MENU

Ads

Selasa, 31 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 165

“Itu tidak adil.” sahut prajurit yang lain, “yang baik adalah seorang lawan seorang. Tetapi siapa di antara keduanya yang akan berkelahi?” Ketiga Jajar itu masih terbungkam.

“Kalau begitu aku akan mengundinya. Lihat pedangku.” prajurit itu menarik pedangnya, “lihat kedua sisinya. Pedang ini akan aku lemparkan. Apabila jatuh pada sisi yang ini, yang ditandai dengan guratan kecil bekas benturan dengan pedang lawan ketika aku bertempur, maka kaulah yang akan berkelahi.” prajurit itu menunjuk Jajar yang tinggi agak kekurus-kurusan. Kemudian, “tetapi kalau sisi yang lain, kaulah yang akan maju.” ditunjuknya Jajar yang lain, yang tidak begitu tinggi, juga tidak begitu gemuk, tetapi otot-otot di tangannya menonjol seperti jalur-jalur yang berwarna kebiru-biruan.

“Bagaimana? Apakah kalian setuju?”

“Baik.” sahut ketiga Jajar itu hampir berbareng.

“Nah, lihat pedangku.” prajurit itupun kemudian mengangkat pedangnya. Tetapi sebelum ia memutar pedang itu dan melontarkannya ke udara, mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka mendengar pekik kecil yang tertahan.

Serentak mereka berpaling. Dada mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat dua orang emban berdiri di regol taman istana itu. Tetapi peristiwa berikutnya segera menyusul. Sebelum para prajurit dan Jajar itu sempat berbuat sesuatu, maka muncullah seorang emban yang tertegun pula di regol taman itu.

“Kenapa kalian berhenti?” bertanya seorang emban lain di belakang mereka.

Emban yang sedang berhenti itu berpaling. Kemudian berkata lirih, “Para prajurit.”

“Oh.” desis emban itu, “para pengawal istana?”

Emban itupun kemudian berpaling dan menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, “Para pengawal Tuanku.”

Yang berdiri di belakang para emban itu adalah Ken Dedes. Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.

“Kenapa kalian terkejut melihat para pengawal di dalam taman.”

“Mereka bermain-main dengan pedang Tuanku.” sahut emban yang paling depan sambil membungkuk dalam.

“Oh.”

Permaisuri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia melangkah masuk ke dalam taman dilihatnya prajurit yang sedang menggenggam pedangnya, dengan tergesa-gesa menyarungkannya. Kemudian serentak mereka menjatuhkan diri mereka duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Siapa yang bermain-main pedang?” bertanya Ken Dedes.

Prajurit yang mencabut pedangnya beringsut sejengkal. Dadanya menjadi berdebar-debar.

“Hamba Tuan Puteri.” sahutnya.

“Kenapa?”

Prajurit itu tergagap. Tetapi kemudian ia mendapat jawaban yang agak memberinya ketenangan, “Hamba menunjukkan bekas luka pada sisi pedang hamba. Luka bekas benturan dengan pedang lawan di suatu pertempuran. Para juru taman ini agaknya senang melihat.”



Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata mereka benar-benar hanya bermain-main saja. Karena itu maka katanya kemudian, “Baiklah. Tetapi lain kali jangan membuat para emban terkejut dengan bermain-main pedang di taman. Kalian bertugas untuk menjaga taman ini di luar. Para juru taman inilah yang seharusnya berada di dalam.”

“Hamba Tuanku.” jawab prajurit itu. Debar didadanya menjadi agak mereda.

“Nah, tinggalkan tempat ini. Aku ingin beristirahat.”

“Hamba Tuan Puteri.” sahut para Prajurit dan Jajar-jajar itu hampir berbareng.

“Silahkanlah.” berkata Ken Dedes kemudian.

Para prajurit itupun membungkukkan kepala mereka dalam-dalam sambil mengatupkan tangan mereka di muka dada. Perlahan-lahan mereka berdiri. Sekali lagi mereka membungkuk untuk kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi Jajar yang gemuk itu masih duduk di tempatnya. Semula ia mengumpat tidak habisnya di dalam hatinya. Bahwa ia telah kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Permaisuri karena diganggu oleh kedua kawannya itu. Semula ia merasa bahwa caranya telah gagal justru karena ketika Permaisuri itu datang ke petamanan, ia telah turun dari dahan sawo kecik yang cukup besar itu.

Tetapi kini ia mempunyai cara baru. Ia tidak akan pergi dari tempat itu, sebelum ditanya langsung oleh Permaisuri. Ia masih akan tetap duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kawan-kawannya dan para prajurit sejenak tertegun melihat Jajar yang gemuk itu masih berada di situ. Mereka menyangka bahwa Jajar yang gemuk itu akan mengadu. Karena itu para prajurit dan kedua kawannya itu berkata di dalam hatinya,

“Awas, apabila Permaisuri marah kepadaku, maka besok kepalamu akan benjol karenanya.”

Ternyata harapan Jajar yang gemuk itu terkabul Permaisuri yang melihat ia masih saja duduk tepekur segera bertanya, “Juru taman, kenapa kau masih saja berada di situ?”

Dengan gemetar Juru taman itu menjawab, sedang kawan-kawannya masih sempat rnendengarnya, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah hamba ingin menyampaikan sesuatu pesan untuk tuanku.”

Kawan-kawannya terkejut. Ken Dedes itupun terkejut. Jajar itu tidak mau kehilangan kesempatan. Meskipun hatinya digoncang oleh keragu-raguan dan bahkan ketakutan, namun dipaksanya juga ia berkata dengan suara yang menjadi semakin bergetar,

“Ampun tuanku. Hamba sebenarnyalah membawa pesan tentang Kakanda Tuan Puteri, Tuanku Mahisa Agni.”

Tampaklah wajah Ken Dedes segera berubah. Kerut merut di dahinya menunjukkan goncangan di dalam dadanya. Dengan ragu-ragu Permaisuri itu bertanya, “Kau membawa pesan dari kakang Mahisa Agni, maksudmu?”

“Hamba tuanku.” sahut Jajar yang gemuk itu perlahan-lahan.

Permaisuri itu mengangkat wajahnya. Dicobanya untuk menahan gelora yang tiba-tiba melanda jantugnya. Sesaat dipandangnya prajurit-prajurit yang tiba-tiba saja berdiri membeku, beserta dua orang Jajar yang lain. Tetapi prajurit-prajurit dan Jajar itu sama sekali sudah tidak menarik perhatiannya.

Kini suara Permaisuri itupun menjadi gemetar juga, “Katakanlah.”

Jajar itu terdiam sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Pesan itu sama sekali tidak boleh didengar oleh orang lain kecuali Tuan Puteri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sesaat timbulah kecurigaannya akan niat baik dari Jajar yang gemuk itu. Tetapi agaknya masalah Mahisa Agni telah mendesak kecurigaannya itu. Meskipun demikian ia berkata-kata,

“Baik. Kau dapat berbicara tanpa didengar orang lain. Tetapi prajurit-prajurit itu tidak perlu meninggalkan taman ini. Mereka dapat menunggunya di sudut. Mereka tidak mendengar kata-katamu.”

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia ingin berbicara tanpa didengar dan dilihat orang lain. Ia ingin menyampaikan dengan tuntas apa yang di dengarnya dari Kebo Sindet di rumahnya, dan bahkan akan ditambahnya dengan segala macam kepentingannya sendiri.

“Tetapi apakah Permaisuri bersedia mengusir semua orang itu dari taman?”

“Katakanlah.” desis Ken Dedes, yang kemudian kepada para prajurit dan Jajar yang masih berdiri termangu-mangu ia berkata, “Pergilah ke sudut taman. Beristirahatlah di sana. Aku ingin berbicara dengan Jajar ini.”

Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Jajar yang gemuk itu. Jajar yang masih saja duduk bersimpuh sambil menekurkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia berpaling ke arah para prajurit dan kedua kawannya. Ketika sekilas pandangan mereka bertemu, Jajar yang gemuk itu masih sempat menjibirkan bibirnya, seolah-olah ingin berbangga, bahwa ia berhasil berbicara dengan Permaisuri.

Ken Dedes pun segera duduk pula pada sebuah batu hitam yang telah dibentuk menjadi tempat duduk yang baik. Para emban pun segera duduk di sekitarnya pula. Tetapi Jajar yang gemuk, yang telah mengingsar duduknya menghadap ke palenggahan Ken Dedes itu berkata,

“Ampun Tuanku. Para emban itupun tidak akan dapat mendengar pesan kakanda Tuan Puteri itu.”

“Kenapa?”

“Pesan itu sangat rahasia.”

“Katakanlah. Para emban tidak akan mempunyai banyak pokal.”

“Tetapi demikianlah yang seharusnya hamba lakukan. Tak seorang pun boleh mendengar kecuali Tuan Puteri sendiri.”

“Katakanlah Jajar. Jangan mempersulit persoalan. Para emban ini tidak ada bedanya dengan aku sendiri.” Dan tiba-tiba Ken Dedes berpaling kepada seorang emban yang telah lanjut usianya. Pemomong Ken Dedes yang hampir tidak pernah terpisah dari padanya sejak kecilnya. Katanya, “Kemarilah bibi. Mungkin kau perlu juga mendengar pesan Kakang Mahisa Agni.”

Tetapi Ken Dedes terkejut ketika ia melihat wajah emban itu menjadi pucat. Bibirnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Kemarilah.” berkata Ken Dedes kemudian. Dengan lutut gemetar emban itu beringsut maju. “Kau sebaiknya mendengar juga pesan dari kakang Mahisa Agni.”

“Hamba Tuanku.” suara itu lambat sekali, bahkan hampir tidak terdengar.

Tetapi Ken Dedes menyangka, bahwa emban itu telah mengenangkan dan mencemaskan nasib seorang anak laki-laki yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Permaisuri itu hanya menyangka, bahwa ikatan yang ada antara emban itu dan Mahisa Agni tidak terlampau erat seperti apa yang sebenarnya.

Tetapi agaknya Jajar yang gemuk itu masih juga berkeberatan. Sekali lagi berkata, “Ampun Tuan Puteri. Apakah hamba diperkenankan mengatakannya kepada Tuan Puteri tanpa didengar oleh seorangpun dari para emban itu.”

“Tidak Juru taman. Embanku harus mendengar seperti aku mendengarnya. Apalagi bibi emban pemomongku. Ia tidak pernah terpisah dari padaku. Tidak saja selagi aku berada di istana ini. Kepentingannya tidak ada bedanya dengan kepentinganku. Kepadanya aku selalu minta pertimbangan. Karena itu katakanlah.”

“Ampun Tuanku.” sahut Jajar itu. Meskipun tubuhnya menjadi gemetar karenanya, tetapi ia berkata juga, “perkenankan hamba mengatakannya hanya kepada Tuanku.”

“Jangan terlalu banyak keberatan Jajar. Aku perintahkan kepadamu untuk mengatakannya.” Ken Dedes berhenti sejenak, lalu, “jangan menunggu aku memaksamu.”

“Ampun Tuan Puteri. Tuanku tidak akan memaksa hamba, karena hanya hambalah yang mengetahui rahasia Kakanda Tuan Puteri. Supaya hamba menyampaikannya, maka biarlah para emban itu meninggalkan Tuanku.”

Ken Dedes menjadi jengkel juga akhirnya. Diangkatnya wajahnya, dan dipandanginya para prajurit yang duduk di sudut halaman itu bersama kedua Jajar yang lain.

“Juru Taman.” berkata Ken Dedes kemudian, “kau lihat para prajurit itu?”

Dada Jajar itu berdesir, “Hamba Tuanku.”

“Dengan sebuah lambaian tangan, mereka akan berlarian kemari. Ada dua hal yang dapat aku lakukan untuk memaksamu. Yang pertama, mereka harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung, sedang yang kedua, merekalah yang akan langsung memaksamu berbicara di sini. Bahkan di hadapan para prajurit itu juga.”

Tiba-tiba tengkuk Jajar yang gemuk itu terasa meremang. Seakan-akan di lehernya telah tersandar pedang prajurit yang telah digurati oleh sebuah benturan yang terjadi di dalam peperangan.

“Prajurit itu pasti prajurit-prajurit yang telah beberapa kali bertempur. Beberapa kali pula melihat darah yang menetes dari luka. Apakah kira-kira yang akan mereka lakukan seandainya aku tetap berkeras untuk tidak mengatakannya?” katanya di dalam hati.

Tetapi tiba-tiba ia menjadi ngeri ketika dibayangkannya Akuwu Tunggul Ametung sendiri berdiri di hadapannya. Suaranya pasti akan mampu memecahkan dadanya. Belum lagi apa bila tangannya atau kakinya ikut berbicara. Karena itu, maka dari pada kepalanya menjadi bengkak, maka tidak ada salahnya apa bila ia mengatakannya. Emban itu pasti tidak akan dapat banyak berbuat, apalagi apabila Permaisuri tahu, betapa bahaya yang gawat selalu siap untuk menjamah tubuh Mahisa Agni. Ia yakin bahwa Permaisuri sendirilah yang akan mengatur para emban itu untuk tidak berbicara sesuatu yang akan dapat membahayakan keselamatan Agni. Meskipun demikian Jajar yang gemuk itu tidak segera mengatakan sesuatu. Ia masih saja duduk tepekur, seakan-akan ingin dipandanginya pusat bumi di bawah kakinya.

“Bagaimana?” bertanya Ken Dedes, “apakah kau masih tidak bersedia mengatakannya?” Jajar itu beringsut setapak. Tetapi Ken Dedes menjadi semakin tidak sabar lagi, “Katakanlah. Atau aku memanggil prajurit-prajurit itu?”

“Ampun Tuan Puteri.” sembah Jajar yang gemuk itu. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Baiklah hamba akan mengatakannya meskipun para emban masih berada di sini. Tetapi apabila kemudian ada hal-hal yang tidak menyenangkan hati Tuanku, bukanlah kesalahan hamba. Hamba sudah mencoba untuk merahasiakannya. Tetapi Tuan Puteri sendirilah yang menghendaki lain.”

Mendengar jawaban Jajar itu sejenak Ken Dedes menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian ia berkata, “Katakanlah. Para emban tidak akan berbuat sesuatu yang akan menyedihkan hatiku.”

Sekali lagi Jajar itu menelatupkan telapak tangannya di dadanya sambil berkata, “Baiklah Tuanku. Hamba memang membawa pesan tentang Kakanda Tuan Puteri itu.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sahutnya, “Coba katakanlah sekali lagi Jajar, kau membawa pesan dari Kakang Mahisa Agni, atau pesan tentang Mahisa Agni?”

“Ampun Tuanku, maksud hamba pesan tentang Kakanda Tuan Puteri.”

“Oh.” Ken Dedes menarik nafas dalam. Seolah-olah ingin dilontarkannya kekecewaan yang menyesak di dadanya, “Jadi kau hanya mendapat pesan tentang Kakang Mahisa Agni, bukan dari Kakang Mahisa Agni?”

“Demikian Tuanku.”

“Oh.” sekali lagi Ken Dedes berdesah, “aku salah mengerti Jajar. Aku sangka kau mendapat pesan langsung dari Kakang Mahisa Agni.” Ken Dedes berhenti sejenak, seolah-olah hendak diaturnya jalan nafasnya yang menyesak.

Jajar yang duduk bersila dihadapannya menjadi berdebar-debar pula. Apakah dengan demikian Ken Dedes menjadi kecewa, bahkan marah kepadanya? Apakah dari kedua persoalan itu terdapat perbedaan yang terlampau jauh sehingga Permaisuri tidak lagi mau mendengarkannya?. Tetapi Jajar yang gemuk itu menarik nafas ketika ia mendengar Ken Dedes berkata,

“Meskipun demikian, katakanlah. Mungkin dari padanya kita akan mendapat jalan untuk sesuatu tentang Kakang Mahisa Agni itu.”

Jajar itu menyembah sekali lagi. Katanya, “Tuanku. Sebenarnyalah pesan itu berhubungan dengan cara yang sebaik-baiknya untuk melepaskan Kakanda Tuan Puteri itu?”

“He?” keningnya Ken Dedes menjadi berkerut karenanya dan emban tua yang duduk di sampingnya beringsut maju, “Apakah kau mendapatkan jalan untuk melepaskan Kakang Mahisa Agni?”

Ken Dedes menjadi terlampau bernafsu, sehingga dengan serta merta ia bertanya langsung kepada Jajar yang gemuk itu. Jajar itu berhenti sejenak. Ditimbang-timbangnya hasil pembicaraannya sampai saat itu. Agaknya Permaisuri itu telah sangat tertarik kepada keterangannya.

“Ampun Tuan Puteri.” jawab Jajar yang gemuk itu. Dari matanya memancarlah kelicikan hatinya yang terlampau licin, tetapi ternyata duduknya tidak secerdik yang diinginkannya sendiri sebenarnyalah demikian.

Ken Dedes sudah tidak lagi memperhatikan, betapa Jajar yang gemuk itu tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya. Pada tingkat pertama ia sudah menemukan kemenangan kecil dengan mudahnya.

“Buat apa aku berhubungan lagi dengan Kuda Sempana dan kawannya itu seandainya aku menerima sekotak perhiasan dari Permaisuri ini?” katanya di dalam hatinya.

“Jajar.” suara Ken Dedes menjadi bergetar, “apakah yang harus kita lakukan untuk itu?”

“Tuanku.” jawab Jajar itu. Justru karena kemenangan yang baginya sangat menyenangkan itu, ia menjadi berdebar-debar karenanya, “aku telah bertemu sendiri dengan Kuda Sempana dan kawannya yang ternyata telah menyembunyikan Kakanda Tuan Puteri itu.”

“Ya.” potong Ken Dedes tidak sabar.

“Mereka akan tidak berkeberatan melepaskan Kakanda Tuan Puteri, tetapi mereka memerlukan tebusan untuk itu.”

“Oh.” Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia telah terlempar ke dalam kekecewaan yang dalam. Sejenak terdengar desah beberapa orang emban, dan emban tua yang duduk dekat di sisi Ken Dedes itu menundukkan kepalanya semakin dalam.

Jajar itu pun menjadi heran pula. Kenapa Permaisuri tidak segera bertanya, tebusan apakah yang harus diserahkannja? Bahkan Permaisuri agaknya menjadi kecewa mendengar keterangannya.

“Hal itu pula yang terjadi.” desah Puteri itu pula, “Sejak semula soal itu berulang kembali, berulang kembali. Aku harus menyerahkan tebusan. Diwaktu-waktu yang lampaupun aku sudah mendengar pemintaan itu. Tetapi aku tidak pernah mendapat jaminan apa-apa. Meskipun demikian, coba katakanlah Jajar, apakah yang harus aku lakukan?”

“Tuanku.” berkata Jajar itu. Tetapi ia sudah tidak lagi tersenyum meskipun sekedar di dalam hati, “menurut Kuda Sempana, hamba harus membawa tebusan itu kesuatu tempat. Setelah tebusan itu diterimanya, maka Kakanda Tuan Puteri akan dilepaskannya.”

“Sederhana sekali Jajar, Tetapi apakah hal yang demikian itu dapat dipercaya?”

“Tentu Tuan Puteri, tentu.”

Ken Dedes menarik nafas panjang. Panjang sekali. Sedang wajahnya yang cantik itu pun menjadi semakin suram dan sedih. Permaisuri itu sama sekali tidak yakin bahwa penjelesaian itu akan dapat terjadi dengan begitu sederhananya. Meskipun demikian ia ingin juga mendengar penjelasan Jajar itu lebih lanjut.

“Apakah tebusan yang harus aku berikan?” bertanya Ken Dedes itu.

Jajar itu menjadi berdebar-debar. Kuda Sempana dan kawannya itu minta perhiasan Permaisuri sepengadeg. Sudah tentu bukan sekedar perhiasan yang sering dipergunakan sehari-hari. Perhiasan yang dimaksud adalah perhiasan kebesarannya sebagai seorang permaisuri. Sepengadeg penuh. Sepasang subang, tusuk konde, hiasan rambut yang lain, cunduk kantil, kalung berangkai, kelat bahusabuk slepe, sampar pada binggel-binggel tretes, cincin dan sebagainya.

“O, berapa nilai dari barang-barang itu?” desis Jajar itu di dalam hatinya.

Karena Jajar itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes mendesaknya, “Bagaimana Jajar?”

“O, ampun Tuanku.” sahut Jajar itu tergagap, “sebenarnya hamba tidak berani menyebutkan permintaan itu.”

“Kenapa?”

“Permintaan itu hampir tidak mungkin dapat terpenuhi Tuanku, Kecuali apabila Permaisuri benar-benar menghendaki keselamatannya.”

“Katakan, apakah yang diminta?”

“Terlampau berlebih-lebihan Tuanku.”

“Ya, tetapi kau belum menyebutnya. Apakah yang dikehendaki? Apakah yang berlebih-lebihan itu? Uang, atau perhiasan, pangkat atau apa saja? Mungkin ia ingin dibebankan dari segala tuntutan dan hukuman?”

“Tidak Tuanku. Bukan itu. Orang seperti Kuda Sempana dan kawannya itu tidak akan lagi memperhatikan tuntutan dan hukuman, sebab mereka merasa dapat menghindarkan diri dari hukuman yang seharusnya diberikan kepada mereka.”

“Ya, tetapi apa? Apa?” Ken Dedes menjadi jengkel karenanya.

“Ampun Tuanku.” berkata Jajar itu.

Tetapi ia terdiam pula sejenak. Sengaja ia membiarkan Ken Dedes menahan nafasnya. la senang sekali melihat Permaisuri itu hampir pingsan menunggu kata-katanya. Tetapi Jajar itu menjadi kecewa ketika ia mendengar emban yang tua, yang duduk disisi Ken Dedes itu berkata,

“Ampun Tuan Puteri. Jajar itu sengaja membuat Tuan Puteri menjadi berdebar-debar. Ia sengaja membuat agar Tuan Puteri memaksa-maksanya untuk mengatakan. Dengan demikian ia merasa sangat Tuanku perlukan. Karena itu Tuan Puteri, biarkan saja ia berkata. Kalau ia bereberatan, biarlah tidak usah dikatakannya, sebab apa yang akan dikatakan itupun sama sekali tidak akan meyakinkan, seperti apa yang pernah kita dengar sebelumnya. Tebusan, tebusan, tetapi tanpa jaminan apapun.”

“E.” Jajar itu memotong, “sebaiknjya kau tidak usah turut campur. Bahkan sebaiknya kau pergi saja dari sini.”

“Emban itu adalah pemomongku Jajar. Hanya akulah yang berhak menyuruhnya pergi atau untuk tetap berada di sini.”

“Ampun Tuanku, tetapi ia mengganggu sekali.”

“Ampun Tuanku.” emban itu menyambung tanpa nenghiraukan kata-kata Jajar itu, “Bahkan lebih baik, seandainya Tuanku sama sekali tidak mendengar apa yang akan dikatakannya. Mungkin Jajar itu hanya sekedar membual, atau mencoba mencari kesempatan untuk menunjukkan jasa.”

“Tidak, tidak. Hamba berkata sebenarnya.” potong Jajar itu pula. Ia menjadi semakin gelisah ketika Permaisuripun berkata,

“Ternyata kau hanya membual. Benar kata-kata bibi, bahwa sebaiknya aku tidak usah mendengarkan kata-katamu.”

“Ampun Tuanku. Dengarkanlah Dengarkanlah. Tidak terlampau panjang.”

Jajar itu hampir menjadi pingsan ketika ia melihat Ken Dedes berkisar dan tidak lagi memandanginya. Bahkan Permaisuri itu berkata, “Kita mencari bunga menur itu saja bibi.”

“Ampun Tuanku. Ampun.” Jajar itulah yang kini kebingungan seperti terbakar kumisnya, “hamba akan mengatakan. Hamba akan segera mengatakan. Yang diminta oleh Kuda Sempana dan kawannya itu adalah perhiasan Tuanku, perhiasan. Apakah Tuanku mengerti maksud hamba.”

Tetapi Ken Dedes seakan-akan tidak mendengarnya. Sekali lagi ia berkata, “Bibi, apakah kolam itu sudah dibersihkan?”

“Mudah-mudahan Tuanku. Apabila belum, maka Jajar yang gemuk itulah yang bersalah.”

“Tuanku, Tuanku.” Jajar itu kini hampir merangkak mendekati Ken Dedes, “Dengarlah Tuanku. Yang diminta untuk menebus kakanda Tuanku adalah perhiasan.”

Ken Dedes menarik nafas dalam. Ia mendengar kata-kata Jajar itu. Meskipun ia belum berpaling memandang ke arah Jajar gemuk itu, namun sebenarnya hatinya telah bergerak pula mendengar kata-kata itu. Kalau hanya sekedar perhiasan. Maka tebusan itu tidak terlampau sulit baginya.

Jajar itu menjadi semakin gelisah, karena Ken Dedes itu berpalingpun tidak. Maka hampir menangis ia berkata, “Tuanku, perhiasan Tuanku. Perhiasan. Kalau tidak, maka mereka mengancam untuk membunuh kakanda Tuanku itu.”

Mendengar kata-kata itu, terasa sesuatu berdesir di hati Ken Dedes, dan bahkan juga di dalam dada emban tuan pemomongnya. Kini keduanya berpaling memandangi Jajar yang hampir bertiarap di hadapannya.

Dan Jajar itu berkata terus, “Mereka merasa terlampau lama menunggu. Dan mereka hampir menjadi jemu karenanya. Karena itu Tuanku harus cepat-cepat berbuat sesuatu sebelum mereka kehabisan kesabaran.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kini ia sudah tidak dapat berpura-pura lagi. Wajahnya kembali menjadi tegang. Namun ia tidak mau lagi memaksa-maksa Jajar itu untuk berkata. Ia tahu bahwa Jajar itu pasti akan menjadi terlampau berbangga diri, karena merasa sangat diperlukan oleh Permaisuri.

“Tuanku.” berkata Jajar itu selanjutnya, “Menurut pertimbangan hamba, Tuanku harus segera berbuat sesuatu. Kuda Sempana dan kawannya sudah tidak mau menunggu terlampau lama.”

Meskipun Ken Dedes berusaha untuk menekan perasaannya, namun tampak juga dahinya berkerut, sedang emban tua yang duduk bersimpuh di atas rerumputan di sampingnya menjadi cemas. Terlampau cemas.

“Nah, Tuanku. Bagaimanakah sikap Tuanku?”

Ken Dedes tidak segera menjawab. Ketika dilontarkannya pandangan matanya ke sudut halaman, masih saja dilihatnya beberapa orang prajurit dan Jajar duduk di sana. Satu orang diantara mereka berdiri sambil berjalan mondar mandir.

“Jajar.” berkata Ken Dedes kemudian, “aku rasa kau belum berkata seluruhnja. Perhiasan apakah yang dimaksud? Dan apakah tidak ada pesan yang lain bagaimana perhiasan itu akan sampai ke tangan Kuda Sempana dan bagaimana Kakang Mahisa Agni akan sampai ke istana.”

“Sudah hamba katakan Tuanku, tebusan itu harus hamba bawa dan hamba serahkan kepada mereka di tempat yang mereka tentukan. Sedang perhiasan yang mereka minta itu adalah… “ Jajar itu berhenti sejenak. Terjadilah pergolakan di dalam dirinya. Kawan Kuda Sempana minta kepada Permaisuri itu sepengadeg. Sedang untuk dirinya sendiri, ia harus berusaha sendiri. Katanya di dalam hatinya, “Aku harus minta lebih dari sepengadeg. Semua itu akan aku miliki. Tetapi apabila terpaksa, aku akan masih mempunyai kelebihannya.”

Sekali lagi Ken Dedes hampir tidak bersabar menunggu Jajar itu berkata. Tetapi sekali lagi Ken Dedes menahan diri. Dibiarkannya Jajar itu berdiam diri supaya ia tidak justru memperlambat kata-katanya.

“Tuanku.” berkata Jajar itu kemudian, “yang diminta oleh Kuda Sempana dan kawannya adalah perhiasan Tuanku. Perhiasan yang paling baik. Banyaknya tiga pengadeg?”

“He.” Permaisuri terkejut mendengar permintaan itu. Bahkan para embanpun terhenyak di tempatnya. Tiga pengadeg perhiasan seorang Permaisuri.

“Jajar.” suara Ken Dedes kini bergetar, “apakah kau tidak salah mengatakannya?”

“Tidak Tuanku. Tiga pengadeg. Tiga. Ya, tiga. Aku tidak salah lagi. Satu, dua kemudian tiga. Begitulah.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia terdiam. Dilontarkannya pandangannya jauh-jauh ke depan. Menembus dedaunan dan pohon-pohon perdu, seolah-olah hendak dilihatnya jauh ke seberang taman, tempat Mahisa Agni disembunyikan.

Ken Dedes itu terperanjat ketika jajar itu bertanya, “Bagaimana Tuanku. Apakah Tuanku setuju? Hamba akan segera menyampaikan dan kakanda Tuanku itu akan segera dilepaskan. Jangan menunggu mereka kehabisan kesabaran Tuanku, supaya Kakanda Tuan Puteri itu tidak mengalami cidera apa-apa.”

“Jajar.” berkata Ken Dedes, “tiga pengadeg perhiasan itu bukanlah sekedar benda-benda yang dapat aku ambil begitu saja dari istana. Kau tahu berapa nilai dari perhiasanku sebagai seorang Permaisuri itu sepengadeg?”

Jajar itu menggeleng lemah, “Ampun Tuanku, hamba tidak mengetahuinya.”

“Tidak sepengadeg jajar, tetapi sepasang subang itu saja, hanya sepasang.”

Sekali lagi jajar itu menggeleng, “Tidak Tuanku.”

“Nah, kau pasti juga tidak akan dapat membayangkan betapa harga tiga pengadeg perhiasan itu.”

“Hamba Tuanku. Memang hamba tidak dapat membayangkan nilai daripadanya.”

“Kalau demikian, maka dengarlah. Sepengadeg perhiasanku jajar, akan sama nilainya dengan seisi padukuhan beserta sawah ladangnya. Bahkan pedukuhan yang paling kaya. Terhitung semua perhiasan, ternak dan iwennya, selain manusianya.”

Terasa bulu-bulu jajar itu meremang. Tetapi kemudian tumbuh pulalah kebanggaannya atas dirinya. Katanya di dalam hati, “Kesempatan ini tidak akan terulang sampai dua kali. Tiga pengadeg perhiasan Permaisuri adalah tiga pedukuhan yang paling kaya dengan segenap isinya. Rumah-rumah brunjung yang besar, joglo dan segenap perabotnya. Perhiasan-perhiasannya dan ternak iwennya. Bahkan segenap sawah ladangnya.”

“Apakah kau dapat membayangkannya jajar?”

“Hamba Tuanku.” sahut jajar itu, “betapa banyak nilai dari perhiasan itu.”

“Tiga pengadeg untuk menebus kakang Mahisa Agni?”

“Begitulah Tuanku. Tidak ada tawaran lain apabila Tuanku menginginkan Kakanda Tuanku itu selamat.”

Ken Dedes menekurkan kepalanya. Kuda Sempana dan kawannya itu dapat saja menyebut apa saja yang mereka kehendaki untuk menebus Mahisa Agni. Kuda Sempana tahu betul, bagaimanakah hubungannya dengan Mahisa Agni seperti kakak beradik sekandung. Kuda Sempana tahu betul bahwa Mahisa Agni telah melepaskannya dari bencana berulang kali. Itulah sebabnya maka pemerasan itu pun dilakukannya tidak tanggung-tanggung. Tiga pengadeg pakaian. Betapa besar nilainya.

“Kalau aku memilikinya sendiri.” desis Permaisuri itu di dalam hatinya, “kalau aku tidak terikat oleh Akuwi Tunggul Ametung, maka nilai Kakang Mahisa Agni jauh lebih besar dari tiga pengadeg perhiasan itu. Ia telah menjelamatkan nyawaku, bahkan kehormatanku, pada saat Kuda Sempana itu menjadi gila.”

Jajar yang gemuk dan berkumis itu menunggu jawaban Permaisuri dengan hati yang berdebar-debar. Namun sementara itu ia telah berangan-angan untuk menerima tiga pengadeg perhiasan dalam sebuah kotak berukir. Perhiasan yang akan dipergunakan untuk menebus Mahisa Agni. Tetapi kotak itu akan dibawanya lari. Bersembunyi ditempat yang jauh, yang tidak mungkin dikunjungi oleh Kuda Sempana dan kawannya maupun oleh Akuwu Tunggul Ametung beserta pajurit-prajuritnya.

“Adikku dan kawan-kawannya yang liar itu akan dapat melindungiku.” katanya di dalam hati.

Tetapi ternyata Permaisuri tidak segera menjawab. Permaisuri itu masih saja merenung memandangi lembaran-lembaran daun dikejauhan. Tetapi ternyata ia tidak melihat sesuatu. Pandangannya seolah-olah menjadi kabur kerena gelora di dalam dadanya.

Jajar itu kemudian tidak dapat bersabar menunggu Diberanikannja bertanya, “Tuanku, bagaimanakah perintah Tuanku?”

Ken Dedes menarik nafas dalam. Beberapa kali ia mendengar bahwa untuk melepaskan Mahisa Agni memang diperlukan tebusan. Tetapi baru kali ini ia mendengar, berapa besar tebusan yang diminta.

“Bagaimana Tuanku. Hamba tinggal menjunjung perintah Tuanku.”

“Jajar.” berkata Ken Dedes, “permintaan itu tidak masuk diakalku. Betapa aku mengharapkan Kakang Mahisa Agni lepas dari tangan mereka, tetapi permintaan itu hampir tidak mungkin aku penuhi.”

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Tetapi keselamatan Kakanda Tuanku itu sedang terancam.”

Ken Dedes mengangguk-angguk lemah. Sejenak ia berdiam diri. Ia tidak segera mengetahui apa yang harus dilakukannya. Ketika angin berhembus menyentuh dedaunan di taman itu, maka terdengarlah suara desir yang lembut. Tangkai-tangkai bunga yang bergetar, seolah-olah sedang menggelengkan kepala mereka, ikut bersedih melihat Permaisuri yang berwajah muram.

Sejenak kemudian terdengarlah Permaisuri itu berkata, “Jajar. Baiklah aku akan mempertimbangkan permintaan itu. Aku kelak akan memberitahukannya kepadamu, keputusan yang akan aku ambil.”

Dada Jajar itu berdesir mendengar kata-kata Ken Dedes. Ia mengharap Permaisuri itu sekarang juga berdiri, masuk ke dalam biliknya, atau menghadap Akuwu Tunggul Ametung, kemudian memberinya sepeti perhiasan yang dimintanya. Karena itu maka tergagap ia berkata,

“Ampun Tuanku. Bagaimanakah jawab hamba apabila Kuda Sempana dan kawannya itu datang lagi kepada hamba?”

“Katakan seperti yang aku katakan. Permaisuri sedang mempertimbangkannya.”

“O, tetapi itu memerlukan waktu. Mereka sudah tidak mau bersabar lagi. Barang-barang itu harus segera sampai ke tangan mereka. Kalau tidak maka keselamatan Kakanda Tuanku tidak akan terjamin.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tetapi jawabnya sama sekali tidak diduga oleh Jajar yang gemuk itu, “Jangan takut Jajar. Mereka tidak akan berbuat apa-apa, sebab mereka mengharap perhiasan yang tiga pengadeg itu, mereka pasti akan menunggu sehari dua hari, bahkan nungkin sepekan. Sebab membunuh Kakang Mahisa Agni sama sekali tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka, tetapi perhiasan itu akan sangat menyenangkan.”

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar