Sejenak mereka berdua menjadi termangu-mangu. Kebo Sindet dan Mahisa Agni terpaku di tempatnya seperti patung yang beku. Hanya mata mereka sajalah yang sejenak hingap pada waljah Kuda Sempana dan sejenak kemudian ke pada pedang yang meluncur ke arena.
Namun sesaat berikutnya keduanya segera menyadari keadaan. Kebo Sindet segera sadar, bahkan Kuda Sempana telah berkhianat kepadanya. Pada saat yang pendek itu, Kebo Sindet telah dilanda oleh kekecewaan yang tiada taranya. Ia tidak berhasil mengawasi Mahisa Agni sehingga tiba-tiba ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu anak itu telah mengimbanginya. Kini Kuda Sempana yang disangkanya menyimpan dendam tiada taranya atas Mahisa Agni itu ternyata justru berkhianat kepadanya. Dugaannya sampai saat terakhir bahwa Kuda Sempana masih berusaha untuk membunuh Mahisa Agni dengan tangannya ternyata jauh dari kebenaran yang dihadapinya kini.
Tetapi keduanya kini dihadapkan pada kenyataan itu. Dan keduanya harus segera memberikan tanggapan yang sewajarnya. Sudah pasti bahwa Kebo Sindet akan berusaha untuk mencegah Mahisa Agni mendapatkan pedang itu, dan sebaliknya Mihisa Agni harus segera menemukan cara untuk menguasainya supaya ia tidak menjadi semakin sulit apabila Kebo Sindet mempergunakan senjata rangkap.
Arah pedang Kula Sempana memang menuju kepada Mahisa Agni. Tetapi dalam saat yang pendek Kebo Sindet telah menemukan sikap, ia harus segera meloncat menyerang supaya Mahisa Agni tidak sempat menerima pedang itu. Namun Mahisa Agni pun telah mememukan sikap pula untuk menguasai pedang itu. Ia menyadari bahwa Kebo Sindet pasti akan berusaha menghalang-halanginya.
Sejenak kemudian terdengar teriakan nyaring dari mulut iblis Kemundungan itu, dibarengi dengan sebuah serangan yang dahsat. Goloknya terjulur terus ke depan langsung menikam dada Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah bersiap pula. Ditangannya masih tergenggam sepotong sulur. Karena itu, maka segera kedua senjatanya yang sudah tidak berarti itu dilemparkannya dengan sekuat tenaganya menyongsong serangan Kebo Sindet. Sepotong mengarah ke dahinya dan sepotong lagi mengarah kedadanya. Untuk memberi tekanan pada serangannya itu Mahisa Agni berteriak pula,
“Nah, Kebo Sindet, sepotong sulurku ini harus dapat menghunjam ke dalam matamu dan sepotong kayu ini akan melubangi dadamu”.
Lemparan Mahisa Agni itu benar-benar telah mengejutkan Kebo Sindet. Pada saat ia sedang dibakar oleh nafsunya untuk menyerang, untuk mencegah Mahisa Agni dapat menguasai pedang yang dilemparkan oleh Kuda Sempana, ternyata Mahisa Agni telah menyerangnya pula dengan caranya sendiri.
Dengan demikian maka sejenak Kebo Sindet menjadi gugup. Lemparan Mahisa Agni terlampau keras, cepat dan kuat. Karena itu maka Kebo Sindet harus melawannya dengan segenap kemampuannya pula. Apabila sepotong sulur itu menyentuh matanya, maka sulur itu pasti benar-benar akan menghunjam sampai kepusat kepalanya. Sedang potongan kaju yang dilemparkan ke dadanya, akan dapat meretakkan segenap tulang-tulang iganya.
Tak ada jalan lain bagi Kebo Sindet, dari pada menangkis atau menghindari kedua serangan itu. Tetapi ia tidak mempunyai waktu yang cukup. Karena itu, maka keduanya dilakukan bersama-sama. Dengan pedangnya ia menukul sepotong sulur yang mengarah kedahinya, dan dengan sebuah geseran kecil ia menghindari serangan ke arah dadanya. Ia harus menghemat waktu sebaik-baiknya, supaya ia tidak gagal mencegah usaha Mahisa Agni untuk mendapatkan senjata yang diberikan oleh Kuda Sempana yang mengkhianatinya.
Tetapi perhitungan Mahisa Agni pun ternyata telah matang. Meskipun waktu yang diperlukan oleh Kebo Sindet hanya sekejap, namun tanpa diduga-duga oleh Kebo Sindet, Mahisa Agni mampu meloncat secepat tatit. Pada saat Mahisa Agni melontarkan dirinya, pedang itu telah jatuh di tanah beberapa langkah dari padanya. Dipergunakannya waktu sebaik-baiknya seperti yang dilakukan oleh Kebo Sindet. Ternyata Mahisa Agni mendapat beberapa keuntungan. Keadaannya lebih baik dari pada lawannya. Pedang itu jatuh lebih dekat kepadanya dari pada Kebo Sindet, dan ia berhasil pula memperlambat usaha lawannya untuk mencegahnya.
Tetapi perbedaan waktu itu tidak lebih dari kejapan mata. Begitu tangan Mahisa Agni menyambar tangkai pedang itu, maka golok Kebo Sindet telah berdesing menyambarnya. Waktu yang dapat dipergunakan oleh Mahisa Agni terlampau pendek untuk dapat menangkis serangan itu dengan baik. Namun kini tangannya telah menggenggam pedang. Karena itu seakan-akan digerakkan oleh nalurinya, maka tangannya segera terangkat dan menangkis serangan itu dengan pedang yang baru saja dipungutnya.
Terjadilah benturan yang dahsyat. Dua kekuatan telah beradu. Namun agaknya Kebo Sindet lebih banyak mendapat kesempatan untuk mengerahkan tenaga dan kemampuannya, sehingga di dalam benturan itu, terasa tangan Mahisa Agni menjadi terlampau pedih. Hampir saja pedang yang baru dipungutnya itu terlepas dari tangannya. Namun. dengan susah payah ia berhasil mempertahankannya. Meskipun demikian, maka Mahisa Agni merasakannya, bahwa ia tidak akan mampu untuk melawan benturan sekali lagi apabila Kebo Sindet segera menyerangnya. Karena itu, maka Mahisa Agni segera melontarkan dirinya sejauh-jauhnya dari lawannya.
Meskipun Mahisa Agni sadar, bahwa Kebo Sindet tidak akan memberinya kesempatan, tetapi seandainya ia berada di dalam lontaran loncatannya, ia telah berhasil memperbaiki genggaman pedangnya. Ternyata perhitungan Mahisa Agni itu benar. Begitu ia menjejakkan kakinya di tanah, maka Kebo Sindet telah mematuk dengan ujung goloknya. Namun Mahisa Agni telah bersedia untuk menghadapinya, meskipun ia masih harus meloncat pula menghindari. Dan loncatannya kali ini menjadi semakin panjang, semakin jauh dari lawannya. Bahkan tidak hanya dengan satu loncatan, tetapi dua, tiga loncatan.
“Licik” teriak Kebo Sindet sambil mengejarnya.
Namun pada saatnya Mahisa Agni telah menemukan keseimbangan yang mantap untuk melakukan perlawanan. Sejenak ia mendapat kesempatan untuk menilai diri. Kini ia berdiri tegak dengan pedang ditangan. Ia tidak lagi harus berlari-lari untuk mencari senjata yang mungkin dapat dipergunakan. Namun ia tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan dan menjawab pertanyaan yang tumbuh di dalam hatinya, kenapa tiba-tiba saja Kuda Sempana telah berusaha membantunya. Hanya seleret ia sempat mengingat, bahwa sikap Kuda Sempana memang telah berubah.
Saat-saat seterusnya Mahisa Agni sudah tenggelam lagi di dalam perlawanannya atas Kebo Sindet yang menyerangnya seperti banjir menghantam tebing. Namun kini Mahisa Agni merasa telah mendapat kesempatan untuk benar-benar melakukan perlawanan. Ia akan mendapat kesempatan untuk benar-benar berkelahi melawan Kebo Sindet. Ia tidak hanya sekedar harus menghindar dan berlari-larian.
“Saat ini akbirnya datang juga” katanya di dalam hati, “sekarang tidak ada alasan lagi bagiku untuk menutupi segala kemungkinan yang akan menjadi kenyataan, di dalam segala keadaan. Seandainya aku kalah, maka aku memang masih belum mampu menyusul kemampuan Kebo Sindet. Akibat dari kekalahan itu adalah kegagalan mutlak. Kekalahan itu adalah benar-benar kekalahan, yang tidak dapat dicari-cari sebabnya lagi”.
Tetapi apabila benar-benar ia telah memiliki ilmu yang cukup seimbang dengan Kebo Sindet, maka kesempatan itu telah datang. Dan Mahisa Agni benar-benar akan menilai dirinya sendiri. Dalam perkelahian yang semakin sengit itulah kemudian Mahisa Agni menyadari keadaan dirinya. Pada saat-saat yang merampas segenap perhatiannya untuk mendapatkan pedang Kuda Sempana, serta dalam usahanya untuk memperbaiki keadaannya, sehingga ia terpaksa berloncat-loncatan, ia sama sekali tidak dapat lagi mempertimbangkan kemana ia harus memilih arah.
Kini, ketika perkelahian menjadi semakin sengit, baru terasa olehnya, bahwa kakinya telah berjejak diatas tanah yang sudah mulai gembur. Ia telah berada beberapa langkah saja dari bibir rawa-rawa. Namun demikian, hati Mahisa Agni kini menjadi semakin tatag. Di tangannya kini tergenggam sehelai pedang yang akan dapat melawan golok Kebo Sindet yang garang itu.
Yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang sebenarnya merupakan perkelahian yang dahsyat. Dengan pedang di tangan Mahisa Agni mencoba menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan yang tumurun dari gurunya dan dari Empu Sada, guru Kuda Sempana yang berusaha untuk sedikit mengurangi kesalahan yang pernah dibuatnya. Lebih dari pada itu, Kebo Sindet telah menanamkan sakit hati yang tiada taranya di dalam hatinya, sehingga Empu Sada itu pun kemudian sampai pula pada kesimpulan, bahwa seharusnyalah memang orang-orang semacam Kebo Sindet itu dimusnahkan.
Ternyata dengan pedang di tangan Mahisa Agni tidak mengecewakan. Tandangnya semakin mantap dan kuat. Meskipun darahnya masih juga menitik dari luka-luka ditubuhnya, namun justru telah membuatnya seperti banteng yang terluka. Kebo Sindet pun menjadi semakin waringuten. Tata geraknya menjadi semakin liar dan buas. Matanya menyala seperti api dalam ketegangan wajahnya yang kasar dan ganas. Golok Kebo Sindet menyambar-nyambar seperti burung alap-alap di udara. Cepat dan garang. Dan kemudian mematuk seperti seribu ular bandotan dari segala arah.
Tetapi pedang Mahisa Agni telah mampu menamengi dirinya. Tidak seujung jarum pun dapat ditembus oleh serangan lawan. Ilmu pedang yang diterimanya dari gurunya dan dari Empu Sada, telah benar-benar menempatkannya pada keadaan yang lebih baik. Pedang yang diterimanya dari Kuda Sempana itu terayun-ayun seperti lesus yang melibat lawannya dalam pusaran yang membingungkan.
Sekali-kali terdengar Kebo Sindet mengumpat keras-keras. Ia berhadapan dengan seorang anak muda yang benar-benar tangguh. Ilmu yang dipergunakan oleh Mahisa Agni ternyata sebagian dapat dikenal oleh lawannya. Ilmu dalam tingkat tertinggi dari perguruan Mahisa Agni itu sendiri. Bahkan kadang-kadang Kebo Sindet telah dibingungkan oleh tata gerak yang aneh, yang mencerminkan perpaduan dari kedua cabang perguruan itu.
“Gila” teriaknya, “kedua setan itu bergabung dalam dirimu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi, ia kagum juga atas pengamatan lawannya yang dapat menebaknya dengan tepat apa yang telah terjadi atas dirinya.
“He, Mahisa Agni” teriak Kebo Sindet pula “apakah kedua setan tua itu pernah menemuimu?”
Mahisa Agni sama sekali tidak berhasrat untuk menjawab. Ia justru memperketat serangannya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti tatit diudara.
“Setan kecil” Kebo Sindet mengumpat pula. Kemarahannya yang meluap-luap telah membuatnya semakin buas.
Perkelahian itu ternyata merupakan perkelahian yang terlampau dahsyat. Perkelahian yang sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Kuda Sempana. Meskipun Kuda Sempana sendiri telah mendapat lambaran yang cukup, tetapi ketika ia dihadapkan pada puncak ilmu itu, ia hanya dapat berdiri saja memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip. Ia hampir-hampir tidak dapat mengenal sama sekali, apakah yang sedang disaksikannya itu. Gerak yang terlampau cepat, keras dan kadang-kadang membingungkan. Putaran-putaran senjata dan benturan-benturan yang terjadi membuatnya menjadi pening.
Hatinya berdesir tajam apabila ia mendengar dentang kedua senjata itu beradu. Benturan antara golok Kebo Sindet dan pedang di tangan Mahisa Agni kadang-kadang telah melemparkan bunga-bunga api yang memercik diudara. Benturan antara dua kekuatan raksasa yang sedang diamuk oleh kemarahan di dalam hati masing-masing. Tetapi perkelahian itu tidak bergeser dari tanah yang lembab, bahkan telah menjadi agak gembur itu. Hanya beberapa langkah saja mereka akan terdorong ke dalam air yang keruh, yang di dalamnya bersarang berbagai macam binatang-binatang air yang buas dan rakus.
Ternyata Kebo Sindet masih tetap berusaha untuk menekan Mahisa Agni, dan mendorongnya ke dalam rawa-rawa itu. Tetapi kini usahanya tidak lagi dapat dilakukannya dengan mudah seperti pada saat Mahisa Agni belum bersenjata. Kini ternyata kekuatan mereka banar-benar menjadi seimbang.
Bukan Mahisa Agni lah yang selalu dapat didesak oleh lawannya tetapi mereka seakan-akan mendapat kesempatan yang sama untuk mendorong lawannya. Kadang-kadang Mahisa Agni berada dalam keadaan yang sulit dan berdiri pada arah rawa-rawa itu. Seakan-akan Kebo Sindet tinggal mendesaknya beberapa langkah, kemudian mendorongnya masuk ke dalam air yang keruh itu. Tetapi tiba kesempatan itupun bergeser. Mahisa Agni berhasil menekan lawannya sehingga Kebo Sindet terpaksa mengumpat keras-keras.
Kedua orang yang sedang bertempur itu adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dari orang-orang kebanyakan. Tenaga mereka dalam cak-cakan ilmu yang hampir sempurna, benar-benar merupakan kekuatan-kekuatan yang dahsyat. Dan kedua kekuatan yang dahsyat itu kini sedang beradu dengan dahsyatnya pula. Ketika matahari menjadi semakin jauh melampaui puncak langit, maka keringat mereka yang sedang berkelahi itu seakan-akan telah terperas sehingga tuntas. Tubuh-tubuh mereka yang basah dan kotor menjadi mengkilap seperti tembaga.
Namun kini tubuh-tubuh mereka telah mulai diwarnai oleh warna darah masing-masing. Sekali-kali mereka tidak berhasil menangkis dan menghindari serangan lawan yang membadai, sehingga ujung-ujung senjata itu telah berhasil menyentuh kulit mereka. Mereka menggeram dan kadang-kadang berdesis pendek, apabila terasa kulit mereka tergores oleh tajamnya senjata.
Tetapi kedahsyatan mereka tidak menjadi cair. Mereka masih tetap dalam tingkat yang hampir sempurna. Meskipun tata gerak mereka mempunyai watak yang berbeda. Mahisa Agni yang sudah dapat pesan dari kedua orang-orang tua yang menuntunnya, tidak dapat dikejutkan oleh tata gerak lawannya yang kasar dan buas, yang kadang-kadang hampir tidak terduga-duga.
Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi semakin dahsyat, Kuda Sempana sudah tidak mampu lagi menilai apakah yang sebenarnya terjadi atas kedua orang yang sedang bertempur itu, sehingga ia masih saja berdiri mematung dengan dada yang berdebaran. Namun sebenarnyalah bahwa ia telah melibatkan diri dalam perkelahian itu pada saat ia melontarkan pedangnya, sehingga meskipun ia masih tetap berdiri di tempatnya, tetapi sebenarnya ia memang telah berpihak.
Dengan demikian maka dengan harap-harap cemas ia menyaksikan pertempuran itu. Ia ingin melihat Mahisa Agni memenangkan perkelahian itu. Kalau Mahisa Agni kemudian ternyata dapat dikalahkan, maka nasibnya pun akan tergantung di ujung jari Kebo Sindet pula. Disadarinya bahwa yang akan terjadi atasnya adalah suatu peristiwa yang pasti belum pernah dilihatnya.
Dada Mahisa Agni itu berdesir ketika langit yang cerah menjadi semakin lama semakm suram. Awan yang hitam mengalir dari ujung langit. menebar semakin luas. Sekali-kali dikejauhan terdengar guruh meledak dan tatit menyambar-nyambar. Sejenak ingatan Mahisa Agni lari ke Padang Karautan. Namun sejenak kemudian ia berhasil mengekang dirinya. Katanya di dalam hati
“Biarlah apa yang terjadi di Padang Karautan. Mudah-mudahan Ken Arok dapat mengatasinya. Yang penting bagiku sekarang adalah keluar dari neraka iblis ini”.
Dengan demikian maka Mahisa Agni segera menemukan kemantapannya kembali, ia ternyata telah berhasil menyingkirkan segala persoalan yang lain, kecuali melenyapkan iblis dari Kemundungan ini.
Ketika mereka berdua tenggelam semakin dalam di arena pertempuran itu, maka para prajurit Tumapel di Padang Karautan dan orang-orang Panawijen sedang di cemaskan oleh mendung yang semakin menebal di arah ujung sungai. Ken Arok yang memimpin pembuatan bendungan itu menjadi berdebar-debar. Seandainya pada saat itu banjir datang, apakah bendungannya sudah dapat menahannya?. Kesibukan Ken Arok sejak semalam menjadi kian meningkat. Sejak kehadiran Akuwu Tunggul Ametung yang sedang berusaha untuk mencari Mahisa Agni.
Hari ini seharusnya mereka akan berangkat ke Kemundungan. Tetapi awan yang hitam di langit telah meragukan Ken Arok. Apabila banjir datang, dan ia tidak ada di padang ini menunggui bendungan yang sudah hampir siap itu, maka hatinya pasti tidak akan dapat menjadi tenang.
“Tuanku” berkata Ken Arok, “apakah perjalanan ini dapat ditunda?”
“Taruhannya adalah nyawa Mahisa Agni” sahut Akuwu Tunggul Ametung. “Sehari akan sangat berarti bagi Kebo Sindet. Keterlambatan yang sehari itu akan dapat membuat kita menyesal”.
Ken Arok menjadi ragu-ragu. Kedua-duanya teramat penting baginya. Ia berminat sekali untuk berusaha melepaskan Mahisa Agni. Ia melihat bagaimana Mahisa Agni itu hilang, sehingga ia akan mendapat kepuasan apabila ia dapat turut menemukannya. Tetapi bendungan ini terasa memberatinya untuk meninggalkan Padang Karautan. Seolah-olah ia mendapat kepercayaan sepenuhnya justru dari Mahisa Agni, untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulainya. Seandainya langit masih selalu bersih, ia akan dengan tenang ikut di dalam rombongan Akuwu Tunggul Ametung. mencari Mahisa Agni, langsung di sarang iblis dari Kemundungan itu.
Dalam keragu-raguan itu terdengar Ken Arok berdesis, “Tetapi bendungan ini? Seandainya hamba tidak dicemaskan oleh banjir, maka hamba sama sekali tidak berkeberatan untuk meninggalkannya”.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti keberatan Ken Arok untuk meninggalkan bendungan itu. Karena itu maka katanya,
“Nanti, aku akan mengambil keputusan setelah senja. Aku menunda perjalananku sampai sore. Apabila memungkinkan kau dapat ikut. Kalau tidak. aku akan pergi dengan pasukan kecil ini. Aku merasa cukup kuat. Meskipun seandainya Kebo Sindet mempunyai pasukan segelar sepapan”.
Sambil menunggu sampai senja, Akuwu berkesempatan untuk melihat petamanan yang telah disiapkan oleh Ken Arok. Sehingga Akuwu sendiri kemudian menjadi ragu-ragu. Apakah kehadirannya di Padang Karautan itu karena ia memerlukan sekali membawa Ken Arok serta, ataukah sekedar ingin melihat sendiri, apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh prajurit-prajuritnya di padang yang luas itu.
Ternyata Akuwu Tunggul Ametung mengagumi apa yang telah dilihatnya. Parit-parit yang panjang menjelujur membelah tanah yang kering, kemudian berleret-leret seolah-olah jari-jari yang berpuluh-puluh jumlahnya menyengkam Padang Karautan dikedua belah sisi sungai. Sedang agak jauh di tengah-tengah, di ujung parit induk, telah menjadi hijau dan segar oleh tanaman-tanaman yang merupakan bagian dari taman yang dikehendakinya. Sebuah telaga buatan yang cukup luas untuk menampung air, yang kemudian disalurkan lewat parit-parit untuk melepaskan sisa-sisa air kembali ke dalam sungai agak jauh di bawah.
“Sebuah perencanaan yang luar biasa” desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya, “gabungan pengetahuan antara Mahisa Agni dibidang pertanian dan kecerdasan serta keprigelan Ken Arok dibidang pelaksanaannya. Ternyata anak itu mempunyai selera yang matang pula dalam pembuatan taman yang indah ini.”
Akuwu Tunggul Ametung terkejut ketika ia mendengar guntur yang meledak di langit seolah-olah terlampau dekat diatas kepalanya. Seleret sinar tatit menyala menyilaukan matanya. Ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit dilihatnya awan menjadi semakin gelap, dan lebih gelap lagi diarah ujung sungai yang membelah Padang Karautan itu.
“Hujan itu telah jatuh di sana” desisnya.
Bersama beberapa orang pengawalnya, Akuwu kemudian berjalan kembali ke perkemahan. Ketika ia sampai, maka dilihatnya perkemahan itu terlampau sepi.
“Kemana orang-orang itu?” ia bertanya kepada seorang yang dijumpainya.
Orang itu adalah orang Panawijen yang mendapat tugas untuk menunggu perkemahan mereka dan menyiapkan rangsum bagi orang-orang Panawijen.
Sambil berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Ampun tuanku. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel sedang pergi ke bendungan”.
“Seluruhnya?” bertanya Akuwu pula “biasanya ada beberapa orang yang tinggal dan beristirahat untuk melakukan pekerjaan di malam hari”.
“Mereka semuanya telah dipanggil pergi ke bendungan itu”.
“Kenapa?”
“Air mulai naik Tuanku. Agaknya hujan di ujung sungai akan menyebabkan banjir”.
Dada Akuwu Tunggul Ametung itu berdesir. Ia tidak tahu benar kekuatan bendungan yang telah ada itu. Tetapi banjir memang sesuatu yang mendebarkan dalam pekerjaan serupa itu. Bukan saja bendungan dan tanah persawahan yang telah dipersiapkan dan bahkan sebagian telah mulai dikerjakan sambil menunggu air naik, tetapi apabila bendungan itu gagal oleh banjir, maka pertamanan yang sudah mulai tampak asri itupun akan gagal pula.
Karena itu, maka hati Akuwu Tunggul Ametung pun dirayapi pula oleh kecemasan, sehingga dengan serta-merta ia berkata kepada Witantra, “Kita pergi ke bendungan”.
“Marilah Tuanku” jawab Witantra yang selalu siap disamping Akuwu.
Dengan tergesa-gesa Akuwu Tunggul Ametung dan pengawalnya pun segera pergi ke bendungan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dari jauh telah tampak orang-orang yang berkerumun di pinggir sungai. Berjajar-jajar dan bersiap. Agaknya perhatian mereka benar-benar tercurah kepada bendungan mereka yang belum siap benar menghadapi banjir yang pertama.
Di ujung bendungan itu berdiri Ken Arok, Kebo Ijo, Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang-orang tua. Tampaklah membayang di wajah-wajah mereka, kecemasan hati. Air sungai itu semakin lama menjadi semakin keruh.
“Hujan menjadi semakin lebat diujung sungai” terdengar Ken Arok bergumam.
Ki Buyut Panawijen menganggukkan kepalanya. Desisnya “Mudah-mudahan banjir tidak menjadi semakin besar”.
“Tetapi kita harus bersiap. Kita harus dapat mengatasi banjir yang betapapun besarnya”.
Kebo Ijo yang tegang, tiba-tiba tertawa pendek. Katanya “Apakah yang dapat kita lakukan sekarang, justru air sudah mulai naik dan deras?”
“Apapun,” desis Ken Arok “kita akan kehilangan segala-galanya. Tanah persawahan dan parit-parit itu akan muspra. Atau kita harus mulai lagi dari permulaan sekali membangun bendungan yang besar ini? Belum lagi kita perhitungkan petamanan yang sudah mulai tampak hijau, justru Akuwu Tunggul Ametung sedang berada di Padang Karautan ini”.
Kebo Ijo itu tersenyum hambar. Katanya perlahan hampir berbisik, “Akuwu Tunggul Ametung adalah suatu gambaran dari orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Perhatiannya sama sekali tidak tertuju kepada bendungan ini, tetapi yang mendapat perhatiannya paling besar adalah petamanan yang dikehendakinya”.
“Ah jangan begitu adi Kebo Ijo. Kalau Akuwu tidak menaruh perhatian atas bendungan ini, maka ia tidak akan mengirimkan aku dan kau kemari bersama pasukan kita masing-masing”.
“Apa kau sangka itu bukan sekedar kepentingan diri? Ia ingin mendapat pujian dari isterinya yang datang dari Panawijan”.
“Ssst” desis Ken Arok, “jangan terlampau keras”.
Kebo Ijo berpaling memandangi wajah Ki Buyut Panawijen. Tetapi, perhatian Ki Buyut seluruhnya tertumpah ke pada bendungan dan air yang semakin keruh.
“Sekarang,” Kebo Ijo meneruskan, “ia datang untuk membawa kita mencari Kebo Sindet. Untuk melepaskan Mahisa Agni. Kau tahu apakah hubungan Mahisa Agni dengan Akuwu? Apakah itu bukan sekedar kepentingan sendiri”.
“Ah, kau terlampau berprasangka”.
Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi ia mengangkat wajahnya. Dengan pandangan matanya ia menunjuk kepada rombongan Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi semakin dekat, “Akuwu datang kemari”.
“Ya” sahut Ken Arok.
“Kau harus memberi keputusan, apakah kau akan bersedia untuk pergi”.
“Akuwu adalah seorang prajurit. Aku hanya dapat memberi pertimbangan kepada perintah yang aku terima. Tetapi keputusannya ada pada Akuwu. Terserahlah, apakah aku akan diperintahkannya ikut serta, atau aku diperkenankan tinggal”.
“Kalau kau boleh memilih?”
“Aku akan tinggal di sini sampai aku melihat nasib bendungan ini”.
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata sepatahpun karena Akuwu sudah menjadi semakin dekat, dan bahkan langsung pergi ke ujung bendungan. Wajahnya tampak berkerut-merut. Air yang keruh itu ternyata benar-benar telah menarik perhatiannya.
“Ia tidak akan berbuat apa-apa” desis Kebo Ijo, “mungkin ia akan berteriak-teriak. Lalu pergi membawa kau ke Kemundungan”.
Ken Arok tidak menyahut. Ia membungkukkan kepalanya sambil berkata “Tuanku, air menjadi semakin besar”.
“Dan kalian berkumpul saja di sini tanpa berbuat sesuatu?” Ken Arok mengerutkan dahinya. Apakah yang dapat dilakukannya?
“Selagi kalian masih sempat. Ayo, sebagian pergi keseberangan meniti di atas bendungan ini. Hati-hati. Bawalah patok-patok bambu dan tali ijuk”.
Beberapa orang yang mendengar perintah Akuwu itu sejenak menjadi bingung. Mereka tidak segera mengerti maksudnya, sehingga ia masih saja berdiri termangu-mangu. Tetapi Ken Arok segera tanggap akan maksud itu. Ia sendiri memang sudah sudah memikirkannya sebelumnya, sehingga ia telah menyediakan tali-tali dan beberapa buah patok. Karena itu perintah Akuwu itu telah mendorongnya untuk segera melakukannya.
Ken Arok itu segera berteriak kepada orang-orangnya, “He, sebagian dari kalian pergi ke seberangan membawa beberapa buah patok dan tali-tali ijuk. Mari, bersama aku, meniti di atas bendungan ini selagi air belum menjadi semakin besar”. Beberapa orang masih berdiri kebingungan ketika Ken Arok mengulangi “Ayo cepat, jangan berdiri termangu-mangu”.
Meskipun para prajurit itu sebagian masih belum mengerti maksud itu, namun mereka segera berlari-lari mengambil beberapa buah patok bambu dan tali-tali ijuk.
“Bawa saja seluruhnya” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “semua patok yang ada. Disini masih tersedia banyak bambu sehingga kami yang di sini akan dapat membuatnya”.
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ternyata Akuwu itu benar-benar mampu berpikir cepat, meskipun kadang-kadang orang itu sama sekali segan untuk berpikir. Biasanya Akuwu berbuat apa saja yang teringat olehnya. Namun dalam hal yang penting serupa ini, agaknya ia telah mempergunakan kecerdasan dan kecepatannya berpikir.
Karena itu maka Ken Arok itupun mengulangi, “Ya, bawalah semua patok yang ada. Bawa beberapa macam alat-alat, kelewang, cangkul, dan yang lain-lain”.
Beberapa orang prajurit segera melakukannya dengan cepat, sedang Ken Arok sendiri akan ikut serta menyeberang sungai yang sedang banjir itu.
“Hamba akan ke seberang Tuanku, biarlah di sini adi Kebo Ijo memimpin para prajurit yang tersisa dan orang-orang Panawijen”.
“Pergilah” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “cepat, sebelum bendungan itu dadal”.
Daia Ken Arok berdesir. Air ternyata menjadi semakin tinggi. Terlampau cepat menurut perhitungannya. Sehingga dengan demikian Ken Arok tidak sempat untuk berbicara lagi, untuk memberi terlampau banyak pesan kepada Kebo Ijo. Ia mengharap bahwa Kebo Ijo akan mengerti dengan sendirinya, apakah yang harus dilakukannya. Ken Arok diikuti oleh beberapa orang prajurit segera menyeberang meniti bendungan. Air sudah menjadi tinggi, hampir meluap di atas bendungan itu.
Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tetap menyadari apa yang harus dilakukannya. Meskipun air sungai itu menjadi semakin keruh dan bergulung-gulung dengan derasnya, namun Ken Arok masih sempat juga berhenti di atas bendungan itu. Kepada beberapa orang prajurit ia berteriak,
“ikatkan tali-tali itu pada brunjung-brunjung yang ringkih. Yang lain cepat meloncat ke tepi. Tancapkan patok-patok itu kuat-kuat”.
Namun sesaat berikutnya keduanya segera menyadari keadaan. Kebo Sindet segera sadar, bahkan Kuda Sempana telah berkhianat kepadanya. Pada saat yang pendek itu, Kebo Sindet telah dilanda oleh kekecewaan yang tiada taranya. Ia tidak berhasil mengawasi Mahisa Agni sehingga tiba-tiba ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu anak itu telah mengimbanginya. Kini Kuda Sempana yang disangkanya menyimpan dendam tiada taranya atas Mahisa Agni itu ternyata justru berkhianat kepadanya. Dugaannya sampai saat terakhir bahwa Kuda Sempana masih berusaha untuk membunuh Mahisa Agni dengan tangannya ternyata jauh dari kebenaran yang dihadapinya kini.
Tetapi keduanya kini dihadapkan pada kenyataan itu. Dan keduanya harus segera memberikan tanggapan yang sewajarnya. Sudah pasti bahwa Kebo Sindet akan berusaha untuk mencegah Mahisa Agni mendapatkan pedang itu, dan sebaliknya Mihisa Agni harus segera menemukan cara untuk menguasainya supaya ia tidak menjadi semakin sulit apabila Kebo Sindet mempergunakan senjata rangkap.
Arah pedang Kula Sempana memang menuju kepada Mahisa Agni. Tetapi dalam saat yang pendek Kebo Sindet telah menemukan sikap, ia harus segera meloncat menyerang supaya Mahisa Agni tidak sempat menerima pedang itu. Namun Mahisa Agni pun telah mememukan sikap pula untuk menguasai pedang itu. Ia menyadari bahwa Kebo Sindet pasti akan berusaha menghalang-halanginya.
Sejenak kemudian terdengar teriakan nyaring dari mulut iblis Kemundungan itu, dibarengi dengan sebuah serangan yang dahsat. Goloknya terjulur terus ke depan langsung menikam dada Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah bersiap pula. Ditangannya masih tergenggam sepotong sulur. Karena itu, maka segera kedua senjatanya yang sudah tidak berarti itu dilemparkannya dengan sekuat tenaganya menyongsong serangan Kebo Sindet. Sepotong mengarah ke dahinya dan sepotong lagi mengarah kedadanya. Untuk memberi tekanan pada serangannya itu Mahisa Agni berteriak pula,
“Nah, Kebo Sindet, sepotong sulurku ini harus dapat menghunjam ke dalam matamu dan sepotong kayu ini akan melubangi dadamu”.
Lemparan Mahisa Agni itu benar-benar telah mengejutkan Kebo Sindet. Pada saat ia sedang dibakar oleh nafsunya untuk menyerang, untuk mencegah Mahisa Agni dapat menguasai pedang yang dilemparkan oleh Kuda Sempana, ternyata Mahisa Agni telah menyerangnya pula dengan caranya sendiri.
Dengan demikian maka sejenak Kebo Sindet menjadi gugup. Lemparan Mahisa Agni terlampau keras, cepat dan kuat. Karena itu maka Kebo Sindet harus melawannya dengan segenap kemampuannya pula. Apabila sepotong sulur itu menyentuh matanya, maka sulur itu pasti benar-benar akan menghunjam sampai kepusat kepalanya. Sedang potongan kaju yang dilemparkan ke dadanya, akan dapat meretakkan segenap tulang-tulang iganya.
Tak ada jalan lain bagi Kebo Sindet, dari pada menangkis atau menghindari kedua serangan itu. Tetapi ia tidak mempunyai waktu yang cukup. Karena itu, maka keduanya dilakukan bersama-sama. Dengan pedangnya ia menukul sepotong sulur yang mengarah kedahinya, dan dengan sebuah geseran kecil ia menghindari serangan ke arah dadanya. Ia harus menghemat waktu sebaik-baiknya, supaya ia tidak gagal mencegah usaha Mahisa Agni untuk mendapatkan senjata yang diberikan oleh Kuda Sempana yang mengkhianatinya.
Tetapi perhitungan Mahisa Agni pun ternyata telah matang. Meskipun waktu yang diperlukan oleh Kebo Sindet hanya sekejap, namun tanpa diduga-duga oleh Kebo Sindet, Mahisa Agni mampu meloncat secepat tatit. Pada saat Mahisa Agni melontarkan dirinya, pedang itu telah jatuh di tanah beberapa langkah dari padanya. Dipergunakannya waktu sebaik-baiknya seperti yang dilakukan oleh Kebo Sindet. Ternyata Mahisa Agni mendapat beberapa keuntungan. Keadaannya lebih baik dari pada lawannya. Pedang itu jatuh lebih dekat kepadanya dari pada Kebo Sindet, dan ia berhasil pula memperlambat usaha lawannya untuk mencegahnya.
Tetapi perbedaan waktu itu tidak lebih dari kejapan mata. Begitu tangan Mahisa Agni menyambar tangkai pedang itu, maka golok Kebo Sindet telah berdesing menyambarnya. Waktu yang dapat dipergunakan oleh Mahisa Agni terlampau pendek untuk dapat menangkis serangan itu dengan baik. Namun kini tangannya telah menggenggam pedang. Karena itu seakan-akan digerakkan oleh nalurinya, maka tangannya segera terangkat dan menangkis serangan itu dengan pedang yang baru saja dipungutnya.
Terjadilah benturan yang dahsyat. Dua kekuatan telah beradu. Namun agaknya Kebo Sindet lebih banyak mendapat kesempatan untuk mengerahkan tenaga dan kemampuannya, sehingga di dalam benturan itu, terasa tangan Mahisa Agni menjadi terlampau pedih. Hampir saja pedang yang baru dipungutnya itu terlepas dari tangannya. Namun. dengan susah payah ia berhasil mempertahankannya. Meskipun demikian, maka Mahisa Agni merasakannya, bahwa ia tidak akan mampu untuk melawan benturan sekali lagi apabila Kebo Sindet segera menyerangnya. Karena itu, maka Mahisa Agni segera melontarkan dirinya sejauh-jauhnya dari lawannya.
Meskipun Mahisa Agni sadar, bahwa Kebo Sindet tidak akan memberinya kesempatan, tetapi seandainya ia berada di dalam lontaran loncatannya, ia telah berhasil memperbaiki genggaman pedangnya. Ternyata perhitungan Mahisa Agni itu benar. Begitu ia menjejakkan kakinya di tanah, maka Kebo Sindet telah mematuk dengan ujung goloknya. Namun Mahisa Agni telah bersedia untuk menghadapinya, meskipun ia masih harus meloncat pula menghindari. Dan loncatannya kali ini menjadi semakin panjang, semakin jauh dari lawannya. Bahkan tidak hanya dengan satu loncatan, tetapi dua, tiga loncatan.
“Licik” teriak Kebo Sindet sambil mengejarnya.
Namun pada saatnya Mahisa Agni telah menemukan keseimbangan yang mantap untuk melakukan perlawanan. Sejenak ia mendapat kesempatan untuk menilai diri. Kini ia berdiri tegak dengan pedang ditangan. Ia tidak lagi harus berlari-lari untuk mencari senjata yang mungkin dapat dipergunakan. Namun ia tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan dan menjawab pertanyaan yang tumbuh di dalam hatinya, kenapa tiba-tiba saja Kuda Sempana telah berusaha membantunya. Hanya seleret ia sempat mengingat, bahwa sikap Kuda Sempana memang telah berubah.
Saat-saat seterusnya Mahisa Agni sudah tenggelam lagi di dalam perlawanannya atas Kebo Sindet yang menyerangnya seperti banjir menghantam tebing. Namun kini Mahisa Agni merasa telah mendapat kesempatan untuk benar-benar melakukan perlawanan. Ia akan mendapat kesempatan untuk benar-benar berkelahi melawan Kebo Sindet. Ia tidak hanya sekedar harus menghindar dan berlari-larian.
“Saat ini akbirnya datang juga” katanya di dalam hati, “sekarang tidak ada alasan lagi bagiku untuk menutupi segala kemungkinan yang akan menjadi kenyataan, di dalam segala keadaan. Seandainya aku kalah, maka aku memang masih belum mampu menyusul kemampuan Kebo Sindet. Akibat dari kekalahan itu adalah kegagalan mutlak. Kekalahan itu adalah benar-benar kekalahan, yang tidak dapat dicari-cari sebabnya lagi”.
Tetapi apabila benar-benar ia telah memiliki ilmu yang cukup seimbang dengan Kebo Sindet, maka kesempatan itu telah datang. Dan Mahisa Agni benar-benar akan menilai dirinya sendiri. Dalam perkelahian yang semakin sengit itulah kemudian Mahisa Agni menyadari keadaan dirinya. Pada saat-saat yang merampas segenap perhatiannya untuk mendapatkan pedang Kuda Sempana, serta dalam usahanya untuk memperbaiki keadaannya, sehingga ia terpaksa berloncat-loncatan, ia sama sekali tidak dapat lagi mempertimbangkan kemana ia harus memilih arah.
Kini, ketika perkelahian menjadi semakin sengit, baru terasa olehnya, bahwa kakinya telah berjejak diatas tanah yang sudah mulai gembur. Ia telah berada beberapa langkah saja dari bibir rawa-rawa. Namun demikian, hati Mahisa Agni kini menjadi semakin tatag. Di tangannya kini tergenggam sehelai pedang yang akan dapat melawan golok Kebo Sindet yang garang itu.
Yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang sebenarnya merupakan perkelahian yang dahsyat. Dengan pedang di tangan Mahisa Agni mencoba menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan yang tumurun dari gurunya dan dari Empu Sada, guru Kuda Sempana yang berusaha untuk sedikit mengurangi kesalahan yang pernah dibuatnya. Lebih dari pada itu, Kebo Sindet telah menanamkan sakit hati yang tiada taranya di dalam hatinya, sehingga Empu Sada itu pun kemudian sampai pula pada kesimpulan, bahwa seharusnyalah memang orang-orang semacam Kebo Sindet itu dimusnahkan.
Ternyata dengan pedang di tangan Mahisa Agni tidak mengecewakan. Tandangnya semakin mantap dan kuat. Meskipun darahnya masih juga menitik dari luka-luka ditubuhnya, namun justru telah membuatnya seperti banteng yang terluka. Kebo Sindet pun menjadi semakin waringuten. Tata geraknya menjadi semakin liar dan buas. Matanya menyala seperti api dalam ketegangan wajahnya yang kasar dan ganas. Golok Kebo Sindet menyambar-nyambar seperti burung alap-alap di udara. Cepat dan garang. Dan kemudian mematuk seperti seribu ular bandotan dari segala arah.
Tetapi pedang Mahisa Agni telah mampu menamengi dirinya. Tidak seujung jarum pun dapat ditembus oleh serangan lawan. Ilmu pedang yang diterimanya dari gurunya dan dari Empu Sada, telah benar-benar menempatkannya pada keadaan yang lebih baik. Pedang yang diterimanya dari Kuda Sempana itu terayun-ayun seperti lesus yang melibat lawannya dalam pusaran yang membingungkan.
Sekali-kali terdengar Kebo Sindet mengumpat keras-keras. Ia berhadapan dengan seorang anak muda yang benar-benar tangguh. Ilmu yang dipergunakan oleh Mahisa Agni ternyata sebagian dapat dikenal oleh lawannya. Ilmu dalam tingkat tertinggi dari perguruan Mahisa Agni itu sendiri. Bahkan kadang-kadang Kebo Sindet telah dibingungkan oleh tata gerak yang aneh, yang mencerminkan perpaduan dari kedua cabang perguruan itu.
“Gila” teriaknya, “kedua setan itu bergabung dalam dirimu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi, ia kagum juga atas pengamatan lawannya yang dapat menebaknya dengan tepat apa yang telah terjadi atas dirinya.
“He, Mahisa Agni” teriak Kebo Sindet pula “apakah kedua setan tua itu pernah menemuimu?”
Mahisa Agni sama sekali tidak berhasrat untuk menjawab. Ia justru memperketat serangannya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti tatit diudara.
“Setan kecil” Kebo Sindet mengumpat pula. Kemarahannya yang meluap-luap telah membuatnya semakin buas.
Perkelahian itu ternyata merupakan perkelahian yang terlampau dahsyat. Perkelahian yang sama sekali tidak dapat dimengerti oleh Kuda Sempana. Meskipun Kuda Sempana sendiri telah mendapat lambaran yang cukup, tetapi ketika ia dihadapkan pada puncak ilmu itu, ia hanya dapat berdiri saja memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip. Ia hampir-hampir tidak dapat mengenal sama sekali, apakah yang sedang disaksikannya itu. Gerak yang terlampau cepat, keras dan kadang-kadang membingungkan. Putaran-putaran senjata dan benturan-benturan yang terjadi membuatnya menjadi pening.
Hatinya berdesir tajam apabila ia mendengar dentang kedua senjata itu beradu. Benturan antara golok Kebo Sindet dan pedang di tangan Mahisa Agni kadang-kadang telah melemparkan bunga-bunga api yang memercik diudara. Benturan antara dua kekuatan raksasa yang sedang diamuk oleh kemarahan di dalam hati masing-masing. Tetapi perkelahian itu tidak bergeser dari tanah yang lembab, bahkan telah menjadi agak gembur itu. Hanya beberapa langkah saja mereka akan terdorong ke dalam air yang keruh, yang di dalamnya bersarang berbagai macam binatang-binatang air yang buas dan rakus.
Ternyata Kebo Sindet masih tetap berusaha untuk menekan Mahisa Agni, dan mendorongnya ke dalam rawa-rawa itu. Tetapi kini usahanya tidak lagi dapat dilakukannya dengan mudah seperti pada saat Mahisa Agni belum bersenjata. Kini ternyata kekuatan mereka banar-benar menjadi seimbang.
Bukan Mahisa Agni lah yang selalu dapat didesak oleh lawannya tetapi mereka seakan-akan mendapat kesempatan yang sama untuk mendorong lawannya. Kadang-kadang Mahisa Agni berada dalam keadaan yang sulit dan berdiri pada arah rawa-rawa itu. Seakan-akan Kebo Sindet tinggal mendesaknya beberapa langkah, kemudian mendorongnya masuk ke dalam air yang keruh itu. Tetapi tiba kesempatan itupun bergeser. Mahisa Agni berhasil menekan lawannya sehingga Kebo Sindet terpaksa mengumpat keras-keras.
Kedua orang yang sedang bertempur itu adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dari orang-orang kebanyakan. Tenaga mereka dalam cak-cakan ilmu yang hampir sempurna, benar-benar merupakan kekuatan-kekuatan yang dahsyat. Dan kedua kekuatan yang dahsyat itu kini sedang beradu dengan dahsyatnya pula. Ketika matahari menjadi semakin jauh melampaui puncak langit, maka keringat mereka yang sedang berkelahi itu seakan-akan telah terperas sehingga tuntas. Tubuh-tubuh mereka yang basah dan kotor menjadi mengkilap seperti tembaga.
Namun kini tubuh-tubuh mereka telah mulai diwarnai oleh warna darah masing-masing. Sekali-kali mereka tidak berhasil menangkis dan menghindari serangan lawan yang membadai, sehingga ujung-ujung senjata itu telah berhasil menyentuh kulit mereka. Mereka menggeram dan kadang-kadang berdesis pendek, apabila terasa kulit mereka tergores oleh tajamnya senjata.
Tetapi kedahsyatan mereka tidak menjadi cair. Mereka masih tetap dalam tingkat yang hampir sempurna. Meskipun tata gerak mereka mempunyai watak yang berbeda. Mahisa Agni yang sudah dapat pesan dari kedua orang-orang tua yang menuntunnya, tidak dapat dikejutkan oleh tata gerak lawannya yang kasar dan buas, yang kadang-kadang hampir tidak terduga-duga.
Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi semakin dahsyat, Kuda Sempana sudah tidak mampu lagi menilai apakah yang sebenarnya terjadi atas kedua orang yang sedang bertempur itu, sehingga ia masih saja berdiri mematung dengan dada yang berdebaran. Namun sebenarnyalah bahwa ia telah melibatkan diri dalam perkelahian itu pada saat ia melontarkan pedangnya, sehingga meskipun ia masih tetap berdiri di tempatnya, tetapi sebenarnya ia memang telah berpihak.
Dengan demikian maka dengan harap-harap cemas ia menyaksikan pertempuran itu. Ia ingin melihat Mahisa Agni memenangkan perkelahian itu. Kalau Mahisa Agni kemudian ternyata dapat dikalahkan, maka nasibnya pun akan tergantung di ujung jari Kebo Sindet pula. Disadarinya bahwa yang akan terjadi atasnya adalah suatu peristiwa yang pasti belum pernah dilihatnya.
Dada Mahisa Agni itu berdesir ketika langit yang cerah menjadi semakin lama semakm suram. Awan yang hitam mengalir dari ujung langit. menebar semakin luas. Sekali-kali dikejauhan terdengar guruh meledak dan tatit menyambar-nyambar. Sejenak ingatan Mahisa Agni lari ke Padang Karautan. Namun sejenak kemudian ia berhasil mengekang dirinya. Katanya di dalam hati
“Biarlah apa yang terjadi di Padang Karautan. Mudah-mudahan Ken Arok dapat mengatasinya. Yang penting bagiku sekarang adalah keluar dari neraka iblis ini”.
Dengan demikian maka Mahisa Agni segera menemukan kemantapannya kembali, ia ternyata telah berhasil menyingkirkan segala persoalan yang lain, kecuali melenyapkan iblis dari Kemundungan ini.
Ketika mereka berdua tenggelam semakin dalam di arena pertempuran itu, maka para prajurit Tumapel di Padang Karautan dan orang-orang Panawijen sedang di cemaskan oleh mendung yang semakin menebal di arah ujung sungai. Ken Arok yang memimpin pembuatan bendungan itu menjadi berdebar-debar. Seandainya pada saat itu banjir datang, apakah bendungannya sudah dapat menahannya?. Kesibukan Ken Arok sejak semalam menjadi kian meningkat. Sejak kehadiran Akuwu Tunggul Ametung yang sedang berusaha untuk mencari Mahisa Agni.
Hari ini seharusnya mereka akan berangkat ke Kemundungan. Tetapi awan yang hitam di langit telah meragukan Ken Arok. Apabila banjir datang, dan ia tidak ada di padang ini menunggui bendungan yang sudah hampir siap itu, maka hatinya pasti tidak akan dapat menjadi tenang.
“Tuanku” berkata Ken Arok, “apakah perjalanan ini dapat ditunda?”
“Taruhannya adalah nyawa Mahisa Agni” sahut Akuwu Tunggul Ametung. “Sehari akan sangat berarti bagi Kebo Sindet. Keterlambatan yang sehari itu akan dapat membuat kita menyesal”.
Ken Arok menjadi ragu-ragu. Kedua-duanya teramat penting baginya. Ia berminat sekali untuk berusaha melepaskan Mahisa Agni. Ia melihat bagaimana Mahisa Agni itu hilang, sehingga ia akan mendapat kepuasan apabila ia dapat turut menemukannya. Tetapi bendungan ini terasa memberatinya untuk meninggalkan Padang Karautan. Seolah-olah ia mendapat kepercayaan sepenuhnya justru dari Mahisa Agni, untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulainya. Seandainya langit masih selalu bersih, ia akan dengan tenang ikut di dalam rombongan Akuwu Tunggul Ametung. mencari Mahisa Agni, langsung di sarang iblis dari Kemundungan itu.
Dalam keragu-raguan itu terdengar Ken Arok berdesis, “Tetapi bendungan ini? Seandainya hamba tidak dicemaskan oleh banjir, maka hamba sama sekali tidak berkeberatan untuk meninggalkannya”.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti keberatan Ken Arok untuk meninggalkan bendungan itu. Karena itu maka katanya,
“Nanti, aku akan mengambil keputusan setelah senja. Aku menunda perjalananku sampai sore. Apabila memungkinkan kau dapat ikut. Kalau tidak. aku akan pergi dengan pasukan kecil ini. Aku merasa cukup kuat. Meskipun seandainya Kebo Sindet mempunyai pasukan segelar sepapan”.
Sambil menunggu sampai senja, Akuwu berkesempatan untuk melihat petamanan yang telah disiapkan oleh Ken Arok. Sehingga Akuwu sendiri kemudian menjadi ragu-ragu. Apakah kehadirannya di Padang Karautan itu karena ia memerlukan sekali membawa Ken Arok serta, ataukah sekedar ingin melihat sendiri, apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh prajurit-prajuritnya di padang yang luas itu.
Ternyata Akuwu Tunggul Ametung mengagumi apa yang telah dilihatnya. Parit-parit yang panjang menjelujur membelah tanah yang kering, kemudian berleret-leret seolah-olah jari-jari yang berpuluh-puluh jumlahnya menyengkam Padang Karautan dikedua belah sisi sungai. Sedang agak jauh di tengah-tengah, di ujung parit induk, telah menjadi hijau dan segar oleh tanaman-tanaman yang merupakan bagian dari taman yang dikehendakinya. Sebuah telaga buatan yang cukup luas untuk menampung air, yang kemudian disalurkan lewat parit-parit untuk melepaskan sisa-sisa air kembali ke dalam sungai agak jauh di bawah.
“Sebuah perencanaan yang luar biasa” desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya, “gabungan pengetahuan antara Mahisa Agni dibidang pertanian dan kecerdasan serta keprigelan Ken Arok dibidang pelaksanaannya. Ternyata anak itu mempunyai selera yang matang pula dalam pembuatan taman yang indah ini.”
Akuwu Tunggul Ametung terkejut ketika ia mendengar guntur yang meledak di langit seolah-olah terlampau dekat diatas kepalanya. Seleret sinar tatit menyala menyilaukan matanya. Ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit dilihatnya awan menjadi semakin gelap, dan lebih gelap lagi diarah ujung sungai yang membelah Padang Karautan itu.
“Hujan itu telah jatuh di sana” desisnya.
Bersama beberapa orang pengawalnya, Akuwu kemudian berjalan kembali ke perkemahan. Ketika ia sampai, maka dilihatnya perkemahan itu terlampau sepi.
“Kemana orang-orang itu?” ia bertanya kepada seorang yang dijumpainya.
Orang itu adalah orang Panawijen yang mendapat tugas untuk menunggu perkemahan mereka dan menyiapkan rangsum bagi orang-orang Panawijen.
Sambil berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Ampun tuanku. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel sedang pergi ke bendungan”.
“Seluruhnya?” bertanya Akuwu pula “biasanya ada beberapa orang yang tinggal dan beristirahat untuk melakukan pekerjaan di malam hari”.
“Mereka semuanya telah dipanggil pergi ke bendungan itu”.
“Kenapa?”
“Air mulai naik Tuanku. Agaknya hujan di ujung sungai akan menyebabkan banjir”.
Dada Akuwu Tunggul Ametung itu berdesir. Ia tidak tahu benar kekuatan bendungan yang telah ada itu. Tetapi banjir memang sesuatu yang mendebarkan dalam pekerjaan serupa itu. Bukan saja bendungan dan tanah persawahan yang telah dipersiapkan dan bahkan sebagian telah mulai dikerjakan sambil menunggu air naik, tetapi apabila bendungan itu gagal oleh banjir, maka pertamanan yang sudah mulai tampak asri itupun akan gagal pula.
Karena itu, maka hati Akuwu Tunggul Ametung pun dirayapi pula oleh kecemasan, sehingga dengan serta-merta ia berkata kepada Witantra, “Kita pergi ke bendungan”.
“Marilah Tuanku” jawab Witantra yang selalu siap disamping Akuwu.
Dengan tergesa-gesa Akuwu Tunggul Ametung dan pengawalnya pun segera pergi ke bendungan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dari jauh telah tampak orang-orang yang berkerumun di pinggir sungai. Berjajar-jajar dan bersiap. Agaknya perhatian mereka benar-benar tercurah kepada bendungan mereka yang belum siap benar menghadapi banjir yang pertama.
Di ujung bendungan itu berdiri Ken Arok, Kebo Ijo, Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang-orang tua. Tampaklah membayang di wajah-wajah mereka, kecemasan hati. Air sungai itu semakin lama menjadi semakin keruh.
“Hujan menjadi semakin lebat diujung sungai” terdengar Ken Arok bergumam.
Ki Buyut Panawijen menganggukkan kepalanya. Desisnya “Mudah-mudahan banjir tidak menjadi semakin besar”.
“Tetapi kita harus bersiap. Kita harus dapat mengatasi banjir yang betapapun besarnya”.
Kebo Ijo yang tegang, tiba-tiba tertawa pendek. Katanya “Apakah yang dapat kita lakukan sekarang, justru air sudah mulai naik dan deras?”
“Apapun,” desis Ken Arok “kita akan kehilangan segala-galanya. Tanah persawahan dan parit-parit itu akan muspra. Atau kita harus mulai lagi dari permulaan sekali membangun bendungan yang besar ini? Belum lagi kita perhitungkan petamanan yang sudah mulai tampak hijau, justru Akuwu Tunggul Ametung sedang berada di Padang Karautan ini”.
Kebo Ijo itu tersenyum hambar. Katanya perlahan hampir berbisik, “Akuwu Tunggul Ametung adalah suatu gambaran dari orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Perhatiannya sama sekali tidak tertuju kepada bendungan ini, tetapi yang mendapat perhatiannya paling besar adalah petamanan yang dikehendakinya”.
“Ah jangan begitu adi Kebo Ijo. Kalau Akuwu tidak menaruh perhatian atas bendungan ini, maka ia tidak akan mengirimkan aku dan kau kemari bersama pasukan kita masing-masing”.
“Apa kau sangka itu bukan sekedar kepentingan diri? Ia ingin mendapat pujian dari isterinya yang datang dari Panawijan”.
“Ssst” desis Ken Arok, “jangan terlampau keras”.
Kebo Ijo berpaling memandangi wajah Ki Buyut Panawijen. Tetapi, perhatian Ki Buyut seluruhnya tertumpah ke pada bendungan dan air yang semakin keruh.
“Sekarang,” Kebo Ijo meneruskan, “ia datang untuk membawa kita mencari Kebo Sindet. Untuk melepaskan Mahisa Agni. Kau tahu apakah hubungan Mahisa Agni dengan Akuwu? Apakah itu bukan sekedar kepentingan sendiri”.
“Ah, kau terlampau berprasangka”.
Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi ia mengangkat wajahnya. Dengan pandangan matanya ia menunjuk kepada rombongan Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi semakin dekat, “Akuwu datang kemari”.
“Ya” sahut Ken Arok.
“Kau harus memberi keputusan, apakah kau akan bersedia untuk pergi”.
“Akuwu adalah seorang prajurit. Aku hanya dapat memberi pertimbangan kepada perintah yang aku terima. Tetapi keputusannya ada pada Akuwu. Terserahlah, apakah aku akan diperintahkannya ikut serta, atau aku diperkenankan tinggal”.
“Kalau kau boleh memilih?”
“Aku akan tinggal di sini sampai aku melihat nasib bendungan ini”.
Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata sepatahpun karena Akuwu sudah menjadi semakin dekat, dan bahkan langsung pergi ke ujung bendungan. Wajahnya tampak berkerut-merut. Air yang keruh itu ternyata benar-benar telah menarik perhatiannya.
“Ia tidak akan berbuat apa-apa” desis Kebo Ijo, “mungkin ia akan berteriak-teriak. Lalu pergi membawa kau ke Kemundungan”.
Ken Arok tidak menyahut. Ia membungkukkan kepalanya sambil berkata “Tuanku, air menjadi semakin besar”.
“Dan kalian berkumpul saja di sini tanpa berbuat sesuatu?” Ken Arok mengerutkan dahinya. Apakah yang dapat dilakukannya?
“Selagi kalian masih sempat. Ayo, sebagian pergi keseberangan meniti di atas bendungan ini. Hati-hati. Bawalah patok-patok bambu dan tali ijuk”.
Beberapa orang yang mendengar perintah Akuwu itu sejenak menjadi bingung. Mereka tidak segera mengerti maksudnya, sehingga ia masih saja berdiri termangu-mangu. Tetapi Ken Arok segera tanggap akan maksud itu. Ia sendiri memang sudah sudah memikirkannya sebelumnya, sehingga ia telah menyediakan tali-tali dan beberapa buah patok. Karena itu perintah Akuwu itu telah mendorongnya untuk segera melakukannya.
Ken Arok itu segera berteriak kepada orang-orangnya, “He, sebagian dari kalian pergi ke seberangan membawa beberapa buah patok dan tali-tali ijuk. Mari, bersama aku, meniti di atas bendungan ini selagi air belum menjadi semakin besar”. Beberapa orang masih berdiri kebingungan ketika Ken Arok mengulangi “Ayo cepat, jangan berdiri termangu-mangu”.
Meskipun para prajurit itu sebagian masih belum mengerti maksud itu, namun mereka segera berlari-lari mengambil beberapa buah patok bambu dan tali-tali ijuk.
“Bawa saja seluruhnya” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “semua patok yang ada. Disini masih tersedia banyak bambu sehingga kami yang di sini akan dapat membuatnya”.
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ternyata Akuwu itu benar-benar mampu berpikir cepat, meskipun kadang-kadang orang itu sama sekali segan untuk berpikir. Biasanya Akuwu berbuat apa saja yang teringat olehnya. Namun dalam hal yang penting serupa ini, agaknya ia telah mempergunakan kecerdasan dan kecepatannya berpikir.
Karena itu maka Ken Arok itupun mengulangi, “Ya, bawalah semua patok yang ada. Bawa beberapa macam alat-alat, kelewang, cangkul, dan yang lain-lain”.
Beberapa orang prajurit segera melakukannya dengan cepat, sedang Ken Arok sendiri akan ikut serta menyeberang sungai yang sedang banjir itu.
“Hamba akan ke seberang Tuanku, biarlah di sini adi Kebo Ijo memimpin para prajurit yang tersisa dan orang-orang Panawijen”.
“Pergilah” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “cepat, sebelum bendungan itu dadal”.
Daia Ken Arok berdesir. Air ternyata menjadi semakin tinggi. Terlampau cepat menurut perhitungannya. Sehingga dengan demikian Ken Arok tidak sempat untuk berbicara lagi, untuk memberi terlampau banyak pesan kepada Kebo Ijo. Ia mengharap bahwa Kebo Ijo akan mengerti dengan sendirinya, apakah yang harus dilakukannya. Ken Arok diikuti oleh beberapa orang prajurit segera menyeberang meniti bendungan. Air sudah menjadi tinggi, hampir meluap di atas bendungan itu.
Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tetap menyadari apa yang harus dilakukannya. Meskipun air sungai itu menjadi semakin keruh dan bergulung-gulung dengan derasnya, namun Ken Arok masih sempat juga berhenti di atas bendungan itu. Kepada beberapa orang prajurit ia berteriak,
“ikatkan tali-tali itu pada brunjung-brunjung yang ringkih. Yang lain cepat meloncat ke tepi. Tancapkan patok-patok itu kuat-kuat”.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar