“Tidak ada bedanya”, berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “sekarang atau nanti atau besuk. Semakin cepat semakin baik. Aku segera mendapat keputusan. Dengan demikian aku akan segera dapat menyelesaikan tugas ini. Menyingkirkan Kebo Sindet, sebelum aku kembali ke Padang Karautan”.
Kini keduanya telah berdiri berhadapan. Tetapi wajah-wajah mereka yang sama sekali tidak memancarkan gairah untuk berkelahi, telah sangat mengecewakan Kebo Sindet. Sehingga tiba-tiba ia berteriak pula,
“Ayo, cepat. Bersiaplah untuk berkelahi. Aku ingin melihat keseimbangan yang sebenarnya di antara kalian. Kalau kalian tidak sungguh-sungguh berkelahi, maka aku akan memaksa kalian dengan caraku”. Tiba-tiba saja Kebo Sindet itu meloncat meraih ranting sebesar ibu jari. Katanya kemudian, “Tubuh kalian akan dibekasi oleh jalur-jalur dari cambukku ini. Aku akan dapat memperlakukan kalian seperti seekor cengkerik, tetapi juga dapat memperlakukan kalian seperti seekor lembu penarik pedati. Aku dapat sekedar menggelitik kalian, tetapi aku juga dapat memukul kalian sampai pingsan sekalipun. Nah, sekarang bersiaplah”.
Tidak ada pilihan lain bagi keduanya. Mereka melihat Kebo Sindet mengacung-acungkan ranting di tangannya. Sekali-sekali disentuhnya Mahisa Agni dan sekali-sekali Kuda Sempana. Dengan tongkat kecil itu didorongnya kedua anak-anak muda itu maju semakin dekat.
“Tetapi supaya perkelahian ini adil” berkata Kebo Sindet itu, “serahkanlah pedangmu”.
Kuda Sempana yang sudah menjadi semakin acuh tidak acuh lagi kepada dirinya sendiri, dengan tanpa menjawab sepatah kata pun menarik pedangnya dan diberikannya kepada Kebo Sindet.
“Bagus” berkata Kebo Sindet sambil menerima pedang itu, “sekarang bersiaplah untuk mulai”.
Kini kedua anak-anak muda itu telah berdiri berhadapan. Tetapi keduanya sama sekali tidak memberi kepuasan kepada Kebo Sindet. Wajah Kuda Sempana kosong dan beku, sedang wajah Mahisa Agni diwarnai oleh keragu-raguan dan kebimbangan.
“Jangan membuat aku kecewa. Kalian tahu, akibat dari kekecewaanku”. Kedua anak muda itu tidak menjawab. “Ayo cepat, mulailah”.
Ketika keduanya masih berdiri saja mematung, maka Kebo Sindet hampir-hampir kehilangan kesabarannya. Disentuhnya sekali lagi tubuh anak-anak muda itu dengan ranting ditangannya, tetapi kali ini agak lebih keras sedikit. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sedang berjuang untuk menahan perasaannya. Ia sedang berusaha keras untuk tidak segera meloncat menyerang Kebo Sindet sendiri. Justru karena itu maka tampaklah ia selalu dicengkam oleh kebimbangan. Namun dalam tangkapan Kebo Sindet, Mahisa Agni kini benar-benar sudah kehilangan keberarian untuk berbuat sesuatu.
“Ayo Agni. Aku menghendaki kau berkelahi, jangan takut. Kau harus benar-benar berkelahi membela dirimu. Kalau kau kalah, maka kau akan menyesal nanti, sebab tubuhmu akan menjadi merah biru. Aku akan memukuli kau dengan ranting ini. Sebaliknya demikian juga Kuda Sempana. Tegasnya, siapa yang kalah, akan mendapat hukumannya. Cepat sebelum aku kehilangan kesabaran”.
Sentuhan-sentuhan tongkat Kebo Sindet yang sebesar ibu jari itu, telah berhasil mendorong keduanya menjadi semakin dekat. Jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Keduanya kini benar-benar telah bersiap untuk memulai dengan sebuah permainan gila-gilaan yang sangat memuakkan. Tetapi tidak seorang pun di antara keduanya yang bernafsu untuk memulainya.
“He, apakah kalian telah bersama-sama menjadi banci he?” terdengar suara itu lagi. Ketika keduanya masih saja berdiri di tempatnya, Kebo Sindet menjadi semakin marah. Maka kini ia tidak hanya sekedar menyentuh tubuh-tubuh yang berdiri kaku itu, tetapi kini ia mengayunkan ranting itu, mendera punggung Mahisa Agni, “Ayo, kau harus segera mulai”.
Terasa sengatan ranting kecil itu seperti menyobek kulit. Tetapi Mahisa Agni yang sekarang, bukan Mahisa Agni yang dahulu. Ketahanan tubuhnya telah berkembang melampaui kebanyakan orang. Hanya sesaat kemudian ia sudah berhasil melenyapkan perasaan pedih dan nyeri. Namun Mahisa Agni masih juga menyeringai sambil meraba-raba punggungnya. Bahkan terdengar ia berdesis dan mengeluh pendek.
“Ayo, cepat. Kalau kau tidak mau mulai, maka aku akan mengulanginya semakin lama semakin keras. Mungkin kau akan pingsan karenanya, atau bahkan kalau aku benar-benar kehilangan kesabaranku, umurmu akan berakhir hari ini” teriak Kebo Sindet.
Mahisa Agni segera memperbaiki sikapnya. Ia tidak ingin mendapat pukulan-pukulan lagi. Bukan karena ia tidak akan dapat menahan sakit, tetapi ia takut kalau ia kehilangan kesabarannya pula seperti Kebo Sindet. Karena itu maka segera ia melangkah maju semakin dekat dengan Kuda Sempana. Dengan demikian maka Kuda Sempana pun telah bersiap pula menerima serangan Mahisa Agni.
Sesaat kemudian, maka Mahisa Agni pun telah meloncat menyerang Kuda Sempana. Tangannya terayun langsung mengarah dada lawannya. Tetapi Kuda Sempana telah siap menunggunya. Karena itu maka dengan gerakan yang sederhana ia berhasil menghindari serangan itu.
“Oh, kau benar-benar sudah gila Mahisa Agni” teriak Kebo Sindet. Ia menjadi marah melihat cara Mahisa Agni menyerang. Seperti anak-anak yang berkelahi berebut makanan. Tanpa perhitungan dan tanpa unsur-unsur gerak ilmunya yang terkenal. “Ingat” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau tidak berkelahi bersungguh-sungguh, maka kau akan kecewa”.
Terdengar Mahisa Agni berdesis, ia mengalami kesulitan dalam perkelahian ini. Ia harus berusaha untuk membuat dirinya tidak lebih baik dari Kuda Sempana. Ketika ia mencoba menyederhanakan geraknya, ternyata gerak itu terlampau sederhana sehingga Kebo Sindet menjadi kecewa karenanya. Namun dalam gerak selanjutnya, Mahisa Agni lah yang menyesuaikan dirinya dengan Kuda Sempana. Meskipun Kuda Sempana juga berkelahi tanpa nafsu, namun tata geraknya dapat menuntun Mahisa Agni untuk menemukan tingkatan yang harus dilakukan.
“Oh, kalian memang sudah gila” Kebo Sindet mengumpat-umpat. Tiba-tiba ia meloncat maju. Dengan cepatnya ranting kecil ditangannya telah melecut punggung Mahisa Agni dan Kuda Sempana sehingga keduanya mengeluh bersama-sama. “Kalau kalian masih saja bermain-main, maka kalian akan menjadi korban kebodohan kalian.”
Tidak ada pilihan lain bagi Kuda Sempana dari pada berkelahi terus. Meskipun hatinya kosong, namun ia kini menjadi semakin cepat bergerak. Serangan-serangannya menjadi semakin mantap dan mapan. Perlahan-lahan dalam ketiadaan tujuan, selain sekedar meghindarkan diri dari lecutan tongkat Kebo Sindet. Kuda Sempana menjadi semakin garang.
Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin cepat pula. Lambat laun, setelah Kuda Sempana dibasahi oleh keringatnya, maka ia pun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Namun dalam pada itu, terasa oleh Mahisa Agni, bahwa sebenarnya Kuda Sempana sama sekali tidak bernafsu untuk berbuat sesuatu. Terasa oleh Mahisa Agni, bahwa Kuda Sempana hanya sekedar terdorong oleh hasratnya untuk menghindari pukulan Kebo Sindet. Tersirat sepercik pertanyaan di dalam dada Mahisa Agni tentang lawannya itu. Kenapa Kuda Sempana menjadi seakan-akan telah melupakan dendamnya.
“Tentu pengaruh keadaannya sendiri yang telah mengajarnya untuk mengerti” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “tetapi seandainya ada penyesalan di dalam dadanya, namun penyesalan itu datang terlampau lambat. Meskipun demikian, meskipun terlambat, tetapi baik juga penyesalan itu mengekang segala kegilaannya. Gurunya yang telah menyadari kesalahannya pula, mudah-mudahan akan dapat menuntunnya ke jalan yang lebih baik”.
Mahisa Agni terkejut ketika sekali lagi tongkat kecil Kebo Sindet hinggap di punggungnya. Sekali lagi ia menyeringai dan berdesis. Ternyata angan-angannya telah mengekang geraknya sehingga tampaklah bahwa ia tidak berkelahi bersungguh-sungguh.
“Aku memperingatkan kau sekali lagi, Agni”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi wajahnya kini tampak bersungguh-sungguh. Sekali-sekali ia menggeram, kemudian melontar dengan cepatnya menyerang lawannya. Kuda Sempana terkejut mendapat serangan yang tidak terduga-duga itu. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia meloncat menjauh, namun kemudian dengan cepatnya pula, ia membalas serangan itu dengan serangan kaki yang mengarah ke lambung Mahisa Agni. Mahisa Agni sengaja tidak menghindarkan dirinya. Ia ingin tahu, sampai dimana kekuatan serangan Kuda Sempana kini setelah ia mendapat tuntunan ilmu Kemundungan yang kasar itu.
Ketika kaki Kuda Sempana mengenai lambung Mahisa Agni yang seakan-akan tidak sempat menghindarkan dirinya, maka terasa kaki itu bergetar. Kuda Sempana merasakan kakinya membentur suatu kekuatan yang tidak terduga sebelumnya. Karena itu, maka ia terdorong oleh kekuatan serangannya sendiri beberapa langkah surut. Sedang Mahisa Agni, terlempar beberapa langkah. Kemudian terbanting jatuh di tanah. Beberapa kali ia berguling-guling, Ketika ia berusaha untuk meloncat bangun maka kakinya pun terperosok ke dalam sebuah lubang kecil, sehingga sekali lagi ia terjatuh di tanah. Dan sekali lagi ia tertatih-tatih untuk mencoba bangkit dan berdiri di atas kedua kakinya.
Namun waktu yang sesaat itu telah dapat dipergunakannya untuk mengetahui kekuatan Kuda Sempana. Meskipun ia tahu bahwa Kuda Sempana pun tidak mempergunakan seluruh kekuatannya. Tetapi ia menjadi heran sendiri. Sebagian kecil dari daya tahannya ternyata telah berhasil melemparkan Kuda Sempana beberapa langkah surut. Untunglah bahwa ia tidak mempergunakan kekuatan yang lebih besar, sehingga Kuda Sempana tidak mendapat cidera karenanya. Tetapi dengan demikian ia harus memainkan peranannya sebaik-baiknya. Kebo Sindet harus menyangka bahwa ia pun mengalami kejutan yang telah membantingnya.
Kini keduanya berdiri dalam jarak yang agak jauh. Tetapi menurut pengamatan Kebo Sindet. keduanya telah terpengaruh oleh benturan itu. Apalagi Mahisa Agni. Menurut penglihatan Kebo Sindet Mahisa Agni masih belum dapat mengimbangi kekuatan Kuda Sempana meskipun selisih kekuatan itu tidak seberapa. Namun dengan demikian justru menyenangkannya. Ia akan dapat membuat keduanya menjadi seimbang dan untuk kali lain memaksa mereka berkelahi lebih baik. Perkelahian yang disaksikannya kali ini sama sekali tidak memuaskannya. Tetapi ia dapat mengerti. Mahisa Agni yang selama ini jiwanya selalu diguncang oleh ketakutan dan kecemasan pasti tidak segera dapat menemukan kekuatannya kembali. Terutama kekuatan hati untuk melawan Kuda Sempana dengan sempurna. Karena itu, maka ia mempunyai harapan yang baik dimasa yang akan datang.
Ketika Kebo Sindet masih melihat kedua anak-anak muda itu berdiri dengan tegangnya, maka dengan serta-merta ia melangkah maju dan memukul keduanya berganti-ganti dengan tongkatnya sambil berteriak,
“Nah, kali ini kalian sama sekali mengecewakan aku. Kalian berkelahi seperti ayam-ayam cengeng Tetapi biarlah. Lain kali kalian harus berkelahi lebih baik. Kalian harus bersungguh-sungguh supaya yang menyaksikan perkelahian kalian menjadi puas”.
Kebo Sindet berhenti sejenak, dipandanginya wajah Mahisa Agni dan Kuda Sempana yang sedang menyeringai kesakitan itu berganti-ganti. Tetapi sejenak kemudian, ketika rasa sakit dipunggung mereka telah berkurang, wajah Kuda Sempana menjadi acuh tidak acuh lagi, dan wajah Mahisa Agni diselimuti oleh ketegangan dan ketakutan.
“Setan” desis Kebo Sindet, “kalian harus bersungguh-sungguh”. Dan di dalam hatinya ia berkata, “Pada saatnya mereka akan menjadi ayam aduan yang baik. Aku dapat membuat mereka seimbang. Pertunjukan ini akan menjadi pertunjukan baru dilingkungan orang-orang gila”. Dan Kebo Sindet yang berwajah mayat itu tertawa di dalam hati.
“Sekarang kalian boleh pergi” berkata Kebo Sindet itu bemudian., “Kalian harus tetap berada dalam kehidupan kalian sehari-hari. Apakah kalian mengerti?”
Keduanya sama sekali tidak menjawab. Mahisa Agni memandangi wajah Kebo Sindet sorot mata penuh kebimbangan. Sedang Kuda Sempana masih saja bersikap acuh tidak acuh.
“Apa lagi yang kalian tunggu” teriak Kebo Sindet, “ayo pergi sebelum aku berubah pendirian. Sebelum aku menyuruhmu berkelahi untuk kedua kalinya hari ini”.
Kedua anak-anak muda itu masih tetap membisu. Tetapi Mahisa Agni dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu dan pergi ke belakang sarang iblis itu, sedang Kuda Sempana berjalan perlahan-lahan masuk ke dalamnya. Di belakangnya Kebo Sindet berjalan sambil mengawasi punggung anak muda itu yang berjalur-jalur merah biru bekas pukulanya.
“Hem” Kebo Sindet bergumam, “aku terpaksa memukulmu. Kau tidak memuaskan hatiku karena kau tidak mau bersungguh-sungguh melawan Mahisa Agni. Aneh, kau yang selama ini mendendamnya, ketika aku memberi kesempatan, kau sama sekali tidak mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Berpaling pun tidak. Ia berjalan saja dengan wajah tunduk, seolah-olah ingin melihat setiap butir batu yang akan dilangkahinya.
“Lain kali kau harus berkelahi lebih baik” Kebo Sindet menyambung., “Kau berada di atas Mahisa Agni di dalam segala hal, kecekatan, kekuatan dan kemantapan. Hatimu harus lebih besar dan lebih gairah daripada Mahisa Agni, lain kali ia harus kau lumpuhkan sehingga kau menjadi puas. Tetapi jangan kau bunuh, supaya kau mendapat kepuasan lagi di lain kali”.
Kuda Sempana tidak menjawab, ia duduk saja di atas amben kayu tua yang kotor. Pandangan matanya yang kosong menembus mulut sarang iblis itu, hinggap di daunan yang hijau di luar.
“Ini pedangmu” berkata Kebo Sindet sambil memberikan pedang Kuda Sempana.
Kuda Sempana menerima pedangnya dengan sikap yang acuh tak acuh saja. Kini ia benar-benar telah terbenam dalam keputus-asaan yang dalam. Hampir-hampir tidak mungkin lagi baginya untuk bangkit dan melihat dirinya sendiri dan kediriannya. Ia merasa bahwa kini adanya sama sekali sudah tidak dapat dihayati. Ia merasa ada dalam ketiadaan.
“Nah, sekarang beristirahatlah. Besok kau harus mencoba sekali lagi. Tetapi kau jangan mengecewakan aku”, Kebo Sindet berhenti sejenak, lalu, “Untuk seterusnya kau akan berlatih dan berkelahi setiap waktu aku kehendaki. Kalian harus bersama-sama meningkat, supaya setiap perkelahian yang terjadi akan menjadi lebih sengit, lebih seru dan menarik”.
Kuda Sempana masih tetap berdiam. Sorot matanya yang kosong masih saja hinggap di dedaunan di luar. Sinar matahari yang putih satu-satu jatuh di atas tanah yang lembab. Di belakang sarang itu Mahisa Agni duduk terpekur. Sekali-sekali dirabanya punggung yang dijaluri oleh warna hitam kemerah-merahan. Tetapi ia sudah tidak merasakan lagi, kadang-kadang masih juga terasa tusukan pedih yang ringan.
“Bukan main” geramnya “tetapi aku sudah tahu, bahwa sebenarnya Kuda Sempana telah kehilangan dirinya sendiri. Ia kini seolah-olah telah menjadi orang baru. Orang, yang kosong tanpa kehendak, tujuan dan cita-cita. Seperti anak-anak yang baru mengenal dunia di sekitarnya sebagai benda-benda asing yang tidak dimengertinya. Tetapi dengan demikian, maka Empu Sada akan dapat mengisinya dengan kehidupan baru di dalam dirinya. Sebagai kelenting yang dipenuhi oleh cairan yang kotor, kini agaknya telah tertumpah sama sekali. Keadaan telah membuatnya demikian. Mudah-mudahan Empu Sada mampu mengisinya dengan cairan yang baru, bening”.
Mahisa Agni mengangguk-angguk seorang diri. Namun tiba-tiba ia bangkit dan berguman ”Aku harus segera mendapat kesempatan itu, menyingkirkan Kebo Sindet”.
Mahisa Agni kini berdiri tegak dengan dada tengadah. Lenyaplah segala macam keragu-raguan dan kebimbangan yang selama ini membayangi wajahnya dalam peranannya. Mahisa Agni sama sekali sudah tidak mengesankan ketakutannya lagi. Tiba-tiba ia menjadi garang. Tangannya yang selama ini terkulai dengan lemahnya, tiba-tiba menjadi tegang. Jari-jarinya mengepal dan giginya gemeretak. Terdengar ia berdesis,
“Aku kira sudah tiba waktunya. Aku sudah memenuhi pesan Empu Sada. Aku kini sudah yakin, bahwa Kuda Sempana sudah kehilangan nafsunya untuk membalas dendam, bahkan seluruh gairah kehidupan telah menjauh dari padanya. Mahisa Agni terdiam sejenak. Ditebarkannya pandangan matanya disekitarnya. Tetapi ia tidak melihat seorang pun, Kuda Sempana atau Kebo Sindet. Yang ada disampingnya adalah perapian, periuk tanah dan beberapa macam alat-alat yang selama ini dipergunakannya untuk memasak.
“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam., “Aku sudah cukup lama berada di tempat ini. Aku kira sudah cukup bersabar. Bukan sekedar ingin segera membinasakan Kebo Sindet. Tetapi yang lebih penting bagiku adalah keluar dari tempat ini dan pergi ke Padang Karautan”.
Gelora di dada Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Darahnya serasa semakin cepat mengalir, tetapi ia tidak dapat berbuat begitu saja tanpa setahu gurunya dan Empu Sada yang selama ini ikut serta mengasuhnya. Karena itu, maka timbullah niatnya untuk segera pergi menemui mereka.
“Mereka pasti masih berada di tempat itu” katanya didalam hati, “kalau mereka sudah pergi ke luar daerah ini, maka aku harus menunggu sampai besok. Pada saat menunggu itu perasaanku akan tersiksa jauh lebih sakit dari pada tubuhku”.
Kini Mahisa Agni tidak perlu ragu-ragu lagi. Biarlah Kebo Sindet dan Kuda Sempana mencarinya apabila mereka memerlukan. Ia tidak perlu lagi bermain-main dan mengorbankan tubuh dan perasaannya. Maka dengan langkah yang tetap Mahisa Agni pergi meninggalkan perapian itu untuk menemui gurunya dan Empu Sada. Ia berhadap bahwa mereka masih belum meninggalkan tempat itu. Mahisa Agni menarik nafas lega ketika ia melihat kedua orang itu masih saja duduk di tempatnya, Mereka masih belum berkisar sejengkal pun. Agaknya mereka sedang asyik bercakap-cakap sehingga mereka menjadi betah duduk di tempat itu.
“He” sapa Empu Purwa, “begitu cepat kau kembali kemari Agni”.
“Punggungku sudah cukup dijalari oleh jalur-jalur merah biru ini guru” sahut mahisa Agni sambil menunjukkan punggungnya.
“Kenapa?”
“Aku harus berkelahi melawan Kuda Sempana. Agaknya Kebo Sindet kurang puas melihat perkelahian kami sehingga ia merasa perlu untuk memukuli kami berdua”.
Kedua orang tua itu mengangguk-angguk. Sejenak kemudian Empu Purwa berkata, “Kalian berdua dipukulnya?”
“Ya guru. Meskipun hanya dengan ranting basah sebesar ibu jari, tetapi yang mengayunkannya adalah Kebo Sindet”.
Empu Purwa mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula, “Apakah daya tahanmu tidak cukup mampu untuk melawan rasa sakit itu?”
“Ya guru. Agaknya aku berhasil menguasai rasa sakitku”.
“Bagus. Tetapi ingat, bahwa pukulan itu hanya dilepaskan dengan sebagian kecil saja dari kekuatannya. Meskipun hanya dengan ranting kecil tetapi apabila dilepaskan dengan seluruh kekuatannya, maka dalam keadaan yang wajar, seseorang akan rontok iganya. Kau harus menyadari, bahwa kekuatan tenaga iblis itu memang luar biasa”.
Mahisa Agni menganggukan kepalanya. Jawabnya “Ya guru. Aku akan mengingat-ingat”.
“Lalu bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Empu Sada kemudian.
“Aku melihat perubahan padanya” jawab Mahisa Agni, yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya pada Kuda Sempana.
“Ia telah menjadi bayi kembali” guman Empu Sada, “bayi dalam takaran nalar dan perasaan. Perhitungan dan angan-angan. Tetapi apabila demikian, ia mempunyai harapan untuk menjadi baik kembali, meskipun masih harus dilakukan pengawasan yang cukup”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Mungkin sekali Empu”.
“Apakah Kebo Sindet juga memukul Kuda Sempana seperti ia memukulmu?”
“Ya Empu”.
“Kalau begitu aku dapat meyakini pula seperti kau, bahwa sebenarnya Kuda Sempana telah kehilangan dirinya. Jantung dan hatinya seakan-akan telah tercuci bersih, sehingga mudah-mudahan aku dapat mengisinya sebaik-baiknya”.
“Mudah-mudahan Empu” sahut Mahisa Agni. Namun kemudian ia terdiam. Kepalanya ditundukkannya dalam-dalam. Ia ingin segera mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tetapi ia segan untuk mengatakannya.
Agaknya Empu Purwa dan Empu Sada melihat keinginan yang tersirat dari dalam dada anak muda itu. Keinginan untuk melepaskan diri, keinginan untuk segera menyingkirkan orang yang bernama Kebo Sindet itu supaya untuk seterusnya ia tidak akan dapat mengganggu lagi.
“Mahisa Agni” berkata Empu Purwa, “agaknya kau sudah tidak sabar lagi. Baiklah. Aku memperhitungkan, bahwa kekuatanmu sudah cukup untuk menandingi Kebo Sindet. Bahkan kau mempunyai beberapa kelebihan dengan kekuasan Aji Pamungkasmu. Tetapi kau masih harus tetap berhati-hati. Kebo Sindet mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak dari pada pengalamamnu sendiri”.
Tiba-tiba wajah Mahisa Agni menjadi cerah, secerah matahari di langit. Ia akan segera dapat mengobati kejemuannya. Namun ia masih bertanya, “Kapan aku boleh melakukan?”
“Terserah kepadamu Agni”.
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kalau saja ia mendapat kesempatan, maka ia sudah tidak ingin menundanya lagi. Sekarang. Hari ini. Terasa darah Mahisa Agni menjadi semakin hangat. Waktu yang dipergunakan untuk menunggu kesempatan seperti ini terasa sudah terlampau panjang baginya. Waktunya sudah banyak terbuang di neraka yang menjemukan ini.
“Tidak” tiba-tiba Mahisa Agni itu berdesis di dalam hatinya sendiri, “waktuku tidak terbuang. Aku di sini mendapat ilmu yang tidak aku sangka-sangka sebelumnya Aku sama sekali tidak bermimpi bahwa guru bersama-sama dengan Empu Sada akan memberikan ilmu mereka seluruhnya. Dan aku sekarang sudah mereka lepaskan untuk berhadapan dengan Kebo Sindet itu sendiri”.
Ketika Mahisa Agni itu sedang berangan-angan, terdengarlah gurunya berkata, “Bagaimana menurut pertimbanganmu? Apakah kau akan segera melakukannya?”
“Ya guru, Segera. Sekarang juga”.
Empu Purwa dan Empu Sada tersenyum. Terdengar gurunya berkata, “Kau terlampau tergesa-gesa. Justru karena itu Agni, aku nasehatkan padamu, jangan kau lakukan hari ini”.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud gurunya. Semula gurunya menyerahkan semuanya kepadanya, kapan saja ia kehendaki. Tetapi tiba-tiba gurunya mencegahnya untuk melakukannya sekarang.
“Kenapa tidak sekarang guru?” bertanya Mahisa Agni.
“Nafsunya untuk berkelahi terlampau besar Agni. Dengan demikian maka nalarmu sudah tidak bening lagi. Yang ada di dalam angan-anganmu sekarang adalah barkelahi untuk segera memenangkannya dan membinasakan lawan. Nah, kalau demikian, maka apakah bedanya kau dengan Kebo Sindet?” Kening Mahisa Agni menjadi semakin berkerut-merut.
“Tundalah sampai hatimu bening. Tunggulah sampai kau tidak lagi dibakar oleh nafsu. Mungkin nanti malam, mungkin besok pagi setelah kau sempat menenangkan dan mengendapkan hatimu. Kalau kau masih dikuasai oleh nafsumu yang melonjak-lonjak, maka kau akan mudah tergelincir ke dalam arus kebencian, dedam dan kehilangan kewaspadaan. Ingat, jangan dibakar oleh nafsu tanpa kendali dalam segala persoalan”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kini kepalanya tertunduk rendah. Terasa sepercik penyesalan di dalam dadanya. Ia menjadi malu sendiri, seolah-olah ia telah kehilangan pertimbangan yang bening. Seperti anak-anak nakal ia menjadi gembira ketika ia mendapat kesempatan untuk berkelahi.
“Apakah kau dapat mengerti?”
Mahisa Agni mengangguk lemah, “Ya guru. Aku dapat mengerti”.
“Dengan beberapa kelebihan, kau jangan mudah dihanyutkan oleh arus darah mudamu. Kau sudah harus menjadi cukup dewasa, Jadikanlah hal ini peringatan untuk saat-saat mendatang”.
“Ya guru”.
“Bagus” berkata gurunya, “sekarang pergilah kepada Kebo Sindet. Persiapkan dirimu. Kau akan mendapat kesempatan itu. Tidak usah hari ini. Pada saatnya aku akan berada di dekatmu untuk melihat apa yang dapat kau lakukan menghadapi iblis dari Kemundungan itu. Kau sudah tidak perlu minta ijin lagi kepadaku, lakukanlah apabila kau merasa bahwa kau telah siap. Tanpa perasaan dendam dan kebencian yang meluap-luap. Lakukanlah seperti kau sedang melakukan kuwajiban yang tidak dapat kau hindarkan. Dengan perasaan wajib, bukan dengan perasaan dendam”.
“Ya guru” berkata Mahisa Agni dengan nada yang dalam, “aku minta ijin kepada guru dan kepada Empu Sada. Mudah-mudahan aku berhasil”.
“Berhasil menunaikan kuwajibanmu” sambung gurunya.
“Ya guru”.
“Nah, pergilah” berkata Empu Purwa, “aku akan keluar dahulu dari sarang iblis ini. Aku memerlukan beberapa ekor ikan basah. Aku belum makan”.
Empu Sada tersenyum. Tetapi ia berkata kepada Mahisa Agni, “Jangan kau ikut sertakan Kuda Sempana. Kalau kau mau memaafkannya, biarkanlah aku kelak yang mengurusnya”.
“Ya Empu”.
“Bukankah kau bersedia?”
“Ya, ya Empu. Aku sama sekali tidak berkeberatan, seperti Empu tidak berkeberatan memberikan ilmu yang dahsyat itu kepadaku”.
“Terima kasih Mahisa Agni. Nah, mudah-mudahan kau berhasil. Aku berdoa seperti gurumu berdoa”.
“Ya Empu”.
Dan gurunya pun kemudian berkata, “Tetapi kau harus selalu ingat, bahwa akhir dari semua persoalan terletak ditangan Nya. Ditangan Yang Maha Agung”.
“Ya guru”.
Ketika sepercik awan terbang di langit, maka Mahisa Agni menengadahkan wajahnya Hatinya berdesir ketika dikejauhan ia melihat segumpal awan yang kelabu berkisar perlahan-lahan ke utara. Mendung di kejauhan itu berjalan lambat sekali. Sejenak kemudian maka Mahisa Agni itu pun segera minta diri kepada gurunya dan kepada Empu Sada. Ia kini menjadi lebih tenang. Tidak lagi gelisah dan tergesa-gesa. Meskipun mendung di langit selalu mengingatkannya kepada Padang Karautan, namun Mahisa Agni berusaha untuk tidak hangus di bakar oleh nafsunya sendiri yang membara di dalam dada,
“Aku tidak boleh kehilangan akal. Meskipun ilmuku lebih baik dari Kebo Sindet, tetapi kalau aku kehilangan akal, maka aku akan diterkamnya dan diseretnya ke dalam rawa-rawa itu”.
Ketika Mahisa Agni sampai di sarang iblis itu, ia masih belum melihat seorang pun. Agaknya Kebo Sindet dan Kuda Sempana sedang beristirahat di dalamnya.
“Mungkin mereka sedang tidur” gumam Mahisa Agni. Tetapi ia tidak mempedulikannya lagi. Ia langsung pergi ke tempatnya, di samping perapian. Tiba-tiba saja timbullah laparnya. Karena itu maka kemudian dibuatnya api. Ia kini menanak nasi untuk dirinya sendiri karena sisa nasi Kebo Sindet telah dilemparkannya dan ditumpahkannya.
Kini keduanya telah berdiri berhadapan. Tetapi wajah-wajah mereka yang sama sekali tidak memancarkan gairah untuk berkelahi, telah sangat mengecewakan Kebo Sindet. Sehingga tiba-tiba ia berteriak pula,
“Ayo, cepat. Bersiaplah untuk berkelahi. Aku ingin melihat keseimbangan yang sebenarnya di antara kalian. Kalau kalian tidak sungguh-sungguh berkelahi, maka aku akan memaksa kalian dengan caraku”. Tiba-tiba saja Kebo Sindet itu meloncat meraih ranting sebesar ibu jari. Katanya kemudian, “Tubuh kalian akan dibekasi oleh jalur-jalur dari cambukku ini. Aku akan dapat memperlakukan kalian seperti seekor cengkerik, tetapi juga dapat memperlakukan kalian seperti seekor lembu penarik pedati. Aku dapat sekedar menggelitik kalian, tetapi aku juga dapat memukul kalian sampai pingsan sekalipun. Nah, sekarang bersiaplah”.
Tidak ada pilihan lain bagi keduanya. Mereka melihat Kebo Sindet mengacung-acungkan ranting di tangannya. Sekali-sekali disentuhnya Mahisa Agni dan sekali-sekali Kuda Sempana. Dengan tongkat kecil itu didorongnya kedua anak-anak muda itu maju semakin dekat.
“Tetapi supaya perkelahian ini adil” berkata Kebo Sindet itu, “serahkanlah pedangmu”.
Kuda Sempana yang sudah menjadi semakin acuh tidak acuh lagi kepada dirinya sendiri, dengan tanpa menjawab sepatah kata pun menarik pedangnya dan diberikannya kepada Kebo Sindet.
“Bagus” berkata Kebo Sindet sambil menerima pedang itu, “sekarang bersiaplah untuk mulai”.
Kini kedua anak-anak muda itu telah berdiri berhadapan. Tetapi keduanya sama sekali tidak memberi kepuasan kepada Kebo Sindet. Wajah Kuda Sempana kosong dan beku, sedang wajah Mahisa Agni diwarnai oleh keragu-raguan dan kebimbangan.
“Jangan membuat aku kecewa. Kalian tahu, akibat dari kekecewaanku”. Kedua anak muda itu tidak menjawab. “Ayo cepat, mulailah”.
Ketika keduanya masih berdiri saja mematung, maka Kebo Sindet hampir-hampir kehilangan kesabarannya. Disentuhnya sekali lagi tubuh anak-anak muda itu dengan ranting ditangannya, tetapi kali ini agak lebih keras sedikit. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sedang berjuang untuk menahan perasaannya. Ia sedang berusaha keras untuk tidak segera meloncat menyerang Kebo Sindet sendiri. Justru karena itu maka tampaklah ia selalu dicengkam oleh kebimbangan. Namun dalam tangkapan Kebo Sindet, Mahisa Agni kini benar-benar sudah kehilangan keberarian untuk berbuat sesuatu.
“Ayo Agni. Aku menghendaki kau berkelahi, jangan takut. Kau harus benar-benar berkelahi membela dirimu. Kalau kau kalah, maka kau akan menyesal nanti, sebab tubuhmu akan menjadi merah biru. Aku akan memukuli kau dengan ranting ini. Sebaliknya demikian juga Kuda Sempana. Tegasnya, siapa yang kalah, akan mendapat hukumannya. Cepat sebelum aku kehilangan kesabaran”.
Sentuhan-sentuhan tongkat Kebo Sindet yang sebesar ibu jari itu, telah berhasil mendorong keduanya menjadi semakin dekat. Jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Keduanya kini benar-benar telah bersiap untuk memulai dengan sebuah permainan gila-gilaan yang sangat memuakkan. Tetapi tidak seorang pun di antara keduanya yang bernafsu untuk memulainya.
“He, apakah kalian telah bersama-sama menjadi banci he?” terdengar suara itu lagi. Ketika keduanya masih saja berdiri di tempatnya, Kebo Sindet menjadi semakin marah. Maka kini ia tidak hanya sekedar menyentuh tubuh-tubuh yang berdiri kaku itu, tetapi kini ia mengayunkan ranting itu, mendera punggung Mahisa Agni, “Ayo, kau harus segera mulai”.
Terasa sengatan ranting kecil itu seperti menyobek kulit. Tetapi Mahisa Agni yang sekarang, bukan Mahisa Agni yang dahulu. Ketahanan tubuhnya telah berkembang melampaui kebanyakan orang. Hanya sesaat kemudian ia sudah berhasil melenyapkan perasaan pedih dan nyeri. Namun Mahisa Agni masih juga menyeringai sambil meraba-raba punggungnya. Bahkan terdengar ia berdesis dan mengeluh pendek.
“Ayo, cepat. Kalau kau tidak mau mulai, maka aku akan mengulanginya semakin lama semakin keras. Mungkin kau akan pingsan karenanya, atau bahkan kalau aku benar-benar kehilangan kesabaranku, umurmu akan berakhir hari ini” teriak Kebo Sindet.
Mahisa Agni segera memperbaiki sikapnya. Ia tidak ingin mendapat pukulan-pukulan lagi. Bukan karena ia tidak akan dapat menahan sakit, tetapi ia takut kalau ia kehilangan kesabarannya pula seperti Kebo Sindet. Karena itu maka segera ia melangkah maju semakin dekat dengan Kuda Sempana. Dengan demikian maka Kuda Sempana pun telah bersiap pula menerima serangan Mahisa Agni.
Sesaat kemudian, maka Mahisa Agni pun telah meloncat menyerang Kuda Sempana. Tangannya terayun langsung mengarah dada lawannya. Tetapi Kuda Sempana telah siap menunggunya. Karena itu maka dengan gerakan yang sederhana ia berhasil menghindari serangan itu.
“Oh, kau benar-benar sudah gila Mahisa Agni” teriak Kebo Sindet. Ia menjadi marah melihat cara Mahisa Agni menyerang. Seperti anak-anak yang berkelahi berebut makanan. Tanpa perhitungan dan tanpa unsur-unsur gerak ilmunya yang terkenal. “Ingat” berkata Kebo Sindet kemudian, “kalau kau tidak berkelahi bersungguh-sungguh, maka kau akan kecewa”.
Terdengar Mahisa Agni berdesis, ia mengalami kesulitan dalam perkelahian ini. Ia harus berusaha untuk membuat dirinya tidak lebih baik dari Kuda Sempana. Ketika ia mencoba menyederhanakan geraknya, ternyata gerak itu terlampau sederhana sehingga Kebo Sindet menjadi kecewa karenanya. Namun dalam gerak selanjutnya, Mahisa Agni lah yang menyesuaikan dirinya dengan Kuda Sempana. Meskipun Kuda Sempana juga berkelahi tanpa nafsu, namun tata geraknya dapat menuntun Mahisa Agni untuk menemukan tingkatan yang harus dilakukan.
“Oh, kalian memang sudah gila” Kebo Sindet mengumpat-umpat. Tiba-tiba ia meloncat maju. Dengan cepatnya ranting kecil ditangannya telah melecut punggung Mahisa Agni dan Kuda Sempana sehingga keduanya mengeluh bersama-sama. “Kalau kalian masih saja bermain-main, maka kalian akan menjadi korban kebodohan kalian.”
Tidak ada pilihan lain bagi Kuda Sempana dari pada berkelahi terus. Meskipun hatinya kosong, namun ia kini menjadi semakin cepat bergerak. Serangan-serangannya menjadi semakin mantap dan mapan. Perlahan-lahan dalam ketiadaan tujuan, selain sekedar meghindarkan diri dari lecutan tongkat Kebo Sindet. Kuda Sempana menjadi semakin garang.
Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin cepat pula. Lambat laun, setelah Kuda Sempana dibasahi oleh keringatnya, maka ia pun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Namun dalam pada itu, terasa oleh Mahisa Agni, bahwa sebenarnya Kuda Sempana sama sekali tidak bernafsu untuk berbuat sesuatu. Terasa oleh Mahisa Agni, bahwa Kuda Sempana hanya sekedar terdorong oleh hasratnya untuk menghindari pukulan Kebo Sindet. Tersirat sepercik pertanyaan di dalam dada Mahisa Agni tentang lawannya itu. Kenapa Kuda Sempana menjadi seakan-akan telah melupakan dendamnya.
“Tentu pengaruh keadaannya sendiri yang telah mengajarnya untuk mengerti” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “tetapi seandainya ada penyesalan di dalam dadanya, namun penyesalan itu datang terlampau lambat. Meskipun demikian, meskipun terlambat, tetapi baik juga penyesalan itu mengekang segala kegilaannya. Gurunya yang telah menyadari kesalahannya pula, mudah-mudahan akan dapat menuntunnya ke jalan yang lebih baik”.
Mahisa Agni terkejut ketika sekali lagi tongkat kecil Kebo Sindet hinggap di punggungnya. Sekali lagi ia menyeringai dan berdesis. Ternyata angan-angannya telah mengekang geraknya sehingga tampaklah bahwa ia tidak berkelahi bersungguh-sungguh.
“Aku memperingatkan kau sekali lagi, Agni”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi wajahnya kini tampak bersungguh-sungguh. Sekali-sekali ia menggeram, kemudian melontar dengan cepatnya menyerang lawannya. Kuda Sempana terkejut mendapat serangan yang tidak terduga-duga itu. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia meloncat menjauh, namun kemudian dengan cepatnya pula, ia membalas serangan itu dengan serangan kaki yang mengarah ke lambung Mahisa Agni. Mahisa Agni sengaja tidak menghindarkan dirinya. Ia ingin tahu, sampai dimana kekuatan serangan Kuda Sempana kini setelah ia mendapat tuntunan ilmu Kemundungan yang kasar itu.
Ketika kaki Kuda Sempana mengenai lambung Mahisa Agni yang seakan-akan tidak sempat menghindarkan dirinya, maka terasa kaki itu bergetar. Kuda Sempana merasakan kakinya membentur suatu kekuatan yang tidak terduga sebelumnya. Karena itu, maka ia terdorong oleh kekuatan serangannya sendiri beberapa langkah surut. Sedang Mahisa Agni, terlempar beberapa langkah. Kemudian terbanting jatuh di tanah. Beberapa kali ia berguling-guling, Ketika ia berusaha untuk meloncat bangun maka kakinya pun terperosok ke dalam sebuah lubang kecil, sehingga sekali lagi ia terjatuh di tanah. Dan sekali lagi ia tertatih-tatih untuk mencoba bangkit dan berdiri di atas kedua kakinya.
Namun waktu yang sesaat itu telah dapat dipergunakannya untuk mengetahui kekuatan Kuda Sempana. Meskipun ia tahu bahwa Kuda Sempana pun tidak mempergunakan seluruh kekuatannya. Tetapi ia menjadi heran sendiri. Sebagian kecil dari daya tahannya ternyata telah berhasil melemparkan Kuda Sempana beberapa langkah surut. Untunglah bahwa ia tidak mempergunakan kekuatan yang lebih besar, sehingga Kuda Sempana tidak mendapat cidera karenanya. Tetapi dengan demikian ia harus memainkan peranannya sebaik-baiknya. Kebo Sindet harus menyangka bahwa ia pun mengalami kejutan yang telah membantingnya.
Kini keduanya berdiri dalam jarak yang agak jauh. Tetapi menurut pengamatan Kebo Sindet. keduanya telah terpengaruh oleh benturan itu. Apalagi Mahisa Agni. Menurut penglihatan Kebo Sindet Mahisa Agni masih belum dapat mengimbangi kekuatan Kuda Sempana meskipun selisih kekuatan itu tidak seberapa. Namun dengan demikian justru menyenangkannya. Ia akan dapat membuat keduanya menjadi seimbang dan untuk kali lain memaksa mereka berkelahi lebih baik. Perkelahian yang disaksikannya kali ini sama sekali tidak memuaskannya. Tetapi ia dapat mengerti. Mahisa Agni yang selama ini jiwanya selalu diguncang oleh ketakutan dan kecemasan pasti tidak segera dapat menemukan kekuatannya kembali. Terutama kekuatan hati untuk melawan Kuda Sempana dengan sempurna. Karena itu, maka ia mempunyai harapan yang baik dimasa yang akan datang.
Ketika Kebo Sindet masih melihat kedua anak-anak muda itu berdiri dengan tegangnya, maka dengan serta-merta ia melangkah maju dan memukul keduanya berganti-ganti dengan tongkatnya sambil berteriak,
“Nah, kali ini kalian sama sekali mengecewakan aku. Kalian berkelahi seperti ayam-ayam cengeng Tetapi biarlah. Lain kali kalian harus berkelahi lebih baik. Kalian harus bersungguh-sungguh supaya yang menyaksikan perkelahian kalian menjadi puas”.
Kebo Sindet berhenti sejenak, dipandanginya wajah Mahisa Agni dan Kuda Sempana yang sedang menyeringai kesakitan itu berganti-ganti. Tetapi sejenak kemudian, ketika rasa sakit dipunggung mereka telah berkurang, wajah Kuda Sempana menjadi acuh tidak acuh lagi, dan wajah Mahisa Agni diselimuti oleh ketegangan dan ketakutan.
“Setan” desis Kebo Sindet, “kalian harus bersungguh-sungguh”. Dan di dalam hatinya ia berkata, “Pada saatnya mereka akan menjadi ayam aduan yang baik. Aku dapat membuat mereka seimbang. Pertunjukan ini akan menjadi pertunjukan baru dilingkungan orang-orang gila”. Dan Kebo Sindet yang berwajah mayat itu tertawa di dalam hati.
“Sekarang kalian boleh pergi” berkata Kebo Sindet itu bemudian., “Kalian harus tetap berada dalam kehidupan kalian sehari-hari. Apakah kalian mengerti?”
Keduanya sama sekali tidak menjawab. Mahisa Agni memandangi wajah Kebo Sindet sorot mata penuh kebimbangan. Sedang Kuda Sempana masih saja bersikap acuh tidak acuh.
“Apa lagi yang kalian tunggu” teriak Kebo Sindet, “ayo pergi sebelum aku berubah pendirian. Sebelum aku menyuruhmu berkelahi untuk kedua kalinya hari ini”.
Kedua anak-anak muda itu masih tetap membisu. Tetapi Mahisa Agni dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu dan pergi ke belakang sarang iblis itu, sedang Kuda Sempana berjalan perlahan-lahan masuk ke dalamnya. Di belakangnya Kebo Sindet berjalan sambil mengawasi punggung anak muda itu yang berjalur-jalur merah biru bekas pukulanya.
“Hem” Kebo Sindet bergumam, “aku terpaksa memukulmu. Kau tidak memuaskan hatiku karena kau tidak mau bersungguh-sungguh melawan Mahisa Agni. Aneh, kau yang selama ini mendendamnya, ketika aku memberi kesempatan, kau sama sekali tidak mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Berpaling pun tidak. Ia berjalan saja dengan wajah tunduk, seolah-olah ingin melihat setiap butir batu yang akan dilangkahinya.
“Lain kali kau harus berkelahi lebih baik” Kebo Sindet menyambung., “Kau berada di atas Mahisa Agni di dalam segala hal, kecekatan, kekuatan dan kemantapan. Hatimu harus lebih besar dan lebih gairah daripada Mahisa Agni, lain kali ia harus kau lumpuhkan sehingga kau menjadi puas. Tetapi jangan kau bunuh, supaya kau mendapat kepuasan lagi di lain kali”.
Kuda Sempana tidak menjawab, ia duduk saja di atas amben kayu tua yang kotor. Pandangan matanya yang kosong menembus mulut sarang iblis itu, hinggap di daunan yang hijau di luar.
“Ini pedangmu” berkata Kebo Sindet sambil memberikan pedang Kuda Sempana.
Kuda Sempana menerima pedangnya dengan sikap yang acuh tak acuh saja. Kini ia benar-benar telah terbenam dalam keputus-asaan yang dalam. Hampir-hampir tidak mungkin lagi baginya untuk bangkit dan melihat dirinya sendiri dan kediriannya. Ia merasa bahwa kini adanya sama sekali sudah tidak dapat dihayati. Ia merasa ada dalam ketiadaan.
“Nah, sekarang beristirahatlah. Besok kau harus mencoba sekali lagi. Tetapi kau jangan mengecewakan aku”, Kebo Sindet berhenti sejenak, lalu, “Untuk seterusnya kau akan berlatih dan berkelahi setiap waktu aku kehendaki. Kalian harus bersama-sama meningkat, supaya setiap perkelahian yang terjadi akan menjadi lebih sengit, lebih seru dan menarik”.
Kuda Sempana masih tetap berdiam. Sorot matanya yang kosong masih saja hinggap di dedaunan di luar. Sinar matahari yang putih satu-satu jatuh di atas tanah yang lembab. Di belakang sarang itu Mahisa Agni duduk terpekur. Sekali-sekali dirabanya punggung yang dijaluri oleh warna hitam kemerah-merahan. Tetapi ia sudah tidak merasakan lagi, kadang-kadang masih juga terasa tusukan pedih yang ringan.
“Bukan main” geramnya “tetapi aku sudah tahu, bahwa sebenarnya Kuda Sempana telah kehilangan dirinya sendiri. Ia kini seolah-olah telah menjadi orang baru. Orang, yang kosong tanpa kehendak, tujuan dan cita-cita. Seperti anak-anak yang baru mengenal dunia di sekitarnya sebagai benda-benda asing yang tidak dimengertinya. Tetapi dengan demikian, maka Empu Sada akan dapat mengisinya dengan kehidupan baru di dalam dirinya. Sebagai kelenting yang dipenuhi oleh cairan yang kotor, kini agaknya telah tertumpah sama sekali. Keadaan telah membuatnya demikian. Mudah-mudahan Empu Sada mampu mengisinya dengan cairan yang baru, bening”.
Mahisa Agni mengangguk-angguk seorang diri. Namun tiba-tiba ia bangkit dan berguman ”Aku harus segera mendapat kesempatan itu, menyingkirkan Kebo Sindet”.
Mahisa Agni kini berdiri tegak dengan dada tengadah. Lenyaplah segala macam keragu-raguan dan kebimbangan yang selama ini membayangi wajahnya dalam peranannya. Mahisa Agni sama sekali sudah tidak mengesankan ketakutannya lagi. Tiba-tiba ia menjadi garang. Tangannya yang selama ini terkulai dengan lemahnya, tiba-tiba menjadi tegang. Jari-jarinya mengepal dan giginya gemeretak. Terdengar ia berdesis,
“Aku kira sudah tiba waktunya. Aku sudah memenuhi pesan Empu Sada. Aku kini sudah yakin, bahwa Kuda Sempana sudah kehilangan nafsunya untuk membalas dendam, bahkan seluruh gairah kehidupan telah menjauh dari padanya. Mahisa Agni terdiam sejenak. Ditebarkannya pandangan matanya disekitarnya. Tetapi ia tidak melihat seorang pun, Kuda Sempana atau Kebo Sindet. Yang ada disampingnya adalah perapian, periuk tanah dan beberapa macam alat-alat yang selama ini dipergunakannya untuk memasak.
“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam., “Aku sudah cukup lama berada di tempat ini. Aku kira sudah cukup bersabar. Bukan sekedar ingin segera membinasakan Kebo Sindet. Tetapi yang lebih penting bagiku adalah keluar dari tempat ini dan pergi ke Padang Karautan”.
Gelora di dada Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Darahnya serasa semakin cepat mengalir, tetapi ia tidak dapat berbuat begitu saja tanpa setahu gurunya dan Empu Sada yang selama ini ikut serta mengasuhnya. Karena itu, maka timbullah niatnya untuk segera pergi menemui mereka.
“Mereka pasti masih berada di tempat itu” katanya didalam hati, “kalau mereka sudah pergi ke luar daerah ini, maka aku harus menunggu sampai besok. Pada saat menunggu itu perasaanku akan tersiksa jauh lebih sakit dari pada tubuhku”.
Kini Mahisa Agni tidak perlu ragu-ragu lagi. Biarlah Kebo Sindet dan Kuda Sempana mencarinya apabila mereka memerlukan. Ia tidak perlu lagi bermain-main dan mengorbankan tubuh dan perasaannya. Maka dengan langkah yang tetap Mahisa Agni pergi meninggalkan perapian itu untuk menemui gurunya dan Empu Sada. Ia berhadap bahwa mereka masih belum meninggalkan tempat itu. Mahisa Agni menarik nafas lega ketika ia melihat kedua orang itu masih saja duduk di tempatnya, Mereka masih belum berkisar sejengkal pun. Agaknya mereka sedang asyik bercakap-cakap sehingga mereka menjadi betah duduk di tempat itu.
“He” sapa Empu Purwa, “begitu cepat kau kembali kemari Agni”.
“Punggungku sudah cukup dijalari oleh jalur-jalur merah biru ini guru” sahut mahisa Agni sambil menunjukkan punggungnya.
“Kenapa?”
“Aku harus berkelahi melawan Kuda Sempana. Agaknya Kebo Sindet kurang puas melihat perkelahian kami sehingga ia merasa perlu untuk memukuli kami berdua”.
Kedua orang tua itu mengangguk-angguk. Sejenak kemudian Empu Purwa berkata, “Kalian berdua dipukulnya?”
“Ya guru. Meskipun hanya dengan ranting basah sebesar ibu jari, tetapi yang mengayunkannya adalah Kebo Sindet”.
Empu Purwa mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula, “Apakah daya tahanmu tidak cukup mampu untuk melawan rasa sakit itu?”
“Ya guru. Agaknya aku berhasil menguasai rasa sakitku”.
“Bagus. Tetapi ingat, bahwa pukulan itu hanya dilepaskan dengan sebagian kecil saja dari kekuatannya. Meskipun hanya dengan ranting kecil tetapi apabila dilepaskan dengan seluruh kekuatannya, maka dalam keadaan yang wajar, seseorang akan rontok iganya. Kau harus menyadari, bahwa kekuatan tenaga iblis itu memang luar biasa”.
Mahisa Agni menganggukan kepalanya. Jawabnya “Ya guru. Aku akan mengingat-ingat”.
“Lalu bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Empu Sada kemudian.
“Aku melihat perubahan padanya” jawab Mahisa Agni, yang kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya pada Kuda Sempana.
“Ia telah menjadi bayi kembali” guman Empu Sada, “bayi dalam takaran nalar dan perasaan. Perhitungan dan angan-angan. Tetapi apabila demikian, ia mempunyai harapan untuk menjadi baik kembali, meskipun masih harus dilakukan pengawasan yang cukup”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Mungkin sekali Empu”.
“Apakah Kebo Sindet juga memukul Kuda Sempana seperti ia memukulmu?”
“Ya Empu”.
“Kalau begitu aku dapat meyakini pula seperti kau, bahwa sebenarnya Kuda Sempana telah kehilangan dirinya. Jantung dan hatinya seakan-akan telah tercuci bersih, sehingga mudah-mudahan aku dapat mengisinya sebaik-baiknya”.
“Mudah-mudahan Empu” sahut Mahisa Agni. Namun kemudian ia terdiam. Kepalanya ditundukkannya dalam-dalam. Ia ingin segera mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Tetapi ia segan untuk mengatakannya.
Agaknya Empu Purwa dan Empu Sada melihat keinginan yang tersirat dari dalam dada anak muda itu. Keinginan untuk melepaskan diri, keinginan untuk segera menyingkirkan orang yang bernama Kebo Sindet itu supaya untuk seterusnya ia tidak akan dapat mengganggu lagi.
“Mahisa Agni” berkata Empu Purwa, “agaknya kau sudah tidak sabar lagi. Baiklah. Aku memperhitungkan, bahwa kekuatanmu sudah cukup untuk menandingi Kebo Sindet. Bahkan kau mempunyai beberapa kelebihan dengan kekuasan Aji Pamungkasmu. Tetapi kau masih harus tetap berhati-hati. Kebo Sindet mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak dari pada pengalamamnu sendiri”.
Tiba-tiba wajah Mahisa Agni menjadi cerah, secerah matahari di langit. Ia akan segera dapat mengobati kejemuannya. Namun ia masih bertanya, “Kapan aku boleh melakukan?”
“Terserah kepadamu Agni”.
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kalau saja ia mendapat kesempatan, maka ia sudah tidak ingin menundanya lagi. Sekarang. Hari ini. Terasa darah Mahisa Agni menjadi semakin hangat. Waktu yang dipergunakan untuk menunggu kesempatan seperti ini terasa sudah terlampau panjang baginya. Waktunya sudah banyak terbuang di neraka yang menjemukan ini.
“Tidak” tiba-tiba Mahisa Agni itu berdesis di dalam hatinya sendiri, “waktuku tidak terbuang. Aku di sini mendapat ilmu yang tidak aku sangka-sangka sebelumnya Aku sama sekali tidak bermimpi bahwa guru bersama-sama dengan Empu Sada akan memberikan ilmu mereka seluruhnya. Dan aku sekarang sudah mereka lepaskan untuk berhadapan dengan Kebo Sindet itu sendiri”.
Ketika Mahisa Agni itu sedang berangan-angan, terdengarlah gurunya berkata, “Bagaimana menurut pertimbanganmu? Apakah kau akan segera melakukannya?”
“Ya guru, Segera. Sekarang juga”.
Empu Purwa dan Empu Sada tersenyum. Terdengar gurunya berkata, “Kau terlampau tergesa-gesa. Justru karena itu Agni, aku nasehatkan padamu, jangan kau lakukan hari ini”.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud gurunya. Semula gurunya menyerahkan semuanya kepadanya, kapan saja ia kehendaki. Tetapi tiba-tiba gurunya mencegahnya untuk melakukannya sekarang.
“Kenapa tidak sekarang guru?” bertanya Mahisa Agni.
“Nafsunya untuk berkelahi terlampau besar Agni. Dengan demikian maka nalarmu sudah tidak bening lagi. Yang ada di dalam angan-anganmu sekarang adalah barkelahi untuk segera memenangkannya dan membinasakan lawan. Nah, kalau demikian, maka apakah bedanya kau dengan Kebo Sindet?” Kening Mahisa Agni menjadi semakin berkerut-merut.
“Tundalah sampai hatimu bening. Tunggulah sampai kau tidak lagi dibakar oleh nafsu. Mungkin nanti malam, mungkin besok pagi setelah kau sempat menenangkan dan mengendapkan hatimu. Kalau kau masih dikuasai oleh nafsumu yang melonjak-lonjak, maka kau akan mudah tergelincir ke dalam arus kebencian, dedam dan kehilangan kewaspadaan. Ingat, jangan dibakar oleh nafsu tanpa kendali dalam segala persoalan”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kini kepalanya tertunduk rendah. Terasa sepercik penyesalan di dalam dadanya. Ia menjadi malu sendiri, seolah-olah ia telah kehilangan pertimbangan yang bening. Seperti anak-anak nakal ia menjadi gembira ketika ia mendapat kesempatan untuk berkelahi.
“Apakah kau dapat mengerti?”
Mahisa Agni mengangguk lemah, “Ya guru. Aku dapat mengerti”.
“Dengan beberapa kelebihan, kau jangan mudah dihanyutkan oleh arus darah mudamu. Kau sudah harus menjadi cukup dewasa, Jadikanlah hal ini peringatan untuk saat-saat mendatang”.
“Ya guru”.
“Bagus” berkata gurunya, “sekarang pergilah kepada Kebo Sindet. Persiapkan dirimu. Kau akan mendapat kesempatan itu. Tidak usah hari ini. Pada saatnya aku akan berada di dekatmu untuk melihat apa yang dapat kau lakukan menghadapi iblis dari Kemundungan itu. Kau sudah tidak perlu minta ijin lagi kepadaku, lakukanlah apabila kau merasa bahwa kau telah siap. Tanpa perasaan dendam dan kebencian yang meluap-luap. Lakukanlah seperti kau sedang melakukan kuwajiban yang tidak dapat kau hindarkan. Dengan perasaan wajib, bukan dengan perasaan dendam”.
“Ya guru” berkata Mahisa Agni dengan nada yang dalam, “aku minta ijin kepada guru dan kepada Empu Sada. Mudah-mudahan aku berhasil”.
“Berhasil menunaikan kuwajibanmu” sambung gurunya.
“Ya guru”.
“Nah, pergilah” berkata Empu Purwa, “aku akan keluar dahulu dari sarang iblis ini. Aku memerlukan beberapa ekor ikan basah. Aku belum makan”.
Empu Sada tersenyum. Tetapi ia berkata kepada Mahisa Agni, “Jangan kau ikut sertakan Kuda Sempana. Kalau kau mau memaafkannya, biarkanlah aku kelak yang mengurusnya”.
“Ya Empu”.
“Bukankah kau bersedia?”
“Ya, ya Empu. Aku sama sekali tidak berkeberatan, seperti Empu tidak berkeberatan memberikan ilmu yang dahsyat itu kepadaku”.
“Terima kasih Mahisa Agni. Nah, mudah-mudahan kau berhasil. Aku berdoa seperti gurumu berdoa”.
“Ya Empu”.
Dan gurunya pun kemudian berkata, “Tetapi kau harus selalu ingat, bahwa akhir dari semua persoalan terletak ditangan Nya. Ditangan Yang Maha Agung”.
“Ya guru”.
Ketika sepercik awan terbang di langit, maka Mahisa Agni menengadahkan wajahnya Hatinya berdesir ketika dikejauhan ia melihat segumpal awan yang kelabu berkisar perlahan-lahan ke utara. Mendung di kejauhan itu berjalan lambat sekali. Sejenak kemudian maka Mahisa Agni itu pun segera minta diri kepada gurunya dan kepada Empu Sada. Ia kini menjadi lebih tenang. Tidak lagi gelisah dan tergesa-gesa. Meskipun mendung di langit selalu mengingatkannya kepada Padang Karautan, namun Mahisa Agni berusaha untuk tidak hangus di bakar oleh nafsunya sendiri yang membara di dalam dada,
“Aku tidak boleh kehilangan akal. Meskipun ilmuku lebih baik dari Kebo Sindet, tetapi kalau aku kehilangan akal, maka aku akan diterkamnya dan diseretnya ke dalam rawa-rawa itu”.
Ketika Mahisa Agni sampai di sarang iblis itu, ia masih belum melihat seorang pun. Agaknya Kebo Sindet dan Kuda Sempana sedang beristirahat di dalamnya.
“Mungkin mereka sedang tidur” gumam Mahisa Agni. Tetapi ia tidak mempedulikannya lagi. Ia langsung pergi ke tempatnya, di samping perapian. Tiba-tiba saja timbullah laparnya. Karena itu maka kemudian dibuatnya api. Ia kini menanak nasi untuk dirinya sendiri karena sisa nasi Kebo Sindet telah dilemparkannya dan ditumpahkannya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar