MENU

Ads

Kamis, 09 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 176

PdLS-36
KETIKA Jajar itu telah menjadi semakin dekat dengan api, sedang para prajurit yang mengejarnya masih juga belum dapat menangkapnya, maka Akuwu sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Ketika terlihat olehnya sebatang bambu yang tergolek di sampingnya, maka segera diambilnya. Dengan cepatnya bambu itu dilontarkan ke arah Jajar yang sedang berlari kencang menuju ke dalam api yang masih menyala-nyala. Ternyata lemparan Akuwu Tunggul Ametung tepat mengenai sasarannya. Bambu itu meluncur tepat dimuka kaki Jajar yang gemuk, yang sudah dicengkam oleh kegilaannya. Bambu itu begitu cepat dan tiba-tiba sudah berada dimuka kakinya, sehingga Jajar itu tidak sempat untuk menghindar. Dengan demikian maka kakinya terantuk bambu itu dengan kerasnya.

Sejenak kemudian terdengar Jajar itu memekik tinggi, dan tubuhnya yang lemah terbanting di atas tanah, beberapa langkah saja dari lidah api yang memerah menari-nari dalam belaian angin yang lembut. Dengan tangkasnya para Prajurit Tumapel segera mengerumuninya dan mengangkatnya menjauhi api yang terasa sangat panas itu. Terdengar Akuwu Tunggul Ametung berdesis. Sebenarnya ia sudah tidak ingin mempedulikan apa yang terjadi atas Jajar itu. Namun perasaannya telah memaksanya untuk melangkahkan kakinya mendekatinya.

Perlahan-lahan Jajar yang gemuk itu dibaringkan di atas tanah. Sedang para prajurit itu pun segera berjongkok di sampingnya. Ketika Akuwu tiba pula di tempat itu, dan berdiri diarah kepalanya, maka tiba-tiba seorang prajurit berdesis,

“Ia telah pergi Tuanku”.

“He” Akuwu itu terperanjat, “apa katamu?”

“Juru taman ini telah meninggal”.

“Mati?” hampir tidak percaya Akuwu atas telinganya.

“Hamba Tuanku. Suatu hentakan yang sangat mengejutkan telah menghentikan sama sekali detak jantungnya yang lemah”.

Wajah Akuwu tiba-tiba menegang. Sejenak kemudian terdengar ia berdesis, “Bukan maksudku membunuhnya. Aku hanya ingin mencegah supaya ia tidak meloncat ke dalam api, dan membakar dirinya sendiri hidup-hidup”.

“Hamba Tuanku”.

“Tetapi orang itu mati”.

“Bukan karena sebab terakhir itu Tuanku. Memang tubuhnya telah terlampau lemah”.

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bergumam, “Aku kehilangan kesempatan untuk menangkap Kebo Sindet. Kalau Kebo Sindet berusaha menghubungi aku atau Ken Dedes lagi, maka kesempatan itu betapapun kecilnya akan aku dapatkan. Tetapi bagaimana kalau Kebo Sindet menjadi mata gelap dan langsung berbuat sesuatu atas Mahisa Agni?”

Tidak seorang pun dari para prajurit yang dapat menjawabnya. Mereka seolah-olah terbungkam. Hanya mata mereka sajalah yang berkeredipan, memandangi mayat Jajar yang gemuk yang masih terbujur di hadapan mereka.

Para prajurit itu terkejut ketika mereka mendengar tiba-tiba saja Akuwu itu berkata lantang, “Bodoh. Juru taman itu memang bodoh”. Lalu, “Kebo Sindet itu harus binasa supaya daerah Tumapel menjadi aman”.

Dan sebelum para prajurit itu menyadari keadaan mereka, Akuwu itu berkata, “Kita kembali ke istana. Kita siapkan sepasukan prajurit pilihan. Kita akan mencari Kebo Sindet di sarangnya”.

Beberapa orang prajurit saling berpandangan. Namun salah seorang dari mereka masih sempat bertanya, “Lalu bagaimana dengan mayat Jajar ini, Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung tertegun sejenak. Lalu katanya, “Bawalah. Uruslah dan besok kuburkanlah”.



Prajurit itu tidak menyahut lagi. Mayat Jajar yang gemuk itu segera diangkatnya dan kemudian diletakkannya di atas punggung kudanya. Ketika para prajurit itu melihat Akuwu sudah meloncat ke atas punggung kudanya, maka mereka pun menjadi bergegas-gegas pula berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing.

Tetapi ketika kuda-kuda itu sudah mulai bergerak, seorang prajurit berkata, “He, aku tidak mempunyai tunggangan”.

Prajurit itu adalah prajurit yang bertugas mengintai perkelahian antara Kebo Sindet dan anak-anak muda yang menjebaknya.

“Marilah, kita berdua” sahut salah seorang prajurit yang sudah berada di atas punggung kuda.

Prajurit itu pun segera meloncat pula. Tubuhnya yang tersentuh api masih terasa pedih. Namun ia sudah tidak sempat lagi mengeluh. Kuda yang dinaikinya itu pun segera berlari pula di belakang kuda-kuda yang telah mendahuluinya. Ternyata Akuwu yang sedang dibakar oleh kekecewaan itu telah jauh mendahului mereka. Kedua pengawal utamanya dengan susah payah mengejarnya dan berpacu dekat di belakangnya. Ketika prajurit yang membawa mayat Jajar yang gemuk itu berpaling, maka masih dilihatnya warna merah tersangkut di ujung pepohonan. Tetapi api sudah menjadi semakin surut.

Sementara itu, dua orang lain sedang berpacu pula keluar kota Tumapel. Setelah mereka mengambil kuda mereka dari tempat persembunyiannya, maka segera mereka melarikannya sekencang angin. Derap kakinya terdengar gemeretak memecah sepi malam. Semakin lama semakin jauh, langsung menyusup ke dalam gelapnya malam menyusur jalan persawahan. Meskipun angin malam yang basah menyentuh tubuh mereka, tetapi keringat mereka seolah-olah terperas dari seluruh tubuh. Di lambung mereka tersangkut senjata-senjata mereka yang masih basah oleh darah yang berwarna merah segar. Bukan saja senjata mereka, tetapi juga pakaian mereka, dan bahkan tubuh mereka. Bukan darah yang mengalir dari luka mereka sendiri, tetapi darah yang terpercik dari lawan-lawan mereka yang sudah mereka binasakan.

Kedua orang itu adalah Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Hampir tanpa berpaling mereka berpacu meninggalkan kota Tumapel, kembali ke sarang mereka ditengah-tengah rawa-rawa Kemundungan. Wajah-wajah mereka masih membayangkan ketegangan hati dan kejemuan yang hampir meledak. Sekali-sekali masih terdengar Kebo Sindet menggeram. Namun Kuda Sempana mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

“Setan itu terlampau licik” terdengar kemudian suara Kebo Sindet memecah sepinya malam.

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Dengan sudut matanya ia memandangi wajah Kebo Sindet. Tetapi wajah itu hampir seperti yang setiap hari dilihatnya. Beku. Namun ketika kilat meloncat di langit, Kuda Sempana melihat di dahinya masih membayang beberapa goresan yang bagi Kebo Sindet telah cukup jelas membayangkan hatinya yang bergolak dalam ketegangan. Ternyata loncatan kilat itu telah menjentuh hati Kebo Sindet yang keras, sekeras batu akik. Kilat itu telah mengingatkannya kepada bendungan yang tengah diselesaikan oleh Ken Arok, orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel. Kemudian ingatannya segera hinggap kepada orang yang selama ini disimpannya, Mahisa Agni.

“Nasibnya memang terlampau jelek” desis Kebo Sindet itu tiba-tiba.

Kini Kuda Sempana benar-benar berpaling memandanginya. Ia masih menganggap Kebo Sindet itu berkata tentang Jajar yang gemuk, yang telah diikatnya pada tiang rumahnya yang sedang terbakar, tetapi ternyata Kebo Sindet meneruskan,

“Aku hampir kehilangan kesabaran. Aku kira aku sudah tidak perlu lagi memeliharanya terlampau lama seperti memelihara seekor kucing yang tidak berarti apa-apa bagiku”.

Baru Kuda Sempana tahu, bahwa yang dimaksud itu adalah Mahisa Agni. Tetapi Kuda Sempana masih tetap membisu. Sesaat kemudian ia mendengar Kebo Sindet itu berkata pula,

“Apakah kau masih akan mencoba lagi Kuda Sempana, setelah kita dihinakan sedemikian menyakitkan hati oleh seorang Jajar yang paling sombong di seluruh dunia?” Kebo Sindet berhenti sejenak, “Seorang yang merasa mampu melawan Kebo Sindet hanya bersama dengan sembilan atau sepuluh orang saja. Sebenarnya hukuman Jajar itu masih terlampau ringan. Aku seharusnya membuatnya menjadi tepung. Mencincangnya dan membiarkan mayatnya di perapatan”.

Terasa bulu tengkuk Kuda Sempana meremang. Anak muda itu tidak dapat mengerti, perasaan apa yang telah tergores di dinding hatinya. Ia sama sekali bukan seorang yang cengeng. Tetapi mendengar kata-kata Kebo Sindet itu terasa kengerian menyentuh perasaannya.

“Bagaimana?” Kebu Sindet mendesak.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak ingin lagi menyeret seseorang ke dalam bencana dengan kesempatan-kesempatan yang dapat diberikannya untuk memeras Ken Dedes. Jajar gemuk itu pun ternyata telah ditelan oleh pamrihnya yang berlebih-lebihan seperti orang-orang yang lain. Bahkan Jajar ini telah berbuat terlampau gila, melampaui semua orang yang telah pernah dihubunginya.

“Apakah kau sudah kehabisan akal?” bertanya Kebo Sindet pula.

Dengan suara parau akhirnya Kuda Sempana menjawab, “Ya. Aku sudah tidak tahu lagi jalan yang dapat kita tempuh”.

Kebo Sindet menggeram, “Bagus. Kalau demikian maka hanya ada satu cara. Langsung menemui Permaisuri itu, atau membinasakan saja Mahisa Agni. Tidak ada gunanya lagi membiarkannya hidup. Tetapi Permaisuri yang terlampau kikir itu harus dapat mengetahui apa yang telah terjadi atas kakaknya. Biarlah ia tersiksa seperti Mahisa Agni pula meskipun bukan tubuhnya”.

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Terasa sebuah desir yang tajam di dalam dadanya. Semakin cepat Kebo Sindet menyelesaikan Mahisa Agni, maka ia pun akan semakin cepat tidak diperlukannya lagi. Kuda Sempana sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi atasnya apabila ia sudah tidak diperlukan lagi. Mungkin ia akan di bunuh bersama-sama Mahisa Agni, atau mungkin dengan cara lain.

“Tetapi” Kuda Sempana masih mendengar Kebo Sindet itu berkata, “hampir sudah tidak ada harapan lagi untuk dapat menghubungi Permaisuri. Aku tidak mau terjebak untuk yang ke sekian kalinya. Aku sudah terlampau bermurah hati untuk menunda kematian Mahisa Agni” Kebo Sindet berhenti sejenak, lalu, “He, Kuda Sempana. Bukankah kau telah banyak menyadap ilmu dari Kemundungan di samping ilmu gurumu sendiri. Kau seharusnya telah menjadi lebih perkasa. Aku mengharap kau akan mampu membunuh Mahisa Agni dalam suatu perkelahian yang menentukan. Apalagi Mahisa Agni kini sudah menjadi semakin lemah. Kau akan mendapat banyak kesempatan untuk membalas sakit hatimu. Apakah kau ingin berbuat demikian?”

Sekali lagi dada Kuda Sempana berdesir. Kali ini menjadi semakin tajam. Ia tahu benar maksud Kebo Sindet dengan kata-katanya itu. Ia akan menjadi tontonan yang sangat menarik bagi Kebo Sindet itu. Ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni. Tetapi ia menyadari apakah yang akan terjadi pada akhir dari perkelahian itu. Siapa pun yang menang dan siapa pun yang kalah.

“Bagaimana?” Kuda Sempana masih berdiam diri. “Kau tidak perlu takut lagi kepada kelinci cengeng itu. Ia akan segera dapat kau jatuhkan. Kemudian kau dapat berbuat apa saja atasnya. Bukankah itu menyenangkan bagimu?”

Kuda Sempana masih belum menjawab. Namun tiba-tiba ia menjadi semakin muak kepada orang yang berwajah beku seperti mayat itu. Tetapi ia masih harus tetap menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apapun atas iblis yang mengerikan itu. Terbayang diruang matanya apa yang baru saja terjadi atas Jajar yang gemuk itu. Kuda Sempana rnenyangka bahwa Jajar itu kini telah menjadi abu, setelah ia memekik-mekik dan berteriak-teriak ketakutan dan kepanasan. Terasa bulu-bulu tengkuk Kuda Sempana meremang. Jajar yang gemuk itu benar-benar bernasib malang. Ia telah hancur karena pamrihnya yang berlebih-lebihan.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Kini langkah kuda-kuda mereka menjadi semakin surut. Mereka telah berada di luar kota Tumapel, di antara pategalan yang hijau kehitam-hitaman di malam hari. Ketika tanpa dikehendakinya sendiri Kuda Sempana mengangkat wajahnya menengadah ke langit, maka dilihatnya awan yang hitam melapisi cahaya bintang yang bergayutan di udara.

Kuda Sempana itu berpaling ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Kau harus melakukannya Kuda Sempana. Kau harus melepaskan dendammu supaya tidak membara di dada dan membakar jantungmu sendiri. Kau akan mendapatkan gairah hidupmu kembali apabila kau telah berhasil melepaskan sakit hatimu. Selama ini aku melarangmu untuk membunuhnya karena aku mengharap Mahisa Agni akan dapat mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit. Tetapi ternyata Permaisuri itu terlampau kikir, dan orang-orang yang telah menghubunginya adalah orang-orang yang terlampau tamak. Karena itu apabila aku tidak merubah pikiranku karena aku menemukan jalan yang baik dengan tiba-tiba, maka kau harus melakukannya. Kita bawa Mahisa Agni itu ke Tumapel. Dan kau dapat membunuhnya di tempat yang pasti akan diketemukan oleh prajurit-prajurit Tumapel, sehingga dengan demikian berita kematiannya akan menyiksa perasaan Permaisuri”.

Kuda Sempana masih membisu. Namun dadanya menjadi semakin berdentangan dilanda oleh kebencian yang tiba-tiba saja memuncak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

“Apakah kau sedang memikirkan cara yang sebaik-baiknya untuk membunuhnya?” bertanya Kebo Sindet karena Kuda Sempana masih saja berdiam diri, “pikirkanlah cara itu”. Kuda Sempana tetap dalam kediamannya. “Apakah kau takut?” bertanya Kebo Sindet kemudian, “Benar? Kau sedang ketakutan?”

Kuda Sempana tidak dapat terus menerus berdiam diri. Karena itu maka ia menjawab, “Tidak. Aku tidak pernah merasa takut kepada siapapun”.

Wajah Kebo Sindet yang beku masih tetap membeku. Tetapi jawaban Kuda Sempana itu tidak menyenangkannya. Meskipun demikian dibiarkannya saja Kuda Sempana melepaskan segala macam perasaannya seandainya diingininya. Di dalam hati Kebo Sindet berkata,

“Kau memang sudah tidak berguna lagi bagiku. Memang sebaiknya kau sajalah yang membunuh Mahisa Agni. Kemudian kau pun akan mati pula seperti orang-orang lain yang sudah tidak dapat memberikan arti apa-apa lagi bagiku”.

Kini mereka sekali lagi terbenam ke dalam kediaman. Masing-masing sedang menjelajahi angan-angan sendiri. Kuda Sempana yang sedang diganggu oleh perasaan muak dan benci itu hampir tidak dapat berpikir lagi, apa yang sebaiknya dilakukan. Tetapi Kebo Sindet sedang memikirkan hal yang sangat baik baginya. Ia akan dapat mengadu kedua anak muda itu seperti menyabung ayam. Keduanya pasti menyimpan dendam yang membara di dalam dada masing-masing. Perkelahian di antara keduanya pasti akan merupakan perkelahian yang sangat menyenangkan.

“Sayang, Wong Sarimpat tidak dapat ikut melihat tontonan yang sangat menarik ini” katanya di dalam hatinya, “kalau ia masih sempat, maka ia akan menjadi sangat bersenang hati. Mungkin ia akan melihat perkelahian ini dengan cambuk di tangan”. Kebo Sindet berpaling ke arah Kuda Sempana. Dilihatnya wajah anak muda itu pun seakan-akan telah membeku pula.

“Ia harus diajar untuk menyadari dirinya” gumam Kebo Sindet di dalam hati pula lalu tiba-tiba seolah-olah terlonjak di dalam dadanya., “Aku pun harus menggenggam cambuk. Aku harus melihat seolah-olah dua ekor cengkerik sedang beradu. Aku harus menjaga keseimbangan mereka, sehingga perkelahian itu akan menjadi sangat ramai”. Ia kini menemukan suatu permainan yang baginya akan sangat menjenangkan, “Mereka tidak perlu segera mati. Mereka harus tetap dipelihara. Mungkin aku dapat mempertontonkannya di rumah-rumah perjudian”.

Kebo Sindet itu tertawa di dalam hatinya, meskipun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Sekali-sekali ia masih berpaling memandangi wajah Kuda Sempana yang acuh tidak acuh. Namun Kebo Sindet itu sudah tidak terlampau sering berbicara lagi. Ia lebih senang berangan-angan tentang perkelahian antara kedua anak muda yang akan dipakainya sebagai ayam sabungan.

Sementara itu Akuwu Tunggul Ametung yang berada di istananya duduk tepekur dihadap oleh Permaisurinya. Ken Dedes yang telah mendengar tentang sikap Jajar yang licik itu menjadi kian cemas. Ia cemas akan nasib Mahisa Agni. Mungkin dalam kekesalan dan kemarahannya Kebo Sindet akan dapat berbuat apa saja untuk melepaskan perasaan yang menyesak dadanya.

“Aku sudah berusaha” berkata Akuwu Tunggul Ametung.

“Hamba Tuanku” sahut Ken Dedes perlahan sekali.

Namun sekali dadanya dirayapi oleh kekecewaan yang mendalam. Ia menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung terlambat berbuat sesuatu sehingga keadaan Mahisa Agni menjadi semakin sulit. Terbayang di dalam angan-angannya penderitaan yang terjadi atas kakaknya itu. Bahkan kini terbayang sesosok mayat yang terbujur di tengah-tengah hutan tanpa seorang pun yang mengurusnya. Mayat itu semakin lama menjadi semakin jelas. Mahisa Agni. Tiba-tiba Ken Dedes itu menjadi terisak-isak.

Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin pepat. Ia baru saja dibakar oleh kemarahan yang hampir menghanguskan jantungnya. Kini ia melihat Ken Dedes itu menangis penuh penyesalan, sehingga tanpa sesadarnya Akuwu Tunggul Ametung itu menggeram,

“Bukan salahku Ken Dedes, Aku sudah berusaha dan aku sendiri telah melakukannya. Tetapi keadaan memang tidak dapat teratasi. Kau jangan menyalahkan aku atau menyesali kegagalan ini”.

Ken Dedes terkejut mendengar kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu Sehingga justru tangisnya terputus. Dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang tegang dan berkeringat. Akuwu itu masih dalam pakaian keprajuritan, dan bahkan senjata pusakanya yang ngedab-edabi masih tergantung di lambungnya.

Tetapi Akuwu yang hatinya sedang gelap itu berkata seterusnya, “Kalau Kebo Sindet kemudian berhasil melepaskan dirinya, kalau aku terlambat datang ke rumah Jajar yang gemuk itu, sama sekali bukan maksudku. Bahkan seandainya Kebo Sindet itu kemudian menjadi gila dan membunuh Mahisa Agni itu pun bukan salahku”.

“Hamba Tuanku” tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri Ken Dedes memotong, “hamba tahu, bahwa Tuanku memang tidak bersalah. Hamba sama sekali tidak menyesali Tuanku. Hamba memang sedang menyesali keadaan yang pahit bagi hamba dan kakang Mahisa Agni”.

“Tetapi kau menyesal bahwa semuanya itu terjadi justru dihadapanku. Justru dengan sengaja kau tunjukkan kepadaku, seolah-olah kau sedang mengalami bencana karena kesalahanku. Mungkin kau menganggap bahwa aku tidak bersungguh-sungguh atau karena aku tidak segera berbuat sesuatu”.

“Tidak Tuanku. Sama sekali tidak. Hamba memang sedang menelan kepahitan yang tiada taranya, seperti apa yang selalu terjadi pada diri hamba”.

“Kau mengutuki nasibmu sendiri. Kau anggap bahwa aku seolah-olah tidak pernah berusaha membuatmu bahagia?”

“Bukan maksud hamba. Sudah hamba katakan bahwa tidak ada orang lain yang bersalah. Keadaan yang datang berurutan telah menjadikan apa yang telah terjadi tanpa kesengajaan seorang pun”.

“Kau hanya mengatakannya, tetapi hatimu tidak menerimanya sebagai suatu keadaan yang harus kita lampaui bersama”.

“Aku telah menyerahkan diriku kepada nasib Tuanku. Aku tahu bahwa tuanku telah berusaha sebagai seharusnya dilakukan oleh manusia. Tetapi kekuasaan Yang Maha Agung lah yang menentukan akhir dari setiap persoalan”.

“Bohong” bantah Akuwu Tunggul Ametung, “kau tidak ikhlas menerima peritiwa itu suatu keharusan. Kau tidak ikhlas menerima putusan terakhir dari Yang Maha Agung. Ternyata kau menangis. Ternyata kau menyesali keadaanmu. Kalau kau menerima persoalan ini sebagai keharusan yang tidak dapat diingkari lagi, sebagaimana manusia tidak dapat mengingkari keharusan yang datang dari Yang Maha Agung, maka kau tidak akan menangis. Kau akan berkata dengan wajah tengadah, demikianlah kehendak Yang Maha Agung”.

Mata Ken Dedes masih berkaca-kaca. Tetapi ia sudah terisak lagi. Kini ia benar-benar menengadahkan wajahnya. Dan dengan lantang ia berkata, “Tuanku, kita adalah manusia yang lemah. Manusia yang jauh dari sifat-sifat sempurna. Hamba pun dapat mengatakan seperti yang Tuanku katakan. Hamba pun dapat menyebut apa yang sebaiknya hamba lakukan. Tetapi apakah hamba mampu? Apakah hamba sebagai manusia yang lemah memiliki kekuatan untuk melakukannya?”

Wajah Akuwu Tunggul Ametung yang tegang menjadi semakin tegang. Bahkan dari sepasang matanya seolah-olah memancarkan pergolakan di dalam dadanya. Dan ia masih mendengar Ken Dedes berkata seterusnya, “Tuanku. Bukan saja hamba yang bodoh ini yang tidak mampu untuk melawan perasaan hamba sendiri dan menempatkannya ke dalam keikhlasan sepenuhnya. Bukankah Akuwu sendiri juga telah dibakar oleh kemarahan dan penyesalan, bahwa Tuanku tidak berhasil menangkap Kebo Sindet”.

“Tetapi aku berdiri dalam persoalan yang berbeda” nada suara Akuwu Tunggul Ametung meninggi, “aku sama sekali tidak menyesali orang lain, tidak menyesali apapun. Aku hanya menyesal. Hanya menyesal saja karena usahaku tidak berhasil. Usahaku sendiri, kekuatanku sendiri. Tetapi sesudah itu aku pun tidak menganggap orang lain bersalah”.

“Dan Tuanku dapat menumpahkan kepepatan hati kepada hamba?” dengan beraninya Ken Dedes memotong kata-kata Akuwu Tunggul Ametung, “Sebab Tuanku adalah seorang Akuwu. Seorang laki-laki yang mempunyai cara sendiri untuk melepaskan penyesalan hati. Tetapi hamba adalah seorang perempuan. Yang ada di dalam bilik ini selain hamba adalah Tuanku, Akuwu Tumapel yang memegang segenap kekuasaan di tangannya. Apakah hamba dapat melepaskan kekesalan dan penyesalan kepada Akuwu dan membentak-bentak sekehendak hamba? Tidak. Hamba hanya dapat menangis. Hamba hanya dapat melepaskan penyesalan itu dalam butiran-butiran air mata. Kalau itu tidak menyenangkan hati Akuwu Tunggul Ametung, sama sekali bukan maksud hamba minta maaf”.

Ken Dedes berhenti sejenak, tetapi wajahnya masih tetap tengadah dan bibirnya menjadi gemetar. Dan kata-kata yang meluncur lewat bibirnya menjadi gemetar pula,

“Hamba minta maaf Tuanku. Tetapi dengan demikian hamba tahu, bahwa Tuanku ternyata tidak menerima hamba seluruhnya dalam keadaan hamba. Tuanku hanya ingin melihat hamba tertawa dan bergembira. Tuanku hanya ingin melihat hamba dapat menyenangkan hati Akuwu. Tetapi Tuanku tidak ingin melihat apabila hamba sedang dalam keadaan seperti ini”.

Ken Dedes berhenti sejenak. Dan kata-katanya menjadi semakin bergelar, “Tetapi Tuanku, seharusnya hamba tidak perlu mengatakannya atau lebih-lebih lagi mengajari Tuanku bahwa demikianlah hamba seutuhnya. Di dalam diri hamba tersimpan suka dan duka. Tawa dan air mata. Hamba tidak dapat menyembunyikannya sebelah dari padanya. Sekali-sekali hamba tertawa, dan sekali-sekali hamba menangis, di dalam pengaruh keadaan yang berbeda-beda”.

Ken Dedes tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba dadanya menjadi sesak dan napasnya seolah tersumbat dikerongkongan. Sejenak ia diam membeku. Namun kemudian, seperti sebuah bendungan yang pecah tertimpa banjir bandang, maka meledaklah tangis Permaisuri itu. Tangis yang masih belum tuntas, tetapi terpaksa ditahankannya. Yang kemudian tanpa dapat dikendalikan lagi membanjir dengan derasnya.

Akuwu Tunggul Ametung kini berdiri mematung. Terasa dadanya akan pecah oleh perasaannya yang bergolak dengan dahsyatnya. Tetapi ia sudah tidak kuasa lagi untuk berkata sepatah katapun. Ia tidak dapat mengucapkan perasaannya yang bergelora. Akuwu itu berdiri tegak seperti tiang-tiang yang mati. Sejenak mereka terbenam dalam keadaan masing-masing. Ken Dedes menangis sepuas-puasnya, dan Akuwu Tunggul Ametung berdiri membeku. Hanya kadang-kadang saja Akuwu mencoba melepaskan ketegangan yang menyesak di dadanya dengan berjalan hilir mudik di dalam bilik itu. Namun sejenak kemudian ia telah berdiri lagi ditempatnya.

Tetapi Akuwu tidak dapat membiarkan dirinya ditelan oleh kegelisahan yang membuatnya pening. Ketika tangis Ken Dedes sudah mereda, maka Akuwu itu tiba-tiba berkata,

“Baiklah Ken Dedes. Aku akan menyiapkan prajurit. Aku akan menangkap Kebo Sindet di sarangnya. Aku tidak dapat membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Aku tidak dapat melihat kau menangis setiap saat. Kepalaku akan menjadi pecah karenanya. Lebih baik aku turun ke medan perang dari pada aku berada terus-menerus dalam keadaan ini”.

Ken Dedes terkejut mendengar kata-kata itu. Ketika ia menengadahkan kepalanya ia melihat Akuwu itu melangkah pergi. Namun ia masih mendengar Akuwu itu berkata, “Besok aku akan membawa orang-orang terkuat. Tidak terlalu banyak, tidak lebih dari sepuluh orang. Termasuk Witantra dan mungkin aku akan mengambil Ken Arok dari Padang Karautan untuk pergi bersamaku ke Kemundungan”.

“Tuanku. Aku tidak bermaksud demikian”.

“Aku tidak tahu maksudmu sebenarnya. Kau tidak berkata apapun tentang sesuatu yang sebaiknya aku lakukan. Aku harus memilih cara sendiri. Mungkin cara itu tidak seperti yang kau ingini. Tetapi besok aku akan pergi. Cara ini adalah cara yang sebaik-baiknya bagiku. Apakah aku akan berhasil atau tidak, itu bukan soal lagi bagiku”.

“Tuanku”

Tetapi Ken Dedes tidak sempat mencegahnya. Akuwu Tunggul Ametung telah hilang dibalik pintu. Dengan tergesa-gesa Akuwu itu memerintahkan seorang prajurit untuk memanggil orang-orang terpenting. Termasuk Senapati pengawal istana, Witantra.

“Sekarang semua harus menghadap” perintah Akuwu.

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Hari telah terlampau jauh malam. Namun prajurit itu terkejut ketika Akuwu membentaknya, “Pergi, pergi. Cepat. Apakah yang kau tunggu lagi? Apakah kau menunggu matahari terbit? Atau kau menunggu aku memenggal lehermu?”

“Ampun Tuanku“ sembah prajurit itu yang kemudian dengan tergesa-gesa pula pergi meninggalkan Tunggul Ametung seorang diri dalam kekesalan yang hampir-hampir memecahkan dadanya. Namun sebelum prajurit itu hilang, tiba-tiba Akuwu itu berteriak lagi, “He, kemari kau”.

Prajurit itu menjadi cemas. Apakah Akuwu sudah menjadi sedemikian marahnya, sehingga ia harus mengalami perlakuan yang tidak diingininya? Tetapi prajurit itu tertegun ketika ia mendengar Akuwu Tunggul Ametung berteriak,

“Cepat, panggil dahulu Daksina. Ia harus datang kemari dengan Kakawin Bharatayuda”.

“Oh“ prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi justru ia tidak segera pergi.

Namun alangkah terkejutnya prajurit itu ketika tiba-tiba saja sebuah mangkuk tanah telah menghantam lututnya. Sekejap kemudian mangkuk itu pun terjatuh di lantai, pecah berserakan. Prajurit itu hampir-hampir saja terjatuh. Betapa sakit lututnya yang terkena mangkuk yang dilemparkan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi dengan sigapnya prajurit itu meloncat turun ke halaman. Ia sadar, apabila ia terlambat lagi, mangkuk berikutnya akan menyambar kepalanya. Ketika ia telah turun ke halaman, baru terasa bahwa lutut itu tidak mampu dipergunakan dengan wajar. Karena itu, maka ia berlari-lari menyeret sebelah kakinya sambil mengumpat tidak habis-habisnya di dalam hati. Kejengkelan prajurit itu dibawanya sampai kemuka pintu bilik Daksina. Diketuknya pintu itu sekuat tenaga sehingga seisi bilik itu terkejut.

“Siapa?” terdengar suara Daksina.

“Cepat bangun pemalas. Akuwu memanggilmu. Bawalah Kakawin Baratayuda”.

“Hari sudah hampir pagi” jawab Daksina sambil menguap.

“Cepat. Aku lempar lututmu dengan mangkuk kala-kala kau tidak segera berangkat. Akuwu menunggumu. Atau kau ingin Akuwu datang kemari sambil membawa pedangnya untuk memenggal lebermu”.

“Apakah Akuwu sedang marah”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar