PdLS-31
“AYO, kita tentukan. Di mana kita akan berkelahi apabila kau menghindari saksi-saksi. Mungkin kau tidak ingin mendapat malu atau mungkin kau akan berbuat curang, mengingkari perjanjian ini.”
“Nanti kita tentukan, di mana kita akan menguji diri.”
“Tidak nanti, sekarang.”
Ken Arok menggeleng, “Tidak. Aku tidak mau. Aku harus menunggui orang-orang yang sedang bekerja itu sampai selesai supaya mereka tidak kehilangan gairah. Supaya mereka tidak merasa bahwa mereka kehilangan kesempatan mereka beristirahat karena kau.”
“Persetan dengan cecurut-cecurut itu. Itu adalah kewajibannya. Melakukan perintah atasannya.”
“Sejak semula kita berbeda pendirian. Kita masih belum menentukan siapa yang kalah dan menang di antara kita. Karena itu sampai saat ini aku masih tetap pimpinan tertinggi dari setiap orang yang berada di Padang Karautan ini. Kau juga masih tetap di bawah perintahku. Tetapi aku beri kau keleluasaan. Kalau kau mau beristirahat, beristirahatlah. Jangan ganggu aku dengan cara-cara yang selalu aku lakukan selama ini. paga itu pasti siap sebelum malam.”
Darah Kebo Ijo serasa mendidih di kepalanya. Sikap Ken Arok benar-benar menyakitkan hatinya. Meskipun Ken Arok itu seolah-olah bersikap acuh tak acuh saja, namun justru sikap yang demikian itu terasa sangat mengganggu. Ternyata Ken Arok sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-katanya. Ken Arok ternyata sama sekali tidak menjadi cemas, apalagi takut.
Tetapi Kebo Ijo pun cukup percaya kepada diri sendiri. Kemajuan-kemajuan yang dicapainya akhir-akhir ini membuatnya semakin rongeh. Meskipun di hadapan gurunya ia tampak baik dan tenang, tetapi di saat-saat lain, di saat ia tidak bersama gurunya, maka kadang-kadang ia menyadi seperti kuda lepas kendali. Kini Kebo Ijo seolah-olah sudah tidak menghiraukan lagi peringatan-peringatan yang diberikan oleh Mahendra, seandainya ia dianggap bersalah. Tetapi ia masih segan terhadap kakak seperguruannya yang tertua, Witantra, yang kebetulan menjadi senapatinya pula di dalam susunan keprajuritan.
“Jadi apa maumu?” bertanya Kebo Ijo sambil menggeram.
“Nanti malam kita pergi ke sendang buatan. Kita akan mendapat banyak waktu untuk berkelahi. Semalam suntuk. Kalau masih juga belum selesai, kita teruskan malam berikutnya.”
“Bagus,” sahut Kebo Ijo lantang, “aku akan melayanimu empat puluh malam. Tetapi aku kira tidak sampai tengah malam aku sudah dapat menyelesaikannya.”
Sekali lagi terasa sebuah gejolak yang tajam melanda dinding-dinding jantung Ken Arok. Bahkan sejenak ia terdiam. Namun pandangan matanya menyadi semakin tajam. Meskipun demikian, Ken Arok selalu berusaha untuk tidak kehilangan keseimbangan perasaan.
Dan ia mendengar Kebo Ijo berkata terus ,“Bagaimana? Apakah kau tidak senang mendengar kata-kataku?”
“Ya, kata-katamu memang memuakkan,” jawab Ken Arok.
“Persetan. Adalah hakku untuk berkata apa saja sesuka hatiku. Kalau kau mau marah, marahlah. Jangan menunda kemarahanmu itu, supaya kau tidak akan kehilangan.”
“Aku memang marah, dan aku memang tidak ingin menyembunyikan kemarahan. Tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu dalam kemarahanku.”
“Bohong,” Kebo Ijo itu berteriak lagi, ”kau memang pembohong dan pengecut.”
“Jangan berteriak-teriak,” potong Ken Arok, ”jangan membuat kesan yang jelek terhadap para prajurit. Sebaiknya kau tersenyum dan kalau tidak mampu, pergilah beristirahat.”
Terdengar Kebo Ijo itu menggeram. Tetapi ia tidak berhasil memancing kemarahan Ken Arok sehingga kehilangan keseimbangan diri. Karena itu, maka Kebo Ijo itu sendirilah yang harus menahan diri dan menunda pelepasan kemarahannya sampai malam nanti.
Dengan wajah yang gelap ia berkata, “Baik, aku akan tidur. Sebelum malam paga itu harus sudah siap. Aku akan mengatur pakaianku sebelum gelap. Sesudah itu, aku akan pergi ke sendang buatan menunggumu.”
“Baik. Pergilah. Aku sudah muak mendengar suaramu dan melihat tampangmu,” sahut Ken Arok.
Kebo Ijo yang sudah mulai melangkahkan kakinya, bahkan tertegun. Ketika ia berpaling ia melihat Ken Arok berjalan meninggalkannya.
“Ke mana kau?” bertanya Kebo Ijo.
“Aku akan membantu orang-orang yang sedang bekerja itu.”
Sejenak Kebo Ijo terpaku di tempatnya. Perwira muda itu tidak mengerti sikap Ken Arok. Ia menerima tantangannya, namun sementara itu keperluannya dicukupinya. Ia tidak menolak permintaannya untuk membuat sebuah paga . Ia tidak membuat perintah lain kepada para prajurit itu, ia sama sekali tidak melarang, dan bahkan akan membantunya.
“Ah, betapa liciknya,” geram Kebo Ijo itu tiba-tiba, “ia ingin mempengaruhi perasaanku supaya aku kehilangan kemarahanku. Ia sengaja menunda perkelahian itu untuk meredakan hatiku. Ternyata ia kini dengan tanpa malu-malu telah membantu para prajurit menyiapkan keperluanku. Hem, kenapa ia tidak saja berterus-terang dan minta maaf kepadaku? Tetapi biarlah ia menyadari, bahwa aku tidak senang terhadap sikapnya yang cengeng. Aku tidak ingin memanjakan para prajurit di sini. Dan aku ingin mengurungkan perkelahian nanti malam meskipun barangkali aku tidak akan terlampau menyakitinya. Aku pernah mendengar beberapa kelebihan anak muda itu. Tetapi ia tidak pernah mendapat tuntunan secara teratur, sehingga mungkin ia hanya mampu berbuat beberapa kelebihan yang liar. Namun ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya.”
Dengan wajah yang berkerut-kerut Kebo Ijo melangkah kembali ke dalam gubugnya. Gubug yang sangat menjemukan bagi Kebo Ijo yang baru saja menempatinya. Pakaiannya masih berada dalam sebuah keranjang yang diletakkannya di samping tikar pembaringannya.
“Ken Arok memang pemalas. Ia dapat memerintahkan beberapa prajurit menyiapkan sebuah amben, sebuah paga, dan kalau mungkin sebuah geledeg kayu. Tetapi di sini tidak ada apa-apa selain rumput kering dan tikar pandan yang kasar ini.”
Sementara itu, Ken Arok telah berada di antara para prajurit yang sedang bekerja membuat paga. Beberapa orang melihat sikap Kebo Ijo yang aneh dari kejauhan. Bahkan ada yang melihat anak muda itu menyingsingkan kain panjangnya. Tetapi mereka tidak melihat suatu perubahan sikap Ken Arok, sehingga mereka mengambil kesimpulan bahwa Kebo Ijo sedang berceritera. Begitu asyik dan mantapnya ia mengucapkan ceriteranya, sehingga ia membuat beberapa gerakan yang aneh-aneh.
Para prajurit itu sama sekali tidak menyadari, bahwa Ken Arok dan Kebo Ijo telah membuat perjanjian untuk berkelahi di sendang buatan nanti malam. Apalagi sikap Ken Arok terhadap mereka sama sekali tidak berubah. Pemimpin mereka itu masih tetap tersenyum dan bahkan kemudian membawa para prajurit itu dalam suatu percakapan yang lucu. Dengan demikian maka pekerjaan mereka telah mereka lakukan dengan tanpa merasa kehilangan atas sisa hari istirahat mereka. Mereka bekerja sambil bergurau, tertawa, dan yang tidak mereka lupakan adalah makan.
“Jangan takut kehabisan,” teriak salah seorang prajurit yang menyuapi mulutnya berlebih-lebihan, “juru masak istana masih berada di sini.”
“Tetapi sampai kapan? Hari ini adalah hari terakhir kita dapat bermalas-malasan. Tetapi apakah hari terakhir pula bagi mulut-mulut kita untuk bekerja keras?”
“Tidak,” Ken Aroklah yang menyahut, “madaran istana akan berada di sini tujuh hari tujuh malam. Besok kalian sudah bekerja kembali, tetapi persediaan makan kalianlah yang berbeda dengan hari-hari biasa.” Hampir bersamaan para prajurit itu bersorak.
“Tetapi jangan kalian lepaskan bambu di tangan kalian,” Ken Arok memperingatkan. “Sudah hampir selesai. Sebentar lagi paga ini sudah berdiri.”
“Bagus,” desis Ken Arok, “lebih cepat selesai lebih baik.”
Para prajurit itu pun kemudian mempercepat kerja mereka. Meskipun mereka masih tetap melakukannya sambil bergurau, namun tangan mereka menjadi semakin lincah menggerakkan alat-alat mereka. Sebentar kemudian maka paga yang dimaksudkan itu sudah dapat didirikan. Dengan tali-tali ijuk maka setiap bagiannya diikat baik-baik. Tiang-tiangnya, belandar, dan pengeret-nya. Palang-palang dan kemudian galar.
“Bagus,” desis Ken Arok, “paga itu cukup baik. Tiga rak-rakan sudah cukup. Tetapi agak terlalu panjang.”
“O,” sahut salah seorang prajurit, “mungkin pakaiannya terlampau banyak. Kalau tidak, maka sebagian akan dapat dipakai untuk meletakkan barang-barang yang lain.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Bawa paga ini ke gubuk Kebo Ijo. Ia masih terlampau lelah. Jangan membantah apa pun yang dikatakannya. Besok ia akan berubah apabila ia sudah tidak lelah lagi. Ia seorang pemimpin yang baik. Mungkin ia lebih keras daripada aku dalam beberapa hal, tetapi maksudnya harus dapat kalian mengerti selaku prajurit-prajurit yang taat pada tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit.”
Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Peringatan itu ternyata memberikan kesan yang aneh di dalam hati para prajurit itu. Seakan-akan Ken Arok ingin mengatakan kepada mereka, bahwa mereka harus berusaha menyesuaikan diri mereka dengan pemimpin mereka yang baru.
Sementara itu Ken Arok berkata selanjutnya, “Kalau kau menjumpai sikapnya yang keras bahkan seakan-akan tampak kasar, kalian jangan terkejut. Itu adalah wataknya. Tetapi ia bermaksud baik,” Ken Arok berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Seperti pada saat ia memerintahkan kepada kalian membuat paga . Mungkin kalian terkejut dan kurang senang. Tetapi pemimpinmu yang baru itu tahu, bahwa membuat paga dan dilakukan bersama-sama oleh sepuluh orang bahkan lebih, sama sekali tidak akan memberati kalian meskipun kalian sedang beristirahat. Bukankah pekerjaan itu cepat selesai dan kalian masih sempat menikmati kegembiraan bersama kawan-kawan kalian yang lain.”
Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi ketika mereka menengadahkan wajah-wajah mereka ke langit, maka mereka melihat langit seolah-olah terbakar oleh sinar-sinar senja yang tersisa. Ken Arok melihat wajah-wajah mereka yang kecewa, karena hari-hari yang menyenangkan ini sudah hampir habis.
“Kalian masih mempunyai semalam lagi. Malam nanti kalian dapat menghabiskan semua yang masih tersisa di hatimu dalam kegembiraan ini. Obor-obor akan dipasang. Makan yang paling enak akan disiapkan. Jangan menyesali sepotong hari yang hilang karena paga itu.”
Prajurit-prajurit itu pun kemudian tersenyum. Salah seorang yang berkata, “Marilah kita mandi. Kita habiskan malam ini dengan sebaik-baiknya. Besok dan seterusnya kita sudah akan terbenam lagi di bendungan atau di sendang itu.” Yang lain pun kemudian tertawa pula.
“Nah, sekarang bawa paga itu kepada Adi Kebo Ijo,” berkata Ken Arok kemudian.
Beberapa orang pun kemudian mengangkat paga itu dan membawanya kepada Kebo Ijo. Di dalam gubugnya Kebo Ijo sedang berbaring untuk melepaskan penatnya. Meskipun ia tahu bahwa di langit warna-warna merah telah menyala, tetapi ia masih saja berbaring diam. Angan-angannya membubung tinggi seolah-olah ingin menggapai awan. Dinikmatinya kembali saat wisudanya. Kemudian disesalinya perintah Akuwu yang mengirimkannya ke padang yang kering dan sepi ini.
“Gila,” gerutunya. Kebo Ijo merasa dirinya terlampau malang. Ia membayangkan isterinya yang belum lama dikawininya, pasti merasa sepi juga di rumah. “Di sini aku berkumpul dengan orang-orang gila seperti Ken Arok. Kenapa Ken Arok itu mendapat kedudukan yang baik di dalam lingkungan pelayan dalam. Tetapi agaknya Akuwu kecewa juga atasnya ternyata ia dikirim ke Padang Karautan ini.” Tiba-tiba ia terkejut sendiri. Desisnya, “Jadi, apakah demikian juga terhadapku?” Lalu dijawabnya sendiri, “Ah, pasti tidak. Aku mempunyai kedudukan yang berbeda dengan Ken Arok. Ken Arok adalah seorang yang sepantasnya dilemparkan di padang ini. Sedangkan aku dikirim Akuwu untuk mengawasinya. Asal kami pun berbeda. Aku kira Ken Arok adalah anak padesan atau anak padang-padang rumput. Aku dilahirkan di Tumapel. Di dalam lingkungan orang-orang besar.”
Tiba-tiba Kebo Ijo itu terkejut ketika ia mendengar langkah-langkah kaki mendatanginya. Sambil berbaring saja ia berteriak, “He, siapa itu?”
“Kami,” terdengar seseorang menyahut, “kami mengantarkan paga yang telah selesai kami buat.”
Dengan malasnya Kebo Ijo pun bangkit. “Bawa masuk.” Para prajurit pun kemudian membawa paga itu masuk ke dalam gubug Kebo Ijo. “Ah,” Kebo Ijo berdesah, “macam itulah kecakapan kalian membuat perkakas?”
Para prajurit itu saling berpandangan. Mereka kemudian berdiri dengan gelisah ketika mereka melihat Kebo Ijo meraba-raba paga itu dan menggoyang-goyangkannya.
“Tidak sampai sebulan paga ini sudah roboh,” katanya, “padahal aku berada di padang ini sampai taman itu dibuka. Kalian benar-benar bodoh.” Tak seorang pun yang menjawab. “Apalagi yang kalian tunggu he? Kenapa kalian masih berdiri saja di situ? Apakah kalian menunggu aku memuji-muji kalian atas pekerjaan kalian yang jelek ini?”
Para prajurit itu terkejut. Kemudian satu demi satu mereka melangkah keluar meninggalkan gubug Kebo Ijo itu. Dengan dahi yang berkerut mereka melihat, bayangan hitam dari langit seolah-olah hendak menerkam mereka dari seluruh Padang Karautan. Satu-satu bintang mulai bermunculan. Warna-warna senja yang menyangkut pinggiran awan yang hanyut di udara, semakin lama menjadi semakin pudar. Para prajurit itu pun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa ke gubug masing-masing. Salah seorang dari mereka berkata,
“Semua orang telah siap mengitari makan mereka. Aku masih belum mandi.”
“Kau kira aku juga sudah mandi? Bukankah kita sekelompok yang sedang sial ini masih belum mandi seluruhnya.”
“Ayo, cepat kita mandi. Kalau kita terlambat, maka kita tidak akan mendapat bagian. Kita hanya akan menemukan sisa-sisa makan mereka.”
“Kita pasti terlambat. Lihat,” berkata salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke tempat terbuka di samping perkemahan mereka. “Obor-obor telah dipasang. Mereka telah duduk berkeliling.”
“Uuah,” prajurit yang termuda di antara mereka menyahut, “aku akan menyesal sepanjang umurku kalau aku tidak dapat ikut makan bersama kali ini.”
Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara lirih di belakangnya, “Jangan takut. Aku akan menunggu kalian.” Tersentak mereka berpaling. Ternyata di belakang mereka berdiri Ken Arok sambil tersenyum. “Itulah agaknya yang selalu kalian pikirkan. Sekarang, cepat, pergi mandi. Kami akan menunggu kalian supaya kalian tidak menyesal sepanjang umur kalian.”
Para prajurit itu pun tersenyum pula. Salah seorang dari mereka menjawab, “Mumpung. Mumpung kami mendapat kesempatan. Belum tentu kesempatan yang serupa akan datang di saat yang lain nanti.” Kawan-kawannya pun tertawa pula.
“Ayo, cepat mandi. Kalau kalian terlampau lama, maka kami tidak akan menunggu kalian. Makan bersama itu akan segera aku buka.”
Para prajurit itu pun tertawa. Tetapi langkah mereka benar-benar menjadi semakin panjang. Dengan tergesa-gesa mereka pergi ke bendungan untuk mandi. Di tempat yang terbuka, para prajurit dan orang-orang Panawijen telah duduk dalam satu lingkaran yang luas, bersap-sap. Hari ini mereka akan menikmati acara yang meriah. Makan bersama. Obor-obor telah dipasang hampir setiap sepuluh langkah. Beberapa orang yang bertugas telah sibuk menyiapkan makan mereka.
Ken Arok berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Diawasinya orang-orang yang duduk sambil berkelakar itu. Mereka tampak gembira. Satu dua diantara mereka mempercakapkan perkawinan Akuwu Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. Terutama orang-orang Panawijen. Mereka pada umumnya merasa bangga, bahwa gadis dari Padepokan Panawijen akan menjadi seorang permaisuri Tumapel. Tetapi sebagian para prajurit itu sama sekali tidak mempedulikannya. Mereka hanya menjadi gelisah ketika makanan masih juga belum dibagi-bagikan.
Ternyata Ken Arok menepati janjinya. Ia menunggu beberapa orang yang sedang mandi setelah mereka membuat paga bagi Kebo Ijo. Baru setelah semua orang berkumpul, maka Ken Arok menyuruh seorang prajurit yang paling jenaka di antara mereka, untuk membuka acara makan bersama itu. Dengan gayanya yang khusus prajurit itu berdiri di dalam lingkaran, dan dengan lucunya ia mengucapkan beberapa patah kata. Setiap kali terdengar kawan-kawannya tertawa meledak. Orang-orang Panawijen pun tertawa pula terkekeh-kekeh sehingga ada di antara mereka yang terpaksa memegangi perut mereka yang belum terisi.
Ken Arok berdiri saja sambil tersenyum-senyum. Namun tiba-tiba wajahnya berkerut ketika tiba-tiba saja Kebo Ijo telah berdiri di sampingnya. “Aku menunggumu di sendang buatan itu,” desisnya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Baik. Aku akan menyelesaikan acara ini. Dan aku akan segera pergi ke sendang itu.”
“Kau menunggu marahku lilih? ”
Dada Ken Arok berdesir. Tetapi ia tidak ingin mengganggu kegembiraan orang-orangnya bersama orang-orang Panawijen. Jawabnya pelahan-lahan, “Tidak, justru aku menunggu kau menjadi semakin marah. Aku ingin kita berkelahi dengan sungguh-sungguh.”
“Setan alas,” Kebo Ijo berdesis.
“Jangan keras-keras,” potong Ken Arok. Ia masih tetap menyadari keadaan sepenuhnya, “jangan merusak suasana.”
“Persetan dengan acara gila-gilaan ini,” jawab Kebo Ijo, “atau kita manfaatkan pertemuan ini sama sekali?”
“Buat apa?”
“Kita buat acara yang pasti paling meriah. Kita berkelahi di tengah-tengah arena ini.”
“Kau gila. Sudah aku katakan bahwa aku tidak mau memberi mereka contoh yang jelek.”
“Kalau begitu, cepat, pergi ke sendang itu.”
“Aku akan menyelesaikan acara ini. Sebaiknya kau ikut pula bergembira bersama para prajurit dan orang-orang Panawijen itu.”
“Huh, aku bukan termasuk orang-orang yang dapat digembirakan oleh sebungkus nasi gebuli. ”
“Oh, kau salah. Yang membuat mereka bergembira bukan sebungkus nasi gebuli. Tetapi mereka merasakan kemesraan hubungan antara mereka. Itulah yang menggembirakan.”
“Omong kosong. Kegembiraan yang demikian hanyalah untuk prajurit-prajurit rendahan dan orang-orang padesan seperti orang-orang Panawijen. Cepat, selesaikan acaramu yang gila ini. Aku hampir tidak sabar. Aku akan pergi dahulu. Kalau lewat tengah malam kau tidak datang, aku anggap kau kalah dalam pertaruhan ini, dan kekuasaan di sini berada di tanganku. Akulah yang berhak mengatur semuanya. Aku ingin menghilangkan setiap kebiasaan yang jelek di sini. Cengeng, bermanja-manja, dan malas. Sama sekali bukan sikap dan sifat seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”
Ken Arok tidak segera menyahut. Ia menganggap bahwa lebih baik ia berdiam diri supaya Kebo Ijo tidak berteriak-teriak. Apabila anak itu kehilangan pengendalian diri, maka ia pasti akan berteriak-teriak dan berbuat di luar sadarnya. Dengan demikian maka akan dapat timbul hal-hal yang tidak dikehendakinya.
Tetapi Kebo Ijo itu mendesaknya, “Bagaimana?”
Ken Arok mengangguk, “ya, aku sanggupi,” jawabnya.
“Bagus,” sahut Kebo Ijo, “aku akan pergi saja dari tempat yang memuakkan ini. Biarlah mereka makan makanan yang belum pernah mereka makan. Tetapi bagiku makanan-makanan itu sama sekali tidak menimbulkan selera lagi. Aku akan berbaring saja di bilikku, lalu pergi ke sendang itu. Seleraku hari ini adalah berkelahi.”
“Baik,” jawab Ken Arok, “kita berjanji saja. Tepat tengah malam.”
“Bagus.”
Kebo Ijo pun kemudian meninggalkan tempat yang riuh oleh suara gelak tertawa itu. Suara gelak tertawa yang baginya sangat mengganggu perasaannya. Ia ingin melihat para prajurit itu hormat kepadanya di segala tempat dan waktu. Dalam pertemuan yang demikian, maka ia harus mendapat tempat yang terhormat dan khusus. Tidak berada bersama-sama dalam lingkungan para prajurit dan orang-orang Panawijen seperti Ken Arok dan Ki Buyut.
“Betapa bodohnya mereka itu. Mereka merendahkan dirinya,” gumamnya di sepanjang langkahnya menuju ke biliknya. Wajahnya menjadi sedemikian gelap. Seolah-olah tengah malam datangnya terlampau lama.
Ken Arok dapat mengerti juga pendirian Kebo Ijo. Tetapi ia berpendirian lain. Kewibawaan tidak perlu dibangunkan dengan membuat garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Setiap kali para pemimpin harus menunjukkan kelebihannya dalam keadaan yang wajar. Memberi petunjuk-petunjuk dan contoh-contoh yang baik. Memang sekali-sekali perlu berbuat keras, tetapi dalam batas-batas kewajaran. Tidak berlebih-lebihan. Apalagi sengaja dipamerkan berlandaskan kekuasaan.
Sementara itu kegembiraan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel berjalan dengan riuhnya. Setiap kali terdengar suara tertawa. Meskipun mereka telah mendapatkan makan masing-masing, tetapi suara kelakar mereka masih saja terdengar. Orang-orang itu mulai mengelompokkan diri dalam lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Dan di antara mereka mulai timbul permainan-permainan yang lucu. Setiap kelompok mempunyai cara masing-masing untuk bergembira dan tertawa.
“Kalau mereka telah lelah, maka mereka akan berhenti dengan sendirinya,” guman Ken Arok.
Maka dengan diam-diam ditinggalkannya tempat yang riuh itu. Ia ingin memenuhi janjinya terhadap Kebo Ijo. Karena itu maka dibenahinya pakaiannya. Mungkin ia harus berkelahi dengan sepenuh tenaganya. Ia belum tahu pasti kekuatan Kebo Ijo. Tetapi ia dapat menduganya, bahwa anak itu pasti sudah menjadi semakin maju. Sejenak ia singgah ke dalam gubugnya. Disuapinya mulutnya dengan beberapa potong makanan dan beberapa teguk minuman. Ia tahu dan menyadari bahwa ia sedang melakukan suatu permainan yang berbahaya. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk menundukkan Kebo Ijo.
“Tetapi kalau aku tidak dapat memenangkan perkelahian ini, maka semua jabatanku pasti akan lenyap bersama kekalahanku. Apabila Akuwu mendengarnya, mungkin aku akan ditarik kembali ke Tumapel, untuk menerima kemarahannya. Bahkan mungkin aku akan dapat disingkirkan. Akuwu pasti tidak akan senang mendengar hal ini terjadi.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian desahnya, “Itu akan lebih baik daripada Kebo Ijo selalu mengganggu semua rencana dan cara yang aku lakukan. Kalau ia menang, biarlah ia mengambil-alih pimpinan dengan akibat yang paling pahit yang dapat terjadi atasku. Tetapi kalau aku berhasil, aku tidak akan diganggunya lagi.”
Sejenak kemudian Ken Arok itu berdiri. Sekilas dipandanginya pedangnya yang tersangkut di dinding. Tetapi kemudian ia menggeleng, “Tidak perlu. Senjata akan sangat berbahaya bagi orang-orang yang kadang-kadang dapat lupa diri. Kebo Ijo adalah seorang yang mudah kehilangan pengendalian diri, dan aku agaknya bukan seorang yang terlalu kuat bertahan dalam kesadaran yang penuh. Biarlah aku tidak usah membawa senjata apa pun.”
Sejenak kemudian Ken Arok itu pun melangkah keluar. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya bintang-bintang sudah jauh berkisar. Tetapi lamat-lamat ia masih mendengar gelak tertawa di pinggir perkemahan, dan ia masih melihat cahaya api obor yang seolah-olah memancar ke langit. Pelahan-lahan ia berjalan meninggalkan perkemahannya. Langkahnya berdesir di antara gubug-gubug yang sepi. Tetapi Ken Arok sengaja tidak melalui gubug Kebo Ijo. Ia ingin berjalan sendiri. Biarlah Kebo Ijo itu mendahuluinya atau menyusulnya kemudian.
“Aku masih mempunyai waktu,” desis Ken Arok, “masih belum tengah malam.”
Dalam kesepian padang rumput Karautan, Ken Arok melangkah setapak demi setapak. Dipandangnya parit induk yang membujur di samping kakinya. Parit itu sudah cukup dalam dan lebar. Apabila air sudah naik dari bendungan, maka parit induk itu sudah cukup dapat menampung airnya, dan mengalirkannya sampai ke sendang buatan. Di sepanjang susukan itu beberapa kali Ken Arok harus meloncati parit-parit yang bercabang-cabang. Seperti akar pepohonan yang menghujam langsung ke dalam bumi, demikianlah parit-parit itu menjalar ke seluruh bagian Padang Karautan yang akan dijadikan tanah persawahan.
Alangkah jauh perbedaan perasaan yang dialaminya. Dahulu ia juga selalu berkeliaran di padang ini. Tetapi kini terasa bahwa kehadirannya di Padang Karautan itu bermanfaat. Tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi banyak orang yang memerlukan tempat tinggalnya. Malam pun menyadi semakin malam. Ken Arok masih melangkah pelahan-lahan. Dilepaskannya pandangan matanya sejauh-jauh dapat dicapainya. Dipandanginya bintang-bintang di langit dan mega yang keputih-putihan memulas wajah yang kehitam-hitaman yang terbentang dari ujung bumi ke ujung yang lain.
Sekali-sekali terasa desir yang halus terasa di dalam dada anak muda itu. Anak muda yang tidak pernah menikmati masa-masa mudanya dengan wajar. Namun justru karena itulah, maka ia menjadi cukup dewasa menghadapi berbagai masalah. Ia tampak jauh lebih matang daripada anak-anak muda sebayanya. Dan kini ia akan berhadapan dengan anak muda yang masih kekanak-kanakan, Kebo Ijo.
“Kemampuan anak itu terlampau tinggi dibandingkan dengan sifat kekanak-kanakannya,” katanya di dalam hati, “apabila tidak ada keseimbangan, maka hal itu akan berbahaya baginya sendiri dan bagi lingkungannya.” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia berdesis, “Kini akulah yang pertama-tama akan mempertaruhkan diri. Kalau aku kalah, maka akulah korban di antaranya. Dan korban-korban semacam itu akan terus-menerus berjatuhan.”
Ken Arok menengadahkan wajahnya ketika terasa angin kencang mengusap tubuhnya. Dingin malam mulai merayapi kulitnya yang berwarna merah tembaga karena terik matahari yang setiap hari menyengatnya. Langkahnya terhenti ketika ia mulai menginjakka kakinya di atas tanah yang mulai dipagarinya. Bagian dari taman yang sedang dibuatnya. Di tengah-tengah taman itulah ia membuat sebuah sendang .
Ternyata justru Kebo Ijolah yang belum sampai ke tempat itu. Karena itu maka ia masih harus menunggu. Diletakkannya tubuhnya di atas sebongkah batu yang masih belum dipasang. Tetapi ternyata ia tidak menunggu terlalu lama. Di dalam gelapnya malam ia melihat sesosok bayangan mendekati sendang itu. Belum lagi ia sempat menegurnya, didengarnya bayangan itu telah memanggil namanya keras-keras.
“He, Ken Arok. Di mana sendang itu? Apakah kau sudah berada di sana?”
Sengaja Ken Arok tidak segera menjawab. Ia menyadari bahwa dirinya berada di bawah lindungan pepohonan yang masih belum terlampau tinggi, sehingga tempatnya duduk pasti lebih gelap dibandingkan dengan tempat-tempat yang terbuka.
“Ken Arok, he Ken Arok. Apakah kau belum datang?”
“Gila,” desis Ken Arok di dalam hatinya, “seandainya aku belum datang, siapakah yang harus menjawab?”
“Nanti kita tentukan, di mana kita akan menguji diri.”
“Tidak nanti, sekarang.”
Ken Arok menggeleng, “Tidak. Aku tidak mau. Aku harus menunggui orang-orang yang sedang bekerja itu sampai selesai supaya mereka tidak kehilangan gairah. Supaya mereka tidak merasa bahwa mereka kehilangan kesempatan mereka beristirahat karena kau.”
“Persetan dengan cecurut-cecurut itu. Itu adalah kewajibannya. Melakukan perintah atasannya.”
“Sejak semula kita berbeda pendirian. Kita masih belum menentukan siapa yang kalah dan menang di antara kita. Karena itu sampai saat ini aku masih tetap pimpinan tertinggi dari setiap orang yang berada di Padang Karautan ini. Kau juga masih tetap di bawah perintahku. Tetapi aku beri kau keleluasaan. Kalau kau mau beristirahat, beristirahatlah. Jangan ganggu aku dengan cara-cara yang selalu aku lakukan selama ini. paga itu pasti siap sebelum malam.”
Darah Kebo Ijo serasa mendidih di kepalanya. Sikap Ken Arok benar-benar menyakitkan hatinya. Meskipun Ken Arok itu seolah-olah bersikap acuh tak acuh saja, namun justru sikap yang demikian itu terasa sangat mengganggu. Ternyata Ken Arok sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-katanya. Ken Arok ternyata sama sekali tidak menjadi cemas, apalagi takut.
Tetapi Kebo Ijo pun cukup percaya kepada diri sendiri. Kemajuan-kemajuan yang dicapainya akhir-akhir ini membuatnya semakin rongeh. Meskipun di hadapan gurunya ia tampak baik dan tenang, tetapi di saat-saat lain, di saat ia tidak bersama gurunya, maka kadang-kadang ia menyadi seperti kuda lepas kendali. Kini Kebo Ijo seolah-olah sudah tidak menghiraukan lagi peringatan-peringatan yang diberikan oleh Mahendra, seandainya ia dianggap bersalah. Tetapi ia masih segan terhadap kakak seperguruannya yang tertua, Witantra, yang kebetulan menjadi senapatinya pula di dalam susunan keprajuritan.
“Jadi apa maumu?” bertanya Kebo Ijo sambil menggeram.
“Nanti malam kita pergi ke sendang buatan. Kita akan mendapat banyak waktu untuk berkelahi. Semalam suntuk. Kalau masih juga belum selesai, kita teruskan malam berikutnya.”
“Bagus,” sahut Kebo Ijo lantang, “aku akan melayanimu empat puluh malam. Tetapi aku kira tidak sampai tengah malam aku sudah dapat menyelesaikannya.”
Sekali lagi terasa sebuah gejolak yang tajam melanda dinding-dinding jantung Ken Arok. Bahkan sejenak ia terdiam. Namun pandangan matanya menyadi semakin tajam. Meskipun demikian, Ken Arok selalu berusaha untuk tidak kehilangan keseimbangan perasaan.
Dan ia mendengar Kebo Ijo berkata terus ,“Bagaimana? Apakah kau tidak senang mendengar kata-kataku?”
“Ya, kata-katamu memang memuakkan,” jawab Ken Arok.
“Persetan. Adalah hakku untuk berkata apa saja sesuka hatiku. Kalau kau mau marah, marahlah. Jangan menunda kemarahanmu itu, supaya kau tidak akan kehilangan.”
“Aku memang marah, dan aku memang tidak ingin menyembunyikan kemarahan. Tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu dalam kemarahanku.”
“Bohong,” Kebo Ijo itu berteriak lagi, ”kau memang pembohong dan pengecut.”
“Jangan berteriak-teriak,” potong Ken Arok, ”jangan membuat kesan yang jelek terhadap para prajurit. Sebaiknya kau tersenyum dan kalau tidak mampu, pergilah beristirahat.”
Terdengar Kebo Ijo itu menggeram. Tetapi ia tidak berhasil memancing kemarahan Ken Arok sehingga kehilangan keseimbangan diri. Karena itu, maka Kebo Ijo itu sendirilah yang harus menahan diri dan menunda pelepasan kemarahannya sampai malam nanti.
Dengan wajah yang gelap ia berkata, “Baik, aku akan tidur. Sebelum malam paga itu harus sudah siap. Aku akan mengatur pakaianku sebelum gelap. Sesudah itu, aku akan pergi ke sendang buatan menunggumu.”
“Baik. Pergilah. Aku sudah muak mendengar suaramu dan melihat tampangmu,” sahut Ken Arok.
Kebo Ijo yang sudah mulai melangkahkan kakinya, bahkan tertegun. Ketika ia berpaling ia melihat Ken Arok berjalan meninggalkannya.
“Ke mana kau?” bertanya Kebo Ijo.
“Aku akan membantu orang-orang yang sedang bekerja itu.”
Sejenak Kebo Ijo terpaku di tempatnya. Perwira muda itu tidak mengerti sikap Ken Arok. Ia menerima tantangannya, namun sementara itu keperluannya dicukupinya. Ia tidak menolak permintaannya untuk membuat sebuah paga . Ia tidak membuat perintah lain kepada para prajurit itu, ia sama sekali tidak melarang, dan bahkan akan membantunya.
“Ah, betapa liciknya,” geram Kebo Ijo itu tiba-tiba, “ia ingin mempengaruhi perasaanku supaya aku kehilangan kemarahanku. Ia sengaja menunda perkelahian itu untuk meredakan hatiku. Ternyata ia kini dengan tanpa malu-malu telah membantu para prajurit menyiapkan keperluanku. Hem, kenapa ia tidak saja berterus-terang dan minta maaf kepadaku? Tetapi biarlah ia menyadari, bahwa aku tidak senang terhadap sikapnya yang cengeng. Aku tidak ingin memanjakan para prajurit di sini. Dan aku ingin mengurungkan perkelahian nanti malam meskipun barangkali aku tidak akan terlampau menyakitinya. Aku pernah mendengar beberapa kelebihan anak muda itu. Tetapi ia tidak pernah mendapat tuntunan secara teratur, sehingga mungkin ia hanya mampu berbuat beberapa kelebihan yang liar. Namun ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya.”
Dengan wajah yang berkerut-kerut Kebo Ijo melangkah kembali ke dalam gubugnya. Gubug yang sangat menjemukan bagi Kebo Ijo yang baru saja menempatinya. Pakaiannya masih berada dalam sebuah keranjang yang diletakkannya di samping tikar pembaringannya.
“Ken Arok memang pemalas. Ia dapat memerintahkan beberapa prajurit menyiapkan sebuah amben, sebuah paga, dan kalau mungkin sebuah geledeg kayu. Tetapi di sini tidak ada apa-apa selain rumput kering dan tikar pandan yang kasar ini.”
Sementara itu, Ken Arok telah berada di antara para prajurit yang sedang bekerja membuat paga. Beberapa orang melihat sikap Kebo Ijo yang aneh dari kejauhan. Bahkan ada yang melihat anak muda itu menyingsingkan kain panjangnya. Tetapi mereka tidak melihat suatu perubahan sikap Ken Arok, sehingga mereka mengambil kesimpulan bahwa Kebo Ijo sedang berceritera. Begitu asyik dan mantapnya ia mengucapkan ceriteranya, sehingga ia membuat beberapa gerakan yang aneh-aneh.
Para prajurit itu sama sekali tidak menyadari, bahwa Ken Arok dan Kebo Ijo telah membuat perjanjian untuk berkelahi di sendang buatan nanti malam. Apalagi sikap Ken Arok terhadap mereka sama sekali tidak berubah. Pemimpin mereka itu masih tetap tersenyum dan bahkan kemudian membawa para prajurit itu dalam suatu percakapan yang lucu. Dengan demikian maka pekerjaan mereka telah mereka lakukan dengan tanpa merasa kehilangan atas sisa hari istirahat mereka. Mereka bekerja sambil bergurau, tertawa, dan yang tidak mereka lupakan adalah makan.
“Jangan takut kehabisan,” teriak salah seorang prajurit yang menyuapi mulutnya berlebih-lebihan, “juru masak istana masih berada di sini.”
“Tetapi sampai kapan? Hari ini adalah hari terakhir kita dapat bermalas-malasan. Tetapi apakah hari terakhir pula bagi mulut-mulut kita untuk bekerja keras?”
“Tidak,” Ken Aroklah yang menyahut, “madaran istana akan berada di sini tujuh hari tujuh malam. Besok kalian sudah bekerja kembali, tetapi persediaan makan kalianlah yang berbeda dengan hari-hari biasa.” Hampir bersamaan para prajurit itu bersorak.
“Tetapi jangan kalian lepaskan bambu di tangan kalian,” Ken Arok memperingatkan. “Sudah hampir selesai. Sebentar lagi paga ini sudah berdiri.”
“Bagus,” desis Ken Arok, “lebih cepat selesai lebih baik.”
Para prajurit itu pun kemudian mempercepat kerja mereka. Meskipun mereka masih tetap melakukannya sambil bergurau, namun tangan mereka menjadi semakin lincah menggerakkan alat-alat mereka. Sebentar kemudian maka paga yang dimaksudkan itu sudah dapat didirikan. Dengan tali-tali ijuk maka setiap bagiannya diikat baik-baik. Tiang-tiangnya, belandar, dan pengeret-nya. Palang-palang dan kemudian galar.
“Bagus,” desis Ken Arok, “paga itu cukup baik. Tiga rak-rakan sudah cukup. Tetapi agak terlalu panjang.”
“O,” sahut salah seorang prajurit, “mungkin pakaiannya terlampau banyak. Kalau tidak, maka sebagian akan dapat dipakai untuk meletakkan barang-barang yang lain.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Bawa paga ini ke gubuk Kebo Ijo. Ia masih terlampau lelah. Jangan membantah apa pun yang dikatakannya. Besok ia akan berubah apabila ia sudah tidak lelah lagi. Ia seorang pemimpin yang baik. Mungkin ia lebih keras daripada aku dalam beberapa hal, tetapi maksudnya harus dapat kalian mengerti selaku prajurit-prajurit yang taat pada tugas-tugasnya sebagai seorang prajurit.”
Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Peringatan itu ternyata memberikan kesan yang aneh di dalam hati para prajurit itu. Seakan-akan Ken Arok ingin mengatakan kepada mereka, bahwa mereka harus berusaha menyesuaikan diri mereka dengan pemimpin mereka yang baru.
Sementara itu Ken Arok berkata selanjutnya, “Kalau kau menjumpai sikapnya yang keras bahkan seakan-akan tampak kasar, kalian jangan terkejut. Itu adalah wataknya. Tetapi ia bermaksud baik,” Ken Arok berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Seperti pada saat ia memerintahkan kepada kalian membuat paga . Mungkin kalian terkejut dan kurang senang. Tetapi pemimpinmu yang baru itu tahu, bahwa membuat paga dan dilakukan bersama-sama oleh sepuluh orang bahkan lebih, sama sekali tidak akan memberati kalian meskipun kalian sedang beristirahat. Bukankah pekerjaan itu cepat selesai dan kalian masih sempat menikmati kegembiraan bersama kawan-kawan kalian yang lain.”
Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi ketika mereka menengadahkan wajah-wajah mereka ke langit, maka mereka melihat langit seolah-olah terbakar oleh sinar-sinar senja yang tersisa. Ken Arok melihat wajah-wajah mereka yang kecewa, karena hari-hari yang menyenangkan ini sudah hampir habis.
“Kalian masih mempunyai semalam lagi. Malam nanti kalian dapat menghabiskan semua yang masih tersisa di hatimu dalam kegembiraan ini. Obor-obor akan dipasang. Makan yang paling enak akan disiapkan. Jangan menyesali sepotong hari yang hilang karena paga itu.”
Prajurit-prajurit itu pun kemudian tersenyum. Salah seorang yang berkata, “Marilah kita mandi. Kita habiskan malam ini dengan sebaik-baiknya. Besok dan seterusnya kita sudah akan terbenam lagi di bendungan atau di sendang itu.” Yang lain pun kemudian tertawa pula.
“Nah, sekarang bawa paga itu kepada Adi Kebo Ijo,” berkata Ken Arok kemudian.
Beberapa orang pun kemudian mengangkat paga itu dan membawanya kepada Kebo Ijo. Di dalam gubugnya Kebo Ijo sedang berbaring untuk melepaskan penatnya. Meskipun ia tahu bahwa di langit warna-warna merah telah menyala, tetapi ia masih saja berbaring diam. Angan-angannya membubung tinggi seolah-olah ingin menggapai awan. Dinikmatinya kembali saat wisudanya. Kemudian disesalinya perintah Akuwu yang mengirimkannya ke padang yang kering dan sepi ini.
“Gila,” gerutunya. Kebo Ijo merasa dirinya terlampau malang. Ia membayangkan isterinya yang belum lama dikawininya, pasti merasa sepi juga di rumah. “Di sini aku berkumpul dengan orang-orang gila seperti Ken Arok. Kenapa Ken Arok itu mendapat kedudukan yang baik di dalam lingkungan pelayan dalam. Tetapi agaknya Akuwu kecewa juga atasnya ternyata ia dikirim ke Padang Karautan ini.” Tiba-tiba ia terkejut sendiri. Desisnya, “Jadi, apakah demikian juga terhadapku?” Lalu dijawabnya sendiri, “Ah, pasti tidak. Aku mempunyai kedudukan yang berbeda dengan Ken Arok. Ken Arok adalah seorang yang sepantasnya dilemparkan di padang ini. Sedangkan aku dikirim Akuwu untuk mengawasinya. Asal kami pun berbeda. Aku kira Ken Arok adalah anak padesan atau anak padang-padang rumput. Aku dilahirkan di Tumapel. Di dalam lingkungan orang-orang besar.”
Tiba-tiba Kebo Ijo itu terkejut ketika ia mendengar langkah-langkah kaki mendatanginya. Sambil berbaring saja ia berteriak, “He, siapa itu?”
“Kami,” terdengar seseorang menyahut, “kami mengantarkan paga yang telah selesai kami buat.”
Dengan malasnya Kebo Ijo pun bangkit. “Bawa masuk.” Para prajurit pun kemudian membawa paga itu masuk ke dalam gubug Kebo Ijo. “Ah,” Kebo Ijo berdesah, “macam itulah kecakapan kalian membuat perkakas?”
Para prajurit itu saling berpandangan. Mereka kemudian berdiri dengan gelisah ketika mereka melihat Kebo Ijo meraba-raba paga itu dan menggoyang-goyangkannya.
“Tidak sampai sebulan paga ini sudah roboh,” katanya, “padahal aku berada di padang ini sampai taman itu dibuka. Kalian benar-benar bodoh.” Tak seorang pun yang menjawab. “Apalagi yang kalian tunggu he? Kenapa kalian masih berdiri saja di situ? Apakah kalian menunggu aku memuji-muji kalian atas pekerjaan kalian yang jelek ini?”
Para prajurit itu terkejut. Kemudian satu demi satu mereka melangkah keluar meninggalkan gubug Kebo Ijo itu. Dengan dahi yang berkerut mereka melihat, bayangan hitam dari langit seolah-olah hendak menerkam mereka dari seluruh Padang Karautan. Satu-satu bintang mulai bermunculan. Warna-warna senja yang menyangkut pinggiran awan yang hanyut di udara, semakin lama menjadi semakin pudar. Para prajurit itu pun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa ke gubug masing-masing. Salah seorang dari mereka berkata,
“Semua orang telah siap mengitari makan mereka. Aku masih belum mandi.”
“Kau kira aku juga sudah mandi? Bukankah kita sekelompok yang sedang sial ini masih belum mandi seluruhnya.”
“Ayo, cepat kita mandi. Kalau kita terlambat, maka kita tidak akan mendapat bagian. Kita hanya akan menemukan sisa-sisa makan mereka.”
“Kita pasti terlambat. Lihat,” berkata salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke tempat terbuka di samping perkemahan mereka. “Obor-obor telah dipasang. Mereka telah duduk berkeliling.”
“Uuah,” prajurit yang termuda di antara mereka menyahut, “aku akan menyesal sepanjang umurku kalau aku tidak dapat ikut makan bersama kali ini.”
Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara lirih di belakangnya, “Jangan takut. Aku akan menunggu kalian.” Tersentak mereka berpaling. Ternyata di belakang mereka berdiri Ken Arok sambil tersenyum. “Itulah agaknya yang selalu kalian pikirkan. Sekarang, cepat, pergi mandi. Kami akan menunggu kalian supaya kalian tidak menyesal sepanjang umur kalian.”
Para prajurit itu pun tersenyum pula. Salah seorang dari mereka menjawab, “Mumpung. Mumpung kami mendapat kesempatan. Belum tentu kesempatan yang serupa akan datang di saat yang lain nanti.” Kawan-kawannya pun tertawa pula.
“Ayo, cepat mandi. Kalau kalian terlampau lama, maka kami tidak akan menunggu kalian. Makan bersama itu akan segera aku buka.”
Para prajurit itu pun tertawa. Tetapi langkah mereka benar-benar menjadi semakin panjang. Dengan tergesa-gesa mereka pergi ke bendungan untuk mandi. Di tempat yang terbuka, para prajurit dan orang-orang Panawijen telah duduk dalam satu lingkaran yang luas, bersap-sap. Hari ini mereka akan menikmati acara yang meriah. Makan bersama. Obor-obor telah dipasang hampir setiap sepuluh langkah. Beberapa orang yang bertugas telah sibuk menyiapkan makan mereka.
Ken Arok berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Diawasinya orang-orang yang duduk sambil berkelakar itu. Mereka tampak gembira. Satu dua diantara mereka mempercakapkan perkawinan Akuwu Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. Terutama orang-orang Panawijen. Mereka pada umumnya merasa bangga, bahwa gadis dari Padepokan Panawijen akan menjadi seorang permaisuri Tumapel. Tetapi sebagian para prajurit itu sama sekali tidak mempedulikannya. Mereka hanya menjadi gelisah ketika makanan masih juga belum dibagi-bagikan.
Ternyata Ken Arok menepati janjinya. Ia menunggu beberapa orang yang sedang mandi setelah mereka membuat paga bagi Kebo Ijo. Baru setelah semua orang berkumpul, maka Ken Arok menyuruh seorang prajurit yang paling jenaka di antara mereka, untuk membuka acara makan bersama itu. Dengan gayanya yang khusus prajurit itu berdiri di dalam lingkaran, dan dengan lucunya ia mengucapkan beberapa patah kata. Setiap kali terdengar kawan-kawannya tertawa meledak. Orang-orang Panawijen pun tertawa pula terkekeh-kekeh sehingga ada di antara mereka yang terpaksa memegangi perut mereka yang belum terisi.
Ken Arok berdiri saja sambil tersenyum-senyum. Namun tiba-tiba wajahnya berkerut ketika tiba-tiba saja Kebo Ijo telah berdiri di sampingnya. “Aku menunggumu di sendang buatan itu,” desisnya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Baik. Aku akan menyelesaikan acara ini. Dan aku akan segera pergi ke sendang itu.”
“Kau menunggu marahku lilih? ”
Dada Ken Arok berdesir. Tetapi ia tidak ingin mengganggu kegembiraan orang-orangnya bersama orang-orang Panawijen. Jawabnya pelahan-lahan, “Tidak, justru aku menunggu kau menjadi semakin marah. Aku ingin kita berkelahi dengan sungguh-sungguh.”
“Setan alas,” Kebo Ijo berdesis.
“Jangan keras-keras,” potong Ken Arok. Ia masih tetap menyadari keadaan sepenuhnya, “jangan merusak suasana.”
“Persetan dengan acara gila-gilaan ini,” jawab Kebo Ijo, “atau kita manfaatkan pertemuan ini sama sekali?”
“Buat apa?”
“Kita buat acara yang pasti paling meriah. Kita berkelahi di tengah-tengah arena ini.”
“Kau gila. Sudah aku katakan bahwa aku tidak mau memberi mereka contoh yang jelek.”
“Kalau begitu, cepat, pergi ke sendang itu.”
“Aku akan menyelesaikan acara ini. Sebaiknya kau ikut pula bergembira bersama para prajurit dan orang-orang Panawijen itu.”
“Huh, aku bukan termasuk orang-orang yang dapat digembirakan oleh sebungkus nasi gebuli. ”
“Oh, kau salah. Yang membuat mereka bergembira bukan sebungkus nasi gebuli. Tetapi mereka merasakan kemesraan hubungan antara mereka. Itulah yang menggembirakan.”
“Omong kosong. Kegembiraan yang demikian hanyalah untuk prajurit-prajurit rendahan dan orang-orang padesan seperti orang-orang Panawijen. Cepat, selesaikan acaramu yang gila ini. Aku hampir tidak sabar. Aku akan pergi dahulu. Kalau lewat tengah malam kau tidak datang, aku anggap kau kalah dalam pertaruhan ini, dan kekuasaan di sini berada di tanganku. Akulah yang berhak mengatur semuanya. Aku ingin menghilangkan setiap kebiasaan yang jelek di sini. Cengeng, bermanja-manja, dan malas. Sama sekali bukan sikap dan sifat seorang prajurit Tumapel yang perkasa.”
Ken Arok tidak segera menyahut. Ia menganggap bahwa lebih baik ia berdiam diri supaya Kebo Ijo tidak berteriak-teriak. Apabila anak itu kehilangan pengendalian diri, maka ia pasti akan berteriak-teriak dan berbuat di luar sadarnya. Dengan demikian maka akan dapat timbul hal-hal yang tidak dikehendakinya.
Tetapi Kebo Ijo itu mendesaknya, “Bagaimana?”
Ken Arok mengangguk, “ya, aku sanggupi,” jawabnya.
“Bagus,” sahut Kebo Ijo, “aku akan pergi saja dari tempat yang memuakkan ini. Biarlah mereka makan makanan yang belum pernah mereka makan. Tetapi bagiku makanan-makanan itu sama sekali tidak menimbulkan selera lagi. Aku akan berbaring saja di bilikku, lalu pergi ke sendang itu. Seleraku hari ini adalah berkelahi.”
“Baik,” jawab Ken Arok, “kita berjanji saja. Tepat tengah malam.”
“Bagus.”
Kebo Ijo pun kemudian meninggalkan tempat yang riuh oleh suara gelak tertawa itu. Suara gelak tertawa yang baginya sangat mengganggu perasaannya. Ia ingin melihat para prajurit itu hormat kepadanya di segala tempat dan waktu. Dalam pertemuan yang demikian, maka ia harus mendapat tempat yang terhormat dan khusus. Tidak berada bersama-sama dalam lingkungan para prajurit dan orang-orang Panawijen seperti Ken Arok dan Ki Buyut.
“Betapa bodohnya mereka itu. Mereka merendahkan dirinya,” gumamnya di sepanjang langkahnya menuju ke biliknya. Wajahnya menjadi sedemikian gelap. Seolah-olah tengah malam datangnya terlampau lama.
Ken Arok dapat mengerti juga pendirian Kebo Ijo. Tetapi ia berpendirian lain. Kewibawaan tidak perlu dibangunkan dengan membuat garis pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Setiap kali para pemimpin harus menunjukkan kelebihannya dalam keadaan yang wajar. Memberi petunjuk-petunjuk dan contoh-contoh yang baik. Memang sekali-sekali perlu berbuat keras, tetapi dalam batas-batas kewajaran. Tidak berlebih-lebihan. Apalagi sengaja dipamerkan berlandaskan kekuasaan.
Sementara itu kegembiraan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel berjalan dengan riuhnya. Setiap kali terdengar suara tertawa. Meskipun mereka telah mendapatkan makan masing-masing, tetapi suara kelakar mereka masih saja terdengar. Orang-orang itu mulai mengelompokkan diri dalam lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Dan di antara mereka mulai timbul permainan-permainan yang lucu. Setiap kelompok mempunyai cara masing-masing untuk bergembira dan tertawa.
“Kalau mereka telah lelah, maka mereka akan berhenti dengan sendirinya,” guman Ken Arok.
Maka dengan diam-diam ditinggalkannya tempat yang riuh itu. Ia ingin memenuhi janjinya terhadap Kebo Ijo. Karena itu maka dibenahinya pakaiannya. Mungkin ia harus berkelahi dengan sepenuh tenaganya. Ia belum tahu pasti kekuatan Kebo Ijo. Tetapi ia dapat menduganya, bahwa anak itu pasti sudah menjadi semakin maju. Sejenak ia singgah ke dalam gubugnya. Disuapinya mulutnya dengan beberapa potong makanan dan beberapa teguk minuman. Ia tahu dan menyadari bahwa ia sedang melakukan suatu permainan yang berbahaya. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain untuk menundukkan Kebo Ijo.
“Tetapi kalau aku tidak dapat memenangkan perkelahian ini, maka semua jabatanku pasti akan lenyap bersama kekalahanku. Apabila Akuwu mendengarnya, mungkin aku akan ditarik kembali ke Tumapel, untuk menerima kemarahannya. Bahkan mungkin aku akan dapat disingkirkan. Akuwu pasti tidak akan senang mendengar hal ini terjadi.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian desahnya, “Itu akan lebih baik daripada Kebo Ijo selalu mengganggu semua rencana dan cara yang aku lakukan. Kalau ia menang, biarlah ia mengambil-alih pimpinan dengan akibat yang paling pahit yang dapat terjadi atasku. Tetapi kalau aku berhasil, aku tidak akan diganggunya lagi.”
Sejenak kemudian Ken Arok itu berdiri. Sekilas dipandanginya pedangnya yang tersangkut di dinding. Tetapi kemudian ia menggeleng, “Tidak perlu. Senjata akan sangat berbahaya bagi orang-orang yang kadang-kadang dapat lupa diri. Kebo Ijo adalah seorang yang mudah kehilangan pengendalian diri, dan aku agaknya bukan seorang yang terlalu kuat bertahan dalam kesadaran yang penuh. Biarlah aku tidak usah membawa senjata apa pun.”
Sejenak kemudian Ken Arok itu pun melangkah keluar. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya bintang-bintang sudah jauh berkisar. Tetapi lamat-lamat ia masih mendengar gelak tertawa di pinggir perkemahan, dan ia masih melihat cahaya api obor yang seolah-olah memancar ke langit. Pelahan-lahan ia berjalan meninggalkan perkemahannya. Langkahnya berdesir di antara gubug-gubug yang sepi. Tetapi Ken Arok sengaja tidak melalui gubug Kebo Ijo. Ia ingin berjalan sendiri. Biarlah Kebo Ijo itu mendahuluinya atau menyusulnya kemudian.
“Aku masih mempunyai waktu,” desis Ken Arok, “masih belum tengah malam.”
Dalam kesepian padang rumput Karautan, Ken Arok melangkah setapak demi setapak. Dipandangnya parit induk yang membujur di samping kakinya. Parit itu sudah cukup dalam dan lebar. Apabila air sudah naik dari bendungan, maka parit induk itu sudah cukup dapat menampung airnya, dan mengalirkannya sampai ke sendang buatan. Di sepanjang susukan itu beberapa kali Ken Arok harus meloncati parit-parit yang bercabang-cabang. Seperti akar pepohonan yang menghujam langsung ke dalam bumi, demikianlah parit-parit itu menjalar ke seluruh bagian Padang Karautan yang akan dijadikan tanah persawahan.
Alangkah jauh perbedaan perasaan yang dialaminya. Dahulu ia juga selalu berkeliaran di padang ini. Tetapi kini terasa bahwa kehadirannya di Padang Karautan itu bermanfaat. Tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi banyak orang yang memerlukan tempat tinggalnya. Malam pun menyadi semakin malam. Ken Arok masih melangkah pelahan-lahan. Dilepaskannya pandangan matanya sejauh-jauh dapat dicapainya. Dipandanginya bintang-bintang di langit dan mega yang keputih-putihan memulas wajah yang kehitam-hitaman yang terbentang dari ujung bumi ke ujung yang lain.
Sekali-sekali terasa desir yang halus terasa di dalam dada anak muda itu. Anak muda yang tidak pernah menikmati masa-masa mudanya dengan wajar. Namun justru karena itulah, maka ia menjadi cukup dewasa menghadapi berbagai masalah. Ia tampak jauh lebih matang daripada anak-anak muda sebayanya. Dan kini ia akan berhadapan dengan anak muda yang masih kekanak-kanakan, Kebo Ijo.
“Kemampuan anak itu terlampau tinggi dibandingkan dengan sifat kekanak-kanakannya,” katanya di dalam hati, “apabila tidak ada keseimbangan, maka hal itu akan berbahaya baginya sendiri dan bagi lingkungannya.” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia berdesis, “Kini akulah yang pertama-tama akan mempertaruhkan diri. Kalau aku kalah, maka akulah korban di antaranya. Dan korban-korban semacam itu akan terus-menerus berjatuhan.”
Ken Arok menengadahkan wajahnya ketika terasa angin kencang mengusap tubuhnya. Dingin malam mulai merayapi kulitnya yang berwarna merah tembaga karena terik matahari yang setiap hari menyengatnya. Langkahnya terhenti ketika ia mulai menginjakka kakinya di atas tanah yang mulai dipagarinya. Bagian dari taman yang sedang dibuatnya. Di tengah-tengah taman itulah ia membuat sebuah sendang .
Ternyata justru Kebo Ijolah yang belum sampai ke tempat itu. Karena itu maka ia masih harus menunggu. Diletakkannya tubuhnya di atas sebongkah batu yang masih belum dipasang. Tetapi ternyata ia tidak menunggu terlalu lama. Di dalam gelapnya malam ia melihat sesosok bayangan mendekati sendang itu. Belum lagi ia sempat menegurnya, didengarnya bayangan itu telah memanggil namanya keras-keras.
“He, Ken Arok. Di mana sendang itu? Apakah kau sudah berada di sana?”
Sengaja Ken Arok tidak segera menjawab. Ia menyadari bahwa dirinya berada di bawah lindungan pepohonan yang masih belum terlampau tinggi, sehingga tempatnya duduk pasti lebih gelap dibandingkan dengan tempat-tempat yang terbuka.
“Ken Arok, he Ken Arok. Apakah kau belum datang?”
“Gila,” desis Ken Arok di dalam hatinya, “seandainya aku belum datang, siapakah yang harus menjawab?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar