PdLS-37
KEBO SINDET itu menggeram di dalam hatinya. Ia menyesal bahwa Mahisa Agni kurang mendapat pengawasannya. Ia terlalu berbangga dan menganggap bahwa ia sudah dapat mematahkan kebesaran hati Mahisa Agni. Kebo Sindet selama ini melihat Mahisa Agni tidak lebih dari seekor tikus clurut yang tidak berarti sama sekali. Tetapi ternyata apa yang dilihatnya itu telah mengejutkannya. Seperti orang yang bermimpi, kini ia terbangun. Dihadapinya sebuah kenyataan yang tidak disangka-sangkanya. Mahisa Agni selama ini ternyata sempat melatih dirinya dan membuatnya menjadi semakin tangguh dan tangkas. Yang lebih menggoncangkan hatinya adalah pengenalan Mahisa Agni atas ilmu Empu Sada.
Sementara itu Mahisa Agni masih saja berkelahi. Ia masih berusaha untuk membuat keseimbangan di antara mereka. Namun setiap kali Kebo Sindet yang memiliki pengalaman dan pengetahuan jauh lebih tinggi dari Kuda Sempana, segera dapat mengenal, bahwa Mahisa Agni tidak berkelahi dengan sewajarnya. Sesaat terbersit suatu pikiran yang mendebarkan jantungnya. Empu Sada pasti belum mati.
“Apakah setan itu berhasil masuk ke dalam daerah ini tanpa setahuku dan berusaha membalas dendam lewat anak yang bernama Mahisa Agni ini?”
Jantung Kebo Sindet menjadi semakin berdebaran. Dugaan itu semakin lama menjadi semakin kuat.
“Tetapi, tidak seorang pun dapat memasuki daerah ini tanpa aku sendiri” ia mencoba untuk menenangkan hatinya, tetapi hatinya berkata pula, “Apakah mungkin ia selalu mengintip aku apabila aku lewat daerah rawa-rawa ini dan kemudian mencari jejakku untuk mencoba menyeberang?”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya “Mustahil. Tikus tua itu pasti akan menjadi santapan buaya-buaya kerdil itu atau ular air hijau yang sangat berbisa. Ia tidak banyak mengenal tabiat rawa-rawa yang ganas ini. Atau mungkin ia sudah terbenam di dalam Lumpur”.
Namun, bagaimanapun juga, tata gerak Mahisa Agni yang sengaja ditunjukkannya kepada Kuda Sempana dan Kebo Sindet itu telah mendebarkan dadanya.
“Aku harus segera mendapat kejelasan” Kebo Sindet itu bergumam di dalam hatinya.”Segera”.
Kebo Sindet melangkah semakin dekat lagi. Wajahnya yang beku itu tiba-tiba menegang. Mahisa Agni yang melihat Kebo Sindet berdiri hanya beberapa langkah dari arena dengan wajah yang tegang, segera merasa, bahwa saatnya segera akan datang. Ia harus segera mempersiapkan dirinya tidak sekedar bermain-main dengan Kuda Sempana. Tidak sekedar berpura-pura terlempar surut dan berpura-pura terbanting di atas tanah. Ia harus benar-benar menghapi Kebo Sindet dengan seluruh ilmu yang dimilikinya. Mungkin ia akan benar-benar terlempar beberapa langkah dan benar-benar terbanting di atas tanah dengan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menjadi lebih parah.
Karena itu, maka perhatian Mahisa Agni kemudian sebagian terbesar ditunjukannya kepada Kebo Sindet. Meskipun ia masih tetap berkelahi melawan Kuda Sempana, namun kewaspadaannya terhadap Kebo Sindet ternyata cukup tinggi. Mahisa Agni memperhitungkan, bahwa Kebo Sindet dapat berbuat apa saja yang tidak diduga-duganya sebelumnya. Orang semacam Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikan lagi tata kesopanan dalam berbagai macam hal. Juga dalam perkelahian semacam itu. Ia menganggap cara apapun dapat dipergunakan dan dibenarkan untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian maka Mahisa Agni selalu berusaha untuk tidak berada dalam keadaan yang berbabaya baginya apabila setiap saat Kebo Sindet berbuat sesuatu. Kini Mahisa Agni telah yakin, bahwa Kebo Sindet telah dapat mengenal ilmunya dan menganggap bahwa ilmu itu berbahaya bagi dirinya.
Kebo Sindet yang berdiri hanya beberapa langkah dari arena itu pun menjadi semakin tegang, seperti juga Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar. Semakin lama ia tidak semakin menguasai lawannya, tetapi ternyata lawannya menjadi semakin lincah dan tangguh. Bahkan Kuda Sempana kadang-kadang menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Meskipun demikian, serangan-serangan Mahisa Agni tampaknya selalu tidak berbahaya baginya.
Mahisa Agni masih saja berusaha untuk melayani Kuda Sempana. Setiap kali ia bergeser menjauhi Kebo Sindet. Dan setiap kali pula Kebo Sindet yang memegang ikat pinggang kulit itu selalu berkisar mendekatinya.
“Ikat pinggang itu berbahaya” desis Mahisa Agni di dalam hatinya “Kemarin Kebo Sindet melecutku dengan ikat pinggang itu, tetapi hanya dengan sebagian kecil saja dari tenaganya. Tetapi sekarang pasti akan lain. Mungkin sekaligus ia ingin mematahkan tulang belakangku dengan ikat pinggang itu”.
Namun dalam pada itu, karena perhatiannya sebagian besar tertuju kepada Kebo Sindet, permainan dalam perkelahiannya melawan Kuda Sempana menjadi kurang baik. Kadang-kadang ia berbuat sesuatu yang sangat membingungkan lawannya. Bahkan kadang-kadang Kuda Sempana hanya berdiri saja keheranan melihat serangan Mahisa Agni yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Tetapi ternyata ketika serangan yang tak terelakkan itu menyentuh tubuhnya, maka ia sama sekali tidak mengalami cidera apapun. Bahkan seakan-akan Mahisa Agni sama sekali sudah kehabisan tenaga untuk dapat menyakitinya.
Hal-hal yang serupa itulah yang kemudian membuat kemarahan Kebo Sindet semakin membakar jantungnya. Sedangkan Kuda Sempana sendiri tidak tahu bagaimana ia harus menanggapinya. Ia berkelahi saja dengan bersungguh-sungguh. Itu sudah dilakukannya. Tetapi Kuda Sempana itu terkejut ketika ia mendengar Kebo Sindet berteriak nyaring,
“Cukup. Cukup Mahisa Agni. Permainanmu memang baik sekali. Kau tidak dapat dikalahkan oleh Kuda Sempana. Apalagi seorang Kuda Sempana, lima Kuda Sempana pun tidak akan dapat mengalahkan kau”.
Dengan serta merta maka perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni itu pun terhenti. Kuda Sempana meloncat beberapa langkah surut. Wajahnya memancarkan beribu macam pertanyaan yang mengguncang-guncang hati
“Apakah maksud Kebo Sindet sebenarnya? Apakah aku dianggapnya kurang bersungguh-sungguh atau dianggapnya aku sudah tidak berguna lagi sehingga lima Kuda Sempana tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Agni?”
Dalam kegelisahan itu Kuda Sempana memandangi wajah Mahisa Agni yang menegang. Dilihatnya anak muda itu berdiri kaku di tempatnya. Tetapi, dalam pada itu dada Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar pula. Di dalam hatinya ia berkata,
“Agaknya kini telah sampai saatnya aku berbuat sesuatu”.
Mahisa Agni itu megerutkan keningnya ketika ia melihat Kebo Sindet melangkah maju sambil berkata, “Kau benar-benar dahsyat Agni. Kau adalah orang yang paling licik di seluruh dunia. Jauh lebih licik dari Jajar gemuk yang aku panggang di dalam api di rumahnya sendiri”.
Dada Mahisa Agni berdesir. Ia tidak tahu, siapakah yang dimaksud dengan Jajar yang gemuk Tetapi bahwa orang itu telah dipanggang di dalam api di rumahnya sendiri, benar-benar telah membuatnya semakin berdebar-debar.
“Kau mungkin belum pernah mendengar apa yang telah terjadi itu” berkata Kebo Sindet “tetapi baiklah, aku akan mengatakannya. Jajar itu telah mencoba berbohong kepadaku. Ketika ia menyanggupkan diri mencari tebusan untuk membebaskanmu dari Ken Dedes, ia telah berusaha membunuhku dengan lima belas kawan-kawannya atau bahkan lebih. Tetapi akhir dari pada hidupnya adalah mati ditelan api. Menyenangkan sekali. Aku ikat ia pada tiang rumahnya yang terbakar perlahan-lahan”.
Dan tiba-tiba saja Kebo Sindet yang wajahnya selama ini membeku seperti wajah mayat itu terangkat perlahan-lahan. Kemudian meledaklah suara tertawa yang mengerikan. Suara tertawa yang belum pernah didengarnya. Bergetar mengumandang di seluruh daerah hutan berrawa-rawa ini. Seolah-olah suara tertawa itu telah mengguncangkan ranting-ranting pepohonan dan menggugurkan dedaunan. Burung-burung berterbangan menjauh, dan wajah air yang buram di sekitar neraka itupun seolah-olah telah bergolak.
“Bukan main” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia seolah-olah mendengar suara hantu yang paling gila dari liang kuburnya. Tetapi kemudian berubah menjadi seribu guruh yang meledak bersama-sama di langit yang mendung. “Setan ini benar-benar menakjubkan”.
Suara tertawa Kebo Sindet itu pun semakin lama menjadi semakin mereda. Perlahan-lahan suara itu hilang seakan-akan menyusup ke dalam tanah yang lembab, mengendap untuk setiap saat mengguncangkan daerah itu kembali. Ketika suara tertawa itu mereda, maka terdengar Kebo Sindet itu berkata dengan suaranya yang parau,
“Mahisa Agni. Aku ingin melihat apa yang terjadi itu terulang di sini. Meskipun aku tidak akan membakar sebuah rumah, tetapi rerumputan dan dedaunan yang kering akan cukup panas untuk mematangkan dagingmu”.
Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Ia kini telah yakin, bahwa saat-saat yang ditunggunya telah tiba.
“Sayang Agni, bahwa nasibmu memang terlampau jelek. Sebenarnya aku memang sudah tidak memerlukan kau lagi. Aku memang ingin membunuhmu dan membuang mayatmu ke dalam rawa-rawa. Buaya-buaya kerdil itu akan sangat berterima kasih kepadaku. Tetapi kemudian timbullah belas kasianku. Kau masih tetap aku hidupi. Kau dan Kuda Sempana akan dapat menjadi hiburan yang baik di dalam duniaku yang sepi ini. Tetapi kau sudah membuat kesalahan. Caramu berkelahi melawan Kuda Sempana telah menumbuhkan keinginanku untuk membunuhmu. Bahkan aku ingin berbuat sesuatu yang paling menyenangkan bagiku dengan akhir hidupmu itu”.
Dada Mahisa Agni manjadi semakin berdebar-debar. Tetapi sesuatu yang menyentuh dadanya adalah pengakuan Kebo Sindet, bahwa dunianya terlampau sepi. Kesepian itulah agaknya yang telah mendorongnya menjadi semakin tersesat.
“Bersiaplah Mahisa Agni? Apakah kau ingin melawan?” Mahisa Agni masih berdiam diri. “Kau mengecewakan aku. Kau tidak bersedia menemani aku dengan cara yang telah aku pilih. Bahkan kau mencoba menyombongkan dirimu, membuat Kuda Sempana bingung karena unsur-unsur gerak yang serupa. He, darimana kau pelajari ilmu yang mirip dengan ilmu Kuda Sempana itu? Apakah kau sendiri yang menciptakannya?” Mahisa Agni tidak menjawab. “Apakah ada setan belang yang datang dan mengajarimu he?” Tidak terdengar jawaban.
“Baiklah, ternyata kau telah memaksa aku untuk berbuat sesuatu. Kau tidak sekedar menemani aku dalam duniaku yang sepi ini dengan permainan-permainan yang mengasyikkan bersama Kuda Sempana. Tetapi ternyata aku sendiri harus ikut bermain-main”. Kebo Sindet itu berhenti sebentar, lalu “Ayo, apakah kau akan melawan atau menyerah saja supaya aku menaruh sedikit belas kasihan pada saat-saat terakhirmu? Tetapi apabila kau memang terlampau sombong, dan merasa bahwa ilmumu itu mampu mengimbangi ilmu Kebo Sindet, marilah, kita lihat, apakah yang akan terjadi atasmu”. Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab.
“Apakah kau sudah menjadi bisu he?” Kebo Sindet itu kemudian berpaling kearah Kuda Sempana, “Kuda Sempana, kau akan kehilangan kawan. Tetapi jangan takut. Ternyata pikiran untuk membuat permainan adu orang itu sangat menarik. Tetapi kali ini aku terpaksa melenyapkan kawan bermainmu. Namun aku akan segera mencarikan gantinya”.
Jantung Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Semakin lama Kebo Sindet pasti akan menjadi semakin buas. Dalam dunianya yang asing, ia kehilangan segala macam bentuk, sifat dan watak kemanusiaannya. Sifat-sifat yang aneh dan tidak wajar akan menguasainya, sehingga dengan demikian ia akan menjadi semakin berbahaya. Kesenangannya menimbun harta benda tanpa mengetahui penggunaannya, kesenangannya pada perbuatan yang keras dan kejam dan hal-hal yang serupa, menjadikannya benar-benar iblis yang berbahaya.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera membulatkan tekadnya untuk memulai dengan perjuangannya melepaskan diri dari bayangan iblis Kemundungan itu dan sekaligus melenyapkannya. Bukan sekedar melenyapkan Kebo Sindet karena dendam yang membara di dalam dadanya, namun yang terpenting baginya, lenyapnya Kebo Sindet akan mengurangi kekisruhan yang terjadi di tanah Tumapel. Dengan demikian maka debar di dada Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin reda. Sejenak kemudian ia sudah menemukan ketenangannya kembali. Meskipun demikian, maka serasa tanah tempatnya berpijak menjadi terlampau panas. Pancaran mata Kebo Sindet masih juga mempengaruhinya. Mata yang menyala di dalam lingkungan wajah yang sebeku mayat.
Karena Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, terdengar Kebo Sindet berkata pula “He Mahisa Agni. Katakan pilihanmu. Apakah kau akan menyerah atau melawan”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan dapat terus-menerus berdiam diri. Ia harus menjawab. Karena itu maka terdengar suaranya dalam “Aku sudah siap Kebo Sindet. Selama ini aku menunggu bahwa saat serupa ini akan datang”.
Wajah yang beku itu kini menjadi semakin tegang. Namun sejenak kemudian kembali meledak suara tertawanya yang mengerikan itu. Suara itu berkumandang di seluruh hutan, menghalau binatang-binatang yang sedang asyik makan dedaunan. Harimau-harimau yang sedang tidur nyenyak, serentak terbangun dan mengaum bersahut-sahutan. Burung-burung berterbangan menghindari getaran udara yang seakan-akan menghimpit dada.
Mahisa Agni pun merasakan, betapa dahsyat lontaran suara tertawa itu. Bukan saja pengaruh kedahsyatan tenaga yang telah menggetarkan hutan dan rawa-rawa itu, tetapi juga pengaruh perbawanya yang besar telah menggetarkan hati Mahisa Agni.
“Aku harus menyadari keadaan” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya “aku tidak boleh terpengaruh oleh perasaanku. Aku bukan budak dan bukan reh-rehan Kebo Sindet. Aku berada dalam tataran yang sama. Karena itu maka aku pun harus dapat berbuat serupa itu pula”.
Tetapi Mahisa Agni tidak ingin memamerkan kemampuannya melontarkan tenaganya lewat getaran-getaran suara. Suara apapun. Mungkin suara tertawa, suara teriakan atau bentakan-bentakan yang keras dan menggoncangkan dada. Ketika suara itu mereda, maka Mahisa Agni sempat memandangi Kuda Sempana. Wajah yang menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar seperti kedinginan. Lututnya beradu dan giginya menjadi gemeretak tanpa disadarinya sendiri.
“Alangkah dahsyat pengaruh suara tertawa itu” berkata Mahisa Agni pula di dalam hatinya. Namun ia tidak sempat berangan-angan lagi ketika ia mendengar Kebo Sindet itu berkata
“Apakah kau masih dapat menyombongkan dirimu dihadapanku Agni? Kasihan, nasibmu memang terlampau jelek. Kau akan mati dalam keadaan yang paling menyenangkan buatku”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Kebo Sindet dengan tajamnya. Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Kebo Sindet itu berkata pula,
“Ada dua kemungkinan yang paling menarik. Memanggang kau hidup-hidup di atas api sampai dagingmu matang, atau mengikat kau dengan seutas tambang dan menggantungkannya di atas rawa-rawa itu, sementara kulitmu harus dilukai supaya menitikkan darah. Maka pasti akan terjadi peristiwa yang paling menarik yang pernah aku lihat selama aku tinggal di daerah rawa-rawa ini. Di bawah tempat kau bergantung, akan penuh dengan segala macam binatang air yang buas itu. Tetapi yang paling menarik, bagaimana buaya-buaya kerdil melonjak-lonjak menggapai tubuhmu yang terkatung-katung diatasnya. Sampai pada suatu saat salah seekor dari padanya akan berhasil merobek tubuhmu dan menyeretmu kedasar rawa-rawa yang keruh itu”.
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, Tetapi terasa juga hatinya bergetar mendengar ancaman itu. Seandainya ya, seandainya hal itu terjadi, maka apakah yang akan di perbuatnya? Berteriak-teriak memaki atau menangis melolong-lolong minta belas kasihan, atau diam sambil mengatupkan mulut rapat-rapat dan menggeretakkan gigi menahan sakit dan ngeri?
“Orang ini benar-benar buas” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun dengan demikian maka hasratnya. untuk melenyapkan Kebo Sindet itu menjadi semakin besar pula.
“Sekarang bersiaplah. Apakah kau benar-benar menguasai ilmu Empu Sada seperti orangnya sendiri? He, apakah kau juga memiliki tongkat panjang seperti milik Empu Sada dan senjata semacam yang disebut rangkapannya?” Mahisa Agni tetap membisu. “Setan kecil” Kebo Sindet hampir berteriak “bersiaplah. Sudah sampai saatnya kau mati dalam keadaan yang paling menyedihkan”.
Mahisa Agni sama sekali tidak mengucapkan kata-kata. Tetapi kini ia berkisar selangkah mempersiapkan dirinya. Dilihatnya Kebo Sindet telah bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan. Mahisa Agni akhirnya menjadi muak mendengar suara Kebo Sindet itu, sehingga tanpa sesadarnya ia menjawab
“Berbuatlah menurut kehendakmu. Akupun akan berbuat sesuai dengan kehendakku sendiri”.
“O, kau benar-benar telah menjadi gila. Mungkin pengalamanmu di sini telah benar-benar membuatmu kehilangan keseimbangan. Tetapi meskipun demikian kau harus tahu, bahwa menyerah akan menjadi jauh lebih baik dari pada mencoba mengadakan perlawanan yang pasti juga tidak akan berarti apa-apa kecuali menambah kemarahanku saja”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Dalam saat-saat terakhir itu ia mencoba mengingat segala pesan gurunya. Ia tidak boleh tenggelam dan kehilangan akal menghadapi segala macam sikap Kebo Sindet. Kekasaran dan kebuasannya harus dihadapinya dengan tenang. Caranya memperkecil hati lawan dan melemahkan daya perlawanannya.
Kebo Sindetlah yang kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia melihat sikap Mahisa Agni, yang agaknya cukup yakin akan dirinya. Tenang dan mantap. Wajah anak muda itu kini sama sekali tidak membayangkan ketakutan dan kecemasan seperti yang dilihatnya setiap hari. Dengan demikian maka Kebo Sindet kini yakin, bukan Mahisa Agni lah yang menjadi kehilangan kepribadiannya, tetapi ia sendirilah yang telah terkecoh oleh anak itu. Terdengar Kebo Sindet menggeram. Katanya berdesis
“Kau memang bodoh Agni. Atau kau memang mencoba membunuh diri? Tetapi cara membunuh diri yang kau pilih adalah cara yang salah”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Kini ia berdiri tegak menghadap kearah Kebo Sindet dengan kaki merenggang. Ia melihat ditangan Kebo Sindet itu tergenggam sehelai ikat pinggang kulit yang tebal. Sebuah senjata yang cukup baik bagi lawannya. Sedang dipinggangnya tergantung sebuah golok yang besar.
“Senjata-senjata itu harus mendapat perhatian” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Mahisa Agni itu merendah ketika ia melihat Kebo Sindet berjalan mendekatinya. Tubuhnya kemudian dimiringkannya. Satu kakinya ditariknya setapak kebelakang.
“He, kau sudah siap untuk berkelahi?” berkata Kebo Sindet yang menjadi semakin dekat, “kau memang gila”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi mestinya berdesir ketika ia melihat Kebo Sindet memutar ikat pinggang kulitnya.
“Bagus” berkata iblis dari Kemundungan itu “kita akan segera mulai. Sebutlah nama ibu, bapa dan gurumu. Atau setan, iblis dan tetekan, yang barangkali selama ini telah memberimu ilmu yang ajaib” Kebo Sindet itu berhenti sebentar, lalu “Tetapi sebelum mati, katakanlah, siapakah yang telah mengajari kau memahami ilmu Empu Sada?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap untuk meloncat menyerang, atau melawan serangan lawannya. Sementara itu ikat pinggang Kebo Sindet masih saja berputar di atas kepalanya. Semakin lama semakin cepat, melampaui kecepatan baling-baling.
“Kau tidak mau menyebut sebuah nama?” Mahisa Agni masih tetap membisu. “Oh, kau benar-benar anak setan” geram Kebo Sindet. Matanya menjadi semakin membara diwajahnya yang beku. Selangkah ia maju dan kini putaran ikat pinggangnya menjadi condong.
Mahisa Agni berkisar setapak. Sekali lagi dadanya berdesir, ketika tiba-tiba saja ia melihat Kebo Sindet meloncat sambil berteriak nyaring. Suaranya bergema di seluruh hutan dan mengguncangkan pepohonan. Iblis dari Kemundungan itu sudah mulai. Meskipun Mahisa Agni telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan, namun serangan itu hampir-hampir saja telah mematahkan tulang lehernya ketika ikat pinggang kulit itu berdesing beberapa jari saja dari kepalanya.
“Bukan main” dengan serta merta Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya.
Kini ia benar-benar harus berhati-hati. Ia tidak hanya sekedar bermain-main dengan Kuda Sempana. Tetapi ia sedang berkelahi dengan Kebo Sindet. Seorang yang mengerikan, yang memiliki ilmu dan pengalaman terlampau banyak. Sejak ilmunya meningkat dalam asuhan gurunya sendiri dan Empu Sada, Mahisa Agni sama sekali belum pernah mempergunakan dalam sebuah perkelahian yang sungguh-sungguh, selain latihan-latihan saja bersama kedua orang tua itu. Dan kini, yang pertama dihadapinya adalah seorang iblis yang bernama Kebo Sindet. Iblis yang ditakuti oleh hampir setiap orang yang pernah mendengar namanya.
Kebo Sindet yang melihat bahwa Mahisa Agni berhasil menghindari serangannya itu tidak segera menyerangnya pula. Tetapi justru ia surut selangkah. Terdengar suaranya parau,
“Kau telah benar-benar membuat aku heran. Ayo, katakan, siapa yang datang ketempat ini dan memberi kau ilmu demit itu?”
Mahisa Agni tidak menyahut. Debar dadanya kini telah mereda. Tetapi matanya tidak berkisar dari tangan Kebo Sindet yang menggenggam ikat pinggangnya itu. “Kau tidak mau menyebutkan?”
Mahisa Agni tidak menyebutkan. Tetapi dadanya tergetar karena tiba-tiba ia mendengar suara menggelegar dilangit. Guruh. Sekilas ia menengadahkan wajahnya. Dilihatnya awan yang hitam mengalir dengan cepatnya ke Barat.
“Hem” katanya di dalam hati “mendung itu terlampau tebal. Kalau hujan turun di lereng gunung, maka kali-kali akan banjir. Bagaimana kira-kira dengan Bendungan Karautan sekarang?”
Tiba-tiba saja keinginannya untuk segera melihat bendungan itu telah melonjak di dalam hatinya. Sentuhan perasaan itu di dadanya telah membuatnya semakin bernafsu untuk segera keluar dari sarang hantu ini. Ia ingin segera melihat bendungan di Padang Karautan dan segera ingin bertemu dengan orang-orang lain. Sekilas terbayang wajah pamannya, Empu Gandring yang mencoba melindunginya. Tetapi karena yang dihadapinya waktu itu sepasang iblis dari Kemundungan, maka adalah diluar kemampuannya untuk menyelamatkannya.
“Alangkah senangnya kalau paman Empu Gandring ada disini pula” katanya di dalam hati. Ia memang pernah mendengar ceritera gurunya tentang pamannya yang tidak dapat langsung menemuinya karena permintaan gurunya itu.
Meskipun angan-angan Mahisa Agni itu menjelajahi masa-masa lampaunya dan masa-masa yang akan dihadapinya, tetapi ia sama sekali tidak lengah. Segera ia melihat tangan Kebo Sindet yang memutar ikat pinggangnya itu bergerak. Secepat itu pula ia melihat Kebo Sindet meloncat menyerangnya pula. Kini serangan iblis itu mendatar rendah mengarah ke dada Mahisa Agni. Dengan sigapnya pula Mahisa Agni mengelakkan dirinya. Selangkah ia meloncat surut. Ia ingin membalas serangan itu dengan serangan pula. Tetapi ternyata gerak Kebo Sindet cukup cepat untuk menyusulnya dengan sebuah serangan pula.
Adalah suatu keuntungan bagi Mahisa Agni, bahwa sampai saat itu Kebo Sindet belum menjajagi ketinggian ilmu Mahisa Agni, sehingga Kebo Sindet masih menganggap bahwa Mahisa Agni tidak lebih dari seorang anak muda yang sombong, yang terlalu merasa dirinya cukup mampu untuk melawannya. Dengan demikian maka Kebo Sindet masih belum sampai pada puncak ilmunya. Kecepatan dan kekuatannya masih belum dikerahkannya seluruhnya.
Karena itu, maka sekali lagi Mahisa Agni yang tidak menyangka, bahwa serangan Kebo Sindet akan datang beruntun, yang telah dikejutkan oleh gerak yang tidak diduga-duganya, masih sempat mengelakkan dirinya, dengan sebuah loncatan yang panjang. Namun dengan demikian ia sadar sepenuhnya, bahwa ia berhadapan dengan Kebo Sindet, seorang iblis yang memiliki pengalaman yang cakup banyak dan beraneka-macam. Tetapi bahwa sekali lagi Mahisa Agni dapat melepaskan diri dari serangannya, telah benar-benar mengejutkan Kebo Sindet. Sejenak ia berdiri saja dengan sorot mata bertanya-tanya. Diawasinya Mahisa Agni yang kini telah berhasil berdiri tegak di atas tanah dengan sepasang kakinya yang kokoh kuat. Matanya kini memancarkan sinar yang membara, seperti hatinya yang telah membara pula.
“Anak setan” terdengar Kebo Sindet memggeram, “dari mana kau memiliki ilmu yang memungkinkan kau lolos dari seranganku?” Mahisa Agni tidak menjawab. “Katakan. Katakanlah supaya kesalahanmu berkurang di mataku. Supaya aku dapat membuat parhitungan dengan orang itu, karena ialah sumber dari segala pengkhianatanmu ini”. Mulut Mahisa Agni masih terkatub rapat-rapat. Yang terdengar justru gemeretak giginya beradu. “Baik. Baiklah kalau kau ingin tetap membisu. Kalau aku cincang tubuhmu, maka orang itu pasti akan datang juga”.
Wajah kebo Sindet yang beku itu menjadi semakin menegang. Matanya menjadi merah seperti api. Tangannya yang menggenggam ikat pinggang kulit itu menjadi gemetar. Selangkah ia maju. Kebuasan yang mengerikan kini membayang semakin nyata di wajahnya. Ketika guruh meledak di langit, Kebo Sindet itu meloncat secepat kilat menyerang Mahisa Agni dengan ayunan ikat pinggangnya. Suara yang berdesing telah menyambar telinga Mahisa Agni. Namun ia masih sempat menghindarkan kepalanya dari sentuhan ikat pinggang kulit itu. Ia kini sadar sepenuhnya, bahwa Kebo Sindet sudah sampai kepuncak kemarahannya. Ia harus menjadi semakin berhati-hati. Meskipun gurunya menganggap bahwa ilmunya sudah cukup baik untuk melawan ilmu Kebo Sindet, namun pengalaman dan kelicikan akal Kebo Sindet agaknya akan ikut serta menentukan akhir dari perkelahian itu.
Karena Mahisa Agni berhasil menghindari serangannya pula, maka Kebo Sindet menjadi benar-benar terbakar hatinya. Ia semakin mendapat gambaran tentang kemampuan lawannya yang selama ini dianggapnya sudah lumpuh sama sekali. Ternyata ia masih berhasil menghindari serangannya beberapa kali. Dengan demikian, maka Kebo Sindet berpendapat, bahwa Mahisa Agni telah benar-benar menemukan suatu kekuatan yang dapat dibanggakannya, sehingga ia telah berani langsung melawannya. Itulah sebabnya, maka Kebo Sindet berusaha memperbaiki keadaannya. Ia tidak lagi menganggap bahwa Mahisa Agni hanya sekedar menyombongkan dirinya karena ia tidak mampu memperhitungkan kekuatan Kebo Sindet yang sebenarnya. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Agni memiliki kemampuan yang cukup, bahkan di luar dugaannya.
Tetapi Mahisa Agni pun telah memperhitungkan segala kemungkinan sehingga ia pun segera menyesuaikan dirinya. Ketika ia melihat mata Kebo Sindet seakan-akan telah menyala, maka sampailah Mahisa Agni pada kesimpulan, bahwa perkelahian itu akan segera sampai pada puncaknya. Demikianlah sebenarnya yang terjadi. Ketika Kebo Sindet dengan darah yang mendidih berusaha segera melumpuhkan lawannya, maka Mahisa Agni pun segera menuangkan segala ilmunya untuk melawan. Dengan demikian maka perkelahian itupun segera meningkat menjadi semakin seru. Kebo Sindet dengan garangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung alap-alap. Cepat dan mendebarkan jantung. Namun Mahisa Agni pun mampu melawannya dengan kecepatan yang seimbang. Tubuhnya seakan-akan menjadi seringan kapas, namun tenaganya menjadi sekuat banteng ketaton.
Tetapi ternyata ikat pinggang kulit di tangan Kebo Sindet itu benar-benar telah mengganggu keseimbangan. Mahisa Agni tidak dapat membiarkan dirinya disentuh oleh ikat pinggang kulit itu. Setiap sentuhan pasti akan dapat mengelupaskan kulitnya. Karena itu, maka setiap kali Mahisa Agni masih harus selalu meloncat menghindari lecutan ikat pinggang kulit itu, yang ternyata semakin lama menjadi semakin cepat berputar. Bahkan kemudian Mahisa Agni seakan-akan melihat gumpalan asap yang kemerah-merahan berusaha melibat dirinya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa gumpalan yang tampaknya seperti asap itu adalah ayunan ikat pinggang Kebo Sindet. Kalau asap itu berhasil melibatnya, maka ia pasti tidak akan dapat keluar lagi.
Dengan demikian, betapapun Mahisa Agni mampu bergerak secepat tatit yang meloncat dilangit, namun ia tidak akan dapat menembus gumpalan asap itu. Sehingga mustahil baginya untuk dapat menyentuh tubuh Kebo Sindet yang seakan-akan dilindungi oleh gumpalan asap itu. Terdengar Mahisa Agni kemudian menggeretakkan giginya. Betapapun ia mencoba memutar otaknya, namun ia melihat kesulitan yang tak tertembus olehnya. Seandainya kemampuan mereka berimbang, namun Kebo Sindet menggenggam senjata di tangannya, maka keseimbangan itupun pasti akan terganggu.
Meskipun demikian Mahisa Agni tidak boleh kehilangan akal. Yang dapat dilakukan sementara adalah menghindari sentuhan ikat pinggang kulit itu. Tetapi ikat pinggang kulit itu seolah-olah mempunyai beberapa pasang mata, sehingga kemanapun ia menghindar, maka ikat pinggang itu selalu menyambarnya, mematuk dan berusaha melibatnya. Mahisa Agni kemudian berdesah di dalam hatinya. Ternyata ia benar-benar mendapat kesulitan. Sudah tentu tidak akan menyenangkan baginya, apabila ia hanya mendapat kesempatan untuk menghindar dan berloncatan mundur.
Sementara itu Mahisa Agni masih saja berkelahi. Ia masih berusaha untuk membuat keseimbangan di antara mereka. Namun setiap kali Kebo Sindet yang memiliki pengalaman dan pengetahuan jauh lebih tinggi dari Kuda Sempana, segera dapat mengenal, bahwa Mahisa Agni tidak berkelahi dengan sewajarnya. Sesaat terbersit suatu pikiran yang mendebarkan jantungnya. Empu Sada pasti belum mati.
“Apakah setan itu berhasil masuk ke dalam daerah ini tanpa setahuku dan berusaha membalas dendam lewat anak yang bernama Mahisa Agni ini?”
Jantung Kebo Sindet menjadi semakin berdebaran. Dugaan itu semakin lama menjadi semakin kuat.
“Tetapi, tidak seorang pun dapat memasuki daerah ini tanpa aku sendiri” ia mencoba untuk menenangkan hatinya, tetapi hatinya berkata pula, “Apakah mungkin ia selalu mengintip aku apabila aku lewat daerah rawa-rawa ini dan kemudian mencari jejakku untuk mencoba menyeberang?”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya “Mustahil. Tikus tua itu pasti akan menjadi santapan buaya-buaya kerdil itu atau ular air hijau yang sangat berbisa. Ia tidak banyak mengenal tabiat rawa-rawa yang ganas ini. Atau mungkin ia sudah terbenam di dalam Lumpur”.
Namun, bagaimanapun juga, tata gerak Mahisa Agni yang sengaja ditunjukkannya kepada Kuda Sempana dan Kebo Sindet itu telah mendebarkan dadanya.
“Aku harus segera mendapat kejelasan” Kebo Sindet itu bergumam di dalam hatinya.”Segera”.
Kebo Sindet melangkah semakin dekat lagi. Wajahnya yang beku itu tiba-tiba menegang. Mahisa Agni yang melihat Kebo Sindet berdiri hanya beberapa langkah dari arena dengan wajah yang tegang, segera merasa, bahwa saatnya segera akan datang. Ia harus segera mempersiapkan dirinya tidak sekedar bermain-main dengan Kuda Sempana. Tidak sekedar berpura-pura terlempar surut dan berpura-pura terbanting di atas tanah. Ia harus benar-benar menghapi Kebo Sindet dengan seluruh ilmu yang dimilikinya. Mungkin ia akan benar-benar terlempar beberapa langkah dan benar-benar terbanting di atas tanah dengan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menjadi lebih parah.
Karena itu, maka perhatian Mahisa Agni kemudian sebagian terbesar ditunjukannya kepada Kebo Sindet. Meskipun ia masih tetap berkelahi melawan Kuda Sempana, namun kewaspadaannya terhadap Kebo Sindet ternyata cukup tinggi. Mahisa Agni memperhitungkan, bahwa Kebo Sindet dapat berbuat apa saja yang tidak diduga-duganya sebelumnya. Orang semacam Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikan lagi tata kesopanan dalam berbagai macam hal. Juga dalam perkelahian semacam itu. Ia menganggap cara apapun dapat dipergunakan dan dibenarkan untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian maka Mahisa Agni selalu berusaha untuk tidak berada dalam keadaan yang berbabaya baginya apabila setiap saat Kebo Sindet berbuat sesuatu. Kini Mahisa Agni telah yakin, bahwa Kebo Sindet telah dapat mengenal ilmunya dan menganggap bahwa ilmu itu berbahaya bagi dirinya.
Kebo Sindet yang berdiri hanya beberapa langkah dari arena itu pun menjadi semakin tegang, seperti juga Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar. Semakin lama ia tidak semakin menguasai lawannya, tetapi ternyata lawannya menjadi semakin lincah dan tangguh. Bahkan Kuda Sempana kadang-kadang menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Meskipun demikian, serangan-serangan Mahisa Agni tampaknya selalu tidak berbahaya baginya.
Mahisa Agni masih saja berusaha untuk melayani Kuda Sempana. Setiap kali ia bergeser menjauhi Kebo Sindet. Dan setiap kali pula Kebo Sindet yang memegang ikat pinggang kulit itu selalu berkisar mendekatinya.
“Ikat pinggang itu berbahaya” desis Mahisa Agni di dalam hatinya “Kemarin Kebo Sindet melecutku dengan ikat pinggang itu, tetapi hanya dengan sebagian kecil saja dari tenaganya. Tetapi sekarang pasti akan lain. Mungkin sekaligus ia ingin mematahkan tulang belakangku dengan ikat pinggang itu”.
Namun dalam pada itu, karena perhatiannya sebagian besar tertuju kepada Kebo Sindet, permainan dalam perkelahiannya melawan Kuda Sempana menjadi kurang baik. Kadang-kadang ia berbuat sesuatu yang sangat membingungkan lawannya. Bahkan kadang-kadang Kuda Sempana hanya berdiri saja keheranan melihat serangan Mahisa Agni yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Tetapi ternyata ketika serangan yang tak terelakkan itu menyentuh tubuhnya, maka ia sama sekali tidak mengalami cidera apapun. Bahkan seakan-akan Mahisa Agni sama sekali sudah kehabisan tenaga untuk dapat menyakitinya.
Hal-hal yang serupa itulah yang kemudian membuat kemarahan Kebo Sindet semakin membakar jantungnya. Sedangkan Kuda Sempana sendiri tidak tahu bagaimana ia harus menanggapinya. Ia berkelahi saja dengan bersungguh-sungguh. Itu sudah dilakukannya. Tetapi Kuda Sempana itu terkejut ketika ia mendengar Kebo Sindet berteriak nyaring,
“Cukup. Cukup Mahisa Agni. Permainanmu memang baik sekali. Kau tidak dapat dikalahkan oleh Kuda Sempana. Apalagi seorang Kuda Sempana, lima Kuda Sempana pun tidak akan dapat mengalahkan kau”.
Dengan serta merta maka perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni itu pun terhenti. Kuda Sempana meloncat beberapa langkah surut. Wajahnya memancarkan beribu macam pertanyaan yang mengguncang-guncang hati
“Apakah maksud Kebo Sindet sebenarnya? Apakah aku dianggapnya kurang bersungguh-sungguh atau dianggapnya aku sudah tidak berguna lagi sehingga lima Kuda Sempana tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Agni?”
Dalam kegelisahan itu Kuda Sempana memandangi wajah Mahisa Agni yang menegang. Dilihatnya anak muda itu berdiri kaku di tempatnya. Tetapi, dalam pada itu dada Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar pula. Di dalam hatinya ia berkata,
“Agaknya kini telah sampai saatnya aku berbuat sesuatu”.
Mahisa Agni itu megerutkan keningnya ketika ia melihat Kebo Sindet melangkah maju sambil berkata, “Kau benar-benar dahsyat Agni. Kau adalah orang yang paling licik di seluruh dunia. Jauh lebih licik dari Jajar gemuk yang aku panggang di dalam api di rumahnya sendiri”.
Dada Mahisa Agni berdesir. Ia tidak tahu, siapakah yang dimaksud dengan Jajar yang gemuk Tetapi bahwa orang itu telah dipanggang di dalam api di rumahnya sendiri, benar-benar telah membuatnya semakin berdebar-debar.
“Kau mungkin belum pernah mendengar apa yang telah terjadi itu” berkata Kebo Sindet “tetapi baiklah, aku akan mengatakannya. Jajar itu telah mencoba berbohong kepadaku. Ketika ia menyanggupkan diri mencari tebusan untuk membebaskanmu dari Ken Dedes, ia telah berusaha membunuhku dengan lima belas kawan-kawannya atau bahkan lebih. Tetapi akhir dari pada hidupnya adalah mati ditelan api. Menyenangkan sekali. Aku ikat ia pada tiang rumahnya yang terbakar perlahan-lahan”.
Dan tiba-tiba saja Kebo Sindet yang wajahnya selama ini membeku seperti wajah mayat itu terangkat perlahan-lahan. Kemudian meledaklah suara tertawa yang mengerikan. Suara tertawa yang belum pernah didengarnya. Bergetar mengumandang di seluruh daerah hutan berrawa-rawa ini. Seolah-olah suara tertawa itu telah mengguncangkan ranting-ranting pepohonan dan menggugurkan dedaunan. Burung-burung berterbangan menjauh, dan wajah air yang buram di sekitar neraka itupun seolah-olah telah bergolak.
“Bukan main” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia seolah-olah mendengar suara hantu yang paling gila dari liang kuburnya. Tetapi kemudian berubah menjadi seribu guruh yang meledak bersama-sama di langit yang mendung. “Setan ini benar-benar menakjubkan”.
Suara tertawa Kebo Sindet itu pun semakin lama menjadi semakin mereda. Perlahan-lahan suara itu hilang seakan-akan menyusup ke dalam tanah yang lembab, mengendap untuk setiap saat mengguncangkan daerah itu kembali. Ketika suara tertawa itu mereda, maka terdengar Kebo Sindet itu berkata dengan suaranya yang parau,
“Mahisa Agni. Aku ingin melihat apa yang terjadi itu terulang di sini. Meskipun aku tidak akan membakar sebuah rumah, tetapi rerumputan dan dedaunan yang kering akan cukup panas untuk mematangkan dagingmu”.
Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Ia kini telah yakin, bahwa saat-saat yang ditunggunya telah tiba.
“Sayang Agni, bahwa nasibmu memang terlampau jelek. Sebenarnya aku memang sudah tidak memerlukan kau lagi. Aku memang ingin membunuhmu dan membuang mayatmu ke dalam rawa-rawa. Buaya-buaya kerdil itu akan sangat berterima kasih kepadaku. Tetapi kemudian timbullah belas kasianku. Kau masih tetap aku hidupi. Kau dan Kuda Sempana akan dapat menjadi hiburan yang baik di dalam duniaku yang sepi ini. Tetapi kau sudah membuat kesalahan. Caramu berkelahi melawan Kuda Sempana telah menumbuhkan keinginanku untuk membunuhmu. Bahkan aku ingin berbuat sesuatu yang paling menyenangkan bagiku dengan akhir hidupmu itu”.
Dada Mahisa Agni manjadi semakin berdebar-debar. Tetapi sesuatu yang menyentuh dadanya adalah pengakuan Kebo Sindet, bahwa dunianya terlampau sepi. Kesepian itulah agaknya yang telah mendorongnya menjadi semakin tersesat.
“Bersiaplah Mahisa Agni? Apakah kau ingin melawan?” Mahisa Agni masih berdiam diri. “Kau mengecewakan aku. Kau tidak bersedia menemani aku dengan cara yang telah aku pilih. Bahkan kau mencoba menyombongkan dirimu, membuat Kuda Sempana bingung karena unsur-unsur gerak yang serupa. He, darimana kau pelajari ilmu yang mirip dengan ilmu Kuda Sempana itu? Apakah kau sendiri yang menciptakannya?” Mahisa Agni tidak menjawab. “Apakah ada setan belang yang datang dan mengajarimu he?” Tidak terdengar jawaban.
“Baiklah, ternyata kau telah memaksa aku untuk berbuat sesuatu. Kau tidak sekedar menemani aku dalam duniaku yang sepi ini dengan permainan-permainan yang mengasyikkan bersama Kuda Sempana. Tetapi ternyata aku sendiri harus ikut bermain-main”. Kebo Sindet itu berhenti sebentar, lalu “Ayo, apakah kau akan melawan atau menyerah saja supaya aku menaruh sedikit belas kasihan pada saat-saat terakhirmu? Tetapi apabila kau memang terlampau sombong, dan merasa bahwa ilmumu itu mampu mengimbangi ilmu Kebo Sindet, marilah, kita lihat, apakah yang akan terjadi atasmu”. Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab.
“Apakah kau sudah menjadi bisu he?” Kebo Sindet itu kemudian berpaling kearah Kuda Sempana, “Kuda Sempana, kau akan kehilangan kawan. Tetapi jangan takut. Ternyata pikiran untuk membuat permainan adu orang itu sangat menarik. Tetapi kali ini aku terpaksa melenyapkan kawan bermainmu. Namun aku akan segera mencarikan gantinya”.
Jantung Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Semakin lama Kebo Sindet pasti akan menjadi semakin buas. Dalam dunianya yang asing, ia kehilangan segala macam bentuk, sifat dan watak kemanusiaannya. Sifat-sifat yang aneh dan tidak wajar akan menguasainya, sehingga dengan demikian ia akan menjadi semakin berbahaya. Kesenangannya menimbun harta benda tanpa mengetahui penggunaannya, kesenangannya pada perbuatan yang keras dan kejam dan hal-hal yang serupa, menjadikannya benar-benar iblis yang berbahaya.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera membulatkan tekadnya untuk memulai dengan perjuangannya melepaskan diri dari bayangan iblis Kemundungan itu dan sekaligus melenyapkannya. Bukan sekedar melenyapkan Kebo Sindet karena dendam yang membara di dalam dadanya, namun yang terpenting baginya, lenyapnya Kebo Sindet akan mengurangi kekisruhan yang terjadi di tanah Tumapel. Dengan demikian maka debar di dada Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin reda. Sejenak kemudian ia sudah menemukan ketenangannya kembali. Meskipun demikian, maka serasa tanah tempatnya berpijak menjadi terlampau panas. Pancaran mata Kebo Sindet masih juga mempengaruhinya. Mata yang menyala di dalam lingkungan wajah yang sebeku mayat.
Karena Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, terdengar Kebo Sindet berkata pula “He Mahisa Agni. Katakan pilihanmu. Apakah kau akan menyerah atau melawan”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan dapat terus-menerus berdiam diri. Ia harus menjawab. Karena itu maka terdengar suaranya dalam “Aku sudah siap Kebo Sindet. Selama ini aku menunggu bahwa saat serupa ini akan datang”.
Wajah yang beku itu kini menjadi semakin tegang. Namun sejenak kemudian kembali meledak suara tertawanya yang mengerikan itu. Suara itu berkumandang di seluruh hutan, menghalau binatang-binatang yang sedang asyik makan dedaunan. Harimau-harimau yang sedang tidur nyenyak, serentak terbangun dan mengaum bersahut-sahutan. Burung-burung berterbangan menghindari getaran udara yang seakan-akan menghimpit dada.
Mahisa Agni pun merasakan, betapa dahsyat lontaran suara tertawa itu. Bukan saja pengaruh kedahsyatan tenaga yang telah menggetarkan hutan dan rawa-rawa itu, tetapi juga pengaruh perbawanya yang besar telah menggetarkan hati Mahisa Agni.
“Aku harus menyadari keadaan” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya “aku tidak boleh terpengaruh oleh perasaanku. Aku bukan budak dan bukan reh-rehan Kebo Sindet. Aku berada dalam tataran yang sama. Karena itu maka aku pun harus dapat berbuat serupa itu pula”.
Tetapi Mahisa Agni tidak ingin memamerkan kemampuannya melontarkan tenaganya lewat getaran-getaran suara. Suara apapun. Mungkin suara tertawa, suara teriakan atau bentakan-bentakan yang keras dan menggoncangkan dada. Ketika suara itu mereda, maka Mahisa Agni sempat memandangi Kuda Sempana. Wajah yang menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar seperti kedinginan. Lututnya beradu dan giginya menjadi gemeretak tanpa disadarinya sendiri.
“Alangkah dahsyat pengaruh suara tertawa itu” berkata Mahisa Agni pula di dalam hatinya. Namun ia tidak sempat berangan-angan lagi ketika ia mendengar Kebo Sindet itu berkata
“Apakah kau masih dapat menyombongkan dirimu dihadapanku Agni? Kasihan, nasibmu memang terlampau jelek. Kau akan mati dalam keadaan yang paling menyenangkan buatku”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Kebo Sindet dengan tajamnya. Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Kebo Sindet itu berkata pula,
“Ada dua kemungkinan yang paling menarik. Memanggang kau hidup-hidup di atas api sampai dagingmu matang, atau mengikat kau dengan seutas tambang dan menggantungkannya di atas rawa-rawa itu, sementara kulitmu harus dilukai supaya menitikkan darah. Maka pasti akan terjadi peristiwa yang paling menarik yang pernah aku lihat selama aku tinggal di daerah rawa-rawa ini. Di bawah tempat kau bergantung, akan penuh dengan segala macam binatang air yang buas itu. Tetapi yang paling menarik, bagaimana buaya-buaya kerdil melonjak-lonjak menggapai tubuhmu yang terkatung-katung diatasnya. Sampai pada suatu saat salah seekor dari padanya akan berhasil merobek tubuhmu dan menyeretmu kedasar rawa-rawa yang keruh itu”.
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, Tetapi terasa juga hatinya bergetar mendengar ancaman itu. Seandainya ya, seandainya hal itu terjadi, maka apakah yang akan di perbuatnya? Berteriak-teriak memaki atau menangis melolong-lolong minta belas kasihan, atau diam sambil mengatupkan mulut rapat-rapat dan menggeretakkan gigi menahan sakit dan ngeri?
“Orang ini benar-benar buas” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun dengan demikian maka hasratnya. untuk melenyapkan Kebo Sindet itu menjadi semakin besar pula.
“Sekarang bersiaplah. Apakah kau benar-benar menguasai ilmu Empu Sada seperti orangnya sendiri? He, apakah kau juga memiliki tongkat panjang seperti milik Empu Sada dan senjata semacam yang disebut rangkapannya?” Mahisa Agni tetap membisu. “Setan kecil” Kebo Sindet hampir berteriak “bersiaplah. Sudah sampai saatnya kau mati dalam keadaan yang paling menyedihkan”.
Mahisa Agni sama sekali tidak mengucapkan kata-kata. Tetapi kini ia berkisar selangkah mempersiapkan dirinya. Dilihatnya Kebo Sindet telah bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan. Mahisa Agni akhirnya menjadi muak mendengar suara Kebo Sindet itu, sehingga tanpa sesadarnya ia menjawab
“Berbuatlah menurut kehendakmu. Akupun akan berbuat sesuai dengan kehendakku sendiri”.
“O, kau benar-benar telah menjadi gila. Mungkin pengalamanmu di sini telah benar-benar membuatmu kehilangan keseimbangan. Tetapi meskipun demikian kau harus tahu, bahwa menyerah akan menjadi jauh lebih baik dari pada mencoba mengadakan perlawanan yang pasti juga tidak akan berarti apa-apa kecuali menambah kemarahanku saja”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Dalam saat-saat terakhir itu ia mencoba mengingat segala pesan gurunya. Ia tidak boleh tenggelam dan kehilangan akal menghadapi segala macam sikap Kebo Sindet. Kekasaran dan kebuasannya harus dihadapinya dengan tenang. Caranya memperkecil hati lawan dan melemahkan daya perlawanannya.
Kebo Sindetlah yang kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia melihat sikap Mahisa Agni, yang agaknya cukup yakin akan dirinya. Tenang dan mantap. Wajah anak muda itu kini sama sekali tidak membayangkan ketakutan dan kecemasan seperti yang dilihatnya setiap hari. Dengan demikian maka Kebo Sindet kini yakin, bukan Mahisa Agni lah yang menjadi kehilangan kepribadiannya, tetapi ia sendirilah yang telah terkecoh oleh anak itu. Terdengar Kebo Sindet menggeram. Katanya berdesis
“Kau memang bodoh Agni. Atau kau memang mencoba membunuh diri? Tetapi cara membunuh diri yang kau pilih adalah cara yang salah”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Kini ia berdiri tegak menghadap kearah Kebo Sindet dengan kaki merenggang. Ia melihat ditangan Kebo Sindet itu tergenggam sehelai ikat pinggang kulit yang tebal. Sebuah senjata yang cukup baik bagi lawannya. Sedang dipinggangnya tergantung sebuah golok yang besar.
“Senjata-senjata itu harus mendapat perhatian” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Mahisa Agni itu merendah ketika ia melihat Kebo Sindet berjalan mendekatinya. Tubuhnya kemudian dimiringkannya. Satu kakinya ditariknya setapak kebelakang.
“He, kau sudah siap untuk berkelahi?” berkata Kebo Sindet yang menjadi semakin dekat, “kau memang gila”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi mestinya berdesir ketika ia melihat Kebo Sindet memutar ikat pinggang kulitnya.
“Bagus” berkata iblis dari Kemundungan itu “kita akan segera mulai. Sebutlah nama ibu, bapa dan gurumu. Atau setan, iblis dan tetekan, yang barangkali selama ini telah memberimu ilmu yang ajaib” Kebo Sindet itu berhenti sebentar, lalu “Tetapi sebelum mati, katakanlah, siapakah yang telah mengajari kau memahami ilmu Empu Sada?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap untuk meloncat menyerang, atau melawan serangan lawannya. Sementara itu ikat pinggang Kebo Sindet masih saja berputar di atas kepalanya. Semakin lama semakin cepat, melampaui kecepatan baling-baling.
“Kau tidak mau menyebut sebuah nama?” Mahisa Agni masih tetap membisu. “Oh, kau benar-benar anak setan” geram Kebo Sindet. Matanya menjadi semakin membara diwajahnya yang beku. Selangkah ia maju dan kini putaran ikat pinggangnya menjadi condong.
Mahisa Agni berkisar setapak. Sekali lagi dadanya berdesir, ketika tiba-tiba saja ia melihat Kebo Sindet meloncat sambil berteriak nyaring. Suaranya bergema di seluruh hutan dan mengguncangkan pepohonan. Iblis dari Kemundungan itu sudah mulai. Meskipun Mahisa Agni telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan, namun serangan itu hampir-hampir saja telah mematahkan tulang lehernya ketika ikat pinggang kulit itu berdesing beberapa jari saja dari kepalanya.
“Bukan main” dengan serta merta Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya.
Kini ia benar-benar harus berhati-hati. Ia tidak hanya sekedar bermain-main dengan Kuda Sempana. Tetapi ia sedang berkelahi dengan Kebo Sindet. Seorang yang mengerikan, yang memiliki ilmu dan pengalaman terlampau banyak. Sejak ilmunya meningkat dalam asuhan gurunya sendiri dan Empu Sada, Mahisa Agni sama sekali belum pernah mempergunakan dalam sebuah perkelahian yang sungguh-sungguh, selain latihan-latihan saja bersama kedua orang tua itu. Dan kini, yang pertama dihadapinya adalah seorang iblis yang bernama Kebo Sindet. Iblis yang ditakuti oleh hampir setiap orang yang pernah mendengar namanya.
Kebo Sindet yang melihat bahwa Mahisa Agni berhasil menghindari serangannya itu tidak segera menyerangnya pula. Tetapi justru ia surut selangkah. Terdengar suaranya parau,
“Kau telah benar-benar membuat aku heran. Ayo, katakan, siapa yang datang ketempat ini dan memberi kau ilmu demit itu?”
Mahisa Agni tidak menyahut. Debar dadanya kini telah mereda. Tetapi matanya tidak berkisar dari tangan Kebo Sindet yang menggenggam ikat pinggangnya itu. “Kau tidak mau menyebutkan?”
Mahisa Agni tidak menyebutkan. Tetapi dadanya tergetar karena tiba-tiba ia mendengar suara menggelegar dilangit. Guruh. Sekilas ia menengadahkan wajahnya. Dilihatnya awan yang hitam mengalir dengan cepatnya ke Barat.
“Hem” katanya di dalam hati “mendung itu terlampau tebal. Kalau hujan turun di lereng gunung, maka kali-kali akan banjir. Bagaimana kira-kira dengan Bendungan Karautan sekarang?”
Tiba-tiba saja keinginannya untuk segera melihat bendungan itu telah melonjak di dalam hatinya. Sentuhan perasaan itu di dadanya telah membuatnya semakin bernafsu untuk segera keluar dari sarang hantu ini. Ia ingin segera melihat bendungan di Padang Karautan dan segera ingin bertemu dengan orang-orang lain. Sekilas terbayang wajah pamannya, Empu Gandring yang mencoba melindunginya. Tetapi karena yang dihadapinya waktu itu sepasang iblis dari Kemundungan, maka adalah diluar kemampuannya untuk menyelamatkannya.
“Alangkah senangnya kalau paman Empu Gandring ada disini pula” katanya di dalam hati. Ia memang pernah mendengar ceritera gurunya tentang pamannya yang tidak dapat langsung menemuinya karena permintaan gurunya itu.
Meskipun angan-angan Mahisa Agni itu menjelajahi masa-masa lampaunya dan masa-masa yang akan dihadapinya, tetapi ia sama sekali tidak lengah. Segera ia melihat tangan Kebo Sindet yang memutar ikat pinggangnya itu bergerak. Secepat itu pula ia melihat Kebo Sindet meloncat menyerangnya pula. Kini serangan iblis itu mendatar rendah mengarah ke dada Mahisa Agni. Dengan sigapnya pula Mahisa Agni mengelakkan dirinya. Selangkah ia meloncat surut. Ia ingin membalas serangan itu dengan serangan pula. Tetapi ternyata gerak Kebo Sindet cukup cepat untuk menyusulnya dengan sebuah serangan pula.
Adalah suatu keuntungan bagi Mahisa Agni, bahwa sampai saat itu Kebo Sindet belum menjajagi ketinggian ilmu Mahisa Agni, sehingga Kebo Sindet masih menganggap bahwa Mahisa Agni tidak lebih dari seorang anak muda yang sombong, yang terlalu merasa dirinya cukup mampu untuk melawannya. Dengan demikian maka Kebo Sindet masih belum sampai pada puncak ilmunya. Kecepatan dan kekuatannya masih belum dikerahkannya seluruhnya.
Karena itu, maka sekali lagi Mahisa Agni yang tidak menyangka, bahwa serangan Kebo Sindet akan datang beruntun, yang telah dikejutkan oleh gerak yang tidak diduga-duganya, masih sempat mengelakkan dirinya, dengan sebuah loncatan yang panjang. Namun dengan demikian ia sadar sepenuhnya, bahwa ia berhadapan dengan Kebo Sindet, seorang iblis yang memiliki pengalaman yang cakup banyak dan beraneka-macam. Tetapi bahwa sekali lagi Mahisa Agni dapat melepaskan diri dari serangannya, telah benar-benar mengejutkan Kebo Sindet. Sejenak ia berdiri saja dengan sorot mata bertanya-tanya. Diawasinya Mahisa Agni yang kini telah berhasil berdiri tegak di atas tanah dengan sepasang kakinya yang kokoh kuat. Matanya kini memancarkan sinar yang membara, seperti hatinya yang telah membara pula.
“Anak setan” terdengar Kebo Sindet memggeram, “dari mana kau memiliki ilmu yang memungkinkan kau lolos dari seranganku?” Mahisa Agni tidak menjawab. “Katakan. Katakanlah supaya kesalahanmu berkurang di mataku. Supaya aku dapat membuat parhitungan dengan orang itu, karena ialah sumber dari segala pengkhianatanmu ini”. Mulut Mahisa Agni masih terkatub rapat-rapat. Yang terdengar justru gemeretak giginya beradu. “Baik. Baiklah kalau kau ingin tetap membisu. Kalau aku cincang tubuhmu, maka orang itu pasti akan datang juga”.
Wajah kebo Sindet yang beku itu menjadi semakin menegang. Matanya menjadi merah seperti api. Tangannya yang menggenggam ikat pinggang kulit itu menjadi gemetar. Selangkah ia maju. Kebuasan yang mengerikan kini membayang semakin nyata di wajahnya. Ketika guruh meledak di langit, Kebo Sindet itu meloncat secepat kilat menyerang Mahisa Agni dengan ayunan ikat pinggangnya. Suara yang berdesing telah menyambar telinga Mahisa Agni. Namun ia masih sempat menghindarkan kepalanya dari sentuhan ikat pinggang kulit itu. Ia kini sadar sepenuhnya, bahwa Kebo Sindet sudah sampai kepuncak kemarahannya. Ia harus menjadi semakin berhati-hati. Meskipun gurunya menganggap bahwa ilmunya sudah cukup baik untuk melawan ilmu Kebo Sindet, namun pengalaman dan kelicikan akal Kebo Sindet agaknya akan ikut serta menentukan akhir dari perkelahian itu.
Karena Mahisa Agni berhasil menghindari serangannya pula, maka Kebo Sindet menjadi benar-benar terbakar hatinya. Ia semakin mendapat gambaran tentang kemampuan lawannya yang selama ini dianggapnya sudah lumpuh sama sekali. Ternyata ia masih berhasil menghindari serangannya beberapa kali. Dengan demikian, maka Kebo Sindet berpendapat, bahwa Mahisa Agni telah benar-benar menemukan suatu kekuatan yang dapat dibanggakannya, sehingga ia telah berani langsung melawannya. Itulah sebabnya, maka Kebo Sindet berusaha memperbaiki keadaannya. Ia tidak lagi menganggap bahwa Mahisa Agni hanya sekedar menyombongkan dirinya karena ia tidak mampu memperhitungkan kekuatan Kebo Sindet yang sebenarnya. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Agni memiliki kemampuan yang cukup, bahkan di luar dugaannya.
Tetapi Mahisa Agni pun telah memperhitungkan segala kemungkinan sehingga ia pun segera menyesuaikan dirinya. Ketika ia melihat mata Kebo Sindet seakan-akan telah menyala, maka sampailah Mahisa Agni pada kesimpulan, bahwa perkelahian itu akan segera sampai pada puncaknya. Demikianlah sebenarnya yang terjadi. Ketika Kebo Sindet dengan darah yang mendidih berusaha segera melumpuhkan lawannya, maka Mahisa Agni pun segera menuangkan segala ilmunya untuk melawan. Dengan demikian maka perkelahian itupun segera meningkat menjadi semakin seru. Kebo Sindet dengan garangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung alap-alap. Cepat dan mendebarkan jantung. Namun Mahisa Agni pun mampu melawannya dengan kecepatan yang seimbang. Tubuhnya seakan-akan menjadi seringan kapas, namun tenaganya menjadi sekuat banteng ketaton.
Tetapi ternyata ikat pinggang kulit di tangan Kebo Sindet itu benar-benar telah mengganggu keseimbangan. Mahisa Agni tidak dapat membiarkan dirinya disentuh oleh ikat pinggang kulit itu. Setiap sentuhan pasti akan dapat mengelupaskan kulitnya. Karena itu, maka setiap kali Mahisa Agni masih harus selalu meloncat menghindari lecutan ikat pinggang kulit itu, yang ternyata semakin lama menjadi semakin cepat berputar. Bahkan kemudian Mahisa Agni seakan-akan melihat gumpalan asap yang kemerah-merahan berusaha melibat dirinya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa gumpalan yang tampaknya seperti asap itu adalah ayunan ikat pinggang Kebo Sindet. Kalau asap itu berhasil melibatnya, maka ia pasti tidak akan dapat keluar lagi.
Dengan demikian, betapapun Mahisa Agni mampu bergerak secepat tatit yang meloncat dilangit, namun ia tidak akan dapat menembus gumpalan asap itu. Sehingga mustahil baginya untuk dapat menyentuh tubuh Kebo Sindet yang seakan-akan dilindungi oleh gumpalan asap itu. Terdengar Mahisa Agni kemudian menggeretakkan giginya. Betapapun ia mencoba memutar otaknya, namun ia melihat kesulitan yang tak tertembus olehnya. Seandainya kemampuan mereka berimbang, namun Kebo Sindet menggenggam senjata di tangannya, maka keseimbangan itupun pasti akan terganggu.
Meskipun demikian Mahisa Agni tidak boleh kehilangan akal. Yang dapat dilakukan sementara adalah menghindari sentuhan ikat pinggang kulit itu. Tetapi ikat pinggang kulit itu seolah-olah mempunyai beberapa pasang mata, sehingga kemanapun ia menghindar, maka ikat pinggang itu selalu menyambarnya, mematuk dan berusaha melibatnya. Mahisa Agni kemudian berdesah di dalam hatinya. Ternyata ia benar-benar mendapat kesulitan. Sudah tentu tidak akan menyenangkan baginya, apabila ia hanya mendapat kesempatan untuk menghindar dan berloncatan mundur.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar