MENU

Ads

Minggu, 12 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 180

“Nasi hangat dengan ikan kering” desisnya. Namun tiba-tiba ia bergumam, “Hari ini mungkin adalah hari terakhirku di sini”. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali.

Terasa hari itu panjang sekali bagi Mahisa Agni. Namun dalam kesempatan itu dipenuhilah pesan gurunya. Mempersiapkan dirinya baik-baik. Lahir dan batin. Karena itulah maka ia tidak lagi menjadi gelisah, cemas dan berdebar-debar. Meskipun kadang-kadang juga dadanya berdesir, tetapi bukan karena nafsunya untuk segera membalas dendam. Pada sisa-sisa hari yang terakhir itu, Mahisa Agni masih juga melayani Kebo Sindet seperti biasa. Ia masih juga menyediakan makan dan minum. Masih juga didorong dan dibanting. Dimaki-maki dan bahkan disiram dengan air.

“Ternyata aku memang memerlukan persiapan ini” desis Mahisa Agni di dalam hatinya yang sudah mengendap. Hari ini dipergunakannya baik-baik untuk mengenal tabiat Kebo Sindet. Kebiasaan serta sikapnya. “Memang menarik sekali” katanya di dalam hati, “meskipun sukar dimengerti, bahwa ada seseorang yang memiliki sifat dan tabiat seperti itu. Aku hampir tidak dapat membayangkan, dorongan apakah yang telah membuatnya lain dari watak dan tabiat orang-orang biasa yang lain”.

Ketika malam datang, maka Mahisa Agni pun menjadi semakin dalam mempersiapkan dirinya. Diheningkannya hatinya, supaya ia tidak terdorong ke dalam suatu keadaan yang tidak dikehendakinya dan apalagi tidak dikehendaki oleh gurunya. Namun dengan demikian malam itu Mahisa Agni hampir tidak dapat memejamkan matanya sama sekali. Dan malam itu pun terasa betapa panjangnya. Dadanya berdesir apabila dilihatnya kilat memancar dilangit. Apalagi ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit. Dilihatnya langit yang gelap. Mendung. Namun ketika fajar di timur memerahi langit, terasa hatinya menjadi berdebar-debar kembali. Kadang-kadang timbul juga keragu-raguan di dalam hatinya, apakah kuwajibannya itu akan dapat diselesaikannya dengan baik.

“Aku mohon kepada Yang Maha Agung, semoga aku dituntun Nya. Semoga dibenarkan Nya, bahwa manusia semacam Kebo Sindet memang harus disingkirkan”.

Ketika sinar matahari jatuh di atas wajah rawa-rawa yang buram, Mahisa Agni sudah sampai pada kesiagaan tertinggi. Ia tinggal menunggu kesempatan yang terbuka baginya untuk berbuat sesuatu. Namun meskipun demikian, ia masih juga menyiapkan makanan dan minuman bagi Kebo Sindet dan Kuda Sempana untuk pagi itu. Tetapi benar-benar di luar dugaannya ketika pagi itu ia mendengar Kebo Sindet berkata kepadanya,

“Kemarilah Agni. Marilah kita makan bersama-sama”.

Mahisa Agni justru terdiam beku di tempatnya. Ia tidak segera dapat menangkap maksud hantu dari Kemundungan itu, apalagi ketika ia melihat apa yang selama ini belum pernah dilihatnya, wajah yang beku itu tiba-tiba tersenyum.

“Oh,” Mahisa Agni berdesah di dalam hatinya, “mengerikan sekali. Seolah-olah aku melihat mayat yang sudah membeku itu tersenyum kepadaku. Tanpa disadarinya, Mahisa Agni mengusap matanya seakan-akan ia tidak yakin pada penglihatannya.

Karena Mahisa Agni tidak menjawab, maka Kebo Sindet itu mengulanginya, “Kemarilah Mahisa Agni. Kau makan pula bersama dengan kami. Jangan takut”.

Seperti kena pesona yang tidak dapat dihindarinya Mahisa Agni melangkah maju. Sekilas dilihat wajah Kuda Sempana yang acuh tidak acuh, bahkan seolah-olah tidak melihatnya berdiri di situ.

“Duduklah” terdengar suara Kebo Sindet. Mahisa Agni kemudian duduk bersama mereka di atas sebuah amben kayu tua. “Marilah kita makan bersama-sama” ajak Kebo Sindet.

Mahisa Agni masih dicengkam oleh kebimbangannya. Tetapi segera ia dapat meraba, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh Kebo Sindet ketika kemudian Kebo Sindet berkata,

“Makanlah. Kalian harus berada dalam keadaan yang baik dan seimbang. Kuda Sempana dan Mahisa Agni akan merupakan dua kekuatan yang dahsyat. Kalau kalian berhasil memberi aku kepuasan, maka aku tidak akan berkeberatan apabila memberikan kesempatan kepada kalian untuk menjadi kawan yang sebenarnya di dalam perjuanganku. Seperti adikku Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana masih bersikap acuh tidak acuh saja. Kata-kata itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa atasnya. Namun bagi Mahisa Agni kata-kata itu menimbulkan pertanyaan di dalam hati,

“Apakah sebenarnya yang sedang diperjuangkan oleh Kebo Sindet?”

Tetapi, akhirnya Mahisa Agni pun mengerti pula arah pembicarakan itu, berkata Kebo Sindet itu, “Hidup adalah perjuangan. Perjuangan yang tidak akan mengenal selesai selama kita masih tetap menyadari hidup kita masing-masing. Itulah sebabnya aku bekerja dan berjuang terus”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kebo Sindet telah terjerumus ke dalam suatu sikap hidup yang keliru. Perjuangan selamanya harus mengenal landasan dan arah, mengenal titik tujuan. Kalau kita berjuang dengan sekuat tenaga, bekerja tidak mengenal jemu dan lelah, tetapi tanpa tujuan dan arah, maka kita akan tersesat ke dalam suatu lingkaran tanpa ujung dan pangkal. Bahkan mungkin kita akan sampai pada suatu jalan hidup yang paling gelap. Perjuangan yang tanpa dasar, arah dan tujuan ternyata telah menjeret Kebo Sindet ke dalam tindakan-tindakan yang kasar, ganas dan kejam. Sebab Kebo Sindet sendiri tidak tahu, apakah yang diperjuangkan dan apakah dasar perjuangannya.

Tetapi Mahisa Agni tidak mendapat kesempatan untuk memikirkannya. Begitu mereka mulai makan, maka terdengar Kebo Sindet itu berkata, “Makanlah sebanyak-banyaknya. Kalian berdua harus segera berlatih. Aku ingin melihat, apakah ada kemajuan pada diri kalian masing-masing. Apalagi Mahisa Agni yang barangkali sudah sempat membentuk dirinya lagi”.

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Namun kemudian timbul ingatan didalam hatinya, “Ini adalah kesempatan yang baik. Aku harus dapat mempergunakan kesempatan ini. Jangan tertunda lagi. Kalau aku berhasil membuatnya marah maka akan sampailah saatnya aku berhadapan dengan Kebo Sindet sendiri”.



Dan tiba-tiba saja tumbuhlah seleranya untuk makan sebanyak-banyaknya. Mungkin ia harus bertempur melawan Kebo Sindet untuk waktu yang lama. Bahkan mungkin ia masih harus berkelahi sampai malam hari. Kalau kekuatannya berimbang, maka pasti diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Mahisa Agni tahu benar, bahwa Kebo Sindet adalah seorang yang memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Ketahanan tubuh itulah yang harus diperhitungkannya pula. Kebo Sindet dapat menahan sakit, menahan lapar dan lelah. Kalau ia tidak mau mati dalam perkelahian itu, maka ia pun harus dapat mengimbanginya. Harus dapat menahan sakit, lapar dan lelah, meskipun seandainya ia harus bertempur sehari semalam, bahkan sepekan sekalipun.

Ternyata cara Mahisa Agni menyuap dirinya sangat menarik perhatian Kebo Sindet. Sama sekali tidak berkesan di dalam sikap itu, bahwa Mahisa Agni menjadi cemas dan gelisah. Sikap itu adalah sikap yang selama ini tidak pernah dilihatnya pada anak muda itu. Yang biasa dilihatnya adalah kegelisahan, kecemasan dan ketakutan membayang di wajahnya. Tetapi kini anak itu makan dengan lahapnya tanpa menghiraukan apa pun juga. Dan ini adalah kelalaian Mahisa Agni. Ia lupa pada peranan yang masih dilakukannya.

Tetapi untunglah, bahwa kelalaian itu terjadi disaat-saat terakhir dari permainannya, sehingga karena itu, maka kelalaian ini tidak akan terlampau banyak mempengaruhinya, justru ia sudah memutuskan untuk membuat perhitungan hari ini. Ketika mereka sudah selesai makan, maka Kebo Sindet itu berkata,

“Nah, kalian harus beristirahat sebentar supaya lambung kalian tidak sakit. Sebentar kemudian aku ingin melihat, apa yang dapat kalian lakukan”.

Acuh tidak acuh Kuda Sempana berdiri dan melangkah keluar. Di belakangnya berjalan Mahisa Agni dengan kepala tunduk. Berbagai macam masalah bergolak di kepalanya. Kadang-kadang terasa jantungnya berdebar-debar, tetapi kadang-kadang hatinya menjadi tentram. Meskipun ilmunya sudah tidak kalah menurut penilaian gurunya dari ilmu Kebo Sindet, masih cukup mempunyai perbawa. Umur dan pengalamannya, serta bubungan mereka selama ini, ternyata berpengaruh juga atas Mahisa Agni.

Kali ini Mahisa Agni sudah tidak ingat lagi untuk membersihkan sisa-sisa makan mereka. Membawa mangkuk-mangkuk kebelakang dan menyisihkan alat-alat makan mereka yang lain. Pikirannya sama sekali sudah tidak pada permainan yang harus diperankan tetapi ia sedang mereka-reka kemungkinan yang akan terjadi. Sikap Mahisa Agni itu memang menumbuhkan kecurigaan pada Kebo Sindet. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Ia ingin melihat sikap-sikap Mahisa Agni selanjutnya.

Mahisa Agni kemudian melihat Kuda Sempana berdiri saja memandang ke arah wajah rawa-rawa di kejauhan. Kadang-kadang pandangan matanya dilontarkannya ke sudut yang lain dari pulau iblis ini. Rerungkutan, pepohonan yang liar, gerumbul-gerumbul dan rumput-rumput ilalang setinggi tubuhnya. Seakan-akan anak muda itu ingin melihat, apakah yang tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan itu. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya Kebo Sindet berdiri beberapa langkah di belakangnya. Matanya yang seolah-olah mati di wajahnya yang beku, memandanginya dan Kuda Sempana berganti-ganti. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Bahkan ia berkata,

“Beristirahatlah sejenak. Kali ini kalian tidak boleh mengecewakan. Meskipun ilmu kalian sama sekali tidak sepadan dari yang aku kehendaki, tetapi apabila kalian berkelahi dengan sungguh-sungguh, aku sudah menjadi puas. Aku tidak akan menyakiti kalian, dan bahkan aku berjanji untuk meningkatkan ilmu kalian bersama-sama, supaya setiap perkelahian di antara kalian menjadi semakin seru. Kalian tidak perlu takut menyakiti lawan. Aku sudah menyediakan berbagai macam obat untuk menyembuhkannya, meskipun salah seorang dari kalian terpaksa muntah darah. Apakah kalian mengerti?”

Mahisa Agni mengangguk kosong. Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak mengacuhkannya. Bahkan berpaling pun tidak. Namun demikian Kebo Sindet pun membiarkannya saja. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Kebo Sindet berjalan hilir mudik di halaman sarang hantu itu. Kuda Sempana masih berdiri diam sambil memandangi hijaunya dedaunan. Tetapi pandangan matanya sama sekali tidak memancarkan perasaan apapun. Kosong seperti hatinya yang kosong. Kediaman itu ternyata membuat Mahisa Agni menjadi tegang. Seakan-akan ia telah dicengkam oleh waktu yang tidak terbatas. Hampir-hampir ia tidak sabar lagi, dan langsung membuat persoalan untuk memulai perlawanannya atas Kebo Sindet.

Tetapi sejenak kemudian ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Nah, aku kira kalian telah cukup lama beristirahat setelah makan. Sekarang kalian harus mulai. Ingat, jangan mengecewakan aku”. Lalu kepada Kuda Sempana ia berkata, “Berikan pedangmu”.

Sikap Kuda Sempana benar-benar membayangkan kekosongan perasaannya. Dan ini agaknya telah menjemukan Kebo Sindet, sehingga ketika ia menerima pedang dari anak muda itu, ia membentak,

“Jangan seperti orang pikun. Bangunlah dan berkelahilah”.

Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Kebo Sindet melepas ikat pinggangnya yang dibuat dari sehelai kulit yang tebal,

“Aku tidak memerlukan ranting atau tongkat lagi” desisnya, lalu, “Ayo, segeralah bersiap”.

Sekali lagi Kebo Sindet menjadi heran melihat Mahisa Agni yang segera meloncat maju. Wajahnya sudah tidak sesuram kemarin. Kini ia melihat kesegaran yang walaupun hanya tipis menyaput wajah anak muda itu.

“Ternyata dendam yang tersimpan di dalam dada Mahisa Agni masih jauh lebih panas dari dendam yang mengeram di hati Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya. Tetapi itu justru menggembirakannya, selama dendam masih ada di dalam diri kedua anak-anak muda itu, maka mereka akan menjadi ayam aduan yang menyenangkan.

“Cepat, bersiaplah” teriak Kebo Sindet., “Aku sudah tidak sabar lagi. Aku ingin melihat kesungguhan kalian. Kalian tidak usah berpikir siapakah yang menang dan kalah. Kalian berkelahi saja bersungguh-sungguh”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi ia tahu benar bahwa ikat pinggang yang dibuat dari kulit itu setiap saat dapat menyentuh tubuhnya. Sentuhan ikat pinggang itu pasti akan terasa lebih sakit dari sepotong ranting kecil. Karena itu, maka ia tidak akan dapat menghindar lagi, bahwa ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni bersungguh-sungguh. Kuda Sempana menganggap bahwa lecutan ikat pinggang Kebo Sindet itu akan terasa jauh lebih sakit dari pukulan Mahisa Agni. Sakit pada tubuhnya dan sakit di hatinya. Karena itu maka Kuda Sempana pun segera bersiap, wajahnya yang kosong masih saja tidak memancarkan perasaan apapun. Meskipun demikian tampak dalam sikapnya, bahwa ia pun telah bersiap untuk berkelahi bersungguh-sungguh, sekedar untuk menghindarkan diri dari ikat pinggang Kebo Sindet.

Agaknya Mahisa Agni dapat mengerti perasaan itu. Setelah ia melihat dan merasakan beberapa keanehan sikapnya. Juga pada perkelahian yang kemarin mereka lakukan.

“Kasihan” desis Mahisa Agni di dalam hatinya.

Kini ia sama sekali sudah mencoba untuk melenyapkan segala macam kebencian dan dendam yang masih tersisa dihatinya. Meskipun yang mendorongnya terperosok masuk ke dalam sarang iblis ini adalah Kuda Sempana, namun ternyata Kuda Sempana sendiri telah terseret pula ke dalam keadaan yang menyiksanya. Keadaan yang seakan-akan telah menutup hari-hari depannya yang sebenarnya masih panjang.

“Nah, kalian telah bersiap” terdengar suara Kebo Sindet menggelegar, “ayo, segera mulai. Jangan menunggu aku mencambuk kulit kalian”.

Selangkah Mahisa Agni maju dan hampir bersamaan pula Kuda Sempana pun melangkah pula. Mereka benar-benar tidak ingin mendapat lecutan sebelum mereka berkelahi. Sebab mereka, terutama Kuda Sempana, mengetahui benar, bahwa kali ini Kebo Sindet tidak bermain-main seperti kemarin. Kalau ia menjadi kecewa, maka punggungnya pasti akan terkelupas.

“Aku menghitung sampai hitungan kelima” berkata Kebo Sindet yang hampir kehilangan kesabaran pula, “kalau sampai hitungan kelima kalian belum mulai, maka jangan menyalahkan aku lagi kalau aku memaksa kalian”.

Dada kedua anak-anak muda itu bergetar, meskipun dalam nada yang berbeda. Kuda Sempana menjadi berdebar-debar karena ancaman itu, sedang Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karena kemungkinan-kemungkinan yang akan diambilnya untuk membuat Kebo Sindet marah. Baru sampai pada hitungan ketiga, ternyata Mahisa Agni sudah mulai dengan serangannya. Serangan yang cepat dan berbahaya. Tetapi Kuda Sempana yang sudah siap itu pun sama sekali tidak terperanjat. Serangan itu dengan mudahnya dapat dihindarinya, bahkan kini dengan sungguh-sungguh ia telah menyerang Mahisa Agni yang masih belum berjejak kuat-kuat di atas tanah.

“Hem” Mahisa Agni berdesir di dalam hatinya, “agaknya Kuda Sempana tidak dapat berbuat lain”.

Tetapi Mahisa Agni masih ingin berbuat sesuatu. Karena itu maka ia pun masih juga melayani serangan Kuda Sempana itu. Ia masih saja melakukan permainannya. Ketika menghindari serangan Kuda Sempana itu, agaknya dilakukannya dengan sangat tergesa-gesa sehingga tubuhnya kurang mendapat keseimbangan. Karena itu, maka tubuh itu pun kemudian berguling di atas tanah untuk kemudian dengan tergesa-gesa meloncat bangkit. Namun Kuda Sempana yang benar-benar telah berkelahi bersungguh-sungguh, tidak memberinya kesempatan. Sebelum Mahisa Agni siap untuk menerima serangannya, Kuda Sempana telah menerjangnya dengan kekuatan yang penuh.

“Lincah juga anak ini” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia memang melihat kemajuan pada Kuda Sempana. Geraknya bertambah cepat, tetapi juga bertambah kasar.

Sekali lagi Mahisa Agni tidak sempat menghindar dengan sempurna. Dan sekali lagi ia terdorong beberapa langkah dan jatuh berguling di atas tanah. Namun agaknya ia tidak mau mendapat serangan terus-menerus. Setelah berguling beberapa kali, maka ia melontarkan diri agak jauh dari lawannya untuk mendapat kesempatan mempersiapkan diri.

Ketika kemudian Kuda Sempana menyerangnya lagi, maka Mahisa Agni itu sudah berhasil memperbaiki kedudukannya. Kini dapat menghindar dan bahkan ia pun menyerangnya pula dengan kakinya. Serangan Mahisa Agni yang mendatar itu mengejutkan Kuda Sempana, sehingga ia tidak sempat untuk menghindarinya. Yang dapat dilakukannya adalah membentur serangan itu. Karena itu maka dikerahkannya segenap kekuatannya untuk melawan serangan Mahisa Agni. Tetapi tanpa dimengertinya sendiri, maka ia terdorong beberapa langkah maju. Hampir-hampir ia jatuh terjerembab. Ternyata dengan tiba-tiba dan tanpa diketahuinya, Mahisa Agni telah menarik serangannya, pada saat ia membenturkan kekuatannya untuk melawan serangan itu. Pada saat yang demikian itulah maka serangan Mahisa Agni datang pula menyambarnya. Ia melihat Mahisa Agni itu menyeringai dengan wajah yang tegang.

Tak ada kesempatan bagi Kuda Sernpana. Tetapi ia tidak membiarkan tengkuknya dihantam oleh sisi telapak tangan Mahisa Agni, sehingga tengkuknya itu mungkin akan patah. Karena itu, maka Kuda Sempana justru menjatuhkan dirinya, berguling sekali untuk menterlentangkan diri. Pada saat itu ia melihat tubuh Mahisa Agni berada di atasnya hampir menimpanya, dengan sekuat tenaganya, maka diayunkannya kakinya menghatam dada Mahisa Agni. Kuda Sempana sempat melihat Mahisa Agni itu terlempar. Ia melihat anak muda itu sekali berputar di udara. Sekejap kemudian ia mendengar tubuh itu terbanting jatuh. Ketika Kuda Sempana meloncat berdiri ia mendengar suara Kebo Sindet hampir berteriak,

“Bagus Kuda Sempana”.

Kuda Sempana kemudian melihat Mahisa Agni meloncat pula bangkit. Ia melihat Mahisa Agni menjadi semakin tegang. Sekali dilihatnya anak muda itu mengusap dadanya. Tetapi Kuda Sempana bahkan Kebo Sindet sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa Mahisa Agni tersenyum di dalam hati,

“Hebat juga Kuda Sempana itu”.

Sementara itu Kuda Sempana telah meloncat menyerangnya pula. Tata geraknya menjadi semakin cepat dan kasar. Unsur-unsur gerak yang pernah dipelajarinya dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat agaknya berpengaruh pula kepadanya, namun dasar-dasar ilmu yang diterimanya dari Empu Sada lah yang nampak lebih jelas di dalam setiap geraknya. Tiba-tiba timbullah keinginan Mahisa Agni untuk bermain-main lebih baik lagi dengan Kuda Sempana. Ia pun pernah menerima ilmu dan pengetahuan dari Empu Sada. Ia mengenal unsur-unsur gerak pokok dan bahkan seluruh ilmu yang ada pada Empu Sada seakan-akan telah dikuasainya. Karena itu, maka meskipun tidak sebaik Empu Sada, namun Mahisa Agni segera dapat mengenal dan memperhitungkan tata gerak Kuda Sempana.

Maka ketika Kuda Sempana menyerangnya, segera Mahisa Agni menghindar dengan lincahnya. Kini ia sepenuhnya mempergunakan unsur gerak khusus yang diterima dari Empu Sada, sehingga seakan-akan keduanya yang sedang bertempur itu adalah dua orang saudara seperguruan. Beberapa saat Kuda Sempana sama sekali tidak memperhatikan bagaimana cara Mahisa Agni menghindar dan menyerangnya. Hanya beberapa kali ia dikejutkan oleh tata gerak lawannya, yang seakan-akan mampu memotong serangannya sebelum ia melepaskannya. Bahkan dalam beberapa hal, serangan-serangannya selalu didahului saja oleh Mahisa Agni dalam kemungkinan yang diperhitungkannya.

Namun lambat laun, perasaannya tergerak juga untuk lebih memperhatikan, bagaimana cara lawannya itu menahan dan menghindari serangannya, bahkan bagaimanakah cara Mahisa Agni menyerang. Ketika perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru, maka dada Kuda Sempana pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun lambat, namun ia menjadi semakin jelas ilmu apakah yang dipergunakan oleh Mahisa Agni itu.

Semula ia menyangka, bahwa hanya kebetulan saja Mahisa Agni mengenal unsur-unsur gerak yang khusus dimiliki oleh perguruannya. Mungkin Mahisa Agni pernah melihat ia mempergunakan, kemudian di waktu-waktu terluangnya di sarang hantu ini, ia mencoba mempelajarinya bersama ilmunya sendiri. Dihubung-hubungkannya dan diolahnya menurut kemampuannya. Tetapi lambat laun, dugaan itu pun meragukannya. Ternyata Mahisa Agni dapat mempergunakan ilmu seperti ilmunya, tidak hanya sekedar kebetulan. Hampir semua unsur gerak yang dimengertinya sudah dikuasai pula oleh Mahisa Agni. Bahkan unsur-unsur yang belum dipahaminya benar-benar, telah dapat dimiliki pula oleh Mahisa Agni.

“Apakah aku sudah menjadi gila, sehingga aku tidak dapat melihat perbedaan antara unsur-unsur gerak yang khusus dari perguruanku dan tata gerak Mahisa Agni?” pertanyaan itu telah membelit hatinya. Namun ia masih saja menyaksikan keanehan yang tidak segera dapat dimengertinya.

“Apakah di dalam neraka ini ada hantu yang mengajarinya untuk menirukan tata gerak dari perguruan Empu Sada?”

Bagaimana pun juga namun pertanyaan itu selalu membelit hatinya disetiap saat. Semakin lama mereka bertempur, maka penglihatannya menjadi semakin jelas, bahwa Mahisa Agni telah mempergunakan di dalam tata geraknya, unsur-unsur gerak yang khusus dari perguruannya. Bahkan beberapa kali ia mencoba mempergunakan ilmu yang paling tinggi yang dimilikinya, dan unsur gerak yang paling sulit. Tetapi ternyata Mahisa Agni mampu menanggapinya, bahkan membalas menyerangnya dengan unsur-unsur yang serupa.

“Agaknya aku telah benar-benar menjadi gila” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya.

Meskipun demikian, Kuda Sempana tidak ingin bertanya sesuatu kepada Mahisa Agni. Akhirnya ia terlempar kembali ke dalam keadaannya. Acuh tidak acuh. Bahkan ia berkata di dalam hatinya,

“Aku tidak peduli, ilmu apa saja yang akan dipakai oleh Mahisa Agni. Tugasku saat ini hanya berkelahi sungguh-sungguh. Kalau aku sudah berkelahi dengan sungguh-sungguh maka aku sudah memenuhi tugasku”.

Tanpa memperhatikan apa pun lagi Kuda Sempana kemudian berkelahi semakin bersungguh-sungguh. Keringatnya mengalir seperti diperas dari dalam tubuhnya. Sekali-sekali ia berhasil melemparkan Mahisa Agni, dan disaat lain ialah yang terlempar jatuh berguling-guling.

Kebo Sindet menyaksikan perkelahian itu dengan sepenuh hati. Semula ia tertarik kepada kesungguhan kedua anak-anak muda yang dijadikannya ayam aduan itu. Keduanya tampaknya telah bertempur bersungguh-sungguh. Apalagi setelah punggung mereka basah karena keringat dan kemudian menjadi kotor oleh tanah liat yang kemerah-merahan. Tandang mereka menjadi semakin garang. Namun lambat laun, Kebo Sindet yang memiliki pengalaman dan pengetahuan ilmu tata berkelahi yang cukup masak itu melihat kejanggalan di dalam perkelahian itu. Ia melihat sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

Seperti Kuda Sempana, ia pun semula tidak memperhatikan unsur-unsur gerak yang mereka pakai di dalam perkelahian itu. Namun kemudian tampaklah, meskipun perkelahian itu menjadi semakin cepat dan sengit, tetapi perkelahian itu seolah-olah telah dipersiapkan dan diatur lebih dahulu. Seolah-olah telah ditentukan pada saat tertentu siapakah yang harus menyerang, dan siapakah yang menghindar. Dan disaat-saat yang lain terjadi benturan-benturan yang tidak berbahaya, disusul dengan gerakan-gerakan yang lebih condong pada pameran kecepatan bergerak dari pada sebuah perkelahian.

“Aneh” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya. Tetapi mata hantu yang tajam itu segera melilat, beberapa persamaan dari tata gerak keduanya. Ketika ia memperhatikan lebih saksama lagi, maka terdengar ia mengumpat, “Setan iblis. Permainan ini benar-benar gila”. Namun demikian, Kebo Sindet itu telah dicengkam oleh keheranan yang luar biasa. Seperti Kuda Sempana ia bertanya di dalam hati, “Dari mana setan kecil ini sempat mempelajari ilmu Empu Sada?”

Hampir tanpa berkedip Kebo Sindet itu menyaksikan bagaimana Mahisa Agni melayani Kuda Sempana dengan ilmu yang serupa, meskipun tampak bahwa pada keduanya mendapat pengaruh yang berbeda, namun pada dasarnya, di antara keduanya hampir tidak terdapat perbedaan-perbedaan. Semakin lama maka Kebo Sindet itu menjadi semakin tertarik pada keanehan itu. Bahkan semakin lama ia menjadi semakin heran. Dengan demikian ia menjadi semakin tajam memperhatikan setiap gerak dari kedua anak-anak muda itu.

“Tidak mungkin kalau Kuda Sempana memberi kesempatan kepada Mahisa Agni selama ini untuk memperhatikan ilmunya” katanya di dalam hati, “dan Mahisa Agni pun tidak akan sempat berbuat demikian. Ia tidak akan dapat, meskipun hanya sekedar mengintip, pada saat Kuda Sempana melatih diri. Sedang kesempatan melatih dirinya sendiri itu pun hampir tidak pernah dilakukan oleh Kuda Sempana”.

Namun lambat laun Kebo Sindet yang memiliki pengamatan yang tajam itu melihat, bahwa Mahisa Agni tidak hanya sekedar dapat mempergunakan ilmu yang serupa dengan Kuda Sempana dan dapat mengimbanginya pula, tetapi Kebo Sindet melihat bahwa Mahisa Agni dapat melakukan lebih dari pada itu. Lambat laun Kebo Sindet melihat, bahwa ternyata Mahisa Agni memiliki beberapa kelebihan dari lawannya. Tetapi jarak antara keduanya tidak segera dapat diketahuinya.

Sementara itu perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni menjadi semakin lama semakin seru. Kuda Sempana akhirnya mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya untuk mencoba mengalahkan Mahisa Agni. Ia mengharap bahwa dengan demikian, ia tidak akan mendapat perlakuan yang kasar dari Kebo Sindet. Bukankah dengan demikian, ia boleh untuk seterusnya tidak perlu bekerja terlampau keras, sedang Mahisa Agni masih harus selalu berusaha meningkatkan dirinya agar kemampuan mereka berimbang? Kuda Sempana sama sekali tidak berpikir lagi tentang hal-hal yang lain. Ia tidak peduli apapun yang nanti akan diperbuat oleh Kebo Sindet. Tetapi ia ingin dalam waktu yang dekat, ia mendapat kesempatan untuk tidak berbuat apa-apa. Itu saja. Tidak lebih dari pada itu. Tetapi Kuda Sempana menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Kebo Sindet melangkah mendekati arena perkelahian itu. Ditangannya masih digenggamnya ikat pinggang kulitnya. Sekali-sekali dilihatnya Kuda Sempana dan sekali-sekali Mahisa Agni.

“Aku sudah berkelahi bersungguh-sungguh” pikir Kuda Sempana. Namun pikiran itu telah membuatnya bertanya-tanya pula, “Kenapa selama ini perkelahian itu seolah-olah tidak menggetarkan dadanya?” Meskipun perkelahian itu terasa bersungguh-sungguh, tetapi seakan-akan tubuh-tubuh mereka hampir tidak pernah tersentuh oleh serangan-serangan lawan. Masing-masing selalu saja dapat menghindari setiap serangan betapapun cepat dan garangnya.

“Kami telah dapat mengerti apa yang akan dilakukan oleh masing-masing pihak” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya. Namun kemudian ia mengumpat, “Tetapi Kero Sindet pasti menyangka kami tidak bersungguh-sungguh”.

Kebo Sindet kini telah berdiri semakin dekat. Ia memperhatikan tata gerak keduanya dengan lebih saksama lagi. Setiap loncatan, setiap pukulan dan setiap langkah mereka menghindari serangan lawan. Mahisa Agni pun kemudian menjadi berdebar-debar pula. Ia menyadari bahwa Kebo Sindet kini melihat ketidak wajaran di dalam perkelahian itu. Meskipun Mahisa Agni masih tetap melakukan permainannya, namun ia harus mempersiapkan dirinya lebih baik lagi. Sebab setiap saat lawannya dapat berganti. Dan bahkan mungkin ia harus melawan keduanya bersama-sama.

“Ah tidak. Kebo Sindet pasti akan tersinggung karenanya” katanya di dalam hati. Namun ia tidak mengurangi kewaspadaannya terhadap iblis dari Kemundungan itu.

Sebenarnyalah bahwa Kebo Sindet semakin lama semakin melihat kelebihan Mahisa Agni, betapapun anak muda itu ingin menyembunyikan. Mungkin Kuda Sempana sendiri yang baru dicengkam oleh ketegangan tidak segera dapat melihat kelebihan Mahisa Agni yang semakin lama menjadi semakin nyata bagi Kebo Sindet.

“Aneh sekali” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, “ternyata Mahisa Agni telah mendapat kemajuan yang baik selama ia berada di tempat ini. Mungkin karena aku kurang memperhatikannya sehingga ia mampu membuat ilmunya semakin masak dan mapan. Tetapi yang tidak dapat aku mengerti, bagaimana ia dapat memiliki unsur-unsur gerak yang khusus dari perguruan Kuda Sempana”.

Tetapi Kebo Sindet masih belum berbuat sesuatu. Ia masih ingin meyakinkan dirinya, apakah yang dilihat itu memang benar-benar demikian. Apakah memang Mahisa Agni bukan saja secara kebetulan berbuat seperti itu.

“Ia memang banyak mempunyai kesempatan” berkata Kebo Sindet pula di dalam hatinya, “selama ia berada di tempat ini seorang diri, ia dapat berlatih terus menerus”.

Tiba-tiba dada Kebo Sindet itu menjadi berdebar-debar. Ia mempunyai penggraita yang tajam atas persoalan yang dihadapinya. Dan tiba-tiba hatinya berkata, “Aku agaknya selama ini telah dikelabui oleh sikap Mahisa Agni. Aku menganggapnya semakin lama ia menjadi semakin jinak. He, apakah tidak demikian yang sebenarnya?”

Akhirnya Kebo Sindet yakin, bahwa memang telah terjadi sesuatu di luar kehendaknya, bahkan di luar dugaannya. Menurut pengamatannya Mahisa Agni yang sedang berkelahi itu sama sekali bukanlah Mahisa Agni dalam keadaannya sehari-hari. Yang selalu menundukkan kepalnya dengan wajah yang cemas dan gelisah. Bukan Mahisa Agni yang ketakutan dan gemetar apabila ia membentaknya.

“Setan” Kebo Sindet itu mengumpat, “apakah maksudnya anak itu berani menunjukkan kelebihannya kepadaku? Apakah ia merasa bahwa dengan demikian akan menguntungkannya? Apakah hanya karena terdorong oleh perkelahian itu sehingga ia sudah tidak dapat menyembunyikan diri lagi? Tetapi bagaimanapun juga keadaan itu harus dihentikan, sebelum aku terlambat”.

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar