Kuda yang dipergunakan oleh Kebo Sindet pun lambat laun menjadi hafal pula seperti penunggangnya. Kemana kakinya harus melangkah supaya ia tidak tersesat. Dengan demikian maka Kebo Sindet hampir-hampir tidak perlu lagi mengendalikan kudanya di sepanjang rawa-rawa itu, betapa tebalnya kabut dan bahkan di malam hari sekalipun. Hidung kuda itu seolah-olah telah mendapatkan sebuah mata yang dapat melihat langsung menembus air yang berwarna lumpur itu, melihat sampai kedasarnya.
Ketika mereka berdua, Kebo Sindet dan Kuda Sempana sudah berada di punggung kudanya, maka berkatalah iblis dari Kemundungan itu kepada Mahisa Agni. “He, pemalas. Kau harus menunggu rumah ini. Pelihara baik-baik. Aku akan pergi untuk sepekan atau dua pekan mencari orang yang sudi mengambilmu dari tempat ini. Kau sudah terlampau lama mengotori rumahku. Seharusnya kau segera mendapat tebusan. Tetapi agaknya tidak seorang pun di dunia ini yang mempedulikanmu. Adikmu, apalagi Tunggul Ametung.” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepala tertunduk dalam-dalam. “He, apa katamu?”
“Ya, ya, aku mengerti.” jawab Agni tergagap.
“Apa yang kau mengerti he?”
“Menjaga dan memelihara rumah ini baik-baik.”
“Hanya itu?” Mahisa Agni terdiam. Ia tidak mengerti apa yang harus dikatakannya.
“Apa he?” Kebo Sindet tiba-tiba berteriak.
Mahisa Agni masih terbungkam. Ia masih belum mengerti maksud Kebo Sindet itu. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar Kebo Sindet berteriak-teriak. Ia melihat kuda yang ditungganginya bergerak maju ke arahnya, dan sejenak kemudian ia terdorong jatuh karena sentuhan kaki iblis yang garang itu.
“Pemalas yang bodoh. Kau harus berkata bahwa memang tidak ada seorang pun yang mempedulikan kau lagi. Kau tinggal menunggu nasib jelek yang bakal datang. Apabila aku tidak segera dapat berhubungan dengan orang yang masih bersedia mengambilmu, maka kupingmu sepotong-sepotong akan aku kirimkan kepada Ken Dedes. Kemudian hidung, tangan dan kaki-kakimu sebelum kau aku lemparkan ke rawa-rawa itu, kecuali kepalamu yang akan aku simpan sebagai pesugihan.”
Tertatih-tatih Mahisa Agni mencoba berdiri. Tetapi Kebo Sindet itu telah menggerakkan kudanya meninggalkannya diikuti oleh Kuda Sempana. Ketika Kebo Sindet berpaling, dilihatnya Mahisa Agni berdiri dengan lemahnya, memandanginya.
“Anak itu memang bodoh.” gumamnya. Kuda Sempana pun berpaling, tetapi ia tidak menyahut. “Ternyata ia tidak lebih dari seekor tikus pengecut. Aku yakin bahwa ia telah kehilangan seluruh kepribadiannya. Dan aku semakin senang melihatnya”.
Kuda Sempana masih berdiam diri. Ternyata Kebo Sindet itu pun tidak berbicara lagi. Kini mereka telah turun ke dalam air dan sejenak kemudian mereka berdua hilang ditelan oleh kabut di atas rawa-rawa yang keruh itu.
Ketika mereka sudah tidak tampak lagi, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seperti ia ingin melepaskan semua yang sedang menyumbat dadanya. Sekali disekanya keringat yang seakan-akan mengembun dipelipisnya. Dikibaskannya pakaiannya yang kotor oleh tanah lembab ketika ia jatuh berguling disentuh kaki Kebo Sindet.
Perlahan-lahan matahari merayap di kaki langit. Semakin lama menjadi semakin tinggi. Dan Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya memandangi kabut yang putih. Tetapi tiba-tiba wajahnya yang lesu itu menjadi semakin terang seperti matahari yang semakin meninggi. Bahkan anak muda itu pun kemudian tersenyum.
Lenyaplah segala kelesuan dan ketakutan dari wajahnya. Tiba-tiba ia meloncat-loncat tinggi-tinggi. Menggeliat dan tangannya menggapai dahan kayu di atasnya. Sejenak kemudian tubuhnya menggantung di dahan itu, dan sambil menggeram diangkatnya tubuh itu tinggi-tinggi. Demikian dilakukannya berkali-kali. Sesaat kemudian maka tubuh itu pun berputar seperti baling-baling. Ketika tangan Mahisa Agni terlepas maka tubuhnya itu pun terlempar ke tanah. Tetapi dengan lincahnya ia melenting dan ia pun telah berdiri di atas tanah, pada kedua belah kakinya.
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Terdengar ia berdesis perlahan “Mudah-mudahan aku berhasil.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan dengan langkah yang cepat menuju ketepi rawa-rawa di ujung lain. Tersuruk-suruk ia menyelinap ke balik gerumbul-gerumbul liar, kemudian sampailah ia ketempat yang agak lapang, di bawah pepohonan yang jarang.
“Sudah beberapa hari aku tidak sempat mengunjungi tempat ini.” Desisnya, “iblis itu selalu saja mengganggu aku. Mumpung masih pagi, biarlah segera aku mulai.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berjongkok pada lutut-lututnya. Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia melenting tinggi. Dan mulailah ia berlatih. Mula-mula gerakannya tidak begitu cepat, sekedar untuk memanaskann badannya. Tetapi semakin lama gerakan itu menjadi semakin lincah. Seperti kijang ia berloncat-loncatan, sambil mengayun-ayunkan tangannya. Setiap kali disentuhnya ujung-ujung perdu yang sudah ditandainya. Semakin lama semakin cepat, semakin cepat. sehingga sesaat kemudian gerakannya hampir-hampir tidak dapat diikuti dengan mata. Sekali ia meloncat ke depan, namun tiba-tiba ia sudah meluncur surut. Berputar, melenting dan menggeliat.
Ketika tubuh Mahisa Agni telah dibasahi oleh keringatnya yang hangat, maka ia pun memperlambat gerakannya. Namun dalam pada itu, gerakannya yang semakin lambat itu, tampak menjadi semakin tangguh dan kuat. Kini ia tidak melatih kecepatan bergerak, tetapi ia ingin melatih kekuatan tenaganya. Pada saat ia menerima Aji tertinggi dari perguruannya, ia sudah mampu menghantam hancur batu padas. Tetapi kini kekuatannya telah bertambah-tambah. Tidak saja batu padas dan batu hitam, bahkan batang-batang kayu yang masih berdiri tegak itu, akan berguncang oleh sentuhan tangannya.
Demikianlah, maka sesaat kemudian maka hutan kecil di tengah-tengah rawa-rawa itu menjadi seolah-olah dihantam oleh badai yang keras. Dari kejauhan akan tampak daun-daunnya bergetar seperti diguncang oleh angin prahara. Dengan dahsyatnya Mahisa Agni meloncat dari sebatang pohon ke batang yang lain. Pohon-pohon yang cukup besar itu dipukulnya berganti ganti sehingga pohon-pohon itu tergetar. Daun-daunnya yang mulai menguning berguguran jatuh di tanah. Bahkan kemudian cabang-cabangnya yang mulai mengering pun terdengar berderak-derak patah.
Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu terloncat. Ia berdiri tegak seperti patung. Matanya tiba-tiba seolah-olah menyala ketika ia melihat seseorang tanpa di ketahuinya telah berdiri beberapa langkah dari padanya.
“Alangkah dahsyatnya.” terdengar orang itu berkata Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya. Matanya kini bagaikan menyala. Tiba-tiba detak jantungnya seolah-olah menjadi berlipat ganda memukul dinding dadanya.
“Kau.” terdengar menggeram.
“Ya, aku datang kepadamu Agni.”
Mulut Mahisa Agni tiba-tiba mengatup rapat-rapat. Terdengar giginya gemeretak. “Apakap kau akan membunuhku.”
“Apakah aku sekarang mampu melakukannya? “
Mahisa Agni terdiam sejenak. Dilihatnya orang itu dari ujung kakinya sampai ujung kepalanya. Beberapa waktu yang lampau ia sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Tetapi kini ia telah berubah. Sejak ia berada di pengasingan ini, ia merasa bahwa ilmunya telah bertambah maju. Meskipun demikian ia masih belum berani meyakini dirinya, bahwa ia sudah dapat menyamai Kebo Sindet. Karena itu, maka ia pun masih belum yakin bahwa ia dapat menyamai orang yang dengan tanpa disangka-sangkanya telah berdiri di hadapannya.
“Bagaimana Agni, apakah aku masih mampu melakukannya?”
Mahisa Agni menggeram. Ia merasa bahwa pertanyaan itu semata-mata untuk menghinanya. Bagaimana pun juga orang itu adalah seseorang yang tidak kalah dahsyatnya dari Kebo Sindet sendiri. Dan apa pun yang pernah dilakukannya dan terjadi atas diri orang itu, namun Mahisa Agni masih merasakan sikap yang berbahaya baginya. Tetapi Mahisa Agni telah bertekad untuk keluar dari rawa-rawa itu dengan cara yang akan mengejutkan Kebo Sindet. Karena itu, maka sudah barang tentu ia tidak akan dengan suka rela menyerahkan kepalanya kepada orang yang sangat dibencinya itu, apa pun yang sudah diperbuatnya.
“Apakah yang kau kehendaki sekarang?” bertanya Mahisa Agni, “apakah kau masih belum puas melihat aku berada di sarang iblis ini? Meskipun aku tidak pasti, tetapi aku mendengar sedikit banyak tentang kau dan Kebo Sindet. Percakapan-percakapan yang aku dengar dan kenyataan yang aku lihat. Apakah kau masih menganggap aku sebagai barang yang sangat berharga untuk kau perebutkan? Kenapa kau tidak datang menemui Kebo Sindet langsung?”
“Mungkin kau pernah mendengar percakapan Kuda Sempana dan Kebo Sindet, mungkin dari orang lain. Bagaimana tanggapanmu sekarang tentang diriku. Apakah sekian lama kau di sini, maka kau tidak lagi dapat melihat sesuatu di luar daerah rawa-rawa ini?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi sekali lagi direnunginya laki-laki itu. Terasa suatu perbedaan yang dalam terpancar dari wajah orang itu dari pada wajahnya yang pernah dikenalnya dahulu. Namun demikian terbersit suatu pertanyaan didalam dirinya.
“Apakah aku telah benar-benar berubah setelah aku terasing di daerah neraka yang memuakkan ini?” Lalu katanya pula di dalam hatinya itu. “Aku memang merasa asing. Juga terhadap diriku sendiri.”
“Bagaimana?” terdengar laki-laki itu bertanya pula.
Mahisa Agni masih memandanginya dengan saksama. Semakin tajam ia memandang wajah orang itu, semakin terasa, bahwa orang ini seolah-olah bukan orang yang pernah dikenalnya dahulu, meskipun wadagnya adalah wadag yang itu juga.
“Apakah kau tidak dapat mengenal aku lagi dengan baik?” bertanya orang itu pula.
Mahisa Agni tidak mau berlama-lama diombang-ambingkan oleh perasaan dan keragu-raguannya. Karena itu maka apa pun yang pernah didengarnya tentang orang itu, namun ia akan mengambil sikap yang paling hati-hati. Ia harus menjaga dirinya baik-baik.
“Agni.” berkata laki-laki itu, “mungkin kau pernah mendengar serba sedikit tentang diriku. Tetapi Ternyata sekarang aku datang mencarimu. Anggaplah bahwa tidak ada suatu perubahan apa pun tentang aku. Anggaplah seandainya kau pernah mendengar serba sedikit tentang aku, itu sama sekali tidak benar. Aku masih tetap ingin mendapatkan hadiah yang sebesar-besarnya dengan menemukanmu. Meskipun aku dapat berbuat seperti Kebo Sindet, menyembunyikan kau dan menuntut agar kau ditukar dengan harta benda, meskipun setelah harta benda itu diterima, kau pasti akan dibunuhnya juga, tetapi aku akan berbuat lain. Aku akan membebaskanmu. Aku akan menjadi seorang pahlawan. Dan aku akan mendapat harta yang aku kehendaki seperti yang diingini oleh Kebo Sindet. Bedanya, Kebo Sindet akan selalu dikejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung yang pasti tidak akan dapat kami kalahkan karena pusaka penggadanya yang nggegirisi itu, sedang aku akan disanjungnya sebagai seorang pahlawan yang telah membebaskan kau.”
Kesan di dalam hati Mahisa Agni tentang laki-laki itu segera larut seperti awan yang disapu angin kencang. Sekali lagi ia menggeretakkan giginya. Terdengar ia menggeram.
“Licik. Kau ternyata lebih licik dari Kebo Sindet. Apakah dengan demikian kau sangka, aku tidak dapat berbicara dengan mulutku tentang engkau?”
“Oh, jadi kau tidak akan berterima kasih kepadaku apabila aku berbuat demikian?”
“Kau adalah sumber dari bencana ini.”
Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Tetapi aku adalah pahlawan yang akan membebaskan kau dari bencana ini.”
“Itulah kelicikanmu. Dan kau akan digantung karenanya.”
Laki-laki itu masih tertawa. Katanya kemudian, “Bagaimanakah kalau aku berhasil merebutmu dari tangan Kebo Sindet dalam keadaan yang tidak dikehendaki oleh Permaisuri dan Akuwu Tunggul Ametung?”
“Maksudmu?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku berkelahi dengan Kebo Sindet. Aku berhasil mengalahkannja. Tetapi sebelum ia lari, maka kau dibunuhnya lebih dahulu, sehingga aku tinggal dapat merebut mayatmu.”
Darah Mahisa Agni serasa mendidih mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia merenggangkan kakinya sambil bergumam. “Bunuhlah kalau kau ingin membunuh Mahisa Agni. Aku sudah bersedia tetapi aku tidak akan menyerahkan nyawaku seperti seekor kerbau di pembantaian.”
“Bagus, kau sudah terlalu jauh maju. Apakah Kebo Sindet selama ini telah memberimu ilmunya yang hitam itu?”
“Persetan dengan Kebo Sindet. Seperti sikapku terhadapmu, aku akan bersikap serupa terhadap Kebo Sindet.”
“He?” tiba-tiba laki-laki tertawa berkepanjangan, “sudah berapa lama kau berada di sini tanpa berbuat sesuatu. He?”
Mahisa Agni terdiam sejenak. Terbayang apa yang selalu dilakukan di sarang iblis kemundungan ini. Berlutut dan tunduk dalam-dalam. Menjatuhkan diri berguling-guling apabila ditampar pipinya. Jawabannya selalu tergagap ketakutan apabila dibentak oleh iblis itu.
Tiba-tiba suaranya meledak. “Tetapi itu bukan maksudku. Aku bukan pengecut yang sekedar menyembunyikan nyawa dengan mengorbankan harga diri.”
“Oh,” laki-laki itu mengerutkan keningnya, “bukan maksudmu sendiri? Lalu, apakah itu maksud Kebo Sindet.”
“Tidak.”
“Lalu siapa?”
Sekali lagi Mahisa Agni terdiam. Tetapi sorot Matanya menjadi merah seperti soga. “Itu bukan urusanmu.” ia menggeram, “sekarang kalau kau ingin membunuhku, lakukanlah.”
Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau masih juga keras kepala. Aku memberi kau kesempatan untuk memilih. Sebenarnya aku ingin menyerahkan kau dengan baik. Tetapi kau sudah mengancamku untuk membuka rahasia. Karena itu, maka pilihan itu menjadi tidak terlampau menyenangkan. Yang pertama, apabila kau tidak melawan, kau akan tetap hidup. Kau aku bawa kepada permaisuri, tetapi dalam keadaan gagu. Aku akan memilin lidahmu dan membuat kau tidak dapat berkata-kata untuk waktu yang agak lama. Maaf, itu adalah karena pokalmu sendiri. Yang kedua, apabila kau melawan, maka kau akan aku bunuh. Mayatmulah yang akan abu bawa ke Tumapel. Tetapi itu akan lebih baik dari pada tubuhmu menjadi makanan buaya-buaya kerdil di rawa-rawa itu.”
Tubuh Mahisa Agni kemudian menggigil karena kemarahan yang sudah hampir tidak tertahankan lagi. Kebenciannya kepada orang itu telah mencapai puncaknya. Namun ia masih tetap sadar dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka ia tidak mau berbuat tergesa-gesa. Ia harus ber-hati-hati sekali. Dadanya berdentangan ketika ia mendengar orang itu berkata,
“Nah, Agni. Manakah yang kau pilih di antara keduanya?”
“Jangan banyak bicara lagi Empu. Kalau kau ingin membunuh cepatlah. Tetapi kau barus sadar pula bahwa aku pun ingin membunuhmu.”
Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Apakah dengan permainan loncat-loncatan itu kau merasa mampu mengimbangi aku kini?”
“Persetan.” jawab Mahisa Agni, “Ayo berbuatlah.”
“Nanti dulu. Aku senang melihat kau ketakutan. Aku tidak ingin cepat-cepat berbuat sesuatu.”
Hampir saja Mahisa Agni meloncat menerkam laki-laki itu. Tetapi beruntunglah, bahwa bekalnya kini menjadi semakin banyak untuk menghadapi keadaan yang demikian. Bahkan tiba-tiba ia menyadari, bahwa di dalam setiap benturan badaniah, maka kemarahan yang meluap-luap hanya akan membuat akalnya menjadi gelap. Itulah sebabnya. maka tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan lagi darahnya yang telah mendidih sampai di ubun-ubun. Dengan berusaha untuk menekan luapan perasaannya ia berkata,
“Baiklah Empu. Kalau kau masih akan menunggu. Aku pun akan bersabar pula. Mungkin kau sedang mempertimbangkan apakah kau masih mampu berbuat sesuatu.”
Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Sekilas terbersit di dalam dadanya, pertanyaan tentang anak itu. Ternyata Mahisa Agni telah menjadi semakin mengendap dan mampu menahan diri menghadapi sentuhan-sentuhan perasaan. Anak itu kini telah berhasil menahan diri, menenan kemarahan yang telah sampai membakar kepalanya. Laki-laki itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata,
“Hem, agaknya kau menjadi semakin berhati-hati. Apakah gurumu yang baru, Kebo Sindet mengajarmu demikian?”
“Ya.” sahut Mahisa Agni pendek.
Sekali lagi orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba wajahnya menegang. Dengan gemetar tangannya diangkatnya menunjuk kehidung Mahisa Agni. “Agni, Ternyata kau memilih cara yang kedua. Kau akan melawanku. Bukankah begitu?”
“Ya.” sahut Mahisa Agni pendek.
Tetapi ia telah berhasil menahan hati untuk tidak dicengkam oleh kemarahannya sendiri. Justru dengan demikian ia mampu melihat lawannya dengan terang. Sikapnya, langkahnya dan bahkan yang agak mengejutkan adalah senjatanya. Sehingga dengan herannya ia bertanya,
“Empu, baru sekarang aku melihat sesuatu yang lain daripadamu. Kenapa membawa pedang. Kenapa kau tidak membawa tongkat panjangmu?”
Laki-laki itu tertawa, katanya, “Kau memperhatikan senjataku pula? Baiklah, dengan pedang-pedang ini aku akan dengan mudahnya membunuhmu. Begitu?”
Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi tampaklah dari sorot matanya, bahwa ia tidak mempercayainya.
“Oh, kau tidak percaya?” laki-laki itu menebak perasaannya, “Baiklah. Kalau begitu aku akan berterus terang. Tongkatku telah aku berikan kepada muridku. Nah, apakah kau sekarang percaya?” Mahisa Agni masih saja berdiam diri.
“Nah, sekarang aku akan sampai pada rencanaku. Kalau mungkin aku akan membuatmu pingsan saja. Kemudian sesudah aku rusakkan lidahmu, maka kau akan aku serahkan kepada adikmu. Aku akan menerima hadiah yang cukup besar. Menurut perhitunganku, hadiahnya pasti akan lebih besar seandainya aku menyerahkanmu hidup-hidup.”
Terdengar Mahisa itu menggeram. Tetapi sekali lagi ia menekan perasaannya untuk tidak membakar akalnya.
“Kau tidak marah? Apakah kau telah benar-benar menjadi seorang pengecut setelah sekian lama kau berada di sini.”
Yang terdengar adalah gemeretak gigi Mahisa Agni. Tetapi ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Namun kesiagaannya menjadi semakin mantap. Ternyata laki-laki itulah yang kemudian tidak sabar menunggu. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata,
“Bersiaplah. Aku akan segera membunuhmu.”
Mahisa Agni memang sudah bersiap sejak lama. Karena itu, maka ia tidak merubah sikapnya. Tetapi Mahisa Agni menjadi semakin heran melihat gerak orang itu. Orang itu melangkah saja seenaknya mendekatinya. Beberapa langkah daripadanya kedua belah tangannya terjulur sambil berkata,
“Aku akan mencekikmu, tetapi tidak sampai mati.”
Betapa laki-laki itu telah menghina Mahisa Agni. Bagaimanapun juga penghinaan itu tidak akan dapat ditahankanya. Karena itu, maka Mahisa Agni sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Terdengar ia menggeram, dan tiba-tiba saja tubuhnya melenting dengan cepatnya. Kakinya terjulur lurus mengarah ke lambung orang itu.
“Oh.”
Ternyata orang itu terperanjat. Benar-benar terperanjat. Kecepatan gerak Mahisa Agni itu sama sekali tidak terduga-duga. Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia meloncat menghindarinya. Tetapi sekali lagi ia terkejut. Ternyata serangan berikutnya telah mengejarnya.
Dengan demikian maka sekali lagi ia terpaksa meloncat menghindar. Kali ini orang itu melontar cukup jauh, sehingga ia sempat untuk menyiapkan dirinya menerima serangan Mahisa Agni berikutnya yang datang seperti badai.
“Bukan main.” desis orang itu, “kau maju pesat sekali Agni, Ternyata gurumu benar-benar mampu menuntunmu. Kau akan menjadi murid Kebo Sindet yang jauh lebih baik dari Kuda Sempana.”
Mahisa Agni sama sekali tidak bernafsu untuk menjawab. Namun geraknya menjadi lebih lincah dan mantap. Serangannya beruntun berurutan sehingga lawannya terpaksa meloncat surut beberapa kali. Tetapi Mabisa Agni mengerti, bahwa tidak hanya sekian jauh nilai lawannya. Itulah sebabnya, maka ia pun telah bersiap untuk bertempur dalam tataran yang lebih tinggi.
Ternyata perhitungan Mahisa Agni itu tidak meleset. Sesaat kemudian lawannya tidak mau lagi hanya berloncatan mundur dan menghindar. Pada saatnya, maka mulailah lawannya itu melakukan serangan untuk mematahkan serangan-serangan Mahisa Agni.
Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Masing-masing mencoba mencari kelemahan lawannya. Dengan gerak yang berubah-ubah Mahisa Agni mencoba untuk mendesak lawannya. Namun lawannya pun memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripadanya sehingga mampu untuk melakukan gerak memotong hampir setiap serangan Mahisa Agni.
Meskipun demikian, Ternyata bahwa Mahisa Agni kini bukan Mahisa Agni beberapa waktu yang lampau. Meskipun belum sampai pada tataran Kebo Sindet, tetapi lawan Mahisa Agni itu tidak dapat menguasainya sepenuhnya. Setiap kali ia dikejutkan oleh gerak Mahisa Agni yang terlampau cepat. Terlampau cepat menurut perhitungannya, bahwa gerak itu dapat dilakukan oleh Mahisa Agni.
“Anak ini benar luar biasa.” berkata laki-laki itu di dalam hatinya, “ia sudah mendapat kemajuan yang tidak aku duga.”
Dengan demikian maka laki-laki itu pun harus mengerahkan sebagian besar dari tenaga dan kemampuannya untuk melawan Mahisa Agni itu. Perkelahian itu semakin seru dan seru. Mereka berloncatan seperti ayam-ayam jantan sedang berlaga. Melontar dan menyerang dengan dahsyatnya. Sentuhan-sentuhan tangan mereka pada pepohonan telah menimbulkan goncangan-goncangan yang keras, sehingga ranting-ranting dan daun-daun yang sudah mulai kuning berguguran di tanah, seolah-olah hujan bunga yang turun dari langit, mengagumi dua orang yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu.
“Hem.” berkata laki-laki itu di dalam hati, “aku kini benar-benar tidak dapat berbuat sekehendak hatiku atasnya. Kini bukan akulah yang menentukan bentuk dari perkelahian ini. Tetapi kekuatan dan kecepatannya bergerak benar-benar merupakan unsur yang tidak dapat diabaikan.”
Namun sementara itu Mahisa Agni pun menyadari, bahwa ilmunya masih belum dapat menyamai ilmu lawannya. Betapa ia mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia merasa, bahwa akhirnya dengan cara yang demikian, ia pasti tidak akan dapat berbuat lebih banyak lagi. Karena itu ia harus berbuat lain. Ia harus mencari cara untuk setidak-tidaknya memperpanjang waktu perlawanannya, sehingga ia menemukan kesempatan untuk melepaskan diri atau mati.
Pada saat lawannya kemudian mengerahkan tenaganya, maka terasa betapa Mahisa Agni menjadi semakin terdesak. Kini anak muda itulah yang terpaksa harus meloncat surut setiap kali. Menghindari serangan yang semakin lama semakin dahsyat. Ketika Mahisa Agni merasa bahwa ia sudah tidak akan tahan lebih lama dengan cara itu, maka tiba-tiba ia melenting tinggi. Digapainya sepotong sulur batang preh yang berjuntai hampir sampai ketanah. Dengan kekuatan yang luar biasa direnggutnya sulur preh itu sehingga berderak patah.
“He.” teriak lawannya berkelahi, “apakah yang sedang kau lakukan.”
Tetapi Mahisa Agni tidak menyahut. Akar preh itu di putar di atas kepalanya seperti baling-baling, kemudian anak muda itu meloncat maju dengan garangnya. Kini sekali lagi Mahisa Agni melibat lawannya dengan akar preh yang dipergunakannya sebagai senjata. Ujungnja yang lentur Ternyata cukup berbahaya bagi lawannya. Agaknya tangan Mahisa Agni benar-benar mampu menguasai senjatanya, sehingga sulur preh itu rasa-rasanya mempunyai mata yang selalu dapat melihat tempat-tempat yang lemah dan berbahaya.
“He.” sekali lagi lawannya berteriak, “cara apakah yang kau pakai untuk melawanku ini? Senjata apakah namanya yang kau pergunakan itu?”
Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi sulur pohon preh yang ditangannya berputar semakin cepat. Melingkar dan mematuk-matuk seperti ribuan ular menyerang bersama-sama.
“Hem.” lawannya berkata lagi, “ilmu sulur preh ini memang dahsyat sekali. Karena itu aku pasti tidak akan mampu melawannya tanpa bersenjata. Karena itu aku terpaksa mempergunakan senjataku. Sebenarnya aku segan menjentuh kulitmu dengan ujung pedangku. Tetapi apa boleh buat. Kau benar-benar telah membabi buta dengan permainan sulur prehmu itu.”
Laki-laki itu tidak menunggu mulutnya terkatub rapat. Tiba-tiba saja tangannya telah menggenggam pedang di tangan kanan dan sebuah pisau belati panjang di tangan kirinya.
“Nah.” katanya, “aku kini sudah bersenjata pula. Mudah-mudahan aku dapat melawan senjatamu yang aneh itu.”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Tetapi tiba-tiba wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Ternyata orang yang biasa mempergunakan sebatang tongkat panjang itu, mampu mempermainkannya dengan dahsyatnya. Kedua pedang itu saling bergulung dalam suatu gumpalan maut yang mengerikan.
“Bukan main,” Mahisa Agni menggeram di hatinya, “ilmu pedang ini benar sulit untuk ditembus. Apalagi hanya sekedar dengan sebatang sulur.”
Tetapi Mahisa Agni tidak boleh berputus asa menghadapi keadaan yang betapapun beratnya. Karena itu maka ia pun semakin memperketat serangannya. Ia masih mencoba untuk mencari kemungkinan menemukan lubang-lubang pertahanan lawannya. Tetapi sepasang senjata lawannya benar-benar merupakan perisai yang sangat rapat. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi Mahisa Agni. Bahkan ketika sulur prehnya mematuk dari ataspun, terasa sulur itu bergetar. Ketika sulur itu di tariknya, maka ujungnya telah tertebas beberapa cengkang.
“Bukan main, bukan main.” berkali-kali Mahisa Agni memuji permainan pedang itu di dalam hatinya.
Ia mengenal orang itu dengan senjatanya yang khusus. Sebatang tongkat panjang sebagai ciri kebesarannya. Dengan tongkat panjangnya, orang itu hampir-hampir tidak terkalahkan. Tetapi Ternyata ia tidak hanya mampu mempergunakan senjatanya yang khusus. Kini ternyata ia mampu menggerakkan sepasang pedang dengan dahsyatnya, awan yang putih bergumpal-gumpal menyelubunginya.
Setelah sekian lama bertempur dengan sekuat tenaganya, bahkan kadang-kadang Mahisa Agni harus mengerahkan tenaganya berlebih-lebihan, maka semakin lama tenaga anak muda itu menjadi semakin susut. Sementara itu matahari yang merayap di langit menjadi semakin jauh melampaui titik puncak langit. Tanpa mereka sadari maka keduanya telah berkelahi lebih dari setengah hari. Meskipun lawan Mahisa Agni itu semakin lama menjadi semakin melihat kelemahan lawannya, tetapi apa yang dihadapinya benar-benar mengherankan. Setengah hari ia sudah melakukan perlawanan. Tetapi benar-benar di luar dugaannya, bahwa ia masih belum mampu menguasai lawannya sepenuhnya. Setiap kali ia masih dikejutkan oleh serangan-serangan Mahisa Agni dengan bentuk tata gerak yang sangat dikaguminya.
Ketika mereka berdua, Kebo Sindet dan Kuda Sempana sudah berada di punggung kudanya, maka berkatalah iblis dari Kemundungan itu kepada Mahisa Agni. “He, pemalas. Kau harus menunggu rumah ini. Pelihara baik-baik. Aku akan pergi untuk sepekan atau dua pekan mencari orang yang sudi mengambilmu dari tempat ini. Kau sudah terlampau lama mengotori rumahku. Seharusnya kau segera mendapat tebusan. Tetapi agaknya tidak seorang pun di dunia ini yang mempedulikanmu. Adikmu, apalagi Tunggul Ametung.” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepala tertunduk dalam-dalam. “He, apa katamu?”
“Ya, ya, aku mengerti.” jawab Agni tergagap.
“Apa yang kau mengerti he?”
“Menjaga dan memelihara rumah ini baik-baik.”
“Hanya itu?” Mahisa Agni terdiam. Ia tidak mengerti apa yang harus dikatakannya.
“Apa he?” Kebo Sindet tiba-tiba berteriak.
Mahisa Agni masih terbungkam. Ia masih belum mengerti maksud Kebo Sindet itu. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar Kebo Sindet berteriak-teriak. Ia melihat kuda yang ditungganginya bergerak maju ke arahnya, dan sejenak kemudian ia terdorong jatuh karena sentuhan kaki iblis yang garang itu.
“Pemalas yang bodoh. Kau harus berkata bahwa memang tidak ada seorang pun yang mempedulikan kau lagi. Kau tinggal menunggu nasib jelek yang bakal datang. Apabila aku tidak segera dapat berhubungan dengan orang yang masih bersedia mengambilmu, maka kupingmu sepotong-sepotong akan aku kirimkan kepada Ken Dedes. Kemudian hidung, tangan dan kaki-kakimu sebelum kau aku lemparkan ke rawa-rawa itu, kecuali kepalamu yang akan aku simpan sebagai pesugihan.”
Tertatih-tatih Mahisa Agni mencoba berdiri. Tetapi Kebo Sindet itu telah menggerakkan kudanya meninggalkannya diikuti oleh Kuda Sempana. Ketika Kebo Sindet berpaling, dilihatnya Mahisa Agni berdiri dengan lemahnya, memandanginya.
“Anak itu memang bodoh.” gumamnya. Kuda Sempana pun berpaling, tetapi ia tidak menyahut. “Ternyata ia tidak lebih dari seekor tikus pengecut. Aku yakin bahwa ia telah kehilangan seluruh kepribadiannya. Dan aku semakin senang melihatnya”.
Kuda Sempana masih berdiam diri. Ternyata Kebo Sindet itu pun tidak berbicara lagi. Kini mereka telah turun ke dalam air dan sejenak kemudian mereka berdua hilang ditelan oleh kabut di atas rawa-rawa yang keruh itu.
Ketika mereka sudah tidak tampak lagi, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seperti ia ingin melepaskan semua yang sedang menyumbat dadanya. Sekali disekanya keringat yang seakan-akan mengembun dipelipisnya. Dikibaskannya pakaiannya yang kotor oleh tanah lembab ketika ia jatuh berguling disentuh kaki Kebo Sindet.
Perlahan-lahan matahari merayap di kaki langit. Semakin lama menjadi semakin tinggi. Dan Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya memandangi kabut yang putih. Tetapi tiba-tiba wajahnya yang lesu itu menjadi semakin terang seperti matahari yang semakin meninggi. Bahkan anak muda itu pun kemudian tersenyum.
Lenyaplah segala kelesuan dan ketakutan dari wajahnya. Tiba-tiba ia meloncat-loncat tinggi-tinggi. Menggeliat dan tangannya menggapai dahan kayu di atasnya. Sejenak kemudian tubuhnya menggantung di dahan itu, dan sambil menggeram diangkatnya tubuh itu tinggi-tinggi. Demikian dilakukannya berkali-kali. Sesaat kemudian maka tubuh itu pun berputar seperti baling-baling. Ketika tangan Mahisa Agni terlepas maka tubuhnya itu pun terlempar ke tanah. Tetapi dengan lincahnya ia melenting dan ia pun telah berdiri di atas tanah, pada kedua belah kakinya.
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Terdengar ia berdesis perlahan “Mudah-mudahan aku berhasil.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan dengan langkah yang cepat menuju ketepi rawa-rawa di ujung lain. Tersuruk-suruk ia menyelinap ke balik gerumbul-gerumbul liar, kemudian sampailah ia ketempat yang agak lapang, di bawah pepohonan yang jarang.
“Sudah beberapa hari aku tidak sempat mengunjungi tempat ini.” Desisnya, “iblis itu selalu saja mengganggu aku. Mumpung masih pagi, biarlah segera aku mulai.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berjongkok pada lutut-lututnya. Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia melenting tinggi. Dan mulailah ia berlatih. Mula-mula gerakannya tidak begitu cepat, sekedar untuk memanaskann badannya. Tetapi semakin lama gerakan itu menjadi semakin lincah. Seperti kijang ia berloncat-loncatan, sambil mengayun-ayunkan tangannya. Setiap kali disentuhnya ujung-ujung perdu yang sudah ditandainya. Semakin lama semakin cepat, semakin cepat. sehingga sesaat kemudian gerakannya hampir-hampir tidak dapat diikuti dengan mata. Sekali ia meloncat ke depan, namun tiba-tiba ia sudah meluncur surut. Berputar, melenting dan menggeliat.
Ketika tubuh Mahisa Agni telah dibasahi oleh keringatnya yang hangat, maka ia pun memperlambat gerakannya. Namun dalam pada itu, gerakannya yang semakin lambat itu, tampak menjadi semakin tangguh dan kuat. Kini ia tidak melatih kecepatan bergerak, tetapi ia ingin melatih kekuatan tenaganya. Pada saat ia menerima Aji tertinggi dari perguruannya, ia sudah mampu menghantam hancur batu padas. Tetapi kini kekuatannya telah bertambah-tambah. Tidak saja batu padas dan batu hitam, bahkan batang-batang kayu yang masih berdiri tegak itu, akan berguncang oleh sentuhan tangannya.
Demikianlah, maka sesaat kemudian maka hutan kecil di tengah-tengah rawa-rawa itu menjadi seolah-olah dihantam oleh badai yang keras. Dari kejauhan akan tampak daun-daunnya bergetar seperti diguncang oleh angin prahara. Dengan dahsyatnya Mahisa Agni meloncat dari sebatang pohon ke batang yang lain. Pohon-pohon yang cukup besar itu dipukulnya berganti ganti sehingga pohon-pohon itu tergetar. Daun-daunnya yang mulai menguning berguguran jatuh di tanah. Bahkan kemudian cabang-cabangnya yang mulai mengering pun terdengar berderak-derak patah.
Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu terloncat. Ia berdiri tegak seperti patung. Matanya tiba-tiba seolah-olah menyala ketika ia melihat seseorang tanpa di ketahuinya telah berdiri beberapa langkah dari padanya.
“Alangkah dahsyatnya.” terdengar orang itu berkata Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya. Matanya kini bagaikan menyala. Tiba-tiba detak jantungnya seolah-olah menjadi berlipat ganda memukul dinding dadanya.
“Kau.” terdengar menggeram.
“Ya, aku datang kepadamu Agni.”
Mulut Mahisa Agni tiba-tiba mengatup rapat-rapat. Terdengar giginya gemeretak. “Apakap kau akan membunuhku.”
“Apakah aku sekarang mampu melakukannya? “
Mahisa Agni terdiam sejenak. Dilihatnya orang itu dari ujung kakinya sampai ujung kepalanya. Beberapa waktu yang lampau ia sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Tetapi kini ia telah berubah. Sejak ia berada di pengasingan ini, ia merasa bahwa ilmunya telah bertambah maju. Meskipun demikian ia masih belum berani meyakini dirinya, bahwa ia sudah dapat menyamai Kebo Sindet. Karena itu, maka ia pun masih belum yakin bahwa ia dapat menyamai orang yang dengan tanpa disangka-sangkanya telah berdiri di hadapannya.
“Bagaimana Agni, apakah aku masih mampu melakukannya?”
Mahisa Agni menggeram. Ia merasa bahwa pertanyaan itu semata-mata untuk menghinanya. Bagaimana pun juga orang itu adalah seseorang yang tidak kalah dahsyatnya dari Kebo Sindet sendiri. Dan apa pun yang pernah dilakukannya dan terjadi atas diri orang itu, namun Mahisa Agni masih merasakan sikap yang berbahaya baginya. Tetapi Mahisa Agni telah bertekad untuk keluar dari rawa-rawa itu dengan cara yang akan mengejutkan Kebo Sindet. Karena itu, maka sudah barang tentu ia tidak akan dengan suka rela menyerahkan kepalanya kepada orang yang sangat dibencinya itu, apa pun yang sudah diperbuatnya.
“Apakah yang kau kehendaki sekarang?” bertanya Mahisa Agni, “apakah kau masih belum puas melihat aku berada di sarang iblis ini? Meskipun aku tidak pasti, tetapi aku mendengar sedikit banyak tentang kau dan Kebo Sindet. Percakapan-percakapan yang aku dengar dan kenyataan yang aku lihat. Apakah kau masih menganggap aku sebagai barang yang sangat berharga untuk kau perebutkan? Kenapa kau tidak datang menemui Kebo Sindet langsung?”
“Mungkin kau pernah mendengar percakapan Kuda Sempana dan Kebo Sindet, mungkin dari orang lain. Bagaimana tanggapanmu sekarang tentang diriku. Apakah sekian lama kau di sini, maka kau tidak lagi dapat melihat sesuatu di luar daerah rawa-rawa ini?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi sekali lagi direnunginya laki-laki itu. Terasa suatu perbedaan yang dalam terpancar dari wajah orang itu dari pada wajahnya yang pernah dikenalnya dahulu. Namun demikian terbersit suatu pertanyaan didalam dirinya.
“Apakah aku telah benar-benar berubah setelah aku terasing di daerah neraka yang memuakkan ini?” Lalu katanya pula di dalam hatinya itu. “Aku memang merasa asing. Juga terhadap diriku sendiri.”
“Bagaimana?” terdengar laki-laki itu bertanya pula.
Mahisa Agni masih memandanginya dengan saksama. Semakin tajam ia memandang wajah orang itu, semakin terasa, bahwa orang ini seolah-olah bukan orang yang pernah dikenalnya dahulu, meskipun wadagnya adalah wadag yang itu juga.
“Apakah kau tidak dapat mengenal aku lagi dengan baik?” bertanya orang itu pula.
Mahisa Agni tidak mau berlama-lama diombang-ambingkan oleh perasaan dan keragu-raguannya. Karena itu maka apa pun yang pernah didengarnya tentang orang itu, namun ia akan mengambil sikap yang paling hati-hati. Ia harus menjaga dirinya baik-baik.
“Agni.” berkata laki-laki itu, “mungkin kau pernah mendengar serba sedikit tentang diriku. Tetapi Ternyata sekarang aku datang mencarimu. Anggaplah bahwa tidak ada suatu perubahan apa pun tentang aku. Anggaplah seandainya kau pernah mendengar serba sedikit tentang aku, itu sama sekali tidak benar. Aku masih tetap ingin mendapatkan hadiah yang sebesar-besarnya dengan menemukanmu. Meskipun aku dapat berbuat seperti Kebo Sindet, menyembunyikan kau dan menuntut agar kau ditukar dengan harta benda, meskipun setelah harta benda itu diterima, kau pasti akan dibunuhnya juga, tetapi aku akan berbuat lain. Aku akan membebaskanmu. Aku akan menjadi seorang pahlawan. Dan aku akan mendapat harta yang aku kehendaki seperti yang diingini oleh Kebo Sindet. Bedanya, Kebo Sindet akan selalu dikejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung yang pasti tidak akan dapat kami kalahkan karena pusaka penggadanya yang nggegirisi itu, sedang aku akan disanjungnya sebagai seorang pahlawan yang telah membebaskan kau.”
Kesan di dalam hati Mahisa Agni tentang laki-laki itu segera larut seperti awan yang disapu angin kencang. Sekali lagi ia menggeretakkan giginya. Terdengar ia menggeram.
“Licik. Kau ternyata lebih licik dari Kebo Sindet. Apakah dengan demikian kau sangka, aku tidak dapat berbicara dengan mulutku tentang engkau?”
“Oh, jadi kau tidak akan berterima kasih kepadaku apabila aku berbuat demikian?”
“Kau adalah sumber dari bencana ini.”
Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Tetapi aku adalah pahlawan yang akan membebaskan kau dari bencana ini.”
“Itulah kelicikanmu. Dan kau akan digantung karenanya.”
Laki-laki itu masih tertawa. Katanya kemudian, “Bagaimanakah kalau aku berhasil merebutmu dari tangan Kebo Sindet dalam keadaan yang tidak dikehendaki oleh Permaisuri dan Akuwu Tunggul Ametung?”
“Maksudmu?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku berkelahi dengan Kebo Sindet. Aku berhasil mengalahkannja. Tetapi sebelum ia lari, maka kau dibunuhnya lebih dahulu, sehingga aku tinggal dapat merebut mayatmu.”
Darah Mahisa Agni serasa mendidih mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia merenggangkan kakinya sambil bergumam. “Bunuhlah kalau kau ingin membunuh Mahisa Agni. Aku sudah bersedia tetapi aku tidak akan menyerahkan nyawaku seperti seekor kerbau di pembantaian.”
“Bagus, kau sudah terlalu jauh maju. Apakah Kebo Sindet selama ini telah memberimu ilmunya yang hitam itu?”
“Persetan dengan Kebo Sindet. Seperti sikapku terhadapmu, aku akan bersikap serupa terhadap Kebo Sindet.”
“He?” tiba-tiba laki-laki tertawa berkepanjangan, “sudah berapa lama kau berada di sini tanpa berbuat sesuatu. He?”
Mahisa Agni terdiam sejenak. Terbayang apa yang selalu dilakukan di sarang iblis kemundungan ini. Berlutut dan tunduk dalam-dalam. Menjatuhkan diri berguling-guling apabila ditampar pipinya. Jawabannya selalu tergagap ketakutan apabila dibentak oleh iblis itu.
Tiba-tiba suaranya meledak. “Tetapi itu bukan maksudku. Aku bukan pengecut yang sekedar menyembunyikan nyawa dengan mengorbankan harga diri.”
“Oh,” laki-laki itu mengerutkan keningnya, “bukan maksudmu sendiri? Lalu, apakah itu maksud Kebo Sindet.”
“Tidak.”
“Lalu siapa?”
Sekali lagi Mahisa Agni terdiam. Tetapi sorot Matanya menjadi merah seperti soga. “Itu bukan urusanmu.” ia menggeram, “sekarang kalau kau ingin membunuhku, lakukanlah.”
Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau masih juga keras kepala. Aku memberi kau kesempatan untuk memilih. Sebenarnya aku ingin menyerahkan kau dengan baik. Tetapi kau sudah mengancamku untuk membuka rahasia. Karena itu, maka pilihan itu menjadi tidak terlampau menyenangkan. Yang pertama, apabila kau tidak melawan, kau akan tetap hidup. Kau aku bawa kepada permaisuri, tetapi dalam keadaan gagu. Aku akan memilin lidahmu dan membuat kau tidak dapat berkata-kata untuk waktu yang agak lama. Maaf, itu adalah karena pokalmu sendiri. Yang kedua, apabila kau melawan, maka kau akan aku bunuh. Mayatmulah yang akan abu bawa ke Tumapel. Tetapi itu akan lebih baik dari pada tubuhmu menjadi makanan buaya-buaya kerdil di rawa-rawa itu.”
Tubuh Mahisa Agni kemudian menggigil karena kemarahan yang sudah hampir tidak tertahankan lagi. Kebenciannya kepada orang itu telah mencapai puncaknya. Namun ia masih tetap sadar dengan siapa ia berhadapan. Karena itu, maka ia tidak mau berbuat tergesa-gesa. Ia harus ber-hati-hati sekali. Dadanya berdentangan ketika ia mendengar orang itu berkata,
“Nah, Agni. Manakah yang kau pilih di antara keduanya?”
“Jangan banyak bicara lagi Empu. Kalau kau ingin membunuh cepatlah. Tetapi kau barus sadar pula bahwa aku pun ingin membunuhmu.”
Laki-laki itu tertawa. Katanya, “Apakah dengan permainan loncat-loncatan itu kau merasa mampu mengimbangi aku kini?”
“Persetan.” jawab Mahisa Agni, “Ayo berbuatlah.”
“Nanti dulu. Aku senang melihat kau ketakutan. Aku tidak ingin cepat-cepat berbuat sesuatu.”
Hampir saja Mahisa Agni meloncat menerkam laki-laki itu. Tetapi beruntunglah, bahwa bekalnya kini menjadi semakin banyak untuk menghadapi keadaan yang demikian. Bahkan tiba-tiba ia menyadari, bahwa di dalam setiap benturan badaniah, maka kemarahan yang meluap-luap hanya akan membuat akalnya menjadi gelap. Itulah sebabnya. maka tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan lagi darahnya yang telah mendidih sampai di ubun-ubun. Dengan berusaha untuk menekan luapan perasaannya ia berkata,
“Baiklah Empu. Kalau kau masih akan menunggu. Aku pun akan bersabar pula. Mungkin kau sedang mempertimbangkan apakah kau masih mampu berbuat sesuatu.”
Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Sekilas terbersit di dalam dadanya, pertanyaan tentang anak itu. Ternyata Mahisa Agni telah menjadi semakin mengendap dan mampu menahan diri menghadapi sentuhan-sentuhan perasaan. Anak itu kini telah berhasil menahan diri, menenan kemarahan yang telah sampai membakar kepalanya. Laki-laki itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata,
“Hem, agaknya kau menjadi semakin berhati-hati. Apakah gurumu yang baru, Kebo Sindet mengajarmu demikian?”
“Ya.” sahut Mahisa Agni pendek.
Sekali lagi orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba wajahnya menegang. Dengan gemetar tangannya diangkatnya menunjuk kehidung Mahisa Agni. “Agni, Ternyata kau memilih cara yang kedua. Kau akan melawanku. Bukankah begitu?”
“Ya.” sahut Mahisa Agni pendek.
Tetapi ia telah berhasil menahan hati untuk tidak dicengkam oleh kemarahannya sendiri. Justru dengan demikian ia mampu melihat lawannya dengan terang. Sikapnya, langkahnya dan bahkan yang agak mengejutkan adalah senjatanya. Sehingga dengan herannya ia bertanya,
“Empu, baru sekarang aku melihat sesuatu yang lain daripadamu. Kenapa membawa pedang. Kenapa kau tidak membawa tongkat panjangmu?”
Laki-laki itu tertawa, katanya, “Kau memperhatikan senjataku pula? Baiklah, dengan pedang-pedang ini aku akan dengan mudahnya membunuhmu. Begitu?”
Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi tampaklah dari sorot matanya, bahwa ia tidak mempercayainya.
“Oh, kau tidak percaya?” laki-laki itu menebak perasaannya, “Baiklah. Kalau begitu aku akan berterus terang. Tongkatku telah aku berikan kepada muridku. Nah, apakah kau sekarang percaya?” Mahisa Agni masih saja berdiam diri.
“Nah, sekarang aku akan sampai pada rencanaku. Kalau mungkin aku akan membuatmu pingsan saja. Kemudian sesudah aku rusakkan lidahmu, maka kau akan aku serahkan kepada adikmu. Aku akan menerima hadiah yang cukup besar. Menurut perhitunganku, hadiahnya pasti akan lebih besar seandainya aku menyerahkanmu hidup-hidup.”
Terdengar Mahisa itu menggeram. Tetapi sekali lagi ia menekan perasaannya untuk tidak membakar akalnya.
“Kau tidak marah? Apakah kau telah benar-benar menjadi seorang pengecut setelah sekian lama kau berada di sini.”
Yang terdengar adalah gemeretak gigi Mahisa Agni. Tetapi ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Namun kesiagaannya menjadi semakin mantap. Ternyata laki-laki itulah yang kemudian tidak sabar menunggu. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata,
“Bersiaplah. Aku akan segera membunuhmu.”
Mahisa Agni memang sudah bersiap sejak lama. Karena itu, maka ia tidak merubah sikapnya. Tetapi Mahisa Agni menjadi semakin heran melihat gerak orang itu. Orang itu melangkah saja seenaknya mendekatinya. Beberapa langkah daripadanya kedua belah tangannya terjulur sambil berkata,
“Aku akan mencekikmu, tetapi tidak sampai mati.”
Betapa laki-laki itu telah menghina Mahisa Agni. Bagaimanapun juga penghinaan itu tidak akan dapat ditahankanya. Karena itu, maka Mahisa Agni sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Terdengar ia menggeram, dan tiba-tiba saja tubuhnya melenting dengan cepatnya. Kakinya terjulur lurus mengarah ke lambung orang itu.
“Oh.”
Ternyata orang itu terperanjat. Benar-benar terperanjat. Kecepatan gerak Mahisa Agni itu sama sekali tidak terduga-duga. Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia meloncat menghindarinya. Tetapi sekali lagi ia terkejut. Ternyata serangan berikutnya telah mengejarnya.
Dengan demikian maka sekali lagi ia terpaksa meloncat menghindar. Kali ini orang itu melontar cukup jauh, sehingga ia sempat untuk menyiapkan dirinya menerima serangan Mahisa Agni berikutnya yang datang seperti badai.
“Bukan main.” desis orang itu, “kau maju pesat sekali Agni, Ternyata gurumu benar-benar mampu menuntunmu. Kau akan menjadi murid Kebo Sindet yang jauh lebih baik dari Kuda Sempana.”
Mahisa Agni sama sekali tidak bernafsu untuk menjawab. Namun geraknya menjadi lebih lincah dan mantap. Serangannya beruntun berurutan sehingga lawannya terpaksa meloncat surut beberapa kali. Tetapi Mabisa Agni mengerti, bahwa tidak hanya sekian jauh nilai lawannya. Itulah sebabnya, maka ia pun telah bersiap untuk bertempur dalam tataran yang lebih tinggi.
Ternyata perhitungan Mahisa Agni itu tidak meleset. Sesaat kemudian lawannya tidak mau lagi hanya berloncatan mundur dan menghindar. Pada saatnya, maka mulailah lawannya itu melakukan serangan untuk mematahkan serangan-serangan Mahisa Agni.
Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Masing-masing mencoba mencari kelemahan lawannya. Dengan gerak yang berubah-ubah Mahisa Agni mencoba untuk mendesak lawannya. Namun lawannya pun memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripadanya sehingga mampu untuk melakukan gerak memotong hampir setiap serangan Mahisa Agni.
Meskipun demikian, Ternyata bahwa Mahisa Agni kini bukan Mahisa Agni beberapa waktu yang lampau. Meskipun belum sampai pada tataran Kebo Sindet, tetapi lawan Mahisa Agni itu tidak dapat menguasainya sepenuhnya. Setiap kali ia dikejutkan oleh gerak Mahisa Agni yang terlampau cepat. Terlampau cepat menurut perhitungannya, bahwa gerak itu dapat dilakukan oleh Mahisa Agni.
“Anak ini benar luar biasa.” berkata laki-laki itu di dalam hatinya, “ia sudah mendapat kemajuan yang tidak aku duga.”
Dengan demikian maka laki-laki itu pun harus mengerahkan sebagian besar dari tenaga dan kemampuannya untuk melawan Mahisa Agni itu. Perkelahian itu semakin seru dan seru. Mereka berloncatan seperti ayam-ayam jantan sedang berlaga. Melontar dan menyerang dengan dahsyatnya. Sentuhan-sentuhan tangan mereka pada pepohonan telah menimbulkan goncangan-goncangan yang keras, sehingga ranting-ranting dan daun-daun yang sudah mulai kuning berguguran di tanah, seolah-olah hujan bunga yang turun dari langit, mengagumi dua orang yang sedang bertempur dengan dahsyatnya itu.
“Hem.” berkata laki-laki itu di dalam hati, “aku kini benar-benar tidak dapat berbuat sekehendak hatiku atasnya. Kini bukan akulah yang menentukan bentuk dari perkelahian ini. Tetapi kekuatan dan kecepatannya bergerak benar-benar merupakan unsur yang tidak dapat diabaikan.”
Namun sementara itu Mahisa Agni pun menyadari, bahwa ilmunya masih belum dapat menyamai ilmu lawannya. Betapa ia mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia merasa, bahwa akhirnya dengan cara yang demikian, ia pasti tidak akan dapat berbuat lebih banyak lagi. Karena itu ia harus berbuat lain. Ia harus mencari cara untuk setidak-tidaknya memperpanjang waktu perlawanannya, sehingga ia menemukan kesempatan untuk melepaskan diri atau mati.
Pada saat lawannya kemudian mengerahkan tenaganya, maka terasa betapa Mahisa Agni menjadi semakin terdesak. Kini anak muda itulah yang terpaksa harus meloncat surut setiap kali. Menghindari serangan yang semakin lama semakin dahsyat. Ketika Mahisa Agni merasa bahwa ia sudah tidak akan tahan lebih lama dengan cara itu, maka tiba-tiba ia melenting tinggi. Digapainya sepotong sulur batang preh yang berjuntai hampir sampai ketanah. Dengan kekuatan yang luar biasa direnggutnya sulur preh itu sehingga berderak patah.
“He.” teriak lawannya berkelahi, “apakah yang sedang kau lakukan.”
Tetapi Mahisa Agni tidak menyahut. Akar preh itu di putar di atas kepalanya seperti baling-baling, kemudian anak muda itu meloncat maju dengan garangnya. Kini sekali lagi Mahisa Agni melibat lawannya dengan akar preh yang dipergunakannya sebagai senjata. Ujungnja yang lentur Ternyata cukup berbahaya bagi lawannya. Agaknya tangan Mahisa Agni benar-benar mampu menguasai senjatanya, sehingga sulur preh itu rasa-rasanya mempunyai mata yang selalu dapat melihat tempat-tempat yang lemah dan berbahaya.
“He.” sekali lagi lawannya berteriak, “cara apakah yang kau pakai untuk melawanku ini? Senjata apakah namanya yang kau pergunakan itu?”
Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi sulur pohon preh yang ditangannya berputar semakin cepat. Melingkar dan mematuk-matuk seperti ribuan ular menyerang bersama-sama.
“Hem.” lawannya berkata lagi, “ilmu sulur preh ini memang dahsyat sekali. Karena itu aku pasti tidak akan mampu melawannya tanpa bersenjata. Karena itu aku terpaksa mempergunakan senjataku. Sebenarnya aku segan menjentuh kulitmu dengan ujung pedangku. Tetapi apa boleh buat. Kau benar-benar telah membabi buta dengan permainan sulur prehmu itu.”
Laki-laki itu tidak menunggu mulutnya terkatub rapat. Tiba-tiba saja tangannya telah menggenggam pedang di tangan kanan dan sebuah pisau belati panjang di tangan kirinya.
“Nah.” katanya, “aku kini sudah bersenjata pula. Mudah-mudahan aku dapat melawan senjatamu yang aneh itu.”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Tetapi tiba-tiba wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Ternyata orang yang biasa mempergunakan sebatang tongkat panjang itu, mampu mempermainkannya dengan dahsyatnya. Kedua pedang itu saling bergulung dalam suatu gumpalan maut yang mengerikan.
“Bukan main,” Mahisa Agni menggeram di hatinya, “ilmu pedang ini benar sulit untuk ditembus. Apalagi hanya sekedar dengan sebatang sulur.”
Tetapi Mahisa Agni tidak boleh berputus asa menghadapi keadaan yang betapapun beratnya. Karena itu maka ia pun semakin memperketat serangannya. Ia masih mencoba untuk mencari kemungkinan menemukan lubang-lubang pertahanan lawannya. Tetapi sepasang senjata lawannya benar-benar merupakan perisai yang sangat rapat. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi Mahisa Agni. Bahkan ketika sulur prehnya mematuk dari ataspun, terasa sulur itu bergetar. Ketika sulur itu di tariknya, maka ujungnya telah tertebas beberapa cengkang.
“Bukan main, bukan main.” berkali-kali Mahisa Agni memuji permainan pedang itu di dalam hatinya.
Ia mengenal orang itu dengan senjatanya yang khusus. Sebatang tongkat panjang sebagai ciri kebesarannya. Dengan tongkat panjangnya, orang itu hampir-hampir tidak terkalahkan. Tetapi Ternyata ia tidak hanya mampu mempergunakan senjatanya yang khusus. Kini ternyata ia mampu menggerakkan sepasang pedang dengan dahsyatnya, awan yang putih bergumpal-gumpal menyelubunginya.
Setelah sekian lama bertempur dengan sekuat tenaganya, bahkan kadang-kadang Mahisa Agni harus mengerahkan tenaganya berlebih-lebihan, maka semakin lama tenaga anak muda itu menjadi semakin susut. Sementara itu matahari yang merayap di langit menjadi semakin jauh melampaui titik puncak langit. Tanpa mereka sadari maka keduanya telah berkelahi lebih dari setengah hari. Meskipun lawan Mahisa Agni itu semakin lama menjadi semakin melihat kelemahan lawannya, tetapi apa yang dihadapinya benar-benar mengherankan. Setengah hari ia sudah melakukan perlawanan. Tetapi benar-benar di luar dugaannya, bahwa ia masih belum mampu menguasai lawannya sepenuhnya. Setiap kali ia masih dikejutkan oleh serangan-serangan Mahisa Agni dengan bentuk tata gerak yang sangat dikaguminya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar