MENU

Ads

Kamis, 26 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 154

“Ah, jangan memuji.”

“Tidak Ngger, aku tidak hanya sekadar memuji. Tetapi aku melihat suatu keanehan pada dirimu.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. “Aku melihat kau berkelahi dengan Kebo Ijo sejak permulaan sekali. Aku melihat kau datang, dan aku melihat pula kemudian Kebo Ijo menyusulmu.”

“Hem,” Ken Arok bergumam di dalam hatinya, “kenapa guru Kebo Ijo ini membiarkan saja perkelahian itu berlangsung, dan dibiarkannya muridnya mempergunakan Aji Bajra Pati? Apabila aku tidak berhasil menahan serangan aji itu, maka aku akan lumat di hadapannya, dan ia hanya akan dapat menyesali muridnya yang lancang itu. Namun terlambat.”

“Aku melihat kau mengalahkan Kebo Ijo, kemudian memaksa Kebo Ijo melepaskan Aji Bajra Pati.”

“Sama sekali bukan maksudku Bapa Panji.”

“Ya, ya aku tahu. Memang bukan maksudmu. Itu semata-mata karena nalar Kebo Ijo terlampau pendek.”

“Dan Bapa Panji membiarkannya melepaskan aji itu,” Ken Arok ingin mendapat penjelasan daripadanya, kenapa guru Kebo Ijo itu tidak mencegahnya.

“Oh,” Ken Arok heran ketika ia melihat Panji Bojong Santi itu tersenyum, “maafkan aku Ngger. Sebenarnya aku pun ingin mencegah perbuatan itu. Tetapi tiba-tiba aku melihat sesuatu yang membuat aku heran. Semula aku menyangka bahwa itu hanyalah penglihatanku saja. Tetapi aku menjadi yakin ketika kau memusatkan segenap kekuatanmu untuk melawan Aji Bajra Pati.”

“Apakah yang Bapa lihat?”

Panji Bojong Santi menjadi ragu-ragu. Ia ingin mengatakan apa yang dilihatnya, tetapi apabila demikian, maka hal itu akan sangat berbahaya bagi Ken Arok. Anak itu akan demikian besar kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga ia akan dapat melakukan hal-hal yang tidak terkendali. Meskipun agaknya sampai saat ini Ken Arok adalah anak muda yang baik, sabar, dan bertanggung jawab, tetapi apabila ia terlampau sadar akan kelebihannya, maka hal itu akan dapat mempengaruhi bahkan mengubah sama sekali tabiatnya itu.

Karena itu maka sejenak Panji Bojong Santi itu hanya berdiri saja termangu-mangu. Dipandanginya wajah Ken Arok yang keheran-heranan melihat keragu-raguan orang tua itu. Sejenak kemudian Panji Bojong Santi itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya pelahan-lahan,

“Kau memang mengagumkan anak muda. Aku melihat beberapa kelebihan ada padamu. Karena itulah maka aku berniat untuk melihat, apakah kau mampu melawan Aji Bajra Pati.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bergumam di dalam hati, “Sangat berbahaya. Kalau aku menjadi lumat, maka sebagian adalah kesalahannya.”

Agaknya Panji Bojong Santi dapat menangkap perasaannya itu sehingga ia berkata, “Ternyata tangkapanku atas kau tidak jauh meleset Ngger. Kau memang luar biasa. Tetapi seandainya kau mendapat bencana karena Aji Bajra Pati, maka aku sudah bersedia untuk mencoba mengobatimu. Aku membawa beberapa macam obat untuk luka-luka dalam akibat benturan dengan Aji Bajra Pati.” Ken Arok menarik nafas. Tetapi ia masih juga berdiam diri.

“Tetapi ternyata kau sama sekali tidak memerlukan obat itu. Kau hanya terdorong dan terjatuh pelahan-lahan. Sejenak kemudian kau sudah dapat menguasai dirimu. Seperti yang kau lihat maka justru Kebo Ijo sendirilah yang terlempar dan jatuh berguling di tanah. Itu adalah pertanda bahwa daya tahanmu benar-benar luar biasa, bahkan mengandung daya dorong yang tidak kau sadari. Kalau kau hanya memiliki daya tahan, maka Kebo Ijo tidak akan mengalami keadaan yang cukup berat baginya, yang cukup waktu bagimu untuk membinasakan apabila kau kehendaki.” Ken Arok sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kau mampu mengetrapkan kekuatanmu dalam sikap dan unsur-unsur gerak yang tersusun, maka kau akan menjadi seorang anak muda yang luar biasa.”

“Ah,” Ken Arok berdesah.

“Ilmumu adalah kurnia dari Yang Maha Agung. Agaknya kau tidak berguru kepada seseorang yang cukup berpengalaman untuk menuntunmu menyusun ilmu yang dahsyat Tetapi seandainya kau berguru maka gurumu itu pun kelak tak akan dapat menyamaimu.”

“Ah,” sahut Ken Arok, “itu berlebihan Bapa Panji. Tak ada kelebihan apa pun padaku. Tetapi memang aku tidak pernah berguru dalam ilmu kanuragan. Aku hanya mendapat sedikit tuntunan dari Bapa Lohgawe. Itu pun bukan soal-soal badani. Aku hanya diajarinya memusatkan pikiran, kehendak, dan getaran-getaran yang ada di dalam diriku.”

“Nah, kau berhasil,” potong Panji Bojong Santi, “itu adalah sumber dari kekuatan. Semua aji yang dinamai oleh penyusunnya dengan bermacam-macam, nama menurut kesenangan dan selera masing-masing pada dasarnya bersumber pada pemusatan pikiran, kehendak, dan getaran-getaran yang ada di dalam tubuh untuk dapat membangunkan segenap kekuatan yang pada keadaan wajar seolah-olah tersembunyi. Seseorang harus berbuat banyak untuk dapat berbuat demikian. Latihan-latihan dengan tekun. Percobaan-percobaan yang kadang-kadang sangat berbahaya bagi dirinya.



Pengenalan atas bentuk-bentuk kekuatan dan watak-wataknya, serta pengenalan atas diri sendiri. Dengan mesu diri seseorang baru akan mendapatkan apa yang dicarinya itu pada dirinya, yang kemudian dicarinya bentuk-bentuknya yang lebih umum untuk dapat diterapkan pada orang lain. Tentu saja orang-orang yang dipilihnya sesuai dengan pengamatannya atas watak dan sifat-sifatnya, yang pada umumnya disebut murid. Tetapi agaknya kau agak lain daripada keadaan yang umum itu. Agaknya kau mendapatkan kekuatan untuk itu tanpa kau sadari. Dan itu adalah kekhususan.”

Terasa dada Ken Arok berdesir. Tebersitlah perasaan bangga di dalam dirinya. Namun segera ia berkata, “Mungkin cara hidupku yang keras di masa kanak-kanak telah membentuk aku demikian.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan nada rendah ia berkata, “Mungkin, karena itu.” Tetapi apa yang tebersit di dalam hatinya tidak diucapkannya. Ia belum mengenal terlampau banyak tentang sifat-sifat anak itu. Keadaan sebelum ia berada di Padang Karautan ini bersama-sama dengan prajurit Tumapel. Karena itu, apa yang diketahuinya disimpannya saja di dalam hatinya.

Sejenak ia melihat Ken Arok mulai mengerahkan kekuatannya, ia sudah melihat keanehan pada anak itu. Mula-mula tidak terlampau jelas. Ia melihat warna semburat merah di atas kepala Ken Arok. Hanya kadang-kadang dilihatnya warna itu membersit, tetapi ketika dipandanginya semakin tajam maka warna itu pun lenyap. Tetapi ketika Kebo Ijo bersiap melepaskan Aji Bajra Pati, dan ketika Panji Bojong Santi itu telah bersiap untuk mencegahnya, maka warna merah di atas kepala Ken Arok itu menjadi semakin nyata.

Pada saat itu Ken Arok pun ternyata sedang memusatkan segenap pikiran, kehendak, dan getaran-getaran yang ada di dalam dirinya. Dan pada saat yang demikian itulah warna merah di kepalanya menjadi semakin nyata. Warna merah seakan-akan memancar dari ubun-ubun kepalanya itu. Apa yang dilihat oleh Panji Bojong Santi itu sangat mempengaruhinya. Warna merah yang pernah dilihatnya pula oleh orang-orang tua sebayanya. Empu Purwa, guru Mahisa Agni, pun pernah melihat warna itu pula. Ketika ia berkelahi melawan Kebo Sindet maka warna yang demikian itu ternyata membersit pula di atas ubun-ubunnya.

Dan justru warna merah itulah yang mencegah Panji Bojong Santi untuk mengurungkan niat muridnya mempergunakan Aji Bajra Pati. Ia ingin melihat, apakah pengaruh warna di atas kepala itu. Ternyata anak muda yang dari ubun-ubunnya seolah-olah membersit warna merah itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dengan caranya sendiri ia berhasil menahan serangan Aji Bajra Pati, bahkan mampu melemparkan orang yang melepaskan aji itu sendiri sehingga terbanting jatuh.

Ketika angin malam yang silir berembus semakin keras mengusap tubuh-tubuh yang berdiri tegak di Padang Karautan itu maka Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Ia telah memutuskan untuk tidak mengatakan kepada Ken Arok apa yang sudah dilihatnya.

“Aku tidak akan mengatakannya,” katanya di dalam hati, “Entahlah kalau ia sudah tahu dan menyadarinya. Tetapi seandainya demikian, maka aku kira kurang baik akibatnya baginya sendiri. Ia akan dapat menyadi terlampau percaya pada kekuatan sendiri. Ia masih terlampau muda. Apabila kelak perasaannya sudah mengendap, maka akan berbedalah akibatnya.”

Tetapi yang dikatakan oleh Panji Bojong Santi adalah, “Mari Ken Arok. Apakah kau akan mempersilakan aku mampir ke perkemahanmu?”

“Oh,” Ken Arok tergagap, “marilah Bapa Panji. Kalau sudi maka aku persilakan singgah sebentar di perkemahan kami.”

Panji Bojong Santi tersenyum. “Aku memang ingin melihat perkemahanmu Ngger.”

“Terima kasih Bapa. Marilah.”

Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan taman yang belum siap itu, pergi ke perkemahan. Mereka melintasi beberapa parit dan susukan induk.

“Rencana ini amat baik,” desis Panji Bojong Santi. “Parit induk yang membelah padang, kemudian parit-parit yang seperti jari-jari yang puluhan banyaknya mencekam padang di sekitar susukan ini. Siapakah yang merencanakan semua ini?”

“Mahisa Agni Bapa Panji. Tetapi kemudian aku mendapat perintah dari Akuwu untuk menampung air dari susukan induk ini dengan sebuah sendang buatan di tengah-tengah taman ini.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebuah perpaduan rencana yang pasti akan memuaskan sekali. Memuaskan bagi orang-orang Panawijen yang kehilangan tanahnya yang subur, dan memuaskan bagi Akuwu Tunggul Ametung. Bukankah Akuwu ingin menghadiahkan taman itu kelak kepada permaisurinya yang juga berasal dari Panawijen itu?”

“Ya, ternyata Bapa Panji telah mengetahuinya.”

“Aku mendengar dari orang-orang istana Ngger.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Panji Bojong Santi adalah guru Witantra dan Kebo Ijo, yang kedua-duanya adalah orang-orang dalam juga.

“Dan kali ini aku memerlukan untuk melihat sendiri, apakah yang telah kalian buat di sini. Ternyata apa yang aku lihat sangat mengagumkan. Sayang, bahwa Angger Mahisa Agni tidak dapat ikut melaksanakan rencana yang amat bagus ini.”

“Ia hanya sempat memulainya Bapa.”

“Ya, ya. Sayang sekali. Mudah-mudahan ia dapat juga melihat kelak, apabila rencana ini telah siap. Parit-parit telah mengalir dan taman ini telah dipajang dengan bunga-bunga. Sebuah rakit yang indah di tengah-tengah sendang yang sedang dipersiapkan itu dan sebuah pesanggrahan kecil di pinggirnya.”

“Ya Bapa. Apabila dinding taman itu telah siap, parit induk sudah dapat mengalirkan air dan parit yang akan menampung limpahan airnya kelak siap pula untuk mengalirkannya ke padang di bawah taman ini untuk kemudian melimpahkannya ke sawah-sawah pula dan sisanya akan dilepaskan kembali ke dalam sungai, maka barulah pesanggrahan kecil itu akan mulai dibangun.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah cukup waktu bagimu untuk menyiapkan pesanggrahan itu dalam waktu yang ditetapkan apabila kau bangun terakhir setelah semuanya siap?”

“O, kayu-kayunya telah disiapkan di Tumapel. Di sini kita tinggal memasangnya.”

Panji Bojong Santi masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Anak-anak muda di Padang Karautan ini ternyata mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar dan mengagumkan. Mahisa Agni ternyata mempunyai pandangan yang tajam buat masa-masa mendatang, dan Ken Arok adalah seorang pelaksana yang baik, yang mampu mewujudkan angan-angan di dalam kenyataan. Taman itu nanti pasti akan menjadi tempat yang sangat menyenangkan, seperti sebuah taman di dalam mimpi. Sebuah sendang buatan, sebuah pulau kecil di tengah-tengah taman, yang dibuat seperti sebuah bukit karang, tetapi dapat ditanami bunga-bungaan. Sebuah pesanggrahan kecil.

Ternyata Padang Karautan akan segera berubah menjadi sebuah tempat yang memberi kebanggaan bagi Tumapel. Sawah yang seolah-olah tanpa batas. Sebuah taman yang indah. Sebuah perpaduan antara kesuburan dan keindahan yang seimbang. Antara kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Dan kedua-duanya bersumber kepada Yang Maha Agung, Yang Maha Kasih, Yang Maka Murah. Yang menciptakan alam seisinya, dan memelihara dengan keindahan kasih-Nya tetapi yang kelak apabila datang saatnya akan menuntut pertanggungjawaban yang paling adil.

“Sayang,” tiba-tiba Panji Bojong Santi itu berdesis.

“Kenapa Bapa?” bertanya Ken Arok.

“Ada juga yang mengganggu pelaksanaan kerja yang besar ini.”

“Ya,” suara Ken Arok menjadi rendah, “hilangnya Mahisa Agni sangat mengganggu kerja ini.”

“Karena kecemasan akan hal itu pulalah aku tidak dapat melepaskan Kebo Ijo pergi hanya dengan beberapa orang pengawalnya. Aku terpaksa mendahuluinya dan mengawasinya, kalau-kalau ia bertemu dengan orang-orang yang telah mencoba menggagalkan kerja ini. Kebo Sindet misalnya.”

“Oh,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya, “jadi hal itulah yang mendorong Bapa datang ke padang ini?”

“Bukan hanya itu, tetapi aku juga harus mengawasi kelakuan Kebo Ijo yang sering membuat aku berprihatin. Seperti apa yang baru saja terjadi. Aku menyadarinya, bahwa ia bukan seorang pemimpin yang baik. Untunglah yang bertanggung jawab di sini adalah Angger Ken Arok. Aku akan dapat menitipkannya kepadamu.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa kata-kata Panji Bojong Santi itu hanya sekadar untuk menyenangkannya. Karena itu maka ia tidak menjawab.

Tetapi ternyata Panji Bojong Santi itu berkata bersungguh-sungguh, “Jarang aku menjumpai anak-anak muda seperti kau Ngger. Meskipun kau memiliki keluar biasaan, tetapi kau tetap sabar dan rendah hati. Karena itu maka aku berharap, bahwa cara hidup Kebo Ijo akan terpengaruh oleh sifat dan watakmu di sini. Mudah-mudahan ia dapat bercermin dan mengubah dirinya sendiri.”

“Ah,” Ken Arok berdesah, tetapi segera Panji Bojong Santi menyambung kata-katanya, “Aku berkata sesungguhnya Ngger. Dan aku akan berkata seperti ini juga nanti kepada Kebo Ijo. Ia adalah bawahanmu di sini. Adalah kewajiban seorang prajurit untuk tunduk dan taat kepada atasannya.” Nada suara Panji Bojong Santi pun segera merendah, “Tetapi kau sudah mempunyai cara yang sebaik-baiknya untuk menguasai anak buahmu. Tanpa kekerasan dan tekanan dengan kekuasaan. Mereka taat dan patuh kepadamu karena mereka menyadari keharusan itu dengan ikhlas. Kau adalah seorang pemimpin yang baik. Pemimpin yang mengutamakan kepentingan bawahanmu daripada kepentinganmu sendiri.”

Sekali lagi Ken Arok berdesah, “Bapa memuji aku berlebih-lebihan. Aku tidak lebih dari seorang yang bodoh. Aku berbuat sekadar memenuhi kewajibanku. Meskipun aku berusaha untuk melakukannya sebaik-baiknya.”

“Terlampau baik buat seorang anak muda seumurmu,” sahut Panji Bojong Santi.

Ken Arok tidak menyahut lagi. Ia melangkah pergi pelahan-lahan sambil memandangi bintang-bintang di atas cakrawala. Kini terasa betapa segarnya angin padang yang bertiup pelahan-lahan menyentuh tubuhnya yang kotor oleh keringat dan debu. Di sampingnya Panji Bojong Santi pun terdiam untuk sejenak. Langkah mereka gemerisik di atas rerumputan yang kekuning-kuningan. Sekali-sekali mereka melangkahi parit-parit yang menjelujur menyusuri padang yang kering. Sebentar lagi, apabila parit-parit itu sudah mengalirkan air, maka keadaan padang akan segera berubah. Tanah yang kering yang ditumbuhi oleh rerumputan dan gerumbul-gerumbul perdu yang liar itu akan segera berubah menjadi tanah persawahan yang hijau subur.

Akhirnya mereka berdua sampai di perkemahan para prajurit Tumapel. Beberapa buah gubug telah menjadi gelap. Penghuni-penghuninya sengaja memadamkan lampu-lampu minyak di dalam gubug mereka, supaya mereka dapat tidur dengan nyenyak, meskipun dengan demikian kadang-kadang mereka terganggu juga oleh nyamuk yang beterbangan di sekitar telinga mereka.

“Tolong bawa aku ke gubug Kebo Ijo, Ngger,” minta Panji Bojong Santi.

“Baiklah Bapa,” sahut Ken Arok.

Keduanya pun kemudian pergi ke gubug Kebo Ijo. Gubug kecil yang dipergunakannya seorang diri. Ketika keduanya sampai di muka pintu gubug itu, maka pelahan-lahan pintunya ditarik oleh Ken Arok sambil berkata,

“Adi, Bapa Panji ingin berkunjung ke pondokmu.”

Kebo Ijo yang sudah berbaring, segera meloncat bangkit. Dengan tergopoh-gopoh ia mempersilakan gurunya. “Marilah guru. Inilah pondokku yang kotor. Aku tidak dapat berbuat banyak, sebab aku tinggal mempergunakannya. Para prajurit yang mendahului akulah yang telah membuat gubug macam begini, lebih jelek dari sebuah kandang kambing.”

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya. Ketika selangkah ia memasuki pintu, maka ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Pelahan-lahan ia bergumam,

“Gubug ini terlampau baik buat padang yang kering ini. Ternyata persiapan kalian cukup baik. Kalian masih sempat juga membuat gubug-gubug serupa ini. Aku tidak membayangkan sebelumnya bahwa gubug-gubug di sini demikian baik. Aku kira kalian hanya memancangkan beberapa tiang-tiang bambu, kemudian memasang anyaman ilalang di atasnya. Ternyata kalian sempat membuat dinding dan membuat pondok terpisah-pisah.”

“Tidak semua Bapa,” sahut Ken Arok, “hanya beberapa buah. Yang lain adalah barak-barak kecil untuk lima sampai sepuluh orang.”

“Tetapi bukankah kau beri berdinding juga untuk menahan dingin dan debu.”

“Ya,” Ken Arok mengangguk.

“Bagus,” Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Apalagi kalian masih sempat membuat rak-rakan tempat pakaian. Ada berapa puluh rak-rakan semacam ini harus kau buat Ngger?”

Ken Arok terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Di perkemahan ini hanya ada satu paga semacam itu. Hanya khusus buat Kebo Ijo. Karena itu maka sejenak ia berdiam diri sambil memandangi wajah Kebo Ijo yang gelisah.

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya. Dilihatnya kedua anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu justru hanya karena pertanyaannya yang terlampau sederhana. Tetapi karena itu timbullah keinginannya untuk mengetahui lebih banyak mengenai pertanyaannya itu.

“Angger Ken Arok, ada berapa ratus rak-rakan di seluruh perkemahan ini? Apakah orang-orang Panawijen juga membuat paga–paga semacam itu untuk meletakkan pakaian dan alat-alatnya?”

Pelahan-lahan sekali Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Tidak Bapa.”

“Jadi hanya para prajurit Tumapel saja yang membuat paga – paga semacam itu.”

Sekali lagi Ken Arok menggeleng lemah, “Tidak Bapa.”

Kini Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Kebo Ijo yang menjadi semakin gelisah. Perlahan-lahan terdengar ia berkata, “Aku sudah menyangka. Meskipun hal ini tampaknya tidak terlampau penting, tetapi ini adalah gambaran dari segenap sifat-sifatmu Kebo Ijo. Kau selalu ingin berlebih-lebihan, melampaui yang lain.”

Kebo Ijo menggerutu di dalam hatinya. Ketika ia disuruh meninggalkan taman yang sedang disiapkan itu, ia merasa terlepas dari ketegangan semacam ini. Tetapi kini gurunya datang lagi kepadanya. Bahkan soal-soal yang sama sekali tidak penting diurusinya. Soal paga pun ditanyakannya, bahkan dijadikannya bahan untuk memarahinya.

Tetapi bagi Panji Bojong Santi ternyata bukan sekadar soal sebuah rak-rakan bambu. Yang penting baginya adalah sifat yang sombong dari muridnya itu, sehingga dilanjutkannya kata-katanya,

“Kebo Ijo. Kau harus segera menyadari rasa tinggi hati dan rasa berlebihan itu. Kalau kau masih juga suka menyombongkan dirimu, maka kau suatu ketika akan terjerumus ke dalam suatu keadaan yang tidak kau duga-duga sebelumnya. Setiap orang di Tumapel mengenalmu sebagai seorang pembual, seorang yang pameran, dan sombong. Itu harus kau hentikan. Betapa kau mencoba bersikap tenang dan pendiam di hadapanku, tetapi aku masih juga mempunyai telinga. Aku selalu mendengar apa kata orang tentang murid-muridku. Kakakmu Mahendra kini sudah menjadi agak tenang. Kau, yang sudah berkeluarga, seharusnya lebih hati-hati menjaga diri.”

Kebo Ijo mengumpat di dalam hati. Tetapi ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya guru.”

“Di sini kau mendapat seorang kawan yang baik,” berkata gurunya lebih lanjut, “Ken Arok pasti akan dapat menuntunmu. Aku memang menitipkan kau kepadanya. Aku beri Angger Ken Arok wewenang untuk memberimu petunjuk-petunjuk. Agal atau halus. Dan kau harus menerima petunjuk-petunjuknya seperti dari aku sendiri.”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Dan ia terkejut ketika gurunya berkata pula, “Memang tidak menyenangkan bagimu. Apalagi kau merasa dirimu berlebih-lebihan di sini. Kau merasa lebih tinggi dari semua orang dalam semua soal. Lebih pandai, lebih mengerti, dan lebih cakap untuk memecahkan persoalan-persoalan. Kau merasa bahwa hanya pendirianmulah yang benar.”

Kebo Ijo menggigit bibirnya. Tetapi gurunya berkata terus, “Tak ada orang yang paling pandai dan paling mengerti di muka bumi ini. Tak ada orang yang sempurna. Hanya Yang Maha Agunglah yang sempurna, Maha Sempurna. Karena itu sadarilah kekecilan dirimu.”

Kebo Ijo mengangguk sambil menjawab untuk menyenangkan hati gurunya, “Ya guru.”

“Apakah kau menjawab sesungguhnya?”

Kebo Ijo menarik alisnya. Jawabnya, “Ya guru.”

“Tidak sekadar untuk menyenangkan hatiku.”

“Ah,” Kebo Ijo berdesah. Tetapi hatinya mengumpat tidak habis-habisnya.

“Baiklah,” berkata gurunya, “mungkin kau tidak dapat mengerti sekarang. Mungkin kau jemu dan bahkan muak mendengar nasihatku. Mungkin kau mengumpat-umpat di dalam hatimu.”

Dada Kebo Ijo menjadi berdebar-debar. Apakah Panji Bojong Santi itu dapat membaca perasaannya.

“Tetapi Kebo Ijo,” berkata gurunya itu seterusnya, “kalau kau nanti sempat merenungkannya, maka aku mengharap bahwa kau akan dapat membenarkan kata-kataku.”

Tanpa sesadarnya sekali lagi Kebo Ijo mengangguk, “Ya guru.”

Panji Bojong Santi pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah bibirnya tersenyum. Katanya, “Aku tidak yakin terhadap anggukan kepalamu itu Kebo Ijo. Tetapi biarlah. Kau memerlukan waktu dan pengalaman untuk memahami kebenaran kata-kataku.” Kemudian kepada Ken Arok ia berkata, “Sudahlah Ngger. Tinggalkanlah aku di sini. Malam ini aku minta izin untuk bermalam di perkemahan ini.”

“Oh, kami akan sangat bersenang hati Bapa. Bukan saja malam ini, tetapi malam-malam berikutnya pun akan sangat memberi kegembiraan kepada kami, seperti paman Mahisa Agni pernah berada di perkemahan ini pula.”

“Paman Mahisa Agni?”

“Ya, Empu Gandring.”

“Oh,” Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku pernah juga mendengar. Bahkan kehadirannya di sini tidak dapat menyelamatkan Mahisa Agni.”

“Ya. Meskipun Empu Gandring telah berusaha sekuat-kuat tenaganya. Akulah yang terlampau bodoh waktu itu. Aku tidak dapat membantunya sama sekali. Padahal yang datang mengambil Mahisa Agni waktu itu adalah kakak-beradik dari Kemundungan dan Kuda Sempana, murid Empu Sada.”

“Ya, ya aku pernah mendengar.” Panji Bojong Santi terdiam sesaat. Wajahnya menyadi berkerut-merut. Dan pelahan-lahan ia berkata, “Karena itu Kebo Ijo, kau harus berhati-hati. Sebelum kalian datang ke taman malam ini, aku melihat dua orang berkuda melintas tidak terlampau jauh dari taman yang sedang kalian buat itu. Aku tidak begitu jelas siapakah mereka itu. Tetapi menilik cara mereka berkuda, terutama yang seorang, maka aku menduga bahwa orang itu adalah Kebo Sindet. Tetapi mereka tidak mendekati perkemahan ini. Mereka hanya melintas. Aku tidak tahu, dari manakah mereka dan untuk apa mereka berkeliaran di sekitar tempat ini.”

Wajah Kebo Ijo menjadi tegang. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Yang bertanya kemudian adalah Ken Arok. “Apakah menurut pendapat Bapa mereka hanya sekadar lewat?”

“Kali ini aku kira begitu. Entahlah kalau ada maksud maksud lain yang tidak aku ketahui.”

“Tetapi mereka tahu, di sini ada sepasukan prajurit segelar sepapan. Kami tidak akan melakukan kesalahan yang serupa, datang kepada mereka ketika kami dipancingnya.”

Panji Bojong Santi mengangguk-angguk. Tetapi Mahisa Agni itu sudah telanjur lenyap ditelan oleh iblis Kemundungan itu. Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Wajah-wajah mereka yang tenang memancarkan pergolakan di dalam dada masing-masing. Ternyata orang yang telah mengambil Mahisa Agni itu masih saja berkeliaran di sekitar bendungan ini.

“Apakah yang sebenarnya mereka kehendaki?” desis Ken Arok kemudian, “Mahisa Agni itu, atau menggagalkan rencana pembuatan bendungan ini? Kalau yang mereka kehendaki Mahisa Agni, maka mereka aku kira sudah tidak akan mengganggu pekerjaan kita di sini. Tetapi apa bila mereka mengambil Mahisa Agni sebagai suatu cara untuk menggagalkan pembuatan bendungan ini, maka kita yang di sini harus memperhitungkan kehadirannya setiap saat.”

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Menurut pendengaranku Ngger, Kebo Sindet hanya berkepentingan dengan Mahisa Agni. Itu pun hanya akan dipergunakannya sebagai alat pemerasan. Ia mengharap Tuan Puteri Ken Dedes akan menukar kakak angkatnya itu dengan apa saja yang diminta oleh Kebo Sindet.”

“Licik dan memuakkan,” geram Ken Arok.

“Bagi orang semacam Kebo Sindet maka segala jalan akan dapat ditempuh untuk mencapai maksudnya. Licik, memuakkan, bengis, dan segala macam cara.”

Ken Arok tiba-tiba menggeram. Katanya, “Kalau aku diberi wewenang maka aku akan dapat membawa pasukan untuk menangkapnya. Aku tidak akan kembali tanpa membawanya hidup atau mati. Untuk meyakinkan usaha itu, maka aku akan dapat memohon bantuan kepada Empu Gandring kepada Bapa Panji Bojong Santi dan kepada para perwira yang tangguh. Mereka pasti tidak akan berkeberatan. Dan Kebo Sindet itu pasti akan dapat aku tangkap.”

“Hal itu dapat kau lakukan pada saat-saat tidak seperti sekarang Ngger,” sahut Panji Bojong Santi, “Sekarang Angger Mahisa Agni sudah telanjur berada di sarang mereka. Itu terlampau berbahaya bagi jiwanya.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar