MENU

Ads

Selasa, 31 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 161

PdLS-33
“NAH, kalau keadaan itu masih tetap dapat kau pertahankan, maka kau harus memanfaatkannya. Waktu ini sama sekali bukan waktu yang terbuang Agni Waktu ini justru waktu yang sangat berharga bagimu. Tidak semata-mata untuk melepaskan diri dari tangan Kebo Sindet, tetapi sebagai bekalmu di masa-masa yang akan datang. Sebab untuk seterusnya kau bukan sekedar orang Panawijen atau orang Karautan yang akan menjadi hijau menggantikan Panawijen yang kering. Tetapi kau akan menjadi orang yang dekat dengan istana Tumapel. Bukankah adikmu menjadi seorang Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung? Mau tidak mau Agni, kau pasti akan terlibat dalam berbagai persoalan di istana itu.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak ingin melibatkan diri dengan istana Tumapel guru. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku buat tanah yang sedang aku garap. Buat orang-orang Panawijen.”

Kini gurunyalah yang menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Kenapa kau berpikir terlampau sempit? Kalau kau dapat menyerahkan tenagamu untuk sesuatu yang lebih besar, maka itu harus kau lakukan. Kau tidak boleh sekedar menyangkari dirimu sendiri dengan dinding batu padukuhan yang kau bangunkan di Padang Karautan itu saja. Tidak Agni. Kau akan berbuat banyak untuk Tumapel. Kau akan mendapat kesempatan karena justru adikmu berada di istana itu.” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi suram.

“Kau adalah seorang jantan Agni. Bukan seorang laki-laki cengeng. Kau mengerti?” gurunya berhenti sejenak, “Kalau kau bekerja untuk Tumapel itu tidak harus berarti kalau kau telah dikuasai oleh nafsu untuk mendapatkan kedudukan dan kesempatan yang baik bagi dirimu sendiri. Tidak Agni. Tekadmu harus tetap kau pelihara. Berbuat sebanyak-banyaknya untuk manusia dan kemanusiaan. Untuk rakyat Tumapel. Itulah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Kepalanya masih ditundukkan, dan wajahnya masih suram.

“Kau akan mendapat kesempatan itu. Berbuat untuk tanah yang telah memberimu makan dan minum, yang telah memberi kau tempat untuk membangun bebrayan yang ayem tentrem setelah bendunganmu jadi. Tetapi duniamu seharusnya tidak hanya seluas Padang Karautan. Tetapi lingkunganmu adalah seluruh Tumapel bahkan Kediri. Karena itu cita-citamu harus menebar seluas Tumapel, seluas Kediri dan bahkan seluas lingkaran Cakrawala, sepanjang manusia yang berada di dalam lingkungannya merasa satu dengan kau, dengan orang-orang Kediri. Satu dalam cita dan cita-cita, bersumber pada aliran darah yang sama dan senada. Kau harus berbuat sesuatu untuk membangunkan bebrayan yang diikat oleh rasa persaudaraan dan jujur.”

Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Alangkah jauh perbedaannya. Dunia yang dikatakan oleh gurunya itu dengan dunia yang diinjaknya kini. Dunia cita-cita yang melambung tinggi, dan dunia yang sebenarnya dimilikinya. Karena itu maka sejenak ia dirayapi oleh keragu-raguan dan kebimbangan.

“Apakah yang dikatakan oleh guru itu bukan sekedar mimpi yang indah?” desisnya di dalam hati.

Agaknya Empu Purwa melihat keragu-raguan itu, sehingga ia berkata pula, “Agni, memang apa yang aku katakan itu bagimu tidak lebih dari kilatan sinar bintang di langit. Kau hanya dapat memandang saja, tetapi kau tidak dapat menyentuhnya. Tetapi Agni, tidak ada yang aneh, bagi Yang Maha Agung. Pergunakanlah apa yang sudah kau miliki untuk menjadi bekalmu. Kalau kau berjalan di atas jalan yang lurus, benar dan adil, maka kau akan dibimbing oleh Yang Maha Agung Tetapi kau sendiri harus berbuat, harus berusaha sebagai bukti kesungguhanmu. Tanpa kesungguhan, tanpa perjuangan, maka tidak ada suatupun yang akan dapat kau capai.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih saja berdiam diri. Tetapi kata-kata gurunya itu meresap di dalam hatinya. Terbentanglah dihadapannya suatu masa yang penuh dengan perjuangan dan kerja. Dan ia kini sudah memulainya. Sejenak mereka saling herdiam diri. Angin yang sejuk itu berhembus menyentuh tubuh-tubuh mereka. Dedaunan yang kering bertebaran runtuh dari cabang-cabangnya.

“Agni.” terdengar suara gurunya, “Aku telah berbicara dengan Empu Sada. Untuk mempercepat waktu yang kau perlukan, maka kau akan mendapat seorang guru lagi. Ia akan memberimu berbagai macam ilmu yang lain dari yang sudah kau miliki, namun pasti yang mempunyai getar yang tidak berlawanan dari ilmu yang sudah lebih dahulu tersimpan di dalam dadamu. Apakah kau bersedia?”

Dengan serta merta Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya kedua orang tua itu berganti-ganti. Tetapi ia masih belum menyahut.

“Semakin banyak ilmu yang kau miliki, maka semakin banyak pula bekal yang kau punyai. Kau adalah angkatan masa datang. Sekarang kau harus menimbun ilmu sebanyak-banyaknya di dalam dirimu, supaya yang tua-tua ini tidak lagi merugikan, bahwa masa depan dari tanah ini akan lebih baik dari masa kini. Kalau anak-anak muda masa kini tidak tertarik lagi pada ilmu, maka masa depan dari tanah ini pasti akan suram. Tetapi kalau anak-anak muda kini menyimpan ilmu, namun tidak disadari dengan cita dan cita-cita yang baik, maka masa depan tanah ini akan menjadi lebih parah lagi.”

Wajah Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cerah. Dengan demikian ia akan menjadi semakin cepat dapat ke luar dari lingkungan yang memuakkan ini, namun lebih daripada itu, seperti yang dikatakan oleh gurunya, bagaimana ia akan dapat memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan.

“Bagaimana Agni, apakah kau bersedia?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya lambat, “Aku bersedia guru.”

“Kau terima dengan senang hati?” bertanya gurunya.

“Ya guru. Aku akan sangat senang. Dengan demikian, maka aku akan mendapat kasempatan lebih banyak.”



“Bagus. Nah, sekarang biarlah Empu Sada sendiri mengatakannya.” berkata Empu Purwa itu.

Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajah yang pernah dibencinya, dan langsung tidak langsung orang tua itu telah ikut mendorongnya ke dalam neraka ini. Tetapi kini dilihatnya sorot mata orang tua itu jauh berlainan dengan sorot mata yang pernah dikenalnya. Sorot mata itu tidak lagi tampak liar dan buas. Tetapi ia melihat seolah-olah mata itu membayangkan penyesalan yang mendalam.

“Agni.” berkata orang tua itu, “aku akan mencoba mengurangi kesalahanku. Kau mengerti? Aku sangat berterima kasih kepadamu atas kesediaanmu. Kalau telah berhasil memberikan ilmuku kepadamu, sehingga kau berhasil menguasainya, maka puaslah aku kiranya seandainya saat kematian itu tiba.” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin ilmuku terlampau kasar buatmu Agni, tetapi aku ingin membuat jiwa dan watak dari ilmu itu seterusnya tidak kasar seperti ujud wadagnya. Aku telah mendapat izin dari gurumu, dan gurumu telah melihat sendiri bagaimana aku mengayunkan kaki dan tangan, menggerakkan pedang dalam pasangan ini. Aku sengaja membuat beberapa perbedaan bentuk, dari ilmu yang aku berikan kepada murid-muridku yang terdahulu. Hanya seorang saja muridku yang mendapat bentuk peralihan. Sebagian masih dalam wataknya yang lama, tetapi sebagian telah mendapat wataknya yang baru. Tetapi karena aku percaya, bahwa muridku yang seorang itu memiliki kepribadian yang kuat dan baik, maka aku mengharap, bahwa ia tidak akan terjerumus ke dalam dunia yang gelap seperti duniaku dahulu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Terasa sekuat bergetar di dalam dadanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku akan menerimanya dengan senang hati atas izin guru.”

“Ya, Agni. Dalam sehari kemarin aku dan gurumu sempat membicarakan masalah kau dan ilmumu. Nah, untuk seterusnya aku akan mendapat waktu, memberimu beberapa petunjuk. Tetapi petunjuk itu pasti tidak akan terlampau banyak, sebab kau sendiri telah berada ditataran yang cukup tinggi.”

“Mudah-mudahan aku dapat menerimanya Empu.”

“Tentu, kau tentu dapat menerimanya. Tetapi kau tidak boleh tergesa-gesa. Waktu yang aku dapat tidak terlampau banyak. Setiap kali kita harus mempertimbangkan apakah Kebo Sindet sudah pulang.”

“Ada suatu keuntungan bagi kita Empu. Kebo Sindet selalu memanggil aku dengan tanda.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Empu Purwa berkata, “Setiap kali aku berada disini, maka aku pun selalu memperhatikan tanda itu. Tetapi lebih baik setiap kali kita keluar dari tempat ini sebelum iblis itu datang.”

Empu Sada masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Empu Purwa. Sebaiknya mereka meninggalkan tempat itu setiap kali sebelum Kebo Sindet datang. Tetapi kapankah Kebo Sindet itu datang? Karena itu maka Empu sada itupun bertanya,

“Apakah kepergian Kebo Sindet dapat diperhitungkan, kapan ia kembali?”

Empu Purwa menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Memang tidak. Tetapi biasanya tidak kurang dari sepekan, aku berada di tempat ini setiap kali selama sepekan atau dua pekan. Kalau sebelum aku keluar dari tempat ini Kebo Sindet telah datang, maka aku segera bersembunyi. Tanda yang selalu dibunyikan Kebo Sindet untuk memanggil Mahisa Agni memberi tanda pula kepadaku. Baru dalam kesempatan yang memungkinkan, biasanya di malam hari, aku meninggalkan sarang iblis ini. Tetapi apabila suatu ketika kita bertemu dengan Kebo Sindet, maka rencana kita akan rusak. Kitalah yang harus menghadapinya. Bukan Mahisa Agni seperti yang aku inginkan.”

“Tetapi.” berkata Empu Sada kemudian, “kalau kita tergesa-gesa keluar, dan ternyata Kebo Sindet tidak segera datang, kita akan kehilangan banyak waktu.”

“Demikianlah.” sahut Empu Purwa, “memang hal yang demikian itu sering terjadi.”

“Kalau demikian, maka kita pergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Kita tidak perlu meninggalkan tempat ini dengan tergesa-gesa. Setiap kali kita menunggu Kebo Sindet datang, lalu di malam hari kita pergi menyingkir.”

“Tetapi bagaimanakah seandainya suatu ketika kita dapat dilihat oleh Kebo Sindet itu.”

“Di malam hari kita keluar seperti katamu. Sesudah Kebo Sindet tidur. Mahisa Agni dapat memberitahukan kepada kita dengan tanda apapun. Api misalnja, atau apa?”

Empu Purwa menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Bagaimana seandainya dalam saat Mahisa Agni berlatih, Kebo Sindet datang tanpa memberikan tanda, tetapi Kuda Sempana pergi mencari Mahisa Agni. Hal itu memang dapat terjadi.”

“Sekarang kita berdua disini.” sahut Empu Sada, “salah seorang dari kita dapat menjadi pengawas, sementara yang seorang masih terikat dalam latihan dengan Mahisa Agni. Begitu? Dahulu kau hanya seorang saja di sini, tetapi sekarang aku mengawanimu.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya, aku dapat menyetujuinya. Sepekan kita tidak perlu mencemaskan kedatangannya, di pekan kedua kita berganti-ganti menjadi pengawas. Begitu? Kita memang tidak akan banyak kehilangan waktu.”

Kedua orang tua itu ternyata sependapat. Kepergiannya Kebo Sindet biasanya memang lebih dari sepekan. Hanya dalam keadaan yang luar biasa, Kebo Sindet itu cepat-cepat kembali kesarangnya. Tetapi hal itu jarang-jarang sekali terjadi. Apalagi ketika Kebo Sindet kemudian telah menjadi semakin berani berkeliaran di luar dan di dalam kota Tumapel. Ia merasa bahwa orang-orang telah melupakan Mahisa Agni, setidak-tidaknya usaha untuk menemukannya sudah menjadi semakin tipis.

Kebo Sindet sudah tidak pernah lagi mendengar nama Empu Gandring, atau bertemu lagi dengan orangnya. Menurut pendengarannya orang tua itu telah tekun dengan kerjanya di Lulumbang. Nama Empu Sada pun tidak pernah didengarnya lagi. Apalagi Empu Purwa yang seolah-olah telah lenyap begitu saja. Meskipun Kebo Sindet tidak dapat melupakan mereka itu, yang setiap saat dapat saja muncul mengganggunya, tetapi waktu yang lewat telah cukup panjang. Dan orang-orang itu masih juga belum berbuat sesuatu.

“Mereka telah berputus asa.” katanya di dalam hati. “Mudah-mudahan Panji Bojong Santi tidak terlampau banyak menaruh perhatian atas hilangnya Mahisa Agni itu.”

Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam sarangnya sendirilah Empu Purwa dan Sada itu berada. Sejak saat-saat kedua orang itu bertemu, maka mulailah mereka mengolah Mahisa Agni dengan ilmu-ilmu mereka. Setiap hari Mahisa Agni harus bekerja keras untuk menuntut ilmu. Belajar, berlatih dan mendalaminya. Diulanginya setiap unsur gerak, yang telah, dimilikinya dan dicobanya untuk melakukan sebaik-baiknya.

Dengan demikian maka ilmu Mahisa Agni itu semakin lama menjadi kian matang. Kini bukan saja ilmu dari Empu Purwa, tetapi juga ilmu yang diterima dari Empu Sada. Memang tata gerak Empu Sada agak lebih kasar dari Empu Purwa, namun kadang-kadang terasa manfaatnya. Setiap kali latihan-latihan itu terpaksa terhenti, karena Kebo Sindet dan Kuda Sempana datang kembali ke dalam sarangnya. Dalam keadaan yang demikian. Mahisa Agni segera berubah menjadi seorang yang bertambah dungu dan kehilangan harga diri. Mahisa Agni kini lama sekali sudah tidak berani lagi menatap wajah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Setiap kali ia hanya menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar.

Apabila terdengar olehnya Kebo Sindet membentak, maka Mahisa Agni itu menjadi pucat seperti mayat. Tubuhnya menggigil seperti orang yang kedinginan. Sikap itu merupakan permainan yang menyenangkan bagi Kebo Sindet. Hampir setiap kali, apabila ia berada di sarangnya, Mahisa Agni selalu dipanggilnya, dibentak-bentaknya dan kadang-kadang ditanganinya, sehingga anak itu terpelanting dan jatuh berguling-guling.

Tetapi berbeda dengan Kuda Sempana. Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin acuh tak acuh saja. Meskipun demikian kadang-kadang ia masih diganggu oleh keheranannya melihat perubahan Mahisa Agni itu. Tetapi dengan sadar ia bercermin kepada dirinya sendiri.

“Apalagi Mahisa Agni yang setiap hari selalu disakiti.” desisnya, “sedang aku yang tidak pernah disentuh pun menjadi kehilangan arti hidupku.”

Akhirnya Kuda Sempana menjadi semakin acuh tak acuh saja. Ia mencoba melupakan dan menghilangkan Mahisa Agni dari pikirannya. Apapun yang akan terjadi atasnya, dan apapun perlakuan yang akan dialaminya dari Kebo Sindet. Meskipun demikian, kadang-kadang masih juga tumbuh keinginannya untuk bertemu dengan Mahisa Agni. Kuda Sempana sendiri tidak dapat mengetahui, keinginan apakah yang telah mendorongnya setiap kali untuk bertemu tanpa diketahui oleh Kebo Sindet. Ia sama sekali sudah kehilangan nafsu untuk membalas dendam. Bahkan lambat laun timbullah rasa senasib dan sepenanggungan. Meskipun ia belum pernah menyatakannya, namun perasaan itu semakin dalam membenam di hatinya.

Tetapi setiap kali ia berusaha untuk menemui Mahisa Agni, setiap kali Kebo Sindet selalu mencurigainya, bahwa ia akan mencari kesempatan untuk membunuh Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian, maka kesempatan itu tidak pernah dipunyainya.

Bagi Mahisa Agni sendiri, Kuda Sempana juga menumbuhkan berbagai teka-teki di dalam hatinya. Kuda Sempana yang liar dan buas itu seolah-olah kini telah membeku. Mahisa Agni tidak pernah melihat mata anak muda itu memancar seperti dahulu, tidak pernah melihat nafsu yang menyala di wajahnya. Bahkan kemudian anak itu seakan-akan telah benar-benar kehilangan gairah hidupnya, dan kehilangan diri sendiri. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat meyakininya. Ia tidak juga sempat mendekati Kuda Sempana. Ia hanya dapat memandanginya dari jauh.

“Kuda Sempana kini tidak lebih dari seekor kuda tunggangan yang terlampau jinak.” pikir Mahisa Agni. Kemudian dilanjutkannya, “Mungkin ia menganggap akupun seperti dirinya sendiri. Mudah-mudahan kelak ia sempat melihat apa yang akan aku lakukan di sini.”

Tetapi waktu bagi Mahisa Agni terasa terlampau lamban. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan yang menjemukan ini. Sebenarnya ia merasa senang dan berterima kasih sekali, bahwa ia mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmunya, tidak saja yang bersumber dari gurunya sendiri, tetapi kini ia telah dialiri pula oleh ilmu Empu Sada, yang diusahakannya dapat bersenyawa dan luluh dengan ilmunya sendiri, dalam getaran yang semakin meningkat. Usahanya untuk mendapatkan bentuk-bentuk baru yang lahir dari persenyawaan antara ke dua unsur-unsur gerak, kadang-kadang telah mengejutkan kedua orang-orang tua yang memimpinnya. Gerak-gerak yang seolah-olah baru sama sekali, namun memiliki kemampuan yang bergabung antara unsur-unsurnya telah membuat Mahisa Agni menjadi seorang anak muda yang luar biasa.

“Kau memang cerdas Agni.” berkata Empu Sada pada suatu kali kepada Mahisa Agni ketika ia melihat Mahisa Agni bergerak dalam tata gerak yang baru.

“Aku mencoba untuk bekerja sekuat-kuat tenagaku Empu.” sahut Mahisa Agni, “aku ingin cepat-cepat keluar dari daerah ini.”

“Kau pasti akan segera dapat melakukannya. Segera.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi tampaklah wajahnya menjadi tegang. Empu Purwa, yang ada di sampingnya pula saat itu melihat, bahwa Mahisa Agni agaknya sedang menahan suatu perasaan yang bergelora di dalam dadanya. Karena itu, maka iapun bertanya,

“Agni, aku melihat bahwa kau menyimpan sesuatu di dalam hatimu. Mungkin aku boleh mendengarnya, apabila aku dapat membantu, maka biarlah aku mencoba ikut memecahkannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sekali lagi ia terdiam meskipun wajahnya menjadi bertambah tegang.

“Katakanlah Agni.” berkata gurunya.

“Atau.” Empu Sada menyahut, “kau ingin berbicara dengan gurumu tanpa aku dengar?”

“Oh, tidak. Tidak Empu.” cepat-cepat Mahisa Agni menjawab.

“Kalau begitu katakanlah, Agni.” minta gurunya.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu perlahan-lahan ia berkata, “Guru, sebenarnya aku ingin bertanya.” Mahisa Agni berhenti sesaat, lalu tersendat-sendat ia menyambung, “Apakah guru tidak akan marah.”

“Ah, kenapa aku marah? Bukankah kau hanya sekedar bertanya?”

“Ya guru.” sahut Mahisa Agni, “aku ingin bertanya, apakah aku sudah boleh melakukannya sekarang?”

“Apa?”

“Aku sudah hampir-hampir tidak tahan lagi guru. Perlakuan Kebo Sindet semakin lama menjadi semakin memuakkan. Aku ingin segera menyelesaikan persoalanku dengan Kebo Sindet.”

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam, sedang Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir bersamaan mereka berkata, “Kau harus bersabar Agni.”

“Apakah aku masih kurang sabar lagi? Dan, apakah ilmuku masih belum memadai ilmu Kebo Sindet?”

“Mahisa Agni.” berkata gurunya sareh, “kau memang luar biasa. Kau telah mampu mengimbangi kami satu demi satu. Ilmumu telah hampir tidak ada beda tingkatannya dengan ilmuku dan ilmu Empu Sada, meskipun kematangannya masih memerlukan waktu. Seandainya kau kami lepas, maka aku kira kau sudah tidak akan dapat dikalahkan lagi oleh Kebo Sindet. Tetapi Agni, kamipun belum yakin bahwa kau sudah pula mampu mengalahkannya. Inilah yang harus kau perhitungkan.”

“Perhitungan itu akan terlampau berkepanjangan guru. Aku sudah cukup kuat, dan aku sudah berani dan manatap untuk menghadapinya sekarang juga.”

“Agni.” jawab gurunya, “soalnya bukan berani atau tidak berani. Tetapi kau harus yakin bahwa kau akan berhasil dengan tindakanmu itu. Nah, apakah kau sudah yakin benar bahwa kau akan berhasil dalam keadaan serupa ini?”

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Namun di dalam dadanya serasa keinginannya untuk segera berbuat sesuatu seolah-olah telah menyala dan membakar seluruh urat nadinya.

“Agni.” berkata gurunya, “kau harus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang dewasa. Kau bukan anak-anak lagi yang selalu saja hanyut dalam arus perasaan. Kau harus mempunyai memperhitungkan setiap tindakan.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sesuatu terasa mendesak untuk dikatakan. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Hindarilah korban yang tidak perlu Agni.” berkata Empu Sada kemudian, “kali ini kau masih berada pada kesempatan yang sama dengan Kebo Sindet. Kau dapat megalahkahnya, tetapi kau dapat juga dibinasakannya.”

“Empu.” suara Mahisa Agni terasa terlampau dalam, “bukankah itu akibat perjuangan yang selalu harus kita tanggungkan? Kalau kita gagal, maka akibatnya dapat kita bayangkan.”

“Itulah yang aku maksudkan korban yang sia-sia. Pada hal kau dapat berbuat lain, dengan cara lain. Kau hanya nemerlukan waktu. Itulah yang disebut kesabaran. Kau harus bersabar memperhitungkan kemungkinan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ketegangan di wajahnya membayangkan perasaannya yang bergolak. Agaknya keterangan orang tua-tua itu masih belum dapat diyakininya. Bahkan di dalam hatinya ia berkata,

“Guru dan Empu Sada tidak merasakan perlakuan Kebo Sindet yang gila itu. Sekian lama aku mengorbankan perasaanku dan bahkan tubuhku untuk disakitinya. Sakit pada tubuhku segera akan dapat aku lupakan, tetapi sakit di hatiku serasa mencekikku dan lambat laun bahkan akan membunuhku. Aku tidak tahan lagi mengalami perlakuan itu. Apalagi bendungan di Padang Karautan itu. Betapa aku selalu terganggu oleh angan-angan tentang kerja yang memberi harapan di masa mendatang. Aku harus segera keluar dari sarang hantu ini dan kembali berada di lingkungan kerja itu. Kerja itu memberi aku ketenteraman dan kebanggaan. Kerja diantara orang-orang sekampung halaman dan di antara prajurit-prajurit Tumapel yang baik.”

Tetapi Mahisa Agni masih mendengar gurunya berkata, “Agni, kau harus mampu menimbang persoalan yang kau hadapi. Apakah apabila kau berbuat saat ini akan memberimu keuntungan yang nyata, bukan hanya sekedar dorongan perasaan? Pertimbangkan baik-baik. Kau justru akan terdorong dalam suatu keadaan yang tidak menguntungkan sama sekali. Kau akan menjumpai kegagalan mutlak, karena kau tidak mampu melawan Kebo Sindet diakhir dari perkelahian yang akan terjadi karena Kebo Sindet jauh lebih berpengalaman dari padamu seandainya ilmumu telah setingkat dengan ilmunya.

Ketergesa-gesaanmu akan mempercepat mengakhiri segala harapan dan cita-citamu. Jangan kau menganggap bahwa hal ini wajar. Jangan kau berbangga dengan istilah pengorbanan. Pengorbanan seperti itu sama sekali tidak perlu. Tidak bermanfaat. Kalau kau dapat memberikan korban yang kecil untuk suatu tujuan, maka jangan kau beri korban yang berlipat sepuluh daripadanya. Kalau kau ingin mengail ikan sebesar kelingking jangan kau berikan umpan sebesar ibu jarimu.

Ingat Agni, ini bukan berarti melepaskan diri dari tujuan. Tetapi memperhitungkan. Tidak mengorbankan hakekat perjuangan, tetapi memperhitungkan kepastian bahwa perjuangan itu akan berhasil. Pengorbanan yang sebenarnya kau berikan untuk itu justru adalah kesabaranmu itu, dan sekedar harga diri selama kau berada di sini tanpa dilihat dan disaksikan oleh orang lain. Tetapi akhirnya kau akan menemukan yang kau cari. Kau akan sampai pada persoalan yang sebenarnya. Kau akan menebus segala pengorbanan yang sebenarnya. Kebebasan dan harga diri.

Agni, seandainya aku dan Empu Sada sekarang juga membunuhnya dan melepaskan kau dari sarang ini, maka pertimbangannya telah aku beritahukan kepadamu. Kebo Sindet akan menganggap bahwa hal itu wajar sekali, seperti yang seharusnya terjadi. Tetapi dengan demikian di dalam sudut pandangnya, kau tidak akan dapat menebus harga dirimu. Dalam saat-saat matinya ia tetap menganggap kau seorang laki laki yang terlampau cenggeng. Tetapi kalau kau berhasil mengalahkannya, persoalannya akan lain.”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Nalarnya dapat mengerti kata-kata gurunya, tetapi perasaannya masih juga memata. Apakah ia masih harus mengorbankan harga diri? Harga diri? Apakah yang lebih bernilai dari harga diri? Tetapi lamat-lamat nalarnya menjawab,

“Yang lebih berharga dari harga dirimu Agni, harga dirimu pribadi, seorang Mahisa Agni, adalah tujuan perjuanganmu. Tujuanmu yang besar. Kebebasan. Bukan sekedar kebebasan Mahisa Agni pribadi, tetapi kebebasan seluruh lingkunganmu yang selalu ditakut-takuti oleh perbuatan itu. Ibis itu tidak akan dapat lagi membayangimu, mengganggu bendunganmu, yang dilahirkan oleh kerja orang-orang Panawijen bersama-sama para prajurit dengan memeras keringat, bukan sekedar bendungan tiban dari langit, menghantui Ken Dedes dan orang-orang Tumapel lainnya.”

Namun perasaan dan nalar anak muda itu masih belum dapat bertemu seutuhnya. Meskipun demikian, Mahisa Agni masih juga mencoba menyabarkan diri. Meskipun ia bergumam di dalam hatinya,

“Sampai kapan aku dapat bersabar lagi?”

Mahisa Agni terperanjat ketika ia mendengar gurunya berkata, “Kau masih bersedia bersabar bukan, Agni?” Perlahan-lahan Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

Empu Purwa dan Empu Sada bersama-sama menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Seolah-olah ingin dihempaskannya perasaan yang selama ini menyumbat kerongkongannya.

“Terima kasih anakku.” desis Empu Purwa, “aku tahu bahwa kau merasa terlampau berat untuk memenuhi permintaan ini, tetapi kau melakukannya juga. Jangan kau anggap aku terlampau mengesampingkan perasaanmu Agni, tetapi ini adalah terdorong dari keinginanku untuk menampilkanmu. Keinginanku untuk mendorongmu maju, menyelesaikan persoalanmu dan mengangkat harga dirimu. Itulah keinginan yang ada di dalam dadaku. Mudah-mudahan kau dapat mengerti.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya, seakan-akan terjadi suatu benturan-benturan yang dahsyat di dalamnya.

“Agni.” terdengar pula suara gurunya, “cobalah mengerti. Tetapi untuk selanjutnya wajib kau ingat, bahwa kau tidak boleh dikuasai oleh dendam semata-mata. Soalnya bukan dendam dan kemudian membalasnya semata-mata untuk kepuasan. Tidak Agni. Tetapi kau wajib berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu dan bagi lingkunganmu. Membebaskan diri dan menghentikan segala macam kejahatan yang pernah dan masih akan dilakukan oleh Kebo Sindet.”

Kini Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun hatinya masih gelap, tetapi secerah sinar membersit di dalam dirinya. Perlahan-lahan ia berdesis,

“Aku akan melakukannya guru.”

“Bagus.” sahut gurunya, “kau harus yakin bahwa usahamu ini akan berhasil, sementara usaha orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel juga akan berbasil.” Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi kepalanya masih ditundukkannya.

Dihari-hari berikutnya, Mahisa Agni menjadi semakin tekun berlatih. Ia mengharap bahwa ia akan segera menemukan keyakinan pada dirinya sendiri dan pada guru-gurunya, bahwa ia telah mampu untuk berbuat. Meskipun setiap kali gurunya selalu berpesan, bahwa persoalannya sama sekali bukan sekedar dendam.

“Agni, seandainya sebelum kau berbuat sesuatu, kemudian kau temui Kebo Sindet telah merubah dirinya sendiri, maka kau sudah pasti tidak perlu berbuat sesuatu.” berkata gurunya setiap kali. Mahisa Agni selalu menganggukkan kepalanya pula.

Latihan-latihan yang berjalan terlampau cepat, kadang-kadang terganggu oleh kehadiran Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Ternyata mereka semakin lama semakin kehilangan kesabaran mereka pula. Tetapi mereka masih belum menemukan seseorang yang cukup baik bagi mereka untuk menghubungi Ken Dedes.

“Bagaimana dengan dukun perempuan itu?” bertanya Kebo Sindet pada suatu ketika.

“Ia sangat membenci Ken Dedes. Mungkin ia dapat dipergunakan.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar