MENU

Ads

Minggu, 29 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 160

Tetapi laki-laki tua itu pun melihat bahwa ketika matahari telah mulai menurun, tenaga Mahisa Agni yang diperasnya berlebih-lebihan itu sudah mulai susut. Maka ketika Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut, orang itu tertawa sambil berkata,

“Nah, Mahisa Agni, tenagamu sudah menjadi susut. Aku akan melihat apakah kau mampu berkelahi sampai matahari terbenam.”

Mahisa Agni menggeram. Ia merasakan pula bahwa tenaganya memang telah mulai susut. Tetapi ia pun menyadari bahwa ia telah mengerahkan tenaganya agak berlebih-lebihan. Seandainya ia tidak harus melawan orang tua itu, maka ia tidak akan segera menjadi lelah. Kalau ia harus bertempur kekuatan ilmu yang sebayanya, maka ia akan tahan berkelahi empat hari empat malam tanpa berhenti. Tetapi lawannya kini ada ditataran yang lebih tinggi. Dengan demikian maka ia harus berbuat terlampau banyak, meskipun perlawanan yang diberikan kali ini jauh lebih banyak dari perlawanannya pada masa-masa lampau.

Memang sebagai seorang laki-laki Mahisa Agni tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, namun kadang-kadang terbersit pula di dalam hatinya, harapan, bahwa ia akan dapat lepas dari tangan orang ini. Ia merasa masih mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan persoalannya dengan Kebo Sindet. Tetapi tiba-tiba orang ini datang merusak rencananya. Tetapi ia tidak akan dapat menghindar. Ia harus melawan, apa pun yang terjadi. Semakin lama maka perkelaian itu menjadi semakin dahsyat. Mahisa Agni mencoba mempergunakan segenap sisa-sisa tenaganya untuk mematahkan serangan-serangan pedang lawannya. Tetapi ia tidak mampu melakukannya. Apalagi nafasnja kemudian mulai berdesakan di lubang hidungnya.

“Aku tidak dapat melawannya terus-menerus.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “aku harus mengurangi tenaganya. Kalau mungkin membuatnya lelah seperti aku.”

Sesaat kemudian ketika tekanan orang itu hampir tidak terhindarkan lagi, maka Mahisa Agni telah mencoba dengan sekuat tenaganya untuk melibat pedang orang tua itu dengan ujung sulurnya. Setidak-tidaknya ia akan mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu selama pedang itu belum dapat diurai. Namun alangkah terkejut Mahisa Agni ketika sentuhan senjatanya atas pedang lawannya, telah menggetarkan tangannya. Sejenak kemudian ia merasakan suatu tarikan yang keras. Meskipun Mahisa Agni tidak melepaskan pangkal senjatanya, tetapi kemudian disadarinya bahwa senjatanya telah terpotong hampir separo. Mengalami kejadian itu, maka tidak ada jalan lain baginya dari pada menghindar sejenak. Karena itu, maka segera ia melontar beberapa langkah surut.

Kini tidak ada jalan lain baginya selain mempergunakan cara perlawanan yang terakhir. Setidak-tidaknya ia akan membuat lawannya menjadi lelah. Apalagi setelah senjatanya terputus hampir separo. Ia sudah tidak ingin lagi mempergunakan senjata serupa dengan merenggutnya lagi dari pohon preh di samping tempat mereka bertempur. Senjata yang serupa ternyata tidak akan banyak bermanfaat untuk melawan ilmu pedang lawannya yang dahsyat itu.

Mahisa Agni pun sama sekali tidak ingin mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ia menyadari bahwa hal itu pun tidak akan banyak berarti. Bahkan benturan antara Aji tertingginya dengan ilmu laki-laki itu pasti tidak akan menguntungkannya lagi, Mahisa Agni terpaksa mengaguminya. Sepasang senjata itu pun seolah-olah memiliki mata yang tajam, yang dapat melihat setiap batu yang menyambarnya. Setiap kali terdengarlah senjata-senjata itu berdentangan. Setiap kali senjata-senjata itu membentur batu-batu kerikil yang dilemparkan oleh Mahisa Agni.

“He, Mahisa Agni.” teriak laki-laki tua itu, “ilmu apakah yang kau pergunakan ini? Ilmu batu kerikil?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Dipungutinya batu-batu kerikil yang berserakan. Satu-satu batu itu melontar dari tangannya, seperti batu-batu itu sendiri yang berloncatan.

“Apakah akan kau kuras habis batu-batu kerikil di kandang Kebo Sindet.”

Mahisa Agni masih tetap membisu. Tetapi tangannya semakin cepat bergerak, dan batu-batu kerikil pun semakin bayak berloncatan.

“Ternyata kau seperti juga pamanmu Empu Gandring, lebih senang melempar-lempar lawannya dengan batu-batu kerikil.” berkata laki-laki tua itu sambil berloncatan dan memutar senjatanya menangkis serangan-serangan Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni seakan-akan tidak mempedulikannya. Ia masih sibuk melempar lawannya dengan batu-batu kecil.

Namun, dengan demikian usahanya ternyata cukup berhasil. Ia pasti akan dapat membuat lawannya menjadi lelah. Dengan demikian maka ada suatu saat ia akan dapat berbuat sesuatu, memberikan serangan-serangan yang sebenarnya, yang akan dapat mempengaruhi lawannya yang perkasa itu.

Sejenak orang tua itu masih terpaksa meloncat-loncat sambil menangkis batu-batu yang dilemparkan oleh Mahisa Agni dengan senjatanya. Ia tidak dapat membiarkan batu-batu itu menyentuh tubuhnya. Benturan-benturan pada senjatanya memberitahukan kepadanya bahwa tenaga Mahisa Agni ternyata cukup kuat, sehingga akan mampu menyakitinya apabila lemparan itu dapat mengenainya.

“Apakah kau tidak dapat berbuat lain dari pada dengan ilmu kerikilmu itu.” bertanya orang tua itu sambil melontar-lontarkan dirinya dan memutar senjatanya.

Mahisa Agni masih saja tetap berdiam diri. Bahkan ia menjadi semakin cepat melontar-lontarkan batu kerikilnya. Kini ia telah berjongkok. Tangannya semakin cepat bergerak, supaya orang tua itu semakin cepat menjadi lelah.

“Bukan main.” desis lawannya itu di dalam hati, “tangannya menjadi demikian cekatan. Hampir tidak tampak gerak jari dan pergelangan tangannya, tetapi batu-batu kerikil itu terlontar juga kearah yang dikebendakinya.”

Sementara itu laki-laki tua itu masih harus bekerja keras. Tetapi apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu ternyata hanya akan mempercepat penyelesaian dari perkelahian itu. Sejenak kemudian laki-laki itu berkata,

“Mahisa Agni. Aku mengerti bahwa kau ingin membuat aku lelah, supaya tenagaku susut seperti tenagamu. Tetapi apa yang kau lakukan itu membuat aku menjadi semakin bernafsu untuk menangkapmu sebelum aku menjadi kehabisan tenaga. Kau dengar?”



Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh laki-laki tua itu. Dengan demikian maka Mahisa Agni menjadi semakin berhati-hati. Ia berkisar beberapa langkah untuk mendapatkan tempat yang masih banyak bertebaran batu-batu kerikil yang cukup besar untuk melempar lawannya. Ia tidak mau lawannya itu mendahuluinya. Karena itu, maka ia pun segera menyerangnya semakin sengit. Batu-batu yang berterbangan menjadi semakin banyak mengarah ke segenap tubuh laki-laki itu. Tetapi, sepasang senjatanya benar-benar merupakan perisai yang sangat rapat. Meskipun demikian sekali-sekali ia masih harus meloncat menghindar apabila satu dua batu berhasil melampaui putaran pedangnya.

Namun kini laki-laki itu tidak hanya sekedar menangkis dan menghindar. Beberapa langkah ia bergerak maju sambil berloncatan. Semakin lama semakin mendekati Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni mengetahuinya pula, sehingga ia pun selalu bergeser mundur.

“Hem, inikah caramu berkelahi? Apakah cara ini dapat disebut jujur dan jantan?”

Mahisa Agni tidak ingin menjawab. Tetapi terasa harga dirinya tersentuh. Karena itu maka ia menggeram, “Aku tidak bersenjata.”

“Apakah kau ingin mempergunakan salah satu dari senjataku supaya kau tidak usah memunguti batu-batu kerikil?”

Terasa sesuatu berdesir didalam dada Mahisa Agni. Memang terasa olehnya bahwa perlawanannya kali ini atas laki-laki tua itu kurang sewajarnya. Ia masih belum menguasai ilmu itu sebaik-baiknya, sehingga ia masih belum dapat menunjukkan nilai dari perlawanannya yang seolah-olah tanpa perhitungan melempar-lempar dengan batu begitu saja asal melempar sebanyak-banyaknya.

“Bagaimana?”

Mahisa Agni mendengar lawannya bertanya pula. Dan Mahisa Agni pun menjawab, “Aku tidak memerlukannya. Aku cukup mempergunakan senjata apa saja aku pegang dengan tanganku.”

“O, batu-batu kerikil, sulur pohon preh dan kemudian pasir dan tanah kau hambur-hamburkan kemataku? Inikah seorang laki-laki yang sedang berkelahi?”

Terasa darah Mahisa Agni seakan-akan tersirat kekepalanya. Tetapi dengan serta merta pula ia menjawab, “Dan kau hanya berani berkelahi dengan orang-orang yang pasti tidak akan dapat melawanmu.”

“Itu bukan salahku, kenapa kau tidak mampu mengimbangi ilmuku. Sebenarnya aku memang tidak ingin berkelahi melawanmu. Aku hanya akan menangkapmu. Salahmulah kalau kau mengadakan perlawanan sehingga terpaksa aku berkelahi. “

“Sekehendakku pula bagaimana caraku melawanmu, Dengan batu, sulur atau tanah dan pasir.”

Laki-laki tua itu menggeram, katanya, “Bagus. Kalau begitu kau benar-benar harus menjadi korban. Kau tidak melihat kenyataan yang kau hadapi, bahwa kau pasti tidak akan dapat melawanku.”

“Kau hanya dapat menangkap aku sesudah aku mati.” sahut Mahisa Agni dengan pasti.

Laki-laki itu tidak berkata-kata lagi. Tandangnya menjadi semakin cepat dan garang. Seperti burung srigunting ia berloncatan dengan lincahnya, meskipun batu-batu Mahisa Agni semakin banyak berterbangan. Bahkan orang itu mampu mendekati Mahisa Agni semakin dekat. Akhirnya, Mahisa Agni pun sampai pada suatu kesimpulan bahwa perlawanannya segera akan berakhir. Nyawanya pun segera akan terbang meninggalkan tubuhnya.

Sejenak ia menjadi ragu-ragu menghadapi keadaannya. Ia telah mempersiapkan dirinya sekian lama dan dengan berbagai macam pengorbanan dan penderitaan untuk menghadapi Kebo Sindet. Ia ingin berbuat sesuatu karena perlakuan Kebo Sindet atasnya. Tetapi tiba-tiba datang orang lain untuk merenggut jiwanya. Tetapi ia membenci orang ini seperti ia membenci Kebo Sindet. Karena itu, maka seandainya ia harus mati, maka ia harus mati sebagai seorang laki-laki.

Hati Mahisa Agni pun menjadi semakin mantap menghadapi lawannya. Tiba-tiba ia pun meloncat. Ditinggalkannya caranya melawan orang itu dengan ilmu lemparannya yang sama sekali belum sempurna. Kini sekali lagi ia merenggut sulur pohon preh yang tumbuh di dekat tempat ia berkelahi. Dengan sulur preh itulah maka ia akan mengadakan perlawanan terakhir.

Maka sejenak kemudian mereka pun telah terlibat dalam perkelahian yang sengit pula. Tetapi tenaga Mahisa Agni benar-benar telah menjadi susut. Meskipun demikian ia melihat tenaga orang tua itu pun telah menjadi surut setelah ia berloncat-loncatan beberapa lama. Namun meskipun demikian, tenaga orang itu masih terasa terlampau kuat buat Mahisa Agni yang lelah, sehingga beberapa kali senjata laki-laki tua itu hampir menyentuh tubuhnya.

Tetapi Mahisa Agni sudah bertekad untuk melawan sampai mati. Ia tidak ingin tertangkap hidup-hidup. Perlawanannya akan berakhir bersama dengan umurnya. Karena itulah maka perlawanannya menjadi sangat gigih. Betapa tenaganya semakin susut, namun tekadnya justru menjadi semakin bulat. Dan tekad yang bulat itulah agaknya, yang seolah-olah selalu memberikan tenaga baru kepadanya. Demikianlah maka sulur preh ditangannya itu pun berputar dengan cepatnya di atas kepalanya. Sekali-sekali melecut dan sekali-sekali mematuk.

Tetapi bagi laki-laki tua itu perlawanan Mahisa Agni kini sudah tidak sedahsyat semula. Tenaga anak muda itu yang terperas benar-benar telah menyulitkannya. Dengan demikian, maka ia pun menjadi semakin terdesak. Ketika keadaannja menjadi semakin sulit, maka perlawanannya pun menjadi semakin tidak terarah. Kini ia tinggal bertahan untuk tidak dapat ditangkap hidup-hidup oleh laki-laki tua itu. Ia harus bertahan terus sehingga ujung pedang lawannya itu benar-benar membenam di dadanya. Tidak hanya sekedar melukainya.

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat menentukan akhir perkelahian itu menurut kehendaknya. Sebagian besar dari perkelahian ini sudah tergantung pada lawannya, apa pun yang akan diperbuatnya. Maka kemudian terulanglah apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba saja pedang-pedang lawannya itu berhasil memutus senjatanya. Secengkang, kemudian secengkang lagi. Berturut-turut seolah-olah dengan dirinya ia membuat Mahisa Agni jatuh kehabisan tenaga.

Dalam saat-saat terakhir itu Mahisa Agni mencoba mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya. Dengan senjatanya yang menjadi semakin pendek ia menyerang sejadi-jadinya. Namun dengan darah yang bergelora ia terpaksa melihat senjatanya itu terpotong sekali lagi. Kali ini tidak hanya secengkang, tetapi yang digenggamnyalah yang tinggal terlampau pendek. Secengkang dari genggamannya.

Tubuh Mahisa Agni itu pun tiba-tiba menjadi bergetar oleh kemarahan yang membara di dadanya. Kini ia sudah tidak bersenjata lagi. Tetapi ia tidak ingin menyerah. Itulah sebabnya maka ia akan melakukan perlawanannya yang terakhir. Berkelahi sampai mati. Dan cara yang dipilihnya kali ini adalah membenturkan ilmu pamungkasnya. Ilmu yang kini telah ditekuni menjadi semakin nggegirisi. Meskipun dalam benturan yang akan terjadi ia akan binasa, namun memang memilih jalan itu dari pada tertangkap hidup-hidup sebagai barang dagangan, setelah ia menjadi cacat, Mahisa Agni itu pun kemudian tidak mendapat kesempatan lagi untuk mempertimbangkan terlampau lama. Ia harus cepat mengambil keputusan sebelum ia jatuh ketangan orang tua itu.

Karena itu maka Mahisa Agni pun segera meloncat surut beberapa langkah untuk mendapat waktu memusatkan segenap kekuatannya dalam ilmu pamungkasnya, Gundala Sasra. Waktu yang diperlukan dalam keadaannya kini, hanyalah sekejap saja. Sehingga lawannya yang terkejut melihat sikapnya, tidak mendapat kesempatan lagi untuk mencegahnya. Ketika Mahisa Agni telah siap dengan kekuatan terakhirnya, maka segera ia meloncat maju, mengayunkan tangannya untuk membenturkan kekuatan Aji Gundala Sasra. Ia menyangka bahwa lawannya pun pasti akan melepaskan Aji pamungkasnja pula. Aji yang tidak kalah dahsyatnya, Kala Bama.

Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika ia melihat lawannya itu sama sekali tidak bersikap melawan serangannya dengan sebuah benturan yang akan dapat mematikannya. Ia melihat lawannya terkejut. Tetapi kemudian justru melepaskan kedua senjatanya dan menyilangkan tangannya. Namun Mahisa Agni sudah tidak sempat membuat penilaian lagi. Loncatannya yang terlampau cepat seperti tatit yang menyambar di langit tidak memberinya kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang tumbuh di dalam dadanya.

Sejenak kemudian tangannya telah terayun dengan derasnya, langsung mengenai pundak lawannya yang berdiri tegang sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Ternyata lawannya benar-benar tidak berusaha membentur serangannya. Meskipun demikian, tetapi lawannya itu pun tidak membiarkan tubuhnya lumat oleh Aji Gundala Sasra.

Ketika tangan Mahisa Agni membentur tubuh orang itu, maka terasa seolah-olah tangannya itu menyentuh seonggok baja yang tidak terduga betapa kerasnya. Mahisa Agni merasakan kekuatan yang tersalur pada tangannya itu menggelegak pada telapak tangannya. Kekuatan yang dilepaskan telah menyentak di dalam tubuhnya sendiri. Terasa sesuatu seakan-akan meledak di dalam dadanya Cepat ia memusatkan segenap daya tahannya. Mencoba untuk manahan sentakan yang mengejutkan di dalam dirinya. Namun demikian Mahisa Agni itu pun terlempar surut beberapa langkah dan terbanting jatuh di tanah. Yang terakhir diingatnya adalah, bahwa tubuhnya serasa pecah karena kekuatan Aji Gundala Sasra. Tetapi itulah yang diharapkannya, daripada menjadi tangkapan hidup-hidup. Menjadi rebutan antara orang-orang jahat yang mencoba memperdagangkannya.

Tetapi Ternyata Mahisa Agni tidak mati. Mahisa Agni yang terlempar dan terbanting di tanah itu hanyalah sekedar pingsan karena lawan dirinya tidak membentur serangannya, Seandainya tidak demikian, maka akibatnya pun pasti akan berbeda. Sementara itu angin yang sejuk telah mengusap tubuh Mahisa Agni yang terbaring diam. Dedaunan yang bergerak-gerak di sekitanya berdesir lembut, seolah-olah sedang saling membisikkan nama Mahisa Agni yang sedang pingsan itu.

Namun angin yang segar yang mengalir perlahan-lahan telah menyegarkan tubuh Mahisa Agni yang sedang pingsan itu. Ia tidak tahu, berapa lama ia berbaring diam. Tetapi ketika ia kemudian telah dapat mencoba membuka matanya dilihatnya laki-laki tua itu masih berdiri disampingnya. Terdengar Mahisa Agni yang lemah itu menggeram. Ia meloncat dan mencekik lawannya. Tetapi ia tidak mampu untuk bergerak. Bahkan bernafas pun hampir tidak dapat dilakukannya.

Anak muda itu mengumpat di dalam hati ketika ia melihat laki-laki ia berjongkok di sampingnya. Kini ia tahu, bahwa laki-laki tua itu dirinya tidak membentur Aji Gundala Sasra supaya ia tidak mati. Orang itu hanya membangun kekuatannya untuk menerima serangannya dan melumpuhkan lawannya dengan kekuatan lawan itu sendiri. Meskipun demikian, Mahisa Agni melihat bahwa orang tua itu menjadi pucat dan gemetar. Bahkan kemudian Mahisa Agni mendengar orang itu berdesis,

“Agni, kekuatan Ajimu benar-benar luar biasa. Aku tidak menyangka bahwa kau sudah sampai pada tataran ini, sehingga aku hampir-hampir pingsan dibuatnya.” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi dadanya yang sesak itu terasa semakin sesak. “Kalau aku tidak segera berhasil mengerahkan daya tahan yang ada di dalam diriku dalam lindungan Aji Kala Bama, maka aku kira aku pun akan menjadi lumat.”

“Ah” terdengar Mahisa Agni berdesah, “kenapa aku tidak mati atau kenapa kau tidak membunuhku saja.” Mahisa Agni menjadi sangat muak ketika melihat orang itu tersenyum.

“Aku memang tidak ingin membunuhmu Agni.”

“Persetan. Ayo, bunuhlah aku. Kalau aku nanti menjadi kuat kembali, maka kaulah yang pasti akan aku bunuh.”

“Jangan berkata begitu.”

“Aku akan membunuhmu.” Mahisa Agni berteriak.

Tetapi karena itu maka terasa dadanya serasa menjadi retak. Sambil menyeringai Mahisa Agni mencoba menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan ia berhasil. Ditekankannya tangannya itu di dadanya. Tetapi rasa nyeri dan pedih masih saja terasa menyengat jantungnya. Sejenak kemudian Mahisa Agni memejamkan matanya. Kalau ia tidak mati, maka ia harus berhasil menenangkan darahnya yang serasa bergolak. Seandainya ia nanti mampu bangun dan berdiri, maka sudah ditetapkannya di dalam hatinya, bahwa ia akan mengulangi serangannya dalam kekuatan Aji Gundala Sasra. Meskipun kekuatan itu tidak akan melumpuhkan lawannya, tetapi biarlah seandainya ia sendiri yang binasa.

“Sudahlah Agni.” laki-laki tua itu kemudian berkata, “jangan kau gelisahkan dirimu dengan berbagai prasangka. Kau benar-benar luar biasa. Kau maju dengan pesatnya. Jauh diluar dugaanku semula.”

Tetapi bagi Mahisa Agni kata-kata itu tidak lebih dari kata-kata sindiran yang sangat menyakitkan hati. Seolah-olah laki-laki tua yang kini berjongkok di hadapannya itu menyeringaikan wajahnya yang pucat dengan penuh hinaan. Karena itu maka dengan perasaan marah yang meluap-luap Mahisa Agni berkata,

“Bunuhlah aku. Kau tidak akan dapat membawa aku hidup-hidup.”

“Agni.” berkata orang itu, “tenangkan hatimu. Pusatkan tenagamu untuk penyaluran ketahanan tubuhmu dalam tataran tertinggi. Kau tidak terlampau parah.”

“Aku sudah akan mati.” sahut Agni.

“Tidak. Lukamu tidak terlampau parah. Tetapi karena hatimu dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, maka kau tidak dapat memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinmu.”

“Tidak ada gunanya.”

“Baiklah Agni. Kau tidak bersedia melakukannya karena kau melihat aku di sini. Tetapi biarlah orang lain menuntunmu untuk menyembuhkan luka-lukamu karena sentakan kekuatanmu itu sendiri.”

Mahisa Agni menjadi heran mendengar kata-kata orang tua itu. Tetapi belum lagi ia bertanya sesuatu, maka dilihatnya seseorang muncul dari balik gerumbul-gerumbul di sampingnya berbaring. Seorang tua yang ternyata berada di dekatnya dalam keadaannya itu.

“Guru.” desisnya.

“Ya, Agni.”

Namun Mahisa Agni kemudian dibakar oleh keheranannya. Agaknya gurunya telah lama berada di tempat itu. Orang tua itu sama sekali tidak heran dan terkejut melihat kehadiran laki-laki tua yang telah melukainya. Kini orang tua itu, gurunya yang bernama Empu Purwa telah berjongkok pula di sampingnya, di sisi laki-laki tua yang melukainya itu.

Dengan nada yang dalam gurunya berkata, “Pusatkan daya tahanmu Agni. Marilah aku bantu supaya luka-luka di dalam tubuhmu itu dapat berkurang.”

Wajah Mahisa Agni benar-benar diwarnai oleh keheranan yang memuncak. Tetapi ia tidak sempat bertanya. Dirasakannya gurunya memegang pergelangan tangannya. Kemudian berkata pula.

“Marilah Agni.”

Mahisa Agni pun segera memusatkan segenap kekuatan yang tersisa di dalam dirinya. Disalurkannya segenap kemampuan daya tahannya untuk melawan luka di dadanya. Terasa pula dari pergelangan tangannya seolah-olah tenaga yang segar mengalir kesegenap tubuhnya yang nyeri dan pedih. Mahisa Agni berusaha mengatur jalan pernafasannya. Perlahan-lahan. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya yang masih saja bergolak Namun kini gurunya ada di sampingnya, sehingga lambat laun ia dapat menjadi tenang dan dapat memusatkan pikiran perasaan dan setiap getaran di dalam dirinya, untuk menahankan luka di dalam dirinya. Apalagi saluran kekuatan gurunya kini telah menjalari urat-urat nadinya pula, sehingga dengan demikian maka tubuhnya menjadi semakin lama semakin segar pula.

Akhirnya, luka-luka di dadanya itu tidak lagi sangat mengganggunya. Jantungnya tidak lagi digigit oleh kenyerian yang sangat, meskipun keadaan tubuhnya masih belum pulih sama sekali.

“Apakah keadaanmu sudah menjadi bertambah baik?” bertanya gurunya.

“Sudah guru.” sahut Mahisa Agni.

“Bangunlah.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni mencoba untuk bangun. Bertelekan atas kedua tangan ia mengangkat kepalanya, kemudian badannya sehingga ia berhasil duduk di muka gurunya.

Empu Purwa pun kemudian mengambil sebutir obat dan memberikannya kepada muridnya. “Makanlah, kau akan segera menjadi sehat kembali. Tenagamu akan segera pulih. Setiap saat Kebo Sindet akan datang kembali ke pulau hantu ini. Dan ia akan menemuimu dalam keadaan yang wajar.”

Mahisa Agni segera menerima obat yang diberikan oleh gurunya itu dan kemudian menelannya. Perlahan-lahan ia merasakan sesuatu menyelusuri peredaran darahnya. Terasa tubuhnya menjadi hangat dan perlahan-lahan kekuatannya pun tumbuh kembali.

Ketika terasa tubuhnya telah menjadi segar, serta luka-luka di dadanya tidak mengganggunya lagi, maka tiba-tiba Mahisa Agni menyadari keganjilan yang dihadapinya. Ternyata gurunya sama sekali tidak berbuat sesuatu atas laki-laki yang telah melukainya. Terasa bahwa ada ketidak wajaran terjadi atas dirinya. Karena itu maka diberikannya dirinya kepada gurunya,

“Empu, apakah yang sebenarnya terjadi atas diriku. Orang inilah yang bernama Empu Sada, yang telah melukai dadaku. Ia pulalah yang telah mendorong aku, ke dalam neraka ini dan menghambat usahaku membangun bendungan. Orang ini pernah bertemu dengan paman Empu Gandring dan yang pernah berusaha mencegat Ken Dedes di tengah- tengah hutan.”

Empu Purwa berpaling. Dipandanginya wajah Empu Sada. Namun kemudian ia berkata, “Ya, aku sudah mendengarnya Agni. Empu Sada sendiri tidak akan mengingkarinya. Tetapi sesuatu telah terjadi di dalam dirinya. Bukankah kau mendengar bahwa Empu Sada pulalah yang telah berkelahi melawan Wong Sarimpat sehingga Wong Sarimpat mati karenanya.”

“Ya guru. Tetapi itu adalah karena pertengkaran yang terjadi di antara mereka yang berebut rejeki.”

“Ya. Mungkin begitu. Tetapi mungkin pula tidak. Di dalam diri seseorang dapat berkembang perasaan dan nalar. Suatu ketika ia berpinjak pada suatu pendirian yang salah, perkembangan budi yang ada didalam dirinya telah menuntunnya kejalan yang lain. Peristiwa-peristiwa yang beruntun terjadi pada diri seseorang akan dapat mempengaruhi sikap dan pandangannya terhadap sesuatu persoalan.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah gurunya dan Empu Sada berganti-ganti. Wajah gurunya yang tenang sejuk, seperti rimbunnya daun preh yang tumbuh di dekat tempat itu. Bagi Mahisa Agni wajah itu telah memberinya ketenangan lahir dan batin.

Di sisinya berjongkok pula seorang yang hampir sebaya dengan gurunya Empu Sada. Orang yang pernah mendorongnya ke dalam keadaan yang sampai saat ini masih dialaminya. Tetapi dalam keadaannya kini, Mahisa Agni memang melihat beberapa perubahan. Sejak ia bertemu dengan orang ini sebelum berkelahi, dilihatnya sorot mata yang berbeda dengan sorot mata Empu Sada beberapa waktu yang lampau. Tetapi ia tidak sempat mempertimbangkannya. Kebenciannya segera membakar hatinya, dan hilanglah segala macam perhitungan.

Apa yang dialaminya selama ia berada di dalam sarang iblis Kemundungan itu pun ternyata mempengaruhi perasaan dan nalarnya. Meskipun Mahisa Agni tidak mengarah ke dalam keadaan seperti yang diharapkan oleh Kebo Sindet, kehilangan keberanian dan harga diri, tetapi bahwa ia terpisah dari pergaulan yang layak telah menjadikannya kehilangan beberapa bentuk pertimbangan. Kejemuan yang tertahan-tahan membuat hatinya lekas bergejolak. Mahisa Agni kini kekuatannya telah hampir pulih kembali. Hanya sekali-sekali terasa dadanya bergetar dan agak nyeri, tetapi sama sekali sudah tidak mengganggunya lagi.

“Kau sudah baik Agni?” bertanya gurunya.

“Sudah guru.” sahutnya.

“Nah, sekarang kau harus mencoba mengerti, bahwa kedatangan Empu Sada sama sekali tidak akan bermaksud buruk.”

“Tetapi ia masih ingin menangkap aku hidup-hidup guru Ia masih ingin membawa aku sebagai barang dagangan yang akan dijualnya kepada Ken Dedes dan Akuwu Tunggul Ametung.”

Empu Purwa tersenyum. Sekali ia berpaling kepada Empu Sada, kemudian katanya, “Tidak, Agni. Ia tidak ingin berbuat demikian lagi.”

“Mungkin karena guru segera datang.”

Empu Purwa menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku datang bersama Empu Sada.”

“Guru melihat aku berkelahi.”

“Ya.”

“Aku melepaskan Aji Gundala Sasra.”

“Ya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Empu Sada yang telah dilukisi oleh garis-garis umurnya yang semakin banyak dan dalam. Terasa kini di dalam dirinya, perbedaan sorot mata orang tua itu. Sorot mata itu kini sudah tidak liar dan buas lagi. Sorot mata yang lain sama sekali dari sorot mata Empu Sada yang pernah dikenalnya dahulu.

“Tetapi.” tiba-tiba Mahisa Agni bertanya, “apakah maksudnya bahwa aku telah dipaksanya untuk berkelahi?”

Empu Purwa tersenyum-senyum mendengar pertanyaan itu. Ketika ia berpaling dan memandangi wajah Empu Sada, orang tua itu pun tersenyum pula.

“Agni.” berkata gurunya, “aku bertemu dengan Empu Sada pada saat Kebo Sindet datang ke sarangnya ini beberapa hari yang lalu. Aku telah mengatakan kepadanya apa yang sedang kau lakukan di sarang iblis ini. Agaknya Empu Sada ingin membuktikan sendiri, sampai dimana kau mendapat kemajuan selama ini. Ternyata cara yang ditempuhnya agaknya tidak kau senangi. Tetapi apabila tidak demikian, maka ia tidak akan dapat mengerti ukuran yang sebenarnya dari tingkat ilmumu sekarang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya la berkata, “Aku dapat mengerti, tetapi aku benar-benar hampir mati karenanya.”

“Bukan maksudku Agni.” berkata Empu Sada kemudian, “dan aku pun telah menemukan ukuran, bahwa dengan demikian kau tidak akan mati. Bahkan aku agaknya terlampau rendah menilai ilmumu yang sekarang berkembang dengan pesatnya, sehingga jantungku sendiri terasa akan rontok membentur kekuatan Aji Gundala Sasra yang telah jauh maju.”

“Ah.” Mahisa Agni berdesah.

“Dengan demikian Agni.” berkata Empu Purwa kemudian, “kau dapat menilai dirimu pula. Kebo Sindet dan kami yang tua-tua ini pasti tidak akan terlampau banyak terpaut. Kini kau akan mendapat ukuran, bahwa kau masih belum mampu mengimbangi Kebo Sindet. Jarak itu masih agak jauh. Dan kau masih harus bekerja lebih keras lagi.”

Mahisa Agni yang kini telah duduk di hadapan gurunya dan Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah terlampau jemu berada di sini guru.” katanya kemudian.

“Karena itu kau harus bekerja lebih keras Agni, supaya kau dapat segera melepaskan dirimu.” sahut gurunya, “aku sudah memberitahukan kepadamu Agni, bahwa aku dan sekarang Empu Sada tidak ingin membebaskan kau dengan cara yang terlampau biasa. Aku sekarang mendapat kawan untuk mengalahkan Kebo Sindet seandainya aku sendiri tidak mampu karena kekuatan kami berimbang. Tetapi dengan Empu Sada, kami berdua pasti akan dapat membunuhnya. Namun dengan demikian Kebo Sindet tidak akan mengalami goncangan perasaan yang dahsyat. Ia tidak akan terkejut. Adalah wajar, bahwa aku berdua dengan Empu Sada dapat mengalahkannya. Tetapi apabila ia harus berhadapan dengan kau sendiri, yang selama ini disangkanya telah kehilangan segala keberanian dan keinginan untuk lepas dari padanya, maka ia pasti akan terkejut sekali. Sikapmu yang seakan-akan kehilangan segala macam harga diri adalah suatu loncatan yang jauh, loncatan yang akan menentukan hari depanmu sendiri dan hari-hari terakhir bagi Kebo Sindet.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab kata-kata gurunya. Meskipun ia dapat mengerti, tetapi ia hampir-hampir sudah tidak tahan lagi berada di sarang Kebo Sindet yang menjemukan itu. Bukan karena tekanan-tekanan badaniah yang harus ditanggungkannya, bukan pula karena pekerjaan-pekerjaan berat yang harus dilakukannya, tetapi berbagai hal selalu saja mengganggunya. Karena itu maka sejenak kemudian ia berkata,

“Guru, aku dapat mengerti, dan aku akan sangat senang melakukannya. Tetapi dengan demikian maka aku tidak dapat lagi berada di lingkungan pekerjaan yang sudah aku mulai. Bendungan di Padang Karautan seperti yang guru sendiri menghendaki.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya Agni. Kau memang tidak akan dapat melupakan pekerjaan yang kau tinggalkan setengah jalan itu. Aku pun dapat mengerti. Bahkan kau pasti merasa banyak kehilangan waktu selama kau berada di tempat ini. Tetapi Agni, kalau tidak sekarang, maka kapan kau akan mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmumu? Mumpung kau masih cukup muda dan mumpung kesempatan ini datang kepadamu. Agni, kau tidak usah mencemaskan bendunganmu. Anak muda yang bernama Ken Arok itu telah melakukan apa saja yang akan kau lakukan. Orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel bekerja dengan baik sehingga pekerjaan itu pasti akan cepat selesai.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Terbayanglah Padang rumput yang luas dan kering terbentang dihadapannya. Dikenangkannya bagaimana ia merentang tali dan memasang patok-patok di Padang yang panas itu. Kemudian terbayang pula, betapa kerja itu dimulai dengan penuh tekad yang menyala di dalam setiap orang Panawijen. Apalagi ketika Tunggal Ametung mengirimkan sepasukan pradjurit di bawah pimpinan Ken Arok, seorang Pelayan Dalam, untuk membantunya.

“Agni.” berkata gurunya, “kerja itu kini dipimpin oleh orang yang mengenal watak dan keadaan Padang yang kering itu. Tidak seorang pun yang lebih mengenal daerah itu selain Hantu Karautan. Dan hantu itu kini telah banyak sekali berbuat untuk merubah wajah Padang Karautan itu.” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau dapat mengerti Agni?” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Ya, aku pun dapat merasakan kerinduanmu untuk segera keluar dari lingkungan ini. Kau di sini seakan-akan sedang berada dalam pengasingan yang sangat menjemukan. Bahkan setiap kali kau masih harus mengalami perlakuan yang kasar dan memuakkan dari Kebo Sindet yang ingin membuatmu kehilangan segala akal dan budi. Kehilangan keberanian dan harga diri. Dan agaknya kau sudah bermain bagus sekali sehingga sampai saat ini Kebo Sindet itu tidak mencurigaimu.”

“Ya guru.” jawab Agni “sampai saat ini Kebo Sindet masih menganggap aku menjadi semakin kehilangan nafsu untuk melepaskan diriku.”

Koleksi : Ki ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Re-checking : Ki Arema
Produksi : Pelangisingosari






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar