“Hamba kurang mengetahui Tuanku.”
“Jajar itu ternyata berkhianat.” geram Akuwu itu pula, dan sekali lagi berteriak sambil menghentakkan kakinya, “Aku tahu. Aku tahu. Jajar itulah yang membuat ceritera tentang penyerahan perhiasan besok. Tentang dua orang prajurit yang syaratkan untuk mengawal. Tentang Jajar yang gemuk, itu yang harus membawa tebusan itu. Nah, diluar regol itu telah menunggu orang-orang yang hari ini berusaha membunuh Kebo Sindet.” Akuwu itu berhenti sejenak, lalu, “Aku akan pergi sekarang. Semua harus dibinasakan Kebo Sindet dan Jajar yang gemuk itu.”
Dada Ken Dedes berguncang mendengar kata-kata Akuwu itu. Seandainya, ya, seandainya hal itu terjadi, alangkah menyedihkannya. Alangkah pahitnya. Sehingga tiba-tiba saja Ken Dedes itu berlutut dibawah kaki Akuwu Tunggul Ametung sambil memegangi kaki itu,
“Ampun Tuanku. Jangan pergi. Jangan pergi. Biarlah apa yang telah terjadi dengan kakang Mahisa Agni. Akuwu harus mencari jalan lain untuk membebaskannya. Tetapi bukan Tuanku sendiri yang harus pergi.”
Sejenak Akuwu Tunggul Ametung itu justru mematung. Ia merasakan sesuatu yang menggetarkan dadanya. Sikap Ken Dedes yang mencemaskan nasibnya itu justru menambah tekadnya untuk menolong Mahisa Agni. Untuk menyenangkan hati Ken Dedes dan melepaskannya dari kesedihan yang melandanya setiap hari, sebelum kakaknya itu dibebaskannya.
Maka sejenak kemudian ia berkata, “Ken Dedes. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Seandainya Kebo Sindet terbunuh didalam perkelahian itu, apakah untuk seterusnya kita akan dapat menemukan kesempatan untuk membebaskan Mahisa Agni? Mungkin Mahisa Agni dijaga oleh orang-orang Kebo Sindet dengan pesan-pesan khusus, seandainya Kebo Sindet tidak kembali pada saat-saat yang ditentukan. Tetapi seandainya Mahisa Agni disembunyikan ditempat yang sukar diketahui oleh orang lain kecuali Kebo Sindet sendiri, meskipun tanpa pengawasan, namun apabila Mahisa Agni tidak berhasil keluar dari tempat itu, maka betapapun lambatnya, ia akan mati pula. Mungkin karena kelaparan, haus dan mungkin karena sebab-sebab lain.”
“Lalu apakah yang akan tuanku lakukan?”
“Kalau mungkin menangkap Kebo Sindet dan mendengar beberapa keterangan langsung dari padanya, tentang Mahisa Agni sebelum orang itu dibinasakan. Sebab ia adalah orang yang sangat berbahaya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Tetapi seandainya. Kebo Sindet itu menang, maka malahan masih ada harapan untuk dapat menyelamatkan Mahisa Agni. Kalau Kebo Sindet menganggap bahwa Jajar itulah yang berkhianat kepadanya, maka ada kemungkinan Kebo Sindet kelak mencari cara lain untuk memeras kita. Jika demikian, maka selama itu Mahisa Agni pasti masih hidup. Tetapi akan berbeda sekali akibatnya, apabila Kebo Sindet menganggap bahwa Jajar itu telah bekerja bersama dengan kita untuk menjebaknya. Jika demikian, maka nasib Mahisa Agni ada dalam bahaya.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar keterangan Akuwu Tunggul Ametung itu sehingga ia berdesah, “Mudah-mudahan kakang Mahisa Agni selamat.”
“Nah, aku sekarang akan mencari jalan untuk menyelamatkannya.”
“Apakah Tuanku akan pergi dengan pengawal?”
“Ya, kali ini aku tidak perlu bersembunyi. Aku akan datang dengan sepasukan prajurit untuk mencegah kemungkinan salah seorang dari orang-orang yang tamak itu melarikan diri. Aku akan berusaha mendengar penjelasan Kebo Sindet sendiri, dimana Mahisa Agni. Tetapi kalau aku terpaksa membinasakannya, maka aku berharap bahwa Kuda Sempana akan tertangkap hidup-hidup.“ Lalu kepada prajurit yang melaporkannya Akuwu itu bertanya, “Bukankah Kuda Sempana ada bersamanya?”
“Hamba Tuanku.”
“Bagus. Pada dasarnya kedua pihak yang berkelahi itu harus binasa.“ Akuwu itu berhenti sebentar, lalu, “he, siapkan prajurit-prajurit pengawal dan beberapa orang Pelayan Dalam yang sedang bertugas. Siapkan orang-orang yang paling baik sebanyak lima belas orang.”
“Hamba Tuanku, hamba akan menghubungi Senapati yang bertugas malam ini.”
“Baik, perintahku kepadanya, segera bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Kita akan pergi berperang.”
“Hanya lima belas orang Tuanku.”
“Ya.“ tetapi Akuwu itu tertegun, “berapa orang yang menjebak Kebo Sindet.”
“Hamba kurang jelas, Tuanku. Tetapi disekitar sepuluh orang.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Lima belas orang telah cukup. Masih ditambah kau dan aku, dan seorang kawanmu yang barangkali masih tinggal disekitar perkelahian itu?”
“Hamba Tuanku, kawan hamba itu berusaha melihat apa yang telah terjadi, sedang hamba harus menyampaikan peristiwa ini kepada Tuanku.”
“Kalau begitu Iima belas orang terbaik telah cukup. Cepat, hubungi Senapati yang bertugas. Aku tidak mempunyai waktu untuk memanggil Witantra dan Ardata. Aku cukup membawa prajurit-prajurit pengawal dan Pelajan Dalam yang ada.”
“Hamba Tuanku.”
“Cepat. Aku akan segera berangkat sebelum terlambat.”
Prajurit itu kemudian surut sampai diluar pintu sambil berjongkok. Tetapi ia hampir terlonjak ketika ia tiba-tiba saja mendengar Akuwu itu membentak keras-keras,
“Cepat, kenapa kau merayap seperti siput? Apakah kau tidak dapat berlari?”
Sambil menyembah prajurit itu menyahut, “Hamba Tuanku.”
Dengan ragu-ragu prajurit itupun segera berdiri. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari meninggalkan bilik itu untuk menemui Senapati yang sedang bertugas. Sedang prajurit yang lain, yang mengantarnya menghadap Akuwu segera menyusulnya dibelakangnya.
Akuwu Tunggul Ametungpun segera mempersiapkan dirinya dengan pakaian keprajuritan. Sebuah pedang dilambung kiri, dan dilambung kanan tergantung senjata pusakanya. Sebuah penggada yang berwarna kuning berkilauan. Ken Dedes kemudian melepas Akuwu Tunggul Ametung dengan dada yang berdebar-debar, Ia sendiri memimpin pasukan yang kecil itu berpacu di atas punggung kuda yang tegar, berlari kencang sekali seperti angin. Para prajurit yang bertugas diregol, yang belum mendengar apa yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung terkejut bukan buatan. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tidak lebih dari sekejab, maka kuda-kuda itu telah lampau sambil melontarkan kepulan debu yang putih.
Para pengawal regol itu saling bertanya-tanya diantara mereka. Tetapi kemudian merekapun mendengar bisikan ketelinga mereka, “Akuwu akan langsung menangkap Kebo Sindet itu sendiri.”
Setiap prajurit yang mendengar berita itu menjadi berdebar-debar. Sebagian dari mereka telah pernah mendengar, betapa Kebo Sindet merupakan hantu yang menakutkan disebelah Timur Gunung Kawi. Tetapi hampir setiap prajuritpun tahu, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bukanlah seorang anak-anak yang sedang mencoba belajar naik kuda. Akuwu Tunggul Ametung adalah manusia yang aneh pula, yang memiliki kelebihan dari manusia kebanyakan. Bahkan para prajurit Tumapel percaya akan ceritera tentang Akuwunya, bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang memiliki kesaktian dari langit.
“Seandainya aku mendapat kesempatan, aku ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.“ desis salah seorang prajurit.
“Alangkah dahsyatnya.“ sahut yang lain, “kalau benar Akuwu Tunggul Ametung bertemu dan sempat bertempur melawan Kebo Sindet.”
“Pasti akan terjadi pertempuran seperti yang sering kami khayalkan dari ceritera Bharatayuda.“ berkata yang lain, “seperti perang Karna dan Arjuna.”
“Tidak. Tidak seperti kedua satria itu. Kebo Sindet sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan Karna, dan Akuwu Tunggul Ametung sama sekali bukan Arjuna, meskipun Permaisurinya cantik seperti Sembadra.”
“Ya, memang bukan. Seperti Bima dan Duryudana.”
“Entahlah.“ berkata yang lain, “tetapi perkelahian itu pasti akan sangat mengerikan. Apalagi apabila Akuwu Tunggul Ametung telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang aneh itu, penggada yang berwarna dan bercahaya kekuning-kuningan.”
“Seperti pertempuran antara guntur dan petir dilangit.”
Sementara itu Akuwu Tunggul Ametung berpacu secepat-cepat kudanya dapat berlari. Ia masih belum menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk mengatasi keadaan yang bekembang tidak sesuai dengan rencananya itu. Tetapi ada satu ketetapan dihatinya, kedua pihak harus dibinasakan. Namun ia masih memerlukan petunjuk tentang Mahisa Agni. Kalau ia berhasil membinasakan Kebo Sindet tetapi kemudian tidak berhasil menemukan Mahisa Agni, maka kerjanya akan bernilai setengah. Sebab dengan demikian, Ken Dedes pasti masih juga selalu bersedih.
Prajurit-prajurit pengawalnya kali ini adalah prajurit-prajurit pengawal istana dan lima orang Pelajan Dalam. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dapat dikumpulkan malam itu. Mereka adalah orang-orang yang sedang bertugas mengawal istana. Dan Akuwu Tunggul Ametung percaya kepada kekuatan dan kesetiaan mereka. Karena itu maka Akuwu Tunggul Ametung dengan pasti melarikan kudanya untuk menyelesaikan persoalannya.
“Aku harus segera mendapat penyelesaian.” desisnya di dalam hatinya, “supaya aku tidak selalu disiksa oleh persoalan ini sehingga persoalan-persoalan lain menjadi terdesak karenanya. Selama ini masih belum selesai, maka mendung di istana masih belum dapat disingkirkan Ken Dedes pasti masih selalu dibayangi oleh kemurungan tanpa dapat diredakannya.”
Dengan demikian maka Akuwu itupun menjadi semakin bernafsu. Kemarahan yang selama ini ditahan-tahannya, kini seolah-seolah ingin diledakkannya. Ia harus membuat perhitungan terakhir. Derap kaki-kaki kudanya gemeretak diatas tanah berbatu-batu. Beberapa orang prajurit pengawal rapat berpacu dibelakangnya. Tetapi beberapa orang yang lain, tidak mampu mengikutinya dalam jarak yang wajar, karena kuda-kudanya tidak setangkas kuda Akuwu Tunggul Ametung yang dilarikan melampaui kecepatan yang seharusnya. Namun jarak itu tidak mengganggu. Mereka masih tetap dalam kesatuan yang utuh apabila mereka dengan tiba-tiba saja harus berhadapan dengan lawannya.
Prajurit penunjuk jalan, yang mula-mula melaporkan peristiwa yang terjadi kepada Akuwu Tunggul Ametung, dengan susah payah berusaha untuk tetap berada didekat Akuwu, supaya setiap saat ia dapat memberitahukan arah yang harus ditempuh, karena Akuwu sendiri belum pernah melihat rumah juru taman yang telah berkhianat kepada kedua belah pihak itu.
“Apakah rumah itu masih jauh?” geram Akuwu itu kemudian.
“Tidak Tuanku. Sudah tidak terlampau jauh. Diujung jalan yang masuk kemulut perkampungan didepan itu kita berbelok kekanan, kemudian masuk kedalam.”
“Apakah kita akan sampai?”
“Diujung perkampungan yang lain kita berbelok lagi kekanan. Kita akan sampai disebuah halaman yang kosong, kalau kita masuk lagi kedalam, maka kita akan sampai. Satu halaman berselang dari jalan ditepi perkampungan itu.”
“Kenapa berputar-putar? Apakah tidak ada jalah yang melintas?”
“Tidak Tuanku. Jalan yang paling pendek hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki lewat beberapa halaman dan jalan yang terlampau sempit.”
Akuwu tidak menjawab, tetapi ia berusaha memacu kudanya semakin cepat. Tetapi tiba-tiba Akuwu itu terperanjat. Tidak begitu jauh dihadapannya, didalam perkampungan yang ditujunya, ia melihat lidah api menjilat keudara. Baru saja. Seolah-olah sengaja menyambut kedatangannya. Bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang terperanjat, tetapi prajurit yang menunjukkan jalan kepadanya dan para pengawalnya. Hampir serempak mereka berdesis,
“Api.”
“Ya, api.” Akuwu Tunggul Ametung hampir berteriak, “apakah artinya ini, he?”
Prajurit penunjuk jalan itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Hamba tidak mengerti Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung menggeram. Ia mencoba mencari hubungan antara api dan perkelahian yang telah terjadi. Kebo Sindet harus melawan beberapa orang sekaligus. Apakah ia masih sempat berpikir, membakar rumah Jajar yang gemuk itu?. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung tidak bernafsu untuk memikirkan jawabannya. Ia ingin segera sampai dan dengan demikian ia akan mendapat jawaban itu dengan sendirinya. Karena itu maka kudanya justru dipacunya lebih cepat lagi. Semakin lama semakin cepat, sehingga kuda itu seolah-olah tidak lagi menjejak diatas tanah.
Demikian nafsunya untuk segera sampai ketempat Jajar yang gemuk itu, sehingga Akuwu Tunggul Ametung tidak menghiraukan apa-apa lagi. Ia tidak menghiraukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi disepanjang jalan. Sehingga kuda pengawal utamanya terpaksa dengan susah pajah berpacu disampingnya. Ketika mereka hampir memasuksi desa didepan mereka, maka kedua pengawal itu terpaksa sedikit menahan laju kuda Akuwu Tunggul Ametung. Salah seorang dari mereka berkata,
“Ampun Tuanku. Biarlah hamba akan berada didepan sekali.”
Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi ia seolah-olah tidak menghiraukannya.
“Ampun Tuanku.” prajurit pengawalnya mengulangi, “hamba akan berada didepan Tuanku sebelum memasuki perkampungan itu.”
Tetapi Akuwu masih juga juga diam. Sedang mulut lorong yang masuk kedalam desa didepan mereka menjadi semakin dekat. Kedua pengawal Akuwu itu menjadi cemas. Yang kini mereka hadapi adalah orang-orang yang kuat namun licik. Baik kawan-kawan Jajar yang gemuk yang berjumlah kira-kira sepuluh orang itu, maupun Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Karena itu, maka tanpa menunggu jawaban Akuwu Tunggul Ametung, maka kedua pengawal utamanya itu berusaha untuk mendahuluinya.
Akuwu Tunggul Ametung menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Kenapa kalian menjadi gila, he?”
“Hamba berdualah yang seharusnya berada didepan Tuanku dalam keadaan serupa ini.”
Akuwu Tunggul Ametung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tetapi kemudian disadari bahaya yang dapat menerkamnya setiap saat dari orang-orang yang licik itu. Karena itu, maka kemudian dibiarkannya kedua pengawal utamanya itu mendahuluinya, untuk meyakinkan, bahwa jalan yang akan dilaluinya tidak dirintangi oleh bahaya yang mengancam keselamatannya. Tetapi mereka memang sedang menuju ketempat yang berbahaya. Tempat yang tidak diketahui dengan pasti, apakah yang akan dihadapinya nanti. Kebo Sindet dan Kuda Sempana, atau Jajar yang gemuk itu dengan kawawan-kawawannya, atau bahkan mereka bergabung untuk dapat melepaskan diri mereka dari prajurit-prajurit Tumapel.
“Kalau demikian.” berkata Akuwu didalam hatinya, “aku benar-benar harus berhati-hati. Kalau kedua iblis itu justru bersepakat untuk menjebak prajurit-prajurit Tumapel, maka aku harus dapat menyesuaikan diriku bersama pasukan kecil ini.”
Namun Akuwu Tunggul Ametung masih juga tetap tatag. Karena ia benar-benar mempercayai kekuatan para pengawalnya, dan terutama sekali ia percaya kepada senjatanya, kepada penggadanya yang berwarna dan bercahaya kekuning-kuningan. Senjata yang mempunyai kekuatan yang dapat diandalkannya. Kalau Akuwu itu mateg Aji pamungkasnya untuk melambari ayunan gadanya, maka seakan-akan gunung akan menjadi runtuh dan lautan akan menjadi kering, tersentuh oleh pusakanya itu.
Akuwu menjadi semakin gelisah ketika ia melihat lidah api menjadi semakin tinggi. Warna langit yang hitam, tiba-tiba menjadi semburat merah. Namun kebakaran itu masih belum terlampau besar. Masih ada kesempatan untuk melihat, apa yang sebenarnya telah terjadi. Kini yang berpacu paling depan adalah kedua pengawal utama Tunggul Ametung berurutan. Kemudian barulah Akuwu sendiri yang berpacu diatas punggung kudanya dengan wajah tegang. Ternyata waktu yang mereka perlukan tidak terlampau lama. Sejenak kemudian mereka telah berbelok memasuki lorong yang akan melewati jalan kecil dimuka rumah Jajar yang gemuk itu.
“He.” bertanya. Akuwu itu kepada prajurit penunjuk jalan, “Dimana rumah itu.”
“Kita telah sampai, yang terbakar itulah.” jawab prajurit itu.
Dengan serta merta para prajurit itu segera mengekang kuda-kuda mereka. Kini mereka berada tidak terlampau jauh dari rumah yang memang sedang dimakan oleh api, meskipun belum lagi separonya.
“Jadi rumahnya yang terbakar itu?“ bertanya Akuwu.
Penunjuk jalan itu menyahut, “Hamba Tuanku, itulah rumahnya.”
“Kita mendekat. Kita lihat, kenapa rumah itu terbakar.”
Mereka maju lagi perlahan-lahan Segera mereka memasuki halaman rumah yang kotor itu. Tak seorangpun dari tetangga tetangga yang berani keluar rumah dan menolong memadamkan api yang merayap untuk menelan seluruh rumah dan isinya.
“Bukan main ganasnya setan dari Kemundungan itu.” desis Akuwu Tunggul Ametung, “tetapi dimana orang itu?”
Belum lagi seorangpun yang menjawab, maka beberapa orang prajurit segera menyibak, memberi jalan kepada seorang yang dengan berjalan kaki langsung menuju kearah Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu Tunggul Ametung memperhatikan orang itu dengan seksama. Cahaya api yang menyala-nyala segera memperkenalkannya, bahwa ia adalah prajuritnya yang seorang lagi, yang bertugas mengawasi rumah Jajar yang gemuk itu.
“Kau?” desis Akuwu.
“Hamba Tuanku.”
“Apa yang kau lihat, dan apakah sebabnya maka timbul kebakaran?”
“Ampun Tuanku.” jawab prajurit itu, “hampir hamba menjadi pingsan melihat kelakuan Kebo Sindet, setan dari Kemundungan yang hamba kira adalah orang yang paling buas dipermukaan bumi.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sekali dipandanginya api yang menyala semakin besar. Bagian depan rumah itu kini sudah lebih dari separo dimakan api. Api yang menyala dari sudut itu merayap perlahan-lahan. Suaranya bergemeretak seperti seribu gerobag lewat diatas tanah berbatu-batu.
“Apa yang kau lihat?“ bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
“Pembantaian yang tidak tanggung-tanggung.”
“Hem.“ Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.
“Anak-anak muda yang mencoba menjebak Kebo Sindet ternyata telah menjadi korban yang mengerikan.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak melihat sesosok mayatpun dihalaman rumah itu.
“Tetapi dimanakah Kebo Sindet membunuh korbannya? Bukankah mereka bertempur dihalaman ini?”
“Hamba Tuanku.“ sahut prajurit itu, “tetapi setelah mereka dibunuh dengan cara Kebo Sindet, mereka dilemparkan kedalam rumah itu. Sebelum Kebo Sindet pergi, rumah itu dibakarnya.”
“Hem.” sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas, lalu katanya, “Bagaimana dengan Jajar yang gemuk itu?”
“Ia mengalami nasib paling jelek diantara kawan-kawannya. Ia ditangkapnya yang terakhir kalinya. Diikat dan dimasukkan kedalam rumah itu pula, tanpa dibunuhnya lebih dahulu.”
“He? Jadi Jajar itu masih hidup?”
“Hamba Tuanku. Tetapi didalam rumah itu.”
“Ambil dia.” Prajurit itu tidak menjawab. Api kini berkobar semakin besar. “Apakah Jajar itu kira-kira sudah terbakar didalam rumah itu?”
“Hamba tidak tahu Tuanku.”
“Ambil, ambil dia.” teriak Tunggul Ametung, “cari jalan dari sisi yang belum terbakar itu. Mungkin kau masih menemukannya diruangan yang belum dimakan api.”
Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Dipandanginya saja Akuwu Tunggul Ametung, seakan-akan ia tidak percaya kepada perintah itu.
“Ambil, cepat, ambil.” Akuwu itu berteriak.
Prajurit yang masih saja ragu-ragu itu tidak juga beranjak dari tempatnya. Tetapi seorang prajurit yang lain, pengawal Akuwu Tunggul Ametung dengan sigapnya meloncat dari kudanya dan berlari kearah api yang sedang menyala.
“Ingat arah api.” teriak Akuwu itu pula.
Ternyata kemudian dua orang prajurit termasuk prajurit yang ragu-ragu itu menyusulnya, melingkar dari sudut yang masih belum terbakar. Dengan susah pajah mereka merobek dinding dan dengan wajah yang merah oleh nyala api yang berkobar ketiganya mencoba masuk kedalam rumah yang sudah hampir ditelan api itu.
Wajah Akuwu menjadi tegang. Ia melihat seolah-olah ketiga prajuritnya itu masuk kedalam lautan api. Sehingga kemudian ia berteriak penuh penyesalan. “Keluar, keluar. Tinggalkan rumah itu. Biarkan Jajar itu dimakan api. Cepat, keluar.”
Tetapi ketiga prajurit yang masuk kedalam rumah yang telah terbakar itu tidak segera keluar. Sementara api semakin lama menjadi semakin ganas. Lidah yang merah mencuat seolah-olah hendak menyentuh langit. Kini sebagian besar rumah itu dibagian depan sudah terbakar. Api sedang merambat kesudut tempat para prajurit memasuki rumah itu.
“Keluar, cepat keluar.” teriak Tunggul Ametung semakin keras.
Tetapi ketiga prajurit itu masih juga belum muncul. Akuwu itu semakin tegang seketika akhirnya sudut itupun mulai dijilat oleh api. Sedikit demi sedikit, akhirnya rumah itu kini seolah-olah menjadi seonggok bara yang menyala.
“Gila.” Akuwu itu menggeram, lalu, “Lihat dibagian lain.” ia berteriak keras sekali, “lihat dibagian belakang, apakah seluruh rumah ini sudah terbakar.”
Beberapa orang prajurit segera berlari berpencaran. Mereka berlari kesisi rumah itu. Ternyata mereka melihat bagian belakang rumah itu masih belum lenyap ditelan api. Dengan demikian mereka masih mengharap bahwa kawannya akan dapat menyelamatkan diri dari bagian itu. Ternyata harapan itu terpenuhi. Mereka melihat pintu belakang itu bergerak, kemudian pecah menjadi kepingan-kepingan papan, kemudian mereka melihat sesosok tubuh muncul dari dalam disusul oleh dua orang yang lain. Salah seorang dari padanya ternyata mendukung seseorang yang agaknya sedang pingsan.
“He cepat.” teriak prajurit yang melihat mereka keluar.
Mereka berjalan tersuruk-suruk. Ternyata mereka telah mengalami luka-luka bakar pada tubuh mereka. Meskipun luka itu tidak terlampau parah, tetapi nafas mereka seolah-olah hampir putus karena asap yang bergulung-gulung didalam rumah yang terbakar itu. Beberapa orang prajurit segera mencoba menolong mereka. Seorang yang lain mengambil orang pingsan itu dari tangan pendukungnya yang sudah menjadi terlampau payah. Orang yang pingsan itu adalah Jajar yang gemuk, yang telah mencoba menjebak Kebo Sindet.
“Air.” desis salah seorang prajurit yang menjadi kehitam-hitaman. Bajunya tersobek oleh percikan api. Bukan saja baju dan kainnya, tetapi juga kulitnya.
“Marilah kita menghadap Akuwu.” ajak salah seorang kawannya.
Prajurit-prajurit yang terluka oleh api itu segera tertatih-tatih menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Hanya karena kekuatan yang memancar dari dalam diri mereka oleh kepatuhan maka mereka dapat selamat dari api yang hampir menelan mereka hidup-hidup. Seorang prajurit yang lain segera mencari sumur. Dengan upih yang ada ia segera mengambil air, langsung dilepasnya dari senggotnya, dan dibawa kepada ketiga prajurit yang sedang kehausan.
“Hem.” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam, “kalian memang luar biasa. Terima kasih.”
Prajurit-prajurit itu tidak segera menjawab. Tetapi dengan tangan gemetar diraihnya upih yang berisi air. Hampir tidak sabar mereka minum berganti-ganti dari upih itu. Perasaan haus yang hampir tak tertahankan telah mencekam leher mereka.
Akuwu membiarkan prajurit-prajurit itu minum. Tetapi ia sempat memperingatkan, “Jangan kau turuti nafsumu untuk memuaskan haus. Kau dapat menjadi sakit karena terlampau banyak air yang kau telan.”
Prajurit-prajurit itu kini telah mendapatkan kesadarahnya kembali sepenuhnya setelah mereka mendapat tekanan perasaan yang sangat tajam ketika mereka berada ditengah-tengah api. Untunglah bahwa mereka tidak kehilangan sama sekali pikiran mereka, sehingga mereka masih sempat mencari jalan keluar. Dan bahkan masih sempat mendukung, Jajar yang gemuk itu. Tetapi ternyata keadaan Jajar yang gemuk itu agak lebih parah. Seutas tali masih tergantung ditangannya. Luka-luka ditubuhnya ternyata tidak saja luka bakar karena sentuhan api yang memercik, tetapi tubuhnya juga tergores oleh senjata dan bahkan karena pukulan-pukulan yang keras di wajahnya.
“Apakah Jajar itu tadi terikat tangannya?” bertanya Akuwu yang masih melihat ujung tali yang berjuntai ditangan Jajar yang pingsan itu.
Salah seorang prajurit yang masuk mengambilnya, menjawab dengan gemetar, “Hamba tuanku. Hamba menemukannya diruang dalam, terikat pada sebuah tiang. Hamba terpaksa memotong tali pengikatnya sehingga hamba memerlukan waktu untuk itu.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku mencemaskan nasib kalian. Tetapi adakah luka-luka kalian sangat parah?”
“Tidak tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “luka-luka hamba bertiga tidak terlampau parah. Tetapi hamba telah diserang oleh kebingungan dan hampir-hampir kehilangan akal. Tetapi sekarang hamba telah dapat berpikir dengan wajar.”
“Bagus. Memang kadang-kadang dalam keadaan yang paling sulit justru kita kehilangan akal untuk berusaha melepaskan diri. Tetapi kalian masih dapat bertahan melawan kebingungan dihati kalian. Itulah yang ternyata menyelamatkan kalian.”
“Hamba tuanku.” ketiga prajurit itu hampir berbareng menyahut.
“Lalu bagaimanakah dengan Jajar yang gemuk itu?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung sambil meloncat turun dari kudanya. Selangkah ia maju mendekati Jajar yang pingsan yang kemudian dibaringkan ditanah. “Apakah luka-lukanya parah?”
“Hamba tuanku.“ jawab salah seorang prajurit. Oleh cahaya api yang menyala semakin besar, tampak jelas pada Jajar itu, warna-warna mereka yang menodai pakaiannya, Darah.
“Darah itu tidak menitik dari luka-luka bakarnya.” desis Akuwu Tunggul Ametung.
“Jajar itu ternyata berkhianat.” geram Akuwu itu pula, dan sekali lagi berteriak sambil menghentakkan kakinya, “Aku tahu. Aku tahu. Jajar itulah yang membuat ceritera tentang penyerahan perhiasan besok. Tentang dua orang prajurit yang syaratkan untuk mengawal. Tentang Jajar yang gemuk, itu yang harus membawa tebusan itu. Nah, diluar regol itu telah menunggu orang-orang yang hari ini berusaha membunuh Kebo Sindet.” Akuwu itu berhenti sejenak, lalu, “Aku akan pergi sekarang. Semua harus dibinasakan Kebo Sindet dan Jajar yang gemuk itu.”
Dada Ken Dedes berguncang mendengar kata-kata Akuwu itu. Seandainya, ya, seandainya hal itu terjadi, alangkah menyedihkannya. Alangkah pahitnya. Sehingga tiba-tiba saja Ken Dedes itu berlutut dibawah kaki Akuwu Tunggul Ametung sambil memegangi kaki itu,
“Ampun Tuanku. Jangan pergi. Jangan pergi. Biarlah apa yang telah terjadi dengan kakang Mahisa Agni. Akuwu harus mencari jalan lain untuk membebaskannya. Tetapi bukan Tuanku sendiri yang harus pergi.”
Sejenak Akuwu Tunggul Ametung itu justru mematung. Ia merasakan sesuatu yang menggetarkan dadanya. Sikap Ken Dedes yang mencemaskan nasibnya itu justru menambah tekadnya untuk menolong Mahisa Agni. Untuk menyenangkan hati Ken Dedes dan melepaskannya dari kesedihan yang melandanya setiap hari, sebelum kakaknya itu dibebaskannya.
Maka sejenak kemudian ia berkata, “Ken Dedes. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Seandainya Kebo Sindet terbunuh didalam perkelahian itu, apakah untuk seterusnya kita akan dapat menemukan kesempatan untuk membebaskan Mahisa Agni? Mungkin Mahisa Agni dijaga oleh orang-orang Kebo Sindet dengan pesan-pesan khusus, seandainya Kebo Sindet tidak kembali pada saat-saat yang ditentukan. Tetapi seandainya Mahisa Agni disembunyikan ditempat yang sukar diketahui oleh orang lain kecuali Kebo Sindet sendiri, meskipun tanpa pengawasan, namun apabila Mahisa Agni tidak berhasil keluar dari tempat itu, maka betapapun lambatnya, ia akan mati pula. Mungkin karena kelaparan, haus dan mungkin karena sebab-sebab lain.”
“Lalu apakah yang akan tuanku lakukan?”
“Kalau mungkin menangkap Kebo Sindet dan mendengar beberapa keterangan langsung dari padanya, tentang Mahisa Agni sebelum orang itu dibinasakan. Sebab ia adalah orang yang sangat berbahaya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Tetapi seandainya. Kebo Sindet itu menang, maka malahan masih ada harapan untuk dapat menyelamatkan Mahisa Agni. Kalau Kebo Sindet menganggap bahwa Jajar itulah yang berkhianat kepadanya, maka ada kemungkinan Kebo Sindet kelak mencari cara lain untuk memeras kita. Jika demikian, maka selama itu Mahisa Agni pasti masih hidup. Tetapi akan berbeda sekali akibatnya, apabila Kebo Sindet menganggap bahwa Jajar itu telah bekerja bersama dengan kita untuk menjebaknya. Jika demikian, maka nasib Mahisa Agni ada dalam bahaya.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar keterangan Akuwu Tunggul Ametung itu sehingga ia berdesah, “Mudah-mudahan kakang Mahisa Agni selamat.”
“Nah, aku sekarang akan mencari jalan untuk menyelamatkannya.”
“Apakah Tuanku akan pergi dengan pengawal?”
“Ya, kali ini aku tidak perlu bersembunyi. Aku akan datang dengan sepasukan prajurit untuk mencegah kemungkinan salah seorang dari orang-orang yang tamak itu melarikan diri. Aku akan berusaha mendengar penjelasan Kebo Sindet sendiri, dimana Mahisa Agni. Tetapi kalau aku terpaksa membinasakannya, maka aku berharap bahwa Kuda Sempana akan tertangkap hidup-hidup.“ Lalu kepada prajurit yang melaporkannya Akuwu itu bertanya, “Bukankah Kuda Sempana ada bersamanya?”
“Hamba Tuanku.”
“Bagus. Pada dasarnya kedua pihak yang berkelahi itu harus binasa.“ Akuwu itu berhenti sebentar, lalu, “he, siapkan prajurit-prajurit pengawal dan beberapa orang Pelayan Dalam yang sedang bertugas. Siapkan orang-orang yang paling baik sebanyak lima belas orang.”
“Hamba Tuanku, hamba akan menghubungi Senapati yang bertugas malam ini.”
“Baik, perintahku kepadanya, segera bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Kita akan pergi berperang.”
“Hanya lima belas orang Tuanku.”
“Ya.“ tetapi Akuwu itu tertegun, “berapa orang yang menjebak Kebo Sindet.”
“Hamba kurang jelas, Tuanku. Tetapi disekitar sepuluh orang.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Lima belas orang telah cukup. Masih ditambah kau dan aku, dan seorang kawanmu yang barangkali masih tinggal disekitar perkelahian itu?”
“Hamba Tuanku, kawan hamba itu berusaha melihat apa yang telah terjadi, sedang hamba harus menyampaikan peristiwa ini kepada Tuanku.”
“Kalau begitu Iima belas orang terbaik telah cukup. Cepat, hubungi Senapati yang bertugas. Aku tidak mempunyai waktu untuk memanggil Witantra dan Ardata. Aku cukup membawa prajurit-prajurit pengawal dan Pelajan Dalam yang ada.”
“Hamba Tuanku.”
“Cepat. Aku akan segera berangkat sebelum terlambat.”
Prajurit itu kemudian surut sampai diluar pintu sambil berjongkok. Tetapi ia hampir terlonjak ketika ia tiba-tiba saja mendengar Akuwu itu membentak keras-keras,
“Cepat, kenapa kau merayap seperti siput? Apakah kau tidak dapat berlari?”
Sambil menyembah prajurit itu menyahut, “Hamba Tuanku.”
Dengan ragu-ragu prajurit itupun segera berdiri. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari meninggalkan bilik itu untuk menemui Senapati yang sedang bertugas. Sedang prajurit yang lain, yang mengantarnya menghadap Akuwu segera menyusulnya dibelakangnya.
Akuwu Tunggul Ametungpun segera mempersiapkan dirinya dengan pakaian keprajuritan. Sebuah pedang dilambung kiri, dan dilambung kanan tergantung senjata pusakanya. Sebuah penggada yang berwarna kuning berkilauan. Ken Dedes kemudian melepas Akuwu Tunggul Ametung dengan dada yang berdebar-debar, Ia sendiri memimpin pasukan yang kecil itu berpacu di atas punggung kuda yang tegar, berlari kencang sekali seperti angin. Para prajurit yang bertugas diregol, yang belum mendengar apa yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung terkejut bukan buatan. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tidak lebih dari sekejab, maka kuda-kuda itu telah lampau sambil melontarkan kepulan debu yang putih.
Para pengawal regol itu saling bertanya-tanya diantara mereka. Tetapi kemudian merekapun mendengar bisikan ketelinga mereka, “Akuwu akan langsung menangkap Kebo Sindet itu sendiri.”
Setiap prajurit yang mendengar berita itu menjadi berdebar-debar. Sebagian dari mereka telah pernah mendengar, betapa Kebo Sindet merupakan hantu yang menakutkan disebelah Timur Gunung Kawi. Tetapi hampir setiap prajuritpun tahu, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bukanlah seorang anak-anak yang sedang mencoba belajar naik kuda. Akuwu Tunggul Ametung adalah manusia yang aneh pula, yang memiliki kelebihan dari manusia kebanyakan. Bahkan para prajurit Tumapel percaya akan ceritera tentang Akuwunya, bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang memiliki kesaktian dari langit.
“Seandainya aku mendapat kesempatan, aku ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.“ desis salah seorang prajurit.
“Alangkah dahsyatnya.“ sahut yang lain, “kalau benar Akuwu Tunggul Ametung bertemu dan sempat bertempur melawan Kebo Sindet.”
“Pasti akan terjadi pertempuran seperti yang sering kami khayalkan dari ceritera Bharatayuda.“ berkata yang lain, “seperti perang Karna dan Arjuna.”
“Tidak. Tidak seperti kedua satria itu. Kebo Sindet sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan Karna, dan Akuwu Tunggul Ametung sama sekali bukan Arjuna, meskipun Permaisurinya cantik seperti Sembadra.”
“Ya, memang bukan. Seperti Bima dan Duryudana.”
“Entahlah.“ berkata yang lain, “tetapi perkelahian itu pasti akan sangat mengerikan. Apalagi apabila Akuwu Tunggul Ametung telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang aneh itu, penggada yang berwarna dan bercahaya kekuning-kuningan.”
“Seperti pertempuran antara guntur dan petir dilangit.”
Sementara itu Akuwu Tunggul Ametung berpacu secepat-cepat kudanya dapat berlari. Ia masih belum menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk mengatasi keadaan yang bekembang tidak sesuai dengan rencananya itu. Tetapi ada satu ketetapan dihatinya, kedua pihak harus dibinasakan. Namun ia masih memerlukan petunjuk tentang Mahisa Agni. Kalau ia berhasil membinasakan Kebo Sindet tetapi kemudian tidak berhasil menemukan Mahisa Agni, maka kerjanya akan bernilai setengah. Sebab dengan demikian, Ken Dedes pasti masih juga selalu bersedih.
Prajurit-prajurit pengawalnya kali ini adalah prajurit-prajurit pengawal istana dan lima orang Pelajan Dalam. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dapat dikumpulkan malam itu. Mereka adalah orang-orang yang sedang bertugas mengawal istana. Dan Akuwu Tunggul Ametung percaya kepada kekuatan dan kesetiaan mereka. Karena itu maka Akuwu Tunggul Ametung dengan pasti melarikan kudanya untuk menyelesaikan persoalannya.
“Aku harus segera mendapat penyelesaian.” desisnya di dalam hatinya, “supaya aku tidak selalu disiksa oleh persoalan ini sehingga persoalan-persoalan lain menjadi terdesak karenanya. Selama ini masih belum selesai, maka mendung di istana masih belum dapat disingkirkan Ken Dedes pasti masih selalu dibayangi oleh kemurungan tanpa dapat diredakannya.”
Dengan demikian maka Akuwu itupun menjadi semakin bernafsu. Kemarahan yang selama ini ditahan-tahannya, kini seolah-seolah ingin diledakkannya. Ia harus membuat perhitungan terakhir. Derap kaki-kaki kudanya gemeretak diatas tanah berbatu-batu. Beberapa orang prajurit pengawal rapat berpacu dibelakangnya. Tetapi beberapa orang yang lain, tidak mampu mengikutinya dalam jarak yang wajar, karena kuda-kudanya tidak setangkas kuda Akuwu Tunggul Ametung yang dilarikan melampaui kecepatan yang seharusnya. Namun jarak itu tidak mengganggu. Mereka masih tetap dalam kesatuan yang utuh apabila mereka dengan tiba-tiba saja harus berhadapan dengan lawannya.
Prajurit penunjuk jalan, yang mula-mula melaporkan peristiwa yang terjadi kepada Akuwu Tunggul Ametung, dengan susah payah berusaha untuk tetap berada didekat Akuwu, supaya setiap saat ia dapat memberitahukan arah yang harus ditempuh, karena Akuwu sendiri belum pernah melihat rumah juru taman yang telah berkhianat kepada kedua belah pihak itu.
“Apakah rumah itu masih jauh?” geram Akuwu itu kemudian.
“Tidak Tuanku. Sudah tidak terlampau jauh. Diujung jalan yang masuk kemulut perkampungan didepan itu kita berbelok kekanan, kemudian masuk kedalam.”
“Apakah kita akan sampai?”
“Diujung perkampungan yang lain kita berbelok lagi kekanan. Kita akan sampai disebuah halaman yang kosong, kalau kita masuk lagi kedalam, maka kita akan sampai. Satu halaman berselang dari jalan ditepi perkampungan itu.”
“Kenapa berputar-putar? Apakah tidak ada jalah yang melintas?”
“Tidak Tuanku. Jalan yang paling pendek hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki lewat beberapa halaman dan jalan yang terlampau sempit.”
Akuwu tidak menjawab, tetapi ia berusaha memacu kudanya semakin cepat. Tetapi tiba-tiba Akuwu itu terperanjat. Tidak begitu jauh dihadapannya, didalam perkampungan yang ditujunya, ia melihat lidah api menjilat keudara. Baru saja. Seolah-olah sengaja menyambut kedatangannya. Bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang terperanjat, tetapi prajurit yang menunjukkan jalan kepadanya dan para pengawalnya. Hampir serempak mereka berdesis,
“Api.”
“Ya, api.” Akuwu Tunggul Ametung hampir berteriak, “apakah artinya ini, he?”
Prajurit penunjuk jalan itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Hamba tidak mengerti Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung menggeram. Ia mencoba mencari hubungan antara api dan perkelahian yang telah terjadi. Kebo Sindet harus melawan beberapa orang sekaligus. Apakah ia masih sempat berpikir, membakar rumah Jajar yang gemuk itu?. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung tidak bernafsu untuk memikirkan jawabannya. Ia ingin segera sampai dan dengan demikian ia akan mendapat jawaban itu dengan sendirinya. Karena itu maka kudanya justru dipacunya lebih cepat lagi. Semakin lama semakin cepat, sehingga kuda itu seolah-olah tidak lagi menjejak diatas tanah.
Demikian nafsunya untuk segera sampai ketempat Jajar yang gemuk itu, sehingga Akuwu Tunggul Ametung tidak menghiraukan apa-apa lagi. Ia tidak menghiraukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi disepanjang jalan. Sehingga kuda pengawal utamanya terpaksa dengan susah pajah berpacu disampingnya. Ketika mereka hampir memasuksi desa didepan mereka, maka kedua pengawal itu terpaksa sedikit menahan laju kuda Akuwu Tunggul Ametung. Salah seorang dari mereka berkata,
“Ampun Tuanku. Biarlah hamba akan berada didepan sekali.”
Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi ia seolah-olah tidak menghiraukannya.
“Ampun Tuanku.” prajurit pengawalnya mengulangi, “hamba akan berada didepan Tuanku sebelum memasuki perkampungan itu.”
Tetapi Akuwu masih juga juga diam. Sedang mulut lorong yang masuk kedalam desa didepan mereka menjadi semakin dekat. Kedua pengawal Akuwu itu menjadi cemas. Yang kini mereka hadapi adalah orang-orang yang kuat namun licik. Baik kawan-kawan Jajar yang gemuk yang berjumlah kira-kira sepuluh orang itu, maupun Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Karena itu, maka tanpa menunggu jawaban Akuwu Tunggul Ametung, maka kedua pengawal utamanya itu berusaha untuk mendahuluinya.
Akuwu Tunggul Ametung menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Kenapa kalian menjadi gila, he?”
“Hamba berdualah yang seharusnya berada didepan Tuanku dalam keadaan serupa ini.”
Akuwu Tunggul Ametung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tetapi kemudian disadari bahaya yang dapat menerkamnya setiap saat dari orang-orang yang licik itu. Karena itu, maka kemudian dibiarkannya kedua pengawal utamanya itu mendahuluinya, untuk meyakinkan, bahwa jalan yang akan dilaluinya tidak dirintangi oleh bahaya yang mengancam keselamatannya. Tetapi mereka memang sedang menuju ketempat yang berbahaya. Tempat yang tidak diketahui dengan pasti, apakah yang akan dihadapinya nanti. Kebo Sindet dan Kuda Sempana, atau Jajar yang gemuk itu dengan kawawan-kawawannya, atau bahkan mereka bergabung untuk dapat melepaskan diri mereka dari prajurit-prajurit Tumapel.
“Kalau demikian.” berkata Akuwu didalam hatinya, “aku benar-benar harus berhati-hati. Kalau kedua iblis itu justru bersepakat untuk menjebak prajurit-prajurit Tumapel, maka aku harus dapat menyesuaikan diriku bersama pasukan kecil ini.”
Namun Akuwu Tunggul Ametung masih juga tetap tatag. Karena ia benar-benar mempercayai kekuatan para pengawalnya, dan terutama sekali ia percaya kepada senjatanya, kepada penggadanya yang berwarna dan bercahaya kekuning-kuningan. Senjata yang mempunyai kekuatan yang dapat diandalkannya. Kalau Akuwu itu mateg Aji pamungkasnya untuk melambari ayunan gadanya, maka seakan-akan gunung akan menjadi runtuh dan lautan akan menjadi kering, tersentuh oleh pusakanya itu.
Akuwu menjadi semakin gelisah ketika ia melihat lidah api menjadi semakin tinggi. Warna langit yang hitam, tiba-tiba menjadi semburat merah. Namun kebakaran itu masih belum terlampau besar. Masih ada kesempatan untuk melihat, apa yang sebenarnya telah terjadi. Kini yang berpacu paling depan adalah kedua pengawal utama Tunggul Ametung berurutan. Kemudian barulah Akuwu sendiri yang berpacu diatas punggung kudanya dengan wajah tegang. Ternyata waktu yang mereka perlukan tidak terlampau lama. Sejenak kemudian mereka telah berbelok memasuki lorong yang akan melewati jalan kecil dimuka rumah Jajar yang gemuk itu.
“He.” bertanya. Akuwu itu kepada prajurit penunjuk jalan, “Dimana rumah itu.”
“Kita telah sampai, yang terbakar itulah.” jawab prajurit itu.
Dengan serta merta para prajurit itu segera mengekang kuda-kuda mereka. Kini mereka berada tidak terlampau jauh dari rumah yang memang sedang dimakan oleh api, meskipun belum lagi separonya.
“Jadi rumahnya yang terbakar itu?“ bertanya Akuwu.
Penunjuk jalan itu menyahut, “Hamba Tuanku, itulah rumahnya.”
“Kita mendekat. Kita lihat, kenapa rumah itu terbakar.”
Mereka maju lagi perlahan-lahan Segera mereka memasuki halaman rumah yang kotor itu. Tak seorangpun dari tetangga tetangga yang berani keluar rumah dan menolong memadamkan api yang merayap untuk menelan seluruh rumah dan isinya.
“Bukan main ganasnya setan dari Kemundungan itu.” desis Akuwu Tunggul Ametung, “tetapi dimana orang itu?”
Belum lagi seorangpun yang menjawab, maka beberapa orang prajurit segera menyibak, memberi jalan kepada seorang yang dengan berjalan kaki langsung menuju kearah Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu Tunggul Ametung memperhatikan orang itu dengan seksama. Cahaya api yang menyala-nyala segera memperkenalkannya, bahwa ia adalah prajuritnya yang seorang lagi, yang bertugas mengawasi rumah Jajar yang gemuk itu.
“Kau?” desis Akuwu.
“Hamba Tuanku.”
“Apa yang kau lihat, dan apakah sebabnya maka timbul kebakaran?”
“Ampun Tuanku.” jawab prajurit itu, “hampir hamba menjadi pingsan melihat kelakuan Kebo Sindet, setan dari Kemundungan yang hamba kira adalah orang yang paling buas dipermukaan bumi.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sekali dipandanginya api yang menyala semakin besar. Bagian depan rumah itu kini sudah lebih dari separo dimakan api. Api yang menyala dari sudut itu merayap perlahan-lahan. Suaranya bergemeretak seperti seribu gerobag lewat diatas tanah berbatu-batu.
“Apa yang kau lihat?“ bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
“Pembantaian yang tidak tanggung-tanggung.”
“Hem.“ Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.
“Anak-anak muda yang mencoba menjebak Kebo Sindet ternyata telah menjadi korban yang mengerikan.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak melihat sesosok mayatpun dihalaman rumah itu.
“Tetapi dimanakah Kebo Sindet membunuh korbannya? Bukankah mereka bertempur dihalaman ini?”
“Hamba Tuanku.“ sahut prajurit itu, “tetapi setelah mereka dibunuh dengan cara Kebo Sindet, mereka dilemparkan kedalam rumah itu. Sebelum Kebo Sindet pergi, rumah itu dibakarnya.”
“Hem.” sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas, lalu katanya, “Bagaimana dengan Jajar yang gemuk itu?”
“Ia mengalami nasib paling jelek diantara kawan-kawannya. Ia ditangkapnya yang terakhir kalinya. Diikat dan dimasukkan kedalam rumah itu pula, tanpa dibunuhnya lebih dahulu.”
“He? Jadi Jajar itu masih hidup?”
“Hamba Tuanku. Tetapi didalam rumah itu.”
“Ambil dia.” Prajurit itu tidak menjawab. Api kini berkobar semakin besar. “Apakah Jajar itu kira-kira sudah terbakar didalam rumah itu?”
“Hamba tidak tahu Tuanku.”
“Ambil, ambil dia.” teriak Tunggul Ametung, “cari jalan dari sisi yang belum terbakar itu. Mungkin kau masih menemukannya diruangan yang belum dimakan api.”
Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Dipandanginya saja Akuwu Tunggul Ametung, seakan-akan ia tidak percaya kepada perintah itu.
“Ambil, cepat, ambil.” Akuwu itu berteriak.
Prajurit yang masih saja ragu-ragu itu tidak juga beranjak dari tempatnya. Tetapi seorang prajurit yang lain, pengawal Akuwu Tunggul Ametung dengan sigapnya meloncat dari kudanya dan berlari kearah api yang sedang menyala.
“Ingat arah api.” teriak Akuwu itu pula.
Ternyata kemudian dua orang prajurit termasuk prajurit yang ragu-ragu itu menyusulnya, melingkar dari sudut yang masih belum terbakar. Dengan susah pajah mereka merobek dinding dan dengan wajah yang merah oleh nyala api yang berkobar ketiganya mencoba masuk kedalam rumah yang sudah hampir ditelan api itu.
Wajah Akuwu menjadi tegang. Ia melihat seolah-olah ketiga prajuritnya itu masuk kedalam lautan api. Sehingga kemudian ia berteriak penuh penyesalan. “Keluar, keluar. Tinggalkan rumah itu. Biarkan Jajar itu dimakan api. Cepat, keluar.”
Tetapi ketiga prajurit yang masuk kedalam rumah yang telah terbakar itu tidak segera keluar. Sementara api semakin lama menjadi semakin ganas. Lidah yang merah mencuat seolah-olah hendak menyentuh langit. Kini sebagian besar rumah itu dibagian depan sudah terbakar. Api sedang merambat kesudut tempat para prajurit memasuki rumah itu.
“Keluar, cepat keluar.” teriak Tunggul Ametung semakin keras.
Tetapi ketiga prajurit itu masih juga belum muncul. Akuwu itu semakin tegang seketika akhirnya sudut itupun mulai dijilat oleh api. Sedikit demi sedikit, akhirnya rumah itu kini seolah-olah menjadi seonggok bara yang menyala.
“Gila.” Akuwu itu menggeram, lalu, “Lihat dibagian lain.” ia berteriak keras sekali, “lihat dibagian belakang, apakah seluruh rumah ini sudah terbakar.”
Beberapa orang prajurit segera berlari berpencaran. Mereka berlari kesisi rumah itu. Ternyata mereka melihat bagian belakang rumah itu masih belum lenyap ditelan api. Dengan demikian mereka masih mengharap bahwa kawannya akan dapat menyelamatkan diri dari bagian itu. Ternyata harapan itu terpenuhi. Mereka melihat pintu belakang itu bergerak, kemudian pecah menjadi kepingan-kepingan papan, kemudian mereka melihat sesosok tubuh muncul dari dalam disusul oleh dua orang yang lain. Salah seorang dari padanya ternyata mendukung seseorang yang agaknya sedang pingsan.
“He cepat.” teriak prajurit yang melihat mereka keluar.
Mereka berjalan tersuruk-suruk. Ternyata mereka telah mengalami luka-luka bakar pada tubuh mereka. Meskipun luka itu tidak terlampau parah, tetapi nafas mereka seolah-olah hampir putus karena asap yang bergulung-gulung didalam rumah yang terbakar itu. Beberapa orang prajurit segera mencoba menolong mereka. Seorang yang lain mengambil orang pingsan itu dari tangan pendukungnya yang sudah menjadi terlampau payah. Orang yang pingsan itu adalah Jajar yang gemuk, yang telah mencoba menjebak Kebo Sindet.
“Air.” desis salah seorang prajurit yang menjadi kehitam-hitaman. Bajunya tersobek oleh percikan api. Bukan saja baju dan kainnya, tetapi juga kulitnya.
“Marilah kita menghadap Akuwu.” ajak salah seorang kawannya.
Prajurit-prajurit yang terluka oleh api itu segera tertatih-tatih menghadap Akuwu Tunggul Ametung. Hanya karena kekuatan yang memancar dari dalam diri mereka oleh kepatuhan maka mereka dapat selamat dari api yang hampir menelan mereka hidup-hidup. Seorang prajurit yang lain segera mencari sumur. Dengan upih yang ada ia segera mengambil air, langsung dilepasnya dari senggotnya, dan dibawa kepada ketiga prajurit yang sedang kehausan.
“Hem.” Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam, “kalian memang luar biasa. Terima kasih.”
Prajurit-prajurit itu tidak segera menjawab. Tetapi dengan tangan gemetar diraihnya upih yang berisi air. Hampir tidak sabar mereka minum berganti-ganti dari upih itu. Perasaan haus yang hampir tak tertahankan telah mencekam leher mereka.
Akuwu membiarkan prajurit-prajurit itu minum. Tetapi ia sempat memperingatkan, “Jangan kau turuti nafsumu untuk memuaskan haus. Kau dapat menjadi sakit karena terlampau banyak air yang kau telan.”
Prajurit-prajurit itu kini telah mendapatkan kesadarahnya kembali sepenuhnya setelah mereka mendapat tekanan perasaan yang sangat tajam ketika mereka berada ditengah-tengah api. Untunglah bahwa mereka tidak kehilangan sama sekali pikiran mereka, sehingga mereka masih sempat mencari jalan keluar. Dan bahkan masih sempat mendukung, Jajar yang gemuk itu. Tetapi ternyata keadaan Jajar yang gemuk itu agak lebih parah. Seutas tali masih tergantung ditangannya. Luka-luka ditubuhnya ternyata tidak saja luka bakar karena sentuhan api yang memercik, tetapi tubuhnya juga tergores oleh senjata dan bahkan karena pukulan-pukulan yang keras di wajahnya.
“Apakah Jajar itu tadi terikat tangannya?” bertanya Akuwu yang masih melihat ujung tali yang berjuntai ditangan Jajar yang pingsan itu.
Salah seorang prajurit yang masuk mengambilnya, menjawab dengan gemetar, “Hamba tuanku. Hamba menemukannya diruang dalam, terikat pada sebuah tiang. Hamba terpaksa memotong tali pengikatnya sehingga hamba memerlukan waktu untuk itu.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku mencemaskan nasib kalian. Tetapi adakah luka-luka kalian sangat parah?”
“Tidak tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “luka-luka hamba bertiga tidak terlampau parah. Tetapi hamba telah diserang oleh kebingungan dan hampir-hampir kehilangan akal. Tetapi sekarang hamba telah dapat berpikir dengan wajar.”
“Bagus. Memang kadang-kadang dalam keadaan yang paling sulit justru kita kehilangan akal untuk berusaha melepaskan diri. Tetapi kalian masih dapat bertahan melawan kebingungan dihati kalian. Itulah yang ternyata menyelamatkan kalian.”
“Hamba tuanku.” ketiga prajurit itu hampir berbareng menyahut.
“Lalu bagaimanakah dengan Jajar yang gemuk itu?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung sambil meloncat turun dari kudanya. Selangkah ia maju mendekati Jajar yang pingsan yang kemudian dibaringkan ditanah. “Apakah luka-lukanya parah?”
“Hamba tuanku.“ jawab salah seorang prajurit. Oleh cahaya api yang menyala semakin besar, tampak jelas pada Jajar itu, warna-warna mereka yang menodai pakaiannya, Darah.
“Darah itu tidak menitik dari luka-luka bakarnya.” desis Akuwu Tunggul Ametung.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar