MENU

Ads

Selasa, 07 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 173

Jajar yang gemuk itu masih mematung. Bahkan matanya seolah-olah tidak berkedip. Dengan sekuat tenaganya ia berjuang untuk menguasai perasaan sendiri. Dalam pada itu yang terdengar adalah suara tertawa diluar pintu. Hanya perlahan-lahan saja, tetapi sangat menyakitkan hati.

Kebo Sindet dan Kuda Sempana serentak berpaling. Suara tertawa itu benar-benar telah menyinggung perasaan mereka. Apalagi Kebo Sindet yang berhati batu itu. Lamat-lamat mereka melihat sebuah bayangan berdiri diluar pintu. Seorang anak muda yang bertolak pinggang.

“Inikah orang yang bernama Kebo Sindet dan Kuda Sempana.“ desisnya.

Mata Kebo Sindet yang tajam itu segera melihat orang yang tertawa itu. Melihat segala lekuk didalam tubuhnya, dan lebih dari itu ia dapat melihat bahwa anak muda itu adalah anak muda yang kasar dan bengis.

“Siapa kau?“ bertanya Kebo Sindet dengan nada datar.

Anak muda itu salah seorang dari pemimpin-pemimpin anak-anak muda yang liar itu melangkah maju. Kini ia berdiri tepat di muka pintu sehingga bentuk wajahnya menjadi semakin jelas.

“Ternyata kalian bukan prajurit-prajurit Tumapel.” desis Kebo Sindet.

“Ya, kami memang bukan prajurit-prajurit Tumapel. Kami adalah anak-anak muda yang mengagumi nama Kebo Sindet. Kali ini kami ingin melihat orangnya dari dekat bersama Kuda Sempana.”

“Marilah.“ jawab Kebo Sindet,…… kalau kau ingin melihat Kebo Sindet dari dekat. Mendekatlah jangan takut. Aku tidak akan segera menggigit.”

Anak muda yang berdiri dimuka pintu itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian sekali lagi terdengar suara tertawanya yang menyakitkan hati, “Aku kira kau memang tidak akan dapat menggigit. Aku kira gigimu tidak cukup tajam untuk membuat luka pada kulit kami.”

Kuda Sempana yang acuh tak acuh itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya. Dipandanginya anak muda yang masih berdiri dimuka pintu itu. Tersirat pada wajah itu sifat-sifatnya yang kasar dan liar. Ketika kemudian ia memandang wajah Kebo Sindet, maka Kuda Sempana itu mengerutkan keningnya. Ternyata wajah Kebo Sindet masih juga membeku.

Tetapi kebekuan wajah Kebo Sindet itu telah membuat hati Jajar yang gemuk menjadi semakin berdebar-debar. Wajah itu benar-benar tidak melontarkan kesan apapun meskipun ia telah melihat seseorang berdiri di muka pintu. Bahkan wajah itu seolah-olah acuh tak acuh saja atas apa yang dihadapinya. Ketika debar jantung Jajar itu menjadi semakin keras, kegelisahan yang semakin memuncak justru karena kediaman Kebo Sindet, maka untuk melepaskan diri dari ketegangan didalam dirinya itu, maka Jajar yang gemuk itupun berteriak.

“He, Kebo Sindet nasibmu ternyata tidak sebaik yang kau sangka. Kau mengira bahwa kau dapat berbuat sekehendak hatimu atasku? Kau salah. Aku ternyata mempunyai rencana sendiri. Aku telah menentukan bahwa tebusan itu harus jatuh ditanganku. Kalau kau menolak berbicara tentang hal itu selain jawab, Ya atau tidak, maka kau pasti akan menyesal. Sebab aku telah mengambil alih semua persoalan. Besok seseorang akan menamakan dirinya Kebo Sindet dan menerima tebusan itu sepenuhnya. Seorang yang lain di dalam gelap malam akan menjadi Mahisa Agni. Perjanjian dengan Permaisuri telah siap. Tebusan itu diberikan dan Kebo Sindet akan membawa Mahisa Agni untuk diserahkan. Tetapi orang-orang Tumapel itu tidak akan sempat menyadari apa yang terjadi, sebab mereka akan binasa seperti kau berdua malam ini. Kau dan Kuda Sempana terpaksa aku bunuh bersama-sama. Supaya akulah kelak yang akan menerima tebusan itu.”

Tetapi dada Jajar itu menjadi semakin tegang. Ia tidak melihat Kebo Sindet menjadi terkejut atau marah atau apapun. Wajahnya masih saja sebeku wajah mayat. Tetapi matanya menjadi seolah-olah berbahaya. Itulah satu-satunya perubahan yang menyatakan perasaannya. Tetapi kesan yang didapatnya terlampau sulit. Tanpa disangka-sangka, maka Kebo Sindet itupun berkata perlahan-lahan,

“Tetapi bagaimana dengan nasib Mahisa Agni sendiri? Ia akan binasa ditempat persembunyiannya. Kalau aku tidak kembali pada saatnya, maka orang-orangku akan membunuhnya.”

“Itu bukan urusanku?” teriak Jajar itu untuk mengetahui detak jantungnya. Tetapi dengan pertanyaan itu, maka Jajar yang gemuk itu melihat sesuatu yang membuatnya sedikit berbesar hati. Masih dengan suara lantang ia meneruskan, “Nah, kau mulai merasa takut. Kau akan menipu kami dengan licik. Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk membunuhmu sebab sebenarnya kami tidak ada sangkut paut apa-apa dengan anak itu. Matilah kalau Mahisa Agni akan mati.”

Mata Kebo Sindet yang menyala itu seolah-olah menjadi semakin membara. Tiba-tiba orang itu menggeram, “Ternyata kau lebih jahat dari setiap penjahat yang aku kenal.”

“Apakah kau sendiri tidak sedang merencanakan kejahatan?“ jawab Jajar yang gemuk itu.

“Ya, aku memang sedang merencanakan kejahatan. Tetapi tidak dengan licik dan pengecut.”

“Setiap rencana kejahatan adalah licik dan pengecut. Sebab rencana itu pasti disembunyikan dan tidak beradu dada, seperti kau menyembunyikan Mahisa Agni.”



Kebo Sindet terdiam. Ia masih belum bergeser dari tempatnya. Tetapi matanya yang tajam melihat beberapa bayangan bergerak didalam kegelapan. “Aku kira aku sudah tidak dapat menghindar lagi.“ desisnya.

Jajar itu tertawa. Hampir berbareng anak muda yang berdiri didepan pintu itupun tertawa pula. “Memang.“ desis anak muda itu, “kau sudah tidak akan dapat menghindar lagi.”

“Baik.” jawab Kebo Sindet. Wajahnya masih tetap dalam kebekuannya. Dan itu sangat menyakitkan hati, “aku akan melayani kalian. Berapa orang semuanya?” Anak muda yang berdiri didekat pintu mengerutkan keningnya. Dan ia melihat Kebo Sindet kemudian melangkah dengan tenangnya perlahan-lahan dengan acuh tak acuh kehalaman rumah itu sambil berkata, “Disini kita akan bermain-main.”

Perbuatan Kebo Sindet itu ternyata telah rnencengkam perasaan mereka. Jajar yang gemuk, anak-anak muda yang ganas dan liar, seolah-olah mereka melihat seorang Senopati yang berwibawa lewat dihadapan mereka. Karena itu maka sejenak mereka berdiri saja mematung sambil memandangi langkah satu-satu Kebo Sindet, diikuti oleh Kuda Sempana yang tidak kalah tenangnya. Anak muda itupun agaknya acuh tak acuh saja, meskipun sekali-sekali ia berpaling dan mencoba melihat berapa orang yang sudah menunggu mereka di halaman. Tetapi Kuda Sempana tidak berhasil menghitungnya. Ia hanya dapat melihat bayangan-bayangan hitam yang bergerak-gerak disisi pepohonan atau dibelakang gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran dihalaman yang gelap dan kotor itu.

Baru ketika Kebo Sindet telah berada ditengah-tengah halaman itu, Jajar yang gemuk dan anak-anak muda itu menyadari keadaannya. Karena itu dengan serta merta mereka berloncatan mengepungnya. Ketika satu dua orang sudah mulai bergerak, maka yang lain-lainpun segera mengikutinya dengan tanpa mendapat perintah.

“Marilah anak-anak.“ terdengar nada suara Kebo Sindet yang berat, “aku memang sudah menyangka, bahwa juru taman itu akan berkhianat. Nah, sekarang kalian telah mengambil sikap. Bukan salahkulah apabila aku memutuskan segenap hubungan yang telah kita buat, dan membatalkan semua pembicaraan.”

Jajar yang gemuk itu masih dicengkam oleh perasaan aneh didalam dirinya. Tetapi ia memaksa mulutnya untuk menjawab, “Jangan banyak bicara. Bersedialah untuk mati. Kau sudah terlampau banyak membuat dosa.”

“Dan agaknya kau baru mulai, Jajar yang gemuk. Tetapi sayang bahwa permulaan ini akan merupakan akhir dari segala kebodohanmu.”

Jajar itu tidak segera menjawab. Tetapi adiknyalah yang menyahut, “O, kau salah hitung Kebo Sindet yang perkasa. Mungkin kau menganggap kami seperti anak-anak nakal yang tidak tahu betapa tajamnya taring harimau. Tetapi kau salah. Satu-satu dari kami pasti akan dapat mematahkan taring-taring harimau yang betapapun buasnya, apalagi mematahkan lehermu dan leher Kuda Sempana itu.”

Kebo Sindet tidak menyahut. Dipandanginya bayangan yang bergerak-gerak disekitarnya. Ia sempat menghitungnya, meskipun tidak tepat benar. “Delapan sampai sepuluh orang.“ desisnya.

“Sembilan orang.“ salah seorang dari anak-anak muda itu berkata lantang, “apakah kau menggigil mendengar jumlah itu.”

Acuh tak acuh Kebo Sindet berkata, “Latihan yang menarik.” Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana. Dipandanginya anak muda yang berdiri mematung itu, Kebo Sindet tidak ingin Kuda Sempana itu mendapat cidera. Mungkin ia masih memerlukannya untuk beberapa lama. Karena itu maka katanya, “Kuda Sempana, hati-hatilah. Marilah kita bermain bersama, berpasangan.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Ia sendiri tidak mempunyai nafsu apapun dalam menghadapi anak-anak liar itu. Tetapi naluri untuk mempertahankan hidupnya masih mengalir di dalam tubuhnya, sehingga karena itulah maka iapun segera menempatkan dirinya dibelakang Kebo Sindet.

“Bagus.” desis Kebo Sindet, “cobalah pertahankan dirimu. Aku yakin bahwa dengan ilmu yang kau miliki, ditambah dengan beberapa unsur dari Kemundungan, kau akan mampu melayani anak-anak yang bodoh itu.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Tatapi ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Ia ternyata masih memilik keinginan untuk tetap hidup, meskipun ia sendiri tidak tahu untuk apa sebenarnya ia mempertahankan hidupnya.

Jajar yang gemuk, adiknya dan anak-anak muda yang liar itu kini sudah mengepungnya rapat-rapat. Sembilan orang. Salah seorang dari meraka berkata disela-sela nada suara tertawanya yang menyakitkan hati,

“He, apakah kau benar-benar akan melawan? Sebaliknya kalian berdua menyerah saja. Kami akan berbaik hati, membunuh kalian dengan cara yang kalian kehendaki, Tetapi apabila kalian melawan maka kami akan dapat berbuat apa saja atas kalian.”

Kebo Sindet yang berwajah beku itu menjawab dengan suara yang seolah-olah bergulung di dalam perutnya, “Aku pernah membunuh orang dengan cara yang menyenangkan sekali. Apakah kalian ingin mencoba atasku? Aku adalah pembunuh yang telah mempergunakan segala macam cara untuk membunuh korbanku. Aku kira aku mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak daripada kalian. Nah, barangkali kalian ingin mendapat satu dua contoh dari antara kalian.”

“Setan alas.“ Jajar yang gemuk itu menggeram, “sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Masih juga kau dapat menyombongkan diri, Kebo Sindet. Apakah kau sedang mencoba mengatasi ketakutan yang mencengkam dadamu dengah segala macam bualan yang tidak berarti itu.”

“Mungkin.“ suara Kebo Sindet menjadi semakin berat, “mungkin kau benar. Tetapi cobalah bertanya kepada dirimu sendiri, apakah kau tidak juga sedang mencoba mengatasi ketakutan dan keragu-raguanmu.”

“Tidak. Kami yakin, bahwa kau akan terbunuh malam ini.”

“Jangan tergesa-gesa.” salah seorang pemimpin anak-anak muda itu berkata, “Aku senang sekali melihat orang yang bernama Kebo Sindet ini dilanda oleh perasaan takut. Lihat, wajahnya yang sebeku mayat itu menjadi semakin pucat.”

“Silahkan.“ jawaban Kebo Sindet itu benar-benar tidak terduga-duga, “silahkanlah kalau itu dapat menyenangkan hati kalian. Kesenangan yang terakhir sebelum kalian mati bersama-sama. Tetapi cepat sedikit. Aku sudah tidak sabar. Aku mempunyai banyak persoalan, tidak sekedar melayani kalian, kelinci-kelinci yang bodoh. Aku akan melayani lawan-lawan yang jauh lebih berharga. Mungkin Empu Sada, mungkin Empu Gandring atau Panji Bojong Santi. Bukan kelinci-kelinci kecil seperti ini.”

“Nama-nama itupun tidak menggetarkan dadaku.“ jawab adik Jajar yang gemuk itu, “Tetapi baiklah, kita akan lebih cepat.“ Lalu, “Marilah kawan-kawan, kita bergembira malam ini.”

Kesembilan orang yang sudah bersiap untuk melawan Kebo Sindet dan Kuda Sempana itu segera mendesak maju. Sejenak kemudian mereka telah berdiri hanya beberapa langkah dari kedua orang yang berdiri di tengah-tengah kepungan, Kebo Sindet dan Kuda Sempana.

Ketika Kebo Sindet sekali lagi mencoba memandang berkeliling untuk mengetahui apakah masih ada orang lain yang berdiri disisi pepohonan atau dibelakang gerumbul, terdengar salah seorang dari anak-anak muda itu berdesis,

“Kau sedang mencari jalan untuk lari? Jangan mengharap keluar dari kepungan kami. Usaha kami untuk membunuh seseorang tidak pernah gagal. Atau kau sedang mencoba menunggu tetangga-tetangga untuk datang membantumu atau setidak-tidaknya untuk mencegah perkelahian ini? Kaupun akan kecewa. Rumah-rumah itu bertebaran agak jauh. Seandainya mereka mendengar suara kami, merekaputi tidak akan berani keluar dari rumahnya.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia mendapat keyakinan, bahwa memang hanya sembilan orang itu sajalah yang berada dihalaman ini. Tetapi ternyata sikap Kebo Sindet itu menggelisahkan hati Jajar yang memang sedang gelisah dan tegang itu. Sekilas diingatnya beberapa hari berturut-turut, beberapa orang selalu sedang mengintainya.

“Apakah mereka orang-orang Kebo Sindet?“ pertanyaaa itu selalu saja mengganggunya. “Persetan” akhirnya ia membulatkan hatinya, “orang ini harus dibunuh. Kalau ia membawa kawan-kawannya, maka biarlah kawan-kawannya itu terbunuh juga.”

Dengan demikian maka Jajar itu menjadi semakin bernafsu. Ketika ia masih melihat adik dan kawan-kawannya berdiri mengelilingi Kebo Sindet dan Kuda Sempana, maka katanya,

“Apakah kita masih menunggu orang ini mati ketakutan?”

“Marilah.“ sahut yang lain sambil melangkah maju.

Kebo Sindetpun telah bersiaga sepenuhnya. Tetapi sungguh-sungguh diluar dugaannya, bahwa serangan yang pertama meluncur dari salah seorang anak-anak muda itu, adalah serangan tanpa senjata. Sebuah serangan tangan yang cepat dan berat, seakan-akan sebuah ayunan palu besi mengarah kepelipisnya. Dengan cepat pula Kebo Sindet menghindar. Selangkah ia mundur sambil merendahkan dirinya. Tetapi yang penting baginya, ia menjadi semakin dekat dengan Kuda Sempana. Serangan yang pertama itu justru memberinya peringatan, bahwa sebenarnya anak-anak muda itu bukanlah anak-anak yang hanya sekedar senang membuat keributan. Tetapi ternyata mereka benar-benar mempunyai bekal untuk berbuat demikian.

Tetapi kesempatan untuk menilai serangan yang pertama itu tidak terlampau banyak. Sesaat kemudian kesembilan orang itu telah bergerak bersama-sama. Mereka hampir berbareng menyerang Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari segala arah. Beruntun seperti ombak memukul pantai. Serangan yang datang itu benar-benar membuat Kebo Sindet terperanjat. Ternyata anak-anak muda itu memiliki suatu cara yang baik untuk berkelahi bersama-sama. Agaknya hal itu telah sangat biasa mereka lakukannya. Berkelahi dalam kelompok-kelompok serupa itu.

“Kuda Sempana, harus dapat mengatasi keadaan ini.“ berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, karena itu maka ia berdesis “Kuda Sempana, tarik senjatamu. Jangan hiraukan gerak-gerak tipuan mereka. Biarkan saja mereka berlari-lari melingkari kita. Hanya serangan-serangan yang langsung mengarah kepadamu sajalah yang perlu kau layani.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi ia tidak menjadi bingung melihat sikap anak-anak muda itu. Apalagi ketika ia mendengar petunjuk Kebo Sindet, maka segera ia dapat membedakan, yang manakah serangan-serangan yang sebenarnya diarahkan kepadanya dan yang manakah yang sekedar membuatnya bingung dan mengacaukan perhatiannya. Tetapi seperti nasehat Kebo Sindet, maka ia merasa perlu untuk menarik pedangnya, melawan serangan-serangan anak-anak muda yang liar dan kasar itu. Namun pada diri Kuda Sempana sendiri telah tumbuh pula benih-benih kekasaran itu, sehingga sejenak kemudian maka perkelahian itupun telah menjadi semakin garang dan kasar.

Untuk sesaat Kebo Sindet masih melayani lawan-lawannya dengan tangannya pula, seperti anak-anak itu. Ia masih mencoba melihat kekuatan yang tersimpan pada lawan-lawannya, pada anak-anak muda itu. Tetapi ternyata serangan-serangan anak-anak muda itu telah membuatnya semakin lama semakin marah. Matanya yang terpancang di wajahnya yang membeku menjadi semakin membara. Bayangan yang bergerak-gerak melingkar-lingkar disekitarnya telah memancing nafsunya untuk melepaskan kemarahannya.

Sejenak kemudian perkelahian itupun telah menjadi perkelahian yang seru. Ternyata masing-masing memiliki kekuatan yang cukup. Anak-anak muda itu kemudian bergerak seperti bayangan, melontarkan diri dalam suatu lingkaran yang kadang-kadang melebar, tetapi kadang-kadang menjempit, seolah-olah hendak menghimpit kedua orang yang berada ditengah-tengah lingkaran itu.

Namun yang berada di-tengah-tengah lingkaran itu adalah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Meskipun Kuda Sempana tidak sedahsyat Kebo Sindet, tetapi dengan pedang ditangan ia mampu melindungi dirinya. Pedangnya segera bergetar dalam genggamannya. Setiap kali menjulur dan mematuk dengan cepatnya kearah anak-anak muda yang menyerangnya beruntun. Tetapi seperti pesan Kebo Sindet, maka dibiarkannya saja pancingan-pancingan yang akan dapat membuatnya lelah dan bingung. Ia tidak melawan serangan diluar jangkauan pedangnya. Ia tidak meloncat memburu atau menyerang. Ia seakan-akan hanya bertahan ditempatnya, seolah-olah kakinya yang sepasang itu menghunjam jauh ke dalam tanah.

Didalam kelamnya malam yang semakin dalam, maka perkelahian itupun menjadi semakin seru. Delapan anak-anak muda yang berkelahi itu mampu berkelahi dalam suatu kerja sama jang sangat rapi. Hanya Jajar yang gemuk itulah yang mempunyai cara tersendiri, tetapi segera iapun berusaha menyesuikan dirinya dengan kedelapan kawan-kawannya.

Halaman rumah Jajar yang kotor itu semakin lama menjadi semakin-semakin ribut. Anak-anak muda itu masih saja berkelahi sambil berputaran. Namun setelah beberapa lama perkelahian itu berlangsung, maka anak-anak muda itu merasakan suatu yang lain pada lawannya, dengan orang-orang yang pernah menjadi korban mereka. Kali ini yang dilawannya, benar-benar mampu mempertahankan dirinya, sehingga tidak semudah yang mereka sangka untuk membunuh Kebo Sindet berdua dengan Kuda Sempana. Bahkan setiap kali terasa, orang yang berwajah beku itu memiliki kemampuan yang tidak dapat segera mereka jajagi. Semakin lama mereka bertempur, maka anak-anak muda itu semakin dicengkam oleh perasaan yang aneh atas lawannya. Semakin dahsyat mereka melakukan serangan dan tekanan, maka mereka menjadi semakin jelas melihat keperkasaan lawan.

Diantara anak-anak muda ada yang mampu memecahkan batu dengan tangannya, ada yang mampu membuat lawannya lumpuh oleh sentuhan-sentuhan pada bagian-bagian tubuh tertentu. Ada yang jarinya melampaui ketajaman ujung pisau, dan mampu menghunjam didada lawan sampai kepusat jantung. Tetapi melawan Kebo Sindet tangan mereka seakan-akan tidak berarti. Ketika beberapa jari mereka mencoba menyentuh tubuh Kebo Sindet, terasa seakan-akan mereka membentur segumpal baja yang melampaui kerasnya batu karang. Apalagi apabila Kebo Sindet sengaja menangkis serangan mereka, maka satu dua diantara mereka terdorong beberapa langkah dari lingkaran yang mereka buat. Hanya karena kelincahan dan ketangkasan mereka, maka mereka mampu untuk segera memperbaiki kedudukan mereka.

Itulah sebabnya maka mereka kemudian merasa, bahwa perkelaian itu tidak akan ada akhirnya. Mereka tidak mendapat kesempatan apapun untuk menunjukkan kelebihan mereka. Apalagi dengan tangan untuk melumpuhkan orang yang berwajah mayat itu. Karena itu, maka tidak ada cara lain yang lebih baik dari pada beramai-ramai mengacungkan ujung-ujung senjata ke arah setan Kemundungan itu. Betapa tebal kulitnya, dengan ketajaman senjata mereka yang dilambari dengan kekuatan yang melampaui kekuatan manusia biasa, maka kulit itu pasti akan terluka.

Sejenak kemudian, maka bergemerlapanlah ujung-ujung senjata anak-anak muda itu. Pada umumnya mereka menggenggam sehelai pisau belati panjang. Hanya Jajar yang gemuk itu sajalah yang kemudian menggenggam kerisnya yang kecil, tetapi keris yang diandalkannya, sebagai sebilah keris yang mengandung kekuatan melampaui segala macam senjata.

Melihat ujung-ujung senjata itu, Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Kulitnya memang tidak kebal dan tidak pula tahan tajamnya pedang. Karena itu Kebo Sindetpun tidak ingin mempersulit diri. Ia harus berusaha untuk menarik setiap perhatian dan memperingan pekerjaan Kuda Sempana. Kalau anak-anak muda itu kemudian memusatkan serangan-serangan mereka kepada Kuda Sempana, maka keadaan Kuda Sempana itu akan menjadi sangat sulit. Ternyata usaha Kebo Sindet itu berhasil. Anak-anak muda itu memang memusatkan perhatian mereka kepada Kebo Sindet yang mereka anggap terlampau berbahaya. Kalau Kebo Sindet itu sudah berhasil mereka binasakan, maka Kuda Sempana tinggal akan menjadi permainan yang mengasikkan seperti yang sering mereka lakukan atas korban-korban mereka.

Tetapi kali ini mereka terbentur pada lawan yang lain. Kebo Sindet bukan sejenis orang yang dengan mudah dapat mereka jadikan permainan. Tidak mudah mereka takut-takuti atau mereka kejutkan dengan berbagai macam gerakan dan serangan. Apalagi ternyata Kebo Sindet tidak mau mempersulit dirinya lebih lama lagi. Karena itu maka tangannya segera menarik senjatanya, sebuah golok yang besar. Selanjutnya, maka perkelahian menjadi bertambah dahsyat dan mengerikan. Kini mereka tidak lagi membuat pertimbangan lain diripada menghujamkan senjata masing-masing kepada lawan.

Didalam gelapnya malam itu, beberapa pucuk senjata berputaran melingkar-lingkar. Sekali-sekali terpercik bunga api diudara. Benturan-benturan yang terjadi semakin lama menjadi semakin sering. Namun kemudian bukan anak-anak muda itu lagi yang membenturkan senjatanya, tetapi Kebo Sindetlah yang sengaja berbuat demikian. Sekali-sekali tampak sebuah belati panjang terloncat dari genggaman, jatuh beberapa langkah dari lingkaran perkelahian. Tetapi ternyata anak-anak muda itupun cukup tangkas. Dengan segera mereka melindungi kawan-kawan mereka yang kehilangan senjatanya, dan memberinya kesempatan untuk memungut senjatanya kembali. Namun tangan mereka semakin lama menjadi semakin nyeri, sehingga perlawanan merekapun menjadi semakin lemah. Meskipun demikian, tangan-tangan yang nyeri itu segera diimbangi dengan kecepatan mengatur serangan. Ujung-ujung pisau susul menyusul menyamber lambung dan dada seperti sekumpulan lebah yang berterbangan mengitari mangsanya. Setiap kali ujung-ujung senjata itu siap untuk menyengatnya.

Ketika perkelahian itu kian bertambah sengit, maka pada saat Ken Dedes sedang duduk menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Dengan wajah yang kuyu Ken Dedes mengatakan, bahwa menurut Jajar yang gemuk. Kebo Sindet bersedia menerima tebusan itu diluar gapura kota, dengan syarat Jajar itulah yang membawa tebusannya dengan mengawal sebanyak-banyaknya dua orang.

“Betapa liciknya.“ geram Akuwu Tunggul Ametung. “Tak ada prajurit Tumapel saorangpun yang dapat menyamai Kebo Sindet. Itulah sebabnya ia membuat syarat itu.”

“Bagaimana kalau syarat itu tidak dipenuhi Tuanku. Umpamanya, Jajar itu datang dengan sepasukan prajurit untuk merebut kakang Mahisa Agni.

“Berbahaya bagi Mahisa Agni, seperti yang dikatakan Empu Gandring. Bukankah kau pernah juga mengatakan bahwa sepasukan prajurit hanya mempercepat bencana bagi Mahisa Agni.“ Akuwu itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia mengeram, “salah seorang prajurit itu aku sendiri. Aku sendirilah yang akan menyerahkan tebusan kepada Kebo Sindet.”

Ken Dedes terperanjat mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung itu. Tugas itu adalah tugas yang sangat berbahaya. Karena menurut pendengaran Ken Dedes, Kebo Sindet adalah seorang yang memiliki beberapa kelebihan dari orang lain. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi ia adalah seorang yang buas dan liar.

Karena itu maka Permaisuri itu menyahut, “Jangan Tuanku. Tuanku jangan pergi sendiri. Bukankah hal itu akan sangat berbahaya bagi Tuanku.”

“Aku tahu Ken Dedes, tetapi tidak ada jalan lain. Aku tidak dapat menemukan cara lain dari pada aku sendiri pergi menemui Kebo Sindet sebagai prajurit pengawal. Yang seorang dari keduanya adalah Witantra. Jajar itupun tidak akan aku bawa pula, meskipun aku akan membawa seorang yang dapat berperan sebagai Jajar yang gemuk itu. Ardata, Senapati perang pasukan berkuda. Bukankah Ardata itu gemuk seperti Jajar yang bodoh itu? Nah, dalam pakaian yang serupa dimalam hari, orang lain tidak akan. segera mengenalnya. Aku dan kedua Senapati itu sudah cukup untuk membuat perhitungan dengan Kebo Sindet dan Kuda Sempana.”

“Tetapi Tuanku, bagaimanakah kalau mereka membawa kawan yang berjumlah cukup banyak.”

“Pasukan pengawalku harus siap didalam regol supaya tidak dilihat oleh Kebo Sindet. Apabila Kebo Sidet membawa kawan dalam jumlah yang banyak, kami akan memberikan tanda kepada para pengawal.”

Ken Dedes tidak segera menjawab, tetapi hatinya dilanda oleh kecemasan yang sangat. Ia merasa bersyukur, bahwa perhatian Akuwu Tunggul Ametung kini demikian besarnya terhadap keselamatan Mahisa Agni. Tetapi dengan demikian Ken Dedes menjadi cemas, bahwa akan terjadi bencana yang lebih dahsyat menimpa dirinya. Kalau terjadi sesuatu atas Akuwu Tunggul Ametung, maka akan hilanglah segala macam harapan bagi hari depannya. Ia tidak mempunyai lagi tempat untuk bergantung. Sama sekali. Semuanya akan hilang, dan dirinya sendiripun pasti akan banyut kedalam ketiadaan.

Sejenak mereka berdua duduk didalam kediaman masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung sekali-sekali mengusap wajahnya yang basah oleh keringat, sedang Ken Dedes duduk saja menundukkan kepalanya. Namun tiba-tiba dalam kediaman itu, Akuwu Tunggul Ametung dikejutkan oleh langkah tergesa-gesa. Kemudian ia mendengar seseorang berdiri dimuka pintu bilik dengan nafas terengah-engah. Akuwu itupun kemudian berdiri, berjalan kepintu dan menyapanya, tetapi ia masih belum melihat orangnya,

“He, siapa dimuka pintu?”

“Hamba tuanku, hamba yang Tuanku perintahkan mengawasi Jajar yang gemuk itu.”

“Oh.“ namun terbersit kecemasan dihati Akuwu, “masuklah. Kenapa kau menghadap malam-malam begini?”

Prajurit yang berdiri diluar pintu itu merayap masuk, kemudian duduk sambil menekurkan kepalanya dalam-dalam. “Ampun Tuanku, hamba terpaksa menghadap Tuanku malam ini.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan dahinya. Tetapi ia masih bertanya, “Aku masih mendengar nafas seseorang diluar. Siapa?”

“Oh, prajurit pengawal istana Tuanku, yang mengantarkan hamba menghadap Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah yang akan kau sampaikan?”

“Soal Jajar yang gemuk itu Tuanku.”

“Ya, kenapa.”

“Seperti yang pernah hamba sampaikan kepada Tuanku, bahwa beberapa kali hamba berhasil mendengarkan pembicaraan mereka dengan Kebo Sindet, meskipun aku menduga bahwa Kebo Sindetpun mengetahui kehadiran hamba. Namun kadang-kadang orang itu malahan dengan sengaja memperkeras suaranya. Sekali hamba pernah terpaksa memukul kepala Jajar yang gemuk itu sebelum ia melihat, siapakah hamba berdua. Tetapi yang terakhir hamba tidak berhasil mendengarkan pembicaraan mereka Tuanku, meskipun hamba dapat melihat mereka bertemu. Jajar yang gemuk itu dan Kebo Sindet. Sedangkan hari ini, dari prajurit pengawal diregol halaman hamba mendengar bahwa Jajar itu pulang terlampau pagi. Sehari-harian kami berdua mengawasi rumahnya dari kejauhan. Ternyata kini terjadi sesuatu Tuanku.”

“Apakah yang terjadi?”

“Ternyata Jajar gemuk itu menjebak Kebo Sindet didalam perangkapnya. Sejumlah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Jajar yang gemuk itu berusaha untuk membunuh Kebo Sindet.”

“He?” Akuwu Tunggul Ametung terperanjat. Sekilas wajahnya menjadi merah tegang. Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa Jajar itu akan membunuhnya?”

“Hamba tidak tahu Tuanku.”

“Gila, ini adalah permainan yang gila.“ Akuwu itu menggeram, “Jajar itu ternyata juga gila.” Tiba-tiba Akuwu itu berteriak, “He. perjanjian apakah yang telah dibuat oleh Jajar dan Kebo Sindet itu.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar