MENU

Ads

Kamis, 12 Maret 2026

Pelangi di Langit Singasari 134

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Lamat-lamat ia teringat ceritera tentang Jun Rumanti pada masa gadisnya. Meskipun anak itu sendiri tidak pernah berkata kepadanya atau mengadukan kesulitan-kesulitannya kepadanya bahkan sepeninggal suaminya, gadis itu seakan-akan telah menghilang, namun kisah tentang gadis itu memang pernah didengarnya dari orang lain. Tetapi itu telah terjadi puluhan tahun yang lampau, pada saat Mahisa Agni belum lahir sedekat-dekatnya pada saat Mahisa Agni hilang dibawa oleh ayahnya. Dan di antara kisah itu sama sekali tidak pernah dijumpainya nama Empu Sada. Namun keduanya memang belum pernah saling mengenal pada saat itu, baik orangnya maupun namanya. Seperti Empu Sada, maka Empu Gandring pun pada saat mudanya masih belum mempergunakan nama itu.

“Empu Gandring” berkata Empu Sada, “kalau Jun Rumanti itu dahulu pernah menyebut namamu, maka keadaan Mahisa Agni, setidak-tidaknya hubungan diantara kita tidak akan menjadi sejelek ini.

“Apakah huhunganmu dengan Jun Rumanti, Empu?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia bertanya, “Apakah pada masa gadisnya, kau mempergunakan nama lain Empu?”

Empu Gandring menggeleng, “Ya Empu. Namaku pada waktu itu adalah Basu Nala”.

“Oh, jadi kaukah itu?, “ Empu Sada terperanjat.

“Apakah kau pernah mengenal nama itu?”

“Baru namanya. Tetapi aku belum mengenal orang yang bernama Nala, seperti kau pasti juga belum pernah mengenal seorang anak muda yang saat itu bernama Pranuntaka”.

Wajah Empu Gandring tiba-tiba menjadi berkerut-merut. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Apakah hubunganmu dengan anak itu?”

“Hubungan itu terlampau erat Empu. Bahkan tak dapat dipisahkan. Pranuntaka itu adalah Empu Sada, seperti Basu Nala itu kemudian bernama Empu Gandring”.

“Jadi, kaukah anak muda yang saat itu pergi merantau dan ketika ia kembali ditemuinya Jun Rumanti telah bersuami dan beranak seorang laki-laki. Dan kau mempergunakan nama itu?”

“Ya”.

“Lalu laki-laki itu pergi pula membawa luka dihatinya?”

“Ya”.

“Oh, jadi saat itu Pranuntaka pergi meninggalkan Jun Rumanti dengan dendam yang mengeram di dadanya? Sehingga dendam ini kemudian melimpah kepada anak laki-lakinya yang bernama Mahisa Agni?”

“Kau salah Empu. Seperti Jun Rumanti, mula-mula salah pula menyangka aku berbuat demikian. Justru setelah aku tahu bahwa Mahisa Agni itu adalah anak Jun Rumanti, seakan-akan aku menemukan sesuatu yang tidak wajar pada diriku. Selain itu, pengalamanku dalam hubungan dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah memberi pula aku kesadaran, bahwa aku akhirnya harus melepaskan diri dari kesesatan ini. Meskipun semula aku hanya ingin mencuci tangan, supaya aku tidak tersangkut dalam kejahatan hilangnya Mahisa Agni”.

Empu Gandring memandangi Empu Sada yang terbaring itu dengan wajah yang tegang. Ketika ia berpaling, maka dengan sungguh-sungguh Ken Arok pun sedang mendengarkan ceritera Empu Sada itu. Meskipun anak muda itu tidak mengenal ujung pangkal dari ceritera itu, namun dengan demikian maka ceritera itu telah sangat menarik baginya. Ceritera tentang Mahisa Agni dan peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.

Dengan singkat Empu Sada mencoba menceriterakan apa yang pernah terjadi atas dirinya di Kemundungan. Tentang meninggalnya seorang muridnya dan tentang dirinya sendiri yang hampir mati pula. Kemudian usahanya memasuki Istana dan bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Jun Rumanti.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa dalam nada dan tekanan kata-katanya, bahwa Empu Sada itu berkata dengan jujur, sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak mempercayainya. Sedang Ken Arok lagi sibuk membayangkan, perempuan yang manakah di dalam Istana Ken Dedes yang kira-kira bernama Jun Rumanti itu? Tetapi Ken Arok itu tidak berhasil menemukannya. Empu Sada sama sekali tidak menyebut-nyebut bahwa perempuan itu adalah emban kinasih dari puteri bakal permaisuri. Tetapi hal itu kemudian sama sekali tidak dianggap penting oleh Ken Arok.

Sekali lagi mereka dicengkam oleh angan-angan masing-masing yang membubung tinggi ke udara. Ken Arok yang muda itu tunduk termenung seperti orang yang sedang memperhatikan sesuatu di atas tanah di bawah kakinya, sedang Empu Gandring kini duduk di tanah sambil memandangi tempat dikejauhan. Sementara itu Empu Sada yang berbaring diam mengerutkan keningnya beberapa kali.



Tiba-tiba hampir bersamaan Empu Gandring dan Empu Sada itu tertawa pendek sehingga Ken Arok terperanjat karenanya., “Apakah yang mereka tertawakan?”

“Empu Gandring” Empu Sada itu berdesis, “aneh sekali. Kenapa kau menyebut namamu masa kanak-kanak dengan Basu Nala?, Apakah itu memang namamu?”

“Ya, Jum Rumanti mengenal namaku Basu Nala”.

“Aku mengenal nama itu Empu. Basu Nala. Tetapi aneh. Aku sangka Basu Nala bukanlah anak yang bernama Wijang?”

Empu Gandring pun tertawa perlahan-lahan., “Hem” ia menarik nafas dalam-dalam, “masa kanak-kanak yang aneh. Wijang adalah nama yang diberikan kepadaku di tempat pengengeran, karena sejak anak-anak aku tidak tinggal bersama keluargaku, yang kemudian aku diambilnya menjadi murid. Tetapi bagaimana bisa aku mengenal kau yang di masa itu mempergunakan nama lain pula Empu. Bukankah kau menyebut namamu Talam?”

“Itu adalah namaku sebenarnya. Tetapi terhadap seorang gadis aku ingin namaku agak menjadi baik. Karena itulah aku memperkenalkan diriku kepada Jun Rumanti dengan nama Pranuntaka dari Ngarang”.

Keduanya mengangguk-angguk perlahan. Hubungan keduanya adalah hubungan yang aneh. Mereka mengenal yang satu atas yang lain dalam keadaan yang agak kalut. Ternyata hubungan yang demikian itu kini menumbuhkan suatu kenangan yang aneh. Mereka mengenal yang satu dengan yang lain dengan nama-nama mereka masing-masing. Dan mereka pernah mendengar nama-nama yang lain pula, tetapi mereka merasa belum pernah mengenal orangnya, pada saat mereka meningkat dewasa.

“Kalau aku tahu bahwa Jun Rumanti itu adik seorang yang bernama Wijang, maka aku akan segera tahu, bahwa kau adalah paman Mahisa Agni, Empu”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku sangka bahwa Empu Sada itu hanya sekedar gelar yaag dipergunakan oleh seorang yang bernama Talam. Ternyata Empu Sada itu adalah Pranuntaka pula”.

“Akhirnya kita bertemu dalam keadaan ini Empu. Pertemuan yang lebih baik dari pertemuan kita di Padang Karautan dahulu. Sekarang kita menjadi lebih banyak mengetahui tentang diri kita masing-masing. Mungkin kau menganggap bahwa aku memang tidak jujur sejak aku meningkat dewasa. Ternyata aku telah mencoba menaikkan nilai harga diriku dengan menipu adikmu, membuat sebuah nama yang aku anggap lebih baik dari namaku yang sebenarnya. Seandainya kau tinggal bersama adikmu, atau kita bertemu pada suatu kesempatan di tempat adikmu, maka aku pasti akan menjadi sangat malu. Tetapi itu adalah ceritera yang kini tinggal kenangan yang menyenangkan.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya perlahan-lahan, “Sekarang aku tahu, kenapa Pranuntaka itu kemudian dikabarkan mati. Pranuntaka, nama yang khusus dibuat untuk Jun Rumanti, sehingga ketika Jun Rumanti itu lepas dari tangannya, maka nama Pranuntaka itu pun sudah tidak berarti lagi. Tetapi, kepahitan yang dialami tidak dapat mati berkubur bersama-sama dengan nama Pranuntaka itu. Kepahitan itu tetap bersarang di dalam dada anak muda yang bernama Talam, dan kemudian bergelar sebagai seorang Empu. Empu Sada. Dan aku pun kini dapat mengerti pula, kenapa Empu Sada kadang-kadang berkelakuan aneh, sehingga berkali-kali aku harus mencoba mencegahnya. Ternyata Empu Sada itu pun tidak mampu melepaskan dirinya dari seorang anak muda yang bernama Talam dan khusus melahirkan sebuah nama Pranuntaka untuk seorang gadis”.

Empu Sada mencoba mengangguk, “Kau benar Empu. Dan akhirnya adalah yang kau lihat sekarang. Tetapi aku rela mengalaminya, karena aku sedang dalam perjalanan kembali setelah aku berpuluh-puluh tahun berada di jalan yang sesat”.

Empu Gandring memandangi wajah Empu Sada yang parah itu dengan mata yang suram. Kini tumbuhlah kepercayaannya kepada orang yang terluka di dalam dadanya itu. Sebenarnya anak-anak yang bernama Talam itu bukanlah seorang anak yang terlampau nakal. Baru kini Empu Gandring dapat meraba-raba, apakah yang menyebabkan Talam itu kemudian menjadi seorang Empu Sada.

“Nah Empu Gandring” desis Empu Sada, “aku sudah mencoba mengatakan semuanya. Bagaimanakah tanggapanmu sekarang? Apakah kau masih tetap berpendapat bahwa aku sengaja menyembunyikan Mahisa Agni untuk muridku itu?”

Perlahan-lahan Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Perlahan pula ia berkata, “Tidak Empu. Aku kini percaya kepadamu. Aku percaya bahwa kau sedang berada di jalan kembali dari jalan yang sesat yang selama ini kau tempuh”.

“Kalau begitu kau pun percaya bahwa Mabisa Agni dibawa oleh Kuda-Sempana ke Kemundungan. Kebo Sindet itu pun pasti pergi ke Kemundungan pula”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku percaya bahwa mereka pergi ke Kemundungan. Untuk membebaskan Mahisa Agni, maka aku harus pergi ketempat itu pula”.

“Aku kira memang tidak ada jalan lain Empu. Tetapi apabila aku dapat sembuh dari luka-luka di dalam ini, aku pun ingin pergi ke Kemundungan. Aku ingin melepaskan Mahisa Agni dengan tanganku”.

“Aku takut, dengan demikian kita akan terlambat.” sahut Empu Gandring, “sebaiknya kau menyembuhkan luka-lukamu. Aku akan pergi mendahului. Kalau kau sempat, maka susullah aku”.

Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat dicobanya untuk merasakan nyeri di dalam dadanya. Memang dalam kedaan demikian tidak mungkin baginya untuk pergi ke Kemundungan menyusul Kebo Sindet dan Kuda Sempana.

Ken Arok yang selama mendengar percakapan kedua orang itu menjadi bingung dan kalut oleh nama-nama yang telah mereka sebutkan, kini menyadari pula, bahwa bahaya telah meraba-raba diri Mahisa Agni. Kini orang yang mengancam keselamatan anak muda itu adalah orang yang jauh lebih liar dari Empu Sada. Apalagi orang itu baru saja kehilangan adiknya, maka banyak hal yang dapat terjadi atas Mahisa Agni. Kebo Sindet akan dapat melepaskan kemarahannya kepada anak muda itu. Sedang Kebo Sindel adalah seorang yang berhati batu, berjantung kayu. Ia dapat mencekik orang sampai mati dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menggenggam makanan yang disuapkannya ke dalam mulutnya.

“Empu” berkata Ken Arok itu kemudian, “aku rasa Mahisa Agni memang segera memerlukan pertolongan”.

“Ya, aku akan segera mencarinya” sahut Empu Gandring.

“Apakah aku dapat turut serta Empu?”

“Jangan ngger. Kau harus kembali ke Padang Karautan. Kau harus menggantikan kedudukan Mahisa Agni menyelesaikan bendungan itu. Bukankah Angger menerima tugas itu pula dari Tumapel? Dan bukankah angger masih harus membuat sebuah taman apabila air telah naik? Taman yang akan dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya Ken Dedes?”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tugas itu memang harus dilakukan. Tetapi ini tidak dapat melepaskan hasratnya untuk melihat bagaimanakah nasib Mahisa Agni seterusnya. Karena itu maka katanya,

“Empu, aku hanya akan sekedar mengetahui keadaan Mahisa Agni. Selanjutnya aku akan kembali ke Padang Karautan, meneruskan pekerjaan pembuatan bendungan itu”.

“Marilah kita membagi tugas Ngger. Semuanya penting bagi Angger. Tetapi Mahisa Agni itu dapat Angger serahkan saja kepadaku. Aku akan pergi ke Kemundungan. Akan aku minta Mahisa Agni dengan segala cara”.

Ken Arok tidak segera menjawab. Timbulah pertentangan di dalam dirinya. Keduanya dapat dianggapnya penting. Mencari Mahisa Agni atau kembali ke Bendungan Karautan. Apakah Empu Gandring seorang diri akan dapat menyelesaikan pekerjaannya merebut Mahisa Agni? Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet dan Empu Gandring adalah dua kekuatan yang seimbang. Kalau Empu Gandring memiliki beberapa kelebihan, maka kekasaran Kebo Sindet akan segera dapat mengimbanginya. Mungkin Empu Gandring akan dapat mempergunakan pusakanya yang jarang-jarang ditarik dari wrangkanya, yang telah dipergunakan untuk melawan kedua iblis dari Kemundungan itu sekaligus. Tetapi keris itu baru akan bermanfaat apabila dapat terjadi sentuhan dengan tubuh Kebo Sindet.

Tetapi apabila ia memaksa untuk ikut serta dengan Empu Gandring karena ia memperhitungkan pula kekuatan Kuda Sempana, maka bagaimanakah dengan Bendungan itu? Mungkin prajurit yang telah diserahinya untuk memimpin pekerjaan itu akan dapat melakukan tugasnya dengan baik, tetapi untuk keseluruhan tanggung jawab, beserta penyelesaian taman seperti yang dikehendaki Akuwu Tunggul Ametung, adalah terletak ditangannya. Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Empu Gandring berkata,

“Sudahlah Ngger, Sebaiknya Angger kembali ke Karautan. Pekerjaan itu sudah hampir sampai pada puncaknya. Sebentar lagi air akan segera naik, dan taman itu harus segera disiapkan pula. Kalau aku segera berhasil menemukan Mahisa Agni, maka aku akan segera membawanya kembali ke Padang Karautan.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih dalam keragu-raguan, tetapi ia tidak membantah.

“Tetapi, sebelum itu Ngger” berkata Empu Gandring, “barangkali kau bersedia menolong sahabatku ini. Sahabat yang pernah dipisahkan oleh cara hidup yang berbeda. Tetapi agaknya persahabatan kami di masa kanak-kanak telah mempertautkan kami kembali dalam satu pengertian dan kembali memberikan kepercayaan”.

“Oh” Ken Arok pun kemudian berpaling. Dilihatnya wajah yang pucat sayu dari seorang tua yang terbaring diam menatap langit yang menjadi semakin cerah. “Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Ken Arok.

“Empu Sada” berkata Empu Gandring, “apakah yang harus kami lakukan apabila kami menolongmu? Bukankah kau masih juga ingin sembuh dari luka-lukamu dan mencari Kebo Sindet? Bukankah kau masih belum ingin mengakhiri hidupmu?”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Itu adalah keinginanku Empu. Keinginan manusia. Tetapi keputusan terakhir tidak berada di tangan manusia”.

“Ya, ya” Empu Gandring pun mengangguk-angguk pula, “kau benar Empu. Tetapi usaha apakah yang harus kami jalankan sebagai ungkapan dari kesungguhan permohonan kami, manusia kepada Yang Maha Pencipta?”

Empu Sada tersenyum, jawabnya, “Empu, kalau Angger Ken Arok berkesempatan, apakah aku sebaiknya dibawa saja kembali ke Padepokanku?”

“Apakah ada seseorang yang dapat merawatmu Empu?”

“Di Padepokan itu masih ada beberapa orang muridku. Salah seorang daripadanya cukup dapat aku percaya. Bahkan sebenarnya, aku telah meletakkan segala macam persoalan padepokanku kepadanya. Juga ciri kebesaran Empu Sada yang selama ini tidak pernah terpisah dari padanya”.

“Tongkat panjangmu?”

“Ya. Sebenarnya, karena penyesalan atas kelakuanku setelah aku mengetahui, betapa sesatnya jalanku, maka aku bertekad untuk meletakkan senjata itu selamanya. Tetapi aku diragukan oleh keadaan yang berbahaya bagi Mahisa Agni, sehingga aku terpaksa mengangkat senjata itu lagi. Tetapi bukan senjataku yang selama itu tidak pernah terpisah daripadaku. Aku juga membawa sebatang tongkat panjang, tetapi tongkat itu terpatahkan”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesungguhan dari kata-kata Empu Sada telah mempertebal kepercayaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia akan dapat pergi mencari Mahisa Agni dan merebutnya dari tangan Kebo Sindet. Maka Empu Gandring pun segera membulatkan rencananya, Ken Arok akan dimintanya untuk mengantarkan Empu Sada, seterusnya anak muda itu akan kembali ke Padang Karautan, meneruskan pekerjaan Mahisa Agni yang masih belum selesai. Ia sendiri akan segera pergi ke Kemundungan menyusul Kebo Sindet untuk merebut Mahisa Agni.

Ternyata Ken Arok sama sekali tidak berkebaratan untuk mengantarkan Empu Sada yang terluka itu ke Padepokannya. Tetapi sebenarnya ia masih tetap pada keinginannya untuk turut mencari Mahisa Agni. Namun karena Empu Gandring tetap juga berkeberatan karena beberapa pertimbangan, terutama Bendungan Padang Karautan, maka Ken Arok tidak dapat memaksanya.

“Kita berpisah di sini Ngger” berkata Empu Gandring, “sudah tentu apabila aku memerlukan, maka aku akan minta bantuan Angger. Namun sementara ini, marilah kita membagi tugas”.

“Baiklah Empu. Meskipun, sebenarnya aku ingin pergi bersama Empu, tetapi biarlah aku mengantarkan Empu Sada ke Padepokannya, dan kembali ke Padang Karautan. Sementara aku menunggu Empu di sana, apabila Empu memerlukan, maka aku akan dapat membawa prajurit Tumapel untuk keperluan itu. Mungkin tempat Kebo Sindet perlu dihancurkan, atau dikepung supaya ia tidak dapat melarikan dirinya oleh sepasukan prajurit pilihan”.

“Ya, ya Ngger. Terima kasih. Aku akan selalu ingat kepada Angger Ken Arok apabila keadaan memaksa”.

“Baiklah Empu”.

Maka, mereka pun kemudian berpisah. Ken Arok mengantar Empu Sada yang luka ke Padepokkannya, sedang Empu Gandring pergi ke Kemundungan. Dari Empu Sada, Empu Gandring mendapat beberapa petunjuk tentang keadaan di sekitar sarang iblis itu.

“Kau harus berhati-hati sekali Empu” berkata Empu Sada, “supaya kau tidak dicabik-cabik oleh anjing-anjing liar yang berkeliaran di sekitar Kemundungan. Apalagi di malam hari”.

“Ya Empu, aku akan berhati-hati” jawab Empu Gandring, “usahakan agar lukamu segera sembuh. Kalau kau ingin pergi juga ke Kemundungan, maka mudah-mudahan kita akan dapat bertemu”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, sebenarnya ia ingin merebut Mahisa Agni dengan tangannya, sebagai suatu tebusan atas dosanya, menjerumuskan anak itu ke dalam bencana. Tetapi, ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa keadaanya tidak memungkinkan. Ia tidak dapat memaksa diri dan berpacu ke Kemundungan. Seandainya, ia akan sampai ke sana pula, maka itu hanya berarti, membunuh dirinya sendiri. Karena itu, maka Empu Sada terpaksa mengendapkan keinginannya untuk sesaat.,

“Kalau luka-luka di dada ini dapat sembuh, maka aku masih akan berusaha” desisnya di dalam hati, “kecuali kalau Empu Gandring telah mendahului aku”.

Empu Sada itu pun kemudian diangkut ke atas punggung kuda oleh Ken Arok, dan kemudian anak muda itu pun naik pula di atas satu kuda sambil menjaga agar Empu Sada tidak terjatuh.

Sedang dalam pada itu, Empu Gandring telah berpacu menuju ke Kemundungan. Sementara itu, Kuda Sempana sedang berpacu pula dengan hati yang hampa. Ia menurut saja kemana kudanya berlari. Tak ada niatnya sama sekali untuk menentukan arah perjalanannya. Karena kudanya lari kearah Kemundungan, maka Kuda Sempana yang membawa Mahisa Agni yang sedang pingsan itu pun ke Kemundungan pula. Tetapi Kuda Sempana sendiri sama sekali tidak tahu dan tidak berusaha untuk mengetahui, apakah yang seterusnya akan terjadi atas anak muda yang dibawanya itu dan atas dirinya sendiri.

Agak jauh di belakang Kuda sempana, Kebo Sindet pun berpacu seperti dikejar hantu. Orang itu adalah penunggang Kuda yang baik, sedang kuda yang dipergunakan adalah kuda yang cukup baik pula, meskipun bukan kudanya sendiri. Maka jarak antara Kebo Sindet dan Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin dekat. Apalagi kemudian Kuda Sempana tidak berhasrat menguasai kudanya. Ketika kudanya berlari semakin lamban, maka ia pun tidak berusaha melecutnya supaya langkahnya menjadi semakin cepat dan panjang. Dibiarkanya saja kuda itu berlari sekehendak sendiri. Semakin lama semakin lambat.

Itulah sebabnya, maka jarak antara Kuda Sempana dan Kebo Sindet pun menjadi semakin dekat. Sehingga ketika matahari menjadi semakin tinggi memanjat langit, maka dada Kuda Sempana pun berdesir karenanya. Lamat-lamat ia mendengar derap kaki-kaki kuda agak jauh di belakangnya. Ketika ia berpaling, maka ia belum melihat sesuatu. Apalagi kemudian jalan yang ditempuhnya mulai mendaki bukit-bukit gundul. Jalan yang berliku dan melingkari batu-batu besar yang menjorok. Namun langkah kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas didengarnya.

“Siapakah yang menyusul aku?” desisnya. Tetapi hatinya yang kosong tidak juga mendorongnya untuk mempercepat lari kudanya. Meskipun dadanya kemudian menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia masih saja tetap dalam sikap dan keadaannya. Bahkan akhirnya ia bergumam, “Siapa pun yang menyusul aku tidak akan ada bedanya. Biarpun ia guru, Empu Sada, biarpun ia Kebo Sindet atau siapa saja”. Justru karena itulah maka Kuda Sempana sama sekali tidak berhasrat untuk menghindarinya. Ia telah kehilangan segala macam usaha untuk kepentingan apapun juga.

Ketika suara kuda itu menjadi semakin dekat, maka tanpa sesadarnya ia berpaling. Hatinya sama sekali tidak tergerak oleh penglihatannya, bahwa yang datang itu adalah Kebo Sindet. Hatinya seolah-olah telah terlanjur membeku. Beku seperti wajah Kebo Sindet yang menyusulnya. Sejenak kemudian Kebo Sindet itu pun telah berada di sampingnya. Katanya bergumam,

“Kuda Sempana, lihat, inilah pamanmu Wong Sarimpat”.

Ketika Kuda Sempana berpaling dan melihat tubuh Wong Sarimpat tersangkut di punggung kuda seperti tubuh Mahisa Agni, maka barulah ia terperanjat. Kebo Sindet melihat wajah Kuda Sempana yang menjadi tegang. Dipandanginya tubuh Wong Sarimpat yang sudah membeku dingin di punggung kuda bersama dengan Kebo Sindet.

“Ia sudah mati” desis Kebo Sindet.

“Kenapa?” bertanya Kuda-Sempana.

“Wong Sarimpat mati terbunuh dalam perkelahian melawan Empu Sada. Sedang aku harus melayani Empu Gandring yang datang menyusul itu. Aku tidak tahu, apakah ada setan atau hantu atau iblis yang manjing di dalam diri Empu Sada, sehingga ia berhasil membunuh Wong Sarimpat.”

Kuda Sempana merasa sesuatu melonjak di dalam hatinya. Gurunya ternyata berhasil membunuh Wong Sarimpat. Tetapi bagaimanakah nasib gurunya itu kemudian?

“Tetapi” Kebo Sindet meneruskan, “aku kira Empu Sada pun akan mati pula. Ketika aku meninggalkannya, nafasnya telah tersangkut di kerongkongannya.”

Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Kebo Sindet itu. Bagaimanapun juga maka berita tentang gurunya telah membuatnya semakin kehilangan arah hidupnya. Kini, bagi Kuda Sempana seolah-olah tidak ada lagi hari depan yang dapat ditunggunya. Ia seakan-akan tidak boleh lagi ikut serta mengharap bahwa besok, lusa dan seterusnya, matahari yang cerah selalu akan terbit di ujung Timur. Matahari yang terbit, fajar yang cerah penuh dengan harapan dihari-hari yang bakal datang, sama sekali bukan miliknya. Itu adalah milik mereka yang hidup dalam ketenteraman dan kedamaian hati. Tetapi, hidupnya, hari depannya, dan jalan yang akan dilaluinya, adalah gelap dan kelam.

Kuda Sempana itu terperanjat ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Bagimu Kuda Sempana, kematian kedua orang itu mempunyai nilai yang berbeda, bahkan berlawanan. Empu Sada, bekas gurumu itu mati selagi ia berusaha mengkhianati usahanya sendiri, mengkhianati keinginan muridnya sendiri. Sedang pamanmu Wong Sarimpat gugur dalam menyelesaikan usaha yang sudah dirintisnya. Memenuhi keinginanmu, meskipun kau bukan muridnya. Tetapi ia telah menyerahkan seluruh hidupnya untukmu. Untuk mendapatkan Mahisa Agni seperti yang kau kehendaki. Kini Mahisa Agni telah berada ditanganmu. Kau akan dapat berbuat apa saja atasnya. Tetapi sayang, Wong Sarimpat tidak dapat menyaksikan kau mengikat Mahisa Agni itu pada sebatang pohon. Melecutnya dan menyentuh badannya dengan obor yang menyala. Membakar wajahnya dan kemudian menguliti tubuhnya”.

Terasa seluruh tubuh Kuda Sempana meremang mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet itu. Ia sama sekali tidak dapat mengerti jalan pikiran iblis dari Kemundungan itu. Penilaiannya atas gurunya dan Wong Sarimpat baginya terasa terlampau dibuat-buat, meskipun ia tidak tahu apakah yang sebenarnya telah terjadi antara gurunya dan Kebo Sindet. Ia banya mendengar satu dua kalimat yang kurang dapat dimengertinya. Namun ia tidak sependapat dengan kata-kata Kebo Sindet itu. Meskipun demikian, Kuda Sempana itu tidak menjawab apalagi membantah. Dibiarkannya Kebo Sindet mengumpat-umpati Empu Sada sesuka hatinya.

Tetapi kalau gurunya itu benar-benar mati sampyuh dengan Wong Sarimpat, maka luka dihatinya akan bertambah parah. Sejenak mereka kemudian saling berdiam diri. Mereka memanjat bukit-bukit gundul, berkelok-kelok menurut jalan yang berliku-liku mendaki. Namun, tiba-tiba Kebo Sindet itu tertegun sambil memanggil Kuda Sempana,

“He, berhenti dahulu”.

Kuda Sempana pun berhenti pula. Ketika ia melihat wajah Kebo Sindet yang beku seperti wajah mayat, Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu.

“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “kita tidak kembali ke Kemundungan”.

Dengan serta-merta Kuda Sempana bertanya, “Kemana kita akan pergi?”

“Kita harus bersembunyi untuk sementara” jawab Kebo Sindet, “Empu Gandring dan prajurit-prajurit Tumapel pasti akan mencari kita. Kalau gurumu sempat memberitahukan arah kita sebelum ia mati, atau seandainya gurumu telah mati sekalipun, maka menurut hematku, Empu Gandring dan prajurit gila dari Tumapel itu pasti akan datang ke Kemundungan untuk mencari Mahisa Agni. Aku sudah mengatakan bahwa Mahisa Agni itu kau bawa ke Padepokan Empu Sada. Tetapi aku tidak tahu, apakah Empu Gandring dapat mempercayainya. Seandainya ia peryaya, maka setelah Padepokan itu didatanginya, dan tidak ditemuinya Mahisa Agni di sana ia pasti akan datang juga ke Kemundungan”.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya yang beku hampir tidak mengacuhkannya sama sekali, apakah Empu Gandring akan mengejarnya bersama Ken Arok, dan bahkan akan mengeroyoknya bersama seluruh prajurit Tumapel sekalipun.

“Bukankah sebaiknya kita menghindari untuk sementara?” bertanya Kebo Sindet, “itu bukan berarti kita takut menghadapi lawan, tetapi kita harus dapat mempertimbangkan kekuatan kita”.

Kuda Sempana mengangguk kosong, jawabnya, “ya paman”.

“Bagus” sahut Kebo Sindet, “kita beralih arah. Kita tidak pergi ke Kemundungan. Kita mencari tempat untuk mengubur pamanmu Wong Sarimpat, untuk seterusnya bersembunyi sementara. Aku tidak akan mencemaskan rumah dan simpananku di Kemundungan. Meskipun seluruh prajurit Tumapel dikerahkan, aku pasti, bahwa mereka tidak akan dapat menemukan harta simpananku. Begitu?”

“Baik paman” jawab Kuda Sempana begitu saja meloncat dari bibirnya.

“Nah, marilah kita berbelok. Kita tinggalkan jalan sempit ini. Kita melintas lewat padang rumput yang sempit turun di tebing sebelah dan kemudian menyeberangi hutan sempit di kaki bukit”.

Kuda Sempana telah benar-benar menjadi seperti seonggok benda mati. Ketika Kebo Sindet berbelok arah, maka Kuda Sempana itu pun mengikut saja dibelakangnya tanpa menyadari tujuannya. Anak muda itu pun sama sekali tidak ingin untuk mengetahui lebih banyak lagi, kemana mereka akan pergi.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar