadi pemalas,” bertanya Kebo Ijo.
“Kau belum pernah melihat mereka bekerja di bendungan.”
“Di bendungan?:
“Ya, di bendungan dan sendang buatan itu.”
“O, jadi prajurit-prajuritmu juga kau pekerjakan di bendungan itu.”
“Ya.”
“Itu pun tidak akan aku lakukan. Prajurit-prajurit dari Tumapel hanya boleh bekerja di sendang buatan. Bendungan itu adalah tugas orang-orang Panawijen. Kalau semua kau kerjakan, lalu apakah kerja orang-orang Panawijen? Tidur dan menghabiskan bekal makanan kita?”
“Seharusnya kau tidak mengucapkan kata-kata itu,” sahut Ken Arok, “kau harus melihat dulu. Baru kau menilai apa yang kau lihat.”
“Aku sudah melihat cara mereka bekerja. Dan aku sudah dapat menilai. Juga tentang orang-orang Panawijen ini.”
“Kalau bendungan itu tidak siap, dari mana sendang itu akan mendapat air?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya berkerut-merut. Lalu katanya, “Ya, barangkali begitu, tetapi baik terhadap orang-orang Panawijen dan kepada para prajurit, kita harus bersikap keras. Kita jangan membuat kebiasaan jelek antara bawahan dan atasannya.”
“Apakah aku juga harus bersikap demikian terhadapmu?” pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Kebo Ijo sehingga dadanya serasa berdentang.
Sejenak prajurit muda itu justru terbungkam. Tetapi matanya seolah-olah hendak menyala. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan seperti bara.
Dengan nafas yang seakan-akan menyumbat kerongkongan ia bertanya, “Apakah maksudmu?”
Tetapi Ken Arok masih tetap tenang. Ia masih saja memandangi orang yang bekerja membuat paga bagi Kebo Ijo. Dengan nada datar ia berkata, “Kau ingin aku bersikap keras tehadap bawahanku. Kalau kau tidak sependapat dengan aku, maka apakah kau juga bermaksud supaya aku memaksamu.”
Dada Kebo Ijo kini benar berdentangan. Ia tidak menyangka bahwa Ken Arok akan bersikap demikian terhadapnya. Selama ini ia menganggap bahwa Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang tidak begitu penting. Adalah kebetulan saja bahwa ia mendapat tugas di Padang Karautan. Seperti biasanya Akuwu kadang-kadang tidak terlampau panjang berpikir tentang sesuatu masalah yang tidak dianggapnya penting.
Misalnya tentang pembuatan sendang dan taman di Padang Karautan, sehingga ia menunjuk saja orang yang terdekat pada saat keinginannya itu tumbuh. Agaknya saat itu Ken Arok lah yang lagi menghadapnya, sehingga anak itulah yang diserahi untuk melakukan tugas itu. Kebo Ijo tidak pernah berpikir bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah menyaksikan sendiri, bagaimana Ken Arok berkelahi melawan Mahisa Agni ketika mereka sedang melarikan Ken Dedes, dan bagaimana anak muda itu dengan sebuah gerakan yang sama sekali tak terduga-duga telah membunuh seorang prajurit.
Apa yang dilihat itu ternyata tetap teringat oleh Akuwu Tunggul Ametung yang senang sekali melihat keperkasaan para prajurit dan pelayan dalamnya. Dan karena keperkasaannya pulalah maka Witantra berada di dekat Akuwu itu, dan dahulu juga Kuda Sempana. Karena hal yang serupa pula maka Kebo Ijo tepat mendapat wisuda dan bahkan kemudian diserahi untuk memimpin sejumlah prajurit menyusul Ken Arok di Padang Karautan ini.
Tetapi kini tiba-tiba Kebo Ijo menghadapi sikap pelayan dalam yang dianggapnya tidak penting itu, betapa menyakitkan hatinya. Sehingga untuk sejenak justru mulutnya terbungkam dan tubuhnya menjadi gemetar seperti kedinginan. Selama itu Ken Arok hanya berdiam diri saja. Ia masih saja memandangi orang-orangnya yang sedang bekerja. Seolah-olah ia acuh tak acuh saja atas sikap Kebo Ijo yang menjadi sangat marah kepadanya.
Sejenak kemudian maka terdengar Kebo Ijo menggeram, “Kau tidak akan dapat menakut-nakuti aku.”
“Aku tidak menakut-nakutimu. Aku hanya ingin mendengar pendapatmu tentang dirimu sendiri. Aku kira kau pasti tidak senang mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Terlampau keras dan kasar, tanpa mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Tanpa kesempatan untuk beristirahat dan tertawa.”
“Ternyata kau pengecut,” sahut Kebo Ijo yang hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya, “kau tidak berani mempertanggung-jawabkan kata-katamu sendiri.”
“Kenapa?” bertanya Ken Arok masih dalam sikapnya.
“Aku kira kau juga hanya dapat menakut-nakuti para prajurit itu sehingga kau tidak berani bertindak keras terhadap mereka. Sedangkan apabila para prajurit itu berani menentangmu, maka kau surut tidak hanya satu-dua langkah. Tetapi kau surut sampai ke batas yang paling aman bagimu.”
Kini Ken Arok memalingkan kepalanya. Masih dalam nada yang datar ia bertanya, “Apakah maksudmu?”
“Kau pengecut,” Kebo Ijo mengulangi. “Kau tidak berani memberikan perintah sebagai seorang pemimpin. Kau hanya berani membujuk mereka dengan kemanjaan yang berlebih-lebihan supaya mereka tidak marah kepadamu.”
“Kau yakin begitu?” bertanya Ken Arok.
“Aku yakin,” jawab Kebo Ijo, “sekarang kau mencoba menakut-nakuti aku. Tetapi kau tidak berani mempertanggung-jawabkan. Dengan licik kau memutarbalikkan arti kata-katamu.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Sedangkan Kebo Ijo berbicara terus, “Apalagi kau sama sekali tidak berhak berbuat apa pun juga atasku. Aku mendapat perintah langsung dari Tuanku Akuwu.”
“Bagaimana bunyi perintah itu?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi kamudian ia menjawab, “Aku mendapat perintah untuk membantumu. Hanya membantu. Dan itu tidak berarti bahwa aku berada di bawah perintahmu.”
“Kau berada di bawah perintahku,” sahut Ken Arok tegas.
Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. Sekali lagi darahnya serasa mendidih dan wajahnya merah membara. Namun selama itu ternyata Ken Arok telah mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu atas anak yang agaknya keras kepala ini. Ia harus menunjukkan kewibawaannya atasnya menurut cara yang diingini oleh Kebo Ijo sendiri. Selama ia belum berbuat sesuatu, maka Kebo Ijo pasti masih akan merupakan penghalang bagi setiap rencana dan pelaksanaannya sesuai dengan cara yang selama ini telah ditempuhnya dengan hasil yang cukup baik. Ia tidak senang sama sekali apabila Kebo Ijo tiba-tiba saja telah mengubah suasana yang baik di dalam kerja yang berat ini. Karena itu, maka ia akan berbuat sesuai dengan keinginan Kebo Ijo sendiri.
Sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo itu menggeram. “Kau akan membuktikan bahwa kau bukan seorang pengecut?”
“Bukan itu soalnya. Tetapi sesuai dengan pendapatmu sendiri, aku akan berbuat sesuatu atasmu apabila kau tidak tunduk akan perintahku.”
“Apa yang akan kau lakukan?” suara Ilebo Ijo gemetar.
“Memaksamu.”
“Oh,” tiba-tiba Kebo Ijo menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkannya pada ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit ular, “itukah keinginanmu?”
Tetapi Ken Arok masih tetap berdiam diri. Bahkan kini ia telah memandangi para prajurit yang bekerja itu lagi, seolah-olah ia tidak tanggap apa yang dilakukan oleh Kebo Ijo.
“He,” berkata Kebo Ijo itu lantang, “ayo, apakah yang kau kehendaki?”
Ken Arok berpaling. Bahkan ia bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”
Mata Kebo Ijo terbelalak karenanya. Jawabnya, “Bukankah kau akan mencoba memaksakan pendirianmu kepada Kebo Ijo yang kau sangka akan bertekuk-lutut dan menyembah kepadamu. Ayo, lakukan kalau kau ingin memaksa aku.”
“Ya, aku memang ingin memaksamu. Jadi kau harus tunduk kepada perintahku. Itu saja.”
“Aku tidak mau.”
“Bagaimana kalau prajuritmu berbuat seperti kau. Tidak mau tunduk kepadamu.”
Kemarahan Kebo Ijo ternyata telah membakar kepalanya sehingga hampir-hampir tidak terkendali. Bahkan tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menunjukkan kepada Ken Arok, bahwa ia memang tidak dapat ditakut-takuti atau diancam dengan cara apa pun. Ia akan tetap pada pendiriannya.
“Kalau prajuritku tidak tunduk kepadaku, aku pukul ia sampai pingsan.”
“Bagaimana kalau ia melawan?”
“Aku ikat dan aku seret di belakang punggung kuda. Nah, bukankah kau akan melakukannya atasku yang kau anggap bawahanmu?”
“Bagiku tidak perlu. Aku dapat melaporkan hal itu kepada atasanku. Bukankah kau sekarang prajurit pengawal istana? Bukankah menurut susunan keprajuritan, kau termasuk dalam lingkungan kekuasaan kakak seperguruanmu, Witantra?”
“Itulah sebabnya kau tidak berhak memerintah aku.”
“Tetapi pimpinan di sini adalah aku. Aku dapat melaporkan apa yang terjadi atasmu. Kepada kakang Witantra dan bahkan mungkin langsung kepada Akuwu Tunggul Ametung.”
“Setan alas,” Kebo Ijo menggeram, “kau memang pengecut. Kau tidak berani bertindak dengan kekuatanmu sendiri. Kau akan menyalah gunakan kekuasaan yang ada padamu”.
“Itulah yang sebaik-baiknya. Aku tidak ingin bertindak sendiri. Aku tidak ingin memutuskan hukuman yang memang bukan wewenangku. Dan aku tidak ingin berbuat sewenang-wenang.”
“Aku sangka bahwa kau adalah seorang laki-laki. Ternyata kau lebih dari betina pengecut yang sama sekali tidak berarti.”
Ken Arok kini mengerutkan keningnya. Wajahnya menegang, tetapi ia masih tetap berusaha untuk tidak bertindak tergesa-gesa.
“Kau baru saja datang di Padang Karautan. Jangan membuat persoalan. Kau seorang prajurit yang tahu kewajiban seorang prajurit. Kalau kau melakukan perintahku, maka itu sudah cukup. Kau tidak perlu berbuat aneh-aneh di sini. Sekarang beristirahatlah. Besok kau akan mulai melakukan kewajibanmu. Tetapi ingat, akulah pemimpin di sini.”
“Aku tidak peduli,” jawab Kebo Ijo yang benar-benar sudah tenggelam dalam kemarahannya, “aku tidak mau tunduk kepadamu. Bahkan aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar seorang pengecut.”
“Bagaimana kau akan membuktikan?”
“Aku mengharap kau berani bertindak atas wewenang yang menurut perasaanmu telah kau terima. Ayo, kau harus memaksa aku. Kalau perlu dengan kekerasan. Sesudah itu terserah kepadamu, apakah kau akan melaporkannya kepada kakang Witantra atau kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku tidak berkeberatan untuk digantung seandainya aku dianggap bersalah menentang sikapmu yang cengeng terhadap anak buahmu?”
“Maksudmu kau ingin berkelahi?”
Dada Kebo Ijo tergetar. Meskipun maksudnya memang demikian tetapi keterus-terangan itu telah menghentak jantungnya. Namun akhirnya ia menjawab, “Ya, aku ingin berkelahi.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ingin berbuat demikian. Tetapi ia tidak mau dihanyutkan oleh kemarahannya saja. Ia harus tetap menyadari apa yang akan dilakukannya, supaya ia tidak terlepas dari pengendalian diri. Maka katanya kemudian,
“Apakah kau sudah berpikir masak-masak?”
“Seribu kali kuulangi. Aku tetap dalam pendirianku. Aku ingin melihat apakah orang yang ditempatkan di Padang Karautan ini sudah tepat.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah kalau kau memang ingin berbuat demikian.”
“Bagus,” hampir berteriak Kebo Ijo menyahut. Tetapi ia masih melihat Ken Arok berdiri saja dengan tenangnya, meskipun wajahnya menjadi semakin tegang.
“Ayo bersiaplah.”
“Aku bukan seorang yang terlampau bodoh untuk melakukannya sekarang. Para prajurit itu akan melihat kita berkelahi. Mereka akan kehilangan kepercayaannya kepada pemimpinnya.”
Sekali lagi mata Kebo Ijo terbelalak. Dengan gagap ia bertanya, “Lalu, apakah maksudmu sebenarnya?”
“Aku memang tidak berkeberatan kita mencoba untuk sekali-sekali berkelahi. Tetapi tidak di hadapan para prajurit. Sungguh memalukan. Menang atau kalah, kita sudah kehilangan kewibawaan atasnya. Selanjutnya akan memberikan contoh yang sama sekali tidak baik atas mereka, dan mereka pun akan saling berkelahi satu sama lain sebagai cara untuk menyelesaikan setiap persoalan.”
“Jadi, bagaimana?”
“Aku masih ingin memisahkan masalahnya. Aku kira aku dapat menganggap bahwa persoalan ini adalah persoalan kita. Katakanlah kita yang masih terlampau muda. Aku akan menarik garis pemisah antara persoalan ini dengan kedudukan kita masing-masing. Aku mengharap kau tidak akan dianggap bersalah. Tetapi kita harus bersikap jantan. Siapa yang kalah harus mengakui kekalahannya.”
“Itu sama sekali tidak menarik. Kita harus mempertaruhkan sesuatu untuk setiap kemenangan dan kekalahan. Mungkin jabatan, mungkin kehormatan, di hadapan saksi-saksi.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kebo Ijo adalah seorang yang terlampau yakin akan dirinya dan justru keyakinannya itulah yang telah mendorongnya untuk bersombong diri. Ia menyadari benar-benar kelebihan-kelebihan yang ada di dalam dirinya, dan ia ingin melihat orang lain mengagumi kelebihannya itu.
Tetapi Ken Arok tidak ingin menanggapi sikap yang demikian. Ia masih mementingkan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Ia harus mempertahankan kepercayaan orang-orangnya dan memelihara ketertiban sejauh mungkin tanpa menunjukkan kekuasaan dan apalagi kekerasan terhadap bawahannya.
“Apa katamu sekarang?” bentak Kebo Ijo ketika Ken Arok tidak segera menjawab, “Kita jadikan para prajurit itu saksi. Siapakah di antara kita yang berhak untuk mendapat taruhan.”
“Sudah aku katakan,” sahut Ken Arok, “perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang terlampau bodoh. Kita tidak perlu saksi-saksi. Kita percaya kepada kejujuran dan kejantanan diri. Ayo, apakah yang ingin kita pertaruhkan?
“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Ijo.
“Kau yang menentukan.”
“Bagus. Kita pertaruhkan jabatan kita. Kalau kau kalah, maka akulah yang memimpin prajurit-prajurit Tumapel di sini. Kau harus tunduk kepada semua perintahku. Kau menjadi pembantuku di sini meskipun Akuwu Tumapel tidak mengingininya.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Taruhannya cukup bernilai. Tetapi Ken Arok harus cukup sadar, bahwa ia akan menghadapi perkembangan keadaan yang mungkin saja tidak dikehendaki. Kebo Ijo yang terlampau membiarkan perasaannya berbicara itu akan cepat kehilangan kesadaran dan perkelahian yang demikian akan berkembang tak terkendali. Tetapi ia tidak dapat mencari seorang saksi pun dalam perkelaihan itu. Satu orang sudah cukup banyak untuk menyebarkan hal itu kepada seluruh prajurit di Padang Karautan dan orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh prajurit Tumapel. Lalu apa kata mereka tentang para pemimpin mereka. Para perwira yang bertengkar satu sama lain, bahkan berkelahi.
“He,” Kebo Ijo membentak sekali lagi, “kenapa kau diam saja? Apakah kau menjadi cemas, bahwa suatu ketika kau akan mendapat perintah yang berlebih-lebihan daripadaku? Aku tidak sekejam itu terhadap bawahanku yang tunduk kepadaku. Kau pun tidak akan aku perlakukan terlampau keras seandainya kau tidak selalu menentang keputusan-keputusan yang aku buat.”
“Hem,” Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Witantra pun tidak akan berbuat serupa kau ini meskipun ia kakak seperguruanmu. Kau terlampau meyakini kelebihanmu. Mungkin akhir-akhir ini kau mendapat banyak kemajuan. Tetapi jangan terlampau berbangga.”
“Jangan banyak berbicara,” potong Kebo Ijo, “kita buktikan saja. Aku telah menemukan kekuatan di dalam diriku. Kekuatan yang hampir tidak pernah dapat diungkapkan. Aku akan segera melampaui kakang Witantra. Mungkin kakang Mahendra kini sudah tidak dapat mengalahkan aku.”
Terasa sebuah gejolak melanda dinding-dinding jantung Ken Arok. Ia pun masih cukup muda. Untunglah bahwa ia menyadari dirinya. Dirinya yang baru saja bangkit dari reruntuhan yang mengerikan dari watak dan sifat orang-orang tua yang mengasuhnya. Untunglah bahwa ia menyadari bahwa kadang-kadang ia masih juga dapat lupa diri dan berbuat kasar, sekasar pada saat-saat ia berkeliaran di Padang Karautan. Tetapi kali ini ia cukup sadar. Cukup berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar