PdLS-32
“KEBO IJO mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengangguk sambil menjawab, “Ya guru.”
Sementara itu matahari di langit merambat semakin tinggi. Awan yang putih selembar- selembar mengalir ke Utara didorong oleh angin padang yang kering. Ketika Ken Arok menengadahkan wajahnya, maka segera keningnya berkerut. Dilihatnya di sudut langit segumpal awan yang kehitaman-hitaman. Jauh dan semakin menjauh. Tetapi ia bergumam di dalam hatinya.
“Langit telah memberi peringatan. Kita harus semakin cepat bekerja sebelum musim basah tiba. Yang penting adalah, bendungan ini harus siap lebih dahulu. Yang lain-lain dapat dilakukan meskipun dimusim basah.”
Anak muda itu berpaling ketika ia mendengar Panji Bojong Santi berkata, “Nah, akan kau bawa kemana lagi kami ngger?”
“Kita akan berjalan menyusur susukan ini Bapa. Setiap kali kita akan menjumpai orang-orang yang sedang bekerja menurut tugas masing-masing. Aku ingin menunjukkan kepada Adi Kebo Ijo, keseluruhan dari tugas kita di Padang Karautan ini.”
“Marilah, aku juga ingin melihatnya. Aku pasti akan menjadi semakin kagum karenanya.” sahut Panji Bojong Santi.
Ketiganya pun kemudian meninggalkan bendungan. Mereka berjalan menyusur susukan induk. Ternyata susukan itu pun masih juga dikerjakan. Dibeberapa bagian masih perlu diperdalam, dan di tempat-tempat tertentu telah dibangunkan bendungan-bendungan kecil untuk mengangkat air dari susukan induk itu ke parit-parit.
“Bukan main.” desis Panji Bojong Santi.
“Bagaimana bapa?” bertanya Ken Arok.
“Pekerjaan ini hampir tidak ada celanya. Semua bagian yang paling kecil pun tidak terlepas dari perhitungan.”
“Ya.” sahut Ken Arok, “agaknya Mahisa Agni benar-benar menguasai persoalan yang sedang direncanakan.”
“Ah.” Kebo Ijo tiba-tiba berdesah, sehingga gurunya dan Ken Arok bersama-sama berpaling kepadanya. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Wajahnya menjadi semakin suram ketika ia mendengar Ken Arok meneruskan kata-katanya. “Mahisa Agni telah membuat patok-patok di Padang ini, dan kita sekarang tinggal meneruskannya.”
Panji Bojong Santi mengangguk-angguk, sementara kaki-kaki mereka melangkah terus di atas tanah berdebu. Sedang mata hari melambung semakin tinggi di langit, dan sinarnya pun kini telah mulai menggatalkan kulit. Kebo Ijo sekali-sekali mengusap peluh yang telah membasahi keningnya. Dengan malasnya ditariknya kakinya di atas Padang yang kering itu. Tidak habis-habisnya ia mengumpat di dalam hati,
“Bodoh benar Ken Arok ini. Apakah bedanya apabila kita berkuda sekarang ini?”
Tetapi ia masih harus melangkahkan kakinya terus. Tersuruk-suruk ke dalam debu yang sudah mulai hangat. Apalagi ketika diangkatnya kepalanya, memandangi Padang yang kering itu. Matanya seakan-akan menjadi silau. Di kejauhan, dilihatnya segerumbul warna hijau. Itu adalah pepohonan yang dipelihara di taman dan di sekeliling sendang buatan, yang setiap hari masih harus disiram dengan air yang diambil dari sungai. Berpuluh-puluh lodong bambu yang diisi air diangkut dengan pedati-pedati setiap sore, sampai pada saatnya susukan induk itu kelak mengalirkan air yang naik dari bendungan dan mengalir ke sendang buatan, setelah di sepanjang jalannya, beberapa kali harus melampaui bendungan-bendungan kecil untuk menaikkan air ke parit-parit.
Setiap kali ketiga orang yang melihat-lihat kerja raksasa itu berhenti, setiap kali Ken Arok memberi beberapa penjelasan kepada Kebo Ijo tentang pekerjaan itu. Meskipun semula Kebo Ijo itu acuh tak acuh saja mendengar keterangan Ken Arok, tetapi lama kelamaan, keterangan-keterangan itu menarik perhatiannya juga. Kekagumannya menjadi semakin besar atas kerja raksasa itu meskipun ada sesuatu yang seolah-olah menahannya untuk mengakui betapa cakapnya Mahisa Agni menyusun perencanaan itu, meskipun di sana-sini telah banyak mendapat penyempurnaan dari Ken Arok dan nasehat-nasehat dari pamannya Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen.
Demikianlah, maka sehari itu Ken Arok memperkenalkan kerja raksasa yang harus dihadapnya kepada Kebo Ijo. Bendungan yang akan mengaliri sawah dan memberi lapangan hidup yang baru bagi orang-orang Panawijen, dan sebuah taman dan sendang buatan yang indah, yang akan dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada permaisurinya, seorang gadis dari Panawijen. Sehingga dengan demikian Kebo Ijo segera mendapat gambaran, betapa besarnya kerja di Padang Karautan. Kerja yang tidak dibayangkannya semula.
Dalam pada itu, dua orang sedang berkuda perlahan-lahan menyusur sebuah hutan yang tidak terlampau lebat, masuk ke daerah yang berawa-rawa. Mereka adalah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Dalam perjalanan kembali ke persembunyian mereka, mereka tidak terlampau banyak berbicara. Ketika mereka telah berada di bibir rawa-rawa itu, maka mereka pun berhenti. Dengan ketajaman matanya Kebo Sindet memandang berkeliling. Tetapi tak ada yang mencurigakan baginya.
“Kuda Sempana,” desis Kebo Sindet itu kemudian, “lama-kelamaan kau pasti akan juga dapat mengenali jalan keluar dan masuk daerah ini. Tetapi sementara itu aku telah yakin, bahwa kau tidak akan dapat meninggalkan aku lagi. Dunia di luar dunia kita, tidak akan dapat lagi menerimamu. Karena itu, jangan mencoba mempertimbangkan untuk lari dari padaku.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Bahkan wajahnya pun sama sekali tidak bergerak. Ia duduk saja berdiam diri sambil memandangi batang-batang pohon air yang berdiri tegak di tengah-tengah rawa-rawa itu. Pohon-pohonan dengan akar-akarnya yang berjuntai dan bahkan seolah-olah tumbuh dari dalam air. Beberapa cercah sinar matahari yang menyusup lewat sela-sela dedaunan memercikkan kilatan yang putih dari dalam air yang berlumpur itu. Meskipun matahari telah naik semakin tinggi, tetapi rawa-rawa itu seolah-olah masih diliputi oleh selembar kabut yang tipis.
“Marilah,” berkata Kebo Sindet kemudian, “kali ini kita telah gagal lagi. Perkawinan itu telah berlangsung. Tetapi kita masih belum menemukan seseorang yang dapat dibawa untuk bekerja bersama menyampaikan tawaran kepada Ken Dedes tentang kakaknya laki-laki itu.” Kuda Sempana menganggukkan kepalanya, tetapi, ia tidak menjawab.
Kebo Sindet pun tidak berbicara lagi. Segera kudanya disentuhnya. Perlahan-lahan kuda itu turun ke dalam air dan perlahan-lahan pula berjalan menyeberang diikuti oleh Kuda Sempana.
Sesaat kemudian maka bayangan mereka pun telah hilang, tenggelam ke dalam kabut. Begitu bayangan itu telah menghilang, maka sekali lagi perdu di tepi rawa-rawa itu bergerak. Sejenak kemudian muncul pulalah sebuah bayangan. Dengan hati-hati sekali sesosok tubuh bergerak mendekati tempat Kebo Sindet turun ke dalam air.
“Di sini mereka menyeberang.” desisnya.
Dan sesosok tubuh itu pun berdiri tegak dengan tegangnya di tepi rawa itu. Sekali-sekali dipandanginya air yang berwarna lumpur, kemudian dicobanya untuk menembus kabut yang tipis di atas rawa-rawa itu dengan sorot matanya yang tajam. Tetapi sesosok tubuh itu, seorang laki-laki tua, tidak berhasil melihat sesuatu selain pohon-pohon air yang berdiri liar berserakan dirawa-rawa itu.
“Tetapi aku harus menyeberang.” terdengar ia berdesis perlahan-lahan. “Kukorbankan nyawaku yang seolah olah tinggal merupakan kelebihan saja dari keharusan hidupku. Dan dengan sisa inilah aku akan mencobanya.”
Selangkah orang itu maju, tetapi kemudian sekali lagi ia berdiri tegak seperti pepohonan di sekitarnya.
“Aku harus menunggu dan yakin bahwa Kebo Sindet telah jauh masuk ke dalam sarangnya.”
Laki-laki itu pun kemudian melangkah surut. Perlahan-lahan ia duduk di balik sebatang pohon. Tanpa sesadarnya dirabanya hulu pedang yang tersangkut di lambungnya.
“Mudah-mudahan kau pun dapat membantuku.” desisnya.
Ketika hulu pedangnya itu dilepaskannya, maka tangannya pun kemudian menarik sebuah belati panjang dari lambungnya di sisi yang lain, dan ditimang-timangnya.
“Sepasang senjata yang akan dapat memberi keteguhan hati.” laki-laki itu berdesis pula. “Mudah-mudahan Kebo Sindet tidak menjadi semakin garang.”
Sejenak kemudian, maka laki-laki itu pun berdiri. Ia merasa bahwa waktunya telah cukup lama. Kebo Sindet pasti sudah jauh menyeberangi rawa-rawa itu. Maka sekali lagi ia melangkah ke tepi air, ke tempat Kebo Sindet menyeberang. Sejenak laki-laki tua itu tampak ragu ragu, tetapi kemudian ia bergumam.
“Tidak ada jalan lain. Umur yang ada ini sudah terlampau banyak. Biarlah aku mencoba berbuat sesuatu sebelum aku kehilangan kesempatan.”
Perlahan-lahan laki-laki tua itu mencelupkan kakinya ke dalam air. Dengan sangat hati-hati kaki itu meraba-raba jalan yang akan dapat dilaluinya menyeberangi rawa-rawa itu.
“Di sini Kebo Sindet tadi membelok sedikit kekiri,” katanya di dalam hatinya, sedang kakinya pun masih juga terus meraba-raba mencari tumpuan yang cukup keras.
Tetapi laki-laki tua itu tidak dapat melihat Kebo Sindet dalam jarak yang agak jauh, karena kabut yang seolah-olah masih saja bergulung-gulung di atas rawa-rawa itu. Meskipun semakin tinggi matahari kabut itu menjadi semakin tipis, tetapi masih juga seolah-olah sebuah tirai putih yang membatasi pandangan matanya. Kini orang tua itu harus menjadi semakin hati-hati. Setapak demi setapak ia maju. Sekali-sekali terasa kakinya terperosok ke dalam lumpur, sehingga ia harus melangkah surut.
“Hem.” desahnya “berapa hari aku akan sampai ke seberang rawa-rawa ini. Kalau aku bertemu dengan Kebo Sindet sebelum aku menginjakkan kakiku di atas tanah, maka aku pasti akan dijadikan permainannya. Ia pasti lebih mengenal rawa-rawa ini dari padaku. Tetapi untuk sampai ke tanah itu pun aku memerlukan waktu yang pasti cukup lama.”
Lambat sekali laki-laki tua itu meraba-raba dengan kakinya. Setapak ia maju, tetapi kadang-kadang ia harus surut beberapa langkah ketika kakinya tidak lagi menemukan tanah yang cukup keras di hadapannya. Bahkan kadang-kadang ia kehilangan jalan dan ia harus berdiri saja beberapa lama di tempatnya. Menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Kemudian kembali kakinya berusaha untuk menemukan tempat berpijak.
“Tetapi aku tidak boleh berputus-asa. Kalau hari ini aku belum berhasil, maka besok harus aku teruskan. Di tengah-tengah rawa ini banyak pepohonan yang dapat aku pakai untuk bersembunyi sebelum aku menemukan jalan.” berkata orang tua itu di dalam hatinya. Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. “Apakah ada jalan yang dapat sampai kepada setiap pohon-pohonan itu?” Laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Gila benar Kebo Sindet. Ia menemukan tempat persembunyian yang sebaik-baiknya.”
Sementara itu kabut yang tipis menjadi semakin tipis sedang matabari telah terlampau tinggi menggantung di langit. Hampir sampai ke puncaknya. Tetapi pandangan mata laki-laki tua itu masih juga dikaburkan oleh selembar-selembar kabut yang seakan-akan sedang bergeser naik. Tetapi tiba-tiba saja dada laki-laki tua itu menjadi berdebar-debar. Beberapa puluh langkah daripadanya, ia melihat permukaan air bergetar. Semakin lama semakin dekat. Dilihatnya sebuah benda yang bergerak-gerak di atas permukaan air, kemudian seleret tubuh yang berenang membuat gelombang-gelombang kecil.
“Hem ular air hitam.” desis laki-laki tua itu.
Semakin dekat laki-laki tua itu melihat bahwa ular itu ternyata cukup besar. Hampir sebesar lengan tangannya. Tetapi laki-laki tua itu tidak mengganggunya. Bahkan ia berdiri saja tegak seperti patung, sehingga ular itu meluncur beberapa langkah daripadanya. Dan ular itu berpaling pun sama sekali tidak.
“Terlampau banyak bahaya dirawa-rawa ini.” desisnya.
Ketika ular itu sudah semakin jauh, maka kakinya pun digerakkannya lagi. Setapak demi setapak. Namun sekali lagi ia terkejut. Kali ini ia tidak diganggu oleh ular air, seperti yang baru saja dilihatnya. Untunglah bahwa ia mampu bergerak cukup cepat tanpa meninggalkan sikap hati-hati. Ketika seekor ular hijau menyambarnya dari sebatang pohon, maka ia tidak sempat menghindarinya. Tetapi agaknya ular itu tidak melepaskannya. Demikian ular itu tejun ke dalam rawa-rawa, maka segera binatang itu berenang dan menyerang laki-laki tua itu lagi. Kali ini tidak ada pilihan lain daripadanya kecuali melawan tanpa terperosok ke dalam lumpur. Dengan sebuah ayunan belati panjangnya, ia segera dapat memotong leher ular. Tetapi dengan demikian darah ular itu menyembur dari tubuhnya dan mewarnai air rawa itu serta menyebarkan baunya yang khusus.
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin yakin bahwa bahaya yang dihadapinya memang terlampau besar. Tetapi ia sudah bertekad untuk melakukannya. Ketika laki-laki tua itu mengangkat wajahnya, maka dilihatnya kabut sudah menjadi tipis, bahkan sudah hampir lenyap sama sekali. Tetapi sejalan dengan itu, merayap pulalah kekecewaan di dalam hatinya.
“Oh.” ia mengeluh, “sudah hampir sampai tengah hari aku berdiam diri. Maju mundur, maju mundur. Ternyata aku baru mencapai jarak beberapa langkah saja dari tepi.”
Dengan sorot mata yang suram dipandanginya tepi rawa-rawa itu. Masih dilihatnya perdu tempat ia bersembunyi ketika Kebo Sindet lewat, kemudian terjun ke dalam rawa-rawa ini. Ia menundukkan kepalanya ketika dilihatnya warna-warna merah yang seolah-olah menjalar diwajah air berlumpur itu. Ternyata darah ular hijau yang telah dibunuhnya telah terperas dari dalam tubuhnya.
Tetapi tiba-tiba laki-laki tua itu terkejut. Ia mendengar suara orang terbatuk-batuk. Tidak seperti lajimnya, tetapi menurut pendengarannya agak terlampau keras. Karena itu maka segera ia menegakkan kepalanya. Dicobanya untuk mengetahui arah suara itu. Akhirnya ia memutar dirinya, menghadap ke arah sebuah perdu di pinggir rawa-rawa itu. Dari sana ia menduga, seseorang telah dirinya memberitahukan kehadirannya.
“Siapa kau?” desis laki-laki tua itu.
Tetapi ia tidak segera mendengar jawabannya. Namun tiba-tiba ia melihat gerumbul itu menguak, dan dilihatnya sesosok tubuh keluar dari rimbun perdu itu. Meskipun jarak mereka agak jauh, tetapi segera mereka dapat mengenal yang satu dengan yang lain.
Wajah laki-laki tua itu menjadi tegang. Terdengar suaranya bergetar, “Kau?”
“Ya Empu.” jawab orang yang baru datang itu.
“Kau juga berada di sini?”
“Ya Empu.”
“Dan kau tidak berbuat apa-apa?”
“Kemarilah. Agak cepat sedikit.”
“Kenapa?”
“Tinggalkan tempat itu.”
“Apakah Kebo Sindet akan datang?”
“Tidak. Aku yakin bahwa kau sedang mencarinya, karena itu kau tidak perlu menghindar seandainya ia yang datang.”
“Lalu apa yang harus aku hindari di sini?”
“Darah ular itu berbahaya bagimu Empu.”
“Apakah darah itu mengandung bisa?”
“Tidak. Tetapi bau darah itu telah memanggil berbagai binatang air yang lain. Binatang-binatang air yang buas. Buaya-buaya kerdil, atau sejenis kadal-kadal air yang berbisa.”
“Ah,” laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Peringatan itu dapat dimengertinya. Darah memang dapat memanggil binatang-binatang buas dari segala jenis. Di darat, di udara mau pun di dalam air. Meskipun demikian ia berkata,
“Hem, apakah kau akan membuat perhitungan dengan aku sebelum aku bertemu dengan Kebo Sindet.”
“Ah,” sahut orang di pinggir rawa, “jangan terlampu berprasangka. Kalau demikian maka aku tidak akan memanggilmu menepi, sebab kalau kau tidak pergi juga, maka kau akan diseret kedalam lumpur.”
“Kau menakut-nakuti aku untuk memancingku datang kepadamu.”
“Sekali lagi jangan berprasangka. Aku tahu bahwa kau seharusnya tidak ikut bertanggung jawab atas hilangnya Mahisa Agni. Aku tahu bahwa kau akan berusaha membebaskannya. Aku tahu bahwa kau akan menemui Kebo Sindet dan menantangnya bertempur sampai salah seorang dari kalian mati. Tetapi sebelum itu kau harus banyak menghemat tenaga. Jangan kau biarkan dirimu dicincang oleh buaya-buaya kerdil, kadal-kadal air dan ular-ular hitam. Kemarilah cepat sebelum kau terlambat, Darah itu telah menyebarkan bau yang segera dapat dikenal oleh binatang-binatang air.”
Laki-laki tua itu ragu-ragu sejenak. Tetapi tanpa sesadarnya ia maju mendekati orang yang berdiri di pinggir rawa, selangkah-selangkah dan dengan sangat hati-hati.
“Cepat sedikit.”
“Supaya aku terperosok dan terbenam ke dalam lumpur.”
Ternyata laki-laki tua itu sama sekali tidak kehilangan ketenangannya. Namun dadanya pun berdesir ketika ia melihat wajah air yang buram itu seolah-olah menjadi berkerut merut. Terpaksa laki-laki tua itu mempercepat langkahnya. Tetapi ia tidak berani tergesa-gesa sekali supaya kakinya tidak terperosok.
“Ah,” orang yang berdiri di tepi rawa itu berdesah, “kau terlampau lamban.”
Dan tiba-tiba saja orang itu pun segera meloncat ke dalam air, berjalan cepat-cepat menyongsong laki-laki tua yang berjalan sambil meraba-raba dengan kakinya.
“Marilah,” berkata orang yang baru datang, “ikutlah di belakangku. Kau pasti tidak akan terperosok ke dalam lumpur.”
Melihat sikap orang itu, maka dada laki-laki tua itu berdesir. Dengan demikian ia menyadari bahwa bahaya benar-benar sedang mengancamnya, sehingga ia pun kemudian dengan tanpa ragu-ragu lagi berjalan pula cepat-cepat meninggalkah tempat itu. Ternyata waktu hanya terpaut sekejab. Belum lagi mereka cukup melangkah sepuluh kali, maka mereka telah melihat sesuatu tersembul kepermukaan air noda darah di air yang keruh itu.
“Lihat,” desis orang yang membawa laki-laki tua itu menepi, “sebentar lagi akan terjadi permainan yang mengasyikkan.”
Ketika mereka menjadi semakin jauh, maka mereka pun memperlambat langkah mereka. Ketika mereka berpaling, maka dada mereka pun menjadi berdebar-debar. Dari beberapa penjuru kedua orang itu melihat benda-benda yang tersembul di atas permukaan air seolah-olah meluncur dengan lajunya mendekati warna merah yang semakin banyak menodai wajah rawa-rawa yang buram itu. Sejenak kemudian air rawa itu pun memercik dan tubuh ular yang mati itu seolah-olah terlempar ke permukaan air. Namun sejenak kemudian terjadilah suatu peristiwa yang menegangkan wajah kedua orang itu.
Mereka melihat beberapa ekor binatang air desak mendesak berebut bangkai ular yang terlampau kecil bagi mereka. Tetapi agaknya bau darah telah membuat binatang-binatang air itu menjadi buas, sehingga mereka pun kemudian berkelahi satu dengan yang lain. Beberapa jenis buaya-buaya kerdil, sejenis biawak berleher dan bahkan ular hitam yang berkulit mengkilat tampak juga bergumul di antara mereka. Terdengar suara binatang-binatang itu seperti sedang memekik-mekik karena marah. Mereka semakin lama menjadi semakin liar dan saling menggigit.
Sejenak kemudian darah yang memerahi wajah air yang berwarna lumpur itu menjadi semakin banyak. Tidak saja dari tubuh ular yang mati dibunuh oleh laki-laki tua itu, tetapi darah yang mengalir dari tubuh-tubuh binatang yang sedang berkelahi. Binatang-binatang yang tidak dapat mempertahankan dirinya segera mati terbunuh dan tubuhnya dikoyakkan oleh binatang binatang yang lain.
“Marilah kita ketepi,” ajak orang yang datang kemudian.
“Mengerikan.” desis laki-laki tua itu.
“Untunglah kau telah meninggalkan tempat itu Empu. Kalau tidak maka kau pun akan ikut serta bergumul bersama mereka.” sahut yang lain. “Seandaianya dasar sungai ini tidak berlumpur dan gembur, aku tidak akan mencemaskan nasibmu. Aku melihat kau membawa sehelai pedang dan sehelai pisau belati panjang. Binatang-binatang itu pasti tidak akan dapat mendekatimu. Tetapi dasar rawa-rawa ini adalah lawan yang hampir tak terkalahkan. Itulah sebabnya aku minta kau menghindar.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan menarik nafas dalam-dalam ia berjalan mengikuti orang yang memberi petunjuk kepadanya sambil bergumam.
“Terima kasih. Aku kira bagiku lebih baik langsung berkelahi melawan Kebo Sindet dari pada melawan buaya-buaya kerdil itu.”
Orang yang berjalan dimukanya tersenyum. “Bagi kami, maksudku, aku dan Kebo Sindet, hal-hal yang serupa itu telah dapat kami kenali, sehingga kami akan dapat segera menghindarinya. Hal-hal semacam itu pulalah agaknya yang telah melindungi Kebo Sindet dari segala macam kemungkinan yang membahayakan. Hampir tidak ada orang lain yang dapat sampai ketempatnya dengan selamat.”
“Ya, aku sudah melihatnya sendiri.” sahut laki-laki tua itu. “Karena itu maka aku berterima kasih kepadamu. Aku akan menunggu saja Kebo Sindet keluar dari sarangnya. Aku akan menemuinya dan menantangnya untuk berkelahi. Tetapi tidak dengan Kuda Sempana. Aku ingin mencoba dan memperbandingkan, apakah aku masih juga mampu mengimbangi kekuatannya.”
“Tetapi kau tidak akan mendapat kesempatan itu.” jawab orang yang membawanya menepi, “Kuda Sempana selalu dibawanya kemana ia pergi.”
“Kenapa?”
“Kebo Sindet mencemaskan nasib Mahisa Agni. Kalau Kuda Sempana ditinggalkannya, maka ia akan melepaskan dendamnya kepada Mahisa Agni. Mungkin anak itu akan dibunuhnya atau disiksanya sampai mati.”
“Apakah Mahisa Agni tidak mendapat kesempatan untuk melawan.”
“Kesehatannya belum pulih kembali sejak ia datang dalam keadaan yang sangat parah.”
“Ah itu terjadi beberapa waktu yang lampau. Waktu yang panjang ini aku rasa telah cukup baginya untuk mendapatkan segala kekuatannya.”
“Mungkin apabila Mahisa Agni itu berada di Padang Karautan. Tetapi ia berada di sarang Kebo Sindet.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana dengan Empu Gandring? Apakah ia tidak berbuat sesuatu seperti kau tidak berbuat apa-apa selain menonton dan mengamati saja?”
“Empu Gandring telah pernah mencoba pula seperti apa yang kau lakukan. Tetapi ia pun tidak dapat segera menemukan jalan kesarang iblis itu.”
“Dan Empu tukang keris itu menjadi berputus asa dan mengurungkan niatnya untuk menolong kemanakannya?”
“Tidak. Aku telah menemuinya pula seperti aku menemui sekarang. Aku minta Empu Gandring meninggalkan saja tempat ini seperti aku ingin minta pula kepadamu. Serahkan Mahisa Agni kepadaku.”
“He.” laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Sementara itu mereka telah sampai di atas tanah yang lembab dan licin. Sejenak kemudian mereka telah berada di tepi rawa-rawa itu.
Ketika mereka telah menghibaskan kaki-kaki mereka, maka mereka pun kemudian berpaling. Lamat-lamat mereka masih melihat air yang bergolak.
“Binatang-binatang itu masih bergumul.” desis orang yang membawa laki-laki tua itu menepi.
“Ya” sahut laki-laki itu. “Ternyata darah ular itu telah memancing pergulatan yang tidak menentu di antara binatang-binatang air itu.”
“Pergumulan itu akan berlangsung lama. Semakin lama semakin banyak. Tetapi akhirnya mereka akan berhenti dengan sendirinya apabila sebagian terbesar dari mereka telah menjadi luka-luka dan lari meninggalkan pergumulan itu. Hanya ular-ular hitamlah yang biasanya paling betah berkelahi. Tidak untuk mangsa, tetapi hanya sekedar melepaskan nafsu menyerangnya saja.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan dada yang masih berdebar-debar dipandanginya air yang masih saja bergolak, meskipun tidak begitu jelas lagi. Tetapi tiba-tiba ia berpaling memandangi orang yang telah membawanya menepi, katanya
“Apakah yang kau katakan tadi? Kau minta Empu Gandring mengurungkan niatnya untuk menolong kemanakannya? Dan kau sekarang juga akan berbuat serupa kepadaku?”
“Ya Empu.” jawab orang itu.
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia masih juga memandang kearah buaya-buaya. kerdil yang saling berkelahi dengan binatang-binatang air yang liar lainnya.
“Kau aneh.” kemudian laki-laki tua itu berkata, “kalau demikian apakah kau ingin melihat Mahisa Agni itu mati perlahan-lahan, di sarang Kebo Sindet? Kau halangi orang yang akan menolongnya, tetapi kau sendiri tidak berbuat apa-apa. Padahal agaknya kau sudah mengenal jalan di dalam rawa-rawa ini seperti juga Kebo Sindet mengenalnya.”
“Ya, aku memang sudah mengenal jalan-jalan di dalam air itu. Di sini ada tiga jalan yang dapat ditempuh. Jarak dari ketiganya itu tidak terlampau jauh. Di sini, ditempat Kebo Sindet tadi masuk, kemudian kira-kira limapuluh langkah dari sini, dan yang lain kira-kira dalam jarak yang sama sebelah lain. Jalan ini adalah jalan yang tengah.”
“Ah, kau malah berceritera tentang jalan menuju kesarang itu.” sahut laki-laki tua, “kenapa kau tidak mengantarkan saja Empu Gandring kesana?”
Orang itu menggeleng. “Aku tidak dapat melakukannya, supaya Mahisa Agni tidak dibunuhnya. Kalau Kebo Sindet melihat seorang dari kita datang kepadanya, mungkin Empu Gandring, mungkin kau dan mungkin aku, maka yang pertama-tama dilakukan sebelum melawan salah seorang dari kita adalah membunuh Mahisa Agni, atau ia memerintahkan kepada Kuda Sempana untuk membunuhnya selama ia melayani salah seorang dari kita.”
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kalau begitu kita pergi berdua. Seharusnya sudah kau lakukan bersama-sama dengan Empu Gandring. Salah seorang dari kita melawan Kebo Sindet, yang lain berusaha menolong Mahisa Agni. Kalau perlu membinasakan Kuda Sempana.”
Sementara itu matahari di langit merambat semakin tinggi. Awan yang putih selembar- selembar mengalir ke Utara didorong oleh angin padang yang kering. Ketika Ken Arok menengadahkan wajahnya, maka segera keningnya berkerut. Dilihatnya di sudut langit segumpal awan yang kehitaman-hitaman. Jauh dan semakin menjauh. Tetapi ia bergumam di dalam hatinya.
“Langit telah memberi peringatan. Kita harus semakin cepat bekerja sebelum musim basah tiba. Yang penting adalah, bendungan ini harus siap lebih dahulu. Yang lain-lain dapat dilakukan meskipun dimusim basah.”
Anak muda itu berpaling ketika ia mendengar Panji Bojong Santi berkata, “Nah, akan kau bawa kemana lagi kami ngger?”
“Kita akan berjalan menyusur susukan ini Bapa. Setiap kali kita akan menjumpai orang-orang yang sedang bekerja menurut tugas masing-masing. Aku ingin menunjukkan kepada Adi Kebo Ijo, keseluruhan dari tugas kita di Padang Karautan ini.”
“Marilah, aku juga ingin melihatnya. Aku pasti akan menjadi semakin kagum karenanya.” sahut Panji Bojong Santi.
Ketiganya pun kemudian meninggalkan bendungan. Mereka berjalan menyusur susukan induk. Ternyata susukan itu pun masih juga dikerjakan. Dibeberapa bagian masih perlu diperdalam, dan di tempat-tempat tertentu telah dibangunkan bendungan-bendungan kecil untuk mengangkat air dari susukan induk itu ke parit-parit.
“Bukan main.” desis Panji Bojong Santi.
“Bagaimana bapa?” bertanya Ken Arok.
“Pekerjaan ini hampir tidak ada celanya. Semua bagian yang paling kecil pun tidak terlepas dari perhitungan.”
“Ya.” sahut Ken Arok, “agaknya Mahisa Agni benar-benar menguasai persoalan yang sedang direncanakan.”
“Ah.” Kebo Ijo tiba-tiba berdesah, sehingga gurunya dan Ken Arok bersama-sama berpaling kepadanya. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Wajahnya menjadi semakin suram ketika ia mendengar Ken Arok meneruskan kata-katanya. “Mahisa Agni telah membuat patok-patok di Padang ini, dan kita sekarang tinggal meneruskannya.”
Panji Bojong Santi mengangguk-angguk, sementara kaki-kaki mereka melangkah terus di atas tanah berdebu. Sedang mata hari melambung semakin tinggi di langit, dan sinarnya pun kini telah mulai menggatalkan kulit. Kebo Ijo sekali-sekali mengusap peluh yang telah membasahi keningnya. Dengan malasnya ditariknya kakinya di atas Padang yang kering itu. Tidak habis-habisnya ia mengumpat di dalam hati,
“Bodoh benar Ken Arok ini. Apakah bedanya apabila kita berkuda sekarang ini?”
Tetapi ia masih harus melangkahkan kakinya terus. Tersuruk-suruk ke dalam debu yang sudah mulai hangat. Apalagi ketika diangkatnya kepalanya, memandangi Padang yang kering itu. Matanya seakan-akan menjadi silau. Di kejauhan, dilihatnya segerumbul warna hijau. Itu adalah pepohonan yang dipelihara di taman dan di sekeliling sendang buatan, yang setiap hari masih harus disiram dengan air yang diambil dari sungai. Berpuluh-puluh lodong bambu yang diisi air diangkut dengan pedati-pedati setiap sore, sampai pada saatnya susukan induk itu kelak mengalirkan air yang naik dari bendungan dan mengalir ke sendang buatan, setelah di sepanjang jalannya, beberapa kali harus melampaui bendungan-bendungan kecil untuk menaikkan air ke parit-parit.
Setiap kali ketiga orang yang melihat-lihat kerja raksasa itu berhenti, setiap kali Ken Arok memberi beberapa penjelasan kepada Kebo Ijo tentang pekerjaan itu. Meskipun semula Kebo Ijo itu acuh tak acuh saja mendengar keterangan Ken Arok, tetapi lama kelamaan, keterangan-keterangan itu menarik perhatiannya juga. Kekagumannya menjadi semakin besar atas kerja raksasa itu meskipun ada sesuatu yang seolah-olah menahannya untuk mengakui betapa cakapnya Mahisa Agni menyusun perencanaan itu, meskipun di sana-sini telah banyak mendapat penyempurnaan dari Ken Arok dan nasehat-nasehat dari pamannya Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen.
Demikianlah, maka sehari itu Ken Arok memperkenalkan kerja raksasa yang harus dihadapnya kepada Kebo Ijo. Bendungan yang akan mengaliri sawah dan memberi lapangan hidup yang baru bagi orang-orang Panawijen, dan sebuah taman dan sendang buatan yang indah, yang akan dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada permaisurinya, seorang gadis dari Panawijen. Sehingga dengan demikian Kebo Ijo segera mendapat gambaran, betapa besarnya kerja di Padang Karautan. Kerja yang tidak dibayangkannya semula.
Dalam pada itu, dua orang sedang berkuda perlahan-lahan menyusur sebuah hutan yang tidak terlampau lebat, masuk ke daerah yang berawa-rawa. Mereka adalah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Dalam perjalanan kembali ke persembunyian mereka, mereka tidak terlampau banyak berbicara. Ketika mereka telah berada di bibir rawa-rawa itu, maka mereka pun berhenti. Dengan ketajaman matanya Kebo Sindet memandang berkeliling. Tetapi tak ada yang mencurigakan baginya.
“Kuda Sempana,” desis Kebo Sindet itu kemudian, “lama-kelamaan kau pasti akan juga dapat mengenali jalan keluar dan masuk daerah ini. Tetapi sementara itu aku telah yakin, bahwa kau tidak akan dapat meninggalkan aku lagi. Dunia di luar dunia kita, tidak akan dapat lagi menerimamu. Karena itu, jangan mencoba mempertimbangkan untuk lari dari padaku.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Bahkan wajahnya pun sama sekali tidak bergerak. Ia duduk saja berdiam diri sambil memandangi batang-batang pohon air yang berdiri tegak di tengah-tengah rawa-rawa itu. Pohon-pohonan dengan akar-akarnya yang berjuntai dan bahkan seolah-olah tumbuh dari dalam air. Beberapa cercah sinar matahari yang menyusup lewat sela-sela dedaunan memercikkan kilatan yang putih dari dalam air yang berlumpur itu. Meskipun matahari telah naik semakin tinggi, tetapi rawa-rawa itu seolah-olah masih diliputi oleh selembar kabut yang tipis.
“Marilah,” berkata Kebo Sindet kemudian, “kali ini kita telah gagal lagi. Perkawinan itu telah berlangsung. Tetapi kita masih belum menemukan seseorang yang dapat dibawa untuk bekerja bersama menyampaikan tawaran kepada Ken Dedes tentang kakaknya laki-laki itu.” Kuda Sempana menganggukkan kepalanya, tetapi, ia tidak menjawab.
Kebo Sindet pun tidak berbicara lagi. Segera kudanya disentuhnya. Perlahan-lahan kuda itu turun ke dalam air dan perlahan-lahan pula berjalan menyeberang diikuti oleh Kuda Sempana.
Sesaat kemudian maka bayangan mereka pun telah hilang, tenggelam ke dalam kabut. Begitu bayangan itu telah menghilang, maka sekali lagi perdu di tepi rawa-rawa itu bergerak. Sejenak kemudian muncul pulalah sebuah bayangan. Dengan hati-hati sekali sesosok tubuh bergerak mendekati tempat Kebo Sindet turun ke dalam air.
“Di sini mereka menyeberang.” desisnya.
Dan sesosok tubuh itu pun berdiri tegak dengan tegangnya di tepi rawa itu. Sekali-sekali dipandanginya air yang berwarna lumpur, kemudian dicobanya untuk menembus kabut yang tipis di atas rawa-rawa itu dengan sorot matanya yang tajam. Tetapi sesosok tubuh itu, seorang laki-laki tua, tidak berhasil melihat sesuatu selain pohon-pohon air yang berdiri liar berserakan dirawa-rawa itu.
“Tetapi aku harus menyeberang.” terdengar ia berdesis perlahan-lahan. “Kukorbankan nyawaku yang seolah olah tinggal merupakan kelebihan saja dari keharusan hidupku. Dan dengan sisa inilah aku akan mencobanya.”
Selangkah orang itu maju, tetapi kemudian sekali lagi ia berdiri tegak seperti pepohonan di sekitarnya.
“Aku harus menunggu dan yakin bahwa Kebo Sindet telah jauh masuk ke dalam sarangnya.”
Laki-laki itu pun kemudian melangkah surut. Perlahan-lahan ia duduk di balik sebatang pohon. Tanpa sesadarnya dirabanya hulu pedang yang tersangkut di lambungnya.
“Mudah-mudahan kau pun dapat membantuku.” desisnya.
Ketika hulu pedangnya itu dilepaskannya, maka tangannya pun kemudian menarik sebuah belati panjang dari lambungnya di sisi yang lain, dan ditimang-timangnya.
“Sepasang senjata yang akan dapat memberi keteguhan hati.” laki-laki itu berdesis pula. “Mudah-mudahan Kebo Sindet tidak menjadi semakin garang.”
Sejenak kemudian, maka laki-laki itu pun berdiri. Ia merasa bahwa waktunya telah cukup lama. Kebo Sindet pasti sudah jauh menyeberangi rawa-rawa itu. Maka sekali lagi ia melangkah ke tepi air, ke tempat Kebo Sindet menyeberang. Sejenak laki-laki tua itu tampak ragu ragu, tetapi kemudian ia bergumam.
“Tidak ada jalan lain. Umur yang ada ini sudah terlampau banyak. Biarlah aku mencoba berbuat sesuatu sebelum aku kehilangan kesempatan.”
Perlahan-lahan laki-laki tua itu mencelupkan kakinya ke dalam air. Dengan sangat hati-hati kaki itu meraba-raba jalan yang akan dapat dilaluinya menyeberangi rawa-rawa itu.
“Di sini Kebo Sindet tadi membelok sedikit kekiri,” katanya di dalam hatinya, sedang kakinya pun masih juga terus meraba-raba mencari tumpuan yang cukup keras.
Tetapi laki-laki tua itu tidak dapat melihat Kebo Sindet dalam jarak yang agak jauh, karena kabut yang seolah-olah masih saja bergulung-gulung di atas rawa-rawa itu. Meskipun semakin tinggi matahari kabut itu menjadi semakin tipis, tetapi masih juga seolah-olah sebuah tirai putih yang membatasi pandangan matanya. Kini orang tua itu harus menjadi semakin hati-hati. Setapak demi setapak ia maju. Sekali-sekali terasa kakinya terperosok ke dalam lumpur, sehingga ia harus melangkah surut.
“Hem.” desahnya “berapa hari aku akan sampai ke seberang rawa-rawa ini. Kalau aku bertemu dengan Kebo Sindet sebelum aku menginjakkan kakiku di atas tanah, maka aku pasti akan dijadikan permainannya. Ia pasti lebih mengenal rawa-rawa ini dari padaku. Tetapi untuk sampai ke tanah itu pun aku memerlukan waktu yang pasti cukup lama.”
Lambat sekali laki-laki tua itu meraba-raba dengan kakinya. Setapak ia maju, tetapi kadang-kadang ia harus surut beberapa langkah ketika kakinya tidak lagi menemukan tanah yang cukup keras di hadapannya. Bahkan kadang-kadang ia kehilangan jalan dan ia harus berdiri saja beberapa lama di tempatnya. Menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap keningnya yang basah oleh keringat. Kemudian kembali kakinya berusaha untuk menemukan tempat berpijak.
“Tetapi aku tidak boleh berputus-asa. Kalau hari ini aku belum berhasil, maka besok harus aku teruskan. Di tengah-tengah rawa ini banyak pepohonan yang dapat aku pakai untuk bersembunyi sebelum aku menemukan jalan.” berkata orang tua itu di dalam hatinya. Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. “Apakah ada jalan yang dapat sampai kepada setiap pohon-pohonan itu?” Laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Gila benar Kebo Sindet. Ia menemukan tempat persembunyian yang sebaik-baiknya.”
Sementara itu kabut yang tipis menjadi semakin tipis sedang matabari telah terlampau tinggi menggantung di langit. Hampir sampai ke puncaknya. Tetapi pandangan mata laki-laki tua itu masih juga dikaburkan oleh selembar-selembar kabut yang seakan-akan sedang bergeser naik. Tetapi tiba-tiba saja dada laki-laki tua itu menjadi berdebar-debar. Beberapa puluh langkah daripadanya, ia melihat permukaan air bergetar. Semakin lama semakin dekat. Dilihatnya sebuah benda yang bergerak-gerak di atas permukaan air, kemudian seleret tubuh yang berenang membuat gelombang-gelombang kecil.
“Hem ular air hitam.” desis laki-laki tua itu.
Semakin dekat laki-laki tua itu melihat bahwa ular itu ternyata cukup besar. Hampir sebesar lengan tangannya. Tetapi laki-laki tua itu tidak mengganggunya. Bahkan ia berdiri saja tegak seperti patung, sehingga ular itu meluncur beberapa langkah daripadanya. Dan ular itu berpaling pun sama sekali tidak.
“Terlampau banyak bahaya dirawa-rawa ini.” desisnya.
Ketika ular itu sudah semakin jauh, maka kakinya pun digerakkannya lagi. Setapak demi setapak. Namun sekali lagi ia terkejut. Kali ini ia tidak diganggu oleh ular air, seperti yang baru saja dilihatnya. Untunglah bahwa ia mampu bergerak cukup cepat tanpa meninggalkan sikap hati-hati. Ketika seekor ular hijau menyambarnya dari sebatang pohon, maka ia tidak sempat menghindarinya. Tetapi agaknya ular itu tidak melepaskannya. Demikian ular itu tejun ke dalam rawa-rawa, maka segera binatang itu berenang dan menyerang laki-laki tua itu lagi. Kali ini tidak ada pilihan lain daripadanya kecuali melawan tanpa terperosok ke dalam lumpur. Dengan sebuah ayunan belati panjangnya, ia segera dapat memotong leher ular. Tetapi dengan demikian darah ular itu menyembur dari tubuhnya dan mewarnai air rawa itu serta menyebarkan baunya yang khusus.
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin yakin bahwa bahaya yang dihadapinya memang terlampau besar. Tetapi ia sudah bertekad untuk melakukannya. Ketika laki-laki tua itu mengangkat wajahnya, maka dilihatnya kabut sudah menjadi tipis, bahkan sudah hampir lenyap sama sekali. Tetapi sejalan dengan itu, merayap pulalah kekecewaan di dalam hatinya.
“Oh.” ia mengeluh, “sudah hampir sampai tengah hari aku berdiam diri. Maju mundur, maju mundur. Ternyata aku baru mencapai jarak beberapa langkah saja dari tepi.”
Dengan sorot mata yang suram dipandanginya tepi rawa-rawa itu. Masih dilihatnya perdu tempat ia bersembunyi ketika Kebo Sindet lewat, kemudian terjun ke dalam rawa-rawa ini. Ia menundukkan kepalanya ketika dilihatnya warna-warna merah yang seolah-olah menjalar diwajah air berlumpur itu. Ternyata darah ular hijau yang telah dibunuhnya telah terperas dari dalam tubuhnya.
Tetapi tiba-tiba laki-laki tua itu terkejut. Ia mendengar suara orang terbatuk-batuk. Tidak seperti lajimnya, tetapi menurut pendengarannya agak terlampau keras. Karena itu maka segera ia menegakkan kepalanya. Dicobanya untuk mengetahui arah suara itu. Akhirnya ia memutar dirinya, menghadap ke arah sebuah perdu di pinggir rawa-rawa itu. Dari sana ia menduga, seseorang telah dirinya memberitahukan kehadirannya.
“Siapa kau?” desis laki-laki tua itu.
Tetapi ia tidak segera mendengar jawabannya. Namun tiba-tiba ia melihat gerumbul itu menguak, dan dilihatnya sesosok tubuh keluar dari rimbun perdu itu. Meskipun jarak mereka agak jauh, tetapi segera mereka dapat mengenal yang satu dengan yang lain.
Wajah laki-laki tua itu menjadi tegang. Terdengar suaranya bergetar, “Kau?”
“Ya Empu.” jawab orang yang baru datang itu.
“Kau juga berada di sini?”
“Ya Empu.”
“Dan kau tidak berbuat apa-apa?”
“Kemarilah. Agak cepat sedikit.”
“Kenapa?”
“Tinggalkan tempat itu.”
“Apakah Kebo Sindet akan datang?”
“Tidak. Aku yakin bahwa kau sedang mencarinya, karena itu kau tidak perlu menghindar seandainya ia yang datang.”
“Lalu apa yang harus aku hindari di sini?”
“Darah ular itu berbahaya bagimu Empu.”
“Apakah darah itu mengandung bisa?”
“Tidak. Tetapi bau darah itu telah memanggil berbagai binatang air yang lain. Binatang-binatang air yang buas. Buaya-buaya kerdil, atau sejenis kadal-kadal air yang berbisa.”
“Ah,” laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Peringatan itu dapat dimengertinya. Darah memang dapat memanggil binatang-binatang buas dari segala jenis. Di darat, di udara mau pun di dalam air. Meskipun demikian ia berkata,
“Hem, apakah kau akan membuat perhitungan dengan aku sebelum aku bertemu dengan Kebo Sindet.”
“Ah,” sahut orang di pinggir rawa, “jangan terlampu berprasangka. Kalau demikian maka aku tidak akan memanggilmu menepi, sebab kalau kau tidak pergi juga, maka kau akan diseret kedalam lumpur.”
“Kau menakut-nakuti aku untuk memancingku datang kepadamu.”
“Sekali lagi jangan berprasangka. Aku tahu bahwa kau seharusnya tidak ikut bertanggung jawab atas hilangnya Mahisa Agni. Aku tahu bahwa kau akan berusaha membebaskannya. Aku tahu bahwa kau akan menemui Kebo Sindet dan menantangnya bertempur sampai salah seorang dari kalian mati. Tetapi sebelum itu kau harus banyak menghemat tenaga. Jangan kau biarkan dirimu dicincang oleh buaya-buaya kerdil, kadal-kadal air dan ular-ular hitam. Kemarilah cepat sebelum kau terlambat, Darah itu telah menyebarkan bau yang segera dapat dikenal oleh binatang-binatang air.”
Laki-laki tua itu ragu-ragu sejenak. Tetapi tanpa sesadarnya ia maju mendekati orang yang berdiri di pinggir rawa, selangkah-selangkah dan dengan sangat hati-hati.
“Cepat sedikit.”
“Supaya aku terperosok dan terbenam ke dalam lumpur.”
Ternyata laki-laki tua itu sama sekali tidak kehilangan ketenangannya. Namun dadanya pun berdesir ketika ia melihat wajah air yang buram itu seolah-olah menjadi berkerut merut. Terpaksa laki-laki tua itu mempercepat langkahnya. Tetapi ia tidak berani tergesa-gesa sekali supaya kakinya tidak terperosok.
“Ah,” orang yang berdiri di tepi rawa itu berdesah, “kau terlampau lamban.”
Dan tiba-tiba saja orang itu pun segera meloncat ke dalam air, berjalan cepat-cepat menyongsong laki-laki tua yang berjalan sambil meraba-raba dengan kakinya.
“Marilah,” berkata orang yang baru datang, “ikutlah di belakangku. Kau pasti tidak akan terperosok ke dalam lumpur.”
Melihat sikap orang itu, maka dada laki-laki tua itu berdesir. Dengan demikian ia menyadari bahwa bahaya benar-benar sedang mengancamnya, sehingga ia pun kemudian dengan tanpa ragu-ragu lagi berjalan pula cepat-cepat meninggalkah tempat itu. Ternyata waktu hanya terpaut sekejab. Belum lagi mereka cukup melangkah sepuluh kali, maka mereka telah melihat sesuatu tersembul kepermukaan air noda darah di air yang keruh itu.
“Lihat,” desis orang yang membawa laki-laki tua itu menepi, “sebentar lagi akan terjadi permainan yang mengasyikkan.”
Ketika mereka menjadi semakin jauh, maka mereka pun memperlambat langkah mereka. Ketika mereka berpaling, maka dada mereka pun menjadi berdebar-debar. Dari beberapa penjuru kedua orang itu melihat benda-benda yang tersembul di atas permukaan air seolah-olah meluncur dengan lajunya mendekati warna merah yang semakin banyak menodai wajah rawa-rawa yang buram itu. Sejenak kemudian air rawa itu pun memercik dan tubuh ular yang mati itu seolah-olah terlempar ke permukaan air. Namun sejenak kemudian terjadilah suatu peristiwa yang menegangkan wajah kedua orang itu.
Mereka melihat beberapa ekor binatang air desak mendesak berebut bangkai ular yang terlampau kecil bagi mereka. Tetapi agaknya bau darah telah membuat binatang-binatang air itu menjadi buas, sehingga mereka pun kemudian berkelahi satu dengan yang lain. Beberapa jenis buaya-buaya kerdil, sejenis biawak berleher dan bahkan ular hitam yang berkulit mengkilat tampak juga bergumul di antara mereka. Terdengar suara binatang-binatang itu seperti sedang memekik-mekik karena marah. Mereka semakin lama menjadi semakin liar dan saling menggigit.
Sejenak kemudian darah yang memerahi wajah air yang berwarna lumpur itu menjadi semakin banyak. Tidak saja dari tubuh ular yang mati dibunuh oleh laki-laki tua itu, tetapi darah yang mengalir dari tubuh-tubuh binatang yang sedang berkelahi. Binatang-binatang yang tidak dapat mempertahankan dirinya segera mati terbunuh dan tubuhnya dikoyakkan oleh binatang binatang yang lain.
“Marilah kita ketepi,” ajak orang yang datang kemudian.
“Mengerikan.” desis laki-laki tua itu.
“Untunglah kau telah meninggalkan tempat itu Empu. Kalau tidak maka kau pun akan ikut serta bergumul bersama mereka.” sahut yang lain. “Seandaianya dasar sungai ini tidak berlumpur dan gembur, aku tidak akan mencemaskan nasibmu. Aku melihat kau membawa sehelai pedang dan sehelai pisau belati panjang. Binatang-binatang itu pasti tidak akan dapat mendekatimu. Tetapi dasar rawa-rawa ini adalah lawan yang hampir tak terkalahkan. Itulah sebabnya aku minta kau menghindar.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan menarik nafas dalam-dalam ia berjalan mengikuti orang yang memberi petunjuk kepadanya sambil bergumam.
“Terima kasih. Aku kira bagiku lebih baik langsung berkelahi melawan Kebo Sindet dari pada melawan buaya-buaya kerdil itu.”
Orang yang berjalan dimukanya tersenyum. “Bagi kami, maksudku, aku dan Kebo Sindet, hal-hal yang serupa itu telah dapat kami kenali, sehingga kami akan dapat segera menghindarinya. Hal-hal semacam itu pulalah agaknya yang telah melindungi Kebo Sindet dari segala macam kemungkinan yang membahayakan. Hampir tidak ada orang lain yang dapat sampai ketempatnya dengan selamat.”
“Ya, aku sudah melihatnya sendiri.” sahut laki-laki tua itu. “Karena itu maka aku berterima kasih kepadamu. Aku akan menunggu saja Kebo Sindet keluar dari sarangnya. Aku akan menemuinya dan menantangnya untuk berkelahi. Tetapi tidak dengan Kuda Sempana. Aku ingin mencoba dan memperbandingkan, apakah aku masih juga mampu mengimbangi kekuatannya.”
“Tetapi kau tidak akan mendapat kesempatan itu.” jawab orang yang membawanya menepi, “Kuda Sempana selalu dibawanya kemana ia pergi.”
“Kenapa?”
“Kebo Sindet mencemaskan nasib Mahisa Agni. Kalau Kuda Sempana ditinggalkannya, maka ia akan melepaskan dendamnya kepada Mahisa Agni. Mungkin anak itu akan dibunuhnya atau disiksanya sampai mati.”
“Apakah Mahisa Agni tidak mendapat kesempatan untuk melawan.”
“Kesehatannya belum pulih kembali sejak ia datang dalam keadaan yang sangat parah.”
“Ah itu terjadi beberapa waktu yang lampau. Waktu yang panjang ini aku rasa telah cukup baginya untuk mendapatkan segala kekuatannya.”
“Mungkin apabila Mahisa Agni itu berada di Padang Karautan. Tetapi ia berada di sarang Kebo Sindet.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana dengan Empu Gandring? Apakah ia tidak berbuat sesuatu seperti kau tidak berbuat apa-apa selain menonton dan mengamati saja?”
“Empu Gandring telah pernah mencoba pula seperti apa yang kau lakukan. Tetapi ia pun tidak dapat segera menemukan jalan kesarang iblis itu.”
“Dan Empu tukang keris itu menjadi berputus asa dan mengurungkan niatnya untuk menolong kemanakannya?”
“Tidak. Aku telah menemuinya pula seperti aku menemui sekarang. Aku minta Empu Gandring meninggalkan saja tempat ini seperti aku ingin minta pula kepadamu. Serahkan Mahisa Agni kepadaku.”
“He.” laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Sementara itu mereka telah sampai di atas tanah yang lembab dan licin. Sejenak kemudian mereka telah berada di tepi rawa-rawa itu.
Ketika mereka telah menghibaskan kaki-kaki mereka, maka mereka pun kemudian berpaling. Lamat-lamat mereka masih melihat air yang bergolak.
“Binatang-binatang itu masih bergumul.” desis orang yang membawa laki-laki tua itu menepi.
“Ya” sahut laki-laki itu. “Ternyata darah ular itu telah memancing pergulatan yang tidak menentu di antara binatang-binatang air itu.”
“Pergumulan itu akan berlangsung lama. Semakin lama semakin banyak. Tetapi akhirnya mereka akan berhenti dengan sendirinya apabila sebagian terbesar dari mereka telah menjadi luka-luka dan lari meninggalkan pergumulan itu. Hanya ular-ular hitamlah yang biasanya paling betah berkelahi. Tidak untuk mangsa, tetapi hanya sekedar melepaskan nafsu menyerangnya saja.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan dada yang masih berdebar-debar dipandanginya air yang masih saja bergolak, meskipun tidak begitu jelas lagi. Tetapi tiba-tiba ia berpaling memandangi orang yang telah membawanya menepi, katanya
“Apakah yang kau katakan tadi? Kau minta Empu Gandring mengurungkan niatnya untuk menolong kemanakannya? Dan kau sekarang juga akan berbuat serupa kepadaku?”
“Ya Empu.” jawab orang itu.
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia masih juga memandang kearah buaya-buaya. kerdil yang saling berkelahi dengan binatang-binatang air yang liar lainnya.
“Kau aneh.” kemudian laki-laki tua itu berkata, “kalau demikian apakah kau ingin melihat Mahisa Agni itu mati perlahan-lahan, di sarang Kebo Sindet? Kau halangi orang yang akan menolongnya, tetapi kau sendiri tidak berbuat apa-apa. Padahal agaknya kau sudah mengenal jalan di dalam rawa-rawa ini seperti juga Kebo Sindet mengenalnya.”
“Ya, aku memang sudah mengenal jalan-jalan di dalam air itu. Di sini ada tiga jalan yang dapat ditempuh. Jarak dari ketiganya itu tidak terlampau jauh. Di sini, ditempat Kebo Sindet tadi masuk, kemudian kira-kira limapuluh langkah dari sini, dan yang lain kira-kira dalam jarak yang sama sebelah lain. Jalan ini adalah jalan yang tengah.”
“Ah, kau malah berceritera tentang jalan menuju kesarang itu.” sahut laki-laki tua, “kenapa kau tidak mengantarkan saja Empu Gandring kesana?”
Orang itu menggeleng. “Aku tidak dapat melakukannya, supaya Mahisa Agni tidak dibunuhnya. Kalau Kebo Sindet melihat seorang dari kita datang kepadanya, mungkin Empu Gandring, mungkin kau dan mungkin aku, maka yang pertama-tama dilakukan sebelum melawan salah seorang dari kita adalah membunuh Mahisa Agni, atau ia memerintahkan kepada Kuda Sempana untuk membunuhnya selama ia melayani salah seorang dari kita.”
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kalau begitu kita pergi berdua. Seharusnya sudah kau lakukan bersama-sama dengan Empu Gandring. Salah seorang dari kita melawan Kebo Sindet, yang lain berusaha menolong Mahisa Agni. Kalau perlu membinasakan Kuda Sempana.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar