Kebo Sindet dan Kuda Sempana pun segera meninggalkan rumah itu. Mereka menaruh harapan kali ini, bahwa Jajar itu akan benar-benar dapat menghubungkannya dengan Permaisuri. Sekali-sekali Kuda Sempana masih berpaling. Dilihatnya pintu rumah Jajar itu segera tertutup rapat. Namun dari celah-celah dinding sepercik sinar masih juga meloncat keluar, membuat bayangan di atas tanah yang kering.
“Agaknya ia akan bersungguh-sungguh.” gumam Kebo Sindet seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Ya.” sahut Kuda Sempana tanpa berpaling.
“Ia harus menerima tebusan itu dari Permaisuri dan menyerahkannya kepadaku di tempat yang telah ditentukan. Sementara itu Mahisa Agni masih berada di tanganku supaya aku tidak dijebaknya.”
“Ya.”
“Kemudian terserah kepada pertimbanganku. Apakah Mahisa Agni akan aku serahkan hidup atau mati, atau masih aku pergunakan lagi untuk memerasnya, atau apa saja. Tetapi Jajar yang gemuk itu harus dibunuh. Mungkin ia membawa beberapa barang yang berharga selain sepengadeg itu, yang seharusnya menjadi bagiannya.”
Kuda Sempana sudah menyangka bahwa demikianlah akhir dari persoalan ini. Tetapi meskipun demikian tengkuknya masih terasa meremang. Kebo Sindet benar-benar seorang yang berhati iblis. Melampaui semua orang yang pernah dikenalnya. Tetapi Kuda Sempana tidak ingin menyatakan perasaannya. Perasaannya sama sekali tidak akan ada artinya di dalam hidupnya yang sedang berlaku itu. Bukan saja perasaannya tetapi juga nalarnya. Ia tidak lebih baik nasibnya daripada kuda yang sedang dinaikinya itu.
Sementara itu Jajar yang gemuk yang baru saja ditinggalkan oleh Kebo Sindet dan Kuda Sempana, duduk-duduk di dalam rumahnya sambil tersenyum-senyum. Dibelainya hulu kerisnya yang kecil, keris yang dianggapnya mempunyai pengaruh atas kekuatan dan keberaniannya.
“Kau harus menolong aku.” desisnya, “kedua orang itu harus dibunuh pada saat yang baik. Kalau sepengadeg perhiasan emas dan permata itu telah aku terima, buat apa harus aku serahkan kepada kedua monyet busuk itu? Aku harus membunuhnya. Aku tidak peduli, apakah Mahisa Agni kemudian akan mati juga di dalam simpanan kedua orang itu. Yang penting aku dapat memiliki barang-barang yang mimpipun belum pernah aku lihat. Meskipun akibatnya aku harus menyingkir dari Tumapel.”
Tetapi tiba-tiba wajah yang cerah itu menjadi suram ketika terbayang oleh Jajar yang gemuk itu nyala api yang seolah-olah memancar dari mata kawan Kuda Sempana itu.
“Mata itu mengerikan sekali.” desisnya, “wajahnya juga menakutkan. Wajah itu seperti wajah mayat, tetapi dari matanya dapat memancar api.”
“Tetapi orang itu harus mati.” geramnya perlahan-lahan, “ia harus mati. Wajah itu harus benar-benar menjadi wajah sesosok mayat, dan mata itu tidak akan dapat memancarkan sorot yang gila itu.”
Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah ia menebarkan matanya di sekitar ruangan rumahnya, maka iapun kemudian berdiri dan bergumam, “Sekarang aku harus tidur.”
Dengan langkah pendek Jajar yang gemuk itu meninggalkan ruang depan dan masuk ke dalam biliknya. Bilik yang sempit dan kotor. Tak ada kawan yang tinggal di dalam rumah itu selain dirinya sendiri. Karena itu maka rumahnya yang kecil itu pun menjadi kotor dan tidak terawat sama sekali. Hanya kadang-kadang saja adiknya, seorang anak muda yang gagah dan kuat, sering datang mengunjungi rumahnya. Tidak seorang diri. Dibawanya kawan-kawannya, anak-anak muda yang sebaya, dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Kasar dan liar. Tetapi Jajar itu sama sekali tidak berkeberatan. Ia senang mendapat kunjungan orang-orang liar itu. Apalagi kini. Suatu ketika ia akan memerlukan adiknya dan kawan-kawannya yang liar itu.
“Mudah-mudahan anak itu besok datang kemari.” gumam Jajar yang gemuk itu, “Aku memerlukannya.”
Sejenak kemudian dibantingnya tubuhnya di atas sebuah amben bambu sehingga terdengar suaranya berderak.
“Sebentar lagi aku tidak akan tidur di amben bambu ini.” desisnya, “aku harus membeli sebuah pembaringan kayu yang baik, ukir-ukiran dengan alas sutera yang gilap. Bilikku pun tidak akan sesempit ini. Tidak pula kotor dan lembab. Aku akan mempunyai seorang istri yang cantik seperti bidadari. Eh, seperti Ken Dedes. Istri yang akan merawat rumah tanggaku dengan baik. Anak-anak yang liar itu merupakan bagian dari orang-orang yang akan menjaga keselamatanku.”
Jajar itupun tersenyum. Tetapi senyumnya itu pun kemudian larut seperti awan dihembus angin. Kini yang terbayang di matanya adalah Akuwu Tunggul Ametung. Orang yang paling berkuasa di Tumapel. Bukan saja orang yang paling berkuasa, tetapi orang itu pun mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan. Ia memiliki sebuah pusaka yang luar biasa. Sebuah penggada yang tidak terlawan oleh kekuatan apapun. Bahkan seekor gajah pun dapat dibunuhnya dengan senjatanya itu.
“Bagaimana kalau Akuwu Tunggul Ametung itu marah, apabila aku melarikan tebusan itu? Aku harus berhadapan dengan Kuda Sempana beserta kawannya itu dan Akuwu Tunggul Ametung. Apakah aku dapat menghindari keduanya?” Jajar itu mengerutkan keningnya. Ia mencoba menilai keadaan yang akan dihadapinya kelak apabila rencananya itu dilakukannya.
“Aku harus bersembunyi di Kediri. Aku harus berganti nama. Kalau mungkin aku akan mengabdi di istana Maharaja Kediri. Harta itu sementara harus disembunyikan sehingga tidak menimbulkan bermacam-macam kecurigaan. Sebab dengan demikian, usaha untuk mencariku akan menjadi lebih mudah. Kumisku harus aku buang, dan aku harus berpuasa supaya tubuhku menjadi agak kurus. Aku akan berubah segala-galanya. Tak seorang pun yang akan mengenal aku lagi.”
Sekali lagi Jajar gemuk itu tersenyum sendiri. Dipandanginya atap rumahnya yang dipenuhi oleh sarang laba-laba yang sudah menjadi kehitam-hitaman. Dilihatnya beberapa ekor nyamuk masuk ke dalam perangkap itu, untuk sejenak kemudian diterkam oleh kaki-kaki laba-laba yang kuat. Dibelitnya korbannya dengan benang-benang yang liat dan mengandung alat perekat, sehingga sesaat kemudian nyamuk-nyamuk itu sama sekali sudah tidak berdaya.
“Salah sendiri.” gumam Jajar yang gemuk itu, “salah sendiri apabila nyamuk-nyamuk itu masuk ke dalam sarang laba-laba.”
Jajar yang gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipejamkannya matanya. Sejenak kemudian iapun telah tertidur dengan nyenyaknya. Sebuah mimpi yang mengasikkan telah menghanyutkannya ke dalam dunia yang asing. Ketika fajar menyingsing, Jajar itu dengan tergesa-gesa pergi keperigi untuk mandi. Ia ingin hari itu juga sempat bertemu dengan Ken Dedes di taman. Dengan segala cara dan akal ia harus dapat menyampaikan pesan Kebo Sindet itu kepada Permaisuri. Waktu yang diberikan oleh Kebo Sindet hanya sepekan. Yang sepekan itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Sebab ia tahu benar bahwa Ken Dedes masih harus berbicara dahulu dengan Akuwu Tunggul Ametung.
Jauh lebih pagi dari hari-hari yang biasa Jajar itu telah memasuki regol halaman istana. Seorang prajurit yang melihatnya segera bertanya, “He, kau datang pagi-pagi sekali, apakah ada sesuatu yang penting?”
Jajar itu menggeleng. “Tidak, aku bangun terlampau pagi. Aku sangka hari telah merambat siang, tetapi aku sangka bahwa langit disaput mendung. Namun agaknya hari memang masih pagi.”
Prajurit itu tidak mengacuhkannya lagi. Dibiarkannya Jajar itu masuk ke tempat kerjanya. Halaman belakang dan petamanan istana Tumapel. Setiap hari ia berada di sana. Menyapu dan memelihara bunga-bungaan. Menyiangi, memberi pupuk dan memotong daun-daunnya yang mulai menguning. Tetapi juga menjaga pohon-pohon yang cukup besar. Pohon kemuning, dan pohon pacar. Bahkan pohon sawo kecik dan pohon beringin yang tumbuh di taman. Tetapi ia tidak bekerja sendiri. Ada dua orang kawannya yang mempunyai pekerjaan yang serupa di halaman belakang dan petamanan.
Hari itu, karena la datang terlampau pagi, maka iapun duduk menunggu kawan-kawannya di bawah pohon kemuning sambil mereka-reka, apakah yang sebaiknya dilakukan. Diamatinya serambi belakang istana, dari lubang regol petamanan dan seakan-akan dihitungnya tangga lantainya. Dari sana Ken Dedes biasanya turun untuk pergi ketaman, melihat-lihat kolam yang diberinya ikan berwarna hitam dan merah.
“Kalau Tuanku nanti turun dari tangga itu, apakah yang harus aku lakukan, supaya Tuan Puteri itu memanggil aku dan aku mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap?”
Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu tersenyum. Ia sudah menemukan akal, supaya ia dapat bercakap-cakap dengan Tuan Puteri Ken Dedes. Ketika kemudian kawan-kawannya telah datang, dan sampai saatnya ia harus bekerja, maka mulailah ia bekerja seperti biasa. Disapunya halaman belakang yang cukup luas itu. Kemudian diambilnya air dari perigi, dan disiraminya tanaman yang tumbuh di petamanan sementara kawan-kawannya mangambil cangkul dan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sisi pagar.
Ketika matahari merayap semakin tinggi, maka Jajar itu merasa bahwa akan segera sampai saatnya ia bermain. Saat-saat yang demikian itulah, maka biasanya Permaisuri pergi ke taman, apabila tidak sedang memenuhi upacara yang berlaku. Setiap kali Ken Dedes harus hadir di dalam pertemuan besar di pendapa istana, di paseban depan. Bahkan kadang-kadang di paseban dalam untuk pertemuan-pertemuan yang khusus.
“Mudah-mudahan hari ini Permaisuri tidak sedang berada di pertemuan-pertemuan itu.” gumam Jajar yang gemuk itu.
Dengan hati yang berdebar-debar diselipkannya sehelai golok pemotong kayu di ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar. Sejenak kemudian ia telah berada di bawah sebatang pohon sawo kecik di petamanan. Beberapa kali diamatinya batang yang besar itu, diraba-rabanya seperti ingin diketahuinya, apakah batang itu tidak akan roboh apabila dipanjatnya.
“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya seorang kawannya.
“Memotong dahan-dahan kering.”
“Kenapa sekarang?”
“Mumpung masih cukup pagi.”
“Tetapi saat-saat begini Tuanku Permaisuri sering turun ke petamanan untuk melihat-lihat tanaman-tanamannya dan ikan di kolam itu.”
“Tidak setiap hari. Tuanku tidak setiap hari pergi ke taman. Aku takut kalau dahan-dahan yang kering itu justru jatuh ketika Tuan Puteri sedang berada di bawahnya.”
Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Jajar itu memanjat dengan susah payah.
“Orang itu memang aneh.” gumam kawannya yang seorang.
“Duduknya memang tidak cukup jernih.” sahut kawannya yang lain.
Sesaat kemudian Jajar itu telah berada di atas dahan-dahan pohon sawo kecik. Ia mengharap Ken Dedes pergi ke taman. Ia akan segera turun dengan tergesa-gesa. Ia harus menjatuhkan dirinya meskipun tidak harus membuatnya pingsan. Kemudian menangis mohon maaf, bahwa hampir-hampir saja sebatang dahan yang kecil menjatuhi Permaisuri itu. Permaisuri tentu tidak akan terlampau marah. Seterusnya ia tinggal mengatakan, bahwa kecuali itu ia membawa pesan dari seseorang untuk disampaikan kepada Tuan Puteri tentang kakaknya Mahisa Agni. Mudah-mudahan pesan itu menarik perhatian Tuan Puteri. Jika demikian, maka Tuan Puterilah yang akan memerlukannya, supaya ia mengucapkan pesan itu seperti apa yang didengarnya dari Kebo Sindet.
Ketika Jajar yang gemuk itu telah berada di atas dahan pohon sawo kecik itu, maka segera ia mencari tempat yang baik. Dari tempat itu ia selalu memandangi serambi istana. Pandangannya meloncati dinding petaman yang tidak begitu tinggi. Sejenak ia duduk saja termenung tanpa berbuat sesuatu. Perhatiannya sama sekali tecurah kepada Tuan Puteri Ken Dedes. Karena itu maka ia sama sekali tidak memotong dahan-dahan yang kering, bahkan goloknya masih saja terselip di ikat pinggangnya.
Kedua kawan-kawannya yang bekerja di bawah pohon sawo kecik yang lain, kadang-kadang mengangkat wajahnya. Mereka sama sekali tidak mendengar suara apapun di atas pohon sawo itu. Mereka tidak mendengar Jajar yang gemuk itu sedang memotong dahan yang kering. Bahkan akhirnya mereka melihat bahwa Jajar yang gemuk itu sedang duduk merenung di atas sebatang dahan yang cukup besar.
“He, apakah kerjanya?” bertanya salah seorang dari mereka.
Yang lain menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Apakah orang itu sedang kejangkitan penjakit gilanya?”
Kawannya tertawa. Katanya, “mungkin semalam ia kalah berjudi. Mungkin harta bendanya telah habis dipertaruhkan.”
“Apakah ia masih senang berjudi?”
“Bukan main.”
Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sebaiknya ia segera kawin supaya hidupnya menjadi tenteram. Umurnya telah melampaui masa yang sebaik-baiknya. Bahkan hampir menjadi setengah tua.”
“Jajar yang gemuk itu tidak mempunyai keberanian untuk kawin. Ia merasa penghasilannya sama sekali tidak mencukupi.”
“Ah, omong kosong. Bukankah kita juga mempunyai anak dan isteri. Bukankah penghasilannya tidak lebih sedikit dari penghasilan kita? Nah, akibatnya uangnya dihabiskannya pada segala macam keborosan. Judi, tuak, perempuan di sepanjang jalan dan makan yang berlebih-lebihan.”
“Itulah sebabnya ia menjadi gemuk seperti ayam digebiri.”
Keduanya tertawa. Dan ketika sekali lagi mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka Jajar yang gemuk itu masih saja duduk merenung memandangi serambi belakang istana.
“Apakah ia mau membunuh diri?”
“He.” sahut kawannya, tetapi kemudian iapun berbisik-bisik, “melihat ia selalu memandang kearah istana. Apakah ia sedang menunggu Tuan Puteri Ken Dedes?”
“Untuk apa? Apakah ia jatuh cinta kepada Permaisuri.”
“Ah, gila kau. Jika demikian maka itu adalah suatu alamat bahwa umurnya akan menjadi pendek.”
Sekali lagi keduanya tertawa. Tetapi mereka berusaha menahannya, sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara.
“Persetan dengan orang gila itu. Ia mungkin hanya beristirahat. Biarlah dia beristirahat di atas pohon itu. Biarlah kita selesaikan pekerjaan kita.”
Kedua orang itu pun kemudian meneruskan pekerjaan mereka. Seolah-olah mereka sama sekali tidak lagi memperhatikan kawannya yang masih saja bertengger di atas dahan sawo kecik itu. Dengan rajinnya mereka menyiangi tanaman-tanaman dan memotong daun-daun perdu, dibentuk menurut keinginan mereka, disesuaikan dengan keseluruhan isi taman yang tidak terlampau luas. Taman yang kurang memberi kepuasan baik bentuk dan isinya.
Itulah sebabnya maka Akuwu Tunggul Ametung ingin membuat sebuah taman yang lain. Yang jauh lebih luas dan jauh lebih memenuhi selera Ken Dedes. Taman yang akan memberi kegembiraan kepada Permaisuri yang cantik itu. Dan taman itu telah dibangun di Padang Karautan. Didekat bendungan yang sedang dibangun oleh orang-orang Panawijen. Meskipun taman itu agak jauh dari istana, namun Akuwu Tunggul Ametung yakin, bahwa taman itu akan dapat memberi kegembiraan kepada Ken Dedes. Setiap kali mereka pergi ketaman itu maka Ken Dedes akan selalu merasa berada di sekitar kampung halaman tempat kelahirannya. Sedangkan taman itu sendiri akan merupakan taman yang paling indah, yang pernah dibuat di Tumapel.
Ketika angin yang agak keras mengguncang pepohonan di dalam taman istana itu, maka kedua orang yang sedang sibuk bekerja itupun teringat lagi kepada kawannya yang masih berada di atas pohon sawo kecik. Tanpa berjanji mereka menengadahkan wajah-wajah mereka. Dan sejenak kemudian merekapun saling berpandangan.
“Orang itu masih saja di sana.” berkata salah seorang dari mereka.
“Jangan-jangan orang itu mati membeku.”
“Biarlah aku panggil saja, supaya ia turun.”
“Biarkan saja. Kalau ia sedang beristirahat biarlah ia beristirahat. Kalau ia sedang melamun tentang seorang janda muda, biar sajalah ia menikmati lamunannya. Kalau kau panggil orang itu, ia akan menjadi kecewa. Mungkin lamunannya akan pecah dan ia tidak akan mampu membangunkannya lagi.”
“Tetapi bagaimana kalau ia bermaksud membunuh diri?”
“Ia pasti akan memanjat lebih tinggi lagi.”
“He.” tiba-tiba kawannya itu mendekatinya sambil berbisik, “Kau lihat, ia selalu memandang ke serambi istana?” Kawannya mengangguk.
“Ia sedang menunggu Permaisuri itu keluar dan turun ke taman ini. Mungkin ia sudah jatuh cinta.”
“Lalu.”
“Karena ia yakin bahwa hal itu tidak akan terjadi, maka ia ingin memperlihatkan kepada Permaisuri, bahwa hidupnya telah diserahkannya kepada cintanya yang sia-sia itu. Mungkin ia menunggu Permaisuri dan membunuh diri di hadapannya.”
Kini keduanya tidak dapat lagi menahan tertawa mereka, sehingga Jajar yang gemuk yang duduk di atas dahan pohon sawo itu terperanjat. Seperti orang yang baru sadar dari sebuah angan-angan yang tak terkendali, Jajar itu memandangi kedua kawannya yang masih saja tertawa terkekeh-kekeh.
“He, kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar itu dari atas dahan.
Keduanya tidak segera menjawab. Tetapi mereka belum dapat menghentikan suara tertawa mereka.
“He, kenapa kalian tertawa?” sekali lagi Jajar itu bertanya semakin keras.
“Tidak apa-apa.” sahut salah seorang dari mereka diantara suara tertawanya.
“Kenapa tertawa? He, kenapa?” suara Jajar itu semakin lantang.
“Sudah aku jawab.” sahut kawannya itu, “tidak apa-apa. Kami tertawa karena kami mempunyai sebuah ceritera lucu.”
“Kalian mentertawakan aku?”
“Tidak.” jawab yang lain, “kami tidak mentertawakan seorang pun. Kami sedang berceritera tentang hal-hal yang lucu. Kalau kau ingin mendengar, turunlah. Jangan tidur di atas dahan itu. Nanti kita bersama-sama mengumpulkan dahan-dahan kering yang baru saja kau rambas, karena kau takut bahwa dahan-dahan itu akan berjatuhan apabila permaisuri nanti datang kemari.”
“He, kau menyindir.” mata Jajar yang berada di atas pohon sawo itu terbelalak.
“Terserah tanggapanmu. Tetapi kami tidak mempedulikan kau lagi. Kalau kau mau tidur, tidurlah. Kalau kau ingin membeku di atas dahan itu, membekulah.”
“Setan alas.” Jajar itu mengumpat. Tiba-tiba ia merasa tersinggung. Ia merasa bahwa kawan-kawannya itu sedang menyindir dan memperkatakan tentang dirinya. Karena itu maka ia berkata lantang, “Jangan banyak tingkah he. Biarlah aku berbuat menurut kesenanganku, dan kau berbuatlah menurut kesenanganmu. Jangan campuri urusanku. Urusan yang benar, yang tidak akan dapat kau mengerti karena nalarmu yang tumpul. Bekerjalah kalau kau ingin bekerja.”
Kedua kawannya yang berada di bawah itu kini sudah tidak tertawa lagi. Mereka mendengar jawaban Jajar yang gemuk itu menjadi agak kasar. Adalah kebiasaan mereka untuk berkelakar, bahkan kadang-kadang agak melampaui batas. Tetapi tidak pernah mereka menanggapi kelakar kawan-kawan mereka itu dengan kasar, apalagi marah. Karena itu, maka kekasaran Jajar itu justru juga menyinggung perasaan ke dua kawan-kawannya, sehingga hampir berbareng kedua orang itu berkata,
“Jangan berkata sekasar itu.”
Kedua kawannya itu justru terkejut ketika mereka mendengar jawaban, “Tutup mulutmu. Aku tidak mau mendengar kalian menyindir dan mentertawakan aku lagi.”
Kedua orang yang berdiri di bawah itu pun sejenak saling berpandangan. Tetapi ternyata perasaan mereka pun benar-benar tersinggung karenanya, sehingga salah seorang dari mereka berkata,
“He, apakah kau sedang kesurupan?”
Jajar yang gemuk itu menjadi benar-benar marah. Dengan geramnya ia berkata, “Apa katamu? Jangan main-main. Jangan membuat aku marah. Aku akan turun dan mencekik kalian berdua. Jangan kau sangka aku tidak dapat melakukannya. Terhadap Kuda Sempana aku tidak takut, apalagi terhadap kalian berdua.”
Kawan-kawannya itupun kemudian menjadi marah pula mendengar ancaman itu. Orang yang lain segera berkata, “He Jajar gemuk. Jangan terlampau sombong. Apa kau kira taman ini taman kakekmu, atau taman kekasihmu. Kau di sini adalah seorang abdi yang digaji untuk bekerja. Kau tidak dapat berkata, bahwa kami yang ingin bekerja biarlah bekerja, dan kau yang ingin duduk melamun di atas dahan itu, biarlah berangan-angan. Kau agaknya telah menjadi gila. Bukankah di sini ada atasan kita yang akan menilai kita masing-masing. Disini ada bekel dan lurah? Turunlah dan bekerjalah sewajarnya. Kalau kau sakit kau lebih baik pamit, mohon izin untuk tidak datang hari ini, besok dan bahkan sepekan. Kalau kau kemudian mati, kau tidak perlu masuk bekerja lagi.”
“Tutup mulutmu.” Jajar yang gemuk itu hampir berteriak, “aku dapat membunuhmu.”
“Huh.” sahut kawannya, “jangan menyangka dirimu melampaui Ki Witantara, pemimpin pasukan pengawal. Kau dan aku adalah Jajar, abdi rendahan. Kalau kau berani berteriak aku pun berani berteriak pula. Kalau kau mencoba untuk berkelahi, aku pun akan mencobanya.”
Jajar yang gemuk itu menjadi gemetar menahan marah. Terasa kawannya itu benar-benar telah menghinanya. Selintas terbayang Kuda Sempana dan kawannya yang matanya dapat menyala seperti mata harimau. Ia tidak takut menghadapi mereka itu. Apalagi kawannya, seorang Jajar yang bodoh. Tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi. Dengan tergesa-gesa ia turun sehingga dadanya tergores batang sawo kecik itu. Tampak beberapa jalur merah di dadanya, mengembunkan titik-titik darah.
“Aku benar-benar akan membunuh kalian.” Jajar itu menggeram, “aku tidak takut melawan Kuda Sempana dan kawannya yang matanya menyala, apalagi menghadapi kalian berdua. Tikus-tikus celurut yang tidak berarti.”
Tetapi ternyata kawannya itu pun tidak takut. Perlahan-lahan mereka maju menyongsong Jajar yang gemuk itu. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Biarkan aku menghajarnya sendiri. Kau menjadi saksi bahwa aku tidak mendahuluinya. Kalau bekel itu datang, biarlah ia menyaksikan bagaimana aku mencoba membungkam mulutnya yang lebar itu.”
Tetapi kawannya ternyata tidak mau melepaskannya. Dengan lantang ia berkata, “Kau sajalah yang menjadi saksi. Aku menjadi muak melihat kesombongannya, seolah-olah ia adalah Akuwu Tunggul Ametung.”
Bagi Jajar yang gemuk itu, maka sikap kedua kawannya itu justru merupakan penghinaan yang menyakitkan hati. Karena itu ia berkata, “Ayo, majulah bersama-sama. Aku akan sanggup mematahkan leher kalian berdua.”
“Itu tidak adil.” sahut salah seorang dari keduanya, “kami bukanlah betina-betina pengecut yang hanya berani berkelahi bersama-sama. Aku sendiri akan menyelesaikan persoalan ini, supaya kau tahu, bahwa meskipun kau gemuk dan berkumis melintang, tetapi kau tidak lebih dari seorang yang hanya pandai berteriak-teriak. Ayo, panggilah gurumu kalau kau pernah berguru. Biarlah ia melihat muridnya terkapar karena tanganku.”
“Tutup mulutmu.” bentak Jajar yang gemuk itu, “kau sebentar lagi akan mampus juga di sini.”
“Kaulah yang harus menutup mulut. Bukan aku. Ayo majulah. Perutmu yang gembung itu segera aku pecah.”
Tetapi seorang yang lain mendesak kawannya sambil berkata, “Biar aku sajalah yang memilin lehernya. Mulutnya terlampau banyak berbicara, tetapi seperti anjing yang menyalak, ia tidak akan berani menggigit.”
“Diam.” Jajar yang gemuk itu hampir-hampir berteriak, “majulah berdua.”
“Tidak perlu. Aku sendiri.”
“Aku saja.”
“Kalau begitu, biarlah ia memilih diantara kita berdua.” berkata salah seorang dari kedua Jajar yang lain, kemudian kepada Jajar yang gemuk ia berkata, “Ajo, siapakah diantara kami yang kau pilih untuk membungkam mulutmu. Kalau kau ingin cepat diam, akulah orangnya.”
“Tetapi kalau kau ingin segera kehilangan kumismu, akulah orangnya.”
“Tidak peduli, aku ingin kalian berdua maju bersama-sama.”
“Ternyata kau takut. Kau tidak berani memilih. Kau tahu bahwa kami tidak ingin berkelahi bersama-sama. Justru karena itu maka kau pergunakannya sebagai dalih, supaya kami tidak berkelahi melawanmu.”
Wajah Jajar yang gemuk itu menjadi merah padam. Tetapi ia masih berdiri ditempatnya. Mulutnya terkatub rapat-rapat tetapi giginya terdengar gemeretak. Sejenak matanya yang sipit itu memandangi kedua Jajar yang lain berganti, tetapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Sedang kedua kawan-kawannya itupun masih juga belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ketiganya seakan-akan menjadi beku di tempat masing-masing, meskipun mereka telah bersiap untuk berkelahi.
Taman itu sejenak menjadi sepi tetapi cukup tegang. Otot-otot leher mereka seolah-olah ingin mencuat keluar. Mata-mata mereka hampir tidak berkedip. Namun mereka masih saja berdiri di tempat masing-masing. Ketegangan itu tiba-tiba pecah ketika terdengar suara tertawa memercik dari sudut taman. Serentak ketiga Jajar itu berpaling. Dan wajah-wajah merekapun menjadi merah karenanya. Disudut taman itu mereka melihat beberapa orang prajurit berdiri di belakang sebatang pohon perdu yang rimbun. Hampir berbareng mereka tertawa. Semakin lama semakin keras.
“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar yang gemuk itu.
Prajurit-prajurit itupun kemudian keluar dari persembunyian mereka. Perlahan-lahan mereka melangkah maju. Salah seorang dari mereka berkata, “Semuten aku menunggu. Aku ingin melihat juru taman saling berkelahi. Alangkah dahsyatnya. Kalian pasti memiliki Aji yang paling mengerikan. Mungkin Aji Guntur Sewu, mungkin Aji Sungsang Sari atau Aji Sapu Angin. Bahkan mungkin Aji Kala Bama, atau Bajra Pati atau Gundala Sasra.” Ketiga Jajar itu masih terdiam. “Tetapi kalian agaknya hanya pandai berbicara. Tantang-tantangan dengan garangnya. Ancam mengancam. Tetapi tidak berbuat apa-apa.”
Ketiga Jajar itu masih berdiam diri, tetapi wajah-wajah mereka menjadi semakin merah.
“Nah, apakah kalian masih ingin berkelahi?” bertanya prajurit yang lain, “ayo berkelahilah. Kami menjadi saksi. Jajar yang gemuk ini akan melawan salah seorang dari kalian berdua. Bukankah begitu? Atau kalian berdua bersama-sama?” Belum ada jawaban.
“Agaknya ia akan bersungguh-sungguh.” gumam Kebo Sindet seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Ya.” sahut Kuda Sempana tanpa berpaling.
“Ia harus menerima tebusan itu dari Permaisuri dan menyerahkannya kepadaku di tempat yang telah ditentukan. Sementara itu Mahisa Agni masih berada di tanganku supaya aku tidak dijebaknya.”
“Ya.”
“Kemudian terserah kepada pertimbanganku. Apakah Mahisa Agni akan aku serahkan hidup atau mati, atau masih aku pergunakan lagi untuk memerasnya, atau apa saja. Tetapi Jajar yang gemuk itu harus dibunuh. Mungkin ia membawa beberapa barang yang berharga selain sepengadeg itu, yang seharusnya menjadi bagiannya.”
Kuda Sempana sudah menyangka bahwa demikianlah akhir dari persoalan ini. Tetapi meskipun demikian tengkuknya masih terasa meremang. Kebo Sindet benar-benar seorang yang berhati iblis. Melampaui semua orang yang pernah dikenalnya. Tetapi Kuda Sempana tidak ingin menyatakan perasaannya. Perasaannya sama sekali tidak akan ada artinya di dalam hidupnya yang sedang berlaku itu. Bukan saja perasaannya tetapi juga nalarnya. Ia tidak lebih baik nasibnya daripada kuda yang sedang dinaikinya itu.
Sementara itu Jajar yang gemuk yang baru saja ditinggalkan oleh Kebo Sindet dan Kuda Sempana, duduk-duduk di dalam rumahnya sambil tersenyum-senyum. Dibelainya hulu kerisnya yang kecil, keris yang dianggapnya mempunyai pengaruh atas kekuatan dan keberaniannya.
“Kau harus menolong aku.” desisnya, “kedua orang itu harus dibunuh pada saat yang baik. Kalau sepengadeg perhiasan emas dan permata itu telah aku terima, buat apa harus aku serahkan kepada kedua monyet busuk itu? Aku harus membunuhnya. Aku tidak peduli, apakah Mahisa Agni kemudian akan mati juga di dalam simpanan kedua orang itu. Yang penting aku dapat memiliki barang-barang yang mimpipun belum pernah aku lihat. Meskipun akibatnya aku harus menyingkir dari Tumapel.”
Tetapi tiba-tiba wajah yang cerah itu menjadi suram ketika terbayang oleh Jajar yang gemuk itu nyala api yang seolah-olah memancar dari mata kawan Kuda Sempana itu.
“Mata itu mengerikan sekali.” desisnya, “wajahnya juga menakutkan. Wajah itu seperti wajah mayat, tetapi dari matanya dapat memancar api.”
“Tetapi orang itu harus mati.” geramnya perlahan-lahan, “ia harus mati. Wajah itu harus benar-benar menjadi wajah sesosok mayat, dan mata itu tidak akan dapat memancarkan sorot yang gila itu.”
Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah ia menebarkan matanya di sekitar ruangan rumahnya, maka iapun kemudian berdiri dan bergumam, “Sekarang aku harus tidur.”
Dengan langkah pendek Jajar yang gemuk itu meninggalkan ruang depan dan masuk ke dalam biliknya. Bilik yang sempit dan kotor. Tak ada kawan yang tinggal di dalam rumah itu selain dirinya sendiri. Karena itu maka rumahnya yang kecil itu pun menjadi kotor dan tidak terawat sama sekali. Hanya kadang-kadang saja adiknya, seorang anak muda yang gagah dan kuat, sering datang mengunjungi rumahnya. Tidak seorang diri. Dibawanya kawan-kawannya, anak-anak muda yang sebaya, dengan tingkah laku yang aneh-aneh. Kasar dan liar. Tetapi Jajar itu sama sekali tidak berkeberatan. Ia senang mendapat kunjungan orang-orang liar itu. Apalagi kini. Suatu ketika ia akan memerlukan adiknya dan kawan-kawannya yang liar itu.
“Mudah-mudahan anak itu besok datang kemari.” gumam Jajar yang gemuk itu, “Aku memerlukannya.”
Sejenak kemudian dibantingnya tubuhnya di atas sebuah amben bambu sehingga terdengar suaranya berderak.
“Sebentar lagi aku tidak akan tidur di amben bambu ini.” desisnya, “aku harus membeli sebuah pembaringan kayu yang baik, ukir-ukiran dengan alas sutera yang gilap. Bilikku pun tidak akan sesempit ini. Tidak pula kotor dan lembab. Aku akan mempunyai seorang istri yang cantik seperti bidadari. Eh, seperti Ken Dedes. Istri yang akan merawat rumah tanggaku dengan baik. Anak-anak yang liar itu merupakan bagian dari orang-orang yang akan menjaga keselamatanku.”
Jajar itupun tersenyum. Tetapi senyumnya itu pun kemudian larut seperti awan dihembus angin. Kini yang terbayang di matanya adalah Akuwu Tunggul Ametung. Orang yang paling berkuasa di Tumapel. Bukan saja orang yang paling berkuasa, tetapi orang itu pun mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan. Ia memiliki sebuah pusaka yang luar biasa. Sebuah penggada yang tidak terlawan oleh kekuatan apapun. Bahkan seekor gajah pun dapat dibunuhnya dengan senjatanya itu.
“Bagaimana kalau Akuwu Tunggul Ametung itu marah, apabila aku melarikan tebusan itu? Aku harus berhadapan dengan Kuda Sempana beserta kawannya itu dan Akuwu Tunggul Ametung. Apakah aku dapat menghindari keduanya?” Jajar itu mengerutkan keningnya. Ia mencoba menilai keadaan yang akan dihadapinya kelak apabila rencananya itu dilakukannya.
“Aku harus bersembunyi di Kediri. Aku harus berganti nama. Kalau mungkin aku akan mengabdi di istana Maharaja Kediri. Harta itu sementara harus disembunyikan sehingga tidak menimbulkan bermacam-macam kecurigaan. Sebab dengan demikian, usaha untuk mencariku akan menjadi lebih mudah. Kumisku harus aku buang, dan aku harus berpuasa supaya tubuhku menjadi agak kurus. Aku akan berubah segala-galanya. Tak seorang pun yang akan mengenal aku lagi.”
Sekali lagi Jajar gemuk itu tersenyum sendiri. Dipandanginya atap rumahnya yang dipenuhi oleh sarang laba-laba yang sudah menjadi kehitam-hitaman. Dilihatnya beberapa ekor nyamuk masuk ke dalam perangkap itu, untuk sejenak kemudian diterkam oleh kaki-kaki laba-laba yang kuat. Dibelitnya korbannya dengan benang-benang yang liat dan mengandung alat perekat, sehingga sesaat kemudian nyamuk-nyamuk itu sama sekali sudah tidak berdaya.
“Salah sendiri.” gumam Jajar yang gemuk itu, “salah sendiri apabila nyamuk-nyamuk itu masuk ke dalam sarang laba-laba.”
Jajar yang gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipejamkannya matanya. Sejenak kemudian iapun telah tertidur dengan nyenyaknya. Sebuah mimpi yang mengasikkan telah menghanyutkannya ke dalam dunia yang asing. Ketika fajar menyingsing, Jajar itu dengan tergesa-gesa pergi keperigi untuk mandi. Ia ingin hari itu juga sempat bertemu dengan Ken Dedes di taman. Dengan segala cara dan akal ia harus dapat menyampaikan pesan Kebo Sindet itu kepada Permaisuri. Waktu yang diberikan oleh Kebo Sindet hanya sepekan. Yang sepekan itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Sebab ia tahu benar bahwa Ken Dedes masih harus berbicara dahulu dengan Akuwu Tunggul Ametung.
Jauh lebih pagi dari hari-hari yang biasa Jajar itu telah memasuki regol halaman istana. Seorang prajurit yang melihatnya segera bertanya, “He, kau datang pagi-pagi sekali, apakah ada sesuatu yang penting?”
Jajar itu menggeleng. “Tidak, aku bangun terlampau pagi. Aku sangka hari telah merambat siang, tetapi aku sangka bahwa langit disaput mendung. Namun agaknya hari memang masih pagi.”
Prajurit itu tidak mengacuhkannya lagi. Dibiarkannya Jajar itu masuk ke tempat kerjanya. Halaman belakang dan petamanan istana Tumapel. Setiap hari ia berada di sana. Menyapu dan memelihara bunga-bungaan. Menyiangi, memberi pupuk dan memotong daun-daunnya yang mulai menguning. Tetapi juga menjaga pohon-pohon yang cukup besar. Pohon kemuning, dan pohon pacar. Bahkan pohon sawo kecik dan pohon beringin yang tumbuh di taman. Tetapi ia tidak bekerja sendiri. Ada dua orang kawannya yang mempunyai pekerjaan yang serupa di halaman belakang dan petamanan.
Hari itu, karena la datang terlampau pagi, maka iapun duduk menunggu kawan-kawannya di bawah pohon kemuning sambil mereka-reka, apakah yang sebaiknya dilakukan. Diamatinya serambi belakang istana, dari lubang regol petamanan dan seakan-akan dihitungnya tangga lantainya. Dari sana Ken Dedes biasanya turun untuk pergi ketaman, melihat-lihat kolam yang diberinya ikan berwarna hitam dan merah.
“Kalau Tuanku nanti turun dari tangga itu, apakah yang harus aku lakukan, supaya Tuan Puteri itu memanggil aku dan aku mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap?”
Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu tersenyum. Ia sudah menemukan akal, supaya ia dapat bercakap-cakap dengan Tuan Puteri Ken Dedes. Ketika kemudian kawan-kawannya telah datang, dan sampai saatnya ia harus bekerja, maka mulailah ia bekerja seperti biasa. Disapunya halaman belakang yang cukup luas itu. Kemudian diambilnya air dari perigi, dan disiraminya tanaman yang tumbuh di petamanan sementara kawan-kawannya mangambil cangkul dan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sisi pagar.
Ketika matahari merayap semakin tinggi, maka Jajar itu merasa bahwa akan segera sampai saatnya ia bermain. Saat-saat yang demikian itulah, maka biasanya Permaisuri pergi ke taman, apabila tidak sedang memenuhi upacara yang berlaku. Setiap kali Ken Dedes harus hadir di dalam pertemuan besar di pendapa istana, di paseban depan. Bahkan kadang-kadang di paseban dalam untuk pertemuan-pertemuan yang khusus.
“Mudah-mudahan hari ini Permaisuri tidak sedang berada di pertemuan-pertemuan itu.” gumam Jajar yang gemuk itu.
Dengan hati yang berdebar-debar diselipkannya sehelai golok pemotong kayu di ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar. Sejenak kemudian ia telah berada di bawah sebatang pohon sawo kecik di petamanan. Beberapa kali diamatinya batang yang besar itu, diraba-rabanya seperti ingin diketahuinya, apakah batang itu tidak akan roboh apabila dipanjatnya.
“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya seorang kawannya.
“Memotong dahan-dahan kering.”
“Kenapa sekarang?”
“Mumpung masih cukup pagi.”
“Tetapi saat-saat begini Tuanku Permaisuri sering turun ke petamanan untuk melihat-lihat tanaman-tanamannya dan ikan di kolam itu.”
“Tidak setiap hari. Tuanku tidak setiap hari pergi ke taman. Aku takut kalau dahan-dahan yang kering itu justru jatuh ketika Tuan Puteri sedang berada di bawahnya.”
Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Jajar itu memanjat dengan susah payah.
“Orang itu memang aneh.” gumam kawannya yang seorang.
“Duduknya memang tidak cukup jernih.” sahut kawannya yang lain.
Sesaat kemudian Jajar itu telah berada di atas dahan-dahan pohon sawo kecik. Ia mengharap Ken Dedes pergi ke taman. Ia akan segera turun dengan tergesa-gesa. Ia harus menjatuhkan dirinya meskipun tidak harus membuatnya pingsan. Kemudian menangis mohon maaf, bahwa hampir-hampir saja sebatang dahan yang kecil menjatuhi Permaisuri itu. Permaisuri tentu tidak akan terlampau marah. Seterusnya ia tinggal mengatakan, bahwa kecuali itu ia membawa pesan dari seseorang untuk disampaikan kepada Tuan Puteri tentang kakaknya Mahisa Agni. Mudah-mudahan pesan itu menarik perhatian Tuan Puteri. Jika demikian, maka Tuan Puterilah yang akan memerlukannya, supaya ia mengucapkan pesan itu seperti apa yang didengarnya dari Kebo Sindet.
Ketika Jajar yang gemuk itu telah berada di atas dahan pohon sawo kecik itu, maka segera ia mencari tempat yang baik. Dari tempat itu ia selalu memandangi serambi istana. Pandangannya meloncati dinding petaman yang tidak begitu tinggi. Sejenak ia duduk saja termenung tanpa berbuat sesuatu. Perhatiannya sama sekali tecurah kepada Tuan Puteri Ken Dedes. Karena itu maka ia sama sekali tidak memotong dahan-dahan yang kering, bahkan goloknya masih saja terselip di ikat pinggangnya.
Kedua kawan-kawannya yang bekerja di bawah pohon sawo kecik yang lain, kadang-kadang mengangkat wajahnya. Mereka sama sekali tidak mendengar suara apapun di atas pohon sawo itu. Mereka tidak mendengar Jajar yang gemuk itu sedang memotong dahan yang kering. Bahkan akhirnya mereka melihat bahwa Jajar yang gemuk itu sedang duduk merenung di atas sebatang dahan yang cukup besar.
“He, apakah kerjanya?” bertanya salah seorang dari mereka.
Yang lain menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Apakah orang itu sedang kejangkitan penjakit gilanya?”
Kawannya tertawa. Katanya, “mungkin semalam ia kalah berjudi. Mungkin harta bendanya telah habis dipertaruhkan.”
“Apakah ia masih senang berjudi?”
“Bukan main.”
Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sebaiknya ia segera kawin supaya hidupnya menjadi tenteram. Umurnya telah melampaui masa yang sebaik-baiknya. Bahkan hampir menjadi setengah tua.”
“Jajar yang gemuk itu tidak mempunyai keberanian untuk kawin. Ia merasa penghasilannya sama sekali tidak mencukupi.”
“Ah, omong kosong. Bukankah kita juga mempunyai anak dan isteri. Bukankah penghasilannya tidak lebih sedikit dari penghasilan kita? Nah, akibatnya uangnya dihabiskannya pada segala macam keborosan. Judi, tuak, perempuan di sepanjang jalan dan makan yang berlebih-lebihan.”
“Itulah sebabnya ia menjadi gemuk seperti ayam digebiri.”
Keduanya tertawa. Dan ketika sekali lagi mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka Jajar yang gemuk itu masih saja duduk merenung memandangi serambi belakang istana.
“Apakah ia mau membunuh diri?”
“He.” sahut kawannya, tetapi kemudian iapun berbisik-bisik, “melihat ia selalu memandang kearah istana. Apakah ia sedang menunggu Tuan Puteri Ken Dedes?”
“Untuk apa? Apakah ia jatuh cinta kepada Permaisuri.”
“Ah, gila kau. Jika demikian maka itu adalah suatu alamat bahwa umurnya akan menjadi pendek.”
Sekali lagi keduanya tertawa. Tetapi mereka berusaha menahannya, sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara.
“Persetan dengan orang gila itu. Ia mungkin hanya beristirahat. Biarlah dia beristirahat di atas pohon itu. Biarlah kita selesaikan pekerjaan kita.”
Kedua orang itu pun kemudian meneruskan pekerjaan mereka. Seolah-olah mereka sama sekali tidak lagi memperhatikan kawannya yang masih saja bertengger di atas dahan sawo kecik itu. Dengan rajinnya mereka menyiangi tanaman-tanaman dan memotong daun-daun perdu, dibentuk menurut keinginan mereka, disesuaikan dengan keseluruhan isi taman yang tidak terlampau luas. Taman yang kurang memberi kepuasan baik bentuk dan isinya.
Itulah sebabnya maka Akuwu Tunggul Ametung ingin membuat sebuah taman yang lain. Yang jauh lebih luas dan jauh lebih memenuhi selera Ken Dedes. Taman yang akan memberi kegembiraan kepada Permaisuri yang cantik itu. Dan taman itu telah dibangun di Padang Karautan. Didekat bendungan yang sedang dibangun oleh orang-orang Panawijen. Meskipun taman itu agak jauh dari istana, namun Akuwu Tunggul Ametung yakin, bahwa taman itu akan dapat memberi kegembiraan kepada Ken Dedes. Setiap kali mereka pergi ketaman itu maka Ken Dedes akan selalu merasa berada di sekitar kampung halaman tempat kelahirannya. Sedangkan taman itu sendiri akan merupakan taman yang paling indah, yang pernah dibuat di Tumapel.
Ketika angin yang agak keras mengguncang pepohonan di dalam taman istana itu, maka kedua orang yang sedang sibuk bekerja itupun teringat lagi kepada kawannya yang masih berada di atas pohon sawo kecik. Tanpa berjanji mereka menengadahkan wajah-wajah mereka. Dan sejenak kemudian merekapun saling berpandangan.
“Orang itu masih saja di sana.” berkata salah seorang dari mereka.
“Jangan-jangan orang itu mati membeku.”
“Biarlah aku panggil saja, supaya ia turun.”
“Biarkan saja. Kalau ia sedang beristirahat biarlah ia beristirahat. Kalau ia sedang melamun tentang seorang janda muda, biar sajalah ia menikmati lamunannya. Kalau kau panggil orang itu, ia akan menjadi kecewa. Mungkin lamunannya akan pecah dan ia tidak akan mampu membangunkannya lagi.”
“Tetapi bagaimana kalau ia bermaksud membunuh diri?”
“Ia pasti akan memanjat lebih tinggi lagi.”
“He.” tiba-tiba kawannya itu mendekatinya sambil berbisik, “Kau lihat, ia selalu memandang ke serambi istana?” Kawannya mengangguk.
“Ia sedang menunggu Permaisuri itu keluar dan turun ke taman ini. Mungkin ia sudah jatuh cinta.”
“Lalu.”
“Karena ia yakin bahwa hal itu tidak akan terjadi, maka ia ingin memperlihatkan kepada Permaisuri, bahwa hidupnya telah diserahkannya kepada cintanya yang sia-sia itu. Mungkin ia menunggu Permaisuri dan membunuh diri di hadapannya.”
Kini keduanya tidak dapat lagi menahan tertawa mereka, sehingga Jajar yang gemuk yang duduk di atas dahan pohon sawo itu terperanjat. Seperti orang yang baru sadar dari sebuah angan-angan yang tak terkendali, Jajar itu memandangi kedua kawannya yang masih saja tertawa terkekeh-kekeh.
“He, kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar itu dari atas dahan.
Keduanya tidak segera menjawab. Tetapi mereka belum dapat menghentikan suara tertawa mereka.
“He, kenapa kalian tertawa?” sekali lagi Jajar itu bertanya semakin keras.
“Tidak apa-apa.” sahut salah seorang dari mereka diantara suara tertawanya.
“Kenapa tertawa? He, kenapa?” suara Jajar itu semakin lantang.
“Sudah aku jawab.” sahut kawannya itu, “tidak apa-apa. Kami tertawa karena kami mempunyai sebuah ceritera lucu.”
“Kalian mentertawakan aku?”
“Tidak.” jawab yang lain, “kami tidak mentertawakan seorang pun. Kami sedang berceritera tentang hal-hal yang lucu. Kalau kau ingin mendengar, turunlah. Jangan tidur di atas dahan itu. Nanti kita bersama-sama mengumpulkan dahan-dahan kering yang baru saja kau rambas, karena kau takut bahwa dahan-dahan itu akan berjatuhan apabila permaisuri nanti datang kemari.”
“He, kau menyindir.” mata Jajar yang berada di atas pohon sawo itu terbelalak.
“Terserah tanggapanmu. Tetapi kami tidak mempedulikan kau lagi. Kalau kau mau tidur, tidurlah. Kalau kau ingin membeku di atas dahan itu, membekulah.”
“Setan alas.” Jajar itu mengumpat. Tiba-tiba ia merasa tersinggung. Ia merasa bahwa kawan-kawannya itu sedang menyindir dan memperkatakan tentang dirinya. Karena itu maka ia berkata lantang, “Jangan banyak tingkah he. Biarlah aku berbuat menurut kesenanganku, dan kau berbuatlah menurut kesenanganmu. Jangan campuri urusanku. Urusan yang benar, yang tidak akan dapat kau mengerti karena nalarmu yang tumpul. Bekerjalah kalau kau ingin bekerja.”
Kedua kawannya yang berada di bawah itu kini sudah tidak tertawa lagi. Mereka mendengar jawaban Jajar yang gemuk itu menjadi agak kasar. Adalah kebiasaan mereka untuk berkelakar, bahkan kadang-kadang agak melampaui batas. Tetapi tidak pernah mereka menanggapi kelakar kawan-kawan mereka itu dengan kasar, apalagi marah. Karena itu, maka kekasaran Jajar itu justru juga menyinggung perasaan ke dua kawan-kawannya, sehingga hampir berbareng kedua orang itu berkata,
“Jangan berkata sekasar itu.”
Kedua kawannya itu justru terkejut ketika mereka mendengar jawaban, “Tutup mulutmu. Aku tidak mau mendengar kalian menyindir dan mentertawakan aku lagi.”
Kedua orang yang berdiri di bawah itu pun sejenak saling berpandangan. Tetapi ternyata perasaan mereka pun benar-benar tersinggung karenanya, sehingga salah seorang dari mereka berkata,
“He, apakah kau sedang kesurupan?”
Jajar yang gemuk itu menjadi benar-benar marah. Dengan geramnya ia berkata, “Apa katamu? Jangan main-main. Jangan membuat aku marah. Aku akan turun dan mencekik kalian berdua. Jangan kau sangka aku tidak dapat melakukannya. Terhadap Kuda Sempana aku tidak takut, apalagi terhadap kalian berdua.”
Kawan-kawannya itupun kemudian menjadi marah pula mendengar ancaman itu. Orang yang lain segera berkata, “He Jajar gemuk. Jangan terlampau sombong. Apa kau kira taman ini taman kakekmu, atau taman kekasihmu. Kau di sini adalah seorang abdi yang digaji untuk bekerja. Kau tidak dapat berkata, bahwa kami yang ingin bekerja biarlah bekerja, dan kau yang ingin duduk melamun di atas dahan itu, biarlah berangan-angan. Kau agaknya telah menjadi gila. Bukankah di sini ada atasan kita yang akan menilai kita masing-masing. Disini ada bekel dan lurah? Turunlah dan bekerjalah sewajarnya. Kalau kau sakit kau lebih baik pamit, mohon izin untuk tidak datang hari ini, besok dan bahkan sepekan. Kalau kau kemudian mati, kau tidak perlu masuk bekerja lagi.”
“Tutup mulutmu.” Jajar yang gemuk itu hampir berteriak, “aku dapat membunuhmu.”
“Huh.” sahut kawannya, “jangan menyangka dirimu melampaui Ki Witantara, pemimpin pasukan pengawal. Kau dan aku adalah Jajar, abdi rendahan. Kalau kau berani berteriak aku pun berani berteriak pula. Kalau kau mencoba untuk berkelahi, aku pun akan mencobanya.”
Jajar yang gemuk itu menjadi gemetar menahan marah. Terasa kawannya itu benar-benar telah menghinanya. Selintas terbayang Kuda Sempana dan kawannya yang matanya dapat menyala seperti mata harimau. Ia tidak takut menghadapi mereka itu. Apalagi kawannya, seorang Jajar yang bodoh. Tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi. Dengan tergesa-gesa ia turun sehingga dadanya tergores batang sawo kecik itu. Tampak beberapa jalur merah di dadanya, mengembunkan titik-titik darah.
“Aku benar-benar akan membunuh kalian.” Jajar itu menggeram, “aku tidak takut melawan Kuda Sempana dan kawannya yang matanya menyala, apalagi menghadapi kalian berdua. Tikus-tikus celurut yang tidak berarti.”
Tetapi ternyata kawannya itu pun tidak takut. Perlahan-lahan mereka maju menyongsong Jajar yang gemuk itu. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Biarkan aku menghajarnya sendiri. Kau menjadi saksi bahwa aku tidak mendahuluinya. Kalau bekel itu datang, biarlah ia menyaksikan bagaimana aku mencoba membungkam mulutnya yang lebar itu.”
Tetapi kawannya ternyata tidak mau melepaskannya. Dengan lantang ia berkata, “Kau sajalah yang menjadi saksi. Aku menjadi muak melihat kesombongannya, seolah-olah ia adalah Akuwu Tunggul Ametung.”
Bagi Jajar yang gemuk itu, maka sikap kedua kawannya itu justru merupakan penghinaan yang menyakitkan hati. Karena itu ia berkata, “Ayo, majulah bersama-sama. Aku akan sanggup mematahkan leher kalian berdua.”
“Itu tidak adil.” sahut salah seorang dari keduanya, “kami bukanlah betina-betina pengecut yang hanya berani berkelahi bersama-sama. Aku sendiri akan menyelesaikan persoalan ini, supaya kau tahu, bahwa meskipun kau gemuk dan berkumis melintang, tetapi kau tidak lebih dari seorang yang hanya pandai berteriak-teriak. Ayo, panggilah gurumu kalau kau pernah berguru. Biarlah ia melihat muridnya terkapar karena tanganku.”
“Tutup mulutmu.” bentak Jajar yang gemuk itu, “kau sebentar lagi akan mampus juga di sini.”
“Kaulah yang harus menutup mulut. Bukan aku. Ayo majulah. Perutmu yang gembung itu segera aku pecah.”
Tetapi seorang yang lain mendesak kawannya sambil berkata, “Biar aku sajalah yang memilin lehernya. Mulutnya terlampau banyak berbicara, tetapi seperti anjing yang menyalak, ia tidak akan berani menggigit.”
“Diam.” Jajar yang gemuk itu hampir-hampir berteriak, “majulah berdua.”
“Tidak perlu. Aku sendiri.”
“Aku saja.”
“Kalau begitu, biarlah ia memilih diantara kita berdua.” berkata salah seorang dari kedua Jajar yang lain, kemudian kepada Jajar yang gemuk ia berkata, “Ajo, siapakah diantara kami yang kau pilih untuk membungkam mulutmu. Kalau kau ingin cepat diam, akulah orangnya.”
“Tetapi kalau kau ingin segera kehilangan kumismu, akulah orangnya.”
“Tidak peduli, aku ingin kalian berdua maju bersama-sama.”
“Ternyata kau takut. Kau tidak berani memilih. Kau tahu bahwa kami tidak ingin berkelahi bersama-sama. Justru karena itu maka kau pergunakannya sebagai dalih, supaya kami tidak berkelahi melawanmu.”
Wajah Jajar yang gemuk itu menjadi merah padam. Tetapi ia masih berdiri ditempatnya. Mulutnya terkatub rapat-rapat tetapi giginya terdengar gemeretak. Sejenak matanya yang sipit itu memandangi kedua Jajar yang lain berganti, tetapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Sedang kedua kawan-kawannya itupun masih juga belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ketiganya seakan-akan menjadi beku di tempat masing-masing, meskipun mereka telah bersiap untuk berkelahi.
Taman itu sejenak menjadi sepi tetapi cukup tegang. Otot-otot leher mereka seolah-olah ingin mencuat keluar. Mata-mata mereka hampir tidak berkedip. Namun mereka masih saja berdiri di tempat masing-masing. Ketegangan itu tiba-tiba pecah ketika terdengar suara tertawa memercik dari sudut taman. Serentak ketiga Jajar itu berpaling. Dan wajah-wajah merekapun menjadi merah karenanya. Disudut taman itu mereka melihat beberapa orang prajurit berdiri di belakang sebatang pohon perdu yang rimbun. Hampir berbareng mereka tertawa. Semakin lama semakin keras.
“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar yang gemuk itu.
Prajurit-prajurit itupun kemudian keluar dari persembunyian mereka. Perlahan-lahan mereka melangkah maju. Salah seorang dari mereka berkata, “Semuten aku menunggu. Aku ingin melihat juru taman saling berkelahi. Alangkah dahsyatnya. Kalian pasti memiliki Aji yang paling mengerikan. Mungkin Aji Guntur Sewu, mungkin Aji Sungsang Sari atau Aji Sapu Angin. Bahkan mungkin Aji Kala Bama, atau Bajra Pati atau Gundala Sasra.” Ketiga Jajar itu masih terdiam. “Tetapi kalian agaknya hanya pandai berbicara. Tantang-tantangan dengan garangnya. Ancam mengancam. Tetapi tidak berbuat apa-apa.”
Ketiga Jajar itu masih berdiam diri, tetapi wajah-wajah mereka menjadi semakin merah.
“Nah, apakah kalian masih ingin berkelahi?” bertanya prajurit yang lain, “ayo berkelahilah. Kami menjadi saksi. Jajar yang gemuk ini akan melawan salah seorang dari kalian berdua. Bukankah begitu? Atau kalian berdua bersama-sama?” Belum ada jawaban.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar