MENU

Ads

Selasa, 31 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 163

“Marilah, silahkan masuk.” katanya mempersilahkan.

Kuda Sempana masih berdiri di tempatnya, Dipandanginya mata Jajar yang agak sipit itu.

“Marilah.” Jajar itu mengulangi. Tetapi Kuda Sempana masih berdiri kaku, tanpa bereranjak setapak pun. “Kenapa kau berdiri saja di situ?”

“Aku memerlukanmu. Kami mengharap kau menerima kami dengan baik, sebab kami tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu.”

“Aku terima kalian dengan baik.” sahut Jajar itu ragu-ragu. Dilihatnya dalam kegelapan mata orang yang berdiri di belakang Kuda Sempana itu seolah-olah menyala seperti bara. Terasa bulu-bulunya meremang. Namun ditatagkannya hatinya untuk menghadapi keadaan. Katanya pula, “Marilah.”

Perlahan-lahan Kuda Sempana melangkah maju. Tetapi tampaklah betapa ia sangat berhati-hati. Matanya sama sekali tidak berkisar dari kedua tangan Jajar yang gemuk itu.

“Setan alas.” berkata Jajar itu di dalam hatinya, “anak ini terlampau hati-hati.” Apalagi ketika ia melihat pedang bergantung di lambung Kuda Sempana dan sebilah golok di ikat pinggang Kebo Sindet. “Biarlah ia masuk saja dahulu.” katanya lebih lanjut di dalam hatinya, “aku akan mencari kesempatan.” Namun sebuah pertanyaan tumbuh di dalam hatinya, “Siapakah orang yang datang bersama Kuda Sempana itu?”

Jajar itu pun kemudian melangkah masuk diikuti oleh Kuda Sempana dan Kebo Sindet. Niatnya untuk menikam Kuda Sempana di ambang pintu diurungkannya. Ia harus memperhitungkan keadaan dan mencari kesempatan sebaik-baiknya.

“Aku tidak perlu tergesa-gesa.” katanya pula di dalam hatinya, “ia sudah masuk kedalam sangkar. Ia pasti tidak akan keluar lagi. Aku merasa bahwa aku akan dapat mengalahkannya. Apalagi kalau aku menyerangnya dengan tiba-tiba. Sedang yang seorang itu aku kira hanya seorang pencuri ayam yang merasa mendapat perlindungan dari Kuda Sempana dan mengikutinya kemana anak itu pergi. Atau mereka telah melakukan kejahatan bersama-sama.” Namun tiba-tiba sekali lagi bulu-bulu tengkuknya meremang. “Tetapi mata itu.” seolah-olah jajar itu mengeluh di dalam hatinya.

Mereka bertiga pun kemudian duduk di atas sehelai tikar yang kasar, sekasar wajah Jajar yang gemuk itu sendiri.

“Kau berkunjung ke rumah ini malam-malam begini?” bertanya Jajar itu kepada Kuda Sempana.

“Ya, aku mempunyai keperluan yang penting.” jawab Kuda Sempana.

“Apa?”

“Tutup pintu itu.” perintah Kuda Sempana.

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak senang mendengar perintah yang kasar itu. Karena itu maka sejenak ia masih diam membeku.

“Tutup pintu itu.” sekali lagi Kuda Sempana memerintah, “Aku adalah seorang buronan. Aku tidak mau orang lain melihat kehadiranku di sini.”

“Biarlah pintu itu terbuka.” sahut jajar itu.

“Tutup pintu itu.” suara Kuda Sempana menjadi kian berat.

“Tutuplah sendiri.” sahut Jajar yang gemuk itu dengan wajah yang merah.

Tetapi wajah Kuda Sempana pun telah menjadi merah. Hampir saja ia menampar mulut Jajar yang gemuk itu seandainya Kebo Sindet tidak berkata, “Kuda Sempana, kita belum menyampaikan keperluan kita. Jangan kau bunuh tikus yang gemuk ini.”



Terasa darah jajar itu melonjak kekepala. Betapa ia merasa tersinggung oleh kata-kata itu. Jajar yang gemuk itu hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya dan langsung menyerang Kuda Sempana. Tetapi ketika sekilas terlihat pula olehnya mata Kebo Sindet, maka Jajar itu terpaksa menahan dirinya. Meskipun demikian ia berkata,

“He Kuda Sempana, apakah maksudmu sebenarnya? Rumah ini adalah rumahku. Aku dapat berbuat sekehendakku di sini. Bahkan membunuh kalian berdua pun tak akan ada soal lagi. Apa lagi kau sekedar seorang buronan.”

Kuda Sempana benar-benar tidak dapat menguasai kemarahannya lagi mendengar kata-kata itu. Tetapi ketika ia akan meloncat dan memukul wajah Jajar yang gemuk itu, terasa tangannya tertahan oleh kekuatan yang tidak dapat di atasinya. Ternyata Kebo Sindet telah menggenggam pergelangan tangannya.

“Apakah maksudmu datang kemari hanya sekedar untuk berkelahi?” bertanya Kebo Sindet.

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Dicobanya untuk mengendapkan kemarahannya.

“Maafkan anak ini Ki Sanak.” berkata Kebo Sindet kemudian.

Jajar yang telah bersiap pula untuk menghadapi segala kemungkinan itu mengerutkan keningnya. Tetapi justru ia menjadi sangat heran. Orang yang matanya menyala terpancang di wajah yang beku seperti mayat itu kini tiba-tiba menjadi seorang yang sabar dan ramah. Matanya tidak lagi membara dan mengecutkan hatinya. Tetapi mata itu kini menjadi membeku pula seperti minyak dimusim bediding.

“Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet, “katakan maksudmu.”

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terasa dadanya masih terlampau panas.

“Katakanlah Kuda Sempana.”

Kuda Sempana memperbaiki letak duduknya. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin menekan perasaannya yang masih saja bergelora di dalam dadanya.

“Nah.” berkata Jajar itu, “lebih baik kau mengatakan maksud kedatanganmu dari pada menjual tampang di rumah ini.”

Hampir-hampir darah Kuda Sempana mendidih lagi, tetapi Kebo Sindet mendahuluinya, “Maafkan anak ini Ki Sanak.”

Sekali lagi keheranan melonjak di dadanya. Meskipun suara Kebo Sindet cukup ramah dan lunak, namun terasa bahwa sikap orang itu sama sekali tidak wajar.

“Baiklah.” gumam Kuda Sempana kemudian dalam sekali di dadanya, “aku memerlukan kau.”

Jajar itu tidak menjawab. Tetapi ia kini benar-benar memutar duduknya, bagaimana ia dapat dengan tiba-tiba saja membunuh Kuda Sempana tanpa banyak membuang tenaga. Jajar itu memperhitungkan bahwa orang yang datang bersama Kuda Sempana itu pasti bukan sekedar seorang pencuri ayam yang mencari perlindungan di belakang punggung Kuda Sempana. Ternyata justru orang itu mempunyai pengaruh yang kuat atas anak muda itu.

“Aku harus segera membunuh Kuda Sempana dengan tiba-tiba. Kemudian aku pasti akan menghadapi orang yang berwajah seperti mayat dan bermata beku, seperti mata yang buta.” namun kemudian terasa dadanya berdesir, “Tetapi mata itu dapat menyala seperti mata harimau di malam hari.”

“Dengarlah.” berkata Kuda Sempana, “apakah kau mau bekerja bersama kami?”

Jajar itu mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”

“Kau akan mendapatkan sesuatu yang tidak kau duga-duga sebelumnya.” sambung Kuda Sempana.

“Untuk apa?” Jajar itu mengulangi.

“Memeras.” jawab Kuda Sempana langsung.

Sekali lagi jajar itu mengerutkan keningnya. “Siapa yang harus diperas?”

“Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”

Jajar itu tidak segera menyahut. Ia mencoba menghubungkan apa yang pernah didengarnya tentang Kuda Sempana dan keluarga Permaisuri Ken Dedes. Ia memang pernah mendengar bahwa Permaisuri telah kehilangan saudara laki-lakinya. Karena itu segera ia dapat menghubungkan persoalannya dengan keterangan Kuda Sempana itu.

Sesaat kemudian maka iapun bertanya, “Bagaimanakah cara yang harus aku lakukan seandainya aku setuju?”

“Bukankah kau masih Jajar dalam istana?”

“Sekali-sekali kau pernah melihat permaisuri bercengkerama di taman istana?”

“Ya.”

“Apakah kau dapat mencari kesempatan untuk menyampaikan sesuatu kepadanya?”

Jajar gemuk itu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia memikirkan cara untuk itu, ia sudah menjawab, “Tentu. Aku akan dapat berbicara kepadanya. Maksudku kepada Tuan Puteri.”

“Apakah kau pernah mendengar bahwa saudara laki-laki Permaisuri itu hilang?”

“Ya.”

“Nah, kita sampai pada persoalannya. Kau sampaikan saja kepadanya, bahwa aku, Kuda Sempana memerlukan tebusan untuk membebaskan Mahisa Agni. Kau tahu bahwa kau akan mendapat bagian pula karenanya?”

“Apakah yang kau minta sebagai tebusan?”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya saja wajah Kebo Sindet yang beku. Kebo Sindet dapat menangkap maksud Kuda Sempana. Ia harus menyampaikan tuntutan itu.

“Ki Sanak.” berkata Kebo Sindet, “kami sudah terlanjur mengatakan kepadamu maksud kami. Dengan demikian kita sudah membuat suatu ikatan. Maksudku, di antara kita tidak boleh ada penghianatan. Nah, tuntutan itu adalah sepengadeg perhiasan emas permata milik Permaisuri.”

“He.” mata Jajar itu terbelalak, “apakah kau gila. Betapa mahalnya orang yang ditanggungkan untuk itu?”

“Orangnya sendiri tidak berarti apa-apa. Tetapi kekayaan itu pun tidak berarti apa-apa bagi Permaisuri. Dengar, aku belum selesai. Tebusan itu masih belum cukup. Sepengadeg perhiasan itu masih harus ditambah lagi.”

Mata Jajar yang gemuk itu terbelalak semakin lebar. Sepengadeg perhiasan intan berlian dari Permaisuri Ken Dedes masih belum cukup. Permintaan itu bena-benar permintaan yang gila. Jajar yang gemuk itu tidak akan dapat membayangkan, berapa harga sepeti perhiasan emas dan intan berlian sepengadeg itu. Apalagi sepengadeg itu saja masih belum cukup.

“Apakah kau heran Ki Sanak?” bertanya Kebo Sindet kemudian. Jajar yang gemuk itu sejenak terbungkam seperti patung. “Jangan heran.” berkata Kebo Sindet, “tanggungan yang ada padaku adalah orang yang paling berharga di dalam hidup Permaisuri itu. Ia akan berusaha untuk memenuhinya. Sepengadeg bagi Ken Dedes tidak akan lebih berarti dari Mahisa Agni.”

“Tetapi bagaimanakah apabila Akuwu Tunggul Ametung tidak menyetujuinya?” bertanya Jajar yang gemuk itu.

“Terserah kepada Ken Dedes. Ia dapat merengek ke pada suaminya. Tetapi kalau Akuwu Tunggul Ametung tetap berkeras hati untuk tidak memberikannya, maka kebahagiaan mereka akan terganggu seumur hidup mereka. Aku akan berbuat sesuai dengan rencanaku, meskipun mula-mula aku akan tetap berbaik hati. Aku dapat mengirimkan telinga Mahisa Agni kepadanya sebagai peringatan. Mudah-mudahan dengan demikian Akuwu Tunggul Ametung tidak lagi berkeberatan memenuhi permintaan isteri tercinta. Kalau tidak, maka pasti akan selalu tumbuh ketegangan di dalam istana itu.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak yakin bahwa nilai seorang Mahisa Agni bagi Ken Dedes akan melampaui perhiasannya sepengadeg dan masih ditambah lagi beberapa macam permintaan.

“Apakah kau ragu-ragu Ki Sanak?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya.” jawab Jajar itu, “aku ragu-ragu.”

“Sebaiknya kau mencobanya. Kami masih dapat merubah serba sedikit permintaan-permintaan itu. Tetapi tidak akan jauh berkisar dari padanya.”

“Tetapi seberapakah kelebihan dari sepengadeg yang masih ingin kau tuntun dari pada Permaisuri itu.”

“Bukan untuk aku. Selebihnya untukmu sendiri. Disaat-saat yang lewat, aku tidak pernah mendapat kesepakatan pembicaraan dengan siapapun juga. Soalnya adalah pada pembagian hasil dari pemberian Permaisuri Akuwu itu. Bahkan beberapa diantara mereka berusaha menakut-nakuti aku dan mengancam untuk membuka rahasiaku seandainya aku tidak memenuhi tuntutan mereka. Tetapi mereka salah. Aku tidak pernah merahasiakan diriku. Karena itu aku tidak pernah takut mendengar ancaman semacam itu, sehingga aku tidak pernah dapat memenuhi setiap perjanjian yang mereka kehendaki.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya, “Lalu cara apa yang akan kau ambil kali ini supaya kita tidak menemui kesulitan yang sama seperti yang pernah terjadi?”

“Disaat-saat yang lewat, mereka selalu minta sedikitnya separo dari sepengadeg itu. Tetapi aku tidak dapat memberikannya. Aku hanya ingin mengurangi yang sepengadeg itu dengan sebagian kecil. Tetapi mereka kadang-kadang menjadi marah dan mengancam. Bahkan sebelum kita berbicara lebih lanjut, mereka sudah bersikap memusuhi aku.” Jajar itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekarang aku bermaksud mempergunakan cara lain. Aku ingin yang sepengadeg itu. Sedang untukmu Ki Sanak, sebaiknjya kau mencarinya sendiri.”

Sekali lagi mata Jajar itu terbelalak, “Bagaimana aku harus mencari sendiri?”

“Itulah sebabnya maka Permaisuri harus menukar kakaknya dengan sepengadeg dan masih ditambah lagi. Tambahan dari sepengadeg itu tergantung kepadamu. Itu adalah untukmu sendiri. Kalau nasibmu baik, maka kau dapat menuntut dua pengadeg. Satu untukku satu untukmu. Seandainya kurang dari pada itu, tergantung penilaianmu sendiri.”

Jajar yang gemuk itu menyipitkan matanya yang sipit. Tampaklah dahinya berkerut merut. Ternyata di dalam dadanya telah terjadi suatu pergolakan yang sengit. Tawaran itu telah mempengaruhi duduknya yang tamak. Tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Kuda Sempana. Kini tumbuhlah keinginannya untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi dari pada sekedar hadiah karena ia berhasil menangkap mati seorang buruan.

Ternyata Jajar itu bukan seorang yang terlampau dungu. Karena itu, maka wajahnya pun tiba-tiba menjadi cerah. Dengan sebuah senyum ia berkata, “Marilah kita bicarakan tawaranmu. Aku pada dasarnya dapat menerima. Tetapi bagaimanakah kalau Permaisuri menolak? Persoalan itu masih belum terlampau sulit. Sudah kau katakan bahwa kau akan mencoba memaksa dengan caramu. Tetapi bagaimana nasibku sendiri apabila justru aku ditangkap karenanya?”

“Tidak. Kau tidak akan ditangkap. Akibatnya akan membahayakan jiwa Mahisa Agni.”

“Ya, Ya.” Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi bagaimana kalau Permaisuri hanya bersedia menukar kakaknya dengan sepengadeg saja? Apakah aku tidak akan mendapat apa-apa dari kerja sama ini?”

“Tentu, kau akan mendapatkannya juga. Tetapi tidak seperti yang kau harapkan dari usahamu sendiri. Mungkin aku akan dapat mengurangi yang sepengadeg itu dengan beberapa butir intan dan berlian.”

Sebuah angan-angan yang kabur telah mempengaruhi otak Jajar yang gemuk itu. Tetapi semakin lama semakin jelas. Sebutir berlian itu pun tidak akan diterimanya seandainya ia menangkap Kuda Sempana hidup atau mati. Yang diterimanya pasti tidak akan lebih dari sepengadeg pakaian, atau mungkin kenaikan pangkat yang tidak banyak berarti. Tetapi seandainya Permaisuri hanya bersedia menukar dengan sepengadeg pakaian, sudah tentu ia tidak mau sekedar mendapatkan sebutir berlian betapapun besarnja. Ia harus mendapatkan bagian yang murwat dari usahanya itu.

“Inilah yang selalu menjadi penghalang setiap persetujuan yang akan dibuatnya di masa lampau.” gumamnya di dalam hati, “orang-orang yang dihubunginya selalu menuntut terlampau banyak. Tetapi itu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Aku harus mengiakan saja keinginannya saat ini. Tetapi apabila permata itu telah berada ditanganku, ah, apakah gunanya aku serahkan kepadanya? Aku akan dapat membunuh keduanya Kuda Sempana dengan kawannya yang berwajah mayat itu.” Angan-angan itu terganggu ketika sekilas teringat olehnya mata orang yang berwajah beku itu dapat memancar seperti mata seekor harimau loreng, “Mungkin aku memerlukan seorang kawan untuk membunuh mereka berdua. Seorang atau dua orang. Aku akan dapat menyewanya tanpa memberi tahukan persoalan yang sebenarnya.”

“Bagaimana Ki Sanak?” bertanya Kebo Sindet.

Jajar itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Tetapi apakah keselamatanku sendiri akan terjamin dengan demikian?”

“Jangan ragu-ragu. Tanggungan itu cukup berharga bagi Ken Dedes.”

“Tetapi bagi Akuwu Tunggul Ametung?”

“Ken Dedes sangat berharga bagi Tunggul Ametung.”

Jajar itu terdiam sejenak. Ia tidak akan menuntut terlampau banyak saat ini. Ia akan mengiakan saja apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Namun ia bertanya juga,

“Bagaimanakah cara tukar menukar itu terjadi?”

“Mudah saja.” jawab Kebo Sindet, “aku menerima permata itu, lalu aku lepaskan Mahisa Agni di suatu tempat.”

“Apabila Ken Dedes menanyakan apakah jaminannya, bagaimana jawabku?”

“Tidak akan ada jaminan apa-apa. Permaisuri itu hanya dapat percaya apa tidak. Kalau ia percaya maka perhiasan itu harus disampaikan kepadaku di tempat yang sudah ditentukan, kemudian Mahisa Agni bersama-sama dengan saat aku menerima perhiasan itu, maka nyawaku akan terancam. Begitu aku melepaskan Mahisa Agni di tempat yang ditentukan itu. Begitu aku dikepung oleh prajurit-prajurit Tumapel. Dengan demikian maka Mahisa Agni lepas, dan perhiasan-perhiasan ini akan disamun lagi oleh Akuwu Tunggul Ametung, sehingga kau pun tidak akan menerima sebutir intanpun. Apakah kau dapat mengerti?”

Jajar yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia masih bertanya, “Tetapi bagaimana kalau Permaisuri bertanya tentang kemungkinan yang lain?”

“Kemungkinan yang bagaimana?”

“Seandainya perhiasan sepengadeg itu telah diserahkan, tetapi Mahisa Agni tidak juga kau lepaskan? Bukankah dengan demikian Permaisuri itu akan kehilangan kedua-duanya seperti yang kau cemaskan itu pula?”

“Tetapi tanggungan itu ada padaku. Aku mempunyai kekuatan, sebab pusat persoalannya ada pada Mahisa Agni yang kini berada di tanganku.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak ingin mempersoalkannya lebih lanjut. Ia tidak pula ingin pembicaraan ini gagal. Apapun yang akan terjadi, ia ingin juga mencobanya. Seandainya usaha ini gagal, maka ia pun tidak akan kehilangan apapun. Mahisa Agni bukan sanak bukan kadangnya. Biar sajalah orang itu dibunuh. Tetapi perhiasan emas permata sepengadeg itu akan bernilai terlampau banyak.

“Semuanya itu harus menjadi milikku. Orang-orang ini pun bukan sanak bukan kadangku seperti Mahisa Agni. Mereka semuanya sebaiknya mati. Orang ini, dan Mahisa Agni, sama sekali. Aku akan dapat menikmati kemenanganku, meskipun aku harus menyingkir dari Tumapel. Tetapi tanah ini terlampau luas. Aku dapat bersembunyi dimana saja. Mengganti namaku dan membayar orang-orang yang akan menjadi pelindungku.” Jajar Itu telah berangan-angan.

Dan Jajar yang gemuk itu terkejut ketika ia mendengar suara Kebo Sindet, “Bagaimana Ki Sanak?”

Tetapi Jajar itu cukup cerdik. Ia tidak ingin dicurigai sehingga ia berkata, “Sebaiknya kau pertimbangkan segala kemungkinan. Sudah tentu aku juga ingin mendapat banyak dari kerja sama ini. Tetapi seandainya Permaisuri hanya besedia memberikan sepengadeg itu, kau harus mempertimbangkan masak-masak, bahwa aku akan mendapat tidak hanya sekedar sebutir berlian meskipun aku akan mencoba berusaha untuk mendapatkannya sendiri.”

“Asal kau tidak mencoba mendapat terlampau banyak.” sahut Kebo Sindet, “Bagiku permintaanmu itu wajar. Tetapi yang aku benci, sehingga aku tidak pernah mendapat persetujuan sebelum ini, adalah karena mereka selalu menuntut terlampau banyak dengan ancaman-ancaman. Ternyata mereka menyesal karenanya. Apalagi apabila ternyata kau kelak yang mendapatkannya.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sanggupi. Aku akan mencoba.”

“Apakah kau berkata sebenarnya? Bukan sekedar untuk memancing kelengahanku?”

“Aku tidak gila. Seandainya aku menjerumuskan kau ke dalam tangan Akuwu Tunggul Ametung, apakah yang aku dapat? Sepengadeg pakaian atau kenaikan pangkat. Tetapi dengan kerja sama ini aku akan mendapat lebih banyak lagi tanpa membahayakan jiwa dan kedudukanku. Sebab aku hanya sekedar seorang pelantar, seorang perantara.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Kuda Sempana. Tetapi agaknya Kuda Sempana menjadi acuh tak acuh saja mendengar pembicaraan itu. Namun sikap itu pun sama sekali tidak mempengaruhi perasaan Kebo Sindet. Wajahnya yang beku masih saja membeku.

“Baiklah.” berkata Kebo Sindet kemudian, “aku menunggu perkembangan pembicaraanmu dengan Permaisuri.”

“Tunggulah kau di rumah ini. Besok aku akan berusaha menemui dan berbicara dengan Permaisuri, tetapi apabila hari itu Permaisuri berada di taman. Kalau tidak, maka aku harus menunggu hari berikutnya.”

“Terserah kepadamu. Tetapi aku tidak akan menunggu di rumah ini. Aku akan dapat menjadi umpan penghianatanmu.”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?” bertanya Jajar gemuk itu.

“Beberapa kali aku hampir-hampir terjebak karena kecurangan orang-orang yang telah menyatakan dirinya ingin bekerja bersama dengan aku. Bahkan perempuan tua, dukun istana itu pun agaknya akan menjebak aku. Ia sama sekali tidak ingin berbuat untuk kepentingan bersama, tetapi ia hanya sekedar ingin memuaskan dirinya sendiri. Perasaan iri dan dengki bahkan dendam.”

“Kepadamu?”

“Tidak, kepada Permaisuri.”

“Lalu apa yang kau lakukan atasnya?”

“Tidak apa-apa. Aku menyingkir saja. Perempuan itu terlampau bodoh. Ia mengumpankan beberapa orang, sedang ia sendiri bersembunyi di istana. Nah, kau akan menyenangkan pula bagiku seandainya kau dapat menyampaikan pesan kepada Permaisuri pula, bahwa dukun istana itu terlampau dengki.”

“Tetapi itu tidak penting. Yang penting adalah persoalan Mahisa Agni itu sendiri.” sahut Jajar yang gemuk.

“Ya. Aku sependapat.” sahut Kebo Sindet. Kemudian katanya, “Baiklah sekarang aku pergi. Aku ingin mendapat keterangan tidak lebih dari sepekan lagi.”

“Kau tidak tinggal dirumah ini? Kau akan dapat bersembunyi dengan aman di sini.”

“Mungkin aku dapat bersembunyi dengan aman. Tetapi mungkin pula besok halaman ini telah dikepung oleh prajurit-prajurit Tumapel. Mungkin Akuwu Tunggul Ametung yang mempunyai senjata tak terlawan itu akan datang pula untuk memecahkan kepalaku dengan penggadanya yang ampuh tiada taranya itu.”

“Kau memang mencurigaiku. Kau tidak mempunyai kepercaan lagi kepada seseorang. Tetapi baiklah. Bagaimana aku dapat menemuimu.”

“Bukan kau yang menemui aku, tetapi akulah yang akan menemui kau.”

“Dimana?”

“Terserah kepadaku. Dimana aku ingin menemuimu. Aku tahu benar di mana rumahmu. Kemana saja kau selalu, pergi selain ke istana. Di mana kau lewat dan di mana kau sering mengadu ayam.”

“Aku tidak pernah mengadu ayam. Aku tidak pernah pergi kemana pun selain ke istana.”

“Apapun yang kau katakan, aku akan mendapat kesempatan untuk menemuimu kapan aku kehendaki. Sebelum sepekan aku ingin mendapat keterangan darimu.”

Jajar gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, baik. Supaya kau tidak usah mencari keterangan terlampau banyak tentang diriku, maka kesempatanmu untuk menemuiku hanyalah di jalan di antara istana dan rumahku, atau di dalam rumah ini sama sekali. Aku jarang-jarang sekali pergi ke tempat lain kecuali ada kepentingan yang terlampau mendesak.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan mencoba mempercayaimu. Tampaknya kau bersungguh-sungguh.”

“Sudah aku katakan, aku tidak gila untuk menolak kesempatan ini. Seumur hidupku aku bekerja, aku tidak akan dapat membeli jangankan sebutir berlian, sedangkan pendok keris sepuhan pun aku tidak mampu membelinya.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya masih saja membeku. Wajah yang beku itu kadang-kadang telah menumbuhkan berbagai dugaan di hati Jajar yang gemuk itu. Namun kemudian ia tidak mempersoalkannya lagi. Katanya di dalam hati,

“Nanti, apabila aku berhasil membunuhnya, maka wajah yang sebeku mayat itu akan benar-benar membeku untuk selamanya.” Tetapi meskipun demikian wajah yang beku itu seakan-akan telah terpahat di dalam hatinya. Wajah itu tidak juga hilang dari rongga matanya, meskipun telah dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh.

Ketika angin malam yang dingin menghembus nyala pelita di dalam ruangan itu, maka Kuda Sempana pun berpaling. Dilihatnya pintu masih belum tertutup rapat. Tetapi ia sama sekali sudah tidak menaruh perhatian lagi. Dibiarkannya saja angin yang sejuk mengusap punggung dan tengkuknya.

“Kita sudah cukup Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet kemudian.

“Ya.” sahut Kuda Sempana pendek.

“Kita minta diri, lain kali kita temui Ki Sanak ini lagi.”

“Ya.” jawab Kuda Sempana pula.

Kebo Sindet pun kemudian minta diri. Sekali lagi ia berpesan bahwa dalam waktu sepekan ia akan menemui Jajar yang gemuk itu. “Aku mulai percaya kepadamu. Jangan merusak kepercayaanku.” berkata Kebo Sindet.

“Terima kasih. Aku akan berusaha sejauh-jauh dapat aku lakukan.” jawab Jajar yang gemuk itu.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar