PdLS-38
KEBO SINDET tidak telaten menghadapi lawannya yang tidak segera dapat ditundukkannya. Di dalam hujan yang sangat lebat, orang itu menggeretakkan giginya. Beberapa langkah ia meloncat surut, kemudian seperti sebatang tonggak ia berdiri tegak, memusatkan segenap kekuatannya. Dibangkitkannya semua kekuatan dan getaran yang ada di dalam dirinya, disalurkannya lewat urat nadinya, dipusatkannya pada tangan kanannya yang menggenggam goloknya. Bukan sekedar kekuatan yang sudah mencapai puncaknya, tetapi segenap kekuatan cadangan yang tersimpan rapat-rapat di dalam dirinya. Kali ini Kebo Sindet bertekad untuk melepaskan aji pamungkasnya, aji yang dahsyat sedahsyat petir di udara.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar melihat sikap lawannya. Tetapi ia tidak dapat sekedar melihat apa yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet. Yang akan terjadi itu pasti akan langsung menyangkut dirinya. Apabila ia tidak segera berbuat sesuatu untuk mengimbanginya, maka ia akan menjadi lumat sama sekali. Itulah sebabnya, maka Mahisa Agni pun segera berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Meskipun dengan hati yang berdebar-debar, maka segera dibangunkannya kekuatan puncaknya dalam hubungan lahir dan batinnya. Dijulurkannya tangan kirinya lurus ke depan, dan di silangkannya pedangnya di muka dadanya.
Tangan anak muda itu tampak bergetar. Aji Gundala Sasra yang mendapat penyempurnaan dengan unsur-unsur kekuatan dan gerak yang serasi dari inti kedahsyatan Aji Kala Bama yang luluh, seolah-olah mengalir pada telapak tangannya. Mahisa Agni belum pernah membuat pertandingan-pertandingan dari kekuatannya dengan kekuatan-kekuatan lain dalam benturan langsung. Namun ia dapat menduga, bahwa kekuatan yang ada di dalam dirinya, setidak-tidaknya akan mampu mengimbangi kekuatan lawannya.
Sejenak kedua orang itu seolah-olah membeku. Namun sejenak kemudian berbareng dengan meledaknya guntur di langit, terdengar Kebo Sindet berteriak nyaring. Goloknya terangkat tinggi-tinggi, dan bersamaan dengan loncatannya, goloknya terayun deras sekali menghantam lawannya yang sudah siap menunggunya.
Di Padang Karautan, yang terdengar adalah suara Akuwu Tunggul Ametung berteriak keras sekali, sekeras ledakan petir yang bersabung, “Ken Arok, cepat meloncat ketepi.”
Tetapi Ken Arok sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Tanah di bawah kakinya seakan-akan surut dengan cepatnya, sedangkan air naik secepat itu pula. Dada anak muda itu menjadi berdebar-debar. Dikerahkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya. Kekuatan yang telah ada di dalam tubuhnya tanpa diketahuinya sendiri.
Sejenak Akuwu Tunggul Ametung menjadi bingung. Kebo Ijo dan prajurit-prajurit yang lain seakan-akan telah kehilangan akal mereka. Bahkan mereka telah menjadi berputus asa. Ken Arok tidak akan dapat tertolong lagi. Ki Buyut Panawijen menjadi pucat seperti mayat, sedang orang-orang Panawijen benar-benar telah kehilangan nalar dan harapan. Akuwu Tunggul Ametung pun masih berdiri membeku. Ia adalah orang yang hampir-hampir tidak pernah berpikir, apalagi menanggapi persoalan yang tiba-tiba. Tetapi, kali ini Akuwu Tunggul Ametung sama lekali tidak berputus asa dan tidak membiarkan Ken Arok hanyut tanpa berbuat sesuatu.
Meskipun demikian, meskipun ia sedang dirisaukan oleh persoalan yang sedang dihadapinya, namun sesaat jantungnya bergetar. Ia melihat sesuatu yang aneh baginya. Ternyata daya tangkap dan tanggapan Akuwu Tunggul Ametung atas persoalan-persoalan yang bukan sekedar masalah lahiriah, jauh lebih baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya, bahkan tidak jauh berbeda dari Empu Purwa, Empu Gandring dan beberapa orang lain. Lamat-lamat di dalam hujan yang sangat lebat ia melihat warna yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok yang sedang mengerahkan segenap kekuatan yang seakan-akan telah tersedia di dalam dirinya, untuk bertahan supaya ia tidak hanyut.
Bahwa ia masih tetap dapat berdiri, adalah suatu hal yang hampir tidak mungkin dan tidak masuk akal. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Ken Arok masih dapat bertahan, berdiri tegak menahan arus air yang luar biasa dan sudah hampir mencapai setinggi dada. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk meloncat karena justru tanah di bawah kakinya menjadi surut hanyut di dalam arusnya banjir yang mendapat saluran untuk mengalir. Kalau ia berusaha untuk meloncat juga, maka ia akan terperosok semakin dalam dan segera akan tenggelam.
Akuwu Tunggul Ametung yang sesaat dipukau oleh tanggapan mata hatinya itu, segera menyadari keadaan. Tiba-tiba sekali lagi ia berteriak. Sekali lagi orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak masuk diakal mereka. Akuwu itu tiba-tiba melenting seperti bilalang. Sekali sambar tangannya telah menggenggam ujung sebatang bambu yang tertumpuk di pinggir bendungan. Kemudian sekali lagi ia melenting sambil menjinjing bambu itu. Terdengarlah kemudian suaranya mengguntur,
“Tangkaplah pangkalnya. Peganglah erat-erat. Aku akan menarikmu.”
Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel hampir tidak dapat mengerti apa yang telah terjadi. Adalah di luar nalar mereka bahwa seseorang mampu melakukannya, menjinjing sebatang bambu utuh yang panjang sambil meloncat sedemikian jauhnya, kemudian mengulurkan bambu itu dari pinggir susukan induk kepada Ken Arok yang sedang berjuang menguasai diri, melawan air yang kini telah mencapai setinggi dadanya.
Sejenak Ken Arok terpukau melihat gerak Akuwu Tunggul Ametung. Demikian ia mengaguminya, sehingga ia hampir lupa kepada dirinya sendiri. Tetapi segera ia sadar setelah pangkal sebatang bambu yang dijulurkan Akuwu Tunggul Ametung itu hampir menyentuh hidungnya.
Ternyata Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat tepat pada waktu. Apabila ia terlambat sekejap, maka keadaannya akan menjadi lain, karena sekejap kemudian tanah di bawah kaki Ken Arok itu seolah-olah telah hanyut diseret oleh banjir bandang. Apabila Ken Arok ikut serta terseret oleh arus itu maka usahanya untuk melepaskan diri akan menjadi semakin sulit dan usaha untuk menolongnya pun menjadi semakin sulit pula.
Tetapi pada saatnya tangan Ken Arok menyambar pangkal bambu yang dijulurkan kepadanya meskipun sesaat ia masih dirayapi oleh keragu-raguan, bahwa justru Akuwu Tunggul Ametung lah yang akan ikut terseret bersamanya. Tetapi sekali lagi orang-orang Panawijen dan para prajurit itu berdiri dengan mulut ternganga, meskipun air hujan masuk ke dalamnya. Dada mereka terasa berhenti berdetak ketika mereka melihat bagaimana Ken Arok berusaha menahan diri berpegangan pada pangkal bambu yang ujungnya dipegang oleh Akuwu Tunggul Ametung.
Dua kekuatan di pangkal dan di ujung itu hampir tidak dapat dinilai oleh orang-orang yang berdiri memaku di sekitarnya. Bahkan orang-orang yang berada di seberang pun terpukau sama sekali melihat apa yang terjadi, meskipun hanya samar-samar karena hujan yang terlampau deras. Perlahan-lahan Akuwu menarik bambu itu. Dikerahkannya segenap kekuatan yang ada padanya. Bambu, Ken Arok dan banjir adalah lawan yang cukup berat baginya. Tetapi ternyata Akuwu adalah seorang yang memiliki tenaga yang luar biasa.
Orang-orang yang terpesona melihat hal itu terjadi, justru berdiri saja mematung, tanpa dapat berbuat sesuatu. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, apalagi berlari dan ikut serta menahan bambu yang sedang mengangkat tubuh Ken Arok dari dalam arus air.
Sedang Ken Arok sendiri, berpegang pada pangkal bambu itu. Terasa seolah-olah air menghisapnya dan menariknya ke dalam lingkaran maut. Tetapi ia bertahan terus. Bertahan dengan kekuatan yang jauh melampaui kekuatan orang-orang kebanyakan. Betapa lambatnya, namun Ken Arok terseret semakin menepi. Agaknya dua kekuatan di ujung dan pangkal sebatang bambu itu akan dapat menyelamatkannya. Meskipun kadang-kadang segumpal air menghantam wajahnya, namun sekejap kemudian Ken Arok berhasil mengangkatnya ke atas permukaan air. Mereka yang menyaksikan, Ken Arok tertarik sedikit demi sedikit menepi itu, menahan nafas mereka. Wajah-wajah mereka menjadi semakin tegang dan darah mereka serasa berhenti mengalir.
Seperti Kuda Sempana yang saat itu menahan nafasnya pula, jantungnya pun seakan-akan berhenti berdetak. Ia tahu benar, bahwa kedua orang yang mempersiapkan kekuatan pamungkas mereka. Loncatan Kebo Sindet yang hampir-hampir tidak dapat diikuti oleh mata itu, adalah permulaan dari benturan yang sekejap lagi pasti akan terjadi. Dada Kuda Sempana lah yang akan meledak, sesaat kemudian ketika ia melihat golok Kebo Sindet terayun deras sekali seperti petir yang menyambar dari langit disertai suaranya yang melengking semakin tinggi.
Tetapi Mahisa Agni telah bersiap sepenuhnya untuk menerima serangan itu. Ia kali ini sengaja tidak ingin menghindar. Ia ingin mengalami benturan itu, supaya perkelahian itu segera sampai pada akhirnya.
“Disini kita akan mendapat kepastian.” gumannya di dalam hati.
Sesaat kemudian anak muda itu menggeretakkan giginya, Di sentakkannya kakinya menyongsong serangan Kebo Sindet itu. Dengan pedangnya Mahisa Agni dengan sengaja membenturkan kekuatannya melawan kekuatan aji lawannya. Benturan yang terjadi adalah benturan yang dahsyat sekali. Sepercik bunga api meloncat ke udara, meskipun hujan yang lebat sekali masih tercurah dari langit. Seolah-olah sepasang petir sedang bersabung di udara. Bersabung dengan penuh dendam dan benci.
Akibat dari benturan itu pun dahsyat sekali. Keduanya terlempar beberapa langkah surut. Terasa kekuatan benturan itu telah menjalar di tubuh mereka, seakan-akan menghentak jantung di dalam dada masing-masing, sehingga sekejap kemudian mata mereka menjadi berkunang-kunang.
Kebo Sindet merasakan sesuatu yang menyesak pernafasannya, sehingga ia menjadi tersengal-sengal. Namun ia masih cukup menyadari apa yang telah terjadi, sehingga ia masih mampu untuk berusaha jatuh di atas kedua kakinya. Sedang Mahisa Agni masih juga menyadari keadaannya sepenuhnya. Meskipun dadanya terasa sesak, tetapi akibat benturan-benturan itu masih tidak separah Kebo Sindet. Agaknya ilmunya yang luluh dengan kekuatan Aji Empu Sada, telah berhasil mengatasi kekuatan lawannya, meskipun perbedaan itu masih belum terlampau banyak. Ternyata dalam kekurangannya, Kebo Sindet masih memiliki kelebihan pengalaman yang cukup untuk mempertahankan dirinya.
Tetapi sekali lagi Mahisa Agni dihadapkan kepada lawan yang lain. Ketika ia berusaha berdiri tegak di atas kedua kakinya, maka tiba-tiba keseimbangannya terganggu oleh tanah yang licin. Dalam keadaan yang sulit itu, akhirnya Mahisa Agni tidak berhasil mempertahankan keseimbangannya, sehingga sejenak kemudian ia terpelanting jatuh.
Kebo Sindet yang terluka di dadanya, yang berhasil tegak pada kedua kakinya, meskipun agak tertatih-tatih, melihat Mahisa Agni terpelanting jatuh. Baginya itu adalah suatu kesempatan. Tetapi pada saat yang demikian barulah ia menyadari, bahwa golok di tangannya yang langsung berbenturan dengan pedang Mahisa Agni telah terpelanting jatuh. Terasa kemudian bahwa tangannya menjadi pedih.
Kebo Sindet itu mengumpat dengan kata-kata yang paling kotor. Ia sadar, bahwa kekuatan Mahisa Agni ternyata telah melampaui kekuatannya. Namun ia menjadi berpengharapan ketika ia melihat bahwa Mahisa Agni pun telah tidak bersenjata lagi. Meskipun pangkal pedangnya tidak terlepas dari tangannya, betapapun dahsyatnya benturan yang terjadi, tetapi pedang itulah yang ternyata kurang baik bagi benturan kekuatan yang dahsyat. Ternyata pedang itu terputus hampir di pangkalnya.
Dan kini Kebo Sindet melihat Mahisa Agni terpelanting jatuh tergelincir karena tanah yang licin. Pada saat Mahisa Agni masih belum menemukan kesempatan untuk bangun, maka ia harus mempergunakan setiap kemungkinan. Ia harus cepat menyerang dan membinasakan lawannya. Kebo Sindet mencoba mengumpulkan kekuatannya yang terakhir. Terdengar ia menggeram keras. Luka di dalam dadanya tidak dihiraukannya. Sekali lagi ia mateg aji pamungkasnya. Seperti seekor harimau lapar Kobo Sindet meloncat menerkam Mahisa Agni yang masih belum sempat bangkit.
Tetapi Mahisa Agni memang tidak segera bangkit. Ia menyadari bahwa Kebo Sindet pasti akan mempergunakan kesempatan itu. Kesempatan pada saat ia kehilangan keseimbangan. Karena itu maka ia masih saja berbaring di tempatnya. Justru sambil berbaring dipusatkannya segala kekuatan dan getaran di dalam dirinya. Kekuatan lahir dan batin. Mahisa Agni hanya sempat menggeser diri dalam sikap yang dikehendaki. Ia menempatkan dirinya membujur tertentang arah terkaman Kebo Sindet. Dilepaskannya sama sekali hulu pedang yang patah. Ia tidak dapat mempergunakannya lagi. Lawannya pun tidak mempergunakan senjata, selain kekuatan aji tertingginya.
Mahisa Agni yang telah mendalami dan mengenali watak kekuatannya sendiri, kali ini tidak menjalurkannya dan memusatkannya di tangannya, tetapi kekuatannya disalurkannya pada kedua kakinya. Dengan berdebar-debar ia menunggu terkaman iblis dari Kemundungan itu.
Kebo Sindet dengan sepenuh tenaganya, menjulurkan tangannya. Ia telah siap mencekik leher Mahisa Agni, menindihnya dan membuatnya tidak bernafas. Meskipun kekuatannya tidak sebesar kekuatan Mahisa Agni, tetapi perbedaan itu tidak terlampau besar, sehingga apabila tangannya telah menerkam leher lawannya, ia yakin, pada saat sentuhan itu terjadi, Mahisa Agni pasti sudah kehilangan sebagian besar dari kekuatannya. Leher lawannya tidak akan sekuat tangannya untuk menolak kekuatan aji pamungkasnya.
Tetapi Kebo Sindet lupa bahwa Mahisa Agni pun memperhitungkan waktu sekejap demi sekejap. Anak muda itupun menyadari, bahwa apabila ia menyia-nyiakan waktu yang sekejap, maka akibatnya akan tidak diduga-duganya. Itulah sebabnya, ia telah siap menyambut Kebo Sindet yang seakan-akan melayang menerkamnya sambil berteriak nyaring. Matanya yang membara menjadi semakin liar, dan wajahnya yang beku itu memancarkan nafsu iblisnya.
Tetapi Mahisa Agni telah siap menyambutnya. Pada saat yang telah diperhitungkan Mahisa Agni menekuk lututnya, dan menyambut terkaman Kebo Sindet itu dengan kekuatan puncaknya, dengan ajinya yang telah disempurnakan. Sekali lagi terjadi sebuah benturan yang dahsyat. Benturan antara dua kekuatan yang pilih tanding. Dua kekuatan raksasa yang dilontarkan dengan nafas kebencian, dendam dan nafsu yang meluap-luap.
Sekali lagi keduanya harus mengalami akibat yang dahsyat pada tubuh masing-masing. Ternyata Mahisa Agni yang membentur serangan Kebo Sindet itu dengan kakinya, terdorong beberapa langkah, meluncur di atas tanah yang licin menuju ke bibir rawa-rawa. Dengan sekuat tenaga anak muda itu mencoba menahan dirinya dengan mencengkamkan jari-jari tangannya pada tanah berlumpur. Meskipun tidak terlampau banyak, namun usaha itu telah menahannya Mahisa Agni berhenti beberapa langkah yang pendek saja dari bibir rawa-rawa.
Bahkan kepalanya telah terperosok kedalam gemburnya lumpur rawa-rawa yang berwarna gelap. Tetapi Mahisa Agni tidak terjerumus masuk dalamnya. Sedang sendi-sendi tulang kakinya terasa berpatahan. Perasaan sakit yang luar biasa telah menjalari seluruh tubuhnya. Namun Mahisa masih tetap sadar, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia masih sempat melihat akibat dari peristiwa itu dan peristiwa-peristiwa berikutnya.
Mahisa Agni masih mendengar Kebo Sindet berteriak mengerikan. Benturan itu agaknya telah membuat lukanya semakin parah. Tetapi lebih dari pada itu, dorongan kaki Mahisa Agni telah melemparkan Kebo Sindet yang seakan-akan sedang terbang di atasnya. Tubuh iblis itu melambung tinggi dan melayang ke arah yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Kebo Sindet. Dalam usahanya terakhir Kebo Sindet menggeliat di udara, namun ia tidak berhasil menghentikan lontaran kekuatan Mahisa Agni, sehingga tubuhnya melayang langsung kedalam air yang keruh berlumpur. Sejenak kemudian tubuh itu pun terbanting jatuh ke dalam rawa-rawa.
Suara teriakan Kebo Sindet masih terdengar sesaat. Mahisa Agni sejenak melupakan segala macam penderitaan tubuhnya. Ia berusaha untuk bangkit, dan melihat apa yang telah terjadi. Sebuah desir yang tajam menggores jantungnya. Ia melihat Kebo Sindet menggelepar di dalam air. Dan ia melihat Kebo Sindet masih berusaha untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Kebo Sindet itu telah mengenal betul watak dan tabiat rawa-rawa itu, sehingga ketika tubuhnya telah berada di dalam air, justru ia menghentikan segala macam gerak yang sama sekali tidak berarti, yang akan mendorongnya semakin cepat terbenam ke dalam lumpur.
Mahisa Agni kini sudah berdiri pada lututnya. Tubuhnya terasa lemah sekali, seakan-akan semua tulang-tulangnya dilolosi. Karena itu maka ia tidak berusaha untuk berdiri tegak di atas kedua kakinya, Ia tidak mau jatuh tergelincir karena tanah yang licin, apalagi tergelincir masuk rawa-rawa menyusul Kebo Sindet. Dengan demikian maka dengan nafas terengah-engah dan sekali-sekali menyeringai menahan sakit, ia melihat Kebo Sindet berada di dalam air.
“Setan iblis.”
Kebo Sindet mengumpat di dalam air. Namun ia masih berdiri diam. Dengan mata yang menyalakan dendam tiada taranya dipandanginya Mahisa Agni. Tetapi sejenak kemudian ia sadar akan dirinya. Ia harus segera keluar dari rawa-rawa itu. Dicobanya untuk menggerakkan kakinya sedikit, bergeser ke tepi. Tetapi ternyata tanah berlumpur di bawah kakinya terlampau gembur, sahingga sedikit demi sedikit, Kebo Sindet itu seolah-olah dihisap kedalam bumi.
Sejenak terbersit kecemasan membayang di wajah yang beku itu. Bayangan yang hampir sepanjang hidupnya tidak pernah mewarnai wajahnya. Namun kini tampaklah, betapa Kebo Sindet telah dicengkam oleh kecemasan yang sangat. Setiap kali ia bergerak, betapapun kecilnya, maka kakinya menjadi semakin dalam terperosok ke dalam lumpur di dasar rawa-rawa itu. Meskipun demikian Kebo Sindet masih berusaha untuk melangkah ketepi. Perlahan-lahan ia beringsut. Namun perlahan-lahan ia terbenam semakin dalam.
“Gila, kau gila Mahisa Agni.” teriaknya. Kecemasan semakin mencengkam jantungnya, “kalau aku berhasil ke luar dari rawa-rawa ini, maka aku cincang kau habis-habisan.”
Mahisa Agni masih terdiam ditempatnya. Ia masih berdiri pada lututnya. Namun kengerian membayang di hatinya. Ia tahu benar, apakah yang tersimpan di dalam air yang keruh itu. Ia dapat membayangkan apakah yang akan terjadi atas Kebo Sindet itu apabila ia tidak segera dapat keluar dari dalam air berlumpur itu. Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dan sekali lagi ia mendengar suara Kebo Sindet,
“He Mahisa Agni. Kalau aku nanti keluar dari rawa-rawa ini, kaulah yang akan aku lemparkan masuk. Kaulah yang akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil di sini.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Sekali-sekali perasaan sakit seolah-olah menyengat di seluruh tubuhnya. Namun ia yakin bahwa Kebo Sindet pun terluka setidak-tidaknya separah dirinya sendiri. Tetapi karena keadaannya, maka seolah-olah luka itu tidak terasa, Kebo Sindet sedang dicemaskan oleh rawa-rawa yang kini seakan-akan sudah membelenggunya. Tetapi iblis itu tidak berputus asa. Ia masih juga berusaha. Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, maka mulutnya pasti mengumpat tidak habis-habisnya. Wajahnya kini sama sekali tidak lagi membeku seperti wajah mayat. Namun jelas ketegangan dan kecemasan yang mengerikan, membayang di wajah itu.
Ketika kakinya terperosok semakin dalam, Kebo Sindet itu mengumpat-umpat semakin keras. Tetapi ia masih belum menyerah. Ia masih berusaha terus. Perlahan-lahan sekali. Tetapi ternyata kaki-kakinya semakin dalam terhisap masuk ke dalam tanah berlumpur di dasar rawa-rawa. Kesabaran Kebo Sindet pun semakin lama menjadi semakin mencair. Usaha untuk melepaskan diri semakin lama menjadi semakin kabur, sehingga iblis itu memaki-maki semakin keras dan kotor.
Mahisa Agni yang berdiri pada lututnya melihat, betapa wajah Kebo Sindet yang sehari-hari dilihatnya selalu membeku itu menjadi tegang. Kemudian diulas oleh kecemasan hatinya dan akhirnya wajah itu seolah-olah telah membayangkan keputus asaan. Betapa dendam membara di dalam dada Mahisa Agni, ketika dilihatnya akhir yang mengerikan dari hidup Kebo Sindet itu terasa sentuhan halus menyinggung hatinya. Ia memang ingin membinasakan iblis dari Kemundungan itu, tetapi tidak dengan cara itu. Tidak dengan cara yang demikian mengerikan.
Tiba-tiba Mahisa Agni pun melupakan betapa tubuhnya menjadi hampir lumpuh. Perlahan-lahan dan hati-hati ia bangkit. Setapak-setapak ia melangkahkan kakinya meninggalkan pinggiran rawa-rawa itu. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar Kebo Sindet berteriak,
“He, jangan lari pengecut. Sebentar lagi aku akan keluar dari air ini. Tubuhku terasa bertambah segar. Dan kau akan mengalami kematian yang paling mengerikan.”
Mahisa Agni melihat wajah Kebo Sindet semakin menjadi tegang dan berputus-asa. Namun wajah itu masih juga memancarkan dendam dan kebencian tiada taranya. Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir tajam Ia melihat sesuatu dikejauhan bergerak-gerak di permukaan air. Satu, dua disusul oleh yang lain semakin lama semakin banyak. Buaya-buaya kerdil.
Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menjadi pucat. Buaya-buaya itu pasti telah mencium bau darah yang meleleh dari tubuh Mahisa Agni. Dan buaya-buaya itu sebentar lagi pasti akan menyeret tubuh Kebo Sindet semakin ketengah dan mengoyak-ngoyaknya.
Mahisa Agni menjadi ngeri sekali membayangkan apa yang akan terjadi Karena itu maka tiba-tiba ia melangkah semakin cepat, secepat dapat dilakukan. Sejenak ia mencari-cari ditempat ia berkelahi melawan Kebo Sindet sebelum Kebo Sindet terlempar ke dalam air. Ia sama sekali tidak memperdulikan Kebo Sindet berteriak-teriak memanggilnya dan memaki-makinya,
“Pengecut licik. Jangan lari. Tunggu, sebentar lagi aku akan mengoyak tubuhmu dan melemparkannya kemulut-mulut buaya kerdil.”
Dan buaya-buaya kerdil itu benar-benar telah mendekat. Mahisa Agni yang menjadi semakin berdebar-debar karenanya, dengan serta-merta berteriak, “Buaya-buaya itu telah datang. Cepat, kalau kau dapat melakukannya, naiklah.”
Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Sesuatu hal yang jarang sekali dilakukannya. Wajahnya kini seakan-akan telah mencair, telah tidak membeku lagi. Ketika ia berpaling, dikejauhan dilihatnya permukaan air yang bergerak-gerak. Dada iblis dari Kemundungan itu berdesir tajam. Kini ia berhadapan dengan kenyataan, bahwa buaya-buaya kerdil itu segera akan menyerangnja, tubuhnyalah yang sebentar lagi akan dikoyak-koyakkannya. Sama sekali bukan Mahisa Agni.
Jantung Kebo Sindet serasa melonjak-lonjak di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak mau menerima kenyataan itu. Ia ingin mengikat Mahisa Agni dan menggantungkannya dekat di permukaan air. Ia ingin melihat buaya-buaya kerdil itu melonjak-lonjak meraih tubuh yang tergantung itu, sehingga pada suatu saat tubuh itu terkoyak oleh gigi-gigi buaya kerdil yang tajam. Tetapi buaya-buaya itu kini berenang perlahan-lahan ke arahnya dan ia tidak dapat berbuat apa-apa.
“Setan, iblis.” ia mengumpat-umpat, “Mahisa Agni, seharusnya kau lah yang berada di sini. Ayo, kemarilah. Kau harus menggantikan tempat ini. Kaulah yang akan menjadi makanan buaya kerdil itu. Cepat, datang kemari supaya aku mengampunkan kesalahanmu.”
Mahisa Agni berdiri tegak ditempatnya. Ia melihat buaya-buaya kerdil itu menjadi semakin dekat. Debar di dalam dadanya pun menjadi semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
“Kau kemari, he anak setan.” teriak Kebo Sindet, “kau kemari. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu. Kau akan kuampuni.” Kebo Sindet itu berhenti sejenak, “tetapi kalau tidak, maka kau akan aku cincang sebelum kau mati. Aku dapat membunuhmu dengan segala macam cara yang aku kehendaki.”
Mahisa Agni kini melihat Kebo Sindet itu kehilangan ketenangannya, Ia berusaha untuk meloncat, tetapi kakinya seolah-olah telah digenggam erat-erat oleh lumpur di dasar rawa itu. Meskipun demikian Kebo Sindet masih berusaha. Ia mencoba untuk tidak menginjakkan kakinya lagi. Ia berusaha untuk berenang. Berenang ketepi. Namun kakinya telah benar-benar terbenam semakin dalam. Sedang buaya-buaya itu menjadi semakin dekat.
Bukan saja Kebo Sindet yang menjadi cemas, tetapi Mahisa Agni pun menjadi semakin cemas juga. Tanpa disengajanya anak muda itu berpaling kepada Kuda Sempana. Ternyata wajah Kuda Sempana pun menjadi kian pucat. Ia tidak menghiraukan lagi titik-titik air hujan yang menyiram wajah itu. Tiba-tiba Mahisa Agni melihat sesuatu tergolek di tanah. Golok Kebo Sindet. Golok yang terlepas dari tangan iblis itu pada saat benturan kekuatan diantara mereka terjadi.
Dengan serta merta, seolah-olah di luar sadarnya Mahisa Agni melangkah mendekati. Diambilnya golok itu, dan sejenak ia berdiri dalam kebimbingan. Namun kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kepada Kebo Sindet yang kini sudah kehilangan ketenangannya menggelepar di dalam air yang seakan-akan semakin menghisapnya. Dengan lantang Mahisa Agni itu berkata,
“Kebo Sindet, ini senjatamu. Mungkin kau memerlukannya untuk melawan binatang-binatang air yang buas itu.”
Mahisa Agni tidak menunggu jawaban Kebo Sindet. Beberapa langkah ia maju. Kemudian dilontarkannya hulu golok itu kearah Kebo Sindet yang sedang dilanda oleh gejolak perasaan yang dahsyat. Ia sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi atasnya, sehingga kenyataan itu terasa terlampau pahit untuk diterimanya. Mahisa Agni masih berdiri dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi menyimpan dendam di dalam hatinya, tetapi ia tidak dapat melihat kenyataan itu terjadi atas Kebo Sindet. Kenyataan yang bertentangan keinginan iblis itu sendiri.
Kebo Sindet ternyata cukup cekatan untuk menerima goloknya. Tepat pada saat itu, buaya-buaya kerdil itu telah menjadi semakin dekat. Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir ketika ia melihat seekor yang berada di paling depan mengangakan mulutnya yang lebar dengan gerigi yang tajam berderet panjang. Mahisa Agni masih sempat melihat Kebo Sindet mengayunkan goloknya dan buaya yang terdepan itu melengking tinggi. Tubuhnya menggeliat dan darah memancar kemerah-merahan. Buaya yang malang itu pun kemudian terbenam di dalam air. Tetapi buaya-buaya itu tidak hanya seekor. Dibelakangnya segera menyusul seekor, seekor dan seekor lagi. Berturut-turut.
Mahisa Agni tidak ingin melihat apa yang terjadi seterusnya. Segera ia memalingkan wajahnya. Tetapi ia terperanjat ketika ia melihat Kuda Sempana berlari-lari menggenggam pangkal pedangnya yang sudah terputus.
“Apa yang akan dilakukannya?” desis Mahisa Agni di dalam hatinya.
Sesaat kemudian Mahisa Agni baru mengetahui apa yang akan diperbuatnya. Kuda Sempana itu ternyata telah memotong dua tiga helai sulur beringin. Seperti pada saat ia pergi kebatang itu, maka ia pun kemudian berlari-lari pula kembali. Mahisa Agni tahu maksud Kuda Sempana. Secercah kebanggan membersit di hatinya. Ternyata di dalam diri Kuda Sempana itu masih tersisa rasa kemanusiaannya.
“Marilah, kita usahakan agar orang itu dapat terlepas dari mulut buaya-buaya kerdil itu.” katanya dengan nafas terengah-engah.
Dalam keadaan demikian kedua anak-anak muda itu dapat melupakan apa yang telah terjadi atas diri mereka. Mereka ternyata bersungguh-sungguh ingin melepaskan Kebo Sindet dari mulut binatang-binatang air yang rakus itu. Biarlah ia mati, tetapi dengan cara yang lebih baik. Maka dengan tergesa-gesa Kuda Sempana dan Mahisa Agni telah menyambung sulur-sulur itu, dan kemudian terdengar suara Mahisa Agni mengatasi desir air hujan yang masih saja turun,
“Kebo Sindet, tangkaplah ujung sulur itu. Kami akan berusaha menarikmu keluar.”
Perlahan-lahan dengan hati-hati sekali keduanya mendekati bibir rawa-rawa. Kemudian dilontarkannya ujung sulur itu kepada Kebo Sindet yang sedang berjuang melawan binatang-binatang air yang buas itu. Dengan serta-merta maka tangan kiri Kebo Sindet menyambar ujung sulur yang dilontarkan kepadanya. Namun ia masih juga berteriak,
“Mahisa Agni. Kau terlampau sombong. Tetapi kau akan menyesal apabila aku telah keluar dari lumpur ini.”
Mahisa Agni dan Kuda Sempana sama sekali tidak memperdulikannya. Buaya-buaya semakin banyak berkerumun di sekitar Kebo Sindet. Namun sebagian dari buaya-buaya itu tiba-tiba melengking dan tenggelam ke dalam air. Sambil menarik Kebo Sindet, Mahisa Agni masih juga sempat merasa heran. Dalam keadaan serupa itu Kebo Sindet masih mampu bertahan terhadap sekian banyak buaya-buaya kerdil meskipun ia mempergunakan goloknya. Tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau lama. Ia harus segera menarik orang itu keluar air.
Perlahan-lahan Kebo Sindet merasa dirinya terangkat menepi. Semakin lama semakin menepi. Tetapi buaya-buaya kerdil itu mengejarnya terus sehingga ia masih juga harus berjuang dengan goloknya melawan buaya-buaya yang menyergapnya. Kebo Sindet menggeliat ketika tubuhnya kemudian terangkat ke atas tanah berlumpur. Ia masih melihat beberapa ekor buaya mengejarnya naik ke darat. Sambil berpegangan pada sulur beringin yang ditarik oleh Mahisa Agni dan Kuda Sempana dengan tangan kirinya ia masih harus mengayun-ayunkan goloknya dengan tangan kanannya, menebas mulut-mulut buaya yang menganga. Dan ia masih juga sempat melihat beberapa ekor buaya yang mengejarnya itu melengking, kemudian menggelepar mati. Berturut-turut, tidak hanya satu dua. Tetapi hampir semua buaya yang mengejarnya ke darat, tidak pernah dapat menyentuhnya.
Tetapi ketika Kebo Sindet itu telah berada di atas permukaan air, barulah dapat dilihat oleh Kuda Sempana dan Mahisa Agni, bahwa sebagian tubuhnya telah terkoyak oleh mulut-mulut buaya kerdil itu. Luka-luka di tubuhnya menjadi arang kranjang dan darah meleleh hampir dari seluruh wajah kulitnya. Sejenak kemudian Kebo Sindet telah berada beberapa langkah dari rawa-rawa itu. Buaya-buaya kerdil telah tidak mengejarnya lagi.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar melihat sikap lawannya. Tetapi ia tidak dapat sekedar melihat apa yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet. Yang akan terjadi itu pasti akan langsung menyangkut dirinya. Apabila ia tidak segera berbuat sesuatu untuk mengimbanginya, maka ia akan menjadi lumat sama sekali. Itulah sebabnya, maka Mahisa Agni pun segera berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Meskipun dengan hati yang berdebar-debar, maka segera dibangunkannya kekuatan puncaknya dalam hubungan lahir dan batinnya. Dijulurkannya tangan kirinya lurus ke depan, dan di silangkannya pedangnya di muka dadanya.
Tangan anak muda itu tampak bergetar. Aji Gundala Sasra yang mendapat penyempurnaan dengan unsur-unsur kekuatan dan gerak yang serasi dari inti kedahsyatan Aji Kala Bama yang luluh, seolah-olah mengalir pada telapak tangannya. Mahisa Agni belum pernah membuat pertandingan-pertandingan dari kekuatannya dengan kekuatan-kekuatan lain dalam benturan langsung. Namun ia dapat menduga, bahwa kekuatan yang ada di dalam dirinya, setidak-tidaknya akan mampu mengimbangi kekuatan lawannya.
Sejenak kedua orang itu seolah-olah membeku. Namun sejenak kemudian berbareng dengan meledaknya guntur di langit, terdengar Kebo Sindet berteriak nyaring. Goloknya terangkat tinggi-tinggi, dan bersamaan dengan loncatannya, goloknya terayun deras sekali menghantam lawannya yang sudah siap menunggunya.
Di Padang Karautan, yang terdengar adalah suara Akuwu Tunggul Ametung berteriak keras sekali, sekeras ledakan petir yang bersabung, “Ken Arok, cepat meloncat ketepi.”
Tetapi Ken Arok sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Tanah di bawah kakinya seakan-akan surut dengan cepatnya, sedangkan air naik secepat itu pula. Dada anak muda itu menjadi berdebar-debar. Dikerahkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya. Kekuatan yang telah ada di dalam tubuhnya tanpa diketahuinya sendiri.
Sejenak Akuwu Tunggul Ametung menjadi bingung. Kebo Ijo dan prajurit-prajurit yang lain seakan-akan telah kehilangan akal mereka. Bahkan mereka telah menjadi berputus asa. Ken Arok tidak akan dapat tertolong lagi. Ki Buyut Panawijen menjadi pucat seperti mayat, sedang orang-orang Panawijen benar-benar telah kehilangan nalar dan harapan. Akuwu Tunggul Ametung pun masih berdiri membeku. Ia adalah orang yang hampir-hampir tidak pernah berpikir, apalagi menanggapi persoalan yang tiba-tiba. Tetapi, kali ini Akuwu Tunggul Ametung sama lekali tidak berputus asa dan tidak membiarkan Ken Arok hanyut tanpa berbuat sesuatu.
Meskipun demikian, meskipun ia sedang dirisaukan oleh persoalan yang sedang dihadapinya, namun sesaat jantungnya bergetar. Ia melihat sesuatu yang aneh baginya. Ternyata daya tangkap dan tanggapan Akuwu Tunggul Ametung atas persoalan-persoalan yang bukan sekedar masalah lahiriah, jauh lebih baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya, bahkan tidak jauh berbeda dari Empu Purwa, Empu Gandring dan beberapa orang lain. Lamat-lamat di dalam hujan yang sangat lebat ia melihat warna yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok yang sedang mengerahkan segenap kekuatan yang seakan-akan telah tersedia di dalam dirinya, untuk bertahan supaya ia tidak hanyut.
Bahwa ia masih tetap dapat berdiri, adalah suatu hal yang hampir tidak mungkin dan tidak masuk akal. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Ken Arok masih dapat bertahan, berdiri tegak menahan arus air yang luar biasa dan sudah hampir mencapai setinggi dada. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk meloncat karena justru tanah di bawah kakinya menjadi surut hanyut di dalam arusnya banjir yang mendapat saluran untuk mengalir. Kalau ia berusaha untuk meloncat juga, maka ia akan terperosok semakin dalam dan segera akan tenggelam.
Akuwu Tunggul Ametung yang sesaat dipukau oleh tanggapan mata hatinya itu, segera menyadari keadaan. Tiba-tiba sekali lagi ia berteriak. Sekali lagi orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak masuk diakal mereka. Akuwu itu tiba-tiba melenting seperti bilalang. Sekali sambar tangannya telah menggenggam ujung sebatang bambu yang tertumpuk di pinggir bendungan. Kemudian sekali lagi ia melenting sambil menjinjing bambu itu. Terdengarlah kemudian suaranya mengguntur,
“Tangkaplah pangkalnya. Peganglah erat-erat. Aku akan menarikmu.”
Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel hampir tidak dapat mengerti apa yang telah terjadi. Adalah di luar nalar mereka bahwa seseorang mampu melakukannya, menjinjing sebatang bambu utuh yang panjang sambil meloncat sedemikian jauhnya, kemudian mengulurkan bambu itu dari pinggir susukan induk kepada Ken Arok yang sedang berjuang menguasai diri, melawan air yang kini telah mencapai setinggi dadanya.
Sejenak Ken Arok terpukau melihat gerak Akuwu Tunggul Ametung. Demikian ia mengaguminya, sehingga ia hampir lupa kepada dirinya sendiri. Tetapi segera ia sadar setelah pangkal sebatang bambu yang dijulurkan Akuwu Tunggul Ametung itu hampir menyentuh hidungnya.
Ternyata Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat tepat pada waktu. Apabila ia terlambat sekejap, maka keadaannya akan menjadi lain, karena sekejap kemudian tanah di bawah kaki Ken Arok itu seolah-olah telah hanyut diseret oleh banjir bandang. Apabila Ken Arok ikut serta terseret oleh arus itu maka usahanya untuk melepaskan diri akan menjadi semakin sulit dan usaha untuk menolongnya pun menjadi semakin sulit pula.
Tetapi pada saatnya tangan Ken Arok menyambar pangkal bambu yang dijulurkan kepadanya meskipun sesaat ia masih dirayapi oleh keragu-raguan, bahwa justru Akuwu Tunggul Ametung lah yang akan ikut terseret bersamanya. Tetapi sekali lagi orang-orang Panawijen dan para prajurit itu berdiri dengan mulut ternganga, meskipun air hujan masuk ke dalamnya. Dada mereka terasa berhenti berdetak ketika mereka melihat bagaimana Ken Arok berusaha menahan diri berpegangan pada pangkal bambu yang ujungnya dipegang oleh Akuwu Tunggul Ametung.
Dua kekuatan di pangkal dan di ujung itu hampir tidak dapat dinilai oleh orang-orang yang berdiri memaku di sekitarnya. Bahkan orang-orang yang berada di seberang pun terpukau sama sekali melihat apa yang terjadi, meskipun hanya samar-samar karena hujan yang terlampau deras. Perlahan-lahan Akuwu menarik bambu itu. Dikerahkannya segenap kekuatan yang ada padanya. Bambu, Ken Arok dan banjir adalah lawan yang cukup berat baginya. Tetapi ternyata Akuwu adalah seorang yang memiliki tenaga yang luar biasa.
Orang-orang yang terpesona melihat hal itu terjadi, justru berdiri saja mematung, tanpa dapat berbuat sesuatu. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, apalagi berlari dan ikut serta menahan bambu yang sedang mengangkat tubuh Ken Arok dari dalam arus air.
Sedang Ken Arok sendiri, berpegang pada pangkal bambu itu. Terasa seolah-olah air menghisapnya dan menariknya ke dalam lingkaran maut. Tetapi ia bertahan terus. Bertahan dengan kekuatan yang jauh melampaui kekuatan orang-orang kebanyakan. Betapa lambatnya, namun Ken Arok terseret semakin menepi. Agaknya dua kekuatan di ujung dan pangkal sebatang bambu itu akan dapat menyelamatkannya. Meskipun kadang-kadang segumpal air menghantam wajahnya, namun sekejap kemudian Ken Arok berhasil mengangkatnya ke atas permukaan air. Mereka yang menyaksikan, Ken Arok tertarik sedikit demi sedikit menepi itu, menahan nafas mereka. Wajah-wajah mereka menjadi semakin tegang dan darah mereka serasa berhenti mengalir.
Seperti Kuda Sempana yang saat itu menahan nafasnya pula, jantungnya pun seakan-akan berhenti berdetak. Ia tahu benar, bahwa kedua orang yang mempersiapkan kekuatan pamungkas mereka. Loncatan Kebo Sindet yang hampir-hampir tidak dapat diikuti oleh mata itu, adalah permulaan dari benturan yang sekejap lagi pasti akan terjadi. Dada Kuda Sempana lah yang akan meledak, sesaat kemudian ketika ia melihat golok Kebo Sindet terayun deras sekali seperti petir yang menyambar dari langit disertai suaranya yang melengking semakin tinggi.
Tetapi Mahisa Agni telah bersiap sepenuhnya untuk menerima serangan itu. Ia kali ini sengaja tidak ingin menghindar. Ia ingin mengalami benturan itu, supaya perkelahian itu segera sampai pada akhirnya.
“Disini kita akan mendapat kepastian.” gumannya di dalam hati.
Sesaat kemudian anak muda itu menggeretakkan giginya, Di sentakkannya kakinya menyongsong serangan Kebo Sindet itu. Dengan pedangnya Mahisa Agni dengan sengaja membenturkan kekuatannya melawan kekuatan aji lawannya. Benturan yang terjadi adalah benturan yang dahsyat sekali. Sepercik bunga api meloncat ke udara, meskipun hujan yang lebat sekali masih tercurah dari langit. Seolah-olah sepasang petir sedang bersabung di udara. Bersabung dengan penuh dendam dan benci.
Akibat dari benturan itu pun dahsyat sekali. Keduanya terlempar beberapa langkah surut. Terasa kekuatan benturan itu telah menjalar di tubuh mereka, seakan-akan menghentak jantung di dalam dada masing-masing, sehingga sekejap kemudian mata mereka menjadi berkunang-kunang.
Kebo Sindet merasakan sesuatu yang menyesak pernafasannya, sehingga ia menjadi tersengal-sengal. Namun ia masih cukup menyadari apa yang telah terjadi, sehingga ia masih mampu untuk berusaha jatuh di atas kedua kakinya. Sedang Mahisa Agni masih juga menyadari keadaannya sepenuhnya. Meskipun dadanya terasa sesak, tetapi akibat benturan-benturan itu masih tidak separah Kebo Sindet. Agaknya ilmunya yang luluh dengan kekuatan Aji Empu Sada, telah berhasil mengatasi kekuatan lawannya, meskipun perbedaan itu masih belum terlampau banyak. Ternyata dalam kekurangannya, Kebo Sindet masih memiliki kelebihan pengalaman yang cukup untuk mempertahankan dirinya.
Tetapi sekali lagi Mahisa Agni dihadapkan kepada lawan yang lain. Ketika ia berusaha berdiri tegak di atas kedua kakinya, maka tiba-tiba keseimbangannya terganggu oleh tanah yang licin. Dalam keadaan yang sulit itu, akhirnya Mahisa Agni tidak berhasil mempertahankan keseimbangannya, sehingga sejenak kemudian ia terpelanting jatuh.
Kebo Sindet yang terluka di dadanya, yang berhasil tegak pada kedua kakinya, meskipun agak tertatih-tatih, melihat Mahisa Agni terpelanting jatuh. Baginya itu adalah suatu kesempatan. Tetapi pada saat yang demikian barulah ia menyadari, bahwa golok di tangannya yang langsung berbenturan dengan pedang Mahisa Agni telah terpelanting jatuh. Terasa kemudian bahwa tangannya menjadi pedih.
Kebo Sindet itu mengumpat dengan kata-kata yang paling kotor. Ia sadar, bahwa kekuatan Mahisa Agni ternyata telah melampaui kekuatannya. Namun ia menjadi berpengharapan ketika ia melihat bahwa Mahisa Agni pun telah tidak bersenjata lagi. Meskipun pangkal pedangnya tidak terlepas dari tangannya, betapapun dahsyatnya benturan yang terjadi, tetapi pedang itulah yang ternyata kurang baik bagi benturan kekuatan yang dahsyat. Ternyata pedang itu terputus hampir di pangkalnya.
Dan kini Kebo Sindet melihat Mahisa Agni terpelanting jatuh tergelincir karena tanah yang licin. Pada saat Mahisa Agni masih belum menemukan kesempatan untuk bangun, maka ia harus mempergunakan setiap kemungkinan. Ia harus cepat menyerang dan membinasakan lawannya. Kebo Sindet mencoba mengumpulkan kekuatannya yang terakhir. Terdengar ia menggeram keras. Luka di dalam dadanya tidak dihiraukannya. Sekali lagi ia mateg aji pamungkasnya. Seperti seekor harimau lapar Kobo Sindet meloncat menerkam Mahisa Agni yang masih belum sempat bangkit.
Tetapi Mahisa Agni memang tidak segera bangkit. Ia menyadari bahwa Kebo Sindet pasti akan mempergunakan kesempatan itu. Kesempatan pada saat ia kehilangan keseimbangan. Karena itu maka ia masih saja berbaring di tempatnya. Justru sambil berbaring dipusatkannya segala kekuatan dan getaran di dalam dirinya. Kekuatan lahir dan batin. Mahisa Agni hanya sempat menggeser diri dalam sikap yang dikehendaki. Ia menempatkan dirinya membujur tertentang arah terkaman Kebo Sindet. Dilepaskannya sama sekali hulu pedang yang patah. Ia tidak dapat mempergunakannya lagi. Lawannya pun tidak mempergunakan senjata, selain kekuatan aji tertingginya.
Mahisa Agni yang telah mendalami dan mengenali watak kekuatannya sendiri, kali ini tidak menjalurkannya dan memusatkannya di tangannya, tetapi kekuatannya disalurkannya pada kedua kakinya. Dengan berdebar-debar ia menunggu terkaman iblis dari Kemundungan itu.
Kebo Sindet dengan sepenuh tenaganya, menjulurkan tangannya. Ia telah siap mencekik leher Mahisa Agni, menindihnya dan membuatnya tidak bernafas. Meskipun kekuatannya tidak sebesar kekuatan Mahisa Agni, tetapi perbedaan itu tidak terlampau besar, sehingga apabila tangannya telah menerkam leher lawannya, ia yakin, pada saat sentuhan itu terjadi, Mahisa Agni pasti sudah kehilangan sebagian besar dari kekuatannya. Leher lawannya tidak akan sekuat tangannya untuk menolak kekuatan aji pamungkasnya.
Tetapi Kebo Sindet lupa bahwa Mahisa Agni pun memperhitungkan waktu sekejap demi sekejap. Anak muda itupun menyadari, bahwa apabila ia menyia-nyiakan waktu yang sekejap, maka akibatnya akan tidak diduga-duganya. Itulah sebabnya, ia telah siap menyambut Kebo Sindet yang seakan-akan melayang menerkamnya sambil berteriak nyaring. Matanya yang membara menjadi semakin liar, dan wajahnya yang beku itu memancarkan nafsu iblisnya.
Tetapi Mahisa Agni telah siap menyambutnya. Pada saat yang telah diperhitungkan Mahisa Agni menekuk lututnya, dan menyambut terkaman Kebo Sindet itu dengan kekuatan puncaknya, dengan ajinya yang telah disempurnakan. Sekali lagi terjadi sebuah benturan yang dahsyat. Benturan antara dua kekuatan yang pilih tanding. Dua kekuatan raksasa yang dilontarkan dengan nafas kebencian, dendam dan nafsu yang meluap-luap.
Sekali lagi keduanya harus mengalami akibat yang dahsyat pada tubuh masing-masing. Ternyata Mahisa Agni yang membentur serangan Kebo Sindet itu dengan kakinya, terdorong beberapa langkah, meluncur di atas tanah yang licin menuju ke bibir rawa-rawa. Dengan sekuat tenaga anak muda itu mencoba menahan dirinya dengan mencengkamkan jari-jari tangannya pada tanah berlumpur. Meskipun tidak terlampau banyak, namun usaha itu telah menahannya Mahisa Agni berhenti beberapa langkah yang pendek saja dari bibir rawa-rawa.
Bahkan kepalanya telah terperosok kedalam gemburnya lumpur rawa-rawa yang berwarna gelap. Tetapi Mahisa Agni tidak terjerumus masuk dalamnya. Sedang sendi-sendi tulang kakinya terasa berpatahan. Perasaan sakit yang luar biasa telah menjalari seluruh tubuhnya. Namun Mahisa masih tetap sadar, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia masih sempat melihat akibat dari peristiwa itu dan peristiwa-peristiwa berikutnya.
Mahisa Agni masih mendengar Kebo Sindet berteriak mengerikan. Benturan itu agaknya telah membuat lukanya semakin parah. Tetapi lebih dari pada itu, dorongan kaki Mahisa Agni telah melemparkan Kebo Sindet yang seakan-akan sedang terbang di atasnya. Tubuh iblis itu melambung tinggi dan melayang ke arah yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Kebo Sindet. Dalam usahanya terakhir Kebo Sindet menggeliat di udara, namun ia tidak berhasil menghentikan lontaran kekuatan Mahisa Agni, sehingga tubuhnya melayang langsung kedalam air yang keruh berlumpur. Sejenak kemudian tubuh itu pun terbanting jatuh ke dalam rawa-rawa.
Suara teriakan Kebo Sindet masih terdengar sesaat. Mahisa Agni sejenak melupakan segala macam penderitaan tubuhnya. Ia berusaha untuk bangkit, dan melihat apa yang telah terjadi. Sebuah desir yang tajam menggores jantungnya. Ia melihat Kebo Sindet menggelepar di dalam air. Dan ia melihat Kebo Sindet masih berusaha untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Kebo Sindet itu telah mengenal betul watak dan tabiat rawa-rawa itu, sehingga ketika tubuhnya telah berada di dalam air, justru ia menghentikan segala macam gerak yang sama sekali tidak berarti, yang akan mendorongnya semakin cepat terbenam ke dalam lumpur.
Mahisa Agni kini sudah berdiri pada lututnya. Tubuhnya terasa lemah sekali, seakan-akan semua tulang-tulangnya dilolosi. Karena itu maka ia tidak berusaha untuk berdiri tegak di atas kedua kakinya, Ia tidak mau jatuh tergelincir karena tanah yang licin, apalagi tergelincir masuk rawa-rawa menyusul Kebo Sindet. Dengan demikian maka dengan nafas terengah-engah dan sekali-sekali menyeringai menahan sakit, ia melihat Kebo Sindet berada di dalam air.
“Setan iblis.”
Kebo Sindet mengumpat di dalam air. Namun ia masih berdiri diam. Dengan mata yang menyalakan dendam tiada taranya dipandanginya Mahisa Agni. Tetapi sejenak kemudian ia sadar akan dirinya. Ia harus segera keluar dari rawa-rawa itu. Dicobanya untuk menggerakkan kakinya sedikit, bergeser ke tepi. Tetapi ternyata tanah berlumpur di bawah kakinya terlampau gembur, sahingga sedikit demi sedikit, Kebo Sindet itu seolah-olah dihisap kedalam bumi.
Sejenak terbersit kecemasan membayang di wajah yang beku itu. Bayangan yang hampir sepanjang hidupnya tidak pernah mewarnai wajahnya. Namun kini tampaklah, betapa Kebo Sindet telah dicengkam oleh kecemasan yang sangat. Setiap kali ia bergerak, betapapun kecilnya, maka kakinya menjadi semakin dalam terperosok ke dalam lumpur di dasar rawa-rawa itu. Meskipun demikian Kebo Sindet masih berusaha untuk melangkah ketepi. Perlahan-lahan ia beringsut. Namun perlahan-lahan ia terbenam semakin dalam.
“Gila, kau gila Mahisa Agni.” teriaknya. Kecemasan semakin mencengkam jantungnya, “kalau aku berhasil ke luar dari rawa-rawa ini, maka aku cincang kau habis-habisan.”
Mahisa Agni masih terdiam ditempatnya. Ia masih berdiri pada lututnya. Namun kengerian membayang di hatinya. Ia tahu benar, apakah yang tersimpan di dalam air yang keruh itu. Ia dapat membayangkan apakah yang akan terjadi atas Kebo Sindet itu apabila ia tidak segera dapat keluar dari dalam air berlumpur itu. Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dan sekali lagi ia mendengar suara Kebo Sindet,
“He Mahisa Agni. Kalau aku nanti keluar dari rawa-rawa ini, kaulah yang akan aku lemparkan masuk. Kaulah yang akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil di sini.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Sekali-sekali perasaan sakit seolah-olah menyengat di seluruh tubuhnya. Namun ia yakin bahwa Kebo Sindet pun terluka setidak-tidaknya separah dirinya sendiri. Tetapi karena keadaannya, maka seolah-olah luka itu tidak terasa, Kebo Sindet sedang dicemaskan oleh rawa-rawa yang kini seakan-akan sudah membelenggunya. Tetapi iblis itu tidak berputus asa. Ia masih juga berusaha. Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, maka mulutnya pasti mengumpat tidak habis-habisnya. Wajahnya kini sama sekali tidak lagi membeku seperti wajah mayat. Namun jelas ketegangan dan kecemasan yang mengerikan, membayang di wajah itu.
Ketika kakinya terperosok semakin dalam, Kebo Sindet itu mengumpat-umpat semakin keras. Tetapi ia masih belum menyerah. Ia masih berusaha terus. Perlahan-lahan sekali. Tetapi ternyata kaki-kakinya semakin dalam terhisap masuk ke dalam tanah berlumpur di dasar rawa-rawa. Kesabaran Kebo Sindet pun semakin lama menjadi semakin mencair. Usaha untuk melepaskan diri semakin lama menjadi semakin kabur, sehingga iblis itu memaki-maki semakin keras dan kotor.
Mahisa Agni yang berdiri pada lututnya melihat, betapa wajah Kebo Sindet yang sehari-hari dilihatnya selalu membeku itu menjadi tegang. Kemudian diulas oleh kecemasan hatinya dan akhirnya wajah itu seolah-olah telah membayangkan keputus asaan. Betapa dendam membara di dalam dada Mahisa Agni, ketika dilihatnya akhir yang mengerikan dari hidup Kebo Sindet itu terasa sentuhan halus menyinggung hatinya. Ia memang ingin membinasakan iblis dari Kemundungan itu, tetapi tidak dengan cara itu. Tidak dengan cara yang demikian mengerikan.
Tiba-tiba Mahisa Agni pun melupakan betapa tubuhnya menjadi hampir lumpuh. Perlahan-lahan dan hati-hati ia bangkit. Setapak-setapak ia melangkahkan kakinya meninggalkan pinggiran rawa-rawa itu. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar Kebo Sindet berteriak,
“He, jangan lari pengecut. Sebentar lagi aku akan keluar dari air ini. Tubuhku terasa bertambah segar. Dan kau akan mengalami kematian yang paling mengerikan.”
Mahisa Agni melihat wajah Kebo Sindet semakin menjadi tegang dan berputus-asa. Namun wajah itu masih juga memancarkan dendam dan kebencian tiada taranya. Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir tajam Ia melihat sesuatu dikejauhan bergerak-gerak di permukaan air. Satu, dua disusul oleh yang lain semakin lama semakin banyak. Buaya-buaya kerdil.
Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menjadi pucat. Buaya-buaya itu pasti telah mencium bau darah yang meleleh dari tubuh Mahisa Agni. Dan buaya-buaya itu sebentar lagi pasti akan menyeret tubuh Kebo Sindet semakin ketengah dan mengoyak-ngoyaknya.
Mahisa Agni menjadi ngeri sekali membayangkan apa yang akan terjadi Karena itu maka tiba-tiba ia melangkah semakin cepat, secepat dapat dilakukan. Sejenak ia mencari-cari ditempat ia berkelahi melawan Kebo Sindet sebelum Kebo Sindet terlempar ke dalam air. Ia sama sekali tidak memperdulikan Kebo Sindet berteriak-teriak memanggilnya dan memaki-makinya,
“Pengecut licik. Jangan lari. Tunggu, sebentar lagi aku akan mengoyak tubuhmu dan melemparkannya kemulut-mulut buaya kerdil.”
Dan buaya-buaya kerdil itu benar-benar telah mendekat. Mahisa Agni yang menjadi semakin berdebar-debar karenanya, dengan serta-merta berteriak, “Buaya-buaya itu telah datang. Cepat, kalau kau dapat melakukannya, naiklah.”
Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Sesuatu hal yang jarang sekali dilakukannya. Wajahnya kini seakan-akan telah mencair, telah tidak membeku lagi. Ketika ia berpaling, dikejauhan dilihatnya permukaan air yang bergerak-gerak. Dada iblis dari Kemundungan itu berdesir tajam. Kini ia berhadapan dengan kenyataan, bahwa buaya-buaya kerdil itu segera akan menyerangnja, tubuhnyalah yang sebentar lagi akan dikoyak-koyakkannya. Sama sekali bukan Mahisa Agni.
Jantung Kebo Sindet serasa melonjak-lonjak di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak mau menerima kenyataan itu. Ia ingin mengikat Mahisa Agni dan menggantungkannya dekat di permukaan air. Ia ingin melihat buaya-buaya kerdil itu melonjak-lonjak meraih tubuh yang tergantung itu, sehingga pada suatu saat tubuh itu terkoyak oleh gigi-gigi buaya kerdil yang tajam. Tetapi buaya-buaya itu kini berenang perlahan-lahan ke arahnya dan ia tidak dapat berbuat apa-apa.
“Setan, iblis.” ia mengumpat-umpat, “Mahisa Agni, seharusnya kau lah yang berada di sini. Ayo, kemarilah. Kau harus menggantikan tempat ini. Kaulah yang akan menjadi makanan buaya kerdil itu. Cepat, datang kemari supaya aku mengampunkan kesalahanmu.”
Mahisa Agni berdiri tegak ditempatnya. Ia melihat buaya-buaya kerdil itu menjadi semakin dekat. Debar di dalam dadanya pun menjadi semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
“Kau kemari, he anak setan.” teriak Kebo Sindet, “kau kemari. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu. Kau akan kuampuni.” Kebo Sindet itu berhenti sejenak, “tetapi kalau tidak, maka kau akan aku cincang sebelum kau mati. Aku dapat membunuhmu dengan segala macam cara yang aku kehendaki.”
Mahisa Agni kini melihat Kebo Sindet itu kehilangan ketenangannya, Ia berusaha untuk meloncat, tetapi kakinya seolah-olah telah digenggam erat-erat oleh lumpur di dasar rawa itu. Meskipun demikian Kebo Sindet masih berusaha. Ia mencoba untuk tidak menginjakkan kakinya lagi. Ia berusaha untuk berenang. Berenang ketepi. Namun kakinya telah benar-benar terbenam semakin dalam. Sedang buaya-buaya itu menjadi semakin dekat.
Bukan saja Kebo Sindet yang menjadi cemas, tetapi Mahisa Agni pun menjadi semakin cemas juga. Tanpa disengajanya anak muda itu berpaling kepada Kuda Sempana. Ternyata wajah Kuda Sempana pun menjadi kian pucat. Ia tidak menghiraukan lagi titik-titik air hujan yang menyiram wajah itu. Tiba-tiba Mahisa Agni melihat sesuatu tergolek di tanah. Golok Kebo Sindet. Golok yang terlepas dari tangan iblis itu pada saat benturan kekuatan diantara mereka terjadi.
Dengan serta merta, seolah-olah di luar sadarnya Mahisa Agni melangkah mendekati. Diambilnya golok itu, dan sejenak ia berdiri dalam kebimbingan. Namun kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kepada Kebo Sindet yang kini sudah kehilangan ketenangannya menggelepar di dalam air yang seakan-akan semakin menghisapnya. Dengan lantang Mahisa Agni itu berkata,
“Kebo Sindet, ini senjatamu. Mungkin kau memerlukannya untuk melawan binatang-binatang air yang buas itu.”
Mahisa Agni tidak menunggu jawaban Kebo Sindet. Beberapa langkah ia maju. Kemudian dilontarkannya hulu golok itu kearah Kebo Sindet yang sedang dilanda oleh gejolak perasaan yang dahsyat. Ia sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi atasnya, sehingga kenyataan itu terasa terlampau pahit untuk diterimanya. Mahisa Agni masih berdiri dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi menyimpan dendam di dalam hatinya, tetapi ia tidak dapat melihat kenyataan itu terjadi atas Kebo Sindet. Kenyataan yang bertentangan keinginan iblis itu sendiri.
Kebo Sindet ternyata cukup cekatan untuk menerima goloknya. Tepat pada saat itu, buaya-buaya kerdil itu telah menjadi semakin dekat. Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir ketika ia melihat seekor yang berada di paling depan mengangakan mulutnya yang lebar dengan gerigi yang tajam berderet panjang. Mahisa Agni masih sempat melihat Kebo Sindet mengayunkan goloknya dan buaya yang terdepan itu melengking tinggi. Tubuhnya menggeliat dan darah memancar kemerah-merahan. Buaya yang malang itu pun kemudian terbenam di dalam air. Tetapi buaya-buaya itu tidak hanya seekor. Dibelakangnya segera menyusul seekor, seekor dan seekor lagi. Berturut-turut.
Mahisa Agni tidak ingin melihat apa yang terjadi seterusnya. Segera ia memalingkan wajahnya. Tetapi ia terperanjat ketika ia melihat Kuda Sempana berlari-lari menggenggam pangkal pedangnya yang sudah terputus.
“Apa yang akan dilakukannya?” desis Mahisa Agni di dalam hatinya.
Sesaat kemudian Mahisa Agni baru mengetahui apa yang akan diperbuatnya. Kuda Sempana itu ternyata telah memotong dua tiga helai sulur beringin. Seperti pada saat ia pergi kebatang itu, maka ia pun kemudian berlari-lari pula kembali. Mahisa Agni tahu maksud Kuda Sempana. Secercah kebanggan membersit di hatinya. Ternyata di dalam diri Kuda Sempana itu masih tersisa rasa kemanusiaannya.
“Marilah, kita usahakan agar orang itu dapat terlepas dari mulut buaya-buaya kerdil itu.” katanya dengan nafas terengah-engah.
Dalam keadaan demikian kedua anak-anak muda itu dapat melupakan apa yang telah terjadi atas diri mereka. Mereka ternyata bersungguh-sungguh ingin melepaskan Kebo Sindet dari mulut binatang-binatang air yang rakus itu. Biarlah ia mati, tetapi dengan cara yang lebih baik. Maka dengan tergesa-gesa Kuda Sempana dan Mahisa Agni telah menyambung sulur-sulur itu, dan kemudian terdengar suara Mahisa Agni mengatasi desir air hujan yang masih saja turun,
“Kebo Sindet, tangkaplah ujung sulur itu. Kami akan berusaha menarikmu keluar.”
Perlahan-lahan dengan hati-hati sekali keduanya mendekati bibir rawa-rawa. Kemudian dilontarkannya ujung sulur itu kepada Kebo Sindet yang sedang berjuang melawan binatang-binatang air yang buas itu. Dengan serta-merta maka tangan kiri Kebo Sindet menyambar ujung sulur yang dilontarkan kepadanya. Namun ia masih juga berteriak,
“Mahisa Agni. Kau terlampau sombong. Tetapi kau akan menyesal apabila aku telah keluar dari lumpur ini.”
Mahisa Agni dan Kuda Sempana sama sekali tidak memperdulikannya. Buaya-buaya semakin banyak berkerumun di sekitar Kebo Sindet. Namun sebagian dari buaya-buaya itu tiba-tiba melengking dan tenggelam ke dalam air. Sambil menarik Kebo Sindet, Mahisa Agni masih juga sempat merasa heran. Dalam keadaan serupa itu Kebo Sindet masih mampu bertahan terhadap sekian banyak buaya-buaya kerdil meskipun ia mempergunakan goloknya. Tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau lama. Ia harus segera menarik orang itu keluar air.
Perlahan-lahan Kebo Sindet merasa dirinya terangkat menepi. Semakin lama semakin menepi. Tetapi buaya-buaya kerdil itu mengejarnya terus sehingga ia masih juga harus berjuang dengan goloknya melawan buaya-buaya yang menyergapnya. Kebo Sindet menggeliat ketika tubuhnya kemudian terangkat ke atas tanah berlumpur. Ia masih melihat beberapa ekor buaya mengejarnya naik ke darat. Sambil berpegangan pada sulur beringin yang ditarik oleh Mahisa Agni dan Kuda Sempana dengan tangan kirinya ia masih harus mengayun-ayunkan goloknya dengan tangan kanannya, menebas mulut-mulut buaya yang menganga. Dan ia masih juga sempat melihat beberapa ekor buaya yang mengejarnya itu melengking, kemudian menggelepar mati. Berturut-turut, tidak hanya satu dua. Tetapi hampir semua buaya yang mengejarnya ke darat, tidak pernah dapat menyentuhnya.
Tetapi ketika Kebo Sindet itu telah berada di atas permukaan air, barulah dapat dilihat oleh Kuda Sempana dan Mahisa Agni, bahwa sebagian tubuhnya telah terkoyak oleh mulut-mulut buaya kerdil itu. Luka-luka di tubuhnya menjadi arang kranjang dan darah meleleh hampir dari seluruh wajah kulitnya. Sejenak kemudian Kebo Sindet telah berada beberapa langkah dari rawa-rawa itu. Buaya-buaya kerdil telah tidak mengejarnya lagi.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar