Tetapi Ken Arok tetap tidak tahu, lalu kekuatan apakah dan dorongan oleh ilmu apakah, maka ia mampu membangunkan kekuatan itu. Yang diketahuinya kini adalah, apabila ia menghendaki, maka ia dapat mengimbangi kekuatan Bajra Pati dalam tataran yang belum terlampau sempurna, dan dapat menyelamatkannya dari kekuatan aji yang dilepaskan oleh seorang Kebo Sindet.
Dan Ken Arok kini meyakini, semuanya itu sebagian besar adalah karena latihan-latihan memusatkan pikiran yang dipelajarinya dari Lohgawe. Sebelum itu apa yang dilakukan adalah seperti seekor serigala liar di Padang Karautan, meskipun pada saat-saat yang serupa itu apa yang dilakukan telah mengherankan bagi orang banyak. Seolah-olah tubuhnya menjadi kebal dan tidak dapat disakiti oleh lawannya, seperti pada saat ia berkelahi untuk pertama kali melawan Mahisa Agni. Bagaimanapun juga ia terbanting, terdorong, dan bahkan jatuh terjerembab dan terguling-guling di tanah, tetapi ia selalu bangkit kembali dan melawan membabi-buta. Ken Arok itu tersadar ketika tiba-tiba saja ia melihat Kebo Ijo telah berdiri di hadapannya. Meskipun masih belum tegak benar namun anak muda itu sudah berteriak,
“Ayo, aku ternyata masih belum kau kalahkan. Kita akan segera mulai lagi.”
Angin malam terhembus semakin kencang. Usapan yang sejuk di tubuh Kebo Ijo telah membuatnya bertambah segar. Tetapi sekali-sekali masih terasa dadanya menjadi nyeri. Meskipun demikian sejenak kemudian ia berteriak pula, “Ayo, Ken Arok, kita mulai lagi.”
“Kau masih ingin berkelahi?” bertanya Ken Arok.
“Aku belum kau kalahkan. Hanya mautlah pertanda yang paling jelas, siapakah yang kalah, dan siapakah yang menang.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah anak muda yang berdiri terhuyung-huyung di hadapannya itu dengan dada yang berdebaran. Alangkah keras hatinya. Tetapi tiba-tiba Ken Arok itu menggelengkan kepalanya,
“Tidak Kebo Ijo. Aku kira kita sudah cukup lama berkelahi. Kalau seseorang mencari aku dan datang kemari, melihat kita berkelahi maka akibatnya kurang baik.”
“Persetan dengan alasanmu yang memuakkan itu. Kau selalu mengatakan tentang prajurit-prajurit Tumapel. Biarlah mereka belajar dari peristiwa ini. Biarlah mereka tahu, bahwa bagi prajurit Tumapel hanya ada dua pilihan dalam setiap perkelahian. Menang atau mati.”
“Sikap itu amat terpuji Kebo Ijo. Tetapi terhadap lawan, lawan bebuyutan. Tidak terhadap kawan sendiri yang hanya sekadar bermain-main. Katakanlah sedang bertaruh dengan taruhan yang sama sekali tidak berarti.”
Kata-kata itu menyentuh hati Kebo Ijo juga. Sejenak ia berdiam diri memandangi Ken Arok yang berdiri tegak seperti sebatang tugu yang kokoh. Tetapi sejenak kemudian di dalam hati Kebo Ijo itu terjadi lagi sebuah pergolakan. Kambuhlah sifat-sifatnya yang keras. Maka katanya,
“Kita pun tidak sedang bermain-main. Kita memang sedang bertaruh. Tetapi taruhan kita tidak sekadar tidak berarti seperti yang kau katakan. Taruhan kita adalah kehormatan kita. Kehormatan kita sebagai laki-laki dan sebagai seorang prajurit. Kehormatan laki-laki dan seorang prajurit sama harganya dengan nyawanya.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Disabarkannya hatinya dengan segala usaha. Meskipun terasa getaran di dalam nada suaranya, namun kata-katanya meluncur pelahan-lahan, “Kau keliru Kebo Ijo. Kau terlampau dikuasai oleh perasaan.”
“Tidak. Ayo, bersiaplah. Apakah kau takut menghadapi aku yang telah berhasil memperoleh kekuatanku kembali?”
Tetapi Kebo Ijo sendiri tidak dapat meyakini kata-katanya. Ia masih harus bersusah-payah mempertahankan keseimbangannya. Sekali-sekali masih terasa tubuhnya memberat seperti timah dan dadanya serasa disobek dengan sembilu.
Namun ia masih berteriak, “Untuk kedua kalinya aku akan menghantammu dengan Aji Bajra Pati. Kali ini kau pasti akan terbunuh.”
“Kau keras kepala,” desis Ken Arok.
“Aku seorang prajurit,” sahut Kebo Ijo, “bukan pengecut cengeng seperti kau. Kalau kau tetap berkuasa di Padang Karautan, maka seluruh prajurit Tumapel yang ada di sini pun akan menjadi pengecut cengeng seperti kau.”
Terasa dada Ken Arok bergetar. Hampir saja ia meloncat memukul mulut Kebo Ijo pasti akan terpelanting jatuh. Untunglah bahwa rasa tanggung jawabnya terhadap seluruh keadaan di Padang Karautan telah mampu mencegahnya. Meskipun demikian terdengar anak muda itu menggeram.
“Ayo Ken Arok, apa yang kau tunggu.”
Tiba-tiba jawaban Ken Arok sangat mengejutkan Kebo Ijo. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Tidak Kebo Ijo. Aku tidak akan berkelahi lagi. Apabila kita terlibat dalam perkelahian sekali lagi, maka kita akan terdorong semakin jauh ke dalam kegelapan hati. Kita akan kehilangan pengamatan diri sendiri. Maka kita tidak lagi menjadi seorang pemimpin yang baik bagi para prajurit dan orang-orang Panawijen. Aku tidak peduli, apakah alasan ini kau anggap memuakkan atau tidak, tetapi itulah pendirianku. Dan kau tidak akan dapat mengubahnya.”
“Pendirian semacam itu ada di dalam pertaruhan kita. Karena itu mari kita teruskan. Baru kau dapat mengatakan tentang pendirianmu sebagai seorang pemimpin apabiIa aku sudah terbunuh mati di sini.”
“Kita bukan lagi orang-orang liar yang berkeliaran di hutan-hutan rimba. Kita adalah orang-orang yang beradab. Dengan demikian kita harus dapat membedakan diri.”
“Omong kosong.”
“Kau pasti belum pernah mengalami hidup berkeliaran di hutan-hutan belantara, di mana tidak ada adab dan tata pergaulan. Dalam dunia yang demikian maka manusia tidak ubahnya seperti binatang hutan. Siapa yang kuat, yang bertaring tajam, ialah yang menang. Apakah kau akan membangunkan peradaban yang demikian di kalangan kita. Di kalangan prajurit Tumapel? Siapa yang paling kuat, siapakah yang paling tajam pedang dan tombaknya, ialah yang akan menguasai pimpinan. Begitu?”
“Terserah. Terserah apa yang kau katakan. Aku tidak peduli juga seperti kau tidak mempedulikan pendirianku.”
Ken Arok sekali lagi menarik nafas. Dan tiba-tiba kata-katanya semakin mengejutkan Kebo Ijo, “Adi Kebo Ijo,” suara Ken Arok datar bernada rendah. Tetapi terasa sebuah getaran yang tertahan memancar di antara kata-katanya, “Kalau kau memang berkeras hati, baiklah aku akan menyatakan kekalahan diri. Lebih baik aku menyerahkan pimpinan para prajurit di Padang Karautan ini kepadamu. Aku akan dapat mengundurkan diri dengan mengajukan permohonan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Selebihnya kau akan dapat memimpin para prajurit menurut caramu. Itu akan lebih baik daripada kita selalu bertengkar tanpa berkeputusan. Akibat dari pertengkaran itu akan menjalar kepada para prajurit. Mereka akan bertengkar pula dan berkelahi. Mereka akan berkata seperti apa yang kau katakan, ‘Prajurit hanya mengenal menang atau mati.’ Maka habislah prajurit di padang ini. Separuh dari mereka akan terbunuh dan yang separuh itu pun masih akan berkelahi lagi.”
“O,” tiba-tiba Kebo Ijo itu tertawa.
Suaranya berkumandang memenuhi padang yang kering. Berkepanjangan semakin lama semakin keras, seperti ombak di pantai memercik terhempas di batu-batu karang. Tidak putus-putusnya. Ken Arok menjadi heran mendengar suara tertawa itu. Ia tidak mengerti kenapa Kebo Ijo itu tiba-tiba tertawa. Apakah ia bergembira mendengar keputusannya, apakah ia menjadi marah?. Tetapi Ken Arok membiarkan saja anak muda itu tertawa. Di dalam hatinya ia berkata,
“Kalau ia telah tertawa, maka ia pasti akan berhenti dengan sendirinya. Kalau tidak maka ia pasti akan pingsan sendiri karenanya.”
Ternyata Kebo Ijo itu pun menjadi lelah. Suara tertawanya menurun. Namun tiba-tiba anak muda itu menuding wajah Ken Arok sambil berkata, “Kau benar-benar pengecut yang sedang berputus asa. O, bagaimana mungkin Akuwu Tunggul Ametung menunjukmu menjadi seorang pemimpin pada suatu kerja yang cukup besar ini. Kalau itu yang kau kehendaki, maka kecewalah seluruh prajurit Tumapel atasmu. Kecewa pulalah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Ken Arok, yang diserahi pimpinan atas para prajurit Tumapel di Padang Karautan, ternyata lari terbirit-birit seperti seekor kucing melihat anjing.”
Ken Arok bukanlah seorang anak muda yang mempunyai kesabaran tanpa batas. Bahkan sebenarnya Ken Arokpun terlampau banyak dipengaruhi oleh perasaannya. Justru karena perasaan tanggung jawabnya, maka ia berhasil menekan dirinya sampai batas itu. Tetapi batas itu kini telah hampir terpatahkan karena sikap Kebo Ijo yang berlebih-lebihan. Karena itulah maka terasa getar di dalam dada Ken Arok pun menjadi semakin tajam. Ken Arok hanya memerlukan sentuhan yang betapapun halusnya untuk membakar darahnya. Dan Kebo Ijo ternyata masih mencobanya dan berkata,
“Ayo, Ken Arok. Pilihlah. Berkelahi atau lari dari Padang Karautan ini.”
Gigi Ken Arok pun menyadi gemeretak. Ia sadar bahwa keadaan Kebo Ijo kini telah semakin baik. Namun kini ia sudah tidak dapat membendung kemarahannya. Dengan suara yang tertahan-tahan karena gelora di dadanya, Ken Arok menggeram,
“Baiklah Kebo Ijo. Kalau itu yang kau ingini. Aku tidak berkeberatan. Kalau kau ingin membunuh atau dibunuh, maka aku akan berkata seperti itu juga.”
Meskipun Kebo Ijo sengaja telah membakar kemarahan Ken Arok yang dianggapnya terlampau lemah dan tidak dapat bertindak keras itu, namun ia terkejut juga. Ia menganggap bahwa Ken Arok tidak akan berani berbuat lebih banyak lagi karena ia harus bertanggung jawab kepada Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kesombongan dan harga diri Kebo ijo yang berlebih-lebihan itu juga menjadi sebab, sehingga sikapnya menyadi kasar dan sombong. Kini mendengar bahwa Ken Arok pun telah bersikap. Ternyata kesabaran Ken Arok telah sampai pada batasnya sehingga ia pun kemudian lupa, bahwa apabila terjadi bencana atas dirinya atau atas diri Kebo Ijo, maka persoalannya tidak akan terhenti demikian saja. Mereka adalah prajurit-prajurit Tumapel, dan mereka mempunyai pertanggung-jawaban untuk itu.
Tetapi agaknya keduanya sudah tidak mempedulikannya lagi. Kebo Ijo yang merasa tubuhnya menjadi semakin baik karena silir angin yang segar, telah mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya. Kini ia tidak hanya akan menghadapi Ken Arok dengan tangannya untuk melontarkan Aji Bajra Pati. Tetapi tiba-tiba tangannya menarik sebuah cundrik kecil dari ikat pinggangnya. Ia berketetapan hati untuk membunuh lawannya. Cundrik itu harus diayunkan dengan tangannya yang dilambarinya kekuatan Aji Bajra Pati sehingga apabila senjata itu menyentuh lawannya, maka senyata yang kecil itu pasti akan membenam jauh ke dalam tubuh lawan itu, oleh lontaran kekuatan yang tiada taranya.
“Tak seorang pun yang dapat hidup karena serangan yang demikian,” desisnya, “kau pun akan mati juga malam ini Ken Arok.”
Dari mata Ken Arok itu seolah-olah telah memancar api kemarahaannya. Dipandanginya Kebo Ijo dengan tajamnya. Tetapi ia tidak menjawab sepatah kata pun. Keduanya kini telah berdiri berhadapan berjarak beberapa langkah saja. Masing-masing telah dikuasai oleh kemarahan yang tidak terkendali. Keduanya bahkan telah berada di dalam tataran tertinggi dari kekuatan masing-masing.
Dengan tajamnya Ken Arok memandangi tangan Kebo Ijo yang menggenggam cundrik-nya. Apabila tangan itu terayun, maka ia yakin, bahwa ayunan itu pasti dilambari Aji Bajra Pati yang kini sedang dibangunkan. Ia tidak akan dapat membenturnya seperti membentur aji itu sendiri. Tetapi kini di dalam tangan itu tergenggam sebilah cundrik kecil yang akan dapat membenam ke dalam dagingnya. Karena itu ia harus berhati-hati. Ia harus memusatkan segenap kekuatan lahir dan batin, untuk dapat melakukan perlawanan terhadap kekuatan Aji Bajra Pati. Tetapi ia harus menghindari sentuhan cundrik di tangan Kebo Ijo itu.
Dengan demikian, karena pemusatan kekuatan yang memuncak, maka keduanya tidak mendengar ketika dedaunan di samping mereka tersibak. Mereka tidak melihat sebuah bayangan yang datang mendekati mereka pelahan-lahan. Tepat pada waktunya, ketika keduanya hampir saja meloncat dan mulai lagi dengan perkelahian yang pasti akan jauh lebih dahsyat dari perkelahian yang baru saja terjadi, maka mereka terkejut karena mereka mendengar suara nafas yang berdesah di dekat mereka. Desah yang sebenarnya terlampau keras.
Ketika mereka berpaling, dalam keremangan malam, di dalam lindungan dedaunan, mereka melihat sebuah bayangan yang meremang. Dalam kegelapan rimbunnya gerumbul-gerumbul taman yang sedang mulai tumbuh, mereka tidak segera dapat mengenal bayangan itu.
Karena itu hampir bersamaan Ken Arok dan Kebo Ijo bertanya, “Siapakah kau?”
Terdengar suara terbatuk-batuk kecil. Tetapi suara itu telah menggoncangkan dada Kebo ljo. Dengan serta-merta ia bertanya sekali lagi, “Siapa?”
“Aku! Kebo Ijo.”
Jawaban itu benar-benar seperti suara petir yang meledak di dalam dadanya. Tubuhnya tiba-tiba menyadi gemetar. Dan dengan suara yang gemetar pu!a ia berkata, “Apakah guru yang berdiri di situ?”
“Ya.”
Wajah Kebo Ijo tiba-tiba berubah menjadi seputih mayat. Tetapi malam yang gelap telah menyaputnya, sehingga Ken Arok tidak dapat melihat perubahan wajah itu. Ia hanya mendengar suara Kebo Ijo gemetar. Tetapi ia tidak tahu, apakah sebabnya maka suara itu gemetar. Namun dengan demikian maka hati Ken Arok itu pun menjadi berdebar-debar. Kedatangan guru Kebo Ijo yang tanpa disangka-sangka itu telah mempengaruhi pikirannya. Ia merasakan sesuatu yang kurang wajar atas kehadiran guru Kebo Ijo itu. Mungkin guru Kebo Ijo telah lama berada di tempat itu, telah melihatnya pula ketika ia berhasil menyelamatkan diri dari kekuatan Aji Bajra Pati. Lalu apakah maksud kedatangannya itu ada hubungannya dengan kegagalan muridnya.
Kedua anak-anak muda itu kemudian berdiri tegak seperti patung. Mereka hanya dapat memandangi saja seorang tua yang berjalan mendekati mereka. Semakin lama semakin dekat.
“Hem,” mereka mendengar Panji Bojong Santi menarik napas dalam-dalam, “aku telah melihat kalian berkelahi. Sejak permulaan sampai kalian hampir-hampit menjadi gila.” Dada kedua anak-anak muda itu berdesir. Tetapi mereka masih saja berdiam diri.
“Aku berbangga atas kalian. Ternyata anak-anak muda kini memiliki kemampuan yang cukup memberi kebanggaan kepada orang-orang tua. Ketika aku seumurmu Kebo Ijo,” berkata orang tua itu seterusnya, “Aku tidak akan mampu berbuat terlampau banyak seperti apa yang telah kau lakukan. Aku sama sekali belum dipercaya oleh guruku untuk menerima Aji Bajra Pati. Tetapi ternyata anak-anak muda sekarang jauh berbeda dengan anak-anak muda pada zamanku. Kau ternyata telah mampu menguasai Aji Bajra Pati dengan baik. Dan aku pun berbangga pula karenanya.”
Hati Kebo Ijo menyadi semakin berdebar-debar. Dan Ken Arok pun hanya dapat berdiri tegak membeku. Ia tidak tahu arah pembicaraan guru Kebo Ijo. Apakah ia sedang memuji muridnya, ataukah sedang menyesalinya. Namun sejenak kemudian Ken Arok menjadi jelas melihat sikap Panji Bojong Santi, ketika orang tua itu berkata,
“Tetapi Kebo Ijo, ternyata anak-anak sekarang pun lebih banyak dikuasai nafsunya daripada pikirannya yang bening. Justru karena itu, maka keadaan sekarang ini jauh lebih membuat orang-orang tua berprihatin.” Panji Bojong Santi berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Coba pikirkanlah. Anak-anak muda sekarang ini lebih pandai, lebih cakap, dan lebih cepat mempelajari berbagai macam ilmu. Tetapi juga lebih cepat naik darah dan dikejar oleh nafsunya sendiri.”
Ketika Panji Bojong Santi berhenti berbicara, maka Padang Karautan itu menjadi sepi. Yang terdengar hanya gemersik dedaunan disentuh oleh angin yang menyapu wajah padang yang kering itu.
Baru sesaat kemudian orang tua itu menyambung kata-katanya, “Tetapi itu bukan salah anak-anak muda saja. Kami yang tua-tua pun ternyata ikut serta mendorong kalian ke dalam tindakan-tindakan yang mencemaskan. Kebo Ijo, apakah aku harus menyesal bahwa aku telah memberimu bekal sebelum kau memasuki dunia keprajuritan? Apakah aku harus menangkapmu dan berusaha memunahkan kembali Aji Bajra Pati dari tubuhmu dengan melemahkan beberapa urat nadimu untuk sementara, sehingga kau tidak mungkin lagi berbuat dan bersikap seperti yang baru saja kau lakukan?”
Tubuh Kebo Ijo itu pun menyadi gemetar. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa gurunya akan sampai juga di Padang Karautan dan menyaksikan apa yang telah dilakukannya. Kebo Ijo itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia mendengar gurunya bertanya,
“Bagaimana Kebo Ijo?”
Keringat Kebo Ijo yang sudah terperas pada saat ia berkelahi melawan Ken Arok, kini masih juga mengalir. Keringat dingin. Anak muda itu tidak berani menatap wajah gurunya yang memandangi dengan tajam.
Karena Kebo Ijo tidak segera menjawab, maka gurunya mendesaknya, “Bagaimana Kebo Ijo? Bagaimana perasaanmu setelah kau dapat memancing perkelahian?”
Kepala Kebo Ijo menjadi semakin tunduk. Tetapi mulutnya masih belum dapat mengucapkan jawaban.
“Kau berbangga?” Pelahan-lahan Kebo Ijo menggelengkan kepalanya. “Bagaimana?”
Sekali lagi Kebo Ijo menggeleng dan menjawab lambat sekali, hampir tidak terdengar, “Tidak guru.”
“Tidak apa?”
Jawabannya semakin sendat, “Tidak berbangga guru.”
“Lalu apa maksudmu kau memancing perkelahian? Supaya kau mendapat kedudukan tertinggi di dalam kerja besar ini?” Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. “Dengarlah Kebo Ijo,” berkata Bojong Santi kemudian, “ternyata kau keliru menilai kejantanan diri. Kau menganggap bahwa apabila kau berkelahi sampai mati, itu adalah suatu sikap jantan. Membunuh atau dibunuh. Begitu bukan istilahmu untuk menyatakan dirimu sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang prajurit pilihan?”
Mulut Kebo Ijo menjadi seolah-olah tersumbat. Sedangkan Ken Arok berdiri saja seperti tonggak. Ia menjadi heran dan kemudian kagum terhadap guru Kebo Ijo. Ternyata ia mampu melihat dengan jujur apa yang telah terjadi. Orang tua itu tidak diburu oleh sikap berat sebelah menghadapi persoalannya dengan Kebo Ijo. Meskipun Kebo Ijo itu muridnya, dan ia sendiri hampir dikenal oleh orang tua itu, tetapi sikap orang tua itu benar-benar terpuji.
“Kebo Ijo,” terdengar Panji Bojong Santi itu berkata, “Kau dapat bersikap demikian apabila kau berdiri di atas kebenaran yang kau yakini. Tidak sekadar karena kesombongan, harga diri, dan pamrih duniawi yang memalukan. Nama, misalnya. Atau kedudukan. Tidak. Dalam persoalanmu, persoalan yang telah kau ikat dengan perjanjian bersama sebelum kalian mulai, maka sikap jantan adalah memenuhi perjanjian itu dengan jujur. Tetapi kau tidak. Perasaanmu telah dibakar oleh nafsu, kesombongan, dan harga diri yang berlebih-lebihan. Nah, ternyata kau kalah Kebo Ijo. Kau kalah, itu harus kau akui. Sampai mati pun kau tetap kalah. Tak ada orang yang akan mengagumi mayatmu. Sebab kau mati dalam kesombonganmu. Tidak seperti seorang prajurit yang mati di peperangan atau seorang laki-laki yang sedang membela kebenaran. Sikap jantan bagimu sekarang adalah mengakui kekalahanmu dan minta maaf atas sikapmu itu. Sombong dan tidak sopan.”
Mendengar kata-kata gurunya itu terasa darah Kebo Ijo seolah-olah berhenti mengalir. Bagaimana mungkin ia harus mengakui kesalahan dan minta maaf kepada Ken Arok. Bukankah dengan demikian Ken Arok akan menjadi besar kepala dan bersikap sekehendak hati kepadanya nanti. Ia akan dapat menghinakan dirinya di hadapan para prajurit Tumapel. Menceriterakan apa yang terjadi dan menertawakannya.
“Penghinaan yang demikian lebih parah daripada mati sama sekali,” desisnya di dalam kati.
Tetapi gurunya mendesaknya, “Cepat Kebo Ijo. Cepat mintalah maaf.” Kebo Ijo masih berdiri tegak seperti patung. Cundrik-nya masih digenggamnya erat-erat. “Apakah kau tidak mau? Apakah kau masih ingin berkelahi lagi? Kalau kau masih ingin berkelahi lagi, maka aku akan melihatnya lebih dekat lagi. Aku akan berpesan kepada lawanmu untuk berbuat lebih parah daripada membunuhmu. Kau tahu bahwa dengan melemahkan beberapa urat nadimu, maka Aji Bajra Pati akan punah untuk sementara. Dan aku akan mengajari lawanmu berbuat demikian.” Tubuh Kebo Ijo telah menyadi basah oleh keringat dinginnya seperti baru saja mandi. Nafasnya menyadi terengah-engah, melampaui pada saat ia baru berkelahi.
Ken Arok melihat betapa hati anak muda itu menjadi terlampau pedih menghadapi kenyataan itu. Perintah gurunya terasa terlampau berat untuk dilakukannya. Maka seolah terlihat olehnya wajah Kebo Ijo yang pucat, titik-titik keringatnya yang menetes dari kening, dan tubuhnya yang gemetar, maka ia menjadi beriba hati. Kemarahannya telah hanyut oleh sikap guru Kebo Ijo yang mengagumkannya. Dan ia yakin bahwa dengan sikap gurunya itu Kebo Ijo akan menjadi jera. Ia pasti tidak akan mengganggunya lagi selama tugasnya di Padang Karautan.
Karena itu maka pelahan-lahan terdengar Ken Arok itu berkata sambil membungkukkan badannya, “Aku mengagumi sikap tuan. Karena itu, maka aku kira tidak ada yang paling bersalah di antara kita. Bukan saja adi Kebo Ijo yang bersalah, tetapi aku pun telah bersalah karena aku melayaninya. Karena itu, maka aku kira adi Kebo Ijo sudah tidak perlu lagi minta maaf atas kesalahannya.”
“Hem,” Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Ken Arok dengan tajamnya. Kemudian ia mengangguk sambil berkata, “Sikapmu mengagumkan aku anak muda. Tetapi sayang, aku tidak sependapat dengan kau. Kebo Ijo harus mendapat hukuman karena sikapnya yang sombong dan keras kepala.” Kepada Kebo Ijo Panji Bojong Santi mengulanginya, “Ayo, cepat. Minta maaf kepada anak muda ini. Kau telah bersalah. Kesalahan yang demikian harus diakui. Kalau kau tidak juga mau minta maaf, maka berarti bahwa kau tidak merasa bersalah dalam hal ini. Dengan demikian maka kesalahan yang serupa akan kau ulangi lagi. Daripada hal itu terjadi, Kebo Ijo, maka lebih baik aku mencegahnya. Memunahkan untuk sementara Aji Bajra Pati sampai benar-benar jera. Sebab kekuatan itu bukanlah kekuatan yang dapat kau pakai untuk bersombong diri dan berkeras kepala.”
Wajah Kebo Ijo menjadi semakin pucat. Betapa jantungnya berdentangan, betapa hatinya dicekam oleh kesombongan dan harga diri yang berlebih-lebihan, tetapi kini ia berhadapan dengan gurunya. Bahkan gurunya telah mengancamnya untuk melemahkan kekuatan Aji Bajra Pati yang telah dimilikinya. Karena itu, maka keringat dikeningnya menjadi semakin deras mengalir dan menetes satu-satu, seolah-olah menetes dari sudut matanya.
“Aku memberimu kesempatan terakhir sekarang Kebo Ijo,” terdengar suara gurunya dalam nada yang rendah.
Kebo Ijo benar-benar tidak dapat menghindar lagi. Betapa berat dan sakit hatinya, tetapi ia akhirnya berkata pelahan-lahan, “Ya, guru. Aku bersalah. Aku minta maaf.”
“Tidak kepadaku,” sahut gurunya, “kepada anak muda yang bernama Ken Arok ini.” Wajah Kebo Ijo terasa seolah-olah menjadi semakin tebal.
Bibirnya menjadi berat seperti batu. Tetapi ia berkata juga, “Maafkan aku Ken Arok.”
Dan Ken Arok menyahut, “Aku pun minta maaf pula Kebo Ijo.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Meskipun malam ditandai oleh kegelapan, tetapi seolah-olah ia melihat jelas sekali Ken Arok tersenyum atas kemenangannya. Tetapi Kebo Ijo terkejut mendengar gurunya berkata,
“Kau tidak ikhlas Kebo Ijo. Tetapi aku tidak dapat memaksamu tiba-tiba saja menjadi seorang yang rendah hati. Tetapi hal ini hendaknya menjadi pelajaran bagimu. Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Menjaga diri dan berbuat baik supaya kau tidak terjerumus ke dalam keadaan yang dapat menyulitkan dirimu. Jangan kau sangka bahwa aku tidak mengetahui sifat-sifatmu. Aku sering mendengar kawan-kawanmu mengeluh, bahkan kakakmu Witantra pun mengeluh kepadaku, bahwa kau terlampau sombong, tinggi hati, dan merasa dirimu lebih baik, lebih cakap, dan lebih pandai dari orang lain. Sadari, sebelum kau terperosok semakin dalam.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Sebagian ia dapat mengerti kata-kata gurunya, tetapi yang sebagian lagi telah membuatnya jengkel. Meskipun demikian ia tidak berani untuk membantah atau bersikap lain daripada menundukkan kepalanya.
“Nah, sekarang kau boleh pergi Kebo Ijo. Kembalilah ke perkemahan.”
Perintah itu serasa tetesan embun yang sejuk menyiram hatinya yang membara. Segera ia membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Terima kasih guru. Aku akan segera pergi ke perkemahan.”
“Ingatlah. Aku tidak rela kau berbuat serupa itu lagi.”
Kebo Ijo mengangguk sekali lagi, “Ya, guru. Aku akan mengingatkan untuk selanjutnya.”
Ketika Kebo Ijo telah meninggalkan taman itu, maka terdengar Bojong Santi berkata, “Tinggallah di sini sebentar Ken Arok.”
Mendengar kata-kata Panji Bojong Santi itu Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Sejenak ia mengawasi langkah Kebo Ijo yang semakin lama menjadi semakin jauh.
Sekali Kebo Ijo berpaling, tetapi bayangan Ken Arok dan gurunya, Panji Bojong Santi, sudah menjadi kabur, dan sesaat lagi seolah-olah hilang ditelan kegelapan. Dan langkahnya pun menjadi tergesa-gesa menjauhi taman yang belum selesai dibuat itu. Ketika ia mendengar gurunya menyuruhnya pergi, maka ia merasa terlepas dari suatu keadaan yang seakan-akan mencekik lehernya sehingga ia tidak lagi bebas bernafas. Seolah-olah ia telah terlepas dari panggangan api yang membara di bawah kakinya.
Gurunya yang memaksanya untuk minta maaf kepada Ken Arok telah membuatnya seperti terlempar ke dalam neraka. Tetapi ia tidak dapat menolak, karena gurunya sendirilah yang menyuruhnya berbuat demikian. Seandainya orang itu bukan gurunya, bahkan Akuwu Tunggul Ametung sekalipun, maka ia akan tetap berdiam diri meskipun akibatnya nyawanya akan menyadi tebusan dari sikapnya yang keras kepala itu. Tetapi ia tidak dapat menolak terhadap gurunya.
“Hem,” ia bergumam kepada diri sendiri, “kalau saja guru tidak memaksa aku. Kalau saja guru tidak hadir di tempat itu.” Tetapi kemudian hatinya sendiri menjawab, “Kalau guru tidak ada di tempat itu aku pasti sudah mati.” Namun dibantahnya sendiri, “Lebih baik mati daripada mengalami penghinaan yang begitu berat.” Dan hatinya pun berbantah sendiri.
Tetapi di antara kemarahan, kekecewaan, dan kejengkelannya, terselip juga di dalam hatinya perasaan heran dan kagum terhadap Ken Arok. Orang itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dengan gerak dan sikap yang sederhana ia telah mampu melepaskan diri dari kehancuran akibat sentuhan Aji Bajra Pati. Kekuatan yang dahsyat yang jarang tandingnya. Namun Ken Arok dapat terlepas daripadanya.
Bukan kekuatan dan kecepatan bertempur Ken Arok sajalah yang telah membuat Kebo Ijo heran dan kagum, tetapi juga sifat-sifatnya yang aneh. Anak muda itu terlampau sabar. Bertanggung jawab atas kata-kata dan perbuatannya. Dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diserahkan kepadanya, sehingga ia bersedia untuk mengorbankan beberapa kepentingannya sendiri.
Dalam keangkuhan dan harga diri yang berlebih-lebihan, Kebo Ijo melihat sikap Ken Arok itu aneh. Tetapi memberinya beberapa pengertian baru, bahwa orang-orang yang dianggapnya remeh tidak selalu dapat diatasinya dalam beberapa persoalan. Dan ternyata Ken Arok jauh lebih baik daripadanya dalam beberapa hal. Dalam kekuatan, keteguhan, dan tata perkelahian, juga dalam sikap kepemimpinan. Itulah sebabnya Ken Arok dapat mencekam hati prajurit-prajurit Tumapel di Padang Karautan.
Dengan desah nafas yang semakin cepat Kebo Ijo itu pun berjalan semakin cepat pula menyusuri parit induk kemudian berbelok ke arah perkemahan para prajurit Tumapel. Perkemahan yang sama sekali tidak menyenangkannya, meskipun gubugnya sendiri khusus telah mendapat sebuah rak-rakan.
Di taman yang sedang disiapkannya, Ken Arok masih berdiri termangu-mangu di hadapan Panji Bojong Santi. Ketika Kebo Ijo sudah tidak tampak lagi, maka bertanyalah Panji Bojong Santi,
“Anggerkah yang bertanggung jawab atas pekerjaan besar yang sedang dilakukan di padang ini oleh prajurit-prajurit Tumapel dan orang-orang Panawijen?”
“Ya Bapa Panji.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Meskipun kau masih muda, tetapi kau sudah cukup mengagumkan.”
Dan Ken Arok kini meyakini, semuanya itu sebagian besar adalah karena latihan-latihan memusatkan pikiran yang dipelajarinya dari Lohgawe. Sebelum itu apa yang dilakukan adalah seperti seekor serigala liar di Padang Karautan, meskipun pada saat-saat yang serupa itu apa yang dilakukan telah mengherankan bagi orang banyak. Seolah-olah tubuhnya menjadi kebal dan tidak dapat disakiti oleh lawannya, seperti pada saat ia berkelahi untuk pertama kali melawan Mahisa Agni. Bagaimanapun juga ia terbanting, terdorong, dan bahkan jatuh terjerembab dan terguling-guling di tanah, tetapi ia selalu bangkit kembali dan melawan membabi-buta. Ken Arok itu tersadar ketika tiba-tiba saja ia melihat Kebo Ijo telah berdiri di hadapannya. Meskipun masih belum tegak benar namun anak muda itu sudah berteriak,
“Ayo, aku ternyata masih belum kau kalahkan. Kita akan segera mulai lagi.”
Angin malam terhembus semakin kencang. Usapan yang sejuk di tubuh Kebo Ijo telah membuatnya bertambah segar. Tetapi sekali-sekali masih terasa dadanya menjadi nyeri. Meskipun demikian sejenak kemudian ia berteriak pula, “Ayo, Ken Arok, kita mulai lagi.”
“Kau masih ingin berkelahi?” bertanya Ken Arok.
“Aku belum kau kalahkan. Hanya mautlah pertanda yang paling jelas, siapakah yang kalah, dan siapakah yang menang.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah anak muda yang berdiri terhuyung-huyung di hadapannya itu dengan dada yang berdebaran. Alangkah keras hatinya. Tetapi tiba-tiba Ken Arok itu menggelengkan kepalanya,
“Tidak Kebo Ijo. Aku kira kita sudah cukup lama berkelahi. Kalau seseorang mencari aku dan datang kemari, melihat kita berkelahi maka akibatnya kurang baik.”
“Persetan dengan alasanmu yang memuakkan itu. Kau selalu mengatakan tentang prajurit-prajurit Tumapel. Biarlah mereka belajar dari peristiwa ini. Biarlah mereka tahu, bahwa bagi prajurit Tumapel hanya ada dua pilihan dalam setiap perkelahian. Menang atau mati.”
“Sikap itu amat terpuji Kebo Ijo. Tetapi terhadap lawan, lawan bebuyutan. Tidak terhadap kawan sendiri yang hanya sekadar bermain-main. Katakanlah sedang bertaruh dengan taruhan yang sama sekali tidak berarti.”
Kata-kata itu menyentuh hati Kebo Ijo juga. Sejenak ia berdiam diri memandangi Ken Arok yang berdiri tegak seperti sebatang tugu yang kokoh. Tetapi sejenak kemudian di dalam hati Kebo Ijo itu terjadi lagi sebuah pergolakan. Kambuhlah sifat-sifatnya yang keras. Maka katanya,
“Kita pun tidak sedang bermain-main. Kita memang sedang bertaruh. Tetapi taruhan kita tidak sekadar tidak berarti seperti yang kau katakan. Taruhan kita adalah kehormatan kita. Kehormatan kita sebagai laki-laki dan sebagai seorang prajurit. Kehormatan laki-laki dan seorang prajurit sama harganya dengan nyawanya.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Disabarkannya hatinya dengan segala usaha. Meskipun terasa getaran di dalam nada suaranya, namun kata-katanya meluncur pelahan-lahan, “Kau keliru Kebo Ijo. Kau terlampau dikuasai oleh perasaan.”
“Tidak. Ayo, bersiaplah. Apakah kau takut menghadapi aku yang telah berhasil memperoleh kekuatanku kembali?”
Tetapi Kebo Ijo sendiri tidak dapat meyakini kata-katanya. Ia masih harus bersusah-payah mempertahankan keseimbangannya. Sekali-sekali masih terasa tubuhnya memberat seperti timah dan dadanya serasa disobek dengan sembilu.
Namun ia masih berteriak, “Untuk kedua kalinya aku akan menghantammu dengan Aji Bajra Pati. Kali ini kau pasti akan terbunuh.”
“Kau keras kepala,” desis Ken Arok.
“Aku seorang prajurit,” sahut Kebo Ijo, “bukan pengecut cengeng seperti kau. Kalau kau tetap berkuasa di Padang Karautan, maka seluruh prajurit Tumapel yang ada di sini pun akan menjadi pengecut cengeng seperti kau.”
Terasa dada Ken Arok bergetar. Hampir saja ia meloncat memukul mulut Kebo Ijo pasti akan terpelanting jatuh. Untunglah bahwa rasa tanggung jawabnya terhadap seluruh keadaan di Padang Karautan telah mampu mencegahnya. Meskipun demikian terdengar anak muda itu menggeram.
“Ayo Ken Arok, apa yang kau tunggu.”
Tiba-tiba jawaban Ken Arok sangat mengejutkan Kebo Ijo. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Tidak Kebo Ijo. Aku tidak akan berkelahi lagi. Apabila kita terlibat dalam perkelahian sekali lagi, maka kita akan terdorong semakin jauh ke dalam kegelapan hati. Kita akan kehilangan pengamatan diri sendiri. Maka kita tidak lagi menjadi seorang pemimpin yang baik bagi para prajurit dan orang-orang Panawijen. Aku tidak peduli, apakah alasan ini kau anggap memuakkan atau tidak, tetapi itulah pendirianku. Dan kau tidak akan dapat mengubahnya.”
“Pendirian semacam itu ada di dalam pertaruhan kita. Karena itu mari kita teruskan. Baru kau dapat mengatakan tentang pendirianmu sebagai seorang pemimpin apabiIa aku sudah terbunuh mati di sini.”
“Kita bukan lagi orang-orang liar yang berkeliaran di hutan-hutan rimba. Kita adalah orang-orang yang beradab. Dengan demikian kita harus dapat membedakan diri.”
“Omong kosong.”
“Kau pasti belum pernah mengalami hidup berkeliaran di hutan-hutan belantara, di mana tidak ada adab dan tata pergaulan. Dalam dunia yang demikian maka manusia tidak ubahnya seperti binatang hutan. Siapa yang kuat, yang bertaring tajam, ialah yang menang. Apakah kau akan membangunkan peradaban yang demikian di kalangan kita. Di kalangan prajurit Tumapel? Siapa yang paling kuat, siapakah yang paling tajam pedang dan tombaknya, ialah yang akan menguasai pimpinan. Begitu?”
“Terserah. Terserah apa yang kau katakan. Aku tidak peduli juga seperti kau tidak mempedulikan pendirianku.”
Ken Arok sekali lagi menarik nafas. Dan tiba-tiba kata-katanya semakin mengejutkan Kebo Ijo, “Adi Kebo Ijo,” suara Ken Arok datar bernada rendah. Tetapi terasa sebuah getaran yang tertahan memancar di antara kata-katanya, “Kalau kau memang berkeras hati, baiklah aku akan menyatakan kekalahan diri. Lebih baik aku menyerahkan pimpinan para prajurit di Padang Karautan ini kepadamu. Aku akan dapat mengundurkan diri dengan mengajukan permohonan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Selebihnya kau akan dapat memimpin para prajurit menurut caramu. Itu akan lebih baik daripada kita selalu bertengkar tanpa berkeputusan. Akibat dari pertengkaran itu akan menjalar kepada para prajurit. Mereka akan bertengkar pula dan berkelahi. Mereka akan berkata seperti apa yang kau katakan, ‘Prajurit hanya mengenal menang atau mati.’ Maka habislah prajurit di padang ini. Separuh dari mereka akan terbunuh dan yang separuh itu pun masih akan berkelahi lagi.”
“O,” tiba-tiba Kebo Ijo itu tertawa.
Suaranya berkumandang memenuhi padang yang kering. Berkepanjangan semakin lama semakin keras, seperti ombak di pantai memercik terhempas di batu-batu karang. Tidak putus-putusnya. Ken Arok menjadi heran mendengar suara tertawa itu. Ia tidak mengerti kenapa Kebo Ijo itu tiba-tiba tertawa. Apakah ia bergembira mendengar keputusannya, apakah ia menjadi marah?. Tetapi Ken Arok membiarkan saja anak muda itu tertawa. Di dalam hatinya ia berkata,
“Kalau ia telah tertawa, maka ia pasti akan berhenti dengan sendirinya. Kalau tidak maka ia pasti akan pingsan sendiri karenanya.”
Ternyata Kebo Ijo itu pun menjadi lelah. Suara tertawanya menurun. Namun tiba-tiba anak muda itu menuding wajah Ken Arok sambil berkata, “Kau benar-benar pengecut yang sedang berputus asa. O, bagaimana mungkin Akuwu Tunggul Ametung menunjukmu menjadi seorang pemimpin pada suatu kerja yang cukup besar ini. Kalau itu yang kau kehendaki, maka kecewalah seluruh prajurit Tumapel atasmu. Kecewa pulalah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Ken Arok, yang diserahi pimpinan atas para prajurit Tumapel di Padang Karautan, ternyata lari terbirit-birit seperti seekor kucing melihat anjing.”
Ken Arok bukanlah seorang anak muda yang mempunyai kesabaran tanpa batas. Bahkan sebenarnya Ken Arokpun terlampau banyak dipengaruhi oleh perasaannya. Justru karena perasaan tanggung jawabnya, maka ia berhasil menekan dirinya sampai batas itu. Tetapi batas itu kini telah hampir terpatahkan karena sikap Kebo Ijo yang berlebih-lebihan. Karena itulah maka terasa getar di dalam dada Ken Arok pun menjadi semakin tajam. Ken Arok hanya memerlukan sentuhan yang betapapun halusnya untuk membakar darahnya. Dan Kebo Ijo ternyata masih mencobanya dan berkata,
“Ayo, Ken Arok. Pilihlah. Berkelahi atau lari dari Padang Karautan ini.”
Gigi Ken Arok pun menyadi gemeretak. Ia sadar bahwa keadaan Kebo Ijo kini telah semakin baik. Namun kini ia sudah tidak dapat membendung kemarahannya. Dengan suara yang tertahan-tahan karena gelora di dadanya, Ken Arok menggeram,
“Baiklah Kebo Ijo. Kalau itu yang kau ingini. Aku tidak berkeberatan. Kalau kau ingin membunuh atau dibunuh, maka aku akan berkata seperti itu juga.”
Meskipun Kebo Ijo sengaja telah membakar kemarahan Ken Arok yang dianggapnya terlampau lemah dan tidak dapat bertindak keras itu, namun ia terkejut juga. Ia menganggap bahwa Ken Arok tidak akan berani berbuat lebih banyak lagi karena ia harus bertanggung jawab kepada Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kesombongan dan harga diri Kebo ijo yang berlebih-lebihan itu juga menjadi sebab, sehingga sikapnya menyadi kasar dan sombong. Kini mendengar bahwa Ken Arok pun telah bersikap. Ternyata kesabaran Ken Arok telah sampai pada batasnya sehingga ia pun kemudian lupa, bahwa apabila terjadi bencana atas dirinya atau atas diri Kebo Ijo, maka persoalannya tidak akan terhenti demikian saja. Mereka adalah prajurit-prajurit Tumapel, dan mereka mempunyai pertanggung-jawaban untuk itu.
Tetapi agaknya keduanya sudah tidak mempedulikannya lagi. Kebo Ijo yang merasa tubuhnya menjadi semakin baik karena silir angin yang segar, telah mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya. Kini ia tidak hanya akan menghadapi Ken Arok dengan tangannya untuk melontarkan Aji Bajra Pati. Tetapi tiba-tiba tangannya menarik sebuah cundrik kecil dari ikat pinggangnya. Ia berketetapan hati untuk membunuh lawannya. Cundrik itu harus diayunkan dengan tangannya yang dilambarinya kekuatan Aji Bajra Pati sehingga apabila senjata itu menyentuh lawannya, maka senyata yang kecil itu pasti akan membenam jauh ke dalam tubuh lawan itu, oleh lontaran kekuatan yang tiada taranya.
“Tak seorang pun yang dapat hidup karena serangan yang demikian,” desisnya, “kau pun akan mati juga malam ini Ken Arok.”
Dari mata Ken Arok itu seolah-olah telah memancar api kemarahaannya. Dipandanginya Kebo Ijo dengan tajamnya. Tetapi ia tidak menjawab sepatah kata pun. Keduanya kini telah berdiri berhadapan berjarak beberapa langkah saja. Masing-masing telah dikuasai oleh kemarahan yang tidak terkendali. Keduanya bahkan telah berada di dalam tataran tertinggi dari kekuatan masing-masing.
Dengan tajamnya Ken Arok memandangi tangan Kebo Ijo yang menggenggam cundrik-nya. Apabila tangan itu terayun, maka ia yakin, bahwa ayunan itu pasti dilambari Aji Bajra Pati yang kini sedang dibangunkan. Ia tidak akan dapat membenturnya seperti membentur aji itu sendiri. Tetapi kini di dalam tangan itu tergenggam sebilah cundrik kecil yang akan dapat membenam ke dalam dagingnya. Karena itu ia harus berhati-hati. Ia harus memusatkan segenap kekuatan lahir dan batin, untuk dapat melakukan perlawanan terhadap kekuatan Aji Bajra Pati. Tetapi ia harus menghindari sentuhan cundrik di tangan Kebo Ijo itu.
Dengan demikian, karena pemusatan kekuatan yang memuncak, maka keduanya tidak mendengar ketika dedaunan di samping mereka tersibak. Mereka tidak melihat sebuah bayangan yang datang mendekati mereka pelahan-lahan. Tepat pada waktunya, ketika keduanya hampir saja meloncat dan mulai lagi dengan perkelahian yang pasti akan jauh lebih dahsyat dari perkelahian yang baru saja terjadi, maka mereka terkejut karena mereka mendengar suara nafas yang berdesah di dekat mereka. Desah yang sebenarnya terlampau keras.
Ketika mereka berpaling, dalam keremangan malam, di dalam lindungan dedaunan, mereka melihat sebuah bayangan yang meremang. Dalam kegelapan rimbunnya gerumbul-gerumbul taman yang sedang mulai tumbuh, mereka tidak segera dapat mengenal bayangan itu.
Karena itu hampir bersamaan Ken Arok dan Kebo Ijo bertanya, “Siapakah kau?”
Terdengar suara terbatuk-batuk kecil. Tetapi suara itu telah menggoncangkan dada Kebo ljo. Dengan serta-merta ia bertanya sekali lagi, “Siapa?”
“Aku! Kebo Ijo.”
Jawaban itu benar-benar seperti suara petir yang meledak di dalam dadanya. Tubuhnya tiba-tiba menyadi gemetar. Dan dengan suara yang gemetar pu!a ia berkata, “Apakah guru yang berdiri di situ?”
“Ya.”
Wajah Kebo Ijo tiba-tiba berubah menjadi seputih mayat. Tetapi malam yang gelap telah menyaputnya, sehingga Ken Arok tidak dapat melihat perubahan wajah itu. Ia hanya mendengar suara Kebo Ijo gemetar. Tetapi ia tidak tahu, apakah sebabnya maka suara itu gemetar. Namun dengan demikian maka hati Ken Arok itu pun menjadi berdebar-debar. Kedatangan guru Kebo Ijo yang tanpa disangka-sangka itu telah mempengaruhi pikirannya. Ia merasakan sesuatu yang kurang wajar atas kehadiran guru Kebo Ijo itu. Mungkin guru Kebo Ijo telah lama berada di tempat itu, telah melihatnya pula ketika ia berhasil menyelamatkan diri dari kekuatan Aji Bajra Pati. Lalu apakah maksud kedatangannya itu ada hubungannya dengan kegagalan muridnya.
Kedua anak-anak muda itu kemudian berdiri tegak seperti patung. Mereka hanya dapat memandangi saja seorang tua yang berjalan mendekati mereka. Semakin lama semakin dekat.
“Hem,” mereka mendengar Panji Bojong Santi menarik napas dalam-dalam, “aku telah melihat kalian berkelahi. Sejak permulaan sampai kalian hampir-hampit menjadi gila.” Dada kedua anak-anak muda itu berdesir. Tetapi mereka masih saja berdiam diri.
“Aku berbangga atas kalian. Ternyata anak-anak muda kini memiliki kemampuan yang cukup memberi kebanggaan kepada orang-orang tua. Ketika aku seumurmu Kebo Ijo,” berkata orang tua itu seterusnya, “Aku tidak akan mampu berbuat terlampau banyak seperti apa yang telah kau lakukan. Aku sama sekali belum dipercaya oleh guruku untuk menerima Aji Bajra Pati. Tetapi ternyata anak-anak muda sekarang jauh berbeda dengan anak-anak muda pada zamanku. Kau ternyata telah mampu menguasai Aji Bajra Pati dengan baik. Dan aku pun berbangga pula karenanya.”
Hati Kebo Ijo menyadi semakin berdebar-debar. Dan Ken Arok pun hanya dapat berdiri tegak membeku. Ia tidak tahu arah pembicaraan guru Kebo Ijo. Apakah ia sedang memuji muridnya, ataukah sedang menyesalinya. Namun sejenak kemudian Ken Arok menjadi jelas melihat sikap Panji Bojong Santi, ketika orang tua itu berkata,
“Tetapi Kebo Ijo, ternyata anak-anak sekarang pun lebih banyak dikuasai nafsunya daripada pikirannya yang bening. Justru karena itu, maka keadaan sekarang ini jauh lebih membuat orang-orang tua berprihatin.” Panji Bojong Santi berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Coba pikirkanlah. Anak-anak muda sekarang ini lebih pandai, lebih cakap, dan lebih cepat mempelajari berbagai macam ilmu. Tetapi juga lebih cepat naik darah dan dikejar oleh nafsunya sendiri.”
Ketika Panji Bojong Santi berhenti berbicara, maka Padang Karautan itu menjadi sepi. Yang terdengar hanya gemersik dedaunan disentuh oleh angin yang menyapu wajah padang yang kering itu.
Baru sesaat kemudian orang tua itu menyambung kata-katanya, “Tetapi itu bukan salah anak-anak muda saja. Kami yang tua-tua pun ternyata ikut serta mendorong kalian ke dalam tindakan-tindakan yang mencemaskan. Kebo Ijo, apakah aku harus menyesal bahwa aku telah memberimu bekal sebelum kau memasuki dunia keprajuritan? Apakah aku harus menangkapmu dan berusaha memunahkan kembali Aji Bajra Pati dari tubuhmu dengan melemahkan beberapa urat nadimu untuk sementara, sehingga kau tidak mungkin lagi berbuat dan bersikap seperti yang baru saja kau lakukan?”
Tubuh Kebo Ijo itu pun menyadi gemetar. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa gurunya akan sampai juga di Padang Karautan dan menyaksikan apa yang telah dilakukannya. Kebo Ijo itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia mendengar gurunya bertanya,
“Bagaimana Kebo Ijo?”
Keringat Kebo Ijo yang sudah terperas pada saat ia berkelahi melawan Ken Arok, kini masih juga mengalir. Keringat dingin. Anak muda itu tidak berani menatap wajah gurunya yang memandangi dengan tajam.
Karena Kebo Ijo tidak segera menjawab, maka gurunya mendesaknya, “Bagaimana Kebo Ijo? Bagaimana perasaanmu setelah kau dapat memancing perkelahian?”
Kepala Kebo Ijo menjadi semakin tunduk. Tetapi mulutnya masih belum dapat mengucapkan jawaban.
“Kau berbangga?” Pelahan-lahan Kebo Ijo menggelengkan kepalanya. “Bagaimana?”
Sekali lagi Kebo Ijo menggeleng dan menjawab lambat sekali, hampir tidak terdengar, “Tidak guru.”
“Tidak apa?”
Jawabannya semakin sendat, “Tidak berbangga guru.”
“Lalu apa maksudmu kau memancing perkelahian? Supaya kau mendapat kedudukan tertinggi di dalam kerja besar ini?” Sekali lagi Kebo Ijo terdiam. “Dengarlah Kebo Ijo,” berkata Bojong Santi kemudian, “ternyata kau keliru menilai kejantanan diri. Kau menganggap bahwa apabila kau berkelahi sampai mati, itu adalah suatu sikap jantan. Membunuh atau dibunuh. Begitu bukan istilahmu untuk menyatakan dirimu sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang prajurit pilihan?”
Mulut Kebo Ijo menjadi seolah-olah tersumbat. Sedangkan Ken Arok berdiri saja seperti tonggak. Ia menjadi heran dan kemudian kagum terhadap guru Kebo Ijo. Ternyata ia mampu melihat dengan jujur apa yang telah terjadi. Orang tua itu tidak diburu oleh sikap berat sebelah menghadapi persoalannya dengan Kebo Ijo. Meskipun Kebo Ijo itu muridnya, dan ia sendiri hampir dikenal oleh orang tua itu, tetapi sikap orang tua itu benar-benar terpuji.
“Kebo Ijo,” terdengar Panji Bojong Santi itu berkata, “Kau dapat bersikap demikian apabila kau berdiri di atas kebenaran yang kau yakini. Tidak sekadar karena kesombongan, harga diri, dan pamrih duniawi yang memalukan. Nama, misalnya. Atau kedudukan. Tidak. Dalam persoalanmu, persoalan yang telah kau ikat dengan perjanjian bersama sebelum kalian mulai, maka sikap jantan adalah memenuhi perjanjian itu dengan jujur. Tetapi kau tidak. Perasaanmu telah dibakar oleh nafsu, kesombongan, dan harga diri yang berlebih-lebihan. Nah, ternyata kau kalah Kebo Ijo. Kau kalah, itu harus kau akui. Sampai mati pun kau tetap kalah. Tak ada orang yang akan mengagumi mayatmu. Sebab kau mati dalam kesombonganmu. Tidak seperti seorang prajurit yang mati di peperangan atau seorang laki-laki yang sedang membela kebenaran. Sikap jantan bagimu sekarang adalah mengakui kekalahanmu dan minta maaf atas sikapmu itu. Sombong dan tidak sopan.”
Mendengar kata-kata gurunya itu terasa darah Kebo Ijo seolah-olah berhenti mengalir. Bagaimana mungkin ia harus mengakui kesalahan dan minta maaf kepada Ken Arok. Bukankah dengan demikian Ken Arok akan menjadi besar kepala dan bersikap sekehendak hati kepadanya nanti. Ia akan dapat menghinakan dirinya di hadapan para prajurit Tumapel. Menceriterakan apa yang terjadi dan menertawakannya.
“Penghinaan yang demikian lebih parah daripada mati sama sekali,” desisnya di dalam kati.
Tetapi gurunya mendesaknya, “Cepat Kebo Ijo. Cepat mintalah maaf.” Kebo Ijo masih berdiri tegak seperti patung. Cundrik-nya masih digenggamnya erat-erat. “Apakah kau tidak mau? Apakah kau masih ingin berkelahi lagi? Kalau kau masih ingin berkelahi lagi, maka aku akan melihatnya lebih dekat lagi. Aku akan berpesan kepada lawanmu untuk berbuat lebih parah daripada membunuhmu. Kau tahu bahwa dengan melemahkan beberapa urat nadimu, maka Aji Bajra Pati akan punah untuk sementara. Dan aku akan mengajari lawanmu berbuat demikian.” Tubuh Kebo Ijo telah menyadi basah oleh keringat dinginnya seperti baru saja mandi. Nafasnya menyadi terengah-engah, melampaui pada saat ia baru berkelahi.
Ken Arok melihat betapa hati anak muda itu menjadi terlampau pedih menghadapi kenyataan itu. Perintah gurunya terasa terlampau berat untuk dilakukannya. Maka seolah terlihat olehnya wajah Kebo Ijo yang pucat, titik-titik keringatnya yang menetes dari kening, dan tubuhnya yang gemetar, maka ia menjadi beriba hati. Kemarahannya telah hanyut oleh sikap guru Kebo Ijo yang mengagumkannya. Dan ia yakin bahwa dengan sikap gurunya itu Kebo Ijo akan menjadi jera. Ia pasti tidak akan mengganggunya lagi selama tugasnya di Padang Karautan.
Karena itu maka pelahan-lahan terdengar Ken Arok itu berkata sambil membungkukkan badannya, “Aku mengagumi sikap tuan. Karena itu, maka aku kira tidak ada yang paling bersalah di antara kita. Bukan saja adi Kebo Ijo yang bersalah, tetapi aku pun telah bersalah karena aku melayaninya. Karena itu, maka aku kira adi Kebo Ijo sudah tidak perlu lagi minta maaf atas kesalahannya.”
“Hem,” Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Ken Arok dengan tajamnya. Kemudian ia mengangguk sambil berkata, “Sikapmu mengagumkan aku anak muda. Tetapi sayang, aku tidak sependapat dengan kau. Kebo Ijo harus mendapat hukuman karena sikapnya yang sombong dan keras kepala.” Kepada Kebo Ijo Panji Bojong Santi mengulanginya, “Ayo, cepat. Minta maaf kepada anak muda ini. Kau telah bersalah. Kesalahan yang demikian harus diakui. Kalau kau tidak juga mau minta maaf, maka berarti bahwa kau tidak merasa bersalah dalam hal ini. Dengan demikian maka kesalahan yang serupa akan kau ulangi lagi. Daripada hal itu terjadi, Kebo Ijo, maka lebih baik aku mencegahnya. Memunahkan untuk sementara Aji Bajra Pati sampai benar-benar jera. Sebab kekuatan itu bukanlah kekuatan yang dapat kau pakai untuk bersombong diri dan berkeras kepala.”
Wajah Kebo Ijo menjadi semakin pucat. Betapa jantungnya berdentangan, betapa hatinya dicekam oleh kesombongan dan harga diri yang berlebih-lebihan, tetapi kini ia berhadapan dengan gurunya. Bahkan gurunya telah mengancamnya untuk melemahkan kekuatan Aji Bajra Pati yang telah dimilikinya. Karena itu, maka keringat dikeningnya menjadi semakin deras mengalir dan menetes satu-satu, seolah-olah menetes dari sudut matanya.
“Aku memberimu kesempatan terakhir sekarang Kebo Ijo,” terdengar suara gurunya dalam nada yang rendah.
Kebo Ijo benar-benar tidak dapat menghindar lagi. Betapa berat dan sakit hatinya, tetapi ia akhirnya berkata pelahan-lahan, “Ya, guru. Aku bersalah. Aku minta maaf.”
“Tidak kepadaku,” sahut gurunya, “kepada anak muda yang bernama Ken Arok ini.” Wajah Kebo Ijo terasa seolah-olah menjadi semakin tebal.
Bibirnya menjadi berat seperti batu. Tetapi ia berkata juga, “Maafkan aku Ken Arok.”
Dan Ken Arok menyahut, “Aku pun minta maaf pula Kebo Ijo.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Meskipun malam ditandai oleh kegelapan, tetapi seolah-olah ia melihat jelas sekali Ken Arok tersenyum atas kemenangannya. Tetapi Kebo Ijo terkejut mendengar gurunya berkata,
“Kau tidak ikhlas Kebo Ijo. Tetapi aku tidak dapat memaksamu tiba-tiba saja menjadi seorang yang rendah hati. Tetapi hal ini hendaknya menjadi pelajaran bagimu. Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Menjaga diri dan berbuat baik supaya kau tidak terjerumus ke dalam keadaan yang dapat menyulitkan dirimu. Jangan kau sangka bahwa aku tidak mengetahui sifat-sifatmu. Aku sering mendengar kawan-kawanmu mengeluh, bahkan kakakmu Witantra pun mengeluh kepadaku, bahwa kau terlampau sombong, tinggi hati, dan merasa dirimu lebih baik, lebih cakap, dan lebih pandai dari orang lain. Sadari, sebelum kau terperosok semakin dalam.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Sebagian ia dapat mengerti kata-kata gurunya, tetapi yang sebagian lagi telah membuatnya jengkel. Meskipun demikian ia tidak berani untuk membantah atau bersikap lain daripada menundukkan kepalanya.
“Nah, sekarang kau boleh pergi Kebo Ijo. Kembalilah ke perkemahan.”
Perintah itu serasa tetesan embun yang sejuk menyiram hatinya yang membara. Segera ia membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Terima kasih guru. Aku akan segera pergi ke perkemahan.”
“Ingatlah. Aku tidak rela kau berbuat serupa itu lagi.”
Kebo Ijo mengangguk sekali lagi, “Ya, guru. Aku akan mengingatkan untuk selanjutnya.”
Ketika Kebo Ijo telah meninggalkan taman itu, maka terdengar Bojong Santi berkata, “Tinggallah di sini sebentar Ken Arok.”
Mendengar kata-kata Panji Bojong Santi itu Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Sejenak ia mengawasi langkah Kebo Ijo yang semakin lama menjadi semakin jauh.
Sekali Kebo Ijo berpaling, tetapi bayangan Ken Arok dan gurunya, Panji Bojong Santi, sudah menjadi kabur, dan sesaat lagi seolah-olah hilang ditelan kegelapan. Dan langkahnya pun menjadi tergesa-gesa menjauhi taman yang belum selesai dibuat itu. Ketika ia mendengar gurunya menyuruhnya pergi, maka ia merasa terlepas dari suatu keadaan yang seakan-akan mencekik lehernya sehingga ia tidak lagi bebas bernafas. Seolah-olah ia telah terlepas dari panggangan api yang membara di bawah kakinya.
Gurunya yang memaksanya untuk minta maaf kepada Ken Arok telah membuatnya seperti terlempar ke dalam neraka. Tetapi ia tidak dapat menolak, karena gurunya sendirilah yang menyuruhnya berbuat demikian. Seandainya orang itu bukan gurunya, bahkan Akuwu Tunggul Ametung sekalipun, maka ia akan tetap berdiam diri meskipun akibatnya nyawanya akan menyadi tebusan dari sikapnya yang keras kepala itu. Tetapi ia tidak dapat menolak terhadap gurunya.
“Hem,” ia bergumam kepada diri sendiri, “kalau saja guru tidak memaksa aku. Kalau saja guru tidak hadir di tempat itu.” Tetapi kemudian hatinya sendiri menjawab, “Kalau guru tidak ada di tempat itu aku pasti sudah mati.” Namun dibantahnya sendiri, “Lebih baik mati daripada mengalami penghinaan yang begitu berat.” Dan hatinya pun berbantah sendiri.
Tetapi di antara kemarahan, kekecewaan, dan kejengkelannya, terselip juga di dalam hatinya perasaan heran dan kagum terhadap Ken Arok. Orang itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dengan gerak dan sikap yang sederhana ia telah mampu melepaskan diri dari kehancuran akibat sentuhan Aji Bajra Pati. Kekuatan yang dahsyat yang jarang tandingnya. Namun Ken Arok dapat terlepas daripadanya.
Bukan kekuatan dan kecepatan bertempur Ken Arok sajalah yang telah membuat Kebo Ijo heran dan kagum, tetapi juga sifat-sifatnya yang aneh. Anak muda itu terlampau sabar. Bertanggung jawab atas kata-kata dan perbuatannya. Dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diserahkan kepadanya, sehingga ia bersedia untuk mengorbankan beberapa kepentingannya sendiri.
Dalam keangkuhan dan harga diri yang berlebih-lebihan, Kebo Ijo melihat sikap Ken Arok itu aneh. Tetapi memberinya beberapa pengertian baru, bahwa orang-orang yang dianggapnya remeh tidak selalu dapat diatasinya dalam beberapa persoalan. Dan ternyata Ken Arok jauh lebih baik daripadanya dalam beberapa hal. Dalam kekuatan, keteguhan, dan tata perkelahian, juga dalam sikap kepemimpinan. Itulah sebabnya Ken Arok dapat mencekam hati prajurit-prajurit Tumapel di Padang Karautan.
Dengan desah nafas yang semakin cepat Kebo Ijo itu pun berjalan semakin cepat pula menyusuri parit induk kemudian berbelok ke arah perkemahan para prajurit Tumapel. Perkemahan yang sama sekali tidak menyenangkannya, meskipun gubugnya sendiri khusus telah mendapat sebuah rak-rakan.
Di taman yang sedang disiapkannya, Ken Arok masih berdiri termangu-mangu di hadapan Panji Bojong Santi. Ketika Kebo Ijo sudah tidak tampak lagi, maka bertanyalah Panji Bojong Santi,
“Anggerkah yang bertanggung jawab atas pekerjaan besar yang sedang dilakukan di padang ini oleh prajurit-prajurit Tumapel dan orang-orang Panawijen?”
“Ya Bapa Panji.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Meskipun kau masih muda, tetapi kau sudah cukup mengagumkan.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar