MENU

Ads

Kamis, 12 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 135

Demikianlah maka kedua orang itu pun menempuh lintasan padang rumput di lereng bukit gundul untuk kemudian menuruni tebing dengan sangat hati-hat. Sejenak kemudian mereka melihat sebujur hutan yang hijau berada dihadapan mereka. Seperti raksasa hijau yang sedang berbaring tidur dengan nyenyaknya meskipun sinar matahari yang cerah telah melimpah ke atas tubuhnya.

“Hutan itu tidak begitu lebat dan tidak terlampau tebal” desis Kebo Sindet, “tetapi cukup untuk menghilangkan jejak. Mungkin Empu Gandring seorang ahli mengikuti jejak-jejak kaki kuda. Dengan memasuki hutan itu, maka jejak kita akan hilang. Sebab hutan itu adalah hutan yang lembab dan berawa-rawa disana-sini”.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan saja kepalanya dengan hati yang kosong, Ia sama sekali tidak berkepentingan apa pun dengan hutan yang lebat dan berawa-rawa. Tetapi ia tidak menjawab. Kebo Sindet pun kemudian mempercepat kudanya dan Kuda Sempana tanpa sesadarnya mengikutinya beberapa langkah di belakangnya masuk ke dalam hutan yang tidak begitu lebat dan hilang ditelan dedaunan yang hijau.

Matahari di langit mengapung semakin lama semakin tinggi. Sinarnya yang cerah memercik ke atas dedaunan, rerumputan dan puncak-puncak bukit. Semakin lama semakin panas. Dan ujung-ujung daun alang-alang pun kemudian menunduk lesu karena terik yang hampir tak tertahankan. Dalam pada itu seekor kuda berlari dengan kencangnya menuju ke bukit gundul. Kemudian mendaki lewat jalan berliku-liku melingkari batu-batu besar yang menjorok. Sinar matahari yang membakar kulitnya sama sekali tidak dirasakannya. Meskipun kulitnya yang basah oleh keringat dan kotor karena debu menjadi semerah tembaga. Tetapi kudanya berpacu terus.

Sekali-sekali orang tua yang berada di atas punggung kuda itu mengusap wajahnya dengan lengan bajunya. Dan sekali-sekali dibetulkannya letak kerisnya yang besar yang tersangkut di punggungnya. Hulunya yang berukir dan berselut perak mencuat di atas pundaknya. Sedang dilambungnya tergantung sebuah keris yang lebih kecil dari keris yang biasa. Tetapi kasiat keris itulah yang luar biasa.

Dengan dada yang berdebaran orang itu, Empu Gandring, memacu kudanya sejadi-jadinnya. Ia ingin segera sampai ke Kemundungan, menyusul kemenakannya yang dilarikan oleh Kuda Sempana. Dengan harap-harap cemas ia melihat telapak-telapak kaki kuda yang masih baru di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dan hatinya melonjak ketika ia melihat bahwa tidak hanya ada seekor kuda yang baru saja melintasi jalan itu. Tetapi dua.

“Aku kira benar juga kata Empu Sada. Kuda Sempana pergi juga ke Kemundungan” berkata orang tua itu di dalam hatinya.

Dengan demikian maka Empu Gandring itu pun menjadi semakin bernafsu. Dipacunya kudanya semakin cepat. Tetapi ia tidak dapat terlampau cepat, sebab ia harus memperhatikan juga telapak-telapak kaki kuda yang diikutiya. Tetapi, tiba-tiba Empu Gandring itu menarik kekang kudanya, sehingga kudanya menjadi terkejut. Sambil meringkik kuda Empu Gandring itu berhenti. Namun demikian tiba-tiba, sehingga kuda itu berdiri di atas kedua kaki belakangnya. Dengan lembut Empu Gandring menepuk tengkuk kudanya. Dan sejenak kemudian maka kuda itu pun telah menjadi tenang kembali.

“Telapak kaki-kaki kuda ini berbelok” gumam Empu Gandring kepada diri sendiri.

Tiba-tiba pula orang tua itu menjadi bimbang. Kemana ia harus mengikuti jejak orang-orang yang dicarinya? Apakah ia harus menyelusur jejak yang berbelok itu, atau kah harus langsung pergi ke Kemundungan? Sejenak Empu Gandring berhenti sambil merenung. Dadanya diamuk oleh keragu-raguan. Namun untuk sesaat ia tidak berhasil mengambil keputusan.

“Aku kira mereka melalui jalan lain” desis Empu Gandring, “Kebo Sindet pasti mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Mungkin ia sengaja memancing aku kejurusan yang salah. Sementara itu ia lewat jalan lain kembali ke Kemundungan. Adalah mustahil kalau orang selicik Kebo Sindet sengaja membuat bekas telapak kaki sejelas itu”.

Meskipun demikian, Empu Gandring tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Dipertimbangkannya segala kemungkinan dan diperhitungkannya segala macam cara.

“Baiklah aku coba mengikuti jejak ini” katanya kemudian di dalam hati, “kalau benar dugaanku, maka aku akan sampai juga ke Kemundungan meskipun aku harus sangat berhati-hati, sebab setiap kemungkinan dapat terjadi di sepanjang jalan. Mungkin Kebo Sindet sudah menyediakan tempat untuk menjebakku”.

Empu Gandring itu pun kemudian menggerakkan kekang kudanya, mengikuti jejak-jejak kaki kuda Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Semakin lama derap kaki kudanya semakin cepat karena bekas-bekas kaki kuda yang diikutinya tampak dengan jelas di atas padang rumput yang sempit. Tetapi jalan yang ditempuhnya menjadi semakin sukar. Kuda Empu Gandring itu pun barus menuruni tebing. Telapak-telapak kaki kuda yang diikutinya menjadi semakin sukar untuk dikenal karena batu-batu padas di lereng-lereng bukit gundul. Namun tiap kali Empu Gandring dapat menemukan kelanjutan dari bekas kaki-kaki kuda itu, sehingga akhirnya Empu Gandring pun sampai pada lereng yang menghadap pada pinggiran hutan yang hijau rimbun.

Dada Empu Gandring menjadi berdebar-debar melihat hutan itu. Hutan akan menjadi tempat yang paling baik untuk menjebaknya. Dari balik-balik pohon, dari dalam gerumbul-gerumbul yang rimbun, maka Kebo Sindet akan dapat menyerangnya dengan licik.

“Tetapi apakah aku akan berhenti disini?” desis Empu Gandring di dalam hatinya, “Tidak. Aku harus mendapatkan kemanakanku itu”.

Dengan demikian maka kuda Empu Gandring itu pun berjalan terus. Tetapi ketika kuda itu sudah sampai pada mulut hutan, maka Empu Gandring pun memperlambat langkahnya. Dengan hati-hati dimasukinya hutan yang tidak terlampau lebat, tetapi cukup rimbun. Beberapa saat Empu Gandring masih dapat melihat bekas-bekas telapak kaki kuda yang diikutnya. Sempalan-sempalan ranting dan dedaunan yang terinjak-injak. Bahkan seolah-olah bekas-bekas kaki kuda itu menjadi semakin jelas.

“Hem” Empu Gandring menarik nafas dalam, “aku melihat bekas kaki ini menjadi semakin jelas. Apakah Kebo Sindet dengan sengaja memancing aku?”

Dalam keragu-raguan itu Empu Gandring menjadi semakin hati-hati. Didengarnya setiap gemersik daun-daun kering yang jatuh tersentuh angin. Dilihatnya setiap gerak ranting-ranting dan ujung pepohonan. Semua yang tertangkap oleh inderanya, selalu mendapat perhatiannya. Sebab dalam hutan yang demikian itu, bahaya akan dapat berada di setiap punggung dedaunan dan di setiap sisi pepohonan.

Tetapi, Empu Gandring adalah seorang tua yang telah cukup menyimpan perbendaharaan pengalaman. Ia seolah-olah dapat berbicara dengan firasat di dalam dirinya. Dan kali ini ia tidak menangkap tanda-tanda bahwa ia sedang diintai oleh lawannya itu. Meskipun demikian, Empu Gandring tidak juga dapat melepaskan kewaspadaannya. Ia menyadari siapakah yang menjadi lawannya kini. Iblis Kemundungan itu akan dapat berbuat apa saja tanpa, menilai harga diri dan kejantanan. Tetapi Empu Gandring itu tiba-tiba menarik kekang kudanya. Hatinya menjadi berdebar-debar dan wajahnya menjadi tegang. Dilihatnya dihadapannya tanah menjadi gembur lembab dan bahkan disana-sini mulai tergenang air.



“O, jadi hutan ini berada di daerah rawa-rawa” desisnya. Dan kini ia mulai membuat perhitungan yang lain, kenapa Kebo Sindet menempuh jalan ini , “Ternyata Kebo Sindet berusaha menghilangkan jejaknya di daerah rawa-rawa ini”.

Empu Gandring pun kemudian berhenti. Telapak-telapak kaki kuda yang diikutinya memang sengaja masuk ke daerah rawa-rawa. Empu Gandring itu menggeleng-gelengkan kepalanya,

“Adalah sangat sulit untuk mengikuti jejak di daerah gempur dan berair ini. Setan itu benar-benar licik”.

Sesaat Empu Gandring duduk mematung di atas punggung kudanya. Ia melihat telapak kaki kuda memasuki daerah yang berair. Tetapi apakah ia akan dapat menyelusur dan menemukan dimana telapak kaki itu keluar dari air? Apakah ia harus mengitari seluruh hutan dan rawa-rawa ini. Apakah ia harus mengelilingi setiap pinggiran air yang sekian luasnya? Empu Gandring menyadari bahwa rawa-rawa ini bukan saja terdiri dari apa yang dilihatnya itu. Tetapi rawa-rawa ini akan melebar dan sangat luas menjorok masuk ke daerah hutan ini. Adalah sangat berbahaya baginya untuk memasukinya. Ia tidak tahu, daerah manakah yang dapat diinjak oleh kaki-kaki kudanya. Kalau kudanya terperosok pada bagian-bagian yang sangat gembur, maka kuda dan penunggangnya pasti akan terbenam ke dalam lumpur. Adalah sangat sukar untuk mencoba berenang pada air yang berlumpur seperti rawa-rawa yang terbentang dihadapannya, yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan air dan sulur-sulur yang tergantung pada pepohonan.

Empu Gandring menarik nafas. Sekali lagi dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Air yang coklat berlumpur, sinar matahari yang seberkas-seberkas jatuh ke permukaan air. Pepohonan dan cabang-cabangnya yang rapuh berkait dengan sulur-sulur yang bergayutan dengan tumbuh-tumbuhan berduri.

“Kebo Sindet mengenal daerah ini seperti ia mengenal rumah sendiri” desis Empu Gandring kepada diri sendiri, “tetapi aku menjadi orang asing di sini, “.

Untuk sesaat Empu Gandring masih saja duduk mematung di atas punggung kudanya. Kini dadanya benar-benar dilanda oleh kebimbangan dan nafsunya untuk mengejar kemenakannya bersama-sama. Begitu dahsyat gelora itu mengamuk di dadanya, sehingga kepala Empu Gandring itu pun kemudian, menjadi pening.

“Hem, apakah yang sebaiknya aku lakukan? Tidak mungkin aku akan berjalan terus. Aku akan dapat mati tanpa arti di dalam rawa-rawa itu. Tetapi aku harus menemukan Mahisa Agni hidup atau mati.” Namun Empu Gandring masih belum menemukan jalan manakah yang akan ditempuhnya.

Angin yang silir bertiup di sela-sela pepohonan menggerakkan daun dan ranting. Bayangan sinar matahari seolah-olah melonjak-lonjak di dalam air yang keruh. Lamat-lamat dikejauhan terdengar burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan. Namun udara di hutan itu masih juga terasa betapa lembabnya.

“Aku harus sampai ke Kemundungan” Empu Gandring itu tiba-tiba menggeram, “Kebo Sindet pasti hanya sekedar mengelabuhi aku. Ia pasti mengambil jalan lain, tetapi akhirnya ia akan sampai pula ketempat persembunyiannya di Kemundungan”.

Dengan serta-merta Empu Gandring itu pun segera menggerakkan kendali kudanya, dan kudanya pun segera berputar pula. Sesaat kemudian, maka kuda itu pun segera meloncat berlari. Kali ini meluncur keluar dari hutan berawa-rawa itu menuju ke Kemundungan. Empu Gandring merasa bahwa ia telah kehilangan waktu sesaat dengan memasuki hutan itu, sehingga dengan demikian maka ia harus berpacu untuk mengurangi keterlambatannya. Ia sedapat mungkin harus sampai ke Kemundungan sebelum Mahisa Agni mendapat perlakuan yang tidak wajar.

Dengan demikian maka Empu Gandring berusaha untuk secepat-cepatnya mencapai sarang iblis yang liar dan buas itu. Dipercepatnya lari kudanya. Namun terasa langkah kuda itu seakan-akan menjadi terlampau lamban. Setiap kali Empu Gandring harus menyentuh perut kuda itu dengan tumitnya atau menggelitik tengkuknya dengan pangkal kendali. Dan setiap kali kuda itu pun meloncat semakin cepat. Namun masih juga terasa alangkah lambatnya.

Sejenak kemudian Empu Gandring telah lepas dari daerah hutan yang tidak begitu lebat. Didakinya lereng bukit gundul lewat jalan yang tadi ditempuhnya dalam arah yang berlawanan. Padang rumput yang tidak terlampau luas itu pun telah dilintasinya. Dan kini Empu Gandring telah menemukan kembali jalan yang wajar menuju ke Kemundungan.

Kudanya pun kemudian dipacunya semakin cepat. Seakan-akan ia sedang berlomba dengan matahari yang bergerak ke Barat. Tetapi matahari itu agaknya berjalan terlampau cepat, sehingga sejenak kemudian bayangan Empu Gandring telah menjadi kian panjang karena matahari telah menjadi semakin condong ke Barat. Dengan demikian, maka perjalanan Empu Gandring yang juga menuju kearah Barat itu pun menjadi silau. Tetapi Empu Gandring masih berpacu terus.

Akhirnya bukit gundul itu pun dilampauinya. Ketika ia menuruni lereng di sisi Barat, maka segera Empu Gandring dapat melihat, dimanakah rumah Kebo Sindet itu. Kini Empu Gandring mulai memperlambat langkah kudanya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Di dalam hatinya ia mengharap, mudah-mudahan ia masih dapat menemukan kemanakannya dalam keadaan hidup. Tetapi semakin dekat, Empu Gandring itu pun menjadi semakin curiga. Rumah Kebo Sindet di lereng bukit kecil itu tampaknya masih terlampau sepi. Pintu lorongnya masih tertutup, dan masih belum dilihatnya ada tanda-tanda seseorang berada di dalamnya.

“Apakah orang itu masih belum datang?” desis Empu Gandring.

Ketika ia menjadi semakin dekat, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan ketika kudanya mulai menginjakkan kakinya di dalam lingkungan rumah itu, maka Empu Gandring menarik kekangnya, dan kuda itu pun berhenti. Sejenak Empu Gandring berdiam diri seolah-olah membeku di atas punggung kudanya. Dipandanginya gubug Kebo Sindet itu dengan tajamnya. Gubug bambu beratap ilalang, berpintu lereg tidak cukup rapat.

Empu Gandring menarik nafas dalam. Di dalam hatinya ia bertanya, “Apakah sebenarnya hidup bagi Kebo Sindet? Dengan susah payah ia mengumpulkan harta benda. Bahkan dengan segala macam cara. Tetapi apakah arti harta benda itu baginya? Orang itu tidak beranak tidak beristeri. Tidak juga mempergunakannya sendiri. Ia hidup di dalam gubug yang hampir roboh, tidak di dalam sebuah istana yang mewah. Tidak dilingkungi oleh kepuasan lahiriah. Agaknya ia makan pun tidak teratur pula. Apa saja yang ada pada hari itu. Lalu apakah gunanya harta benda yang didapatkannya?”

Empu Gandring tidak dapat menemukan jawabnya. Ia menganggap Kebo Sindet sebagai seorang yang aneh. Seorang yang tidak wajar seperti kebanyakan orang. Empu Gandring pernah merasakan dan mengalami berprihatin. Menjauhkan diri dari kepuasan badani. Tetapi ia sama sekali tidak selalu di kejar-kejar oleh nafsu untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya, bahkan dengan segala macam cara seperti Kebo Sindet. Membunuh, merampok, memeras dan sebagainya. Kadang-kadang untuk kepentingan itu, nyawanya dipertaruhkan. Tetapi kalau harta benda itu sudah dimilikinya, maka orang itu sama sekali tidak dapat menikmatinya.

“Aku kadang-kadang masih juga ingin makan enak dan tidur nyenyak di tempat yang nyaman” desis Empu Gandring, “dan kadang-kadang aku masih juga menyisihkan milikku sedikit-sedikit untuk kepentingan anak cucu kelak, seperti orang-orang sewajarnya. Tetapi Kebo Sindet ini terlampau aneh bagiku. Untuk apakah harta benda yang dikumpulkannya selama ini bersama-sama dengan adiknya?”

Tetapi Empu Gandring tidak mau dirisaukan oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Kini yang penting baginya adalah mencari Mahisa Agni. Dihadapannya itu adalah rumah Kebo Sindet. Karena itu ia harus mulai berbuat sesuatu. Empu Gandring itu pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Perlahan-lahan dan hati-hati ia melangkah maju. Kemudian kudanya itu pun ditambatkannya pada sebatang pohon. Dan ia pun melangkah lagi semakin dekat dengan gubug Kebo Sindet.

Meskipun Empu Gandring itu sudah menjadi semakin dekat namun ia masih belum melihat atau mendengar sesuatu. Rumah itu terlalu sunyi. Empu Gandring itu pun kemudian sudah berdiri di muka pintu. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu itu. Tetapi suara ketukannya hilang saja ditelan sunyi. Akhirnya Empu Gandring tidak bersabar lagi. Dicobanya untuk mendorong pintu lereg itu. Ia terkejut ketika dengan mudahnya pintu pun terbuka. Kini Empu Gandring dapat melihat isi gubug kecil itu. Hampir tak ada sesuatu apa pun di dalamnya. Hanya sebuah amben terbujur membeku. Di sana-sini berceceran alat-alat untuk menggarap tanah. Cangkul, parang dan sebatang srumbat kelapa dari kayu.

“Kosong” desis Empu Gandring, Ketika dilihatnya benda-benda itu maka ia pun berguman , “Hem, agaknya orang ini bekerja juga bercocok tanam”.

Dengan hati-hati Empu Gandring itu melangkah masuk. Rumah itu benar-benar kosong. Tak ada bekas yang baru di dalam rumah itu, sehingga menurut dugaan Empu Gandring, belum ada seorang pun yang baru saja memasukinya.

“Mereka belum datang” desisnya.

Empu Gandring itu pun kemudian terhenyak di atas amben bambu di dalam rumah itu. Suaranya berderit seperti sebuah keluhan yang paling pahit.

“Aku harus menunggu sampai mereka datang.” desisnya, “aku akan memintanya dengan baik. Kalau tidak, terpaksa aku mempergunakan kekerasan”.

Tetapi Empu Gandring kemudian, tidak merasa tenteram berada di dalam gubug itu. Ia pun segera berdiri dan melangkah keluar.

“Kalau Kebo Sindet melihat kudaku, mungkin ia tidak akan memasuki rumahnya ini” katanya di dalam hati.

Maka Empu Gandring itu pun menutup pintu rumah Kebo Sindet kembali seperti semula. Dibawanya kudanya ke belakang semak-semak yang agak rimbun. Dari tempat itu pula ia menunggu sambil mengawasi kalau-kalau Kebo Sindet bersama Kuda Sempana akan datang.

Tetapi Kebo Sindet ternyata tidak akan datang ke Kemundungan Kebo Sindet telah memperhitungkan bahwa Empu Gandring pasti akan menyusulnya. Mungkin dengan prajurit Tumapel yang aneh, yang kepalanya seakan-akan memancarkan cahaya kemerah-merahan. Seorang anak muda yang mampu bertahan tidak luluh oleh kekuatan tertingginya, Aji Bajang.

Dengan susah payah, Kebo Sindet ternyata berhasil melintasi hutan dan rawa-rawa yang cukup berbahaya. Tanahnya gembur dan berlumpur. Tetapi iblis itu mengenal daerah itu dengan baik. sehingga ia dapat memilih jalan yang paling baik untuk melintasi daerah itu. Di seberang rawa-rawa maka hutan menjadi semakin rindang. Hampir tidak ada pohon-pohon yang cukup besar dan lebat. Tetapi banyak sekali gerurnbul-gerumbul perdu yang rimbun dan liar berduri.

“Kita sudah hampir sampai” desis Kebo Sindet.

Kuda Ssmpana tidak menyahut. Sekali ia berpaling, tetapi kemudian dipandanginya jalan di depan matanya. Yang tampak hanyalah hijaunya dedaunan dan percikan sinar matahari seberkas-berkas jatuh di atas tanah yang lembab.

“Tak banyak orang yang dapat mencapai tempat ini. Tempat ini dikelilingi oleh rawa-rawa. Seseorang yang tidak mengenal tempat ini baik-baik akan dengan mudah terperosok masuk ke dalam tanah berlumpur. Kalau demikian maka nasibnya akan sangat malang. Sebab ia pasti tidak akan dapat melepaskan dirinya. Hanya hantu dan tetekan sajalah yang dapat mencapai tempat ini selain Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”. Kuda Sempana masih berdiam diri.

“Inilah tempat tinggal Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang sebenarnya. Itulah sebabnya maka aku sama sekali tidak berkeberatan bahwa rumahku di Kemundungan akan dibongkar oleh seluruh prajurit Tumapel. Sebab mereka pasti hanya akan menemukan benda-benda yang sebenarnya kurang berharga bagiku. Di dalam goa dibelakang gubugku itu tidak akan banyak dijumpai barang-barang yang penting. Dan kini Kuda Sempana, kau telah berada di dalam daerah Kebo Sindet yang selama ini tidak pernah didatangi orang lain”.

Kuda Sempana masih tetap membungkam. Dengan hati yang kosong ia mengikuti saja Kebo Sindet yang menyusup-nyusup disela-sela pepohonan. Disana-sini masih juga tergenang air. Tetapi daerah rawa-rawa yang sebenarnya telah lampau.

“Di ujung yang lain dari hutan ini pun terdiri dari tanah yang gembur dan berawa-rawa” berkata Kebo Sindet itu pula. Dan Kuda Sempana pun menganggukkan kepalanya tanpa menyadari arti kata-kata Kebo Sindet.

Ketika Kuda Sernpana tidak juga menjawab, maka Kebo Sindet itu berkata, “Kuda Sempana. Aku telah mengatakan kepadamu keadaan daerah ini. Daerah ini dikelilingi oleh genangan-genangan air berlumpur. Kadang-kadang di tempat-tempat tertentu air itu cukup dalam. Setinggi tubuhmu, bahkan ada yang lebih dalam lagi. Orang-orang yang kurang mengenal daerah ini tidak akan dapat membedakannya. Karena itu Kuda Sempana tanpa aku kau jangan mencoba pergi terlampau jauh. Jangan mencoba menjajagi rawa-rawa ini. Itu akan sangat berbahaya bagimu. Kau akan tetap tinggal di sini kecuali aku menghendaki kau meninggalkan tempat ini”.

Baru saat itulah Kuda Sempana menyadari keadaannya. Ternyata ia telah terperosok ke dalam daerah yang tak dikenalnya. Bukan itu saja, tetapi ia telah berada di suatu tempat yang tidak dapat ditinggalkannya. Ini berarti bahwa ia pun telah berada di dalam kekuasaan Kebo Sindet.

“Kau mengerti maksudku?” bertanya Kebo Sindet.

Kini Kuda Sempana mengangguk. Tetapi keadaan itu pun tidak banyak berpengaruh atas perasaannya. Dimana saja ia berada dan dalam keadaan apapun, baginya tidak banyak mempunyai perbedaan arti. Hidup yang sebenarnya bagi Kuda Sempana seakan-akan telah berhenti. Dan kini hidup baginya hanya sekedar dijalani tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa cita-cita.

“Bagus” gumam Kebo Sindet kemudian, “kau adalah seorang anak muda yang patuh”. Kata-kata itu pun terdengar janggal ditelinga Kuda Sempana. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Demikianlah mereka berjalan terus di atas punggung-punggung kuda masing-masing. Kuda Sempana kini telah berubah pula menjadi seorang yang acuh tak acuh atas kedaan sekelilingnya. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi mirip dengan wajah Kebo Sindet. Beku dan mati, meskipun sebab-sebabnya agak berbeda. Wajah Kebo Sindet membeku tetapi penuh dibakar oleh nafsu, sedang wajah Kuda Sempana membeku mati. Gersang.

“Kita mencari tempat yang baik untuk mengubur Wong Sarimpat” berkata Kebo Sindet itu kemudian, “sebentar lagi kita akan sampai ke sebuah Goa. Disitulah aku akan memelihara Mahisa Agni untuk suatu kepentingan. Ia harus diobati dan disembuhkan dari luka-luka yang mungkin diderita. Anak muda itu tidak boleh terlampau lama dalam keadaannya, supaya bagian-bagian tubuhnya tidak ada yang terlanjur menjadi rusak”.

Kuda Sempana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Meskipun demikian diamat-amatinya juga tubuh Mahisa Agni yang lemah tergantung di kudanya. Ia mendendam kepada anak muda itu sejak Mahisa Agni menghalangi keinginannya membawa Ken Dedes ke Tumapel di pinggir kali di bawah Bendungan. Beberapa kali ia berkelahi melawan anak muda itu. Beberapa kali ia ingin melumpuhkan, bahkan membinasakannya. Sehingga gurunya telah terseret pula ke dalam arus dendamnya yang tiada terkendali. Namun akibatnya ternyata sama sekali tidak disangkanya. Dua kali gurunya mengalami bencana, bahkan hampir membunuhnya. Mungkin kali ini gurunya telah benar-benar meninggal akibat benturan dan sampyuh melawan Wong Sarimpat. Seandainya demikian, maka apa yang terjadi benar-benar diluar kehendaknya.

KudaSempana itu berpaling ketika Kebo Sindet berkata pula, “Lihat Kuda Sempana. Dihadapan kita ada sebatang pohon Randu Alas yang besar. Disampingnya ada sebatang pohon Jati yang sebaya umurnya dengan pohon Randu Alas itu. Umur pohon-pohon itu telah berbilang ratusan tahun. Diantara kedua batang pohon itu kau akan rnenjumpai sebuah Goa di bawah bukit-bukit batu karang yang kecil. Disitulah kita akan bersembunyi untuk sementara. Dibawah pohon Randu Alas akan kita kuburkan Wong Sarimpat”.

Tanpa sesadarnya Kuda Sempana melihat kearah pohon-pohon yang ditunjuk oleh Kebo Sindet. Tiba-tiba saja tubuhnya meremang. Sejak semula ia sama sekali tidak memperhatikan apa pun yang ada di sekitarnya. Juga kedua batang pohon raksasa itu. Dan kini tiba-tiba saja ia melihat kedua batang pohon itu. Tinggi menjulang, se-akan-akan menggapai langit yang telah jadi kemerah-merahan. Mencuat di antara pepohonan yang tidak begitu rapat, dikitari oleh gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Kuda Sempana sendiri menjadi heran. Kenapa ia tidak melihat kedua batang pohon itu sejak semula? Bukankah kedua batang pohon itu tampak seperti dua orang raksasa di antara pepohonan yang lain?. Tetapi sejenak kemudian Kuda Sempana pun telah menjadi acuh tak acuh pula. Juga kedua pohon raksasa itu tidak akan berarti apa-apa baginya. Goa yang berada di bawah gumuk karang itu pun tidak berarti pula baginya. Ia sudah kehilangan arti hidupnya, dan hilanglah semuanya baginya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai di bawah kedua batang pohon yang berjarak beberapa puluh langkah itu. Diantara kedua batang pohon itu terdapat sebuah gumuk batu karang. Dan di bawah gumuk itu terdapat sebuah Goa.

“Inilah rumah kita untuk sementara” desis Kebo Sindet sambil meloncat dari kudanya, “Ikatkan kudamu dan angkatlah Mahisa Agni. Tidurkanlah ia di dalam Goa itu”.

Seperti orang bermimpi Kuda Sempana pun turun dari kudanya. Diangkatnya tubuh Mahisa Agni seperti yang dikatakan oleh Kebo Sindet dan dibawanya tubuh itu kemulut Goa. Tetapi ketika ia melihat ke dalam Goa yang gelap itu, ia menjadi ragu-ragu sejenak.

“Masuklah” berkata Kebo Sindet, “tak ada binatang buas di dalamnya”.

Kuda Sempana pun kemudian melangkah masuk. Dalam keremangan cahaya yang masuk dari mulut Goa. Kuda Sempana melihat sebuah amben kayu yang cukup besar. Di amben itu lah kemudian Mahisa Agni dibaringkannya. Sejenak kemudian Kebo Sindet pun masuk pula kedalam Goa itu. Dirabanya tubuh Mahisa Agni. Diurutnya dibeberapa bagian dari lehernya.

“Ambillah air” berkata Kebo Sindet kepada Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil air.

“Ambillah air” Kebo Sindet mengulangi.

“Kemana aku harus mengambil air?” bertanya Kuda Sempana kemudian.

“Oh” desah Kebo Sindet, “di dalam daerah yang penuh dengan rawa-rawa ini kau bertanya kemana kau harus mengambil air?”

“Apakah aku harus mengambil air berlumpur itu?”

“Bertahun-tahun aku selalu minum air berlumpur itu. Tetapi aku tidak menjadi sakit-sakitan”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya lagi “dengan apa aku membawa air itu kemari?”

Mata Kebo Sindet itu pun kemudian beredar di sekeliling ruangan itu. Kemudian katanya sambil menunjuk ke arah sudut ruangan itu, “Ambillah mangkuk tanah itu. Pakailah untuk mengambil air, dan cepat”.

Kuda Sempanaun segera pergi ke sudut ruangan itu mengambil mangkuk tanah yang kotor. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Kotor bagi Kebo Sindet agaknya tidak menjadi soal lagi. Kemudian, Kuda Sempana pun pergi keluar Goa, berjalan di sela-sela gerumbul-gerumbul liar mengambil air dari rawa-rawa. Air yang berwarna coklat keputih-putihan. Sementara itu Kebo Sindet masih memijat-mijat Mahisa Agni. Sekali-kali dilehernya dan sekali-kali di bagian punggungnya.

“Anak ini terlampau lama pingsan” desisnya, “mudah-mudahan aku masih dapat membangunkannya. Kalau ia mati, maka aku pun kehilangan pula. Aku telah kehilangan adikku dan aku akan kehilangan kemungkinan untuk mendapatkan harta dari calon permaisuri Tunggul Ametung itu”.

Sementara itu Kuda Sempana pun datang sambil menjinjing mangkuk tanah yang berisi air. Tetapi air itu terlampau kotor. Namun demikian Kebo Sindet sama sekali tidak menghiraukannya. Dimasukannya sebutir reramuan obat-obatan dan dihancurkannya di dalam air itu, perlahan-lahan air itu dimasukkan ke dalam mulut Mahisa Agni. Sedikit demi sedikit.

Sejenak mereka menunggu. Meskipun tak sepatah kata pun yang mereka ucapkan, namun tampaklah wajah-wajah yang beku itu menegang. Mereka menunggu, apakah Mahisa Agni masih dapat sadar kembali seperti semula, meskipun detak jantungnya masih juga dapat mereka dengar apabila mereka menempelkan telinga mereka di dada anak itu.

Tetapi sesaat kemudian, Kuda Sempana itu pun mulai dihinggapi lagi oleh perasaan acuh tak acuhnya. Bahkan ia bertanya di dalam hati, “Buat apakah sebenarnya aku ikut serta menjadi cemas atas nasib Mahisa Agni. Hidup atau mati sama sekali tidak ada bedanya bagiku. Kalau ia mati, biarlah ia mati. Sudah lama aku menghendakinya supaya ia mati. Tetapi kalau ia dapat hidup lagi, aku pun tidak akan berkeberatan. Mudah-mudahan aku masih mempunyai gairah untuk membalas sakit hatiku. Tetapi apakah sebenarnya kepentingan Kebo Sindet bersusah payah mengobatinya. Biar sajalah ia mati, dan kemudian dikuburkan bersama Wong Sarimpat. Tetapi pertanyaan itu disimpannya saja di dalam hatinya.

Koleks : Ismoyo
Retype: Sukasrana
Proofing: Wiek
Cek Ulang:Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar