MENU

Ads

Selasa, 07 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 175

“Hamba Tuanku. Pada tubuhnya terdapat goresan-goresan senjata tajam. Dan bahkan mungkin Jajar itu telah di pukul pula dengan tangkai pedang di wajahnya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia maju lagi mendekati Jajar yang pingsan dan kemudian berdiri disampingnya. Para pengawalnyapun segera turun pula dari kuda-kuda mereka dan berdiri melingkari Jajar yang terbaring pingsan itu. Akuwu Tunggul Ametung melihat luka-luka di tubuh Jajar itu. Ia membungkukkan badannya sedikit dan meraba tubuh yang terbujur diam itu.

“Ia masih hidup.” desisnya.

“Hamba Tuanku. Memang ia masih hidup.”

“Lalu dimanakah kawan-kawannya yang telah berkelahi melawan Kebo Sindet.” bertanya Akuwu itu.

Prajurit yang mengawasi perkelahian itu dan yang kini tubuhnya telah diwarnai oleh asap yang kehitam-hitaman dan luka-luka bakar menjawab, “Didalam Tuanku. Mereka ditimbun disamping Jajar yang terikat pada tiang ini.”

Akuwu mengatubkan giginya rapat-rapat. Ia mendapat gambaran semakin jelas tentang Kebo Sindet. Bahwa sebenarnyalah bahwa orang itu sama sekali tidak dapat dibedakan dengan iblis yang sebuas-buasnya.

“Ternyata Kebo Sindet sama sekali tidak mendapat kesulitan untuk menyelesaikan mereka dalam waktu yang singkat. Aku menyesal bahwa aku datang terlambat. Aku ingin menghentikan kebuasannya itu.”

“Hamba Tuanku. Ternyata lawan-lawannya sama sekali tidak dapat berbuat banyak ketika orang itu telah mencabut goloknya. Seperti menebasi ilalang, diselesaikannya pertempuran itu. Aku kira Kebo Sindet sengaja tidak membunuh Jajar yang gemuk ini. Aku kira ia sengaja membuat Jajar ini mati ketakutan, kalaupun tidak ia akan menjadi abu.”

“Ya, Kebo Sindet membiarkan Jajar ini merasakan panasnya api yang menjilatnya sedikit demi sedikit. Tetapi ternyata Jajar ini tidak terlampau tabah, sehingga ia telah jatuh pingsan sebelum tubuhnya dijilat api.”

“Itu lebih baik baginya Tuanku.”

“Ya. itu lebih baik.” Akuwu Tunggul Ametung mengulangi. Kini sekali lagi ia meraba tubuh Jajar itu. Lalu katanya, “Berilah ia minum. Semula aku berhasrat untuk membinasakannya pula. Tetapi melihat keadaannya aku tidak sampai hati.”

Prajurit-prajurit itu sejenak saling berpandangan. Tetapi salah seorang dari mereka segera meneteskan beberapa titik air kemulut Jajar itu. Akuwu Tunggul Ametung masih berdiri disampingnya dengan wajah yang tegang. Hatinya memang terlampau meledak-ledak. Tetapi hati yang meledak-ledak itu mudah juga menjadi cair. Ketika ia melihat wajah Jajar itu seputih mayat, tubuh yang dilukisi oleh jalur-jalur luka senjata tajam dan luka-luka bakar, maka ia menjadi iba. Akuwu itu membungkuk sekali lagi ketika ia melihat bibir Jajar itu bergerak. Kemudian ia melihat gerak lehernya. Agaknya Jajar itu telah mampu menelan butiran-butira air yang membasahi kerongkongannya.

Sejenak mereka yang mengelilingi Jajar itu menjadi tegang. Mereka seolah-olah tidak lagi memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Mereka seolah-olah sudah tidak lagi mendengar derak rumah Jajar yang terbakar itu. Mereka tidak menghiraukan lagi panas api yang menyentuh tubuh mereka. Dan mereka sama sekali tidak memperdulikan tetangga-tetangga Jajar itu mengintip dari kejauhan dari sela-sela dinding rumah mereka.

Ketika dada Jajar itu mulai bergerak, terdengar Akuwu Tunggul Ametung berdesis, “Ia masih hidup, ia mulai bergerak.”

“Hamba Tuanku.” sahut salah seorang prajurit tanpa berpaling. Juru taman itu telah benar-benar merampas segenap perhatian Akuwu Tunggul Ametung dan para prajuritnya.

“Berilah ia air beberapa tetes lagi. Jangan terlampau banyak supaya apabila ia mendapat kesulitan untuk menelannya justru tidak menjumbat pernafasan.”

“Hamba Tuanku”. Kemudian seorang prajurit telah meneteskan beberapa titik air kemulut Jajar yang gemuk itu. Dan mereka melihat bibir itu bergerak-gerak dan kerongkongannya telah mulai menelannya pula.

“Ia akan segera sadar.“ gumam Akuwu Tunggul Ametung.

Dan ternyata Jajar itu sejenak kemudian menggerakkan kepalanya. Kemudian nafasnya mulai terasa. semakin cepat mengalir. Ketika seorang prajurit sekali lagi meneteskan air dimulutnya, maka terdengar sebuah keluhan yang lambat sekali keluar dari mulut juru taman itu.



“Nah.“ desis seorang prajurit yang berjongkok disamping Jajar itu, “ia telah sadar.”

“Ya.“ sahut yang lain.

Perlahan-lahan Jajar itu membuka matanya. Perlahan-lahan pula dicobanya menggerakkan anggauta tubuhnya. Tetapi sejenak kemudian ia menyeringai menahan sakit yang seolah-olah mencengkam segenap bagian tubuhnya.

“Jangan bergerak.” berkata salah seorang prajurit.

Jajar itu tiba-tiba membelalakkan matanya. Dengan nanar dipandanginya orang-orang yang berada disekitarnya. Lalu, tiba-tiba Jajar itu mencoba untuk bangkit. Tetapi tubuhnya masih terlampau lemah sehingga iapun terjatuh lagi, terbaring diatas tanah.

“Jangan bergerak.” seorang prajurit mencoba memperingatkan yang sekali lagi.

Tetapi mereka yang berada di seputar Jajar itu terkejut ketika tiba-tiba saja Jajar itu berteriak, “Apa katamu? Apakah kau mengancam?”

Para prajurit itu saling berpandangan. Tetapi mereka kemudian menangkap isyarat Akuwu Tunggul Ametung yang berdesis, “Ia sedang mengigau. Tubuhnya terlampau panas.”

Dengan demikian maka para prajurit itupun tidak berbuat apa-apa. Mereka juga tetap berdiam diri saja ketika mereka melihat Jajar itu menggeliat.

“He.” Katanya, “apakah kalian telah berhasil?, He, apakah kalian telah berhasil?” Tak ada seorangpun yang menjawab.

Jajar itu mengerutkan keningnya. Ketika sekali lagi ia membelalakkan matanya, maka para prajurit dan bahkan Akuwu Tunggul Ametung menjadi berdebar-debar. Mereka melihat sesuatu yang lain pada sorot mata Jajar yang gemuk itu. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa Jajar yang masih saja terbaring itu. Tetapi suara itu terputus oleh kata-katanya sendiri,

“He, dimana Kebo Sindet? Apakah kau Kebo Sindet? Kau mengancamku?”

Tak seorangpun yang menjawab. Dan Jajar itu berkata pula, “Oh, ternyata kau bukan Kebo Sindet. Kau adalah anak-anak muda yang telah membantuku. Bagus. Kalian akan mendapat bagian kalian. Tetapi ingat, besok kalian harus membawa kawan-kawan lebih banyak lagi. Akulah yang akan membawa tebusan itu bersama dua orang prajurit. Kalian harus membinasakan kedua prajurit itu dan melemparkannya keparit.“

Jajar itu berhenti sejenak, lalu meledaklah suara tertawanya, “Tiga pengadeg perhiasan itu akan jatuh ketanganku. Oh, alangkah bodohnya Kebo Sindet dan Permaisuri Ken Dedes itu. Alangkah bodohnya.“ suara tertawanya kini meninggi.

“Bukankah Ken Dedes bersedia memberikan tebusan tiga pengadeg? Tidak hanya satu pengadeg seperti permintaan Kebo Sindet.“ suara tertawa Jajar yang gemuk itu semakin tajam membelah sepinya malam, disela-sela derak rumahnya yang sedang terbakar.

Tetapi Jajar itu sudah kehilangan kesadarannya. Ia sudah tidak dapat menyadari lagi bahwa rumahnya sudah hampir habis dimakan api. Ia sudah tidak mempedulikan lagi ketika sisa-sisa bara rumah itu runtuh menimpa mayat-mayat yang sudah terbakar pula di dalam rumah itu. Jajar itu sama sekali sudah tidak dapat mencium bau wengur yang menusuk-nusuk hidung.

Akuwu Tunggul Ametung berdiri saja seperti patung. Dadanya terasa menghentak-hentak mendengar igauan Jajar yang gemuk itu. Perasaan iba dan kasiannya sedikit demi sedikit terhalau dari hatinya yang meledak-ledak, seperti rumah Jajar itu yang sedikit demi sedikit musna menjadi abu. Apalagi ketika ia mendengar Jajar itu berkata terus didalam kegilaannya,

“Ayo, siapkan kawan-kawanmu. Aku akan menjadi kaya raya. Aku akan menjadi seorang yang paling kaya di Kediri kecuali Tunggul Ametung dan Maha Raja Kediri. Aku akan memiliki tanah seluas tanah Perdikan yang besar. Kalian adalah pengawal-pengawalku yang setia dan baik. Kalian akan aku pelihara seperti seekor anjing penjaga. Aku akan selalu menyediakan tulang-tulang untuk kalian supaya kalian tidak menggigit aku sendiri.“ Jajar itu tertawa terus. Suaranya meninggi membelah sepinya malam.

Namun ternyata Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi muak. Tiba-tiba saja ia membentak keras? sehingga para prajuritpun menjadi terkejut pula karenanya,

“Diam, diam juru taman yang gila. Ternyata kau adalah pengkhianat yang paling licik.”

Suara tertawa Jajar itu mereda. Ia mencoba memandangi orang yang berdiri disampingnya. Namun tiba-tiba ia mencoba bangkit sambil berteriak, “He, kaukah Kebo Sindet itu?“ Tetapi sekali lagi Jajar itu jatuh terbaring ditanah.

Akuwu berdiri membeku ditempatnya, sedang para prajuritpun menjadi terpukau oleh sikap Jajar yang gemuk itu. Mereka melihat Jajar itu membelalakkan matanya. Menggeretakkan giginya sambil menggeram. Tetapi sejenak kemudian ia tertawa,

“Oh, aku kira kau adalah Kebo Sindet atau hantunya yang keluar lagi dari api neraka. Bukankah Kebo Sindet sudah dimusnakan?“

Jajar itu berhenti sejenak. Suara tertawanya berderai menyusup diantara suara api yang hampir menelan seluruh rumah Jajar itu. Ledakan-dakan bambu berletupan susul menyusul. Satu demi satu kayu-kayu atap rumah itu runtuh menjadi abu, seperti Jajar itu yang runtuh terbanting dalam kekecewaan dan penyesalan yang sangat. Kejutan dan ketakutan, ancaman-ancaman dan kengerian yang sangat ternyata telah merampas segenap kesadarannya.

Dalam kegilaannya Jajar itu kemudian berteriak, “Siapa kalian he, siapa kalian?” Tak seorangpun yang menjawab.

Mata Jajar itu terbelalak. Tiba-tiba tubuhnya yang lemah itu tersentak. Tanpa disangka-sangka oleh para prajurit, Jajar yang gemuk itu tertatih-tatih berdiri. Dengan wajah yang tegang dan kemerah-merahan bernoda hitam oleh luka-luka bakarnya, Jajar itu memandangi Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian terdengar suaranya parau,

“Siapa kau he, siapa?” Akuwu tidak menjawab. “Apakah kau prajurit Tumapel?“ lalu Jajar itu tertawa, “Ha, ternyata kau prajurit Tumapel. Kau pasti sudah membawa tebusan itu. Mana, mana, berikan kepadaku. Syaratnya, akulah yang harus menyerahKan tebusan itu kepada Kebo Sindet. Tetapi Kebo Sindet sudah mati. Kaupun sebentar lagi akan mati.“ suara tertawa Jajar itu mengguruh bercampur baur dengan suara api, “kaupun akan mati.” Jajar itu maju setapak, mendekati Akuwu Tunggul Ametung.

Akuwu Tunggul Ametung bukanlah seorang penakut. Seandainya yang berdiri dihadapannya itu Kebo Sindet, maka pasti akan segera timbul perkelahian yang dahsyat. Tetapi yang berdiri tersuruk-suruk itu adalah seorang juru taman yang telah menjadi gila. Karena itu, maka justru Akuwu Tunggul Ametung melangkah surut. Para prajurit yang melihatnya seakan-akan menjadi beku. Mereka tidak ubahnya patung-patug batu mati. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam kepala mereka.

“Ha, apakah kau akan lari? Kau tidak akan dapat terlepas dari tanganku.“ kemudian Jajar yang gemuk itu berpaling kepada para prajurit yang tegak seperti tonggak. “Ayo, cepatlah berbuat. Bunuh saja prajurit Tumapel. Ambillah perhiasan yang tiga pengadeg itu.” Tetapi tidak seorangpun yang bergerak. “Cepat. Cepat.“ teriak Jajar yang gemuk itu, “cepat sebelum orang ini lari.”

Jajar itu maju selangkah lagi, dan Akuwu Tunggui Ametungpun mundur lagi selangkah. Akuwu itu menjadi bingung dan jantungnya berdebaran. Belum pernah ia menghadapi orang gila seperti itu. Kalau ia berbuat sesuatu, maka ia telah melakukan kesalahan. Terhadap orang gila, maka tidak sewajarnya dilakukan kekerasan yang dapat mengancam keselamatan orang itu. Apalagi Jajar itu berada dalam keadaan yang sangat payah. Sebuah sentuhan yang perlahan-lahan akan dapat membuatnya roboh dan membahayakan jiwanya. Tetapi untuk terus menerus mundur menghindar adalah menjemukan sekali. Namun ketika orang itu maju selangkah sambil terhujung-hujung, maka Akuwu terpaksa mundur lagi setapak.

“Berhenti disitu.” geram Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi dalam kegilaannya Jajar itu tertawa. “Kau mengancam aku, he? Lihat, kau sudah terkepung. Jangan mencoba lari. Kalau kau dengan suka rela menyerahkan tebusan yang tiga pengadeg itu, maka semuanya akan segera selesai.” Akuwu Tunggul Ametung menggeretakkan giginya. “Ha, akan lari kemana kau, he?” lalu kepada para prajurit Tumapel Jajar itu berteriak mengulangi, “Ayo cepat, kenapa kalian masih diam saja, he? Apakah kalian telah mati.”

“Kau telah menjadi gila.” berkata salah seorang prajurit itu, “duduklah. Beristirahatlah.”

“Apa, kau bilang aku telah menjadi gila? Oh, aku dengar suaramu. Aku tidak gila. Perhitunganku pasti terjadi tepat seperti keinginanku. Lihat prajurit ini datang dengan tebusannya. Ha, kau lihat? Ayo, bunuh saja seperti kalian membunuh Kebo Sindet.” Jajar itu masih saja berteriak-teriak sehingga suaranya menjadi serak. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir lewat lubang hidung dan mulutnya. Sambil terbungkuk-bungkuk ia menekan lambuhgnya. Namun ia masih berteriak-teriak, “Ayo, cepat. Cepat. Bunuh orang itu.”

Akuwu masih berdiri kebingungan. Namun semakin lama perasaan ibanya telah merayapi jantungnya kembali disamping perasaan muak dan jemu. Melihat Jajar yang gemuk itu, terbayang di dalam angan-angan Akuwu Tunggul Ametung, betapa ia dilanda oleh kekecewaan dan ketakutan pada saat kawan-kawannya satu demi satu terbunuh oleh Kebo Sindet. Betapa ia dicekik oleh kengerian melihat api membakar rumahnya sedang ia terikat didalamnya. Hentakan-hentakan perasaan itu telah membuatnya gila. Tetapi itu adalah buah dari tanamannya sendiri.

“Juru taman.” berkata salah seorang prajurit yang agaknya menjadi kasian pula melihat Jajar itu, “coba kau perhatikan baik-baik siapakah yang berdiri dihadapanmu. Cobalah kau melihat baik-baik apa yang ada disekitarmu. Cobalah kau menguasai kesadaranmu dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi atasmu.” Jajar itu sekali lagi membelalakkan matanya. Dan ia mendengar prajurit itu berkata, “Kau lihat aku? Kau lihat pakaianku?” Jajar itu masih membelalakkan matanya. “Pakaian ini pasti kau kenal. Kami adalah prajurit-prajurit Tumapel.“ prajurit itu berhenti sejenak, lalu, “Dan lihatlah, Apakah kau melihat api itu. Api?”

Tidak ada jawaban. Jajar yang gemuk itu mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Tetapi pandangan matanya mengikuti telunjuk prajurit itu mengarah kepada api yang berkobar menggapai langit. Nafas Jajar yang gemuk itu menjadi semakin terengah-engah. Dengan wajah yang tegang ia memandang reruntuhan rumahnya yang menyala.

“Api.“ perlahan-lahan ia bergumam.

“Cobalah mengingat-ingat. Dari manakah api itu datang?“ berkata prajurit yang lain.

Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Kemudian ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Namun masih belum terdapat kesan di wajah yang merah kehitam-hitaman itu. Kini tampak semakin jelas, kulit wajah itu telah menjadi sangat parah. Dibeberapa bagian kulit itu telah terkelupas, dan dibagian lain menjadi hangus. Setapak Jajar itu maju mendekati para prajurit. Seperti seorang yang kehilangan ia mencari-cari pada wajah-wajah prajurit itu. Tetapi ia tidak menemukan sesuatu. Karena itu maka iapun maju lagi mendekati api yang telah menelan rumahnya.

“Api.“ sekali lagi ia berdesis.

“Ya api.“ sahut seorang prajurit, “kau masih dapat mengenal bahwa yang menyala itu api.”

Jajar itu tiba-tiba saja mengangguk-anggukkan kepalanya, “ya, api. Api.”

“Nah, kau sudah hampir menemukan kesadaranmu kembali.” Jajar itu kemudian berdiri mematung. Dipandanginya api itu. Lama sekali ia berdiri tegak sambil memandangi api yang sedang menari-nari. Lama sekali.

Akuwu Tunggul Ametung dan para prajurit Tumapel, membiarkannya berbuat sekehendak hatinya. Mereka tidak sampai hati berbuat sesuatu atasnya. Justru setelah ia menjadi gila. Nafsu Akuwu untuk membinasakan telah menjadi pudar, seperti api yang membakar rumah Jajar itu. Semakin lama menjadi semakin surut. Semakin surut.

Jajar yang gemuk itu masih memandangi api rumahnya. Api yang telah menyentuh tubuhnya pula. Perlahan-lahan Jajar itu memalingkan wajahnya. Dipandanginya semua yang ada di halaman. Pepohonan, rumpun-rumpun bambu, pagar batu yang telah rusak, regol yang hampir roboh dan beberapa macam benda yang lain. Perlahan-lahan sekali ia mulai dapat mengenali benda-benda yang setiap hari dilihatnya itu. Karena itu maka tiba-tiba ia berdesis,

“Dimana kah aku sekarang?”

“Dihalaman rumahmu sendiri.“ jawab seorang prajurit.

“Dihalaman rumahku?“ Jajar itu mengulangi, ketika sekali lagi ia memandangi regol dan pagar batu yang telah bengkah-bengkah, maka iapun berdesis lagi, “Ya, aku berada di halaman rumahku. Tetapi api itu?”

“Ingat-ingatlah apa yang telah terjadi atasmu.”

Jajar itu terdiam. Di pandanginya api itu dengan tajamnya. Tampaklah mulutnya yang telah terluka itu bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun meloncat dari sela-sela bibirnya yang telah menjadi merah kehitam-hitaman itu.

“Apakah kau sudah dapat menyadari keadaanmu?“ seorang prajurit tiba-tiba.

Jajar yang gemuk itu terkejut, dan ternyata kejutan itu telah merangsang ingatannya. Kini ia melihat apa yang telah terjadi dihadapannya. Rumahnya telah menjadi abu.

“Oh.” terdengar sebuah keluhan, “rumahku. Jadi api itu telah membakar rumahku?”

Jajar yang gemuk itu menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Tetapi sentuhan itu telah mengejutkan pula. Ia terdorong semakin dalam kedalam kesadarannya. Kini ia merasa betapa wajahnya menjadi nyeri dan pedih. Tangannya, pundaknya, dadanya. Dan tiba-tiba terasa seluruh tubuhnya menjadi nyeri dan pedih.

Perlahan-lahan ingatannya menjalar kembali di dalam kepalanya Dicobanya untuk mengulangi semua peristiwa yang baru saja terjadi di dalam batinnya. Dan semuanya menjadi jelas baginya. Sejak ia menunggu Kebo Sindet dengan gelisahnya, kemudian kedatangan adiknya. Baru kemudian Kebo Sindet dan Kuda Sempana datang. Perkelahian yang memang sudah direncanakannya segera berkobar. Tetapi nasibnya tidak seperti yang dikehendakinya sendiri. Yang terakhir ia telah diseret oleh Kebo Sindet, dan diikat pada tiang rumahnya. Ia masih melihat sekejap api yang menyala disudut rumahnya itu. Ia masih sempat berteriak-teriak sekuat-kuat dapat dilakukannya. Tetapi tetangganya tidak seorangpun yang berani keluar rumah. Sedang api semakin lama menjadi semakin besar. Kengerian yang sangat telah membuatnya pingsan.

Para prajurit Tumapel dan Akuwu Tunggul Ametung melihat bahwa Jajar itu berangsur-angsur mendapatkan kesadarannya kembali. Mereka membiarkan Jajar itu berdiri diam sambil menjelajahi peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi di dalam ingatannya. Perlahan-lahan mereka melihat Jajar itu memalingkan wajahnya, memandangi para prajurit yang kini berdiri mematung. Jajar itu melihat berpasang-pasang mata memandangnya dengan tajam. Perlahan-lahan ia dapat mengenali pakaian-pakaian yang dikenakan oleh orang-orang itu. Ternyata mereka sama sekali bukan anak-anak muda yang telah diajaknya mendjebak Kebo Sindet.

Sebuah ingatan yang ngeri telah menyengat hati Jajar yang gemuk itu. Anak-anak muda kawan-kawan adiknya itu satu demi satu mati terbunuh. Mereka telah menjadi umpan senjata Kebo Sindet dalam keadaan yang mengerikan. Ternyata senjata Kebo Sindet sama sekali tidak memilih tempat untuk hinggap.

“Anak itu telah mati dan dilemparkan ke dalam rumah itu pula bersama adikku.“ Jajar itu bergumam lambat sekali. “Kalau begitu…“ mata Jajar itu sekali lagi terbelalak, “Mereka adalah prajurit-prajurit Tumapel.”

Jajar itu kini berdiri tegak seperti patung. Dipandanginya para prajurit Tumapel itu dengan wajah yang tegang. Semakin lama semakin jelas baginya, bahwa yang dihadapannya itu memang prajurit-prajurit Tumapel. Tubuh Jajar yang lemah itu menjadi semakin gemetar. Perasaannya yang terpecah-pecah semakin lama menjadi semakin mengendap, dan kesadarannyapun menjadi semakin wajar. Karena itulah maka hatinya menjadi semakin ngeri menghadapi prajurit-prajurit Tumapel dengan pedang di lambung. Baru saja ia mengalami peristiwa yang membuatnya hampir gila sebenarnya gila. Dan sekarang ia sudah harus berhadapan dengan prajurit-prajurit Tumapel.

Tetapi tiba-tiba menjalarlah suatu pertanyaan dikepalanya. “Bukankah aku sudah hampir mati di dalam rumah yang terbakar itu. Bukankah Kebo Sindet telah mengikatkan dan mencoba membakar aku hidup-hidup. Tetapi kenapa aku sekarang berada disini diantara para prajurit Tumapel.”

Pertanyaan itu telah menghentak-hentak dada juru taman itu, sehingga akhirnya ia tidak dapat menahannya lagi, “Tetapi bukankah aku sudah hangus dimakan api?”

Salah seorang prajurit itu menjawab, “Lihat ketiga prajurit ini. Mereka ikut terluka bakar karena berusaha menolongmu.”

“Oh.“ Jajar itu terhenyak kedalam suatu keadaan yang tidak dimengertinya. Prajurit-prajurit itu telah menolongnya.

“Apakah mereka tidak tahu apa yang akan aku lakukan atas mereka yang akan mendapat tugas mengantarkan tebusan itu?“ Jajar itu bertanya di dalam hatinya, tetapi yang terucapkan adalah, “Terima kasih. Buat apa sebenarnya kalian melepaskan aku dari api itu?”

Para prajurit itu tidak menjawab. Tetapi hampir serentak mereka berpaling memandang Akuwu Tunggul Ametung yang berdiri disisi mereka. Jajar yang gemuk itupun ikut pula memandang kearah orang yang berdiri di ujung itu. Bayang-bayang para prajurit yang berdiri berjajar, telah menghalangi pandangannya untuk mengenal orang itu dengan baik. Apalagi keadaan tubuhnya yang lemah, dan bahkan otaknya yang belum saras sama sekali, tidak segera mernperkenalkannya kepada orang itu. Tetapi kini ia menjadi semakin jelas. Orang yang berdiri di ujung dari deretan para prajurit itu memakai pakaian yang agak berbeda, meskipun juga pakaian keprajuritan.

Tiba-tiba Jajar itu berdesis lambat, “Siapakah orang itu?”

Seorang prajurit yang berdiri paling dekat dengan Jajar itu bertanya lirih, “Apakah kau belum mengenalnya?”

Jajar itu mencoba menajamkan pandangannya. Lamat-lamat ia melihat wajah itu. Semakin lama semakin jelas. Dan tiba-tiba saja ia meloncat maju sambil menyebut nama itu, “Tuanku, Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”

Tetapi tubuh Jajar itu sudah terlampau lemah. Ia sudah tidak cukup kuat untuk melangkah sampai kehadapan Akuwu Tunggul Ametung untuk kemudian berjongkok menyembah. Ia sudah tidak mampu lagi menahan keseimbangan tubuhnya, sehingga ketika kakinya terayun selangkah, maka Jajar yang gemuk itupun terbanting jatuh di tanah. Beberapa orang prajurit serentak berusaha menahannya tetapi Jajar itu telah terjerembab jatuh. Namun meskipun demikian masih terdengar ia berkata hampir merengek,

“Ampun Tuanku. Ampunkan hamba.” Tunggul Ametung memandanginya dengan dahi yang berkerut merut. Namun ia masih berdiri ditempatnya. “Ampunkan hamba Tuanku.“ terdengar lagi suara Jajar itu mohon belas kasian. “Hamba telah berkhianat, Tuanku. Tetapi ternyata hamba telah menerima hukuman atas pengehianatan itu.”

Akuwu Tunggul Ametung berdesis lambat. “Apakah yang sebenarnya akan kau lakukan?”

“Menipu Kebo Sindet dan menjebaknya. Kemudian menjebak para prajurit yang mengantar hamba besok menyerahkan tebusan. Sebab sebenarnya Kebo Sindet sama sekali tidak setuju dengan usul Tuanku Permaisuri untuk menerima tebusan dan membawa Mahisa Agni bersamanya. Namun ketidak sediaannya itu telah menumbuhkan niat jahat dikepala hamba.“ kata Jajar itu terputus-putus dikerongkongan.

Akuwu Tunggul Ametung sama sekali tidak terkejut mendengar keterangan Jajar itu. Ia sudah menduga, dan ternyata dugaannya itu tepat.

“Kini.“ Jajar itu masih berkata diantara nafasnya yang semakin memburu, “apakah Tuanku akan menjatuhkan hukuman atasku, atas pengkhianatanku terhadap Tuanku dan Tuanku Permaisuri?”

Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab. Ia melangkah maju mendekati Jajar yang masih terbaring di tanah. Dengan susah pajah Jajar itu mencoba bangkit. Dengan ditolong oleh beberapa orang prajurit akhirnya ia berhasil duduk di tanah bersandar kedua belah tangannya.

“Aku ingin mendengar beberapa keterangan tentang Kebo Sindet.“ berkata Akuwu Tunggul Ametung, “apa kah benar ia tidak bersedia membawa Mahisa Agni.”

“Hamba Tuanku.”

Terdengar Akuwu Tunggul Ametung itu menggeram, “Kau memang bodoh. Bodoh sekali. Kau tidak dapat menilai siapakah yang sedang kau hadapi.” Jajar itu tidak menjawab.

“Apakah kau tidak dapat mempergunakan otakmu, he Jajar yang bodoh. Bukankah dengan demikian Kebo Sindet akan menjadi semakin buas. Tetapi adalah lebih baik bahwa ia masih hidup. Sebab dengan demikian aku masih ada kesempatan berurusan dengan iblis itu. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan keinginannya untuk mendapatkan tebusan.“ Akuwu itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia berteriak, “Kau, kaulah yang gila. Kau telah merusak semua rencana untuk meyelamatkan Mahisa Agni, dan sekaligus membinasakan iblis yang biadab itu.”

Jajar itu tidak segera menjawab. Tetapi tubuhnya yang gemetar menjadi semakin gemetar. Nafasnya menjadi semakin deras bekerjaran didadanya.

Tetapi suara Akuwu kemudian menurun, “Memang sudah tidak ada gunanya aku membunuhmu. Ketika aku berangkat dari istana aku memang ingin membunuhmu dan membunuh Kebo Sindet sama sekali setelah aku mendapat keterangan Mahisa Agni. Tetapi ternyata soalnya tidak terlampau sederhana begitu. Dan kini aku sama sekali menjadi muak melihat tampangmu dan kegilaanmu. Biarlah para prajurit mengurusmu menurut ketentuan yang berlaku atas penghianatanmu.”

“Ampun Tuanku, ampun.” Jajar itu hampir menangis.

Akuwu Tunggul Ametung sudah tidak menjawabnya lagi. Ia kemudian berpaling dan melangkah meninggalkan Jajar yang duduk lemah. Api yang menelan rumah Jajar itu sudah kian mereda meskipun masih juga meronta-ronta ke udara. Sejenak Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak memandang api yang kemerah-merahan. Ia tidak segera dapat memutuskan, apakah yang akan dilakukannya. Ia harus berpikir lagi dan menyusun rencana dari permulaan sekali.

Jajar yang gemuk yang terduduk lemah diatas tanah itu menjadi bingung dan cemas. Apakah yang akan dilakukan atasnya oleh para prajurit atas pengehianatannya. Ketika ia berpaling dilihatnya api yang sudah membuat rumahnya menjadi onggokan bara yang merah. Sebuah desir yang tajam menyengat jantung Jajar itu. Sekali dipandanginya Akuwu yang berdiri tegak seperti patung. Kemudian dilihatnya bayangan-bayangan yang merah kehitam-hitaman dari para prajurit Tumapel yang berdiri disekitarnya, seperti bayangan hantu yang telah siap untuk mencekiknya. Pedang-pedang mereka yang tergantung di lambung serta sorot mata mereka yang tajam, membuat jantung Jajar itu seperti meledak karenanya.

Dalam ketakutan dan kecemasan itu, maka dibayangkannya apa yang sudah dan akan dapat terjadi atasnya. Meskipun para prajurit Tumapel tidak akan berbuat sekejam Kebo Sindet, tetapi pasti akan ada hukuman lain yang membuatnya menjadi terlampau kecut. Ia pasti akan dilihat oleh orang-orang lain yang mengetahui persoalan itu. Kalau ia dibawa oleh para prajurit itu disepanjang jalan kota, maka orang-orang Tumapel akan keluar dari rumah mereka dan melihatnya seperti melihat tontonan yang paling menarik. Mungkin mereka akan berteriak-teriak mengejek dan anak-anak akan melemparinya dengan batu. Apalagi kalau ia sempat bertemu dengan dua orang Jajar juru taman, kawannya sepekerjaan.

Terasa wajah Jajar yang luka-luka itu menjadi terlampau pedih oleh tetesan keringat dinginnya yang merentul dari pelipisnya. Dalam kecemasan itu ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Tulang-tulangnya seakan-akan terlepas dari kulit dagingnya. Tetapi yang paling sakit dari semuanya itu adalah perasaannya. Penyesalan yang menghentak-hentak kepalanya, ketakutan dan kebingungan yang selalu menghantuinya. Ketika angin bertiup dari Utara, maka lidah api yang menjulang tinggi itu bergetar. Bayang-bayang para prajurit itu pun tampak bergerak-gerak.

Jajar yang sedang dalam ketakutan yang sangat itu tiba-tiba terkejut. Ketika ia melihat bayang-bayang yang panjang dan bergerak-gerak itu, maka kembali kegilaannya menyerang otaknya. Terbayang didalam kegilaannya, hantu-hantu yang hitam tinggi dan besar bergerak-gerak untuk menerkamnya. Karena itu maka tiba-tiba Jajar yang gemuk itu menjerit mengerikan. Tanpa disangka-sangka oleh para prajurit, maka Jajar itu meronta. Dengan sisa-sisa tenaganya yang ada, maka ia berusaha berdiri. Sebelum para prajurit sempat berbuat sesuatu, maka Jajar itupun telah berlari tersuruk-suruk kearah api yang sedang berkobar menelan sisa-sisa rumahnya.

“He, kau akan lari kemana?” bertanya salah seorang prajurit.

“Hantu itu akan mencekik aku. Aku harus bersembunyi ke dalam rumahku.”

“Berhenti, berhenti.” teriak prajurit yang lain. Tetapi Jajar yang itu berlari semakin kencang. Seperti kerasukan, Jajar yang lemah itu tiba-tiba mendapatkan kekuatan tiada taranya. Ia mampu berlari kencang sekali.

Serentak para prajurit yang tercengang itu menyadari keadaan. Agaknya Jajar itu telah terserang oleh kegilaannya lagi. Serentak pula mereka berlari mengejar Jajar yang gemuk yang akan menjerumuskan dirinya masuk ke dalam api yang sedang menjilat-jilat ke udara.

“Berhenti, berhenti.“ teriak prajurit yang lain.

“Rumah itu adalah rumahku.“ jawab Jajar yang gemuk itu dalam kegilaannya.

Seorang prajurit yang berlari dipaling depan menjadi semakin cemas. “Kau akan menjadi abu.” teriaknya.

“Jangan kejar aku.” Jajar itupun berteriak.

Akuwu yang berdiri tegak seperti patung, menjadi semakin terpukau ditempatnya. Hal itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Jajar itu sebentar lagi akan menjerumuskan dirinya ke dalam jilatan api yang merah. Tetapi jarak antara Akuwu Tunggul Ametung dan arah lari Jajar yang gemuk itupun agak jauh. Kalau Akuwu Tunggul Ametung meloncat berlari mengejar Jajar itu, agaknya iapun akan terlambat. Sejenak Akuwu itu terpaku diam. Namun ia mencari jalan yang paling cepat untuk menghentikan Jajar yang gila itu, supaya ia tidak membakar dirinya sendiri hidup-hidup. Sedang waktu untuk itu tinggal beberapa kejap saja.

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar