MENU

Ads

Minggu, 12 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 177

“Mungkin. Tetapi cepat. Cepat” prajurit yang marah itu berteriak. Tetapi ia mendengar Daksina tertawa di dalam biliknya,

“Baik, baik, “ katanya.

“Kau mentertawakan aku?” geram prajurit itu, “awas, aku pukul kepalamu sampai retak”.

“Lakukanlah” jawab Daksina, “tetapi dengan demikian aku tidak dapat menghadap Akuwu malam ini. Dan kaulah yang menyebabkan”.

“Oh anak gila. Ayo cepat keluar”.

Sejenak kemudian Daksina membuka pintu biliknya sambil menjinjing sebuah kitab rontal yang tebal dilapisi dengan sehelai kulit. Sebelum prajurit itu berkata sepatah kata pun, Daksina sudah berlari melintasi halaman menuju ke bilik Akuwu Tunggul Ametung,

“Untunglah kitab rontal ini aku simpan di rumahku” berkata anak itu di dalam hatinya, “sehingga aku tidak perlu mencari di bilik penyimpanan”.

Prajurit itu masih berdiri dengan mulut ternganga. Ia terkejut ketika ia mendengar derak pintu itu ditutup dari dalam. Namun segera ia meloncat dan menyeret sebelah kakinya ke gardunya,

“Aku harus menghubungi beberapa orang Senapati terpenting malam ini juga”.

Beberapa orang perwira dan pemimpin prajurit pilihan menjadi terkejut ketika rumah-rumah mereka diketuk oleh beberapa orang prajurit. Sebagian dari mereka, masih belum tidur kembali setelah mereka terbangun karena beberapa orang menjadi ribut oleh api yang menyala dikejauhan, yang ternyata telah membakar rumah Jajar yang gemuk. Tetapi para perwira dan pemimpin prajurit pilihan itu menyangka, bahwa yang terjadi hanyalah sekedar kecelakaan. Mereka menyangka bahwa seseorang kurang berhati-hati atas api pelita yang mereka pasang, sehingga menyentuh dinding dan membakar rumah mereka. Namun naluri mereka sebagai seorang prajurit segera dapat menghubungkan kebakaran yang baru saja terjadi, dengan ketukan yang tergesa-gesa di pintu-pintu mereka.

“Siapa diluar?” bertanya seorang perwira yang pintu rumahnya diketuk oleh seorang prajurit.

“Aku, prajurit yang mengemban perintah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung”.

Dada perwira itu menjadi berdebar-debar. Yang pertama-tama dilakukan adalah menyisipkan kerisnya di lambung. Perlahan-lahan ia berjalan ke luar biliknya dan berkata kepada isterinya,

“Tidak ada apa-apa tenanglah. Diluar ada dua orang peronda”.

Tetapi isteri perwira itu menjadi cemas, dan berbisik, “Hati-hatilah kakang”.

Perwira itu tersenyum. Namun tangannya telah mendorong hulu kerisnya ke dadanya. Ketika dengan hati-hati ia membuka pintu, maka ia melihat dua bayangan berdiri di pendapa rumahnya, dan dua orang lagi di halaman.

“Aku Ki Lurah” prajurit yang berdiri di pendapa berdesis.

“Oh” perwira itu menarik nafas, “ada apa?”

“Ki Lurah dipanggil oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung”.

“Kapan?”



“Sekarang”.

“Sekarang?”

Prajurit itu mengangguk, sambil menjawab, “Ya”.

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal betul tabiat Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka ia tidak membantah. Sambil mengerutkan dahinya ia menjawab,

“Aku akan menghadap”.

“Baiklah. Aku mohon diri”.

Prajurit itu segera turun dari pendapa diikuti oleh seorang peronda di rumah perwira itu. Kemudian bersama seorang temannya yang berdiri di halaman segera minta diri kepada para peronda untuk meneruskan perjalanan mereka. Di regol mereka mengambil kuda-kuda mereka, dan sejenak kemudian terdengar gemeretak di sepanjang jalan berbatu.

“Kenapa kakang harus menghadap di malam begini?”

Perwira itu menggeleng. Namun ia menjawab, “Mungkin ada hubungannya dengan kebakaran itu. Tetapi entahlah, demikianlah kebiasaan Akuwu Tunggul Ametung. Ia berbuat apa saja yang diingini pada suatu saat tanpa mempertimbangkan masalah-masalah lain”.

Sebagai seorang isteri prajurit, maka isteri perwira itu pun melepaskan suaminya dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi sedikit banyak ia pernah mendengar tabiat Akuwu Tunggul Ametung itu. Memang kadang-kadang suaminya harus menghadap pada saat-saat yang tidak wajar seperti saat ini. Tetapi pada saat fajar menjingsing, suaminya itu sudah pulang tanpa mendapat perintah apapun. Mungkin malam ini Akuwu tidak dapat tidur, sehingga ia memerlukan kawan untuk berbicara.

Di rumah yang lain, rumah Witantra, suasana yang demikian itu telah terjadi pula. Dengan hati yang bertanya-tanya isteri Witantra melepaskan suaminya sampai di tangga pendapa. Ia sadar, bahwa suaminya adalah Senapati pengawal yang paling dipercaya. Setiap saat suaminya diperlukan. Ketika Witantra telah hilang dibalik regol rumahnya, di atas punggung kuda yang berlari kencang, maka terdengar suara lembut di belakang isteri perwira itu, suara adik perempuannya,

“Sejak gadis padesan itu tinggal di istana, jarang-jarang hal serupa ini terjadi. Tetapi kini tiba-tiba hal ini terulang seperti pada saat-saat gadis desa yang cengeng itu belum tinggal di istana”.

“Ah” desah isteri Witantra, “kau terlampau lancang dengan kata-katamu Umang”.

Ken Umang tertawa. Tetapi ia tidak menyahut. Dengan langkahnya yang cekatan ia berjalan meninggalkan kakak perempuannya. Ketika ia hampir sampai di muka pintu, terdengar suara tertawanya berkepanjangan.

“He, Ken Umang. Apakah kau sudah keranjingan setan? suara tertawamu terlampau menakutkan”.

Ken Umang berhenti. Ketika ia berpaling dilihatnya kakaknya berdiri membeku di tempatnya.

“Apakah suaraku telah berobah?” bertanya Ken Umang itu masih diantara derai tertawanya.

Isteri Witantra tidak segera menjawab. Dalam remang-reman cahaya pelita yang redup dikegelapan malam ia hanya melihat sosok tubuh adiknya. Seorang gadis yang baru saja meningkat dewasa. Seorang gadis yang bertubuh ramping, lincah dan cantik. Tetapi dalam kegelapan malam yang tampak hanyalah sebuah bayangan hitam. Wajah gadis itu pun seolah-olah menjadi hitam pekat. Hitam. Terasa bulu-bulu tengkuk Nyai Witantra meremang. Tetapi dipaksanya perasaannya untuk tunduk kepada nalarnya. Gadis itu adalah adiknya.

Perlahan-lahan ia melangkah maju. Dipaksanya dirinya untuk mendekat. Tetapi sebelum Nyai Witantra itu dekat benar dengan adiknya, maka Ken Umang telah memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ketika sinar pelita yang cukup terang jatuh di wajah gadis itu, maka Nyai Witantra menarik nafas dalam-dalam. Wajah itu sama sekali tidak berubah.

Sementara itu di Istana Tumapel, Akuwu Tunggul Ametung dengan gelisahnya menunggu para Senapati yang dipanggilnya. Hampir-hampir ia tidak sabar menunggu mereka satu demi satu berdatangan. Sedang di sudut bilik Daksina yang terkantuk-kantuk sama sekali tidak diacuhkannya. Ketika para perwira kemudian telah lengkap terkumpul, maka Akuwu sama sekali tidak membawa mereka untuk berbincang. Yang dilakukan hanyalah mengucapkan perintah, hanya beberapa kata,

“Besok, pada saat matahari terbit, kalian harus sudah berada di halaman ini. Lengkap dalam kesiagaan tempur. Kita akan pergi ke Kemundungan untuk menangkap iblis yang bernama Kebo Sindet”.

Para perwira itu mengerutkan keningnya. Sebagian besar dari mereka memang pernah mendengar nama Kebo Sindet, bahkan sebagian lagi telah dapat mengetahui pula, sampai dimana kesaktian orang yang buas itu. Witantra yang duduk diantara para perwira itu mengerutkan keningnya. Ia menyadari benar-benar siapakah yang sedang mereka hadapi. Kebo Sindet adalah orang yang memiliki ilmu setingkat dengan gurunya. Tetapi Kebo Sindet mempunyai sifat-sifat iblis yang mengerikan.

Ketika para perwira tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, maka Akuwu Tunggul Ametung bertanya lantang, “Kenapa kalian diam saja dan menjadi pucat? Apakah kalian takut, he?”

Para perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu terasa menggelitik hati. Seandainya bukan Akuwu Tunggul Ametung yang rnengucapkannya, maka akan dapat menimbulkan salah paham di antara mereka. Tetapi mereka telah mengenal betul tabiat dan sifat-sifat dari Akuwu Tumapel, sehingga pertanyaan itu sama sekali tidak mereka telan bulat-bulat.

“Kita bersama-sama akan berangkat besok. Kita tidak perlu membawa prajurit-prajurit. Tidak ada gunanya”.

Sekali lagi para perwira saling berpandangan. Hampir tidak pernah terjadi, bahwa dalam suatu tindakan atas seseorang atau segerombolan Akuwu membawa begitu banyak perwira tanpa prajurit dari tingkat yang lebih rendah.

“Kita berangkat dua belas orang” berkata Akuwu itu kemudian. Para perwira masih belum menjawab. Dan mereka mendengar Akuwu Tunggul Ametung meneruskan, “Hanya sebagian kecil saja yang akan tinggal di istana untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Sisa dari dua belas orang itu”. Para perwira itu masih terdiam. Dan Akuwu berkata pula, “Nah, apakah kalian telah mendengar?”

Hampir bersamaan para perwira itu menyahut, “Hamba Tuanku”.

“Bagus. Kalian tidak perlu takut. Kita tidak berhadapan dengan sebuah gerombolan dengan ratusan anak buahnya. Menurut pendengaranku, Kebo Sindet adalah seorang penjahat yang berbuat seorang diri. Sebanyak-banyaknya dua atau tiga orang. Karena itu kita tidak perlu membawa pasukan”.

Sejenak para perwira saling berpandangan. Lalu salah seorang dari mereka, Witantra mencoba memberanikan diri berkata, “Ampun Tuanku. Kita tidak tahu pasti, siapakah yang berada disekeliling Kebo Sindet. Hamba pernah mengalami, dalam perjumpaan hamba diperjalanan ke Panawijen pada saat hamba mengantarkan Tuan Puteri Ken Dedes, dengan seorang yang bernama Empu Sada. Ternyata Empu Sada mempunyai pengikut dalam jumlah yang cukup banyak”.

Para perwira itu terkejut ketika tiba-tiba saja Akuwu memotong kata-kata Witantra sambil berteriak, “He, aku tidak berbicara tentang Empu Sada. Aku berbicara tentang Kebo Sindet, kau dengar?”

Seandainya mereka belum tahu sifat dan tabiat Akuwu Tunggul Ametung, maka mereka pasti akan terbungkam. Tetapi Witantra yang sudah mengenal betul akan Akuwunya itu menjawab,

“Ampun Tuanku. Hamba hanya ingin memberikan perbandingan. Mungkin Kebo Sindet juga mempunyai pengikut-pengikut yang tidak kita ketahui seperti Empu Sada pada waktu itu”.

“Jadi kau takut, he?”

“Ampun Akuwu. Hamba tidak pernah berpikir tentang hamba sendiri apabila hamba harus mengikuti Tuanku kemanapun. Tetapi hamba berpikir tentang Tuanku. Keselamatan Tuanku”.

“Aku bukan pengecut cengeng Witantra. Kalau kalian tidak berani, biar aku berangkat sendiri”.

“Tidak Tuanku. Bukan maksud hamba mengatakan bahwa Tuanku menjadi takut dan cemas. Tetapi justru Tuanku memiliki keberanian yang tidak kami mengerti. Dengan demikian menurut nalar kami, maka Tuanku agaknya terlampau berani. Kami hanya memikirkan bahaya yang dapat mengancam Tuanku, meskipun Tuanku sendiri sama sekali tidak takut menghadapi apapun”.

“Jadi menurut pertimbangan, aku harus mengerahkan seluruh pasukan Tumapel. Prajurit dari segala kesatuan”.

“Ampun Tuanku, bukan begitu. Tetapi hamba ingin keselamatan Tuanku benar-benar terjamin. Hamba berbicara sebagai Senapati pasukan pengawal Tuanku”.

“Setan kau Witantra. Kau memang seorang pengecut. Bawalah besok pasukan sesukamu menurut pertimbanganmu. Tetapi aku akan memilih duabelas orang diantara kalian. Yang lain harus tinggal di istana. Tanggung jawab ada pada kalian. Kalian akan menunggu perintah dari Permaisuriku. Mengerti?”

Hampir bersama para perwira itu mengangguk dan menjawab, “Hamba Tuanku”.

“Sekarang pergilah” berkata Akuwu Tunggul Ametung.

Lalu disebutkan dua belas nama diantara para perwira yang akan dibawanya besok ke Kemundungan. Sedang yang lain harus tinggal di Tumapel untuk mengawasi keadaan pemerintahan sehari-hari disamping para pemimpin pemerintahan.

Tetapi sebelum para perwira itu beranjak dari tempatnya, Akuwu itu berkata, “Kita akan singgah di Padang Karautan. Ken Arok dan Kebo Ijo akan aku bawa pula”. Para perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab. Yang kemudian mereka dengar adalah Akuwu itu berteriak, “Sekarang pergi. Pergi. Kalian boleh pergi”.

Dengan tergesa-gesa para perwira itu pulang ke rumahnya masing-masing. Apalagi mereka yang harus mengikuti perjalanan Akuwu Tunggul Ametung besok. Mereka harus segera berkemas dan menyiapkan perlengkapan perang mereka. Sisa malam itu sama sekali sudah tidak dapat mereka pergunakan lagi untuk melanjutkan mimpi mereka. Isteri-isteri mereka pun ikut pula menjadi sibuk. Mereka menyiapkan perlengkapan suaminya dan menyiapkan makan pagi, Sebagian dari mereka menjadi berdebar-debar, karena suami-suami mereka mengatakan, siapa yang akan dihadapinya sekarang.

Meskipun isteri-isteri prajurit itu telah terbiasa ditinggal oleh suaminya untuk melakukan tugas yang berbahaya, untuk pergi berperang, namun sebenarnya di hati mereka pun masih juga selalu diliputi oleh kecemasan. Setiap suaminya mempersiapkan diri mereka dengan alat-alat perangnya, pedang di lambung atau keris di punggung, maka jantung mereka pun menjadi semakin cepat berdetak. Meskipun mereka sadar bahwa suami-suami mereka adalah seorang prajurit, tetapi sebenarnya mereka lebih senang apabila suami mereka tidak pergi berperang. Mereka lebih senang apabila suami-suami mereka ada di antara keluarganya. Menimang bayinya dan bermain-main dengan anak-anaknya yang lebih besar. Tetapi kali ini suami-suami mereka itu harus pergi meninggalkan keluarga masing-masing. Mereka kali ini akan menemui seorang yang namanya cukup mendebarkan jantung, Kebo Sindet.

Berbeda dengan para perwira itu, Witantra tidak hanya sekedar mengurusi dirinya sendiri. Ia masih harus menyiapkan sepasukan pengawal pilihan. Tidak terlampau banyak, hanya sepuluh orang. Tetapi yang sepuluh orang itu adalah pengawal-pengawal utama istana Tumapel. Pengawal-pengawal yang paling dipercaya oleh Witantra untuk menjaga keselamatan Akuwu Tunggul Ametung, meskipun yang sepuluh orang itu bagi Tunggul Ametung masih belum lebih berarti dari senjatanya yang dahsyat itu. Tetapi Witantra telah berbuat sesuai dengan tugasnya. Ia tidak mau lengah karena dorongan perasaan. Ia tidak tahu benar, berapa jumlah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Kebo Sindet, meskipun ia memang pernah mendengar bahwa semula Kebo Sindet hanya bergerak berdua saja dengan adiknya Wong Sarimpat. Tetapi berita terakhir yang sampai padanya adalah, Wong Sarimpat telah mati, dan kini Kebo Sindet berkawan dengan Kuda Sempana.

Pada saat yang dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka para perwira sudah berkumpul di halaman istana. Mereka telah siap dalam kesiagaan tertinggi. Senjata-senjata mereka bergantungan di lambung, dan pusaka-pusaka sipat kandel mereka masing-masing tidak pula ketinggalan. Di sudut halaman itu telah bersiap pula sepuluh orang prajurit pilihan, pengawal istana. Mereka adalah orang-orang yang paling setia akan tugasnya, yang tidak pernah menilai hidup mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada tugasnya, sampai pengorbanan yang terakhir.

Di samping mereka, maka mereka akan mendapat tambahan kawan lagi di Padang Karautan. Ken Arok dan Kebo Ijo. Dengan demikian maka pasukan kecil itu merupakan sekelompok orang-orang yang pilih tanding, sehingga Akuwu Tunggul Ametung yang melihat kesiapan orang-orangnya berkata di dalam hati,

“Jangankan seorang Kebo Sindet, sepuluh Kebo Sindet akan disapu oleh pasukan kecilku ini”.

Ketika pasukan itu kemudian berangkat, Permaisuri Tumapel berdiri di atas tangga paseban depan. Dipandanginya debu yang melontar dari belakang kaki-kaki kuda yang berlari kencang, menyusup keluar regol dan hilang dibalik dinding dalam istana. Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sebenarnya menjadi berdebar-debar seperti setiap isteri prajurit yang ikut di dalam rombongan kecil itu, Sebenarnya Ken Dades pun dirayapi oleh kecemasan tentang keselamatan suaminya. Meskipun setiap kali ia mencoba menghibur diri, bahwa kekuatan pasukan suaminya itu jauh berlipat ganda dari kekuatan lawannya, namun ia tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

Tetapi selain kegelisahan yang bergetar di dalam dadanya, Ken Dedes merasakan sesuatu yang aneh pula di dalam hatinya. Ia tidak merasakan kesungguhan pada sikap Akuwu Tunggul Ametung. Apa yang dilakukan ini adalah semata-mata didorong oleh kemarahannya. Bukan karena keinginannya yang tulus untuk melepaskan Mahisa Agni. Betapapun Ken Dedes mencoba menghilangkan perasaan itu, namun semakin lama justru semakin mencengkam hatinya. Bahkan kekecewaannya terhadap Akuwu Tunggul Ametung, serasa semakin lama semakin tebal membalut jantungnya. Bagi ken Dedes, Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang meledak-ledak. Seorang yang memandang setiap persoalan dari seginya sendiri.

Bahkan akhirnya Ken Dedes sampai pada kekecewaan dan keragu-raguan yang terbesar di dalam dunia perkawinannya. Sebuah pertanyaan tumbuh dihatinya, “apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung pada saat aku belum menjadi Permaisurinya? Apakah usahanya untuk membebaskan aku dari tangan Kuda Sempana itu benar tumbuh karena penyesalan, atau karena nafsu dan pamrih pribadinya, untuk merebut aku dari tangan Kuda Sempana itu?”

Ken Dedes terkejut dan seolah-olah tersadar dari sebuah mimpi yang menggelisahkan ketika ia mendengar seorang perwira yang berdiri di halaman, di bawah tangga, berkata,

“Ampun Tuan Puteri, apakah perintah Tuan Puteri atas kami yang mendapat tugas menjaga istana dan kota Tumapel ini”.

“Oh,“ Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya satu-satu perwira yang berdiri berjajar di halaman, di samping beberapa orang-orang tua yang menjadi pembantu-pembantu Akuwu di dalam pemerintahan.

Sesaat kemudian Ken Dedes berkata, “Lakukanlah pekerjaanmu sehari-hari. Tidak ada perintah khusus dari padaku saat ini”.

“Hamba Tuan Puteri”.

Ken Dedes itu pun kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang dalam istana diiringi oleh para emban. Namun kemudian ia langsung masuk ke dalam biliknya. Ketika ia melihat emban pemomongnya ikut masuk pula ke dalam bilik itu, hampir-hampir ia tidak kuasa lagi menahan air matanya. Tetapi ditabahkannya hatinya, dan dibiarkannya emban pemomongnya itu melepas dan mengganti pakaiannya dengan pakaian sehari-hari.

Emban tua itu dengan sepenuh hati telah melayani Ken Dedes seperti ia melayaninya di masa kanak-kanaknya. Ditolongnya Permaisuri itu membenahi pakaiannya dan mengenakan pakaian sehari-harinya. Kemudian mengurai sanggulnya dan menyanggulnya kembali seperti kebiasaannya menyanggul rambutnya tinggi-tinggi karena udara yang sering terasa terlampau panas. Emban itu telah terlampau biasa melayani Ken Dedes, sebelum dan sesudah menjadi seorang Permaisuri. Emban itu telah mengerti betul, apakah yang disukai dan apakah yang tidak. Karena itu, maka hampir tidak pernah ia berbuat kesalahan.

Ken Dedes yang kali ini sedang mencoba bertahan untuk tidak menangis itu masih saja berdiam diri. Dan ia terkejut ketika emban tua itu bertanya dekat sekali di belakang telinganya sambil menyanggul rambutnya,

“Tuan Puteri. Apakah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung pergi ke Kemundungan?”

Ken Dedes berpaling. Ditatapnya wajah pemomongnya. Wajah yang telah dipenuhi kerut-merut umurnya itu tampak terlampau suram.

“Ya bibi” jawab Ken Dedes, “Tuanku Akuwu Tunggul Ametung pergi ke Kemundungan”.

“Apakah Tuanku Akuwu ingin merebut Mahisa Agni dengan kekerasan?”

Ken Dedes diam sejenak. Tenggorokannya terasa menjadi semakin sesak. Jawabnya, “Yang penting bagi Tuanku Akuwu adalah menyingkirkan Kebo Sindet, yang dianggapnya selalu membuat kisruh di Tumapel”.

“Tetapi bukankah Akuwu juga berusaha membebaskan angger Mahisa Agni?”

“Aku tidak yakin, bahwa itu adalah tujuannya bibi. Seandainya ia dapat membinasakan Kebo Sindet, meskipun kakang Mahisa Agni tidak dapat dibebaskannya, ia telah menjadi puas. Sebaliknya, seandainya ia mendapat kesempatan membebaskan kakang Mahisa Agni, tetapi tidak berhasil melenyapkan Kebo Sindet, maka ia pasti masih merasa gagal”.

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Begitukah Tuan Puteri?”

“Ya”

Tetapi tanpa disangka-sangka oleh Ken Dedes, emban itu berkata, “Tuan Puteri. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu. Ia memandang semua persoalan pasti dalam sangkutannya dengan kedudukannya. Kali ini pun ia berusaha untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Akuwu dan sebagai seorang suami. Tetapi ia adalah seorang Akuwu sebelum menjadi seorang suami. Tanggung jawabnya cukup besar dan berat. karena itu Tuanku, hamba mengharap Tuan Puteri dapat mengerti”.

Ken Dedes menatap mata emban tua itu sejenak. Ia melihat mata itu basah. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun lagi. Nalarnya dapat mengerti kata-kata emban tua itu, tetapi perasaannya masih dicengkam oleh kekecewaan dan kecemasan. Ketika Ken Dedes selesai berkemas, maka emban tua itu pun segera mohon diri untuk pergi kebelakang sebentar. Untuk melayani permaisuri apabila ia memerlukan sesuatu, beberapa orang emban masih saja duduk dimuka bilik.

Tetapi, kemudian tidak seorang pun yang megetahuinya, bahwa emban tua itu segera masuk ke dalam biliknya sendiri dibelakang istana itu. Hampir ia tidak dapat menahan dirinya lagi. Dijatuhkannya tubuhnya yang tua itu di atas amben pembaringannya. Dan tangisnya sudah tidak dapa ditahannya. Ia tidak pernah akan dapat ingkar dari perasaan sendiri, bahwa Mahisa Agni adalah satu-satu anak laki-laki. Bahkan satu-satunya anak yang akan dapat menyambung keturunannya. Apabila bencana menimpa anak itu, justru karena ia dianggap saudara oleh Ken Dedes yang kini menjadi Permaisuri, alangkah malang nasibnya.

Sementara itu, Akuwu Tunggul Ametung berpacu dengan kencangnya ke Padang Karautan. Ia akan singgah di sana, untuk membawa Ken Arok dan Kebo Ijo serta. Disana ia akan dapat melihat pula apakah yang sudah dikerjakan oleh Ken Arok. Apakah taman yang dipesankannya sudah dikerjakan dengan baik. Taman yang akan dihadiahkannya kepada permaisurinya.

Jauh dari Padang Karautan, Kebo Sindet dan Kuda Sempana telah sampai di pinggir rawa-rawa yang menyekat tempat yang dipergunakannya untuk menyembunyikan Mahisa Agni dan dunia di seputarnya. Sejenak mereka berhenti di tepi rawa-rawa itu. Kebo Sindet dengan matanya yang tajam memandangi daerah di sekelilingnya. Tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakannya. Ia sama sekali tidak melihat perubahan-perubahan apapun dan tanda-tanda yang lain yang dapat membahayakan dirinya. Karena itu, maka perlahan-lahan didorongnya kudanya untuk turun ke dalam rawa-rawa.

Kebo Sindet mengenal betul daerah yang dilewatinya itu. Kecuali jalan yang harus dilalui, ia mengenal pula watak dan sifat-sifat dari rawa-rawa itu. Ia mengenal waktu-waktu yang paling baik untuk menyeberang. Dan ia mengenal saat-saat dimana ia harus menunggu apabila bahaya berada di perjalanan. Binatang-binatang air yang berbisa adalah lawan-lawan yang paling sulit untuk dilayaninya. Tetapi pengenalannya atas daerah itu benar-benar hampir sempurna.

Perlahan-lahan kudanya melangkah maju diikuti oleh Kuda Sempana. Selangkah demi selangkah. Dan setiap langkah mereka maju, maka setiap kali dada Kuda Sempana jadi semakin berdebar-debar. Selama ini ia hampir acuh tak acuh saja atas semua peristiwa iang terjadi atas dirinya dan atas Kebo Sindet. Tetapi kali ini ia telah diganggu oleh kegelisahan yang semakin mencengkam. Ia tahu benar bahwa beberapa saat lagi, ia akan dijadikan ayam aduan. Ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni. Mungkin sekali, mungkin dua kali bahkan mungkin beberapa kali. Adalah lebih baik apabila ia harus berkelahi sampai mati. Atau keduanya mati sama sekali. Tetapi tangkapannya atas maksud Kebo Sindet cukup tajam. Ia akan sekedar dijadikan tontonan, sebelum orang itu menjadi jemu dan membunuhnya. Mungkin sebulan, dua bulan, bahkan mungkin tetaunan.

Berbagai perasaan telah bergelora di dalam dada Kuda Sempana. Kadang-kadang ia mencoba untuk acuh tidak acuh saja atas apa yang akan terjadi. Kadang-kadang ia menjadi muak dan gelisah. Tetapi kadang-kadang ia masih menyangka bahwa Kebo Sindet belum melepaskan keinginannya untuk mempergunakan Mahisa Agni memeras permaisuri Tunggul Ametung. Kalau sekali-sekali ia harus berkelahi, maka Kebo Sindet masih menginginkan Mahisa Agni itu hidup terus, betapapun keadaannya.

Tiba-tiba Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya, “Iblis ini benar-benar buas dan licik”

Ketika mereka telah sampai di tengah-tengah rawa-rawa itu, maka terdengar Kebo Sindet bergumam, “Kuda Sempana. Sebentar lagi kita akan sampai. Kau harus mempersiapkan dirimu. Aku ingin memberi kau kesempatan sekali-sekali melepaskan sakit hatimu. Tetapi aku masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain dari Mahisa Agni itu. Apakah ia masih berguna bagiku atau tidak”. Kuda Sempana tidak menjawab. Dan Kebo Sindet berkata terus, “Aku mengharap kau mengerti maksudku”.

Kebo Sindet itu berpaling ketika ia mendengar Kuda Sempana berdesis, “Aku tidak mengerti”.

Wajah Kebo Sindet yang beku itu masih saja membeku. Namun ia berkata, “Aku kira masih ada sisa-sisa kekuatan di dalam diri Mahisa Agni. Kau akan dapat mempergunakannya untuk berlatih sambil melepaskan sakit hatimu. Tetapi kau harus tahu, bahwa sulit bagimu untuk mencari orang seperti anak itu. Karena itu, maka biarlah untuk sementara ia hidup”.

“Maksudmu, kami, aku dan Mahisa Agni akan kau pergunakan sebagai tontonan. Sebagai ayam sabungan” tiba-tiba saja kejemuan yang tersimpan di dalam dada Kuda Sempana tidak dapat ditahannya lagi. Ia sama sekali tidak dapat berpikir apa saja yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet atasnya.

Tetapi tanpa disangka-sangka, Kebo Sindet itu menjawab sareh, “Jangan berprasangka. Aku ingin menjadikan kau seperti Wong Sarimpat. Aku sudah tidak punya kawan lagi. Bukankah Mahisa Agni yang sekarat itu dapat kau pergunakan”.

“Ia sudah tidak akan bermanfaat lagi bagiku. Aku akan membunuhnya. Lalu kau akan membunuhku juga karena aku pun sudah tidak bermanfaat lagi bagimu”.

“Kau salah” sahut Kebo Sindet, Selama itu kuda-kuda mereka masih saja berjalan di dalam rawa-rawa itu., “Aku tidak akan berbuat demikian. Kalau kau sekali-sekali berlatih dengan Mahisa Agni, maka kau akan menjadi semakin maju. Mungkin aku terpaksa menunggui latihan itu dengan cambuk di tangan, supaya salah seorang dari kalian tidak terdorong untuk membunuh lawan. Mungkin beberapa kawan-kawanku berjudi ingin melihat latihan itu. Atau mungkin beberapa orang prajurit Tumapel yang harus aku tangkap supaya mereka melihat apa yang terjadi atas Mahisa Agni, kemudian aku lepaskan lagi supaya ia dapat melaporkannya kepada Akuwu Tunggul Ametung, atau seribu macam rencana yang menyenangkan lainnya. Itu tergantung sama sekali kepadaku.

Tidak kepadamu atau Mahisa Agni. Apakah kelak aku akan membunuhmu atau memeliharamu seperti memelihara kudaku ini, itu pun tergantung sekali kepadaku. Apakah kelak aku menjadi demikian percaya kepadamu dan memberikan seluruh ilmuku itu pun tergantung kepadaku juga. Tetapi mungkin juga justru Mahisa Agnilah yang akan menerima ilmuku dan kau akan mengalami nasib yang paling jelek”.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar