MENU

Ads

Selasa, 31 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 162

“Aku tidak yakin.” sahut Kebo Sindet, “ia tidak dengan sepenuh hati ingin membantu kita. Kalau ia menyampaikan persoalan Mahisa Agni kepada Ken Dedes, maka maksudnya pasti hanya untuk menyakiti hati Permaisuri itu. Ia senang melihat permaisuri itu menangis. Bukankah dukun tua itu sudah mengatakan sendiri, bahwa ia menjadi iri hati melihat kehadiran Ken Dedes di istana. Gadis Panawijen itu adalah sekedar gadis padepokan, sedang kemenakan dukun tua itu adalah gadis Tumapel. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung sama sekali tidak menaruh minat kepada kemenakannya itu.” Kuda Sempana tidak menjawab.

“Tetapi apabila perempuan tua itu mengkhianati, maka aku harus menyelesaikannya.”

Kuda Sempana tidak pula menjawab. Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar. Telah lebih dari lima orang yang terbunuh dalam persoalan yang seakan-akan tidak akan dapat diselesaikan dengan mudah. Setiap kali, seseorang berusaha untuk berkhianat. Orang-orang yang telah dihubungi oleh Kuda Sempana dan Kebo Sindet, setiap kali justru berusaha untuk memeras mereka. Mereka mengancam untuk melaporkan apabila pembagian hasil tebusan itu tidak mereka setujui. Tetapi mereka agaknya tidak kenal dengan watak dan tabiat Kebo Sindet. Setiap kali, maka pertengkaran itu berakhir dengan pembunuhan. Ada beberapa di antara mereka yang merasa dirinya terlampau kuat. Namun mereka akhirnya harus mati berebut harta yang belum berada di tangan. Tetapi seandainya persetujuan itu ditemukan, akhirnya pun tidak akan berbeda, apabila tebusan itu sudah mereka peroleh.

“Apabila sebulan dua bulan lagi, persoalan ini tidak segera mendapatkan jalan.” berkata Kebo Sindet, “maka aku terpaksa berbuat lebih kasar lagi. Aku harus memotong telinga Mahisa Agni dan mengirimkannya kepada Ken Dedes.” Kuda Sempana tidak menyahut, tetapi terasa desir yang tajam menggores dinding jantungnya.

Tetapi sementara itu, setiap kesempatan terbuka, Mahisa Agni tidak henti-hentinya membajakan dirinya di bawah tuntunan kedua orang sakti yang pilih tanding. Mereka pun bekerja terlampau keras untuk kepentingan Mahisa Agni. Kini Mahisa telah menguasai sepenuhnya ilmu dari keduanya. Bahkan persenyawaan dari kedua jenis ilmu itu telah menumbuhkan bentuk-bentuk baru yang dahsyat. Selanjutnya yang ditunggu oleh Mahisa kini tinggallah mematangkannya, supaya di dalam keadaan yang sulit ia tidak kehilangan akal dan kehilangan inti dari unsur-unsur geraknya.

“Kau hampir menemukan kemantapanmu Agni.” berkata Empu Purwa selagi Mahisa Agni beristirahat sejenak, “meskipun kini kau sudah tidak sekedar setingkat dengan Kebo Sindet, tetapi kau masih perlu sedikit waktu lagi untuk meyakinkannya, bahwa kau tidak akan gagal.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia ternyata masih harus bersabar lagi. Dan selalu bersabar itu ternyata telah sangat mengganggunya. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya menengadah kelangit. Dilihatnya segumpal awan yang kelabu mengalir ke utara.

“Apakah yang sedang kau perhatikan Agni?” bertanya Empu Sada.

“Awan telah menjadi basah. Musim hujan segera akan datang Empu.” desis Agni.

“Kenapa dengan musim hujan?”

“Apakah bendungan di Padang Karautan itu telah siap menghadapi musim basah?”

Empu Sada tidak menjawab, sedang Empu Purwa pun terdiam pula. Tetapi bersama-sama mereka menengadahkan wajah-wajah mereka kelangit. Dan mereka pun melihat pula gumpalan awan yang kehitam-hitaman mengalir ke Utara.

Sehelai kabut hitam mengalir pula di dalam hati masing-masing. Mereka bersama-sama telah menangkap isyarat, bahwa sebentar lagi musim hujan segera akan datang. Seandainya Bendungan Karautan masih belum cukup kuat, maka banjir yang pertama akan menghapuskan kerja yang telah dilakukan sekian lamanya itu. Dan seandainya demikian, maka orang-orang Panawijen pasti akan kehilangan semua harapannya. Bukan saja menyesali kerjanya yang hanyut dibawa oleh arus banjir, tetapi untuk seterusnya mereka pasti sudah kehilangan gairah untuk bekerja lagi. Dengan putus asa mereka akan pergi berpencaran, bercerai berai tanpa tujuan untuk mencari sesuap nasi.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni bergumam, “Aku sudah terlalu lama berpisah dari kerja itu. Aku tidak dapat membayangkan, bagaimanakah bentuk dan ujud bendungan itu. Aku juga tidak dapat membayangkan Apakah bendungan itu telah mampu menahan arus banjir yang paling kecil sekalipun seandainya hujan turun di ujung sungai itu.”

“Kau harus bekerja lagi Agni.” gumam gurunya seolah-olah tidak ditujukan kepada siapapun juga, “kau harus segera meyakinkan dirimu dan keluar dari tempat ini. Kau akan segera berada di tengah-tengah orang-orang Panawijen itu lagi.”

“Kenapa tidak sekarang?” Mahisa Agni itu menjawab, tetapi hanya di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan Ken Arok dapat memperhitungkan cuaca itu pula.” Empu Purwa masih bergumam, “Kewajiban seterusnya adalah memeras segenap tenaga yang ada.”

“Ya guru.” tanpa disengaja Agni mengucapkan kata itu.

“Baiklah. Marilah waktu ini kita pergunakan pula. Aku harus mematangkan inti tata gerak dari seluruh ilmu yang kau miliki. Aku kira Empu Sada pun akan berbuat demikian pula.”

“Ya.” sahut Empu Sada, “pedang rangkap dalam tataran tertinggi. Pergunakanlah getaran kedua puncak ilmumu dalam kecepatan gerak. Bukankah kau sudah berhasil meluluhkanya dalam satu gelombang besar yang sejalan, saling isi mengisi dan dorong mendorong?”



“Aku baru mulai Empu.” jawab Mahisa Agni.

“Tetapi kau hampir berhasil. Kau sudah tidak mendapat getar perlawanan dari dalam-dirimu sendiri. Yang paling sulit adalah menyesuaikan getaran dalam gelombang yang sejalan. Seterusnya, untuk mematangkannya adalah jauh lebih mudah.”

“Mudah-mudahan aku berhasil.”

“Kau akan berhasil.” berkata Empu Purwa pula, “Kalau kau belum berhasil, maka kau tidak akan mampu bergerak lebih dari sepenginang. Kau akan kehabisan tenaga karena, benturan-benturan getaran yang terjadi di dalam diri mu sendiri. Tetapi ternyata itu tidak terjadi. Kau telah mampu menyesuaikan Aji Gundala Sasra dan Aji Kala Bama dalam satu ungkapan yang mapan, setelah Empu Sada berhasil memberi watak baru ke dalam ilmunya itu sesuai dengan wadah tempat ia menuangkannya. Yaitu kau, yang telah terisi oleh Aji Gundala Sasra.”

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi wajahnya menjadi tegang. Dikenangkannya saat-saat yang paling berbahaya baginya, ketika ia mencoba menyelaraskan gelombang getaran dari kedua ilmu yang berbeda itu. Betapa Empu Sada telah berusaha sekuat-kuat kemampuannya, untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru di dalam susunan tata gerak berhubungan dengan sifat dan watak ilmunya, namun masih juga terasa beberapa benturan-benturan di saat-saat kedua ilmu itu mulai bersentuhan di dalam diri Mahisa Agni.

Bukan saja Mahisa Agni yang berjuang dengan sepenuh kemampuan yang ada padanya, tetapi juga Empu Purwa dan Empu Sada telah berusaha sejauh yang dapat mereka lakukan, mencari keseimbangan dari kedua ilmu tertinggi mereka. Bukan saja dalam bentuk tata gerak wadag, tetapi juga sampai kepada sifat dan wataknya. Setiap kali Mahisa Agni harus menyaksikan kedua orang tua-tua itu bersama-sama melepaskan kekuatan ilmu mereka degan sasaran yang serupa. Tetapi sekali-sekali mereka juga membenturkan kedua Aji itu meskipun tidak dalam puncak kekuatannya. Dengan demikian Mahisa Agni akan mampu menangkap kesamaan dan perbedaan yang terdapat pada keduanya.

Meskipun demikian, meskipun ia telah melakukan pengamatan yang sebaik-baiknya, namun ketika ia mencoba mempergunakannya kedua ilmu itu bersama-sama untuk pertama kalinya, terasa tubuhnya seolah-olah akan meledak. Namun lambat laun ia mampu mencari bentuk-bentuk saluran di dalam dirinya sesuai dengan gelombang getaran masing-masing dalam sifat dan wataknya. Akhirnya, dengan susah payah ditemukannya kesamaan dari keduanya, dan ditemukan pula perbedaan-perbedaan dan bahkan getaran-getaran yang sama sekali tidak dapat bersentuhan.

Betapa berat saat-saat yang harus dilampauinya. Bahkan ketika getaran-getaran itu menemukan saluran masing-masing dalam perbedaan dan persamaannya, terasa seperti gelombang yang dahsyat menyibak di dalam dirinya, sehingga terjadilah goncangan yang amat dahsyat. Dan, sejenak ia jatuh terkulai dengan lemahnya. Pingsan.

Namun sesudah itu, sesudah ia mampu sadar kembali karena pertolongan Empu Purwa dan Empu Sada, terasa sesuatu yang lain pada dirinya. Ia kini telah menyimpan kedua ilmu yang dahsyat itu di dalam dirinya, dalam susunan yang laras. Getaran yang terpancar dari padanyapun merupakan susunan gelombang yang saling isi mengisi dan dorong mendorong menjadi kekuatan yang tidak terkira.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya ketika ia mendengar gurunya berkata, “Ayo, mulailah Agni. Kau tinggal melangkahkan kakimu ke atas anak tangga yang teratas. Lakukanlah sebelum hujan yang pertama jatuh di atas bumi.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi sekali lagi ia mengangkat wajahnya memandangi awan yang semakin terdorong menjauh. Namun meskipun demikian, meskipun kali ini awan yang kelabu itu tidak meneteskan hujan setitikpun, tetapi pertanda itu telah membuat Mahisa Agni selalu berpikir tentang bendungan yang sedang dikerjakan oleh orang-orang Panawijen bersama-sama para prajurit Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok.

“Awan itu menjauh Agni.” terdengar Empu Sada berdesis.

“Ya, tetapi musim hujan mendekat.” sahut Agni.

“Musim yang harus kau songsong dengan memeras tenaga.” berkata Empu Sada pula.

“Seharusnya orang-orang Panawijen pun memeras tenaga mereka pula, supaya bendungan itu dapat menahan banjir yang pertama.”

Empu Sada tidak menyahut, tetapi tanpa disengaja kepalanya pun terangkat pula. Bukan saja Empu Sada, tetapi Empu Purwa pun menengadahkan kepalanya pula kelangit.

Di Padang Karautan, Panji Bojong Santi pun sedang menengadahkan kepalanya kelangit. Di sampingnya berdiri Ken Arok dan Kebo Ijo. Mereka juga sedang memandang awan yang keabu-abuan, justru semakin lama menjadi semakin dekat.

“Hem.” desis Ken Arok, “awan yang basah itu telah melayang di atas Padang Karautan.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, musim hujan telah mendekat pula.”

“Angin yang silir inipun serasa membawa air.” sahut Kebo Ijo. Gurunya masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau hujan turun di ujung sungai ini, maka segera banjir akan datang.” berkata Ken Arok.

“Bagaimana pendapatmu tentang bendungan itu.” bertanya Panji Bojong Santi.

Ken Arok tidak segera menjawab. Ditebarkan pandangan matanya menyusur susukan induk. Dilihatnya orang-orang Panawijen dan para prajurit sedang bekerja dengan kerasnya. Seolah-olah mereka pun menyadari bahwa bendungan itu harus menjadi kuat dan mereka menjadi yakin bahwa bendungan itu tidak dapat dibobolkan oleh banjir.

“Kita harus bekerja keras.” sahut Ken Arok.

Panji Bojong Santi tidak bertanya lebih lanjut. Ken Arok pun segera meninggalkannya dan terjun pula di dalam kerja yang riuh.

“Aku pun akan bekerja pula guru.” Kebo Ijo minta izin untuk meninggalkan gurunya yang berdiri di tepi susukan induk tidak jauh dari bendungan.

“Pergilah. Jangan mengecewakan anak buahmu dan Ken Arok.” jawab gurunya.

Kebo Ijo pun sejenak kemudian telah tenggelam dalam hiruk pikuk para prajurit dan orang-orang Panawijen. Meskipun pada mulanya ia tidak senang melihat cara Ken Arok memimpin anak buahnya, namun kemudian iapun terseret pula dalam cara. itu, sebab ia kemudian melihat, bahwa dengan caranya Ken Arok telah berhasil menguasai seluruh prajurit dan orang Panawijen. Tanpa tindakan-tindakan yang kasar, maka hampir setiap kata yang diucapkannya pasti akan dilakukan, baik oleh orang-orang Panawijen, maupun oleh para prajurit Tumapel.

Sepeninggal Kebo Ijo, Panji Bojong Santi kemudian berdiri seorang diri. Sekali-sekali matanya masih saja menatap awan yang mengalir semakin dekat di atas kepalanya. Matahari yang melontarkan sinarnya yang tajam menyengat punggung tiba-tiba menjadi pudar.

“Mendung.” desis salah seorang prajurit Tumapel.

Kawannya yang bekerja di sampingnya menyahut, “Kalau cuaca ini begini terus menerus, maka kerja kita menjadi bertambah ringan. Punggung kita tidak dipanggang pada bara matahari yang panas sekali.”

“Tetapi bagaimana kalau timbul banjir?”

“Darimana banjir itu datang?”

“Apabila turun hujan. Bukankah awan mendung itu membawa air hujan.”

“Jangan hujan dahulu.”

“Tetapi bagaimana kalau terjadi?”

“Entahlah.”

“Tetapi kau senang apabila turun hujan dan sungai akan menjadi banjir dan bendungan itu hanyut karenanya.”

“Siapa bilang?”

“Kau. Kau bilang bahwa apabila udara mendung kerja ini menjadi bertambah ringan.”

“Aku bilang kalau cuaca begini terus menerus. Katakanlah mendung selalu melekat di langit di atas kita, melindungi matahari. Tetapi begitulah seterusnya. Seperti saat ini, kalau cuaca untuk seterusnya begini, bukankah berarti tidak ada hujan.”

“Uh, dapurmu.” gerutu kawannya.

Keduanya pun kemudian terdiam. Tangan-tangan mereka sajalah yang kemudian bekerja melontarkan batu-batu pecahan untuk menutup celah-celah brunjung-brunjung yang besar. Ken Arok kemudian menarik nafas ketika ia melihat awan di atas kepalanya hanyut menyilang sungai itu. Semakin lama semakin jauh.

“Awan itu lenyap.” Gumamnya, “tetapi musim hujan akan segera datang. Kami harus bekerja lebih keras lagi. Tetapi aku tidak dapat memperpanjang waktu kerja ini lagi. Para prajurit telah bekerja bergantian sehari semalam penuh.”

Ternyata awan yang kehitam-hitaman itu tidak hanya dapat mereka lihat satu dua kali. Hampir di setiap hari-hari berikutnya awan yang basah itu melayang di atas Padang Karautan, makin lama semakin banyak. Seolah-olah mereka pergi dan berputar di bawah cakrawala untuk datang kembali membawa teman-teman mereka untuk bermain-main di atas padang yang kering itu.

Ken Arok tidak dapat mengabaikan tanda-tanda yang semakin jelas, bahwa musim hujan telah semakin dekat. Karena itu maka hampir setiap saat ia berada di samping bendungan yang harus dikerjakannya. Seolah-olah ia merasa bertanggung jawab sepenuhnya, bahwa apabila bendungan itu belum siap menerima banjir yang pertama di musim hujan mendatang adalah karena ketidak mampuannya.

Kebijaksanaan Ken Arok yang terakhir adalah menarik semua tenaga yang ada untuk menyelesaikan bendungan sampai kepada taraf yang tidak membahayakan, seandainya air bertambah besar. Ditinggalkannya taman buatan yang masih belum rampung pula serta susukan induk dan parit-parit. Tetapi taman itu tidak akan membahayakan seandainya musim hujan tiba-tiba saja datang. Bahkan tanaman-tanaman yang telah mulai tumbuh semakin besar itu akan menjadi bertambah subur.

Ternyata setiap orang Panawijen dan setiap prajurit Tumapel yang berada di Padang itu menyadari keadaan. Mereka menyadari bahwa apabila mereka menyia-nyiakan waktu yang sempit ini, maka mereka akan ditimpa oleh kegagalan, seluruh tenaga dan harta yang telah mereka tumpahkan untuk bendungan itu akan lenyap bersama banjir.

Demikianlah kerja itu menjadi semakin keras. Semua tenaga dan kekuatan telah dikerahkan. Disaat-saat orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel beristirahat, maka waktu itu akan mereka pergunakan untuk memperkokoh gubug-gubug mereka. Apabila tiba-tiba turun hujan yang lebat dibarengi oleh angin yang kencang. Seandainya gubug-gubug itu hanyut dibawa angin, maka mereka tidak akan mempunyai tempat lagi untuk berteduh. Bukan saja tenaga manusia yang dikerahkan hampir tanpa berhenti, tetapi juga lembu dan kerbau, bahkan kuda-kuda yang ada di Padang itu.

“Kita sudah hampir tidak mempunyai waktu lagi.” desis Ken Arok, “kita harus segera menurunkan brunjung-brunjung yag masih tersedia. Brunjung-brunjung yang kecil itu pun segera harus diisi dan diturunkan pula.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya.” Jawabnya, “tetapi kita sudah tidak dapat berbuat lebih banyak diri yang dilakukan sekarang. Tenaga manusia dan binatanglah diperas sejauh-jauh dapat dilakukan.”

Ken Arok mengerutkan dahinya. Ia menyadari bahwa mereka yang bekerja itu telah menjadi terlampau letih mereka sama sekali tidak lagi memikirkan persoalan yang lain kecuali bendungan itu cukup kuat untuk menahan air.

“Kapan ada pergantian tenaga para prajurit?” bertanya Ken Arok.

“Masih agak lama. Baru seminggu yang lalu terjadi pergantian itu.”

Ken Arok masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia selalu mengharap pergantian sebagian dari para prajurit Tumapel. Dengan demikian ia akan mendapat tenaga-tenaga baru yang masih cukup segar. Tetapi pergantian itu berlangsung setiap sepuluh hari sekali untuk sebagian saja dari prajurit-prajurit itu berturut-turut.

Apalagi tenaga orang-orang Panawijen. Mereka sebenarnya telah terlampau letih. Mereka bekerja melampaui waktu yang wajar. Namun didorong oleh kesadaran mereka, bahwa hari depan mereka dan anak cucu mereka tergantung pada bendungan itu, maka mereka sama sekali tidak memperhitungkan waktu dan keadaan diri mereka masing-masing. Apalagi ketika kemudian titik-titik air yang lembut terasa menetes dibahu Ken Arok. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka tampaklah mendung menebal di langit. Semakin lama semakin rata.

“Gerimis telah turun.” nada suaranya terdengar seakan-akan ia sedang mengeluh.

Kebo Ijo yang berdiri disampingnya pun mengangkat palanya. Perlahan-lahan disekanya keringat yang membasahi keningnya. Dan iapun merasakan titik air di dahinya.

“Ya, agaknya gerimis akan turun.”

“Mudah-mudahan tidak begitu lebat, meskipun mendung yang tebal tergantung di langit.” Kebo Ijo tidak menjawab, tetapi dadanya pun menjadi berdebar.

Namun gerimis yang pertama itu seakan-akan menjadi cambuk bagi orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel. Mereka bekerja semakin keras. Sejauh-jauh dapat mereka lakukan, maka tanpa tekanan dari siapapun, mereka telah mengerjakannya. Meskipun para prajurit Tumapel tidak langsung berkepentingan dengan bendungan itu, tetapi Ken Arok menanamkan pengertian di dalam hati mereka, bahwa bendungan itu akan mempunyai banyak sekali nilai. Bukan saja nilai kesejahteraan, tetapi lebih dari itu adalah nilai kemanusiaan.

Berderak-derak batu yang dilontarkan kedalam brunjung-brunjung, dan gemuruh suaranya, satu demi satu brunjung-brunjung itu dilemparkan ke dalam air untuk mempertebal bendungan mereka, semua pekerjaan dihentikan, kecuali bendungan. Dan semua tenaga berhimpun di sekitar bendungan itu seberang menyeberang. Sebagian berada di atas tebing, sebagian di bawah tebing, menempatkan brunjung-brunjung ketempatnya masing-masing. Sebagian mengusung tanah untuk menimbuni brunjung-brunjung itu dan sebagian yang lain menyiapkan patok-patok kayu. Sedang yang lain mengatur batu dan berunjung-berunjung yang khusus untuk menahan tebing di sisi bendungan itu supaya tidak menjadi longsor terdesak oleh arus air, apalagi di saat-saat sedang banjir.

Air di atas bendungan itu secengkang demi secengkang naik ke atas, karena bendungan itupun menjadi semakin tinggi. Tetapi hati Ken Arok dan para pekerja itu pun menjadi semakin cemas pula menantikan musim hujan yang sudah berada di ambang pintu. Setiap kali awan yang kehitam-hitaman selalu saja melayang diatas Padang Karautan menghantui orang-orang Panawijen dan pajurit-pajurit Tumapel yang sedang bekerja. Setiap tetes gerimis yang jatuh, membuat mereka kian berdebar-debar. Tetapi kerja merekapun menjadi semakin keras. Dikerahkannya segenap kemampuan mereka sampai kepuncaknya.

Tunggul Ametung yang mendengar laporan tentang bendungan dan mendekatnya musim hujan, ikut membantu pula dengan perbekalan secukupnya. Tetapi ia tidak dapat lagi menambah tenaga karena kebutuhannya yang lain. Yang dapat dilakukan hanyalah setiap kali mengganti tenaga-tenaga di Padang Karautan dengan prajurit-prajurit baru yang masih segar.

Di hutan, di tengah-tengah rawa-rawa di dekat Kemundungan, Mahisa Agni pun sedang bekerja sepenuh tenaga untuk membentuk dirinya. Tidak disia-siakannya saat-saat yang betapapun pendek. Ia mengharap bahwa secepatnya ia dapat keluar dari tempat yang menjemukan itu. Apalagi setiap kali angan-angannya selalu diganggu oleh bayangan banjir yang dapat melanda dan menghanyutkan bendungannya.

“Guru.” berkata Agni mengejut, “gerimis telah jatuh.”

Gurunya mengangkat wajahnya. Dilihatnya awan yang kehitam-hitaman sedang bergerak ke utara.

“Apakah di Padang Karautan telah turun hujan pula?”

Gurunya menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku tidak tahu Agni. Tetapi seandainya demikian, maka hujan itu pun masih terlampau kecil seperti di sini pula.”

“Tetapi apabila hujan itu turun di ujung sungai maka banjir itu tidak dapat dihindari lagi.”

“Masih ada waktu.” sahut Empu Sada pula, “banjir itu tidak akan datang dipermulaan musim. Waktu yang pendek masih akan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang sekarang bekerja di Padang Karautan. Awan yang hitam, angin yang basah, akan memberi mereka peringatan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan.” desisnya, “Tetapi seandainya mereka lengah, maka semuanya akan hanyut bersama bendungan itu. Harapan dimasa datang dan kerinduan orang-orang Panawijen untuk mempertahankan lingkungannya yang sejahtera.”

“Kita mengharap bahwa semuanya akan dapat teratasi.” berkata Empu Sada, “Sebab kedua-duanya penting bagimu Agni. Bukan sekedar untuk dirimu sendiri. Tetapi untuk kepentingan yang luas. Bekal yang kau peroleh di sini akan bermanfaat selama kau tetap berpijak pada kebenaran sejauh mungkin dapat kau jangkau, sebab tidak ada kebenaran yang mutlak pada manusia. Penilaian kebenaran yang mutlak hanyalah berada di tangan Yang Maha Agung. Dan saat in adalah saat yang sebaik-baiknya bagimu. Mungkin kau tidak akan dapat menemukan kesempatan sebaik ini, sementara seseorang yang bertanggung jawab telah menyambung kewajibanmu yang lain di Padang Karautan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi setiap kali ia selalu menengadahkan wajahnya, memandangi awan yang kehitam-hitaman. Ketika matahari menjadi semakin suram hampir di setiap hari, maka Mahisa Agni pun menjadi semakin gelisah, seperti juga kegelisahan yang mencengkam dada Ken Arok di Padang Karautan. Mereka telah ditegangkan oleh mendung dan bendungan. Dan mereka telah memeras segenap tenaga yang ada pada mereka.

Sementara itu, Kebo Sindet dan Kuda Sempana sama sekali masih belum menemukan jalan yang licin. Dua orang telah menjadi korban berikutnya. Namun Kuda Sempana masih selalu berkata, bahwa ia pada suatu saat akan memerlukan orang yang sebaik-baiknya untuk keperluan itu. Yang terakhir mereka pergi ke Tumapel, mereka telah menemui seorang jajar yang bertubuh gemuk. Kumisnya yang melintang dahinya yang sempit, hidungnya yang besar, dan matanya sipit, membuat wajah jajar itu membayangkan kelicikan hatinya. Tetapi Kuda Sempana tahu betul bahwa hati jajar yang gemuk itu telah dicengkam oleh nafsu yang menyala-nyala untuk mendapatkan sesuatu yang berelebih-lebihan.

“Kita pergi kerumahnya.” berkata Kuda Sempana kepada Kebo Sindet.

“Apakah kau yakin bahwa kali ini kau akan berhasil?” jawab Kebo Sindet.

“Kita hanya mencoba. Dan aku akan selalu mencobanya.”

“Kau memang keras kepala. Tetapi baiklah, mencoba sekali lagi. Kalau kali ini gagal, maka kau sendiri harus menghadap permaisuri itu, membawa telinga Mahisa Agni. Kau tidak akan diganggu oleh siapa pun di istana, karena kau mempunyai tanggungan yang sangat berharga. Mahisa Agni. Tetapi seandainya kau mencoba lari, maka nasibmu tidak akan terkatakan lagi. Alangkah malangnya. Kau akan memengalami nasib jauh lebih jelek dari nasib Mahisa Agni. Tetapi cara itu sebenarnya kurang aku sukai. Tetapi aku berhadapan dengan orang-orang yang licik dan curang.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Meskipun wajahnya tidak melontarkan kesan apapun, tetapi ia masih juga sempat bertanya-tanya di dalam hatinya, siapakah yang dimaksud licik dan curang itu.

“Apakah kita ini orang-orang yang jujur dan baik hati.” tetapi kata-kata ini pun disimpannya saja di dalam hati.

Kali ini mereka memasuki halaman rumah jajar yang gemuk itu ketika matahari telah tenggelam di balik gunung di sebelah Barat. Perlahan-lahan Kuda Sempana mengetuk pintu rumahnya yang telah tertutup.

“Siapa?” terdengar suaranya parau.

“Aku, Kuda Sempana.” jawab Kuda Sempana.

“He.” orang itu terkejut, “Kuda Sempana? Bukankah kau menjadi orang buruan?”

“Aku memerlukanmu.” sahut Kuda Sempana.

Jajar yang gemuk di dalam rumah itu menjadi ragu-ragu sejenak Tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi cerah, matanya yang sipit segera memancarkan sinar yang aneh. Meskipun demikian ia tidak segera membuka pintunya. Sambil berjingkat ia berjalan ke pintu bilik rumahnya. Di raihnya sebilah keris yang kecil dan diselipkannya diikat pinggangnya. Kemudian dilindunginya keris kecil itu dengan kain panjangnya.

“Cepat, bukalah pintumu.” terdengar kembali suara Kuda Sempana.

“Tunggu. Aku baru mengenakan kain.” sahut Jajar yang gemuk itu.

Kemudian jajar itu pun segera melangkah kepintu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hatinya, “Kalau aku dapat menangkap anak ini hidup atau mati, maka aku akan mendapatkan sesuatu dari Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun Kuda Sempana seorang Pelayan Dalam, dan aku hanya sekedar seorang abdi rendahan, teiapi aku kira aku memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”

Jajar yang gemuk dan berkumis melintang itu berhenti sesaat di muka pintu rumahnya. Diaturnya nafasnya yang mengalir semakin cepat karena debar jantungnya.

“Aku harus membunuhnya.” desis Jajar yang gemuk itu di dalam hatinya.

Maka perlahan-lahan diangkatnya selarak pintu rumahnya. Ia mengharap bahwa ia akan segera berbuat sesuatu begitu Kuda Sempana melangkah masuk. Tetapi ia tidak segera ingin dicurigai, karena itu kerisnya masih belum disentuhnya. Tetapi ketika pintu terbuka, ia melihat Kuda Sempana berdiri dua langkah dari padanya. Di belakangnya dilihatnya di dalam keremangan malam seseorang berdiri tegak seperti patung. Hatinya yang berdebar-debar menjadi kian berdebar-debar. Tetapi dicobanya untuk mengatur perasaannya sebaik-baiknya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar