“Itulah sebabnya Bapa,” desis Ken Arok, “Empu Gandring pun berkata demikian. Kini sedang dilakukan usaha untuk melepaskannya dengan cara yang lain. Cara yang tidak aku mengerti dan tidak seorang pun yang mengerti. Sehingga perkembangan usaha itu pun sama sekali tidak dimengerti oleh siapa pun. Entahlah apabila Empu Gandring telah mendapat beberapa keterangan tentang itu.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi persoalan itu bukan persoalan yang terlalu mudah untuk dipecahkan seperti akan menangkap Kebo Sindet itu sendiri. Di mana pun ia bersembunyi, namun mencari dan menangkapnya pasti akan lebih mudah daripada melepaskan Mahisa Agni dari tangan hantu Kemundungan itu sendiri.
“Sudahlah Ngger. Pikirkanlah hal itu sebaik-baiknya. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Tetapi kini yang terbentang di hadapan kaki Angger adalah bendungan, susukan induk, parit-parit, dan sendang buatan itu. Kalau Angger melaksanakan rencana ini dengan baik, maka apa yang Angger kerjakan itu pasti akan menyenangkan hati Angger Mahisa Agni, Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh rakyat Tumapel. Berkembangnya Padang Karautan menjadi daerah yang reja, akan berpengaruh pula atas kebesaran Tumapel seluruhnya.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar akan kewajibannya. Kalau Akuwu Tunggul Ametung benar-benar ingin menangkap Kebo Sindet maka hal itu dapat diserahkan kepada orang lain tanpa menghentikan kerja di Padang Karautan. Mungkin Witantra sendiri atau Sidatta atau perwira-perwira yang lain. Ken Arok kemudian mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Panji Bojong Santi itu berkata,
“Nah, beristirahatlah Ngger. Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Angger perlu tidur meskipun hanya sejenak supaya tubuh Angger besok menjadi segar kembali.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja terasa badannya penat dan kantuk. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah Bapa, aku minta diri. Mungkin aku masih dapat tidur beberapa saat.”
“Silakanlah.”
Ketika Ken Arok kemudian sampai di muka pintu, ia berpaling sambil berkata, “Beristirahatlah pula adi Kebo Ijo. Aku kira kau lebih lelah daripada aku karena perjalananmu hari ini. Besok kau akan melihat cara kami bekerja untuk yang pertama kali.”
“Ya,” jawab Kebo Ijo singkat. Terlalu singkat.
Ken Arok menarik alisnya, bahkan Panji Bojong Santi terpaksa berpaling ke arahnya. Tetapi Kebo Ijo telah memalingkan wajahnya pula memandangi rak-rakan tempat ia meletakkan sebungkus pakaian.
“Selamat malam Bapa,” desis Ken Arok pelahan sambil meninggalkan gubug itu.
Dan ia mendengar orang tua itu menyahut pelahan-lahan pula, “Selamat tidur Ngger.”
Tetapi Ken Arok mengerutkan dahinya ketika ia memandangi cakrawala di ujung timur. Ia melihat cahaya di langit yang sudah mulai semburat merah. “Ah, hampir fajar,” desisnya, “apakah aku masih dapat tidur?”
Ketika Ken Arok sampai ke tempat terbuka di sisi perkemahan ia menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sebagian dari orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel bergelimpangan tidur terbujur lintang. Agaknya mereka menjadi penat dan kantuk, sehingga mereka tidak sempat untuk kembali ke gubug masing-masing.
“Ternyata besok kita masih belum dapat bekerja sepenuh tenaga. Orang-orang ini pasti masih lelah dan kantuk. Agaknya mereka pun belum lama tertidur,” gumam Ken Arok kepada diri sendiri. Ia masih melihat perapian yang membara. Bahkan ia masih melihat bumbung-bumbung tempat minum masih terisi dan makanan di mangkuk-mangkuk masih berserakan.
Akhirnya Ken Arok itu pun memasuki gubugnya sendiri. Dibaringkannya tubuhnya tanpa membuka dan berganti pakaian. Pakaian yang basah oleh keringat dan kotor karena tanah dan debu. Namun karena lelah, maka ia pun akhirnya tertidur juga. Tetapi Ken Arok ternyata tidak terlalu lama lelap dalam tidurnya. Dipengaruhi oleh kebiasaannya maka ia pun segera terbangun ketika fajar di timur telah memancarkan sinarnya yang merah, seolah-olah langit di cakrawala itu sedang terbakar. Namun waktu yang pendek itu ternyata telah dapat menyegarkan tubuhnya.
Sambil menguap Ken Arok menggeliat. Sebenarnya ia masih ingin tidur lebih lama lagi. Tetapi tanggung jawabnya telah memaksanya bangkit dan berjalan keluar dari gubugnya. Ketika ia menyuruk pintu, dan kemudian berada di luar, maka perkemahan itu masih terlampau sepi. Meskipun padang itu sudah menjadi semakin terang oleh cahaya pagi yang turun pelahan-lahan, namun Ken Arok belum melihat seorang pun.
“Hem, mereka masih nyenyak dalam tidurnya,” desisnya.
Pelahan-lahan ia melangkah ke sudut gubugnya. Diambilnya air sesiwur untuk mencuci mukanya, menghilangkan sisa-sisa kantuknya. Kemudian diambilnya air sesiwur pula. Tetapi kali ini diminumnya. Terasa tenggorokannya menjadi jernih dan bening. Banyu wayu selalu dipakainya untuk mencuci tenggorokkannya, sehingga hal itu menjadi kebiasaan baginya.
Ken Arok itu pun kemudian berjalan menyusur gubug demi gubug. Sebagian gubug-gubug itu masih kosong. Ternyata orang-orangnya tertidur di tempat mereka bersenang-senang semalam. Tetapi ada pula di antaranya yang sudah berada di dalam gubugnya namun mereka masih nyenyak membenamkan dirinya di bawah kain panjangnya. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Hari ini seharusnya mereka telah mulai lagi dengan kerja mereka. Tetapi Ken Arok serasa tidak sampai hati untuk membangunkan mereka, dan memaksa mereka untuk bekerja.
Meskipun demikian Ken Arok tidak akan dapat membiarkannya. Untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan mendatang, maka ia harus menepati peraturan yang sudah dibuatnya, supaya tidak menjadi kebiasaan, bahwa para prajurit dan orang-orang Panawijen itu bekerja seenaknya. Apabila mereka ingin sajalah, mereka bekerja tanpa perencanaan waktu yang baik.
“Aku terpaksa membangunkan mereka,” desisnya.
Ketika Padang Karautan itu menjadi semakin terang, maka Ken Arok melihat seseorang keluar dari gubugnya. Ketika dilihatnya Ken Arok telah berada di sampingnya, ia terkejut. Terbata-bata ia berkata,
“Aku kerinan. Semalam aku bangun hampir semalam suntuk.”
Tetapi Ken Arok tersenyum dan berkata, “Ternyata kau bangun paling pagi. Kau adalah orang yang paling rajin hari ini. Nah, pergilah ke sudut perkemahan itu. Bunyikanlah kentongan supaya kawan-kawanmu terbangun.”
Orang-orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia bangun paling pagi. “Hari ini aku adalah orang yang paling rajin,” katanya di dalam hatinya. Dan ia berbangga karenanya.
Dengan tergesa-gesa orang itu memaksa dirinya yang masih terkantuk-kantuk berjalan ke sudut perkemahan untuk membunyikan kentongan. Sekali ia menguap, namun kemudian diayunkannya tangannya memukul kentongan itu. Sekejap kemudian bergemalah suara kentongan itu ke seluruh perkemahan, bahkan seolah-olah udara Padang Karautan itu telah digetarkan oleh suaranya.
Ternyata suara kentongan itu telah mengejutkan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Mereka yang masih tidur dengan nyenyaknya segera berloncatan berdiri. Sebagian dari mereka yang tertidur di tepi perapian di luar gubug-gubug mereka segera berlari-larian ke gubug masing-masing untuk menyiapkan diri, mengambil peralatan-peralatan kecil, dan membenahi pakaian mereka. Tetapi ada pula yang menggeliat dengan malasnya sambil bergumam,
“Ah, serasa baru saja mataku terpejam.”
Ternyata Kebo Ijo pun terkejut mendengar suara kentongan itu. Ia pun belum lama dapat tertidur. Ketika ia bangkit maka segera ia mengumpat, “Setan mana yang berani mengejutkan aku itu? Seharusnya ia tidak mempergunakan kentongan yang memekakkan telinga itu.”
Tetapi ia terdiam ketika kemudian dilihatnya gurunya telah duduk bersila di sudut perkemahannya. Agaknya gurunya telah lama terbangun. Bahkan mungkin tidak tidur sama sekali. Panji Bojong Santi telah merapihkan pakaiannya. Rambutnya telah dibenahinya dengan baik.
“Bukan suara kentongan itu yang salah Kebo Ijo,” berkata gurunya, “tetapi kaulah yang terlambat bangun.”
“Ya guru,” sahut Kebo Ijo.
“Kentongan itu mungkin suatu tanda, bahwa para prajurit harus sudah siap untuk berangkat. Begitu barangkali? Aku tidak tahu isyarat-isyarat yang dipergunakan di sini.”
Kebo Ijo menggeleng, “Aku pun belum tahu guru. Kami belum pernah membicarakan masalah tengara yang dapat kita pergunakan di padang ini. Itu adalah pokal Ken Arok sendiri.”
“Mungkin kebiasaan itu berlaku sejak kau belum datang kemari, sehingga sampai saat ini masih dipergunakannya.”
“Tetapi sejak kehadiranku, maka aku pun harus tahu setiap persoalan dan persetujuan di sini. Semuanya harus dibicarakan dengan aku.”
“Kenapa?”
“Aku termasuk seorang pimpinan di antara dua. Aku dan Ken Arok.”
Tiba-tiba Panji Bojong Santi menggeleng, “Tidak. Jangan kau sangka aku tidak tahu Kebo Ijo. Coba, apakah perintah yang diberikan oleh Akuwu kepadamu?” Kebo Ijo terdiam. “Menurut kakakmu Witantra, kau dikirim untuk membantu Ken Arok di sini, karena menurut rencana Ken Arok, waktu bekerja akan diperpanjang, sehingga ia memerlukan seorang pembantu untuk melaksanakan kerja ini. Pembantu. Seorang pembantu yang dapat memimpin pekerjaan ini apabila ia beristirahat. Itu saja. Jangan merasa dirimu terlampau berkuasa. Kalau Ken Arok seorang pemimpin yang baik, ia pasti akan membawamu berbincang. Kalau tidak, itu adalah haknya untuk membuat keputusan.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Ia tidak mau berbantah dengan gurunya, meskipun ia tidak sependapat, di dalam hatinya ia bergumam, “Tidak. Aku bukan sekadar seorang pembantu yang harus tunduk pada perintah. Aku adalah seorang pemimpin sepasukan prajurit yang diperbantukan kepada Ken Arok. Di antara keduanya ada perbedaan.” Tetapi Kebo Ijo tidak mengucapkannya. Bahkan ia mendengar gurunya berkata,
“Cepatlah Kebo Ijo, kau harus ada di antara prajurit-prajurit yang sedang bekerja itu di harimu yang pertama. Kau harus menunjukkan bahwa kau bersungguh-sungguh.”
Kebo Ijo mengerutkan dahinya. Tetapi ia menyawab, “Baik guru.”
Kebo Ijo itu pun segera meninggalkan gubugnya. Di sepanjang langkahnya ia menggerutu, “Ah, aku masih juga dianggapnya seorang anak kecil. Aku sudah cukup dewasa. Sudah berkeluarga pula. Seharusnya guru bersikap lain terhadapku. Tidak seperti seorang anak yang sedang dituntun belajar berjalan.”
Tetapi ia terdiam ketika ia melihat bahwa para prajurit dan orang-orang Panawijen telah berkumpul dan siap untuk berangkat. Ketika ia sampai di tempat itu, ia mendengar Ken Arok berkata,
“Ternyata kalian hari ini terlambat bangun.”
“Setan,” geram Kebo Ijo, “apakah ia menyindir aku.”
Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata seterusnya, “Juru masak pun terlambat pula bangun, sehingga saat ini mereka masih belum dapat menyediakan makan pagi kalian. Tetapi tidak apa. Setelah kalian beristirahat maka agaknya kalian masih belum siap benar menghadapi kerja hari ini. Selanjutnya, kalian harus segera berangkat. Makan pagi kalian akan diantar ke tempat pekerjaan kalian masing-masing. Yang belum sempat mandi atau mencuci muka, tidak ada waktu lagi untuk melakukannya. Kalian harus segera berada di tempat kerja kalian masing-masing.”
Ken Arok berhenti sejenak. Ketika kemudian dilihatnya Kebo Ijo, ia berkata, “Prajurit-prajurit yang datang kemudian, bekerja pula seperti dahulu. Kita masih harus membicarakan pembagian waktu sebaik-baiknya sebelum dilakukan perpanjangan waktu bekerja. Sekarang, berangkatlah ke tempat masing-masing. Para prajurit yang baru aku tempatkan di sendang dan taman. Orang-orang yang lama, yang aku serahi memimpin bagian-bagian dari kerja itu, akan menunjukkan kepada kalian, apa saja yang dapat kalian lakukan di hari pertama ini.”
Kebo Ijo yang berdiri di sisi para prajurit dan orang-orang Panawijen itu mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu yang menggetarkan perasaannya. Ternyata Ken Arok cukup disuyuti oleh orang-orangnya. Meskipun pimpinan yang masih muda itu tidak bersikap keras dan kasar, tetapi Kebo Ijo melihat betapa wajah para prajurit Tumapel yang berdiri dengan alat-alat mereka di tangan itu merasa takut dan menyesal atas keterlambatan mereka. Sehingga ketika Ken Arok telah memerintahkan kepada mereka untuk berangkat, maka mereka pun segera menghambur ke tempat kerja masing-masing seperti sedang dikejar hantu.
Yang tinggal di perkemahan, kecuali para juru masak dan orang-orang yang memang bertugas menjaga perkemahan, adalah Ken Arok dan Kebo Ijo. Betapa Kebo Ijo mengagumi sikap kepemimpinan Ken Arok, namun kemudian ia pun mendekatinya dan masih juga mencelanya.
“Ken Arok, kau tidak dapat menangkap gelagat orang-orangmu. Mereka masih terlampau letih. Sekarang kau paksa mereka untuk bekerja.”
Sesaat Ken Arok memandangi wajah Kebo Ijo dengan penuh keheranan. Tetapi kemudian ia menyawab, “Kau memang aneh adi Kebo Ijo. Aku kira kau akan menyalahkan aku, kenapa aku tidak marah-marah dan membentak-bentak karena orang-orang itu terlambat bangun, atau akan menyuruh aku memukul satu-dua di antara mereka untuk memberi sedikit pelajaran, agar hal-hal yang serupa tidak terulang.”
Dada Kebo Ijo berdesir mendengar jawaban itu. Sejenak ia terdiam. Ia merasa sebuah sindiran yang tajam terhadapnya. Dan tiba-tiba ia menyadari pertentangan dalam sikapnya sendiri. Suatu ketika ia ingin menegakkan ketaatan para prajurit Tumapel, bahkan apabila perlu dengan kekerasan, tetapi tiba-tiba ia bersikap terlampau kendor menghadapi keadaan.
Dan ia mendengar Ken Arok meneruskan, “Meskipun aku tidak mempergunakan kekerasan, tetapi aku pun ingin setiap peraturan yang telah aku buat, dilakukan dengan baik oleh para prajurit. Lihat, meskipun aku tidak memberikan perintah apa pun terhadap orang-orang Panawijen, karena mereka memang berada di luar kesatuan prajurit Tumapel, sehingga terhadap mereka harus dilakukan sikap yang lain, namun mereka pun terpengaruh pula oleh sikap para prajurit. Ketika para prajurit berhamburan ke pekerjaan masing-masing, maka orang-orang Panawijen pun berlari-larian pula ke bendungan. Meskipun mereka lelah dan kantuk, tetapi mereka harus berangkat ke tempat kerja mereka. Jangan menjadi kebiasaan untuk menyimpang dari keharusan, kecuali dalam hal-hal yang sangat khusus”.
Kebo Ijo tidak menyahut. Wajahnya menjadi panas, seolah-olah ia dihadapkan pada cermin yang membayangkan cacat sendiri. Betapa ia mencari alasan untuk mempertahankan kata-katanya, tetapi ia terpaksa untuk diam diri beberapa lama.
Bahkan yang berbicara kemudian adalah Ken Arok, “Nah, sekarang marilah. Kita pun pergi ke tempat kerja itu. Mungkin di hari pertama kau ingin melihat-lihat setiap pekerjaan yang kita lakukan di sini. Kita akan pergi ke bendungan, kemudian menyusur parit induk pergi ke tanah yang akan dipergunakan sebagai tanah persawahan, sehingga akhirnya kita akan sampai ke taman yang sedang dikerjakan itu. Dengan demikian kau akan mendapat gambaran, bagaimana kerja ini dilakukan.” Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata.
“Marilah. Kita akan melihat apa saja yang telah kita lakukan dan apa yang masih harus kita perbuat.”
Akhirnya Kebo Ijo itu menyawab, “Marilah.” Tetapi ia menjadi heran ketika ia melihat Ken Arok melangkahkan kakinya, sehingga terloncat pertanyaannya, “Apakah kita akan berjalan kaki saja?”
Kini Ken Aroklah yang menjadi keheran-heranan mendengar pertanyaan itu. Sambil menghentikan langkahnya, dipandanginya wajah Kebo Ijo. Sejenak kemudian terdengarlah ia bertanya,
“Lalu, apakah kita harus naik pedati?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah menjadi kebiasaanmu berbuat demikian? Berjalan ke bendungan, menyusur susukan induk sampai ke sendang yang sedang kau buat itu? Itu hanya akan membuang waktu dan tenaga.”
“Bagaimanakah sebaiknya?” bertanya Ken Arok.
“Bukankah kau dapat naik kuda?”
Ken Arok menarik nafas panjang. Sambil menggelengkan kepalanya pelahan-lahan ia berkata, “Tidak. Kalau kita naik kuda, kita hanya seperti orang yang sedang lewat saja. Kita tidak dapat menyaksikan dari dekat, apa yang telah kita kerjakan.”
“O, kau berpikir seperti kanak-kanak. Kau sangka kita akan berkuda tanpa berhenti? Tanpa aku terangkan, seharusnya kau sudah tahu. Di tempat-tempat tertentu kita berhenti dan melihat kerja para prajurit. Kemudian kita tinggalkan mereka pergi ke tempat yang lain. Dengan demikian kita tidak kehilangan waktu di sepanjang jalan, dan kita tidak terlalu letih karenanya. Sebab kerja ini tidak hanya satu-dua hari saja.”
Tetapi sekali lagi Ken Arok menggeleng, “Aku di sini adalah sebagian dari mereka. Sebagian dari para pekerja. Aku harus ada di antara mereka. Aku harus melihat setiap jengkal tanah yang sedang dikerjakan. Kalau aku berkuda, maka aku akan memisahkan diri dari mereka. Dan aku adalah seorang pemimpin yang menarik garis pemisah dengan orang-orangku sendiri.”
“Ah, alasanmu selalu itu-itu saja.”
“Kau melihat hasilnya. Apakah aku harus marah-marah dan membentak-bentak setiap kali? Tidak, dan orang-orangku cukup menaati perintahku. Mereka menyadari apa yang mereka lakukan. Bukan sekadar karena terpaksa. Kerja di Padang Karautan ini tidak seluruhnya sama seperti di medan perang. Dan kita, yang diserahi pimpinan harus dapat menyesuaikan diri, di mana medan yang sedang kita hadapi. Bendungan, susukan, dan sendang itu bukanlah musuh yang harus dihadapi dengan kekerasan, tetapi harus dilakukan dengan hati gembira, menyenangi kerja yang sedang dilakukan. Dengan demikian maka hasilnya pun akan memancarkan kegembiraan pula. Kelak, setiap prajurit yang lewat di samping bendungan dan taman ini akan berkata sambil berbangga, ‘Aku ikut membuat bendungan dan taman ini.’ Dan mereka tidak melakukan sebaliknya, mengeluh sambil mengutuk, ‘Terkutuklah bendungan dan taman ini, yang telah memeras keringatku sampai kering.’”
Jawaban Ken Arok itu ternyata telah menyentuh perasaan Kebo Ijo. Tetapi karena sifat-sifatnya yang tinggi hati dan sombong maka ia tidak segera mengakui kebenaran kata-kata Ken Arok itu. Bahkan ia masih membantah,
“Tetapi untuk itu kau tidak perlu terlampau merendahkan dirimu.”
“Hanya orang-orang yang merasa dirinya terlampau berharga yang berpendirian demikian. Tetapi perasaan tinggi hati yang berlebih-lebihan itu sama sekali tidak akan bermanfaat dalam kerja ini. Kerja yang besar dan akan bermanfaat bagi banyak orang.” Kebo Ijo terdiam sejenak. Ia tidak segera menemukan jawaban yang tepat. Tetapi ia telah mendengar Ken Arok itu berkata, “Marilah, jangan terlampau lama menunggu. Orang-orang itu sudah mulai dengan kerja mereka, dan kita hanya berbicara saja di sini. Di Padang Karautan ini, berbicara berkepanjangan tidak akan berguna sama sekali.”
Seleret warna merah menyambar wajah Kebo Ijo. Tetapi sebelum ia menjawab, didengarnya suara yang telah dikenalnya baik-baik. “Aku ikut Ngger. Apakah Angger tidak berkeberatan?” Ken Arok dan Kebo Ijo berpaling. Di sudut sebuah gubug berdiri guru Kebo Ijo itu.
“Tentu,” sahut Ken Arok, “kami akan senang sekali mengantarkan Bapa Panji melihat kerja kami.”
“Marilah.” Panji Bojong Santi tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia melangkah mendekati Ken Arok. Kemudian katanya pula, “Marilah kita berangkat, mumpung belum terlampau siang.”
“Marilah,” sahut Ken Arok. Keduanya segera berjalan ke arah bendungan yang sedang dikerjakan. Seperti berjanji mereka sama sekali tidak mengacuhkan Kebo Ijo lagi.
Kebo Ijo kini tidak dapat berbuat lain. Gurunya dan Ken Arok telah berjalan mendahuluinya. Sehingga ia pun terpaksa melangkahkan kakinya sambil mengumpat-umpat di dalam hatinya. Namun ia pun berjalan di samping Ken Arok dan gurunya itu pula. Sejenak mereka saling berdiam diri. Langkah mereka seolah-olah menjadi terlampau tergesa-gesa. Sekali-dua kali mereka meloncati parit, gundukan-gundukan tanah, dan timbunan rangka-rangka brunjung bambu yang masih belum terisi batu.
Sebelum mereka sampai di bendungan, mereka telah melihat orang-orang yang sedang bekerja menyelesaikan beberapa buah bendungan-bendungan kecil pada susukan induk untuk membagi air ke parit-parit. Kemudian mereka melihat orang-orang yang sedang memperdalam beberapa bagian dari jari-jari parit yang mencekam tanah yang telah disiapkan untuk menjadi daerah persawahan.
Beberapa buah pedati berjalan tertatih-tatih membawa beberapa macam peralatan, dan beberapa orang sibuk mengemudikan bajak untuk melunakkan tanah. Beberapa pasang lembu berjalan menarik pedati dan bajak, yang dari kejauhan tampak seperti sebuah permainan yang mengasyikkan. Bulu-bulunya yang putih tampak berkilat-kilat ditimpa oleh cahaya matahari pagi. Sekali-sekali terdengar cambuk melengking memecah hiruk-pikuk orang-orang yang sedang mengisi brunjung-brunjung dengan pecahan batu dan mendorongnya turun ke sungai.
Ketika mereka sampai ke bendungan, maka mereka pun berhenti. Panji Bojong Santi memandangi orang-orang yang sedang bekerja itu dengan penuh kekaguman. Hampir tak seorang pun yang sempat berbicara di antara mereka. Kerja. Memang di dalam kerja seperti ini tidak ada waktu untuk terlampau banyak berbicara. Pembicaraan yang berkepanjangan hanya akan menggangu saja.
Kebo Ijo pun ternyata berdiri tegak dengan penuh kekaguman. Ia tidak dapat membayangkan sebelumnya, bagaimanakah bentuk dari kerja yang dilakukan oleh Ken Arok di Padang Karautan. Ternyata bahwa kerja yang dihadapinya benar-benar suatu kerja raksasa. Bukan hanya sekadar bermain-main seperti orang-orang yang sedang memperbaiki parit yang sering dilihatnya di tepi jalan-jalan Tumapel. Orang yang lebih banyak duduk, atau berjongkok atau bercakap-cakap daripada kerja.
Tetapi di sini sama sekali tidak terbayang sejumput pun kemalasan dan keseganan dari para pekerja. Apakah mereka itu orang Panawijen atau prajurit-prajurit dari Tumapel, sudah tidak dapat dibedakan lagi di dalam kerja itu. Mereka bersama-sama melakukan pekerjaan mereka, yang sudah terbagi di dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok. Kemudian beberapa kelompok kecil merupakan suatu kesatuan yang lebih besar di bawah pimpinan seseorang. Dengan demikian maka kerja yang tampaknya ribut itu ternyata tidak saling bersimpang-siur. Masing-masing melakukan kerjanya sendiri-sendiri dengan tertib dan teratur.
“Gila,” Kebo Ijo mengumpat di dalam hatinya, “ternyata Ken Arok mampu menguasai orang-orang itu dengan caranya. Tampaknya mereka bekerja dengan penuh kesungguhan, tetapi wajah-wajah mereka tampaknya jernih dan gembira. Adalah suatu keahlian tersendiri untuk memimpin orang-orang yang sekian banyaknya dengan cara yang demikian.”
Dan yang terdengar adalah suara Panji Bojong Santi, “Aku sama sekali tidak melihat prajurit-prajurit yang sedang bekerja sebagai seorang prajurit dengan kepatuhan yang mati. Tetapi aku melihat sesuatu yang hidup dan menyala di dalam kepatuhan mereka melakukan kerja ini. Mereka sudah menganggap kerja mereka ini sebagai suatu pengabdian, seperti mereka sedang berperang mengusir musuh dari tanah tumpah darah. Namun kali ini mereka tidak dicekam oleh ketegangan karena bergulat melawan maut. Tetapi wajah-wajah mereka menjadi cerah dalam terik matahari seperti mereka sedang bertamasya.”
Ken Arok tersenyum mendengar pujian itu. Katanya, “Bapa selalu memuji kami di padang yang kering ini.”
“Aku melihat kerja yang sebenarnya, Ngger. Di sinilah aku melihat orang bekerja. Tidak saja di bangsal-bangsal istana atau di banjar-banjar padukuhan. Bukan hanya mereka yang berbicara dan berbincang untuk melahirkan perintah-perintah bagi rakyat Tumapel. Tetapi di sinilah aku melihat kerja yang sebenarnya. Kerja yang langsung bermanfaat tidak saja bagi orang-orang Panawijen.”
“Mudah-mudahan kami berhasil di sini Bapa.”
“Tentu. Kalian akan berhasil. Kecuali apabila ada hal-hal yang tidak disangka-sangka. Hilangnya Angger Mahisa Agni adalah salah satu hambatan dari kerja raksasa ini. Seandainya masih ada, maka Angger akan mendapat kawan kerja yang luar biasa.”
“Bukan saja kawan kerja Bapa,” sahut Ken Arok, “tetapi ia adalah seorang yang mempunyai otak cemerlang. Aku sekarang tinggal melaksanakan saja rencana yang telah dibuatnya, kecuali sendang dan taman itu.”
“Huh,” tiba-tiba Kebo Ijo memotong, “kau mempunyai tanggapan yang berlebih-lebihan atas Mahisa Agni. Ia adalah seorang anak muda padesan biasa saja. Ia tidak lebih dari anak-anak padesan yang lain.”
“Tetapi bendungan itu adalah perwujudan dari rencananya,” sahut Ken Arok.
“Ia hanya merencanakan sebuah bendungan, tidak lebih. Prajurit-prajurit Tumapel lah yang meneruskan rencana itu dan kemudian melaksanakannya dengan baik, yang barangkali tidak pernah diimpikan oleh Mahisa Agni sendiri.”
“Hem,” terdengar Panji Bojong Santi berdesah. Dan tiba-tiba saja Kebo Ijo menyadari bahwa ia berada di samping gurunya, sehingga ia pun kemudian terdiam.
Yang berbicara kemudian adalah Ken Arok, “Kesalahan yang serupa tidak boleh terulang Bapa. Kegagalan-kegagalan yang akan sangat menghambat kerja ini harus dihindari sejauh mungkin.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tak habis-habisnya ia mengagumi kerja yang besar itu. Dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Kebo Ijo. Kau harus mencoba menyesuaikan dirimu dengan kerja ini. Kerja ini bukanlah sekadar permainan yang dilakukan kapan saja kau mengingini. Tetapi kerja ini adalah kerja yang terus-menerus. Kerja ini berhenti apabila benar-benar telah rampung.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi persoalan itu bukan persoalan yang terlalu mudah untuk dipecahkan seperti akan menangkap Kebo Sindet itu sendiri. Di mana pun ia bersembunyi, namun mencari dan menangkapnya pasti akan lebih mudah daripada melepaskan Mahisa Agni dari tangan hantu Kemundungan itu sendiri.
“Sudahlah Ngger. Pikirkanlah hal itu sebaik-baiknya. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Tetapi kini yang terbentang di hadapan kaki Angger adalah bendungan, susukan induk, parit-parit, dan sendang buatan itu. Kalau Angger melaksanakan rencana ini dengan baik, maka apa yang Angger kerjakan itu pasti akan menyenangkan hati Angger Mahisa Agni, Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, orang-orang Panawijen, dan bahkan seluruh rakyat Tumapel. Berkembangnya Padang Karautan menjadi daerah yang reja, akan berpengaruh pula atas kebesaran Tumapel seluruhnya.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar akan kewajibannya. Kalau Akuwu Tunggul Ametung benar-benar ingin menangkap Kebo Sindet maka hal itu dapat diserahkan kepada orang lain tanpa menghentikan kerja di Padang Karautan. Mungkin Witantra sendiri atau Sidatta atau perwira-perwira yang lain. Ken Arok kemudian mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Panji Bojong Santi itu berkata,
“Nah, beristirahatlah Ngger. Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Angger perlu tidur meskipun hanya sejenak supaya tubuh Angger besok menjadi segar kembali.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja terasa badannya penat dan kantuk. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah Bapa, aku minta diri. Mungkin aku masih dapat tidur beberapa saat.”
“Silakanlah.”
Ketika Ken Arok kemudian sampai di muka pintu, ia berpaling sambil berkata, “Beristirahatlah pula adi Kebo Ijo. Aku kira kau lebih lelah daripada aku karena perjalananmu hari ini. Besok kau akan melihat cara kami bekerja untuk yang pertama kali.”
“Ya,” jawab Kebo Ijo singkat. Terlalu singkat.
Ken Arok menarik alisnya, bahkan Panji Bojong Santi terpaksa berpaling ke arahnya. Tetapi Kebo Ijo telah memalingkan wajahnya pula memandangi rak-rakan tempat ia meletakkan sebungkus pakaian.
“Selamat malam Bapa,” desis Ken Arok pelahan sambil meninggalkan gubug itu.
Dan ia mendengar orang tua itu menyahut pelahan-lahan pula, “Selamat tidur Ngger.”
Tetapi Ken Arok mengerutkan dahinya ketika ia memandangi cakrawala di ujung timur. Ia melihat cahaya di langit yang sudah mulai semburat merah. “Ah, hampir fajar,” desisnya, “apakah aku masih dapat tidur?”
Ketika Ken Arok sampai ke tempat terbuka di sisi perkemahan ia menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sebagian dari orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel bergelimpangan tidur terbujur lintang. Agaknya mereka menjadi penat dan kantuk, sehingga mereka tidak sempat untuk kembali ke gubug masing-masing.
“Ternyata besok kita masih belum dapat bekerja sepenuh tenaga. Orang-orang ini pasti masih lelah dan kantuk. Agaknya mereka pun belum lama tertidur,” gumam Ken Arok kepada diri sendiri. Ia masih melihat perapian yang membara. Bahkan ia masih melihat bumbung-bumbung tempat minum masih terisi dan makanan di mangkuk-mangkuk masih berserakan.
Akhirnya Ken Arok itu pun memasuki gubugnya sendiri. Dibaringkannya tubuhnya tanpa membuka dan berganti pakaian. Pakaian yang basah oleh keringat dan kotor karena tanah dan debu. Namun karena lelah, maka ia pun akhirnya tertidur juga. Tetapi Ken Arok ternyata tidak terlalu lama lelap dalam tidurnya. Dipengaruhi oleh kebiasaannya maka ia pun segera terbangun ketika fajar di timur telah memancarkan sinarnya yang merah, seolah-olah langit di cakrawala itu sedang terbakar. Namun waktu yang pendek itu ternyata telah dapat menyegarkan tubuhnya.
Sambil menguap Ken Arok menggeliat. Sebenarnya ia masih ingin tidur lebih lama lagi. Tetapi tanggung jawabnya telah memaksanya bangkit dan berjalan keluar dari gubugnya. Ketika ia menyuruk pintu, dan kemudian berada di luar, maka perkemahan itu masih terlampau sepi. Meskipun padang itu sudah menjadi semakin terang oleh cahaya pagi yang turun pelahan-lahan, namun Ken Arok belum melihat seorang pun.
“Hem, mereka masih nyenyak dalam tidurnya,” desisnya.
Pelahan-lahan ia melangkah ke sudut gubugnya. Diambilnya air sesiwur untuk mencuci mukanya, menghilangkan sisa-sisa kantuknya. Kemudian diambilnya air sesiwur pula. Tetapi kali ini diminumnya. Terasa tenggorokannya menjadi jernih dan bening. Banyu wayu selalu dipakainya untuk mencuci tenggorokkannya, sehingga hal itu menjadi kebiasaan baginya.
Ken Arok itu pun kemudian berjalan menyusur gubug demi gubug. Sebagian gubug-gubug itu masih kosong. Ternyata orang-orangnya tertidur di tempat mereka bersenang-senang semalam. Tetapi ada pula di antaranya yang sudah berada di dalam gubugnya namun mereka masih nyenyak membenamkan dirinya di bawah kain panjangnya. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Hari ini seharusnya mereka telah mulai lagi dengan kerja mereka. Tetapi Ken Arok serasa tidak sampai hati untuk membangunkan mereka, dan memaksa mereka untuk bekerja.
Meskipun demikian Ken Arok tidak akan dapat membiarkannya. Untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan mendatang, maka ia harus menepati peraturan yang sudah dibuatnya, supaya tidak menjadi kebiasaan, bahwa para prajurit dan orang-orang Panawijen itu bekerja seenaknya. Apabila mereka ingin sajalah, mereka bekerja tanpa perencanaan waktu yang baik.
“Aku terpaksa membangunkan mereka,” desisnya.
Ketika Padang Karautan itu menjadi semakin terang, maka Ken Arok melihat seseorang keluar dari gubugnya. Ketika dilihatnya Ken Arok telah berada di sampingnya, ia terkejut. Terbata-bata ia berkata,
“Aku kerinan. Semalam aku bangun hampir semalam suntuk.”
Tetapi Ken Arok tersenyum dan berkata, “Ternyata kau bangun paling pagi. Kau adalah orang yang paling rajin hari ini. Nah, pergilah ke sudut perkemahan itu. Bunyikanlah kentongan supaya kawan-kawanmu terbangun.”
Orang-orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia bangun paling pagi. “Hari ini aku adalah orang yang paling rajin,” katanya di dalam hatinya. Dan ia berbangga karenanya.
Dengan tergesa-gesa orang itu memaksa dirinya yang masih terkantuk-kantuk berjalan ke sudut perkemahan untuk membunyikan kentongan. Sekali ia menguap, namun kemudian diayunkannya tangannya memukul kentongan itu. Sekejap kemudian bergemalah suara kentongan itu ke seluruh perkemahan, bahkan seolah-olah udara Padang Karautan itu telah digetarkan oleh suaranya.
Ternyata suara kentongan itu telah mengejutkan para prajurit dan orang-orang Panawijen. Mereka yang masih tidur dengan nyenyaknya segera berloncatan berdiri. Sebagian dari mereka yang tertidur di tepi perapian di luar gubug-gubug mereka segera berlari-larian ke gubug masing-masing untuk menyiapkan diri, mengambil peralatan-peralatan kecil, dan membenahi pakaian mereka. Tetapi ada pula yang menggeliat dengan malasnya sambil bergumam,
“Ah, serasa baru saja mataku terpejam.”
Ternyata Kebo Ijo pun terkejut mendengar suara kentongan itu. Ia pun belum lama dapat tertidur. Ketika ia bangkit maka segera ia mengumpat, “Setan mana yang berani mengejutkan aku itu? Seharusnya ia tidak mempergunakan kentongan yang memekakkan telinga itu.”
Tetapi ia terdiam ketika kemudian dilihatnya gurunya telah duduk bersila di sudut perkemahannya. Agaknya gurunya telah lama terbangun. Bahkan mungkin tidak tidur sama sekali. Panji Bojong Santi telah merapihkan pakaiannya. Rambutnya telah dibenahinya dengan baik.
“Bukan suara kentongan itu yang salah Kebo Ijo,” berkata gurunya, “tetapi kaulah yang terlambat bangun.”
“Ya guru,” sahut Kebo Ijo.
“Kentongan itu mungkin suatu tanda, bahwa para prajurit harus sudah siap untuk berangkat. Begitu barangkali? Aku tidak tahu isyarat-isyarat yang dipergunakan di sini.”
Kebo Ijo menggeleng, “Aku pun belum tahu guru. Kami belum pernah membicarakan masalah tengara yang dapat kita pergunakan di padang ini. Itu adalah pokal Ken Arok sendiri.”
“Mungkin kebiasaan itu berlaku sejak kau belum datang kemari, sehingga sampai saat ini masih dipergunakannya.”
“Tetapi sejak kehadiranku, maka aku pun harus tahu setiap persoalan dan persetujuan di sini. Semuanya harus dibicarakan dengan aku.”
“Kenapa?”
“Aku termasuk seorang pimpinan di antara dua. Aku dan Ken Arok.”
Tiba-tiba Panji Bojong Santi menggeleng, “Tidak. Jangan kau sangka aku tidak tahu Kebo Ijo. Coba, apakah perintah yang diberikan oleh Akuwu kepadamu?” Kebo Ijo terdiam. “Menurut kakakmu Witantra, kau dikirim untuk membantu Ken Arok di sini, karena menurut rencana Ken Arok, waktu bekerja akan diperpanjang, sehingga ia memerlukan seorang pembantu untuk melaksanakan kerja ini. Pembantu. Seorang pembantu yang dapat memimpin pekerjaan ini apabila ia beristirahat. Itu saja. Jangan merasa dirimu terlampau berkuasa. Kalau Ken Arok seorang pemimpin yang baik, ia pasti akan membawamu berbincang. Kalau tidak, itu adalah haknya untuk membuat keputusan.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Ia tidak mau berbantah dengan gurunya, meskipun ia tidak sependapat, di dalam hatinya ia bergumam, “Tidak. Aku bukan sekadar seorang pembantu yang harus tunduk pada perintah. Aku adalah seorang pemimpin sepasukan prajurit yang diperbantukan kepada Ken Arok. Di antara keduanya ada perbedaan.” Tetapi Kebo Ijo tidak mengucapkannya. Bahkan ia mendengar gurunya berkata,
“Cepatlah Kebo Ijo, kau harus ada di antara prajurit-prajurit yang sedang bekerja itu di harimu yang pertama. Kau harus menunjukkan bahwa kau bersungguh-sungguh.”
Kebo Ijo mengerutkan dahinya. Tetapi ia menyawab, “Baik guru.”
Kebo Ijo itu pun segera meninggalkan gubugnya. Di sepanjang langkahnya ia menggerutu, “Ah, aku masih juga dianggapnya seorang anak kecil. Aku sudah cukup dewasa. Sudah berkeluarga pula. Seharusnya guru bersikap lain terhadapku. Tidak seperti seorang anak yang sedang dituntun belajar berjalan.”
Tetapi ia terdiam ketika ia melihat bahwa para prajurit dan orang-orang Panawijen telah berkumpul dan siap untuk berangkat. Ketika ia sampai di tempat itu, ia mendengar Ken Arok berkata,
“Ternyata kalian hari ini terlambat bangun.”
“Setan,” geram Kebo Ijo, “apakah ia menyindir aku.”
Tetapi ia mendengar Ken Arok berkata seterusnya, “Juru masak pun terlambat pula bangun, sehingga saat ini mereka masih belum dapat menyediakan makan pagi kalian. Tetapi tidak apa. Setelah kalian beristirahat maka agaknya kalian masih belum siap benar menghadapi kerja hari ini. Selanjutnya, kalian harus segera berangkat. Makan pagi kalian akan diantar ke tempat pekerjaan kalian masing-masing. Yang belum sempat mandi atau mencuci muka, tidak ada waktu lagi untuk melakukannya. Kalian harus segera berada di tempat kerja kalian masing-masing.”
Ken Arok berhenti sejenak. Ketika kemudian dilihatnya Kebo Ijo, ia berkata, “Prajurit-prajurit yang datang kemudian, bekerja pula seperti dahulu. Kita masih harus membicarakan pembagian waktu sebaik-baiknya sebelum dilakukan perpanjangan waktu bekerja. Sekarang, berangkatlah ke tempat masing-masing. Para prajurit yang baru aku tempatkan di sendang dan taman. Orang-orang yang lama, yang aku serahi memimpin bagian-bagian dari kerja itu, akan menunjukkan kepada kalian, apa saja yang dapat kalian lakukan di hari pertama ini.”
Kebo Ijo yang berdiri di sisi para prajurit dan orang-orang Panawijen itu mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu yang menggetarkan perasaannya. Ternyata Ken Arok cukup disuyuti oleh orang-orangnya. Meskipun pimpinan yang masih muda itu tidak bersikap keras dan kasar, tetapi Kebo Ijo melihat betapa wajah para prajurit Tumapel yang berdiri dengan alat-alat mereka di tangan itu merasa takut dan menyesal atas keterlambatan mereka. Sehingga ketika Ken Arok telah memerintahkan kepada mereka untuk berangkat, maka mereka pun segera menghambur ke tempat kerja masing-masing seperti sedang dikejar hantu.
Yang tinggal di perkemahan, kecuali para juru masak dan orang-orang yang memang bertugas menjaga perkemahan, adalah Ken Arok dan Kebo Ijo. Betapa Kebo Ijo mengagumi sikap kepemimpinan Ken Arok, namun kemudian ia pun mendekatinya dan masih juga mencelanya.
“Ken Arok, kau tidak dapat menangkap gelagat orang-orangmu. Mereka masih terlampau letih. Sekarang kau paksa mereka untuk bekerja.”
Sesaat Ken Arok memandangi wajah Kebo Ijo dengan penuh keheranan. Tetapi kemudian ia menyawab, “Kau memang aneh adi Kebo Ijo. Aku kira kau akan menyalahkan aku, kenapa aku tidak marah-marah dan membentak-bentak karena orang-orang itu terlambat bangun, atau akan menyuruh aku memukul satu-dua di antara mereka untuk memberi sedikit pelajaran, agar hal-hal yang serupa tidak terulang.”
Dada Kebo Ijo berdesir mendengar jawaban itu. Sejenak ia terdiam. Ia merasa sebuah sindiran yang tajam terhadapnya. Dan tiba-tiba ia menyadari pertentangan dalam sikapnya sendiri. Suatu ketika ia ingin menegakkan ketaatan para prajurit Tumapel, bahkan apabila perlu dengan kekerasan, tetapi tiba-tiba ia bersikap terlampau kendor menghadapi keadaan.
Dan ia mendengar Ken Arok meneruskan, “Meskipun aku tidak mempergunakan kekerasan, tetapi aku pun ingin setiap peraturan yang telah aku buat, dilakukan dengan baik oleh para prajurit. Lihat, meskipun aku tidak memberikan perintah apa pun terhadap orang-orang Panawijen, karena mereka memang berada di luar kesatuan prajurit Tumapel, sehingga terhadap mereka harus dilakukan sikap yang lain, namun mereka pun terpengaruh pula oleh sikap para prajurit. Ketika para prajurit berhamburan ke pekerjaan masing-masing, maka orang-orang Panawijen pun berlari-larian pula ke bendungan. Meskipun mereka lelah dan kantuk, tetapi mereka harus berangkat ke tempat kerja mereka. Jangan menjadi kebiasaan untuk menyimpang dari keharusan, kecuali dalam hal-hal yang sangat khusus”.
Kebo Ijo tidak menyahut. Wajahnya menjadi panas, seolah-olah ia dihadapkan pada cermin yang membayangkan cacat sendiri. Betapa ia mencari alasan untuk mempertahankan kata-katanya, tetapi ia terpaksa untuk diam diri beberapa lama.
Bahkan yang berbicara kemudian adalah Ken Arok, “Nah, sekarang marilah. Kita pun pergi ke tempat kerja itu. Mungkin di hari pertama kau ingin melihat-lihat setiap pekerjaan yang kita lakukan di sini. Kita akan pergi ke bendungan, kemudian menyusur parit induk pergi ke tanah yang akan dipergunakan sebagai tanah persawahan, sehingga akhirnya kita akan sampai ke taman yang sedang dikerjakan itu. Dengan demikian kau akan mendapat gambaran, bagaimana kerja ini dilakukan.” Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata.
“Marilah. Kita akan melihat apa saja yang telah kita lakukan dan apa yang masih harus kita perbuat.”
Akhirnya Kebo Ijo itu menyawab, “Marilah.” Tetapi ia menjadi heran ketika ia melihat Ken Arok melangkahkan kakinya, sehingga terloncat pertanyaannya, “Apakah kita akan berjalan kaki saja?”
Kini Ken Aroklah yang menjadi keheran-heranan mendengar pertanyaan itu. Sambil menghentikan langkahnya, dipandanginya wajah Kebo Ijo. Sejenak kemudian terdengarlah ia bertanya,
“Lalu, apakah kita harus naik pedati?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah menjadi kebiasaanmu berbuat demikian? Berjalan ke bendungan, menyusur susukan induk sampai ke sendang yang sedang kau buat itu? Itu hanya akan membuang waktu dan tenaga.”
“Bagaimanakah sebaiknya?” bertanya Ken Arok.
“Bukankah kau dapat naik kuda?”
Ken Arok menarik nafas panjang. Sambil menggelengkan kepalanya pelahan-lahan ia berkata, “Tidak. Kalau kita naik kuda, kita hanya seperti orang yang sedang lewat saja. Kita tidak dapat menyaksikan dari dekat, apa yang telah kita kerjakan.”
“O, kau berpikir seperti kanak-kanak. Kau sangka kita akan berkuda tanpa berhenti? Tanpa aku terangkan, seharusnya kau sudah tahu. Di tempat-tempat tertentu kita berhenti dan melihat kerja para prajurit. Kemudian kita tinggalkan mereka pergi ke tempat yang lain. Dengan demikian kita tidak kehilangan waktu di sepanjang jalan, dan kita tidak terlalu letih karenanya. Sebab kerja ini tidak hanya satu-dua hari saja.”
Tetapi sekali lagi Ken Arok menggeleng, “Aku di sini adalah sebagian dari mereka. Sebagian dari para pekerja. Aku harus ada di antara mereka. Aku harus melihat setiap jengkal tanah yang sedang dikerjakan. Kalau aku berkuda, maka aku akan memisahkan diri dari mereka. Dan aku adalah seorang pemimpin yang menarik garis pemisah dengan orang-orangku sendiri.”
“Ah, alasanmu selalu itu-itu saja.”
“Kau melihat hasilnya. Apakah aku harus marah-marah dan membentak-bentak setiap kali? Tidak, dan orang-orangku cukup menaati perintahku. Mereka menyadari apa yang mereka lakukan. Bukan sekadar karena terpaksa. Kerja di Padang Karautan ini tidak seluruhnya sama seperti di medan perang. Dan kita, yang diserahi pimpinan harus dapat menyesuaikan diri, di mana medan yang sedang kita hadapi. Bendungan, susukan, dan sendang itu bukanlah musuh yang harus dihadapi dengan kekerasan, tetapi harus dilakukan dengan hati gembira, menyenangi kerja yang sedang dilakukan. Dengan demikian maka hasilnya pun akan memancarkan kegembiraan pula. Kelak, setiap prajurit yang lewat di samping bendungan dan taman ini akan berkata sambil berbangga, ‘Aku ikut membuat bendungan dan taman ini.’ Dan mereka tidak melakukan sebaliknya, mengeluh sambil mengutuk, ‘Terkutuklah bendungan dan taman ini, yang telah memeras keringatku sampai kering.’”
Jawaban Ken Arok itu ternyata telah menyentuh perasaan Kebo Ijo. Tetapi karena sifat-sifatnya yang tinggi hati dan sombong maka ia tidak segera mengakui kebenaran kata-kata Ken Arok itu. Bahkan ia masih membantah,
“Tetapi untuk itu kau tidak perlu terlampau merendahkan dirimu.”
“Hanya orang-orang yang merasa dirinya terlampau berharga yang berpendirian demikian. Tetapi perasaan tinggi hati yang berlebih-lebihan itu sama sekali tidak akan bermanfaat dalam kerja ini. Kerja yang besar dan akan bermanfaat bagi banyak orang.” Kebo Ijo terdiam sejenak. Ia tidak segera menemukan jawaban yang tepat. Tetapi ia telah mendengar Ken Arok itu berkata, “Marilah, jangan terlampau lama menunggu. Orang-orang itu sudah mulai dengan kerja mereka, dan kita hanya berbicara saja di sini. Di Padang Karautan ini, berbicara berkepanjangan tidak akan berguna sama sekali.”
Seleret warna merah menyambar wajah Kebo Ijo. Tetapi sebelum ia menjawab, didengarnya suara yang telah dikenalnya baik-baik. “Aku ikut Ngger. Apakah Angger tidak berkeberatan?” Ken Arok dan Kebo Ijo berpaling. Di sudut sebuah gubug berdiri guru Kebo Ijo itu.
“Tentu,” sahut Ken Arok, “kami akan senang sekali mengantarkan Bapa Panji melihat kerja kami.”
“Marilah.” Panji Bojong Santi tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia melangkah mendekati Ken Arok. Kemudian katanya pula, “Marilah kita berangkat, mumpung belum terlampau siang.”
“Marilah,” sahut Ken Arok. Keduanya segera berjalan ke arah bendungan yang sedang dikerjakan. Seperti berjanji mereka sama sekali tidak mengacuhkan Kebo Ijo lagi.
Kebo Ijo kini tidak dapat berbuat lain. Gurunya dan Ken Arok telah berjalan mendahuluinya. Sehingga ia pun terpaksa melangkahkan kakinya sambil mengumpat-umpat di dalam hatinya. Namun ia pun berjalan di samping Ken Arok dan gurunya itu pula. Sejenak mereka saling berdiam diri. Langkah mereka seolah-olah menjadi terlampau tergesa-gesa. Sekali-dua kali mereka meloncati parit, gundukan-gundukan tanah, dan timbunan rangka-rangka brunjung bambu yang masih belum terisi batu.
Sebelum mereka sampai di bendungan, mereka telah melihat orang-orang yang sedang bekerja menyelesaikan beberapa buah bendungan-bendungan kecil pada susukan induk untuk membagi air ke parit-parit. Kemudian mereka melihat orang-orang yang sedang memperdalam beberapa bagian dari jari-jari parit yang mencekam tanah yang telah disiapkan untuk menjadi daerah persawahan.
Beberapa buah pedati berjalan tertatih-tatih membawa beberapa macam peralatan, dan beberapa orang sibuk mengemudikan bajak untuk melunakkan tanah. Beberapa pasang lembu berjalan menarik pedati dan bajak, yang dari kejauhan tampak seperti sebuah permainan yang mengasyikkan. Bulu-bulunya yang putih tampak berkilat-kilat ditimpa oleh cahaya matahari pagi. Sekali-sekali terdengar cambuk melengking memecah hiruk-pikuk orang-orang yang sedang mengisi brunjung-brunjung dengan pecahan batu dan mendorongnya turun ke sungai.
Ketika mereka sampai ke bendungan, maka mereka pun berhenti. Panji Bojong Santi memandangi orang-orang yang sedang bekerja itu dengan penuh kekaguman. Hampir tak seorang pun yang sempat berbicara di antara mereka. Kerja. Memang di dalam kerja seperti ini tidak ada waktu untuk terlampau banyak berbicara. Pembicaraan yang berkepanjangan hanya akan menggangu saja.
Kebo Ijo pun ternyata berdiri tegak dengan penuh kekaguman. Ia tidak dapat membayangkan sebelumnya, bagaimanakah bentuk dari kerja yang dilakukan oleh Ken Arok di Padang Karautan. Ternyata bahwa kerja yang dihadapinya benar-benar suatu kerja raksasa. Bukan hanya sekadar bermain-main seperti orang-orang yang sedang memperbaiki parit yang sering dilihatnya di tepi jalan-jalan Tumapel. Orang yang lebih banyak duduk, atau berjongkok atau bercakap-cakap daripada kerja.
Tetapi di sini sama sekali tidak terbayang sejumput pun kemalasan dan keseganan dari para pekerja. Apakah mereka itu orang Panawijen atau prajurit-prajurit dari Tumapel, sudah tidak dapat dibedakan lagi di dalam kerja itu. Mereka bersama-sama melakukan pekerjaan mereka, yang sudah terbagi di dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok. Kemudian beberapa kelompok kecil merupakan suatu kesatuan yang lebih besar di bawah pimpinan seseorang. Dengan demikian maka kerja yang tampaknya ribut itu ternyata tidak saling bersimpang-siur. Masing-masing melakukan kerjanya sendiri-sendiri dengan tertib dan teratur.
“Gila,” Kebo Ijo mengumpat di dalam hatinya, “ternyata Ken Arok mampu menguasai orang-orang itu dengan caranya. Tampaknya mereka bekerja dengan penuh kesungguhan, tetapi wajah-wajah mereka tampaknya jernih dan gembira. Adalah suatu keahlian tersendiri untuk memimpin orang-orang yang sekian banyaknya dengan cara yang demikian.”
Dan yang terdengar adalah suara Panji Bojong Santi, “Aku sama sekali tidak melihat prajurit-prajurit yang sedang bekerja sebagai seorang prajurit dengan kepatuhan yang mati. Tetapi aku melihat sesuatu yang hidup dan menyala di dalam kepatuhan mereka melakukan kerja ini. Mereka sudah menganggap kerja mereka ini sebagai suatu pengabdian, seperti mereka sedang berperang mengusir musuh dari tanah tumpah darah. Namun kali ini mereka tidak dicekam oleh ketegangan karena bergulat melawan maut. Tetapi wajah-wajah mereka menjadi cerah dalam terik matahari seperti mereka sedang bertamasya.”
Ken Arok tersenyum mendengar pujian itu. Katanya, “Bapa selalu memuji kami di padang yang kering ini.”
“Aku melihat kerja yang sebenarnya, Ngger. Di sinilah aku melihat orang bekerja. Tidak saja di bangsal-bangsal istana atau di banjar-banjar padukuhan. Bukan hanya mereka yang berbicara dan berbincang untuk melahirkan perintah-perintah bagi rakyat Tumapel. Tetapi di sinilah aku melihat kerja yang sebenarnya. Kerja yang langsung bermanfaat tidak saja bagi orang-orang Panawijen.”
“Mudah-mudahan kami berhasil di sini Bapa.”
“Tentu. Kalian akan berhasil. Kecuali apabila ada hal-hal yang tidak disangka-sangka. Hilangnya Angger Mahisa Agni adalah salah satu hambatan dari kerja raksasa ini. Seandainya masih ada, maka Angger akan mendapat kawan kerja yang luar biasa.”
“Bukan saja kawan kerja Bapa,” sahut Ken Arok, “tetapi ia adalah seorang yang mempunyai otak cemerlang. Aku sekarang tinggal melaksanakan saja rencana yang telah dibuatnya, kecuali sendang dan taman itu.”
“Huh,” tiba-tiba Kebo Ijo memotong, “kau mempunyai tanggapan yang berlebih-lebihan atas Mahisa Agni. Ia adalah seorang anak muda padesan biasa saja. Ia tidak lebih dari anak-anak padesan yang lain.”
“Tetapi bendungan itu adalah perwujudan dari rencananya,” sahut Ken Arok.
“Ia hanya merencanakan sebuah bendungan, tidak lebih. Prajurit-prajurit Tumapel lah yang meneruskan rencana itu dan kemudian melaksanakannya dengan baik, yang barangkali tidak pernah diimpikan oleh Mahisa Agni sendiri.”
“Hem,” terdengar Panji Bojong Santi berdesah. Dan tiba-tiba saja Kebo Ijo menyadari bahwa ia berada di samping gurunya, sehingga ia pun kemudian terdiam.
Yang berbicara kemudian adalah Ken Arok, “Kesalahan yang serupa tidak boleh terulang Bapa. Kegagalan-kegagalan yang akan sangat menghambat kerja ini harus dihindari sejauh mungkin.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tak habis-habisnya ia mengagumi kerja yang besar itu. Dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Kebo Ijo. Kau harus mencoba menyesuaikan dirimu dengan kerja ini. Kerja ini bukanlah sekadar permainan yang dilakukan kapan saja kau mengingini. Tetapi kerja ini adalah kerja yang terus-menerus. Kerja ini berhenti apabila benar-benar telah rampung.”
koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Hartono
Cek ulang : Ki Arema
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Hartono
Cek ulang : Ki Arema
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar