“He.” sekali lagi orang itu menjadi heran, “jadi kau ingin menghentikan petualanganmu dan membiarkan muridmu itu bertualang. Aku tidak dapat mengerti Empu.”
“Muridku memiliki jiwa yang kuat. Ia anak yang baik, dan aku sudah mencoba menasehatinya supaya ia bercermin kepadaku, kepada gurunya. Beberapa puluh tahun aku bertualang tanpa ujung dan pangkal untuk mengumpulkan kekayaan. Namun sekarang aku sama sekali tidak memerlukannya. Aku tidak dapat membebaskan Mahisa Agni itu dengan kekayaan yang ada padaku. Meskipun mungkin aku dapat menawar untuk kebebasan Agni dengan tebusan itu, tetapi aku tahu betapa liciknya Kebo Sindet. Ia akan menerima uang dan kekayaan itu. Tetapi aku yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan dibebaskannya, apabila iblis itu belum terbunuh.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi kau yakin bahwa muridmu itu tidak akan berbuat seperti kau?”
“Ya. Ia adalah anak yang paling aku benci sebelumnya karena ia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan keinginanku. Namun akhirnya aku tahu, bahwa ia adalah murid yang paling baik. Apalagi ketika aku tahu, bahwa ia terjerumus masuk kedalam padepokanku. Aku tahu, bahwa ia. menentang sikapku saat-saat itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia kemudian bersikap acuh tak acuh saja, asal ia menerima sekedar ilmu. Dan aku pun menurunkan ilmu yang paling sedikit kepadanya. Tetapi akhirnya ia adalah muridku yang paling baik. Kepadanya aku serahkan semuanya. Senjata ciri kebesaranku itu pun aku berikan kepadanya. Sentuhan senjata itu dengan aliran darahnya, tidak akan menimbulkan kejahatan seperti yang pernah aku lakukan.”
Orang itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Lalu apakah yang Empu katakan patah itu?”
“Senjata semacam itu juga. Tetapi yang lain, rangkapannya. Senjata itu patah ketika aku berkelahi dengan iblis dari Kemundungan ini. Kemudian aku terpaksa mempelajari ilmu pedang. Aku tidak akan minta senjataku kembali. Aku ingin melawan Kebo Sindet yang bersenjata golok itu dengan pedang.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia tidak mengucapkan kata-kata. Diamatinya beberapa macam benda yang ada di pereng padas yang dipergunakannya sebagai rumahnya itu. Untuk berteduh jika hujan turun.
Namun tiba-tiba ia berkata, “Empu, kalau muridmu yang seorang itu tidak kau sukai, kenapa ia dapat menjadi muridmu?”
“Itu adalah karena ketamakanku masa-masa yang lampau. Aku ingin mempunyai murid yang sesebanyak-banyaknya.”
“Murid-murid yang tidak sesuai dengan pendirian gurunya akan banyak merugikan perguruannya.”
“Aku tidak mempedulikan di saat-saat itu. Siapa yang dapat memenuhi syarat yang aku tetapkan, maka ia dapat menjadi muridku.”
“Apakah syarat itu?”
“Sekeping emas, atau sekerat permata.”
“Oh,” orang itu menarik nafas dalam-dalam. “Kau memang aneh.”
“Tetapi saat-saat yang demikian itu sudah lampau. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada muridku. Aku sudah berkata kepadanya beberapa kali dan aku ulangi lagi ketika aku pergi yang terakhir bahwa yang lampau itu ternyata salah dan tidak berarti apa-apa.”
“Muridmu yang mana?”
“Justru yang dahulu kurang dapat mengikuti keinginan-keinginanku. Ketika aku pergi untuk mencari Mahisa Agni yang terdahulu, aku pun sudah bertekad untuk mati seperti saat ini. Tetapi aku tidak mati, justru Wong Sarimpat lah yang mati. Aku masih dapat kembali ke padepokanku dan menyembuhkan luka-lukaku. Tetapi Ternyata Mahisa Agni belum terbebaskan. Nah, sekarang, sisa-sisa umurku ini akan aku pergunakan dalam usaha membebaskan anak yang terperosok ke tangan iblis dari Kemundungan ini, karena sebagian terbesar adalah karena salahku.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Aku dapat mengerti. Dan kau telah mencoba menyusun ilmu pedang untuk melawan ilmu Kebo Sindet yang terkenal serta goloknya yang berbau maut itu. Sebenarnya kau lebih menakutkan dengan tongkat panjangmu yang menggemparkan itu Empu.”
Laki-laki tua itu menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan membawa tongkat panjang itu lagi, supaya aku yang sekarang berbeda dengan aku yang lampau.”
Lawan bicaranya itu tersenyum. “Kau telah benar-benar menyesal.”
“Kalau tidak, maka kaulah yang pertama sekali harus berkelahi melawan aku.”
“Terima kasih, kau akan menjadi kawanku yang baik. Tetapi tidak untuk membunuh Kebo Sindet.”
“Hem, aku tidak mengerti.”
“Bukankah tujuan kita adalah membebaskan Mahisa Agni, tidak untuk membunuh Kebo Sindet.”
“Aku tetap tidak mengerti, tetapi aku akan mengikutimu, justru karena aku ingin tahu bagaimana caramu itu.”
Orang itu mengangguk-angguk sambil berkata, “Terima kasih atas kesediaanmu.”
Pembicaraan itu terputus ketika mereka mendengar lamat-lamat suara kentongan. Laki-laki tua yang membawa pedang dan belati panjang itu mengangkat kepalanya sambil bertanya,
“Suara apakah itu?”
“Kentongan. Siapakah yang membunyikan kentongan itu?”
“Kebo Sindet.”
Laki-laki itu mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”
“Kebo Sindet sedang memanggil Mahisa Agni, Kalau ia kembali dan Mahisa Agni sedang tidak berada di dalam goanya, maka Kebo Sindet selalu memanggilnya dengan kentongan.”
Kerut merut didahi laki-laki tua itu menjadi semakin dalam. “Apakah yang harus dilakukan oleh Mahisa Agni?”
“Ia tidak lebih dari seorang pelayan. Mahisa Agni harus menyediakan makan untuk kedua orang itu. Setiap saat makanan itu harus sudah tersedia. Apabila mereka datang dan tidak dilihatnya Mahisa Agni dan segera dimenyediakan makan mereka, maka dipukulnya kentongan itu. Apabila nanti Mahisa Agni datang, maka Mahisa Agni lah yang akan dipukulnya.”
“Ah,” laki-laki tua itu berdesah, “dan kau diam saja di sini?”
“Sudah aku katakan, aku mempunyai rencana tersendiri.”
“Gila. Itu adalah perbuatan gila, sementara itu Mahisa Agni mengalami siksaan lahir dan batin.”
“Bukankah itu akan menjadi pengalaman yang baik baginya. Suatu gemblengan lahir dan batin pula.”
“Oh, kau salah. Hal-hal yang serupa itu dapat membunuh keberaniannya. Ia akan menjadi seorang laki-laki yang tidak berani berbuat apa-apa. Kalau kau biarkan berlama-lama maka benar-benar Mahisa Agni tidak lebih dari seorang budak. Seorang yang takut melihat perjuangan.”
Tetapi orang itu menggeleng. “Marilah kita melihat bersama-sama. Apakah Mahisa Agni akan menjadi seorang yang dapat menengadahkan wajahnya lagi dihadapan Kebo Sindet atau tidak.”
“Hem.” laki-laki tua itu tidak menjawab. Tetapi ia hanya menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu masih terdengar beberapa kali suara kentongan dari mulut sarang Kebo Sindet. Kuda Sempana yang memukul kentongan itu mengayunkan tangan dengan acuh tak acuh. Sejenak kemudian Mahisa Agni yang basah datang berlari-lari mendekatinya.
Tiba-tiba terdengar Kebo Sindet membentaknya. “He kelinci bodoh. Dari mana kau he?”
“Aku baru mandi tuan.” jawab Mahisa Agni ketakutan.
Dengan tajamnya Kebo Sindet memandangi tubuh Mahisa Agni yang basah. “Pemalas,” geramnya, “matahari sudah ada di puncak langit kau baru saja mandi. Apa kerjamu. sepagi ini he?”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia terdorong dan jatuh terpelanting ketika tangan Kebo Sindet menampar pipinya. Kuda Sempana memalingkan mukanya. Ia melihat Mahisa Agni dengan susah payah bangun dan duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi Kuda Sempana itu menjadi acuh tak acuh saja. Bahkan kemudian dengan tidak berpaling lagi ia melangkah pergi.
Meskipun demikian, tumbuh suatu pertanyaan di dalam hatinya. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang keras hati. Seorang yang hampir tidak mengenal takut sampai pun bertaruh nyawa, apalagi apabila ia berada dipihak yang tidak bersalah. Bahkan terhadap Akuwu Tunggul Ametung pun Mahisa Agni tidak dapat menundukkan kepalanya, pada saat ia melarikan diri Ken Dedes dari Panawijen. Namun tiba-tiba anak itu kini menjadi benar-benar sejinak kelinci. Setiap kali Mahisa Agni hanya dapat menundukkan kepalanya dengan gemetar ketakutan.
“Apakah benar kata paman Kebo Sindet.” Kuda Sempana berguman di dalam hatinya, “bahwa dengan menekan perasaan Mahisa Agni setiap saat, maka jiwa anak muda itu pasti akan berubah dengan sendirinya. Ketahanan jiwa pasti akan goyah. Setiap kali ia harus mengalami ketakutan dan kecemasan. Setiap kali ia harus dipaksa untuk tunduk dan berlutut, sehingga akhirnya ia akan kehilangan segala sifat-sifatnya.”
“Mustahil.” hatinya terbantah sendiri, “kekerasan hati Mahisa Agni tidak akan dapat dicairkan dengan cara itu.”
“Tetapi kenapa sifat-sifatnya kini berubah sama sekali?” pertanyaan itu selalu mengganggunya, “apakah aku pun akhirnya akan kehilangan kedirianku.”
Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku memang sudah kehilangan diriku sendiri. Guruku hampir terbunuh oleh paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bahkan mungkin kini sudah mati benar-benar. Dan aku berada di sini membantunya.”
Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Tetapi ketika ia berpaling maka ia sudah agak jauh sehingga ia tidak melihat lagi apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet atas Mahisa Agni.
“Mungkin pendapat itu benar, dan paman Kebo Sindet sedang membentuk seorang Mahisa Agni yang jinak dan tidak berani berbuat apapun.”
Kuda Sempana itu pun kemudian melangkah terus. Ia ingin membersihkan dirinya, mandi justru di dalam air yang keruh. Tetapi kini ia sudah menjadi biasa dengan air yang keruh itu. Bahkan minum pun tidak lagi terasa muak, meskipun ia tahu bahwa di dalam rawa-rawa itu kadang-kadang terapung sisa bangkai binatang-binatang yang mesti dibunuh oleh buaya-buaya kerdil.
Kebo Sindet yang melihat Mahisa Agni duduk dengan gemetar membentak dengan kerasnya. “Ayo pergi. Siapkan makan kami. Kalau masih juga selalu bermalas-malas, maka kau sekali lagi akan aku ikat di pohon itu dan aku pukuli sampai kulitmu terkelupas.”
Dengan menggigil Mahisa Agni bangkit perlahan-lahan. Ketika ia telah tegak berdiri dan melangkah meninggalkan Kebo Sindet, tiba-tiba kaki iblis itu mendorong punggungnya, sehingga anak muda itu jatuh terjerembab. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba merangkak bangkit. Ketika ia mencoba berpaling, dilihatnya sorot mata Kebo Sindet seolah-olah menusuk jantungnya, sehingga segera Mahisa Agni itu memalingkan wajahnya.
“Cepat pergi setan kecil.” teriak Kebo Sindet.
Mahisa Agni pun segera bangkit dan berjalan cepat-cepat meninggalkan Kebo Sindet yang berdiri saja mengawasinya. Meskipun wajahnya sama sekali tidak berkesan apapun, namun sorot matanya memancarkan kepuasan hatinya. Perlahan-lahan ia berdesis.
“Sebentar lagi anak itu pasti akan menjadi seekor siput yang tidak berani berbuat apapun. Jika demikian maka ia akan menjadi barang dagangan yang menyenangkan sekali. Aku akan dapat membawanya ke Tumapel tanpa cemas lagi bahwa pemalas kecil itu akan berani melarikan dirinya. Atau membawa seseorang yang dapat menawarkannya kepada permaisuri untuk datang kemari. Anak itu pasti tidak akan berani berbuat apa-apa lagi.”
Demikianlah yang dilakukan oleh Kebo Sindet. Setiap hari apabila ia berada di dalam sarangnya itu, selalu menakut-nakuti, membentak-bentak, memukul dan apa saja untuk membuat Mahisa Agni kehilangan keberanian. Kebo Sindet mengharap, betapapun kuatnya jiwa seseorang, tetapi apabila setiap hari ia mendapat perlakuan yang mempengaruhi keberaniannya, maka akhirnya ketahanan jiwanya itu pasti akan runtuh pula. Seperti apa yang dilakukannya atas Kuda Sempana meskipun dengan cara yang berbeda. Kini ia melihat Mahisa Agni menjadi ketakutan apabila melihatnya sebelum ia berbuat apa-apa. Maka Kebo Sindet itu mengharap dalam waktu singkat, Mahisa Agni telah menjadi seorang yang mempunyai sifat seperti yang dikehendakinya.
Mahisa Agni pun kemudian segera berlari ke dapur yang kotor. Segera dipersiapkannya makan buat Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Nasi jagung dan daging rusa. Ikan yang di dapatnya dari dalam rawa-rawa dan sejenis daging burung air. Mahisa Agni sendirilah yang harus memburu makanan yang disediakannya kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat dengan panah. Di sekitar sarang yang dikitari rawa-rawa itu memang terdapat beberapa ekor rusa liar. Ternyata pulau di tengah-tengah rawa itu cukup luas bagi rusa-rusa itu untuk menikmati hidupnya. Dan rusa-rusa itulah yang setiap kali harus dicari oleh Mahisa Agni. Tetapi yang paling mudah dilakukan adalah mengail ikan di rawa-rawa itu dan mencari burung-burung air.
Hanya jagungnyalah yang diterimanya dari Kuda Sempana setiap kali. Apabila jagung itu habis, maka Kuda Sempana dan Kebo Sindet mencarinya kemana saja, padesan-padesan yang dilaluinya. Hidup yang demikian itu harus dijalani oleh Mahisa Agni tanpa batas, kapan ia dapat lepas daripadanya, Untunglah bahwa Kebo Sindet dan Kuda Sempana jarang berada di sarang mereka. Setiap kali mereka pergi meninggalkan tempat itu untuk waktu yang kadang-kadang cukup lama. Secepat-cepatnya tiga empat hari mereka baru kembali, dan tinggal di tempat itu untuk waktu yang sama.
Ketika kemudian Kebo Sindet dan Kuda Sempana makan, maka Mahisa Agni harus duduk di dekat mereka. Setiap kali Kebo Sindet memerlukan sesuatu, maka disuruhnya Mahisa Agni untuk mengambilkannya.
“Ambil air panas.” teriak Kebo Sindet tiba-tiba.
Mahisa Agni terkejut. Segera ia bangkit dan berjalan tergesa-gesa kebahagian belakang dari sarang mereka itu untuk mengambil air hangat.
“Ia sudah menjadi semakin sehat.” desis Kebo Sindet kemudian kepada Kuda Sempana, “apabila ia telah menjadi sehat benar, maka ia harus dilemahkan. Setidak-tidaknya ia tidak dapat menyamaimu.”
Wajah Kuda Sempana sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Namun ia menjawab, “Terserah kepada paman. Tetapi dalam keadaan apa pun aku masih sanggup membunuhnya.”
“Sekarang. Ia sudah kehilangan sebagian terbesar dari keberaniannya. Kau memang dapat berbuat apa saja atasnya tanpa perlawanan. Tetapi kemajuan kekuatannya akan sedikit berbahaya juga bagimu.”
“Sama sekali tidak.”
Kebo Sindet terdiam ketika ia melihat Mahisa Agni datang membawa mangkuk berisi air hangat. Setelah air itu seteguk diminumnya, maka sisanya tiba-tiba saja disiramkannya kepada Mahisa Agni yang duduk tepekur di sampingnya.
“Gila.” Kebo Sindet itu menggeram, “kau tidak menyediakan gula kelapa untukku?”
Mahisa Agni terkejut. Sekali lagi ia meloncat berdiri dan melangkah pergi. Tetapi Kebo Sindet berteriak. “Kemana kau?”
“Mengambil gula kelapa.” jawab Mahisa Agni.
“Kau memang gila. Kau lihat, bahwa air panas itu telah habis seluruhnya?”
Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Ia tidak tahu apa yang harus segera dilakukan.
“Pergi, pergi.” Kebo Sindet itu masih berteriak-teriak, “ambil air panas dan gula kelapa.” Mahisa Agni pun segera meloncat pergi untuk memenuhi permintaan Kebo Sindet. “Aku hampir berhasil.” desis Kebo Sindet kepada Kuda Sempana. “Lihat ia menjadi sangat ketakutan.” Kuda Sempana tidak menjawab. “Sudah beberapa hari aku tidak mengajarnya. Besok, setelah kita pergi ke Balantur, aku akan mencambuknya supaya ia menjadi agak lemah dan menjadi semakin ketakutan.”
Kuda Sempana masih berdiam diri. “Apakah kau ingin melakukannya lagi seperti beberapa waktu yang lalu?”
“Tidak. Saat itu pun aku sebenarnya tidak ingin mencambuknya. Tetapi paman memaksa aku untuk melakukannya.”
“Huh.” Kebo Sindet menyahut, “apakah kau juga sudah menjadi pengecut seperti Mahisa Agni.” Kuda Sempana terdiam. “Kalau begitu aku harus berbuat sebaliknya terhadapmu. Kau harus menjadi laki-laki yang berani melihat darah, tetapi kau tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku-tanganku. Kau mengerti? Kau harus melakukan beberapa kali. Mengelupas kulit Mahisa Agni, tetapi jaga jangan sampai ia mati. Kau harus dapat melakukannya tanpa kesan apa pun di hatimu.”
“Tidak perlu Aku tidak kehilangan keberanianku menghadapi apa saja. Tetapi tidak menghadapi orang yang terikat. Hal itu tidak akan menambah kemampuan apa pun padaku.”
Kebo Sindet lah yang kemudian berdiam diri untuk sejenak. Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu ketika Mahisa Agni datang sambil membawa mangkuk air panas dan segumpal gula kelapa.
“Letakkan di situ.” perintah Kebo Sindet, “lalu pergi dari sini.”
“Baik tuan.” sahut Mahisa Agni dengan suara gemetar.
Mahisa Agni pun segera pergi. Ia tahu, bahwa untuk sementara ia tidak diperlukan lagi sampai datang saatnya Kebo Sindet memanggilnya. Segera dipersiapkannya pancingnya. Dengan kepala tunduk ia melangkah ke pinggir rawa-rawa sambil menjinjing pancing di tangan kanan dan busur serta beberapa anak panah di tangan kiri. Dalam saat-saat senggang demikian, Mahisa Agni lebih senang mengail atau berburu dari pada berada di dekat Kebo Sindet yang selalu membentak-bentaknya dan memukulnya.
Sejenak kemudian Mahisa Agni sudah duduk terkantuk-kantuk di pinggir rawa, di atas sebongkah batu, dengan pakaian yang basah. Dilemparkannya umpan kailnya ke dalam air yang keruh, kemudian di letakkannya walesan kailnya di atas batu tempat ia duduk, ditindih dengan busur dan anak panahnya. Sementara ia duduk memeluk lututnya dan meletakkan kepalanya di atas mulut itu.
Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar desir di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Kuda Sempana berdiri tegak dengan sehelai pedang di lambungnya. Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Jalur-jalur cambuk di punggungnya masih membekas sejak beberapa hari yang lalu ketika Kuda Sempana itu memukulinya, sementara ia diikat pada sebatang pohon.
“Apa yang kau lakukan?”
“E, mengail, Kuda Sempana.”
Kuda Sempana berdiam sejenak. Dipandanginya wajah Mahisa Agni yang pucat. Tampaklah pada sorot matanya, Kuda Sempana ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan di mulutnya. Sesaat mereka saling berdiam diri. Kuda Sempana memandangi Mahisa Agni dengan mata yang hampir tidak berkedip, sedang Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tetapi belum lagi Kuda Sempana mengucapkan sesuatu terdengar Kebo Sindet berdesis di belakang mereka. “Kuda Sempana, tinggalkan setan kecil itu.”
Kuda Sempana terperanjat juga mendengar suara itu. Tetapi tanpa kesan apa pun ia berpaling. Dipandanginya Kebo Sindet yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Mahisa Agni pun mengangkat wajahnya pula. Terbayang perasaan kesal pada sorot matanya. Tetapi kemudian ia pun menunduk pula.
Karena Kuda Sempana masih juga tidak beranjak pergi, maka sekali lagi Kebo Sindet berkata, “Tinggalkan tikus itu dengan kesenangannya. Ia baru menangkap ikan untuk menyediakan makan kita nanti.”
Kuda Sempana menarik nafas. Perlahan-lahan ia melangkah meninggalkan tempat itu. Ketika mereka telah berbelok ke belakang sebuah gerumbul kecil, Kebo Sindet yang berjalan di belakangnya berkata,
“Aku peringatkan sekali lagi, jangan kau bunuh dia, supaya kau pun tidak aku bunuh pula.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ancaman itu telah didengarnya berpuluh kali. Karena itu maka telinganya telah menjadi kebal karenanya.
“Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet itu pula, “sebaiknya kau selalu saja aku bawa berjalan berkeliling daerah Tumapel dan Kediri. Di sini kau ternyata berbahaya bagi Mahisa Agni. Kalau aku sedang tidur atau lengah sedikit saja, mungkin kau akan melakukan pembunuhan itu meskipun kau tahu akibatnya. Karena itu, biarlah kita berjalan lagi. Bukankah kita telah mendapat sedikit jalan untuk dapat berhubungan dengan permaisuri. Agaknya orang yang kita datangi beberapa saat yang lalu meskipun belum menyediakan diri, tetapi kemungkinan itu dapat terjadi. Baiklah besok kita datang kepadanya sekali lagi. Kita berijanji yang lebih baik kepadanya. Tetapi kalau ia berkhianat, lebih baik kita binasakan saja.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia berjalan saja selangkah demi selangkah. “Orang itu adalah orang licik. Tetapi ia senang sekali kepada harta kekayaan. Kau telah menunjuk orang yang dapat diharapkan.”
Kuda Sempana masih berdiam diri. Kebo Sindet pun kemudian berkata pula, “Tetapi kita harus mencari orang lain yang lebih pasti dari padanya.”
Kuda Sempana akhirnya berkata, “Kita sebenarnya tidak perlu bersusah payah mencari. Permaisuri itulah kelak yang akan mencari kita.”
“Aku tahu.” jawab Kebo Sindet, “tetapi itu akan langsung terjadi semacam jual beli. Aku tidak senang. Aku perlu perantara. Aku sama sekali tidak ingin berhubungan langsung dengan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Apakah paman menyangka permaisuri dan Akuwu akan sebodoh itu memenuhi tuntutan paman tanpa mendapat jaminan apapun.”
“Mereka harus memenuhi tuntutanku. Kunci persoalan ini ada di tanganku.”
“Bagaimana kalau mereka tidak mau?”
“Mereka harus mau. Bagaimana pertimbanganmu seandainya sepotong kuping Mahisa Agni aku kirimkan kepada permaisuri?”
Kuda Sempana adalah seorang anak muda yang berhati batu. Tetapi mendengar kata-kata Kebo Sindet itu hatinya berdesir. Sehingga wajahnya yang hampir-hampir membeku itu tampak menegang untuk sejenak. Tetapi sejenak kemudian kesan yang mengerikan itu segera terhapus dari wajahnya.
“Bagaimana?” bertanya Kebo Sindet, “apakah dengan demikian permaisuri tetap menolak tuntutanku?” Kuda Sempana tidak menjawab. “Nah, sekarang beristirahatlah. Aku pun akan tidur sebentar. Tetapi ingat, jangan kau ganggu anak itu supaya bukan kuping atau hidungmu yang terpaksa aku kirimkan kepada Ken Dedes.” Kuda Sempana masih berdiam diri.
Kebo Sindet pun kemudian tidak berbicara lagi. Langsung ia masuk kedalam sarangnya dan merebahkan dirinya di atas sepotong amben kayu yang kasar. Sedang Kuda Sempana pun kemudian masuk pula. Ia duduk sebentar di amben yang lain sambil melepas pedangnya.
“Tidurlah. Aku tidak akan terlalu lama di sini. Kau berbahaya bagi Mahisa Agni. Lagi pula aku ingin persoalan anak itu segera selesai, supaya kita tidak terlampau lama memeliharanya. Kita harus segera menemukan orang yang dapat dipercaya untuk membicarakan masalah jual beli ini. Kau harus sedikit mempergunakan otakmu. Bukankah kau bekas seorang pelayan dalam, sehingga sebenarnya terlampau banyak orang yang seharusnya kau kenal untuk kepentingan ini.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Direbahkannya dirinya dan dicobanya untuk menghentikan angan-angannya. Ia ingin tidur. Tidur sepuas-puasnya.
Hari-hari yang demikian sangat menjesakkan napas Mahisa Agni. Pada saat-saat Kebo Sindet dan Kuda Sempana ada disarangnya. Banyak sekali yang harus dilakukannya. Bahkan hampir-hampir ia tidak sempat berbuat apa-apa. Menyediakan makanan, kemudian mencuci mangkuk dan alat-alat, merebus air, dan sisa waktunya dipergunakan untuk berburu atau mengail. Apabila ia tidak mendapat buruan cukup, maka tubuhnya pasti akan menjadi babak belur.
Hal yang demikian itu hampir-hampir tidak dapat masuk akal Kuda Sempana. Pertanyaan tentang Mahisa Agni selalu saja menyelimutinya. Seperti pertanyaan tentang dirinya sendiri. Dengan sadar Kuda Sempana merasa bahwa ia sudah tidak mempunyai minat untuk berbuat sesuatu. Ia kini tinggal menurut saja perintah apa pun yang diberikan kepadanya oleh Kebo Sindet. Semua keinginan dan cita-cita untuk dirinya sendiri seolah-olah telah mati.
Kuda Sempana dan Kebo Sindet itu pun kemudian tertidur pula. Dalam saat-saat yang demikian, di masa-masa sebelumnya tumbuh di dalam angan-angan Mahisa Agni untuk membunuh saja keduanya. Tetapi Kebo Sindet adalah orang yang luar biasa, sehingga langkahnya betapapun lambatnya pasti akan membangunkannya. Apalagi di dalam sarang itu terdapat berbagai macam barang-barang yang terbujur lintang tidak keruan. Kayu-kayu dan bambu-bambu. Gledeg dan barang-barang pecah belah yang berserakan. Tetapi lambat laun keinginan itu pun padam dengan sendirinya, sehingga Mahisa Agni sama sekali-sekali belum pernah melakukan percobaan itu.
Kebo Sindet sendiri merasa yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berani berbuat sesuatu. Semula ia pun memperhitungkan pula kemungkinan itu, sehingga beberapa kali ia berpura-pura tidur di tempat yang mudah sekali didatangi oleh Mahisa Agni seandainya ia ingin melakukan percobaan untuk membunuhnya. Tetapi percobaan itu sama sekali tidak pernah terjadi, sehingga Kebo Sindet akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Mahisa Agni tidak akan berani melakukannya. Apalagi setelah anak itu menjadi jinak.
Kali ini seperti biasanya, Kebo Sindet tidak terlampau lama berada di sarangnya yang menjemukan itu. Menjemukan bagi Kebo Sindet sendiri. Sepeninggal adiknya, ia lebih suka merantau. Mendatangi padesan-padesan dan kampung-kampung. Masuk keluar warung tanpa mempersoalkan uang untuk membayarnya. Berjudi bersama-sama dengan orang-orang jahat dan kasar seperti dirinya sendiri. Berkelahi dan saling membunuh. Tetapi tidak seorang pun yang pernah dijumpainya dapat mengalahkannya. Kadang-kadang di dalam lingkaran judi orang-orang yang belum mengenalnya berani menentang kehendaknya. Tetapi biasanya orang itu akan kehilangan semuanya. Uang dan barang-barangnya. Bahkan nyawanya.
Ketika matahari mulai melontarkan sinarnya yang kuning kemerah-merahan, maka Kebo Sindet dan Kuda Sempana telah siap untuk meninggalkan sarangnya yang kotor itu, setelah tiga hari ia tinggal. Meskipun rawa-rawa di sekitar sarangnya masih disaput oleh kabut yang rapat, namun Kebo Sindet sama sekali tidak menjadi cemas bahwa ia akan terjerumus ke dalam lumpur di dalam dasar rawa-rawa itu. Ia sudah begitu hafalnya. Bahkan sambil berlari pun ia dapat melintasinya tanpa terperosok kedalam lumpur.
“Muridku memiliki jiwa yang kuat. Ia anak yang baik, dan aku sudah mencoba menasehatinya supaya ia bercermin kepadaku, kepada gurunya. Beberapa puluh tahun aku bertualang tanpa ujung dan pangkal untuk mengumpulkan kekayaan. Namun sekarang aku sama sekali tidak memerlukannya. Aku tidak dapat membebaskan Mahisa Agni itu dengan kekayaan yang ada padaku. Meskipun mungkin aku dapat menawar untuk kebebasan Agni dengan tebusan itu, tetapi aku tahu betapa liciknya Kebo Sindet. Ia akan menerima uang dan kekayaan itu. Tetapi aku yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan dibebaskannya, apabila iblis itu belum terbunuh.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi kau yakin bahwa muridmu itu tidak akan berbuat seperti kau?”
“Ya. Ia adalah anak yang paling aku benci sebelumnya karena ia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan keinginanku. Namun akhirnya aku tahu, bahwa ia adalah murid yang paling baik. Apalagi ketika aku tahu, bahwa ia terjerumus masuk kedalam padepokanku. Aku tahu, bahwa ia. menentang sikapku saat-saat itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia kemudian bersikap acuh tak acuh saja, asal ia menerima sekedar ilmu. Dan aku pun menurunkan ilmu yang paling sedikit kepadanya. Tetapi akhirnya ia adalah muridku yang paling baik. Kepadanya aku serahkan semuanya. Senjata ciri kebesaranku itu pun aku berikan kepadanya. Sentuhan senjata itu dengan aliran darahnya, tidak akan menimbulkan kejahatan seperti yang pernah aku lakukan.”
Orang itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Lalu apakah yang Empu katakan patah itu?”
“Senjata semacam itu juga. Tetapi yang lain, rangkapannya. Senjata itu patah ketika aku berkelahi dengan iblis dari Kemundungan ini. Kemudian aku terpaksa mempelajari ilmu pedang. Aku tidak akan minta senjataku kembali. Aku ingin melawan Kebo Sindet yang bersenjata golok itu dengan pedang.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia tidak mengucapkan kata-kata. Diamatinya beberapa macam benda yang ada di pereng padas yang dipergunakannya sebagai rumahnya itu. Untuk berteduh jika hujan turun.
Namun tiba-tiba ia berkata, “Empu, kalau muridmu yang seorang itu tidak kau sukai, kenapa ia dapat menjadi muridmu?”
“Itu adalah karena ketamakanku masa-masa yang lampau. Aku ingin mempunyai murid yang sesebanyak-banyaknya.”
“Murid-murid yang tidak sesuai dengan pendirian gurunya akan banyak merugikan perguruannya.”
“Aku tidak mempedulikan di saat-saat itu. Siapa yang dapat memenuhi syarat yang aku tetapkan, maka ia dapat menjadi muridku.”
“Apakah syarat itu?”
“Sekeping emas, atau sekerat permata.”
“Oh,” orang itu menarik nafas dalam-dalam. “Kau memang aneh.”
“Tetapi saat-saat yang demikian itu sudah lampau. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada muridku. Aku sudah berkata kepadanya beberapa kali dan aku ulangi lagi ketika aku pergi yang terakhir bahwa yang lampau itu ternyata salah dan tidak berarti apa-apa.”
“Muridmu yang mana?”
“Justru yang dahulu kurang dapat mengikuti keinginan-keinginanku. Ketika aku pergi untuk mencari Mahisa Agni yang terdahulu, aku pun sudah bertekad untuk mati seperti saat ini. Tetapi aku tidak mati, justru Wong Sarimpat lah yang mati. Aku masih dapat kembali ke padepokanku dan menyembuhkan luka-lukaku. Tetapi Ternyata Mahisa Agni belum terbebaskan. Nah, sekarang, sisa-sisa umurku ini akan aku pergunakan dalam usaha membebaskan anak yang terperosok ke tangan iblis dari Kemundungan ini, karena sebagian terbesar adalah karena salahku.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Aku dapat mengerti. Dan kau telah mencoba menyusun ilmu pedang untuk melawan ilmu Kebo Sindet yang terkenal serta goloknya yang berbau maut itu. Sebenarnya kau lebih menakutkan dengan tongkat panjangmu yang menggemparkan itu Empu.”
Laki-laki tua itu menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan membawa tongkat panjang itu lagi, supaya aku yang sekarang berbeda dengan aku yang lampau.”
Lawan bicaranya itu tersenyum. “Kau telah benar-benar menyesal.”
“Kalau tidak, maka kaulah yang pertama sekali harus berkelahi melawan aku.”
“Terima kasih, kau akan menjadi kawanku yang baik. Tetapi tidak untuk membunuh Kebo Sindet.”
“Hem, aku tidak mengerti.”
“Bukankah tujuan kita adalah membebaskan Mahisa Agni, tidak untuk membunuh Kebo Sindet.”
“Aku tetap tidak mengerti, tetapi aku akan mengikutimu, justru karena aku ingin tahu bagaimana caramu itu.”
Orang itu mengangguk-angguk sambil berkata, “Terima kasih atas kesediaanmu.”
Pembicaraan itu terputus ketika mereka mendengar lamat-lamat suara kentongan. Laki-laki tua yang membawa pedang dan belati panjang itu mengangkat kepalanya sambil bertanya,
“Suara apakah itu?”
“Kentongan. Siapakah yang membunyikan kentongan itu?”
“Kebo Sindet.”
Laki-laki itu mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”
“Kebo Sindet sedang memanggil Mahisa Agni, Kalau ia kembali dan Mahisa Agni sedang tidak berada di dalam goanya, maka Kebo Sindet selalu memanggilnya dengan kentongan.”
Kerut merut didahi laki-laki tua itu menjadi semakin dalam. “Apakah yang harus dilakukan oleh Mahisa Agni?”
“Ia tidak lebih dari seorang pelayan. Mahisa Agni harus menyediakan makan untuk kedua orang itu. Setiap saat makanan itu harus sudah tersedia. Apabila mereka datang dan tidak dilihatnya Mahisa Agni dan segera dimenyediakan makan mereka, maka dipukulnya kentongan itu. Apabila nanti Mahisa Agni datang, maka Mahisa Agni lah yang akan dipukulnya.”
“Ah,” laki-laki tua itu berdesah, “dan kau diam saja di sini?”
“Sudah aku katakan, aku mempunyai rencana tersendiri.”
“Gila. Itu adalah perbuatan gila, sementara itu Mahisa Agni mengalami siksaan lahir dan batin.”
“Bukankah itu akan menjadi pengalaman yang baik baginya. Suatu gemblengan lahir dan batin pula.”
“Oh, kau salah. Hal-hal yang serupa itu dapat membunuh keberaniannya. Ia akan menjadi seorang laki-laki yang tidak berani berbuat apa-apa. Kalau kau biarkan berlama-lama maka benar-benar Mahisa Agni tidak lebih dari seorang budak. Seorang yang takut melihat perjuangan.”
Tetapi orang itu menggeleng. “Marilah kita melihat bersama-sama. Apakah Mahisa Agni akan menjadi seorang yang dapat menengadahkan wajahnya lagi dihadapan Kebo Sindet atau tidak.”
“Hem.” laki-laki tua itu tidak menjawab. Tetapi ia hanya menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu masih terdengar beberapa kali suara kentongan dari mulut sarang Kebo Sindet. Kuda Sempana yang memukul kentongan itu mengayunkan tangan dengan acuh tak acuh. Sejenak kemudian Mahisa Agni yang basah datang berlari-lari mendekatinya.
Tiba-tiba terdengar Kebo Sindet membentaknya. “He kelinci bodoh. Dari mana kau he?”
“Aku baru mandi tuan.” jawab Mahisa Agni ketakutan.
Dengan tajamnya Kebo Sindet memandangi tubuh Mahisa Agni yang basah. “Pemalas,” geramnya, “matahari sudah ada di puncak langit kau baru saja mandi. Apa kerjamu. sepagi ini he?”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia terdorong dan jatuh terpelanting ketika tangan Kebo Sindet menampar pipinya. Kuda Sempana memalingkan mukanya. Ia melihat Mahisa Agni dengan susah payah bangun dan duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi Kuda Sempana itu menjadi acuh tak acuh saja. Bahkan kemudian dengan tidak berpaling lagi ia melangkah pergi.
Meskipun demikian, tumbuh suatu pertanyaan di dalam hatinya. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang keras hati. Seorang yang hampir tidak mengenal takut sampai pun bertaruh nyawa, apalagi apabila ia berada dipihak yang tidak bersalah. Bahkan terhadap Akuwu Tunggul Ametung pun Mahisa Agni tidak dapat menundukkan kepalanya, pada saat ia melarikan diri Ken Dedes dari Panawijen. Namun tiba-tiba anak itu kini menjadi benar-benar sejinak kelinci. Setiap kali Mahisa Agni hanya dapat menundukkan kepalanya dengan gemetar ketakutan.
“Apakah benar kata paman Kebo Sindet.” Kuda Sempana berguman di dalam hatinya, “bahwa dengan menekan perasaan Mahisa Agni setiap saat, maka jiwa anak muda itu pasti akan berubah dengan sendirinya. Ketahanan jiwa pasti akan goyah. Setiap kali ia harus mengalami ketakutan dan kecemasan. Setiap kali ia harus dipaksa untuk tunduk dan berlutut, sehingga akhirnya ia akan kehilangan segala sifat-sifatnya.”
“Mustahil.” hatinya terbantah sendiri, “kekerasan hati Mahisa Agni tidak akan dapat dicairkan dengan cara itu.”
“Tetapi kenapa sifat-sifatnya kini berubah sama sekali?” pertanyaan itu selalu mengganggunya, “apakah aku pun akhirnya akan kehilangan kedirianku.”
Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku memang sudah kehilangan diriku sendiri. Guruku hampir terbunuh oleh paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bahkan mungkin kini sudah mati benar-benar. Dan aku berada di sini membantunya.”
Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Tetapi ketika ia berpaling maka ia sudah agak jauh sehingga ia tidak melihat lagi apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet atas Mahisa Agni.
“Mungkin pendapat itu benar, dan paman Kebo Sindet sedang membentuk seorang Mahisa Agni yang jinak dan tidak berani berbuat apapun.”
Kuda Sempana itu pun kemudian melangkah terus. Ia ingin membersihkan dirinya, mandi justru di dalam air yang keruh. Tetapi kini ia sudah menjadi biasa dengan air yang keruh itu. Bahkan minum pun tidak lagi terasa muak, meskipun ia tahu bahwa di dalam rawa-rawa itu kadang-kadang terapung sisa bangkai binatang-binatang yang mesti dibunuh oleh buaya-buaya kerdil.
Kebo Sindet yang melihat Mahisa Agni duduk dengan gemetar membentak dengan kerasnya. “Ayo pergi. Siapkan makan kami. Kalau masih juga selalu bermalas-malas, maka kau sekali lagi akan aku ikat di pohon itu dan aku pukuli sampai kulitmu terkelupas.”
Dengan menggigil Mahisa Agni bangkit perlahan-lahan. Ketika ia telah tegak berdiri dan melangkah meninggalkan Kebo Sindet, tiba-tiba kaki iblis itu mendorong punggungnya, sehingga anak muda itu jatuh terjerembab. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba merangkak bangkit. Ketika ia mencoba berpaling, dilihatnya sorot mata Kebo Sindet seolah-olah menusuk jantungnya, sehingga segera Mahisa Agni itu memalingkan wajahnya.
“Cepat pergi setan kecil.” teriak Kebo Sindet.
Mahisa Agni pun segera bangkit dan berjalan cepat-cepat meninggalkan Kebo Sindet yang berdiri saja mengawasinya. Meskipun wajahnya sama sekali tidak berkesan apapun, namun sorot matanya memancarkan kepuasan hatinya. Perlahan-lahan ia berdesis.
“Sebentar lagi anak itu pasti akan menjadi seekor siput yang tidak berani berbuat apapun. Jika demikian maka ia akan menjadi barang dagangan yang menyenangkan sekali. Aku akan dapat membawanya ke Tumapel tanpa cemas lagi bahwa pemalas kecil itu akan berani melarikan dirinya. Atau membawa seseorang yang dapat menawarkannya kepada permaisuri untuk datang kemari. Anak itu pasti tidak akan berani berbuat apa-apa lagi.”
Demikianlah yang dilakukan oleh Kebo Sindet. Setiap hari apabila ia berada di dalam sarangnya itu, selalu menakut-nakuti, membentak-bentak, memukul dan apa saja untuk membuat Mahisa Agni kehilangan keberanian. Kebo Sindet mengharap, betapapun kuatnya jiwa seseorang, tetapi apabila setiap hari ia mendapat perlakuan yang mempengaruhi keberaniannya, maka akhirnya ketahanan jiwanya itu pasti akan runtuh pula. Seperti apa yang dilakukannya atas Kuda Sempana meskipun dengan cara yang berbeda. Kini ia melihat Mahisa Agni menjadi ketakutan apabila melihatnya sebelum ia berbuat apa-apa. Maka Kebo Sindet itu mengharap dalam waktu singkat, Mahisa Agni telah menjadi seorang yang mempunyai sifat seperti yang dikehendakinya.
Mahisa Agni pun kemudian segera berlari ke dapur yang kotor. Segera dipersiapkannya makan buat Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Nasi jagung dan daging rusa. Ikan yang di dapatnya dari dalam rawa-rawa dan sejenis daging burung air. Mahisa Agni sendirilah yang harus memburu makanan yang disediakannya kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat dengan panah. Di sekitar sarang yang dikitari rawa-rawa itu memang terdapat beberapa ekor rusa liar. Ternyata pulau di tengah-tengah rawa itu cukup luas bagi rusa-rusa itu untuk menikmati hidupnya. Dan rusa-rusa itulah yang setiap kali harus dicari oleh Mahisa Agni. Tetapi yang paling mudah dilakukan adalah mengail ikan di rawa-rawa itu dan mencari burung-burung air.
Hanya jagungnyalah yang diterimanya dari Kuda Sempana setiap kali. Apabila jagung itu habis, maka Kuda Sempana dan Kebo Sindet mencarinya kemana saja, padesan-padesan yang dilaluinya. Hidup yang demikian itu harus dijalani oleh Mahisa Agni tanpa batas, kapan ia dapat lepas daripadanya, Untunglah bahwa Kebo Sindet dan Kuda Sempana jarang berada di sarang mereka. Setiap kali mereka pergi meninggalkan tempat itu untuk waktu yang kadang-kadang cukup lama. Secepat-cepatnya tiga empat hari mereka baru kembali, dan tinggal di tempat itu untuk waktu yang sama.
Ketika kemudian Kebo Sindet dan Kuda Sempana makan, maka Mahisa Agni harus duduk di dekat mereka. Setiap kali Kebo Sindet memerlukan sesuatu, maka disuruhnya Mahisa Agni untuk mengambilkannya.
“Ambil air panas.” teriak Kebo Sindet tiba-tiba.
Mahisa Agni terkejut. Segera ia bangkit dan berjalan tergesa-gesa kebahagian belakang dari sarang mereka itu untuk mengambil air hangat.
“Ia sudah menjadi semakin sehat.” desis Kebo Sindet kemudian kepada Kuda Sempana, “apabila ia telah menjadi sehat benar, maka ia harus dilemahkan. Setidak-tidaknya ia tidak dapat menyamaimu.”
Wajah Kuda Sempana sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Namun ia menjawab, “Terserah kepada paman. Tetapi dalam keadaan apa pun aku masih sanggup membunuhnya.”
“Sekarang. Ia sudah kehilangan sebagian terbesar dari keberaniannya. Kau memang dapat berbuat apa saja atasnya tanpa perlawanan. Tetapi kemajuan kekuatannya akan sedikit berbahaya juga bagimu.”
“Sama sekali tidak.”
Kebo Sindet terdiam ketika ia melihat Mahisa Agni datang membawa mangkuk berisi air hangat. Setelah air itu seteguk diminumnya, maka sisanya tiba-tiba saja disiramkannya kepada Mahisa Agni yang duduk tepekur di sampingnya.
“Gila.” Kebo Sindet itu menggeram, “kau tidak menyediakan gula kelapa untukku?”
Mahisa Agni terkejut. Sekali lagi ia meloncat berdiri dan melangkah pergi. Tetapi Kebo Sindet berteriak. “Kemana kau?”
“Mengambil gula kelapa.” jawab Mahisa Agni.
“Kau memang gila. Kau lihat, bahwa air panas itu telah habis seluruhnya?”
Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Ia tidak tahu apa yang harus segera dilakukan.
“Pergi, pergi.” Kebo Sindet itu masih berteriak-teriak, “ambil air panas dan gula kelapa.” Mahisa Agni pun segera meloncat pergi untuk memenuhi permintaan Kebo Sindet. “Aku hampir berhasil.” desis Kebo Sindet kepada Kuda Sempana. “Lihat ia menjadi sangat ketakutan.” Kuda Sempana tidak menjawab. “Sudah beberapa hari aku tidak mengajarnya. Besok, setelah kita pergi ke Balantur, aku akan mencambuknya supaya ia menjadi agak lemah dan menjadi semakin ketakutan.”
Kuda Sempana masih berdiam diri. “Apakah kau ingin melakukannya lagi seperti beberapa waktu yang lalu?”
“Tidak. Saat itu pun aku sebenarnya tidak ingin mencambuknya. Tetapi paman memaksa aku untuk melakukannya.”
“Huh.” Kebo Sindet menyahut, “apakah kau juga sudah menjadi pengecut seperti Mahisa Agni.” Kuda Sempana terdiam. “Kalau begitu aku harus berbuat sebaliknya terhadapmu. Kau harus menjadi laki-laki yang berani melihat darah, tetapi kau tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku-tanganku. Kau mengerti? Kau harus melakukan beberapa kali. Mengelupas kulit Mahisa Agni, tetapi jaga jangan sampai ia mati. Kau harus dapat melakukannya tanpa kesan apa pun di hatimu.”
“Tidak perlu Aku tidak kehilangan keberanianku menghadapi apa saja. Tetapi tidak menghadapi orang yang terikat. Hal itu tidak akan menambah kemampuan apa pun padaku.”
Kebo Sindet lah yang kemudian berdiam diri untuk sejenak. Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu ketika Mahisa Agni datang sambil membawa mangkuk air panas dan segumpal gula kelapa.
“Letakkan di situ.” perintah Kebo Sindet, “lalu pergi dari sini.”
“Baik tuan.” sahut Mahisa Agni dengan suara gemetar.
Mahisa Agni pun segera pergi. Ia tahu, bahwa untuk sementara ia tidak diperlukan lagi sampai datang saatnya Kebo Sindet memanggilnya. Segera dipersiapkannya pancingnya. Dengan kepala tunduk ia melangkah ke pinggir rawa-rawa sambil menjinjing pancing di tangan kanan dan busur serta beberapa anak panah di tangan kiri. Dalam saat-saat senggang demikian, Mahisa Agni lebih senang mengail atau berburu dari pada berada di dekat Kebo Sindet yang selalu membentak-bentaknya dan memukulnya.
Sejenak kemudian Mahisa Agni sudah duduk terkantuk-kantuk di pinggir rawa, di atas sebongkah batu, dengan pakaian yang basah. Dilemparkannya umpan kailnya ke dalam air yang keruh, kemudian di letakkannya walesan kailnya di atas batu tempat ia duduk, ditindih dengan busur dan anak panahnya. Sementara ia duduk memeluk lututnya dan meletakkan kepalanya di atas mulut itu.
Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar desir di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Kuda Sempana berdiri tegak dengan sehelai pedang di lambungnya. Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Jalur-jalur cambuk di punggungnya masih membekas sejak beberapa hari yang lalu ketika Kuda Sempana itu memukulinya, sementara ia diikat pada sebatang pohon.
“Apa yang kau lakukan?”
“E, mengail, Kuda Sempana.”
Kuda Sempana berdiam sejenak. Dipandanginya wajah Mahisa Agni yang pucat. Tampaklah pada sorot matanya, Kuda Sempana ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan di mulutnya. Sesaat mereka saling berdiam diri. Kuda Sempana memandangi Mahisa Agni dengan mata yang hampir tidak berkedip, sedang Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tetapi belum lagi Kuda Sempana mengucapkan sesuatu terdengar Kebo Sindet berdesis di belakang mereka. “Kuda Sempana, tinggalkan setan kecil itu.”
Kuda Sempana terperanjat juga mendengar suara itu. Tetapi tanpa kesan apa pun ia berpaling. Dipandanginya Kebo Sindet yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Mahisa Agni pun mengangkat wajahnya pula. Terbayang perasaan kesal pada sorot matanya. Tetapi kemudian ia pun menunduk pula.
Karena Kuda Sempana masih juga tidak beranjak pergi, maka sekali lagi Kebo Sindet berkata, “Tinggalkan tikus itu dengan kesenangannya. Ia baru menangkap ikan untuk menyediakan makan kita nanti.”
Kuda Sempana menarik nafas. Perlahan-lahan ia melangkah meninggalkan tempat itu. Ketika mereka telah berbelok ke belakang sebuah gerumbul kecil, Kebo Sindet yang berjalan di belakangnya berkata,
“Aku peringatkan sekali lagi, jangan kau bunuh dia, supaya kau pun tidak aku bunuh pula.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ancaman itu telah didengarnya berpuluh kali. Karena itu maka telinganya telah menjadi kebal karenanya.
“Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet itu pula, “sebaiknya kau selalu saja aku bawa berjalan berkeliling daerah Tumapel dan Kediri. Di sini kau ternyata berbahaya bagi Mahisa Agni. Kalau aku sedang tidur atau lengah sedikit saja, mungkin kau akan melakukan pembunuhan itu meskipun kau tahu akibatnya. Karena itu, biarlah kita berjalan lagi. Bukankah kita telah mendapat sedikit jalan untuk dapat berhubungan dengan permaisuri. Agaknya orang yang kita datangi beberapa saat yang lalu meskipun belum menyediakan diri, tetapi kemungkinan itu dapat terjadi. Baiklah besok kita datang kepadanya sekali lagi. Kita berijanji yang lebih baik kepadanya. Tetapi kalau ia berkhianat, lebih baik kita binasakan saja.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia berjalan saja selangkah demi selangkah. “Orang itu adalah orang licik. Tetapi ia senang sekali kepada harta kekayaan. Kau telah menunjuk orang yang dapat diharapkan.”
Kuda Sempana masih berdiam diri. Kebo Sindet pun kemudian berkata pula, “Tetapi kita harus mencari orang lain yang lebih pasti dari padanya.”
Kuda Sempana akhirnya berkata, “Kita sebenarnya tidak perlu bersusah payah mencari. Permaisuri itulah kelak yang akan mencari kita.”
“Aku tahu.” jawab Kebo Sindet, “tetapi itu akan langsung terjadi semacam jual beli. Aku tidak senang. Aku perlu perantara. Aku sama sekali tidak ingin berhubungan langsung dengan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Apakah paman menyangka permaisuri dan Akuwu akan sebodoh itu memenuhi tuntutan paman tanpa mendapat jaminan apapun.”
“Mereka harus memenuhi tuntutanku. Kunci persoalan ini ada di tanganku.”
“Bagaimana kalau mereka tidak mau?”
“Mereka harus mau. Bagaimana pertimbanganmu seandainya sepotong kuping Mahisa Agni aku kirimkan kepada permaisuri?”
Kuda Sempana adalah seorang anak muda yang berhati batu. Tetapi mendengar kata-kata Kebo Sindet itu hatinya berdesir. Sehingga wajahnya yang hampir-hampir membeku itu tampak menegang untuk sejenak. Tetapi sejenak kemudian kesan yang mengerikan itu segera terhapus dari wajahnya.
“Bagaimana?” bertanya Kebo Sindet, “apakah dengan demikian permaisuri tetap menolak tuntutanku?” Kuda Sempana tidak menjawab. “Nah, sekarang beristirahatlah. Aku pun akan tidur sebentar. Tetapi ingat, jangan kau ganggu anak itu supaya bukan kuping atau hidungmu yang terpaksa aku kirimkan kepada Ken Dedes.” Kuda Sempana masih berdiam diri.
Kebo Sindet pun kemudian tidak berbicara lagi. Langsung ia masuk kedalam sarangnya dan merebahkan dirinya di atas sepotong amben kayu yang kasar. Sedang Kuda Sempana pun kemudian masuk pula. Ia duduk sebentar di amben yang lain sambil melepas pedangnya.
“Tidurlah. Aku tidak akan terlalu lama di sini. Kau berbahaya bagi Mahisa Agni. Lagi pula aku ingin persoalan anak itu segera selesai, supaya kita tidak terlampau lama memeliharanya. Kita harus segera menemukan orang yang dapat dipercaya untuk membicarakan masalah jual beli ini. Kau harus sedikit mempergunakan otakmu. Bukankah kau bekas seorang pelayan dalam, sehingga sebenarnya terlampau banyak orang yang seharusnya kau kenal untuk kepentingan ini.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Direbahkannya dirinya dan dicobanya untuk menghentikan angan-angannya. Ia ingin tidur. Tidur sepuas-puasnya.
Hari-hari yang demikian sangat menjesakkan napas Mahisa Agni. Pada saat-saat Kebo Sindet dan Kuda Sempana ada disarangnya. Banyak sekali yang harus dilakukannya. Bahkan hampir-hampir ia tidak sempat berbuat apa-apa. Menyediakan makanan, kemudian mencuci mangkuk dan alat-alat, merebus air, dan sisa waktunya dipergunakan untuk berburu atau mengail. Apabila ia tidak mendapat buruan cukup, maka tubuhnya pasti akan menjadi babak belur.
Hal yang demikian itu hampir-hampir tidak dapat masuk akal Kuda Sempana. Pertanyaan tentang Mahisa Agni selalu saja menyelimutinya. Seperti pertanyaan tentang dirinya sendiri. Dengan sadar Kuda Sempana merasa bahwa ia sudah tidak mempunyai minat untuk berbuat sesuatu. Ia kini tinggal menurut saja perintah apa pun yang diberikan kepadanya oleh Kebo Sindet. Semua keinginan dan cita-cita untuk dirinya sendiri seolah-olah telah mati.
Kuda Sempana dan Kebo Sindet itu pun kemudian tertidur pula. Dalam saat-saat yang demikian, di masa-masa sebelumnya tumbuh di dalam angan-angan Mahisa Agni untuk membunuh saja keduanya. Tetapi Kebo Sindet adalah orang yang luar biasa, sehingga langkahnya betapapun lambatnya pasti akan membangunkannya. Apalagi di dalam sarang itu terdapat berbagai macam barang-barang yang terbujur lintang tidak keruan. Kayu-kayu dan bambu-bambu. Gledeg dan barang-barang pecah belah yang berserakan. Tetapi lambat laun keinginan itu pun padam dengan sendirinya, sehingga Mahisa Agni sama sekali-sekali belum pernah melakukan percobaan itu.
Kebo Sindet sendiri merasa yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berani berbuat sesuatu. Semula ia pun memperhitungkan pula kemungkinan itu, sehingga beberapa kali ia berpura-pura tidur di tempat yang mudah sekali didatangi oleh Mahisa Agni seandainya ia ingin melakukan percobaan untuk membunuhnya. Tetapi percobaan itu sama sekali tidak pernah terjadi, sehingga Kebo Sindet akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Mahisa Agni tidak akan berani melakukannya. Apalagi setelah anak itu menjadi jinak.
Kali ini seperti biasanya, Kebo Sindet tidak terlampau lama berada di sarangnya yang menjemukan itu. Menjemukan bagi Kebo Sindet sendiri. Sepeninggal adiknya, ia lebih suka merantau. Mendatangi padesan-padesan dan kampung-kampung. Masuk keluar warung tanpa mempersoalkan uang untuk membayarnya. Berjudi bersama-sama dengan orang-orang jahat dan kasar seperti dirinya sendiri. Berkelahi dan saling membunuh. Tetapi tidak seorang pun yang pernah dijumpainya dapat mengalahkannya. Kadang-kadang di dalam lingkaran judi orang-orang yang belum mengenalnya berani menentang kehendaknya. Tetapi biasanya orang itu akan kehilangan semuanya. Uang dan barang-barangnya. Bahkan nyawanya.
Ketika matahari mulai melontarkan sinarnya yang kuning kemerah-merahan, maka Kebo Sindet dan Kuda Sempana telah siap untuk meninggalkan sarangnya yang kotor itu, setelah tiga hari ia tinggal. Meskipun rawa-rawa di sekitar sarangnya masih disaput oleh kabut yang rapat, namun Kebo Sindet sama sekali tidak menjadi cemas bahwa ia akan terjerumus ke dalam lumpur di dalam dasar rawa-rawa itu. Ia sudah begitu hafalnya. Bahkan sambil berlari pun ia dapat melintasinya tanpa terperosok kedalam lumpur.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar