MENU

Ads

Senin, 13 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 185

Kini para prajurit itu mengerti apa yang harus mereka lakukan. Karena itu maka sebagian dari mereka yang membawa patok-patok bambu segera berlari ketepi seberang dan dengan cepat menancapkan patok-patok bambu. Mereka yang tidak sempat membawa alat-alat yang cukup, segera mencari batu-batu besar untuk alat pemukul, sedang yang lain mempergunakan ganden-ganden kayu yang memang telah mereka siapkan sebelumnya.

Langitnya yang mendung menjadi semakin mendung. Titik-titik air telah berjatuhan satu-satu. Semakin lama semakin sering, seperti hati Ken Arok yang semakin berdebar-debar. Ketika ia memandangi orang-orang yang masih berada di seberang, ia melihat kesibukan yang sama. Bukan saja Kebo Ijo yang berlari-lari kian kemari, tetapi ternyata Akuwu Tunggul Ametung sendiri ikut serta dalam kerja yang ribut itu. Beberapa orang dengan tergesa-gesa membuat patok-patok bambu, sedang yang lain turun ke bendungan, dan seperti yang dilakukan oleh Ken Arok, mereka mengikat brunjung-brunjung yang ringkih dengan tali-tali ijuk yang kuat, kemudian menambatkannya pada patok-patok di tebing. Pekerjaan itu adalah pekerjaan-pekerjaan yang sangat darurat. Tetapi mereka bertekad untuk menyelamatkan bendungan itu dari banjir yang pertama.

Hujan pun semakin lama menjadi semakin deras, tetapi orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel sama sekali tidak meninggalkan pekerjaan mereka. Bahkan beberapa orang telah langsung turun ke bendungan, untuk menanam patok-patok bambu dan mengikat patok-patok itu pada patok-patok yang berada ditebing.

Setiap hati menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat air menjadi semakin tinggi. Bahkan kemudian sedikit demi sedikit telah mencapai puncak bendungan yang belum siap benar. Apabila air itu kemudian melampauinya, maka bahaya bagi bendungan itu menjadi semakin besar. Sedikit demi sedikit, air itu akan mendorong bendungan yang masih belum mantap benar. Bahkan orang-orang yang berdiri di sisi sungai itu seolah-olah melihat bendungan itu bergoyang.

“Tambatkan semua tali yang ada” teriak Ken Arok.

Suaranya telah menggerakkan setiap orang untuk melakukan pekerjaan apa saja. Patok-patok bambu, tali ijuk dan tali-tali tambang yang lain telah terikat pada brunjung-brunjung yang tampak ringkih. Beberapa orang mencoba mengikat brunjung-brunjung itu dengan brunjung-brunjung yang lain yang lebih kuat kedudukannya. Mereka harus mencegah supaya tidak ada satu brunjung pun yang terlempar oleh air yang membanjir itu. Sebab dengan demikian, maka satu demi satu brunjung-brunjung yang lainpun akan terlempar pula. Air yang meluap akan menjadi semakin banyak. Dan apabila demikian, besok sebelum fajar, mereka akan menemukan bendungan itu menjadi brunjung-brunjung yang berserakan.

Dengan demikian, maka kesibukan di bendungan itu pun menjadi semakin meningkat, seperti ketegangan di dalam setiap dada orang-orang yang menyaksikan, air menjadi semakin tinggi merayap mencapai puncak bendungan. Sedang hujan pun semakin lama menjadi semakin deras seperti ditumpahkan dari langit. Angin yang kencang bertiup dari Selatan menggoyangkan dedaunan dan pepohonan yang sedang menghijau di taman yang belum siap benar itu.

Ken Arok dengan dahi yang berkerut-merut berdiri tegak di ujung bendungan. Dadanya berdebaran seperti hendak meledak. Ditatapnya air yang bergulung-gulung semakin keruh dan semakin tinggi itu.

“Air ini harus mendapat saluran” desisnya, “kalau tidak maka bendungan ini tidak akan kuat menahannya”.

Tetapi Ken Arok masih belum menemukan cara untuk menyalurkan air yang semakin menanjak. Sekali lagi orang-orang Panawijen itu seakan-akan melihat bendungan itu berguncang. Namun dada mereka berguncang lebih dahsyat lagi. Apalagi dada Ken Arok.

Para prajurit dan orang-orang Panawijen kini sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Setiap tali yang ada telah terikat pada patok-patok bambu di pinggir bendungan. Segala usaha telah dilakukan, dan segala cara telah ditempuh. Kini, di dalam hujan yang lebat itu mereka hanya tinggal menunggu, apakah yang akan terjadi atas bendungan yang sudah sekian lama mereka kerjakan. Menelan banyak sekali tenaga dan biaya yang telah diberikan oleh Akuwu Tunggul Ametung.

Agaknya hujan yang lebat itu turun diseluruh permukaan bumi. Ternyata di Kemundungan pun hujan menjadi kian lebat. Tatit dan guruh meledak bersahut-sahutan di langit, seakan-akan sedang bersabung.

Sedang di pinggir rawa-rawa yang gembur, Mahisa Agni dan Kebo Sindet masih juga menyabung nyawa. Semakin lama semakin seru. Hujan dan petir sama sekali sudah tidak mereka hiraukan lagi. Apalagi mereka yang sedang bertempur sedangkan Kuda Sempana pun berdiri saja tanpa beranjak dari tempatnya, meskipun hujan seakan-akan tertumpah dari langit. Tetapi ia hanya dapat menyaksikan saja perkelahian itu tanpa dapat berbuat sesuatu.

Ia sudah tidak dapat berusaha apapun lagi setelah melemparkan pedangnya kepada Mahisa Agni. Namun pedang itu ternyata sangat bermanfaat baginya. Sehingga dengan pedang itu Mahisa Agni mampu membuat keseimbangan di dalam perang tanding yang sedang berlangsung dengan sengitnya dibawah hujan yang sangat lebat, sehingga titik air hujan yang terlampau padat itu, seolah-olah merupakan pedut yang gelap.

Tetapi hujan itu sama sekali tidak terpengaruh atas kedahsyatan perkelahian itu. Setiap kali Kuda Sempana menahan nafasnya apabila seleret warna merah tergores pada kulit salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu. Namun air hujan segera menghapusnya. Meskipun demikian, darah masih juga mewarnai tetesan air yang mengusap tubuh mereka menjadi kemerah-merahan. Namun betapapun lebatnya hujan, itu tidak mampu memadamkan api yang berkobar di dalam dada masing-masing. Bahkan air hujan itu serasa minyak yang disiramkan ke dalam api yang sedang menyala-nyala.

Tetapi, oleh air hujan yang melimpah ruah dari langit, tanah di tepi rawa-rawa yang lembab menjadi semakin basah, sehingga dengan demikian menjadi bertambah licin. Setiap kali kedua orang yang sedang berkelahi itu harus mempertahankan keseimbangan mereka apabila mereka hampir-hampir tergelincir. Setiap kali mereka harus membagi perhatian mereka. Selain pedang lawan, maka tanah yang basah itu telah menjadi lawan yang ikut menentukan.

Meskipun ke dua belah pihak mengalami, tetapi agaknya tanah yang licin telah agak terbiasa bagi Kebo Sindet. Berbeda dengan Mahisa Agni, maka tanah yang licin menjadi lawan yang harus mendapat perhatian. Sehingga dengan demikian, maka ternyata Mahisa Agni harus bekerja lebih keras dari lawannya.

Setiap kali Mahisa Agni harus berusaha untuk mendapat kan tempat berpinjak yang mapan supaya ia tidak tergelincir jatuh. Namun usaha itupun telah memerlukan sebagian dari perhatiannya yang seharusnya ditumpahkannya seluruhnya kepada perlawanannya atas Kebo Sindet, sehingga dengan demikian maka kadang-kadang Mahisa Agni terdesak dalam kesulitan. Bahkan ujung golok lawannya menjadi semakin sering berhasil menyentuh kulitnya, meskipun hanya seujung jarum. Tetapi yang seujung jarum itu telah menitikkan setitik darah.

Di Padang Karautan orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel menjadi semakin tegang. Air benar-benar hampir melonjak melampaui bendungan. Ken Arok yang berdiri tegak seperti patung, selalu berkata di dalam hatinya, bahkan kemudian berguman

“Air harus mendapat saluran yang mapan, supaya tidak menecah bendungan itu atau melemparkan brunjung-brunjung itu satu demi satu. Tetapi bagaimana?”



Ken Arok semakin lama menjadi semakin tegang. Tiba-tiba terdengar giginya gemeretak. Terdengar di antara derak hujan ia berteriak, “Aku akan pergi ke seberang”.

“Air sudah mulai naik” teriak seorang prajurit.

“Sebelum air meluap”.

“Jangan, pekerjaan itu terlampau berbahaya”.

Tetapi Ken Arok tidak mendengarkannya, diikatkannya kain panjangnya, dan dengan hentakan yang kuat itu meloncat ke atas bendungan yang basah.

“Ken Arok” teriak prajurit yang lain yang kemudian disusul oleh teriakan kawannya. Tetapi Ken Arok berlari terus meniti jembatan.

Orang-orang yang berdiri di seberangpun menjadi tegang. Merekapun berteriak-teriak pula “Ken Arok. Jangan”. Dan suara Tunggul Ametung melengking “He, apakah kau gila?”

Tetapi ken Arok tidak kembali. Bahkan ia berteriak sambil berlari “Air harus segera mendapat saluran”.

Orang yang menyaksikan Ken Arok meloncat dari brunjung ke brunjung yang sedang dilanda banjir itu menjadi berdebar-debar. Tetapi betapa mereka mencoba memperingatkan, namun Ken Arok berlari terus. Tunggul Ametung berdiri terpaku di tempatnya sambil menahan nafasnya, sedang Kebo Ijo seakan-akan membeku dengan mulut ternganga dan mata yang tidak berkedip meskipun air hujan meleleh di seluruh wajahnya.

Ken Arok sendiri sama sekali sudah tidak sempat memikirkan keselamatannya. Meskipun demikian hatinya berdesir ketika terasa oleh kakinya, segumpal air yang meloncati bendungan. Bukan dirinya sendiri yang dicemaskannya, tetapi bendungan yang sedang diinjaknya. Maka sekali lagi ia berteriak sebelum mencapai tepi yang lain,

“Air harus mendapat saluran”.

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia langsung dapat menangkap maksud Ken Arok. Memang air harus mendapat saluran. Meskipun demikian ia masih belum beranjak dari tempatnya, dipukau oleh ketegangan hatinya melihat Ken Arok sedang meniti bendungan yang kadang-kadang seolah-olah tampak berguncang itu. Namun akhirnya Ken Arok sampai juga ke tepi seberang dengan selamat. Bendungan itu masih berada ditempatnya, dan air tidak segera meluap menyeret Ken Arok dalam ulekan yang mematikan.

“Tuanku” nafas Ken Arok memburu di lubang hidungnya, “air harus mendapat saluran yang cukup. Parit pembuangan air itu terlampau kecil, sehingga tidak dapat menampung arus air yang semakin deras mengalir”.

Akuwu Tunggul Ametung berpikir sejenak, lalu katanya, “Ya, kita harus berusaha mendapatkan saluran yang dapat melepaskan air cukup banyak”.

“Bagaimana kalau . . . : suara Ken Arok tertahan.

“Parit induk maksudmu?”

“Hamba Tuanku”.

“Ya, parit induk itu harus dibedah. Kita harus menggali tanah dimulut parit induk itu supaya air dapat naik kedalamnya. Dengan demikian bahaya atas bendungan itu akan jauh berkurang”.

“Tetapi, tetapi…”

“Kenapa tetapi?”

“Saluran parit induk itu belum siap benar Tuanku. Apalagi untuk menerima banjir. Di ujung parit induk itu terdapat petamanan yang juga masih belum siap juga. Kalau sendang buatan itu meluap maka sebagian dari petamanan itu akan rusak”.

“Bukankah ada saluran yang dapat melepaskan air dari belumbang itu”.

“Semuanya masih belum siap benar. Tebingnya masih mudah sekali runtuh”

“Aku tidak peduli. Taman itu tidak sepenting bendungan ini. Ayo, kerjakan apa yang ingin kau kerjakan”. Hati Ken Arok menjadi berdebar-debar. Dan ia mendengar Akuwu itu berteriak “Kenapa kau berdiri saja seperti patung. Cepat, lakukanlah yang baik menurut pertimbanganmu. Apakah kau menunggu bendungan itu pecah?”

“Hamba Tuanku” jawab Ken Arok. Tanpa dikehendakinya ia berpaling kepada Kebo Ijo. Tetapi Kebo Ijo itu segera melemparkan pandangan matanya ke samping. Meskipun demikian seakan-akan ia mendengar Ken Arok berkata “Akuwu Tunggul Ametung bukan seorang yang terlampau mementingkan diri sendiri”.

Sejenak kemudian maka mereka pun segera berlari-larian kemulut saluran induk yang memang belum digali. Menurut perhitungan Ken Arok, tebing aluran itu harus siap dahulu, dan sendang buatan di ujung saluran induk itu pun harus sudah siap pula untuk menerima air sebelum limpahannya disalurkan kembali kesungai dibagian bawah. Tetapi keadaan telah memaksanya menggali mulut saluran induk itu untuk menyelamatkan bendungannya.

Beberapa orang segera bekerja tanpa mengenal lelah. Di bawah hujan yang lebat, mereka menggali untuk menyalurkan air kesusukan induk. Akuwu sendiri ikut serta menunggui orang-orang yang sedang bekerja itu. Kepada beberapa orang yang berdiri kebingungan, Akuwu berkata,

“He, kenapa kau hanya nonton saja. Cepat, berbuatlah sesuatu”.

Seperti tersadar dari mimpi merekapun segera berbuat apa saja untuk membedah sebuah saluran air yang dapat mengurangi bahaya atas bendungan yang sedang dilanda banjir.

“Dari sebelah ini” teriak Ken Arok “jangan dari mulutnya supaya kalian tidak terganggu oleh air yang segera melimpah ke parit ini. Apabila sudah cukup, larilah ujungnya kita pecahkan”.

Semua tenaga telah dicurahkan. Tidak ada seorang pun yang tidak melakukan kerja. Di seberang yang lain, orang-orang yang melihat apa yang dilakukan oleh Ken Arok, segera berbuat serupa. Tetapi parit-parit di seberang tidak sebesar parit induk itu. Meskipun demikian, sedikit banyak akan dapat membantu mengurangi dorongan air atas bendungan itu.

Tetapi, betapapun mereka memeras tenaga mereka, namun kerja itu terasa terlampau lamban. Sepercik-percik air sudah mulai melampaui puncak bendungan. Sebentar lagi air pasti akan melimpah-limpah dan bahayapun akan menjadi semakin besar.

Pada saat yang bersamaan, Mahisa Agni sedang berjuang sekuat-kuat tenaganya, setinggi-tinggi ilmunya untuk melawan Kebo Sindet. Tanah yang menjadi semakin licin telah membuatnya sedikit terganggu. Untunglah, bahwa Kuda Sempana telah memberikan pedang kepadanya. Seandainya tidak, maka nyawanya pasti tidak akan tertolong lagi, dan tubuhnya akan hancur di mulut buaya-buaya kerdil yang buas dan rakus. Tetapi, kini ia menghadapi lawan yang baru, yang seakan-akan membantu Kebo Sindet dalam perkelahian itu. Tanah yang licin.

Sedang Kuda Sempana masih tegak di tempatnya. Hanya kadang-kadang saja ia menahan nafasnya, tetapi kemudian dilepaskan tarikan nafasnya yang panjang. Kini ia tidak dapat berpura-pura lagi. Ia menjadi cemas apabila keadaan Mahisa Agni dalam bahaya. Tetapi kecemasan itupun beralasan berdasarkan apa yang telah dilakukan. Bagi Kuda Sempana pertempuran itu hampir tidak dapat dimengertinya. Meskipun demikian ia dapat melihat bahwa kaki Mahisa Agni kadang-kadang terganggu oleh tanah yang semakin licin oleh hujan yang tercurah dari langit. Tetapi Kuda Sempana tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun Mahisa Agni sendiri telah memeras segenap kemampuannya. Ia masih cukup kuat bertahan dari desakan Kebo Sindet meskipun ujung golok lawannya itu kadang-kadang menyentuh kulitnya. Tetapi pedangnya sendiri pun mampu juga melukai kulit lawannya. Membuat goresan-goresan yang menitikkan darah. Sehingga tubuh mereka yang berkelahi, yang basah oleh air hujan dan keringat, menjadi semakin diwarnai oleh darah mereka sendiri.

Di Padang Karautan, orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel pun telah bekerja memeras tenaga mereka. Dengan tergesa-gesa mereka menggali mulut susukan induk untuk membantu mengurangi tekanan air yang semakin tinggi. Parit yang telah dipersiapkan untuk kepentingan itu ternyata terlampau kecil, sehingga tidak dapat diharapkan lagi. Semakin lama galian(?) orang-orang Panawijen dan para prajurit itu menjadi semakin dalam dan lebar. Setapak demi setapak parit itu merayap kepinggir sungai.

“Hati-hati,” teriak Ken Arok “air itu akan memecah tanah yang semakin tipis. Jangan sampai ada di antara kalian yang diseret oleh luapan yang pertama”.

Suara itu segera disahut oleh beberapa orarg yang meneriakkan peringatan serupa. Beberapa orang yang bekerja di ujung susukan itu menyadari, bahwa apabila mereka lengah, mereka akan diseret oleh luapan air yang pertama kali akan melimpah ke parit induk itu.

“Beri saja jalan secukupnya” Akuwu Tunggul Ametunglah yang kemudian berteriak, “kemudian air itu akan membuat jalannya sendiri menurut kekuatannya”.

“Ya, kita hanya cukup membuka jalan sedikit saja” ulang Kebo Ijo.

Ken Arok sendiri kemudian berlari kebagian paling ujung dari susukan induk itu. Setelah tanah yang mereka gali cukup dalam dan lebar, maka segera ia teriak “Pergi. Kalian harus menyingkir. Aku akan memecahkan mulut susukan ini”.

Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel itu segera menepi, Yang tinggal adalah Ken Arok sendiri dengan sebuah cangkul di tangan.

“Hati-hati” teriak Akuwu Tunggul Ametung.

Sesaat Ken Arok memandangi air yang bergulung-gulung semakin tinggi. Digenggamnya cangkulnya erat-erat seperti saat-saat ia menggenggam pedang. Kini ia tidak sedang bertempur melawan lawannya, tetapi ia sedang berjuang melawan air.

Meskipun demikian anak muda itu telah mempergunakan segenap kemampuan yang ada padanya. Terasa bahwa saat-saat yang demikian itu sama sekali tidak ubahnya seperti pada saat-saat ia bertempur. Akibat dari usahanya itu akan besar sekali artinya, tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh orang-orang Panawijen yang meletakkan harapannya pada bendungan itu, dan selebihnya bagi orang-orang padukuhan disekitarnya yang akan dilimpahi juga oleh hasil kerja ini, bahkan bagi seluruh Tumapel akan terpercik juga hasilnya. Itulah sebabnya dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk menyelamatkan bendungan ini.

Semakin tipis tanah yang tersisa di mulut susukan itu, orang-orang Panawijen, para prajurit, Kebo Ijo dan Akuwu Tunggul Ametung menjadi kian berdebar-debar. Sebuah sobekan yang kecil telah cukup untuk memberi kesempatan kepada air yang meluap itu melimpah dengan derasnya dan seterusnya pasti akan membuat jalannya sendiri, merobek mulut susukan itu menjadi semakin lebar. Saat yang demikian itulah yang menegangkan setiap wajah yang sedang berdiri disekitar susukan induk itu.

Ken Arok dengan sepenuh perhatian, sedikit demi sedikit mulai menyentuh bibir susukan itu. Dan pada ayunan yang kemudian, sepercik air telah mengalir masuk. Seterusnya, sebuah arus yang dahsyat meloncat pada bibir susukan yang sobek oleh ayunan cangkul Ken Arok, terasa kaki Ken Arok bergetar sesaat oleh desakan air yang memukul seperti ayunan pukulan seseorang yang paling sakti. Namun Ken Arok adalah seseorang yang menyimpan kekuatan yang tidak tersangka-sangka di dalam tubuhnya. Sejenak ia bertahan, supaya tidak hanyut oleh desakan arus air yang menghantamnya, semakin lama semakin tinggi.

“Cepat, cepat” Akuwu berteriak.

Tetapi Ken Arok tidak segera dapat meloncat. Ia harus mempertahankan dirinya, sebelum ia berkesempatan mengumpulkan tenaganya untuk mendorongnya dengan suatu loncatan. Pada saat yang demikian Ken Arok harus berbuat sejauh dapat dilakukan. Pemusatan kekuatan, pemusatan segenap getar di dalam dirinya untuk melawan maut yang telah menyentuhnya, sedang orang-orang yang menyaksikannya sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu.

Pada saat yang demikian, Kuda Sempana pun hanya berdiri saja dengan tegangnya tanpa dapat berbuat sesuatu. Ternyata Kebo Sindet memanfaatkan tanah yang licin itu dengan liciknya. Karena kakinya telah terbiasa, maka pengaruh tanah yang licin itu tidak terlampau banyak baginya, sehingga dalam perkelahian berikutnya, dipergunakannya cara yang paling licik. Ia berloncat-loncatan dan berputar-putar dengan gerak yang panjang. Dengan demikian ia mergharap bahwa Mahisa Agni tidak akan dapat mengimbanginya. Ternyata usaha itu agaknya memberikan harapan baru baginya.

Sekali-kali Mahisa Agni terpaksa bertahan untuk tidak tergelincir jatuh. Dan dalam saat-saat yang demikian itulah maka serangan Kebo Sindet datang menghantamnya seperti banjir yang dengan dahsyatnya menghantam bendungan. Namun dalam saat-saat yang demikian, Mahisa Agni sama sekali tidak berusaha lain kecuali menangkis serangan lawannya. Ia harus mempergunakan segenap kekuatannya dan dipusatkannya pada ujung tangannya yang menggenggam pedang.

Meskipun demikian, namun gerak Mahisa Agni menjadi semakin terbatas. Untunglah bahwa Mahisa Agni tidak kehilangan akal, sehingga ia mampu mengatasi setiap usaha dan cara lawannya untuk membinasakannya. Sehingga betapa Kebo Sindet mencari akal namun ia tidak dapat segera melakukan maksudnya, mendorong Mahisa Agni jatuh ke dalam mulut binatang-binatang air.

Betapa perkelahian itu menjadi semakin seru. Kebo Sindet yang menggeram, menerkam dengan ujung goloknya seperti harimau lapar, barus menghadapi lawannya yang tangguh seperti banteng ketaton.

Koleksi : Ki Ismoyo
Scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar