“Kenapa aku selama ini membiarkan diriku menjadi alat mati dari Kebo Sindet? Kenapa aku tidak pernah membuat suatu sikap seperti yang dilakukan oleh Mahisa Agni?” Tetapi sekali lagi dadanya dilanda oleh suatu pertanyaan “Kenapa Mahisa Agni kini mampu melakukan perlawanan itu?”
Teringat pula olehnya, bahwa Mahisa Agni dapat melakukan hampir semua unsur gerak yang khusus dari perguruannya. Bahkan lebih baik dari pada dirinya sendiri.
“Hem”, desahnya “apakah ada setan iblis yang datang dan memberinya petunjuk mengenai ilmu itu? Tidak ada orang kedua yang mampu berbuat serupa itu kecuali guru. Murid-muridnya pasti tidak akan dapat berbuat demikian, menuangkan ilmu sampai tingkat itu meskipun pada dasarnya Mahisa Agni sendiri telah memiliki ilmu yang cukup”.
Pertanyaan itu ternyata telah membuat Kuda Sempana bingung. Seolah-olah telah terjadi suatu keajaiban atas diri Mahisa Agni itu. Namun kemudian ia harus menahan nafasnya ketika ia memperhatikan perkelahian antara Mahisa Agni dan Kebo Sindet. Kini ia melihat Mahisa Agni itu berlari kencang-kencang meninggalkan lawannya. Tanpa sesadarnya Kuda Sempana itu menjadi berdebar debar,
“Kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni itu lari?” Dan ia menjadi semakin berdebar-debar pula ketika ia melihat Kebo Sindet segera mengejarnya dengan golok terhunus.
Adalah diluar kesadarannya, dan bahkan kemudian menimbulkan keheranan pada dirinya sendiri, apabila tiba-tiba saja Kuda Sempana itu berpihak kepada Mahisa Agni. Di dalam hatinya ia mengharap bahwa Mahisa Agni akan dapat menyelamatkan dirinya. Melepaskan diri dari iblis Kemundungan yang ganas ini.
“Tetapi daerah ini dikelilingi oleh rawa-rawa berlumpur. Apabila Mahisa Agni kehilangan pertimbangan dan mencoba lari masuk ke dalam rawa, maka sudah dapat dipastikan, bahwa ia akan menjadi makanan yang sedap bagi binatang-binatang air itu.”
Kuda Sempana menahan nafasnya ketika ia melihat Kebo Sindet itu berteriak sambil mengacu-acukan senjatanya, “He, kau tidak akan dapat lepas lagi tikus yang sombong”.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak menyahut, dan sama sekali tidak berpaling. Ia mencoba mempercepat langkah untuk segera sampai pada sebatang pohon beringin yang tumbuh subur dengan ratusan sulur-sulur yang menjutai sampai ketanah.
Kuda Sempana yang sedang berdebar-debar itu, tanpa disengaja pula telah melangkah maju. Bahkan kemudian ia berjalan semakin cepat ke arah kedua orang yang sedang berkejaran. Namun baru beberapa langkah, ia tertegun. Kini ia menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Mahisa Agni. Sama sekali bukan sedang melarikan diri.
Ketika Mahisa Agni itu sampai dibawah pohon beringin segera ia meloncat meraih sehelai sulur yang berjuntai dari sebatang dahan yang cukup tinggi. Ternyata Mahisa Agni tidak segera mematahkan sulur itu dengan kekuatannya yang luar biasa yang tersimpan di dalam dirinya, karena Kebo Sindet berada tidak terlampau jauh dari padanya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan dan sebelum siap benar, pedang lawan akan menyentuh tubuhnya.
Itulah sebabnya maka ketika tangannya telah menangkap sulur beringin itu, ia justru meloncat naik semakin tinggi. Seperti seekor tupai Mahisa Agni memanjat keatas dan hinggap pada sebatang dahan yang tinggi. Dari tempatnya ia dapat melihat Kebo Sindet yang berdiri dibawahnya dengan golok terhunus. Kebo Sindet yang berdiri termangu-mangu itu tidak segera mengejarnya dengan memanjat pohon itu pula, karena beberapa keragu-raguan yang mengganggu kepalanya.
“Apakah yang akan dilakukan oleh anak setan itu?” pertanyaan itu telah tumbuh di dalam dadanya, ketika ternyata Mahisa Agni tidak segera mengambil sehelai sulur untuk senjata.
Tetapi segera Kebo Sindet tahu maksud Mahisa Agni itu. Karena itu maka iapun mengumpat, “Iblis kecil, bagaimanapun kau mencoba memilih, tetapi kau tidak akan mendapat senjata yang baik untuk melawan golokku”.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak mempedulikannya. Ketika didapatnya sehelai sulur yang sesuai dengan kehendaknya maka segera sulur itu dipatahkannya. Dipotongnya sulur itu sepanjang yang dikehendakinya. Ternyata ia tidak hanya memegang sehelai sulur ditangan kanannya, tetapi ditangan kirinya, Mahisa Agni memegang sepotong dahan kayu untuk merangkapi senjatanya.
“He, cepat turun kau anak setan. Kau sangka aku tidak dapat mengejarmu dan membunuhmu diatas dahan-dahan itu?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar meloncat ke dahan yang lebih rendah lagi. Ia harus membuat perhitungan sebaik-baiknya sehingga ia tidak terjun keujung golok Kebo Sindet. Karena itulah maka tanpa disangka-sangka, justru Mahisa Agni itu meloncat ke tanah, di balik pohon tempat Kebo Sindet berdiri. Ia harus memperhitungkan waktu yang hanya sekejap sekalipun, karena lawannya adalah Kebo Sindet.
Kebo Sindet menggeram. Ketika ia melihat Mahisa Agni terjun, segera ia mengejarnya dengan pedang terhunus. Ia harus mempergunakan kesempatan itu sebelum Mahisa Agni tegak benar di atas kedua kakinya. Seperti Mahisa Agni Kebo Sindet pun memperhitungkan waktu yang hanya sekejap sekalipun. Namun, dengan sulur yang panjangnya hampir dua depa, Mahisa Agni segera melindungi dirinya yang belum berdiri tegak. Kini Mahisa Agnilah yang memutar sulur itu di sekeliling tubuhnya seperti baling-baling.
“Setan kecil yang licik” sekali lagi Kebo Sindet menggeram.
Sulur itu lebih panjang dari goloknya, sehingga dalam keadaan itu, ia tidak segera dapat mendekat. Dengan marahnya, Kebo Sindet pun kemudian menggerakkan goloknya. Ia yakin bahwa ia akan mampu memotong sulur Mahisa Agni dengan goloknya sehingga senjata lawannya itu akan menjadi semakin pendek.
Tetapi Mahisa Agni telah terlatih mempergunakan segala macam senjata yang diketemukannya. Itulah sebabnya, maka segera ia merubah gerak senjatanya. Kini tidak berputar, tetapi melenting dan kemudian sendal pancing.
Sekali lagi Kebo Sindet mengumpat di dalam hatinya. Sekali lagi ia harus melihat, bahwa Mahisa Agni bukan sekedar seorang anak muda yang sombong dan telah kehilangan pengamatan diri. Kini semakin nyata baginya, bahwa Mahisa Agni benar-benar memiliki kemampuan untuk melawannya.
Sejenak kemudian, di bawah pohon beringin tua yang rimbun itu telah berlangsung perkelahian yang semakin dahsyat. Dengan sepasang senjatanya Mahisa Agni kini mampu memberikan perlawanan yang lebih berarti. Sulur beringinnya berputar, melecut dan mamatuk dari segenap arah. Sedang sepotong kayu di tangan kirinya memberikan tekanan-tekanan yang membuat Kebo Sindet menitikkan keringat di segenap wajah kulitnya.
“Oh, anak setan ini benar-benar mampu melakukan perlawanan itu”. Kebo Sindet berdesis di dalam hatinya, “tetapi siapakah yang telah menuntunnya itu?”
Sejenak kemudian, Kebo Sindet pun harus bekerja mati-matian untuk mempertahankan dirinya. Setiap saat ia tidak dapat lengah. Tubuhnya seakan-akan kini diputari oleh ujung sulur Mahisa Agni, seperti ribuan lebah yang siap untuk menyengatnya dari segenap arah.
Tetapi Kebo Sindet bukan anak kemarin sore yang masih belum hilang pupuk diubun-ubunnya. Kebo Sindet adalah seorang iblis yang dipenuhi oleh pengalaman. Itulah sebabnya maka sejenak kemudian ia telah berhasil menyesuaikan dirinya menghadapi sepasang senjata Mahisa Agni itu. Ia yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berani berbenturan senjata. Dengan demikian senjata anak muda itu pasti akan terpotong. Itulah sebabnya, maka Kebo Sindet kemudian menjadi lebih garang. Serangannya kini tidak ditekankan pada tusukan-tusukan yang mengarah kebagian-bagian tubuh lawannya yang lemah, tetapi Kebo Sindet mengayun-ayunkan senjatanya mendatar, miring dan bahkan tegak keatas.
Di bawah pohon beringin itu kini benar-benar telah ditegangkan oleh perkelahian yang paling dahsyat yang pernah dilihat oleh Kuda Sempana yang berdiri membeku. Meskipun pengalamannya pun cukup banyak, dan meskipun telah seribu kali disaksikannya perkelahian-perkelahian yang paling seru, tetapi kali ini ia benar-benar terpukau seolah-olah mati kehilangan kesadaran diri. Apalagi yang sedang berkelahi itu adalah Mahisa Agni. Mahisa Agni yang sehari-hari dilihatnya seakan-akan telah tidak mampu lagi menggerakkan unsur gerak satupun lagi dengan sempurna.
Tetapi, dada Kuda Sempana itu kemudian terguncang ketika ia melihat perkelahian itu. Meskipun ia tidak dapat mengukur dengan pengetahuannya, namun ia merasakan sebuah keseimbangan di dalam perkelahian itu. Tetapi ternyata pengalaman Kebo Sindet masih lebih baik dari Mahisa Agni, apalagi senjata Kebo Sindet pun lebih baik pula. Karena itu, maka ketika Mahisa Agni terlambat menarik senjatanya, sebuah ajunan golok yang mendatar, telah berhasil menyentuh senjatanya itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa melontar beberapa langkah surut ketika ia menyadari bahwa sulurnya telah terpotong hampir separo.
Kebo Sindet yang melihat pula bahwa senjata Mahisa Agni telah terpotong dan anak muda itu meloncat surut, sengaja tidak segera mengejarnya. Dibiarkannya Mahisa Agni itu kemudian berdiri termangu-mangu sambil sekali-sekali memandangi ujung sulurnya yang telah terpotong itu.
“Jangan kau sesali anak manis” terdengar suara Kebo Sindet seakan-akan melingkar-lingkar di dalam perutnya, “senjatamu telah terpotong. Tetapi lihatlah, bahwa pada pohon beringin itu masih bergantungan beratus-ratus macam senjata seperti senjatamu itu. Apakah kau akan mengambilnya pula? Meloncat dan hinggap pada dahan yang tinggi untuk mendapat kesempatan memilih sepotong sulur yang paling setua menurut seleramu?” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi terdengar giginya gemeretak.
“Cepat sedikit” berkata Kebo Sindet kemudian “ambillah sulur-sulur yang lain”.
Mahisa Agni masih berdiam diri. Ia tidak akan berbuat begitu bodoh untuk menarik sebuah sulur yang lain. Dengan demikian maka berarti ia telah menyerahkan dirinya untuk dibantai oleh lawannya. Karena itu ia masih tetap tegak di tempatnya. Ia masih cukup kuat untuk melindungi dirinya dengan sulur yang tinggal sepotong itu dan sepotong lagi dahan kayu ditangan kirinya.
“Kenapa kau diam saja?” bertanya Kebo Sindet “aku beri kau waktu untuk memilih sulur-sulur itu”. Mahisa Agni yang seakan-akan membeku itu masih membeku. “Bagus, kalau kau tidak bersedia untuk mengambil senjata yang baru, maka bersedialah untuk mati”.
Mahisa Agni mundur selangkah ketika ia melihat Kebo Sindet mendekatinya dengan golok terjulur lurus kedadanya. Ia harus menjadi semakin berhati-hati. Selanjutnya kini hanya lebih panjang sedikit saja dari senjata lawannya. Sedang sudah pasti bahwa ia tidak akan membenturkan senjatanya itu langsung dengan senjata Kebo Sindet. Dengan demikian ia akan berarti memotong senjatanya lebih pendek lagi.
Sejenak kemudian Kebo Sindet itu telah meloncat menyerbu. Kini ia menjadi kian garang. Mahisa Agni sudah tidak dapat menyerangnya dari jarak yang jauh lebih panjang dari goloknya. Ia kini dapat berdiri lebih dekat, dan bahkan ujung goloknya yang berputaran itu kadang-kadang hampir menyentuh kulit Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni itu pun telah bekerja mati-matian. Dengan sepasang senjatanya ia mencoba melawan sekuat-kuat tenaganya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu kian menjadi sengit. Keduanya berloncatan, berputaran dan saling mendesak.
Dengan segenap kemampuan yang ada, Mahisa Agni telah mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Tetapi pengalamannya yang lebih sempit dari lawannya sering membuatnya terdesak beberapa langkah. Ternyata perkelahian yang sebenarnya mempunyai watak yang berbeda dengan latihan-latihan yang sering dilakukannya dengan gurunya dan Empu Sada. Meskipun kadang-kadang Mahisa Agni harus bertempur melawan kedua orang tua-tua itu, namun keduanya bukanlah lawan yang benar-benar ingin membinasakannya.
Tetapi apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet itu jauh berbeda dari pada kedua orang-orang tua itu. Kebo Sindet ternyata benar-benar seperti apa yang dikatakan gurunya. Kasar dan bahkan hampir dapat dikatakan buas. Itulah sebabnya maka kadang-kadang Mahisa Agni mengalami kesulitan. Kadang-kadang ia benar-benar harus meloncat jauh-jauh untuk mempersiapkan diri dalam perlawanannya yang berikutnya.
Golok Kebo Sindet ternyata terlampau mengerikan. Ayunan yang keras membuat udara berdesing, seakan-akan suara kidung yang melagukan iringan tarian maut. Sedang senjata Mahisa Agni hanyalah sepotong sulur dan sepotong kayu yang terlampau lunak dibandingkan dengan golok baja yang berkilat-kilat itu.
Semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin terdesak. Betapa ia bergerak dengan lincah dan tangkas, tetapi senjata Kebo Sindet selalu mengejarnya, tanpa dapat melawan dengan benturan. Yang dapat dilakukan hanyalah menghindar dan menyerang dengan tiba-tiba. Tetapi apabila Kebo Sindet kemudian menangkis dengan goloknya, Mahisa Agni harus dengan tergesa-gesa menarik serangannya. Keringat Mahisa Agni benar-benar telah hampir terperas tuntas. Tubuhnya menjadi basah dan mengkilat. Debu yang kotor, lumpur yang kehitam-hitaman dan kotoran-kotoran yang lain telah melekat pada tubuhnya yang basah itu.
Perlahan-lahan Kebo Sindet berusaha mendesak Mabisa Agni sekali lagi kearah yang dikehendakinya. Apabila sekali-sekali Mahisa Agni berusaha mengambil arah yang lain, maka Kebo Sindet segera berusaha untuk menahannya dan menguasainya pada arah yang diinginkannya.
“Iblis yang licik” Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Tetapi mulutnya tetap terkatup rapat. Tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Namun terdengar giginya bergemeretak.
Kuda Sempana menyaksikan perkelahian itu dengan nafas yang tertahan-tahan. Kadang-kadang ia menjadi cemas melihat Mahisa Agni yang selalu terdesak. Tetapi kadang-kadang ia berkata kepada dirinya sendiri,
“Aku tidak berkepentingan dengan keduanya. Apabila salah seorang dari mereka mati, aku tidak akan kehilangan. Bahkan aku seharusnya menjadi bersenang hati karenanya. Baik Mahisa Agni, maupun Kebo Sindet. Keduanya adalah orang-orang yang memuakkan. Mahisa Agni adalah orang yang paling gila, yang telah menjerumuskan aku ke dalam neraka ini. Sedang Kebo Sindet adalah orang yang paling buas yang pernah aku temui dimuka bumi ini”.
Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi matanya terbelalak ketika ia melihat sebuah goresan di pundak kiri Mahisa Agni. “Kebo Sindet telah melukainya lagi” desisnya.
Dan sejenak kemudian ia melihat Mahisa Agni menjadi semakin terdesak. Kini sulurnya yang pendek itu sekali lagi terpotong semakin pendek. Hampir tidak berarti lagi dalam perlawanannya atas golok Kebo Sindet yang besar itu. Dengan demikian maka potongan kayunya lah yang kini berpindah ketangan kanannya, dan sulur yang tinggal sepotong pendek itu masih tetap digenggamnya di tangan kiri.
Sekali lagi Kebo Sindet menghentikan serangannya. Sambil mengacung-acungkan goloknya ia berkata lantang, “Ha, lihat Mahisa Agni. Senjatamu menjadi semakin pendek. Sebentar lagi kau akan kehilangan alat untuk mempertahankan dirimu. Kalau senjatamu itu menjadi semakin pendek lagi, maka kemudian tanganmulah yang akan menjadi semakin pendek pula. Sekarang sudah tidak ada jalan kembali buatmu. Aku sama sekali tidak akan mempertimbangkan memberi ampun kepadamu. Yang dapat aku lakukan hanyalah memperingan penderitaan sebelum matimu. Hanya itu. Coba katakanlah bahwa kau menyerah. Kau akan mengurangi penderitaanmu sendiri pada saat-saat terakhir”. Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram.
“Ayo, berlutut dan katakanlah bahwa kau menyerah”. Mahisa Agni masih mematung. “Bagus. Jadi kau benar-benar keras kepala. Bukan hanya kau yang akan menderita disaat-saat matimu, tetapi Ken Dedes pun akan menderita dan tersiksa pula. Ia harus tahu apa yang terjadi atasmu di sini”.
Dada Mabisa Agni berdesir. Ternyata kata-kata itu telah menggoreskan kecemasan di dinding hatinya. Apabila benar demikian, maka alangkah tersiksanya adiknya itu.
“Nah, apa katamu?”
Tetapi tidak ada sepercik ingatan pun di kepala Mahisa Agni, bahwa ia akan menyerahkan dirinya untuk dijadikan umpan buaya-buaya kerdil di dalam rawa-rawa itu. Karena itu maka ia masih tetap berdiri tegak ditempatnya dengan sepasarg senjata ditangannya. Sepotong kayu dan sepotong sulur yang telah menjadi terlampau pendek. Sedang dibeberapa tempat darahnya masih juga menitik perlahan-lahan. Namun oleh keringatnya, tampaklah warna merah di pundak dan punggungnya seakan-akan meleleh dari luka yang dalam.
“Kau sudah meneteskan darah”. berkata Kebo Sindet, “semakin banyak kau bergerak, maka darah itu akan menjadi semakin banyak mengalir. Meskipun aku tidak berhasil menusuk dadamu dengan golokku ini, kau pasti akan mati kehabisan darah”.
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Ia tahu, bahwa lukanya tidak terlampau parah. Luka itu hanya sekedar pada kulitnya yang terkelupas oleh sabetan ikat pinggang kulit dan sebuah goresan yang tidak dalam. Tetapi ia harus memperhitungkannya pula, bahwa lambat laun, luka-luka itu akan benar-benar berpengaruh.
“Bagaimana?” Kebo Sindet bertanya dengan penuh penghinaan “apakah kau tidak bertekuk lutut saja sambil menyembah aku?” Tak ada jawaban. “Baik. Baik. Aku akan segera mulai. Kesempatan ini sudah kau lewatkan”.
Setapak Kebo Sindet itu maju. Goloknya terayun-ayun di sisi tubuhnya, namun kemudian golok itu terjulur kedepan, “Sebutlah nama gurumu. Kau akan mati hari ini”.
Belum lagi mulut Kebo Sindet itu terkatub, ia menjadi sangat terkejut. Tanpa diduga-duganya Mahisa Agni yang menjadi semakin muak itu, meloncat dengan kecepatan yang tidak terkirakan, menyerangnya dengan potongan kayunya. Kebo Sindet yang tidak menyangkanya, sekejap menjadi agak bingung. Namun gerak naluriahnya, telah mendorongnya untuk meloncat menghindar. Mahisa Agni yang dibakar oleh kemarahannya itu segera memburunya, menyerangnya seperti badai. Potongan kayunya terayun deras sekali kearah kepala lawannya.
Tetapi kini Kebo Sindet tidak ingin meloncat menghindar lagi. Ketika ia sudah agak mapan, maka segera ia berusaha untuk menangkis serangan itu dengan goloknya. Ia mengharap dapat mematahkan potongan kayu Mahisa Agni itu. Namun agaknya Mahisa Agni telah memperhitungkannya. Segera ia menarik serangannya, dan tanpa diduga-duga pula tangan kirinya menyambar lengan Kebo Sindet dengan ujung sulurnya. Terasa oleh Kebo Sindet, senjata lawannya itu mematuknya, dan sebuah goresan merah menyilang pada lengannya.
“Anak setan” Kebo Sindet itu mengumpat keras-keras. Ternyata bahwa ujung sulur Mahisa Agni mampu juga melukai kulitnya meskipun hampir tidak banyak berarti. Tetapi darah Kebo Sindet pun telah meleleh dari lukanya itu pula.
Titik darah itu bagaikan minyak yang menyiram api kemarahan iblis yang ganas itu. Terdengar ia berteriak tinggi. Sebuah serangan yang paling kasar segera dilakukannya sambil memutar goloknya seperti baling-baling. Namun Mahisa Agni pun telah sampai pada puncak kemarahannya. Ia hampir tidak tahan lagi. Ia menjadi muak dan jemu. Tetapi ia tidak akan dapat memaksakan kehendaknya begitu saja. Kebo Sindet pun menjadi jemu pula pada permainan itu sehingga dengan dada yang bergelora ia ingin segera menyelesaikannya.
Ketika perkelaian meningkat semakin seru, maka tampaklah bahwa kedudukan Mahisa Agni menjadi semakin sulit. Senjatanya hampir-hampir tidak berarti lagi. Ia tidak mau langsung membenturkan senjatanya itu melawan golok lawannya. Dengan demikian maka senjatanya akan menjadi semakin pendek lagi. Tetapi betapa ia menggenggarn senjata, namun apabila tidak dapat dipergunakannya, maka senjata itupun sama sekali tidak berarti lagi baginya.
Mahisa Agni itupun kemudian tidak dapat berbuat lain. Desakan lawannya menjadi semakin ketat, sehingga mau tidak mau ia harus sekali-sekali menangkis golok Kebo Sindet. Beberapa kali ia berhasil memukul senjata lawannya itu pada sisinya, namun Kebo Sindet selalu berusaha untuk membentur pada tajam goloknya.
Maka ketika pada suatu saat serangan Kebo Sindet yang tanpa disangka-sangkanya melayang kearahnya, dan kesempatan lain tidak ada lagi baginya, maka dengan terpaksa sekali Mahisa Agni menangkis serangan itu dengan potongan kayunya sambil bergeser setapak kesamping. Akibat dari benturan itu ternyata mengejutkannya pula. Benturan dari kekuatan yang dahsyat akibatnya potongan kayunyalah yang benar-benar terpotong hampir pada pangkalnya. Hanya beberapa jari saja dari gemgaman tangannya.
Dada Mahisa Agni berdesir melihat senjatanya terpotong sehingga tinggal tidak lebih dari secengkak. Sedang lawannya telah menjadi semakin buas. Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Dilihatnya kini Kebo Sindet berdiri tegak sambil memandangi potongan kayunya yang menjadi terlampau pendek. Selagi Mahisa Agni masih berdesis menahan nyeri tangannya, terdengar Kebo Sindet itu tiba-tiba tertawa menyeramkan. Suara mengguntur menghantam gerumbul-gerumbul perdu disekitar nya. Seakan-akan sudah mendapatkan suatu keyakinan bahwa sebentar lagi lawannya pasti akan dapat dimusnakan.
Disela-sela suara tertawanya iblis itu berkata, “Ayo, carilah kayu, batu dan apa saja sebanyak-banyaknya. Kau harus tahu, bahwa yang berdiri dihadapanmu sekarang adalah Kebo Sindet”.
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Ia harus menjadi semakin waspada. Tidak ada waktu sekejappun untuk lengah, sebab dengan demikian, umurnya akan menjadi semakin pendek. Bukan kematiannya yang sebenarnya dicemaskannya. Tetapi bahwa ia tidak berhasil dalam usahanya membinasakan iblis itulah yang mengecewakannya dan mengecewakan kedua orang-orang tua yang selama ini mengasuhnya, membibingnya, dan meletakkan harapan mereka kepadanya.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu menggeram. Betapapun juga ia harus melawan dan membinasakan iblis itu. Tetapi iblis itu berpendirian demikian pula, lawannya itu harus ditangkapnya dan diumpankannya kepada buaya-buaya kerdil selagi ia masih dapat merasakan kengerian yang paling dahsyat.
Sejenak kedua orang itu masih berdiri ditempat masing-masing. Kebo Sindet masih belum beranjak dari tempatnya. Suara tertawanya masih menggema diseputar daerah yang lembab itu. Sekali lagi terdengar ia berkata diantaranya tertawanya
“Adalah menyenangkan sekali melihat wajahmu kini Mahisa Agni. Aku memang tidak akan segera mendorongmu ke dalam rawa-rawa itu. Aku senang sekali melihat kau dicengkam oleh ketakutan, kegelisahan, dendam yang tersimpan di dalam hati, kemarahan dan segala macam perasaan yang harus kau telan kembali. Perasaan yang demikian memang sangat menyakitkan hati. Nah, kini nikmatilah siksaan perasaanmu itu sebelum kau merasakan siksaan yang paling ngeri bagi tubuhmu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram dan menggeretakkan giginya. Sementara itu Kuda Sempana pun masih juga berdiri sebagai patung. Ia melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Agni. Senjata anak muda itu sudah tidak berarti lagi baginya.
“Sebentar lagi anak itu akan terlempar ke dalam rawa-rawa” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya “dan terbalaslah sebagian dari dendamku? Ia telah menghinakan aku selama ini, sehingga aku terpaksa menempuh jalan yang menyesatkan aku ke daerah ini”.
Tetapi Kuda Sempana tidak berhasil mengelabuhi perasaan sendiri. Betapa ia mencoba membangkitkan perasaan dendamnya yang telah tertimbun oleh berbagai macam peristiwa dan persoalan, namun sebenarnya ia menjadi cemas melihat kenyataan itu. Ia tidak dapat ingkar, bahwa pada saat-saat terakhir ia merasa, bahwa nasibnya pun kelak tidak akan lebih baik dari nasib Mahisa Agni itu. Seandainya Mahisa Agni hari ini terbunuh, maka pada saat berikutnya ia akan menjadi bulan-bulanan yang akan menampung segala macam sifat dan tabiat Kebo Sindet. Kemarahan, dendam, kebencian dan segala macam sifat dan watak iblisnya. Kuda Sempana masih berdiri tegak seperti patung. Namun di dalam dirinya terjadi pergolakan yang dahsyat menanggapi keadaan. Ia tidak dapat ingkar lagi, bahwa sebenarnya ia ingin agar Mahisa Agni memenangkan perkelahian itu.
“Tetapi akibatnya akan sama saja baginya. Kalau Agni menang maka akupun akan dibunuhnya pula” Kuda Sempana masih mencoba memenangkan hatinya yang sebenarnya telah dicemaskan dan digelisahkan oleh keadaan Mahisa Agni yang semakin terdesak, “biar sajalah Mahisa Agni itu terbunuh dengan cara apapun”.
Namun kemudian jauh di dasar hatinya terdengar suara “Sebenarnya lebih baik Kebo Sindet sajalah yang mati dalam perkelahian itu. Mahisa Agni pasti akan jauh lebih baik dari iblis itu. Dalam perkelahian yang dipaksakan oleh Kebo Sindet itupun Mahisa Agni sama sekali tidak bernafsu untuk mencelakaiku”. Lalu ia menggeram di dalam hatinya “Tetapi apakah yang dapat aku lakukan? Aku sama sekali pasti tidak akan berarti apa-apa apabila aku ikut dalam perkelahian itu. Sebuah sentuhan tangan atau kaki Kebo Sindet pasti telah dapat membunuhku kalau dikehendakinya”.
Kuda Sempana itu kemudian berdiri saja termangu-mangu. Ia masih mendengar suara tertawa Kebo Sindet. Tetapi suara itu semakin lama menjadi semakin menurun. Kalau suara tertawa itu berhenti, maka akan sampailah saatnya Mahisa Agni terdorong ke dalam mulut buaya-buaya kerdil yang rakus itu.
Tiba-tiba Kuda Sempana menjadi ngeri. Terbayang di rongga matanya Mahisa Agni menggelepar dimulut buaya-buaya itu, namun anak muda itu pasti tidak akan dapat melepaskan diri dari gigi-gigi yang mengerikan. Tanpa dikehendakinya sendiri Kuda Sempana memutar tubuhnya. Lebih baik untuk tidak melihat akhir dari perkelahian itu daripada ia menyiksa perasaan sendiri. Perasaan yang selama ini seolah-olah telah mati dan membeku.
Tetapi tiba-tiba mata Kuda Sempana itu terbelalak. Pada sebuah batu ia melihat pedangnya tersandar. Pedang yang tadi diminta oleh Kebo Sindet pada saat ia dipaksa berkelahi melawan Mahisa Agni. Ternyata pedang itu diletakkan disana. Dada anak muda itu menjadi berdebar-debar. Pedang itu telah benar-benar menarik perhatiannya. Sesuatu tiba-tiba tumbuh di dalam dadanya.
Tiba-tiba ia berpaling. Suara tertawa Kebo Sindet sudah hampir hilang.”Aku harus berbuat sesuatu” barkata Kuda Sempana itu di dalam dirinya, “Cepat sebelum aku terlambat”.
Kuda Sempana itupun segera berlari ke arah pedangnya yang bersandar pada sebongkah batu. Ia sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi atas dirinya. Apakah yang dilakukannya itu akan menguntungkannya atau justru sebaliknya. Ketika tangannya kemudian meraih pedang itu, maka ia sudah tidak mendengar lagi tertawa Kebo Sindet. Dengan dada yang berdebaran ia berpaling, memandangi mereka yang sedang berhadapan, siap untuk membuat perhitungan terakhir.
Pada saat itu Mahisa Agni berada di dalam puncak ketegangannya. Ia kini telah hampir sampai pada keadaan seperti sebelum ia melepaskan diri untuk berlari kepohon beringin itu. Kini ia telah terdesak lagi ketepi rawa-rawa berlumpur. Sedang ditangan Kebo Sindet kini tergenggam goloknya, bukan sekedar sebuah ikat pinggang kulit.
Mahisa Agni pun menyadari keadaan yang dihadapinya. Kebo Sindet agaknya telah jemu pula pada perkelahian itu, sehingga saat-saat berikutnya adalah saat-saat yang menentukan. Kini Mahisa Agni melihat Kebo Sindet itu telah bersiap pula. Wajahnya menjadi semakin buas dan tatapan matanya yang merah menjadi semakin liar. Wajah itu telah benar-benar berubah menjadi wajah iblis yang paling mengerikan. Tetapi Mahisa Agni sudah bertekad untuk tidak berputus asa betapapun keadaannya. Ia harus berjuang dengan kemampuan yang setinggi-tingginya.
“Aku tidak boleh terpengaruh oleh keadaan yang bagaimanapun juga”.
Mahisa Agni itu kemudian menggeram ketika ia melihat Kebo Sindet maju setapak demi setapak. Dengan sorot mata penuh kebencian, iblis dari Kemundungan itu mendekati lawannya. Goloknya bergetar seperti getar di dadanya.
“Kau tidak akan dapat mengelabui aku lagi setan kecil” terdengar suara Kebo Sindet seakan-akan bergulung di dalam perutnya, “kau tidak akan dapat lari lagi dari tanganku meskipun aku tahu bahwa kau tidak akan dapat keluar dari tempat ini. Tetapi kau telah benar-benar menjemukan sehingga kau harus segera mendapat hukumanmu. Disini kau tidak akan mendapat kesempatan untuk mencari senjata apapun juga. Batu pun tidak”.
Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap berdiri tegak dengan kaki merenggang. Ketika Kebo Sindet menjadi semakin dekat, maka Mahisa Agni itu pun merendahkan badannya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.
“Apakah kau anggap bahwa sepotong kayu dan sulur ditanganmu itu masih berguna?” terdengar suara Kebo Sindet penuh hinaan.
Tetapi Mahisa Agni tetap membisu. Hanya matanya sajalah yang menyalakan kemarahan yang membara didadanya. Pada saat-saat yang demikian itulah terjadi sesuatu yang tidak terduga-duga sebelumnya. Mereka berdua yang sedang berhadap-hadapan dalam puncak ketegangan itu mendengar langkah seseorang berlari-lari. Betapa mereka terikat dalam saat-saat yang paling berbahaya, namun mereka berpaling juga tanpa meninggalkan kewaspadaan. Yang mereka lihat benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Kuda Sempana lah yang berlari-lari mendekati arena perkelahian itu dengan pedang ditangan. Dan tanpa mereka duga-duga pula, bahkan sama sekali di luar nalar mereka, apalagi Kebo Sindet, apabila Kuda-Sempana itu tiba-tiba saja telah melontarkan pedangnya sambil berkata,
“Perkelahian ini sama sekali tidak adil. Nah, Agni, pergunakan pedangku supaya aku dapat melihat pertempuran antara dua orang laki-laki jantan”.
Teringat pula olehnya, bahwa Mahisa Agni dapat melakukan hampir semua unsur gerak yang khusus dari perguruannya. Bahkan lebih baik dari pada dirinya sendiri.
“Hem”, desahnya “apakah ada setan iblis yang datang dan memberinya petunjuk mengenai ilmu itu? Tidak ada orang kedua yang mampu berbuat serupa itu kecuali guru. Murid-muridnya pasti tidak akan dapat berbuat demikian, menuangkan ilmu sampai tingkat itu meskipun pada dasarnya Mahisa Agni sendiri telah memiliki ilmu yang cukup”.
Pertanyaan itu ternyata telah membuat Kuda Sempana bingung. Seolah-olah telah terjadi suatu keajaiban atas diri Mahisa Agni itu. Namun kemudian ia harus menahan nafasnya ketika ia memperhatikan perkelahian antara Mahisa Agni dan Kebo Sindet. Kini ia melihat Mahisa Agni itu berlari kencang-kencang meninggalkan lawannya. Tanpa sesadarnya Kuda Sempana itu menjadi berdebar debar,
“Kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni itu lari?” Dan ia menjadi semakin berdebar-debar pula ketika ia melihat Kebo Sindet segera mengejarnya dengan golok terhunus.
Adalah diluar kesadarannya, dan bahkan kemudian menimbulkan keheranan pada dirinya sendiri, apabila tiba-tiba saja Kuda Sempana itu berpihak kepada Mahisa Agni. Di dalam hatinya ia mengharap bahwa Mahisa Agni akan dapat menyelamatkan dirinya. Melepaskan diri dari iblis Kemundungan yang ganas ini.
“Tetapi daerah ini dikelilingi oleh rawa-rawa berlumpur. Apabila Mahisa Agni kehilangan pertimbangan dan mencoba lari masuk ke dalam rawa, maka sudah dapat dipastikan, bahwa ia akan menjadi makanan yang sedap bagi binatang-binatang air itu.”
Kuda Sempana menahan nafasnya ketika ia melihat Kebo Sindet itu berteriak sambil mengacu-acukan senjatanya, “He, kau tidak akan dapat lepas lagi tikus yang sombong”.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak menyahut, dan sama sekali tidak berpaling. Ia mencoba mempercepat langkah untuk segera sampai pada sebatang pohon beringin yang tumbuh subur dengan ratusan sulur-sulur yang menjutai sampai ketanah.
Kuda Sempana yang sedang berdebar-debar itu, tanpa disengaja pula telah melangkah maju. Bahkan kemudian ia berjalan semakin cepat ke arah kedua orang yang sedang berkejaran. Namun baru beberapa langkah, ia tertegun. Kini ia menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Mahisa Agni. Sama sekali bukan sedang melarikan diri.
Ketika Mahisa Agni itu sampai dibawah pohon beringin segera ia meloncat meraih sehelai sulur yang berjuntai dari sebatang dahan yang cukup tinggi. Ternyata Mahisa Agni tidak segera mematahkan sulur itu dengan kekuatannya yang luar biasa yang tersimpan di dalam dirinya, karena Kebo Sindet berada tidak terlampau jauh dari padanya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan dan sebelum siap benar, pedang lawan akan menyentuh tubuhnya.
Itulah sebabnya maka ketika tangannya telah menangkap sulur beringin itu, ia justru meloncat naik semakin tinggi. Seperti seekor tupai Mahisa Agni memanjat keatas dan hinggap pada sebatang dahan yang tinggi. Dari tempatnya ia dapat melihat Kebo Sindet yang berdiri dibawahnya dengan golok terhunus. Kebo Sindet yang berdiri termangu-mangu itu tidak segera mengejarnya dengan memanjat pohon itu pula, karena beberapa keragu-raguan yang mengganggu kepalanya.
“Apakah yang akan dilakukan oleh anak setan itu?” pertanyaan itu telah tumbuh di dalam dadanya, ketika ternyata Mahisa Agni tidak segera mengambil sehelai sulur untuk senjata.
Tetapi segera Kebo Sindet tahu maksud Mahisa Agni itu. Karena itu maka iapun mengumpat, “Iblis kecil, bagaimanapun kau mencoba memilih, tetapi kau tidak akan mendapat senjata yang baik untuk melawan golokku”.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak mempedulikannya. Ketika didapatnya sehelai sulur yang sesuai dengan kehendaknya maka segera sulur itu dipatahkannya. Dipotongnya sulur itu sepanjang yang dikehendakinya. Ternyata ia tidak hanya memegang sehelai sulur ditangan kanannya, tetapi ditangan kirinya, Mahisa Agni memegang sepotong dahan kayu untuk merangkapi senjatanya.
“He, cepat turun kau anak setan. Kau sangka aku tidak dapat mengejarmu dan membunuhmu diatas dahan-dahan itu?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar meloncat ke dahan yang lebih rendah lagi. Ia harus membuat perhitungan sebaik-baiknya sehingga ia tidak terjun keujung golok Kebo Sindet. Karena itulah maka tanpa disangka-sangka, justru Mahisa Agni itu meloncat ke tanah, di balik pohon tempat Kebo Sindet berdiri. Ia harus memperhitungkan waktu yang hanya sekejap sekalipun, karena lawannya adalah Kebo Sindet.
Kebo Sindet menggeram. Ketika ia melihat Mahisa Agni terjun, segera ia mengejarnya dengan pedang terhunus. Ia harus mempergunakan kesempatan itu sebelum Mahisa Agni tegak benar di atas kedua kakinya. Seperti Mahisa Agni Kebo Sindet pun memperhitungkan waktu yang hanya sekejap sekalipun. Namun, dengan sulur yang panjangnya hampir dua depa, Mahisa Agni segera melindungi dirinya yang belum berdiri tegak. Kini Mahisa Agnilah yang memutar sulur itu di sekeliling tubuhnya seperti baling-baling.
“Setan kecil yang licik” sekali lagi Kebo Sindet menggeram.
Sulur itu lebih panjang dari goloknya, sehingga dalam keadaan itu, ia tidak segera dapat mendekat. Dengan marahnya, Kebo Sindet pun kemudian menggerakkan goloknya. Ia yakin bahwa ia akan mampu memotong sulur Mahisa Agni dengan goloknya sehingga senjata lawannya itu akan menjadi semakin pendek.
Tetapi Mahisa Agni telah terlatih mempergunakan segala macam senjata yang diketemukannya. Itulah sebabnya, maka segera ia merubah gerak senjatanya. Kini tidak berputar, tetapi melenting dan kemudian sendal pancing.
Sekali lagi Kebo Sindet mengumpat di dalam hatinya. Sekali lagi ia harus melihat, bahwa Mahisa Agni bukan sekedar seorang anak muda yang sombong dan telah kehilangan pengamatan diri. Kini semakin nyata baginya, bahwa Mahisa Agni benar-benar memiliki kemampuan untuk melawannya.
Sejenak kemudian, di bawah pohon beringin tua yang rimbun itu telah berlangsung perkelahian yang semakin dahsyat. Dengan sepasang senjatanya Mahisa Agni kini mampu memberikan perlawanan yang lebih berarti. Sulur beringinnya berputar, melecut dan mamatuk dari segenap arah. Sedang sepotong kayu di tangan kirinya memberikan tekanan-tekanan yang membuat Kebo Sindet menitikkan keringat di segenap wajah kulitnya.
“Oh, anak setan ini benar-benar mampu melakukan perlawanan itu”. Kebo Sindet berdesis di dalam hatinya, “tetapi siapakah yang telah menuntunnya itu?”
Sejenak kemudian, Kebo Sindet pun harus bekerja mati-matian untuk mempertahankan dirinya. Setiap saat ia tidak dapat lengah. Tubuhnya seakan-akan kini diputari oleh ujung sulur Mahisa Agni, seperti ribuan lebah yang siap untuk menyengatnya dari segenap arah.
Tetapi Kebo Sindet bukan anak kemarin sore yang masih belum hilang pupuk diubun-ubunnya. Kebo Sindet adalah seorang iblis yang dipenuhi oleh pengalaman. Itulah sebabnya maka sejenak kemudian ia telah berhasil menyesuaikan dirinya menghadapi sepasang senjata Mahisa Agni itu. Ia yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berani berbenturan senjata. Dengan demikian senjata anak muda itu pasti akan terpotong. Itulah sebabnya, maka Kebo Sindet kemudian menjadi lebih garang. Serangannya kini tidak ditekankan pada tusukan-tusukan yang mengarah kebagian-bagian tubuh lawannya yang lemah, tetapi Kebo Sindet mengayun-ayunkan senjatanya mendatar, miring dan bahkan tegak keatas.
Di bawah pohon beringin itu kini benar-benar telah ditegangkan oleh perkelahian yang paling dahsyat yang pernah dilihat oleh Kuda Sempana yang berdiri membeku. Meskipun pengalamannya pun cukup banyak, dan meskipun telah seribu kali disaksikannya perkelahian-perkelahian yang paling seru, tetapi kali ini ia benar-benar terpukau seolah-olah mati kehilangan kesadaran diri. Apalagi yang sedang berkelahi itu adalah Mahisa Agni. Mahisa Agni yang sehari-hari dilihatnya seakan-akan telah tidak mampu lagi menggerakkan unsur gerak satupun lagi dengan sempurna.
Tetapi, dada Kuda Sempana itu kemudian terguncang ketika ia melihat perkelahian itu. Meskipun ia tidak dapat mengukur dengan pengetahuannya, namun ia merasakan sebuah keseimbangan di dalam perkelahian itu. Tetapi ternyata pengalaman Kebo Sindet masih lebih baik dari Mahisa Agni, apalagi senjata Kebo Sindet pun lebih baik pula. Karena itu, maka ketika Mahisa Agni terlambat menarik senjatanya, sebuah ajunan golok yang mendatar, telah berhasil menyentuh senjatanya itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa melontar beberapa langkah surut ketika ia menyadari bahwa sulurnya telah terpotong hampir separo.
Kebo Sindet yang melihat pula bahwa senjata Mahisa Agni telah terpotong dan anak muda itu meloncat surut, sengaja tidak segera mengejarnya. Dibiarkannya Mahisa Agni itu kemudian berdiri termangu-mangu sambil sekali-sekali memandangi ujung sulurnya yang telah terpotong itu.
“Jangan kau sesali anak manis” terdengar suara Kebo Sindet seakan-akan melingkar-lingkar di dalam perutnya, “senjatamu telah terpotong. Tetapi lihatlah, bahwa pada pohon beringin itu masih bergantungan beratus-ratus macam senjata seperti senjatamu itu. Apakah kau akan mengambilnya pula? Meloncat dan hinggap pada dahan yang tinggi untuk mendapat kesempatan memilih sepotong sulur yang paling setua menurut seleramu?” Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi terdengar giginya gemeretak.
“Cepat sedikit” berkata Kebo Sindet kemudian “ambillah sulur-sulur yang lain”.
Mahisa Agni masih berdiam diri. Ia tidak akan berbuat begitu bodoh untuk menarik sebuah sulur yang lain. Dengan demikian maka berarti ia telah menyerahkan dirinya untuk dibantai oleh lawannya. Karena itu ia masih tetap tegak di tempatnya. Ia masih cukup kuat untuk melindungi dirinya dengan sulur yang tinggal sepotong itu dan sepotong lagi dahan kayu ditangan kirinya.
“Kenapa kau diam saja?” bertanya Kebo Sindet “aku beri kau waktu untuk memilih sulur-sulur itu”. Mahisa Agni yang seakan-akan membeku itu masih membeku. “Bagus, kalau kau tidak bersedia untuk mengambil senjata yang baru, maka bersedialah untuk mati”.
Mahisa Agni mundur selangkah ketika ia melihat Kebo Sindet mendekatinya dengan golok terjulur lurus kedadanya. Ia harus menjadi semakin berhati-hati. Selanjutnya kini hanya lebih panjang sedikit saja dari senjata lawannya. Sedang sudah pasti bahwa ia tidak akan membenturkan senjatanya itu langsung dengan senjata Kebo Sindet. Dengan demikian ia akan berarti memotong senjatanya lebih pendek lagi.
Sejenak kemudian Kebo Sindet itu telah meloncat menyerbu. Kini ia menjadi kian garang. Mahisa Agni sudah tidak dapat menyerangnya dari jarak yang jauh lebih panjang dari goloknya. Ia kini dapat berdiri lebih dekat, dan bahkan ujung goloknya yang berputaran itu kadang-kadang hampir menyentuh kulit Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni itu pun telah bekerja mati-matian. Dengan sepasang senjatanya ia mencoba melawan sekuat-kuat tenaganya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu kian menjadi sengit. Keduanya berloncatan, berputaran dan saling mendesak.
Dengan segenap kemampuan yang ada, Mahisa Agni telah mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Tetapi pengalamannya yang lebih sempit dari lawannya sering membuatnya terdesak beberapa langkah. Ternyata perkelahian yang sebenarnya mempunyai watak yang berbeda dengan latihan-latihan yang sering dilakukannya dengan gurunya dan Empu Sada. Meskipun kadang-kadang Mahisa Agni harus bertempur melawan kedua orang tua-tua itu, namun keduanya bukanlah lawan yang benar-benar ingin membinasakannya.
Tetapi apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet itu jauh berbeda dari pada kedua orang-orang tua itu. Kebo Sindet ternyata benar-benar seperti apa yang dikatakan gurunya. Kasar dan bahkan hampir dapat dikatakan buas. Itulah sebabnya maka kadang-kadang Mahisa Agni mengalami kesulitan. Kadang-kadang ia benar-benar harus meloncat jauh-jauh untuk mempersiapkan diri dalam perlawanannya yang berikutnya.
Golok Kebo Sindet ternyata terlampau mengerikan. Ayunan yang keras membuat udara berdesing, seakan-akan suara kidung yang melagukan iringan tarian maut. Sedang senjata Mahisa Agni hanyalah sepotong sulur dan sepotong kayu yang terlampau lunak dibandingkan dengan golok baja yang berkilat-kilat itu.
Semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin terdesak. Betapa ia bergerak dengan lincah dan tangkas, tetapi senjata Kebo Sindet selalu mengejarnya, tanpa dapat melawan dengan benturan. Yang dapat dilakukan hanyalah menghindar dan menyerang dengan tiba-tiba. Tetapi apabila Kebo Sindet kemudian menangkis dengan goloknya, Mahisa Agni harus dengan tergesa-gesa menarik serangannya. Keringat Mahisa Agni benar-benar telah hampir terperas tuntas. Tubuhnya menjadi basah dan mengkilat. Debu yang kotor, lumpur yang kehitam-hitaman dan kotoran-kotoran yang lain telah melekat pada tubuhnya yang basah itu.
Perlahan-lahan Kebo Sindet berusaha mendesak Mabisa Agni sekali lagi kearah yang dikehendakinya. Apabila sekali-sekali Mahisa Agni berusaha mengambil arah yang lain, maka Kebo Sindet segera berusaha untuk menahannya dan menguasainya pada arah yang diinginkannya.
“Iblis yang licik” Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Tetapi mulutnya tetap terkatup rapat. Tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Namun terdengar giginya bergemeretak.
Kuda Sempana menyaksikan perkelahian itu dengan nafas yang tertahan-tahan. Kadang-kadang ia menjadi cemas melihat Mahisa Agni yang selalu terdesak. Tetapi kadang-kadang ia berkata kepada dirinya sendiri,
“Aku tidak berkepentingan dengan keduanya. Apabila salah seorang dari mereka mati, aku tidak akan kehilangan. Bahkan aku seharusnya menjadi bersenang hati karenanya. Baik Mahisa Agni, maupun Kebo Sindet. Keduanya adalah orang-orang yang memuakkan. Mahisa Agni adalah orang yang paling gila, yang telah menjerumuskan aku ke dalam neraka ini. Sedang Kebo Sindet adalah orang yang paling buas yang pernah aku temui dimuka bumi ini”.
Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi matanya terbelalak ketika ia melihat sebuah goresan di pundak kiri Mahisa Agni. “Kebo Sindet telah melukainya lagi” desisnya.
Dan sejenak kemudian ia melihat Mahisa Agni menjadi semakin terdesak. Kini sulurnya yang pendek itu sekali lagi terpotong semakin pendek. Hampir tidak berarti lagi dalam perlawanannya atas golok Kebo Sindet yang besar itu. Dengan demikian maka potongan kayunya lah yang kini berpindah ketangan kanannya, dan sulur yang tinggal sepotong pendek itu masih tetap digenggamnya di tangan kiri.
Sekali lagi Kebo Sindet menghentikan serangannya. Sambil mengacung-acungkan goloknya ia berkata lantang, “Ha, lihat Mahisa Agni. Senjatamu menjadi semakin pendek. Sebentar lagi kau akan kehilangan alat untuk mempertahankan dirimu. Kalau senjatamu itu menjadi semakin pendek lagi, maka kemudian tanganmulah yang akan menjadi semakin pendek pula. Sekarang sudah tidak ada jalan kembali buatmu. Aku sama sekali tidak akan mempertimbangkan memberi ampun kepadamu. Yang dapat aku lakukan hanyalah memperingan penderitaan sebelum matimu. Hanya itu. Coba katakanlah bahwa kau menyerah. Kau akan mengurangi penderitaanmu sendiri pada saat-saat terakhir”. Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram.
“Ayo, berlutut dan katakanlah bahwa kau menyerah”. Mahisa Agni masih mematung. “Bagus. Jadi kau benar-benar keras kepala. Bukan hanya kau yang akan menderita disaat-saat matimu, tetapi Ken Dedes pun akan menderita dan tersiksa pula. Ia harus tahu apa yang terjadi atasmu di sini”.
Dada Mabisa Agni berdesir. Ternyata kata-kata itu telah menggoreskan kecemasan di dinding hatinya. Apabila benar demikian, maka alangkah tersiksanya adiknya itu.
“Nah, apa katamu?”
Tetapi tidak ada sepercik ingatan pun di kepala Mahisa Agni, bahwa ia akan menyerahkan dirinya untuk dijadikan umpan buaya-buaya kerdil di dalam rawa-rawa itu. Karena itu maka ia masih tetap berdiri tegak ditempatnya dengan sepasarg senjata ditangannya. Sepotong kayu dan sepotong sulur yang telah menjadi terlampau pendek. Sedang dibeberapa tempat darahnya masih juga menitik perlahan-lahan. Namun oleh keringatnya, tampaklah warna merah di pundak dan punggungnya seakan-akan meleleh dari luka yang dalam.
“Kau sudah meneteskan darah”. berkata Kebo Sindet, “semakin banyak kau bergerak, maka darah itu akan menjadi semakin banyak mengalir. Meskipun aku tidak berhasil menusuk dadamu dengan golokku ini, kau pasti akan mati kehabisan darah”.
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Ia tahu, bahwa lukanya tidak terlampau parah. Luka itu hanya sekedar pada kulitnya yang terkelupas oleh sabetan ikat pinggang kulit dan sebuah goresan yang tidak dalam. Tetapi ia harus memperhitungkannya pula, bahwa lambat laun, luka-luka itu akan benar-benar berpengaruh.
“Bagaimana?” Kebo Sindet bertanya dengan penuh penghinaan “apakah kau tidak bertekuk lutut saja sambil menyembah aku?” Tak ada jawaban. “Baik. Baik. Aku akan segera mulai. Kesempatan ini sudah kau lewatkan”.
Setapak Kebo Sindet itu maju. Goloknya terayun-ayun di sisi tubuhnya, namun kemudian golok itu terjulur kedepan, “Sebutlah nama gurumu. Kau akan mati hari ini”.
Belum lagi mulut Kebo Sindet itu terkatub, ia menjadi sangat terkejut. Tanpa diduga-duganya Mahisa Agni yang menjadi semakin muak itu, meloncat dengan kecepatan yang tidak terkirakan, menyerangnya dengan potongan kayunya. Kebo Sindet yang tidak menyangkanya, sekejap menjadi agak bingung. Namun gerak naluriahnya, telah mendorongnya untuk meloncat menghindar. Mahisa Agni yang dibakar oleh kemarahannya itu segera memburunya, menyerangnya seperti badai. Potongan kayunya terayun deras sekali kearah kepala lawannya.
Tetapi kini Kebo Sindet tidak ingin meloncat menghindar lagi. Ketika ia sudah agak mapan, maka segera ia berusaha untuk menangkis serangan itu dengan goloknya. Ia mengharap dapat mematahkan potongan kayu Mahisa Agni itu. Namun agaknya Mahisa Agni telah memperhitungkannya. Segera ia menarik serangannya, dan tanpa diduga-duga pula tangan kirinya menyambar lengan Kebo Sindet dengan ujung sulurnya. Terasa oleh Kebo Sindet, senjata lawannya itu mematuknya, dan sebuah goresan merah menyilang pada lengannya.
“Anak setan” Kebo Sindet itu mengumpat keras-keras. Ternyata bahwa ujung sulur Mahisa Agni mampu juga melukai kulitnya meskipun hampir tidak banyak berarti. Tetapi darah Kebo Sindet pun telah meleleh dari lukanya itu pula.
Titik darah itu bagaikan minyak yang menyiram api kemarahan iblis yang ganas itu. Terdengar ia berteriak tinggi. Sebuah serangan yang paling kasar segera dilakukannya sambil memutar goloknya seperti baling-baling. Namun Mahisa Agni pun telah sampai pada puncak kemarahannya. Ia hampir tidak tahan lagi. Ia menjadi muak dan jemu. Tetapi ia tidak akan dapat memaksakan kehendaknya begitu saja. Kebo Sindet pun menjadi jemu pula pada permainan itu sehingga dengan dada yang bergelora ia ingin segera menyelesaikannya.
Ketika perkelaian meningkat semakin seru, maka tampaklah bahwa kedudukan Mahisa Agni menjadi semakin sulit. Senjatanya hampir-hampir tidak berarti lagi. Ia tidak mau langsung membenturkan senjatanya itu melawan golok lawannya. Dengan demikian maka senjatanya akan menjadi semakin pendek lagi. Tetapi betapa ia menggenggarn senjata, namun apabila tidak dapat dipergunakannya, maka senjata itupun sama sekali tidak berarti lagi baginya.
Mahisa Agni itupun kemudian tidak dapat berbuat lain. Desakan lawannya menjadi semakin ketat, sehingga mau tidak mau ia harus sekali-sekali menangkis golok Kebo Sindet. Beberapa kali ia berhasil memukul senjata lawannya itu pada sisinya, namun Kebo Sindet selalu berusaha untuk membentur pada tajam goloknya.
Maka ketika pada suatu saat serangan Kebo Sindet yang tanpa disangka-sangkanya melayang kearahnya, dan kesempatan lain tidak ada lagi baginya, maka dengan terpaksa sekali Mahisa Agni menangkis serangan itu dengan potongan kayunya sambil bergeser setapak kesamping. Akibat dari benturan itu ternyata mengejutkannya pula. Benturan dari kekuatan yang dahsyat akibatnya potongan kayunyalah yang benar-benar terpotong hampir pada pangkalnya. Hanya beberapa jari saja dari gemgaman tangannya.
Dada Mahisa Agni berdesir melihat senjatanya terpotong sehingga tinggal tidak lebih dari secengkak. Sedang lawannya telah menjadi semakin buas. Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Dilihatnya kini Kebo Sindet berdiri tegak sambil memandangi potongan kayunya yang menjadi terlampau pendek. Selagi Mahisa Agni masih berdesis menahan nyeri tangannya, terdengar Kebo Sindet itu tiba-tiba tertawa menyeramkan. Suara mengguntur menghantam gerumbul-gerumbul perdu disekitar nya. Seakan-akan sudah mendapatkan suatu keyakinan bahwa sebentar lagi lawannya pasti akan dapat dimusnakan.
Disela-sela suara tertawanya iblis itu berkata, “Ayo, carilah kayu, batu dan apa saja sebanyak-banyaknya. Kau harus tahu, bahwa yang berdiri dihadapanmu sekarang adalah Kebo Sindet”.
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Ia harus menjadi semakin waspada. Tidak ada waktu sekejappun untuk lengah, sebab dengan demikian, umurnya akan menjadi semakin pendek. Bukan kematiannya yang sebenarnya dicemaskannya. Tetapi bahwa ia tidak berhasil dalam usahanya membinasakan iblis itulah yang mengecewakannya dan mengecewakan kedua orang-orang tua yang selama ini mengasuhnya, membibingnya, dan meletakkan harapan mereka kepadanya.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu menggeram. Betapapun juga ia harus melawan dan membinasakan iblis itu. Tetapi iblis itu berpendirian demikian pula, lawannya itu harus ditangkapnya dan diumpankannya kepada buaya-buaya kerdil selagi ia masih dapat merasakan kengerian yang paling dahsyat.
Sejenak kedua orang itu masih berdiri ditempat masing-masing. Kebo Sindet masih belum beranjak dari tempatnya. Suara tertawanya masih menggema diseputar daerah yang lembab itu. Sekali lagi terdengar ia berkata diantaranya tertawanya
“Adalah menyenangkan sekali melihat wajahmu kini Mahisa Agni. Aku memang tidak akan segera mendorongmu ke dalam rawa-rawa itu. Aku senang sekali melihat kau dicengkam oleh ketakutan, kegelisahan, dendam yang tersimpan di dalam hati, kemarahan dan segala macam perasaan yang harus kau telan kembali. Perasaan yang demikian memang sangat menyakitkan hati. Nah, kini nikmatilah siksaan perasaanmu itu sebelum kau merasakan siksaan yang paling ngeri bagi tubuhmu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram dan menggeretakkan giginya. Sementara itu Kuda Sempana pun masih juga berdiri sebagai patung. Ia melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Agni. Senjata anak muda itu sudah tidak berarti lagi baginya.
“Sebentar lagi anak itu akan terlempar ke dalam rawa-rawa” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya “dan terbalaslah sebagian dari dendamku? Ia telah menghinakan aku selama ini, sehingga aku terpaksa menempuh jalan yang menyesatkan aku ke daerah ini”.
Tetapi Kuda Sempana tidak berhasil mengelabuhi perasaan sendiri. Betapa ia mencoba membangkitkan perasaan dendamnya yang telah tertimbun oleh berbagai macam peristiwa dan persoalan, namun sebenarnya ia menjadi cemas melihat kenyataan itu. Ia tidak dapat ingkar, bahwa pada saat-saat terakhir ia merasa, bahwa nasibnya pun kelak tidak akan lebih baik dari nasib Mahisa Agni itu. Seandainya Mahisa Agni hari ini terbunuh, maka pada saat berikutnya ia akan menjadi bulan-bulanan yang akan menampung segala macam sifat dan tabiat Kebo Sindet. Kemarahan, dendam, kebencian dan segala macam sifat dan watak iblisnya. Kuda Sempana masih berdiri tegak seperti patung. Namun di dalam dirinya terjadi pergolakan yang dahsyat menanggapi keadaan. Ia tidak dapat ingkar lagi, bahwa sebenarnya ia ingin agar Mahisa Agni memenangkan perkelahian itu.
“Tetapi akibatnya akan sama saja baginya. Kalau Agni menang maka akupun akan dibunuhnya pula” Kuda Sempana masih mencoba memenangkan hatinya yang sebenarnya telah dicemaskan dan digelisahkan oleh keadaan Mahisa Agni yang semakin terdesak, “biar sajalah Mahisa Agni itu terbunuh dengan cara apapun”.
Namun kemudian jauh di dasar hatinya terdengar suara “Sebenarnya lebih baik Kebo Sindet sajalah yang mati dalam perkelahian itu. Mahisa Agni pasti akan jauh lebih baik dari iblis itu. Dalam perkelahian yang dipaksakan oleh Kebo Sindet itupun Mahisa Agni sama sekali tidak bernafsu untuk mencelakaiku”. Lalu ia menggeram di dalam hatinya “Tetapi apakah yang dapat aku lakukan? Aku sama sekali pasti tidak akan berarti apa-apa apabila aku ikut dalam perkelahian itu. Sebuah sentuhan tangan atau kaki Kebo Sindet pasti telah dapat membunuhku kalau dikehendakinya”.
Kuda Sempana itu kemudian berdiri saja termangu-mangu. Ia masih mendengar suara tertawa Kebo Sindet. Tetapi suara itu semakin lama menjadi semakin menurun. Kalau suara tertawa itu berhenti, maka akan sampailah saatnya Mahisa Agni terdorong ke dalam mulut buaya-buaya kerdil yang rakus itu.
Tiba-tiba Kuda Sempana menjadi ngeri. Terbayang di rongga matanya Mahisa Agni menggelepar dimulut buaya-buaya itu, namun anak muda itu pasti tidak akan dapat melepaskan diri dari gigi-gigi yang mengerikan. Tanpa dikehendakinya sendiri Kuda Sempana memutar tubuhnya. Lebih baik untuk tidak melihat akhir dari perkelahian itu daripada ia menyiksa perasaan sendiri. Perasaan yang selama ini seolah-olah telah mati dan membeku.
Tetapi tiba-tiba mata Kuda Sempana itu terbelalak. Pada sebuah batu ia melihat pedangnya tersandar. Pedang yang tadi diminta oleh Kebo Sindet pada saat ia dipaksa berkelahi melawan Mahisa Agni. Ternyata pedang itu diletakkan disana. Dada anak muda itu menjadi berdebar-debar. Pedang itu telah benar-benar menarik perhatiannya. Sesuatu tiba-tiba tumbuh di dalam dadanya.
Tiba-tiba ia berpaling. Suara tertawa Kebo Sindet sudah hampir hilang.”Aku harus berbuat sesuatu” barkata Kuda Sempana itu di dalam dirinya, “Cepat sebelum aku terlambat”.
Kuda Sempana itupun segera berlari ke arah pedangnya yang bersandar pada sebongkah batu. Ia sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi atas dirinya. Apakah yang dilakukannya itu akan menguntungkannya atau justru sebaliknya. Ketika tangannya kemudian meraih pedang itu, maka ia sudah tidak mendengar lagi tertawa Kebo Sindet. Dengan dada yang berdebaran ia berpaling, memandangi mereka yang sedang berhadapan, siap untuk membuat perhitungan terakhir.
Pada saat itu Mahisa Agni berada di dalam puncak ketegangannya. Ia kini telah hampir sampai pada keadaan seperti sebelum ia melepaskan diri untuk berlari kepohon beringin itu. Kini ia telah terdesak lagi ketepi rawa-rawa berlumpur. Sedang ditangan Kebo Sindet kini tergenggam goloknya, bukan sekedar sebuah ikat pinggang kulit.
Mahisa Agni pun menyadari keadaan yang dihadapinya. Kebo Sindet agaknya telah jemu pula pada perkelahian itu, sehingga saat-saat berikutnya adalah saat-saat yang menentukan. Kini Mahisa Agni melihat Kebo Sindet itu telah bersiap pula. Wajahnya menjadi semakin buas dan tatapan matanya yang merah menjadi semakin liar. Wajah itu telah benar-benar berubah menjadi wajah iblis yang paling mengerikan. Tetapi Mahisa Agni sudah bertekad untuk tidak berputus asa betapapun keadaannya. Ia harus berjuang dengan kemampuan yang setinggi-tingginya.
“Aku tidak boleh terpengaruh oleh keadaan yang bagaimanapun juga”.
Mahisa Agni itu kemudian menggeram ketika ia melihat Kebo Sindet maju setapak demi setapak. Dengan sorot mata penuh kebencian, iblis dari Kemundungan itu mendekati lawannya. Goloknya bergetar seperti getar di dadanya.
“Kau tidak akan dapat mengelabui aku lagi setan kecil” terdengar suara Kebo Sindet seakan-akan bergulung di dalam perutnya, “kau tidak akan dapat lari lagi dari tanganku meskipun aku tahu bahwa kau tidak akan dapat keluar dari tempat ini. Tetapi kau telah benar-benar menjemukan sehingga kau harus segera mendapat hukumanmu. Disini kau tidak akan mendapat kesempatan untuk mencari senjata apapun juga. Batu pun tidak”.
Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap berdiri tegak dengan kaki merenggang. Ketika Kebo Sindet menjadi semakin dekat, maka Mahisa Agni itu pun merendahkan badannya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.
“Apakah kau anggap bahwa sepotong kayu dan sulur ditanganmu itu masih berguna?” terdengar suara Kebo Sindet penuh hinaan.
Tetapi Mahisa Agni tetap membisu. Hanya matanya sajalah yang menyalakan kemarahan yang membara didadanya. Pada saat-saat yang demikian itulah terjadi sesuatu yang tidak terduga-duga sebelumnya. Mereka berdua yang sedang berhadap-hadapan dalam puncak ketegangan itu mendengar langkah seseorang berlari-lari. Betapa mereka terikat dalam saat-saat yang paling berbahaya, namun mereka berpaling juga tanpa meninggalkan kewaspadaan. Yang mereka lihat benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Kuda Sempana lah yang berlari-lari mendekati arena perkelahian itu dengan pedang ditangan. Dan tanpa mereka duga-duga pula, bahkan sama sekali di luar nalar mereka, apalagi Kebo Sindet, apabila Kuda-Sempana itu tiba-tiba saja telah melontarkan pedangnya sambil berkata,
“Perkelahian ini sama sekali tidak adil. Nah, Agni, pergunakan pedangku supaya aku dapat melihat pertempuran antara dua orang laki-laki jantan”.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar