MENU

Ads

Senin, 06 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 166

PdLS-34
SEPERCIK keringat dingin menetes di kening Jajar yang gemuk itu. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Permaisuri akan menjadi tenang menghadapi keadaan itu. Namun dengan demikian justru Jajar itulah yang menjadi gelisah. Lidahnya seolah-olah kehilangan kekuatan untuk mengatakan sesuatu.

“Sekarang pergilah. Katakan kepada para prajurit itu, bahwa mereka pun aku perkenankan meninggalkan halaman ini. Ternyata kau tidak berbahaya bagiku.”

“Oh.” Jajar itu mengerutkan keningnya. Matanya yang sipit menjadi semakin sipit. “Tetapi, tetapi, bagaimana dengan perhiasan itu Tuanku?”

“Tunggulah, aku sedang berpikir untuk itu.”

“Bagaimana kalau hari ini Kakanda Tuanku itu mengalami bencana.”

“Tidak. Itu tidak akan terjadi. Sekian lama mereka menunggu untuk mendapat tebusan. Maka mereka pasti akan menunggu sehari-dua hari lagi.”

“Tetapi.”

“Pergilah.”

“Tuanku.”

“Pergilah.”

Jajar itu tidak dapat menjawab lagi. Harapannya untuk mendapatkan perhiasan hari itu juga telah gagal. Tetapi ia tidak berputus asa. Ia memastikan bahwa Permaisuri akan memberikah perhiasan itu kepadanya. Soalnya hanyalah waktu. Sekarang, besok atau mungkin dua tiga hari lagi. Tetapi barang-barang itu pasti akan menjadi miliknya.

Dengan gemetar Jajar itu membungkukkan badannya sambil berkata, “Ampun Tuanku. Perkenankanlah hamba meninggalkan tempat ini.”

Ken Dedes mengangguk. Dipandanginya Jajar itu beringsut mundur. Kemudian berjalan sambil berjongkok beberapa langkah. Baru kemudian tertatih-tatih ia berjalan ke sudut halaman menemui para prajurit dan kawan-kawannya, untuk menyampaikan perintah Permaisuri, bahwa mereka diperkenankan meninggalkan taman itu.

Tetapi ternyata sebelum mereka beranjak dari tempatnya, mereka melihat Permaisuri itu berdiri dan berjalan meninggalkan taman itu pula. Ternyata Permaisuri sudah tidak mempunyai minat lagi untuk bermain-main di taman itu. Hatinya kini sedang dicengkam oleh kecemasan dan kebingungan. Ia percaya bahwa memang dituntut tebusan untuk Mahisa Agni, tetapi ia tidak pernah mendapat jaminan yang meyakinkan tentang keselamatan kakaknya itu.

Karena itu setiap kali ia mendengar tentang Mahisa Agni, maka seakan-akan luka di dalam dadanya menjadi semakin parah. Ia ingin berbuat sesuatu, tetapi ia tidak dapat. Seandainya ia dapat memutuskan sendiri, maka apapun akan di serahkannya untuk membebaskannya. Apalagi hanya tiga pengadeg perhiasan. Permaisuri itu kini sama sekali sudah tidak ada minat lagi untuk bermain-main di taman. Dengan tergesa-gesa ia berjalan diiringi oleh emban-embannya dan emban pemomongnya.

“Bibi.” berkata Ken Dedes, “aku menjadi pening. Aku ingin beristirahat.”

“Silahkanlah Tuanku.“ sahut emban yang tua itu, “Tuanku memang harus beristirahat. Sebaiknya Tuanku tidak terlampau dicengkam oleh kegelisahan memikirkan Angger Mahisa Agni. Sebaiknya Tuanku menganggap persoalan itu sebagai persoalan yang biasa. Persoalan yang meskipun harus diselesaikan, tetapi tidak membuat Tuanku sendiri menjadi bersedih.”

“Tidak dapat bibi. Aku tidak dapat acuh tak acuh saja atas persoalan Kakang Mahisa Agni.”

Emban yang tua itu tidak menyahut. Hampir terloncat-loncat ia berjalan di belakang Ken Dedes yang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam biliknya. Beberapa emban pengiringnya tinggal di depan pintu, sedang pemomong Ken Dedes mengikutinya masuk ke dalam.



“Persoalan Kakanda Tuan Putri itu benar-benar menggelisahkan.” bisik seorang emban kepada kawannya.

“Sudah tentu.“ sahut yang lain, “Mahisa Agni adalah satu-satunya keluarga yang masih ada.”

“Tetapi tebusan itu memang tidak masuk diakal kita.” berkata yang lain.

“Jangan kau sebut-sebut.“ berkata seorang yang lebih tua, “lebih baik kita diam supaya tidak mempersulit perasaan Tuan Puteri itu sendiri.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, dan merekapun terdiam karenanya. Di dalam biliknya, wajah Ken Dedes menjadi semakin muram. Persoalan itu ternyata berkepanjangan, seolah-olah tidak akan berujung. Persoalan yang selalu membayanginya sejak lama, sejak perkawinan agung belum dilakukan.

“Tuanku.” berkata emban tua pemomong Ken Dedes. “Tuanku terlampau memikirkan Kakanda Tuan Puteri, Angger Mahisa Agni. Bukan maksudku untuk melupakannya, tetapi persoalan ini jangan menjadi beban yang memberati perasaan Tuanku, sehingga seolah-olah hidup Tuan Puteri selalu dibayangi oleh kemuraman dan kesedihan. Ingatlah Tuanku, bahwa Tuanku adalah seorang Permaisuri. Seandainya wajah Tuan Puteri itu selalu muram, maka seluruh istana ini akan menjadi muram. Karena itu, usahakanlah untuk mengurangi tekanan perasaan yang tumbuh karena Angger Mahisa Agni. Seorang isteri adalah sumber cahaya dari keluarga. Kalau sumber itu suram, maka cahayanya pun akan suram. Dan wajah-wajah yang lain pun akan menjadi suram pula.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya lirih, “Aku menyadari bibi, tetapi bagaimana aku dapat melakukanya? Apalagi setelah Jajar itu mengatakan, bahwa ia telah ditemui oleh Kuda Sempana dan menyampaikan permintaan itu.”

“Apakah Tuan Puteri percaya kepadanya?” bertanya emban tua itu.

“Tentu tidak sepenuhnya bibi. Aku tidak percaya kepada Jajar itu sepenuhnya, dan aku tidak pula percaya kepada Kuda Sempana.”

“Lalu apakah yang menarik perhatian Tuanku atas Jajar itu?”

“Jajar itu hanya sekedar merupakan sentuhan-sentuhan yang akan dapat dipakai untuk mempersoalkannya lebih lanjut. Itu lebih baik bagiku daripada tidak ada hubungan sama sekali dengan orang yang telah menyembunyikan Kakang Mahisa Agni.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sependapat dengan pikiran Ken Dedes itu. Ia memang menganggap lebih baik hubungan dengan Jajar itu dan seterusnya dengan Kuda Sempana dipelihara, meskipun hal-hal yang lain masih harus dibicarakan.

“Bagaimana pendapatmu bibi?” bertanya Ken Dedes kemudian.

Emban itu ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, “Adalah jalan yang paling baik yang harus Tuanku tempuh adalah menyampaikan persoalan ini kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung adalah suami Tuanku, dan Tuanku Tunggul Ametung adalah pemegang kekuasaan yang tertinggi di Tumapel.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, bibi. Memang tidak ada jalan lain. Aku harus menyampaikan kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi sebenarnya aku meragukannya. Apakah Tuanku Akuwu akan menaruh minat atas persoalan ini. Sudah sekian lama aku menunggu, sejak hari perkawinan kami. Tetapi Akuwu seolah-olah telah melupakannya. Setiap kali ia mendengar persolan itu, Tuanku Akuwu seolah selalu menghindarkan dirinya.”

“Tetapi persoalan ini harus mendapat penjelasan Tuanku. Meskipun kita tidak dapat mempercayai Jajar itu dan apalagi Kuda Sempana, tetapi harus ditemukan cara yang sebaik-sebaiknyanya untuk melepaskan Angger Mahisa Agni.”

“Aku menyadari bibi. Dan aku akan mencoba sekali lagi menyampaikannya kepada Akuwu.”

“Silahkan Tuanku. Sebaiknyalah demikian. Jangan menuggu terlampau lama.”

Sekali lagi Ken Dedes mengangguk-anggukkan kapalanya. Wajahnya yang suram masih saja suram.

“Malam nanti aku akan menghadap Tuanku Akuwu Tunggul Ametung untuk menyampaikan persoalan ini. Mudah-mudahan Tuanku Akuwu menemukan jalan yang sebaik-baiknya.”

Demikianlah ketika matahari telah terbenam, dan lampu-lampu di dalam istana Tumapel telah dinyalakan, maka Ken Dedes, Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung sedang duduk sambil menekurkan kepalanya dalam-dalam. Di sisinya Akuwu Tunggul Ametung berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Masing-masing sedang hanyut ke dalam dunia angan-angannya sendiri. Diluar angin yang sejuk berhembus perlahan, menggerakkan dedaunan dan ranting-ranting yang kecil. Suara cengkerik di rerumputan berderik-derik menggelitik hati, seperti sedang sesambat karena ditinggalkan kekasih.

“Ken Dedes.“ terdengar kemudian suara Akuwu Tunggul Ametung berat, “kau terlampau terpengaruh oleh keadaan Mahisa Agni.”

Ken Dedes mengangguk lemah, “Hamba Tuanku.”

“Apakah kau tidak dapat melupakannya?”

Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga wajahnya yang basah itu terangkat, “Apakah maksud Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau adalah seorang Permaisuri. Bukan hanya aku dan orang-orang seisi istana saja yang selalu memperhatikanmu. Tetapi setiap orang di Tumapel ini setiap saat selalu menilaimu. Mereka mengharap kau bergembira, berwajah cerah dan jernih. Demikianlah hendaknya gambaran dari keadaan Tumapel. Tetapi agaknya kau tidak berbuat demikian. Akhir-akhir ini wajahmu selalu muram dan sedih.”

“Ampun Tuanku. Hamba sudah berusaha untuk berbuat demikian justru karena hamba menyadari kedudukan hamba. Tetapi setiap kali hamba tidak mampu bertahan diri terhadap arus perasaan hamba yang melanda dinding jantung.”

“Kau terlampau perasa Ken Dedes. Cobalah kau berjuang untuk mengatasi perasaanmu itu.”

“Hamba akan mencoba, Tuanku.”

“Baiklah. Cobalah sehari dua hari. Kau harus menjadi seorang yang riang dan mempunyai gairah yang segar memandang Tumapel dan segenap isinya.”

“Hamba akan mencoba, Tuanku.”

“Nah, apabila demikian, sekarang beristirahatlah. Mungkin kau menjadi terlampau lelah. Bukan oleh kerja jasmaniah, tetapi karena usahamu melawan perasaanmu sendiri.”

Sekali lagi Ken Dedes terkejut mendengar kata-kata itu. Sekali lagi ia mengangkat wajahnya dan bertanya, “Tetapi bagaimanakah tentang Mahisa kakang Agni?”

“He.“ kini Akuwu Tunggul Ametunglah yang terperanjat, “bagaimana kau ini Ken Dedes. Baru saja kau mengatakan kepadaku, bahwa kau akan berusaha, sekarang kau sudah menanyakan lagi tentang Mahisa Agni.”

“Ampun Tuanku. Hamba akan berusaha untuk menyembunyikan kepedihan hati hamba. Hamba akan berusaha untuk menunjukkan gairah hidup hamba sebagai seorang Permaisuri, meskipun seorang Permaisuri itu juga seorang manusia biasa. Apalagi hamba Tuanku. Tetapi di samping itu, hamba ingin Tuanku berbuat sesuatu untuk menemukan Kakang Mahisa Agni.”

“Ah.“ Akuwu Tunggul Ametung berdesah, “kau selalu kembali kepada masalah itu. Ken Dedes, aku ingin kau memberikan sumbangan kepadaku. Sebagai seorang Permaisuri terhadap seorang Akuwu. Aku ingin mendapat dorongan darimu, agar aku menjadi semakin tekun dan bersungguh-sungguh memikirkan Tumapel. Memikirkan kemajuan dan kesempurnaannya. Bagaimana aku harus membuat istana ini lebih indah, dan megah. Bagaimana aku menjadi semakin disegani dan ditakuti oleh rakyatku. Bagaimana aku dapat menentukan kehendakku tanpa seorang pun yang berani menyanggah.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sepercik kekecewaan telah mewarnai hatinya. Semakin lama semakin jelas.

“Itukah yang dianggapnya kemajuan dan kesempurnaan?. Istana yang indah dan megah, disegani dan ditakuti, kehendak yang tidak terbantah.“ berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “sama sekali berbeda dengan angan-anganku. Tetapi yang penting sekarang, bagaimana Akuwu berbuat sesuatu untuk Kakang Makisa Agni.”

Dan Ken Dedes mendengar Akuwu itu berkata terus, “Ken Dedes. Sudah tentu aku tidak dapat berbuat sesuatu yang hanya berkisar kepada kepentingan diri sendiri. Sebab aku adalah seorang Akuwu.”

Kerut merut di wajah Ken Dedes menjadi semakin dalam. Kemudian katanya, “Ampun Tuanku. Hamba akan selalu ikut serta memikirkan keadaan Tumapel. Hamba ingin Tumapel menjadi daerah yang paling baik di segenap sudut Kerajaan Kediri. Hamba merasa bangga atas keputusan Tuanku untuk membuka tanah di Padang Karautan. Seperti yang Tuanku katakan, bahwa hal itu Tuanku lakukan bukan sekedar menyenangkan hati hamba setelah hamba kehilangan segala-galanya, kecuali Kakang Mahisa Agni saat itu.

Bukan sekedar karena hamba ingin Panawijen hidup kembali meskipun dalam ujudnya yang lain. Tetapi Tuanku berkata, bahwa kemakmuran di daerah-daerah kecil akan berpengaruh kepada hidup keseluruhan Tumapel. Bila Padang Karautan menjadi hijau dan subur, maka Tumapel pun akan diperciki oleh kesuburan itu. Demikian pula di daerah-daerah lain di wilayah Tumapel kelak. Dan hamba akan senang sekali ikut memikirkannya. Bukan sekedar istana ini seisinya. Bukan sekedar keinginan diri untuk ditaati setiap kata-katanya tanpa pertimbangan. Bukankah dengan demikian itu juga sekedar berkisar kepada kepentingan diri.”

”Ken Dedes.“ potong Akuwu Tunggul Ametung, sehingga Ken Dedes menjadi terkejut karenanya.

Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu kemudian menarik-nafas dalam-dalam. Ditahankannya perasaannya yang meledak-ledak sebagai kebiasaan hidupnya sehari-hari. Tetapi, kepada Ken Dedes ia selalu menjaga dirinya. Selalu diingatnya, bahwa ia pernah melihat seberkas sinar yang tak dikenalnya memancar dari tubuh Permaisuri itu. Sejenak kemudian mereka terhempas dalam kediaman. Masing-masing mencoba untuk menahan diri. Betapapun gejolak jantung mereka, namun mereka ingin bersikap tenang. Mereka berusaha untuk menyaring setiap kata yang melontar lewat sela-sela bibir mereka.

Terdengar desah yang panjang meluncur dari dada Akuwu Tunggul Ametung. Perlahan-perlahan ia berkata, “Kau salah mengerti Ken Dedes. Kau belum dapat mengikuti caraku memerintah Tumapel. Tetapi itu adalah wajar sekali, sebab kau belum cukup lama ikut serta mendengar dan mengerti tentang pemerintahan. Mudah-mudahan pada saatnya kau akan sependapat dengan aku.”

Ken Dedes kini menjadi semakin tunduk. Setetes air menitik dari matanya, “Hamba Tuanku. Mudah-mudahan hamba akan segera dapat mengerti.”

“Kalau kau tidak selalu dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan, maka kau akan segera dapat mengikuti segala persoalan Temapel seperti seharusnya seorang Permaisuri. Kau wenang untuk ikut serta dalam pembicaraan-pembicaraan khusus. Karena itu, Ken Dedes. Lupakan saja Mahisa Agni.”

Kini Ken Dedes benar-benar terperanjat. Tanpa sesadarnya ia terloncat berdiri. Namun ketika terpandang olehnya Akuwu Tunggul Ametung, maka perlahan-lahan dijatuhkannya dirinya di atas tempat duduknya.

“Ampun Tuanku.” desisnya. Namun kata-katanya terputus. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya.

“Bukankah hal itu lebih baik bagimu Ken Dedes.”

Dengan sekuat tenaga Ken Dedes mencoba menahan perasaannya. Tersendat-sendat ia berkata, “Bagaimana mungkin Tuanku sakarang berkata demikian.”

“Ken Dedes. Marilah kita memandang ke depan. Kita tidak terpukau oleh masa lampau sehingga kita kehilangan arah. Kita hanya merenung dan bersedih tanpa berbuat sesuatu.”

“Hamba Tuanku. Hamba sependapat. Tetapi apakah dengan melupakannya kita telah berbuat sesuatu?”

Kening Akuwu Tunggul Ametung menjadi berkerut merut. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran dan berteriak seperti kebiasaannya. Tetapi selalu ia ingat, ada kelebihan Ken Dedes dari orang-orang lain. Cahaya itu. Ya cahaya yang memancar dari tubuhnya yang pernah dilihat oleh Akuwu, selalu mempengaruhinya.

“Ken Dedes.“ berkata Akuwu itu kemudian, “maksudku, kita berbuat sesuatu untuk kepentingan yang lebih besar. Kita tidak boleh terpukau oleh masa lalu, sehingga kerja yang lain terbengkalai. Apakah manfaatnya aku mencari Mahisa Agni dengan berbagai macam cara, tetapi bendungan yang dibuat oleh orang-orang Panawijen itu tidak selesai? Apakah manfaatnya kau memberikan perhiasan seperti yang kau katakan itu, tetapi kita kehabisan beaya untuk meneruskan bendungan itu? Ken Dedes, apabila kelak bendungan itu berhasil, maka orang-orang Panawijen akan sangat berterima kasih. Mereka akan memuji kemurahan hati kita atas bantuan yang telah kita berikan. Mereka akan hidup dalam kesejahteraan, dan mereka akan selalu mengenang segala macam jasa yang telah kita berikan. Dan mereka pun akan segera melupakan Mahisa Agni.”

“Kakang Mahisa Agni lah yang telah mulai dengan pekerjaan besar itu.“ tiba-tiba Ken Dedes menyahut.

“Aku tahu. Tetapi apakah artinya Mahisa Agni itu kemudian? Ia tidak berada lagi dipekerjaannya.”

“Itu sama sekali bukan karena kehendaknya sendiri.”

“Apapun alasannya. Tetapi ia tidak dapat meneruskan pekerjaan itu. Akulah yang menyelesaikannya. Akulah yang memberi semua kebutuhan dalam pekerjaan itu. Alat dan perbekalan.”

Terasa sebuah desir yang tajam mematuk jantung Ken Dedes. Sejenak ia terdiam dan sepercik lagi kekecewaan mewarnai hatinya. Namun ia masih berusaha sekuat-kuat tenaga untuk menahan diri. Untuk selalu dapat mengendalikan perasaan dan nalarnya. Jika ia menjadi kehilangan akal, maka maksudnya untuk minta pertolongan Akuwu pun akan tertutup sama sekali.

“Ampun Tuanku.“ berkata Ken Dedes kemudian. Suaranya menjadi rendah dan bergetar, “hamba akan mencoba mengerti semua keinginan Tuanku. Tetapi hamba mengharap bahwa Tuanku pun akan dapat mengerti keadaan hamba. Hamba sama sekali tidak dapat menyanggah kebenaran kata-kata Tuanku. Tetapi hamba ingin menyatakan kelemahan diri dan perasaan hamba. Betapa hamba ingin mengabdikan diri kepada keinginan dan cita-cita Tuanku, tentang masa depan Tumapel, tetapi hamba tidak akan dapat melepaskan diri dari kedirian. Mungkin keduanya dapat berjalan seiring. Hamba sebagai seorang Permaisuri dan hamba sebagai Ken Dedes yang lemah. Seorang yang hidupnya selalu diguncang oleh angin yang kasar.”

Akuwu Tunggul Ametung merasakan sebuah sentuhan yang halus di dalam dadanya. Permaisuri itu. adalah seorang manusia biasa. Seorang yang memiliki sifat-sifat kemanusiaannya. Dan tiba-tiba saja dikenangkannya masa lampau. Ken Dedes yang sangat pahit. Apa yang terjadi atasnya, dan bagaimana ia dapat sampai diistana ini. Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia terhenyak keatas tempat duduknya, sebuah batu hitam yang dilambari oleh sebuah permadani yang tebal. Perlahan-lahan terdengar ia berkata seperti sedang mengeluh,

“Memang kita adalah orang-orang yang telah diamuk oleh nafsu memikirkan diri sendiri.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dilihatnya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang tegang. Tetapi ia tidak segera berkata sesuatu. Ia mengharap bahwa hati Akuwu itu akan mencair dari dalam.

“Tetapi permintaan itu tidak mungkin dipenuhi Ken Dedes.“ berkata Akuwu Tunggul Ametung.

“Hamba memang sudah menyangka demikian Tuanku.” sahut Ken Dedes, “hamba pun tidak ingin memenuhi seluruhnya. Tetapi hamba ingin usaha yang nyata untuk melepaskannya.”

“Apakah kau percaya kepada Jajar itu?“ bertanya Ken Arok.

“Tidak Tuanku, hamba tidak mempercayainya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia heran mendengar jawaban Ken Dedes. Karena itu ia bertanya, “Ken Dedes, kalau kau tidak percaya kepada Jajar itu, kenapa kau ingin berhubungan dengan dia dan bahkan kau sudah membicarakan soal tebusan meskipun kau masih ingin menawarnya?”

“Tuanku.“ jawab Ken Dedes, “Jajar itu akan dapat kita jadikan jembatan penghubung, antara kita dan orang-orang yang membawa Kakang Mahisa Agni. Maksud hamba apabila kita dapat memelihara hubungan itu, apapun yang akan Tuanku lakukan, hamba akan berterima kasih sekali. Apalagi kelak apabila Kakang Mahisa Agni benar-benar telah dapat dibebaskan.”

“Apakah yang harus aku lakukan? Memberikan tebusan kepada Jajar itu?“ bertanya Tunggul Ametung, “apakah kau percaya bahwa setelah menerima tebusan itu Mahisa Agni akan benar-benar dibebaskan?”

“Hamba memang tidak percaya Tuanku. Mungkin orang-orang yang membawa Mahisa Agni itu yang ingkar, tetapi juga mungkin Jajar yang gemuk itulah yang ingkar.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Aku akan menangkap Jajar itu. Aku harus tahu dimana orang-orang yang mengambil Mahisa Agni. Dengan demikian maka aku akan segera dapat menangkap mereka.”

“Tuanku.“ Ken Dedes memotong dengan serta merta, “bukankah Tuanku pernah mengatakan pula, seperti apa yang dipesankan oleh Empu Gandring dahulu, bahwa kekerasan akan berbahaya bagi Kakang Mahisa Agni?”

“Jadi apa? Apa yang harus aku lakukan?“ hampir-hampir Akuwu Tunggul Ametung berteriak. Namun tiba-tiba nadanya menurun, “Ken Dedes, aku menjadi bingung. Kau tidak percaya kepada Jajar itu, dan kau tidak ingin aku mempergunakan kekerasan? Lalu apakah yang harus aku lakukan?”

“Tuanku, itulah yang aku ingin mendapatkan dari Tuanku. Apakah yang akan Tuanku lakukan. Selain yang Tuanku katakan, kekerasan.”

“Jadi aku harus menyerahkan tebusan kepada Jajar itu dengan tanpa jaminan. Tebusan itu dapat hilang seperti garam yang kita lemparkan kedalam laut.”

“Tuanku, hamba sama sekali tidak mengerti manakah yang sebaiknya Tuanku lakukan. Tetapi bukankah Tuanku dapat mengajukan syarat kepada Jajar itu untuk disampaikan kepada Kuda Sempana. Seandainya Tuanku memberikan tebusan, maka tebusan itu cukup mendapat jaminan, sehingga tidak seperti garam yang terbenam kedalam laut.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tampaklah betapa jantungnya menjadi tegang oleh persoalan itu. Hampir-hampir saja ia membanting kakinya sambil berteriak. Tetapi pengaruh Ken Dedes atasnya terasa terlampau mencengkam. Tetapi untuk memenuhi tuntutan yang gila itupun sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya. Harga dirinya sebagai Akuwu benar-benar tersinggung karenanya dan kecuali itu, maka tebusan itu bagi Akuwu Tunggul Ametung adalah kehilangan yang sia-sia. Menurut pertimbangannya, maka hilangnya Mahisa Agni tidak akan banyak berpengaruh bagi Tumapel. Disaat-saat ini pengaruh itu memang masih terasa pada Ken Dedes, yang langsung tidak langsung mempengaruhi juga kepada dirinya sendiri dan pemerintahannya. Namun lambat laun Ken Dedespun pasti akan melupakannya.

Karena itu maka dengan nada yang dalam ia berkata, “Ken Dedes. Persoalan kita dengan Mahisa Agni sebenarnya telah selesai. Ternyata kita melakukan segala-galanya tanpa Mahisa Agni, dan semuanya berjalan dengan baik. Perkawinan kita dapat juga berlangsung. Bendungan itu pun akan segera siap pula. Semuanya dapat dilakukan tanpa Mahisa Agni. Sebaiknya kau pun menyadari. Jangan terlampau menggantungkan dirimu kepadanya. Jangan terlampau terpengaruh olehnya. Kau harus yakin, bahwa kau akan dapat melupakannya. Bahwa Tumapel akan menjadi besar tanpa anak itu, dan bahwa bendungan itu pun akan dapat mengalirkan air nya untuk tanah-tanah persawahan tanpa kehadirannya. Nah, apa lagi yang kau inginkan daripadanya Ken Dedes. Bukankah Mahisa Agni itu menurut pengakuanmu juga bukan kakak kandungmu sendiri?”

Dada Ken Dedes seolah-olah ingin meledak karenanya. Tetapi dengan sekuat tenaga yang ada padanya, ditabahkannya hatinya. Ia tidak boleh menyerah dan berputus asa. Jika demikian, maka semuanya benar-benar akan gagal. Tetapi ia harus tetap berusaha.

“Tuanku.” berkata Ken Dedes dengan gemetar, “sudah hamba katakan keadaan dan kelemahan hamba. Sudah hamba katakan diri hamba yang tidak dapat ingkar dari kedirian. Hamba adalah seorang yang lemah dan ringkih. Lahir dan batin. Sebenarnyalah Tuanku, bahwa hamba tidak akan dapat melupakannya. Bukan sekedar karena Kakang Mahisa Agni itu telah dipersaudarakan dengan hamba sejak kanak-kanak, sudah seperti kakak kandung sendiri, tetapi hamba tidak dapat melupakan semua kebaikannya. Hamba tidak akan dapat melupakan semua pengorbanannya. Hamba sampaikan perasaan hamba ini kepada Tuanku, Bukan saja sebagai seorang Akuwu yang berkewajiban melindungi rakyatnya, tetapi juga sebagai seorang suami. Kepada siapa hamba harus mengadu, jika tidak kepada Tuanku, Akuwu Tumapel. Kepada siapa hamba harus membagi duka, jika tidak kepada suami hamba.”

“Oh.” terdengar Akuwu Tunggul Ametung berdesah, “Kau membuat aku pening. Kau tidak memberikan apa-apa kepadaku sebagai seorang Permaisuri kepadaku, kepada Tumapel. Tetapi kau malahan membuat aku hampir gila.”

Sekali lagi sepercik kekecewaan menghunjam langsung kepusat jantung Ken Dedes. Tetapi ia tidak ingin surut. Ia harus mendapat kesempatan sekali ini, meskipun kadang-kadang sehelai-sehelai perasaan putus asa telah menyaput hatinya. Bagi Ken Dedes, usaha membebaskan Mahisa Agni sama sekali tidak akan mengganggu rencana pekerjaan Akuwu yang lain. Ia akan dapat menyisihkan sedikit waktunya untuk berbuat. Ken Dedes tahu benar, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung masih mempunyai banyak kesempatan. Menurut penilikan Ken Dedes, Akuwu Tunggul Ametung tidak mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Ia tidak terikat pada suatu rencana yang matang. Tetapi ia berbuat sesuai dengan keinginannya sesaat-sesaat, kapan ia ingat dan kapan saja ia mau.

Itulah sebabnya maka ia menjadi terlampau sibuk untuk sesaat, sedang disaat-saat yang lain waktunya hanya dipergunakannya untuk berburu tanpa berbuat sesuatu, tidur sepanjang hari dan kadang-kadang marah-marah karena hal-hal yang kecil kepada hamba-hambanya. Sekali-sekali ia sibuk dengan berbagai macam rontal. Diperintahkannya hambanya, juru kidung membaca untuknya. Dibawanya beberapa orang tua-tua untuk memperbincangkan isi kidung atau kakawin. Semuanya terjadi seperti yang diingininya. Tidak ada waktu-waktu yang direncanakannya untuk berbagai macam kepentingan itu. Meskipun ia sedang menyiapkan pertemuan bagi para pembantunya, tetapi tiba-tiba ia ingin mendengarkan ceritera yang disenanginya, maka dipanggilnya juru kidungnya. Dan dihabiskannya waktunya untuk mendengarkan ceritera-ceritera itu. Ketika orang-orang yang dipanggilnya hadir, maka ia tidak membicarakan sesuatu masalah apapun kecuali dibawanya orang-orang itu untuk membicarakan ceritera yang baru didengarnya.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa kehadirannya di istana itu memang belum menumbuhkan suasana yang baru. Tetapi ia sudah mempunyai beberapa rencana untuk itu. Ia ingin membuat Akuwu Tunggul Ametung berbeda dengan Akuwu itu sebelumnya. Namun setelah perkawinannya, justru Akuwu seolah-olah kehilangan segenap waktunya. Ia tenggelam dalam suasana perkawinannya untuk beberapa saat. Meskipun kini perlahan-lahan Akuwu telah kembali kedalam lingkungan pemerintahan, tetapi ia akan kembali seperti saat-saat yang pernah dijalaninya. Menurut kehendaknya yang meledak-ledak.

“Namun agaknya persoalan Kakang Mahisa Agni tidak menarik perhatiannya.“ pikir Ken Dedes. Tetapi ia masih berusaha, katanya, “Ampun Tuanku. Sekali ini hamba mohon dengan sangat, agar Tuanku sudi mendengarkannya.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar