Dan Mahisa Agni berdesir mendengar perkataan Buyut Wangon itu. Dengan demikian, semakin yakinlah ia, bahwa ia harus merebut akar itu dengan suatu perjuangan pula. Karena itu maka jawabnya,
“Ki Buyut, Kita tidak sedang berlomba berebut dahulu. Terapi kita sekarang memperebutkan akar wregu putih itu.”
Buyut Wangon itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Ki Sanak bersikeras untuk mendapatkan akar itu, apakah sebenarnya keperluan Ki Sanak dengan akar itu? Apakah di daerah Ki Sanak juga terdapat wabah penyakit seperti daerah Wangon?”
“Apapun yang akan aku lakukan atas akar itu, bukanlah kepentinganmu,” sabut Mahisa Agni.
Kembali Ki Buyut itu terdiam. Dengan lemahnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun agaknya orang itu tidak berputus asa. Katanya, “Ki Sanak. Aku minta dengan sangat, biarlah aku membawa akar ini, demi keselamatan beratus-ratus bahkan lebih dari seribu orang di berbagai daerah sekitar Wangon.”
“Tidak!” jawab Agni tegas.
Tiba-tiba orang bongkok itu berdiri. Dengan berpegangan pada dinding gua ia berkata, “Aku akan mengambil akar wregu itu. Aku tidak dapat membiarkan seluruh penduduk Wangon dan sekitarnya menjadi tumpas karena penyakit terkutuk itu Dan tentu saja aku ingin menyelamatkan nyawaku sendiri pula.”
Sebelum Mahisa Agni menjawab orang itu sudah melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba ia terhenti pula ketika Mahisa Agni membentak, “Berhenti! Jangan maju lagi meskipun hanya selangkah!”
Orang itu berpaling. Namun belum juga dilihatnya Mahisa Agni. Katanya, “Apakah Ki Sanak tidak juga dapat mengerti? Apakah tidak ada rasa perikemanusiaan sama sekali di dalam dada Ki Sanak?”
Namun akar wregu putih itu, bagi Mahisa Agni adalah benda yang sangat berharga. Karena itu jawabnya lantang, “Ki Buyut dari Wangon. Kita bersama-sama menganggap benda itu sangat penting bagi diri kita masing-masing. Kita masing-masing sudah menempuh jarak yang tak terkirakan jauh dan bahayanya. Kini kita berhadapan di dalam gua ini. Karena itu, biarlah kita selesaikan persoalan kita, seperti persoalan-persoalan lain yang timbul di perjalanan. Kita tentukan siapakah di antara kita yang berhak memiliki akar wregu putih itu.”
Orang bongkok itu masih berdiri di tempatnya sambil berpegangan dinding gua. Ketika ia mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun ia menjadi terkejut. Maka katanya,
“Apakah maksud Ki Sanak itu? Bagaimanakah kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang berhak memiliki wregu itu?”
“Kita adalah laki-laki,” sahut Mahisa Agni, “Kita telah berani menempuh perjalanan ini. Karena itu nyawa kita pertaruhkan. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur sampai ada di antara kita yang mencabut keinginan kita untuk memiliki benda itu. Hidup atau mati!”
“Oh,” ternyata Buyut Wangon itu terkejut bukan buatan. Dan terlontarlah pertanyaan dari mulutnya, “Jadi haruskah kita berkelahi?”
“Ya!” jawab Mahisa Agni pendek.
“Oh,” orang itu tiba-tiba mengelus dadanya, dan tampaklah tiba-tiba pula ia menjadi gemetar. Katanya, “Ki Sanak, aku datang kemari dari jarak yang jauh itu untuk menghindarkan kematian dari orang-orang di Wangon. Kenapa tiba-tiba aku di sini dihadapkan pada kemungkinan untuk mati dengan cara yang demikian? Ki Sanak, aku tak pernah membayangkan, bahwa seseorang dapat berbuat seperti Ki Sanak itu. Aku tidak pernah dapat mengerti, kenapa seseorang harus berkelahi?”
“Sekarang kau akan mengerti Ki Buyut,” sanggah Mahisa Agni, “dalam keadaan seperti keadaan kita sekarang. Tak ada cara penyelesaian yang lain!”
“Aku kira Ki Sanak bisa mengerti, demi perasaan ke perikemanusiaan yang ada di dalam dadamu, meskipun hanya sepercik kecil.”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Namun benda itu sudah diusahakannya dengan melintasi bahaya. Karena itu kembali tekad yang bulat mencengkam dadanya. Maka jawabnya,
”Aku akan mengambil akar itu.”
“Jangan Ki Sanak!” pinta Buyut Wangon itu sambil gemetar, “Aku tidak pernah membayangkan untuk berkelahi dengan siapa pun, namun ribuan orang di sekitar daerah Wangon menanti kedatanganku dengan obat itu.”
“Aku tidak peduli!” jawab Agni singkat.
Orang itu masih memegangi dadanya seakan-akan takut akan pecah. Dan terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Katakanlah, apakah gunanya akar itu bagi Ki Sanak? Apakah Ki Sanak akan mempergunakannya sebagai obat seperti aku akan mempergunakannya? Apabila demikian Ki Sanak, biarlah aku mengalah. Sebab kegunaan akar wregu itu akan sama saja, di tempat Ki Sanak atau di Wangon. Kedua-duanya memungkinkan tertolongnya ribuan jiwa, termasuk perempuan dan kanak-kanak. Atau apabila Ki Sanak rela, aku hanya ingin mendapat sepotong daripadanya. Mudah-mudahan akan mampu menolong jiwa orang-orang di sekitar tempat Ki Sanak dan orang-orang di Wangon sekaligus.”
Kembali terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Ribuan orang akan diselamatkan oleh akar wregu putih itu. Tetapi ketika kembali diingatnya, bahwa akar itu adalah rangkapan pusakanya, yang dapat menjadikannya sakti tiada taranya, maka kembali ia berkata,
“Jangan ributkan kegunaannya! Minggir! Aku akan mengambil akar wregu itu.”
Kini Mahisa Agni tidak menunggu jawaban lagi. Ia maju beberapa langkah sambil berkata, “Kalau kau ingin menentukan siapa di antara kita yang berhak memiliki akar wregu itu, bersiaplah. Kalau tidak, minggirlah!”
Orang itu tidak menjawab pertanyaan Agni. Bahkan dengan serta-merta ia memutar tabuhnya, dan dengan sekuat ia dapat, maka orang bongkok itu mencoba berlari tersuruk-suruk masuk ke pusat gua itu. Sesaat Mahisa Agni tertegun. Ia menjadi sedemikian heran. Orang bongkok itu sama sekali tidak bersiap untuk melawannya, tetapi orang itu telah mencoba untuk berlari mendahuluinya. Ketika Mahisa Agni tersadar akan keadaan itu, maka ia pun tidak mau terlambat. Karena itu segera ia berteriak nyaring,
“He, Buyut Ing Wangon. Berhentilah!”
Tetapi orang bongkok itu berlari terus. Terhuyung-huyung dan kadang-kadang tubuhnya terbanting-banting di sisi gua. Namun ia berlari terus.
Mahisa Agni kemudian menjadi marah karenanya. Dan terdengarlah sekali lagi ia berteriak, “He, bongkok! Berhenti atau aku terpaksa menghentikanmu!”
Kali ini pun Buyut Ing Wangon itu seolah-olah tidak mendengarnya. Ia masih berlari terus, namun larinya tidak lebih dari kecepatan anak-anak yang sedang belajar berjalan.
Mahisa Agni itu kini benar telah menjadi marah. Ia merasa seakan-akan Buyut Ing Wangon itu sama sekali tak menghiraukan kehadirannya. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni itu pun meloncat menyusulnya. Tidak lebih dari sepuluh langkah Mahisa Agni telah mencapai buyut bongkok itu. Dengan satu sentuhan yang menyentak orang bongkok itu telah terpelanting membentur mulut gua, dan kemudian jatuh terjerembab di lantai yang lembab.
Mahisa Agni kemudian berdiri di sisinya sambil menggeram. Dengan tajam ia memandangi Buyut Wangon itu sambil berkata, “Jangan mencoba melawan kehendakku!”
Terdengar Buyut Ing Wangon itu mengeluh. Sesaat terdengar pula ia merintih. Katanya, “Ki Sanak, kenapa Ki Sanak menyakiti aku?”
“Kau tidak mau mendengar kata-kataku. Kalau kau ingin mendapat akar wregu putih itu, marilah kita bertempur. Kalau tidak jangan mencoba menghalangi aku,” sahut Mahisa Agni.
Dengan susah payah Buyut Ing Wangon itu mencoba duduk. Mulutnya masih saja berdesis menahan hati. Dan terdengarlah ia berkata terbata-bata, “Ki Sanak. Apakah hal yang demikian itu wajar?”
“Lalu?” bertanya Agni, “Apakah kau mempunyai cara lain?”
“Sudah aku katakan Ki Sanak. Aku datang lebih dahulu dari Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu. Sesaat ia berhenti menelan ludahnya. Kemudian katanya, “Kalau hal itu Ki Sanak menganggap tak sepantasnya, maka katakanlah, apakah keperluanmu dengan akar wregu itu. Marilah kita bicarakan manakah yang paling penting penggunaannya. Ki Sanak atau aku. Kalau ternyata keperluan Ki Sanak jauh lebih penting dari keperluanku, biarlah aku mengalah Aku tak akan kembali lagi ke Wangon, sebab aku sendiri pasti sudah akan mati karena penyakitku itu di sini.”
Sekali lagi terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia membulatkan tekadnya. Pusaka itu akan ditebusnya dengan apa saja. Dengan tenaganya, dengan darahnya dan dengan mengorbankan perasaannya.
Karena itu Mahisa Agni itu pun menjawab, “Jangan bertanya lagi kegunaan akar wregu itu bagiku.”
Buyut Ing Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia mengeluh kemudian katanya lemah, “Lalu bagaimanakah kita bisa menentukan, siapakah yang lebih penting di antara kita?”
“Jangan ributkan kepentingan kita masing-masing,” bantah Agni.
“Oh, alangkah malangnya dunia ini,” desah Buyut Wangon, “apabila setiap persoalan hanya dapat ditentukan dengan kekerasan. Akan lenyaplah martabat kita sebagai manusia yang berakal budi.”
Kata-kata Buyut Wangon itu langsung menghunjam ke jantung Mahisa Agni. Sesaat ia terbungkam, dan terasa getaran-getaran di dadanya. Namun demikian dicobanya sekuat tenaga untuk menekan perasaan itu,
“Aku bukan perempuan yang cengeng, yang dapat terpengaruh oleh persoalan-persoalan yang tak berarti.” Dan tiba-tiba saja meledaklah jawabnya, “Buyut dari Wangon. Jangan menjual belas kasihanku di sini. Kalau aku berbuat seperti berbuat seperti perbuatanku kini, pastilah sudah aku pertimbangkan baik buruknya. Kau hanya mampu berpikir pada masalah-masalah sekitar daerahmu saja. Daerah Wangon dan sekitarnya. Namun aku telah menjelajahi berbagai daerah, berbagai persoalan dan berbagai masalah. Karena itu akar itu jauh bermanfaat bagiku daripada bagimu.”
Buyut Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi beribu-ribu jiwa di Wangon menanti penyembuhannya. Kalau tidak, maka mereka akan menjadi seperti babatan paying. Malang melintang, mati tak terurus. Sebab semua orang akan mati pula karenanya.”
Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan melemparkan getaran kata-kata Buyut Wangon yang menyentuh telinganya.
“Tidak! Tidak!” tiba-tiba ia berteriak, “Aku tidak peduli urusanmu!”
Mahisa Agni tidak menunggu orang bongkok itu berkata-kata pula. Seakan-akan ia menjadi takut terhadap setiap persoalan yang dikatakan oleh orang bongkok itu. Dengan serta-merta, Mahisa Agni itu pun segera memutar tubuhnya, dan bersiap untuk segera memasuki gua itu lebih dalam lagi. Tetapi ia terkejut, ketika tiba-tiba terasa Buyut Ing Wangon itu memeluk kakinya sambil memeganginya kuat-kuat. Kemudian terdengarlah ia berkata,
“Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku sekarang.”
Mahisa Agni menghentak-hentakkan kakinya. Terdengar ia pun berteriak, “Lepaskan! Lepaskan!”
Namun Buyut Wangon tidak mau melepaskannya. Bahkan orang bongkok itu mencoba untuk memegangnya lebih erat lagi. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni menjadi marah kembali. Dengan satu hentakkan yang keras, Buyut Wangon itu terlempar beberapa langkah dan terbanting di lantai gua itu. Terdengar ia berteriak kesakitan. Namun ia masih juga berkata di antara desisnya,
“Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengarnya lagi. Cepat-cepat ia berlari. Berlari. Sedang kedua tangannya dengan kerasnya menyumbat kedua telinganya. Mahisa Agni berusaha secepat-cepatnya untuk menjauhi Buyut Ing Wangon yang masih terkapar sambil merintih-rintih, seakan-akan takut dikejarnya. Namun sebenarnya Mahisa Agni tidak merasa takut sedikit pun seandainya Buyut Wangon itu mengejarnya dan berusaha melawannya. Sejak semula ia sudah siap untuk bertempur. Tetapi ia takut terhadap perasaannya sendiri. Keluhan orang bongkok itu ternyata selalu menimbulkan getaran-getaran di dalam dadanya. Dan ia tidak mau perasaannya menjadi runtuh karenanya.
Sekali-kali kaki Mahisa Agni terperosok pada lubang-lubang di lantai gua. Bahkan beberapa kali Mahisa Agni itu jatuh terjerembab, namun kemudian ia bangkit lagi dan berlari kembali sambil meraba-raba dinding. Meskipun ia tidak dapat lari secepat-cepatnya, namun semakin lama ia menjadi semakin jauh dari Buyut Wangon. Dan ketika ia sudah tidak mendengar suara rintihan orang bongkok itu, Mahisa Agni pun berhenti Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Namun yang dilihatnya adalah sebuah takbir yang kelam di belakangnya. Kini barulah ia sadar, bahwa dirinya berada di dalam cengkaman dinding-dinding gua yang hitam pekat.
Nafas Mahisa Agni itu pun terdengar berkejar-kejaran dari lubang hidungnya. Terasa betapa cepatnya. Dengan susah payah Agni mencoba menenangkan dirinya. Buyut dari Wangon itu ternyata mempunyai kesan yang aneh di dalam hati Mahisa Agni. Setelah ia menempuh perjalanan yang berat, dan mengalami banyak rintangan-rintangan, orang-orang jahat dan orang-orang yang mencoba mencegahnya tanpa menimbulkan kecemasan di dalam dirinya, namun kini tiba-tiba ditemui seorang yang lemah, sakit, bahkan hampir mati. Namun orang itu benar-benar mengganggu perasaannya.
“Persetan dengan orang itu!” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram.
Ia ingin mencoba menekan perasaannya. Akar wregu putih itu baginya adalah benda yang akan menjadi sangat berharga. Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sekali lagi ia berjuang untuk tidak terpengaruh oleh setiap perasaan yang mengganggu pekerjaannya. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun melangkahkan kakinya. Ia harus segera menemukan akar wregu putih itu.
Ternyata Mahisa Agni sudah tidak begitu jauh lagi dari pusat gua. Ketika sekali lagi menemui lubang udara, maka segera ia pun mengetahui, bahwa matahari telah tinggi di langit yang biru. Dari lubang itu Mahisa Agni melihat betapa cerahnya udara, dan cerahnya sinar matahari. Namun ia masih harus berada di dalam gua yang hitam kelam itu. Mahisa Agni berjalan kembali beberapa langkah, kemudian terasa kakinya menyentuh tangga-tangga yang membawanya mendaki. Namun tangga-tangga itu tidak begitu tinggi, sehingga, segera ia sampai di ujungnya. Sekali ia membelok ke kiri, kemudian sekali lagi Mahisa Agni melihat seberkas sinar jatuh di lantai gua.
Mahisa Agni masih melangkah maju. Bahkan ia masih tetap berjalan dengan penuh kewaspadaan. Ternyata beberapa orang telah ditemuinya. Dan di antara mereka telah mengetahui pula adanya akar wregu putih itu sehingga tidak mustahil bahwa ada orang-orang lain lagi yang telah mengetahuinya pula, selain Buyut dari Wangon, Empu Pedek, orang dari Gunung Merapi yang tak diketahui namanya, dan gurunya. Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Tiba-tiba ia cemas. Tidak pula mustahil, bahwa akar itu telah diambil pula oleh seseorang yang datang lebih dahulu daripadanya beberapa hari atau beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun yang lalu, setelah gurunya mengunjungi gua ini.
“Hem,” gumamnya, “kenapa guru tidak mengambilnya saja pada waktu itu?”
Namun Mahisa Agni menyadarinya kembali, bahwa pasti ada alasan-alasan tertentu, sehingga gurunya berbuat demikian. Alasan-alasan yang tak diketahuinya dan tak diberitahukannya kepadanya. Tiba-tiba debar jantung Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cepat. Terasa sesuatu menyentuh perasaannya. Firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa perjalanannya hampir sampai ke tujuannya. Ketika sekali lagi Mahisa Agni menikung ke kanan, dilihatnya kembali semakin terang. Dan ternyata lubang ini agak lebih besar daripada yang pernah ditemuinya.
Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah maju. Dengan penuh kewaspadaan dipandangnya setiap sudut gua yang terbentang di hadapannya. Tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Di bawah berkas sinar yang jatuh itu dilihatnya dinding gua itu terputus. Ia tidak melihat lagi sebuah lubang pun pada dinding-dinding itu, sehingga tiba-tiba ia bergumam,
“Apakah aku sudah sampai ke ujung gua ini?”
Debar dada Mahisa Agni menjadi kian cepat. Dan darahnya terasa seakan-akan membeku ketika matanya terbentur pada sebuah lubang kecil di dinding gua. Di dalam lubang itu dilihatnya, apa yang dicarinya selama ini. Kain yang berwarna merah, namun karena tuanya, maka warna itu telah hampir lenyap dan bertapikan kain putih yang sudah kekuning-kuningan. Tiba-tiba tubuh Mahisa Agni menjadi gemetar karenanya. Terasa sesuatu melonjak di dalam ruang dadanya. Sesaat ia diam mematung, seolah-olah ia menjadi kehilangan kesadaran.
Namun sesaat kemudian dengan serta-merta ia meloncat untuk meraih benda yang akan dapat ikut serta menentukan perjalanan hidupnya. Tetapi karena ia sedemikian tergesa-gesa sehingga Agni itu pun terpeleset dan jatuh terbanting di lantai gua yang berbatu-batu padas. Terdengar ia mengeluh pendek. Namun perasaan sakit di lututnya sama sekali tak dihiraukannya. Sekali lagi ia bangkit, dan sekali lagi ia meloncat. Kali ini ia berhasil. Digenggamnya benda itu erat-erat, dan kemudian dengan tangan yang gemetar diurainya kain pembalutnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Kini digenggamnya sepotong akar wregu yang panjangnya kira-kira dua cengkang. Dengan tangan yang gemetar diciumnya akar wregu itu sambil bergumam dengan suara parau,
“Terpujilah Namamu, Yang Maha Agung.”
Betapa besar hati Mahisa Agni setelah ia memegang benda yang selama ini dicarinya dengan banyak pengorbanan. Benda yang akan menjadikan manusia jantan yang pilih tanding. Benda yang dapat menjadikannya manusia yang sukar dicari bandingnya. Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni seakan-akan tenggelam dalam sebuah mimpi yang indah. Mimpi tentang masa depannya yang cerah. Terngianglah di sudut hatinya kata-katanya sendiri,
“Ayo, siapakah yang akan berani melawan kehendak Mahisa Agni? Apapun yang akan aku lakukan tak seorang pun yang dapat mencegahnya. Dengan benda ini dan trisula yang sakti itu, akan dapat aku gulung dunia ini.”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun tertawa sendiri. Dan tiba-tiba ia berdiri bertolak pinggang sambil berkata lantang, “Inilah Mahisa Agni. Manusia tersakti di muka bumi.”
Dan seperti orang yang kehilangan ingatan, sekali lagi akar wregu putih itu diciuminya. Namun semakin lama, Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tenang. Seolah-olah anak muda itu tersadar dari tidurnya yang ditandu dengan mimpi yang mengagumkan. Perlahan-lahan segenap ingatan yang terang kembali merayapi hati Mahisa Agni kemudian berhasil kembali menguasai dirinya, menguasai luapan perasaannya. Bahkan tiba-tiba ia menjadi malu sendiri, setelah disadarinya, Apa yang baru saja dilakukannya.
Maka Mahisa Agni itu kemudian dengan langkah satu-satu berjalan menepi. Kemudian perlahan-lahan pula ia meletakkan dirinya duduk bersandar dinding gua. Diambilnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Dan baru kemudian ia mengamat-amati akar wregu di tangannya.
Akar wregu itu adalah akar wregu seperti yang pernah dilihatnya. Tidak ada kekhususannya, selain warnanya yang memang agak keputih-putihan. Bahkan warna putih itu pun tidak memberikan kesan apa pun pada penglihatan Mahisa Agni. Namun bagaimana pun juga, gurunya telah berkata kepadanya bahwa benda itu akan dapat menjadi rangkapan pusakanya, sehingga kedua pusaka itu akan merupakan sepasang pusaka yang tak ada bandingnya.
Sekali-kali terasa juga keragu-raguan di dalam dada Mahisa Agni itu. Apakah tidak mustahil bahwa seseorang telah datang mendahuluinya dan menukar akar wregu ini dengan akar wregu yang lain? Ketika sekali lagi Mahisa Agni memandang akar wregu dalam cahaya yang jatuh lewat lubang-lubang di atas gua itu, sekali lagi tergores suatu pertanyaan di dalam dadanya. Apakah benar akar yang dicarinya itu, adalah yang kini digenggamnya?
“Ah, tentu,” gumamnya tiba-tiba. Ia telah berjalan sampai ke ujung gua ini. Dan benda inilah satu-satunya yang ditemukannya. Apabila seseorang telah datang lebih dahulu daripadanya, apakah perlunya orang itu menukarnya? Kenapa tidak saja benda itu pun diambilnya?
Dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera teringat kepada orang timpang di kaki lereng gundul ini. Empu Pedek. Beberapa keanehan telah mengganggu otaknya. Kenapa Empu Pedek itu tidak mendahuluinya mengambili pusaka ini. Seandainya demikian, bukankah akibatnya akan sama saja baginya. Ia masih akan tetap pada keadaannya, dan kemungkinan untuk mengetahui orang-orang lain yang akan mengambil akar itu, dengan harapan untuk menemukan trisulanya. Sebab sebelum seseorang memiliki kedua-duanya, maka ia belum seorang yang sakti tanpa tanding. Sehingga betapapun saktinya Empu Pendek, namun tak semua orang di bawah kolong langit ini dapat dikalahkannya. Juga belum pasti orang yang memiliki trisula itu pun dapat dikalahkannya pula.
Dalam pada itu timbul pula dugaannya, bahwa sebenarnya seseorang telah mengambil akar wregu yang sebenarnya. Namun telah ditukarkannya dengan benda yang lain, sehingga dengan demikian, tak ada orang yang akan mengejarnya. Orang yang menemukan akar itu kemudian akan menyangka bahwa akar itu adalah akar yang sebenarnya, dan tidak dicarinya pula akar wregu putih itu, sehingga sampai pada saatnya, ditemukannya rangkapannya. Trisula.
Berbagai-bagai persoalan datang hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Namun akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Biarlah apa yang ada ini aku bawa kembali. Guru telah pernah melihatnya dahulu, sehingga Empu Purwa itu pasti akan dapat mengetahuinya, apakah akar wregu inilah yang sebenarnya harus aku cari. Apabila ternyata keliru, maka betapapun beratnya, aku harus berjalan kembali untuk menemukan akar yang sebenarnya itu. Yang pertama-tama harus ditemukan adalah orang timpang yang menamakan diri Empu Pedek itu.”
Kini Mahisa Agni telah benar-benar menjadi tenang. Bahkan kini terasa olehnya, betapa tubuhnya menjadi penat. Telah sehari semalam, bahkan lebih, ia berada dalam ketegangan lahir batin. Apalagi setelah ia berjuang memeras tenaga melawan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Karena itu, maka baru kini terasa, persendiannya sakit-sakit dan pedih-pedih menjalari di seluruh telapak tangan dan kakinya. Bahkan dilihatnya pula beberapa goresan merah pada lutut dan lengannya.
“Aku harus beristirahat,” gumamnya.
Sebab Mahisa Agni itu pun sadar bahwa perjalanan pulang ke Panawijen itu pun akan mempunyai persoalan-persoalannya sendiri. Tidak terlalu jauh. Di bawah lereng ini, Empu Pedek masih menunggunya. Orang itu pasti belum akan melepaskan niatnya untuk memiliki trisulanya dan sekaligus akar wregu putih ini.
“Sayang,” desah Agni tiba-tiba, “Kalau trisula itu aku bawa serta maka aku akan keluar dari gua ini dengan pasti, bahwa tak seorang pun akan dapat mengalahkan aku.”
Tetapi tiba-tiba pikiran itu terdorong pula oleh sebuah pikiran yang lain, “Bagaimana kalau aku binasa sebelum sampai ke gua ini, atau akar ini bukanlah akar wregu putih yang sebenarnya?”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak mau berpikir lagi. Ia hanya ingin beristirahat, untuk kemudian keluar dari gua ini dengan tenaga yang cukup untuk menghadapi setiap kemungkinan. Demikianlah kemudian Mahisa Agni itu duduk sambil menjulurkan kedua kakinya lurus-lurus sambil bersandar ke dinding. Dicobanya untuk benar-benar dapat beristirahat dan mengumpulkan segenap kekuatannya kembali. Meskipun perlahan-lahan namun pasti, Mahisa Agni telah menemukan kesegaran tenaganya kembali, sekali-kali dipijitnya kakinya dan direntangkannya tangannya.
Sesaat kemudian Mahisa Agni itu berdiri. Ketika kantuknya tiba-tiba menyerang, dicobanya pula untuk melawannya. Ia tidak mau tertidur dan ia tidak mau seseorang datang kepadanya, membunuhnya selagi ia tidur dan mengambil akar wregu yang sudah di tangannya itu.
Setelah beberapa kali menggeliat, serta telah digerak-gerakkannya tangan serta kakinya, maka Mahisa Agni merasa, bahwa sebagian besar tenaganya telah pulih kembali. Meskipun hampir dua hari ia tidak makan apapun, namun Mahisa Agni telah menjadi biasa dengan keadaan itu.
Di padepokannya pun ia sering melakukannya. Tidak makan dan tidak minum sebagai laku prihatinnya. Dan kini, ternyata apa yang sejak lama telah dilakukannya itu sangat bermanfaat baginya. Apalagi pada saat-saat ia mempertaruhkan benda yang dianggapnya sangat berharga itu, maka Mahisa Agni itu pun sama sekali tidak merasakan lapar.
Kini Mahisa Agni telah bersiap untuk keluar kembali dari gua. Diaturnya perasaannya serta diaturnya tenaganya. Se….. (hilang beberapa paragraph)
“Ki Buyut, Kita tidak sedang berlomba berebut dahulu. Terapi kita sekarang memperebutkan akar wregu putih itu.”
Buyut Wangon itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Ki Sanak bersikeras untuk mendapatkan akar itu, apakah sebenarnya keperluan Ki Sanak dengan akar itu? Apakah di daerah Ki Sanak juga terdapat wabah penyakit seperti daerah Wangon?”
“Apapun yang akan aku lakukan atas akar itu, bukanlah kepentinganmu,” sabut Mahisa Agni.
Kembali Ki Buyut itu terdiam. Dengan lemahnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun agaknya orang itu tidak berputus asa. Katanya, “Ki Sanak. Aku minta dengan sangat, biarlah aku membawa akar ini, demi keselamatan beratus-ratus bahkan lebih dari seribu orang di berbagai daerah sekitar Wangon.”
“Tidak!” jawab Agni tegas.
Tiba-tiba orang bongkok itu berdiri. Dengan berpegangan pada dinding gua ia berkata, “Aku akan mengambil akar wregu itu. Aku tidak dapat membiarkan seluruh penduduk Wangon dan sekitarnya menjadi tumpas karena penyakit terkutuk itu Dan tentu saja aku ingin menyelamatkan nyawaku sendiri pula.”
Sebelum Mahisa Agni menjawab orang itu sudah melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba ia terhenti pula ketika Mahisa Agni membentak, “Berhenti! Jangan maju lagi meskipun hanya selangkah!”
Orang itu berpaling. Namun belum juga dilihatnya Mahisa Agni. Katanya, “Apakah Ki Sanak tidak juga dapat mengerti? Apakah tidak ada rasa perikemanusiaan sama sekali di dalam dada Ki Sanak?”
Namun akar wregu putih itu, bagi Mahisa Agni adalah benda yang sangat berharga. Karena itu jawabnya lantang, “Ki Buyut dari Wangon. Kita bersama-sama menganggap benda itu sangat penting bagi diri kita masing-masing. Kita masing-masing sudah menempuh jarak yang tak terkirakan jauh dan bahayanya. Kini kita berhadapan di dalam gua ini. Karena itu, biarlah kita selesaikan persoalan kita, seperti persoalan-persoalan lain yang timbul di perjalanan. Kita tentukan siapakah di antara kita yang berhak memiliki akar wregu putih itu.”
Orang bongkok itu masih berdiri di tempatnya sambil berpegangan dinding gua. Ketika ia mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun ia menjadi terkejut. Maka katanya,
“Apakah maksud Ki Sanak itu? Bagaimanakah kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang berhak memiliki wregu itu?”
“Kita adalah laki-laki,” sahut Mahisa Agni, “Kita telah berani menempuh perjalanan ini. Karena itu nyawa kita pertaruhkan. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur sampai ada di antara kita yang mencabut keinginan kita untuk memiliki benda itu. Hidup atau mati!”
“Oh,” ternyata Buyut Wangon itu terkejut bukan buatan. Dan terlontarlah pertanyaan dari mulutnya, “Jadi haruskah kita berkelahi?”
“Ya!” jawab Mahisa Agni pendek.
“Oh,” orang itu tiba-tiba mengelus dadanya, dan tampaklah tiba-tiba pula ia menjadi gemetar. Katanya, “Ki Sanak, aku datang kemari dari jarak yang jauh itu untuk menghindarkan kematian dari orang-orang di Wangon. Kenapa tiba-tiba aku di sini dihadapkan pada kemungkinan untuk mati dengan cara yang demikian? Ki Sanak, aku tak pernah membayangkan, bahwa seseorang dapat berbuat seperti Ki Sanak itu. Aku tidak pernah dapat mengerti, kenapa seseorang harus berkelahi?”
“Sekarang kau akan mengerti Ki Buyut,” sanggah Mahisa Agni, “dalam keadaan seperti keadaan kita sekarang. Tak ada cara penyelesaian yang lain!”
“Aku kira Ki Sanak bisa mengerti, demi perasaan ke perikemanusiaan yang ada di dalam dadamu, meskipun hanya sepercik kecil.”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Namun benda itu sudah diusahakannya dengan melintasi bahaya. Karena itu kembali tekad yang bulat mencengkam dadanya. Maka jawabnya,
”Aku akan mengambil akar itu.”
“Jangan Ki Sanak!” pinta Buyut Wangon itu sambil gemetar, “Aku tidak pernah membayangkan untuk berkelahi dengan siapa pun, namun ribuan orang di sekitar daerah Wangon menanti kedatanganku dengan obat itu.”
“Aku tidak peduli!” jawab Agni singkat.
Orang itu masih memegangi dadanya seakan-akan takut akan pecah. Dan terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Katakanlah, apakah gunanya akar itu bagi Ki Sanak? Apakah Ki Sanak akan mempergunakannya sebagai obat seperti aku akan mempergunakannya? Apabila demikian Ki Sanak, biarlah aku mengalah. Sebab kegunaan akar wregu itu akan sama saja, di tempat Ki Sanak atau di Wangon. Kedua-duanya memungkinkan tertolongnya ribuan jiwa, termasuk perempuan dan kanak-kanak. Atau apabila Ki Sanak rela, aku hanya ingin mendapat sepotong daripadanya. Mudah-mudahan akan mampu menolong jiwa orang-orang di sekitar tempat Ki Sanak dan orang-orang di Wangon sekaligus.”
Kembali terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Ribuan orang akan diselamatkan oleh akar wregu putih itu. Tetapi ketika kembali diingatnya, bahwa akar itu adalah rangkapan pusakanya, yang dapat menjadikannya sakti tiada taranya, maka kembali ia berkata,
“Jangan ributkan kegunaannya! Minggir! Aku akan mengambil akar wregu itu.”
Kini Mahisa Agni tidak menunggu jawaban lagi. Ia maju beberapa langkah sambil berkata, “Kalau kau ingin menentukan siapa di antara kita yang berhak memiliki akar wregu itu, bersiaplah. Kalau tidak, minggirlah!”
Orang itu tidak menjawab pertanyaan Agni. Bahkan dengan serta-merta ia memutar tabuhnya, dan dengan sekuat ia dapat, maka orang bongkok itu mencoba berlari tersuruk-suruk masuk ke pusat gua itu. Sesaat Mahisa Agni tertegun. Ia menjadi sedemikian heran. Orang bongkok itu sama sekali tidak bersiap untuk melawannya, tetapi orang itu telah mencoba untuk berlari mendahuluinya. Ketika Mahisa Agni tersadar akan keadaan itu, maka ia pun tidak mau terlambat. Karena itu segera ia berteriak nyaring,
“He, Buyut Ing Wangon. Berhentilah!”
Tetapi orang bongkok itu berlari terus. Terhuyung-huyung dan kadang-kadang tubuhnya terbanting-banting di sisi gua. Namun ia berlari terus.
Mahisa Agni kemudian menjadi marah karenanya. Dan terdengarlah sekali lagi ia berteriak, “He, bongkok! Berhenti atau aku terpaksa menghentikanmu!”
Kali ini pun Buyut Ing Wangon itu seolah-olah tidak mendengarnya. Ia masih berlari terus, namun larinya tidak lebih dari kecepatan anak-anak yang sedang belajar berjalan.
Mahisa Agni itu kini benar telah menjadi marah. Ia merasa seakan-akan Buyut Ing Wangon itu sama sekali tak menghiraukan kehadirannya. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni itu pun meloncat menyusulnya. Tidak lebih dari sepuluh langkah Mahisa Agni telah mencapai buyut bongkok itu. Dengan satu sentuhan yang menyentak orang bongkok itu telah terpelanting membentur mulut gua, dan kemudian jatuh terjerembab di lantai yang lembab.
Mahisa Agni kemudian berdiri di sisinya sambil menggeram. Dengan tajam ia memandangi Buyut Wangon itu sambil berkata, “Jangan mencoba melawan kehendakku!”
Terdengar Buyut Ing Wangon itu mengeluh. Sesaat terdengar pula ia merintih. Katanya, “Ki Sanak, kenapa Ki Sanak menyakiti aku?”
“Kau tidak mau mendengar kata-kataku. Kalau kau ingin mendapat akar wregu putih itu, marilah kita bertempur. Kalau tidak jangan mencoba menghalangi aku,” sahut Mahisa Agni.
Dengan susah payah Buyut Ing Wangon itu mencoba duduk. Mulutnya masih saja berdesis menahan hati. Dan terdengarlah ia berkata terbata-bata, “Ki Sanak. Apakah hal yang demikian itu wajar?”
“Lalu?” bertanya Agni, “Apakah kau mempunyai cara lain?”
“Sudah aku katakan Ki Sanak. Aku datang lebih dahulu dari Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu. Sesaat ia berhenti menelan ludahnya. Kemudian katanya, “Kalau hal itu Ki Sanak menganggap tak sepantasnya, maka katakanlah, apakah keperluanmu dengan akar wregu itu. Marilah kita bicarakan manakah yang paling penting penggunaannya. Ki Sanak atau aku. Kalau ternyata keperluan Ki Sanak jauh lebih penting dari keperluanku, biarlah aku mengalah Aku tak akan kembali lagi ke Wangon, sebab aku sendiri pasti sudah akan mati karena penyakitku itu di sini.”
Sekali lagi terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia membulatkan tekadnya. Pusaka itu akan ditebusnya dengan apa saja. Dengan tenaganya, dengan darahnya dan dengan mengorbankan perasaannya.
Karena itu Mahisa Agni itu pun menjawab, “Jangan bertanya lagi kegunaan akar wregu itu bagiku.”
Buyut Ing Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia mengeluh kemudian katanya lemah, “Lalu bagaimanakah kita bisa menentukan, siapakah yang lebih penting di antara kita?”
“Jangan ributkan kepentingan kita masing-masing,” bantah Agni.
“Oh, alangkah malangnya dunia ini,” desah Buyut Wangon, “apabila setiap persoalan hanya dapat ditentukan dengan kekerasan. Akan lenyaplah martabat kita sebagai manusia yang berakal budi.”
Kata-kata Buyut Wangon itu langsung menghunjam ke jantung Mahisa Agni. Sesaat ia terbungkam, dan terasa getaran-getaran di dadanya. Namun demikian dicobanya sekuat tenaga untuk menekan perasaan itu,
“Aku bukan perempuan yang cengeng, yang dapat terpengaruh oleh persoalan-persoalan yang tak berarti.” Dan tiba-tiba saja meledaklah jawabnya, “Buyut dari Wangon. Jangan menjual belas kasihanku di sini. Kalau aku berbuat seperti berbuat seperti perbuatanku kini, pastilah sudah aku pertimbangkan baik buruknya. Kau hanya mampu berpikir pada masalah-masalah sekitar daerahmu saja. Daerah Wangon dan sekitarnya. Namun aku telah menjelajahi berbagai daerah, berbagai persoalan dan berbagai masalah. Karena itu akar itu jauh bermanfaat bagiku daripada bagimu.”
Buyut Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi beribu-ribu jiwa di Wangon menanti penyembuhannya. Kalau tidak, maka mereka akan menjadi seperti babatan paying. Malang melintang, mati tak terurus. Sebab semua orang akan mati pula karenanya.”
Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan melemparkan getaran kata-kata Buyut Wangon yang menyentuh telinganya.
“Tidak! Tidak!” tiba-tiba ia berteriak, “Aku tidak peduli urusanmu!”
Mahisa Agni tidak menunggu orang bongkok itu berkata-kata pula. Seakan-akan ia menjadi takut terhadap setiap persoalan yang dikatakan oleh orang bongkok itu. Dengan serta-merta, Mahisa Agni itu pun segera memutar tubuhnya, dan bersiap untuk segera memasuki gua itu lebih dalam lagi. Tetapi ia terkejut, ketika tiba-tiba terasa Buyut Ing Wangon itu memeluk kakinya sambil memeganginya kuat-kuat. Kemudian terdengarlah ia berkata,
“Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku sekarang.”
Mahisa Agni menghentak-hentakkan kakinya. Terdengar ia pun berteriak, “Lepaskan! Lepaskan!”
Namun Buyut Wangon tidak mau melepaskannya. Bahkan orang bongkok itu mencoba untuk memegangnya lebih erat lagi. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni menjadi marah kembali. Dengan satu hentakkan yang keras, Buyut Wangon itu terlempar beberapa langkah dan terbanting di lantai gua itu. Terdengar ia berteriak kesakitan. Namun ia masih juga berkata di antara desisnya,
“Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengarnya lagi. Cepat-cepat ia berlari. Berlari. Sedang kedua tangannya dengan kerasnya menyumbat kedua telinganya. Mahisa Agni berusaha secepat-cepatnya untuk menjauhi Buyut Ing Wangon yang masih terkapar sambil merintih-rintih, seakan-akan takut dikejarnya. Namun sebenarnya Mahisa Agni tidak merasa takut sedikit pun seandainya Buyut Wangon itu mengejarnya dan berusaha melawannya. Sejak semula ia sudah siap untuk bertempur. Tetapi ia takut terhadap perasaannya sendiri. Keluhan orang bongkok itu ternyata selalu menimbulkan getaran-getaran di dalam dadanya. Dan ia tidak mau perasaannya menjadi runtuh karenanya.
Sekali-kali kaki Mahisa Agni terperosok pada lubang-lubang di lantai gua. Bahkan beberapa kali Mahisa Agni itu jatuh terjerembab, namun kemudian ia bangkit lagi dan berlari kembali sambil meraba-raba dinding. Meskipun ia tidak dapat lari secepat-cepatnya, namun semakin lama ia menjadi semakin jauh dari Buyut Wangon. Dan ketika ia sudah tidak mendengar suara rintihan orang bongkok itu, Mahisa Agni pun berhenti Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Namun yang dilihatnya adalah sebuah takbir yang kelam di belakangnya. Kini barulah ia sadar, bahwa dirinya berada di dalam cengkaman dinding-dinding gua yang hitam pekat.
Nafas Mahisa Agni itu pun terdengar berkejar-kejaran dari lubang hidungnya. Terasa betapa cepatnya. Dengan susah payah Agni mencoba menenangkan dirinya. Buyut dari Wangon itu ternyata mempunyai kesan yang aneh di dalam hati Mahisa Agni. Setelah ia menempuh perjalanan yang berat, dan mengalami banyak rintangan-rintangan, orang-orang jahat dan orang-orang yang mencoba mencegahnya tanpa menimbulkan kecemasan di dalam dirinya, namun kini tiba-tiba ditemui seorang yang lemah, sakit, bahkan hampir mati. Namun orang itu benar-benar mengganggu perasaannya.
“Persetan dengan orang itu!” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram.
Ia ingin mencoba menekan perasaannya. Akar wregu putih itu baginya adalah benda yang akan menjadi sangat berharga. Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sekali lagi ia berjuang untuk tidak terpengaruh oleh setiap perasaan yang mengganggu pekerjaannya. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun melangkahkan kakinya. Ia harus segera menemukan akar wregu putih itu.
Ternyata Mahisa Agni sudah tidak begitu jauh lagi dari pusat gua. Ketika sekali lagi menemui lubang udara, maka segera ia pun mengetahui, bahwa matahari telah tinggi di langit yang biru. Dari lubang itu Mahisa Agni melihat betapa cerahnya udara, dan cerahnya sinar matahari. Namun ia masih harus berada di dalam gua yang hitam kelam itu. Mahisa Agni berjalan kembali beberapa langkah, kemudian terasa kakinya menyentuh tangga-tangga yang membawanya mendaki. Namun tangga-tangga itu tidak begitu tinggi, sehingga, segera ia sampai di ujungnya. Sekali ia membelok ke kiri, kemudian sekali lagi Mahisa Agni melihat seberkas sinar jatuh di lantai gua.
Mahisa Agni masih melangkah maju. Bahkan ia masih tetap berjalan dengan penuh kewaspadaan. Ternyata beberapa orang telah ditemuinya. Dan di antara mereka telah mengetahui pula adanya akar wregu putih itu sehingga tidak mustahil bahwa ada orang-orang lain lagi yang telah mengetahuinya pula, selain Buyut dari Wangon, Empu Pedek, orang dari Gunung Merapi yang tak diketahui namanya, dan gurunya. Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Tiba-tiba ia cemas. Tidak pula mustahil, bahwa akar itu telah diambil pula oleh seseorang yang datang lebih dahulu daripadanya beberapa hari atau beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun yang lalu, setelah gurunya mengunjungi gua ini.
“Hem,” gumamnya, “kenapa guru tidak mengambilnya saja pada waktu itu?”
Namun Mahisa Agni menyadarinya kembali, bahwa pasti ada alasan-alasan tertentu, sehingga gurunya berbuat demikian. Alasan-alasan yang tak diketahuinya dan tak diberitahukannya kepadanya. Tiba-tiba debar jantung Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cepat. Terasa sesuatu menyentuh perasaannya. Firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa perjalanannya hampir sampai ke tujuannya. Ketika sekali lagi Mahisa Agni menikung ke kanan, dilihatnya kembali semakin terang. Dan ternyata lubang ini agak lebih besar daripada yang pernah ditemuinya.
Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah maju. Dengan penuh kewaspadaan dipandangnya setiap sudut gua yang terbentang di hadapannya. Tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Di bawah berkas sinar yang jatuh itu dilihatnya dinding gua itu terputus. Ia tidak melihat lagi sebuah lubang pun pada dinding-dinding itu, sehingga tiba-tiba ia bergumam,
“Apakah aku sudah sampai ke ujung gua ini?”
Debar dada Mahisa Agni menjadi kian cepat. Dan darahnya terasa seakan-akan membeku ketika matanya terbentur pada sebuah lubang kecil di dinding gua. Di dalam lubang itu dilihatnya, apa yang dicarinya selama ini. Kain yang berwarna merah, namun karena tuanya, maka warna itu telah hampir lenyap dan bertapikan kain putih yang sudah kekuning-kuningan. Tiba-tiba tubuh Mahisa Agni menjadi gemetar karenanya. Terasa sesuatu melonjak di dalam ruang dadanya. Sesaat ia diam mematung, seolah-olah ia menjadi kehilangan kesadaran.
Namun sesaat kemudian dengan serta-merta ia meloncat untuk meraih benda yang akan dapat ikut serta menentukan perjalanan hidupnya. Tetapi karena ia sedemikian tergesa-gesa sehingga Agni itu pun terpeleset dan jatuh terbanting di lantai gua yang berbatu-batu padas. Terdengar ia mengeluh pendek. Namun perasaan sakit di lututnya sama sekali tak dihiraukannya. Sekali lagi ia bangkit, dan sekali lagi ia meloncat. Kali ini ia berhasil. Digenggamnya benda itu erat-erat, dan kemudian dengan tangan yang gemetar diurainya kain pembalutnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Kini digenggamnya sepotong akar wregu yang panjangnya kira-kira dua cengkang. Dengan tangan yang gemetar diciumnya akar wregu itu sambil bergumam dengan suara parau,
“Terpujilah Namamu, Yang Maha Agung.”
Betapa besar hati Mahisa Agni setelah ia memegang benda yang selama ini dicarinya dengan banyak pengorbanan. Benda yang akan menjadikan manusia jantan yang pilih tanding. Benda yang dapat menjadikannya manusia yang sukar dicari bandingnya. Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni seakan-akan tenggelam dalam sebuah mimpi yang indah. Mimpi tentang masa depannya yang cerah. Terngianglah di sudut hatinya kata-katanya sendiri,
“Ayo, siapakah yang akan berani melawan kehendak Mahisa Agni? Apapun yang akan aku lakukan tak seorang pun yang dapat mencegahnya. Dengan benda ini dan trisula yang sakti itu, akan dapat aku gulung dunia ini.”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun tertawa sendiri. Dan tiba-tiba ia berdiri bertolak pinggang sambil berkata lantang, “Inilah Mahisa Agni. Manusia tersakti di muka bumi.”
Dan seperti orang yang kehilangan ingatan, sekali lagi akar wregu putih itu diciuminya. Namun semakin lama, Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tenang. Seolah-olah anak muda itu tersadar dari tidurnya yang ditandu dengan mimpi yang mengagumkan. Perlahan-lahan segenap ingatan yang terang kembali merayapi hati Mahisa Agni kemudian berhasil kembali menguasai dirinya, menguasai luapan perasaannya. Bahkan tiba-tiba ia menjadi malu sendiri, setelah disadarinya, Apa yang baru saja dilakukannya.
Maka Mahisa Agni itu kemudian dengan langkah satu-satu berjalan menepi. Kemudian perlahan-lahan pula ia meletakkan dirinya duduk bersandar dinding gua. Diambilnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Dan baru kemudian ia mengamat-amati akar wregu di tangannya.
Akar wregu itu adalah akar wregu seperti yang pernah dilihatnya. Tidak ada kekhususannya, selain warnanya yang memang agak keputih-putihan. Bahkan warna putih itu pun tidak memberikan kesan apa pun pada penglihatan Mahisa Agni. Namun bagaimana pun juga, gurunya telah berkata kepadanya bahwa benda itu akan dapat menjadi rangkapan pusakanya, sehingga kedua pusaka itu akan merupakan sepasang pusaka yang tak ada bandingnya.
Sekali-kali terasa juga keragu-raguan di dalam dada Mahisa Agni itu. Apakah tidak mustahil bahwa seseorang telah datang mendahuluinya dan menukar akar wregu ini dengan akar wregu yang lain? Ketika sekali lagi Mahisa Agni memandang akar wregu dalam cahaya yang jatuh lewat lubang-lubang di atas gua itu, sekali lagi tergores suatu pertanyaan di dalam dadanya. Apakah benar akar yang dicarinya itu, adalah yang kini digenggamnya?
“Ah, tentu,” gumamnya tiba-tiba. Ia telah berjalan sampai ke ujung gua ini. Dan benda inilah satu-satunya yang ditemukannya. Apabila seseorang telah datang lebih dahulu daripadanya, apakah perlunya orang itu menukarnya? Kenapa tidak saja benda itu pun diambilnya?
Dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera teringat kepada orang timpang di kaki lereng gundul ini. Empu Pedek. Beberapa keanehan telah mengganggu otaknya. Kenapa Empu Pedek itu tidak mendahuluinya mengambili pusaka ini. Seandainya demikian, bukankah akibatnya akan sama saja baginya. Ia masih akan tetap pada keadaannya, dan kemungkinan untuk mengetahui orang-orang lain yang akan mengambil akar itu, dengan harapan untuk menemukan trisulanya. Sebab sebelum seseorang memiliki kedua-duanya, maka ia belum seorang yang sakti tanpa tanding. Sehingga betapapun saktinya Empu Pendek, namun tak semua orang di bawah kolong langit ini dapat dikalahkannya. Juga belum pasti orang yang memiliki trisula itu pun dapat dikalahkannya pula.
Dalam pada itu timbul pula dugaannya, bahwa sebenarnya seseorang telah mengambil akar wregu yang sebenarnya. Namun telah ditukarkannya dengan benda yang lain, sehingga dengan demikian, tak ada orang yang akan mengejarnya. Orang yang menemukan akar itu kemudian akan menyangka bahwa akar itu adalah akar yang sebenarnya, dan tidak dicarinya pula akar wregu putih itu, sehingga sampai pada saatnya, ditemukannya rangkapannya. Trisula.
Berbagai-bagai persoalan datang hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Namun akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Biarlah apa yang ada ini aku bawa kembali. Guru telah pernah melihatnya dahulu, sehingga Empu Purwa itu pasti akan dapat mengetahuinya, apakah akar wregu inilah yang sebenarnya harus aku cari. Apabila ternyata keliru, maka betapapun beratnya, aku harus berjalan kembali untuk menemukan akar yang sebenarnya itu. Yang pertama-tama harus ditemukan adalah orang timpang yang menamakan diri Empu Pedek itu.”
Kini Mahisa Agni telah benar-benar menjadi tenang. Bahkan kini terasa olehnya, betapa tubuhnya menjadi penat. Telah sehari semalam, bahkan lebih, ia berada dalam ketegangan lahir batin. Apalagi setelah ia berjuang memeras tenaga melawan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Karena itu, maka baru kini terasa, persendiannya sakit-sakit dan pedih-pedih menjalari di seluruh telapak tangan dan kakinya. Bahkan dilihatnya pula beberapa goresan merah pada lutut dan lengannya.
“Aku harus beristirahat,” gumamnya.
Sebab Mahisa Agni itu pun sadar bahwa perjalanan pulang ke Panawijen itu pun akan mempunyai persoalan-persoalannya sendiri. Tidak terlalu jauh. Di bawah lereng ini, Empu Pedek masih menunggunya. Orang itu pasti belum akan melepaskan niatnya untuk memiliki trisulanya dan sekaligus akar wregu putih ini.
“Sayang,” desah Agni tiba-tiba, “Kalau trisula itu aku bawa serta maka aku akan keluar dari gua ini dengan pasti, bahwa tak seorang pun akan dapat mengalahkan aku.”
Tetapi tiba-tiba pikiran itu terdorong pula oleh sebuah pikiran yang lain, “Bagaimana kalau aku binasa sebelum sampai ke gua ini, atau akar ini bukanlah akar wregu putih yang sebenarnya?”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak mau berpikir lagi. Ia hanya ingin beristirahat, untuk kemudian keluar dari gua ini dengan tenaga yang cukup untuk menghadapi setiap kemungkinan. Demikianlah kemudian Mahisa Agni itu duduk sambil menjulurkan kedua kakinya lurus-lurus sambil bersandar ke dinding. Dicobanya untuk benar-benar dapat beristirahat dan mengumpulkan segenap kekuatannya kembali. Meskipun perlahan-lahan namun pasti, Mahisa Agni telah menemukan kesegaran tenaganya kembali, sekali-kali dipijitnya kakinya dan direntangkannya tangannya.
Sesaat kemudian Mahisa Agni itu berdiri. Ketika kantuknya tiba-tiba menyerang, dicobanya pula untuk melawannya. Ia tidak mau tertidur dan ia tidak mau seseorang datang kepadanya, membunuhnya selagi ia tidur dan mengambil akar wregu yang sudah di tangannya itu.
Setelah beberapa kali menggeliat, serta telah digerak-gerakkannya tangan serta kakinya, maka Mahisa Agni merasa, bahwa sebagian besar tenaganya telah pulih kembali. Meskipun hampir dua hari ia tidak makan apapun, namun Mahisa Agni telah menjadi biasa dengan keadaan itu.
Di padepokannya pun ia sering melakukannya. Tidak makan dan tidak minum sebagai laku prihatinnya. Dan kini, ternyata apa yang sejak lama telah dilakukannya itu sangat bermanfaat baginya. Apalagi pada saat-saat ia mempertaruhkan benda yang dianggapnya sangat berharga itu, maka Mahisa Agni itu pun sama sekali tidak merasakan lapar.
Kini Mahisa Agni telah bersiap untuk keluar kembali dari gua. Diaturnya perasaannya serta diaturnya tenaganya. Se….. (hilang beberapa paragraph)
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar