MENU

Ads

Rabu, 11 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 019

Mahisa Agni itu pun kemudian perlahan-lahan berdiri. Sekali-kali dirabanya keris dilambungnya. Kemudian perlahan-lahan pula ia melangkah memasuki gua yang semakin pekat. Namun lambat laun, matanya menjadi biasa pula dalam kegelapan, sehingga semakin lama, meskipun hanya remang-remang ia dapat juga melihat beberapa bagian dari gua itu. Apalagi mata Mahisa Agni yang cukup terlatih itu. Dilihatnya pula dinding-dinding gua yang seolah-olah bergerigi tajam. Beberapa ujung yang runcing menjorok mengerikan.

Kaki Mahisa Agni semakin pedih juga. Luka-luka yang ditimbulkan oleh ujung-ujung batu dan karang telah melukai kakinya, tetapi luka-luka itu kemudian tak terasa lagi, ketika segenap perhatiannya terpusat pada pusat gua yang gelapnya bukan kepalang. Ternyata gua itu cukup dalam. Namun terasa oleh Mahisa Agni bahwa jalur-jalur di dalam gua itu semakin lama semakin menanjak. Ternyata gua itu bertambah naik. Bahkan kadang-kadang terasa Mahisa Agni seakan-akan naik di atas tingkatan tangga yang dibuat oleh tangan manusia.

“Hem,” desahnya, “ternyata guruku bukan satu-satunya orang yang pernah mengunjungi gua ini.”

Tetapi kemudian anak muda itu bergumam pula, “Atau mungkin guru pula yang membuat anak tangga ini?”

Tetapi kemudian segenap perhatian Mahisa Agni pun tenggelam dalam keasyikannya mendaki tangga-tangga yang lebih sulit lagi. Semakin lama semakin tinggi. Dan jalur-jalur gua itu masih menghunjam terus seakan-akan menembus ke pusat Gunung Semeru.

Mahisa Agni tidak tahu, sudah berapa dalam ia masuk ke dalam lubang tanah yang menganga seperti mulut seekor ular raksasa itu. Ia berjalan terus dan bahkan kadang-kadang harus merangkak dengan susah payah. Bahkan kemudian Mahisa Agni masih terpaksa beristirahat untuk beberapa saat lamanya. Ketika kemudian Mahisa Agni berjalan kembali, ia terkejut melihat cahaya di hadapannya. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin terang.

“Aneh,” katanya di dalam hati, “apakah aku sudah akan sampai ke ujung yang lain?”

Namun pertanyaan itu segera terjawab. Ternyata gua itu telah jauh menanjak, sehingga kemudian tampaklah oleh Mahisa Agni sebuah lubang yang tegak lurus ke atas. Dari lubang itulah sinar yang tak langsung menusuk ke dalam gua itu. Meskipun demikian, setelah sekian lama Mahisa Agni tersekap di dalam kegelapan, maka sinar yang lemah itu terasa betapa nyamannya. Terasa seakan-akan ia baru saja terlepas dari satu kungkungan yang menjemukan.

Dari lubang itu Mahisa Agni dapat memandang langit yang biru. Meskipun lubang itu tidak begitu besar, bahkan karena panjangnya, maka ujung lubang itu seakan-akan terkatup, namun daripadanya, Mahisa Agni segera dapat mengetahuinya bahwa hari sudah menjelang senja. Dilihatnya sepintas awan yang bergerak di langit, diwarnai oleh sinar yang kemerah-merahan. Tetapi karena itu Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau sebentar kemudian malam tiba, maka gua itu akan menjadi semakin gelap.

Karena itu, maka kemudian Mahisa Agni itu pun berusaha mempercepat langkahnya. Secepat yang dapat dilakukannya. Dengan berpegangan dinding gua ia berjalan setapak demi setapak. Seperti yang sudah dilakukannya, kadang-kadang ia harus merangkak, sebab gua itu masih cenderung naik.

Lubang yang tegak menembus lambung Gunung Semeru itu ternyata tidak hanya sebuah. Di mukanya, kembali Mahisa Agni melihat cahaya yang kemerah-merahan. Ia pasti, bahwa cahaya itu pun jatuh dari lubang yang serupa dengan lubang yang pernah dilihatnya.

Tetapi langkah Mahisa Agni itu pun segera terhenti. Dalam cahaya yang kemerah-merahan itu, dilihatnya sesuatu yang bergerak-gerak. Sebuah desir yang tajam menggores dada anak muda itu. Benda yang bergerak-gerak itu tampak remang-remang di seberang cahaya yang kemerah-merahan sehingga Mahisa Agni tidak dapat segera melihatnya dengan seksama. Namun kemudian anak muda itu melonjak. Dan terdengar nyaring di dalam hati,

“Seseorang telah mendahului aku.”

Mahisa Agni itu pun menggeram, Kini ternyata dugaannya benar. Tapak kaki yang dilihatnya serta bekas-bekas guguran batu-batu padas itu bukanlah sekedar karena angan-angannya saja. Kini orang itu telah berada beberapa langkah di hadapannya. Namun agaknya orang itu belum melihat kehadirannya. Karena itu Mahisa Agni pun berhenti di tempatnya. Bahkan ia kemudian duduk di lantai gua yang lembab itu.

“Syukurlah, aku yang lebih dahulu melihatnya,” pikir Mahisa Agni.

Kini ia benar-benar menenangkan dirinya. Ia hanya tinggal mengawasi orang itu. Sementara itu ia sempat untuk memulihkan kembali segenap tenaganya setelah ia bertempur melawan Empu Pedek, dan setelah ia memeras sisa tenaganya untuk mendaki lereng gundul di kaki Gunung Semeru itu.

Mahisa Agni telah bertekad untuk tidak menyapanya lebih dahulu. Ia masih memerlukan waktu untuk memulihkan tenaganya kembali. Mungkin orang itu telah beristirahat pula sehingga orang telah memiliki kesegaran tenaganya kembali. Bahkan mungkin telah dua tiga hari ia berada di tempat itu, atau bahkan mungkin ia telah berhasil mengambil akar wregu putih itu.

Bahkan kemudian timbul pula pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang itu Empu Pedek yang timpang? Kalau demikian, maka ia harus mengulangi pertempuran sekali lagi seperti yang pernah terjadi. Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya. Meskipun keris itu tidak sesakti trisula kecil pemberian gurunya, namun kerisnya adalah pusaka yang berbentuk senjata, yang benar-benar dapat dipergunakannya untuk bertempur dan menyobek dada lawannya.

“Kalau aku harus bertempur sekali lagi, maka aku terpaksa mempergunakannya,” katanya di dalam hati, “sebab akar wregu itu pun sebuah pusaka rangkapan yang tak ternilai harganya.”

Di samping itu timbul pula berbagai pertanyaan di dalam dadanya. Menurut gurunya, akar wregu putih itu adalah rangkapan sebuah pusaka lain yang berbentuk trisula, seperti yang dikatakan oleh Empu Pedek pula. Namun ternyata yang mencari akar wregu itu terdapat seorang yang datang dari Kaki Gunung Merapi pula. Apakah di samping sebagai pusaka rangkapan trisula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang lain pula?.



Tetapi Mahisa Agni tidak mau diganggu oleh berbagai pertanyaan itu. Apa pun yang akan dihadapinya, namun ia telah bertekad untuk mendapatkan benda itu. Ia sudah siap menghadapi kemungkinan yang paling pahit. Berkubur di dalam gua ini. Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya.

Cahaya yang kemerahan itu pun semakin lama semakin pudar. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin kelam. Dengan demikian Mahisa Agni tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaannya kini, kecuali apabila terpaksa. Karena itu, maka kemudian ia hanya dapat menggeser dirinya, duduk tepat di tengah-tengah gua itu. Apapun yang dilakukan oleh orang yang dilihatnya itu, namun apabila orang itu akan meninggalkan gua, maka pasti ia melampauinya. Dalam kesempatan itu ia akan dapat mencegahnya.

Demikianlah malam yang kelam turun menyelimuti Gunung Semeru itu. Yang terdengar kemudian adalah siulan angin pada lubang-lubang di lereng-lereng gunung raksasa itu. Mahisa Agni masih saja duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba untuk menunggu sampai besok. Meskipun gua itu hampir tak ada bedanya antara siang dan malam, namun di siang hari, masih juga betapa pun lemahnya, samar-samar yang dapat membantunya.

Di siang hari, mata Mahisa Agni yang tajam itu, masih dapat melihat walaupun sama sekali tidak jelas, setiap bayangan yang ada di dalam gua itu. Apalagi, ternyata bahwa di dalam gua itu terdapat lubang-lubang yang dapat menampung sinar-sinar matahari yang jatuh menghambur di lambung Gunung Semeru itu.

Tetapi terasa betapa panjangnya waktu. Mahisa Agni merasa bahwa seakan-akan malam itu tidak akan berujung. Akhirnya ia menjadi jemu. Menunggu baginya adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Karena itu timbul dalam pikirannya, untuk mendekati orang yang dilihatnya siang tadi. Mungkin ia dapat menangkap desah nafasnya atau bunyi apa pun yang ditimbulkannya. Karena Mahisa Agni telah melihatnya lebih dahulu, maka ia akan dapat lebih hati-hati daripada orang itu. Ia akan dapat mengatur gerak dan pernafasannya sehingga tidak menimbulkan bunyi.

Demikianlah akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menunda keinginannya itu. Perlahan-lahan sekali ia menggeser dirinya mendekati bayangan seseorang yang dilihatnya tadi. Semakin lama semakin dekat. Namun kadang-kadang timbul pula keragu-raguan di hati Mahisa Agni. Apakah orang itu masih berada di tempatnya? Tetapi kemudian dada Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Akhirnya didengarnya juga desah nafas orang yang dicarinya itu. Perlahan-lahan sekali dan betapa nafas itu sangat teratur.

“Orang itu tertidur,” bisik Agni di dalam hatinya.

Tiba-tiba timbullah keinginan di dalam hati Mahisa Agni untuk mendahului orang itu. Namun ia menjadi ragu-ragu. Kalau orang itu Empu Pedek, maka betapa pun untuk tidak menimbulkan suara, namun pasti pendengaran orang itu cukup baik, sehingga maksudnya tak akan dapat dilakukannya.

“Aku dapat membinasakannya selagi ia masih tertidur,” terdengar suara di sudut hatinya, namun terdengar suara yang lain, “Pengecut!”

Dalam keragu-raguan itu, Mahisa Agni terduduk kembali. Ia menjadi bingung apa yang akan dilakukannya. Tetapi ia terkejut ketika ternyata suara nafas yang didengarnya itu semakin lama semakin jauh. Ternyata orang itu sama sekali tidak tertidur. Bahkan orang itu ternyata sedang berjalan semakin dalam masuk ke dalam gua ini. Hati Mahisa Agni berdesir karenanya. Dan tiba-tiba pula ia pun berdiri. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan akar wregu putih itu. Karena itu ia pun berjalan pula dengan hati-hati menelusuri tepi gua mengikuti suara nafas orang yang telah berjalan mendahuluinya.

Kini hati Mahisa Agni tidak tenggelam lagi dalam kejemuan, namun kini hati itu menjadi tegang. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia mengikuti suara nafas orang di hadapannya, namun karena malam demikian kelam, apalagi di dalam relung gua itu, maka Mahisa Agni belum berhasil melihat orangnya. Tetapi karena pendengaran Mahisa Agni yang tajam, maka ia dapat mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh orang itu.

Mahisa Agni berjalan cepat apabila engah nafas itu pun berjalan cepat pula, dan ia terpaksa berhenti apabila orang itu pun berhenti. Dalam pada itu Mahisa Agni pun mencoba untuk menduga-duga, apakah orang yang berjalan itu telah mengetahui kehadirannya pula.

Dalam ketegangan itu, Mahisa Agni telah lupa akan peredaran waktu. Ia tidak tahu lagi saat dan waktu. Apakah ia telah berada di pertengahan malam, sebelumnya atau sesudahnya. Tetapi ia merasa bahwa kakinya telah menjadi penat pula dan pedih-pedih di telapak kaki dan tangannya menjadi semakin pedih. Namun ia tidak akan berhenti sebelum akar wregu putih itu dikuasainya.

Ternyata bahwa ketegangan yang mencengkeram dada Mahisa Agni itu telah merampas segenap perhatiannya atas apa saja. Ternyata kemudian Mahisa Agni terkejut bukan kepalang, ketika tiba-tiba saja dilihatnya di kejauhan bayangan yang meremang. Cahaya yang suram yang jatuh ke dalam gua itu. Mahisa Agni menggigit bibirnya. Katanya di dalam hati,

“Ternyata hari telah pagi.” Dan sejalan dengan itu, tubuhnya pun terasa semakin lemah.

Tetapi desah nafas orang itu masih saja didengarnya semakin dalam masuk ke pusat gua. Dan karena itu, berapa pun penatnya, Mahisa Agni tidak juga mau berhenti. Bahkan akhirnya Mahisa Agni siap untuk mengambil keputusan, menentukan nasibnya di antara mereka berdua. Mahisa Agni tidak akan membiarkan tenaganya menjadi terperas habis, baru kemudian menghadapi orang itu. Kini selagi masih cukup tenaga padanya, apa pun yang akan terjadi akan segera dihadapinya.

Karena itu, maka Mahisa Agni segera mempercepat langkahnya. Semakin lama semakin mendekati orang itu. Desah nafas orang itu pun semakin terdengar nyata. Namun tidak teratur seperti yang didengarnya sebelumnya. Maka katanya di dalam hati,

“Orang itu pun kelelahan.”

Mahisa Agni kemudian membiarkan orang itu sampai di bawah sinar keremangan pagi yang menembus dari lubang-lubang dalam gua itu. Namun karena cahaya itu masih demikian lemahnya, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah bayangan yang kelam. Tetapi bayangan itu sudah cukup mengejutkan dada Mahisa Agni. Ternyata bayangan itu bukanlah seorang yang timpang dan berperawakan mirip dengan Empu Pedek. Orang itu ternyata seorang yang bongkok meskipun tidak timpang. Ia berjalan tersuruk-suruk berpegangan pada dinding gua. Bahkan nafasnya pun terdengar semakin terengah-engah. Tetapi Mahisa Agni hanya dapat melihatnya untuk sesaat. Sebab sesaat kemudian orang itu pun telah lenyap kembali dalam kelamnya relung gua.

Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kini datanglah gilirannya untuk menyeberangi daerah yang remang-remang itu. Namun ia telah bertekad untuk menghadapi setiap kemungkinan, dan bahkan ia ingin mempercepat penyelesaian yang mendebarkan itu. Karena itu, tiba-tiba terdengarlah Mahisa Agni itu berkata nyaring, dan suaranya menggelegar memukul-mukul dinding gua, seolah-olah melingkar-lingkar di dalamnya.

“He, Ki Sanak,” katanya, “berhentilah!”

Mahisa Agni tidak melihat orang itu. Namun tiba-tiba ia melihat bayangan itu muncul kembali dalam keremangan cahaya pagi yang jatuh ke dalam gua itu.

“Siapakah kau?” terdengar orang itu bertanya dengan suara yang lemah.

“Aku!” jawab Mahisa Agni. Dan kemudian ia bertanya pula, “Dan siapa kau ini?”

Orang itu tidak segera menjawab. Ia masih mencoba memandang ke arah Mahisa Agni. Namun agaknya orang itu masih belum melihat Mahisa Agni. Mahisa Agni menjadi heran, ketika ia melihat orang bongkok itu berjalan tersuruk-suruk, maju mendekatinya tanpa prasangka apapun. Bahkan kemudian terdengar ia berkata,

“Di manakah kau?”

Mahisa Agni justru mundur beberapa langkah. Ia melihat bayangan itu menjadi semakin dekat. Mahisa Agni berdiri di tempat yang lebih baik, namun ia harus cukup waspada. Dari tempatnya berdiri ia yakin bahwa orang itu belum melihatnya.

Meskipun demikian Mahisa Agni berkata pula, “Berhenti di tempatmu!”

“He?” ternyata orang itu terkejut ketika tiba-tiba itu mendengar suara Agni telah begitu dekat di mukanya. Karena itu ia pun segera berhenti pula. Katanya, “Siapakah kau?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dengan cermatnya ia mencoba melihat keseluruhan dari orang itu. Namun ia masih terlalu lemah. Sesaat gua itu menjadi sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang bongkok itu terengah-engah. Tangannya pun tampak berpegangan pada dinding gua untuk menahan berat badannya. Dan sekali lagi tanpa prasangka apa pun ia maju selangkah. Namun langkahnya tampak betapa beratnya. Dan terdengar ia bertanya pula,

“Siapakah kau?”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Namun ia masih belum merasa perlu menyatakan dirinya. Bahkan kemudian terdengar ia pun bertanya, “Siapakah kau?”

Orang bongkok itu mengangguk-angguk. Nafasnya masih terengah-engah dan bahkan kemudian ia bergumam, “Aku lelah sekali. Biarlah aku duduk di sini.”

Kembali Mahisa Agni menjadi keheranan. Orang itu sekali tidak berprasangka. Orang itu sama sekali tidak dalam keadaan bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Bahkan dengan tenangnya ia duduk bersandar dinding. Terdengarlah orang itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam,

“Ah. Betapa lelahnya.”

Namun Mahisa Agni tidak mau terjerat oleh keadaan yang belum diketahuinya benar. Mungkin orang itu adalah seorang yang sakti, yang merasa dirinya tak terkalahkan, sehingga ia tidak perlu berkecil hati, siapa pun yang akan dihadapinya. Mungkin pula orang itu sedang memancingnya untuk menghilangkan kewaspadaannya untuk kemudian dengan serta-merta menyerangnya dan sekaligus membinasakannya. Karena itu, Mahisa Agni masih tetap berdiri tegak dalam kesiagaan penuh. Ketika kemudian Mahisa Agni melihat orang itu masih saja duduk seakan-akan tak ada sesuatu yang dipikirkannya, maka terdengarlah ia sekali lagi bertanya,

“He, Ki Sanak. Siapakah kau ini?”

Orang itu tersentak. Kemudian terdengar ia menjawab, “Oh. Hampir aku lupa akan kehadiranmu Ki Sanak. Aku adalah Buyut Ing Wangon.”

“Buyut dari Wangon?” ulang Mahisa Agni.

“Ya,” sahut orang itu. Kemudian ia menggeser duduknya menghadap ke arah suara Mahisa Agni, “Siapakah kau Ki Sanak. Marilah, duduklah di sini. Kenapa kau berada di dalam gelap?”

Sekali lagi Mahisa Agni menjadi heran. Kata-kata orang itu pun seperti sikapnya pula. Tanpa prasangka. Namun Mahisa Agni pun yang masih tetap berprasangka. Karena itu maka ia tidak segera menjawab pertanyaan orang itu. Bahkan kemudian terdengar ia bertanya pula,

“Apakah maksud Ki Buyut Wangon datang kemari?”

Orang itu mengangkat alisnya. Tampaklah dalam keremangan pagi yang semakin terang, orang bongkok itu menggerakkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kemarilah Ki Sanak. Duduklah, biarlah kita dapat bercakap-cakap dengan baik. Aku sama sekali belum melihat bayanganmu. Di sini, meskipun tidak jelas, aku akan dapat melihat di mana kau sedang duduk.”

Tetapi Mahisa Agni masih tetap berada di tempatnya. Sejengkal pun ia tidak bergeser. Bahkan ia terkejut ketika ia mendengar orang yang menyebut dirinya Buyut Ing Wangon itu tiba-tiba mengeluh,

“Bagus. Bagus jangan dekati aku. Kau akan dapat kejangkitan penyakit terkutuk ini pula. Oh, alangkah malangnya apabila aku tak berhasil pulang kembali dengan obat itu.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Dari kata-kata itu Mahisa Agni dapat mengetahuinya, bahwa orang bongkok itu sedang mencari obat untuk penyakitnya. Penyakit menular. Namun meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera dapat mengambil kesimpulan. Dan terdengarlah ia bertanya,

“Ki Buyut. Apakah sakit Ki Buyut itu. Dan apakah obat yang sedang Ki Buyut cari di dalam gua ini?”

Sekali lagi Mahisa Agni melihat, Buyut Wangon itu mencoba menatapnya di dalam gelap. Tetapi agaknya orang bongkok itu masih belum berhasil melihatnya.

“Ki Sanak,” katanya kemudian, “kenapa Ki Sanak bersembunyi?”

“Aku tidak bersembunyi,” jawab Mahisa Agni.

“Oh,” orang itu menarik nafas. Kemudian terdengar ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

Tiba-tiba Mahisa Agni menjadi semakin curiga. Apakah orang ini sedang memancingnya untuk mengetahui siapakah sebenarnya dirinya, dengan perhitungan-perhitungan yang tertentu? Mungkin orang itu ingin mengetahui nama dan tempat tinggalnya. Baru kemudian ia berusaha untuk mencari trisulanya. Kalau kemudian dirinya dapat dikalahkan, dan trisula itu tidak ada padanya, maka orang itu akan dapat mencarinya ke tempat kediamannya. Bahkan Mahisa Agni kemudian menyangka, bahwa tidak mustahil orang itu salah seorang kawan Empu Pedek. Karena itu tiba-tiba saja Mahisa Agni menjawab,

“Aku adalah Empu Pedek.”

Mahisa Agni menjadi heran. Dan pertanyaan di dalam dadanya semakin menghunjam ke pusat jantungnya. Ternyata orang itu sama sekali tidak terkejut mendengar jawabannya. Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya terdengar orang itu bergumam,

“Empu Pedek. Dari manakah Ki Sanak datang?”

Kalau demikian maka Mahisa Agni merasa dugaannya ternyata meleset. Dan tiba-tiba saja angan-angannya segera bergeser kepada orang yang datang dari Gunung Merapi. Apakah orang ini pun datang dari kaki Gunung Merapi itu? Untuk meyakinkan dugaannya itu maka Mahisa Agni menjawab,

“Aku datang dari Gunung Merapi.”

Orang itu kini terkejut. “Gunung Merapi?” ulangnya.

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Namun kemudian Mahisa Agni pun menjadi kecewa. Sebab orang itu tidak terkejut karena sesuatu hubungan dengan dirinya sendiri. Bahkan orang itu kemudian bertanya,

“Alangkah jauhnya. Apakah yang telah memukau Ki Senak terpaksa menempuh jarak yang sedemikian panjang?”

Kembali Mahisa Agni tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Kembali ia menjadi bimbang. Sesaat Mahisa Agni diam mematung. Dan karena itu, maka suasana di dalam gua itu pun menjadi sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang yang menamakan diri Buyut dari Wangon itu.

Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh pertanyaan Mahisa Agni yang tiba-tiba, “Ki Sanak, apakah yang sebenarnya kau cari di dalam gua ini? Kalau Ki Sanak sedang menderita sakit, apakah penyakit itu dan obat apakah yang harus kau temukan?”

Sekali lagi orang bongkok itu menatap gelapnya gua. Namun tak dilihatnya seorang pun. Meskipun demikian terdengar ia menjawab dengan jujur, “Ki Sanak, kami, hampir semua orang dalam padukuhan kami di Wangon terserang penyakit yang aneh. Mereka menjadi lemah dan kemudian meninggal dunia. Tidak saja orang-orang dari Wangon, namun orang-orang padukuhan di sekitarnya pun demikian pula. Akhirnya, kami mendapat petunjuk dari seorang wiku sakti, bahwa penyakit itu akan dapat dilenyapkan dengan obat yang terdapat di dalam gua ini. Akar wregu yang berwarna putih.”

Meskipun Mahisa telah menduganya, namun ketika ia mendengar orang bongkok itu mengucapkan nama akar wregu putih, hatinya berdesir pula. Ternyata orang itu pun mempunyai kepentingan yang sama meskipun alasannya berbeda-beda. Dan ternyata pula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang ganda pula. Tidak saja sebagai rangkapan trisulanya sehingga kedua pusaka itu akan menjadi satu kesatuan yang sakti tiada taranya, namun orang dari Wangon itu memerlukannya untuk obat penyakitnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain daripada berjuang kembali untuk mendapatkan pusaka itu. Buyut dari Wangon yang telah berhasil memasuki gua ini pun pasti seorang yang telah dibekali oleh ilmu yang cukup. Bahkan, Mahisa Agni menjadi heran, apakah orang ini tidak berjumpa dengan Empu Pedek sebelum memasuki gua ini? Atau Buyut dari Wangon ini telah berhasil mengalahkan orang timpang itu? Namun apa pun yang telah terjadi, maka kini Buyut Ing Wangon itu harus berhadapan dahulu dengan Mahisa Agni, murid dari padepokan Panawijen.

“Ki Sanak,” kemudian terdengar suara Mahisa Agni “tidak adakah obat lain yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit itu selain dari akar wregu putih dari dalam gua ini?”

Buyut Ing Wangon itu menjadi heran. Katanya, “Kalau ada obat yang lain, maka obat itu pasti sudah kami pergunakan. Beribu-ribu macam obat telah kami coba, namun tak ada yang bermanfaat bagi kami. Bahkan dari hari ke hari, korban dari penyakit itu semakin bertambah-tambah. Mula-mula hampir setiap lima enam hari sekali, ada korban yang meninggal dunia. Kemudian dua tiga hari seorang meninggal, jarak itu menjadi semakin dekat semakin dekat. Akhirnya kini setiap hari padukuhan kami selalu diramaikan oleh jerit tangis anak yang kehilangan orang tua mereka, atau orang-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Tidak saja seorang sehari, bahkan kadang-kadang saling berpapasan di perjalanan usungan-usungan mayat yang akan dikubur. Bahkan kadang-kadang kami membakarnya lebih dahulu belum sempat menguburkannya.

Akhirnya turunlah seorang wiku sakti, petapa di dekat kepundan Gunung Bromo. Wiku itu telah mendengar wisik dari Hyang Widi, bahwa penyakit yang sedang melanda padukuhan Wangon itu dapat disembuhkan dengan akar wregu putih yang terdapat di dalam gua, di lereng gundul Gunung Semeru. Nah, karena itulah aku datang kemari. Namun ternyata sebelum aku berangkat, penyakit itu telah melekat pula dalam tubuhku, sehingga kini aku merasa, tenagaku semakin lama menjadi semakin lemah. Tidak saja karena aku kelelahan, namun penyakit itu telah menghisap sebagian dari kekuatanku.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar pula. Akar wregu putih itu sangat berarti baginya. Ia telah menempuh jarak yang demikian panjang, dari kaki Gunung Kawi. Telah dilampauinya bermacam-macam bahaya. Binatang buas, orang-orang jahat di perjalanan. Alam dan kesulitan-kesulitan yang lain. Yang terakhir adalah seorang timpang yang bernama Empu Pedek, yang hampir saja merampas nyawanya. Kemudian lereng gundul itu sendiri. Apakah kemudian, ia tidak akan berhak memiliki akar wregu putih itu?

“Apakah yang akan aku hadapi, akar wregu itu harus aku bawa pulang dan aku serahkan kepada guruku, meskipun akan diberikan kepadaku,” katanya di dalam hati. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, selangkah ia maju dan dengan lantang ia berkata, “Ki Sanak, Buyut dari Wangon. Sayang, bahwa kau tidak akan dapat memiliki akar wregu putih itu.”

Ki Buyut dari Wangon itu terkejut bukan buatan. Dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa? Kenapa Ki Sanak?”

Terdengar pula jawaban Mahisa Agni lantang, “Akar wregu putih itu adalah milikku!”

Ki Buyut Wangon itu terdiam sejenak. Ia masih mencoba melihat bayangan Agni dalam kegelapan. Namun tak satu pun yang dapat ditangkap oleh matanya. Sejenak kemudian ia berkata,

“Jadi adalah akar wregu putih itu milik seseorang?”

“Ya,” sahut Agni pendek.

Orang itu menggeleng. Cahaya keremangan di belakang orang itu menjadi semakin terang. Namun wajah orang itu pun masih belum dapat dilihat dengan jelas oleh Mahisa Agni.

“Aneh,” gumamnya, “Wiku yang sakti itu berkata, bahwa akar wregu putih itu telah berada di tempat ini sejak tujuh ratus empat puluh tiga tahun yang lampau. Seandainya akar itu milik seseorang, apakah orang itu masih hidup sampai saat ini?”

“Aku adalah ahli warisnya,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat.

“Oh,” gumam orang itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tujuh ratus tahun adalah waktu yang panjang. Keturunan ke berapakah Ki Sanak ini?

Mahisa Agni terdiam untuk sesaat. Pertanyaan itu sulit dijawabnya. Meskipun demikian Mahisa Agni itu meneruskan jawaban pula, “Aku tidak tahu Ki Buyut, namun kami mendengar turun temurun dari nenek-nenek kami, bahwa kami adalah ahli waris dari akar wregu di dalam gua di lereng gundul Gunung Semeru.”

Orang itu diam pula sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepala ia kemudian berkata, “Hem. Bagaimanakah kalau aku juga berkata demikian. Aku juga mendapat hak dari pewarisnya. Wiku sakti itu adalah ahli waris yang sah dari akar wregu itu.”

“Bohong!” potong Mahisa Agni, “Bukankah Wiku itu mendengar dari wisik Sang Hyang Widi?”

“Aku belum mengatakan bagaimana bunyi wisik itu,” sahut Buyut Wangon.

“Tidak perlu!” kembali Agni memotong, “kau akan membuat suatu cerita tentang bunyi wisik itu.”

“Ki Sanak,” berkata Buyut dari Wangon itu. Kemudian kata-katanya terdengar lemah dan perlahan-lahan, “Baiklah. Seandainya ada ahli waris dari pemilik akar wregu itu sekali pun. Namun kita berdua datang pada waktu yang berbeda. Aku ternyata lebih dahulu dari Ki Sanak. Kita telah datang pada saat yang hampir bersamaan. Dan kita masing-masing tak dapat menunjukkan kebenaran tentang ahli waris itu. Karena itu biarlah aku yang datang lebih dahulu dapat memilikinya.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar