“Aku sudah siap untuk melakukan apa saja” geram Kuda Sempana.
Dadanya sudah terlampau pepat. Dan lebih dari pada itu sebenarnya ia telah terlempar ke dalam keputus-asaan yang parah. Ia sudah tidak mempunyai harapan untuk lepas dari tangan Kebo Sindet dan menghindari cara-cara yang akan dilakukan atasnya dan atas Mahisa Agni. Dalam keputus-asaan itulah maka ia kehilangan segala nalarnya.
Tetapi Kebo Sindet masih tetap dalam sikapnya. Ia duduk tenang di atas kudanya yang berjalan selangkah demi selangkah maju. Di depan mereka seonggok tanah menjorok dari permukaan rawa-rawa yang masih berkabut. Remang-remang diantara sulur-sulur yang berjuntai dari pepohonan yang tumbuh di atas tanah berlumpur.
“Mungkin Mahisa Agni masih tidur” gumam Kebo Sindet. Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak menyahut.
Sejenak kemudian, mereka telah memanjat pinggir rawa-rawa itu dan sesaat kemudian mereka telah berdiri di atas tanah yang lembab basah, tetapi sudah tidak digenangi oleh air yang keruh.
“Ayo, suruh Mahisa Agni menyediakan makan dan minum kita” berkata Kebo Sindet.
Kuda sempana tidak menjawab. Hal itu telah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu pun kali ini dilakukannya dengan hati yang kosong. Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Kuda Sempana mendahuluinya. Tetapi ia pun kemudian mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba ia menjadi cemas, apabila Kuda Sempana tanpa setahunya telah membunuh Mahisa Agni, supaya mereka tidak dapat diadu seperti ayam jantan atau seperti cengkerik yang ganas. Tetapi Kuda Sempana tidak menjumpai Mahisa Agni di dalam sarang mereka. Itu pun tidak mengherankannya, karena mahisa Agni sedang berkeliaran di sektiar pulau di tengah-tengah rawa-rawa itu. Mungkin untuk mencari kayu, mungkin untuk mengail.
Untuk memanggilnya, Kuda Sempana dapat membunyikan tanda yang tergantung di mulut sarang mereka. Tetapi, kali ini Kuda Sempana tidak berminat untuk memanggilnya. Tanpa diketahui sebab-sebabnya, ia ingin mencari saja Mahisa Agni di sekitar sarang mereka, namun langkahnya tertegun ketika ia mendengar Kebo Sindet bertanya,
“Kenapa tidak kau panggil saja anak setan itu dengan tanda”. Kuda Sempana tidak segera dapat menjawab. “Apakah kau akan mencarinya dan membunuhnya?”
“Tidak” jawab Kuda Sempana, “aku sama sekali tidak bernafsu untuk melakukannya”.
Kebo Sindet tidak menyahut, tetapi ia melangkah perlahan-lahan ke muka sarangnya. Ia akan membunyikan tengara sendiri untuk memanggil Mahisa Agni. Kuda Sempana berdiri saja mengawasinya. Tampaklah dahinya berkerut-merut, hal yang demikian itu hampir tidak pernah dilakukannya. Biasanya ia berteriak saja menyuruhnya membunyikan tanda itu. Tetapi kali ini, ia melakukannya sendiri. Tetapi sebelum tengara itu berbunyi, mereka berpaling bersama-sama. Mereka mendengar langkah berlari-lari dari balik dedaunan perdu. Dan sejenak kemudian mereka melihat Mahisa Agni muncul dengan nafas terengah-engah. Kebo Sindet berdiri tegak sambil memandangnya dengan tajam, perlahan-lahan Mahisa Agni kemudian berjalan mendekatinya. Sekali-sekali ia berpaling kearah Kuda Sempana dengan penuh kebimbangan. Tetapi tiba-tiba tubuh anak muda itu terlempar ketika kaki Kebo Sindet menyentuh pahanya. Mahisa Agni jatuh berguling beberapa kali sambil menyeringai ia berkata,
“Ampun tuan”.
“Setan” geram Kebo Sindet, “dari mana kau sepagi ini?”
“Aku sedang bersiap untuk mengail tuan”.
“Bohong, kau pasti masih tidur pemalas”.
“Tidak tuan. Aku sudah bangun sebelum fajar, aku sedang mengail”.
“Cepat, sediakan minum dan makan kami, jangan menunggu aku marah”.
“Ya tuan”.
Mahisa Agni pun segera berlari-lari meninggalkan Kebo Sindet untuk menyiapkan makan dan minum mereka. Dengan tergesa-gesa dipungutnya seonggok kayu dan dimasukkannya ke dalam mulut perapian.
Sementara itu, Kebo Sindet masih berdiri tegak di tempatnya. Ketika ia melihat Mahisa Agni, maka bergeloralah isi dadanya. Ia menjadi sangat muak dan jemu. Hampir-hampir ia kehilangan pertimbangan dan memukulnya sampai pingsan. Tetapi ketika dilihatnya Kuda Sempana, maka teringatlah ia akan permainan yang dapat diselenggarakannya,
“Mudah-mudahan menyenangkan. Menilik keadaan Mahisa Agni sekarang, maka ia tidak akan dapat mengalahkan Kuda Sempana dengan segera dan sebaliknya, mereka akan dapat menjadi cengkerik aduan yang baik. Alangkah senangnya apabila Permaisuri mengetahuinya, bahwa kakaknya di sini tidak lebih dari pada seekor cengkerik yang tidak dapat menghindarkan diri dari gelanggang pertarungan”.
Meskipun wajahnya sama sekali tidak berkesan apapun, tetapi Kebo Sindet itu tertawa di dalam hatinya. Tanpa dikehendakinya sendiri, dipandanginya Kuda Sempana dari ujung kaki sampai keujung kepalanya, Seolah-olah ia sedang menilai, apakah keduanya cukup seimbang.
Namun dengan liciknya ia berkata, “Kuda Sempana. Jangan mencari kesempatan untuk membunuh Mahisa Agni. Dengan demikian maka kita tidak dapat membalas sakit hati kita kepada Permaisuri itu sebaik-baiknya. Kita harus menemukan cara untuk membuat Permaisuri itu menyesal karena sikapnya dan kekikirannya. Ia harus disiksa oleh penyesalan sepanjang umurnya”.
Kuda Sempana tidak menyahut. Bahkan dilontarkan pandangan matanya jauh ke dalam semak-semak di pinggir rawa-rawa. sorot matanya benar-benar telah mencerminkan keputus asaan dan kegelapan hati. Hidup bagi Kuda Sempana kini telah tidak mempunyai arti apapun lagi.
“Ingat-ingatlah Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet yang tidak mempedulikan sama sekali perasaan anak muda itu, “jangan kau bunuh, bahkan jangan kau sakiti anak itu”.
Kuda Sempana masih saja berdiam diri, ia masih belum beranjak dari tempatnya ketika Kebo Sindet kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam sarangnya yang lembab dan gelap. Sesaat Kuda Sempana masih berdiri mematung. Sekilas tersirat di kepalanya peristiwa-peristiwa yang telah mendorongnya sampai ke tempat ini. Sepercik penyesalan menyentuh hatinya, tetapi yang ada kemudian adalah kegelapan.
Seperti kehilangan kesadarannya Kuda Sempana mengayunkan kakinya. Selangkah demi selangkah. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. ketika seberkas sorot matahari menyentuh wajahnya, maka ditengadahkannya kepalanya. Tetapi matahari itu seolah-olah sudah tidak lagi berarti lagi baginya sama sekali, tidak terasa gairah kehidupan yang terpancar lewat sinarnya yang putih. Semuanya sudah tidak berarti lagi baginya. Kenangan masa lampaunya, hidup kini, dan mungkin umurnya yang masih akan dijalaninya, semuanya sudah tidak berarti. Bahkan penyesalan pun sama sekali sudah tidak berarti lagi baginya. Semuanya sudah terlambat. Ia sudah berada dalam dunia yang asing.
Tiba-tiba, langkah Kuda Sempana itu terhenti. Ia melihat Mahisa Agni duduk di muka perapian. Di atas perapian itu terjerang sebuah belanga yang berisi air, dan sebuah lagi untuk menanak nasi. Kuda Sempana sendiri tidak tahu, kenapa ia mendekatinya. Diperhatikannya Mahisa Agni itu dengan saksama. Dipandanginya api yang seolah-olah sedang meronta-ronta menjilat belanga-belanga yang terletak di atasnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Tetapi ia masih saja duduk di muka perapian. Bahkan kemudian ditundukkannya kepalanya. Dipandanginya mulut perapiannya seperti baru sekali ini dilihatnya.
“Mahisa Agni” tiba-tiba ia mendengar Kuda Sempana berdesis perlahan sekali.
Mahisa Agni sekali lagi berpaling. Tetapi ia tidak juga beranjak dari tempatnya. Namun ia merasakan suatu keanehan pada nada suara Kuda Sempana. Suara itu sama sekali bukan pancaran dari perasaan dendam dan kebencian. Bahkan pada sikapnya pun Mahisa Agni tidak melihat lagi dendam yang membara di dalam dada Kuda Sempana.
Tetapi Kuda Sempana tidak meneruskan kata-katanya. Wajahnya tampak menjadi muram, namun sekali lagi Mahisa Agni menjadi heran. Kuda Sempana itu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Tetapi belum lagi Kuda Sempana itu beranyak lima langkah dari tempatnya, ia pun tertegun. Ketika ia berpaling, oleh suara gemersik disampingnya, ia melihat Kebo Sindet telah berdiri tidak jauh dari padanya. Kuda Sempana kemudian menjadi acuh tidak acuh saja. Ia melangkah terus meninggalkan tempat itu.
“Hem” terdengar suara Kebo Sindet, “aku sangka kau akan membunuhnya”.
“Sudah aku katakan, aku tidak bernafsu lagi” sahut Kuda Sempana.
“Bagaimana kalau aku tidak datang kemari?”
“Aku tidak tahu kalau paman ada di sini”.
Kebo Sindet tidak menjawab. Dibiarkannya Kuda Sempana pergi menjauh. Baru ketika Kuda Sempana telah hilang dibalik gerumbul Kebo Sindet itu berpaling kepada Mahisa Agni sambil menggeram,
“Mahisa Agni. Nasibmu adalah nasib yang paling jelek dari setiap orang yang pernah aku temui. Adikmu ternyata terlampau kikir dan Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang paling gila di Tumapel. Sebenarnya aku tidak memerlukan kau lagi. Dan kau dapat menduga, apakah yang akan aku lakukan atasmu. Tatapi sebelum kau aku cincang-cincang di alun-alun Tumapel, maka kau akan menjadi permainan yang menyenangkan. Bukankah kau masih berani berkelahi melawan Kuda Sempana? He?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. “Setiap kali kau harus berkelahi. Aku di sini tidak akan menjadi kesepian lagi. Mungkin kalian berdua akan aku bawa ke tempat-tempat perjudian. Kalian harus berkelahi. Bersungguh-sungguh. aku tahu apakah kalian bersungguh-sungguh atau tidak. Perkelahian yang demikian pasti akan menyenangkan orang-orang yang melihatnya”.
Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Tetapi mengumpat di dalam hatinya. Kebenciannya kepada Kebo Sindet menjadi semakin meluap sampai diujung rambutnya. Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Ia ingin tahu lebih banyak apa yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet. Namun sekali-sekali terpercik pula pertanyaan di dalam hatinya,
“Apakah aku sekarang telah mampu mengalahkannya, setidak-tidaknya mengimbanginya?”
Tetapi Mahisa Agni masih menahan diri. Kedua orang yang memberinya bekal olah kanuragan masih berpesan kepadanya, “Agni, kalau kau mempunyai waktu, jangan tergesa-gesa. Kau harus meyakinkan dirimu sendiri. Kecuali apabila kau telah disudutkan ke dalam suatu keadaan, bahwa kau harus melakukan perlawanan untuk keselamatanmu”.
Dan kadang-kadang Mahisa Agni hampir tidak bersabar lagi menunggu Kebo Sindet memaksanya untuk membela dirinya. Apalagi kini ia mendengar bahwa ia akan dijadikan semacam binatang aduan. Maka kesempatan yang ditunggunya itu pasti akan menjadi lebih lama lagi.
“Tetapi aku dapat mempercepat” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “Kalau aku tidak mau berkelahi melawan Kuda Sempana, maka aku akan mendapatkan kesempatan itu. Melawan Kebo Sindet sendiri”.
Tetapi Mahisa Agni masih juga menundukkan kepalanya. Ia mendengar Kebo Sindet mendekatinya dan berdiri dekat dibelakangnya. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau kau mulai lagi Kebo Sindet, mungkin aku akan kehilangan kesabaran untuk menunggu lebih lama lagi. Langit menjadi semakin suram, dan mendung menjadi semakin tebal. Aku harus segera berada di Padang Karautan”. Namun kemudian ia menggeram di dalam hatinya pula, “Ayolah Kebo Sindet. Aku sudah jemu menunggu di neraka ini”.
Tetapi Kebo Sindet tidak berbuat apa-apa. Ia masih berdiri saja dibelakang Mahisa Agni. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Kau harus berusaha memperpanjang hidupmu. Kau harus bersedia berkelahi. Kalau tidak, nasibmu benar-benar terlampau jelek. Tetapi kalau kau berhasil menyenangkan aku dan orang-orang lain yang melihat perkelahian itu, maka umurmu akan bertambah panjang”.
Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Tetapi kemuakan dan kemarahan semakin membara didadanya.
“Nah, bekerjalah baik-baik. Kau akan mendapat kesempatan untuk melatih diri. Mengulang dan mempelajari unsur-unsur gerak yang telah kau lupakan. Kau akan langsung berada di bawah pengawasanku. Mungkin hari ini, atau besok atau kapan saja, aku ingin melihat kau berkelahi sebelum aku dapat menentukan keseimbangan diantara kalian”.
Hampir-hampir Mahisa Agni tidak dapat mengendalikan diri. Tetapi dengan sekuat-kuat tenaganya ia memaksa dirinya untuk duduk tepekur di muka perapian. Hanya kadang-kadang tangannya saja yang bergerak mendorong kayu bakarnya lebih dalam diperapian.
“Nah, bekerjalah” desis Kebo Sindet kemudian, “tetapi jangan mencoba untuk membunuh diri. Sama sekali tidak menyenangkan. Dalam waktu sehari rakyat Tumapel akan mendengar berita itu dan pasti akan selalu memperkatakan kau. Seorang yang dahulu disegani, kakak Permaisuri Ken Dedes, ternyata mati membunuh dirinya”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan kemarahan di dalam dadanya. Tetapi ia belum berbuat apa-apa.
“Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Aku akan beristirahat. Ingat, kau pada saatnya akan mendapat kesempatan dan kedudukan yang sama dengan Kuda Sempana”.
Kebo Sindet itu pun kemudian melangkah pergi meninggalkan Mahisa Agni yang masih duduk di muka perapiannya. Ketika Mahisa Agni itu mengangkat wajahnya maka Kebo Sindet telah hilang dibalik pepohonan.
“Waktu itu tidak akan lama lagi”, desis Mahisa Agni perlahan-lahan. Ia masih berhasil menahan darahnya yang hampir mendidih.
Ketika air dan nasi yang dijerangnya telah masak, maka Mahisa Agnipun segera menghidangkannya seperti biasa. Ditaruhnya air panas itu ke dalam mangkuk dan nasinya pun telah disediakannya di dalam ceting bambu. Ia mengharap, bahwa pada saat Kebo Sindet makan ia mendapat kesempatan untuk menemui gurunya dan Empu Sada yang saat itu berada tidak jauh dari tempat itu pula.
Seperti biasanya, Kebo Sindet dan Kuda Sempana pun segera duduk di atas sebuah amben kayu yang kasar, menikmati hidangan yang telah disediakan oleh Mahisa Agni. Nasi yang hangat dengan ikan air yang telah dikeringkan dengan dibubuhi garam. Ketika Kebo Sindet dan Kuda Sempana sedang sibuk memilih dan menyisihkan duri ikan kering yang dimakannya, maka dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menyelinap ke dalam gerumbul di belakang sarang iblis itu. Di tempat yang rimbun, ditemuinya gurunya dan Empu Sada memang sedang menunggunya.
“Agaknya Kebo Sindet kali ini gagal lagi guru” berkata Mahisa, “tetapi ia mempunyai suatu cara yang sangat licik. Ia ingin menjadikan aku dan Kuda Sempana ayam sabungan”.
Kedua orang tua-tua itu mengerutkan keningnya. Apalagi ketika Mahisa Agni menjelaskan apa yang telah didengarnya dari Kebo Sindet.
“Iblis itu benar-benar tidak berperasaan” desis Empu Purwa, “ia dapat berbuat apa saja di luar dugaan kita. Karena itu Agni, kau harus mempersiapkan dirimu sebaik-baiknya. Kau akan berhadapan dengan iblis itu. Meskipun, mungkin ilmumu sudah tidak kalah lagi dari ilmu Kebo Sindet menurut aliran masing-masing, tetapi dalam keadaan yang gawat maka Kebo Sindet dapat berbuat apa saja. Ia dapat herbuat hal-hal diluar dugaan. Mungkin kau akan terkejut dan kau akan kehilangan waktu sekejap. Yang sekejap itu mungkin akan dapat dipergunakan oleh iblis itu dengan buasnya. Apakah kau mengerti maksudku?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepala, “Ya, aku tahu guru”.
“Nalar dan perasaanmu harus kau kuasai sebaik-baiknya Agni” berkata Empu Sada, “kalau kau gagal hanya karena kekasaran dan kebuasan lawanmu, maka kau akan mengecewakan kami. Karena itu persiapkan dirimu. Bukan hanya kemampuan lahir, tetapi juga batinmu. Kau harus berdiri di atas landasan yang sudah kau letakkan. Iblis itu memang harus dilenyapkan karena pokalnya yang membahayakan sendi-sendi peradaban. Sehingga apa pun yang akan dilakukan, yang barangkali sama sekali tidak kau sangka-sangka sekalipun, jangan menggoyahkan nalar dan perasaanmu. Kau tidak boleh kehilangan akal”.
“Ya Empu” sahut Mahisa Agni sambil menundukkan kepalanya.
“Tetapi, bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Empu Sada tiba-tiba.
“Aku melihat beberapa keanehan padanya” jawab Mahisa Agni, yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya atas anak muda itu.
Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berdesis, “Kasihan anak itu. Tidak semua kesalahan dapat dibebankan kepadanya. Sebenarnya ia bukan seorang yang terlampau jahat. Tetapi aku telah ikut mendorongnya ketempatnya yang sekarang. Agaknya kini ia telah benar-benar kehilangan arah hidupnya. Ia merasa bahwa hidupnya sama sekali sudah tidak mempunyai arti lagi”.
“Ya Empu” sahut Empu Purwa, “ia telah didorong oleh keadaan, apalagi ternyata Kuda Sempana kemudian kehilangan keseimbangan berpikir, sehingga ia telah kehilangan arah dan kehilangan tempat berpijak”.
Empu Sada meng-angguk-anggukkan kepalanya. Dan terdengar ia bergumam, “Akulah yang seharusnya meluruskan jalannya pada waktu itu. Tetapi aku justru ikut menjerumuskannya”. Orang tua itu berhenti sejenak. Wajahnya menjadi muram. Lalu sejenak kemudian ia berkata, “Agni. Bagaimanakah kira-kira dengan Kuda Sempana itu? Apakah ia masih mendendammu?”
“Aku tidak tahu Empu. Tetapi aku melihat keanehan itu”.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Agni. Apakah kau dapat menunda perasaan muakmu terhadap Kebo Sindet sehari dua hari? Meskipun kini kau telah siap menghadapinya, tetapi aku masih ingin menganjurkan kau menundanya. Kalau kau sempat melakukan keinginan Kebo Sindet, kau akan mengetatui perasaan Kuda Sempana yang sesungguhnya. Apakah ia masih tetap mendendammu ataukah ia telah benar-benar kehilangan nafsunya itu karena hidupnya sendiri yang seolah-olah sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kalau ia masih saja mendendammu seperti dahulu Agni, aku serahkan ia kepadamu. Apa saja yang akan kau lakukan. Tetapi kalau ia telah kehilangan nafsunya itu karena alasan apapun, apakah kau mau memberinya sedikit saja peluang”.
Kening Mahisa Agni menjadi berkerut, “Maksud Empu?” bertanya Mahisa Agni itu.
Empu Sada menjadi ragu-ragu. Dipandangnya Empu Purwa sejenak seolah-olah ingin mendapat pertimbangan dari padanya, “Maksudku ngger, apabila Kuda Sempana itu sudah tidak lagi mendendammu karena alasan apapun, mungkin bukan karena kesadaran tentang kekeliruannya, sebab mungkin ia hanya sekedar didera oleh keputusasaan dan tidak tahu arah hidupnya lagi, namun aku ingin minta maaf kepadamu untuknya. Aku ingin mencoba memperbaiki tingkah lakunya sebagai tebusan dari kesalahan-kesalahan yang aku buat selama ini”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seperti Empu Sada maka sekilas ditatapnya wajah Empu Purwa untuk mendapatkan pertimbangannya. Dan didengarnya gurunya berkata,
“Itu adalah wajar sekali Empu. Kalau Kuda Sempana sudah kehilangan nafsunya untuk membalas dendam, maka Agni pun harus rnelenyapkan segala macam permusuhan yang ada di antara mereka. Mahisa Agni memang seharusnya berbuat sesuatu tanpa dilandaskan pada perasaan dendam dan kebencian. Yang dilakukannya atas Kebo Sindet pun seharusnya tidak diberatkan kepada dendam dan kebencian. Tetapi kecintaannya kepada kebebasan diri, kepada adiknya Ken Dedes kepada orang-orang Panawijen di Padang Karautan, kepada semua orang yang mungkin akan mengalami bencana karena tingkah laku Kebo Sindet. Itulah yang harus menjadi landasan perbuatannya. Sehingga aku kira Mahisa Agni tidak akan berkeberatan apa pun untuk melepaskan sikap permusuhannya terhadap Kuda Sempana. Apalagi Kuda Sempana, seandainya, ya hanya sekedar seandainya, Kebo Sindet dapat merubah dirinya, tingkah laku dan angan-angannya, maka tidak ada manfaatnya untuk membunuhnya. Tetapi itu hanya dapat terjadi di dalam mimpi saja”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang wajah Mahisa Agni, ia melihat pengertian memancar dari wajah anak muda itu, sehingga dengan serta-merta Empu Sada berkata,
“Terima kasih. Agaknya Mahisa Agni pun berpendirian demikian pula. Kemana air menitik, maka demikian pula agaknya sifat-sifat gurunya melimpah kepadanya”.
“Ah” desah Empu Purwa, “kau memuji. Terima kasih”.
Empu Sada tersenyum. Lalu katanya, “Bagaimana Mahisa Agni?”
“Aku tidak berkeberatan, Empu. Aku memang melihat sesuatu pada dirinya. Mungkin ia mendapatkan kesadarannya. Atau mungkin seperti yang Empu katakan” jawab Mahisa Agni. Meskipun demikian masih juga terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Adalah terlampau sulit untuk melupakan begitu saja semua persoalan yang pernah timbul di antara dirinya dengan Kuda Sempana. Adalah terlampau sulit untuk dengan sebuah senyuman berkata, “Kau telah aku maafkan Kuda Sempana”.
Tetapi kedua orang tua-tua yang selama ini telah menempanya berpendapat demikian. Mereka, apalagi Empu Sada, telah dengan terang, minta maaf untuk bekas muridnya itu. Apakah dengan demikian ia akan berkeras pada pendiriannya. Dan terngiang ditelinganya kata-kata gurunya,
“Kalau Kuda Sempana sudah kehilangan nafsunya untuk membalas dendam maka Mahisa Agni pun harus melenyapkan segala macam permusuhan yang ada diantara mereka”.
Mahisa Agni itu pun kemudian mencoba untuk dapat melakukannya. Untuk dapat memaafkan Kuda Sempana. Ia merasa bahwa seharusnya hal itu memang dilakukannya. Hanya kadang-kadang saja perasaannya masih juga melonjak. Namun dengan penuh pengertian ia berkata didalam hatinya,
“Aku memang harus melupakan segala permusuhan itu. Empu Sada telah banyak berjasa kepadaku di samping guru. Orang tua itu telah dengan suka rela memberikan dasar-dasar dan kemudian dengan berbagai pancarannya Aji yang selama ini menjadi puncak kekuatannya. Ia telah bersedia pula bersama-sama gurunya mencari bentuk keserasian dari kedua Aji yang ada pada orang tua-tua itu. Dan hasilnya adalah dahsyat sekali”.
Mahisa Agni itu tersadar ketika ia mendengar gurunya berkata, “Kembalilah kepada Kebo Sindet. Mungkin ia telah selesai makan, kau harus berbuat seperti biasa. Dan kau harus menunggu saat yang sebaik-baiknya. Ingat, kau harus mempersiapkan dirimu lahir dan batin. Aku sudah tidak mencemaskan ilmumu lagi. Kau telah menjadi seorang yang akan mampu menghadapinya. Ilmumu sudah cukup”.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tanpa disengaja ia menengadahkan wajahnya menatap langit. Memang kadang-kadang mendung telah mengalir semakin sering. Bahkan gerimis-gerimis kecil kadang-kadang telah jatuh pula.
“Belum terlampau tergesa-gesa Agni” berkata gurunya, “di Padang Karautan masih ada Ki Buyut Panawijen dan masih ada pula Ken Arok dan pasukannya”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Agaknya gurunya mengerti apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya.
Dan ia mendengar gurunya itu berkata pula, “Kembalilah kepada Kebo Sindet dan Kuda Sempana”.
“Baik guru” jawab Mahisa Agni, yang kemudian minta diri kepada gurunya dan Empu Sada.
Keiika ia telah berada didekat sarang iblis itu, ia mendengar namanya dipanggil. Dangan tergesa-gesa ia berlari, masuk ke dalam, langsung mendapatkan Kebo Sindet dan Kuda Sempana yang masih duduk menghadapi sisa-sisa makanannya.
“He, kemana kau tikus malas?” bentak Kebo Sindet.
“Aku sedang mengambil kail yang tadi pagi sudah aku siapkan dipinggir rawa-rawa”.
“Setan alas, kenapa kau tinggalkan kami yang sedang makan? Apakah tidak dapat kau ambil nanti sesudah kami selesai?” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya. “Bawalah sisa-sisa ini pergi. Ambilkan air. Cepat”.
Segera Mahisa Agni memutar tubuhnya. Tetapi ketika ia baru saja melangkah, tiba-tiba ia mendengar Kebo Sindet berteriak, “Kenapa barang-barang ini tidak kau bawa sama sekali he? Kau memang terlampau bodoh”.
Dengan ragu-ragu Mahisa Agni mendekat. Tetapi beberapa langkah dari amben tempat duduk Kebo Sindet, ia tertegun. Kemudian terasa matanya menjadi panas Kebo Sindet telah melemparkan sisa-sisa nasinya kewajah Mahia Agni. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Segera ia berjongkok untuk memunguti gumpalan-gumpalan nasi dan mangkuk tanah yang pecah terbanting dilantai.
“Ambil. Ambil semua itu. Kau harus memakannya. Mengerti?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menenangkan gelora di dadanya. Hampir-hampir ia tidak dapat menahan diri lagi untuk bersabar. Hampir saja ia meloncat menerkam wajah Kebo Sindet yang beku seperti mayat. Tetapi ia masih selalu ingat pesan gurunya. Ia harus mencari saat yang sebaik-baiknya. Apalagi kini ia mendapat pesan baru dari Empu Sada, untuk meyakinkan, apakah Kuda Sempana benar-benar sudah tidak mendendamnya. Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan ruangan itu, membawa mangkuk-mangkuk tanah dan sisa-sisa makanan ke belakang, namun ia masih harus segera kembali membawa air untuk Kebo Sindet.
“Setan” geram Kebo Sindet, “kau memang terlampau malas. Untuk mengambil air semangkuk kecil saja, kau memerlukan waktu hampir seujung pagi” Hampir saja mangkuk itu melayang ke wajah Mahisa Agni. Tetapi Kebo Sindet mengurungkan niatnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni lama-lama. Kemudian pandangan matanya berkisar kepada Kuda Sempana.
Tiba-tiba saja ia berteriak, “Sekarang. Aku ingin melihat kalian berkelahi sekarang. Nah Kuda Sempana. Aku minta tolong kepadamu. Ajarilah anak ini supaya tidak terlampau malas. Cepat. Kalian harus berkelahi. Aku akan melihat. Cepat”.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Tanpa sesadarnya dipandanginya wajah Kuda Sempana. Tampaklah wajah itu pun menegang, agaknya Kuda Sempana menjadi terkejut juga mendengarnya. Justru karena itu maka untuk sejenak ia diam mematung.
“Apakah kalian tidak mendengar”, sekali lagi Kebo Sindet berteriak, “Ayo, cepat ke halaman”.
Kebo Sindet lah yang segera meloncat berdiri. Didorongnya Mahisa Agni sehingga anak muda itu hampir-hampir saja jatuh terjerembab, kemudian Kebo Sindet itu berpaling kepada Kuda Sempana,
“Ayo mulailah. Memang kau dahulu dapat dikalahkan oleh Mahisa Agni. Tetapi kau sudah mendapat beberapa tambahan Ilmu dari Kemundungan. Seharusnya kau kini menjadi jauh lebih kuat dari Mahisa Agni. Tetapi justru karena itu aku harus selalu mengawasi perkelahian itu, supaya kau tidak terdorong untuk membunuhnya”.
Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian tumbuhlah sikap acuh tidak acuhnya itu lagi. Dengan kepala kosong ia berdiri dan melangkah mengikuti Kebo Sindet kehalaman.
“Kemari kalian berdua”, Kebo Sindet masih saja berteriak-teriak.
Keduanya segera mendekat. Tetapi ada perbedaan perasaan yang berkecamuk di dalam dada keduanya. Kuda Sempana hampir acuh tidak acuh saja atas apa yang akan terjadi. Kalau kemudian ia bersiap untuk berkelahi, bukan lagi karena didorong oleh nafsunya untuk berkelahi. Ia hanya sekedar melakukan perintah Kebo Sindet seperti ia melakukan perintah-perintahnya yang lain dengan hati yang kosong. Tanpa maksud, tanpa tujuan dan tanpa pertimbangan-pertimbangan lain. Sedang di dalam dada Mahisa Agni bergolak suatu perasaan ingin tahu, seperti juga Empu Sada ingin tahu, apakah Kuda Sempana masih memiliki nafsu-nafsu dan dendamnya terhadap Mahisa Agni. Namun bahwa sekarang juga ia harus berkelahi, itu telah mengejutkannya.
Dadanya sudah terlampau pepat. Dan lebih dari pada itu sebenarnya ia telah terlempar ke dalam keputus-asaan yang parah. Ia sudah tidak mempunyai harapan untuk lepas dari tangan Kebo Sindet dan menghindari cara-cara yang akan dilakukan atasnya dan atas Mahisa Agni. Dalam keputus-asaan itulah maka ia kehilangan segala nalarnya.
Tetapi Kebo Sindet masih tetap dalam sikapnya. Ia duduk tenang di atas kudanya yang berjalan selangkah demi selangkah maju. Di depan mereka seonggok tanah menjorok dari permukaan rawa-rawa yang masih berkabut. Remang-remang diantara sulur-sulur yang berjuntai dari pepohonan yang tumbuh di atas tanah berlumpur.
“Mungkin Mahisa Agni masih tidur” gumam Kebo Sindet. Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak menyahut.
Sejenak kemudian, mereka telah memanjat pinggir rawa-rawa itu dan sesaat kemudian mereka telah berdiri di atas tanah yang lembab basah, tetapi sudah tidak digenangi oleh air yang keruh.
“Ayo, suruh Mahisa Agni menyediakan makan dan minum kita” berkata Kebo Sindet.
Kuda sempana tidak menjawab. Hal itu telah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu pun kali ini dilakukannya dengan hati yang kosong. Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Kuda Sempana mendahuluinya. Tetapi ia pun kemudian mengikuti di belakangnya. Tiba-tiba ia menjadi cemas, apabila Kuda Sempana tanpa setahunya telah membunuh Mahisa Agni, supaya mereka tidak dapat diadu seperti ayam jantan atau seperti cengkerik yang ganas. Tetapi Kuda Sempana tidak menjumpai Mahisa Agni di dalam sarang mereka. Itu pun tidak mengherankannya, karena mahisa Agni sedang berkeliaran di sektiar pulau di tengah-tengah rawa-rawa itu. Mungkin untuk mencari kayu, mungkin untuk mengail.
Untuk memanggilnya, Kuda Sempana dapat membunyikan tanda yang tergantung di mulut sarang mereka. Tetapi, kali ini Kuda Sempana tidak berminat untuk memanggilnya. Tanpa diketahui sebab-sebabnya, ia ingin mencari saja Mahisa Agni di sekitar sarang mereka, namun langkahnya tertegun ketika ia mendengar Kebo Sindet bertanya,
“Kenapa tidak kau panggil saja anak setan itu dengan tanda”. Kuda Sempana tidak segera dapat menjawab. “Apakah kau akan mencarinya dan membunuhnya?”
“Tidak” jawab Kuda Sempana, “aku sama sekali tidak bernafsu untuk melakukannya”.
Kebo Sindet tidak menyahut, tetapi ia melangkah perlahan-lahan ke muka sarangnya. Ia akan membunyikan tengara sendiri untuk memanggil Mahisa Agni. Kuda Sempana berdiri saja mengawasinya. Tampaklah dahinya berkerut-merut, hal yang demikian itu hampir tidak pernah dilakukannya. Biasanya ia berteriak saja menyuruhnya membunyikan tanda itu. Tetapi kali ini, ia melakukannya sendiri. Tetapi sebelum tengara itu berbunyi, mereka berpaling bersama-sama. Mereka mendengar langkah berlari-lari dari balik dedaunan perdu. Dan sejenak kemudian mereka melihat Mahisa Agni muncul dengan nafas terengah-engah. Kebo Sindet berdiri tegak sambil memandangnya dengan tajam, perlahan-lahan Mahisa Agni kemudian berjalan mendekatinya. Sekali-sekali ia berpaling kearah Kuda Sempana dengan penuh kebimbangan. Tetapi tiba-tiba tubuh anak muda itu terlempar ketika kaki Kebo Sindet menyentuh pahanya. Mahisa Agni jatuh berguling beberapa kali sambil menyeringai ia berkata,
“Ampun tuan”.
“Setan” geram Kebo Sindet, “dari mana kau sepagi ini?”
“Aku sedang bersiap untuk mengail tuan”.
“Bohong, kau pasti masih tidur pemalas”.
“Tidak tuan. Aku sudah bangun sebelum fajar, aku sedang mengail”.
“Cepat, sediakan minum dan makan kami, jangan menunggu aku marah”.
“Ya tuan”.
Mahisa Agni pun segera berlari-lari meninggalkan Kebo Sindet untuk menyiapkan makan dan minum mereka. Dengan tergesa-gesa dipungutnya seonggok kayu dan dimasukkannya ke dalam mulut perapian.
Sementara itu, Kebo Sindet masih berdiri tegak di tempatnya. Ketika ia melihat Mahisa Agni, maka bergeloralah isi dadanya. Ia menjadi sangat muak dan jemu. Hampir-hampir ia kehilangan pertimbangan dan memukulnya sampai pingsan. Tetapi ketika dilihatnya Kuda Sempana, maka teringatlah ia akan permainan yang dapat diselenggarakannya,
“Mudah-mudahan menyenangkan. Menilik keadaan Mahisa Agni sekarang, maka ia tidak akan dapat mengalahkan Kuda Sempana dengan segera dan sebaliknya, mereka akan dapat menjadi cengkerik aduan yang baik. Alangkah senangnya apabila Permaisuri mengetahuinya, bahwa kakaknya di sini tidak lebih dari pada seekor cengkerik yang tidak dapat menghindarkan diri dari gelanggang pertarungan”.
Meskipun wajahnya sama sekali tidak berkesan apapun, tetapi Kebo Sindet itu tertawa di dalam hatinya. Tanpa dikehendakinya sendiri, dipandanginya Kuda Sempana dari ujung kaki sampai keujung kepalanya, Seolah-olah ia sedang menilai, apakah keduanya cukup seimbang.
Namun dengan liciknya ia berkata, “Kuda Sempana. Jangan mencari kesempatan untuk membunuh Mahisa Agni. Dengan demikian maka kita tidak dapat membalas sakit hati kita kepada Permaisuri itu sebaik-baiknya. Kita harus menemukan cara untuk membuat Permaisuri itu menyesal karena sikapnya dan kekikirannya. Ia harus disiksa oleh penyesalan sepanjang umurnya”.
Kuda Sempana tidak menyahut. Bahkan dilontarkan pandangan matanya jauh ke dalam semak-semak di pinggir rawa-rawa. sorot matanya benar-benar telah mencerminkan keputus asaan dan kegelapan hati. Hidup bagi Kuda Sempana kini telah tidak mempunyai arti apapun lagi.
“Ingat-ingatlah Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet yang tidak mempedulikan sama sekali perasaan anak muda itu, “jangan kau bunuh, bahkan jangan kau sakiti anak itu”.
Kuda Sempana masih saja berdiam diri, ia masih belum beranjak dari tempatnya ketika Kebo Sindet kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam sarangnya yang lembab dan gelap. Sesaat Kuda Sempana masih berdiri mematung. Sekilas tersirat di kepalanya peristiwa-peristiwa yang telah mendorongnya sampai ke tempat ini. Sepercik penyesalan menyentuh hatinya, tetapi yang ada kemudian adalah kegelapan.
Seperti kehilangan kesadarannya Kuda Sempana mengayunkan kakinya. Selangkah demi selangkah. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. ketika seberkas sorot matahari menyentuh wajahnya, maka ditengadahkannya kepalanya. Tetapi matahari itu seolah-olah sudah tidak lagi berarti lagi baginya sama sekali, tidak terasa gairah kehidupan yang terpancar lewat sinarnya yang putih. Semuanya sudah tidak berarti lagi baginya. Kenangan masa lampaunya, hidup kini, dan mungkin umurnya yang masih akan dijalaninya, semuanya sudah tidak berarti. Bahkan penyesalan pun sama sekali sudah tidak berarti lagi baginya. Semuanya sudah terlambat. Ia sudah berada dalam dunia yang asing.
Tiba-tiba, langkah Kuda Sempana itu terhenti. Ia melihat Mahisa Agni duduk di muka perapian. Di atas perapian itu terjerang sebuah belanga yang berisi air, dan sebuah lagi untuk menanak nasi. Kuda Sempana sendiri tidak tahu, kenapa ia mendekatinya. Diperhatikannya Mahisa Agni itu dengan saksama. Dipandanginya api yang seolah-olah sedang meronta-ronta menjilat belanga-belanga yang terletak di atasnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Tetapi ia masih saja duduk di muka perapian. Bahkan kemudian ditundukkannya kepalanya. Dipandanginya mulut perapiannya seperti baru sekali ini dilihatnya.
“Mahisa Agni” tiba-tiba ia mendengar Kuda Sempana berdesis perlahan sekali.
Mahisa Agni sekali lagi berpaling. Tetapi ia tidak juga beranjak dari tempatnya. Namun ia merasakan suatu keanehan pada nada suara Kuda Sempana. Suara itu sama sekali bukan pancaran dari perasaan dendam dan kebencian. Bahkan pada sikapnya pun Mahisa Agni tidak melihat lagi dendam yang membara di dalam dada Kuda Sempana.
Tetapi Kuda Sempana tidak meneruskan kata-katanya. Wajahnya tampak menjadi muram, namun sekali lagi Mahisa Agni menjadi heran. Kuda Sempana itu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Tetapi belum lagi Kuda Sempana itu beranyak lima langkah dari tempatnya, ia pun tertegun. Ketika ia berpaling, oleh suara gemersik disampingnya, ia melihat Kebo Sindet telah berdiri tidak jauh dari padanya. Kuda Sempana kemudian menjadi acuh tidak acuh saja. Ia melangkah terus meninggalkan tempat itu.
“Hem” terdengar suara Kebo Sindet, “aku sangka kau akan membunuhnya”.
“Sudah aku katakan, aku tidak bernafsu lagi” sahut Kuda Sempana.
“Bagaimana kalau aku tidak datang kemari?”
“Aku tidak tahu kalau paman ada di sini”.
Kebo Sindet tidak menjawab. Dibiarkannya Kuda Sempana pergi menjauh. Baru ketika Kuda Sempana telah hilang dibalik gerumbul Kebo Sindet itu berpaling kepada Mahisa Agni sambil menggeram,
“Mahisa Agni. Nasibmu adalah nasib yang paling jelek dari setiap orang yang pernah aku temui. Adikmu ternyata terlampau kikir dan Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang paling gila di Tumapel. Sebenarnya aku tidak memerlukan kau lagi. Dan kau dapat menduga, apakah yang akan aku lakukan atasmu. Tatapi sebelum kau aku cincang-cincang di alun-alun Tumapel, maka kau akan menjadi permainan yang menyenangkan. Bukankah kau masih berani berkelahi melawan Kuda Sempana? He?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. “Setiap kali kau harus berkelahi. Aku di sini tidak akan menjadi kesepian lagi. Mungkin kalian berdua akan aku bawa ke tempat-tempat perjudian. Kalian harus berkelahi. Bersungguh-sungguh. aku tahu apakah kalian bersungguh-sungguh atau tidak. Perkelahian yang demikian pasti akan menyenangkan orang-orang yang melihatnya”.
Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Tetapi mengumpat di dalam hatinya. Kebenciannya kepada Kebo Sindet menjadi semakin meluap sampai diujung rambutnya. Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Ia ingin tahu lebih banyak apa yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet. Namun sekali-sekali terpercik pula pertanyaan di dalam hatinya,
“Apakah aku sekarang telah mampu mengalahkannya, setidak-tidaknya mengimbanginya?”
Tetapi Mahisa Agni masih menahan diri. Kedua orang yang memberinya bekal olah kanuragan masih berpesan kepadanya, “Agni, kalau kau mempunyai waktu, jangan tergesa-gesa. Kau harus meyakinkan dirimu sendiri. Kecuali apabila kau telah disudutkan ke dalam suatu keadaan, bahwa kau harus melakukan perlawanan untuk keselamatanmu”.
Dan kadang-kadang Mahisa Agni hampir tidak bersabar lagi menunggu Kebo Sindet memaksanya untuk membela dirinya. Apalagi kini ia mendengar bahwa ia akan dijadikan semacam binatang aduan. Maka kesempatan yang ditunggunya itu pasti akan menjadi lebih lama lagi.
“Tetapi aku dapat mempercepat” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “Kalau aku tidak mau berkelahi melawan Kuda Sempana, maka aku akan mendapatkan kesempatan itu. Melawan Kebo Sindet sendiri”.
Tetapi Mahisa Agni masih juga menundukkan kepalanya. Ia mendengar Kebo Sindet mendekatinya dan berdiri dekat dibelakangnya. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau kau mulai lagi Kebo Sindet, mungkin aku akan kehilangan kesabaran untuk menunggu lebih lama lagi. Langit menjadi semakin suram, dan mendung menjadi semakin tebal. Aku harus segera berada di Padang Karautan”. Namun kemudian ia menggeram di dalam hatinya pula, “Ayolah Kebo Sindet. Aku sudah jemu menunggu di neraka ini”.
Tetapi Kebo Sindet tidak berbuat apa-apa. Ia masih berdiri saja dibelakang Mahisa Agni. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Kau harus berusaha memperpanjang hidupmu. Kau harus bersedia berkelahi. Kalau tidak, nasibmu benar-benar terlampau jelek. Tetapi kalau kau berhasil menyenangkan aku dan orang-orang lain yang melihat perkelahian itu, maka umurmu akan bertambah panjang”.
Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Tetapi kemuakan dan kemarahan semakin membara didadanya.
“Nah, bekerjalah baik-baik. Kau akan mendapat kesempatan untuk melatih diri. Mengulang dan mempelajari unsur-unsur gerak yang telah kau lupakan. Kau akan langsung berada di bawah pengawasanku. Mungkin hari ini, atau besok atau kapan saja, aku ingin melihat kau berkelahi sebelum aku dapat menentukan keseimbangan diantara kalian”.
Hampir-hampir Mahisa Agni tidak dapat mengendalikan diri. Tetapi dengan sekuat-kuat tenaganya ia memaksa dirinya untuk duduk tepekur di muka perapian. Hanya kadang-kadang tangannya saja yang bergerak mendorong kayu bakarnya lebih dalam diperapian.
“Nah, bekerjalah” desis Kebo Sindet kemudian, “tetapi jangan mencoba untuk membunuh diri. Sama sekali tidak menyenangkan. Dalam waktu sehari rakyat Tumapel akan mendengar berita itu dan pasti akan selalu memperkatakan kau. Seorang yang dahulu disegani, kakak Permaisuri Ken Dedes, ternyata mati membunuh dirinya”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan kemarahan di dalam dadanya. Tetapi ia belum berbuat apa-apa.
“Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Aku akan beristirahat. Ingat, kau pada saatnya akan mendapat kesempatan dan kedudukan yang sama dengan Kuda Sempana”.
Kebo Sindet itu pun kemudian melangkah pergi meninggalkan Mahisa Agni yang masih duduk di muka perapiannya. Ketika Mahisa Agni itu mengangkat wajahnya maka Kebo Sindet telah hilang dibalik pepohonan.
“Waktu itu tidak akan lama lagi”, desis Mahisa Agni perlahan-lahan. Ia masih berhasil menahan darahnya yang hampir mendidih.
Ketika air dan nasi yang dijerangnya telah masak, maka Mahisa Agnipun segera menghidangkannya seperti biasa. Ditaruhnya air panas itu ke dalam mangkuk dan nasinya pun telah disediakannya di dalam ceting bambu. Ia mengharap, bahwa pada saat Kebo Sindet makan ia mendapat kesempatan untuk menemui gurunya dan Empu Sada yang saat itu berada tidak jauh dari tempat itu pula.
Seperti biasanya, Kebo Sindet dan Kuda Sempana pun segera duduk di atas sebuah amben kayu yang kasar, menikmati hidangan yang telah disediakan oleh Mahisa Agni. Nasi yang hangat dengan ikan air yang telah dikeringkan dengan dibubuhi garam. Ketika Kebo Sindet dan Kuda Sempana sedang sibuk memilih dan menyisihkan duri ikan kering yang dimakannya, maka dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menyelinap ke dalam gerumbul di belakang sarang iblis itu. Di tempat yang rimbun, ditemuinya gurunya dan Empu Sada memang sedang menunggunya.
“Agaknya Kebo Sindet kali ini gagal lagi guru” berkata Mahisa, “tetapi ia mempunyai suatu cara yang sangat licik. Ia ingin menjadikan aku dan Kuda Sempana ayam sabungan”.
Kedua orang tua-tua itu mengerutkan keningnya. Apalagi ketika Mahisa Agni menjelaskan apa yang telah didengarnya dari Kebo Sindet.
“Iblis itu benar-benar tidak berperasaan” desis Empu Purwa, “ia dapat berbuat apa saja di luar dugaan kita. Karena itu Agni, kau harus mempersiapkan dirimu sebaik-baiknya. Kau akan berhadapan dengan iblis itu. Meskipun, mungkin ilmumu sudah tidak kalah lagi dari ilmu Kebo Sindet menurut aliran masing-masing, tetapi dalam keadaan yang gawat maka Kebo Sindet dapat berbuat apa saja. Ia dapat herbuat hal-hal diluar dugaan. Mungkin kau akan terkejut dan kau akan kehilangan waktu sekejap. Yang sekejap itu mungkin akan dapat dipergunakan oleh iblis itu dengan buasnya. Apakah kau mengerti maksudku?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepala, “Ya, aku tahu guru”.
“Nalar dan perasaanmu harus kau kuasai sebaik-baiknya Agni” berkata Empu Sada, “kalau kau gagal hanya karena kekasaran dan kebuasan lawanmu, maka kau akan mengecewakan kami. Karena itu persiapkan dirimu. Bukan hanya kemampuan lahir, tetapi juga batinmu. Kau harus berdiri di atas landasan yang sudah kau letakkan. Iblis itu memang harus dilenyapkan karena pokalnya yang membahayakan sendi-sendi peradaban. Sehingga apa pun yang akan dilakukan, yang barangkali sama sekali tidak kau sangka-sangka sekalipun, jangan menggoyahkan nalar dan perasaanmu. Kau tidak boleh kehilangan akal”.
“Ya Empu” sahut Mahisa Agni sambil menundukkan kepalanya.
“Tetapi, bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Empu Sada tiba-tiba.
“Aku melihat beberapa keanehan padanya” jawab Mahisa Agni, yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya atas anak muda itu.
Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berdesis, “Kasihan anak itu. Tidak semua kesalahan dapat dibebankan kepadanya. Sebenarnya ia bukan seorang yang terlampau jahat. Tetapi aku telah ikut mendorongnya ketempatnya yang sekarang. Agaknya kini ia telah benar-benar kehilangan arah hidupnya. Ia merasa bahwa hidupnya sama sekali sudah tidak mempunyai arti lagi”.
“Ya Empu” sahut Empu Purwa, “ia telah didorong oleh keadaan, apalagi ternyata Kuda Sempana kemudian kehilangan keseimbangan berpikir, sehingga ia telah kehilangan arah dan kehilangan tempat berpijak”.
Empu Sada meng-angguk-anggukkan kepalanya. Dan terdengar ia bergumam, “Akulah yang seharusnya meluruskan jalannya pada waktu itu. Tetapi aku justru ikut menjerumuskannya”. Orang tua itu berhenti sejenak. Wajahnya menjadi muram. Lalu sejenak kemudian ia berkata, “Agni. Bagaimanakah kira-kira dengan Kuda Sempana itu? Apakah ia masih mendendammu?”
“Aku tidak tahu Empu. Tetapi aku melihat keanehan itu”.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Agni. Apakah kau dapat menunda perasaan muakmu terhadap Kebo Sindet sehari dua hari? Meskipun kini kau telah siap menghadapinya, tetapi aku masih ingin menganjurkan kau menundanya. Kalau kau sempat melakukan keinginan Kebo Sindet, kau akan mengetatui perasaan Kuda Sempana yang sesungguhnya. Apakah ia masih tetap mendendammu ataukah ia telah benar-benar kehilangan nafsunya itu karena hidupnya sendiri yang seolah-olah sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kalau ia masih saja mendendammu seperti dahulu Agni, aku serahkan ia kepadamu. Apa saja yang akan kau lakukan. Tetapi kalau ia telah kehilangan nafsunya itu karena alasan apapun, apakah kau mau memberinya sedikit saja peluang”.
Kening Mahisa Agni menjadi berkerut, “Maksud Empu?” bertanya Mahisa Agni itu.
Empu Sada menjadi ragu-ragu. Dipandangnya Empu Purwa sejenak seolah-olah ingin mendapat pertimbangan dari padanya, “Maksudku ngger, apabila Kuda Sempana itu sudah tidak lagi mendendammu karena alasan apapun, mungkin bukan karena kesadaran tentang kekeliruannya, sebab mungkin ia hanya sekedar didera oleh keputusasaan dan tidak tahu arah hidupnya lagi, namun aku ingin minta maaf kepadamu untuknya. Aku ingin mencoba memperbaiki tingkah lakunya sebagai tebusan dari kesalahan-kesalahan yang aku buat selama ini”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seperti Empu Sada maka sekilas ditatapnya wajah Empu Purwa untuk mendapatkan pertimbangannya. Dan didengarnya gurunya berkata,
“Itu adalah wajar sekali Empu. Kalau Kuda Sempana sudah kehilangan nafsunya untuk membalas dendam, maka Agni pun harus rnelenyapkan segala macam permusuhan yang ada di antara mereka. Mahisa Agni memang seharusnya berbuat sesuatu tanpa dilandaskan pada perasaan dendam dan kebencian. Yang dilakukannya atas Kebo Sindet pun seharusnya tidak diberatkan kepada dendam dan kebencian. Tetapi kecintaannya kepada kebebasan diri, kepada adiknya Ken Dedes kepada orang-orang Panawijen di Padang Karautan, kepada semua orang yang mungkin akan mengalami bencana karena tingkah laku Kebo Sindet. Itulah yang harus menjadi landasan perbuatannya. Sehingga aku kira Mahisa Agni tidak akan berkeberatan apa pun untuk melepaskan sikap permusuhannya terhadap Kuda Sempana. Apalagi Kuda Sempana, seandainya, ya hanya sekedar seandainya, Kebo Sindet dapat merubah dirinya, tingkah laku dan angan-angannya, maka tidak ada manfaatnya untuk membunuhnya. Tetapi itu hanya dapat terjadi di dalam mimpi saja”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang wajah Mahisa Agni, ia melihat pengertian memancar dari wajah anak muda itu, sehingga dengan serta-merta Empu Sada berkata,
“Terima kasih. Agaknya Mahisa Agni pun berpendirian demikian pula. Kemana air menitik, maka demikian pula agaknya sifat-sifat gurunya melimpah kepadanya”.
“Ah” desah Empu Purwa, “kau memuji. Terima kasih”.
Empu Sada tersenyum. Lalu katanya, “Bagaimana Mahisa Agni?”
“Aku tidak berkeberatan, Empu. Aku memang melihat sesuatu pada dirinya. Mungkin ia mendapatkan kesadarannya. Atau mungkin seperti yang Empu katakan” jawab Mahisa Agni. Meskipun demikian masih juga terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Adalah terlampau sulit untuk melupakan begitu saja semua persoalan yang pernah timbul di antara dirinya dengan Kuda Sempana. Adalah terlampau sulit untuk dengan sebuah senyuman berkata, “Kau telah aku maafkan Kuda Sempana”.
Tetapi kedua orang tua-tua yang selama ini telah menempanya berpendapat demikian. Mereka, apalagi Empu Sada, telah dengan terang, minta maaf untuk bekas muridnya itu. Apakah dengan demikian ia akan berkeras pada pendiriannya. Dan terngiang ditelinganya kata-kata gurunya,
“Kalau Kuda Sempana sudah kehilangan nafsunya untuk membalas dendam maka Mahisa Agni pun harus melenyapkan segala macam permusuhan yang ada diantara mereka”.
Mahisa Agni itu pun kemudian mencoba untuk dapat melakukannya. Untuk dapat memaafkan Kuda Sempana. Ia merasa bahwa seharusnya hal itu memang dilakukannya. Hanya kadang-kadang saja perasaannya masih juga melonjak. Namun dengan penuh pengertian ia berkata didalam hatinya,
“Aku memang harus melupakan segala permusuhan itu. Empu Sada telah banyak berjasa kepadaku di samping guru. Orang tua itu telah dengan suka rela memberikan dasar-dasar dan kemudian dengan berbagai pancarannya Aji yang selama ini menjadi puncak kekuatannya. Ia telah bersedia pula bersama-sama gurunya mencari bentuk keserasian dari kedua Aji yang ada pada orang tua-tua itu. Dan hasilnya adalah dahsyat sekali”.
Mahisa Agni itu tersadar ketika ia mendengar gurunya berkata, “Kembalilah kepada Kebo Sindet. Mungkin ia telah selesai makan, kau harus berbuat seperti biasa. Dan kau harus menunggu saat yang sebaik-baiknya. Ingat, kau harus mempersiapkan dirimu lahir dan batin. Aku sudah tidak mencemaskan ilmumu lagi. Kau telah menjadi seorang yang akan mampu menghadapinya. Ilmumu sudah cukup”.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tanpa disengaja ia menengadahkan wajahnya menatap langit. Memang kadang-kadang mendung telah mengalir semakin sering. Bahkan gerimis-gerimis kecil kadang-kadang telah jatuh pula.
“Belum terlampau tergesa-gesa Agni” berkata gurunya, “di Padang Karautan masih ada Ki Buyut Panawijen dan masih ada pula Ken Arok dan pasukannya”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Agaknya gurunya mengerti apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya.
Dan ia mendengar gurunya itu berkata pula, “Kembalilah kepada Kebo Sindet dan Kuda Sempana”.
“Baik guru” jawab Mahisa Agni, yang kemudian minta diri kepada gurunya dan Empu Sada.
Keiika ia telah berada didekat sarang iblis itu, ia mendengar namanya dipanggil. Dangan tergesa-gesa ia berlari, masuk ke dalam, langsung mendapatkan Kebo Sindet dan Kuda Sempana yang masih duduk menghadapi sisa-sisa makanannya.
“He, kemana kau tikus malas?” bentak Kebo Sindet.
“Aku sedang mengambil kail yang tadi pagi sudah aku siapkan dipinggir rawa-rawa”.
“Setan alas, kenapa kau tinggalkan kami yang sedang makan? Apakah tidak dapat kau ambil nanti sesudah kami selesai?” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya. “Bawalah sisa-sisa ini pergi. Ambilkan air. Cepat”.
Segera Mahisa Agni memutar tubuhnya. Tetapi ketika ia baru saja melangkah, tiba-tiba ia mendengar Kebo Sindet berteriak, “Kenapa barang-barang ini tidak kau bawa sama sekali he? Kau memang terlampau bodoh”.
Dengan ragu-ragu Mahisa Agni mendekat. Tetapi beberapa langkah dari amben tempat duduk Kebo Sindet, ia tertegun. Kemudian terasa matanya menjadi panas Kebo Sindet telah melemparkan sisa-sisa nasinya kewajah Mahia Agni. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Segera ia berjongkok untuk memunguti gumpalan-gumpalan nasi dan mangkuk tanah yang pecah terbanting dilantai.
“Ambil. Ambil semua itu. Kau harus memakannya. Mengerti?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menenangkan gelora di dadanya. Hampir-hampir ia tidak dapat menahan diri lagi untuk bersabar. Hampir saja ia meloncat menerkam wajah Kebo Sindet yang beku seperti mayat. Tetapi ia masih selalu ingat pesan gurunya. Ia harus mencari saat yang sebaik-baiknya. Apalagi kini ia mendapat pesan baru dari Empu Sada, untuk meyakinkan, apakah Kuda Sempana benar-benar sudah tidak mendendamnya. Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan ruangan itu, membawa mangkuk-mangkuk tanah dan sisa-sisa makanan ke belakang, namun ia masih harus segera kembali membawa air untuk Kebo Sindet.
“Setan” geram Kebo Sindet, “kau memang terlampau malas. Untuk mengambil air semangkuk kecil saja, kau memerlukan waktu hampir seujung pagi” Hampir saja mangkuk itu melayang ke wajah Mahisa Agni. Tetapi Kebo Sindet mengurungkan niatnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni lama-lama. Kemudian pandangan matanya berkisar kepada Kuda Sempana.
Tiba-tiba saja ia berteriak, “Sekarang. Aku ingin melihat kalian berkelahi sekarang. Nah Kuda Sempana. Aku minta tolong kepadamu. Ajarilah anak ini supaya tidak terlampau malas. Cepat. Kalian harus berkelahi. Aku akan melihat. Cepat”.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Tanpa sesadarnya dipandanginya wajah Kuda Sempana. Tampaklah wajah itu pun menegang, agaknya Kuda Sempana menjadi terkejut juga mendengarnya. Justru karena itu maka untuk sejenak ia diam mematung.
“Apakah kalian tidak mendengar”, sekali lagi Kebo Sindet berteriak, “Ayo, cepat ke halaman”.
Kebo Sindet lah yang segera meloncat berdiri. Didorongnya Mahisa Agni sehingga anak muda itu hampir-hampir saja jatuh terjerembab, kemudian Kebo Sindet itu berpaling kepada Kuda Sempana,
“Ayo mulailah. Memang kau dahulu dapat dikalahkan oleh Mahisa Agni. Tetapi kau sudah mendapat beberapa tambahan Ilmu dari Kemundungan. Seharusnya kau kini menjadi jauh lebih kuat dari Mahisa Agni. Tetapi justru karena itu aku harus selalu mengawasi perkelahian itu, supaya kau tidak terdorong untuk membunuhnya”.
Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian tumbuhlah sikap acuh tidak acuhnya itu lagi. Dengan kepala kosong ia berdiri dan melangkah mengikuti Kebo Sindet kehalaman.
“Kemari kalian berdua”, Kebo Sindet masih saja berteriak-teriak.
Keduanya segera mendekat. Tetapi ada perbedaan perasaan yang berkecamuk di dalam dada keduanya. Kuda Sempana hampir acuh tidak acuh saja atas apa yang akan terjadi. Kalau kemudian ia bersiap untuk berkelahi, bukan lagi karena didorong oleh nafsunya untuk berkelahi. Ia hanya sekedar melakukan perintah Kebo Sindet seperti ia melakukan perintah-perintahnya yang lain dengan hati yang kosong. Tanpa maksud, tanpa tujuan dan tanpa pertimbangan-pertimbangan lain. Sedang di dalam dada Mahisa Agni bergolak suatu perasaan ingin tahu, seperti juga Empu Sada ingin tahu, apakah Kuda Sempana masih memiliki nafsu-nafsu dan dendamnya terhadap Mahisa Agni. Namun bahwa sekarang juga ia harus berkelahi, itu telah mengejutkannya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar