Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, telah dicobanya untuk menembus putaran ikat pinggang kulit itu. Namun Mahisa Agni tidak segera berhasil, karena yang dilawannya itu adalah seorang yang luar biasa pula, yang mempunyai banyak kelebihan dari orang kebanyakan.
Tetapi Kebo Sindet sendiri menjadi sangat heran menyaksikan Mahisa Agni kini. Anak muda itu ternyata benar-benar mempunyai bekal yang cukup untuk melawannya. Adalah tidak masuk akal, bahwa Mahisa Agni masih saja dapat menghindarkan dirinya, meskipun ia telah berusaha sejauh-jauhnya melihat anak muda itu dengan putaran ikat pinggang kulitnya. Meskipun Mahisa Agni agaknya mengalami kesulitan, namun ia masih saja mampu melepaskan dirinya. Bahkan kadang-kadang masih juga berusaha menyerang menemhus perisai yang dibuatnya.
“Setan kecil ini benar-benar mengherankan” desis Kebo Sindet di dalam hatinya. Namun dengan demikian kemarahannya menjadi kian memuncak pula. “Aku harus dapat membunuhnya. Membunuh dengan cara yang paling gila” katanya di dalam hati pula.
Maka semakin lama tandang Kebo Sindet pun menjadi semakin garang. Ikat pinggangnya berputar semakin cepat. Dengan penuh nafsu Kebo Sindet memutar senjatanya dan menyerang lawannya seperti angin prahara. Sedang Mahisa Agni, masih belum menemukan kesempatan yang baik untuk membalas menyerangnya. Dengan segala macam cara, Mahisa Agni mencoba mencari titik-titik kelemahan lawannya. Namun ia tidak segera menemukannya. Dengan lincahnya Mahisa Agni mencoba menyerang dari segala macam arah. Beberapa kali ia berloncatan memutari lawannya. Namun Kebo Sindet bukan anak-anak yang mudah dibingungkannya. Kebo Sindet adalah seorang yang tanggon, yang menyimpan pengalaman tiada taranya di dalam dirinya.
Bahkan serangan Kebo Sindet semakin lama menjadi semakin dahsyat pula. Gumpalan putaran senjatanya selalu mengejarnya kemanapun ia pergi. Sehingga berkali-kali Mahisa Agni harus meloncat surut. Ketika Mahisa Agni kemudian menyadari dirinya, tiba-tiba dadanya berdesir tajam. Ternyata perkelahian itu telah berkisar beberapa langkah dari titik arena semula. Ketajaman tanggapan Mahisa Agni mengatakan kepadanya, bahwa memang Kebo Sindet dengan sengaja menggeser arena perkelahian itu ke arah yang dikehendaki. Kebo Sindet telah mencoba mendesak Mahisa Agni mendekati daerah rawa-rawa.
“Iblis ini benar-benar licik” geram Mahisa Agni di dalam hatinya.
Ia kemudian menyadari keadaannya. Kebo Sindet pasti akan mendesaknya masuk ke dalam rawa-rawa, dan akan melakukan apa yang dikatakannya. Setidaknya ia akan melihat, tubuhnya terpelanting masuk ke dalam rawa-rawa yang coklat berlumpur itu, yang kemudian pasti akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil dan binatang-binatang air lainnya. Mahisa Agni itu pun menggeram. Dihentakkannya segenap kekuatan dan kemampuannya untuk mencoba menembus senjata lawannya. Namun ternyata ia masih belum mendapat kesempatan.
“Aku tidak boleh menjadi korban karenanya” Mahisa Agni berkata di dalam hatinya, “aku harus dapat menembus senjatanya yang gila itu”.
Mahisa Agni kemudian benar-benar tidak membiarkan dirinya didesak terus masuk ke dalam rawa-rawa. Ketika ia merasa, bahwa kakinya telah menginjak tanah yang basah, maka ia berkata pula di dalam hati,
“Aku tidak akan berbuat licik. Aku kira adalah wajar, bahwa akupun harus bersenjata”.
Tetapi Mahisa Agni tidak segera melihat kesempatan untuk mendapatkan senjata. Perlahan-lahan ia berloncatan ke arah sebatang beringin yang rimbun. Ia ingin mendapat sehelai sulur untuk melawan senjata Kebo Sindet itu. Atau sepotong dahan, atau apapun. Tetapi yang ada di sekitarnya hanyalah pohon-pohon perdu yang tidak akan berarti. Agaknya Kebo Sindet mengerti juga maksud Mahisa Agni. Itulah sebabnya dengan senjata yang ada padanya, serta kemampuan yang luar biasa, ia mendesak Mahisa Agni terus, dan mencegahnya mendekat batang beringin yang dapat memberinya kemungkinan untuk mempergunakan sulur-sulurnya sebagai senjata.
“Demit yang licik”
Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Apalagi ketika terasa, bahwa tanah-tanah yang diinjaknya telah mulai gembur. Adalah nyata sekali dalam pertempuran itu, meskipun Mahisa Agni memiliki ilmu dan kekuatan yang tidak kalah dari Kebo Sindet, namun pengalaman setan Kemundungan itu jauh lebih banyak dari Mahisa Agni sendiri. Itulah sebabnya, maka Kebo Sindet masih mempunyai kesempatan untuk mendesak lawannya, dan meskipun tidak langsung dapat menguasainya dan lambat namun hampir dapat dipastikan ia akan menyelesaikan perkelahian itu sesuai dengan kehendaknya.
Bahkan sejenak kemudian terdengar suaranya mengguntur, “Nah, Agni. Berpalinglah. Beberapa langkah di belakangmu adalah rawa-rawa yang didiami oleh buaya-buaya kerdil itu. Sebentar lagi tubuhmu pasti akan menjadi santapan yang segar. Terimalah nasibmu yang malang karena kesombonganmu”.
Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Tetapi pohon beringin itu masih cukup jauh. Apalagi agaknya Kebo Sindet mendorongnya ke arah yang lain, kearah semakin jauh. Dengan segala kemampuan Mahisa Agni telah mencoba melawan. Tetapi senjata lawannya benar-benar telah merubah keseimbangan. Meskipun Kebo Sindet tidak berhasil menguasainya langsung, tetapi ia seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk melawan. Bahkan kini ia telah didesak hampir sampai ke bibir rawa-rawa yang gembur berlumpur, yang akan dapat menelannya hidup-hidup.
Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba mempertahankan dirinya supaya tidak terdesak semakin dekat ke tepi rawa-rawa. Namun libatan ayunan ikat pinggang Kebo Sindet benar-benar telah mendesaknya. Berkali-kali Mahisa Agni mencoba untuk menghindar ke samping dan mencari kesempatan untuk meloncat ke arah yang lain, supaya ia tidak terjerumus ke dalam rawa-rawa, tetapi Kebo Sindet pun berusaha mati-matian, agar lawannya tidak berkesempatan lolos.
Ternyata bahwa senjata Kebo Sindet itu benar-benar bermanfaat pada saat-saat yang demikian. Pada saat mereka berada pada puncak ilmu masing-masing, dimana mereka seakan-akan berada pada titik keseimbangan, maka setitik debu yang paling kecilpun akan dapat merubah keseimbangan itu. Tetapi Mahisa Agni harus menghadapi kenyataan itu. Karena itu ia bertahan untuk tidak berkisar semakin dekat lagi ke arah rawa-rawa. Ia harus mengerahkan setiap kemungkinan yang dimilikinya untuk melawan. Meskipun demikian, maka terasa ikat pinggang kulit Kebo Sindet itu mulai menyentuhnya. Mahisa Agni menyeringai menahan pedih yang menyengat kulitnya ketika ujung ikat pinggang lawannya menyinggung pundaknya. Tepat seperti dugaannya, ujung ikat pinggang itu benar-benar dapat mengelupas kulitnya, sehingga terasa bahwa darahnya mulai mengalir.
”Ha” berteriak Kebo Sindet, “darahmu mulai menetes dari lukamu. Setitik darah telah cukup untuk memanggil buaya-buaya kerdil itu. Pekerjaanku sekarang tinggal mendorongmu masuk ke dalam rawa itu dan menyaksikan tubuhmu disobek-sobek oleh buaya-buaya kerdil yang rakus”.
Mahisa Agni menggeram. Tetapi adalah sebuah kenyataan pula bahwa pundaknya telah terluka dan darah memang telah meleleh dari luka itu, meskipun luka itu tidak terlampau dalam. Meskipun demikian, keadaan itu telah membuat Mahisa Agni disentuh oleh perasaan cemas. Bukan karena ia takut mengalami akibat yang paling pahit. Mati. Namun yang paling menggelisahkan adalah, bahwa dengan demikian Kebo Sindet masih akan mendapat kesempatan untuk berbuat sekehendak hatinya.
Sekilas terbayang wajah kedua orang yang selama ini mengasuhnya. Empu Purwa dan Empu Sada. Keduanya pasti akan dapat membinasakan iblis dari Kemundungan ini. Tetapi bahwa ia gagal, maka kedua orang tua itu pasti akan kecewa. Kecewa sekali. Dan kini ia masih harus bekerja terlampau keras. Ia tidak boleh berputus asa. Dada Mahisa Agni berdesir ketika tanpa disengajanya pada saat ia meloncat menghindari cambuk ikat pinggang Kebo Sindet, terasa kakinya menyentuh batu. Batu. ya, satu-satunya yang didapatkannya di daerah itu adalah batu. Tanpa membuang waktu lagi, Mahisa Agni segera memungut batu itu. Tidak hanya satu, tetapi ia mendapatkan dua buah batu sebesar telur.
“Apa boleh buat” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “tidak seorang pun dapat menuduhku curang. Sebab lawanku pun bersenjata pula”.
Kebo Sindet yang melihat Mahisa Agni memungut batu, segera menyadari bahwa Mahisa Agni akan mempergunakannya senjata. Karena itu, maka dengan kecepatannya yang luar biasa ia menyerangnya. Ia mencoba memotong kesempatan Mahisa Agni mengambil kedua butir batu itu. Serangan itu benar-benar mengejutkan Mahisa Agni. Selagi tangannya hampir menyentuh batu yang sebutir lagi, setelah yang sebutir digenggamnya, ikat pinggang Kebo Sindet terayun dengan derasnya seolah-olah tatit yang meloncat di langit. Kesempatan untuk meloncat menghindari serangan itu terlampau sempit, ia dapat dengan serta-merta menghindar, tetapi ia harus melepaskan batu yang sebutir itu. Dalam kesempatan yang terlampau pendek, Mahisa Agni harus msngambil keputusan. Dan keputusan yang diambilnya adalah, Mendapatkan batu itu.
Tetapi dengan demikian maka kesempatannya untuk menghindari semakin sempit. Karena itu maka sekali lagi ujung ikat pinggang Kebo Sindet itu menyentuh tubuhnya, kali ini di punggungnya. Sekali lagi Mahisa Agni menyeringai. Dijatuhkannya tubuhnya, kemudian dengan sekuat tenaganya ia melontarkan diri berguling menjauhi lawannya. Namun dengan demikian Mahisa Agni kurang dapat memperhitungkan arah, sehingga justru ia menjadi semakin dekat ke tepi rawa-rawa.
Kebo Sindet tidak memberinya kesempatan. Ia memburu terus dengan ayunan ikat pinggang kulitnya. Ia menggeretakkan giginya ketika ia melihat Mahisa Agni sempat meloncat berdiri. Tetapi, tanah yang diinjaknya terlampau licin, sehingga Mahisa Agni tergelincir dan jatuh berlutut.
“Sekarang, datanglah saat yang paling mengerikan itu” teriak Kebo Sindet “setapak lagi aku mendorongmu, kau akan terjerumus ke dalam tanah yang gembur. Kau tidak akan dapat keluar lagi sampai datang saatnya buaya-buaya itu menjamahmu dengan gigi-giginya”.
Tetapi Mahisa Agni benar-benar tidak berputus asa. Ia belum mengalami perkelahian yang sebenarnya. Ia masih belum marasa bertempur beradu ilmu yang. Sebaik-baiknya dengan iblis dari Kemundungan itu. Karena itu, ia tidak mau ditelan oleh lumpur rawa itu. Ketika Kebo Sindet meloncat maju, maka sambil berlutut ia mengadakan perlawanan dalam usahanya terakhir. Ia harus mendapat kesempatan meloncat menghindari arah yang mendebarkan jantung.
Mahisa Agni memang tidak berusaha untuk segera berdiri. Ia kini mengerahkan segenap tenaganya dalam perlawanannya. Ia harus dapat melakukannya dalam keadaanya itu. Berlutut. Kalau ia mencoba berdiri, maka ia akan kehilangan waktu sekejap. Dan yang sekejap itu pasti sudah dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet sebaik-baiknya, untuk melemparkannya ke dalam rawa-rawa.
Ketika Kebo Sindet meloncat maju, maka dibidikkannya sebutir batunya ke arah iblis itu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu ternyata sangat tergesa-gesa. Sebab Kebo Sindet yang mengetahui, apa yang sedang diperbuat oleh Mahisa Agni itu segera berusaha membuat tekanan-tekanan yang semakin ketat. Namun kali ini Mahisa Agni sempat melepaskan batunya meskipun hanya dengan sebagian kecil dari kemampuannya karena ia tidak sempat menunggu lebih lama lagi.
Meskipun demikian batu yang mengarah ke pelipis Kebo Sindet itu telah menghentikan gerakan iblis dari Kemudungan itu. Sambil menggeram Kebo Sindet memukul batu itu dengan senjatanya, dengan ikat pinggang kulitnya, sehingga batu itu terpelanting jauh-jauh ke dalam rawa-rawa tanpa menyentuh sehelai bulunya pun. Tetapi memang itulah yang diharapkan oleh Mahisa Agni. Ia memang sudah memperhitungkan bahwa batu itu tidak akan menyentuh lawannya. Tetapi dengan demikian Mahisa Agnilah yang kini mendapat waktu meskipun hanya sekejap. Maka yang sekejap itu dipergunakan baik-baik.
Ketika Kebo Sindet sudah siap untuk menyerang lawannya lagi, maka kini ia telah melihat Mahisa Agni berdiri tegak di atas sepasang kakinya dengan kokohnya, seolah-olah kakinya itu berakar masuk ke dalam bumi. Wajahnya yang menyala menjadi semakin tegang. Sepasang matanya menyorotkan api kemarahan yang tiada taranya. Kebo Sindet tertegun melihat sikap itu. Selama ini hanya melihat Mahisa Agni yang ketakutan seperti seekor tikus yang melihat kucing. Tetapi kini ia melihat Mahisa Agni benar-benar seperti banteng ketaton. Tabah tangguh menghadapi setiap bahaya yang mengancamnya.
Tetapi Kebo Sindet juga bukan anak-anak yang hanya pandai berteriak-teriak. Ia adalah iblis yang paling mengerikan diseluruh tanah Tumapel. Karena itu, maka betapapun Mahisa Agni telah membuatnya keheranan, namun ia sudah bertekad untuk membunuhnya, melemparkannya ke dalam rawa-rawa untuk menjadi santapan buaya-buaya kerdil yang sangat rakus. Apalagi dari tubuh Mahisa Agni telah menetes darah. Perlahan-lahan Kebo Sindet itu melangkah maju semakin dekat. Ikat pinggangnya masih berputar menamengi dirinya. Ia tahu benar bahwa Mahisa Agni pasti akan membidiknya dan melemparnya dengan batu yang digenggamnya. Tetapi Kebo Sindet pun yakin, bahwa ia pasti akan berhasil memukul batu itu seperti batu yang pertama.
Meskipun Kebo Sindet melangkah maju, tetapi kini Mahisa Agni tidak melangkah surut. Ia berdiri tegak ditempatnya. Dibiarkannya Kebo Sindet menjadi semakin dekat. Ketika Kebo Sindet itu sudah berdiri beberapa langkah saja dihadapannya, maka ia mulai mengangkat tangannya. Perlahan-lahan. Kini dikerahkannya, segenap kemampuan dan kekuatan yang ada padanya. Kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir baginya untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan berikutnya, karena iapun sadar, bahwa Kebo Sindet pasti akan dapat menangkis serangannya dengan batu itu. Kalau kali ini ia gagal, maka ia akan benar-benar didorong masuk ke dalam sarang buaya kerdil itu.
Melihat sikap Mahisa Agni, maka Kebo Sindet menghentikan langkahnya. Iapun kini bersiap untuk menangkis serangan Mahisa Agni. Diputarnya ikat pinggangnya semakin cepat sehingga tidak ada lubang seujung jarum pun yang akan dapat disusupi apalagi oleh batu Mahisa Agni yang sebesar telur itu. Tetapi Mahisa Agni tidak terpengaruh karenanya. Sesaat kemudian ia membidik kening lawannya. Perlaban-lahan kaki kirinya bergerak maju. Dan bersamaan itu, maka batu yang ada di tangannya itu pun meluncur dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan mata.
Bagaimanapun juga, maka terasa desir di dada Kebo Sindet. Sebelum ia menyentuh batu itu dengan ikat pinggangnya, ia ternyata dikejutkan oleh lontaran yang dilambari dengan kekuatan yang dahsyat, yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Kebo Sindet. Itulah sebabnya maka Kebo Sindet tidak dapat sekedar menangkisnya. Iapun harus mengerahkan segenap tenaganya dan memusatkan segenap kemampuannya untuk dapat memukul batu yang meluncur seperti tatit itu.
Tetapi Kebo Sindet yang menyimpan pengalaman yang terlampau banyak di dalam dirinya itu, segera mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia tidak akan dapat melawan batu itu dengan putaran ikat pinggangnya karena kesempatannya untuk mengerahkan tenaganya tidak cukup banyak. Tetapi, ia tidak kehilangan cara untuk menghindarinya. Dengan lincahnya ia meloncat setapak ke samping. Diusahakannya memukul batu itu sekedar untuk membelokkan arahnya, supaya tidak menyentuh tubuhnya.
Meskipun dengan dada yang berdebar-debar, tetapi ternyata usaha Kebo Sindet itu berhasil. Ia berhasil memukul batu yang menyambarnya itu sambil menghindar setapak ke samping. Meskipun sedikit namun batu itu memang berbelok arah dan sama sekali tidak menyentuhnya. Namun dengan demikian, karena Kebo Sindet itu tidak mendapat waktu untuk mengerahkan segenap kemampuannya maka terasa tangannya bergetar. Cambuk kulitnya itu hampir-hampir lepas dari tangannya. Namun, meskipun ia berhasil menahan pangkal ikat pinggangnya, tetapi ujung ikat pinggangnya itu rantas karena sentuhan batu Mahisa Agni yang dilemparkan dengan sekuat tenaganya.
Mengalami peristiwa itu, Kebo Sindet menggeram keras-keras. Kemarahannya seakan-akan meluap lewat ubun-ubunnya. Dengan cepatnya ia berusaha memperbaiki keadaannya dan melemparkan ikat pinggangnya yang sudah rantas itu ke tanah. Sekejap kemudian di tangannya telah tergenggam sehelai golok yang besar. Golok yang hampir tidak pernah terpisah dari tubuhnya.
Mahisa Agni memang sudah memperhitungkan apa yang terjadi itu. la memang tidak akan berhasil menjatuhkan lawannya hanya dengan dua butir batu, seperti yang kemudian ternyata terjadi. Kebo Sindet sama sekali tidak terluka. Bahkan kini ia telah mengganti senjata daruratnya dengan goloknya yang besar. Golok yang baru saja kering dari darah korban-korbannya, kawan-kawan juru taman yang bodoh yang mencoba menjebaknya. Tetapi ketika ia menyadari kedudukannya dan kedudukan lawannya, maka Kebo Sindet itu menggeram. Kemarahannya sudah tidak dapat ditampungnya lagi di dalam hatinya, sehingga sejenak kemudian terdengar ia berteriak nyaring untuk mengurangi kepepatan dadanya,
“Kau licik setan kecil. Kau licik seperti demit”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia telah berhasil mempergunakan kesempatannya yang terakhir untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan berikutnya yang masih harus diperjuangkan. Pada saat-saat Kebo Sindet sibuk menghindarkan diri dari sambaran batu Mahisa Agni, pada saat tangannya digetarkan oleh benturan dua kekuatan yang dahsyat, pada saat ia dikejutkan oleh ujung ikat pinggang yang rantas, pada saat itulah Mahisa Agni mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Saat yang hanya sekejap itu dipergunakannya untuk melenting, menjauhi Kebo Sindet dan kemudian menempatkan dirinya pada arah yang berlawanan dengan arah rawa-rawa yang gembur berlumpur.
Kalau semula ia telah berdiri beberapa langkah saja dari bibir rawa-rawa itu, bahkan kakinya telah menginjak bagian-bagian yang mulai gembur dan lembab basah, maka kini ia telah agak jauh dari padanya. Lebih dari pada itu, ia berdiri berseberangan dengan tanah lumpur yang dapat menyeretnya kemulut-mulut buaya-buaya kerdil.
“Kau licik” ia masih mendengar Kebo Sindet berteriak-teriak, “kau licik melampaui Jajar yang gila itu. Karena itu pun maka kematianmu harus lebih pedih lagi dari Jajar itu”.
Mahisa Agni sama sekali tidak menyahut. Tetapi kesempatan yang lebih baik yang telah terbuka baginya, membuat ketenangannya menjadi semakin mantap. Namun dengan demikian, Mahisa Agni sempat menyadari kesalahannya. Seperti pesan gurunya, bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa dan memperhitungkan setiap kemungkinan masak-masak dalam menghadapi iblis dari Kemundungan ini. Ini ternyata ia tidak melakukannya dengan baik. Nafsunya yang tidak tertahankan lagi, telah membuatnya tergesa-gesa dan kurang berhati-hati. Kini ia kalah selapis dari lawannya, justru karena lawannya bersenjata.
“Aku kurang memperhitungkan keadaan itu” desisnya di dalam hati, “aku tidak menyiapkan diri dengan baik”. Sekarang, akibatnya dari kelengahan itu terasa sekali.
Tanpa disengajanya Mahisa Agni meraba pundaknya yang terluka. Ketika ia memandangi telapak tangannya, maka tangannya itu seakan-akan sedang membara. Merah. Dada anak muda itu berdesir. Ternyata darah yang merah, yang mewarnai tangannya itu membuatnya semakin menyala dibakar oleh gairah perjuangannya.
“Aku harus melepaskan diri dari tangan iblis ini” Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya “Lebih daripada itu aku harus melenyapkannya untuk kepentingan bebrayan pada umumnya di Tumapel”.
Tiba-tiba Mahisa Agni itupun menggeram. Ditatapnya Kebo Sindet seutuhnya tanpa berkedip. Dari ubun-ubun sampai keujung kakinya. Tubuhnya yang kekar, wajahnya yang beku, matanya yang menyala dan sepasang tangannya yang kokoh kuat, seperti tangan orang hutan, apalagi tangan itu kini menggenggam golok, senjata yang selama ini telah dipergunakannya untuk mengisap darah beratus-ratus orang. Tetapi orang ini harus dibinasakannya. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada cara lain daripada itu. Tetapi, Mahisa Agni masih tetap dalam kesadarannya. Ia tidak dapat menuruti hawa nafsunya dan berbuat tanpa perhitungan. Sekali matanya membentur kilatan pantulan sinar dari batang golok Kebo Sindet yang masih kemerah-merahan.
“Mahisa Agni” terdengar Kebo Sindet itu menggeram “apapun yang kau lakukan, tetapi kau pasti akan menjadi santapan buaya-buaya kerdil itu. Tempat ini dikelilingi oleh rawa-rawa disegala arah. Arah manapun yang kau pilih, maka kau akan terperosok masuk ke dalamnya. Arah yang sekarang ini pun akan mengantarkanmu ke dalam mulut buaya itu. Cepat atau lambat. Apalagi aku tidak mempergunakan ikat pinggang kulit itu lagi. Tetapi aku mempergunakan senjataku yang sebenarnya. Nah, bersiaplah untuk mati dengan cara yang paling tidak menyenangkan”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi mulutnya sajalah yang gemeretak. Ia mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Kebo Sindet itu benar. Kemanapun ia pergi, ia akan mengarah ke bibir rawa-rawa. Tetapi arahnya kali ini adalah panjang, sebelum ia sampai kepada tanah gembur. Ia akan dapat mempergunakan setiap kesempatan yang terbuka untuk mendapatkan senjata. Sulur-sulur kaju atau cabang-cabang pepohonan. Kalau perlu batu-batuan atau gumpalan-gumpalan padas. Baginya memang tidak ada pilihan lain lagi daripada mempergunakan senjata apa saja yang diketemukan. Dan kedua orang-orang tua yang mengasuhnya di saat-saat terakhir telah menunjukkannya pula kepadanya, bagaimana ia harus mempergunakan segala macam benda untuk senjata. Mahisa Agni kemudian melihat Kebo Sindet itu berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Golok ditangannya telah digerak-gerakannya mendatar.
Mau tidak mau dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar pula. Yang ditangan Kebo Sindet kali ini bukan sekedar ikat pinggang kulit. Tetapi sebatang golok baja yang besar dan tajam. Meskipun seandainya tajam golok itu tidak menyamai pisau dapur sekalipun, bahkan punggungnya sama sekali, namun yang ajunan tangan Kebo Sindet akan cukup kuat untuk mematahkan seluruh tulang-tulang iganya sekaligus. Kini, ujung golok itu telah diangkat setinggi dada Mahisa Agni. Golok yang terjulur itu semakin lama menjadi semakin dekat kepadanya.
Tanpa disengajanya Mahisa Agni menebarkan pandangan matanya di sekitarnya, mumpung Kebo Sindet masih belum dekat benar. Kalau-kalau ia menemukan sesuatu yang dapat dipergunakannya untuk melawan golok iblis dari Kemundungan itu. Mahisa Agni menghentakkan giginya, ketika ia mendengar suara Kebo Sindet
“Kau tidak akan menemukan sesuatu, Agni. Kau tidak akan mendapat kesempatan untuk menemukan Senjata”.
Memang di sekitar Mahisa Agni berdiri, tidak ada sesuatu yang mungkin akan dapat dipergunakan untuk senjata. Tetapi ia tidak akan terpancang di tempat itu. Ia akan berkisar ke tempat yang memungkinkannya. Mahisa Agni sadar, bahwa Kebo Sindet pasti akan berusaha untuk menguasainya dan mendorong seorang yang dikehendaki. Tetapi arena kini menjadi lebih lapang bagi Mahisa Agni. Kesempatan untuk bergeser dan berkisar semakin luas.
“Tetapi apakah aku hanya akan sekedar berkisar dan bergeser saja tanpa perlawanan yang berarti?” desisnya di dalam hati.
Sementara itu Kebo Sindet sudah menjadi semakin dekat. Matanya yang merah menyala seperti soga, menyorotkan kemarahan yang tidak terkira. Sejenak iblis dari Kemundungan itu berhenti, namun matanya memandang Mahisa Agni dengan tanpa berkedip. Mahisa Agni sadar, bahwa segera ia akan dilibat oleh serangan-serangan senjata yang mengerikan di tangan iblis yang mengerikan pula. Perhitungan Mahisa Agni itu ternyata benar-benar terjadi. Sesaat kemudian dengan teriakan yang memekakkan telinga, Kebo Sindet meloncat menyerang Mahisa Agni. Pedangnya terjulur lurus, namun kemudian bergerak mendatar.
Serangan itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Kebo Sindet ternyata telah benar-benar sampai ke puncak usahanya untuk mengalahkan dan melumpuhkan lawannya, sebelum diseretnya dan dilemparkannya ke mulut binatang-binatang air yang buas. Dengan sepenuh tenaga pula Mahisa Agni berusaha menghindarkan dirinya. Ia tidak boleh lengah, sehingga ujung senjata itu melukai kulitnya seperti ikat pinggang kulit itu. Kalau kali ini golok itu menyentuhnya, maka bukan sekedar kulitnya yang terkelupas, tetapi dagingnya pun akan robek pula karenanya. Bahkan mungkin urat atau otot bebayunya akan terputus.
Saat-saat selanjutnya adalah saat yang menegangkan. Kebo Sindet yang marah itu menyambar-nyambar seperti seekor alap-alap dengan kukunya yang dahsyat, melibat dari segenap arah. Sedang Mahisa Agni hanya dapat berusaha menghindar dan menghindar terus. Ia masih belum mempunyai kesempatan untuk menyerang lawannya karena keseimbangan diantara mereka masih terganggu oleh golok Kebo Sindet.
Setiap kali Mahisa Agni bergeser menjauhi rawa-rawa itu supaya Kebo Sindet pada suatu saat tidak menemukan kesempatan seperti yang pernah terjadi, mendesaknya ketepi. Seandainya demikian yang dikehendakinya, mendesaknya ketepi yang lain, maka pasti masih akan diperlukan waktu yang panjang, sehingga kesempatan-kesempatan yang tidak terduga mungkin akan datang. Namun semakin dahsyat serangan-serangan yang datang dari Kebo Sindet, maka kemungkinan Mahisa Agni untuk mendapat senjata menjadi semakin tipis. Ia semakin terdesak ke dalam keadaan yang sulit.
Tetapi Mahisa Agni cukup lincah mempergunakan loncatan-loncatan panjang untuk mengatur jarak yang dikehendakinya dari lawannya, supaya ia tidak ditelan oleh putaran golok Kebo Sindet. Dan cara Mahisa Agni itu ternyata menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet, sehingga ia berteriak,
“Kenapa kau tidak lari saja menjauh? Pengecut, ternyata kau tidak sedang berkelahi. Kau hanya sekedar berlari-larian dan berloncat-loncatanan. Apakah aku harus melayanimu? Sebaiknya kau lari saja. Tetapi ingat, kemanapun kau lari, kau tidak akan dapat keluar dari tempat ini sehingga akan datang juga saatnya kau terikat dan terlempar ke mulut binatang-binatang air itu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi sebenarnya bahwa lari itu pun telah masuk di dalam angan-angannya. Ia memang akan berlari menjauh pada suatu saat apabila diperlukan. Bukan karena takut untuk melakukan perlawanan sampai tarikan nafasnya yang terakhir, bukan pula karena sifat pengecut telah tumbuh di dalam hatinya, tetapi lari akan bermanfaat baginya untuk mendapatkan kesempatan, melakukan perlawanan yang lebih baik. Mahisa Agni memang ingin berlari ke arah sebatang pohon beringin, untuk mengambil beberapa helai sulur yang akan dapat membantunya melawan Kebo Sindet yang seolah-olah telah menjadi gila itu.
Bahkan angan-angan itu menjadi semakin nyata ketika ia menjadi semakin terdesak., “Aku tidak dapat berkelahi dengan cara ini” katanya di dalam hati “Ternyata aku sekarang memang tidak sedang bertempur, tetapi aku sekedar bermain-main dengan nyawaku”.
Mahisa Agni itu pun kemudian membulatkan niatnya. Apapun yang akan dikatakan oleh Kebo Sindet tentang dirinya. Maka ketika kesempatan itu terbuka, ketika Mahisa Agni herhasil meloncat beberapa langkah menjauh, dipergunakannya kesempatan itu. Dengan serta merta ia berlari meninggalkan Kebo Sindet. Kebo Sindet justru terkejut melihat lawannya tiba-tiba berlari seperti dikejar hantu, menilik sikap dan perlawanan yang diberikan selama ini, maka Mahisa Agni agaknya akan melawan sampai akhir hayatnya. Tetapi tiba-tiba saja anak itu berlari sipat kuping.
Tetapi ketika ia melihat arah lari Mahisa Agni, segera Kebo Sindet menyadari, bahwa Mabisa Agni tidak akan meniggalkannya. Ia kini dapat menangkap maksud anak muda itu. Mendapatkan sulur-sulur beringin untuk melawannya. Karena itu maka Kebo Sindet itupun segera meloncat mengejarnya. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk menemukan keseimbangan di dalam perkelahian itu.
Agak jauh dari arena perkelahian itu, Kuda Sempana berdiri dengan mulut ternganga. Seperti bermimpi ia menyaksikan apa yang telah terjadi. Pada saat permulaan dari perkelahian antara Mahisa Agni dan Kebo Sindet, Kuda Sempana hampir-hampir tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Betapa mungkin ia melihat, Mahisa Agni itu berkelahi melawan Kebo Sindet. Lebih-lebih lagi Kebo Sindet itu memegang senjata ditangannya, sedang Mahisa Agni sama sekali tidak. Semula Kuda Sempana mencoba menganggap bahwa hal itu terjadi secara kebetulan. Tetapi kebetulan tidak akan terjadi terus menerus, seperti apa yang disaksikannya kemudian.
Belum beberapa lama ia sendiri berkelahi melawan Mahisa Agni. Ia merasa, bahwa kekuatan Mahisa Agni tidak telampau banyak terpaut daripadanya. Bahkan kadang-kadang ia berhasil melemparkan dan bahkan mendorong anak muda itu sehingga jatuh di tanah. Tetapi kini ia melihat Mahisa Agni itu bertempur dengan Kebo Sindet yang seolah-olah dalam keadaan berimbang.
“Apakah Kebo Sindet itu sebenarnya memang tidak terlampau jauh daripada Mahisa Agni dan dari padaku sendiri?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya. Tetapi ketika ia melihat perkelahian Mahisa Agni dan Kebo Sindet itu selanjutnya, maka katanya di dalam hati “Aku sudah hampir gila, aku sudah tidak dapat mengenal lagi tingkat ilmu seseorang”.
Kuda Sempana itu kemudian melihat pertempuran menjadi semakin seru. Hatinya menjadi ikut berdebar-debar tanpa setahunya sendiri pada saat ia melihat Mahisa Agni terdorong hampir terperosok ke dalam rawa-rawa. Sebab Kuda Sempana tahu isi dari pada rawa-rawa itu. Namun menjadi berlega hati pula, pada saat ia melihat Mahisa Agni berhasil melepaskan dirinya dari kemungkinan yang mengerikan itu.
Sejenak Kuda Sempana kehilangan tanggapan atas kedua orang yang sedang berkelahi itu. Sejak lama ia menyimpan dendam kepada Mahisa Agni. Sejak ia menyadari bahwa Mahisa Agnilah penghalang utama dari setiap usahanya untuk mendapatkan Ken Dedes. Karena itu pulalah ia terdorong semakin jauh ke dalam kegelapan dan bahkan akhirnya ia terjerumus ke dalam sarang iblis ini setelah ia kehilangan hampir segalanya, bahkan dirinya sendiri. Tetapi selain dendamnya yang seakan-akan telah berakar di dalam dadanya, ia melihat pula, bahwa ia hampir tidak dapat memperhitungkan apa yang kira-kira terjadi dengan dirinya, apabila ia tetap berada disarang iblis ini. Ia hampir-hampir tidak dapat lagi mengenal pribadinya. Bahkan ia menjadi acuh tak acuh terhadap semua peristiwa dan persoalan, meskipun itu akan menyangkut dirinya sendiri.
Tetapi, ketika ia melihat Mahisa Agni bangkit untuk melawan Kebo Sindet, timbullah berbagai macam pikiran di dalam dirinya. Mahisa Agni yang disangkanya sudah kehilangan semua watak-wataknya, ternyata pada suatu saat telah menentukan sikap. Bahkan tidak masuk akal bahwa Mahisa Agni itu ternyata mampu melawan Kebo Sindet dalam perkelahian seorang lawan seorang. Terasa sebuah getaran yang tajam melanda jantungnya, sehingga darahnya menjadi semakin cepat mengalir. Dalam waktu yang hanya sesaat itu, bergolaklah semua isi dadanya. Tumbuhlah suatu sikap yang selama ini tidak pernah dikenalnya lagi. Harga diri.
Tetapi Kebo Sindet sendiri menjadi sangat heran menyaksikan Mahisa Agni kini. Anak muda itu ternyata benar-benar mempunyai bekal yang cukup untuk melawannya. Adalah tidak masuk akal, bahwa Mahisa Agni masih saja dapat menghindarkan dirinya, meskipun ia telah berusaha sejauh-jauhnya melihat anak muda itu dengan putaran ikat pinggang kulitnya. Meskipun Mahisa Agni agaknya mengalami kesulitan, namun ia masih saja mampu melepaskan dirinya. Bahkan kadang-kadang masih juga berusaha menyerang menemhus perisai yang dibuatnya.
“Setan kecil ini benar-benar mengherankan” desis Kebo Sindet di dalam hatinya. Namun dengan demikian kemarahannya menjadi kian memuncak pula. “Aku harus dapat membunuhnya. Membunuh dengan cara yang paling gila” katanya di dalam hati pula.
Maka semakin lama tandang Kebo Sindet pun menjadi semakin garang. Ikat pinggangnya berputar semakin cepat. Dengan penuh nafsu Kebo Sindet memutar senjatanya dan menyerang lawannya seperti angin prahara. Sedang Mahisa Agni, masih belum menemukan kesempatan yang baik untuk membalas menyerangnya. Dengan segala macam cara, Mahisa Agni mencoba mencari titik-titik kelemahan lawannya. Namun ia tidak segera menemukannya. Dengan lincahnya Mahisa Agni mencoba menyerang dari segala macam arah. Beberapa kali ia berloncatan memutari lawannya. Namun Kebo Sindet bukan anak-anak yang mudah dibingungkannya. Kebo Sindet adalah seorang yang tanggon, yang menyimpan pengalaman tiada taranya di dalam dirinya.
Bahkan serangan Kebo Sindet semakin lama menjadi semakin dahsyat pula. Gumpalan putaran senjatanya selalu mengejarnya kemanapun ia pergi. Sehingga berkali-kali Mahisa Agni harus meloncat surut. Ketika Mahisa Agni kemudian menyadari dirinya, tiba-tiba dadanya berdesir tajam. Ternyata perkelahian itu telah berkisar beberapa langkah dari titik arena semula. Ketajaman tanggapan Mahisa Agni mengatakan kepadanya, bahwa memang Kebo Sindet dengan sengaja menggeser arena perkelahian itu ke arah yang dikehendaki. Kebo Sindet telah mencoba mendesak Mahisa Agni mendekati daerah rawa-rawa.
“Iblis ini benar-benar licik” geram Mahisa Agni di dalam hatinya.
Ia kemudian menyadari keadaannya. Kebo Sindet pasti akan mendesaknya masuk ke dalam rawa-rawa, dan akan melakukan apa yang dikatakannya. Setidaknya ia akan melihat, tubuhnya terpelanting masuk ke dalam rawa-rawa yang coklat berlumpur itu, yang kemudian pasti akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil dan binatang-binatang air lainnya. Mahisa Agni itu pun menggeram. Dihentakkannya segenap kekuatan dan kemampuannya untuk mencoba menembus senjata lawannya. Namun ternyata ia masih belum mendapat kesempatan.
“Aku tidak boleh menjadi korban karenanya” Mahisa Agni berkata di dalam hatinya, “aku harus dapat menembus senjatanya yang gila itu”.
Mahisa Agni kemudian benar-benar tidak membiarkan dirinya didesak terus masuk ke dalam rawa-rawa. Ketika ia merasa, bahwa kakinya telah menginjak tanah yang basah, maka ia berkata pula di dalam hati,
“Aku tidak akan berbuat licik. Aku kira adalah wajar, bahwa akupun harus bersenjata”.
Tetapi Mahisa Agni tidak segera melihat kesempatan untuk mendapatkan senjata. Perlahan-lahan ia berloncatan ke arah sebatang beringin yang rimbun. Ia ingin mendapat sehelai sulur untuk melawan senjata Kebo Sindet itu. Atau sepotong dahan, atau apapun. Tetapi yang ada di sekitarnya hanyalah pohon-pohon perdu yang tidak akan berarti. Agaknya Kebo Sindet mengerti juga maksud Mahisa Agni. Itulah sebabnya dengan senjata yang ada padanya, serta kemampuan yang luar biasa, ia mendesak Mahisa Agni terus, dan mencegahnya mendekat batang beringin yang dapat memberinya kemungkinan untuk mempergunakan sulur-sulurnya sebagai senjata.
“Demit yang licik”
Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Apalagi ketika terasa, bahwa tanah-tanah yang diinjaknya telah mulai gembur. Adalah nyata sekali dalam pertempuran itu, meskipun Mahisa Agni memiliki ilmu dan kekuatan yang tidak kalah dari Kebo Sindet, namun pengalaman setan Kemundungan itu jauh lebih banyak dari Mahisa Agni sendiri. Itulah sebabnya, maka Kebo Sindet masih mempunyai kesempatan untuk mendesak lawannya, dan meskipun tidak langsung dapat menguasainya dan lambat namun hampir dapat dipastikan ia akan menyelesaikan perkelahian itu sesuai dengan kehendaknya.
Bahkan sejenak kemudian terdengar suaranya mengguntur, “Nah, Agni. Berpalinglah. Beberapa langkah di belakangmu adalah rawa-rawa yang didiami oleh buaya-buaya kerdil itu. Sebentar lagi tubuhmu pasti akan menjadi santapan yang segar. Terimalah nasibmu yang malang karena kesombonganmu”.
Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Tetapi pohon beringin itu masih cukup jauh. Apalagi agaknya Kebo Sindet mendorongnya ke arah yang lain, kearah semakin jauh. Dengan segala kemampuan Mahisa Agni telah mencoba melawan. Tetapi senjata lawannya benar-benar telah merubah keseimbangan. Meskipun Kebo Sindet tidak berhasil menguasainya langsung, tetapi ia seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk melawan. Bahkan kini ia telah didesak hampir sampai ke bibir rawa-rawa yang gembur berlumpur, yang akan dapat menelannya hidup-hidup.
Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba mempertahankan dirinya supaya tidak terdesak semakin dekat ke tepi rawa-rawa. Namun libatan ayunan ikat pinggang Kebo Sindet benar-benar telah mendesaknya. Berkali-kali Mahisa Agni mencoba untuk menghindar ke samping dan mencari kesempatan untuk meloncat ke arah yang lain, supaya ia tidak terjerumus ke dalam rawa-rawa, tetapi Kebo Sindet pun berusaha mati-matian, agar lawannya tidak berkesempatan lolos.
Ternyata bahwa senjata Kebo Sindet itu benar-benar bermanfaat pada saat-saat yang demikian. Pada saat mereka berada pada puncak ilmu masing-masing, dimana mereka seakan-akan berada pada titik keseimbangan, maka setitik debu yang paling kecilpun akan dapat merubah keseimbangan itu. Tetapi Mahisa Agni harus menghadapi kenyataan itu. Karena itu ia bertahan untuk tidak berkisar semakin dekat lagi ke arah rawa-rawa. Ia harus mengerahkan setiap kemungkinan yang dimilikinya untuk melawan. Meskipun demikian, maka terasa ikat pinggang kulit Kebo Sindet itu mulai menyentuhnya. Mahisa Agni menyeringai menahan pedih yang menyengat kulitnya ketika ujung ikat pinggang lawannya menyinggung pundaknya. Tepat seperti dugaannya, ujung ikat pinggang itu benar-benar dapat mengelupas kulitnya, sehingga terasa bahwa darahnya mulai mengalir.
”Ha” berteriak Kebo Sindet, “darahmu mulai menetes dari lukamu. Setitik darah telah cukup untuk memanggil buaya-buaya kerdil itu. Pekerjaanku sekarang tinggal mendorongmu masuk ke dalam rawa itu dan menyaksikan tubuhmu disobek-sobek oleh buaya-buaya kerdil yang rakus”.
Mahisa Agni menggeram. Tetapi adalah sebuah kenyataan pula bahwa pundaknya telah terluka dan darah memang telah meleleh dari luka itu, meskipun luka itu tidak terlampau dalam. Meskipun demikian, keadaan itu telah membuat Mahisa Agni disentuh oleh perasaan cemas. Bukan karena ia takut mengalami akibat yang paling pahit. Mati. Namun yang paling menggelisahkan adalah, bahwa dengan demikian Kebo Sindet masih akan mendapat kesempatan untuk berbuat sekehendak hatinya.
Sekilas terbayang wajah kedua orang yang selama ini mengasuhnya. Empu Purwa dan Empu Sada. Keduanya pasti akan dapat membinasakan iblis dari Kemundungan ini. Tetapi bahwa ia gagal, maka kedua orang tua itu pasti akan kecewa. Kecewa sekali. Dan kini ia masih harus bekerja terlampau keras. Ia tidak boleh berputus asa. Dada Mahisa Agni berdesir ketika tanpa disengajanya pada saat ia meloncat menghindari cambuk ikat pinggang Kebo Sindet, terasa kakinya menyentuh batu. Batu. ya, satu-satunya yang didapatkannya di daerah itu adalah batu. Tanpa membuang waktu lagi, Mahisa Agni segera memungut batu itu. Tidak hanya satu, tetapi ia mendapatkan dua buah batu sebesar telur.
“Apa boleh buat” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “tidak seorang pun dapat menuduhku curang. Sebab lawanku pun bersenjata pula”.
Kebo Sindet yang melihat Mahisa Agni memungut batu, segera menyadari bahwa Mahisa Agni akan mempergunakannya senjata. Karena itu, maka dengan kecepatannya yang luar biasa ia menyerangnya. Ia mencoba memotong kesempatan Mahisa Agni mengambil kedua butir batu itu. Serangan itu benar-benar mengejutkan Mahisa Agni. Selagi tangannya hampir menyentuh batu yang sebutir lagi, setelah yang sebutir digenggamnya, ikat pinggang Kebo Sindet terayun dengan derasnya seolah-olah tatit yang meloncat di langit. Kesempatan untuk meloncat menghindari serangan itu terlampau sempit, ia dapat dengan serta-merta menghindar, tetapi ia harus melepaskan batu yang sebutir itu. Dalam kesempatan yang terlampau pendek, Mahisa Agni harus msngambil keputusan. Dan keputusan yang diambilnya adalah, Mendapatkan batu itu.
Tetapi dengan demikian maka kesempatannya untuk menghindari semakin sempit. Karena itu maka sekali lagi ujung ikat pinggang Kebo Sindet itu menyentuh tubuhnya, kali ini di punggungnya. Sekali lagi Mahisa Agni menyeringai. Dijatuhkannya tubuhnya, kemudian dengan sekuat tenaganya ia melontarkan diri berguling menjauhi lawannya. Namun dengan demikian Mahisa Agni kurang dapat memperhitungkan arah, sehingga justru ia menjadi semakin dekat ke tepi rawa-rawa.
Kebo Sindet tidak memberinya kesempatan. Ia memburu terus dengan ayunan ikat pinggang kulitnya. Ia menggeretakkan giginya ketika ia melihat Mahisa Agni sempat meloncat berdiri. Tetapi, tanah yang diinjaknya terlampau licin, sehingga Mahisa Agni tergelincir dan jatuh berlutut.
“Sekarang, datanglah saat yang paling mengerikan itu” teriak Kebo Sindet “setapak lagi aku mendorongmu, kau akan terjerumus ke dalam tanah yang gembur. Kau tidak akan dapat keluar lagi sampai datang saatnya buaya-buaya itu menjamahmu dengan gigi-giginya”.
Tetapi Mahisa Agni benar-benar tidak berputus asa. Ia belum mengalami perkelahian yang sebenarnya. Ia masih belum marasa bertempur beradu ilmu yang. Sebaik-baiknya dengan iblis dari Kemundungan itu. Karena itu, ia tidak mau ditelan oleh lumpur rawa itu. Ketika Kebo Sindet meloncat maju, maka sambil berlutut ia mengadakan perlawanan dalam usahanya terakhir. Ia harus mendapat kesempatan meloncat menghindari arah yang mendebarkan jantung.
Mahisa Agni memang tidak berusaha untuk segera berdiri. Ia kini mengerahkan segenap tenaganya dalam perlawanannya. Ia harus dapat melakukannya dalam keadaanya itu. Berlutut. Kalau ia mencoba berdiri, maka ia akan kehilangan waktu sekejap. Dan yang sekejap itu pasti sudah dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet sebaik-baiknya, untuk melemparkannya ke dalam rawa-rawa.
Ketika Kebo Sindet meloncat maju, maka dibidikkannya sebutir batunya ke arah iblis itu. Tetapi apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu ternyata sangat tergesa-gesa. Sebab Kebo Sindet yang mengetahui, apa yang sedang diperbuat oleh Mahisa Agni itu segera berusaha membuat tekanan-tekanan yang semakin ketat. Namun kali ini Mahisa Agni sempat melepaskan batunya meskipun hanya dengan sebagian kecil dari kemampuannya karena ia tidak sempat menunggu lebih lama lagi.
Meskipun demikian batu yang mengarah ke pelipis Kebo Sindet itu telah menghentikan gerakan iblis dari Kemudungan itu. Sambil menggeram Kebo Sindet memukul batu itu dengan senjatanya, dengan ikat pinggang kulitnya, sehingga batu itu terpelanting jauh-jauh ke dalam rawa-rawa tanpa menyentuh sehelai bulunya pun. Tetapi memang itulah yang diharapkan oleh Mahisa Agni. Ia memang sudah memperhitungkan bahwa batu itu tidak akan menyentuh lawannya. Tetapi dengan demikian Mahisa Agnilah yang kini mendapat waktu meskipun hanya sekejap. Maka yang sekejap itu dipergunakan baik-baik.
Ketika Kebo Sindet sudah siap untuk menyerang lawannya lagi, maka kini ia telah melihat Mahisa Agni berdiri tegak di atas sepasang kakinya dengan kokohnya, seolah-olah kakinya itu berakar masuk ke dalam bumi. Wajahnya yang menyala menjadi semakin tegang. Sepasang matanya menyorotkan api kemarahan yang tiada taranya. Kebo Sindet tertegun melihat sikap itu. Selama ini hanya melihat Mahisa Agni yang ketakutan seperti seekor tikus yang melihat kucing. Tetapi kini ia melihat Mahisa Agni benar-benar seperti banteng ketaton. Tabah tangguh menghadapi setiap bahaya yang mengancamnya.
Tetapi Kebo Sindet juga bukan anak-anak yang hanya pandai berteriak-teriak. Ia adalah iblis yang paling mengerikan diseluruh tanah Tumapel. Karena itu, maka betapapun Mahisa Agni telah membuatnya keheranan, namun ia sudah bertekad untuk membunuhnya, melemparkannya ke dalam rawa-rawa untuk menjadi santapan buaya-buaya kerdil yang sangat rakus. Apalagi dari tubuh Mahisa Agni telah menetes darah. Perlahan-lahan Kebo Sindet itu melangkah maju semakin dekat. Ikat pinggangnya masih berputar menamengi dirinya. Ia tahu benar bahwa Mahisa Agni pasti akan membidiknya dan melemparnya dengan batu yang digenggamnya. Tetapi Kebo Sindet pun yakin, bahwa ia pasti akan berhasil memukul batu itu seperti batu yang pertama.
Meskipun Kebo Sindet melangkah maju, tetapi kini Mahisa Agni tidak melangkah surut. Ia berdiri tegak ditempatnya. Dibiarkannya Kebo Sindet menjadi semakin dekat. Ketika Kebo Sindet itu sudah berdiri beberapa langkah saja dihadapannya, maka ia mulai mengangkat tangannya. Perlahan-lahan. Kini dikerahkannya, segenap kemampuan dan kekuatan yang ada padanya. Kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir baginya untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan berikutnya, karena iapun sadar, bahwa Kebo Sindet pasti akan dapat menangkis serangannya dengan batu itu. Kalau kali ini ia gagal, maka ia akan benar-benar didorong masuk ke dalam sarang buaya kerdil itu.
Melihat sikap Mahisa Agni, maka Kebo Sindet menghentikan langkahnya. Iapun kini bersiap untuk menangkis serangan Mahisa Agni. Diputarnya ikat pinggangnya semakin cepat sehingga tidak ada lubang seujung jarum pun yang akan dapat disusupi apalagi oleh batu Mahisa Agni yang sebesar telur itu. Tetapi Mahisa Agni tidak terpengaruh karenanya. Sesaat kemudian ia membidik kening lawannya. Perlaban-lahan kaki kirinya bergerak maju. Dan bersamaan itu, maka batu yang ada di tangannya itu pun meluncur dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan mata.
Bagaimanapun juga, maka terasa desir di dada Kebo Sindet. Sebelum ia menyentuh batu itu dengan ikat pinggangnya, ia ternyata dikejutkan oleh lontaran yang dilambari dengan kekuatan yang dahsyat, yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Kebo Sindet. Itulah sebabnya maka Kebo Sindet tidak dapat sekedar menangkisnya. Iapun harus mengerahkan segenap tenaganya dan memusatkan segenap kemampuannya untuk dapat memukul batu yang meluncur seperti tatit itu.
Tetapi Kebo Sindet yang menyimpan pengalaman yang terlampau banyak di dalam dirinya itu, segera mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia tidak akan dapat melawan batu itu dengan putaran ikat pinggangnya karena kesempatannya untuk mengerahkan tenaganya tidak cukup banyak. Tetapi, ia tidak kehilangan cara untuk menghindarinya. Dengan lincahnya ia meloncat setapak ke samping. Diusahakannya memukul batu itu sekedar untuk membelokkan arahnya, supaya tidak menyentuh tubuhnya.
Meskipun dengan dada yang berdebar-debar, tetapi ternyata usaha Kebo Sindet itu berhasil. Ia berhasil memukul batu yang menyambarnya itu sambil menghindar setapak ke samping. Meskipun sedikit namun batu itu memang berbelok arah dan sama sekali tidak menyentuhnya. Namun dengan demikian, karena Kebo Sindet itu tidak mendapat waktu untuk mengerahkan segenap kemampuannya maka terasa tangannya bergetar. Cambuk kulitnya itu hampir-hampir lepas dari tangannya. Namun, meskipun ia berhasil menahan pangkal ikat pinggangnya, tetapi ujung ikat pinggangnya itu rantas karena sentuhan batu Mahisa Agni yang dilemparkan dengan sekuat tenaganya.
Mengalami peristiwa itu, Kebo Sindet menggeram keras-keras. Kemarahannya seakan-akan meluap lewat ubun-ubunnya. Dengan cepatnya ia berusaha memperbaiki keadaannya dan melemparkan ikat pinggangnya yang sudah rantas itu ke tanah. Sekejap kemudian di tangannya telah tergenggam sehelai golok yang besar. Golok yang hampir tidak pernah terpisah dari tubuhnya.
Mahisa Agni memang sudah memperhitungkan apa yang terjadi itu. la memang tidak akan berhasil menjatuhkan lawannya hanya dengan dua butir batu, seperti yang kemudian ternyata terjadi. Kebo Sindet sama sekali tidak terluka. Bahkan kini ia telah mengganti senjata daruratnya dengan goloknya yang besar. Golok yang baru saja kering dari darah korban-korbannya, kawan-kawan juru taman yang bodoh yang mencoba menjebaknya. Tetapi ketika ia menyadari kedudukannya dan kedudukan lawannya, maka Kebo Sindet itu menggeram. Kemarahannya sudah tidak dapat ditampungnya lagi di dalam hatinya, sehingga sejenak kemudian terdengar ia berteriak nyaring untuk mengurangi kepepatan dadanya,
“Kau licik setan kecil. Kau licik seperti demit”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia telah berhasil mempergunakan kesempatannya yang terakhir untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan berikutnya yang masih harus diperjuangkan. Pada saat-saat Kebo Sindet sibuk menghindarkan diri dari sambaran batu Mahisa Agni, pada saat tangannya digetarkan oleh benturan dua kekuatan yang dahsyat, pada saat ia dikejutkan oleh ujung ikat pinggang yang rantas, pada saat itulah Mahisa Agni mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Saat yang hanya sekejap itu dipergunakannya untuk melenting, menjauhi Kebo Sindet dan kemudian menempatkan dirinya pada arah yang berlawanan dengan arah rawa-rawa yang gembur berlumpur.
Kalau semula ia telah berdiri beberapa langkah saja dari bibir rawa-rawa itu, bahkan kakinya telah menginjak bagian-bagian yang mulai gembur dan lembab basah, maka kini ia telah agak jauh dari padanya. Lebih dari pada itu, ia berdiri berseberangan dengan tanah lumpur yang dapat menyeretnya kemulut-mulut buaya-buaya kerdil.
“Kau licik” ia masih mendengar Kebo Sindet berteriak-teriak, “kau licik melampaui Jajar yang gila itu. Karena itu pun maka kematianmu harus lebih pedih lagi dari Jajar itu”.
Mahisa Agni sama sekali tidak menyahut. Tetapi kesempatan yang lebih baik yang telah terbuka baginya, membuat ketenangannya menjadi semakin mantap. Namun dengan demikian, Mahisa Agni sempat menyadari kesalahannya. Seperti pesan gurunya, bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa dan memperhitungkan setiap kemungkinan masak-masak dalam menghadapi iblis dari Kemundungan ini. Ini ternyata ia tidak melakukannya dengan baik. Nafsunya yang tidak tertahankan lagi, telah membuatnya tergesa-gesa dan kurang berhati-hati. Kini ia kalah selapis dari lawannya, justru karena lawannya bersenjata.
“Aku kurang memperhitungkan keadaan itu” desisnya di dalam hati, “aku tidak menyiapkan diri dengan baik”. Sekarang, akibatnya dari kelengahan itu terasa sekali.
Tanpa disengajanya Mahisa Agni meraba pundaknya yang terluka. Ketika ia memandangi telapak tangannya, maka tangannya itu seakan-akan sedang membara. Merah. Dada anak muda itu berdesir. Ternyata darah yang merah, yang mewarnai tangannya itu membuatnya semakin menyala dibakar oleh gairah perjuangannya.
“Aku harus melepaskan diri dari tangan iblis ini” Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya “Lebih daripada itu aku harus melenyapkannya untuk kepentingan bebrayan pada umumnya di Tumapel”.
Tiba-tiba Mahisa Agni itupun menggeram. Ditatapnya Kebo Sindet seutuhnya tanpa berkedip. Dari ubun-ubun sampai keujung kakinya. Tubuhnya yang kekar, wajahnya yang beku, matanya yang menyala dan sepasang tangannya yang kokoh kuat, seperti tangan orang hutan, apalagi tangan itu kini menggenggam golok, senjata yang selama ini telah dipergunakannya untuk mengisap darah beratus-ratus orang. Tetapi orang ini harus dibinasakannya. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada cara lain daripada itu. Tetapi, Mahisa Agni masih tetap dalam kesadarannya. Ia tidak dapat menuruti hawa nafsunya dan berbuat tanpa perhitungan. Sekali matanya membentur kilatan pantulan sinar dari batang golok Kebo Sindet yang masih kemerah-merahan.
“Mahisa Agni” terdengar Kebo Sindet itu menggeram “apapun yang kau lakukan, tetapi kau pasti akan menjadi santapan buaya-buaya kerdil itu. Tempat ini dikelilingi oleh rawa-rawa disegala arah. Arah manapun yang kau pilih, maka kau akan terperosok masuk ke dalamnya. Arah yang sekarang ini pun akan mengantarkanmu ke dalam mulut buaya itu. Cepat atau lambat. Apalagi aku tidak mempergunakan ikat pinggang kulit itu lagi. Tetapi aku mempergunakan senjataku yang sebenarnya. Nah, bersiaplah untuk mati dengan cara yang paling tidak menyenangkan”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi mulutnya sajalah yang gemeretak. Ia mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Kebo Sindet itu benar. Kemanapun ia pergi, ia akan mengarah ke bibir rawa-rawa. Tetapi arahnya kali ini adalah panjang, sebelum ia sampai kepada tanah gembur. Ia akan dapat mempergunakan setiap kesempatan yang terbuka untuk mendapatkan senjata. Sulur-sulur kaju atau cabang-cabang pepohonan. Kalau perlu batu-batuan atau gumpalan-gumpalan padas. Baginya memang tidak ada pilihan lain lagi daripada mempergunakan senjata apa saja yang diketemukan. Dan kedua orang-orang tua yang mengasuhnya di saat-saat terakhir telah menunjukkannya pula kepadanya, bagaimana ia harus mempergunakan segala macam benda untuk senjata. Mahisa Agni kemudian melihat Kebo Sindet itu berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Golok ditangannya telah digerak-gerakannya mendatar.
Mau tidak mau dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar pula. Yang ditangan Kebo Sindet kali ini bukan sekedar ikat pinggang kulit. Tetapi sebatang golok baja yang besar dan tajam. Meskipun seandainya tajam golok itu tidak menyamai pisau dapur sekalipun, bahkan punggungnya sama sekali, namun yang ajunan tangan Kebo Sindet akan cukup kuat untuk mematahkan seluruh tulang-tulang iganya sekaligus. Kini, ujung golok itu telah diangkat setinggi dada Mahisa Agni. Golok yang terjulur itu semakin lama menjadi semakin dekat kepadanya.
Tanpa disengajanya Mahisa Agni menebarkan pandangan matanya di sekitarnya, mumpung Kebo Sindet masih belum dekat benar. Kalau-kalau ia menemukan sesuatu yang dapat dipergunakannya untuk melawan golok iblis dari Kemundungan itu. Mahisa Agni menghentakkan giginya, ketika ia mendengar suara Kebo Sindet
“Kau tidak akan menemukan sesuatu, Agni. Kau tidak akan mendapat kesempatan untuk menemukan Senjata”.
Memang di sekitar Mahisa Agni berdiri, tidak ada sesuatu yang mungkin akan dapat dipergunakan untuk senjata. Tetapi ia tidak akan terpancang di tempat itu. Ia akan berkisar ke tempat yang memungkinkannya. Mahisa Agni sadar, bahwa Kebo Sindet pasti akan berusaha untuk menguasainya dan mendorong seorang yang dikehendaki. Tetapi arena kini menjadi lebih lapang bagi Mahisa Agni. Kesempatan untuk bergeser dan berkisar semakin luas.
“Tetapi apakah aku hanya akan sekedar berkisar dan bergeser saja tanpa perlawanan yang berarti?” desisnya di dalam hati.
Sementara itu Kebo Sindet sudah menjadi semakin dekat. Matanya yang merah menyala seperti soga, menyorotkan kemarahan yang tidak terkira. Sejenak iblis dari Kemundungan itu berhenti, namun matanya memandang Mahisa Agni dengan tanpa berkedip. Mahisa Agni sadar, bahwa segera ia akan dilibat oleh serangan-serangan senjata yang mengerikan di tangan iblis yang mengerikan pula. Perhitungan Mahisa Agni itu ternyata benar-benar terjadi. Sesaat kemudian dengan teriakan yang memekakkan telinga, Kebo Sindet meloncat menyerang Mahisa Agni. Pedangnya terjulur lurus, namun kemudian bergerak mendatar.
Serangan itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Kebo Sindet ternyata telah benar-benar sampai ke puncak usahanya untuk mengalahkan dan melumpuhkan lawannya, sebelum diseretnya dan dilemparkannya ke mulut binatang-binatang air yang buas. Dengan sepenuh tenaga pula Mahisa Agni berusaha menghindarkan dirinya. Ia tidak boleh lengah, sehingga ujung senjata itu melukai kulitnya seperti ikat pinggang kulit itu. Kalau kali ini golok itu menyentuhnya, maka bukan sekedar kulitnya yang terkelupas, tetapi dagingnya pun akan robek pula karenanya. Bahkan mungkin urat atau otot bebayunya akan terputus.
Saat-saat selanjutnya adalah saat yang menegangkan. Kebo Sindet yang marah itu menyambar-nyambar seperti seekor alap-alap dengan kukunya yang dahsyat, melibat dari segenap arah. Sedang Mahisa Agni hanya dapat berusaha menghindar dan menghindar terus. Ia masih belum mempunyai kesempatan untuk menyerang lawannya karena keseimbangan diantara mereka masih terganggu oleh golok Kebo Sindet.
Setiap kali Mahisa Agni bergeser menjauhi rawa-rawa itu supaya Kebo Sindet pada suatu saat tidak menemukan kesempatan seperti yang pernah terjadi, mendesaknya ketepi. Seandainya demikian yang dikehendakinya, mendesaknya ketepi yang lain, maka pasti masih akan diperlukan waktu yang panjang, sehingga kesempatan-kesempatan yang tidak terduga mungkin akan datang. Namun semakin dahsyat serangan-serangan yang datang dari Kebo Sindet, maka kemungkinan Mahisa Agni untuk mendapat senjata menjadi semakin tipis. Ia semakin terdesak ke dalam keadaan yang sulit.
Tetapi Mahisa Agni cukup lincah mempergunakan loncatan-loncatan panjang untuk mengatur jarak yang dikehendakinya dari lawannya, supaya ia tidak ditelan oleh putaran golok Kebo Sindet. Dan cara Mahisa Agni itu ternyata menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet, sehingga ia berteriak,
“Kenapa kau tidak lari saja menjauh? Pengecut, ternyata kau tidak sedang berkelahi. Kau hanya sekedar berlari-larian dan berloncat-loncatanan. Apakah aku harus melayanimu? Sebaiknya kau lari saja. Tetapi ingat, kemanapun kau lari, kau tidak akan dapat keluar dari tempat ini sehingga akan datang juga saatnya kau terikat dan terlempar ke mulut binatang-binatang air itu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi sebenarnya bahwa lari itu pun telah masuk di dalam angan-angannya. Ia memang akan berlari menjauh pada suatu saat apabila diperlukan. Bukan karena takut untuk melakukan perlawanan sampai tarikan nafasnya yang terakhir, bukan pula karena sifat pengecut telah tumbuh di dalam hatinya, tetapi lari akan bermanfaat baginya untuk mendapatkan kesempatan, melakukan perlawanan yang lebih baik. Mahisa Agni memang ingin berlari ke arah sebatang pohon beringin, untuk mengambil beberapa helai sulur yang akan dapat membantunya melawan Kebo Sindet yang seolah-olah telah menjadi gila itu.
Bahkan angan-angan itu menjadi semakin nyata ketika ia menjadi semakin terdesak., “Aku tidak dapat berkelahi dengan cara ini” katanya di dalam hati “Ternyata aku sekarang memang tidak sedang bertempur, tetapi aku sekedar bermain-main dengan nyawaku”.
Mahisa Agni itu pun kemudian membulatkan niatnya. Apapun yang akan dikatakan oleh Kebo Sindet tentang dirinya. Maka ketika kesempatan itu terbuka, ketika Mahisa Agni herhasil meloncat beberapa langkah menjauh, dipergunakannya kesempatan itu. Dengan serta merta ia berlari meninggalkan Kebo Sindet. Kebo Sindet justru terkejut melihat lawannya tiba-tiba berlari seperti dikejar hantu, menilik sikap dan perlawanan yang diberikan selama ini, maka Mahisa Agni agaknya akan melawan sampai akhir hayatnya. Tetapi tiba-tiba saja anak itu berlari sipat kuping.
Tetapi ketika ia melihat arah lari Mahisa Agni, segera Kebo Sindet menyadari, bahwa Mabisa Agni tidak akan meniggalkannya. Ia kini dapat menangkap maksud anak muda itu. Mendapatkan sulur-sulur beringin untuk melawannya. Karena itu maka Kebo Sindet itupun segera meloncat mengejarnya. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk menemukan keseimbangan di dalam perkelahian itu.
Agak jauh dari arena perkelahian itu, Kuda Sempana berdiri dengan mulut ternganga. Seperti bermimpi ia menyaksikan apa yang telah terjadi. Pada saat permulaan dari perkelahian antara Mahisa Agni dan Kebo Sindet, Kuda Sempana hampir-hampir tidak percaya akan penglihatannya sendiri. Betapa mungkin ia melihat, Mahisa Agni itu berkelahi melawan Kebo Sindet. Lebih-lebih lagi Kebo Sindet itu memegang senjata ditangannya, sedang Mahisa Agni sama sekali tidak. Semula Kuda Sempana mencoba menganggap bahwa hal itu terjadi secara kebetulan. Tetapi kebetulan tidak akan terjadi terus menerus, seperti apa yang disaksikannya kemudian.
Belum beberapa lama ia sendiri berkelahi melawan Mahisa Agni. Ia merasa, bahwa kekuatan Mahisa Agni tidak telampau banyak terpaut daripadanya. Bahkan kadang-kadang ia berhasil melemparkan dan bahkan mendorong anak muda itu sehingga jatuh di tanah. Tetapi kini ia melihat Mahisa Agni itu bertempur dengan Kebo Sindet yang seolah-olah dalam keadaan berimbang.
“Apakah Kebo Sindet itu sebenarnya memang tidak terlampau jauh daripada Mahisa Agni dan dari padaku sendiri?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya. Tetapi ketika ia melihat perkelahian Mahisa Agni dan Kebo Sindet itu selanjutnya, maka katanya di dalam hati “Aku sudah hampir gila, aku sudah tidak dapat mengenal lagi tingkat ilmu seseorang”.
Kuda Sempana itu kemudian melihat pertempuran menjadi semakin seru. Hatinya menjadi ikut berdebar-debar tanpa setahunya sendiri pada saat ia melihat Mahisa Agni terdorong hampir terperosok ke dalam rawa-rawa. Sebab Kuda Sempana tahu isi dari pada rawa-rawa itu. Namun menjadi berlega hati pula, pada saat ia melihat Mahisa Agni berhasil melepaskan dirinya dari kemungkinan yang mengerikan itu.
Sejenak Kuda Sempana kehilangan tanggapan atas kedua orang yang sedang berkelahi itu. Sejak lama ia menyimpan dendam kepada Mahisa Agni. Sejak ia menyadari bahwa Mahisa Agnilah penghalang utama dari setiap usahanya untuk mendapatkan Ken Dedes. Karena itu pulalah ia terdorong semakin jauh ke dalam kegelapan dan bahkan akhirnya ia terjerumus ke dalam sarang iblis ini setelah ia kehilangan hampir segalanya, bahkan dirinya sendiri. Tetapi selain dendamnya yang seakan-akan telah berakar di dalam dadanya, ia melihat pula, bahwa ia hampir tidak dapat memperhitungkan apa yang kira-kira terjadi dengan dirinya, apabila ia tetap berada disarang iblis ini. Ia hampir-hampir tidak dapat lagi mengenal pribadinya. Bahkan ia menjadi acuh tak acuh terhadap semua peristiwa dan persoalan, meskipun itu akan menyangkut dirinya sendiri.
Tetapi, ketika ia melihat Mahisa Agni bangkit untuk melawan Kebo Sindet, timbullah berbagai macam pikiran di dalam dirinya. Mahisa Agni yang disangkanya sudah kehilangan semua watak-wataknya, ternyata pada suatu saat telah menentukan sikap. Bahkan tidak masuk akal bahwa Mahisa Agni itu ternyata mampu melawan Kebo Sindet dalam perkelahian seorang lawan seorang. Terasa sebuah getaran yang tajam melanda jantungnya, sehingga darahnya menjadi semakin cepat mengalir. Dalam waktu yang hanya sesaat itu, bergolaklah semua isi dadanya. Tumbuhlah suatu sikap yang selama ini tidak pernah dikenalnya lagi. Harga diri.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar