Jajar yang gemuk itu menelan ludahnya. Ditenangkannya dadanya yang bergelora. Supaya ia tidak salah lidah, maka diaturnya kata demi kata sebaik-baiknya di dalam kepalanya.
“Katakanlah Jajar.” Permaisuri ternyata sudah tidak sabar lagi.
“Ampun Tuanku. Kebo Sindet itu memberikan suatu syarat, seperti juga Tuanku memberikan suatu syarat. Karena orang-orang Tumapel yang sudah dikenalnya adalah hamba, tetapi ini sama sekali bukan maksud hamba sendiri Tuanku, maka Kebo Sindet itu minta hambalah yang membawa uang tebusan itu. Selain itu Tuanku, Kebo Sindet mengharap, agar tidak terlalu banyak pengawalan. Jika demikian kepercayaan Kebo Sindet akan turun. Pengawalan prajurit atas barang-barang itu jangan lebih dari tiga orang termasuk hamba sendiri. Kemudian setelah itu, barulah kakanda Tuanku Mahisa Agni akan ditinggalkan ditempatnya.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tuntutan Kebo Sindet itu ternyata cukup berat. Ken Dedes telah mendengar bahwa Kebo Sindet adalah orang pilih tanding. Orang yang memiliki banyak kelebihan dari kebanyakan orang. Karena itu, hitungan yang dipesankan adalah hitungan yang terlampau berbahaya. Dua orang prajurit. Tetapi Ken Dedes tidak ingin membuat sesuatu keputusan. Ia akan menyampaikannya saja kepada Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah Akuwu Tunggul Ametunglah yang mengambil keputusan. Masih ada waktu sehari lagi besok.
Sejenak kemudian Permaisuri itu bertanya lagi, “Apakah Kebo Sindet sudah menentukan tempat penyerahan itu?”
Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Sudah Tuanku. Kebo Sindet mohon penyerahan itu dilakukan diujung jalan raya yang membelah kota ini, Tepat diperbatasan. Diluar gapura kota.”
Ken Dedes menarik nafas. Gapura itu terletak menjorok agak ketengah-tengah bulak. Adalah sulit bagi Akuwu Tunggul Ametung untuk menyiapkan pasukan yang tersembunyi. Meskipun demikian, hal inipun akan diserahkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Hal yang serupa itu, Akuwu pasti lebih memahaminya daripada dirinya. Tetapi bahwa Kebo Sindet telah bersedia memenuhi syarat yang diberikan oleh Akuwu Tunggul Ametung, dengan membawa Mahisa Agni sebagai syarat penyerahan itu, telah memberinya sedikit ketenteraman. Kemungkinan untuk membebaskan kakaknya itu dari tangan Kebo Sindet menjadi lebih besar. Karena itu, maka kini Permaisuri menjadi demikian tergesa-tergesa untuk bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak ingin bercengkerama di taman. Karena itu, maka segera ia berdiri dan berkata kepada emban-embannya,
“Aku akan kembali keistana.”
Para emban dapat merasakan, betapa kegelisahan yang sangat telah mencengkam dada Permaisuri itu. Ia hampir-hampir tidak sempat lagi memikirkan dirinya sendiri. Apalagi akhir-akhir ini. Segenap perasaan dan pikirannya terikat kepada persoalan kakaknya Mahisa Agni. Tetapi ketika Permaisuri itu baru saja melangkah, terdengar Jajar yang gemuk itu bertanya,
“Bagaimana Tuanku, apakah Tuanku bersedia?”
Ken Dedes termenung sejenak. Ia tidak dapat memutuskan sendiri. Ia harus bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung lebih dahulu.
“Besok aku beri tahukan itu kepadamu Jajar.”
“Ampun Tuanku. Hamba mendapat pesan, bahwa hari ini hamba harus mendapat keputusan. Kalau tidak, maka semua pembicaraan akan dianggap batal.”
Kening Permaisuri itu tampak berkerut. Ia tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Karena itu maka jawabnya tanpa memikirkan akibatnya, “Ya. Aku terima. Tetapi aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Kalau ternyata ada perubahan, maka aku akan memberitahukan kepadamu.”
“Tetapi hamba harus mendapat kepastian Tuanku.”
Sekali lagi Ken Dedes termangu-mangu Lalu katanya, “Ya, aku setujui.”
Jajar itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan hormatnya ia menyembah, “Hamba Tuanku. Hamba tinggal menyampaikan semua pesan dan kesanggupan Tuanku kepada Kebo Sindet itu.”
“Ya, katakanlah. Besok permintaan itu akan dipenuhi.”
“Hamba Tuanku. Besok pada saat matahari telah terbenam. Hendaklah Tuanku memerintahkan hamba untuk pergi bersama dua orang prajurit, untuk menyampaikan tebusan itu diluar gapura kota.”
“Ya.“ sahut Ken Dedes pendek.
Permaisuri itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan petamanan. Ia segera ingin menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menyampaikan hasil pembicaraan itu. Tetapi alangkah kecewa hati Permaisuri itu ketika ternyata Akuwu Tunggul Ametung baru berada dipaseban depan. Dihadap oleh beberapa tetua pemerintahan dan pemimpin prajurit. Karena itu maka Permaisuri itu masih harus menunggu sampai pembicaraan itu selesai. Dan dengan demikian maka ia harus berada didalam biliknya dalam kegelisahan yang sangat.
Sementara itu, Jajar gemuk yang masih tinggal di taman, hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya. Hampir-hampir ia benar-benar menjadi gila Ia merasa bahwa sampai saat ini rencananya berjalan lancar. Permaisuri yang gelisah itu dengan mudah dapat ditipunya. Kalau benar besok ia mendapat tugas untuk menyampaikan tebusan itu bersama hanya dua orang prajurit, maka semuanya akan berlangsung dengan mudahnya. Dua orang prajurit itu akan dibunuhnya bersama adik dan kawan-kawannya. Mayatnya akan ditinggalkan saja di gapura kota. Akuwu Tunggul Ametung pasti menyangka, bahwa Kebo Sindet telah berkhianat. Tetapi Kebo Sindet sendiri malam nanti harus sudah binasa bersama Kuda Sempana. Kebo Sindet harus sudah mati, sehingga tidak akan dapat mengganggu penyerahan besok. Jajar itu tersenyum-senyum sendiri. Kini ia yakin bahwa ia akan berhasil. Berhasil mendapatkan tebusan tiga pengadeg perhiasan seorang Permaisuri Akuwu yang kaya raya.
“Heh, nasibku akan segera berubah.” desisnya.
Ketika kemudian dua orang kawannya juru taman lewat disampingnya, ia sama sekali tidak mau berpaling. Ia merasa bahwa kedua orang itu sama sekali bukan sepadannya. Keduanya adalah orang-orang yang bernasib jelek untuk sepanjang hidupnya.
“Aku akan memiliki tanah yang luas, rumah yang besar dan kekayaan yang melimpah-limpah.” ia masih berangan, “hanya orang-orang yang bodoh yang bertahan pada nasibnya yang jelek. Hanya penakut yang malas yang sama sekali tidak berani dan tidak mau berbuat apa-apa, nasibnya akan selalu malang.”
Tiba-tiba, Jajar itu mengerutkan keningnya. Teringat olehnya usahanya untuk menghindari pertemuan dengan Kebo Sindet hari ini. Ia harus pulang sebelum waktunya. Kalau ia pulang terlambat, Kebo Sindet pasti akan menunggunya, atau mengawasi pintu regol dari kejauhan kemudian mengikutinya, dan mengejutkannya ditengah jalan.
“Sekarang akulah yang harus menentukan tempat pertemuan.” katanya di dalam hati, “aku harus pulang jauh sebelum waktunya. Aku akan menunggu kedua orang itu di rumah. Kalau mereka menunggu aku agak jauh di luar regol halaman ini, dan menjelang senja aku masih juga belum keluar, mereka pasti akan mencariku di rumah.”
Jajar itu segera membasahi dirinya. Ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Semakin cepat akan menjadi semakin baik. Ia akan pulang, jauh sebelum waktunya, sebelum Kebo Sindet dan Kuda Sempana menungguinya dari kejauhan. Tetapi Jajar itu tidak merasa perlu minta diri kepada kedua kawannya. Kini ia merasa bahwa kedua orang itu sudah bukan kawannya lagi. Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu untuk berbicara dengan mereka. Sejenak kemudian dengan tergesa-gesa Jajar itu berjalan meninggalkan taman. Masih jauh dari waktu yang seharusnya, Matahari baru sampai dipuncak langit. Dan panasnya serasa, menghunjam diubun-ubun. Tetapi Jajar itu sama sekali tak menghiraukannya. Ia melangkah semakin cepat. Dilaluinya jalan-jalan yang tidak pernah dilewatinya. Nyidat lewat halaman-halaman yang kosong, disela-sela rumpun-rumpun bambu liar. Kemudian meloncati parit dan pagar-pagar batu yang terlampau tinggi.
“Aku harus segera sampai ke rumah.” Geramnya, “sebelum setan alasan itu menyusulku. Kalau mereka tidak tahu, bahwa aku sudah pulang, maka mereka pasti menungguku sampai hari hampir gelap. Barulah mereka akan mencariku ke rumah. Sementara itu anak-anak gila itu telah bersiap menyergapnya dan menyeretnya ke lubang kubur.”
Jajar itu tertawa sendiri. Kakinya masih melangkah dengan cepatnya, melemparkan debu yang putih. Ketika Jajar itu sampai kerumahnya, maka ia mendapatkan kebanggaan baru kepada dirinya. Ia bangga bahwa perhitungannya kali ini ternyata benar. Kebo Sindet masih belum sempat, menungguinya dijalan-jalan atau dimana saja yang dihendakinya, karena Kebo Sindet selalu menganggap bahwa Jajar itu pulang pada saat matahari turun di Barat.
“Ia pasti akan datang ke rumah ini.” desis Jajar yang gemuk itu, “tetapi nanti setelah matahari turun. Ia kini pasti menunggu aku lebih dahulu, agak jauh di luar regol. Tetapi aku tidak akan muncul sampai matahari terbenam. Nah, sekarang orang berwajah mayat itu baru ia tahu, bahwa ia tidak dapat berbuat sekehendaknya atasku. Hari ini akulah yang menentukan tempat pertemuan.”
Tetapi meskipun demikian Jajar itu masih juga diganggu oleh kegelisahan. Kalau Kebo Sindet itu datang terlampau cepat sebelum anak-anak gila itu ada disekitar rumah ini, maka rencananya masih juga belum akan berjalan dengan baik.
“Kalau orang-orang itu datang terlampau cepat, aku berusaha menahannya dengan segala macam cara.“ katanya didalam hati, “mungkin aku dapat berpura-pura merebus air, atau baru mandi atau baru apa saja. Tetapi mudah-mudahan mereka datang setelah senja.”
Bagi Jajar yang sedang menunggu senja itu, terasa matahari berjalan terlampau malas. Waktu yang hanya setapak demi setapak maju itu terasa jauh lebih lama dari hari-hari biasa.
“Oh.“ Jajar itu mengeluh, “aku hampir mati karena menunggu-nunggu dan menunggu. Kali ini matahari sengaja mempermainkan aku. Setan alas.”
Tetapi betapa terasa lambannya, namun matahari semakin lama menjadi semakin rendah diujung Barat. Sinarnya menjadi semakin redup dan memerah seperti darah. Saat-saat yang bagi Jajar yang gemuk itu sangat mendebarkan. Sebentar lagi ia akan terlibat dalam suatu tindakan yang berbahaya dan menentukan. Namun taruhannya cukup besar. Nyawa atau tiga pengadeg perhiasan Permaisuri Akuwu Tumapel.
“Seberapa kekuatan kedua orang itu.” desisnya, “aku percaya kepada anak-anak muda itu. Berkelahi adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka bukan sekedar orang-orang liar yang tidak berarti. Tetapi mereka berguru pula untuk mempelajari ilmu berkelahi. Sembilan orang akan hadir di sini nanti, untuk membunuh yang dua orang itu. Meskipun keduanya bernyawa rangkap, tetapi keduanya tidak akan mampu melepaskan dirinya. Dua orang dari anak-anak muda itu mampu memecah batu dengan tangannya, sedang adikku mampu mematikan kesadaran seseorang dengan ketukan-ketukan pada tubuhnya.” Namun bagaimanapun juga, dada Jajar itu menjadi semakin berdebar-debar. Haripun semakin lama menjadi semakin suram, sejalan dengan dada Jajar yang gemuk itu, yang menjadi semakin berdentangan.
Dalam pada itu Kebo Sindet dan Kuda Sempana masih berdiri saja seperti patung didalam bayangan dedaunan yang rimbun agak jauh dari regol istana. Seperti dugaan Jajar yang gemuk, maka Kebo Sindet selalu mengawasi regol itu. Setiap kali ia melihat Jajar yang gemuk itu keluar dan memilih jalan, maka ia pun segera mendahuluinya dan menemuinya ditempat-tempat yang mereka kehendaki. Tetapi kali ini mereka telah terlampau lama menunggu, namun Jajar yang gemuk itu belum juga keluar dari halaman istana.
“Waktunya untuk pulang telah lama lampau.“ desis Kebo Sindet. Kuda Sempana tidak menjawab dan sama sekali tidak menggerakkan kepalanya. “Apakah ia dapat melepaskan diri dari pengawasanku?” Kebo Sindet meneruskan. Tetapi Kuda Sempana masih tetap berdiam diri.
“Orang yang bodoh itu tidak akan dapat lepas lagi dari tanganku.” geram Kebo Sindet, “mungkin ia akan mengkhianati aku. Tetapi itu tidak akan dapat terjadi. Aku akan mengejarnya sampai ke ujung bumi.“ Kebo Sindet berhenti sejenak lalu, “Kalau ia telah menerima tebusan itu dan berusaha melarikannya, maka ia akan mengalami nasib yang paling jelek dari mereka yang pernah menjadi korbanku.” Kuda Sempana masih tetap dalam kediamannya.
Kebo Sindetpun kemudian terdiam. Ia menyesal bahwa ia terlambat datang. Dan sekali lagi ia menggeram, “Jajar itu pasti pulang jauh sebelum waktunya, supaya ia sendiri yang dapat menentukan dimana kita akan bertemu. Baiklah kali ini aku mengalah. Aku akan datang ke rumahnya, menanyakan keputusan terakhir. Besok adalah hari yang terakhir menurut ketentuanku. Kalau besok persoalan ini masih belum selesai, mungkin aku akan mengambil keputusan yang akan sangat menyakitkan hati bagi Permaisuri yang kikir itu, atau bahkan mengejutkannya dan menyesalinya.”
Kali ini Kuda Sempana berpaling. Ia tahu benar, bahwa Kebo Sindet telah kehilangan sisa-sisa kesabarannya. Ia memelihara Mahisa Agni dengan harapan yang seolah-olah tidak akan dapat didapatkannya. Karena itu, ia akan merasa tidak berguna lagi untuk membiarkan Mahisa Agni hidup lebih lama lagi. Kuda Sempana sendiri tidak tahu, bagaimanakah tanggapan perasaannya atas persoalan itu. Ia tidak tahu, apakah ia bergembira apakah kecewa. Yang dapat dirasakannya adalah jantungnya berdebar semakin cepat.
“Kalau kali ini gagal, maka aku akan berbuat langsung menurut caraku.” Kebo. Sindet masih menggeram. Tetapi wajahnya yang beku masih tetap beku seperti mayat. “Apakah kau mengira bahwa Jajar itu masih berada di dalam taman?” bertanya Kebo Sindet kemudian.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. “Tidak.” jawabnya pendek.
“Ya, aku sependapat. Jajar itu pasti sudah pulang.” Kebo Sindet berdesis, “mari kita lihat kerumahnya. Kalau malam ini ia tidak pulang, itu berarti ia telah berkhianat. Ia telah menerima tebusan itu, tetapi tidak diserahkannya kepadaku, dan berusaha menghindarkan dirinya.“ Kebo Sindet berhenti sejenak. Lalu katanya, “Seandainya tidak, biarlah ia hari ini merasa menang karena aku mencarinya dirumahnya. Biarlah ia merasa menang dengan kemenangannya. Kesenangannya yang terakhir. Sebab umur Jajar itu pun tinggal sehari besok. Diserahkan atau tidak diserahkan tebusan itu, Jajar itu besok akan mati. Kalau ia menerima tebusan dan menyerahkannya kepadaku, ia akan mati supaya ia tidak terlampau banyak menuntut. Kalau ia gagal iapun akan mati pula, karena ia telah menelan waktuku sepekan ini.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jajar itupun bernasib jelek. Berhasil atau tidak berhasil, ia akan dibunuh oleh Kebo Sindet dengan alasan apapun. Tetapi hal itu sudah diduga pula oleh Kuda Sempana. Setiap orang yang tidak berguna lagi bagi Kebo Sindet setelah mereka mengadakan hubungan macam apapun, pasti akan dibunuhnya. Ia menyadari bahwa kelak akan sampai juga saatnya, ia sendiri, Kuda Sempana akan dibunuh juga oleh Kebo Sindet itu. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali sudah tidak menghiraukannya. Hidup baginya seolah-olah telah berhenti. Ia memang sudah mati dalam hidupnya. Sekali lagi Kuda Sempana berpaling ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata,
“Marilah kita pergi kerumah Jajar gila itu. Aku ingin melihat ia mengangkat dadanya atas kemenangannya kali ini, supaya aku besok puas mencekiknya.” Tetapi Kuda Sempana tidak menjawab. Ia berjalan saja di belakang Kebo Sindet yang melangkah pergi.
Jajar yang gemuk itu, yang menunggu Kebo Sindet di rumahnya, masih juga selalu dicengkam oleh kegelisahan. Sekali-sekali ia menjengukkan kepala keluar pintu. Sekali-sekali ia berjalan hilir mudik di halamannya. Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat disudut halaman rumah seberang, seorang anak muda duduk dibawah pohon yang rindang. Anak muda itu adalah adiknya. Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dilihatnya sinar-sinar merah dilangit menjadi semakin redup. Bayangan pepohonan menjadi semakin samar, karena sinar senja yang semakin suram.
“Anak-anak itu sudah ada disekitar halaman rumah ini.“ katanya di dalam hati. Jajar itu kemudian tersenyum sendiri. “Kasihan Kuda Sempana dan orang yang berwajah mayat itu. Mudah-mudahan nyawanya tidak menjadi hantu yang selalu menggangguku kelak.”
Jajar itu tertawa sendiri. Lambat, tetapi semakin lama menjadi semakin keras, sehingga suara ketawanya mengejutkannya sendiri. Ketika Jajar itu sadar akan dirinya, maka ketawanyapun segera berhenti. Ia masih harus menunggu Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaan yang besar ini. Kalau ia berhasil malam ini dengan lancar, maka besokpun mudah-mudahan akan lancar pula. Membinasakan prajurit-prajurit yang mengawalnya untuk menyerahkan perhiasan sebagai tebusan Mahisa Agni.
“Terpaksa.” gumam Jajar itu, “aku terpaksa mengorbankan beberapa orang. Malam ini Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Besok malam para prajurit Tumapel dan yang kemudian sekali pastilah Mahesa Agni sendiri. Kalau Kebo Sindet tidak kembali pada waktunya, maka orang-orang yang ditugaskannya menunggui Mahisa Agni pasti akan membunuhnya seperti pesan Kebo Sindet. Atau orang-orang itupun akan mengkhianatinya. Mereka akan berbuat sendiri, tanpa Kebo Sindet menghubungi permaisuri untuk mendapatkan tebusan. Tetapi mereka pasti akan menyesal, sebab begitu mereka dapat berhubungan dengan pihak istana, begitu mereka akan dimakan oleh ujung senjata.”
Jajar itu kemudian segera masuk kerumahnya. Tanpa sesadarnya terasa bulu-bulunya meremang. Pembunuhan yang tidak tanggung-tanggung. Kadang-kadang terbersit juga dikepalanya pertanyaan,
“Apakah korban yang berjatuhan itu seimbang dengan barang-barang yang diingini.”
Jajar itu berdesah. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menggeretakkan giginya. “Persetan korban korban yang berjatuhan itu. Bukan salahku. Aku hanya mengingini barang-barang itu. Mereka hanyalah sekedar korban akibat keadaan yang telah melibatkan mereka kedalam persoalan ini.”
Tetapi Jajar itupun tidak dapat duduk dengan tenang menunggu tamu-tamunya. Ia selalu saja gelisah dan cemas. Kadang-kadang ia mencemaskan dirinya sendiri, tetapi kemudian ia mencemaskan kedua orang yang ditunggu-tungguinya.
“Jangan-jangan mereka tidak mau datang kerumah ini.”
Jajar itu hampir terlonjak ketika ia mendengar pintu rumahnya yang belum tertutup rapat diketuk orang. Dengan tangkasnya ia meloncat kepintu dan ditariknya pintu leregannya kuat-kuat sehingga daun pintunya hampir-hampir meloncat lepas dari bingkainya.
“Setan alas.” Jajar itu mengumpat ketika yang dilihat berdiri dimuka pintu itu adalah adiknya, “kenapa kau.”
“Aku ingin memberitahukan bahwa kawan-kawan telah siap berada di sekitar halaman rumah ini.”
“Ya, ya aku sudah menyangka. Ketika kau duduk disekitar halaman depan.”
“Aku menunggu mereka saat itu.”
“Jadi mereka baru saja datang”.
“Ya baru saja.
“Gila.”
“Kenapa.”
“Kalian terlambat.”
“He.” adiknya terkejut, “aku disini sejak sore. Aku belum melihat seorangpun datang kerumah ini.”
“Memang, memang belum. Tetapi kalian ternyata datang terlampau lambat. Seandainya mereka datang beberapa saat yang lampau, maka semua rencana akan gagal.”
“Oh.“ adik Jajar yang gemuk itu menarik nafas, “seandainya. Hanya seandainya. Kau terlampau gelisah dan kecemasan. Jangan takut, kita akan menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik. Orang-orang itu hanya orang-orang yang besar mulutnya saja.”
“Jangan kau anggap bahwa kau sekarang sedang bermain-main.”
“Baiklah. Aku akan menganggap bahwa aku tidak sedang bermain-main. Aku akan menunggu bersama kawanku.”
“Pergilah supaya kau tidak mengganggu.”
Adik Jajar yang gemuk itu segera meninggalkan pintu rumah kakaknya hilang di dalam kegelapan. Jajar itu kini duduk lagi didalam kegelisahannya. Semakin lama ia menjadi semakin ragu-ragu, apakah Kebo Sindet dan Kuda Sempana akan benar-benar datang kerumah ini? Tetapi ternyata Jajar itu tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi ia meloncat kepintu ketika ia mendengar suara ketukan pada pintunya yang masih sedikit terbuka. Sekali lagi ia menarik pintu leregnya sehingga berderak-derak.
“Selamat malam Ki Sanak.“ terdengar suara berat dimuka pintu. Suara itu membuat dada Jajar itu berdesir. Terasa pengaruh yang aneh menjalari urat darahnya. “Apakah kau sudah tidur?“ suara itu terasa semakin memberat dipendengaran Jajar yang gemuk dan bermata sipit itu.
“Tidak, tidak. Eh, maksudku belum.“ Jajar itu tiba-tiba menjadi tergagap.
“Kalau belum kau pasti sudah kantuk sekali. Begitu?”
“Juga belum.“ perlahan-lahan ia berhasil menguasai perasaannya, “aku kira aku memang sedang menunggu kalian.”
“Terima kasih.“ sahut Kebo Sindet, “apakah aku datang terlampau lambat?”
“Ya, kau datang terlampau lambat.”
“Bukankah kemarin aku tidak menyebutkan waktu dan tempat. Aku akan menemui dimana saja dan kapan saja.”
Jajar itu tertegun sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum dan berkata, “Kau terpaksa datang kepadaku.”
“Ya, aku terpaksa datang kepadamu. Tetapi aku memang menghendaki demikian.”
“Bohong, kau memang tidak dapat berbuat sekehendakmu atasku. Kali ini akulah yang menentukan tempat dan waktu.”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun. Tetapi ia menjawab, “Aku ingin mendengar keputusan terakhir dari Permaisuri. Nah, katakanlah. Kau sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Besok semuanya harus sudah selesai. Aku tidak memerlukan tawar menawar lagi. Jawab yang harus aku dengar adalah, Ya atau tidak.”
Jajar itu tidak segera menjawab. Dadanya terasa berdebaran. Tetapi ketika diingatnya, bahwa disekeliling halaman rumahnya telah dikerumuni oleh anak-anak muda kawan-kawan adiknya, maka hatinya menjadi mekar. Bahkan ia kemudian mengangkat dadanya sambil menengadahkan wajahnya.
Katanya, “Kebo Sindet. Apakah benar-benar kau tidak menginginkan tawar menawar lagi?”
“Tidak.” jawab Kebo Sindet pendek.
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
Jajar yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini sikapnya menjadi berubah. Ia mengharap bahwa anak-anak muda itu telah berada dekat dengan rumahnya, untuk sebentar lagi berbuat sesuatu memancing persoalan dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Betapa dada Jajar itu berdesir apabila dilihatnya wajah yang beku, tetapi dengan sepasang mata yang membara, namun adiknya dan kawan-kawannya telah memberinya harapan.
“Bagaimana Ki Sanak. Apakah yang dikatakan oleh Permaisuri itu?”
Jajar itu tersenyum. Jawabnya, “Bagaimana aku harus mengatakannya? Kau hanya ingin mendengar jawaban, Ya atau tidak. Padahal ia sama sekali tidak berkata demikian.”
Tetapi mau tidak mau dada Jajar itupun menjadi berdebar-debar. Ia tidak melihat perubahan sikap dan wajah pada kedua orang tamu-tamunya. Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Kedua wajah itu seolah-seolah tehah mati membeku.
“Begitu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.
“Ya.” jawaban itu meloncat begitu saja dari mulutnya.
Kebo Sindet sejenak berdiam diri. Jajar itu melihat ia memiringkan kepalanya. Dan wajah yang beku itu mengangguki. Tiba-tiba terasa bulu-bulu Jajar itu meremang. Wajah yang beku itu masih membeku. Tetapi dari padanya terpancar sesuatu yang mengerikan, sehingga tanpa sesadarnya Jajar itu meraba kerisnya yang kecil yang disembunyikannya di bawah kain panjangnya. Dada Jajar itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Kebo Sindet berpaling kepada Kuda Sempana dan berkata,
“Kuda Sempana. Rupa-rupanya persoalan kita dengan juru taman ini sudah selesai. Aku tidak perlu menunggu sampai besok untuk menentukan sikap. Sejak saat ini aku dan Jajar yang gila ini sudah tidak mempunyai ikatan apa-apa. Bukankah begitu?”
Jajar itu mencoba menenangkan hatinya. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Bukan maksudku. Kaulah yang tidak mau mendengar pesan Permaisuri itu kepadaku. Kau hanya ingin mendengar jawab, Ya atau tidak. Padahal Permaisuri tidak berkata demikian”
Tetapi Kebo Sindet menggelengkan kepalanya, “Bukan itu. Aku dapat mengerti kalau kau memang berbuat dengan jujur. Bahwa kau hanya dapat menyampaikan pesanku dan pesan Permaisuri yang kikir itu. Tetapi bukan soal itu. Ada soal lain yang memaksa aku mengambil keputusan, bahwa hubungan kita putuskan sampai disini saja. Kini sudah tidak ada ikatan apapun lagi diantara kau dan aku.”
Jajar yang sedang berdebar-debar itu dengan sekuat tenaganya mencoba menenangkan hatinya. Setiap kali dibesarkannya hatinya dengan rencananya yang matang. Setiap kali ia mencoba berkata di dalam hatinya, “Anak-anak itu telah siap untuk berbuat.”
Tetapi yang meloncat dari mulutnya adalah suara tertawanya. Suara tertawa yang dipaksakannya. Diantara derai suara tertawanya ia berkata tersendat-sendat. “Kebo Sindet. Bukan aku yang mengundang kau kemari. Bukan aku yang minta kita saling berhubungan dalam soal ini. Kaulah yang datang sendiri. Sekarang kau ingin memutuskan hubungan ini, kenapa aku berkeberatan?”
“Sikapmu lain dengan sikapmu kemarin.”
“Itu adalah perkembangan persoalan yang terjadi di dalam diriku. Aku yang sekarang telah maju satu hari dari yang kemarin. Persoalan-persoalan di dalam dirikupun telah maju pula satu hari. Yang satu hari inilah memang yang telah merubah segenap sikap dan rencanaku.”
“Dan karena itulah maka kau mengundang kelinci-kelinci untuk membunuh dirinya.”
Kata-kata itu benar-benar mengejutkan hati Jajar yang gemuk itu. Terasa dentang jantungnya menjadi semakin keras dan darahnya menjadi semakin deras mengalir. Wajahnya menjadi merah seperti soga. Dengan gemetar ia bertanya,
“Apa maksudmu?”
“Aku mendengar desah nafas yang memburu disekitar rumah ini. Ayo, jangan berdiri dimuka pintu. Masuklah. Mungkin kalian ingin berkenalan dengan Kebo Sindet.”
Dada Jajar itu menjadi semakin berdebaran. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang ini mempunyai pendengaran yang sedemikian tajamnya. Ia sendiri, yang mengerti bahwa ada anak-anak muda disekitar rumahnya, sama sekali tidak mendengar suara apapun. Tetapi Kebo Sindet telah mendengar bahwa ada beberapa orang disekeliling rumahnya. Dengan demikian Jajar yang gemuk itu justru terdiam untuk sesaat. Ia menjadi seolah-seolah membeku ditempatnya. Dentang jantungnya terasa akan memecahkan dadanya.
“Ayo Ki Sanak yang baik. Panggillah orang-orang yang sedang mengintip diluar dinding. Barangkali semakin dekat akan semakin baik bagi mereka. Mereka dapat melihat dengan jelas, siapakah Kebo Sindet yang telah menyembunyikan Mahisa Agni. Apakah mereka, yang sedang bersembunyi disekitar rumah ini prajurit-prajurit Tumapel atau siapa saja bagiku tidak akan ada bedanya.”
“Katakanlah Jajar.” Permaisuri ternyata sudah tidak sabar lagi.
“Ampun Tuanku. Kebo Sindet itu memberikan suatu syarat, seperti juga Tuanku memberikan suatu syarat. Karena orang-orang Tumapel yang sudah dikenalnya adalah hamba, tetapi ini sama sekali bukan maksud hamba sendiri Tuanku, maka Kebo Sindet itu minta hambalah yang membawa uang tebusan itu. Selain itu Tuanku, Kebo Sindet mengharap, agar tidak terlalu banyak pengawalan. Jika demikian kepercayaan Kebo Sindet akan turun. Pengawalan prajurit atas barang-barang itu jangan lebih dari tiga orang termasuk hamba sendiri. Kemudian setelah itu, barulah kakanda Tuanku Mahisa Agni akan ditinggalkan ditempatnya.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tuntutan Kebo Sindet itu ternyata cukup berat. Ken Dedes telah mendengar bahwa Kebo Sindet adalah orang pilih tanding. Orang yang memiliki banyak kelebihan dari kebanyakan orang. Karena itu, hitungan yang dipesankan adalah hitungan yang terlampau berbahaya. Dua orang prajurit. Tetapi Ken Dedes tidak ingin membuat sesuatu keputusan. Ia akan menyampaikannya saja kepada Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah Akuwu Tunggul Ametunglah yang mengambil keputusan. Masih ada waktu sehari lagi besok.
Sejenak kemudian Permaisuri itu bertanya lagi, “Apakah Kebo Sindet sudah menentukan tempat penyerahan itu?”
Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Sudah Tuanku. Kebo Sindet mohon penyerahan itu dilakukan diujung jalan raya yang membelah kota ini, Tepat diperbatasan. Diluar gapura kota.”
Ken Dedes menarik nafas. Gapura itu terletak menjorok agak ketengah-tengah bulak. Adalah sulit bagi Akuwu Tunggul Ametung untuk menyiapkan pasukan yang tersembunyi. Meskipun demikian, hal inipun akan diserahkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Hal yang serupa itu, Akuwu pasti lebih memahaminya daripada dirinya. Tetapi bahwa Kebo Sindet telah bersedia memenuhi syarat yang diberikan oleh Akuwu Tunggul Ametung, dengan membawa Mahisa Agni sebagai syarat penyerahan itu, telah memberinya sedikit ketenteraman. Kemungkinan untuk membebaskan kakaknya itu dari tangan Kebo Sindet menjadi lebih besar. Karena itu, maka kini Permaisuri menjadi demikian tergesa-tergesa untuk bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak ingin bercengkerama di taman. Karena itu, maka segera ia berdiri dan berkata kepada emban-embannya,
“Aku akan kembali keistana.”
Para emban dapat merasakan, betapa kegelisahan yang sangat telah mencengkam dada Permaisuri itu. Ia hampir-hampir tidak sempat lagi memikirkan dirinya sendiri. Apalagi akhir-akhir ini. Segenap perasaan dan pikirannya terikat kepada persoalan kakaknya Mahisa Agni. Tetapi ketika Permaisuri itu baru saja melangkah, terdengar Jajar yang gemuk itu bertanya,
“Bagaimana Tuanku, apakah Tuanku bersedia?”
Ken Dedes termenung sejenak. Ia tidak dapat memutuskan sendiri. Ia harus bertemu dengan Akuwu Tunggul Ametung lebih dahulu.
“Besok aku beri tahukan itu kepadamu Jajar.”
“Ampun Tuanku. Hamba mendapat pesan, bahwa hari ini hamba harus mendapat keputusan. Kalau tidak, maka semua pembicaraan akan dianggap batal.”
Kening Permaisuri itu tampak berkerut. Ia tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Karena itu maka jawabnya tanpa memikirkan akibatnya, “Ya. Aku terima. Tetapi aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Kalau ternyata ada perubahan, maka aku akan memberitahukan kepadamu.”
“Tetapi hamba harus mendapat kepastian Tuanku.”
Sekali lagi Ken Dedes termangu-mangu Lalu katanya, “Ya, aku setujui.”
Jajar itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan hormatnya ia menyembah, “Hamba Tuanku. Hamba tinggal menyampaikan semua pesan dan kesanggupan Tuanku kepada Kebo Sindet itu.”
“Ya, katakanlah. Besok permintaan itu akan dipenuhi.”
“Hamba Tuanku. Besok pada saat matahari telah terbenam. Hendaklah Tuanku memerintahkan hamba untuk pergi bersama dua orang prajurit, untuk menyampaikan tebusan itu diluar gapura kota.”
“Ya.“ sahut Ken Dedes pendek.
Permaisuri itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan petamanan. Ia segera ingin menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menyampaikan hasil pembicaraan itu. Tetapi alangkah kecewa hati Permaisuri itu ketika ternyata Akuwu Tunggul Ametung baru berada dipaseban depan. Dihadap oleh beberapa tetua pemerintahan dan pemimpin prajurit. Karena itu maka Permaisuri itu masih harus menunggu sampai pembicaraan itu selesai. Dan dengan demikian maka ia harus berada didalam biliknya dalam kegelisahan yang sangat.
Sementara itu, Jajar gemuk yang masih tinggal di taman, hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya. Hampir-hampir ia benar-benar menjadi gila Ia merasa bahwa sampai saat ini rencananya berjalan lancar. Permaisuri yang gelisah itu dengan mudah dapat ditipunya. Kalau benar besok ia mendapat tugas untuk menyampaikan tebusan itu bersama hanya dua orang prajurit, maka semuanya akan berlangsung dengan mudahnya. Dua orang prajurit itu akan dibunuhnya bersama adik dan kawan-kawannya. Mayatnya akan ditinggalkan saja di gapura kota. Akuwu Tunggul Ametung pasti menyangka, bahwa Kebo Sindet telah berkhianat. Tetapi Kebo Sindet sendiri malam nanti harus sudah binasa bersama Kuda Sempana. Kebo Sindet harus sudah mati, sehingga tidak akan dapat mengganggu penyerahan besok. Jajar itu tersenyum-senyum sendiri. Kini ia yakin bahwa ia akan berhasil. Berhasil mendapatkan tebusan tiga pengadeg perhiasan seorang Permaisuri Akuwu yang kaya raya.
“Heh, nasibku akan segera berubah.” desisnya.
Ketika kemudian dua orang kawannya juru taman lewat disampingnya, ia sama sekali tidak mau berpaling. Ia merasa bahwa kedua orang itu sama sekali bukan sepadannya. Keduanya adalah orang-orang yang bernasib jelek untuk sepanjang hidupnya.
“Aku akan memiliki tanah yang luas, rumah yang besar dan kekayaan yang melimpah-limpah.” ia masih berangan, “hanya orang-orang yang bodoh yang bertahan pada nasibnya yang jelek. Hanya penakut yang malas yang sama sekali tidak berani dan tidak mau berbuat apa-apa, nasibnya akan selalu malang.”
Tiba-tiba, Jajar itu mengerutkan keningnya. Teringat olehnya usahanya untuk menghindari pertemuan dengan Kebo Sindet hari ini. Ia harus pulang sebelum waktunya. Kalau ia pulang terlambat, Kebo Sindet pasti akan menunggunya, atau mengawasi pintu regol dari kejauhan kemudian mengikutinya, dan mengejutkannya ditengah jalan.
“Sekarang akulah yang harus menentukan tempat pertemuan.” katanya di dalam hati, “aku harus pulang jauh sebelum waktunya. Aku akan menunggu kedua orang itu di rumah. Kalau mereka menunggu aku agak jauh di luar regol halaman ini, dan menjelang senja aku masih juga belum keluar, mereka pasti akan mencariku di rumah.”
Jajar itu segera membasahi dirinya. Ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Semakin cepat akan menjadi semakin baik. Ia akan pulang, jauh sebelum waktunya, sebelum Kebo Sindet dan Kuda Sempana menungguinya dari kejauhan. Tetapi Jajar itu tidak merasa perlu minta diri kepada kedua kawannya. Kini ia merasa bahwa kedua orang itu sudah bukan kawannya lagi. Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu untuk berbicara dengan mereka. Sejenak kemudian dengan tergesa-gesa Jajar itu berjalan meninggalkan taman. Masih jauh dari waktu yang seharusnya, Matahari baru sampai dipuncak langit. Dan panasnya serasa, menghunjam diubun-ubun. Tetapi Jajar itu sama sekali tak menghiraukannya. Ia melangkah semakin cepat. Dilaluinya jalan-jalan yang tidak pernah dilewatinya. Nyidat lewat halaman-halaman yang kosong, disela-sela rumpun-rumpun bambu liar. Kemudian meloncati parit dan pagar-pagar batu yang terlampau tinggi.
“Aku harus segera sampai ke rumah.” Geramnya, “sebelum setan alasan itu menyusulku. Kalau mereka tidak tahu, bahwa aku sudah pulang, maka mereka pasti menungguku sampai hari hampir gelap. Barulah mereka akan mencariku ke rumah. Sementara itu anak-anak gila itu telah bersiap menyergapnya dan menyeretnya ke lubang kubur.”
Jajar itu tertawa sendiri. Kakinya masih melangkah dengan cepatnya, melemparkan debu yang putih. Ketika Jajar itu sampai kerumahnya, maka ia mendapatkan kebanggaan baru kepada dirinya. Ia bangga bahwa perhitungannya kali ini ternyata benar. Kebo Sindet masih belum sempat, menungguinya dijalan-jalan atau dimana saja yang dihendakinya, karena Kebo Sindet selalu menganggap bahwa Jajar itu pulang pada saat matahari turun di Barat.
“Ia pasti akan datang ke rumah ini.” desis Jajar yang gemuk itu, “tetapi nanti setelah matahari turun. Ia kini pasti menunggu aku lebih dahulu, agak jauh di luar regol. Tetapi aku tidak akan muncul sampai matahari terbenam. Nah, sekarang orang berwajah mayat itu baru ia tahu, bahwa ia tidak dapat berbuat sekehendaknya atasku. Hari ini akulah yang menentukan tempat pertemuan.”
Tetapi meskipun demikian Jajar itu masih juga diganggu oleh kegelisahan. Kalau Kebo Sindet itu datang terlampau cepat sebelum anak-anak gila itu ada disekitar rumah ini, maka rencananya masih juga belum akan berjalan dengan baik.
“Kalau orang-orang itu datang terlampau cepat, aku berusaha menahannya dengan segala macam cara.“ katanya didalam hati, “mungkin aku dapat berpura-pura merebus air, atau baru mandi atau baru apa saja. Tetapi mudah-mudahan mereka datang setelah senja.”
Bagi Jajar yang sedang menunggu senja itu, terasa matahari berjalan terlampau malas. Waktu yang hanya setapak demi setapak maju itu terasa jauh lebih lama dari hari-hari biasa.
“Oh.“ Jajar itu mengeluh, “aku hampir mati karena menunggu-nunggu dan menunggu. Kali ini matahari sengaja mempermainkan aku. Setan alas.”
Tetapi betapa terasa lambannya, namun matahari semakin lama menjadi semakin rendah diujung Barat. Sinarnya menjadi semakin redup dan memerah seperti darah. Saat-saat yang bagi Jajar yang gemuk itu sangat mendebarkan. Sebentar lagi ia akan terlibat dalam suatu tindakan yang berbahaya dan menentukan. Namun taruhannya cukup besar. Nyawa atau tiga pengadeg perhiasan Permaisuri Akuwu Tumapel.
“Seberapa kekuatan kedua orang itu.” desisnya, “aku percaya kepada anak-anak muda itu. Berkelahi adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka bukan sekedar orang-orang liar yang tidak berarti. Tetapi mereka berguru pula untuk mempelajari ilmu berkelahi. Sembilan orang akan hadir di sini nanti, untuk membunuh yang dua orang itu. Meskipun keduanya bernyawa rangkap, tetapi keduanya tidak akan mampu melepaskan dirinya. Dua orang dari anak-anak muda itu mampu memecah batu dengan tangannya, sedang adikku mampu mematikan kesadaran seseorang dengan ketukan-ketukan pada tubuhnya.” Namun bagaimanapun juga, dada Jajar itu menjadi semakin berdebar-debar. Haripun semakin lama menjadi semakin suram, sejalan dengan dada Jajar yang gemuk itu, yang menjadi semakin berdentangan.
Dalam pada itu Kebo Sindet dan Kuda Sempana masih berdiri saja seperti patung didalam bayangan dedaunan yang rimbun agak jauh dari regol istana. Seperti dugaan Jajar yang gemuk, maka Kebo Sindet selalu mengawasi regol itu. Setiap kali ia melihat Jajar yang gemuk itu keluar dan memilih jalan, maka ia pun segera mendahuluinya dan menemuinya ditempat-tempat yang mereka kehendaki. Tetapi kali ini mereka telah terlampau lama menunggu, namun Jajar yang gemuk itu belum juga keluar dari halaman istana.
“Waktunya untuk pulang telah lama lampau.“ desis Kebo Sindet. Kuda Sempana tidak menjawab dan sama sekali tidak menggerakkan kepalanya. “Apakah ia dapat melepaskan diri dari pengawasanku?” Kebo Sindet meneruskan. Tetapi Kuda Sempana masih tetap berdiam diri.
“Orang yang bodoh itu tidak akan dapat lepas lagi dari tanganku.” geram Kebo Sindet, “mungkin ia akan mengkhianati aku. Tetapi itu tidak akan dapat terjadi. Aku akan mengejarnya sampai ke ujung bumi.“ Kebo Sindet berhenti sejenak lalu, “Kalau ia telah menerima tebusan itu dan berusaha melarikannya, maka ia akan mengalami nasib yang paling jelek dari mereka yang pernah menjadi korbanku.” Kuda Sempana masih tetap dalam kediamannya.
Kebo Sindetpun kemudian terdiam. Ia menyesal bahwa ia terlambat datang. Dan sekali lagi ia menggeram, “Jajar itu pasti pulang jauh sebelum waktunya, supaya ia sendiri yang dapat menentukan dimana kita akan bertemu. Baiklah kali ini aku mengalah. Aku akan datang ke rumahnya, menanyakan keputusan terakhir. Besok adalah hari yang terakhir menurut ketentuanku. Kalau besok persoalan ini masih belum selesai, mungkin aku akan mengambil keputusan yang akan sangat menyakitkan hati bagi Permaisuri yang kikir itu, atau bahkan mengejutkannya dan menyesalinya.”
Kali ini Kuda Sempana berpaling. Ia tahu benar, bahwa Kebo Sindet telah kehilangan sisa-sisa kesabarannya. Ia memelihara Mahisa Agni dengan harapan yang seolah-olah tidak akan dapat didapatkannya. Karena itu, ia akan merasa tidak berguna lagi untuk membiarkan Mahisa Agni hidup lebih lama lagi. Kuda Sempana sendiri tidak tahu, bagaimanakah tanggapan perasaannya atas persoalan itu. Ia tidak tahu, apakah ia bergembira apakah kecewa. Yang dapat dirasakannya adalah jantungnya berdebar semakin cepat.
“Kalau kali ini gagal, maka aku akan berbuat langsung menurut caraku.” Kebo. Sindet masih menggeram. Tetapi wajahnya yang beku masih tetap beku seperti mayat. “Apakah kau mengira bahwa Jajar itu masih berada di dalam taman?” bertanya Kebo Sindet kemudian.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. “Tidak.” jawabnya pendek.
“Ya, aku sependapat. Jajar itu pasti sudah pulang.” Kebo Sindet berdesis, “mari kita lihat kerumahnya. Kalau malam ini ia tidak pulang, itu berarti ia telah berkhianat. Ia telah menerima tebusan itu, tetapi tidak diserahkannya kepadaku, dan berusaha menghindarkan dirinya.“ Kebo Sindet berhenti sejenak. Lalu katanya, “Seandainya tidak, biarlah ia hari ini merasa menang karena aku mencarinya dirumahnya. Biarlah ia merasa menang dengan kemenangannya. Kesenangannya yang terakhir. Sebab umur Jajar itu pun tinggal sehari besok. Diserahkan atau tidak diserahkan tebusan itu, Jajar itu besok akan mati. Kalau ia menerima tebusan dan menyerahkannya kepadaku, ia akan mati supaya ia tidak terlampau banyak menuntut. Kalau ia gagal iapun akan mati pula, karena ia telah menelan waktuku sepekan ini.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jajar itupun bernasib jelek. Berhasil atau tidak berhasil, ia akan dibunuh oleh Kebo Sindet dengan alasan apapun. Tetapi hal itu sudah diduga pula oleh Kuda Sempana. Setiap orang yang tidak berguna lagi bagi Kebo Sindet setelah mereka mengadakan hubungan macam apapun, pasti akan dibunuhnya. Ia menyadari bahwa kelak akan sampai juga saatnya, ia sendiri, Kuda Sempana akan dibunuh juga oleh Kebo Sindet itu. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali sudah tidak menghiraukannya. Hidup baginya seolah-olah telah berhenti. Ia memang sudah mati dalam hidupnya. Sekali lagi Kuda Sempana berpaling ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata,
“Marilah kita pergi kerumah Jajar gila itu. Aku ingin melihat ia mengangkat dadanya atas kemenangannya kali ini, supaya aku besok puas mencekiknya.” Tetapi Kuda Sempana tidak menjawab. Ia berjalan saja di belakang Kebo Sindet yang melangkah pergi.
Jajar yang gemuk itu, yang menunggu Kebo Sindet di rumahnya, masih juga selalu dicengkam oleh kegelisahan. Sekali-sekali ia menjengukkan kepala keluar pintu. Sekali-sekali ia berjalan hilir mudik di halamannya. Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat disudut halaman rumah seberang, seorang anak muda duduk dibawah pohon yang rindang. Anak muda itu adalah adiknya. Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dilihatnya sinar-sinar merah dilangit menjadi semakin redup. Bayangan pepohonan menjadi semakin samar, karena sinar senja yang semakin suram.
“Anak-anak itu sudah ada disekitar halaman rumah ini.“ katanya di dalam hati. Jajar itu kemudian tersenyum sendiri. “Kasihan Kuda Sempana dan orang yang berwajah mayat itu. Mudah-mudahan nyawanya tidak menjadi hantu yang selalu menggangguku kelak.”
Jajar itu tertawa sendiri. Lambat, tetapi semakin lama menjadi semakin keras, sehingga suara ketawanya mengejutkannya sendiri. Ketika Jajar itu sadar akan dirinya, maka ketawanyapun segera berhenti. Ia masih harus menunggu Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaan yang besar ini. Kalau ia berhasil malam ini dengan lancar, maka besokpun mudah-mudahan akan lancar pula. Membinasakan prajurit-prajurit yang mengawalnya untuk menyerahkan perhiasan sebagai tebusan Mahisa Agni.
“Terpaksa.” gumam Jajar itu, “aku terpaksa mengorbankan beberapa orang. Malam ini Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Besok malam para prajurit Tumapel dan yang kemudian sekali pastilah Mahesa Agni sendiri. Kalau Kebo Sindet tidak kembali pada waktunya, maka orang-orang yang ditugaskannya menunggui Mahisa Agni pasti akan membunuhnya seperti pesan Kebo Sindet. Atau orang-orang itupun akan mengkhianatinya. Mereka akan berbuat sendiri, tanpa Kebo Sindet menghubungi permaisuri untuk mendapatkan tebusan. Tetapi mereka pasti akan menyesal, sebab begitu mereka dapat berhubungan dengan pihak istana, begitu mereka akan dimakan oleh ujung senjata.”
Jajar itu kemudian segera masuk kerumahnya. Tanpa sesadarnya terasa bulu-bulunya meremang. Pembunuhan yang tidak tanggung-tanggung. Kadang-kadang terbersit juga dikepalanya pertanyaan,
“Apakah korban yang berjatuhan itu seimbang dengan barang-barang yang diingini.”
Jajar itu berdesah. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menggeretakkan giginya. “Persetan korban korban yang berjatuhan itu. Bukan salahku. Aku hanya mengingini barang-barang itu. Mereka hanyalah sekedar korban akibat keadaan yang telah melibatkan mereka kedalam persoalan ini.”
Tetapi Jajar itupun tidak dapat duduk dengan tenang menunggu tamu-tamunya. Ia selalu saja gelisah dan cemas. Kadang-kadang ia mencemaskan dirinya sendiri, tetapi kemudian ia mencemaskan kedua orang yang ditunggu-tungguinya.
“Jangan-jangan mereka tidak mau datang kerumah ini.”
Jajar itu hampir terlonjak ketika ia mendengar pintu rumahnya yang belum tertutup rapat diketuk orang. Dengan tangkasnya ia meloncat kepintu dan ditariknya pintu leregannya kuat-kuat sehingga daun pintunya hampir-hampir meloncat lepas dari bingkainya.
“Setan alas.” Jajar itu mengumpat ketika yang dilihat berdiri dimuka pintu itu adalah adiknya, “kenapa kau.”
“Aku ingin memberitahukan bahwa kawan-kawan telah siap berada di sekitar halaman rumah ini.”
“Ya, ya aku sudah menyangka. Ketika kau duduk disekitar halaman depan.”
“Aku menunggu mereka saat itu.”
“Jadi mereka baru saja datang”.
“Ya baru saja.
“Gila.”
“Kenapa.”
“Kalian terlambat.”
“He.” adiknya terkejut, “aku disini sejak sore. Aku belum melihat seorangpun datang kerumah ini.”
“Memang, memang belum. Tetapi kalian ternyata datang terlampau lambat. Seandainya mereka datang beberapa saat yang lampau, maka semua rencana akan gagal.”
“Oh.“ adik Jajar yang gemuk itu menarik nafas, “seandainya. Hanya seandainya. Kau terlampau gelisah dan kecemasan. Jangan takut, kita akan menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik. Orang-orang itu hanya orang-orang yang besar mulutnya saja.”
“Jangan kau anggap bahwa kau sekarang sedang bermain-main.”
“Baiklah. Aku akan menganggap bahwa aku tidak sedang bermain-main. Aku akan menunggu bersama kawanku.”
“Pergilah supaya kau tidak mengganggu.”
Adik Jajar yang gemuk itu segera meninggalkan pintu rumah kakaknya hilang di dalam kegelapan. Jajar itu kini duduk lagi didalam kegelisahannya. Semakin lama ia menjadi semakin ragu-ragu, apakah Kebo Sindet dan Kuda Sempana akan benar-benar datang kerumah ini? Tetapi ternyata Jajar itu tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi ia meloncat kepintu ketika ia mendengar suara ketukan pada pintunya yang masih sedikit terbuka. Sekali lagi ia menarik pintu leregnya sehingga berderak-derak.
“Selamat malam Ki Sanak.“ terdengar suara berat dimuka pintu. Suara itu membuat dada Jajar itu berdesir. Terasa pengaruh yang aneh menjalari urat darahnya. “Apakah kau sudah tidur?“ suara itu terasa semakin memberat dipendengaran Jajar yang gemuk dan bermata sipit itu.
“Tidak, tidak. Eh, maksudku belum.“ Jajar itu tiba-tiba menjadi tergagap.
“Kalau belum kau pasti sudah kantuk sekali. Begitu?”
“Juga belum.“ perlahan-lahan ia berhasil menguasai perasaannya, “aku kira aku memang sedang menunggu kalian.”
“Terima kasih.“ sahut Kebo Sindet, “apakah aku datang terlampau lambat?”
“Ya, kau datang terlampau lambat.”
“Bukankah kemarin aku tidak menyebutkan waktu dan tempat. Aku akan menemui dimana saja dan kapan saja.”
Jajar itu tertegun sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum dan berkata, “Kau terpaksa datang kepadaku.”
“Ya, aku terpaksa datang kepadamu. Tetapi aku memang menghendaki demikian.”
“Bohong, kau memang tidak dapat berbuat sekehendakmu atasku. Kali ini akulah yang menentukan tempat dan waktu.”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu sama sekali tidak menunjukkan sikap apapun. Tetapi ia menjawab, “Aku ingin mendengar keputusan terakhir dari Permaisuri. Nah, katakanlah. Kau sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Besok semuanya harus sudah selesai. Aku tidak memerlukan tawar menawar lagi. Jawab yang harus aku dengar adalah, Ya atau tidak.”
Jajar itu tidak segera menjawab. Dadanya terasa berdebaran. Tetapi ketika diingatnya, bahwa disekeliling halaman rumahnya telah dikerumuni oleh anak-anak muda kawan-kawan adiknya, maka hatinya menjadi mekar. Bahkan ia kemudian mengangkat dadanya sambil menengadahkan wajahnya.
Katanya, “Kebo Sindet. Apakah benar-benar kau tidak menginginkan tawar menawar lagi?”
“Tidak.” jawab Kebo Sindet pendek.
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
Jajar yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini sikapnya menjadi berubah. Ia mengharap bahwa anak-anak muda itu telah berada dekat dengan rumahnya, untuk sebentar lagi berbuat sesuatu memancing persoalan dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Betapa dada Jajar itu berdesir apabila dilihatnya wajah yang beku, tetapi dengan sepasang mata yang membara, namun adiknya dan kawan-kawannya telah memberinya harapan.
“Bagaimana Ki Sanak. Apakah yang dikatakan oleh Permaisuri itu?”
Jajar itu tersenyum. Jawabnya, “Bagaimana aku harus mengatakannya? Kau hanya ingin mendengar jawaban, Ya atau tidak. Padahal ia sama sekali tidak berkata demikian.”
Tetapi mau tidak mau dada Jajar itupun menjadi berdebar-debar. Ia tidak melihat perubahan sikap dan wajah pada kedua orang tamu-tamunya. Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Kedua wajah itu seolah-seolah tehah mati membeku.
“Begitu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.
“Ya.” jawaban itu meloncat begitu saja dari mulutnya.
Kebo Sindet sejenak berdiam diri. Jajar itu melihat ia memiringkan kepalanya. Dan wajah yang beku itu mengangguki. Tiba-tiba terasa bulu-bulu Jajar itu meremang. Wajah yang beku itu masih membeku. Tetapi dari padanya terpancar sesuatu yang mengerikan, sehingga tanpa sesadarnya Jajar itu meraba kerisnya yang kecil yang disembunyikannya di bawah kain panjangnya. Dada Jajar itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Kebo Sindet berpaling kepada Kuda Sempana dan berkata,
“Kuda Sempana. Rupa-rupanya persoalan kita dengan juru taman ini sudah selesai. Aku tidak perlu menunggu sampai besok untuk menentukan sikap. Sejak saat ini aku dan Jajar yang gila ini sudah tidak mempunyai ikatan apa-apa. Bukankah begitu?”
Jajar itu mencoba menenangkan hatinya. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Bukan maksudku. Kaulah yang tidak mau mendengar pesan Permaisuri itu kepadaku. Kau hanya ingin mendengar jawab, Ya atau tidak. Padahal Permaisuri tidak berkata demikian”
Tetapi Kebo Sindet menggelengkan kepalanya, “Bukan itu. Aku dapat mengerti kalau kau memang berbuat dengan jujur. Bahwa kau hanya dapat menyampaikan pesanku dan pesan Permaisuri yang kikir itu. Tetapi bukan soal itu. Ada soal lain yang memaksa aku mengambil keputusan, bahwa hubungan kita putuskan sampai disini saja. Kini sudah tidak ada ikatan apapun lagi diantara kau dan aku.”
Jajar yang sedang berdebar-debar itu dengan sekuat tenaganya mencoba menenangkan hatinya. Setiap kali dibesarkannya hatinya dengan rencananya yang matang. Setiap kali ia mencoba berkata di dalam hatinya, “Anak-anak itu telah siap untuk berbuat.”
Tetapi yang meloncat dari mulutnya adalah suara tertawanya. Suara tertawa yang dipaksakannya. Diantara derai suara tertawanya ia berkata tersendat-sendat. “Kebo Sindet. Bukan aku yang mengundang kau kemari. Bukan aku yang minta kita saling berhubungan dalam soal ini. Kaulah yang datang sendiri. Sekarang kau ingin memutuskan hubungan ini, kenapa aku berkeberatan?”
“Sikapmu lain dengan sikapmu kemarin.”
“Itu adalah perkembangan persoalan yang terjadi di dalam diriku. Aku yang sekarang telah maju satu hari dari yang kemarin. Persoalan-persoalan di dalam dirikupun telah maju pula satu hari. Yang satu hari inilah memang yang telah merubah segenap sikap dan rencanaku.”
“Dan karena itulah maka kau mengundang kelinci-kelinci untuk membunuh dirinya.”
Kata-kata itu benar-benar mengejutkan hati Jajar yang gemuk itu. Terasa dentang jantungnya menjadi semakin keras dan darahnya menjadi semakin deras mengalir. Wajahnya menjadi merah seperti soga. Dengan gemetar ia bertanya,
“Apa maksudmu?”
“Aku mendengar desah nafas yang memburu disekitar rumah ini. Ayo, jangan berdiri dimuka pintu. Masuklah. Mungkin kalian ingin berkenalan dengan Kebo Sindet.”
Dada Jajar itu menjadi semakin berdebaran. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang ini mempunyai pendengaran yang sedemikian tajamnya. Ia sendiri, yang mengerti bahwa ada anak-anak muda disekitar rumahnya, sama sekali tidak mendengar suara apapun. Tetapi Kebo Sindet telah mendengar bahwa ada beberapa orang disekeliling rumahnya. Dengan demikian Jajar yang gemuk itu justru terdiam untuk sesaat. Ia menjadi seolah-seolah membeku ditempatnya. Dentang jantungnya terasa akan memecahkan dadanya.
“Ayo Ki Sanak yang baik. Panggillah orang-orang yang sedang mengintip diluar dinding. Barangkali semakin dekat akan semakin baik bagi mereka. Mereka dapat melihat dengan jelas, siapakah Kebo Sindet yang telah menyembunyikan Mahisa Agni. Apakah mereka, yang sedang bersembunyi disekitar rumah ini prajurit-prajurit Tumapel atau siapa saja bagiku tidak akan ada bedanya.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar