Kemudian didengarnya Kebo Ijo itu menggerutu, “Setan alas. Aku masih harus menunggu. Kalau ia tidak datang tengah malam, maka aku akan mengambil-alih semua pimpinan. Disetujui atau tidak disetujui oleh Akuwu,” Kebo Ijo terdiam sejenak. Dan bayangan yang lamat-lamat di dalam gelapnya malam itu menjadi semakin dekat. Dan sekali lagi terdengar Kebo Ijo itu bergumam, “Inilah agaknya taman dan sendang buatan itu.”
Anak muda itu kini berhenti melangkah. Sambil bertolak pinggang ia memandang berkeliling. Tetapi ternyata gelap malam telah mengganggunya. “Hem,” ia berdesis, “sampai kapan aku harus menunggu.”
Tetapi tiba-tiba ia terlonjak. Selangkah ia mundur namun jelas bagi Ken Arok, bahwa anak itu benar-benar lincah dan tangguh. Begitu ia tegak berdiri, maka ia pun telah siap untuk melawan setiap serangan yang datang.
“Siapa kau he?” Kebo Ijo berteriak, “ayo, mendekatlah. Kita berhadapan secara jantan.”
Ternyata Kebo Ijo telah dikejutkan oleh desir kaki Ken Arok yang sedang berdiri. Ia sengaja memperdengarkan geraknya supaya Kebo Ijo mengetahui bahwa seseorang telah menunggunya. Karena itu maka sambil tertawa pendek Ken Arok berkata,
“Jangan terkejut adi Kebo Ijo. Aku sudah lama menunggumu.”
“Demit, tetekan,” Kebo Ijo mengumpat, “kenapa kau diam saja ketika aku memanggil namamu? Ken Arok, apakah kau ingin menyerang aku dengan diam-diam he?”
“Tidak Kebo Ijo,” jawab Ken Arok, “aku mencoba mendengar pendapatmu tentang taman ini. Tetapi kau tidak mengucapkan pendapat itu. Bahkan kau selalu menggerutu dan mengumpat-umpat saja.”
“Jelek,” desis Kebo Ijo, “taman ini jelek sekali. Akuwu Tunggul Ametung pasti tidak akan puas melihatnya.”
Ken Arok melangkah maju. Sekali lagi ia tertawa pendek sambil berkata, “Mudah-mudahan Akuwu tidak sependapat dengan kau. Aku mengharap bahwa taman ini akan menggembirakan hatinya dan hati permaisurinya.”
“Mungkin kau dapat menggembirakan hati permaisurinya. Permaisuri yang meskipun cantiknya melampaui bintang pagi, tetapi ia berasal dari Panawijen. Tamanmu ini pasti akan lebih baik dari taman di padepokan gadis itu. Tetapi berbeda dengan Akuwu Tumapel. Akuwu itu sejak kecilnya hidup di dalam lingkungan yang baik. Itulah sebabnya maka Akuwu pasti mampu menilai tamanmu itu.”
“Aku tidak berkeberatan,” sahut Ken Arok, “seandainya Akuwu tidak puas dengan taman itu, maka itu akan menjadi pelajaran bagiku, bahwa aku masih belum mampu memenuhi tugasku.”
“Dan kau akan mendapat hukuman darinya. Kau akan dipecat dari jabatanmu.”
“Biarlah.”
“Mungkin kau akan dihukum gantung.”
“Biarlah. Kalau memang seharusnya demikian.”
“Gila. Kau mudah berputus-asa,” geram Kebo Ijo, “ayo, sekarang kita selesaikan persoalan kita. Apakah kau tetap pada pendirianmu? Atau barangkali kau sudah mengubah keputusanmu untuk mengurungkan niatmu berkelahi dan tidak lagi berkeras kepala tentang sikap dan pendirianmu yang salah itu.”
Ken Arok memandangi Kebo Ijo dengan tajamnya. Tetapi dalam kegelapan, Kebo Ijo tidak dapat melihat sorot mata Ken Arok yang seolah-olah menyalakan api. Tetapi yang didengar oleh Kebo Ijo, Ken Arok itu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu masih mencoba untuk menahan gelora di dadanya. Meskipun penghinaan itu hampir tak tertahankan, namun ia masih tetap mengingat diri, bahwa setiap perbuatannya pasti akan dilihat oleh segenap prajurit Tumapel di Padang Karautan, orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh prajurit Tumapel dan Akuwu Tunggul Ametung.
Kebo Ijo yang merasa kata-katanya tidak terjawab, dan bahkan Ken Arok masih diam saja mematung, mengulanginya, “He, Ken Arok. Bagaimanakah sikapmu sekarang. Apakah kau masih tetap ingin memaksakan caramu itu terhadapku? Kalau kau merasa bahwa perkelahian tidak akan menguntungkan kedudukanmu, maka kau masih mempunyai kesempatan untuk mengubah pendirianmu. Aku tidak bernafsu menggantikan kedudukanmu, tetapi dengan cara-cara yang pernah kau pergunakan itu harus kau tinggalkan. Kau harus memberi kesempatan kepadaku untuk berbuat menurut caraku atas prajurit-prajurit Tumapel di sini.”
“Kebo Ijo,” sahut Ken Arok pelahan-lahan, “sebenarnya persoalan yang kau katakan itu sudah tidak penting lagi bagimu. Aku tahu tanpa soal atau ada soal, kau hanya ingin berkelahi. Kau hanya ingin menunjukkan kelebihanmu.”
“Bohong,” sahut Kebo Ijo hampir berteriak, “kau yang akan mempergunakan kekerasan dan memaksaku.”
“Itu hakku sebagai pimpinan di sini.”
“Omong kosong.”
“Baiklah. Tidak ada jalan lain daripada berkelahi,” berkata Ken Arok akhirnya, “marilah. Apakah kau sudah siap?”
“O,” desis Kebo Ijo, “jadi kau tidak dapat menilai sikapku. Apakah sikapmu ini sama sekali tidak meyakinkanmu bahwa aku sudah siap memukul tengkukmu. Mudah-mudahan tengkukmu tidak akan patah karenanya.”
Terdengar Ken Arok menggeram. Kebo Ijo itu ternyata terlampau sombong melampaui dugaannya.
“Ayo, berbuatlah sesuatu,” bentak Kebo Ijo itu kemudian. Sekali lagi Ken Arok menggeram. Kini ia melangkah maju beberapa langkah sehingga jarak mereka menjadi lebih dekat. “Ternyata kau memang bodoh,” gumam Kebo Ijo, “kalau kau mulai benar-benar dengan perkelahian ini karena kesombonganmu, maka kau akan menyesal, sebab kau akan kehilangan semuanya.” Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian bersiap menghadapi setiap kemungkinan. “Ayo mulailah,” teriak Kebo Ijo.
Ken Arok tidak bergerak. Ia berdiri saja di tempatnya. Kaki-kakinya yang kuat merenggang, seolah-olah terhujam ke dalam tanah.
“He, apakah kau gila?” Kebo Ijo semakin berteriak, “Ayo, mulailah. Aku ingin melihat apa yang dapat kau lakukan?”
Ken Arok masih tetap berdiam diri. Namun kediamannya itu ternyata telah membuat Kebo Ijo gelisah, sehingga sekali lagi ia berteriak-teriak, “He, Ken Arok. Ayo, mulailah. Apakah kau takut? Kalau kau memang tidak berani berbuat sesuatu, katakanlah. Aku akan memaafkan kau.”
Tetapi Ken Arok masih tetap tidak berkata sepatah kata pun. Dengan demikian maka kegelisahan Kebo Ijo itu pun memuncak. Ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, sehingga kakinya beringsut setapak maju. Tiba-tiba Ken Arokpun memiringkan tubuhnya. Lambat tetapi penuh keyakinan, lututnya merendah.
“Gila,” geram Kebo Ijo.
Kini ia benar-benar tidak akan menunggu lagi. Sikap Ken Arok telah meyakinkannya. Meskipun sejenak ia menjadi heran melihat sikap itu. Sikap itu benar-benar meyakinkan. Bukan sikap seekor serigala liar tanpa pegangan. Sesaat kemudian terdengar gigi Kebo Ijo beradu. Ketika di kejauhan terdengar burung hantu memekik dengan nada suaranya yang berat, maka terdengar suara Kebo Ijo melengking,
“Baiklah Ken Arok, kalau kau takut memulai, akulah yang akan memulainya.”
Sebelum gema suara itu lenyap, maka Kebo Ijo telah meloncat dengan tangkasnya, seperti lidah api yang melenting di udara. Tetapi ternyata Ken Arok pun telah cukup siap menunggu serangan itu. Itulah sebabnya, maka serangan yang pertama itu sama sekali tidak berbahaya bagi Ken Arok. Dengan lincahnya ia menarik tubuhnya ke sisi, merendah, dan tangannya menyambar lambung. Namun Kebo Ijo sama sekali tidak terkejut melihat gerakan itu. Gerakan yang sederhana, yang hampir selalu dijumpainya pada permulaan serangan. Dengan cepatnya ia menggeliat, berputar di udara, dan kemudian demikian ia menginjak tanah, maka segera ia melenting dan menyambar lawannya dengan tumitnya.
Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin cepat. Kebo Ijo yang marah itu menjadi semakin marah. Ia tidak menyangka bahwa gerakan-gerakan Ken Arok cukup cermat dan teratur. Tidak seperti yang disangkanya. Anak itu menurut pendengarannya tidak begitu memperhatikan ikatan-ikatan dan unsur-unsur gerak yang tersusun.
“Mungkin ia menemukan bentuk dari seorang guru,” desis Kebo Ijo di dalam hatinya, “sepengetahuanku, Lohgawe, orang yang terdekat dengan Ken Arok, bukan seorang yang menekuni olah kanuragan seperti guruku.”
Tetapi ia harus menghadapi kenyataan. Ternyata Ken Arok tidak dapat dikalahkan semudah dugaannya. Meskipun anak muda itu seorang pelayan dalam, namun ia mempunyai cukup kemampuan untuk mengimbanginya. Tata gerak keduanya semakin lama menyadi semakin cepat. Kebo Ijo, murid Panji Bojong Santi, ternyata memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Seperti seekor burung srigunting ia meloncat dan menyambar-nyambar. Lincah, cepat namun betapa tangannya seakan-akan menjadi seberat timah.
Dada Ken Arok menyadi berdebaran. Ia melihat kecepatan gerak lawannya. Ternyata Kebo Ijo telah benar-benar mendapat banyak pengetahuan tentang tata gerak dalam olah kanuragan. Ken Arok sendiri tidak terlampau banyak mempelajari ilmu tata bela diri dengan teratur. Bahkan secara terperinci ia sendiri tidak dapat mengerti dari mana ia menemukan kekuatan yang dikagumi oleh orang lain. Kekuatan yang tidak ada pada kebanyakan orang.
Dalam perkelahian dengan Kebo Ijo, Ken Arok harus ber-hati-hati. Ia tidak boleh kehilangan pengamatan diri. Ia harus tetap sadar dan menjaga jangan sampai terjadi bencana atas dirinya sendiri dan atas lawannya. Yang membuat Ken Arok cemas adalah kesadarannya, bahwa ia tidak mampu untuk mengukur kekuatan sendiri secara teliti. Ia tidak dapat mengerti, ukuran kekuatan-kekuatan yang dilontarkannya. Dengan demikian, setiap kali ia harus menjajagi sampai di mana daya tahan lawannya. Namun kadang-kadang dirinya sendirilah yang mengalami goncangan-goncangan.
Terhadap Kebo Ijo, Ken Arok juga berusaha untuk mencari-cari keseimbangan. Ketika perkelahian itu berlangsung beberapa lama, maka ia segera meyakini, bahwa ia memiliki beberapa kelebihan dari lawannya. Tetapi sampai di mana kekuatannya harus dilontarkan dalam perlawanan ini, masih harus dijajaginya. Karena itu, setiap kali Ken Arok berusaha untuk membentur serangan Kebo Ijo. Dengan sebagian dari tenaganya ia berusaha untuk menemukan keseimbangan kekuatan. Tetapi kadang-kadang ia terlampau sedikit memberikan tenaganya, sehingga Ken Arok itu sendiri terlontar beberapa langkah surut dan berusaha untuk menemukan keseimbangannya kembali.
Dalam keadaan yang demikian, Kebo Ijo merasa bahwa lawannya tidak kuasa mengimbangi kekuatannya. Anak muda itu sama sekali tidak berusaha mengekang diri. Setiap kali ia melepaskan seluruh kekuatannya. Apalagi apabila ia merasakan perlawanan lawannya terlampau menjengkelkannya. Semakin lama Kebo Ijo menyadi semakin berdebar hati. Ia merasa bahwa lawannya tidak cukup kuat untuk melawan tenaganya. Ia merasa bahwa ia masih mempunyai beberapa kelebihan yang lain selain kekuatan tenaga, ia mampu bergerak terlampau cepat dan memiliki unsur-unsur gerak yang dapat membingungkan lawannya.
Dengan demikian maka Kebo Ijo menjadi semakin bernafsu untuk segera menjatuhkan lawannya. Geraknya menyadi semakin cepat dan tangkas. Tangannya yang sepasang itu bergerak-gerak dengan cepat dan membingungkan, seolah-olah menjadi berpasang-pasang tangan yang mematuk dari segenap arah. Setiap kali terasa desir angin menyambar-nyambar tubuh lawannya yang beberapa kali terpaksa meloncat surut membuat jarak dari padanya.
“Ayolah,” teriak Kebo Ijo, “jangan berlari-lari saja. Kita sedang berkelahi, bukan sedang bermain kejar-kejaran.”
Ken Arok tidak segera menjawab. Tetapi kini ia sudah menemukan ancar-ancar. Sampai di sini Kebo Ijo masih merasa dirinya melampaui kekuatan lawannya. Dan Ken Arokpun menjadi semakin mantap bahwa dengan ukuran kekuatan itu, ia tidak akan mencelakakan lawannya dan juga dirinya sendiri. Dengan demikian maka Ken Arok kini tinggal melayani lawannya. Ia tidak ingin mengalahkan dengan menjatuhkan Kebo Ijo atau membuatnya pingsan atau hal-hal yang jelas menunjukkan kemenangannya. Ia ingin membiarkan Kebo Ijo bertempur dengan sepenuh tenaganya, kemudian menjadi kelelahan.
Karena itu maka perkelahian itu masih tetap seimbang. Setiap kali Kebo Ijo meningkatkan daya kemampuannya, setiap kali ia tidak dapat melampaui lawannya. Lawannya itu seakan-akan selalu saja berada dalam keadaannya. Maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka bergerak semakin cepat dan cepat. Loncatan-loncatan yang hampir tidak dapat diikuti oleh mata yang wajar. Gerak-gerak yang aneh dan membingungkan. Namun keduanya mampu mengamati setiap unsur perlawanan masing-masing.
Yang kemudian menjadi berdebar-debar adalah Kebo Ijo. Setiap ia mendesak lawannya dengan kecepatan gerak yang dianggapnya telah dapat melampaui kecepatan gerak lawannya, namun setiap kali lawannya bergerak semakin cepat pula. Sehingga akhirnya Kebo Ijo itu sudah sampai pada puncak kemampuannya. Puncak kekuatannya dan puncak ketangkasannya. Dikerahkan segala macam ilmu yang ada padanya. Namun Ken Arok itu masih saja tetap dapat mengimbanginya, meskipun setiap kali anak muda itu masih juga meloncat menjauhinya, mengambil jarak daripadanya, dan kemudian meneruskan perlawanannya.
“Apakah orang ini kerasukan setan,” pikir Kebo Ijo, “setiap kali ia tidak dapat menyamai kecepatan gerakku. Tetapi setiap aku meningkatkan tata gerakku, jarak itu masih saja tetap sama. Aku tidak dapat menguasainya. Dan ia masih saja mampu menghindar dan kadang-kadang malahan menyerang.”
Tetapi Kebo Ijo tidak dapat menemukan jawabannya. Meskipun kadang-kadang serangannya datang mengejut seperti hentakan angin ribut, namun ia tidak mampu menjatuhkan lawannya, bahkan tidak pula dapat mengejutkan. Sehingga, Kebo Ijo itu semakin lama menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah aku berkelahi melawan setan Padang Karautan dan bukan melawan Ken Arok,” katanya di dalam hatinya, “apakah ada setan yang mewujudkan dirinya seperti Ken Arok?”
Ternyata betapapun ia berusaha, namun ia tidak mampu menguasai lawannya yang disangkanya terlampau mudah untuk dikalahkannya. Bahkan, ternyata bukan lawannya itu yang menjadi bingung karena gerakan-gerakannya yang cepat, tetapi lambat-laun maka Kebo Ijo sendirilah yang kebingungan. Bagaimana ia harus melawan dan mengalahkan orang yang dianggapnya tidak cukup ilmu untuk mengimbanginya. Betapa dadanya dicekam oleh kebingungannya, sehingga tiba-tiba saja terkilas di dalam otaknya untuk mempergunakan apa saja yang dimilikinya. Ilmu yang paling dahsyat sekalipun.
Ken Arok kemudian melihat bahwa Kebo Ijo telah benar-benar mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya. Anak muda itu meloncat-loncat seperti tatit yang menyambar-nyambar di langit. Tangannya bergerak semakin cepat dan nafasnya berdesakan di lubang hidungnya. Tetapi ia tidak berhasil menjatuhkan lawannya. Kebo Ijo masih merasakan benturan-benturan yang berat dan seimbang. Meskipun ia sudah sampai ke puncak kekuatannya, namun lawannya masih juga mampu mengimbanginya. Bahkan sekali-sekali ia merasakan sentuhan-sentuhan tangan lawannya, yang menyerang dengan gerak yang tidak dimengertinya.
Namun, justru karena itu maka dada Kebo Ijo menjadi semakin bergelora. Darahnya serasa mendidih sampai di kepala. Ternyata ia berhadapan dengan seorang yang sama sekali berbeda dari dugaannya. Seorang yang cukup tangguh dan cekatan. Meskipun tampaknya Ken Arok tidak melampauinya, namun ia tidak berhasil untuk mengalahkannya. Tata gerak Ken Arok yang disangkanya tidak teratur dan liar karena anak muda itu tidak pernah mendapat tuntunan dari seorang yang berilmu, ternyata justru mengejutkannya. Tata gerak itu memang aneh. Kadang-kadang sama sekali tidak dimengertinya.
Tetapi yang melontarkan tubuh Ken Arok dengan loncatan-loncatan yang membingungkan itu bukan sekadar gerakan-gerakan yang liar tidak terkendali. Gerakan-gerakan itu ternyata mempunyai hubungan yang teratur dan tersusun. Meskipun susunannya sama sekali tidak lazim dan bahkan sebagian besar belum pernah dikenalnya. Tetapi itu tidak berarti bahwa Ken Arok tidak mengenal tata gerak yang wajar seperti yang dipergunakannya. Anak muda itu seolah-olah mempunyai pengamatan yang sangat tajam. Unsur-unsur gerak yang khusus dari perguruannya tidak mampu untuk membuat Ken Arok itu menjadi bingung. Bahkan benturan-benturan yang direncanakannya, sama sekali tidak mampu untuk mengejutkannya.
Dalam pada itu, Ken Arok sendiri menjadi semakin lama semakin tenang. Kini ia telah mendapatkan ukuran yang semakin mantap. Kebo Ijo telah sampai pada puncak kemampuan dan kekuatannya. Kalau ia tetap bertahan dalam tingkatan itu, maka ia hanya tinggal menunggu saja, kapan Kebo Ijo menjadi lelah dan berhenti dengan sendirinya. Pekerjaannya tinggallah merangsang supaya Kebo Ijo mengerahkan segala kekuatannya, memeras tenaganya, sehingga dengan demikian, maka ia akan menjadi lebih cepat lelah.
Tetapi semakin susut tenaga Kebo Ijo, maka hatinya menjadi semakin menyala. Kemarahannya sudah tidak tertahankan lagi, sehingga ia sudah bertempur benar pada puncak kemampuannya. Ia sama sekali sudah tidak mengekang diri, apa pun akibatnya. Bahkan semakin memuncak kemarahannya, bayangan tentang aji pamungkasnya menjadi semakin jelas pula. Aji Bajra Pati. Sesaat ia masih mencoba untuk mempergunakan kekuatannya secara wajar. Ia masih berusaha untuk menemukan titik-titik kelemahan lawannya. Tetapi ia sama sekali tidak berhasil. Kekuatan lawannya seolah-olah meningkat dan kelincahannya pun menyadi semakin membingungkannya sejajar dengan meningkatnya serangan-serangannya. Akhirnya Kebo Ijo kehilangan segenap pertimbangannya. Perkelahian itu baginya bukan sekadar mempertaruhkan jabatannya, tetapi ia sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi.
Sehingga ia yakin bahwa ia sudah tidak akan mampu lagi mengalahkan lawannya, meskipun ia menyerangnya seperti burung rajawali di langit, dan membenturnya seperti seekor gajah yang sedang mengamuk. Lawannya benar-benar seperti sebongkah gunung yang tegak dengan garangnya. Yang tidak tergerakkan oleh angin dan badai yang betapapun dahsyatnya. Itulah sebabnya maka Kebo Ijo sampai pada puncak kemarahannya, marah dan malu. Seandainya ia tidak mampu mengalahkan lawannya, lalu apakah kata Ken Arok itu kemudian? Apakah ia harus tunduk dan menyembahnya. Melakukan perintahnya tanpa dapat berbuat apa pun.
“Tidak,” Kebo Ijo menggeram di dalam hatinya, “aku tidak mau. Biar sajalah aku dihukum gantung karena aku telah membunuhnya. Tetapi itu lebih baik daripada aku harus bersimpuh di hadapannya.”
Ketika kemudian angin padang bertiup semakin kencang, maka darah Kebo ljo pun mengalir semakin cepat. Terasa kepalanya menjadi panas dan pening. Ia sudah tidak mampu lagi untuk berpikir terlampau banyak. Dengan demikian maka segera ia meloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak dari lawannya. Ia memerlukan kesempatan betapapun pendeknya, untuk membangunkan kekuatan Aji Bajra Pati.
Semula Ken Arok tidak menaruh prasangka apa pun. Ia menyangka bahwa Kebo Ijo sudah mulai lelah dan ingin mendapatkan kesempatan untuk bernafas. Tetapi tiba-tiba yang dilihatnya sangat mengejutkannya. Ken Arok kemudian melihat Kebo Ijo bersikap dalam pemusatan pikiran dan tenaga. Membangun segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, yang dalam keadaan yang wajar seolah-olah tersimpan di belakang urat-urat nadinya. Namun dalam mateg Aji Bajra Pati maka kekuatan-kekuatan itu pun seolah-olah terbangunkan, merayap di sepanjang urat nadinya, menjalar ke permukaan tubuhnya. Kekuatan itu seolah-olah mengalir menurut kehendak, berpusar di tangan Kebo Ijo. Tangan yang kemudian menjadi gemetar oleh tekanan kekuatannya yang memerlukan saluran.
Sikap itu telah benar-benar mengejutkan Ken Arok. Ia segera menyadari apa yang akan terjadi. Ia tahu benar bahwa sikap pemusatan pikiran dan kekuatan itu adalah suatu sikap yang akan sangat membahayakan baginya. Sebab ia tahu benar bahwa Kebo Ijo sedang membangunkan suatu kekuatan yang betapa dahsyatnya. Tetapi Ken Arok tidak mendapat banyak waktu untuk berpikir. Ia sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk mencegah dengan kata-kata dan ia pun yakin bahwa Kebo Ijo pasti tidak akan mendengarkannya. Apalagi Bajra Pati itu kini sudah tersalur ke tangannya.
Dengan demikian maka Ken Arok telah kehilangan sekesempatan untuk mencegah Kebo Ijo menggunakan ilmu pamungkasnya. Betapa hati Ken Arok itu menjadi bingung. Apakah yang akan dilakukannya. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa kegelapan hati Kebo Ijo akan sampai sedemikian jauh sehingga dalam taruhan yang serupa itu, ia sudah berusaha melepaskan aji yang seharusnya disimpannya untuk suatu keharusan yang tidak dapat dihindarinya dalam pertaruhan hidup dan mati. Tetapi dalam perselisihan di antara kawan sendiri, maka ia sudah demikian bernafsu untuk mempergunakan aji pamungkasnya itu.
Ternyata hati Kebo Ijo telah benar-benar menjadi gelap. Ketika ia melihat Ken Arok terpaku seperti patung, maka hatinya bahkan berdesis, “Mampuslah kau anak yang gila. Yang tidak tahu diri. Yang ingin melawan kekuatan Kebo Ijo, murid Panji Bojong Santi.”
Bersamaan dengan itu, maka terdengar suara Kebo Ijo menggeram. Semakin keras, dan tanpa menahan diri lagi maka segera ia meloncat melontarkan seluruh kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya yang dibangunkannya berlandaskan ilmu yang oleh gurunya disebut Aji Bajra Pati. Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Ternyata Ken Arok tidak dapat lagi menghindari benturan itu, sehingga tidak ada pilihan lain baginya daripada membentur kekuatan Aji Bajra Pati.
Benturan itu ternyata telah menimbulkan akibat yang dahsyat pula. Kebo Ijo sendiri terlempar surut beberapa langkah, sedangkan Ken Arok terdorong ke belakang setapak, kemudian terhuyung-huyung sejenak. Dengan susah-payah ia mencoba untuk menahan keseimbangan dirinya. Tetapi anak muda itu pun jatuh terduduk, bersandar pada kedua tangannya. Ketika ia mengangkat wajahnya yang pucat maka dilihatnya Kebo Ijo terguling beberapa kali.
Sejenak suasana diterkam oleh kesenyapan. Yang terdengar hanyalah gemerisik angin menyentuh dedaunan gerumbul-gerumbul taman yang masih belum begitu rimbun, di antara desah nafas kedua anak-anak muda yang seolah-olah membeku di tempatnya. Tetapi sejenak kemudian Ken Arok mencoba menjulurkan kakinya. Kemudian menggeliat perlahan. Dengan susah-payah ia mencoba untuk berdiri. Menggerakkan kaki-kakinya dan tangannya. Ketika ia menarik nafas dalam-dalam, maka dadanya terasa sedikit nyeri. Tetapi sekali dua kali, maka perasaan nyeri itu pun berangsur hilang.
“Hem,” ia berdesah.
Dadanya pernah pula dihantam oleh sebuah ilmu yang tidak kalah dahsyatnya, yang dilontarkan oleh seorang yang lebih jauh memiliki pengalaman dan kematangan dalam ilmunya. Kebo Sindet. Saat itu matanya menjadi gelap dan ia pun jatuh pingsan. Tetapi kali ini ia berhasil membebaskan dirinya dari cedera yang dapat ditimbulkan oleh Aji Bajra Pati, karena yang melepaskan aji itu masih belum cukup masak.
Sementara itu Kebo Ijo sendiri untuk beberapa lama tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Terasa dadanya sendiri seperti telah meledak ketika kekuatan Aji Bajra Pati seolah-olah telah membentur sebuah dinding baja setebal depa tangannya. Kekuatannya sendiri telah melemparkannya dan membantingnya di tanah begitu kerasnya, sehingga tulang-tulangnya terasa seakan-akan remuk terpatah-patah. Sejenak ia memejamkan matanya. Memusatkan segala sisa-sisa tenaganya. Pelahan-lahan ia mencoba menarik napas. Berulang kali meskipun terasa betapa pedihnya. Namun lambat-laun perasaan sakit di sekujur badannya itu pun terasa berkurang.
Ketika ia membuka matanya, maka alangkah terkejutnya. Dilihatnya sesosok bayangan tegak berdiri di hadapannya. Sepasang kakinya yang merenggang serta sikapnya yang meyakinkan itu menambah dadanya menjadi sesak. Pelahan-lahan ia mencoba bangkit, tetapi kekuatannya belum mengizinkannya. Karena itu maka ia hanya mampu mengumpat dengan suara gemetar,
“Anak setan. Kau tidak mampus juga.” Yang berdiri di hadapannya itu adalah Ken Arok. “Ayo,” desis Kebo Ijo, “kalau kau mampu, bunuhlah aku. Aku tidak saja mempertaruhkan jabatan, tetapi aku mempertaruhkan kehormatan. Dan kehormatanku bernilai sama dengan jiwaku.” Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia melangkah maju. “Apa yang kau tunggu lagi,” terdengar suara Kebo Ijo di antara desah nafasnya yang sesak. “Cepat, lakukanlah.”
Tiba-tiba dalam keremangan malam Kebo Ijo itu melihat Ken Arok menggelengkan kepalanya. Pelahan-lahan ia menyawab, “Tidak Kebo Ijo. Aku tetap pada perjanjian kita. Yang kita pertaruhkan adalah kekuasaan di Padang Karautan ini atas para prajurit Tumapel.”
“Tidak. Hanya ada dua pilihan. Membunuh atau dibunuh. Ayo bunuhlah aku.”
“Jangan kau turuti perasaanmu.”
“Cepat sebelum aku dapat bangkit dan akulah yang akan membunuhmu.”
“Jangan terlampau keras hati.”
“Aku adalah seorang laki-laki. Aku adalah seorang perwira Tumapel yang perkasa. Seorang prajurit hanya akan mengakhiri perlawanannya apabila nyawanya telah terpisahkan dari tubuhnya. Hanya seorang pengecutlah yang mundur setengah jalan hanya sekadar untuk menyelamatkan hidupnya.”
“Apakah kau berpendirian demikian?”
“Ya.”
“Dalam segala keadaan?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Ia tidak tahu maksud pertanyaan Ken Arok, sehingga dengan suaranya yang parau ia bertanya, “Apakah maksudmu dalam segala keadaan.”
“Maksudku, bahwa bagimu tidak ada jalan surut, betapapun keadaanmu.”
“Ya, meskipun aku terluka di dalam, tetapi aku tetap dalam pendirianku. Hidup atau mati. Membunuh atau dibunuh.”
Ken Arok menarik keningnya. Sejenak ia berdiam diri sambil memandangi Kebo Ijo yang masih berbaring di tanah. Kini ia mencoba bangkit sambil bertelekan padu tangan-tangannya. Terdengar ia mengaduh pendek. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri oleh tekanan tangannya yang menahan tubuhnya. Tetapi ia berusaha terus. Bahkan ia berkata,
“Ken Arok, aku hampir mampu berdiri dan berkelahi lagi. Aku akan segera membunuhmu. Kalau kau ingin mempergunakan kesempatan, cepatlah. Pergunakan sekarang. Kau mampu bertahan atas kekuatan Aji Bajra Pati. Dengan demikian kau pun pasti mempunyai ilmu pamungkas yang akan dapat kau pergunakan membunuhku dengan tanganmu. Tanpa sehelai senjata apa pun.”
Ken Arok tidak segera menjawab. Tetapi ia merasa aneh mendengar kata-kata Kebo Ijo yang menganggapnya mempunyai sebuah ilmu yang sedahsyat Bajra Pati. Sejenak Ken Arok itu berpikir tentang dirinya sendiri. Ia tidak pernah belajar pada seorang guru pun sebelum ia bertemu dengan Lohgawe. Orang tua itu pun sama sekali tidak mengajarnya berkelahi. Tidak menuntunnya dalam olah kanuragan. Orang tua itu hanya memberinya beberapa nasihat supaya ia menjauhi cara hidupnya yang lama, dan menuntunnya untuk menemukan hidupnya yang baru. Selain itu, Lohgawe hanya memberitahukan kepadanya beberapa hal mengenai tubuh manusia, tubuhnya sendiri itu juga. Dan yang terakhir orang tua itu menuntunnya untuk mempelajari cara-cara memusatkan pikiran, kehendak, dan semua getar di dalam dirinya. Lambat-laun dan dengan pelahan-lahan sekali.
“Hanya itu,” desisnya di dalam hati, “sama sekali bukan ilmu kanuragan. Bukan unsur-unsur gerak dalam tata bela diri. Bukan pula kemampuan untuk membangunkan sebuah ilmu yang dahsyat, sedahsyat Aji Bajra Pati dan Aji Bayang. Tetapi aku telah mampu melepaskan diri dari kehancuran.”
Wajah Ken Arok tiba-tiba menegang karena persoalan di dalam dirinya sendiri. Ia seolah-olah sudah lupa bahwa di hadapannya Kebo Ijo sedang merangkak-rangkak untuk mencoba bangun.
“Aku berkelahi asal saja aku berkelahi,” berkata Ken Arok itu seterusnya di dalam hatinya, “Aku hanya mencoba menirukan unsur-unsur gerak yang pernah aku lihat dilakukan oleh Mahisa Agni, Witantra, Kuda Sempana, dan para prajurit yang lain. Tetapi, apakah pemusatan pikiran, kehendak, dan segala macam getar di dalam diri ini termasuk juga membangunkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam tubuh kita untuk segala kepentingan? Termasuk dalam olah kanuragan, tidak saja dalam hasrat, kemauan, dan keinginan lahir dan batin, tetapi juga dalam membangunkan kekuatan dan kekuatan-kekuatan simpanan di dalam tubuh ini?”
Justru pertanyaan itulah yang tumbuh di dalam diri Ken Arok. Dan ia mencoba untuk menilai apakah yang sedang dilakukannya. Pada saat ia melihat lawannya mempersiapkan diri, memusatkan pikiran dan perasaan membangun Aji Bajar Pati, maka ia pun dengan segenap tekad, hasyrat dan kehendak, telah mempersiapkan dirinya untuk melawannya, seperti pada waktu ia menghadapi aji yang akan dilepaskan oleh Kebo Sindet. Ternyata apa yang dilakukannya itu adalah pengerahan segenap kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya yang didasarinya pada pemusatan pikiran, kehendak, dan segala macam getar di dalam dirinya.
Anak muda itu kini berhenti melangkah. Sambil bertolak pinggang ia memandang berkeliling. Tetapi ternyata gelap malam telah mengganggunya. “Hem,” ia berdesis, “sampai kapan aku harus menunggu.”
Tetapi tiba-tiba ia terlonjak. Selangkah ia mundur namun jelas bagi Ken Arok, bahwa anak itu benar-benar lincah dan tangguh. Begitu ia tegak berdiri, maka ia pun telah siap untuk melawan setiap serangan yang datang.
“Siapa kau he?” Kebo Ijo berteriak, “ayo, mendekatlah. Kita berhadapan secara jantan.”
Ternyata Kebo Ijo telah dikejutkan oleh desir kaki Ken Arok yang sedang berdiri. Ia sengaja memperdengarkan geraknya supaya Kebo Ijo mengetahui bahwa seseorang telah menunggunya. Karena itu maka sambil tertawa pendek Ken Arok berkata,
“Jangan terkejut adi Kebo Ijo. Aku sudah lama menunggumu.”
“Demit, tetekan,” Kebo Ijo mengumpat, “kenapa kau diam saja ketika aku memanggil namamu? Ken Arok, apakah kau ingin menyerang aku dengan diam-diam he?”
“Tidak Kebo Ijo,” jawab Ken Arok, “aku mencoba mendengar pendapatmu tentang taman ini. Tetapi kau tidak mengucapkan pendapat itu. Bahkan kau selalu menggerutu dan mengumpat-umpat saja.”
“Jelek,” desis Kebo Ijo, “taman ini jelek sekali. Akuwu Tunggul Ametung pasti tidak akan puas melihatnya.”
Ken Arok melangkah maju. Sekali lagi ia tertawa pendek sambil berkata, “Mudah-mudahan Akuwu tidak sependapat dengan kau. Aku mengharap bahwa taman ini akan menggembirakan hatinya dan hati permaisurinya.”
“Mungkin kau dapat menggembirakan hati permaisurinya. Permaisuri yang meskipun cantiknya melampaui bintang pagi, tetapi ia berasal dari Panawijen. Tamanmu ini pasti akan lebih baik dari taman di padepokan gadis itu. Tetapi berbeda dengan Akuwu Tumapel. Akuwu itu sejak kecilnya hidup di dalam lingkungan yang baik. Itulah sebabnya maka Akuwu pasti mampu menilai tamanmu itu.”
“Aku tidak berkeberatan,” sahut Ken Arok, “seandainya Akuwu tidak puas dengan taman itu, maka itu akan menjadi pelajaran bagiku, bahwa aku masih belum mampu memenuhi tugasku.”
“Dan kau akan mendapat hukuman darinya. Kau akan dipecat dari jabatanmu.”
“Biarlah.”
“Mungkin kau akan dihukum gantung.”
“Biarlah. Kalau memang seharusnya demikian.”
“Gila. Kau mudah berputus-asa,” geram Kebo Ijo, “ayo, sekarang kita selesaikan persoalan kita. Apakah kau tetap pada pendirianmu? Atau barangkali kau sudah mengubah keputusanmu untuk mengurungkan niatmu berkelahi dan tidak lagi berkeras kepala tentang sikap dan pendirianmu yang salah itu.”
Ken Arok memandangi Kebo Ijo dengan tajamnya. Tetapi dalam kegelapan, Kebo Ijo tidak dapat melihat sorot mata Ken Arok yang seolah-olah menyalakan api. Tetapi yang didengar oleh Kebo Ijo, Ken Arok itu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu masih mencoba untuk menahan gelora di dadanya. Meskipun penghinaan itu hampir tak tertahankan, namun ia masih tetap mengingat diri, bahwa setiap perbuatannya pasti akan dilihat oleh segenap prajurit Tumapel di Padang Karautan, orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh prajurit Tumapel dan Akuwu Tunggul Ametung.
Kebo Ijo yang merasa kata-katanya tidak terjawab, dan bahkan Ken Arok masih diam saja mematung, mengulanginya, “He, Ken Arok. Bagaimanakah sikapmu sekarang. Apakah kau masih tetap ingin memaksakan caramu itu terhadapku? Kalau kau merasa bahwa perkelahian tidak akan menguntungkan kedudukanmu, maka kau masih mempunyai kesempatan untuk mengubah pendirianmu. Aku tidak bernafsu menggantikan kedudukanmu, tetapi dengan cara-cara yang pernah kau pergunakan itu harus kau tinggalkan. Kau harus memberi kesempatan kepadaku untuk berbuat menurut caraku atas prajurit-prajurit Tumapel di sini.”
“Kebo Ijo,” sahut Ken Arok pelahan-lahan, “sebenarnya persoalan yang kau katakan itu sudah tidak penting lagi bagimu. Aku tahu tanpa soal atau ada soal, kau hanya ingin berkelahi. Kau hanya ingin menunjukkan kelebihanmu.”
“Bohong,” sahut Kebo Ijo hampir berteriak, “kau yang akan mempergunakan kekerasan dan memaksaku.”
“Itu hakku sebagai pimpinan di sini.”
“Omong kosong.”
“Baiklah. Tidak ada jalan lain daripada berkelahi,” berkata Ken Arok akhirnya, “marilah. Apakah kau sudah siap?”
“O,” desis Kebo Ijo, “jadi kau tidak dapat menilai sikapku. Apakah sikapmu ini sama sekali tidak meyakinkanmu bahwa aku sudah siap memukul tengkukmu. Mudah-mudahan tengkukmu tidak akan patah karenanya.”
Terdengar Ken Arok menggeram. Kebo Ijo itu ternyata terlampau sombong melampaui dugaannya.
“Ayo, berbuatlah sesuatu,” bentak Kebo Ijo itu kemudian. Sekali lagi Ken Arok menggeram. Kini ia melangkah maju beberapa langkah sehingga jarak mereka menjadi lebih dekat. “Ternyata kau memang bodoh,” gumam Kebo Ijo, “kalau kau mulai benar-benar dengan perkelahian ini karena kesombonganmu, maka kau akan menyesal, sebab kau akan kehilangan semuanya.” Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian bersiap menghadapi setiap kemungkinan. “Ayo mulailah,” teriak Kebo Ijo.
Ken Arok tidak bergerak. Ia berdiri saja di tempatnya. Kaki-kakinya yang kuat merenggang, seolah-olah terhujam ke dalam tanah.
“He, apakah kau gila?” Kebo Ijo semakin berteriak, “Ayo, mulailah. Aku ingin melihat apa yang dapat kau lakukan?”
Ken Arok masih tetap berdiam diri. Namun kediamannya itu ternyata telah membuat Kebo Ijo gelisah, sehingga sekali lagi ia berteriak-teriak, “He, Ken Arok. Ayo, mulailah. Apakah kau takut? Kalau kau memang tidak berani berbuat sesuatu, katakanlah. Aku akan memaafkan kau.”
Tetapi Ken Arok masih tetap tidak berkata sepatah kata pun. Dengan demikian maka kegelisahan Kebo Ijo itu pun memuncak. Ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, sehingga kakinya beringsut setapak maju. Tiba-tiba Ken Arokpun memiringkan tubuhnya. Lambat tetapi penuh keyakinan, lututnya merendah.
“Gila,” geram Kebo Ijo.
Kini ia benar-benar tidak akan menunggu lagi. Sikap Ken Arok telah meyakinkannya. Meskipun sejenak ia menjadi heran melihat sikap itu. Sikap itu benar-benar meyakinkan. Bukan sikap seekor serigala liar tanpa pegangan. Sesaat kemudian terdengar gigi Kebo Ijo beradu. Ketika di kejauhan terdengar burung hantu memekik dengan nada suaranya yang berat, maka terdengar suara Kebo Ijo melengking,
“Baiklah Ken Arok, kalau kau takut memulai, akulah yang akan memulainya.”
Sebelum gema suara itu lenyap, maka Kebo Ijo telah meloncat dengan tangkasnya, seperti lidah api yang melenting di udara. Tetapi ternyata Ken Arok pun telah cukup siap menunggu serangan itu. Itulah sebabnya, maka serangan yang pertama itu sama sekali tidak berbahaya bagi Ken Arok. Dengan lincahnya ia menarik tubuhnya ke sisi, merendah, dan tangannya menyambar lambung. Namun Kebo Ijo sama sekali tidak terkejut melihat gerakan itu. Gerakan yang sederhana, yang hampir selalu dijumpainya pada permulaan serangan. Dengan cepatnya ia menggeliat, berputar di udara, dan kemudian demikian ia menginjak tanah, maka segera ia melenting dan menyambar lawannya dengan tumitnya.
Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin cepat. Kebo Ijo yang marah itu menjadi semakin marah. Ia tidak menyangka bahwa gerakan-gerakan Ken Arok cukup cermat dan teratur. Tidak seperti yang disangkanya. Anak itu menurut pendengarannya tidak begitu memperhatikan ikatan-ikatan dan unsur-unsur gerak yang tersusun.
“Mungkin ia menemukan bentuk dari seorang guru,” desis Kebo Ijo di dalam hatinya, “sepengetahuanku, Lohgawe, orang yang terdekat dengan Ken Arok, bukan seorang yang menekuni olah kanuragan seperti guruku.”
Tetapi ia harus menghadapi kenyataan. Ternyata Ken Arok tidak dapat dikalahkan semudah dugaannya. Meskipun anak muda itu seorang pelayan dalam, namun ia mempunyai cukup kemampuan untuk mengimbanginya. Tata gerak keduanya semakin lama menyadi semakin cepat. Kebo Ijo, murid Panji Bojong Santi, ternyata memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Seperti seekor burung srigunting ia meloncat dan menyambar-nyambar. Lincah, cepat namun betapa tangannya seakan-akan menjadi seberat timah.
Dada Ken Arok menyadi berdebaran. Ia melihat kecepatan gerak lawannya. Ternyata Kebo Ijo telah benar-benar mendapat banyak pengetahuan tentang tata gerak dalam olah kanuragan. Ken Arok sendiri tidak terlampau banyak mempelajari ilmu tata bela diri dengan teratur. Bahkan secara terperinci ia sendiri tidak dapat mengerti dari mana ia menemukan kekuatan yang dikagumi oleh orang lain. Kekuatan yang tidak ada pada kebanyakan orang.
Dalam perkelahian dengan Kebo Ijo, Ken Arok harus ber-hati-hati. Ia tidak boleh kehilangan pengamatan diri. Ia harus tetap sadar dan menjaga jangan sampai terjadi bencana atas dirinya sendiri dan atas lawannya. Yang membuat Ken Arok cemas adalah kesadarannya, bahwa ia tidak mampu untuk mengukur kekuatan sendiri secara teliti. Ia tidak dapat mengerti, ukuran kekuatan-kekuatan yang dilontarkannya. Dengan demikian, setiap kali ia harus menjajagi sampai di mana daya tahan lawannya. Namun kadang-kadang dirinya sendirilah yang mengalami goncangan-goncangan.
Terhadap Kebo Ijo, Ken Arok juga berusaha untuk mencari-cari keseimbangan. Ketika perkelahian itu berlangsung beberapa lama, maka ia segera meyakini, bahwa ia memiliki beberapa kelebihan dari lawannya. Tetapi sampai di mana kekuatannya harus dilontarkan dalam perlawanan ini, masih harus dijajaginya. Karena itu, setiap kali Ken Arok berusaha untuk membentur serangan Kebo Ijo. Dengan sebagian dari tenaganya ia berusaha untuk menemukan keseimbangan kekuatan. Tetapi kadang-kadang ia terlampau sedikit memberikan tenaganya, sehingga Ken Arok itu sendiri terlontar beberapa langkah surut dan berusaha untuk menemukan keseimbangannya kembali.
Dalam keadaan yang demikian, Kebo Ijo merasa bahwa lawannya tidak kuasa mengimbangi kekuatannya. Anak muda itu sama sekali tidak berusaha mengekang diri. Setiap kali ia melepaskan seluruh kekuatannya. Apalagi apabila ia merasakan perlawanan lawannya terlampau menjengkelkannya. Semakin lama Kebo Ijo menyadi semakin berdebar hati. Ia merasa bahwa lawannya tidak cukup kuat untuk melawan tenaganya. Ia merasa bahwa ia masih mempunyai beberapa kelebihan yang lain selain kekuatan tenaga, ia mampu bergerak terlampau cepat dan memiliki unsur-unsur gerak yang dapat membingungkan lawannya.
Dengan demikian maka Kebo Ijo menjadi semakin bernafsu untuk segera menjatuhkan lawannya. Geraknya menyadi semakin cepat dan tangkas. Tangannya yang sepasang itu bergerak-gerak dengan cepat dan membingungkan, seolah-olah menjadi berpasang-pasang tangan yang mematuk dari segenap arah. Setiap kali terasa desir angin menyambar-nyambar tubuh lawannya yang beberapa kali terpaksa meloncat surut membuat jarak dari padanya.
“Ayolah,” teriak Kebo Ijo, “jangan berlari-lari saja. Kita sedang berkelahi, bukan sedang bermain kejar-kejaran.”
Ken Arok tidak segera menjawab. Tetapi kini ia sudah menemukan ancar-ancar. Sampai di sini Kebo Ijo masih merasa dirinya melampaui kekuatan lawannya. Dan Ken Arokpun menjadi semakin mantap bahwa dengan ukuran kekuatan itu, ia tidak akan mencelakakan lawannya dan juga dirinya sendiri. Dengan demikian maka Ken Arok kini tinggal melayani lawannya. Ia tidak ingin mengalahkan dengan menjatuhkan Kebo Ijo atau membuatnya pingsan atau hal-hal yang jelas menunjukkan kemenangannya. Ia ingin membiarkan Kebo Ijo bertempur dengan sepenuh tenaganya, kemudian menjadi kelelahan.
Karena itu maka perkelahian itu masih tetap seimbang. Setiap kali Kebo Ijo meningkatkan daya kemampuannya, setiap kali ia tidak dapat melampaui lawannya. Lawannya itu seakan-akan selalu saja berada dalam keadaannya. Maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka bergerak semakin cepat dan cepat. Loncatan-loncatan yang hampir tidak dapat diikuti oleh mata yang wajar. Gerak-gerak yang aneh dan membingungkan. Namun keduanya mampu mengamati setiap unsur perlawanan masing-masing.
Yang kemudian menjadi berdebar-debar adalah Kebo Ijo. Setiap ia mendesak lawannya dengan kecepatan gerak yang dianggapnya telah dapat melampaui kecepatan gerak lawannya, namun setiap kali lawannya bergerak semakin cepat pula. Sehingga akhirnya Kebo Ijo itu sudah sampai pada puncak kemampuannya. Puncak kekuatannya dan puncak ketangkasannya. Dikerahkan segala macam ilmu yang ada padanya. Namun Ken Arok itu masih saja tetap dapat mengimbanginya, meskipun setiap kali anak muda itu masih juga meloncat menjauhinya, mengambil jarak daripadanya, dan kemudian meneruskan perlawanannya.
“Apakah orang ini kerasukan setan,” pikir Kebo Ijo, “setiap kali ia tidak dapat menyamai kecepatan gerakku. Tetapi setiap aku meningkatkan tata gerakku, jarak itu masih saja tetap sama. Aku tidak dapat menguasainya. Dan ia masih saja mampu menghindar dan kadang-kadang malahan menyerang.”
Tetapi Kebo Ijo tidak dapat menemukan jawabannya. Meskipun kadang-kadang serangannya datang mengejut seperti hentakan angin ribut, namun ia tidak mampu menjatuhkan lawannya, bahkan tidak pula dapat mengejutkan. Sehingga, Kebo Ijo itu semakin lama menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah aku berkelahi melawan setan Padang Karautan dan bukan melawan Ken Arok,” katanya di dalam hatinya, “apakah ada setan yang mewujudkan dirinya seperti Ken Arok?”
Ternyata betapapun ia berusaha, namun ia tidak mampu menguasai lawannya yang disangkanya terlampau mudah untuk dikalahkannya. Bahkan, ternyata bukan lawannya itu yang menjadi bingung karena gerakan-gerakannya yang cepat, tetapi lambat-laun maka Kebo Ijo sendirilah yang kebingungan. Bagaimana ia harus melawan dan mengalahkan orang yang dianggapnya tidak cukup ilmu untuk mengimbanginya. Betapa dadanya dicekam oleh kebingungannya, sehingga tiba-tiba saja terkilas di dalam otaknya untuk mempergunakan apa saja yang dimilikinya. Ilmu yang paling dahsyat sekalipun.
Ken Arok kemudian melihat bahwa Kebo Ijo telah benar-benar mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya. Anak muda itu meloncat-loncat seperti tatit yang menyambar-nyambar di langit. Tangannya bergerak semakin cepat dan nafasnya berdesakan di lubang hidungnya. Tetapi ia tidak berhasil menjatuhkan lawannya. Kebo Ijo masih merasakan benturan-benturan yang berat dan seimbang. Meskipun ia sudah sampai ke puncak kekuatannya, namun lawannya masih juga mampu mengimbanginya. Bahkan sekali-sekali ia merasakan sentuhan-sentuhan tangan lawannya, yang menyerang dengan gerak yang tidak dimengertinya.
Namun, justru karena itu maka dada Kebo Ijo menjadi semakin bergelora. Darahnya serasa mendidih sampai di kepala. Ternyata ia berhadapan dengan seorang yang sama sekali berbeda dari dugaannya. Seorang yang cukup tangguh dan cekatan. Meskipun tampaknya Ken Arok tidak melampauinya, namun ia tidak berhasil untuk mengalahkannya. Tata gerak Ken Arok yang disangkanya tidak teratur dan liar karena anak muda itu tidak pernah mendapat tuntunan dari seorang yang berilmu, ternyata justru mengejutkannya. Tata gerak itu memang aneh. Kadang-kadang sama sekali tidak dimengertinya.
Tetapi yang melontarkan tubuh Ken Arok dengan loncatan-loncatan yang membingungkan itu bukan sekadar gerakan-gerakan yang liar tidak terkendali. Gerakan-gerakan itu ternyata mempunyai hubungan yang teratur dan tersusun. Meskipun susunannya sama sekali tidak lazim dan bahkan sebagian besar belum pernah dikenalnya. Tetapi itu tidak berarti bahwa Ken Arok tidak mengenal tata gerak yang wajar seperti yang dipergunakannya. Anak muda itu seolah-olah mempunyai pengamatan yang sangat tajam. Unsur-unsur gerak yang khusus dari perguruannya tidak mampu untuk membuat Ken Arok itu menjadi bingung. Bahkan benturan-benturan yang direncanakannya, sama sekali tidak mampu untuk mengejutkannya.
Dalam pada itu, Ken Arok sendiri menjadi semakin lama semakin tenang. Kini ia telah mendapatkan ukuran yang semakin mantap. Kebo Ijo telah sampai pada puncak kemampuan dan kekuatannya. Kalau ia tetap bertahan dalam tingkatan itu, maka ia hanya tinggal menunggu saja, kapan Kebo Ijo menjadi lelah dan berhenti dengan sendirinya. Pekerjaannya tinggallah merangsang supaya Kebo Ijo mengerahkan segala kekuatannya, memeras tenaganya, sehingga dengan demikian, maka ia akan menjadi lebih cepat lelah.
Tetapi semakin susut tenaga Kebo Ijo, maka hatinya menjadi semakin menyala. Kemarahannya sudah tidak tertahankan lagi, sehingga ia sudah bertempur benar pada puncak kemampuannya. Ia sama sekali sudah tidak mengekang diri, apa pun akibatnya. Bahkan semakin memuncak kemarahannya, bayangan tentang aji pamungkasnya menjadi semakin jelas pula. Aji Bajra Pati. Sesaat ia masih mencoba untuk mempergunakan kekuatannya secara wajar. Ia masih berusaha untuk menemukan titik-titik kelemahan lawannya. Tetapi ia sama sekali tidak berhasil. Kekuatan lawannya seolah-olah meningkat dan kelincahannya pun menyadi semakin membingungkannya sejajar dengan meningkatnya serangan-serangannya. Akhirnya Kebo Ijo kehilangan segenap pertimbangannya. Perkelahian itu baginya bukan sekadar mempertaruhkan jabatannya, tetapi ia sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi.
Sehingga ia yakin bahwa ia sudah tidak akan mampu lagi mengalahkan lawannya, meskipun ia menyerangnya seperti burung rajawali di langit, dan membenturnya seperti seekor gajah yang sedang mengamuk. Lawannya benar-benar seperti sebongkah gunung yang tegak dengan garangnya. Yang tidak tergerakkan oleh angin dan badai yang betapapun dahsyatnya. Itulah sebabnya maka Kebo Ijo sampai pada puncak kemarahannya, marah dan malu. Seandainya ia tidak mampu mengalahkan lawannya, lalu apakah kata Ken Arok itu kemudian? Apakah ia harus tunduk dan menyembahnya. Melakukan perintahnya tanpa dapat berbuat apa pun.
“Tidak,” Kebo Ijo menggeram di dalam hatinya, “aku tidak mau. Biar sajalah aku dihukum gantung karena aku telah membunuhnya. Tetapi itu lebih baik daripada aku harus bersimpuh di hadapannya.”
Ketika kemudian angin padang bertiup semakin kencang, maka darah Kebo ljo pun mengalir semakin cepat. Terasa kepalanya menjadi panas dan pening. Ia sudah tidak mampu lagi untuk berpikir terlampau banyak. Dengan demikian maka segera ia meloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak dari lawannya. Ia memerlukan kesempatan betapapun pendeknya, untuk membangunkan kekuatan Aji Bajra Pati.
Semula Ken Arok tidak menaruh prasangka apa pun. Ia menyangka bahwa Kebo Ijo sudah mulai lelah dan ingin mendapatkan kesempatan untuk bernafas. Tetapi tiba-tiba yang dilihatnya sangat mengejutkannya. Ken Arok kemudian melihat Kebo Ijo bersikap dalam pemusatan pikiran dan tenaga. Membangun segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya, yang dalam keadaan yang wajar seolah-olah tersimpan di belakang urat-urat nadinya. Namun dalam mateg Aji Bajra Pati maka kekuatan-kekuatan itu pun seolah-olah terbangunkan, merayap di sepanjang urat nadinya, menjalar ke permukaan tubuhnya. Kekuatan itu seolah-olah mengalir menurut kehendak, berpusar di tangan Kebo Ijo. Tangan yang kemudian menjadi gemetar oleh tekanan kekuatannya yang memerlukan saluran.
Sikap itu telah benar-benar mengejutkan Ken Arok. Ia segera menyadari apa yang akan terjadi. Ia tahu benar bahwa sikap pemusatan pikiran dan kekuatan itu adalah suatu sikap yang akan sangat membahayakan baginya. Sebab ia tahu benar bahwa Kebo Ijo sedang membangunkan suatu kekuatan yang betapa dahsyatnya. Tetapi Ken Arok tidak mendapat banyak waktu untuk berpikir. Ia sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk mencegah dengan kata-kata dan ia pun yakin bahwa Kebo Ijo pasti tidak akan mendengarkannya. Apalagi Bajra Pati itu kini sudah tersalur ke tangannya.
Dengan demikian maka Ken Arok telah kehilangan sekesempatan untuk mencegah Kebo Ijo menggunakan ilmu pamungkasnya. Betapa hati Ken Arok itu menjadi bingung. Apakah yang akan dilakukannya. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa kegelapan hati Kebo Ijo akan sampai sedemikian jauh sehingga dalam taruhan yang serupa itu, ia sudah berusaha melepaskan aji yang seharusnya disimpannya untuk suatu keharusan yang tidak dapat dihindarinya dalam pertaruhan hidup dan mati. Tetapi dalam perselisihan di antara kawan sendiri, maka ia sudah demikian bernafsu untuk mempergunakan aji pamungkasnya itu.
Ternyata hati Kebo Ijo telah benar-benar menjadi gelap. Ketika ia melihat Ken Arok terpaku seperti patung, maka hatinya bahkan berdesis, “Mampuslah kau anak yang gila. Yang tidak tahu diri. Yang ingin melawan kekuatan Kebo Ijo, murid Panji Bojong Santi.”
Bersamaan dengan itu, maka terdengar suara Kebo Ijo menggeram. Semakin keras, dan tanpa menahan diri lagi maka segera ia meloncat melontarkan seluruh kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya yang dibangunkannya berlandaskan ilmu yang oleh gurunya disebut Aji Bajra Pati. Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Ternyata Ken Arok tidak dapat lagi menghindari benturan itu, sehingga tidak ada pilihan lain baginya daripada membentur kekuatan Aji Bajra Pati.
Benturan itu ternyata telah menimbulkan akibat yang dahsyat pula. Kebo Ijo sendiri terlempar surut beberapa langkah, sedangkan Ken Arok terdorong ke belakang setapak, kemudian terhuyung-huyung sejenak. Dengan susah-payah ia mencoba untuk menahan keseimbangan dirinya. Tetapi anak muda itu pun jatuh terduduk, bersandar pada kedua tangannya. Ketika ia mengangkat wajahnya yang pucat maka dilihatnya Kebo Ijo terguling beberapa kali.
Sejenak suasana diterkam oleh kesenyapan. Yang terdengar hanyalah gemerisik angin menyentuh dedaunan gerumbul-gerumbul taman yang masih belum begitu rimbun, di antara desah nafas kedua anak-anak muda yang seolah-olah membeku di tempatnya. Tetapi sejenak kemudian Ken Arok mencoba menjulurkan kakinya. Kemudian menggeliat perlahan. Dengan susah-payah ia mencoba untuk berdiri. Menggerakkan kaki-kakinya dan tangannya. Ketika ia menarik nafas dalam-dalam, maka dadanya terasa sedikit nyeri. Tetapi sekali dua kali, maka perasaan nyeri itu pun berangsur hilang.
“Hem,” ia berdesah.
Dadanya pernah pula dihantam oleh sebuah ilmu yang tidak kalah dahsyatnya, yang dilontarkan oleh seorang yang lebih jauh memiliki pengalaman dan kematangan dalam ilmunya. Kebo Sindet. Saat itu matanya menjadi gelap dan ia pun jatuh pingsan. Tetapi kali ini ia berhasil membebaskan dirinya dari cedera yang dapat ditimbulkan oleh Aji Bajra Pati, karena yang melepaskan aji itu masih belum cukup masak.
Sementara itu Kebo Ijo sendiri untuk beberapa lama tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Terasa dadanya sendiri seperti telah meledak ketika kekuatan Aji Bajra Pati seolah-olah telah membentur sebuah dinding baja setebal depa tangannya. Kekuatannya sendiri telah melemparkannya dan membantingnya di tanah begitu kerasnya, sehingga tulang-tulangnya terasa seakan-akan remuk terpatah-patah. Sejenak ia memejamkan matanya. Memusatkan segala sisa-sisa tenaganya. Pelahan-lahan ia mencoba menarik napas. Berulang kali meskipun terasa betapa pedihnya. Namun lambat-laun perasaan sakit di sekujur badannya itu pun terasa berkurang.
Ketika ia membuka matanya, maka alangkah terkejutnya. Dilihatnya sesosok bayangan tegak berdiri di hadapannya. Sepasang kakinya yang merenggang serta sikapnya yang meyakinkan itu menambah dadanya menjadi sesak. Pelahan-lahan ia mencoba bangkit, tetapi kekuatannya belum mengizinkannya. Karena itu maka ia hanya mampu mengumpat dengan suara gemetar,
“Anak setan. Kau tidak mampus juga.” Yang berdiri di hadapannya itu adalah Ken Arok. “Ayo,” desis Kebo Ijo, “kalau kau mampu, bunuhlah aku. Aku tidak saja mempertaruhkan jabatan, tetapi aku mempertaruhkan kehormatan. Dan kehormatanku bernilai sama dengan jiwaku.” Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia melangkah maju. “Apa yang kau tunggu lagi,” terdengar suara Kebo Ijo di antara desah nafasnya yang sesak. “Cepat, lakukanlah.”
Tiba-tiba dalam keremangan malam Kebo Ijo itu melihat Ken Arok menggelengkan kepalanya. Pelahan-lahan ia menyawab, “Tidak Kebo Ijo. Aku tetap pada perjanjian kita. Yang kita pertaruhkan adalah kekuasaan di Padang Karautan ini atas para prajurit Tumapel.”
“Tidak. Hanya ada dua pilihan. Membunuh atau dibunuh. Ayo bunuhlah aku.”
“Jangan kau turuti perasaanmu.”
“Cepat sebelum aku dapat bangkit dan akulah yang akan membunuhmu.”
“Jangan terlampau keras hati.”
“Aku adalah seorang laki-laki. Aku adalah seorang perwira Tumapel yang perkasa. Seorang prajurit hanya akan mengakhiri perlawanannya apabila nyawanya telah terpisahkan dari tubuhnya. Hanya seorang pengecutlah yang mundur setengah jalan hanya sekadar untuk menyelamatkan hidupnya.”
“Apakah kau berpendirian demikian?”
“Ya.”
“Dalam segala keadaan?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Ia tidak tahu maksud pertanyaan Ken Arok, sehingga dengan suaranya yang parau ia bertanya, “Apakah maksudmu dalam segala keadaan.”
“Maksudku, bahwa bagimu tidak ada jalan surut, betapapun keadaanmu.”
“Ya, meskipun aku terluka di dalam, tetapi aku tetap dalam pendirianku. Hidup atau mati. Membunuh atau dibunuh.”
Ken Arok menarik keningnya. Sejenak ia berdiam diri sambil memandangi Kebo Ijo yang masih berbaring di tanah. Kini ia mencoba bangkit sambil bertelekan padu tangan-tangannya. Terdengar ia mengaduh pendek. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri oleh tekanan tangannya yang menahan tubuhnya. Tetapi ia berusaha terus. Bahkan ia berkata,
“Ken Arok, aku hampir mampu berdiri dan berkelahi lagi. Aku akan segera membunuhmu. Kalau kau ingin mempergunakan kesempatan, cepatlah. Pergunakan sekarang. Kau mampu bertahan atas kekuatan Aji Bajra Pati. Dengan demikian kau pun pasti mempunyai ilmu pamungkas yang akan dapat kau pergunakan membunuhku dengan tanganmu. Tanpa sehelai senjata apa pun.”
Ken Arok tidak segera menjawab. Tetapi ia merasa aneh mendengar kata-kata Kebo Ijo yang menganggapnya mempunyai sebuah ilmu yang sedahsyat Bajra Pati. Sejenak Ken Arok itu berpikir tentang dirinya sendiri. Ia tidak pernah belajar pada seorang guru pun sebelum ia bertemu dengan Lohgawe. Orang tua itu pun sama sekali tidak mengajarnya berkelahi. Tidak menuntunnya dalam olah kanuragan. Orang tua itu hanya memberinya beberapa nasihat supaya ia menjauhi cara hidupnya yang lama, dan menuntunnya untuk menemukan hidupnya yang baru. Selain itu, Lohgawe hanya memberitahukan kepadanya beberapa hal mengenai tubuh manusia, tubuhnya sendiri itu juga. Dan yang terakhir orang tua itu menuntunnya untuk mempelajari cara-cara memusatkan pikiran, kehendak, dan semua getar di dalam dirinya. Lambat-laun dan dengan pelahan-lahan sekali.
“Hanya itu,” desisnya di dalam hati, “sama sekali bukan ilmu kanuragan. Bukan unsur-unsur gerak dalam tata bela diri. Bukan pula kemampuan untuk membangunkan sebuah ilmu yang dahsyat, sedahsyat Aji Bajra Pati dan Aji Bayang. Tetapi aku telah mampu melepaskan diri dari kehancuran.”
Wajah Ken Arok tiba-tiba menegang karena persoalan di dalam dirinya sendiri. Ia seolah-olah sudah lupa bahwa di hadapannya Kebo Ijo sedang merangkak-rangkak untuk mencoba bangun.
“Aku berkelahi asal saja aku berkelahi,” berkata Ken Arok itu seterusnya di dalam hatinya, “Aku hanya mencoba menirukan unsur-unsur gerak yang pernah aku lihat dilakukan oleh Mahisa Agni, Witantra, Kuda Sempana, dan para prajurit yang lain. Tetapi, apakah pemusatan pikiran, kehendak, dan segala macam getar di dalam diri ini termasuk juga membangunkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam tubuh kita untuk segala kepentingan? Termasuk dalam olah kanuragan, tidak saja dalam hasrat, kemauan, dan keinginan lahir dan batin, tetapi juga dalam membangunkan kekuatan dan kekuatan-kekuatan simpanan di dalam tubuh ini?”
Justru pertanyaan itulah yang tumbuh di dalam diri Ken Arok. Dan ia mencoba untuk menilai apakah yang sedang dilakukannya. Pada saat ia melihat lawannya mempersiapkan diri, memusatkan pikiran dan perasaan membangun Aji Bajar Pati, maka ia pun dengan segenap tekad, hasyrat dan kehendak, telah mempersiapkan dirinya untuk melawannya, seperti pada waktu ia menghadapi aji yang akan dilepaskan oleh Kebo Sindet. Ternyata apa yang dilakukannya itu adalah pengerahan segenap kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya yang didasarinya pada pemusatan pikiran, kehendak, dan segala macam getar di dalam dirinya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar