“Itu pun berbahaya. Apalagi kalau Kebo Sindet melihat dua orang datang bersama-sama. Segera ia akan mencekik Mahisa Agni sampai mati, atau berbuat hal-hal diluar dugaan. Mungkin ia menyeret Mahisa Agni ke hadapan kita dan mengancam akan membunuhnya. Sementara itu ia minta kita untuk menyelam ke dalam lumpur.”
“Apakah kita akan bersedia untuk melakukan?”
“Ah, sudah tentu kita akan dapat meloncat menepi dan membunuh Kebo Sindet itu. Kita berdua pasti mampu melakukan. Tetapi Mahisa Agni pun pasti sudah menjadi bangkai.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sambil memutar tubuhnya ia berkata, “Aku menganggap kau orang aneh. Kau mengenal jalan-jalan di dalam rawa-rawa ini. Kau pasti pernah melihat Kebo Sindet pergi meninggalkan sarangnya. Nah, kenapa kau tidak masuk ke dalamnya pada saat-saat Kebo Sindet itu pergi, dan menyelamatkan Mahisa Agni? Kalau Mahisa Agni itu sudah lepas dari tangan Kebo Sindet, maka kau pasti akan dapat berbuat sekehendakmu atasnya. Menantangnya berkelahi sampai salah seorang dari kalian mati. Kau atau Kebo Sindet.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan kesan apa pun juga. Suaranya masih juga bernada datar. Tanpa ragu-ragu orang itu berkata,
“Ya. Kalau aku mau aku akan dapat melakukannya.”
“Kenapa tidak kau lakukan hal itu?”
“Aku mempunyai pertimbangan lain.”
“Pertimbangan apa”?
Orang itu tidak segera menjawab. Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh ketengah-tengah rawa-rawa itu. Sekali-sekali dipandanginya sulur-sulur yang bergayutan pada cabang-cabang pepohonan berjuntai dan menyentuh wajah air yang keruh, dan sekali sekali dipandanginya binatang-binatang air yang masih saja bergulat meskipun sudah agak berkurang.
“Bagaimanakah pertimbanganmu?” desak laki-laki tua itu.
Orang itu tidak segera menjawab. Matanya yang cekung masih juga menatap jauh ke tengah-tengah rawa-rawa itu. Tiba-tiba ia berkata, “Jauh ke sanalah, sarang Kebo Sindet itu.”
“Kenapa kau tidak pergi kesana?”
Orang itu menggeleng. “Tidak. Aku sedang melakukan rencanaku sendiri.”
“Aneh,” laki-laki tua itu berdesis, “kau memang orang aneh bagiku. Aku belum mengenal tabiatmu sebaik-baiknya, seperti kau belum mengenal aku pula. Mungkin kau masih juga menaruh curiga. Atau malahan kau ingin berbuat atasku, tetapi kau mencari jalan yang berputar-putar.”
“Tidak.” sahut orang tua itu, “aku sudah yakin bahwa kau akan pergi menolong Mahisa Agni.”
“Kalau yang berbicara dengan aku sekarang ini bukan kau, maka aku pasti tidak akan percaya bahwa kau benar-benar bermaksud baik terhadap Mahisa Agni,” jawab laki-laki tua itu. “Aku tidak melihat tanda-tanda, bahwa kau bersungguh sungguh ingin melepaskannya dari tangan Kebo Sindet. Seandainya Empu Gandring pada saat ini ada juga di sini, maka ia pasti akan berpendirian sama seperti aku.”
“Kau salah mengerti.”
“Tidak. Aku tidak salah mengerti. Aku memang sama sekali tidak mengerti maksudmu dan caramu.”
“Serahkan kepadaku. Tinggalkanlah tempat ini. Aku akan menyelesaikan sesuai dengan rencanaku.”
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kau benar-benar membuat aku heran. Barangkali akan lebih baik apabila aku menunggu di sini. Kalau Kebo Sindet itu keluar, kita bunuh bersama-sama. Kita akan dapat melepaskan Mahisa Agni tanpa membahayakan jiwanya.”
Orang itu tidak segera menjawab. Kerut-merut dahinya membayangkan suatu pergolakan di dalam dadanya. Sejenak kemudian, perlahan-lahan ia menjawab, “Hal itu memang mungkin kita lakukan Empu, tetapi aku tidak akan puas. Meskipun Kebo Sindet akan terbunuh, namun kematiannya tidak akan menumbuhkan persoalan di dalam dirinya. Disaat-saat ia menghadapi maut karena kita berdua bersama-sama melawannya, ia tidak akan heran, bahwa akhirnya ia harus mati. Tetapi aku tidak ingin berbuat demikian. Aku akan membuatnya menjadi bingung dan tidak dapat mengerti apa yang terjadi.”
Laki-laki tua itu masih menggelengkan kepalanya, “Aku pun tidak mengerti. Kalau kau ingin membuat Kebo Sindet bingung, maka yang pertama-tama menjadi bingung adalah aku.”
“Selain hal-hal yang membingungkan kau Empu,” orang itu telah menyambung, “aku pun sudah mematerikan suatu keinginan di dalam hatimu, bahwa tanganku sudah tidak pantas lagi untuk diwarnai dengan darah. Seumurku dan seumurmu Empu, sebaiknya sudah tidak menambah dosa lagi.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Sebenarnya aku pun berkeinginan untuk berbuat demikian. Tetapi kali ini aku berada dalam keadaan yang khusus. Aku akan merasa berdosa dan menambah dosaku yang telah bertimbun-timbun itu apabila aku tidak berbuat sesuatu untuk melepaskan Mahisa Agni dari tangan iblis-iblis dari Kemundungan.”
“Kau telah melakukannya.” sahut orang itu, “kau sudah terlepas dari segala akibat yang timbul dari keadaan Mahisa Agni yang bagaimanapun juga. Aku sudah mengambil keputusan bahwa aku akan membebaskan dengan caraku.”
“Hem,” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam, “aku benar-benar bingung dan tidak mengerti. Apakah kau sudah kerasukan roh jahat dari Wong Sarimpat.”
Orang itu mengernyitkan alisnya. “Ah,” desahnya, “apakah kau tidak percaya kepadaku.”
“Seharusnya aku percaya. Terlampau percaya. Tetapi sikapmu meragukan aku. Atau, apakah kau sedang memperolok-olokkan aku?”
“Tidak, aku berkata sebenarnya.”
Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak masuk di-akalku.”
“Jangan kau peningkan kepalamu karena persoalanku dengan anak itu, Empu. Sebaiknya kau kembali, beristirahat dan mensucikan diri.”
Laki-laki itu masih berdiam diri sejenak. Tetapi tiba-tiba ia menggeleng. “Tidak. Aku akan pergi ke sarang iblis itu untuk membebaskan Mahisa Agni. Kalau kau tidak mau mengotori tanganmu dengan darah, maka biarlah aku sendiri yang melakukan. Aku hanya minta kau menunjukkan jalan.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Jangan Empu. Tinggalkan saja tempat ini. Empu Gandring pun bersedia berbuat demikian. Kenapa kau tidak?”
“Empu Gandring pada saat itu tidak dapat meragukanmu. Pada saat itu semuanya baru saja terjadi. Tetapi kini beberapa waktu telah lampau, dan Mahisa Agni masih saja belum terbebaskan. Apakah aku masih dapat mempercayaimu? Setidak-tidaknya aku mencurigai kemampuanmu, seandainya kau benar-benar ingin melepaskannya dari tangan Kebo Sindet. Yang tidak masuk diakalku adalah, karena kau menolak bekerja bersama dengan aku untuk kepentingan Mahisa Agni itu.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kerut merut di wajahnya seakan-akan menjadi semakin dalam. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis.
“Aku dapat mengerti seandainya kau menjadi ragu-ragu Empu. Tetapi aku tidak dapat berbuat lain.”
“Kalau kau bersedia, aku ingin membantumu. Atau kau membantuku seandainya kau tidak mau lagi mengotori dirimu dengan dosa-dosa baru. Sebab bagiku, apa yang aku lakukan ini justru untuk mencegah atau setidak-tidaknya mengurangi dosa-dosa baru yang akan terpaksa terjadi karena dosa-dosaku yang telah bertumpuk itu.”
Orang itu tidak segera menjawab. Direnunginya rawa-rawa yang kini telah menjadi semakin jelas terhampar dimuka kaki mereka. Pedut semakin tipis-tipis kini telah lenyap disapu oleh angin yang semakin keras berhembus dari dalam hutan.
“Empu, apakah kau sudah tidak mempunyai tanggungan apa pun lagi?”
Laki-laki tua itu berpaling. Wajahnya yang keheran-heranan itu tampak berkerut-merut. “Apakah maksudmu?” laki-laki tua itu bertanya.
“Apakah kau sudah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban lagi di padepokanmu, misalnya menyiapkan murid-muridmu atau kewajiban apa pun lagi?”
“Aku tidak tahu maksudmu. Tetapi aku kira aku sudah tidak mempunyai tanggungan dan kewajiban apa pun lagi selain melepaskan Mahisa Agni.”
“Tidak ada lagi muridmu yang memerlukan bimbinganmu.”
Laki-laki tua itu menggeleng. Tetapi ia bertanya, “Apakah maksudmu bahwa aku pasti akan mati di tengah rawa-rawa itu”.
“Tidak. Kau selalu salah paham.”
“Lalu?”
“Aku tidak dapat menolak keinginan baikmu menolong aku melepaskan Mahisa Agni. Tetapi itu memerlukan waktu yang lama, Karena itu aku tidak dapat minta kepada Empu Gandring untuk melakukannya, sebab ia mempunyai anak isteri tanggungan dan kewajiban. Tetapi seandainya kau bersedia, maka aku akan berterima kasih sekali kepadamu.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Tinggal di sini bersama aku. Tidak terbatas waktu, sampai. Mahisa Agni dapat terlepas dari tangan Kebo Sindet dengan caraku.”
Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Kerut merut di keningnya menjadi semakin dalam. Berbagai pertimbangan berkecamuk di dalam dadanya. Namun, kemudian laki-laki tua itu terlempar ke dalam suatu keinginan untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang itu. Cara yang akan dipakainya untuk melepaskan Mahisa Agni. Sekilas ia ingin bertanya, cara apa yang akan ditempuhnya, tetapi agaknya orang itu, merasa bahwa saatnya belum tiba untuk menyebutkannya.
“Bagaimana?” terdengar orang itu bertanya, “apakah kau dapat menyediakan waktu yang tidak terbatas itu.”
Laki-laki tua itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun keinginannya untuk mengetahui apa yang akan terjadi mendesaknya, sehingga ia berkata, “Sebenarnya aku tidak tahu apakah yang akan kau lakukan itu menguntungkan Mahisa Agni. Tetapi aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Karena itu, maka biarlah aku tinggal di sini bersamamu. Aku tidak berkeberatan seandainya tiba-tiba saja kau membunuhku untuk melepaskan dendam hatimu.”
“Hem.” orang itu menarik nafas dalam, “kau masih juga berprasangka. Kalau aku ingin membunuh dengan curang, maka yang pertama-pertama aku bunuh sambil bersembunyi adalah Kebo Sindet. Mungkin aku dapat mengintainya dan dengan diam-diam aku melontarnya dengan sebilah pisau. Dengan tangan kiri kepunggung Kuda Sempana, dan dengan tangan kanan kepunggung Kebo Sindet. Seandainya Kebo Sindet tidak mati seketika itu, tetapi tenaganya pasti sudah separo surut, sedang Kuda Sempana pasti tidak usah mengulangi untuk yang kedua kalinya.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak menyangkal bahwa hal yang demikian itu dapat terjadi. Ia yakin, seandainya orang itu ingin, maka pasti dapat dilakukannya.
Karena itu maka jawabnya, “Baiklah, aku tinggal di sini. Aku masih mempunyai sisa-sisa kepercayaan kepadamu.”
“Terserahlah, tetapi apabila kau bersedia tinggal di sini, aku akan sangat berterima kasih. Tetapi kau harus menahan nafsumu. Betapapun mengendap hati dan nalarmu, tetapi sifat-sifatmu masih saja tumbuh setiap saat. Karena itu, kau harus bersabar. Terlampau sabar untuk melakukan pekerjaan ini.”
Laki-laki tua itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku akan mencobanya.”
“Mudah-mudahan kau berhasil. Kalau kau dicengkam oleh nafsumu maka semuanya akan gagal.”
“Mudah-mudahan.” desis laki-laki tua itu.
“Kalau begitu, marilah kita menepi. Jalan ini adalah jalan yang sering dilalui oleh Kebo Sindet dan Kuda Sempana.”
“Baru saja ia masuk ke dalam sarangnya.”
“Tetapi mereka tidak kerasan berada di rumah mereka. Paling lama mereka berada di sana satu hari satu malam. Kemudian mereka pergi lagi untuk dua tiga hari.”
“Kemana saja mereka itu pergi?”
Orang itu menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi adalah kebiasaan Kebo Sindet untuk berjalan dari lorong kelorong, dari padesan ke padesan. Dari rumah ke rumah. Ia adalah seorang raja yang tidak bermahkota. Tak seorang pun yang berani menentang kebendaknya.”
“Dan kau lebih baik tidur saja selama ini.”
“Sudah aku katakan. Ikutlah aku berbuat sesuatu.”
Laki-laki tua itu terdiam. Dan sejenak mereka saling berdiam diri, sehingga desir angin di dedaunan terdengar semakin nyata di antara gemersik sayap burung-burung liar yang berkeliaran di pepohonan.
“Mari kita menepi.”
“Dimana kau tinggal selama ini?”
“Dimana-mana. Diantara pepohonan dan gerumbu-gerumbu liar itu. Tetapi aku kadang-kadang berada di lereng-lereng bukit kecil itu.”
“Bagaimana kalau tanah itu longsor?”
“Akibatnya sudah pasti. Aku mati tertimbun di bawahnya.”
Laki-laki tua itu bertanya lagi. Keduanya berjalan dan menyelinap di belakang gerumbul-gerumbul liar. Mereka kemudian berhenti di sebuah ereng-ereng padas dari sebuah gumuk kecil.
“Di sini aku berteduh bila hujan turun.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keningnya kemudian tampak berkerut merut. Dilihatnya di dalam ereng-ereng itu berbagai macam benda yang semula tidak dikenalnya. Sulur-sulur kayu, kepingan batu-batu kecil dan gulung tali tersangkut di pinggiran ereng-ereng itu.
“Hem.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Ternyata kau masih juga tekun. Ilmu apa lagi yang akan kau lahirkan di sini?”
Orang itu menggeleng. “Aku hanya membiasakan diri mempergunakan alat-alat yang dapat aku temui di sini.”
“Apakah kau sedang menciptakan suatu tata gerak dari sebuah ilmu yang akan kau persiapkan untuk membunuh Kebo Sindet. Itu adalah lucu sekali. Sekarang juga kau tidak akan dapat dikalahkan, meskipun kau tidak juga yakin akan mengalahkannya. Kalau kau memerlukan waktu terlalu lama dengan sebuah ilmu baru, maka Mahisa Agni pasti sudah menjadi makanan buaya-buaya kerdil.”
Orang itu menggeleng. “Kau salah. Mahisa Agni tidak akan dibunuhnya. Anak itu akan dijual oleh Kebo Sindet kepada permaisuri Tunggul Ametung itu.”
Laki-laki itu sekali lagi terdiam. Namun pandangan Matanya beredar ke tempat-tempat di sekitarnya. Batu-batu yang pecah berhamburan. Batang-batang kayu yang patah. Dan yang paling menarik baginya adalah batu-batu kecil yang masuk membenam ke dalam batang-batang kayu. Sambil menarik nafas ia bergumam.
“Kau telah menemukan ilmu lemparan yang tiada taranya. Kau dapat membenamkan batu-batu kecil itu ke dalam tubuh batang-batang kayu sedemikian dalamnya.”
Orang itu menggeleng. “Tidak terlampau aneh. Kita sudah mengenal bandil sejak bertahun-tahun sebelumnya.”
“Tetapi dengan bandil batu-batu itu tidak akan dapat membenam sekian dalam.”
Orang itu memandangi laki-laki tua itu dengan herannya. Sejenak ia tidak menyahut. Namun kemudian sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Kau memang orang aneh. Seolah-olah kau adalah anak kemarin sore yang kagum melihat tupai berloncat-loncatan di dahan-dahan.”
“Tidak, tetapi kau memang dahsyat.”
Laki-laki itu kemudian berdiri. Melangkah perlahan-lahan mengamat-amati beberapa lubang bekas lemparan. Bahkan kemudian ia mengangguk-angguk sambil bergumam,
“Luar biasa. Dahan-dahan kecil ini tidak saja dibenami oleh kerikil-kerikil yang kau lemparkan, tetapi dahan-dahan kecil ini berlubang tembus karenanya.”
“Ah.” sahut orang itu, “jangan terlampau memuji. Aku kira bagimu hal itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Marilah, Empu duduklah di sini. Kita berbicara sebagai orang tua-tua yang tidak lagi terlampau banyak menghiraukan masalah-masalah lahiriah.”
“Aneh. Kau sendiri masih mesu diri, memperdalam ilmu-ilmu kanuragan. Tetapi kau berkata, bahwa kita tidak perlu lagi terlampau banyak menghiraukan masalah-masalah lahiriah.”
“Aku tidak menyadap ilmu itu untuk kepentingan sendiri.”
“Ya, untuk orang lain, untuk muridmu misalnya. Tetapi dengan demikian bukankah kau ingin mendapat kelangsungan dari masalah-masalah lahiriah yang kau tekuni ini.”
“Ya.” orang itu termenung sejenak. Perlahan-lahan ia menjawab, “Itulah keringkihan jiwa manusia. Manusia selalu dibayangi oleh nafsu-nafsu lahiriah, meskipun aku telah mencoba mengasingkan diriku, tetapi aku pun masih juga diburu oleh nafsu yang tidak akan dapat dipadamkan dengan kekuatanku sendiri, kecuali —- tidak jelas —- Maha Agung. Dan aku berdoa —- tidak jelas —- dari nafsu yang demikian.” (ada bagian lontar yang sobek).
“Tetapi.” laki-laki itu menyahut, “kau ingin menurunkan ilmu ini kepada orang lain. Bukankah begitu.”
Orang itu kemudian memandangi bintik-bintik di kejauhan dengan sinar matanya yang buram. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya.”
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “itu adalah sifat manusiawi. Tetapi aku kira kau memiliki cita-cita yang lebih bening dari pada aku. Aku kira kau masih juga memikirkan kebenaran dan keadilan, meskipun tidak seorang pun yang dapat melihatnya dengan sempurna.”
“Setiap mulut yang menyebut kebenaran dan keadilan tidak akan dapat dilepaskan dari kepentingan pribadi. Aku pun tidak dapat melepaskannya pula. Kebenaran dan keadilan yang menguntungkan diriku sendiri.”
“Tetapi ada nilai-nilai yang umum dari kebenaran dan keadilan. Nilai-nilai yang sewajarnya menurut penilaian manusia yang picik betapapun juga ilmunya bertimbun di dalam diri. Dan penilaian itulah yang sejauh-jauhnya kita pergunakan.”
“Nilai-nilai manusiawi yang goyah,” sahut orang itu, “kalau saja kita dapat berpegangan kepada nilai-nilai yang abadi.”
“Nilai-nilai yang tidak dapat digayuh oleh kekuatan manusia.”
“Setidak-tidaknya kita berusaha. Tetapi kita memang harus menyadari, bahwa tidak ada seorang pun, ya tidak seorang pun yang dapat melihat nilai-nilai yang sempurna dari kebenaran dan keadilan itu. Meskipun demikian, kita berusaha untuk menemukannya. Kita harus bersandar diri kepada budi yang bening. Bukan datang dari kebijaksanaan kita sendiri, tetapi hanya dapat ada pada diri kita apabila kita mendapat kemurahan dari Yang Maha Agung.” Orang itu berhenti sejenak sedangkan laki-laki tua yang berdiri beberapa langkah daripadanya itu memperhatikannya dengan sungguh-sungguh
“Kau telah …. tidak jelas …. yang kuat disaat-saat umurmu semakin …. tidak jelas …. rti apa yang kau katakan” (ada bagian lontar yang sobek)
“Kau akan mengerti. Kemarilah. Duduklah di sini. Aku dapat merebus air buat menghangatkan tubuh kita, Empu.”
“Ya.” laki-laki itu memutar tubuhnya dan berjalan mendekati orang yang masih saja duduk di pereng gumuk padas.
“Salah satu dari kebodohanku adalah, bahwa aku lebih tertarik pada kedahsyatan permainan kerikil dari pada nilai-nilai yang kau katakan.”
“Jangan cemas. Aku pun masih juga lebih banyak berbuat demikian. Sudah aku katakan. Marilah kita memohon, agar kepada kita diturunkannya budi bening dan mulus-mulus, supaya kita dapat melihat jalan yang paling bersih yang harus kita tempuh.”
“Hem.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam, “sekali lagi aku mengagumi nilai kanuraganmu. Kau agaknya telah berhasil meletakkan dasar dari ilmumu yang baru.”
“Ah, kau selalu kembali kepada hal itu juga.”
“Apakah kau mempunyai nama buat ilmumu yang baru?”
“Sama sekali bukan baru. Kau pun akan dapat melakukannya. Kita tinggal menyalurkan-menyalurkan kekuatan yang telah kita miliki untuk mendasari lontaran batu itu.”
“Aku mengerti. Tetapi menilik bekas-bekasnya, kau dapat melempar lebih dari satu batu. Bahkan lebih dari lima batu sekaligus dan mengenai sasaran yang kau kehendaki.”
“Permainan kanak-kanak. Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang yang lain. Tentang sepasang pedangmu misalnya. Apakah itu juga sejenis ilmu yang baru. Sepanjang umurmu kau tidak pernah membawa pedang. Apalagi berpasangan.”
“Aku akan berhadapan dengan iblis Kemundungan. Aku sudah berniat bertempur sampai salah seorang dari kami mati. Itulah sebabnya aku membawa senjata rangkap. Seandainya tanganku ada tiga, maka aku pun pasti membawa tiga pucuk senjata.”
Orang yang diajaknya berbicara tersenyum. Jawabnya, “Kenapa tidak kau pasang tanduk sama sekali dikepalamu, taji dikaki dan siku tanganmu, Empu.”
Laki-laki tua itu pun tersenyum pula. Katanya, “Aku bersungguh-sungguh ingin membunuh Kebo Sindet.”
“Dimana senjatamu, ciri kebesaran namamu selama ini?”
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab pertanyaan itu. Sejenak kedua orang tua-tua itu terdiam. Tetapi laki-laki tua berpedang itu tidak henti-hentinya mengherani kerikil-kerikil yang membenam ke dalam batang-batang kayu. Maka katanya kemudian,
“Pedang, tombak atau apa pun adalah senjata-senjata yang paling umum dipakai. Tetapi ketepatan membidik adalah kekhususan. Mungkin aku juga dapat melontarkan batu dengan kekuatan seperti yang kau lakukan. Tetapi aku tidak mempelajari sifat-sifat dari cara yang demikian. Sehingga aku pasti tidak akan setangkas dan secepat kau melakukannya, apalagi ketepatan membidik sekaligus untuk lima sampai sepuluh butir kerikil.”
“Ah.” lawannya berbicara menyahut, “kau yakin bahwa aku dapat berbuat demikian.”
“Pengamatanku biasanya tidak berbohong. Apalagi menilik kebesaran namamu.”
“Kau memuji.”
“Tidak.” sejenak orang itu terdiam, “apakah kau mau mencobanya sekali saja supaya aku yakin.”
“Tidak perlu.”
“Aku perlu meyakinkan pengamatanku.”
“Kalau kau tidak yakin sekalipun, aku tidak berkeberatan.”
“Apakah ilmumu itu kau rahasiakan.” Orang itu terdiam. “Berilah aku kesempatan melihat ilmumu. Kalau kau tidak menyebutnya sebagai suatu cabang ilmu tata bela diri, katakanlah permainan batu-batu kerikilmu.”
Orang itu menggeleng. “Tidak perlu.”
“Jangan seperti laki-laki cengeng,” berkata laki-laki tua itu, “kita sudah sama-sama tua. Dan bukankah kita sudah saling berjanji untuk bersama-sama melepaskan Mahisa Agni?”
“Kelak kau akan melihatnya, tetapi tidak perlu dengan khusus aku perlihatkan kepadamu. Hanya anak-anak muda yang masih mengagumi dirinya sendiri akan berbuat demikian.”
Laki-laki itu tidak memaksanya lagi. Ia tahu bahwa orang itu telah melatih dirinya dalam kecepatan melepaskan batu-batu dengan tenaga lontaran yang dahsyat. Tetapi agaknya bukan itu saja. Ia melihat sulur-sulur di dalam pereng itu. Agaknya ia telah melatih diri dalam berbagai macam penggunaan senjata yang dapat diketemukannya di dalam hutan itu.
Ternyata orang itu dapat melihat perasaannya menilik sikapnya. Maka katanya, “Apakah kau heran melihat benda-benda itu di sini? Kalau demikian kau seperti aku pula yang heran melihat pedang-pedang itu di lambungmu. Kau belum menjawab pertanyaanku, dimana senjatamu itu.”
“Aku kini membawa pedang.” jawab laki-laki itu, “Tetapi sebaliknya, kau mencoba mempergunakan senjata-senjata yang kau ketemukan di sekitar tempat ini. Kau Ternyata tidak lagi mempergunakan senjata-senjata yang biasa dipakai orang.”
“Kau menghindari pertanyaanku Empu. Dimana senjatamu itu.”
Laki-laki tua itu termenung sejenak. Dipandanginya pepohonan di sekitarnya. Hutan ini memang tidak begitu lebat, tetapi pepohonan raksasa tumbuh pula satu-satu di sana-sini.
“Kau berkeberatan untuk mengatakannya? Tetapi aku sudah melihat bahwa kau membawa sepasang pedang, besar dan agak kecil.”
Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia berdesis lambat sekali. “Senjataku telah patah.”
“He.” orang itu mengerutkan keningnya, “bertahun-tahun kau mempergunakannya. Kenapa tiba-tiba saja patah?”
“Tidak. Senjataku yang bertahun-tahun ikut dalam petualanganku yang jahat itu tidak patah. Senjata itu harus berpisah dengan aku. Kalau senjataku itu masih tersentuh nafasku, maka aku kira masih akan datang petualangan itu berulang. Senjata itu telah aku berikan kepada muridku.”
“Apakah kita akan bersedia untuk melakukan?”
“Ah, sudah tentu kita akan dapat meloncat menepi dan membunuh Kebo Sindet itu. Kita berdua pasti mampu melakukan. Tetapi Mahisa Agni pun pasti sudah menjadi bangkai.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sambil memutar tubuhnya ia berkata, “Aku menganggap kau orang aneh. Kau mengenal jalan-jalan di dalam rawa-rawa ini. Kau pasti pernah melihat Kebo Sindet pergi meninggalkan sarangnya. Nah, kenapa kau tidak masuk ke dalamnya pada saat-saat Kebo Sindet itu pergi, dan menyelamatkan Mahisa Agni? Kalau Mahisa Agni itu sudah lepas dari tangan Kebo Sindet, maka kau pasti akan dapat berbuat sekehendakmu atasnya. Menantangnya berkelahi sampai salah seorang dari kalian mati. Kau atau Kebo Sindet.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan kesan apa pun juga. Suaranya masih juga bernada datar. Tanpa ragu-ragu orang itu berkata,
“Ya. Kalau aku mau aku akan dapat melakukannya.”
“Kenapa tidak kau lakukan hal itu?”
“Aku mempunyai pertimbangan lain.”
“Pertimbangan apa”?
Orang itu tidak segera menjawab. Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh ketengah-tengah rawa-rawa itu. Sekali-sekali dipandanginya sulur-sulur yang bergayutan pada cabang-cabang pepohonan berjuntai dan menyentuh wajah air yang keruh, dan sekali sekali dipandanginya binatang-binatang air yang masih saja bergulat meskipun sudah agak berkurang.
“Bagaimanakah pertimbanganmu?” desak laki-laki tua itu.
Orang itu tidak segera menjawab. Matanya yang cekung masih juga menatap jauh ke tengah-tengah rawa-rawa itu. Tiba-tiba ia berkata, “Jauh ke sanalah, sarang Kebo Sindet itu.”
“Kenapa kau tidak pergi kesana?”
Orang itu menggeleng. “Tidak. Aku sedang melakukan rencanaku sendiri.”
“Aneh,” laki-laki tua itu berdesis, “kau memang orang aneh bagiku. Aku belum mengenal tabiatmu sebaik-baiknya, seperti kau belum mengenal aku pula. Mungkin kau masih juga menaruh curiga. Atau malahan kau ingin berbuat atasku, tetapi kau mencari jalan yang berputar-putar.”
“Tidak.” sahut orang tua itu, “aku sudah yakin bahwa kau akan pergi menolong Mahisa Agni.”
“Kalau yang berbicara dengan aku sekarang ini bukan kau, maka aku pasti tidak akan percaya bahwa kau benar-benar bermaksud baik terhadap Mahisa Agni,” jawab laki-laki tua itu. “Aku tidak melihat tanda-tanda, bahwa kau bersungguh sungguh ingin melepaskannya dari tangan Kebo Sindet. Seandainya Empu Gandring pada saat ini ada juga di sini, maka ia pasti akan berpendirian sama seperti aku.”
“Kau salah mengerti.”
“Tidak. Aku tidak salah mengerti. Aku memang sama sekali tidak mengerti maksudmu dan caramu.”
“Serahkan kepadaku. Tinggalkanlah tempat ini. Aku akan menyelesaikan sesuai dengan rencanaku.”
Laki-laki tua itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kau benar-benar membuat aku heran. Barangkali akan lebih baik apabila aku menunggu di sini. Kalau Kebo Sindet itu keluar, kita bunuh bersama-sama. Kita akan dapat melepaskan Mahisa Agni tanpa membahayakan jiwanya.”
Orang itu tidak segera menjawab. Kerut-merut dahinya membayangkan suatu pergolakan di dalam dadanya. Sejenak kemudian, perlahan-lahan ia menjawab, “Hal itu memang mungkin kita lakukan Empu, tetapi aku tidak akan puas. Meskipun Kebo Sindet akan terbunuh, namun kematiannya tidak akan menumbuhkan persoalan di dalam dirinya. Disaat-saat ia menghadapi maut karena kita berdua bersama-sama melawannya, ia tidak akan heran, bahwa akhirnya ia harus mati. Tetapi aku tidak ingin berbuat demikian. Aku akan membuatnya menjadi bingung dan tidak dapat mengerti apa yang terjadi.”
Laki-laki tua itu masih menggelengkan kepalanya, “Aku pun tidak mengerti. Kalau kau ingin membuat Kebo Sindet bingung, maka yang pertama-tama menjadi bingung adalah aku.”
“Selain hal-hal yang membingungkan kau Empu,” orang itu telah menyambung, “aku pun sudah mematerikan suatu keinginan di dalam hatimu, bahwa tanganku sudah tidak pantas lagi untuk diwarnai dengan darah. Seumurku dan seumurmu Empu, sebaiknya sudah tidak menambah dosa lagi.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Sebenarnya aku pun berkeinginan untuk berbuat demikian. Tetapi kali ini aku berada dalam keadaan yang khusus. Aku akan merasa berdosa dan menambah dosaku yang telah bertimbun-timbun itu apabila aku tidak berbuat sesuatu untuk melepaskan Mahisa Agni dari tangan iblis-iblis dari Kemundungan.”
“Kau telah melakukannya.” sahut orang itu, “kau sudah terlepas dari segala akibat yang timbul dari keadaan Mahisa Agni yang bagaimanapun juga. Aku sudah mengambil keputusan bahwa aku akan membebaskan dengan caraku.”
“Hem,” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam, “aku benar-benar bingung dan tidak mengerti. Apakah kau sudah kerasukan roh jahat dari Wong Sarimpat.”
Orang itu mengernyitkan alisnya. “Ah,” desahnya, “apakah kau tidak percaya kepadaku.”
“Seharusnya aku percaya. Terlampau percaya. Tetapi sikapmu meragukan aku. Atau, apakah kau sedang memperolok-olokkan aku?”
“Tidak, aku berkata sebenarnya.”
Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak masuk di-akalku.”
“Jangan kau peningkan kepalamu karena persoalanku dengan anak itu, Empu. Sebaiknya kau kembali, beristirahat dan mensucikan diri.”
Laki-laki itu masih berdiam diri sejenak. Tetapi tiba-tiba ia menggeleng. “Tidak. Aku akan pergi ke sarang iblis itu untuk membebaskan Mahisa Agni. Kalau kau tidak mau mengotori tanganmu dengan darah, maka biarlah aku sendiri yang melakukan. Aku hanya minta kau menunjukkan jalan.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Jangan Empu. Tinggalkan saja tempat ini. Empu Gandring pun bersedia berbuat demikian. Kenapa kau tidak?”
“Empu Gandring pada saat itu tidak dapat meragukanmu. Pada saat itu semuanya baru saja terjadi. Tetapi kini beberapa waktu telah lampau, dan Mahisa Agni masih saja belum terbebaskan. Apakah aku masih dapat mempercayaimu? Setidak-tidaknya aku mencurigai kemampuanmu, seandainya kau benar-benar ingin melepaskannya dari tangan Kebo Sindet. Yang tidak masuk diakalku adalah, karena kau menolak bekerja bersama dengan aku untuk kepentingan Mahisa Agni itu.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kerut merut di wajahnya seakan-akan menjadi semakin dalam. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis.
“Aku dapat mengerti seandainya kau menjadi ragu-ragu Empu. Tetapi aku tidak dapat berbuat lain.”
“Kalau kau bersedia, aku ingin membantumu. Atau kau membantuku seandainya kau tidak mau lagi mengotori dirimu dengan dosa-dosa baru. Sebab bagiku, apa yang aku lakukan ini justru untuk mencegah atau setidak-tidaknya mengurangi dosa-dosa baru yang akan terpaksa terjadi karena dosa-dosaku yang telah bertumpuk itu.”
Orang itu tidak segera menjawab. Direnunginya rawa-rawa yang kini telah menjadi semakin jelas terhampar dimuka kaki mereka. Pedut semakin tipis-tipis kini telah lenyap disapu oleh angin yang semakin keras berhembus dari dalam hutan.
“Empu, apakah kau sudah tidak mempunyai tanggungan apa pun lagi?”
Laki-laki tua itu berpaling. Wajahnya yang keheran-heranan itu tampak berkerut-merut. “Apakah maksudmu?” laki-laki tua itu bertanya.
“Apakah kau sudah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban lagi di padepokanmu, misalnya menyiapkan murid-muridmu atau kewajiban apa pun lagi?”
“Aku tidak tahu maksudmu. Tetapi aku kira aku sudah tidak mempunyai tanggungan dan kewajiban apa pun lagi selain melepaskan Mahisa Agni.”
“Tidak ada lagi muridmu yang memerlukan bimbinganmu.”
Laki-laki tua itu menggeleng. Tetapi ia bertanya, “Apakah maksudmu bahwa aku pasti akan mati di tengah rawa-rawa itu”.
“Tidak. Kau selalu salah paham.”
“Lalu?”
“Aku tidak dapat menolak keinginan baikmu menolong aku melepaskan Mahisa Agni. Tetapi itu memerlukan waktu yang lama, Karena itu aku tidak dapat minta kepada Empu Gandring untuk melakukannya, sebab ia mempunyai anak isteri tanggungan dan kewajiban. Tetapi seandainya kau bersedia, maka aku akan berterima kasih sekali kepadamu.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Tinggal di sini bersama aku. Tidak terbatas waktu, sampai. Mahisa Agni dapat terlepas dari tangan Kebo Sindet dengan caraku.”
Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Kerut merut di keningnya menjadi semakin dalam. Berbagai pertimbangan berkecamuk di dalam dadanya. Namun, kemudian laki-laki tua itu terlempar ke dalam suatu keinginan untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang itu. Cara yang akan dipakainya untuk melepaskan Mahisa Agni. Sekilas ia ingin bertanya, cara apa yang akan ditempuhnya, tetapi agaknya orang itu, merasa bahwa saatnya belum tiba untuk menyebutkannya.
“Bagaimana?” terdengar orang itu bertanya, “apakah kau dapat menyediakan waktu yang tidak terbatas itu.”
Laki-laki tua itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun keinginannya untuk mengetahui apa yang akan terjadi mendesaknya, sehingga ia berkata, “Sebenarnya aku tidak tahu apakah yang akan kau lakukan itu menguntungkan Mahisa Agni. Tetapi aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Karena itu, maka biarlah aku tinggal di sini bersamamu. Aku tidak berkeberatan seandainya tiba-tiba saja kau membunuhku untuk melepaskan dendam hatimu.”
“Hem.” orang itu menarik nafas dalam, “kau masih juga berprasangka. Kalau aku ingin membunuh dengan curang, maka yang pertama-pertama aku bunuh sambil bersembunyi adalah Kebo Sindet. Mungkin aku dapat mengintainya dan dengan diam-diam aku melontarnya dengan sebilah pisau. Dengan tangan kiri kepunggung Kuda Sempana, dan dengan tangan kanan kepunggung Kebo Sindet. Seandainya Kebo Sindet tidak mati seketika itu, tetapi tenaganya pasti sudah separo surut, sedang Kuda Sempana pasti tidak usah mengulangi untuk yang kedua kalinya.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak menyangkal bahwa hal yang demikian itu dapat terjadi. Ia yakin, seandainya orang itu ingin, maka pasti dapat dilakukannya.
Karena itu maka jawabnya, “Baiklah, aku tinggal di sini. Aku masih mempunyai sisa-sisa kepercayaan kepadamu.”
“Terserahlah, tetapi apabila kau bersedia tinggal di sini, aku akan sangat berterima kasih. Tetapi kau harus menahan nafsumu. Betapapun mengendap hati dan nalarmu, tetapi sifat-sifatmu masih saja tumbuh setiap saat. Karena itu, kau harus bersabar. Terlampau sabar untuk melakukan pekerjaan ini.”
Laki-laki tua itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku akan mencobanya.”
“Mudah-mudahan kau berhasil. Kalau kau dicengkam oleh nafsumu maka semuanya akan gagal.”
“Mudah-mudahan.” desis laki-laki tua itu.
“Kalau begitu, marilah kita menepi. Jalan ini adalah jalan yang sering dilalui oleh Kebo Sindet dan Kuda Sempana.”
“Baru saja ia masuk ke dalam sarangnya.”
“Tetapi mereka tidak kerasan berada di rumah mereka. Paling lama mereka berada di sana satu hari satu malam. Kemudian mereka pergi lagi untuk dua tiga hari.”
“Kemana saja mereka itu pergi?”
Orang itu menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi adalah kebiasaan Kebo Sindet untuk berjalan dari lorong kelorong, dari padesan ke padesan. Dari rumah ke rumah. Ia adalah seorang raja yang tidak bermahkota. Tak seorang pun yang berani menentang kebendaknya.”
“Dan kau lebih baik tidur saja selama ini.”
“Sudah aku katakan. Ikutlah aku berbuat sesuatu.”
Laki-laki tua itu terdiam. Dan sejenak mereka saling berdiam diri, sehingga desir angin di dedaunan terdengar semakin nyata di antara gemersik sayap burung-burung liar yang berkeliaran di pepohonan.
“Mari kita menepi.”
“Dimana kau tinggal selama ini?”
“Dimana-mana. Diantara pepohonan dan gerumbu-gerumbu liar itu. Tetapi aku kadang-kadang berada di lereng-lereng bukit kecil itu.”
“Bagaimana kalau tanah itu longsor?”
“Akibatnya sudah pasti. Aku mati tertimbun di bawahnya.”
Laki-laki tua itu bertanya lagi. Keduanya berjalan dan menyelinap di belakang gerumbul-gerumbul liar. Mereka kemudian berhenti di sebuah ereng-ereng padas dari sebuah gumuk kecil.
“Di sini aku berteduh bila hujan turun.”
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keningnya kemudian tampak berkerut merut. Dilihatnya di dalam ereng-ereng itu berbagai macam benda yang semula tidak dikenalnya. Sulur-sulur kayu, kepingan batu-batu kecil dan gulung tali tersangkut di pinggiran ereng-ereng itu.
“Hem.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Ternyata kau masih juga tekun. Ilmu apa lagi yang akan kau lahirkan di sini?”
Orang itu menggeleng. “Aku hanya membiasakan diri mempergunakan alat-alat yang dapat aku temui di sini.”
“Apakah kau sedang menciptakan suatu tata gerak dari sebuah ilmu yang akan kau persiapkan untuk membunuh Kebo Sindet. Itu adalah lucu sekali. Sekarang juga kau tidak akan dapat dikalahkan, meskipun kau tidak juga yakin akan mengalahkannya. Kalau kau memerlukan waktu terlalu lama dengan sebuah ilmu baru, maka Mahisa Agni pasti sudah menjadi makanan buaya-buaya kerdil.”
Orang itu menggeleng. “Kau salah. Mahisa Agni tidak akan dibunuhnya. Anak itu akan dijual oleh Kebo Sindet kepada permaisuri Tunggul Ametung itu.”
Laki-laki itu sekali lagi terdiam. Namun pandangan Matanya beredar ke tempat-tempat di sekitarnya. Batu-batu yang pecah berhamburan. Batang-batang kayu yang patah. Dan yang paling menarik baginya adalah batu-batu kecil yang masuk membenam ke dalam batang-batang kayu. Sambil menarik nafas ia bergumam.
“Kau telah menemukan ilmu lemparan yang tiada taranya. Kau dapat membenamkan batu-batu kecil itu ke dalam tubuh batang-batang kayu sedemikian dalamnya.”
Orang itu menggeleng. “Tidak terlampau aneh. Kita sudah mengenal bandil sejak bertahun-tahun sebelumnya.”
“Tetapi dengan bandil batu-batu itu tidak akan dapat membenam sekian dalam.”
Orang itu memandangi laki-laki tua itu dengan herannya. Sejenak ia tidak menyahut. Namun kemudian sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Kau memang orang aneh. Seolah-olah kau adalah anak kemarin sore yang kagum melihat tupai berloncat-loncatan di dahan-dahan.”
“Tidak, tetapi kau memang dahsyat.”
Laki-laki itu kemudian berdiri. Melangkah perlahan-lahan mengamat-amati beberapa lubang bekas lemparan. Bahkan kemudian ia mengangguk-angguk sambil bergumam,
“Luar biasa. Dahan-dahan kecil ini tidak saja dibenami oleh kerikil-kerikil yang kau lemparkan, tetapi dahan-dahan kecil ini berlubang tembus karenanya.”
“Ah.” sahut orang itu, “jangan terlampau memuji. Aku kira bagimu hal itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Marilah, Empu duduklah di sini. Kita berbicara sebagai orang tua-tua yang tidak lagi terlampau banyak menghiraukan masalah-masalah lahiriah.”
“Aneh. Kau sendiri masih mesu diri, memperdalam ilmu-ilmu kanuragan. Tetapi kau berkata, bahwa kita tidak perlu lagi terlampau banyak menghiraukan masalah-masalah lahiriah.”
“Aku tidak menyadap ilmu itu untuk kepentingan sendiri.”
“Ya, untuk orang lain, untuk muridmu misalnya. Tetapi dengan demikian bukankah kau ingin mendapat kelangsungan dari masalah-masalah lahiriah yang kau tekuni ini.”
“Ya.” orang itu termenung sejenak. Perlahan-lahan ia menjawab, “Itulah keringkihan jiwa manusia. Manusia selalu dibayangi oleh nafsu-nafsu lahiriah, meskipun aku telah mencoba mengasingkan diriku, tetapi aku pun masih juga diburu oleh nafsu yang tidak akan dapat dipadamkan dengan kekuatanku sendiri, kecuali —- tidak jelas —- Maha Agung. Dan aku berdoa —- tidak jelas —- dari nafsu yang demikian.” (ada bagian lontar yang sobek).
“Tetapi.” laki-laki itu menyahut, “kau ingin menurunkan ilmu ini kepada orang lain. Bukankah begitu.”
Orang itu kemudian memandangi bintik-bintik di kejauhan dengan sinar matanya yang buram. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya.”
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “itu adalah sifat manusiawi. Tetapi aku kira kau memiliki cita-cita yang lebih bening dari pada aku. Aku kira kau masih juga memikirkan kebenaran dan keadilan, meskipun tidak seorang pun yang dapat melihatnya dengan sempurna.”
“Setiap mulut yang menyebut kebenaran dan keadilan tidak akan dapat dilepaskan dari kepentingan pribadi. Aku pun tidak dapat melepaskannya pula. Kebenaran dan keadilan yang menguntungkan diriku sendiri.”
“Tetapi ada nilai-nilai yang umum dari kebenaran dan keadilan. Nilai-nilai yang sewajarnya menurut penilaian manusia yang picik betapapun juga ilmunya bertimbun di dalam diri. Dan penilaian itulah yang sejauh-jauhnya kita pergunakan.”
“Nilai-nilai manusiawi yang goyah,” sahut orang itu, “kalau saja kita dapat berpegangan kepada nilai-nilai yang abadi.”
“Nilai-nilai yang tidak dapat digayuh oleh kekuatan manusia.”
“Setidak-tidaknya kita berusaha. Tetapi kita memang harus menyadari, bahwa tidak ada seorang pun, ya tidak seorang pun yang dapat melihat nilai-nilai yang sempurna dari kebenaran dan keadilan itu. Meskipun demikian, kita berusaha untuk menemukannya. Kita harus bersandar diri kepada budi yang bening. Bukan datang dari kebijaksanaan kita sendiri, tetapi hanya dapat ada pada diri kita apabila kita mendapat kemurahan dari Yang Maha Agung.” Orang itu berhenti sejenak sedangkan laki-laki tua yang berdiri beberapa langkah daripadanya itu memperhatikannya dengan sungguh-sungguh
“Kau telah …. tidak jelas …. yang kuat disaat-saat umurmu semakin …. tidak jelas …. rti apa yang kau katakan” (ada bagian lontar yang sobek)
“Kau akan mengerti. Kemarilah. Duduklah di sini. Aku dapat merebus air buat menghangatkan tubuh kita, Empu.”
“Ya.” laki-laki itu memutar tubuhnya dan berjalan mendekati orang yang masih saja duduk di pereng gumuk padas.
“Salah satu dari kebodohanku adalah, bahwa aku lebih tertarik pada kedahsyatan permainan kerikil dari pada nilai-nilai yang kau katakan.”
“Jangan cemas. Aku pun masih juga lebih banyak berbuat demikian. Sudah aku katakan. Marilah kita memohon, agar kepada kita diturunkannya budi bening dan mulus-mulus, supaya kita dapat melihat jalan yang paling bersih yang harus kita tempuh.”
“Hem.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam, “sekali lagi aku mengagumi nilai kanuraganmu. Kau agaknya telah berhasil meletakkan dasar dari ilmumu yang baru.”
“Ah, kau selalu kembali kepada hal itu juga.”
“Apakah kau mempunyai nama buat ilmumu yang baru?”
“Sama sekali bukan baru. Kau pun akan dapat melakukannya. Kita tinggal menyalurkan-menyalurkan kekuatan yang telah kita miliki untuk mendasari lontaran batu itu.”
“Aku mengerti. Tetapi menilik bekas-bekasnya, kau dapat melempar lebih dari satu batu. Bahkan lebih dari lima batu sekaligus dan mengenai sasaran yang kau kehendaki.”
“Permainan kanak-kanak. Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang yang lain. Tentang sepasang pedangmu misalnya. Apakah itu juga sejenis ilmu yang baru. Sepanjang umurmu kau tidak pernah membawa pedang. Apalagi berpasangan.”
“Aku akan berhadapan dengan iblis Kemundungan. Aku sudah berniat bertempur sampai salah seorang dari kami mati. Itulah sebabnya aku membawa senjata rangkap. Seandainya tanganku ada tiga, maka aku pun pasti membawa tiga pucuk senjata.”
Orang yang diajaknya berbicara tersenyum. Jawabnya, “Kenapa tidak kau pasang tanduk sama sekali dikepalamu, taji dikaki dan siku tanganmu, Empu.”
Laki-laki tua itu pun tersenyum pula. Katanya, “Aku bersungguh-sungguh ingin membunuh Kebo Sindet.”
“Dimana senjatamu, ciri kebesaran namamu selama ini?”
Laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab pertanyaan itu. Sejenak kedua orang tua-tua itu terdiam. Tetapi laki-laki tua berpedang itu tidak henti-hentinya mengherani kerikil-kerikil yang membenam ke dalam batang-batang kayu. Maka katanya kemudian,
“Pedang, tombak atau apa pun adalah senjata-senjata yang paling umum dipakai. Tetapi ketepatan membidik adalah kekhususan. Mungkin aku juga dapat melontarkan batu dengan kekuatan seperti yang kau lakukan. Tetapi aku tidak mempelajari sifat-sifat dari cara yang demikian. Sehingga aku pasti tidak akan setangkas dan secepat kau melakukannya, apalagi ketepatan membidik sekaligus untuk lima sampai sepuluh butir kerikil.”
“Ah.” lawannya berbicara menyahut, “kau yakin bahwa aku dapat berbuat demikian.”
“Pengamatanku biasanya tidak berbohong. Apalagi menilik kebesaran namamu.”
“Kau memuji.”
“Tidak.” sejenak orang itu terdiam, “apakah kau mau mencobanya sekali saja supaya aku yakin.”
“Tidak perlu.”
“Aku perlu meyakinkan pengamatanku.”
“Kalau kau tidak yakin sekalipun, aku tidak berkeberatan.”
“Apakah ilmumu itu kau rahasiakan.” Orang itu terdiam. “Berilah aku kesempatan melihat ilmumu. Kalau kau tidak menyebutnya sebagai suatu cabang ilmu tata bela diri, katakanlah permainan batu-batu kerikilmu.”
Orang itu menggeleng. “Tidak perlu.”
“Jangan seperti laki-laki cengeng,” berkata laki-laki tua itu, “kita sudah sama-sama tua. Dan bukankah kita sudah saling berjanji untuk bersama-sama melepaskan Mahisa Agni?”
“Kelak kau akan melihatnya, tetapi tidak perlu dengan khusus aku perlihatkan kepadamu. Hanya anak-anak muda yang masih mengagumi dirinya sendiri akan berbuat demikian.”
Laki-laki itu tidak memaksanya lagi. Ia tahu bahwa orang itu telah melatih dirinya dalam kecepatan melepaskan batu-batu dengan tenaga lontaran yang dahsyat. Tetapi agaknya bukan itu saja. Ia melihat sulur-sulur di dalam pereng itu. Agaknya ia telah melatih diri dalam berbagai macam penggunaan senjata yang dapat diketemukannya di dalam hutan itu.
Ternyata orang itu dapat melihat perasaannya menilik sikapnya. Maka katanya, “Apakah kau heran melihat benda-benda itu di sini? Kalau demikian kau seperti aku pula yang heran melihat pedang-pedang itu di lambungmu. Kau belum menjawab pertanyaanku, dimana senjatamu itu.”
“Aku kini membawa pedang.” jawab laki-laki itu, “Tetapi sebaliknya, kau mencoba mempergunakan senjata-senjata yang kau ketemukan di sekitar tempat ini. Kau Ternyata tidak lagi mempergunakan senjata-senjata yang biasa dipakai orang.”
“Kau menghindari pertanyaanku Empu. Dimana senjatamu itu.”
Laki-laki tua itu termenung sejenak. Dipandanginya pepohonan di sekitarnya. Hutan ini memang tidak begitu lebat, tetapi pepohonan raksasa tumbuh pula satu-satu di sana-sini.
“Kau berkeberatan untuk mengatakannya? Tetapi aku sudah melihat bahwa kau membawa sepasang pedang, besar dan agak kecil.”
Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia berdesis lambat sekali. “Senjataku telah patah.”
“He.” orang itu mengerutkan keningnya, “bertahun-tahun kau mempergunakannya. Kenapa tiba-tiba saja patah?”
“Tidak. Senjataku yang bertahun-tahun ikut dalam petualanganku yang jahat itu tidak patah. Senjata itu harus berpisah dengan aku. Kalau senjataku itu masih tersentuh nafasku, maka aku kira masih akan datang petualangan itu berulang. Senjata itu telah aku berikan kepada muridku.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar